• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET DAN PENGEMBANGAN KAPAL SURVEI-RISET DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POTRET DAN PENGEMBANGAN KAPAL SURVEI-RISET DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

PoTRET DAN PENGEMbANGAN

KAPAl SURvEI­RISET DI INDoNESIA

A.H. Sianipar dan R. Rahardiawan

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

[email protected]

[email protected]

SARI

Indonesia perlu memberikan perhatian khusus dalam upaya menggali potensi sumber daya mi-neral dan energi kelautan, sehubungan dengan luasnya perairan Indonesia 5,8 juta km2

sedang-kan daratan Indonesia 1,8 juta km2. Hal ini didukung dengan kondisi geologi Indonesia yang

menguntungkan untuk terbentuknya potensi-potensi sumber daya mineral ataupun energi, ter-masuk minyak dan gas bumi. Perkembangan dunia untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas terutama pada kawasan laut sangat pesat, termasuk teknologi-teknologi baru yang secara terus menerus dikembangkan dalam upaya penemuan cadangan-cadangan migas baru ataupun meningkatkan status cekungan migas yang sudah ada. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia mempunyai harapan ke depan dapat menggali potensi mineral dan energi kelautan di seluruh perairan Indonesia lebih intensif agar dapat membantu meningkatkan pendapatan negara Indo-nesia dan juga membantu dalam mengahadapi krisis energi ke depan. Untuk itu perlu adanya upaya meningkatan dan mengembangkan teknologi dan juga kapal survei sebagai wahana da-lam melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral dan energi kelautan.

Kata Kunci: Kapal Survei 1. PENDAHUlUAN

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar dan banyak. Panjang pan-tai Indonesia mencapai 95.181 km (World Re­

sources Institute, 1998) dengan luas wilayah

laut 5,8 juta km2, mendominasi total luas

teri-torial Indonesia sebesar 7,1 juta km2. Potensi

tersebut juga menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekara-gaman hayati dan non hayati kelautan terbesar di dunia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mine-ral melalui Menteri ESDM saat peluncuran Hari Nusantara ke 13 tahun 2015 telah memberikan

perhatian khusus mendukung pembangun an kelautan yang meliputi pengembangan, pe-manfaatan dan pemeliharaan seluruh potensi sumber daya kelautan Indonesia, termasuk energi dan mineral kelautan. Hal ini telah di implementasikan dalam kegiatan-kegiatan pe-nelitian, ekplorasi, implementasi teknologi dan membangun infrastruktur energi. Potensi sum-ber daya maritim yang dimiliki Indonesia ter-dapat potensi energi dan sumber daya mine ral yang besar, termasuk di dalamnya adalah mi-nyak dan gas, mineral, serta energi baru ter-barukan.

Pemanfaatan kekayaan sumber daya maritim sendiri sampai saat ini masih belum maksi-mal. Sedangkan optimalisasi wilayah Maritim Indonesia apabila dikelola dengan benar akan

(2)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

juta barel per hari. Permintaan ini tidak diiringi dengan produksi minyak yang hanya sebesar 879 ribu barel per hari. Indonesia saat ini ma-sih memiliki cadangan minyak sebesar 7,73 miliar barel. Angka ini terdiri dari 4,039 miliar barel cadangan proven dan 3,692 miliar barel cadangan berpotensi. Selain ada upaya untuk mencari sumur produksi baru, para ahli per-minyakan juga berusaha untuk meningkatkan teknologi untuk produksi minyak yang lebih maksimal. Cadangan minyak bumi terbesar di Indonesia terdapat di Sumatera bagian tengah dengan nilai 3,847 miliar barel cadangan. Pemerintah sendiri berupaya terus-menerus melakukan kegiatan eksplorasi migas untuk menambah dan meningkatkan cadangan hi-drokarbon di wilayah perairan Indonesia. Se-perti diketahui, bahwa kegiatan eksplorasi mi-gas kelautan merupakan rangkaian kegiatan dengan tahapan yang panjang, dimulai dari penelitian permukaan di kawasan on­shore, akuisisi data, evaluasi dan pemboran sampai ditemukannya cadangan migas. Oleh karena mampu memberikan nilai ekonomi s/d US$ 1,2

triliun per tahun atau tambahan 1,2 kali PDB pada saat ini atau 8 kali nilai APBN 2014. Dalam upaya memaksimalkan pemanfaatan kekayaan sumber daya maritim, yaitu sumber daya mineral dan energi, dibutuhkan wahana survei kelautan dengan teknologi yang tinggi. Dalam tulisan ini akan dibahas kondisi waha-na survei yang terdapat di Indonesia berikut dengan peralatan dan fungsinya dalam upa-ya menggali potensi sumber daupa-ya kelautan di seluruh perairan Indonesia.

Potensi Migas di Perairan Indonesia

Potensi sektor Migas di Indonesia sampai saat ini mulai dipertanyakan, karena Indonesia da-hulu merupakan anggota OPEC sebagai salah satu pengekspor minyak bumi. Tetapi tahun 2008, Indonesia resmi keluar dari OPEC kare-na produksi terus menurun sedangkan kon-sumsi dalam negeri terus meningkat. Rata-ra-ta kebutuhan dalam negeri adalah sekiRata-ra-tar 1,3

(3)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

Kegiatan percepatan eksplorasi migas Ka-wasan Timur Indonesia (KTI) merupakan ke-giatan penting yang harus dilakukan segera untuk memacu gairah eksplorasi di kawasan tersebut. Kegiatan ini mencakup kajian screen­

ing dan ranking, pemetaan sumber daya migas,

koordinasi dan diskusi untuk mendapatkan rekomendasi lokasi yang mempunyai potensi migas, pelaksanaan lapangan berupa kegiatan pemetaan/penelitian geologi, dan pelaksanaan evaluasi secara menyeluruh, sehingga dapat menjadi acuan untuk kegiatan lanjutan perce-patan eksplorasi di lokasi tersebut.

Potensi Mineral di Perairan Indonesia Keberadaan mineral di Perairan Indonesia ti-dak terlepas sebagai akibat tumbukan tiga lempeng besar, yakni Lempeng Benua Eur-asia, Lempeng Benua India-Australia dan Lem-peng Samudra Pasifik. Kondisi ini menyebab-kan terjadinya struktur geologi yang kompleks yang membentuk jalur-jalur gunung api. Loka-itu, sebagai institusi pemerintah, khususnya

lembaga litbang migas harus mengedepankan kegiatan yang hasilnya berupa penemuan hi-drokarbon.

Badan Geologi KESDM mengungkapkan bah-wa cekungan sedimen baru (potensi migas) telah ditemukan sehingga total cekungan sedi-men yang sudah berhasil ditemukan di Indone-sia meningkat menjadi 128 cekungan sedimen dari yang sebelumnya menurut BP Migas (se-karang SKK Migas), bahwa jumlah cekungan di Indonesia sekitar 68 buah. Dilihat pada peta Cekungan Sediman Tersier Indonesia (Gam-bar 1), untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI) banyak dijumpai cekungan sedimen Tersier yang berada di perairan. Hal ini menjadi tan-tangan bagi para peneliti geologi dan geofisika kelautan untuk menghasilkan peta cekungan yang sangat berguna untuk pengembangan eksplorasi minyak dan gas bumi serta untuk kepentingan penelitian.

(4)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

lebih dari 1000 meter di sekitar komplek G. Komba di perairan P. Wetar - Nusa Tenggara Timur.

Potensi Energi baru Terbarukan (EbT) di Perairan Indonesia

Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di perairan Indonesia sendiri terbagi dalam 5 (lima) kategori, yaitu pasang surut (tidal rise

and fall), arus laut akibat perubahan pasang

surut (tidal currents), gelombang laut (waves

power), perbedaan salinitas (salinity gradi­ ent), dan perbedaan suhu laut (Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC)). Estimasi potensi

kelautan Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan daya mencapai 240 GWe. Energi gelombang laut (wave power) meman-faatkan tenaga gelombang permukaan yang terhempas ke garis pantai. Sedangkan energi pasang surut (tidal power) merupakan peman-faatan energi kinetik dari pasang surut yang terjadi. Pemanfaatan tenaga melalui arus laut dilakukan dengan mendesain turbin yang dapat diputar oleh arus deras (marine current power). Energi osmotis (osmotic power) memanfaat-si-lokasi keterdapatan jebakan mine ral yang

ditemukan pada perairan Indonesia, memiliki hubungan erat dengan jalur gunung api terse-but, seperti mineral logam emas, pe rak, tem-baga, seng, timbal, timah, besi, nikel, mangan, aluminium, dll. Kalau dilihat pada Peta Jalur Mineralisasi (Gambar 2), dan lokasi mineral logam yang telah dimodifikasi dan dibu at oleh Carlile, J.C and Mitchell, A.H.G. 1994, keter-dapatan jebakan mineral terletak pada jalur magmatik pembawa mineralisasi seperti Jalur Sunda Banda, Jalur Kalimantan-Tengah, Jalur Sulawesi Timur-Mindanau, Jalur Halmahera dan Jalur Irian Jaya Tengah.

Potensi mineral yang terdapat di perairan In-donesia telah terdata dengan baik, seperti po-tensi timah di sepanjang jalur tin belt di dae-rah perairan dari Selat Malaka menerus ke perair an Kepulauan Riau, Pulau Bangka, Pu-lau Belitung, PuPu-lau Singkep, dan PuPu-lau Kari-mun. Terdapat juga potensi mineral hidroter-mal yang ditemukan berupa emas dan perak. Puslitbang Geologi Kelautan pada tahun 2002 dan 2003 telah menemukan proses hidroter-mal gunung api bawah laut pada kedalaman

(5)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

dengan peneliti Indonesia mulai melaksanakan penelitian laut dalam, antara lain Ekspedisi Snellius dan Ekspedisi Vening-Meinesz (Be-landa), kerja sama AS-LDEO menggunakan R/V Robert Conrad, R/V Vema, dan R/V Mau-rice Ewing, serta AS-SIO menggunakan R/V Thomas Washington, dalam ekspedisi SIO RAMA, dan INDOPAC; dan R/V Atlantis, Be-landa-NIOZ menggunakan R/V Tyro Ekspedisi Snellius II, Perancis-Ifremer menggunakan R/V Coriolis dengan Ekspedisi CORINDON dan GEOINDON, R/V Jean Charcot dengan Eks-pedisi Krakatau, R/V Baruna Jaya, dan R/V Marion Dufresne. Kerja sama dengan Jerman menggunakan R/V Sonne dengan GINCO I, serta dengan Jepang-Jamstec menggunakan R/V Natsushima, dan R/V Yokosuka –Shinkai. Dengan tujuan penelitian adalah untuk pe-ngenalan/penemuan relief topografi laut (sub­

marine feature) pada perairan laut dalam dan

jalur penunjaman, penelitian geologi kelautan yang meliputi sedimen dasar laut, mineral dan biota laut, tektonik Indonesia, serta potensi ESDM di laut dalam.

Indonesia sampai saat ini memiliki kapal sur-vei untuk penelitian geologi, geofisika, ose-anografi, dan hidrografi sebanyak 10 kapal yang dimiliki beberapa instansi yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Ke-laut an (P3GL), Balai Teknologi Survei KeKe-laut- Kelaut-an BPPT, dKelaut-an Lembaga Ilmu PengetahuKelaut-an In-donesia Sub Oseanografi (LIPI- Oseanografi), Bakorsutanal, dan Angkatan Laut.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3Gl)

Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL), saat ini telah memiliki 3 (tiga) kapal survei, yaitu KR. Geomarin I, KR. Geomarin II dan KR. Geo-marin III. Ke-tiga kapal riset yang dimiliki oleh P3GL ini mempunyai tugas fungsi berbeda, di-mana KR. Geomarin I ditujukan untuk melak-sanakan survei pemetaan geologi dan geofisi-ka kelautan secara sistematik di wilayah pesisir hingga laut dangkal (200 m). KR. Geomarin II merupakan jenis kapal kecil yang dipergu-nakan untuk survei khusus di wilayah pesisir pantai dan sungai. Para ahli lebih cocok meng-kan dari kadar garam di laut, Ocean Thermal

Energy Convention (OTEC) memanfaatkan

prinsip termodinamika ketika terdapat sistem dan lingkungan yang memiliki perbedaan suhu yang cukup besar. Puslitbang Geologi Kelaut-an melaksKelaut-anakKelaut-an penelitiKelaut-an potensi energi laut yang petanya telah diluncurkan pada 7 Maret 2014, yaitu Peta Potensi Energi Arus Laut In-donesia, Peta Potensi Energi Gelombang Laut Indonesia, dan Peta Potensi Energi Panas Laut Indonesia (Gambar 3).

Hingga saat ini, tingkat pemanfaatan energi ke-lautan Indonesia hanya 0,000458%, jauh dari nilai optimal yang dimiliki. Kapasitas terpasang ini merupakan pemanfaatan energi gelombang laut di pantai Baron Yogyakarta (kapasitas ter-pasang 1,1 MW). Estimasi potensi listrik dari energi gelombang di Indonesia adalah 20-70 MW/m menurut BPPT Pengembangan Sum-ber Daya Energi. Indonesia menduduki posisi ke-4 di dunia dengan 81.000 km garis pan-tai yang siap dimanfaatkan. Di Flores, Nusa Tenggara Timur terdapat Marine Current Pro­

totype yang bisa menghasilkan listrik sebesar

10 kW hasil karya BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Lalu ada Wave

Converter-Pendulum Type di Madura, Jawa

Timur yang bisa menghasilkan 20 kW yang se-dang On Going Field Test.

Dengan memanfaatkan energi kelautan pe-merintah dapat memacu pertumbuhan energi di pulau-pulau terpencil. Selain itu Pemerintah dapat turut mengamankan pulau-pulau terluar karena meraka merupakan aset negara yang sangat penting. Pulau-pulau terluar tersebut memegang peranan penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia, dan energi kelautan dapat mengubah ancaman menjadi keuntun-gan melalui pemanfaatan arus laut yang rawan bagi pelayaran.

2. ovERvIEW KAPAl SURvEI DI INDoNE­ SIA

Kegiatan eksplorasi geologi kelautan di Indo-nesia, telah berlangsung sejak tahun 1930 sampai sekarang. Sejumlah ekspedisi asing

(6)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

kapasitas bahan bakar 25 ton, kapasitas air 25 ton, dan konsumsi BBM 2,4 ton/hari. KR. Geo-marin I teIah melakukan survei penyelidikan geologi kelautan sistematik di wilayah laut dangkal perairan Indonesia sejak tahun 1990. KR. Geomarin III secara spesifik mendukung survei bagi kepentingan middle stream indus-tri mineral dan migas seperti : site survey, rig

scouting, line piping, submarine cabling dan

lain sebagainya. Sehingga tugas dan fungsi KR. Geomarin III diperluas karena mencakup kegiatan pemetaan sistematik wilayah tepi pa-gunakan kapal ini untuk mendekati fenomena

geologi saat pengamatan karakteristik pantai. Sedangkan KR.Geomarin III ditujukan untuk penelitian di wilayah laut untuk mendukung pemerintah dalam mengatasi permasalahan krisis migas dengan melakukan program in-vestasi di bidang energi.

KR. Geomarin I mempunyai panjang 31 meter, lebar 6,8 meter, syarat air 2,4 meter serta to-nase 179 GRT. Mesin utama berkekuatan 540 hp dengan kecepatan maksimum 9 knot. Daya jelajah 10 hari dengan muatan 21 orang dan

(7)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

KR. Baruna Jaya I hadir di Indonesia tahun 1989 berfungsi untuk survei di bidang osea no grafi fisik, survei batimetri (kedalaman laut), mempu-nyai panjang kapal 60,4 meter, lebar 11,6 meter dengan kapasitas personil berjumlah 17 ABK dan 28 peneliti. Kapal ini juga bisa digunakan untuk bermacam keperluan, seperti untuk men-cari kapal dan pesawat tenggelam. Bisa juga untuk membantu pemasangan alat deteksi tsu-nami, atau untuk survei potensi kekayaan alam di dasar laut.

KR. Baruna Jaya II hadir di Indonesia tahun 1990 mempunyai panjang kapal 60,4 meter, lebar kapal 11,6 meter, kapasitas 17 ABK dan 28 pe-neliti. Kapal ini mempunyai fungsi untuk survei hidrografi, oseanografi, dan survei seismik 2D. KR. Baruna Jaya III hadir di Indonesia tahun 1990 sebagai kapal multifungsi ditujukan untuk survei batimetri, survei geologi/geofisika, sur-vei oseanografi biologi dan perikanan. Kapal ini sama dengan KR. Baruna Jaya II mempunyai panjang kapal 60,4 meter, lebar kapal 11,6 me-ter dengan kapasitas 17 ABK dan 28 peneliti. KR. Baruna Jaya IV hadir di Indonesia tahun 1995 dengan spesialis survei seismik dan dapat digunakan untuk penelitian oseanogra-paran, inventarisasi data pulau-pulau kecil

ter-luar, identifikasi dan pemetaan mineral dasar laut (massive suphides, manganese nodules,

cobalt rich ferromanganese crust), dan

mem-berikan dukungan kegiatan pemetaan dan pengembangan teknologi energi laut.

KR. Geomarin III mempunyai spesifikasi : - Panjang keseluruhan 61,7 meter, lebar 12

meter, tinggi geladak 6 meter, dan syarat air 3,7 meter serta tonase 1300 GRT.

- Mesin utama 2 unit motor diesel 4 langkah tipe marine kecepatan medium berkekuat-an 1000 hp dengberkekuat-an kecepatberkekuat-an maksimum 13,5 knot

- Daya jelajah 30 hari dengan komplemen 51 orang dengan kapasitas bahan bakar 267 m3, kapasitas air 124 m3, dan konsumsi

BBM 4,8-9,3 ton/hari

- Dilengkapi dengan Dynamic Positioning (DP-1)

balai Teknologi Survei Kelautan bPPT Balai Teknologi Survei Kelautan di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki 4 kapal “Baruna Jaya”, yaitu KR. Baruna Jaya I, KR. Baruna Jaya II, KR. Baruna Jaya III, dan KR. Baruna Jaya IV.

(8)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Sub Oseanografi (LIPI- Oseanografi) LIPI-Oseanografi Jakarta memiliki KR. Baruna Jaya VII dan KR. Baruna Jaya VIII. KR. Baru-na Jaya VII merupakan kapal spesialis survei Oseanografi Kimia dan ekspedisi laut Indone-sia. Kapal ini berada di Teluk Ambon di bawah fi perikanan. Kapal ini mempunyai panjang

kapal 60,4 meter dan lebar kapal 12,10 meter de ngan kapasitas 17 ABK dan 28 peneliti. KR. Baruna Jaya IV memiliki beberapa pera-latan dengan teknologi yang tinggi, yaitu multi­ beam echo sounder 150D dengan kemampuan mengukur kedalaman air hingga 3.000 meter dengan tingkat resolusi hingga lima meter,

side­scan sonar yang dapat beroperasi hingga kedalaman kurang dari 2.000 meter, marine

magnetometer berfungsi untuk membaca tan da anomali logam di bawah laut, dan Re­

motely Operated Vehicle (ROV) yang disebut kamera bawah laut. ROV dapat digunakan un-tuk inspek si pipa bawah laut dan juga lainnya yang membutuhkan kenampakan secara vi-sual kondisi di permukaan dasar laut.

Selain untuk kepentingan penelitian yang ter-kait dengan sumber daya maritim, kapal Baru-na Jaya IV perBaru-nah melakukan pencarian KM Gurita yang tenggelam di Sabang pada tahun 1996, menemukan Boeing 737 Adam Air yang tenggelam di Selat Makassar di tahun 2007 dan menemukan KM Bahuga Jaya di Selat Sunda pada tahun 2012

Gambar 6. KR. Baruna Jaya IV milik BPPT melakukan survei seismik dan oseanografi

Gambar 7. KR. Baruna Jaya IV

milik LIPI-Oseanografi ditujukan untuk meneliti aspek fisika dan kimia laut

(9)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

tian dan riset laut dalam dengan teknologi uta-ma sistem “echo­sounding multi­beam” yang mampu menjangkau kedalaman hingga 20.000 kaki atau 6.000 meter dan juga akan dilengkapi dengan peralatan oseanografi untuk pengukur-an suhu, salinitas dpengukur-an parameter kimia sampai minimal kedalaman 5.000 meter di bawah laut. • badan Koordinasi Survei dan Pemetaan

Nasional (bAKoSURTANAl)

BAKOSURTANAL memiliki Kapal Motor (KM) Tanjung Perak ditujukan untuk pengukur-an batimetri hingga kedalampengukur-an 60 meter di bawah permukaan laut. Kapal ini mempunyai panjang 22,2 m dan lebar 7,5 m dengan draf hanya 1 - 1,5 meter. Perlengkapan navigasi berupa peralatan GPS (Global Positionning System), radio komunikasi, radar, Electronic

Navigational Chart.

Dinas Hidro-oseanografi TNI Angkatan laut (Dishidrosal)

Dinas Hidro-oseanografi TNI Angkatan Laut (Dishidrosal) memiliki Kapal Bantu Hidro Oseanografi-1 (BHO-1) Rigel 933 merupakan naungan UPT. Balai Konservasi Biota Laut,

Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

KR. Baruna Jaya VIII ditujukan untuk meng-amati aspek fisika dan kimia laut, mencakup penelitian pengukuran kedalaman laut, meng-ukur salinitas, densitas dan temperatur laut dan mengukur dan melihat arah arus di perair-an Indonesia.

Kapal Baruna Jaya VIII dilengkapi dengan fa-silitas kemudi yang modern memiliki alat yang disebut Simrad Planning System (SPS) dan beberapa peralatan dengan teknologi tinggi, yaitu Bottom Bathymery, Conductivity Tepera­

ture Depth (CTD), Acoustic Doppler Current Profie (ADCP), dan Gravity Meter.

Untuk kepentingan riset, kapal Baruna Jaya VIII dilengkapi dengan 5 laboratorium, yaitu laboratorium biologi, laboratorium electronic

center untuk memantau semua hasil bacaan

sensor, multipurpose lab, wet lab dan clean

room.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke depan akan mempersiapkan kapal

(10)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

lah melakukan penelitian dan pengembangan litbang di kawasan pantai dan laut, pengem-bangan kelembagaan menuju kemandirian dan pengembangan pelayanan jasa riset dan teknologi. Penyelidikan dan pemetaan geo-logi kelautan pada dekade terakhir ini makin di tingkatkan terutama pada pencarian sumber daya energi mineral yang bernilai strategis dan ekonomis dalam menunjang pembangunan nasional. Hal ini sehubungan dengan makin terbatasnya sumber daya mineral dan energi di darat. Kegiatan tersebut merupakan perwu-judan akan tanggung jawab pemerintah dan negara dalam menggali potensi sumber daya energi mineral dan yang terdapat di dasar laut, mulai kawasan pantai, perairan pantai hingga ke batas terluar Landas Kontinen termasuk Zona Ekonomi Eksklusif.

Pada awal berdirinya, P3GL merupakan unit pelaksana teknis di bidang pengembang-an dpengembang-an penyelidikpengembang-an geologi kelautpengembang-an ypengembang-ang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyelidikan semua aspek geologi kelautan serta mengembangkan konsep-konsep dan metode-metode penelitian geologi kelautan. Berdasarkan reorganisai KESDM, P3GL ber-ada di bawah Bber-adan Litbang ESDM, merupa-kan unit penunjang dalam upaya meningkat-kan investasi energi dan sumber daya mineral seluruh laut Indonesia.

Sehingga berdasarkan Renstra P3GL-Balit-bang ESDM tahun 2014-2019, fokus dari ke-giatan P3GL saat ini adalah:

1) Kegiatan kolaborasi pengembangan dan pengkayaan data cekungan migas, meliputi Kegiatan Pengembangan dan pengkayaan data di Wilayah Kerja Migas, dan Pemeta-an cekungPemeta-an sedimenter dPemeta-an tektonik di wilayah frontier.

2) Kegiatan pemetaan dan identifikasi poten-si energi baru dan terbarukan, meliputi Ke-giatan Pemetaan dan pengukuran potensi energi laut, dan Pemetaan potensi metana hidrat.

3) Kegiatan pemetaan dan identifikasi po-tensi mineral dasar laut, meliputi Kegiatan Pemetaan dan identifikasi mineral sulfida kapal pemetaan dasar laut dan merupakan

ba-gian dari jajaran kapal-kapal TNI AL dalam me-modernisasi armada kapal khususnya kapal survei hidro-oseanografi.

Kapal Rigel 933 dilengkapi dengan peralatan oseanografi yang dapat memetakan bawah laut sampai kedalaman 6.000 meter. Kapal ini juga juga dilengkapi dengan teknologi mul­

tibeam yang bisa mencatat gelombang dan

frekuensi bawah laut dengan tepat.

Fungsi utama dari kapal Rigel 933 adalah un-tuk pemetaan dan survei di wilayah perairan Indonesia, di mana data yang diperoleh pen-ting untuk yang terkait dengan pertahanan dan keamanan negara Indonesia.

Kapal Rigel 933 mempunyai kapsitas 41 per-sonel ABK dan peneliti dari TNI AL, dengan panjang 60 meter, lebar 11 meter, bodi kapal terbuat dari alumunium dan baja yang memili-ki berat hanya 500 ton, sehingga tidak cepat berkarat.

Perusahaan Survei Nasional

PT. Elnusa Tbk. bersama mitranya CGG Veri-tas memiliki Kapal Survei (KS). Elnusa CGG Veritas, kapal ini merupakan kapal survei seis-mik 2D/3D offshore ditujukan untuk survey

seismic marine di kawasan Asia Pasifik

de-ngan fokus utama di Indonesia.

PT. Mahakarya Geo Survey (MGS) memiliki KS. GEO Survey. Kapal ini dilengkapi dengan peralatan geologi dan geofisika dan ditujukan untuk mendukung site­hazard survey di ka-wasan Asia Pasifik dengan fokus utama di In-donesia.

3. PERANAN PUSlITbANG GEoloGI KElAUTAN

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) sebagai salah satu instansi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memiliki prioritas pokok kegiatan

(11)

ada-Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

tas kemandirian energi khususnya dapat men-dukung eksplorasi migas standar industri. Dalam perencanaan Kapal Survei Geomarin IV (nama masih tentatif), P3GL akan melak-sanakan tahapan DED (Design Enginnering

Detail) tahun 2016, dan tahapan

pembangun-an pada tahun 2017 dpembangun-an 2018. KS. Geomarin IV sendiri akan memiliki spesifikasi:

• Fungsi : 2 D seismic vessel, standar industri migas • Endurance : 45 hari • Tonase : 1900 T • Panjang : 70 meter • Lebar : 14 meter • Draft : 5,5 meter

• Awak kapal : 18 - 22 orang • Scientist : 24 - 28 orang • Mesin induk : 2 x 1560 HP • Power plant : 4 x 350 kW

• Kompresor seismik : 2 x 800 SCFM Atlas Copco 18T; 2 x 500 SCFM Atlas Copco 12T

• Pengangkat : Crane 5 ton; Crane 2 ton • Geophysical Winch : 2 x 6000 m untuk

diameter Cable/ streamer 2 inci; 2 x 200 m untuk diame- ter Airgun

umbilical 4 inci. • Multibeam : Kongsberg EM302

Multibeam atau Reson Seabat 7150 • Echosounder/SBP : EK Mid-Water Sounder/SyqWest; Massa TR109 3.5 kHz transducer Array of 16; dan 12 kHz transducer Array of 16. • On board Lab. : 120 – 180 m2. dasar laut, dan Pemetaan dan identifikasi

mineral plaser dan mineral jarang (khusus untuk Indonesia bagian barat).

4) Kegiatan studi dan pengumpulan data primer untuk mendukung infrastruktur dan MP3EI, meliputi Kegiatan Pengumpul-an data geologis dPengumpul-an osePengumpul-anografis untuk pengembangan wilayah. Pemetaan dan identifikasi potensi bencana geologis, dan Studi lingkungan geologi pada daerah-dae-rah rawan lingkungan.

5) Kegiatan kolaborasi pemetaan landas kon-tinen indonesia dan pulau-pulau kecil ter-depan, meliputi Kegiatan Pemetaan Landas Kontinen Indonesia, dan Inventarisasi sum-ber daya mineral di pulau-pulau kecil terde-pan.

Pengembangan Kapal Survei P3Gl Strategi pembangunan RPJMN 2015 – 2019, yang dijadikan unggulan yaitu kedaulatan ener-gi dan ketenagalistrikan menjadi salah satu fokus pembangunan Indonesia. Dalam strategi pembangunan tersebut terdapat ruang lingkup kegiatan Badan Litbang ESDM, yaitu penam-bahan sumber daya dan cadangan migas dan pengkajian sumber daya energi dan mineral kelautan. Dengan demikian dirumuskan fokus kegiatan P3GL, yaitu 1). Intensifikasi eksplora-si migas di perairan Indoneeksplora-sia, melalui akuieksplora-sieksplora-si data lepas pantai yang konsisten dan disertai interpretasi guna pengembangan konsep geo-logi cekungan migas, 2). Intensifikasi eksplor-asi mineral pantai dan dasar laut Indonesia, 3). Inventarisasi potensi energi dan sumber daya mineral di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan pulau-pulau kecil terluar, serta pemetaan landas kontinen Indonesia, 4). Inventarisasi potensi energi laut (oseanografi) dan pengem-bangan teknologi eksploitasi energi laut. Tindak lanjut dari RPJMN 2015 – 2019 tersebut, dan didukung oleh Balitbang ESDM dan juga Kementerian ESDM, maka P3GL mencanang-kan amencanang-kan membangun kapal survei dengan spesifikasi yang hanya untuk meningkatkan penemuan cadangan migas. Keberadaan kapal survei ini diharapkan dapat mendukung

(12)

priori-Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

4. PENUTUP

Kondisi perairan Indonesia yang begitu luas, didukung dengan kondisi geologi yang ada mengakibatkan besarnya potensi sumber daya alam kelautan, baik itu migas, mineral, mau-pun energi baru terbarukan. Untuk itu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, maka perlu dikembangkan dan dit-ingkatkan penelitian-penelitian di wilayah laut. Dalam mendukung visi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan eksplorasi sumber daya energi dan mineral kelautan, masih dibutuhkan kapal survei yang memadai agar dapat me-menuhi kebutuhan industri migas dan mineral. Perlu dipikirkan ke depan membangun satu ko-laborasi antar kapal-kapal survei yang ada di Indonesia dalam pelaksanaan penelitian sum-ber daya energi dan mineral kelautan, agar ha-sil yang diperoleh lebih optimal dengan adan-ya perencanaan adan-yang terintergrasi akan saling menguatkan dari berbagai bidang dan dengan satu slogan, yaitu untuk kepentingan mening-katkan kemakmuran bangsa Indonesia. UcAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Geologi Kelautan (P3GL) Bapak DR. Ediar Usman., para Kepala Bidang dan fung-sional, juga semua pihak terkait yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga tusilan ini dapat diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

________, Website Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (Online), http://www.mgi.esdm.go.id/.

Deep Offshore Tectonics of South East Asia (Dotsea). 2005. A synthesis of deep marine data in Southeast Asia. Memoires de la So-ciete Geologique de France, 2005, n.s., No. 176

Pieters, F.F.J.M., and J. de Visser. 1993. The scientific career of the zoologist Max Wil-helm Carl Weber (1852–1937). Bijdragen tot de Dierkunde [Contributions to Zoology] 62:193–21.

Rumphius, G.E. 1999. The Ambonese Curio-sity Cabinet. Yale UniverCurio-sity Press, New Ha ven and London, (terjemahan bahasa Inggris dari D’Amboinsche Rariteitkamer, 1705), 567 hal.

van AKEN HENDRIK. M., Dutch Oceanogra-phic Research in Indonesia in Colonial Times, Oceanography Vol. 18, No. 4, Dec. 2005, The Oceanography Society, USA. van Oosten, F.C. 2003. ‘Tydeman, Gustaaf

Frederik (1858–1939)’, in Biografi sch Woor-denboek van Nederland. [Online] Website: http://www. inghist.nl/ Onderzoek/Projecten/ BWN/lemmata/bwn1/tydeman.

Referensi

Dokumen terkait

Kelima fenomena itu akan dilihat tidak hanya sekadar bukti telah meningkatnya ekspresi keagamaan atau gejala kebangkitan kegairahan Islam tahun 1980an dan 1990an, tetapi

Penggunaan Simpuskesmas dengan teknologi komputer untuk pengolahan data pasien sangat diperlukan, karena dapat memberikan beberapa keuntungan dan kemudahan dalam pelayanan pasien

Kompetensi dasar termasuk ke dalam salah satu sistematika Kurikulum 2013, setelah kompetensi inti. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta

Absensi dapat diartikan sebagai ketidakhadiran atau kehadiran suatu objek dalam hal ini orang, dimana orang tersebut terlibat dalam suatu organisasi yang mengharuskan

Perbandingan di antara kedua-dua nilai ini didapati bahawa tenaga pengaktifan yang diperoleh melalui kedua-dua kaedah tidak sama yang menjelaskan bahawa proses yang berlaku di

Löïc ñaåy ngöôïc laø phaûn öùng baát ngôø khi ñóa maøi, taám ñôõ, choåi ñang quay hoaëc baát kyø phuï tuøng naøo khaùc bò keït hoaëc bò vöôùng. Vieäc

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang menekankan pada kondisi belajar yang lebih bermakna yang

1. Fatma Asri, M.Pd. Endang Prihatin, M.Pd.. Berdasarkan penilaian dari pakar sebagaimana dijelaskan pada data hasil uji coba teoretik, terlihat bahwa persentase jawaban YA