• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

18 Maret 2014

Penilaian Performa

Pengelolaan Perikanan

menggunakan Indikator EAFM

Laut Banda Wilayah Pengelolaan Perikanan 714

Oleh:

ABRAHAMSZ

(2)

Daftar Isi

1 Pendahuluan ... 3

1.1

Latar Belakang ... 3

1.2

Tujuan dan Manfaat Studi ... 7

2 Sekilas Kondisi Perikanan WPP 714... 8

3 Metode Penilaian Performa Indikator EAFM ... 11

3.1 Pengumpulan data... 11

3.2

Analisa Komposit ... 13

4 Analisis Komposit Pengelolaan Perikanan pada WPP 714... 116

4.1

Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Kabupaten/Kota ... 18

4.3

Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Provinsi ... 21

4.4

Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat WPP 714 ... 26

5 Kesimpulan dan Rekomendasi ... 27

5.1 Kesimpulan ... 27

(3)

1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang beragam dan melimpah pada

lautnya yang mencapai luas sekitar 5,8 juta km2. Estimasi potensi sumberdaya perikanan laut di

Indonesia diperkirakan oleh kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2011 sebesar

6.520.300 ton/tahun. Potensi tersebut terdiri atas 55,9% dari perikanan pelagis kecil,22,3%

berasal dari perikanan demersal, 17,6% perikanan pelagis besar, 2,2% perikanan ikan karang

konsumsi, 1,5% bersumber dari udang Penaeid, 0,4% berasal dari cumi-cumi dan 0,1% berasal

dari lobster.

Besarnya potensi perikanan yang tersebar di perairan Indonesia, membuat KKP membagi

perairan di Indonesia menjadi 11 bagian (Gambar 1) yang sering disebut dengan Wilayah

Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI). Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan

efesiensi dan efektifitas pengelolaan perikanan yang ada. Perhitungan estimasi potensi

perikanan, pengkajian stok ikan hingga kebijakan perikanan selalu berdasarkan 11 WPP

tersebut.

Gambar 1. Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan

Pembangunan perikanan Indonesia ditentukan oleh model pengelolaan perikanan yang

dikembangkan. Pengertian pengelolaan perikanan dalam UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang

Perikanan sebagaimana diubah dalam UU Nomor 45 Tahun 2009 adalah: “Semua upaya,

termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan,

(4)

konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan

hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh

pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas

sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.

Mengacu pada konsep tersebut, pengelolaan perikanan terkait erat dengan dua skala

pengelolaan sebagaimana dikemukakan oleh Charles (2001) yakni: (1) skala waktu pengelolaan,

dan (2) skala ruang pengelolaan. Kedua skala pengelolaan ini memberikan justifikasi tentang

sangat dinamisnya pengelolaan perikanan. Dinamika pengelolaan perikanan menyebabkan

adanya kebutuhan model pengelolaan sesuai dengan karakteristik kawasan dan sumber daya

perikanan yang terdistribusi di setiap kawasan. Dinamika yang ditunjukan dalam konteks

pengelolaan perikanan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berbagai pendekatan

pengelolaan, terutama untuk tujuan pengelolaan secara berkelanjutan.

Untuk menunjang keberlanjutan pengelolaan perikanan di dunia, FAO mengembangkan konsep

pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (ecosystem approach to fisheries/EAF),

yaitu: “an ecosystem approach to fisheries strives to balance diverse societal objectives, by taking

account of the knowledge and uncertainties about biotic, abiotic and human components of

ecosystems and their interactions and applying an integrated approach to fisheries within

ecologically meaningful boundaries”. KKP-RI, WWF Indonesia dan PKSPL-IPB (2012)

menyatakan sesuai dengan konsep itu, secara sederhana EAF dapat dipahami sebagai sebuah

konsep bagaimana menyeimbangkan antara tujuan sosial ekonomi dalam pengelolaan

perikanan (kesejahteraan nelayan, keadilan pemanfaatan sumber daya ikan, dll) dengan tetap

mempertimbangkan pengetahuan, informasi dan ketidakpastian tentang komponen biotik,

abiotik dan interaksi manusia dalam ekosistem perairan melalui sebuah pengelolaan perikanan

yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan.

Pengelolaan perikanan saat ini masih belum mempertimbangkan keseimbangan dimensi

sumber daya perikanan dan ekosistem, dimensi pemanfaatan sumber daya perikanan untuk

kepentingan sosial ekonomi masyarakat, dan dimensi kebijakan perikanan. Kepentingan

pemanfaatan untuk kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dirasakan lebih besar dibanding

dengan misalnya kesehatan ekosistemnya. Dengan kata lain, pendekatan yang dilakukan masih

parsial belum terintegrasi dalam kerangka dinamika ekosistem yang menjadi wadah dari

sumber daya ikan sebagai target pengelolaan. Dalam konteks ini lah, pendekatan terintegrasi

melalui pendekatan ekosistem terhadap pengelolaan perikanan (ecosystem approach to fisheries

management selanjutnya disingkat EAFM) menjadi sangat penting (KKP-RI, WWF Indonesia dan

(5)

Dalam assessment potensi (KepMen 45 tahun 2011), pendekatan yang digunakan masih

mempertimbangkan kondisi pemanfaatan perikanannya saja, sedangkan aspek ekosistem, aspek

sosial, ekonomi dan kelembagaan masih belum terkaji dalam format yang baku. Untuk itu sejak

tahun 2010 hingga saat ini WWF Indonesia dalam hal ini berinisiasi dalam memfasilitasi

pembuatan Indikator pengelolaan perikanan yang berbasis ekosistem bersama Direktorat

Sumberdaya Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementrian Kelautan dan Perikanan

dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) dengan

konsep tersebut dinamakan Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM).EAFM

merupakan indikator asessment perikanan yang akan dilakukan bertahap di masing-masing

WPP yang ada di Indonesia.

KKP-RI, WWF Indonesia dan PKSPL-IPB (2012) menginisiasi penerapan EAFM di Indonesia.

Beberapa wilayah di Indonesia dipilih sebagai pilot project salah satunya adalah di Wilayah

Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI) 714, Laut Banda. Beberapa provinsi yang

pengelolaan perikanannya berorientasi pada potensi perikanan pada WPP 714, antara lain: (1)

Sulawesi Tenggara; (2) Sulawesi Tengah; (3) Nusa Tenggara Timur; dan (4) Maluku.

1.2 Tujuan dan Manfaat Studi

Studi untuk penilaian indikator EAFM pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia

(WPP-RI) 714, Laut Banda, dilakukan dengan tujuan:

(1) melakukan monitoring dan/atau pengumpulan data yang terkait dengan indikator sumber

daya pada setiap domain pengelolaan perikanan;

(2) menganalisis status indikator sumber daya pada setiap domain pengelolaan perikanan;

(3) menganalisis nilai komposit pengelolaan perikanan;

(4) merumuskan rekomendasi pengembangan strategi penerapan metode dan analisis indikator

EAFM.

Manfaat yang diharapkan dari kajian ini adalah: (1) adanya pemahaman bersama tentang status

pengelolaan perikanan pada WPP 714; (2) terimplementasinya model-model penilaian kinerja

pengelolaan perikanan di tingkat wilayah dan kawasan; serta (3) adanya rekomendasi strategis

terkait aspek metodologis dan analisis dalam penilaian indikator EAFM.

(6)

2 Sekilas Kondisi Perikanan WPP 714

Sesuai dengan hasil yang dirumuskan dalam Kepmen KP 45 Tahun 2011, hasil estimasi potensi

sumberdaya ikan untuk tujuh kelompok ikan pada WPP 714 mencapai 278 ton per tahun.

Kontribusi paling tinggi adalah pada kelompok sumberdaya ikan pelagis besar dan pelagis kecil,

masing-masing: 104,10 ton atau 37,45% dan 132 ton atau 47,48%. Hasil ini menunjukkan

bahwa ikan pelagis, baik pelagis kecil maupun besar merupakan kelompok sumberdaya ikan

yang cukup potensial pada WPP 714.

Tabel 1. Estimasi potensi sumberdaya ikan pada WPP 714, menurut

KepMen 45 Tahun 2011

Kelompok Sumberdaya Ikan

Potensi (1000 ton/tahun)

Ikan Pelagis Besar

104,10

Ikan Pelagis Kecil

132,00

Ikan Demersal

9,30

Udang Penaeid

-Ikan Karang konsumsi

32,10

Lobster

0,40

Cumi-Cumi

0,10

Total

278,00

Hasil kajian Komisi Nasional Stok Ikan yang dituangkan dalam KP 45 Tahun 2011 ini, juga telah

mengestimasi besaran pemanfaatan perikanan untuk setiap WPP. Sesuai dengan hasil estimasi

pemanfaatan dan potensi ini, dilakukan pendugaan status pemanfaatan perikanan di setiap

WPP, yang digolongkan menjadi empat kelompok tingkat pemanfaatan, masing-masing: (1) Over

exploited (O); (2) Fully exploited (F); (3) Moderate (M); dan (4) Moderate to fully exploited (M-F).

Penggolongan status pemanfaatan perikanan di setiap WPP menunjukkan adanya variasi status

pemanfaatan. Khusus untuk WPP 714, kelompok pemanfaatan ikan demersal termasuk dalam

kategori Fully exploited (F), demikian halnya dengan kelompok ikan pelagis kecil, kecuali

pemanfaatan jenis Decapterus macarellus dan D. macrosoma berada pada kategori Moderate to

fully exploited (M-F).

Pada kelompok ikan tuna besar, pemanfaatan ikan cakalang termasuk kategori Moderate (M),

pemanfaatan ikan tuna madidihang pada kategori Fully exploited (F), pemanfaatan ikan tuna

mata besar pada kategori Over exploited (O). Pemanfaatan kelompok sumberdaya ikan lainnya,

cumi-cumi, termasuk dalam kategori Moderate (M).

(7)

T

ab

el

2.

St

at

us

ti

ng

ka

tp

em

an

fa

at

an

Su

m

be

rd

ay

a

Ik

an

di

pa

da

se

ti

ap

W

PP

di

Pe

ra

ir

an

In

do

ne

si

a

(K

ep

M

en

45

ta

hu

n

20

11

)

(8)

Peta status pemanfaatan sumberdaya ikan pada WPP 714 ini memberikan justifikasi kuat

tentang pentingnya pengelolaan sumberdaya ikan, terutama untuk jenis-jenis yang

dikemukakan di atas membutuhkan pendekatan kehati-hatian dalam rangka menjamin

keberlanjutan pemanfaatannya di wilayah pengelolaan ini.

(9)

3 Metode Penilaian Performa Indikator EAFM

3.1 Pengumpulan data

Pada lokasi pelaksanaan kajian EAFM di WPP 714, alokasi waktu pengambilan data lapangan

mulai tanggal 04 Mei sampai dengan 23 Nopember 2013. Pengumpulan data sekunder dilakukan

institusi di daerah, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota Hasil-hasil penelitian

terdahulu pada berbagai institusi penelitian juga dikumpulkan untuk mendukung analisis.

Pengumpulan data untuk penilaian domain habitat dan ekosistem, sumber daya ikan, teknik

penangkapan dan kelembagaan bersumber dari hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasi. Hal

ini terutama dalam bentuk laporan-laporan hasil kajian tentang data dan informasi kelautan dan

perikanan yang pernah dilakukan.

Pengumpulan data lapangan yang berkaitan dengan domain, sumber daya ikan, teknik

penangkapan ikan, sosial, ekonomi dan kelembagaan dilakukan dengan pendekatan wawancara

semi terstruktur. Responden yang dipilih meliputi: nelayan, staf Dinas Kelautan dan Perikanan,

dan institusi daerah lainnya yang memiliki relevansi kegiatan dan data serta informasi dengan

kajian indikator-indikator pada setiap domain.

Distribusi sumber data untuk setiap indikator digambarkan secara parsial untuk setiap domain

sebagai berikut:

(1) Domain Habitat dan Ekosistem

Indikator

Sumber data

Kualitas perairan

Data sekunder: kajian data dan informasi kelautan dan perikanan

pada

berbagai

institusi

penelitian,

DKP

Provinsi

dan

Kabupaten/Kota serta Citra MODIS (diolah)

Status lamun mangrove dan

terumbu karang Habitat

unik/khusus (spawning ground

nursery ground feeding ground,

upwelling serta dampak

perubahan iklim perairan dan

habitat

Data sekunder: kajian data dan informasi kelautan dan perikanan

pada setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota serta DKP Provinsi dan

Kabupaten/Kota, termasuk hasil wawancara dengan nelayan atau

masyarakat pesisir.

(2) Domain Sumber Daya Ikan

Indikator

Sumber data

CPUE Baku (Standarize CPUE)

Statistika Perikanan pada DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan

Wawancara (Nelayan dan DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota)

Ukuran Ikan Proporsi Ikan

Yuwana (Juvenile) yang

ditangkap, Komposisi Spesies,

"Range Collapse" sumber daya

Ikan, dan Spesies ETP

(10)

(3) Domain Teknik Penangkapan Ikan

Indikator

Sumber data

Metode penangkapan ikan yang

bersifat destruktif dan atau ilegal,

Modifikasi alat penangkapan ikan

dan alat bantu penangkapan,

Fishing capacity dan effort,

Selektifitas penangkapan

Survey lapangan, data Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)

Kesesuaian fungsi dan ukuran

kapal penangkapan ikan dengan

dokumen legal

Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Wawancara (DKP

Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)

Sertifikasi awak kapal perikanan

sesuai dengan peraturan.

Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)

(4) Domain Sosial

Indikator

Sumber data

Partisipasi pemangku

kepentingan, Konflik perikanan,

Pemanfaatan pengetahuan lokal

dalam pengelolaan sumber daya

ikan

Survey lapangan, data Statistika DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Wawancara (DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Nelayan)

(5) Domain Ekonomi

Indikator

Sumber data

Kepemilikan aset

Wawancara (Nelayan)

Pendapatan rumah tangga (RTP)

Wawancara (Nelayan)

Saving rate

Wawancara (Nelayan)

(6) Domain Kelembagaan

Indikator

Sumber data

Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang

bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah

ditetapkan baik secara formal maupun non-formal (Alat)

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

Mekanisme Kelembagaan

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

Rencana pengelolaan perikanan

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan

perikanan

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

Kapasitas pemangku kepentingan

Survey lapangan, dan Wawancara

(DKP Provinsi dan Kabupaten/Kota

dan Nelayan)

(11)

3.2 Analisa Komposit

Pengembangan analisis komposit menggunakan Teknik Flag Modeling dengan pendekatan

multi-criteria analysis (MCA) di mana sebuah set kriteria dibangun sebagai basis bagi analisis keragaan

wilayah pengelolaan perikanan dilihat dari pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan

(EAFM) melalui pengembangan indeks komposit dengan tahapan sebagai berikut (Adrianto,

Matsuda, and Sakuma, 2005):

(1) Tentukan kriteria untuk setiap indikator masing-masing domain EAFM (habitat,

sumberdaya ikan, sosial ekonomi dan kelembagaan).

(2) Kaji keragaan masing-masing unit perikanan (misalnya WPP) untuk setiap indikator yang

diuji baik menggunakan sumber primer atau sekunder sesuai dengan tingkat ketersediaan

data yang terbaik (the best available data).

(3) Menetapkan batasan nilai (reference point). Batasan nilai dari setiap atribut berbeda

beda. Karena setiap atribu dalam satu domain memiliki satuan yang berbeda. Namun

demikian setiap nilai yang berbeda tersebut akan di gabungkan dalam suatu penilaian

yang sama yaitu system scoring

(4) Berikan nilai skor (ns

ij

untuk setiap indikator ke-i domain ke-j pada masing-masing unit

perikanan yang diukur (misalnya WPP) dengan menggunakan skor Likert (berbasis

ordinal 1,2,3) sesuai dengan keragaan pada setiap unit perikanan yang diuji (misalnya

WPP) dan kriteria yang telah ditetapkan untuk masing-masing domain (D

j

).

(5) Menetapkan skor dari setiap atribut EAFM. Skor atribut EAFM untuk semua atribut dari

semua domain ditetapkan pada kisaran nilai 1-3. Pemberian skor dilakukan berdasarkan

hasil yang diperoleh dari setiap atribut dengan membandingkan dengan reference point.

Karena dalam reference point ditetapkan nilai minimum, sedang dan maksimum.

(6) Dalam pengukuran atribut dari setiap domain, batasan skor atribut yang diberikan antara

1-3. Pemberian skor dari setiap atribut ini merupakan suatu upaya untuk mengakomodasi

semua nilai atribut yang memiliki satuan yang berbeda dalam satu analisis terintegrasi.

Dengan teknik skor ini maka semua atribut yang ada akan terlihat memberikan kontribusi

yang berimbang.

Dari proses pemberian skor tersebut, pada tahap awalnya kita bisa mengetahui kelompok

kelompok parameter mana yang tergolong terendah (barada dalam reference point

rendah) dan mana yang dalam reference point tinggi. Kelompok dengan skor terendah

tersebut atau yang berada pada skala reference point terendah akan tergolong pada

parameter dengan status buruk atau dengan warna merah (rendah).

Begitu juga

sebaliknya jika skor aktributnya lebih dari standar yang ditetapkan, maka tergolong

sebagai parameter yang kontribusi tinggi/baik dengan warna hijau.

(12)

Menetapkan bobot dari setiap atribut. Setiap atribut emiliki nilai kepentingan yang

berbeda beda. Perbedaan kepentingan parameter ini dilihat setelah menetapkan semua

atribut dalam domain. Kemudian ditetapkan bobot setiap atribut sesuai dengan derajat

pengaruh atribut tersebut dalam domain. Pembobotan di tetapkan dalam skala 0-100.

Atribut yang memiliki bobot besar dianggap memiliki nilai kepentingan paling tinggi

dalam domain tersebut. Bobot yang memiliki bobot rendah memiliki kepentingan yang

rendah dalam domain tersebut. Pembobotan maksimal tiap domain 100 yang dibagi habis

dalam setiap atribut

(8) Identifikasi tingkat konektivitas (densitas) antar domain dan indikator dengan

menentukan skor domain (sd

i

dari hasil coginitive mapping keterkaitan antar indikator.

Keterkaitan ini merupakan salah satu penciri utama dari EAFM.

(9) Penentuan densitas (konektivitas) dalam setiap atribut. Densitas setiap atribut berbeda

ditetapkan dalam skala nilai yang berbeda. Densitas (konektivitas) setiap atribut yaitu

tingkat keterkaitan sebuah atribut dengan atribut lainnya. Keterkaitan dilihat dari semua

atribut EAFM, kemudian dilihat tingkat keterkaitannya (langsung atau tidak). Densitas

maksimal mungkin terjadi apabila suatu atribut memiliki hubungan dengan atribut lain

selain dirinya. Sehingga densitas maksimum akan berjumlan (n-1), dimana adalah total

dari atribut EAFM yang dikaji.

Selain skor atribut, salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan pengaruhnya adalah

nilai densitas. Nilai densitas didefenisikan sebagai jumlah keterkaitan dari setiap atribut

terhadap atribut lainnya. Selain itu juga menujukkan besaran pengaruh dari suatu atribut

terhadap atribut lainnya. Secara umum keseluruhan atribut memberikan peluang

memiliki hubungan dengan atribut lainnya kecuali dirinya sendiri. Dalam kontek ini

pemberikan nilai densitas juga akan menunjukkan pengaruhnya terhadap perhitungan

secara keseluruhan. Logika sederhananya adalah, bahwa setiap atribut yang memiliki

keterkaitan tinggi (banyak) terhadap atribut lainya, akan tergolong sebagai atribut yang

memiliki peran besar dalam ekosistem suatu kawasan.

Penetapan batasan nilai densitas adalah sebagai indikator terhadap suatu atribut dalam

ekosistem. Dalam hal ini bukan berarti densitas yang berwarna merah merupakan atribut

yang jelek pengaruhnya, tetapi hanya menunjukkan rendah atau sedikit konetivitasnya.

Kalau densitasnya rendah berarti atribut tersebut perannya kurang terhadap atribut lain

di kawasan tersebut. Begitu sebaliknya apabila densitasnya tinggi, maka peranya vital

dalam ekosistem tersebut. Atribut tersebat dapat terdampak atau berdampak signifikan

terhadap atribut lainya bila terjadi gangguan.

(10) Kembangkan penilaian komposit pada masing-masing domain ke-j (C

ati

dengan formula

sederhana sebagai berikut

(13)

Dimana:

Ca

t-i

Nilai total EAFM dari satu atribut dalam domain

S

ai

Skor atribut ke-i

W

i

Bobot atribu ke-i

Di

Densitas atribut ke=i

Evaluasi atribut EAFM di suatu lokasi ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi dari indikator

yang ditetapkan di semua lokasi sampling. Evaluasi yang dilakukan dengan menetapkan

batasan dan kriteria EAFM dari berdasarkan reference point yang ada.

(11) Kembangkan indeks komposit agregat untuk seluruh domain ke-j (D

j

pada unit perikanan

yang dievaluasi (misalnya WPP) dengan model fungsi sebagai berikut C-

WPPi

(D

j

ns

ij

br

ij

sd

i

). Basis formula untuk analisis komposit agregat adalah:

C-

WPPi

AVE dj

nsij

brij

sdi

Di mana AVE

rata-rata aritmetik dari domain ke-j (D

j

dari total perkalian antara ns

ij

(nilai skor indikator ke-i dari domain ke-j) dan br

ij

(bobot ranking indikator ke-i domain

ke-j) dan sd

i

(skor densitas dari indikator ke-i). Atau secara sederhana juga di tuliskan

sebagai berikut:

=

Dimana

C

at-i

Total nilai dari domain ke-i

S

ai

Skor atribut ke-i

W

i

Bobot atribu ke-i

Di

Densitas atribut ke=i

Dari total tiap indikator yang dinilai, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis

komposit sederhana berbasis rataan aritmetik yang kemudian ditampilkan dalam

bentuk model bendera (flag model) dengan kriteria seperti yang dapat dilihat pada Tabel

berikut ini.

Inidek komposit ini merupakan nilai konversi nilai total setiap domain

EAFM. Proses konversi ini diperlukan agar di peroleh batasan yang baku dari nilai

EAFM. Nilai total dari perkalian komponen EAFM selanjutnya di konversi dalam skala

1-100. Konversi inidiperlukan untuk memudahkan pengklasan atau pengkategorian suatu

domain EAFM. Nilai konversi skala setiap domain yaitu:

=

100

Dimana:

(14)

C

at-imax

Nilai maksimum dari satu atribut dalam domain yang diperoleh saat semua

atribut memiliki skor 3.

C

at-imax

akan bernilai maksimum apabila semua skor atribut dalam suatu domain bernilai

3. Artinya semua atribut berada dalam reference point tertinggi atau disebut juga dalam

kategori baik.

Penentuan nilai komposit (total) dari seluruh domain EAFM yang dikaji. Nilai komposit

ditentukan dari nilai rata-rata dari seluruh domain yang dikaji dalam wilayah EAFM.

Perkalian skor atribut dan skor densitas akan memberikan nilai atau bobot dari setiap

atribut yang ada secara keseluruhan. Hasil ini kemudian di masukan kedalam nilai

agregat atribut. Nilai agregat atribut tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai dengan

skala 1-100. Agregat dengan nilai 100 termasuk agregat yang paling tinggi/paling baik

kondisinya di kawasan, dan yang rendah nilainya termgolong paling kurang/paling

buruk kondisinya dikawasan. Nilai komposit dapat di formulasikan sebagai berikut.

=

100

Dimana

jumlah domain dalam EAFM

(12) Pengklasifikasian nilai domain EAFM. Pengklasifikasian ini diperlukan untuk melihat

sejauh mana peroleh nilai EAFM yang dikaji. Pengklasifikasian juga ditetapkan dalam

skala 1-100 sebagai berikut:

Tabel

Batasan Skor Nilai Domain dan Agregat

Rentang nilai

Model

Bendera

Deskripsi

Rendah

Tinggi

1

20

Buruk dalam menerapkan EAFM

21

40

Kurang dalam menerapkan EAFM

41

60

Sedang dalam menerapkan EAFM

61

80

Baik dalam menerapkan EAFM

81

100

Baik Sekali dalam menerapkan EAFM

Nilai skor agregat kemudian dideskripsikan atas kelompok(kategori). Kelima kategori

ini menggambarkan tingkatkan status dari domain EAFM suatu wilayah. Nilai agregat

domain berasal dari agregat agregat parameter yang dievaluasi. Sementara itu agregat

kawasan adalah nilai rata dari nilai atribut dalam setiap domain. Hasil ini kemudian

dijadikan sebagai dasar dalam pengklasifikasian nilai agregat total.

(15)

Interpretasi dari nilai agregat bisa dilihat dari sisi yaitu karena atributnya yang rendah

(di bawah reference point atau karena konektivitasnya yang kurang. Agregat yang

rendah selain itu juga bermakna bahwa pengaruh dari atribut cenderung negative dan

pengaruh parameter di kawasan tersebut juga kurang. Hasil dari nilai agregat ini

kemudian dijadikan sebagai dasar untuk penetapan rekomendasi dari penilaian

indicator EAFM di wilayah perairan yang dikaji.

(16)

4 Analisis Komposit Pengelolaan Perikanan Pada WPP 714

4.1 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Kabupaten/Kota

Analisis komposit pengelolaan perikanan untuk tingkatan Kabupaten/Kota pada WPP 714

diarahkan untuk memberikan penjelasan tentang status setiap domain yang berbasis pada

distribusi nilai indikator-indikatornya masing-masing. Kajian dilakukan di empat Provinsi,

masing-masing: (1) Sulawesi Tengah pada dua kabupaten, Banggai dan Banggai Laut; (2)

Sulawesi Tenggara pada empat kabupaten, Butur, Konawe, Konsel dan Wakatobi; (3) Nusa

Tenggara Timur pada empat kabupaten, Manggarai Barat, Flores Timur, Lembata dan Alor; serta

(4) Maluku pada

kabupaten/kota, Ambon, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Maluku

Tenggara Barat dan Lauku Tenggara. Hasil menyeluruh diacu pada Lampiran 1.

Pertama Hasil analisis untuk domain habitat dan ekosistem menunjukkan bahwa distribusi nilai

yang bervariasi untuk setiap wilayah Kabupaten/Kota (Gambar 2). Distribusi nilai tertinggi

berada pada kisaran nilai antara 81% sampai dengan 100% yang termasuk dalam kategori

status Baik Sekali Wilayah yang termasuk dalam status domain habitat dan ekosistem dengan

status Baik Sekali hanya di Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.

Wilayah dengan status Baik pada domain

habitat dan ekosistem adalah: (1) Butur di

Provinsi Sulawesi Tenggara; dan (2) Flores

Timur di Provinsi Nusa Tenggara. Status

Sedang pada domain ini hanya di Lembata

dan Alor, Provinsi Nusa Tenggara.

Status Kurang untuk domain ini, pada

kabupaten/kota: (1) Banggai dan Banggai

Laut di Sulawesi Tengah; (2) Konawe dan

Konsel di Sulawesi Tenggara; (3) Ambon,

Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat,

Maluku Tenggara Barat dan Maluku Tenggara di Provinsi Maluku. Status Buruk hanya pada satu

wilayah, Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara.

Jika status domain mulai dari kategori sedang sampai baik sekali merupakan status ideal, maka

hanya 33,33% wilayah dari 15 wilayah yang dikaji, memiliki status pengelolaan yang ideal.

Dengan demikian 66,67% lainnya merupakan wilayah-wilayah yang membutuhkan strategi

pengelolaan perikanan yang lebih baik dan perlu perhatian serius, pada domain habitat dan

ekosistem.

32 33 65 27 33 81 64 44 44 21 33 27 37 33 - 20 40 60 80 100

H

ab

it

at

&

ek

os

is

te

m

Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

Gambar 2. Distribusi nilai domain habitat dan

ekosistem per wilayah di WPP 714

(17)

Kedua analisis komposit untuk domain

sumberdaya

ikan

juga

menunjukkan

distribusi nilai yang bervariasi antar

wilayah Kabupaten/Kota (Gambar 3). Tidak

satupun wilayah Kabupaten/Kota yang

memiliki status Baik Sekali untuk domain

sumberdaya ikan.

Wilayah dengan status Baik pada domain ini

meliputi: (1) Butur dan Wakatobi; serta (2)

Manggarai Barat dan Lembata. Status

Sedang pada wilayah: (1) Konawe dan

Konsel; serta (2) Seram Bagian Timur,

Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara Barat

dan Maluku Tenggara. Status Kurang pada wilayah: (1) Banggai dan Banggai Laut; (2) Flores

Timur dan Alor; serta (3) Ambon. Status Buruk sama sekali tidak ditemukan pada setiap

wilayah kajian.

Distribusi nilai untuk domain sumberdaya ikan juga memberikan gambaran bahwa 33,33%

wilayah kajian, memiliki status pengelolaan yang ideal. Hal ini membuktikan masih 66,67%

wilayah lain yang membutuhkan strategi pengelolaan perikanan yang lebih serius pada domain

sumberdaya ikan.

Ketiga untuk domain teknik penangkapan,

hasil analisis tematik menunjukkan variasi

distribusi nilai antar wilayah Kabupaten/

Kota (Gambar 4). Status Baik Sekali untuk

domain sumberdaya ikan tidak ditemukan

pada satu wilayah pun

Status Baik hanya pada dua wilayah, Butur

dan Walatobi. Status Sedang pada Flores

Timur, Lembata, Alor, Ambon dan Seram

Bagian Timur. Status Kurang terdapat pada

wilayah Banggai, Banggai Laut, Konawe,

Konsel,

Seram

Bagian

Barat,

Maluku

37 37 70 50 49 65 60 38 67 33 30 59 41 46 44 - 20 40 60 80 100 Su m be rd ay a Ik an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai 21 21 62 25 25 73 10 43 42 42 51 49 27 33 39 - 50 100 T ek ni k Pe na ng ka pa n Ik an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

Gambar 3. Distribusi nilai domain sumberdaya

ikan per wilayah di WPP 714

Gambar 4. Distribusi nilai domain teknik

penangkapan ikan ikan per wilayah

di WPP 714

(18)

Tenggara Barat dan Maluku Tenggara. Status Buruk ditemukan pada satu wilayah, Manggarai

Barat.

Distribusi nilai domain teknologi penangkapan ikan menggambarkan sebanyak 46,67% wilayah

kajian memiliki pengelolaan yang ideal. Strategi pengelolaan perikanan yang lebih serius pada

domain teknologi penangkapan ikan masih harus diarahkan pada 53,33% wilayah lainnya.

Keempat Pada domain sosial (Gambar 5),

hasil analisis tematik menunjukkan hanya

satu wilayah yang memiliki status Baik

Sekali yaitu: Konsel. Hanya wilayah juga

yang memiliki status Baik, yakni Wakatobi.

Status Sedang terdapat pada wilayah

Konawe dan Alor. Status Kurang ditemukan

pada wilayah Banggai, Manggarai Barat,

Ambon, Seram Bagian Timur, Maluku

Tenggara Barat dan Maluku Tenggara.

Jumlah wilayah dengan status Buruk lebih

banyak dibanding domain lainnya.

Wilayah-wilayah yang memiliki status Buruk pada

domain sosial, meliputi: Banggai Barat, Butur, Flores Timur, Lembata dan Sram Bagian Barat.

Hasil analisis menggambarkan hanya 26,67% wilayah yang memiliki status pengelaan yang baik

pada domain sosial. Hal ini membuktikan

masih banyak wilayah (73,33%) yang masih

membutuhkan

upaya-upaya

perbaikan

pengelolaan.

Kelima hasil analisis untuk domain ekonomi

(Gambar 6) memberikan justifikasi bahwa,

terdapat dua wilayah yang memiliki status

Baik Sekali (Butur dan Lembata). Status

Baik pada empat wilayah: Konawe, Konsel,

Wakatobi dan Flores Timur.

21 13 17 49 83 67 23 17 52 32 32 19 32 32 - 20 40 60 80 100 So si al Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

Gambar 5. Distribusi nilai domain sosial per

wilayah di WPP 714

Gambar 6. Distribusi nilai domain ekonomi

per wilayah di WPP 714

30 30 85 76 76 72 30 77 85 20 43 23 23 23 23 - 20 40 60 80 100 Ek on om i Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

(19)

Status Sedang hanya ditemukan pada satu wilayah: Ambon. Status kurang mencakup delapan

wilayah: Banggai, Banggai Laut, Manggarai Barat, Alor, Sera, Bagian Timur, Seram Bagian Barat,

Maluku Tenggara Barat dan Maluku Tenggara.

Hasil ini juga membuktikan bahwa sekitar 46,67% wilayah dalam lingkup WPP 714 yang

memiliki status pengelolaan yang baik pada domain ekonomi. Namun demikian, masih ada

53,33% wilayah yang membutuhkan upaya-upaya perbaikan pengelolaan.

Keenam Analisis pada domain kelembagaan

menghasilkan kondisi dimana sebagian besar

wilayah masih berada dalam lingkup status

pengelolaan yang lemah. Hal ini dibuktikan

dengan hanya empat wilayah yang memiliki

status Sedang masing-masing: Wakatobi,

Folres Timur, Lembata dan Alor (Gambar 7).

Kuatnya status pengelolaan untuk domain

kelembagaan pada wilayah-wilayah ini lebih

didukung

dengan

telah

berkembangnya

model-model pengelolaan perikanan baik

yang

berbasis

kawasan

maupun

pengembangan kawasan konservasi yang

mendukung pembangunan perikanan.

Wilayah lainya memiliki status Kurang bahkan dua wilayah, Butur dan Konsel memiliki status

pengelolaan yang Buruk Model-model pengelolaan perikanan pada wilayah-wilayah ini belum

berkembang dengan baik.

4.2 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat Provinsi

Penilaian terhadap kinerja pengelolaan perikanan di tingkat provinsi menggunakan agregrasi

dari setiap wilayah kabupaten/kota yang telah dikaji. Pemetaan dalam grafik layang-ayang

memberikan gambaran kontribusi setiap kabupaten/kota dalam membemtuk status

pengelolaan perikanan pada tingkat Provinsi. Di sisi lain, pendekatan analisis yang

menggunakan nilai komposit untuk Provinsi diekspresikan secara matriks juga memberikan

agreagasi nilai status pengelolaan perikanan di tiap provinsi.

27 26 7 28 11 50 25 58 53 47 38 36 27 34 40 - 20 40 60 80 100 Ke le m ba ga an Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

Gambar 7. Distribusi nilai domain kelembagaan

per wilayah di WPP 714

(20)

Pertama hasil analisis untuk Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa distribusi nilai

hampir seragam untuk kedua kabupaten yang dikaji pengelolaannya, kecuali untuk domain

sosial pada kabupaten Banggai Laut yang memiliki nilai yang rendah dibanding Banggai

(Gambar 8).

Gambar 8. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Sulawesi Tengah

Distribusi nilai yang cenderung seragam untuk setiap kabupaten di Sulawesi Tengah

memberikan gambaran pola pengelolaan yang hampir seragam sesuai dengan kondisi untuk

seluruh indikator yang dikaji. Secara agregat, penilaian komposit untuk Sulawesi Tengah

menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan di Sulawesi Tengah dengan pendekatan ekosistem

masih berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Kurang (Tabel 4).

Tabel 4. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada

Provinsi Sulawesi Tengah

Domain

Sulawesi Tengah

Banggai

Banggai Laut

Rata-rata

Sumberdaya Ikan

Kurang

Kurang

Kurang

Habitat

ekosistem

Kurang

Kurang

Kurang

Teknik Penangkapan Ikan

Kurang

Kurang

Kurang

Sosial

Kurang

Buruk

Buruk

Ekonomi

Kurang

Kurang

Kurang

Kelembagaan

Kurang

Kurang

Kurang

Aggregat

Kurang

Kurang

Kurang

Kedua untuk Provinsi Sulawesi Tenggara, hasil analisis menunjukkan nilai-nilai setiap domain

dalam penilaian indikator EAFM terdistribusi sangat beragam. Kabupaten Butur dan Wakatobi

memberikan kontribusi yang cukup kuat dalam membentuk status atau kinerja pengelolaan di

Sulawesi Tenggara (Gambar 9).

-20

40

60

80

100

Sumberdaya Ikan

Habitat &

ekosistem

Teknik

Penangkapan Ikan

Sosial

Ekonomi

Kelembagaan

Banggai

Banggai Laut

(21)

Gambar 9. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Sulawesi Tenggara

Beragamnya distribusi nilai setiap domain menyebabkan adanya variasi status atau kinerja

pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Sulawesi Tenggara. Walaupun

demikian, hasil penilaian secara agregat menunjukkan rata-rata kinerja setiap domain berada

pada kinerja Sedang kecuali domain ekonomi yang berada pada kisaran nilai Baik sedangkan

dan domain kelembagaan termasuk dalam kisaran nilai Kurang Secara agregat, penilaian

komposit untuk Sulawesi Tenggara menunjukkan pengelolaan perikanannya dengan

pendekatan ekosistem berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Sedang

(Tabel 5).

Tabel 5. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada

Provinsi Sulawesi Tengah

Domain

Sulawesi Tenggara

Butur

Konawe

Konsel

Wakatobi

Rata-rata

Sumberdaya Ikan

Baik

Sedang

Sedang

Baik

Sedang

Habitat ekosistem

Baik

Kurang

Kurang

Baik Sekali

Sedang

Teknik Penangkapan Ikan

Baik

Kurang

Kurang

Baik

Sedang

Sosial

Buruk

Sedang

Baik Sekali

Baik

Sedang

Ekonomi

Baik Sekali

Baik

Baik

Baik

Baik

Kelembagaan

Buruk

Kurang

Buruk

Sedang

Kurang

Aggregat

Sedang

Sedang

Sedang

Baik

Sedang

Ketiga analisis yang dilakukan melalui penilaian indikator EAFM pada Provinsi Nusa Tenggara

Timur menghasilkan kondisi dimana setiap domain dalam penilaian indikator EAFM

terdistribusi beragam. Wilayah yang memiliki kinerja paling lemah adalah Kabupaten Manggarai

Barat (Gambar 10).

20

40

60

80

100

Sumberdaya Ikan

Habitat & ekosistem

Teknik Penangkapan

Ikan

Sosial

Ekonomi

Kelembagaan

Butur

Konawe

Konsel

Wakatobi

(22)

Gambar 10. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Nusa Tenggara Timur

Variasi status atau kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Nusa

Tenggara Timur memberikan gambaran setiap domain memiliki status yang variatif antar

wilayah kabupaten. Hasil penilaian secara agregat menunjukkan rata-rata kinerja tiga domain

domain berada pada kinerja Kurang (habitat dan ekosistem, teknik penangkapan serta sosial),

sedangkan yiga domain lainnya berada pada kinerja Sedang Penilaian komposit menunjukkan

pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem pada Provinsi Nusa Tenggara Timur

berada pada status atau kinerja pengelolaan perikanan yang Sedang (Tabel 6).

Tabel 6. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Domain

Manggarai

Nusa Tenggara Timur

Barat

Flores Timur

Lembata

Alor

Rata-Rata

Sumberdaya Ikan

Baik

Kurang

Baik

Kurang

Sedang

Habitat ekosistem

Buruk

Baik

Sedang

Sedang

Kurang

Teknik Penangkapan Ikan

Buruk

Sedang

Sedang

Sedang

Kurang

Sosial

Kurang

Buruk

Buruk

Sedang

Kurang

Ekonomi

Kurang

Baik

Baik Sekali

Kurang

Sedang

Kelembagaan

Kurang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Aggregat

Kurang

Sedang

Sedang

Kurang

Sedang

Keempat hasil analisis yang dimulai penilaian indikator EAFM untuk Provinsi Maluku

menunjukkan kondisi dimana setiap domain dalam penilaian indikator EAFM terdistribusi

seragam, kecuali di Seram Bagian Timur yang memiliki status baik pada domain sumberdaya

ikan dan teknik penangkapan ikan, demikian halnya dengan kota Ambon yang memiliki nilai

domain teknik penangkapan ikan dan ekonomi yang lebih baik dibanding wilayah lain di

0

20

40

60

80

100

Sumberdaya Ikan

Habitat &

ekosistem

Teknik

Penangkapan Ikan

Sosial

Ekonomi

Kelembagaan

Manggarai Barat

Flores Timur

Lembata

Alor

(23)

Maluku. Wilayah yang memiliki kinerja paling lemah adalah Kabupaten Seram Bagian Barat

(Gambar 11).

Gambar 11. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM pada Provinsi Maluku

Distribusi status atau kinerja setiap domain yang cenderung seragam dalam konteks

pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Maluku menunjukkan seluruh wilayah

kabupaten/kota di Maluku masih memiliki kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan

ekosistem yang lemah. Hasil penilaian secara agregat menunjukkan hanya domain sumberdaya

ikan yang berada pada status Sedang sedangkan domain lainnya berada tingkat kinerja

Kurang Penilaian komposit menunjukkan pengelolaan perikanan dengan pendekatan

ekosistem pada Provinsi Maluku berada masih berada pada status atau kinerja pengelolaan

perikanan yang Kurang (Tabel 7).

Tabel 7. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator EAFM pada

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Domain

Maluku

Ambon

SBT

SBB

MTB

Malra

Rata-Rata

Sumberdaya Ikan

Kurang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Habitat

ekosistem

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Teknik Penangkapan Ikan

Sedang

Sedang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Sosial

Kurang

Kurang

Buruk

Kurang

Kurang

Kurang

Ekonomi

Sedang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kelembagaan

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Aggregat

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

Kurang

20

40

60

80

100

Sumberdaya Ikan

Habitat & ekosistem

Teknik Penangkapan

Ikan

Sosial

Ekonomi

Kelembagaan

Ambon

SBT

SBB

MTB

Malra

(24)

4.3 Kinerja Pengelolaan Perikanan Tingkat WPP 714

Analisis secara komposit kinerja pengelolaan perikanan pada WPP 714 merupakan agregasi dari

kinerja seluruh wilayah kajian (15 kabupaten/kota). Sesuai dengan analisis yang dilakukan

melalui penilaian indikator EAFM, maka status atau kinerja pengelolaan perikanan dengan

pendekatan ekosisten pada WPP 714 masih berada pada tingkat Kurang (Tabel 8). Hasil ini juga

memberikan justifikasi bahwa umumnya status setiap domain berada pada tingkat Kurang

kecuali pada domain sumberdaya ikan dan ekonomi yang berada tingkat Sedang

Tabel 8. Distribusi status pengelolaan sesuai hasil penilaian indikator

EAFM pada WPP 714

Domain

WPP 714

Sumberdaya Ikan

Sedang

Habitat ekosistem

Kurang

Teknik Penangkapan Ikan

Kurang

Sosial

Kurang

Ekonomi

Sedang

Kelembagaan

Kurang

Aggregat

Kurang

Bila kajian ini ditelusuri secara spasial,

maka wilayah-wilayah yang mengakses

pemanfaatan dan pengelolaan perikanan

di WPP 714 memberikan kontribusi yang

berbeda. Jika kisaran Sedang (41

60)

sampai dengan Baik Sekali (81

100)

dijadikan sebagai basis pengelolaan yang

cukup

baik,

maka

wilayah

kabupaten/kota

yang

memberikan

kontribusi yang baik terhadap kinerja

pengelolaan perikanan di WPP 714,

secara berurutan meliputi: (1) Wakatobi;

(2) Lembata dan Butur; (3) Lembata; (4)

Konsel; dan (5) Konawe (Gambar 12).

Penelusuran lebih dalam untuk setiap domain yang memberikan kontribusi yang kuat dalam

membentuk kinerja pengelolaan perikanan di WPP 714 memberikan gambaran bahwa

wilayah-wilayah kajian seperti Wakatobi, Konsel, Lembata dan Seram Bagian Timur (Gambar 13).

Gambar 12. Komposit penilaian indikator EAFM

pada tiap wilayah di WPP 714

28 27 51 42 46 68 25 47 51 40 36 39 27 34 35 - 20 40 60 80 100 Ag gr eg at Malra MTB SBB SBT Ambon Alor Lembata Flores Timur Manggarai Barat Wakatobi Konsel Konawe Butur Banggai Laut Banggai

(25)

Pertama Wakatobi memberikan kontribusi kinerja yang kuat terutama pada domain habiat dan

ekosistem serta teknik penangkapan ikan.

Gambar 13. Pemetaan hasil penilaian indikator EAFM per wilayah kajian di WPP 714

Kedua Konsel memberikan kontribusi yang kuat pada domain sosial. Ketiga Lembata

memberikan kontribusi yang kuat pada domain ekonomi. Keempat Seram Bagian Timur dengan

domain sumberdaya ikannya turut memberikan kontribusi yang kuat terhadap kinerja

pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di WPP 714.

20

40

60

80

100

Sumberdaya Ikan

Habitat & ekosistem

Teknik Penangkapan

Ikan

Sosial

Ekonomi

Kelembagaan

Banggai Banggai Laut Butur Konawe Konsel Wakatobi Manggarai Barat Flores Timur Lembata Alor Ambon SBT SBB MTB Malra

(26)

5 Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

Beberapa simpulan yang dapat diberikan sesuai dengan hasil penilaian indikator EAFM untuk

WPP 714, antara lain:

(1) Setiap wilayah kajian pada WPP 714 memilki nilai kinerja pengelolaan yang bervariasi

dalam penerapan EAFM, baik variasi untuk setiap domain maupun indikator pengelolaan;

(2) Wilayah-wilayah yang memiliki kinerja yang cukup kuat dalam penerapan EAFM, untuk

tingkat kabupaten/kota adalah: Wakatobi, Butur, Konawe, Konsel, Flores Timur dan

Lembata serta untuk tingkat provinsi meliputi Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara

Timur

(3) Secara agregat, kinerja pengelolaan perikanan pada WPP 714 yang terukur melalui

penerapan EAFM masih berada pada kategori Kurang

(4) Dalam konteks pengelolaan perikanan berbasis domain, wilayah-wilayah yang unggul untuk

setiap domain meliputi: Wakatobi memberikan kontribusi kinerja yang kuat terutama pada

domain habiat dan ekosistem serta teknik penangkapan ikan; Konsel dengan kontribusi

domain sosial; Lembata memberikan kontribusi pada domain ekonomi; serta Seram Bagian

Timur dengan domain sumberdaya ikannya turut memberikan kontribusi yang kuat

terhadap kinerja pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di WPP 714.

5.2 Rekomendasi

Rekomendasi kegiatan yang penting dikemukakan dalam rangka perbaikan kinerja indikator

pengelolaan perikanan pada WPP 714, secara parsial untuk tingkat wilayah provinsi, dan

kabupaten/kota, serta agregat untuk WPP 714.

(27)

5.2.1. Agregat: WPP-714

A. Domain Sumberdaya Ikan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.

CpUE Baku 1843,65 6 Pengendalian upaya tangkap diversifikasi

alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan serta konservasi sumberdaya ikan

Tren ukuran ikan 719,65 5 Peningkatan pengawasan dan

pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap, serta pengaturan ukuran minimal ikan yang boleh ditangkap Proporsi ikan

yuwana (juvenile) yang ditangkap

631,93 3 Public awarness pengaturan ukuran

minimal ikan yang boleh ditangkap, proteksi pemasaran ikan yuwana, serta peningkatan pengawasan dan

pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap

Komposisi spesies tangkapan

634,00 4 Optimalisasi usaha tangkap yang

didukung alat penangkapan ikan sesuai spesies target,

Spesies ETP 166,23 1 Public awarness pengendalian

pemanfaatan spesies ETP, pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan proteksi pemasaran spesies ETP "Range Collapse"

sumberdaya ikan 448,99 2 Public awarness optimalisasi usahatangkap yang didukung alat penangkapan ikan sesuai spesies target, diversifikasi spesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap

B. Domain Habitat/Ekosistem

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjamin kelestarian sumber daya ikan

Kualitas perairan 893,13 6 Pengaturan pengelolaan bahan cemar dan

law enforcement serta optimalisasi

penerapan persyaratan lingkungan dalam pembangunan di wilayah pesisir

Status ekosistem

lamun 661,50 4 Optimalisasi pengawasan pembangunaninfrastruktur wilayah sesuai RTRW dan optimalisasi penerapan persyaratan lingkungan dalam pembangunan di wilayah pesisir

Status ekosistem mangrove

665,50 5 Replantasi mangrove penguatan kearifan

lokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem

terumbu karang

535,55 2 Penguatan kearifan lokal, penetapan

kawasan konservasi terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan dan pengembangan mata pencaharian alternatif

Habitat

unik/khusus 597,47 3 Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim

terhadap perairan dan habitat

(28)

C. Domain Teknologi Penangkapan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan daya dukung SDI

Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal

1245,14 6 Peningkatan pengawasan dan penegakan

hukum terhadap penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, penyuluhan, serta optimalisasi peran masyarakat dalam pengawasan di tingkat lokal

Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan

960,00 5 Optimalisasi kontrol dan proteksi

pemasaran ikan yang telah diatur standar ukurannya, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum serta pengendalian perizinan alat penangkapan dan alat bantu penangkapan ikan

Kapasitas Perikanan dan Upaya Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)

366,87 3 Peningkatan kapasitas dan upaya

tangkap, disertai pengendalian input produksi, serta penetapan kuota penangkapan (Target, Gear, Area, Time Selektivitas

penangkapan 874,00 4 Peningkatan pengawasan dan penegakanhukum terhadap alat tangkap yang tidak selektif, pengembangan teknologi penangkapan ikan alternatif Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal

271,00 2 Peningkatan pengawasan dan penegakan

hukum terhadap kesesuaian dokumen legal dengan fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan

Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan

108,14 1 Peningkatan pengawasan dan penegakan

hukum terhadap kepemilikan setifikat oleh awak kapal, serta pengembangan pelatihan awak kapal perikanan

D. Domain Sosial

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Meningkatkan Nilai-Nilai Sosial Dalam Pengelolaan Perikanan Partisipasi pemangku kepentingan

1017,45 2 Optimalisasi partisipasi pemangku

kepentingan dalam pengelolaan

perikanan, pengembangan dan penguatan kelembagaan pengelola, serta penguatan kapasitas pemangku kepentingan Konflik

perikanan 1337,11 3 Penguatan kapasitas manajemen konflikperikanan di tingkat masyarakat dan pemangku kepentingan, optimalisasi koherensi kebijakan, serta peningkatan integrasi kelembagaan Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge)

835,98 1 Integrasi TEK dalam pengaturan

pengelolaan, public awareness penyuluhan, peningkatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengoptimalisasi peran

pengetahuan lokal dalam pengelolaan perikanan.

(29)

E. Domain Ekonomi

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Mencapai Kesejahteraan Nelayan Yang Lestari

Kepemilikan

Aset 1848,13 3 Penguatan kapasitas nelayan dalampengelolaan aset usaha perikanan dan peningkatan pemahaman RTP dalam mengoptimalisasi investasi terhadap aset usaha perikanan

Pendapatan rumah tangga (RTP)

1491,07 2 Peningkatan kapasitas usaha perikanan di

tingkat RTP, pengembangan alternatif

livelihood dan diversifikasi usaha di

tingkat RTP Rasio Tabungan

(Saving ratio) 806,87 1 Peningkatan kapasitas usaha, sertapenyuluhan tentang pentingnya menabung dan kelemahan budaya konsumtif

F. Domain Kelembagaan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Meningkatkan kinerja kelembagaan dan tata kelola perikanan Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal

671,84 5 Peningkatan pengawasan, Law

enforcement pengembangan dan

penguatan kelembagaan di tingkat pemangku kepentingan dan/atau pengelola

Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan

1331,03 6 Penguatan kapasitas pemangku

kepentingan dalam penerapan regulasi pengelolaan perikanan, peningkatan pengawasan, Law

enforcement yang konsisten

Mekanisme pengambilan keputusan

602,44 4 Pengembangan dan penguatan

kelembagaan pengelola,

pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, serta monitoring dan evaluasi mekanisme pengambilan keputusan dan partisipasi pemangku kepentingan Rencana

pengelolaan perikanan

214,14 1 Pengembangan dan penguatan

kelembagaan pengelola,

pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, pendampingan perencanaan pengelolaan perikanan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan 528,63 3 Pendampingan manajemen

kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard

Kapasitas pemangku

kepentingan 248,51 2 Pendampingan peningkatan kapasitaspemangku kepentingan dan/atau pengelola perikanan, serta monitoring dan evaluasi kapasitas berbasis fisheries governance scorecard

(30)

5.2.2. Parsial: Kabupaten dan Kota Pada Setiap WPP-714

(1) Provinsi Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai

A. Domain Sumberdaya Ikan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.

CpUE Baku 1680 5 (1) Pengendalian upaya tangkap diversifikasi

alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan

Tren ukuran ikan 360 3 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang

boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap

Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap

540 4 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang

boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap

Komposisi spesies tangkapan

360 3 (2) Pengaturan selektifitas alat tangkap

Spesies ETP 50 1 (3) Pengendalian pemanfaatan spesies ETP

pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan pengaturan selektifitas alat tangkap

"Range Collapse"

sumberdaya ikan 270 2 (2) Pengaturan upaya tangkap diversifikasispesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap

B. Domain Habitat/Ekosistem

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjamin kelestarian sumber daya ikan

Kualitas perairan 800 4 (1) Pengendalian pencemaran, pengendalian

pembukaan lahan atas, pengaturan pengelolaan bahan cemar dan law

enforcement

Status ekosistem

lamun 420 2 (2) Pengendalian pembukaan lahan atas,replantasi lamun, penetapan kawasan konservasi lamun, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem lamun

Status ekosistem

mangrove 420 2 (2) Replantasi mangrove penguatan kearifanlokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem

terumbu karang 420 2 (2) Penguatan kearifan lokal, penetapankawasan konservasi terumbu karang, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan mata pencaharian alternatif Habitat

unik/khusus 480 3 (3) Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim

terhadap perairan dan habitat

(31)

C. Domain Teknologi Penangkapan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan daya dukung SDI

Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal

780 6 (1) Peningkatan pengawasan dan penegakan

hukum terhadap alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, penyuluhan, serta peningkatan kapasitas pengembangan teknologi penangkapan ikan

Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan

375 5 (2) Peningkatan kapasitas pengembangan

teknologi penangkapan ikan, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum serta pengendalian perizinan alat penangkapan dan alat bantu penangkapan ikan Kapasitas Perikanan dan Upaya Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)

225 3 (2) Pengendalian input (pemanfaatan SDI),

kuota penangkapan (Target, Gear, Area, Time), diversifikasi teknologi

penangkapan ikan Selektivitas

penangkapan 292,5 4 (3) Peningkatan pengawasan dan penegakanhukum terhadap alat tangkap yang tidak selektif Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal

100 2 (4) Peningkatan pengawasan dan penegakan

hukum terhadap kesesuaian dokumen legal dengan fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan

Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan

50 1 (4) Pelatihan awak kapal perikanan, serta

peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap kepemilikan setifikat oleh awak kapal

D. Domain Sosial

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Meningkatkan Nilai-Nilai Sosial Dalam Pengelolaan Perikanan Partisipasi pemangku kepentingan

600 2 (2) Optimalisasi partisipasi pemangku

kepentingan, pengembangan dan penguatan kelembagaan pengelola, dan penguatan kapasitas pemangku kepentingan

Konflik

perikanan 980 3 (1) Resolusi konflik (preventif, mitigasikonflik), optimalisasi koherensi kebijakan, integrasi kelembagaan, serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge)

250 1 (2) Integrasi TEK dalam pengaturan

pengelolaan, serta pendampingan (public awareness, penyuluhan dan peningkatan kapasitas) pengetahuan lokal dalam pengelolaan SDI.

(32)

E. Domain Ekonomi

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Mencapai Kesejahteraan Nelayan Yang Lestari

Kepemilikan

Aset 1260 3 (2) Peningkatan kapasitas nelayan dalampengelolaan aset dan optimalisasi investasi terhadap aset

Pendapatan rumah tangga (RTP)

1140 2 (1) Peningkatan kapasitas usaha,

pengembangan alternatif livelihood dan diversifikasi usaha di tingkat RTP Rasio Tabungan

(Saving ratio) 175 1 (3) Peningkatan kapasitas usaha, sertapenyuluhan tentang pentingnya menabung dan kelemahan budaya konsumtif

F. Domain Kelembagaan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Meningkatkan kinerja kelembagaan dan tata kelola perikanan Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal

550 5 (2) Peningkatan pengawasan, Law

enforcement pengembangan dan

penguatan kelembagaan di tingkat pemangku kepentingan dan/atau pengelola

Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan

938,6 6 (3) Peningkatan pengawasan, Law

enforcement yang konsisten

Mekanisme pengambilan keputusan

144 1 (6) Pengembangan dan penguatan

kelembagaan pengelola,

pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, serta monitoring dan evaluasi mekanisme pengambilan keputusan dan partisipasi pemangku kepentingan Rencana

pengelolaan perikanan

210 2 (4) Pengembangan dan penguatan

kelembagaan pengelola,

pengembangan sistem manajemen kelembagaan pengelolaan, pendampingan perencanaan pengelolaan perikanan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan 231 3 (5) Pendampingan manajemen

kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi kinerja berbasis fisheries governance scorecard

Kapasitas pemangku

kepentingan 287,5 4 (1) Pendampingan peningkatan kapasitaspemangku kepentingan dan/atau pengelola perikanan, serta monitoring dan evaluasi kapasitas berbasis fisheries governance scorecard

(33)

(2) Provinsi Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Laut

A. Domain Sumberdaya Ikan

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjaga kualitas habitat SDI sehingga produktivitas dan keanekaragaman ekosistem tetap tinggi dan stabil.

CpUE Baku 1680 (1) Pengendalian upaya tangkap diversifikasi

alat penangkapan ikan dan diversifikasi spesies tujuan tangkapan

Tren ukuran ikan 360 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang

boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap

Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap

540 (2) Pengaturan ukuran minimal ikan yang

boleh ditangkap dan pengendalian tingkat selektifitas alat tangkap

Komposisi spesies tangkapan

360 (2) Pengaturan selektifitas alat tangkap

Spesies ETP 50 (3) Pengendalian pemanfaatan spesies ETP

pengaturan perlindungan terhadap spesies ETP, dan pengaturan selektifitas alat tangkap

"Range Collapse"

sumberdaya ikan 270 (2) Pengaturan upaya tangkap diversifikasispesies tujuan tangkap, dan peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap

B. Domain Habitat/Ekosistem

TUJUAN INDIKATOR NILAI PERBAIKANPRIORITAS

PENGELOLAAN AKSI PERBAIKAN PENGELOLAAN

Menjamin kelestarian sumber daya ikan

Kualitas perairan 962,7 6 (1) Pengendalian pencemaran, pengendalian

pembukaan lahan atas, pengaturan pengelolaan bahan cemar dan law

enforcement

Status ekosistem

lamun 472,5 4 (2) Pengendalian pembukaan lahan atas,replantasi lamun, penetapan kawasan konservasi lamun, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem lamun

Status ekosistem

mangrove 315 (2) Replantasi mangrove penguatan kearifanlokal, penetapan kawasan konservasi mangrove, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem mangrove, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem mangrove Status ekosistem

terumbu karang 420 3 (2) penguatan kearifan lokal, penetapankawasan konservasi terumbu karang, koordinasi lintas sektor terkait dampak pembangunan pada ekosistem terumbu karang, penyuluhan dan pelatihan pengelolaan ekosistem terumbu karang, penyediaan mata pencaharian alternatif Habitat

unik/khusus 480 5 (3) Pendekatan fisheries refugia pengaturandan pengendalian pemanfaatan Perubahan iklim

terhadap perairan dan habitat

Gambar

Gambar 1. Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan
Tabel Batasan Skor Nilai Domain dan Agregat Rentang nilai Model
Gambar 2. Distribusi nilai domain habitat dan ekosistem per wilayah di WPP 714
Gambar 3. Distribusi nilai domain sumberdaya ikan per wilayah di WPP 714
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

betweenness centrality adalah O( nm ) untuk graf tak berbobot dan O( nm + n 2 log n ) untuk graf berbobot; (2) kompleksitas ruang untuk perhitungan betweenness

Lembaga Keuangan Bukan Bank ( non depository financial institution ) yaitu lembaga keuangan yang kegiatannya tidak dapat menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam

PROGRAM KERJA BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAMO. INSTITUT ILMU KEISLAMAN ZAINUL

[r]

Setelah peneliti bercerita anak diminta oleh peneliti untuk mengulang isi cerita dengan singkat dan apa saja pesan- pesan dari cerita yang diceritakan peneliti,

In a keynote talk at Strata + Hadoop World San Jose, US Chief Data Scientist DJ Patil provides a unique perspective of the future of data science in terms of the federal

Laporan praktek kerja nyata ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan diploma tiga (D3) pada Jurusan Manajemen Perusahaan Fakultas

Formulir pemesanan pembelian Unit Penyertaan MEGA DANA CAPITAL GROWTH beserta bukti pembayaran dan fotokopi bukti jati diri dan dokumen pendukung yang telah diterima