18 Maret 2014
Penilaian Performa
Pengelolaan Perikanan
menggunakan Indikator EAFM
Laut Banda Wilayah Pengelolaan Perikanan 714
Oleh:
ABRAHAMSZ
Daftar Isi
1 Pendahuluan ... 3
1.1
Latar Belakang ... 3
1.2
Tujuan dan Manfaat Studi ... 7
2 Sekilas Kondisi Perikanan WPP 714... 8
3 Metode Penilaian Performa Indikator EAFM ... 11
3.1 Pengumpulan data... 11
3.2
Analisa Komposit ... 13
4 Analisis Komposit Pengelolaan Perikanan pada WPP 714... 116
4.1
Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Kabupaten/Kota ... 18
4.3
Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Provinsi ... 21
4.4
Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat WPP 714 ... 26
5 Kesimpulan dan Rekomendasi ... 27
5.1 Kesimpulan ... 27
1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang beragam dan melimpah pada
lautnya yang mencapai luas sekitar 5,8 juta km2. Estimasi potensi sumberdaya perikanan laut di
Indonesia diperkirakan oleh kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2011 sebesar
6.520.300 ton/tahun. Potensi tersebut terdiri atas 55,9% dari perikanan pelagis kecil,22,3%
berasal dari perikanan demersal, 17,6% perikanan pelagis besar, 2,2% perikanan ikan karang
konsumsi, 1,5% bersumber dari udang Penaeid, 0,4% berasal dari cumi-cumi dan 0,1% berasal
dari lobster.
Besarnya potensi perikanan yang tersebar di perairan Indonesia, membuat KKP membagi
perairan di Indonesia menjadi 11 bagian (Gambar 1) yang sering disebut dengan Wilayah
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI). Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan
efesiensi dan efektifitas pengelolaan perikanan yang ada. Perhitungan estimasi potensi
perikanan, pengkajian stok ikan hingga kebijakan perikanan selalu berdasarkan 11 WPP
tersebut.
Gambar 1. Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan
Pembangunan perikanan Indonesia ditentukan oleh model pengelolaan perikanan yang
dikembangkan. Pengertian pengelolaan perikanan dalam UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang
Perikanan sebagaimana diubah dalam UU Nomor 45 Tahun 2009 adalah: “Semua upaya,
termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan,
konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan
hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh
pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas
sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.
Mengacu pada konsep tersebut, pengelolaan perikanan terkait erat dengan dua skala
pengelolaan sebagaimana dikemukakan oleh Charles (2001) yakni: (1) skala waktu pengelolaan,
dan (2) skala ruang pengelolaan. Kedua skala pengelolaan ini memberikan justifikasi tentang
sangat dinamisnya pengelolaan perikanan. Dinamika pengelolaan perikanan menyebabkan
adanya kebutuhan model pengelolaan sesuai dengan karakteristik kawasan dan sumber daya
perikanan yang terdistribusi di setiap kawasan. Dinamika yang ditunjukan dalam konteks
pengelolaan perikanan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berbagai pendekatan
pengelolaan, terutama untuk tujuan pengelolaan secara berkelanjutan.
Untuk menunjang keberlanjutan pengelolaan perikanan di dunia, FAO mengembangkan konsep
pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (ecosystem approach to fisheries/EAF),
yaitu: “an ecosystem approach to fisheries strives to balance diverse societal objectives, by taking
account of the knowledge and uncertainties about biotic, abiotic and human components of
ecosystems and their interactions and applying an integrated approach to fisheries within
ecologically meaningful boundaries”. KKP-RI, WWF Indonesia dan PKSPL-IPB (2012)
menyatakan sesuai dengan konsep itu, secara sederhana EAF dapat dipahami sebagai sebuah
konsep bagaimana menyeimbangkan antara tujuan sosial ekonomi dalam pengelolaan
perikanan (kesejahteraan nelayan, keadilan pemanfaatan sumber daya ikan, dll) dengan tetap
mempertimbangkan pengetahuan, informasi dan ketidakpastian tentang komponen biotik,
abiotik dan interaksi manusia dalam ekosistem perairan melalui sebuah pengelolaan perikanan
yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan.
Pengelolaan perikanan saat ini masih belum mempertimbangkan keseimbangan dimensi
sumber daya perikanan dan ekosistem, dimensi pemanfaatan sumber daya perikanan untuk
kepentingan sosial ekonomi masyarakat, dan dimensi kebijakan perikanan. Kepentingan
pemanfaatan untuk kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dirasakan lebih besar dibanding
dengan misalnya kesehatan ekosistemnya. Dengan kata lain, pendekatan yang dilakukan masih
parsial belum terintegrasi dalam kerangka dinamika ekosistem yang menjadi wadah dari
sumber daya ikan sebagai target pengelolaan. Dalam konteks ini lah, pendekatan terintegrasi
melalui pendekatan ekosistem terhadap pengelolaan perikanan (ecosystem approach to fisheries
management selanjutnya disingkat EAFM) menjadi sangat penting (KKP-RI, WWF Indonesia dan
Dalam assessment potensi (KepMen 45 tahun 2011), pendekatan yang digunakan masih
mempertimbangkan kondisi pemanfaatan perikanannya saja, sedangkan aspek ekosistem, aspek
sosial, ekonomi dan kelembagaan masih belum terkaji dalam format yang baku. Untuk itu sejak
tahun 2010 hingga saat ini WWF Indonesia dalam hal ini berinisiasi dalam memfasilitasi
pembuatan Indikator pengelolaan perikanan yang berbasis ekosistem bersama Direktorat
Sumberdaya Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementrian Kelautan dan Perikanan
dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) dengan
konsep tersebut dinamakan Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM).EAFM
merupakan indikator asessment perikanan yang akan dilakukan bertahap di masing-masing
WPP yang ada di Indonesia.
KKP-RI, WWF Indonesia dan PKSPL-IPB (2012) menginisiasi penerapan EAFM di Indonesia.
Beberapa wilayah di Indonesia dipilih sebagai pilot project salah satunya adalah di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI) 714, Laut Banda. Beberapa provinsi yang
pengelolaan perikanannya berorientasi pada potensi perikanan pada WPP 714, antara lain: (1)
Sulawesi Tenggara; (2) Sulawesi Tengah; (3) Nusa Tenggara Timur; dan (4) Maluku.
1.2 Tujuan dan Manfaat Studi
Studi untuk penilaian indikator EAFM pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
(WPP-RI) 714, Laut Banda, dilakukan dengan tujuan:
(1) melakukan monitoring dan/atau pengumpulan data yang terkait dengan indikator sumber
daya pada setiap domain pengelolaan perikanan;
(2) menganalisis status indikator sumber daya pada setiap domain pengelolaan perikanan;
(3) menganalisis nilai komposit pengelolaan perikanan;
(4) merumuskan rekomendasi pengembangan strategi penerapan metode dan analisis indikator
EAFM.
Manfaat yang diharapkan dari kajian ini adalah: (1) adanya pemahaman bersama tentang status
pengelolaan perikanan pada WPP 714; (2) terimplementasinya model-model penilaian kinerja
pengelolaan perikanan di tingkat wilayah dan kawasan; serta (3) adanya rekomendasi strategis
terkait aspek metodologis dan analisis dalam penilaian indikator EAFM.
2 Sekilas Kondisi Perikanan WPP 714
Sesuai dengan hasil yang dirumuskan dalam Kepmen KP 45 Tahun 2011, hasil estimasi potensi
sumberdaya ikan untuk tujuh kelompok ikan pada WPP 714 mencapai 278 ton per tahun.
Kontribusi paling tinggi adalah pada kelompok sumberdaya ikan pelagis besar dan pelagis kecil,
masing-masing: 104,10 ton atau 37,45% dan 132 ton atau 47,48%. Hasil ini menunjukkan
bahwa ikan pelagis, baik pelagis kecil maupun besar merupakan kelompok sumberdaya ikan
yang cukup potensial pada WPP 714.
Tabel 1. Estimasi potensi sumberdaya ikan pada WPP 714, menurut
KepMen 45 Tahun 2011
Kelompok Sumberdaya Ikan
Potensi (1000 ton/tahun)
Ikan Pelagis Besar
104,10
Ikan Pelagis Kecil
132,00
Ikan Demersal
9,30
Udang Penaeid
-Ikan Karang konsumsi
32,10
Lobster
0,40
Cumi-Cumi
0,10
Total
278,00
Hasil kajian Komisi Nasional Stok Ikan yang dituangkan dalam KP 45 Tahun 2011 ini, juga telah
mengestimasi besaran pemanfaatan perikanan untuk setiap WPP. Sesuai dengan hasil estimasi
pemanfaatan dan potensi ini, dilakukan pendugaan status pemanfaatan perikanan di setiap
WPP, yang digolongkan menjadi empat kelompok tingkat pemanfaatan, masing-masing: (1) Over
exploited (O); (2) Fully exploited (F); (3) Moderate (M); dan (4) Moderate to fully exploited (M-F).
Penggolongan status pemanfaatan perikanan di setiap WPP menunjukkan adanya variasi status
pemanfaatan. Khusus untuk WPP 714, kelompok pemanfaatan ikan demersal termasuk dalam
kategori Fully exploited (F), demikian halnya dengan kelompok ikan pelagis kecil, kecuali
pemanfaatan jenis Decapterus macarellus dan D. macrosoma berada pada kategori Moderate to
fully exploited (M-F).
Pada kelompok ikan tuna besar, pemanfaatan ikan cakalang termasuk kategori Moderate (M),
pemanfaatan ikan tuna madidihang pada kategori Fully exploited (F), pemanfaatan ikan tuna
mata besar pada kategori Over exploited (O). Pemanfaatan kelompok sumberdaya ikan lainnya,
cumi-cumi, termasuk dalam kategori Moderate (M).
T
ab
el
2.
St
at
us
ti
ng
ka
tp
em
an
fa
at
an
Su
m
be
rd
ay
a
Ik
an
di
pa
da
se
ti
ap
W
PP
di
Pe
ra
ir
an
In
do
ne
si
a
(K
ep
M
en
45
ta
hu
n
20
11
)
Peta status pemanfaatan sumberdaya ikan pada WPP 714 ini memberikan justifikasi kuat
tentang pentingnya pengelolaan sumberdaya ikan, terutama untuk jenis-jenis yang
dikemukakan di atas membutuhkan pendekatan kehati-hatian dalam rangka menjamin
keberlanjutan pemanfaatannya di wilayah pengelolaan ini.
3 Metode Penilaian Performa Indikator EAFM
3.1 Pengumpulan data
Pada lokasi pelaksanaan kajian EAFM di WPP 714, alokasi waktu pengambilan data lapangan
mulai tanggal 04 Mei sampai dengan 23 Nopember 2013. Pengumpulan data sekunder dilakukan
institusi di daerah, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota Hasil-hasil penelitian
terdahulu pada berbagai institusi penelitian juga dikumpulkan untuk mendukung analisis.
Pengumpulan data untuk penilaian domain habitat dan ekosistem, sumber daya ikan, teknik
penangkapan dan kelembagaan bersumber dari hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasi. Hal
ini terutama dalam bentuk laporan-laporan hasil kajian tentang data dan informasi kelautan dan
perikanan yang pernah dilakukan.
Pengumpulan data lapangan yang berkaitan dengan domain, sumber daya ikan, teknik
penangkapan ikan, sosial, ekonomi dan kelembagaan dilakukan dengan pendekatan wawancara
semi terstruktur. Responden yang dipilih meliputi: nelayan, staf Dinas Kelautan dan Perikanan,
dan institusi daerah lainnya yang memiliki relevansi kegiatan dan data serta informasi dengan
kajian indikator-indikator pada setiap domain.
Distribusi sumber data untuk setiap indikator digambarkan secara parsial untuk setiap domain
sebagai berikut:
(1) Domain Habitat dan Ekosistem
Indikator
Sumber data
Kualitas perairan
Data sekunder: kajian data dan informasi kelautan dan perikanan
pada
berbagai
institusi
penelitian,
DKP
Provinsi
dan
Kabupaten/Kota serta Citra MODIS (diolah)
Status lamun mangrove dan
terumbu karang Habitat
unik/khusus (spawning ground
nursery ground feeding ground,
upwelling serta dampak
perubahan iklim perairan dan
habitat
Data sekunder: kajian data dan informasi kelautan dan perikanan
pada setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota serta DKP Provinsi dan
Kabupaten/Kota, termasuk hasil wawancara dengan nelayan atau
masyarakat pesisir.
(2) Domain Sumber Daya Ikan
Indikator
Sumber data
CPUE Baku (Standarize CPUE)
Statistika Perikanan pada DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan
Wawancara (Nelayan dan DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota)
Ukuran Ikan Proporsi Ikan
Yuwana (Juvenile) yang
ditangkap, Komposisi Spesies,
"Range Collapse" sumber daya
Ikan, dan Spesies ETP
(3) Domain Teknik Penangkapan Ikan
Indikator
Sumber data
Metode penangkapan ikan yang
bersifat destruktif dan atau ilegal,
Modifikasi alat penangkapan ikan
dan alat bantu penangkapan,
Fishing capacity dan effort,
Selektifitas penangkapan
Survey lapangan, data Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)
Kesesuaian fungsi dan ukuran
kapal penangkapan ikan dengan
dokumen legal
Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Wawancara (DKP
Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)
Sertifikasi awak kapal perikanan
sesuai dengan peraturan.
Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)
(4) Domain Sosial
Indikator
Sumber data
Partisipasi pemangku
kepentingan, Konflik perikanan,
Pemanfaatan pengetahuan lokal
dalam pengelolaan sumber daya
ikan
Survey lapangan, data Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)
(5) Domain Ekonomi
Indikator
Sumber data
Kepemilikan aset
Wawancara (Nelayan)
Pendapatan rumah tangga (RTP)
Wawancara (Nelayan)
Saving rate
Wawancara (Nelayan)
(6) Domain Kelembagaan
Indikator
Sumber data
Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang
bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah
ditetapkan baik secara formal maupun non-formal (Alat)
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
Mekanisme Kelembagaan
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
Rencana pengelolaan perikanan
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan
perikanan
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
Kapasitas pemangku kepentingan
Survey lapangan, dan Wawancara
(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota
dan Nelayan)
3.2 Analisa Komposit
Pengembangan analisis komposit menggunakan Teknik Flag Modeling dengan pendekatan
multi-criteria analysis (MCA) di mana sebuah set kriteria dibangun sebagai basis bagi analisis keragaan
wilayah pengelolaan perikanan dilihat dari pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan
(EAFM) melalui pengembangan indeks komposit dengan tahapan sebagai berikut (Adrianto,
Matsuda, and Sakuma, 2005):
(1) Tentukan kriteria untuk setiap indikator masing-masing domain EAFM (habitat,
sumberdaya ikan, sosial ekonomi dan kelembagaan).
(2) Kaji keragaan masing-masing unit perikanan (misalnya WPP) untuk setiap indikator yang
diuji baik menggunakan sumber primer atau sekunder sesuai dengan tingkat ketersediaan
data yang terbaik (the best available data).
(3) Menetapkan batasan nilai (reference point). Batasan nilai dari setiap atribut berbeda
beda. Karena setiap atribu dalam satu domain memiliki satuan yang berbeda. Namun
demikian setiap nilai yang berbeda tersebut akan di gabungkan dalam suatu penilaian
yang sama yaitu system scoring
(4) Berikan nilai skor (ns
ijuntuk setiap indikator ke-i domain ke-j pada masing-masing unit
perikanan yang diukur (misalnya WPP) dengan menggunakan skor Likert (berbasis
ordinal 1,2,3) sesuai dengan keragaan pada setiap unit perikanan yang diuji (misalnya
WPP) dan kriteria yang telah ditetapkan untuk masing-masing domain (D
j).
(5) Menetapkan skor dari setiap atribut EAFM. Skor atribut EAFM untuk semua atribut dari
semua domain ditetapkan pada kisaran nilai 1-3. Pemberian skor dilakukan berdasarkan
hasil yang diperoleh dari setiap atribut dengan membandingkan dengan reference point.
Karena dalam reference point ditetapkan nilai minimum, sedang dan maksimum.
(6) Dalam pengukuran atribut dari setiap domain, batasan skor atribut yang diberikan antara
1-3. Pemberian skor dari setiap atribut ini merupakan suatu upaya untuk mengakomodasi
semua nilai atribut yang memiliki satuan yang berbeda dalam satu analisis terintegrasi.
Dengan teknik skor ini maka semua atribut yang ada akan terlihat memberikan kontribusi
yang berimbang.
Dari proses pemberian skor tersebut, pada tahap awalnya kita bisa mengetahui kelompok
kelompok parameter mana yang tergolong terendah (barada dalam reference point
rendah) dan mana yang dalam reference point tinggi. Kelompok dengan skor terendah
tersebut atau yang berada pada skala reference point terendah akan tergolong pada
parameter dengan status buruk atau dengan warna merah (rendah).
Begitu juga
sebaliknya jika skor aktributnya lebih dari standar yang ditetapkan, maka tergolong
sebagai parameter yang kontribusi tinggi/baik dengan warna hijau.
Menetapkan bobot dari setiap atribut. Setiap atribut emiliki nilai kepentingan yang
berbeda beda. Perbedaan kepentingan parameter ini dilihat setelah menetapkan semua
atribut dalam domain. Kemudian ditetapkan bobot setiap atribut sesuai dengan derajat
pengaruh atribut tersebut dalam domain. Pembobotan di tetapkan dalam skala 0-100.
Atribut yang memiliki bobot besar dianggap memiliki nilai kepentingan paling tinggi
dalam domain tersebut. Bobot yang memiliki bobot rendah memiliki kepentingan yang
rendah dalam domain tersebut. Pembobotan maksimal tiap domain 100 yang dibagi habis
dalam setiap atribut
(8) Identifikasi tingkat konektivitas (densitas) antar domain dan indikator dengan
menentukan skor domain (sd
idari hasil coginitive mapping keterkaitan antar indikator.
Keterkaitan ini merupakan salah satu penciri utama dari EAFM.
(9) Penentuan densitas (konektivitas) dalam setiap atribut. Densitas setiap atribut berbeda
ditetapkan dalam skala nilai yang berbeda. Densitas (konektivitas) setiap atribut yaitu
tingkat keterkaitan sebuah atribut dengan atribut lainnya. Keterkaitan dilihat dari semua
atribut EAFM, kemudian dilihat tingkat keterkaitannya (langsung atau tidak). Densitas
maksimal mungkin terjadi apabila suatu atribut memiliki hubungan dengan atribut lain
selain dirinya. Sehingga densitas maksimum akan berjumlan (n-1), dimana adalah total
dari atribut EAFM yang dikaji.
Selain skor atribut, salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan pengaruhnya adalah
nilai densitas. Nilai densitas didefenisikan sebagai jumlah keterkaitan dari setiap atribut
terhadap atribut lainnya. Selain itu juga menujukkan besaran pengaruh dari suatu atribut
terhadap atribut lainnya. Secara umum keseluruhan atribut memberikan peluang
memiliki hubungan dengan atribut lainnya kecuali dirinya sendiri. Dalam kontek ini
pemberikan nilai densitas juga akan menunjukkan pengaruhnya terhadap perhitungan
secara keseluruhan. Logika sederhananya adalah, bahwa setiap atribut yang memiliki
keterkaitan tinggi (banyak) terhadap atribut lainya, akan tergolong sebagai atribut yang
memiliki peran besar dalam ekosistem suatu kawasan.
Penetapan batasan nilai densitas adalah sebagai indikator terhadap suatu atribut dalam
ekosistem. Dalam hal ini bukan berarti densitas yang berwarna merah merupakan atribut
yang jelek pengaruhnya, tetapi hanya menunjukkan rendah atau sedikit konetivitasnya.
Kalau densitasnya rendah berarti atribut tersebut perannya kurang terhadap atribut lain
di kawasan tersebut. Begitu sebaliknya apabila densitasnya tinggi, maka peranya vital
dalam ekosistem tersebut. Atribut tersebat dapat terdampak atau berdampak signifikan
terhadap atribut lainya bila terjadi gangguan.
(10) Kembangkan penilaian komposit pada masing-masing domain ke-j (C
atidengan formula
sederhana sebagai berikut
Dimana:
Ca
t-iNilai total EAFM dari satu atribut dalam domain
S
aiSkor atribut ke-i
W
iBobot atribu ke-i
Di
Densitas atribut ke=i
Evaluasi atribut EAFM di suatu lokasi ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi dari indikator
yang ditetapkan di semua lokasi sampling. Evaluasi yang dilakukan dengan menetapkan
batasan dan kriteria EAFM dari berdasarkan reference point yang ada.
(11) Kembangkan indeks komposit agregat untuk seluruh domain ke-j (D
jpada unit perikanan
yang dievaluasi (misalnya WPP) dengan model fungsi sebagai berikut C-
WPPi(D
jns
ijbr
ijsd
i). Basis formula untuk analisis komposit agregat adalah:
C-
WPPiAVE dj
nsij
brij
sdi
Di mana AVE
rata-rata aritmetik dari domain ke-j (D
jdari total perkalian antara ns
ij(nilai skor indikator ke-i dari domain ke-j) dan br
ij(bobot ranking indikator ke-i domain
ke-j) dan sd
i(skor densitas dari indikator ke-i). Atau secara sederhana juga di tuliskan
sebagai berikut:
=
Dimana
C
at-iTotal nilai dari domain ke-i
S
aiSkor atribut ke-i
W
iBobot atribu ke-i
Di
Densitas atribut ke=i
Dari total tiap indikator yang dinilai, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis
komposit sederhana berbasis rataan aritmetik yang kemudian ditampilkan dalam
bentuk model bendera (flag model) dengan kriteria seperti yang dapat dilihat pada Tabel
berikut ini.
Inidek komposit ini merupakan nilai konversi nilai total setiap domain
EAFM. Proses konversi ini diperlukan agar di peroleh batasan yang baku dari nilai
EAFM. Nilai total dari perkalian komponen EAFM selanjutnya di konversi dalam skala
1-100. Konversi inidiperlukan untuk memudahkan pengklasan atau pengkategorian suatu
domain EAFM. Nilai konversi skala setiap domain yaitu:
=
100
Dimana:
C
at-imaxNilai maksimum dari satu atribut dalam domain yang diperoleh saat semua
atribut memiliki skor 3.
C
at-imaxakan bernilai maksimum apabila semua skor atribut dalam suatu domain bernilai
3. Artinya semua atribut berada dalam reference point tertinggi atau disebut juga dalam
kategori baik.
Penentuan nilai komposit (total) dari seluruh domain EAFM yang dikaji. Nilai komposit
ditentukan dari nilai rata-rata dari seluruh domain yang dikaji dalam wilayah EAFM.
Perkalian skor atribut dan skor densitas akan memberikan nilai atau bobot dari setiap
atribut yang ada secara keseluruhan. Hasil ini kemudian di masukan kedalam nilai
agregat atribut. Nilai agregat atribut tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai dengan
skala 1-100. Agregat dengan nilai 100 termasuk agregat yang paling tinggi/paling baik
kondisinya di kawasan, dan yang rendah nilainya termgolong paling kurang/paling
buruk kondisinya dikawasan. Nilai komposit dapat di formulasikan sebagai berikut.
=
100
Dimana
jumlah domain dalam EAFM
(12) Pengklasifikasian nilai domain EAFM. Pengklasifikasian ini diperlukan untuk melihat
sejauh mana peroleh nilai EAFM yang dikaji. Pengklasifikasian juga ditetapkan dalam
skala 1-100 sebagai berikut:
Tabel
Batasan Skor Nilai Domain dan Agregat
Rentang nilai
Model
Bendera
Deskripsi
Rendah
Tinggi
1
20
Buruk dalam menerapkan EAFM
21
40
Kurang dalam menerapkan EAFM
41
60
Sedang dalam menerapkan EAFM
61
80
Baik dalam menerapkan EAFM
81
100
Baik Sekali dalam menerapkan EAFM
Nilai skor agregat kemudian dideskripsikan atas kelompok(kategori). Kelima kategori
ini menggambarkan tingkatkan status dari domain EAFM suatu wilayah. Nilai agregat
domain berasal dari agregat agregat parameter yang dievaluasi. Sementara itu agregat
kawasan adalah nilai rata dari nilai atribut dalam setiap domain. Hasil ini kemudian
dijadikan sebagai dasar dalam pengklasifikasian nilai agregat total.
Interpretasi dari nilai agregat bisa dilihat dari sisi yaitu karena atributnya yang rendah
(di bawah reference point atau karena konektivitasnya yang kurang. Agregat yang
rendah selain itu juga bermakna bahwa pengaruh dari atribut cenderung negative dan
pengaruh parameter di kawasan tersebut juga kurang. Hasil dari nilai agregat ini
kemudian dijadikan sebagai dasar untuk penetapan rekomendasi dari penilaian
indicator EAFM di wilayah perairan yang dikaji.
4 Analisis Komposit Pengelolaan Perikanan Pada WPP 714
4.1 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Kabupaten/Kota
Analisis komposit pengelolaan perikanan untuk tingkatan Kabupaten/Kota pada WPP 714
diarahkan untuk memberikan penjelasan tentang status setiap domain yang berbasis pada
distribusi nilai indikator-indikatornya masing-masing. Kajian dilakukan di empat Provinsi,
masing-masing: (1) Sulawesi Tengah pada dua kabupaten, Banggai dan Banggai Laut; (2)
Sulawesi Tenggara pada empat kabupaten, Butur, Konawe, Konsel dan Wakatobi; (3) Nusa
Tenggara Timur pada empat kabupaten, Manggarai Barat, Flores Timur, Lembata dan Alor; serta
(4) Maluku pada
kabupaten/kota, Ambon, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Maluku
Tenggara Barat dan Lauku Tenggara. Hasil menyeluruh diacu pada Lampiran 1.
Pertama Hasil analisis untuk domain habitat dan ekosistem menunjukkan bahwa distribusi nilai
yang bervariasi untuk setiap wilayah Kabupaten/Kota (Gambar 2). Distribusi nilai tertinggi
berada pada kisaran nilai antara 81% sampai dengan 100% yang termasuk dalam kategori
status Baik Sekali Wilayah yang termasuk dalam status domain habitat dan ekosistem dengan
status Baik Sekali hanya di Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.
Wilayah dengan status Baik pada domain
habitat dan ekosistem adalah: (1) Butur di
Provinsi Sulawesi Tenggara; dan (2) Flores
Timur di Provinsi Nusa Tenggara. Status
Sedang pada domain ini hanya di Lembata
dan Alor, Provinsi Nusa Tenggara.
Status Kurang untuk domain ini, pada
kabupaten/kota: (1) Banggai dan Banggai
Laut di Sulawesi Tengah; (2) Konawe dan
Konsel di Sulawesi Tenggara; (3) Ambon,
Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat,
Maluku Tenggara Barat dan Maluku Tenggara di Provinsi Maluku. Status Buruk hanya pada satu
wilayah, Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara.
Jika status domain mulai dari kategori sedang sampai baik sekali merupakan status ideal, maka
hanya 33,33% wilayah dari 15 wilayah yang dikaji, memiliki status pengelolaan yang ideal.
Dengan demikian 66,67% lainnya merupakan wilayah-wilayah yang membutuhkan strategi
pengelolaan perikanan yang lebih baik dan perlu perhatian serius, pada domain habitat dan
ekosistem.
32 33 65 27 33 81 64 44 44 21 33 27 37 33 - 20 40 60 80 100H
ab
it
at
&
ek
os
is
te
m
Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut BanggaiGambar 2. Distribusi nilai domain habitat dan
ekosistem per wilayah di WPP 714
Kedua analisis komposit untuk domain
sumberdaya
ikan
juga
menunjukkan
distribusi nilai yang bervariasi antar
wilayah Kabupaten/Kota (Gambar 3). Tidak
satupun wilayah Kabupaten/Kota yang
memiliki status Baik Sekali untuk domain
sumberdaya ikan.
Wilayah dengan status Baik pada domain ini
meliputi: (1) Butur dan Wakatobi; serta (2)
Manggarai Barat dan Lembata. Status
Sedang pada wilayah: (1) Konawe dan
Konsel; serta (2) Seram Bagian Timur,
Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara Barat
dan Maluku Tenggara. Status Kurang pada wilayah: (1) Banggai dan Banggai Laut; (2) Flores
Timur dan Alor; serta (3) Ambon. Status Buruk sama sekali tidak ditemukan pada setiap
wilayah kajian.
Distribusi nilai untuk domain sumberdaya ikan juga memberikan gambaran bahwa 33,33%
wilayah kajian, memiliki status pengelolaan yang ideal. Hal ini membuktikan masih 66,67%
wilayah lain yang membutuhkan strategi pengelolaan perikanan yang lebih serius pada domain
sumberdaya ikan.
Ketiga untuk domain teknik penangkapan,
hasil analisis tematik menunjukkan variasi
distribusi nilai antar wilayah Kabupaten/
Kota (Gambar 4). Status Baik Sekali untuk
domain sumberdaya ikan tidak ditemukan
pada satu wilayah pun
Status Baik hanya pada dua wilayah, Butur
dan Walatobi. Status Sedang pada Flores
Timur, Lembata, Alor, Ambon dan Seram
Bagian Timur. Status Kurang terdapat pada
wilayah Banggai, Banggai Laut, Konawe,
Konsel,
Seram
Bagian
Barat,
Maluku
37 37 70 50 49 65 60 38 67 33 30 59 41 46 44 - 20 40 60 80 100 Su m be rd ay a Ik an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai 21 21 62 25 25 73 10 43 42 42 51 49 27 33 39 - 50 100 T ek ni k Pe na ng ka pa n Ik an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai
Gambar 3. Distribusi nilai domain sumberdaya
ikan per wilayah di WPP 714
Gambar 4. Distribusi nilai domain teknik
penangkapan ikan ikan per wilayah
di WPP 714
Tenggara Barat dan Maluku Tenggara. Status Buruk ditemukan pada satu wilayah, Manggarai
Barat.
Distribusi nilai domain teknologi penangkapan ikan menggambarkan sebanyak 46,67% wilayah
kajian memiliki pengelolaan yang ideal. Strategi pengelolaan perikanan yang lebih serius pada
domain teknologi penangkapan ikan masih harus diarahkan pada 53,33% wilayah lainnya.
Keempat Pada domain sosial (Gambar 5),
hasil analisis tematik menunjukkan hanya
satu wilayah yang memiliki status Baik
Sekali yaitu: Konsel. Hanya wilayah juga
yang memiliki status Baik, yakni Wakatobi.
Status Sedang terdapat pada wilayah
Konawe dan Alor. Status Kurang ditemukan
pada wilayah Banggai, Manggarai Barat,
Ambon, Seram Bagian Timur, Maluku
Tenggara Barat dan Maluku Tenggara.
Jumlah wilayah dengan status Buruk lebih
banyak dibanding domain lainnya.
Wilayah-wilayah yang memiliki status Buruk pada
domain sosial, meliputi: Banggai Barat, Butur, Flores Timur, Lembata dan Sram Bagian Barat.
Hasil analisis menggambarkan hanya 26,67% wilayah yang memiliki status pengelaan yang baik
pada domain sosial. Hal ini membuktikan
masih banyak wilayah (73,33%) yang masih
membutuhkan
upaya-upaya
perbaikan
pengelolaan.
Kelima hasil analisis untuk domain ekonomi
(Gambar 6) memberikan justifikasi bahwa,
terdapat dua wilayah yang memiliki status
Baik Sekali (Butur dan Lembata). Status
Baik pada empat wilayah: Konawe, Konsel,
Wakatobi dan Flores Timur.
21 13 17 49 83 67 23 17 52 32 32 19 32 32 - 20 40 60 80 100 So si al Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai
Gambar 5. Distribusi nilai domain sosial per
wilayah di WPP 714
Gambar 6. Distribusi nilai domain ekonomi
per wilayah di WPP 714
30 30 85 76 76 72 30 77 85 20 43 23 23 23 23 - 20 40 60 80 100 Ek on om i Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut BanggaiStatus Sedang hanya ditemukan pada satu wilayah: Ambon. Status kurang mencakup delapan
wilayah: Banggai, Banggai Laut, Manggarai Barat, Alor, Sera, Bagian Timur, Seram Bagian Barat,
Maluku Tenggara Barat dan Maluku Tenggara.
Hasil ini juga membuktikan bahwa sekitar 46,67% wilayah dalam lingkup WPP 714 yang
memiliki status pengelolaan yang baik pada domain ekonomi. Namun demikian, masih ada
53,33% wilayah yang membutuhkan upaya-upaya perbaikan pengelolaan.
Keenam Analisis pada domain kelembagaan
menghasilkan kondisi dimana sebagian besar
wilayah masih berada dalam lingkup status
pengelolaan yang lemah. Hal ini dibuktikan
dengan hanya empat wilayah yang memiliki
status Sedang masing-masing: Wakatobi,
Folres Timur, Lembata dan Alor (Gambar 7).
Kuatnya status pengelolaan untuk domain
kelembagaan pada wilayah-wilayah ini lebih
didukung
dengan
telah
berkembangnya
model-model pengelolaan perikanan baik
yang
berbasis
kawasan
maupun
pengembangan kawasan konservasi yang
mendukung pembangunan perikanan.
Wilayah lainya memiliki status Kurang bahkan dua wilayah, Butur dan Konsel memiliki status
pengelolaan yang Buruk Model-model pengelolaan perikanan pada wilayah-wilayah ini belum
berkembang dengan baik.
4.2 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Provinsi
Penilaian terhadap kinerja pengelolaan perikanan di tingkat provinsi menggunakan agregrasi
dari setiap wilayah kabupaten/kota yang telah dikaji. Pemetaan dalam grafik layang-ayang
memberikan gambaran kontribusi setiap kabupaten/kota dalam membemtuk status
pengelolaan perikanan pada tingkat Provinsi. Di sisi lain, pendekatan analisis yang
menggunakan nilai komposit untuk Provinsi diekspresikan secara matriks juga memberikan
agreagasi nilai status pengelolaan perikanan di tiap provinsi.
27 26 7 28 11 50 25 58 53 47 38 36 27 34 40 - 20 40 60 80 100 Ke le m ba ga an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai
Gambar 7. Distribusi nilai domain kelembagaan
per wilayah di WPP 714
Pertama hasil analisis untuk Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa distribusi nilai
hampir seragam untuk kedua kabupaten yang dikaji pengelolaannya, kecuali untuk domain
sosial pada kabupaten Banggai Laut yang memiliki nilai yang rendah dibanding Banggai
(Gambar 8).
Gambar 8. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Sulawesi Tengah
Distribusi nilai yang cenderung seragam untuk setiap kabupaten di Sulawesi Tengah
memberikan gambaran pola pengelolaan yang hampir seragam sesuai dengan kondisi untuk
seluruh indikator yang dikaji. Secara agregat, penilaian komposit untuk Sulawesi Tengah
menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan di Sulawesi Tengah dengan pendekatan ekosistem
masih berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Kurang (Tabel 4).
Tabel 4. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada
Provinsi Sulawesi Tengah
Domain
Sulawesi Tengah
Banggai
Banggai Laut
Rata-rata
Sumberdaya Ikan
Kurang
Kurang
Kurang
Habitat
ekosistem
Kurang
Kurang
Kurang
Teknik Penangkapan Ikan
Kurang
Kurang
Kurang
Sosial
Kurang
Buruk
Buruk
Ekonomi
Kurang
Kurang
Kurang
Kelembagaan
Kurang
Kurang
Kurang
Aggregat
Kurang
Kurang
Kurang
Kedua untuk Provinsi Sulawesi Tenggara, hasil analisis menunjukkan nilai-nilai setiap domain
dalam penilaian indikator EAFM terdistribusi sangat beragam. Kabupaten Butur dan Wakatobi
memberikan kontribusi yang cukup kuat dalam membentuk status atau kinerja pengelolaan di
Sulawesi Tenggara (Gambar 9).
-20
40
60
80
100
Sumberdaya Ikan
Habitat &
ekosistem
Teknik
Penangkapan Ikan
Sosial
Ekonomi
Kelembagaan
Banggai
Banggai Laut
Gambar 9. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Sulawesi Tenggara
Beragamnya distribusi nilai setiap domain menyebabkan adanya variasi status atau kinerja
pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Sulawesi Tenggara. Walaupun
demikian, hasil penilaian secara agregat menunjukkan rata-rata kinerja setiap domain berada
pada kinerja Sedang kecuali domain ekonomi yang berada pada kisaran nilai Baik sedangkan
dan domain kelembagaan termasuk dalam kisaran nilai Kurang Secara agregat, penilaian
komposit untuk Sulawesi Tenggara menunjukkan pengelolaan perikanannya dengan
pendekatan ekosistem berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Sedang
(Tabel 5).
Tabel 5. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada
Provinsi Sulawesi Tengah
Domain
Sulawesi Tenggara
Butur
Konawe
Konsel
Wakatobi
Rata-rata
Sumberdaya Ikan
Baik
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Habitat ekosistem
Baik
Kurang
Kurang
Baik Sekali
Sedang
Teknik Penangkapan Ikan
Baik
Kurang
Kurang
Baik
Sedang
Sosial
Buruk
Sedang
Baik Sekali
Baik
Sedang
Ekonomi
Baik Sekali
Baik
Baik
Baik
Baik
Kelembagaan
Buruk
Kurang
Buruk
Sedang
Kurang
Aggregat
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Ketiga analisis yang dilakukan melalui penilaian indikator EAFM pada Provinsi Nusa Tenggara
Timur menghasilkan kondisi dimana setiap domain dalam penilaian indikator EAFM
terdistribusi beragam. Wilayah yang memiliki kinerja paling lemah adalah Kabupaten Manggarai
Barat (Gambar 10).
20
40
60
80
100
Sumberdaya Ikan
Habitat & ekosistem
Teknik Penangkapan
Ikan
Sosial
Ekonomi
Kelembagaan
Butur
Konawe
Konsel
Wakatobi
Gambar 10. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Nusa Tenggara Timur
Variasi status atau kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Nusa
Tenggara Timur memberikan gambaran setiap domain memiliki status yang variatif antar
wilayah kabupaten. Hasil penilaian secara agregat menunjukkan rata-rata kinerja tiga domain
domain berada pada kinerja Kurang (habitat dan ekosistem, teknik penangkapan serta sosial),
sedangkan yiga domain lainnya berada pada kinerja Sedang Penilaian komposit menunjukkan
pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem pada Provinsi Nusa Tenggara Timur
berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Sedang (Tabel 6).
Tabel 6. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Domain
Manggarai
Nusa Tenggara Timur
Barat
Flores Timur
Lembata
Alor
Rata-Rata
Sumberdaya Ikan
Baik
Kurang
Baik
Kurang
Sedang
Habitat ekosistem
Buruk
Baik
Sedang
Sedang
Kurang
Teknik Penangkapan Ikan
Buruk
Sedang
Sedang
Sedang
Kurang
Sosial
Kurang
Buruk
Buruk
Sedang
Kurang
Ekonomi
Kurang
Baik
Baik Sekali
Kurang
Sedang
Kelembagaan
Kurang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Aggregat
Kurang
Sedang
Sedang
Kurang
Sedang
Keempat hasil analisis yang dimulai penilaian indikator EAFM untuk Provinsi Maluku
menunjukkan kondisi dimana setiap domain dalam penilaian indikator EAFM terdistribusi
seragam, kecuali di Seram Bagian Timur yang memiliki status baik pada domain sumberdaya
ikan dan teknik penangkapan ikan, demikian halnya dengan kota Ambon yang memiliki nilai
domain teknik penangkapan ikan dan ekonomi yang lebih baik dibanding wilayah lain di
0
20
40
60
80
100
Sumberdaya Ikan
Habitat &
ekosistem
Teknik
Penangkapan Ikan
Sosial
Ekonomi
Kelembagaan
Manggarai Barat
Flores Timur
Lembata
Alor
Maluku. Wilayah yang memiliki kinerja paling lemah adalah Kabupaten Seram Bagian Barat
(Gambar 11).
Gambar 11. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Maluku
Distribusi status atau kinerja setiap domain yang cenderung seragam dalam konteks
pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Maluku menunjukkan seluruh wilayah
kabupaten/kota di Maluku masih memiliki kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan
ekosistem yang lemah. Hasil penilaian secara agregat menunjukkan hanya domain sumberdaya
ikan yang berada pada status Sedang sedangkan domain lainnya berada tingkat kinerja
Kurang Penilaian komposit menunjukkan pengelolaan perikanan dengan pendekatan
ekosistem pada Provinsi Maluku berada masih berada pada status atau kinerja pengelolaan
perikanan yang Kurang (Tabel 7).
Tabel 7. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Domain
Maluku
Ambon
SBT
SBB
MTB
Malra
Rata-Rata
Sumberdaya Ikan
Kurang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Habitat
ekosistem
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Teknik Penangkapan Ikan
Sedang
Sedang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Sosial
Kurang
Kurang
Buruk
Kurang
Kurang
Kurang
Ekonomi
Sedang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kelembagaan
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Aggregat
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
20
40
60
80
100
Sumberdaya Ikan
Habitat & ekosistem
Teknik Penangkapan
Ikan
Sosial
Ekonomi
Kelembagaan
Ambon
SBT
SBB
MTB
Malra
4.3 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat WPP 714
Analisis secara komposit kinerja pengelolaan perikanan pada WPP 714 merupakan agregasi dari
kinerja seluruh wilayah kajian (15 kabupaten/kota). Sesuai dengan analisis yang dilakukan
melalui penilaian indikator EAFM, maka status atau kinerja pengelolaan perikanan dengan
pendekatan ekosisten pada WPP 714 masih berada pada tingkat Kurang (Tabel 8). Hasil ini juga
memberikan justifikasi bahwa umumnya status setiap domain berada pada tingkat Kurang
kecuali pada domain sumberdaya ikan dan ekonomi yang berada tingkat Sedang
Tabel 8. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator
EAFM pada WPP 714
Domain
WPP 714
Sumberdaya Ikan
Sedang
Habitat ekosistem
Kurang
Teknik Penangkapan Ikan
Kurang
Sosial
Kurang
Ekonomi
Sedang
Kelembagaan
Kurang
Aggregat
Kurang
Bila kajian ini ditelusuri secara spasial,
maka wilayah-wilayah yang mengakses
pemanfaatan dan pengelolaan perikanan
di WPP 714 memberikan kontribusi yang
berbeda. Jika kisaran Sedang (41
60)
sampai dengan Baik Sekali (81
100)
dijadikan sebagai basis pengelolaan yang
cukup
baik,
maka
wilayah
kabupaten/kota
yang
memberikan
kontribusi yang baik terhadap kinerja
pengelolaan perikanan di WPP 714,
secara berurutan meliputi: (1) Wakatobi;
(2) Lembata dan Butur; (3) Lembata; (4)
Konsel; dan (5) Konawe (Gambar 12).
Penelusuran lebih dalam untuk setiap domain yang memberikan kontribusi yang kuat dalam
membentuk kinerja pengelolaan perikanan di WPP 714 memberikan gambaran bahwa
wilayah-wilayah kajian seperti Wakatobi, Konsel, Lembata dan Seram Bagian Timur (Gambar 13).
Gambar 12. Komposit penilaian indikator EAFM
pada tiap wilayah di WPP 714
28 27 51 42 46 68 25 47 51 40 36 39 27 34 35 - 20 40 60 80 100 Ag gr eg at Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai
Pertama Wakatobi memberikan kontribusi kinerja yang kuat terutama pada domain habiat dan
ekosistem serta teknik penangkapan ikan.
Gambar 13. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM per wilayah kajian di WPP 714
Kedua Konsel memberikan kontribusi yang kuat pada domain sosial. Ketiga Lembata
memberikan kontribusi yang kuat pada domain ekonomi. Keempat Seram Bagian Timur dengan
domain sumberdaya ikannya turut memberikan kontribusi yang kuat terhadap kinerja
pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di WPP 714.
20
40
60
80
100
Sumberdaya Ikan
Habitat & ekosistem
Teknik Penangkapan
Ikan
Sosial
Ekonomi
Kelembagaan
Banggai Banggai Laut Butur Konawe Konsel Wakatobi Manggarai Barat Flores Timur Lembata Alor Ambon SBT SBB MTB Malra5 Kesimpulan dan Rekomendasi
5.1 Kesimpulan
Beberapa simpulan yang dapat diberikan sesuai dengan hasil penilaian indikator EAFM untuk
WPP 714, antara lain:
(1) Setiap wilayah kajian pada WPP 714 memilki nilai kinerja pengelolaan yang bervariasi
dalam penerapan EAFM, baik variasi untuk setiap domain maupun indikator pengelolaan;
(2) Wilayah-wilayah yang memiliki kinerja yang cukup kuat dalam penerapan EAFM, untuk
tingkat kabupaten/kota adalah: Wakatobi, Butur, Konawe, Konsel, Flores Timur dan
Lembata serta untuk tingkat provinsi meliputi Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara
Timur
(3) Secara agregat, kinerja pengelolaan perikanan pada WPP 714 yang terukur melalui
penerapan EAFM masih berada pada kategori Kurang
(4) Dalam konteks pengelolaan perikanan berbasis domain, wilayah-wilayah yang unggul untuk
setiap domain meliputi: Wakatobi memberikan kontribusi kinerja yang kuat terutama pada
domain habiat dan ekosistem serta teknik penangkapan ikan; Konsel dengan kontribusi
domain sosial; Lembata memberikan kontribusi pada domain ekonomi; serta Seram Bagian
Timur dengan domain sumberdaya ikannya turut memberikan kontribusi yang kuat
terhadap kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di WPP 714.
5.2 Rekomendasi
Rekomendasi kegiatan yang penting dikemukakan dalam rangka perbaikan kinerja indikator
pengelolaan perikanan pada WPP 714, secara parsial untuk tingkat wilayah provinsi, dan
kabupaten/kota, serta agregat untuk WPP 714.
5.2.1. Agregat: WPP-714
A. Domain Sumberdaya Ikan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.
CpUE Baku 1843,65 6 Pengendalian upaya tangkap diversifikasi
alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan serta konservasi sumberdaya ikan
Tren ukuran ikan 719,65 5 Peningkatan pengawasan dan
pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap, serta pengaturan ukuran minimal ikan yang boleh ditangkap Proporsi ikan
yuwana (juvenile) yang ditangkap
631,93 3 Public awarness pengaturan ukuran
minimal ikan yang boleh ditangkap, proteksi pemasaran ikan yuwana, serta peningkatan pengawasan dan
pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap
Komposisi spesies tangkapan
634,00 4 Optimalisasi usaha tangkap yang
didukung alat penangkapan ikan sesuai spesies target,
Spesies ETP 166,23 1 Public awarness pengendalian
pemanfaatan spesies ETP, pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan proteksi pemasaran spesies ETP "Range Collapse"
sumberdaya ikan 448,99 2 Public awarness optimalisasi usahatangkap yang didukung alat penangkapan ikan sesuai spesies target, diversifikasi spesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap
B. Domain Habitat/Ekosistem
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjamin kelestarian sumber daya ikan
Kualitas perairan 893,13 6 Pengaturan pengelolaan bahan cemar dan
law enforcement serta optimalisasi
penerapan persyaratan lingkungan dalam pembangunan di wilayah pesisir
Status ekosistem
lamun 661,50 4 Optimalisasi pengawasan pembangunaninfrastruktur wilayah sesuai RTRW dan optimalisasi penerapan persyaratan lingkungan dalam pembangunan di wilayah pesisir
Status ekosistem mangrove
665,50 5 Replantasi mangrove penguatan kearifan
lokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem
terumbu karang
535,55 2 Penguatan kearifan lokal, penetapan
kawasan konservasi terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan dan pengembangan mata pencaharian alternatif
Habitat
unik/khusus 597,47 3 Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim
terhadap perairan dan habitat
C. Domain Teknologi Penangkapan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan daya dukung SDI
Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal
1245,14 6 Peningkatan pengawasan dan penegakan
hukum terhadap penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, penyuluhan, serta optimalisasi peran masyarakat dalam pengawasan di tingkat lokal
Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan
960,00 5 Optimalisasi kontrol dan proteksi
pemasaran ikan yang telah diatur standar ukurannya, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum serta pengendalian perizinan alat penangkapan dan alat bantu penangkapan ikan
Kapasitas Perikanan dan Upaya Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)
366,87 3 Peningkatan kapasitas dan upaya
tangkap, disertai pengendalian input produksi, serta penetapan kuota penangkapan (Target, Gear, Area, Time Selektivitas
penangkapan 874,00 4 Peningkatan pengawasan dan penegakanhukum terhadap alat tangkap yang tidak selektif, pengembangan teknologi penangkapan ikan alternatif Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal
271,00 2 Peningkatan pengawasan dan penegakan
hukum terhadap kesesuaian dokumen legal dengan fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan
Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan
108,14 1 Peningkatan pengawasan dan penegakan
hukum terhadap kepemilikan setifikat oleh awak kapal, serta pengembangan pelatihan awak kapal perikanan
D. Domain Sosial
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Meningkatkan Nilai-Nilai Sosial Dalam Pengelolaan Perikanan Partisipasi pemangku kepentingan
1017,45 2 Optimalisasi partisipasi pemangku
kepentingan dalam pengelolaan
perikanan, pengembangan dan penguatan kelembagaan pengelola, serta penguatan kapasitas pemangku kepentingan Konflik
perikanan 1337,11 3 Penguatan kapasitas manajemen konflikperikanan di tingkat masyarakat dan pemangku kepentingan, optimalisasi koherensi kebijakan, serta peningkatan integrasi kelembagaan Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge)
835,98 1 Integrasi TEK dalam pengaturan
pengelolaan, public awareness penyuluhan, peningkatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengoptimalisasi peran
pengetahuan lokal dalam pengelolaan perikanan.
E. Domain Ekonomi
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Mencapai Kesejahteraan Nelayan Yang Lestari
Kepemilikan
Aset 1848,13 3 Penguatan kapasitas nelayan dalampengelolaan aset usaha perikanan dan peningkatan pemahaman RTP dalam mengoptimalisasi investasi terhadap aset usaha perikanan
Pendapatan rumah tangga (RTP)
1491,07 2 Peningkatan kapasitas usaha perikanan di
tingkat RTP, pengembangan alternatif
livelihood dan diversifikasi usaha di
tingkat RTP Rasio Tabungan
(Saving ratio) 806,87 1 Peningkatan kapasitas usaha, sertapenyuluhan tentang pentingnya menabung dan kelemahan budaya konsumtif
F. Domain Kelembagaan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Meningkatkan kinerja kelembagaan dan tata kelola perikanan Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal
671,84 5 Peningkatan pengawasan, Law
enforcement pengembangan dan
penguatan kelembagaan di tingkat pemangku kepentingan dan/atau pengelola
Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan
1331,03 6 Penguatan kapasitas pemangku
kepentingan dalam penerapan regulasi pengelolaan perikanan, peningkatan pengawasan, Law
enforcement yang konsisten
Mekanisme pengambilan keputusan
602,44 4 Pengembangan dan penguatan
kelembagaan pengelola,
pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, serta monitoring dan evaluasi mekanisme pengambilan keputusan dan partisipasi pemangku kepentingan Rencana
pengelolaan perikanan
214,14 1 Pengembangan dan penguatan
kelembagaan pengelola,
pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, pendampingan perencanaan pengelolaan perikanan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan 528,63 3 Pendampingan manajemen
kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard
Kapasitas pemangku
kepentingan 248,51 2 Pendampingan peningkatan kapasitaspemangku kepentingan dan/atau pengelola perikanan, serta monitoring dan evaluasi kapasitas berbasis fisheries governance scorecard
5.2.2. Parsial: Kabupaten dan Kota Pada Setiap WPP-714
(1) Provinsi Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai
A. Domain Sumberdaya Ikan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.
CpUE Baku 1680 5 (1) Pengendalian upaya tangkap diversifikasi
alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan
Tren ukuran ikan 360 3 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang
boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap
Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap
540 4 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang
boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap
Komposisi spesies tangkapan
360 3 (2) Pengaturan selektifitas alat tangkap
Spesies ETP 50 1 (3) Pengendalian pemanfaatan spesies ETP
pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan pengaturan selektifitas alat tangkap
"Range Collapse"
sumberdaya ikan 270 2 (2) Pengaturan upaya tangkap diversifikasispesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap
B. Domain Habitat/Ekosistem
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjamin kelestarian sumber daya ikan
Kualitas perairan 800 4 (1) Pengendalian pencemaran, pengendalian
pembukaan lahan atas, pengaturan pengelolaan bahan cemar dan law
enforcement
Status ekosistem
lamun 420 2 (2) Pengendalian pembukaan lahan atas,replantasi lamun, penetapan kawasan konservasi lamun, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem lamun
Status ekosistem
mangrove 420 2 (2) Replantasi mangrove penguatan kearifanlokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem
terumbu karang 420 2 (2) Penguatan kearifan lokal, penetapankawasan konservasi terumbu karang, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan mata pencaharian alternatif Habitat
unik/khusus 480 3 (3) Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim
terhadap perairan dan habitat
C. Domain Teknologi Penangkapan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan daya dukung SDI
Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal
780 6 (1) Peningkatan pengawasan dan penegakan
hukum terhadap alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, penyuluhan, serta peningkatan kapasitas pengembangan teknologi penangkapan ikan
Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan
375 5 (2) Peningkatan kapasitas pengembangan
teknologi penangkapan ikan, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum serta pengendalian perizinan alat penangkapan dan alat bantu penangkapan ikan Kapasitas Perikanan dan Upaya Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)
225 3 (2) Pengendalian input (pemanfaatan SDI),
kuota penangkapan (Target, Gear, Area, Time), diversifikasi teknologi
penangkapan ikan Selektivitas
penangkapan 292,5 4 (3) Peningkatan pengawasan dan penegakanhukum terhadap alat tangkap yang tidak selektif Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal
100 2 (4) Peningkatan pengawasan dan penegakan
hukum terhadap kesesuaian dokumen legal dengan fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan
Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan
50 1 (4) Pelatihan awak kapal perikanan, serta
peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap kepemilikan setifikat oleh awak kapal
D. Domain Sosial
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Meningkatkan Nilai-Nilai Sosial Dalam Pengelolaan Perikanan Partisipasi pemangku kepentingan
600 2 (2) Optimalisasi partisipasi pemangku
kepentingan, pengembangan dan penguatan kelembagaan pengelola, dan penguatan kapasitas pemangku kepentingan
Konflik
perikanan 980 3 (1) Resolusi konflik (preventif, mitigasikonflik), optimalisasi koherensi kebijakan, integrasi kelembagaan, serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge)
250 1 (2) Integrasi TEK dalam pengaturan
pengelolaan, serta pendampingan (public awareness, penyuluhan dan peningkatan kapasitas) pengetahuan lokal dalam pengelolaan SDI.
E. Domain Ekonomi
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Mencapai Kesejahteraan Nelayan Yang Lestari
Kepemilikan
Aset 1260 3 (2) Peningkatan kapasitas nelayan dalampengelolaan aset dan optimalisasi investasi terhadap aset
Pendapatan rumah tangga (RTP)
1140 2 (1) Peningkatan kapasitas usaha,
pengembangan alternatif livelihood dan diversifikasi usaha di tingkat RTP Rasio Tabungan
(Saving ratio) 175 1 (3) Peningkatan kapasitas usaha, sertapenyuluhan tentang pentingnya menabung dan kelemahan budaya konsumtif
F. Domain Kelembagaan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Meningkatkan kinerja kelembagaan dan tata kelola perikanan Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal
550 5 (2) Peningkatan pengawasan, Law
enforcement pengembangan dan
penguatan kelembagaan di tingkat pemangku kepentingan dan/atau pengelola
Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan
938,6 6 (3) Peningkatan pengawasan, Law
enforcement yang konsisten
Mekanisme pengambilan keputusan
144 1 (6) Pengembangan dan penguatan
kelembagaan pengelola,
pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, serta monitoring dan evaluasi mekanisme pengambilan keputusan dan partisipasi pemangku kepentingan Rencana
pengelolaan perikanan
210 2 (4) Pengembangan dan penguatan
kelembagaan pengelola,
pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, pendampingan perencanaan pengelolaan perikanan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan 231 3 (5) Pendampingan manajemen
kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard
Kapasitas pemangku
kepentingan 287,5 4 (1) Pendampingan peningkatan kapasitaspemangku kepentingan dan/atau pengelola perikanan, serta monitoring dan evaluasi kapasitas berbasis fisheries governance scorecard
(2) Provinsi Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Laut
A. Domain Sumberdaya Ikan
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.
CpUE Baku 1680 (1) Pengendalian upaya tangkap diversifikasi
alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan
Tren ukuran ikan 360 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang
boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap
Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap
540 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang
boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap
Komposisi spesies tangkapan
360 (2) Pengaturan selektifitas alat tangkap
Spesies ETP 50 (3) Pengendalian pemanfaatan spesies ETP
pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan pengaturan selektifitas alat tangkap
"Range Collapse"
sumberdaya ikan 270 (2) Pengaturan upaya tangkap diversifikasispesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap
B. Domain Habitat/Ekosistem
TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS
PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN
Menjamin kelestarian sumber daya ikan
Kualitas perairan 962,7 6 (1) Pengendalian pencemaran, pengendalian
pembukaan lahan atas, pengaturan pengelolaan bahan cemar dan law
enforcement
Status ekosistem
lamun 472,5 4 (2) Pengendalian pembukaan lahan atas,replantasi lamun, penetapan kawasan konservasi lamun, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem lamun
Status ekosistem
mangrove 315 (2) Replantasi mangrove penguatan kearifanlokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem
terumbu karang 420 3 (2) penguatan kearifan lokal, penetapankawasan konservasi terumbu karang, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan mata pencaharian alternatif Habitat
unik/khusus 480 5 (3) Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim
terhadap perairan dan habitat