• Tidak ada hasil yang ditemukan

11 antifungi.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "11 antifungi.pdf"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

HAMBATAN EKSTRAK ETANOL GEL LIDAH BUAYA

(Aloe vera) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans ISOLAT VAGINA 218 SV SECARA IN VITRO

Sri Winarsih*, Rita Rosita**, Rr Irisda Nurkhayya***

*Laboratorium Mikrobiologi FKUB, **Laboratorium Anatomi FKUB, **Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

ABSTRAK

Jamur Candida albicans dikenal sebagai penyebab tersering infeksi pada vagina. Sekitar 70% - 80% jamur Candida albicans menyebabkan infeksi yang tersering dari candidiasis superfisial dan sistemik. Obat antijamur memiliki efek samping yang cukup menganggu. Adapun obat yang tidak memiliki efek samping harganyapun masih relatif mahal. Pengobatan yang efektif terus dicari dalam penemuan senyawa antifungal. Salah satunya adalah saponin dan flavonoid yang merupakan senyawa alkaloid yang terdapat dalam gel lidah buaya (Aloe vera) telah diduga sebagai senyawa antifungal yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol gel lidah buaya terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans isolat vagina secara in vitro. Sampel diperoleh dari isolat jamur di Laboratorium Mikrobiologi FKUB. Konsentrasi ekstrak yang dipakai yaitu 0%, 24%, 28%, 32%, dan 36%. Metode yang digunakan adalah metode dilusi tabung. Hasil statistik one way

ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada perubahan konsentrasi

ekstrak gel lidah buaya terhadap jumlah koloni Candida albicans (p<0,05). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara konsentrasi ekstrak dengan jumlah koloni (Korelasi, r = -0,802: p<0,05). Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol gel lidah buaya mempunyai efek antifungal terhadap Jamur Candida albicans dengan kadar bunuh minimumnya adalah 36% v/v.

Kata kunci: Jamur Candida albicans, ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera), antifungal. ABSTRACT

Candida albicans fungus are known as the most often cause of vaginal infection. About

70-80% of Candidae albicans fungus give the most often disease of systemic and superficial Candidiasis. Medicine from antifungal group has inconvenient side effects, is there any other safe medicine, it will cost more. An effective treatment is still in quest in the form of antifungus compound, one of them is saponin and flavonoid which is an alkaloid compound in aloe vera gel that has been presumed as an effective antifungus.This research’s goal is to identify the effect of extracted ethanol aloe vera gel against the growth of Candida albicans fungus isolate vaginal in vitro. The sample is obtained from fungus isolate from Microbiology Laboratory of Medical Faculty of Brawijaya University. The extract concentrate used is 0%, 24%, 28%, 32%, 36% v/v. The method used is tube dillusion.The result of one-way-ANOVA statistics shows there is a significant difference in the change of extracted aloe vera gel concentration to the amont of the Candida albicans fungus colony (p<0.05). The correlation test shows there is a strong relation between the extracted concentrate and the colony amount (the correlation, r=-0.802: p<0.05). Based on this research it can be concluded that the extracted aloe vera gel has an antifungus effect against Candida albicans fungus, with a minimum killing percentage of 36% v/v.

(2)

2

PENDAHULUAN

Penyakit yang disebabkan oleh

Candida albicans dapat ditemukan di

seluruh dunia serta dapat menyerang segala umur. Sekitar 70% - 80% jamur

Candida albicans menyebabkan infeksi

sehingga menyebakan penyakit tersering dari candidiasis superfisial dan sistemik. Untuk penyakit vulvovaginal candidiasis pada wanita angka kejadiannya meningkat setelah umur 20 tahun, dan mecapai puncaknya antara umur 30 – 40 tahun. Hal ini disebabkan beberapa hal salah satunya oleh aktifitas seksual intercourse (Azis,2011).

Beberapa tahun ini penyakit kandidiasis mengalami peningkatan karena beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Candida albicans menjadi patogen. Hal ini disebabkan meningkatnya populasi penderita dengan gangguan kekebalan tubuh imunosupresif

(HIV-AIDS), tindakan medik invasif,

transplantasi organ, dan pemakaian antibiotik (Nasucha, 2007). Serta penderita yang memiliki penyakit tertentu seperti, diabetes melitus, leukemia, dapat juga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi jamur candida.

Jamur adalah kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak) dan berkembang biak dengan spora. Sebagai makhluk yang heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. Jamur juga memiliki peranan

penting bagi manusia, ada yang

menguntungkan dan ada juga yang merugikan antara lain, jamur Pneumonia

carinii menyebabkan penyakit pneumonia

pada paru-paru manusia, Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia (Utami, 2009).

Candida merupakan flora normal

dan banyak tersebar di dalam tubuh terutama di membran mukosa saluran pencernaan (24%) dan mukosa vagina (5-11%). Jamur ini bersifat oportunistik dan

beberapa spesies Candida dapat

menyebabkan infeksi terutama C.

albicans sebagai spesies yang paling

sering menyebabkan infeksi. Sebanyak 70% infeksi Candida disebabkan oleh spesies ini. Penyakit yang disebabkan

oleh jamur ini dikenal sebagai

Candidiasis dan sering terjadi pada

daerah orofaring dan vagina (Arenas, 2001; Narins et al, 2003; Brooks et al, 2004; Kayser et al, 2005).

Pengobatan untuk Candida

albicans yang secara alternatif masih

banyak dicari. Hal itu karena obat – obatan seperti antifungal dan sistemik memiliki efek samping yang cukup mengganggu bila dikonsumsi. Adapun efek samping yang di timbulkan adalah demam, pusing, mual, muntah, diare, kerusakan pada kulit akibat efek toksik pada organ lain dan faal darah. Adapun jenis obat dengan tingkat toksisitas selektif yang ditawarkan, untuk masyarakat umum harganya terlalu mahal (Ganiswara, 2002).

Tanaman lidah buaya (Aloe vera) merupakan bahan alami yang memiliki kandungan yang dapat bermanfaat untuk antimikroba. Tumbuhan lidah buaya ini banyak tumbuh di indonesia dan cara perkembangbiakan tanaman ini sangatlah

mudah. Tanaman lidah buaya ini

merupakan tanaman asli Afrika terutama Mediterania. Keistimewaan tanaman lidah buaya ini terletak pada gel lidah buaya yang merupakan bagian dari daun lidah buaya. Bagian terbesar kandungan gel lidah buaya adalah air (98,5%), karbohidrat (0,3%), asam amino, lipid, sterol, tanin, dan beberapa enzim (Fahrini, 2007). Ada pula teori yang menyebutkan telah menemukan kandungan zat aktif dalam lidah buaya yang dapat berfungsi sebagai antimikroba seperti saponin, kompleks anthraquinone, acemannan, flavonoid (Purbaya, 2003; Fumawanthi,

2004), dan acethylated mannose

(Wijayakusuma, 2000).

Menurut Wahyono E dan

Kusnandar (2002), lidah buaya berkhasiat sebagai anti inflamasi, antijamur,

antibakteri dan membantu proses

regenerasi sel. Menurut peneliti Fujio L. Panggabean (2008) juga menyebutkan bahwa lidah buaya memiliki kandungan antibiotik, antiseptik, antibakteri, antikanker, antivirus, antijamur, antiinfeksi,

antiperadangan, antipembengkakan,

antiparkinson, antiaterosklerosis, serta antivirus yang resisten terhadap antibiotik.

(3)

3

Namun demikian dari pernyataan tersebut belum ada pengujian bahwa lidah buaya terbukti sebagai obat antimikroba. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta bukti secara

in vitro tentang gel lidah buaya sebagai

antimikroba khususnya terhadap jamur

Candida albicans. Tujuan Umum

1. Untuk membuktikan efek ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera) sebagai antimikroba terhadap jamur

Candida albicans secara in vitro. Manfaat Penelitian

Manfaat Akademis

1. Menambah wacana ilmu pengetahuan khususnya bahan alam yang dapat dijadikan sebagai bahan antimikroba.

Manfaat Praktis

1. Sebagai bahan pertimbangan alternatif pengobatan terhadap jamur Candida

albicans.

2. Memberikan informasi tentang ada tidaknya efek ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera) sebagai antifungal.

METODE PENELITIAN Desain Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan desain penelitian

Laboratory experimental – Post test only Control Group Design dengan menggunakan metode dilusi tabung untuk mengetahui efek antimikroba ekstrak gel lidah buaya (Aloe vera) yang dapat

mempengaruhi pertumbuhan jamur

Candida albicans secara in vitro. Untuk

proses pengekstrakan gel lidah buaya menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Sedangkan pengujian ekstrak gel lidah buaya sebagai antimikroba menggunakan metode dilusi tabung yang meliputi dua tahap, yaitu tahap pengujian bahan pada media

Mueller Hinton broth dan tahap

penanaman pada medium SDA

(Sabouraud Dexstrosa Agar) dengan

metode penggoresan yang bertujuan untuk menentukan KHM (Kadar Hambat

Minimal) dan KBM (Kadar Bunuh

Minimal).

Sampel Penelitian

Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah jamur Candida albicans

isolat vagina 218 SV yang dimiliki oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Pengulangan

Besarnya konsentrasi yang

digunakan, ditetapkan melalui eksperimen pendahuluan. Jumlah pengulangan yang dipakai dalam penelitian ini dihitung dengan rumus sebagai berikut (Solimun, 2001): p (n-1) ≥ 15 5 (n-1) ≥ 15 5n-5 ≥ 15 5n ≥ 20 n ≥ 4

Keterangan : n = jumlah pengulangan p = jumlah perlakuan (5 konsentrasi ekstrak gel lidah buaya)

Jadi, pada penelitian ini masing-masing

perlakuan dilakukan empat kali

pengulangan.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya pada bulan Juli 2011 sampai bulan September 2011.

Variabel Penelitian Variabel Bebas

Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera) dengan konsentrasi tertentu (% v/v).

Variabel Tergantung

Variabel tergantung yang

digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media perbenihan yang nantinya akan diukur KHM dan KBM.

Definisi Operasional

1. Ekstrak gel lidah buaya (Aloe vera)

adalah hasil ekstraksi gel yang diambil dari daun lidah buaya yang berasal dari lingkungan sekitar di Malang, Indonesia dan menggunakan pelarut etanol. Gel yang digunakan berasal dari daun lidah buaya yang sudah masak dan berwarna hijau. Pembuatan ekstrak menggunakan 100 gram gel kering lidah buaya yang bila diekstrak dengan ethanol akan didapatkan 20 ml ekstrak yang setara dengan konsentrasi 100% ekstrak.

(4)

4

2. Isolat Candida albicans yang digunakan berasal dari bahan isolat vagina 218 SV jamur Candida

albicans pada laboraturium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

3. Kadar Hambat Minimal (KHM) adalah kadar atau konsentrasi minimal larutan ekstrak gel lidah buaya (Aloe

vera) yang mampu menghambat

pertumbuhan jamur uji (Candida

albicans), yaitu dengan penampakan

yang jernih pada biakan, setelah diinkubasikan selama 18-24 jam. Kejernihan larutan ekstrak gel lidah buaya ini dikonfirmasikan dengan larutan kontrol bahan yang terdiri dari ekstrak gel lidah buaya sebanyak 2 ml.

4. Kadar Bunuh Minimal (KBM) adalah kadar atau konsentrasi minimal larutan ekstrak gel lidah buaya yang

mampu membunuh jamur uji

(Candida albicans), yaitu tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba setelah biakan yang jernih diinokulasikan ke

medium agar yang nantinya

diinkubasi dan kemudian diamati keesokan harinya, atau pertumbuhan koloninya kurang dari 0,1% dari jumlah koloni inokulum awal (original

inoculum/OI) pada medium

Sabouraud Dexstrosa Agar yang telah

dilakukan penggoresan sebanyak satu ose.

5. Kontrol positif yaitu tabung dengan konsentrasi ekstrak 0% atau tanpa larutan ekstrak gel lidah buaya.

6. Kontrol negatif yaitu tabung dengan konsentrasi 100% atau berisi larutan ekstrak lidah buaya saja.

7. Original inoculum adalah inokulum

jamur dengan konsentrasi 104

CFU/mL yang diinokulasikan pada media agar padat sebelum diinkubasi dan digunakan untuk menentukan kategori KBM.

8. Pengamatan kuantitatif digunakan

untuk menentukan pertumbuhan

jamur uji Candida albicans dengan

menghitung koloni jamur

menggunakan Colony counter.

Analisis Data

Penelitian ini menggunakan variabel numerik dengan satu faktor yang

ingin diketahui yaitu perbedaan jumlah koloni jamur Candida albicans yang terdapat pada Sabouraud Agar Slant berdasarkan faktor perlakuan pemberian ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera), maka uji statistik yang digunakan adalah

One-Way ANOVA dengan program SPSS (Statistical Product of Service Solution) for windows versi 15.0, digunakan taraf

kepercayaan 95% (α = 0,05). Hipotesis ditentukan melalui H0 diterima bila nilai signifikansi yang muncul p > 0,05; sedangkan H0 ditolak bila nilai signifikansi yang muncul p < 0,05. H0 dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan efek antimikroba pada pemberian ekstrak gel

lidah buaya pada masing-masing

perlakuan terhadap jumlah koloni jamur

Candida albicans yang terdapat pada

medium Sabouraud Agar Slant.

Langkah-langkah dalam One-Way

ANOVA adalah sebagai berikut:

a. Memeriksa syarat uji ANOVA untuk > 2 kelompok yaitu

 Sebaran data harus normal  Varian data harus sama

b. Melakukan Analisis One-Way

ANOVA, untuk mengetahui

perbedaan jumlah koloni jamur

Candida albicans pada masing-masing perlakuan khususnya

yang diakibatkan pemberian ekstrak gel lidah buaya (Aloe vera) (Dahlan, 2009).

Kemudian dilakukan analisis Post

Hoc Test (Tukey Test), untuk mengetahui

perlakuan mana saja yang menyebabkan jumlah koloni jamur Candida albicans menunjukkan perbedaan yang bermakna

dan tidak bermakna. Selanjutnya

dilakukan Uji Korelasi, untuk mengetahui keeratan hubungan pemberian perlakuan

terutama yang disebabkan oleh

pemberian ekstrak gel lidah buaya (Aloe

vera) dengan jumlah koloni jamur Candida albicans serta Uji Regresi, untuk

mengetahui pengaruh pemberian

perlakuan terutama yang disebabkan oleh pemberian ekstrak gel lidah buaya (Aloe

vera) terhadap koloni jamur Candida albicans.

Hasil Penelitian

Hasil Identifikasi Candida albicans

Pada penelitian ini menggunakan isolat Candida albicans 218 SV yang

(5)

5

sampelnya diambil dari vagina yang disediakan oleh Laboraturium Mikrobiologi FKUB. Isolat tersebut kemudian

di-streaking ulang pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) kemudian diidentifikasi menggunakan pewarnaan Gram. Pada medium Sabouraud Dextrose

Agar (SDA), isolat jamur Candida albicans

akan menghasilkan koloni yang berbentuk bulat dengan permukaan agak cembung yang terlihat pada Gambar 5.1. Memiliki tekstur yang halus, licin dan terkadang sedikit berlipat-lipat. Ukuran koloni

dipengaruhi oleh umur biakan. Koloni mempunyai warna putih kekuningan dan berbau asam seperti tape. Pada perwarnaan Gram serta pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x, didapatkan berwarna ungu (Gram positif) adanya test Germ tube untuk pembuktian bahwa yang diteliti adalah

Candida albicans seperti terlihat pada

Gambar 5.1.

(a)

(a) (b) (c)

Gambar 5.1 (a). Koloni Candida albicans pada Medium SDA; (b). Jamur Candida albicans pada Pengecatan Gram Menunjukan Sifat Gram Positif; (c) Test Germ tube positif.

5.2 Hasil Pengamatan Kekeruhan dan Analisis terhadap KHM

Pada penelitian ini digunakan empat macam konsentrasi ekstrak lidah buaya (Aloe vera) yaitu 24%, 28%, 32%, 36% serta konsentrasi 0% sebagai kontrol jamur dan konsentrasi 100% sebagai kontrol negatif. KHM (Kadar Hambat Minimal) adalah kadar terendah dari antimikroba yang dapat menghambat

pertumbuhan pada jamur (ditandai dengan tidak adanya kekeruhan pada tabung), setelah diinkubasi selama 18-24 jam (Dzen et al., 2003). Tingkat kekeruhan larutan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) diamati untuk menentukan KHM. Uji dilusi tabung dengan konsentrasi 24%, 28%, 32%, 36%, kontrol jamur dan kontrol negatif dapat dilihat pada Gambar 5.

(6)

6

Gambar 5.2 Tingkat Kekeruhan KHM

Keterangan : A : konsentrasi 24% B : konsentrasi 28% C : konsentrasi 32% D : konsentrasi 36% E : kontrol bahan (KB) F : kontrol kuman (KK)

Berdasarkan hasil uji dilusi tabung, kekeruhan antar konsentrasi tidak dapat diamati karena semua warna tabung keruh jika dibandingkan dengan kontrol jamur. Selain itu juga dipengaruhi oleh warna ekstrak yang kecoklatan dan gelap sehingga dalam pengamatan langsung secara visual tingkat kekeruhan tiap konsentrasi tidak dapat diamati. Oleh karena itu KHM tidak dapat ditentukan pada penelitian ini.

5.3 Penentuan KBM

Dari masing-masing tabung

selanjutnya diambil satu ose dan diinokulasikan (streaking) pada medium padat SDA. Kemudian medium SDA

diinkubasi lagi pada suhu 37°C selama 18-24 jam. Keesokan harinya dilakukan penghitungan jumlah koloni yang tumbuh pada masing-masing konsentrasi SDA dengan menggunakan colony counter.

KBM (Kadar Bunuh Minimal) yaitu kadar terendah dari antimikroba yang dapat membunuh jamur (ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan kuman pada

medium SDA) atau pertumbuhan

koloninya kurang dari 0,1% dari jumlah

koloni inokulum awal (original

inoculum/OI) pada medium SDA yang

telah dilakukan penggoresan sebanyak satu ose (Dzen et al., 2003). Hasil penggoresan/streaking pada medium SDA dapat dilihat pada gambar 5.3.

(a) (b) (c)

(e)

(d) (f)

B

(7)

7

Gambar 5.3 Pertumbuhan Candida albicans pada SDA Setelah Perlakuan dengan Ekstrak

Etanol Gel Lidah Buaya Keterangan gambar:

(a) Pertumbuhan koloni pada konsentrasi ekstrak 0% atau kontrol jamur (b) Pertumbuhan koloni pada konsentrasi ekstrak Lidah buaya 24% (c) Pertumbuhan koloni pada konsentrasi ekstrak Lidah buaya 28% (d) Pertumbuhan koloni pada konsentrasi ekstrak Lidah buaya 32% (e) Pertumbuhan koloni pada konsentrasi ekstrak Lidah buaya 36% (f) Pertumbuhan koloni pada Original Inoculum

Pada tabung dengan konsentrasi 0% dan 24%, dilakukan pengenceran terlebih dahulu dengan larutan NaCl sebanyak 1000x sebelum di-streaking penuh pada SDA. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam penghitungan jumlah koloni yang tumbuh karena apabila tidak dilakukan pengenceran maka koloni yang tumbuh terlalu padat dan tidak bisa dihitung.

Dari hasil pertumbuhan dan penghitungan koloni isolat jamur Candida

albicans tersebut dapat ditentukan kadar

bunuh minimal dari ekstrak lidah buaya yaitu pada SDA yang tidak ditumbuhi koloni atau jumlah koloni < dari 0,1% dari

original inoculum. KBM ekstrak etanol gel

lidah buaya pada perlakuan ini adalah 36% terhadap Candida albicans karena pada konsentrasi 32% tidak dapat dikatakan KBM karena jumlah koloni > 0,1% dari original inoculum. Hasil penghitungan koloni yang tumbuh di SDA pada masing-masing dapat dilihat pada tabel 5.1. Jumlah koloni dihitung dengan menggunakan colony counter.

Tabel 5.1 Hasil Penghitungan Koloni Jamur yang Tumbuh Pada SDA

Konsentrasi (v/v)

Pengulangan

Rerata Standar deviasi

1 2 3 4 0% 138080 156250 126760 126530 136905 ± 0.4316 24% 8125 9040 8670 8356 8547.75 ± 0.2009 28% 68 64 76 65 68.25 ± 0.3323 32% 5 6 6 6 5.75 ± 0.3347 36% 0 0 0 0 0 ± 0.0000 OI 4580 4335 4070 3980 4241,25

Pertumbuhan koloni pada original

inoculum juga dihitung untuk satu isolat.

Pada OI jumlah koloninya 4580 CFU/ml. Selanjutnya, 4335 CFU/ml, 4070 CFU/ml, dan 3980 CFU/ml. Data pada tabel 5.1 dibuat grafik rerata jumlah koloni yang menunjukkan hubungan antara pemberian berbagai konsentrasi ekstrak lidah buaya dengan jumlah koloni Candida albicans

yang tumbuh pada medium SDA. Grafik rerata jumlah koloni menunjukkan adanya

penurunan yang bermakna pada

peningkatan ekstrak lidah buaya. Untuk mengetahui gambaran interaksi antara perubahan konsentrasi ekstrak terhadap rerata jumlah koloni, maka dapat dilihat pada gambar 5.4.

(8)

8

Gambar 5.4. Rerata Jumlah Koloni Satu Isolat terhadap Berbagai Konsentrasi Ekstrak

Etanol Gel Lidah Buaya

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan pengaruh ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera) sebagai antijamur terhadap Candida albicans secara in vitro. Metode yang digunakan adalah metode dilusi tabung dalam dua tahap perbenihan, yaitu tahap pertama Candida albicans ditumbuhkan dalam media Sabround Dextrosa Agar yang dicampur dengan ekstrak lidah buaya dan diinkubasi selama 18 - 24 jam untuk diamati kekeruhannya untuk menentukan KHM. Tahap kedua adalah penggoresan (streaking) pada SDA kemudian diinkubasi selama 18 - 24 jam untuk dihitung jumlah koloninya dengan menggunakan (colony counter) “LAB-LINE” untuk menentukan KBM. Kemudian hasilnya dianalisis dengan uji statistik.

Ekstraksi etanol gel lidah buaya yang diperoleh melalui proses ekstraksi dingin (maserasi) dengan etanol 96% terdiri dari fraksi cairan dan fraksi

endapan. Fraksi ekstrak yang

dipergunakan untuk uji antijamur dalam penelitian ini adalah fraksi cairan karena lebih mudah larut dalam air sehingga mudah untuk dibuat berbagai konsentrasi dan mudah bercampur dengan medium pembenihan jamur. Untuk memisahkan fraksi cairan dari fraksi endapan, dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 1000 rpm selama 15 menit lalu diambil

supernatannya. Pembuatan ekstrak gel lidah buaya ini dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarutnya, karena etanol relatif tidak merusak senyawa kimia aktif

Konsentrasi ekstrak etanol lidah buaya yang digunakan adalah 24%, 28%. 32%, 36% v/v. Konsentrasi ini didapat melalui hasil eksplorasi (penelitian pendahuluan). Rentang konsentrasi yang kecil digunakan untuk dapat menentukan KBM yang lebih tepat dan untuk mendapatkan persamaan regresi yang lebih teliti.

Dari pengamatan pada tabung tidak dapat ditentukan KHM dari ekstrak etanol gel lidah buaya terhadap Candida

albicans karena sebelum diinkubasikan,

perlakuan telah mengalami kekeruhan, sehingga tidak dapat diamati secara kualitatif. Hal ini disebabkan oleh warna dasar ekstrak yang keruh. Warna ekstrak gel lidah buaya adalah coklat tua, sehingga tingkat kekeruhan dari masing-masing konsentrasi perlakuan tidak dapat

diamati secara kualitatif untuk

menentukan KHM selanjutnya dilakukan penggoresan pada SDA untuk mengamati pertumbuhan koloni Candida albicans,

sehingga KBM didapatkan pada

konsentrasi 36%. Hasil ini diduga dikarenakan semakin besar konsentrasi ekstrak yang diberikan semakin besar

(9)

9

pula konsentrasi bahan aktif yang

berpengaruh terhadap pertumbuhan

Candida albicans sehingga pertumbuhan Candida albicans menjadi semakin sedikit

dan sampai tidak ada.

Pada penelitian lain dengan menggunakan ekstrak gel lidah buaya

terhadap Methicillin Resistant

Staphylococcus aureus (MRSA) oleh

Rahmawati (2010) didapatkan konsentrasi larutan 0,3%; 0,35%; 0,4%; 0,45%, 0,5% v/

v dengan KHM yang tidak dapat ditentukan serta penelitian yang dilakukan

oleh Cintasa (2011) dengan

menggunakan ekstrak gel lidah buaya terhadap Klebsiella pneumonia didapatkan konsentrasi larutan 0%, 20%; 22.5%; 25%; 27.5%, dan 30% v/v KHM juga tidak dapat ditentukan.

Hal ini membuktikan bahwa pada penelitian ekstrak gel lidah buaya, tidak dapat ditentukan KHM dengan akurat untuk bakteri Gram positif dan Gram negatif. Adapun yang digunakan pada penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dan Cintasa menggunakan metode dilusi tabung, agar KHM dapat di baca dapat digunakan metode dilusi agar.

Gel lidah buaya memiliki efek antijamur terhadap jamur Candida albicans diperkirakan diperankan oleh

zat-zat aktif yang larut dalam etanol sebab metode ekstraksi pada penelitian ini menggunakan pelarut alkohol. Zat – zat aktif yang diperkirakan larut kedalam etanol adalah saponin dan flavonoid. Saponin adalah phytochemical yang berguna, yaitu antara lain mempunyai aktivitas antifungal dan antibakteri yang berspektrum luas. Saponin mempunyai kerja merusak membran plasma dari jamur. Senyawa saponin dapat merusak sel membran sitoplasma Candida albicans dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel jamur. Saponin dikatakan pula sebagai detergen alamiah, mampu menurunkan tekanan permukaan antar molekul pada suatu permukaan benda atau cairan (surface active agent). Detergen dapat terkondensasi pada permukaan suatu benda atau cairan dikarenakan memiliki gugus hidrokarbon yang larut lemak (berada pada membran sel). Sehingga dapat menyebabkan sel-sel

pada membran sitoplasma lisis

(Hopkins,1999).

Aktifitas biologis senyawa

flavonoid dilakukan dengan merusak dinding sel dari bakteri Candida albicans yang terdiri atas lipid dan asam amino akan bereaksi dengan gugus alkohol pada senyawa flavonoid sehingga dinding sel akan rusak dan senyawa tersebut dapat masuk ke dalam inti sel jamur. Selanjutnya dengan inti sel jamur senyawa ini akan kontak dengan DNA pada inti sel jamur Candida albicans dan melalui perbedaan kepolaran antara lipid penyusun DNA dengan gugus alkohol pada senyawa flavonoid akan dapat terjadi reaksi sehingga akan merusak struktur lipid dari DNA jamur Candida albicans sehingga inti sel jamur juga akan lisis. Flavonoid diketahui telah disintesis oleh tanaman dalam responsnya terhadap

infeksi mikroba sehingga tidak

mengherankan kalau mereka efektif secara in vitro terhadap sejumlah

mikroorganisme. Aktivitas mereka

kemungkinan disebabkan oleh

kemampuannya untuk membentuk

kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut, dan dengan dinding sel. Flavonoid yang bersifat lipofilik mungkin juga akan merusak membran mikroba. Efek flavonoid terhadap macam-macam organisme sangat banyak macamnya dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung flavonoid dipakai dalam pengobatan tradisional. Flavon, flavonoid, dan flavonol, ketiganya diketahui disintesis oleh tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba. Senyawa flavonoid mempunyai kerja menghambat enzim topoisomerase II pada bakteri serta berikatan dengan protein bakteri. DNA gyrase termasuk salah satu dari enzim kelas topoisomerase II (Melderen,2002). DNA gyrase memilin untaian dari DNA, dengan menguraikan untaian DNA. Flavonoid dapat membentuk kompleks dengan dinding sel bakteri. Semakin lipofilik suatu flavonoid, kemampuannya dalam merusak dinding sel bakteri semakin kuat (Cowan,1999).

Ada juga Tannin senyawa yang terkandung dalam ekstrak lidah buaya diduga mempunyai mekanisme yang sama dengan senyawa fenolik lainnya

(10)

10

dalam menghambat dan membunuh

pertumbuhan bakteri dan dapat bereaksi dengan cara inaktivasi enzim esensial dan destruksi atau inaktivasi fungsi dari material genetik (Branen, 1993). Selain itu, tannin telah dibuktikan dapat membentuk kompleks senyawa yang irreversibel dengan prolin, suatu protein lengkap, yang mana ikatan ini mempunyai efek penghambatan sintesis protein untuk pembentukan dinding sel. Beberapa laporan penelitian in vitro menunjukkan

bahwa secara potensial terdapat

hubungan yang signifikan antara sistem biologi/organisme seperti virus, bakteri, dan molluska dengan beberapa enzim penghambat, antioksidan, dan zat anti radikal bebas (Agnol et al, 2003)

Berdasarkan fakta hasil

penelitian yakni adanya penurunan jumlah koloni jamur Candida albicans seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak lidah buaya perlakuan yang diperkuat dengan data kandungan bahan aktif ekstrak gel lidah buaya yang mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida

albicans pada konsentrasi 36%, maka

dapat dikatakan bahwa ekstrak gel lidah buaya terbukti sensitif sebagai antijamur terhadap jamur Candida albicans. Hal ini dapat menunjukkan bahwa hipotesis penelitian terbukti.

Penelitian ini memiliki

keterbatasan antara lain pada metode pembuatan ekstrak yang acak, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti bahan aktif antijamur apa saja yang terkandung di dalamnya. Selain itu, jumlah pasti

masing-masing bahan aktif yang

dihasilkan dari proses ekstraksi tidak diketahui secara pasti. Kedua bahan aktif tersebut bekerja secara bersama-sama

atau tidak bersama-sama dalam

menghambat pertumbuhan jamur Candida

albicans, serta tidak adanya standarisasi

pembuatan ekstrak bahan alam, sehingga apabila dilakukan pembuatan ekstrak di

laboratorium yang berbeda, maka

kemungkinan akan didapatkan hasil yang berbeda pula. Adanya variasi dari masing-masing spesies lidah buaya juga dapat

mempengaruhi jumlah bahan aktif

antijamur. Misalnya, pada tanaman lidah buaya yang tumbuh di daerah A dapat memiliki kandungan yang berbeda dengan

lidah buaya yang tumbuh di daerah B.

Faktor lain yang juga dapat

mempengaruhi adalah waktu

penyimpanan ekstrak. Semakin lama disimpan, maka sensitifitas ekstrak biasanya akan menurun.

Aplikasi klinis ekstrak etanol gel lidah buaya sebagai antimikroba masih memerlukan penelitian lebih lanjut berupa penelitian in vivo dan clinical trial pada manusia. Hal ini dikarenakan belum adanya penelitian medis mengenai dosis efektif, toksisitas, dan efek samping yang ditimbulkan ekstrak etanol gel lidah buaya. Dengan dasar hal di atas, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai dosis efektif, toksisitas, dan efek samping yang ditimbulkan ekstrak etanol gel lidah buaya pada hewan dan manusia yang nantinya dapat diaplikasikan pada masyarakat. Pada penelitian ini hanya digunakan satu isolat vagina yaitu 218 SV, sehingga belum dapat digeneralisasikan pada semua Candida albicans isolat vagina.

PENUTUP Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Ekstrak etanol gel lidah buaya memiliki efek hambatan terhadap

pertumbuhan jamur Candida

albicans. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol gel lidah buaya maka semakin rendah

pertumbuhan jamur Candida

albicans.

2. Kadar Hambat Minimal (KHM) dari penelitian ini tidak dapat ditentukan, sedangkan Kadar Bunuh Minimal (KBM) ekstrak etanol gel lidah buaya (Aloe vera) terhadap jamur Candida albicans adalah 36% v/v.

DAFTAR PUSTAKA

1. Agnol R, Ferraz A, Bernardi AP, Albring D, Nor C, Sarmento L, Lamb L, Hass M. 2003. Antimicrobial activity

of some Hypericum species.

(11)

11

2. Anonymous. 2007. Karakteristik Candida albicans (Online), http://www.klikbatam.com/index.php/ti ps-healthy/1318-karakteristik-candida-albicans diakses pada tanggal 15 Desember 2010

3. Arenas,F. 2001. Contribution of the

antibodies response induced by a low virulent Candida albicans strain in protection against systemic candidiasis. Proteomics 4, 1204–

1215.

4. Arief, 2007, Tumbuhan Obat &

Khasiatnya. Seri 2, Jakarta : Penebar

Swadaya

5. Astawan. 2008. Lidah Buaya.

(Online)http://kulinerkita.multiply.com/ reviews, diakses pada tanggal 15 Desember 2010

6. Azis. 2011. Asuhan Keperawatan

Candidiasis

(Online)http://ary-afgan-

s1-keperawatan.blogspot.com/2011/07/a suhan-keperawatan-candidiasis.html diakses pada tanggal 01 november 2011

7. Balter, T. 1992. Ale vera Innerself

magazie (Online)

http://www.innerself.com/Herbs/aloe_ vera.htm diakses pada tanggal 16 Desember 2010 .

8. Baron, E.J.; Peterson; Finegold, S.M. 1994. Bailey and Scott’s Diagnostic

Microbiology 9th edition. New York.

Mosby-year Book Inc. P: 182-183. 9. Bennet, J.E., 2001. Harisson’s

Principles of Internal Medicine 15th Ed. Miami: McGraw Hill Companies.

Hal 1176-1177

10. Brannen, LA. 1993. Antimicrobial in

food. Marcel Dekker, Inc, New York.

11. Brooks GF, Butel JS, Morse SA.

Jawetz, Melnick, Adelberg’s. 2004. Medical microbiologi 23th Edition. The

McGraw-hill companies: United State

12. Cintasa. 2011. Pengaruh Ekstrak Gel

Lidah Buaya (Aloe vera) terhadap Bakteri Klebsiella Pnemonia Secara In Vitro. Tugas Akhir. Pendidikan

Dokter. Universitas Brawijaya.

13. Cholis, M. 1994. Perkembangan Baru

Kandidosis Kutis, Lab. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK Unibraw/ RSUD Saiful Anwar Malang. Majalah berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.

Universitas Airlangga. Surabaya vol 6 no. 3

14. Cowan, MM. 1999. Clinical

Microbiology Reviews-Plant Products Antimicrobial Agent. Ohio Department

of Microbiology, Miami University. Vol

4, no 2, P564-582, (Online). http://smccd.net

/accounts//case/ref/564.pdf. diakses tanggal 5 November 2011

15. Dahlan, M.S. 2009. Statistik Untuk

Kedokteran dan Kesehatan Deskriptif Bivariat dan Multivariat dilengkapi Aplikasi dengan Menggunakan SPSS,

Edisi, ke-3, Salemba Medika. Jakarta. hal 60-64

16. Dalimartha, S. 2008. Atlas Tumbuhan

Obat Indonesia Jilid 6. Pustaka

Bunda, Jakarta. Hlm. 105.

17. Dewi. 2008. Distilasi (Online) http://www.scribd.com/doc/14037123/ Distilasi diakses pada 09 November 2011

18. Dewoto, 2007. Obat Herbal Tak selalu

aman (Online)

http://ayosz.wordpress.com/category/

kesehatan-umum diakses pada

tanggal 17 desember 2010

19. Dinda. 2008. Ekstraksi (Online) http://medicafarma.blogspot.com/200 8/11/ekstraksi.html

20. Ditjen POM. 2000. Sediaan Galenik.

Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, Jakarta

21. Dzen, S.M., Roekitiningsih, Santoso S., Winarsih S., Sumarno, Islam S.,

(12)

12

dkk. 2003. Bakteriologi medik.

Banyumedia Publishing : Malang. 22. Fahrini, N. 2011. Lidah buaya untuk

kulit bermasalah, terbukti khasiatnya

(Online)

http://sweetyla.multiply.com/journal/ite m/211 diakses pada tanggal 5 Desember 2010

23. Fatrotin,EN. 2010 Formulasi Ekstrak

Etanol Rimpang Dlingo (Acorus calamus L) dengan basis salep larut air dan lemak sifat fisik dan Aktifitas Antijamur Terhadap Candida albicans secara in vitro. (Online) http://docs.google.com/viewer?szFGR

eMI&sig=AHIEtbReFJZlW-xKxUs517Y0h9Sf88o26g diakses

pada tanggal 13 desember 2010. 24. Furnawanthi. 2002. Khasiat dan

Manfaat Lidah Buaya, Cet.1. Jakarta:

Agro Media Pustaka

25. Ganiswara,.G.,Setiabudi,R.,Suyatna,F .D.,Purwantyastuti,afrialdi(Editor).200 2. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI. Jakarta

26. Gandjar, I. 2006. Mikologi Dasar dan

Terapan: Edisi Pertama. Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia. Hal.3-6 27. George.2010. Aloe Vera – The Secret

of the Ancients (Online) http://superfoodinfos.com/topics/aloe-vera-2/ diakses pada tanggal 9 November 2011

28. Gladwin, M.D., Trattler, Bill, M.D., 2000. Clinical Microbiology Made

Ridiculously Simple 2nd Ed. Miami:

McGraw Hill International. Hal. 144-152.

29. Gunawan, AR. 2010. Proses

Pembuatan Minuman Tanaman Lidah

Buaya (Online)

http://www.kampungteleng.co.cc/2010

/03/proses-pembuatan-minuman-lidah-buaya.html diakses pada

tanggal 16 Desember 2010

30. Heitman, J. 2006. Molecular principles of fungal pathogenesis (Online) http://books.google.co.id/books?id=86 0VMT9mTLIC&pg=PA425&lpg=PA diakses pada tanggal 7 Desember 2010

42. Hopkins, W.G. 1999. Introduction to

Plant Physiology, 2nd edition. New

York: John Wiley and Sons, Inc 43. Japardi I. 2002. Infeksi Jamur pada

Sistem Saraf Pusat (Online http://docs.google.com/viewer?a=v&q =cache:WkkKf0JfPrkJ:repository.usu. ac.id/bitstream/123456789/1997/1/be dah-iskandar%2520japardi14.

Y_y0wpreMs1JQ diakses pada

tanggal 11 Desember 2010

44. Jawetz, E., Joseps, L.M., Edward, A.A. 1996. Review of Medical

Microbiology 12th Ed. Los Altos:

Lange Medical Publications. Hal. 381-383.

45. Kayser, FH, Bienz, AK, Eckert, J, Zinkernagel, RM. 2005.Colour Atlas

of Medical Microbiology.New York

:Thieme. P:230-233

46. Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta

Kedokteran. Edisi ketiga Jilid 2.

Media Aesculapius, Jakarta

50. Mc Clatchey. 1994. Fungi And Fungal

Infection In Clinical Laboratory Medicine. Williams and wilking. USA.

pp. 1169-1192

51. Melderen L.V. 2002. Molecular interaction of the CcdB poison with its bacterial target the DNA gyrase. IJMM.

hal. 291, 537-544

52. Mira. 2011. Morfologi Jamur (Online) http://miradedy.blogspot.com/2011/04/ v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses pada tanggal 11 november 2010 53. Mulyati dan Sjarifuddin. 2005. Sumber

Infeksi Kandidiasis Vagina. Maj Kedokteran Indonesia. Hal 250

(13)

13

54. Narins, B., Learner, BW. 2003. World

of Imunnology Microbiology (Online)

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j &q=narins%20candida&source=we diakses pada tanggal 3 Desember 2010

55. Nasucha,L. 2007. Pengaruh Infus

Daun Papaya (Carica papaya L) Terhadap Jumlah Koloni Jamur Candida albicans (Online) http://docs.google.com/viewer?a=v&q= cache:W2vVjTjzpjYJ:digilib.umm.a diakses pada tanggal 15 Desember 2010

56. Odds FC. 1990. Candida infections: an

overview. Crit Rev Microbiol. 1987;15(1):1–5.

57. Panggabean, FL. 2008. Macam –

macam khasiat lidah buaya (Online)

http://www.greenthesky.com/artikel/ke sehatan/9/macam2_khasiat_lidah_bua ya_aloevera/69/ diakses pada tanggal 12 Desember 2010

58. Purnomowati, Sri. 2010. Aloe vera :

Kiat hidup sehat (Online) http://www.resep.web.id/obat/khasiat-lidah-buaya-aloevera.htm diakses tanggal 16 Desember 2010.

59. Rahmawati, V. 2010. Uji Ekstrak Gel

Lidah Buaya (Aloe vera) Sebagai Antimikroba Terhadap Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Secara in vitro. Tugas Akhir.

Program Studi Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

60. Reiss,E., Murphy,J.W., Friedman, H., Bendinelli,M., 1993. Immunochemistry

of fungal antigens (part B): opportunistic pathogens. in Fungal infections and immune responses.

Press, New York, NY., pp 439–468 61. Richardson M.D. dan Shankland E.S.

1991. Epidemiology and Pathogenesis

of Candidosis. Candida today: 3-7.

62. Riskillah,AG. 2010. Fakultas

Kedokteran Universitas Riau. Candida

albicans.(Online)

http://www.ziddu.com/download/90518

52/Belibis_A17-Candida_Albican.pdf.html diakses pada tanggal 13 Desember 2010 63. Robert R., Mahaza C., Miegeville M.,

Pontón J.,Marot-Leblond A.,Senet J. M. 1996. Binding of resting platelets to

Candida albicans germ tubes. Infect.

Immun. 64:3752–3757

64. Santoso, S. 2005. SPSS Statistik

Parametrik. PT. Elex Media

Komputindo kelompok Gramedia,

Jakarta

65. Segal dan Bavin. 1994. Pathogenic

Yeast and Yeast Infections. Library of

Congress Cataloging in Publication Data, hal 12. Tokyo: CRC Press Inc. 66. Shofyan. 2010. Agar Plate Dilution

Test (Online)

http://forum.upi.edu/v3/index.php?t

opic=15617.0 diakses pada tanggal

16 November 2011

67. Siswandono dan Sukarjo, B., 1995,

Kimia Medisinal. Airlangga University

Press, Surabaya, Hlm. 518, 521-523 68. Solimun, 2001. Diklat Metodologi

Penelitian LKIP dan PKM Kelompok agrokompleks.Malang. Universitas Brawijaya

69. Tehnologi pangan. 2009. Aneka olahan Lidah buaya (Online) http://ftpunisri.blogspot.com/2009/01/a neka-olahan-lidah-buaya.html; diakses pada tanggal 16 Desember 2011. 70. Tjampakasari, C.R. 2006. Karakteristik

Candida albicans (Online). Cermin

Dunia Kedokteran 151: 33.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/13 _151_KarakteristikBiologikCandidaAlbi cans.pdf/13_151_KarakteristikBiologik CandidaAlbicans.html; diakses tanggal 15 desember 2010

71. Verma. 2010. Aloe vera product (Online)

(14)

http://www.21food.com/products/aloe-14

vera-products-317170.html; diakses pada tanggal 11 Desember 2010 72. Vivo. 2011. Gram-stain of vaginal

smear showing Candida albicans, epithelial cells, and many gram-negative rods. (Online) http://vivo.cornell.edu/display/individua

l858 diakses pada tanggal 5

Desember 2010

73. Wahyono E dan Kusnandar. 2002.

Sejarah Lidah Buaya (Online) http://www.kaskus.us/showthread.php ?p=548692644 diakses pada tanggal 5 Desember 2010

74. Wijayakusuma H. 2000. Cantik dan Sehat dengan Lidah Buaya (Online)

http://www.naturindonesia.com/lidah-

buaya/cantik-dan-sehat-dengan-lb.html diakses pada tangggal 17 desember 2010.

75. Wong C. 2009. Aloe vera. (Online). http://altmedicine.about.com/od/herbsu pplementguide/a/Aloe.htm, diakses tanggal 20 Desember 2010

Gambar

Gambar 5.1  (a).  Koloni  Candida  albicans  pada  Medium  SDA;  (b).  Jamur  Candida  albicans  pada  Pengecatan Gram Menunjukan Sifat Gram Positif; (c) Test Germ tube positif
Gambar 5.2 Tingkat Kekeruhan KHM  Keterangan :  A  : konsentrasi 24%  B  : konsentrasi 28%  C  : konsentrasi 32%  D  : konsentrasi 36%  E  : kontrol bahan (KB)  F  : kontrol kuman (KK)
Gambar 5.3   Pertumbuhan Candida albicans pada SDA Setelah Perlakuan dengan Ekstrak  Etanol Gel Lidah Buaya
Gambar 5.4.  Rerata Jumlah Koloni Satu Isolat  terhadap Berbagai Konsentrasi Ekstrak  Etanol Gel Lidah Buaya

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona hambat dari ekstrak n- heksan daun Jatropha gossypifolia terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Daun

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Efek Ekstrak Etanol Biji Kakao (Theobroma cacao) sebagai Antifungi terhadap Candida albicans secara In

Pada penelitian ini telah terbukti bahwa ekstrak etanol daun salam mempunyai daya antifungi terhadap Candida albicans mulai pada konsentrasi 40% hingga pada konsentrasi 100%,

Penelitian lebih lanjut dilakukan terhadap ekstrak kulit batang kayu jawa ( Lannea coromandelica ) terhadap jamur penyebab penyakit, yaitu Candida albicans ,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak lamun yang berasal dari Pulau Bonebatang dan Pulau Laeae memiliki daya hambat terhadap jamur uji Candida albicans dan

menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan koloni jamur pada mencit model infeksi Candida albicans antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan

Kekeruhan larutan uji tersebut dapat diakibatkan oleh dua kemungkinan yaitu karena adanya pertumbuhan fungi Candida albicans atau karena ekstrak etanol daun Sidaguri yang

Diharapkan ada penelitian lanjutan tentang uji aktivitas antifungi ekstrak kulit jeruk nipis terhadap jamur Candida albicans dengan metode difusi yang berbeda