• Tidak ada hasil yang ditemukan

Junior Research FEB UNAIR Kenalkan Penelitian Sejak Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Junior Research FEB UNAIR Kenalkan Penelitian Sejak Dini"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

’Junior Research’ FEB UNAIR

Kenalkan Penelitian Sejak

Dini

UNAIR NEWS – Mahasiswa sudah tidak asing lagi dengan

penelitian. Hanya saja, kebanyakan mereka melakukan penelitian secara intensif ketika menjelang melaksanakan tugas membuat skripsi. Untuk itulah “Junior Research” hadir dengan program pembuatan paper dari divisi Research yang berkualitas secara akademis. Program ini berorientasi pada publikasi jurnal internasional, sehingga mahasiswa diarahkan untuk dapat mengaktualisasikan perannya dalam penelitian.

“Melalui Junior Research, khususnya divisi Research, program ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa jenjang S-1 untuk mendapatkan publish di jurnal, minimal jurnal tingkat nasional,” tutur M. Vinka Lutfian, salah satu anggota Junior

Research.

Dalam program tersebut, setiap anggota Junior Research yang terpilih untuk membentuk tim yang terdiri dari dua anggota. Kegiatan setiap tim adalah membuat paper. Mereka juga digembleng oleh dosen pembimbing, Rumayya Batubara, SE., M.Reg.Dev.,Ph.D pada setiap minggu. Selain itu, terdapat

training mingguan untuk mengolah data, mengenal paper, dan

strata dalam rangka mengasah dan menggali kemampuan menulis. Tak hanya itu, presentasi progress paper pun dilakukan setiap minggu.

”Junior Research ini cocok buat mengembangkan potensi mahasiswa, terutama di bidang research,” tambah Oktavia Dewi, anggota Divisi Research.

Oktavia menambahkan bahwa keterlibatan dosen pembimbing dalam setiap tim itu akan dioptimalkan. Dengan demikian, kolaborasi mahasiswa dan dosen akan meningkatkan publikasi UNAIR.

(2)

Orientasi yang tinggi tentunya memerlukan pengorbanan yang tinggi pula. Oleh karena itu, training mingguan akan semakin digencarkan.

K e d e p a n n y a , s e l u r u h p e n e l i t i a n d i h a r a p k a n d a p a t mempublikasikan diri dan berpartisipasi dalam lingkup internasional untuk membuka kesempatan mahasiswa mengenal penelitian. Dengan begitu, akan semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk bergabung. (*)

Penulis : Siti Nur Umami Editor: Bambang Bes

Bersinergi

Menyelesaikan

Permasalahan Gizi

UNAIR NEWS – Salah satu badan PBB yang bertindak di bidang

kesehatan, World Health Organization (WHO) terus memberi kesadaran akan pentingnya kesehatan pada masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Kali ini, perwakilan WHO Indonesia memberi pemaparan materi kuliah umum yang berjudul Global

Issue WHO programme on nutrition di Fakultas Kesehatan

Masyarakat, Universitas Airlangga, Senin (22/5).

“Saat ini, gizi telah termasuk pada salah satu faktor pembangunan yang termasuk juga di dalam pendidikan. Jika kondisi seseorang itu jelek, maka dia akan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaannya, pendidikannya, dan kesehatan,” papar Sugeng Eko Irianto MPS., Ph.D., selaku perwakilan WHO Indonesia.

Sugeng juga mengatakan, pembangunan gizi dan sumber daya manusia merupakan salah satu dari bagian investasi. Komitmen

(3)

sejak awal adalah kunci utama, tidak bekerja secara terpisah dan membutuhkan sinergi dari berbagai elemen terkait merupakan upaya nyata yang harus dilakukan dalam menuntaskan permasalahan gizi.

“Penanggulangan masalah gizi tidak hanya ditangani oleh kementerian di level pusat akan tetapi harus dilaksanakan di level daerah juga. Melakukan survei di beberapa daerah misalnya, mengelompokkan daerah yang komit menanggulangi permasalahan gizi hingga kemudian mensinergikan untuk merumuskan solusi atas permasalahan gizi yang ditemukan,” lanjutnya.

Disampaikan juga dalam kesempatan itu bahwa keterlibatan stakeholder yang lain seperti swasta dan termasuk juga perguruan tinggi sangat penting.

“Inilah tantangan dan peluang bagi universitas airlangga bisa menjadi partner pemerintah. FKM khususnya dapat bermitra membuat konsep-konsep paper atau penelitan-penelitan yang dapat membantu pemerintah dalam merumuskan masalah tentang gizi,” ucap Sugeng di depan mahasiswa S1 Gizi dan S2 IKM. Dekan fakultas FKM, Prof. Dr. Tri Martiana dr., MS., dalam kesempatan yang sama menambahkan, mahasiswa bisa berperan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. “Pengmas bukan hanya diharapkan sebagai pengmas yang parsial semata tetapi pengmas yang continue. Misalnya pada daerah binaan yang telah ditentukan untuk target menyelseikanmasalah obesitas. Ini bagian dari aspek tanggung jawab pendidikan,” ucap Tri.

“Sebagai perguruan tinggi yang memiliki tanggungjawab pendidikan, FKM UNAIR bekerjasama dengan kemenkes dan beberapa mitra lainya untuk berkolaborasi menyeleseikan masasalah-masalah kesehatan,” tutupnya.

(4)

Editor: Nuri Hermawan

Cerita Nurmalasari, Alumni

Yang Abdikan Diri di Mentawai

UNAIR NEWS – Bermula dari banyaknya ide segar yang hanya

tertuang dalam karya tulis ilmiah namun tanpa implementasi, Nurmalasari S. KM., tergugah untuk terjun mengabdikan diri, deretan teori dan ilmu yang dipelajarinya pun ia abdikan pada program Pencerah Nusantara. Mala, sapaan akrabnya, rela menunda mengikuti prosesi wisuda dan mengabdikan diri di Kecamatan Sikakap, Kepulauan Mentawai, selama satu tahun lamanya.

Dalam pengabdiannya alumni program bantuan pendidikan Bidikmisi angkatan 2010 tersebut mengabdikan diri bersama lima orang yang berbeda bidang kesehatan. Mereka terdiri dari dokter, perawat, bidan, ahli gizi. Dalam timnya, Mala memberanikan diri mengajukan menjadi ketua tim, person yang akan memetakan alur kerja selama satu tahun pengabdian.

Pengabdian yang ia lakukan tidak bermula dengan mudah, di awal pengabdian, Mala belum juga menemukan kontribusi apa yang bisa ia lakukan. Mala memiliki kesulitan untuk mengaplikasikan keilmuannya. Namun sebulan berjalan, melalui berbagai pendekatan Mala kemudian mendapatkan celah dimana ia harus memulai pengabdiannya.

“Ada titik balik yang mana ada hal-hal yang tidak dikuasai mereka (non SKM, -red) namun dikuasai bidang kami. Epidemologi, statistika kesehatan, manajemen data dan info kesehatan, kesehatan lingkungan, pengambilan assesment. SKM lebih jeli akan hal itu,” ujar perempuan kelahiran Lumajang, 1

(5)

Mei 1992 ini.

Mala memiliki celah dimana ia bisa mengaplikasikan keilmuannya. Namun, sekitar dua bulan masa assesment dan interfensi yang ia jalani, Mala kembali mendapatkan kendala ketika harus berhadapan dengan para pemegang program kesehatan di puskesmas.

“Saya dianggap anak baru yang belum menguasai apa-apa. Kemudian sambil belajar, saya mengikuti seluruh program yang dijalankan mereka,” kata Mala.

Suatu ketika, ada permasalahan puskesmas yang tidak bisa mereka hadapi. Dengan tidak menunjukkan sikap menggurui, Mala datang dengan memberikan berbagai masukan kepada para petugas kesehatan di puskesmas. Ide-ide yang diusulkan Mala membawa dampak positif bagi kepercayaan tenaga kesehatan terhadap dirinya. Kemudian, Mala dipercaya untuk mengerjakan hal yang mulanya dianggap tidak bisa dikerjakan tersebut.

“Pada mulanya pemerintah setempat tidak percaya dengan saya. Saya dianggap anak baru yang belum bisa apa-apa. Namun setelah saya menunjukkan bukti-bukti kegiatan yang telah saya lakukan, mereka kemudian percaya. Akhirnya mereka percaya dengan apa yang saya presentasikan, dan mereka mau memberi dana lebih untuk bidang kesehatan di wilayah Mentawai,” imbuhnya.

Setelah beberapa bulan pengabdian dilakukan, Mala perlahan-lahan melihat ada perubahan yang tampak pada masyarakat, utamanya mengenai kesadaran mereka tentang pentingnya menjaga kesehatan secara bersama-sama.

“Mereka kemudian menyadari bahwa kesehatan bukan hanya tanggungjawab pemerintah. Mereka bahu membahu mengusulkan permasalahan kesehatan yang ada di sana.

Toloh ukur yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program yang telah Mala dan tim lakukan di sana ialah tingkat partisipasi masyarakat dalam program perumusan program

(6)

kesehatan menjadi meningkat.

Perlahan, Mala mulai mendapati perubahan di daerah tempatnya melakukan pengabdian. Ada seorang anak Mentawai yang kemudian dinobatkan menjadi Duta Anak Nasional. Ialah yang kemudian didapuk Pencerah Nusantara untuk memicu anak-anak yang lain untuk semakin melakukan perubahan di segala bidang. Di Kepulauan Mentawai juga mulai rutin diadakan kegiatan oleh anak-anak dan remaja. Seperti prakarsa kampung bebas rokok, penanaman terumbu karang, serta pembentukan organisasi Sahabat Remaja Mentawai.

Usaha Mala dalam memupuk kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan yang mulai berhasil, membawa kepuasan tersendiri baginya. Dari program Pencerah Nusantara, ia mendapatkan pelajaran penting tentang eksistensi diri seorang SKM.

“Seorang SKM, harus sangat dekat dengan masyarakat. Jika ia ingin mengubah pola perilaku masyarakat, terlebih dahulu ia harus mampu mendekati dan “mengambil hati” masyarakat. Yang lebih penting, jangan menganggap kita paling pintar ketika berhadapan dengan masyarakat,” kata Mala.

Saat ini, Mala bekerja di Kantor Pencerah Nusantara Pusat yang ada di Jakarta, dan menjadi tim programming di sana. Sehari-hari, ia melakukan riset dan pengembangan, serta menganalisis hasil penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh tim lapangan Pencerah Nusantara.

Motto hidupnya ialah, ”Kesehatan itu bukan berbicara tentang aku atau kamu, tapi kita semua yang bertanggungjawab”. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Nuri Hermawan

(7)

Kuliah Tamu Jurnalistik,

Sinergikan

Teori

dengan

Praktisi

UNAIR NEWS – Melibatkan praktisi secara langsung dalam

pembelajaran akan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada mahasiswa. Hal itulah yang dilakukan oleh Departemen Sastra Indonesia Universitas Airlangga dalam kuliah tamu yang bertajuk “Kiat Menulis Opini di Media Massa”.

Acara yang dilaksanakan di Aula Siti Parwati pada Rabu (7/12), dibuka langsung oleh Wakil Dekan I FIB UNAIR Puji Karyanto, M.Hum. Dalam sambutannya, Puji menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari departemen untuk meningkatan kualitas mahasiswa dalam memahami jurnalistik lebih dalam dan langsung kepada pelakunya.

“Dengan kuliah ini saya harap akan banyak hal yang dibagi untuk mengenalkan mahasiswa dengan dunia jurnalistik,” harap Puji.

Hadir sebagai moderator kuliah tersebut Prof. Ida Bagus Putera Manuaba, M.Hum. menyampaikan bahwa ia ingin mata kuliah yang diampunya bisa dipraktikan langsung oleh mahasiswa. Selain itu, Guru Besar pertama FIB UNAIR tersebut juga berharap bahwa dengan mendatangkan praktisi di tengah mahasiswa bisa menambah gairah menulis anak didiknya.

“Kami harapkan dengan ini mahasiswa bisa lebih produktif dengan pengalaman langsung di lapangan,” ujarnya.

Pemateri pertama yang memaparkan mengenai penulisan opini, Agus Muttaqin menyampaikan beberapa hal mengenai

(8)

karakter penulisan opini dan cara menyusun kerangka penulisan opini. Redaktur artikel opini pada harian Jawa Pos tersebut juga menegaskan bahwa hal terpenting dalam teknik menulis opini di media adalah bahasa yang komunikatif, ringkas, dan tidak bertele-tele.

“Kecenderungan pembaca kini adalah membaca tulisan yang tidak panjang, enak dibaca, dan gampang dicerna,” ulasnya.

Selanjutnya, pemateri kedua yakni Frido Sri Adawina. Alumni Sastra Indonesia yang kini berprofesi sebagai editor bahasa harian Jawa Pos menjelaskan, sebagai editor bahasa pada media massa harus mengetahui kebutuhan pembaca. Baginya, bahasa koran yang baik adalah bahasa yang membuat pembaca senang. “Untuk bahasa koran yang baik adalah bikin pembaca senang. Dengan senang pembaca akan dapat menyerap informasi yang ada dalam berita itu,” paparnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan Editor: Faridah Hari

Kementerian Luar Negeri dan

FH UNAIR Bahas Isu Hukum Laut

UNAIR NEWS – Kementrian Luar Negeri bersama Departemen Hukum

Internasional mengadakan agenda pembahasan terkait isu hukum laut yang dikemas dalam acara bertajuk “Kajian Hukum dan Keamanan Terhadap Rezim Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)” pada Selasa (25/7).

Acara yang diselenggarakan di Aula Pancasila Gedung A Fakultas Hukum UNAIR dihadiri oleh Bebeb Akn Djundjunan selaku Direktur

(9)

Hukum dan Perjanjian Kewilayahan Kementerian Luar Negeri. Dalam hal ini Bebeb bertugas sebagai keynote speech. Dalam paparannya, Bebeb menyampaikan bahwa sejak diterimanya konferensi juanda dalam konvensi hukum laut penerimaan konsep negara kepulauan menyebabkan kepentingan Indonesia terakomodasi.

“Dengan ALKI pengamanan untuk hal itu dapat difokuskan,” tegasnya.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi sesi I dari tiga narasumber. Dibuka dengan Prof. Dr. Hesjim Djalal selaku pakar hukum laut yang menyampaikan mengenai sejarah penetapan dan pengaturan alur laut kepulauan Indonesia pada UNCLOS 1982.

Kemudian ditambahkan oleh Andi Arsana, Ph.D, dari Universitas Gadjah Mada terkait perbedaan antara lintas alur laut kepulauan kepulauan dan rezim lintas lainnya. Pemaparan materi sesi I ditutup oleh Achmad Gusman Siswandi , PhD dari FH Universitas Padjajaran yang menjelaskan mengenai aspek penegakan hukum alur laut kepulauan Indonesia.

Pada pemaparan materi sesi II diisi oleh tiga narasumber. Pertama, Dr. Enny Narwati dari FH UNAIR yang mengulas mengenai tinjauan keamanan alur laut kepulauan Indonesia dalam prespektif hukum internasional. Kedua, disampaikan oleh Kresno Buntoro, PhD dari diskum TNI AL yang menjelaskan beberapa hal seperti perlukan Indonesia menetapkan alur lau kepulauan timur barat. Ketiga, diisi oleh Dr. Iur Damos Dumali Agusman sekretaris Ditjen HPI, Kemlu yang membahas seputar konsekuensi penetapan alur laut kepulauan Indonesia terkait dngan penegakan hukum di perairan Indonesia.

Kesimpulan dari acara kali ini adalah keseimbangan hak dan kewajiban negara pantai dan negara penerima hak lintas belum bisa dibahas bersamaan, fokus pembahasan adalah Indonesia telah melaksanakan kewajibannya selain itu pelaksanaan ALKI

(10)

tidak kondusif karena beberapa negara merefleksikan kekuatam militer negaranya ketika melanggar ALKI.

Tidak berhenti disitu, para peserta melakukan evaluasi setelah pembahasan tersebut telah selesai.

Penulis : Pradita Desyanti Editor : Nuri Hermawan

Peringati Hari Gizi Nasional,

Sivitas Gizi UNAIR Adakan

Baksos

UNAIR NEWS – Sivitas akademika Ilmu Gizi FKM UNAIR mengadakan

kegiatan bakti sosial di Mulyorejo Surabaya Jum’at (12/2). Kegiatan ini adalah lanjutan dari acara seminar nasional yang diadakan oleh Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR dan PERGIZI.

Bakti sosial ini terdiri dari tiga kegiatan. Yaitu, penyuluhan makanan pendamping air susu ibu (MPASI), pengukuran tumbuh dan kembang anak, dan pemeriksaan kesehatan. Seluruh kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan secara gratis. Sekitar 30 batita (bayi tiga tahun) beserta ibu masing-masing hadir.

Koordinator Program Studi Ilmu Gizi FKM UNAIR Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes, mengatakan, kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan agar keberadaan UNAIR bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Pada acara ini, setiap batita mendapat menu kudapan berupa makaroni schotel dan puding buah. Setiap ibu bisa menyajikan menu-menu tersebut secara rutin.

(11)

Terlihat tenang, saat salah satu panitia memeriksa pernapasan dari si balita (Foto: UNAIR NEWS)

“Orang dari kalangan ekonomi lemah juga bisa membuatnya. Di sisi lain, menu ini bisa disubstitusi dengan persediaan makanan di rumah. Kreativitas dan kemauan ibu untuk membuat menu MPASI perlu terus dikembangkan,” tutur pengajar pada Departemen Gizi bidang Penyakit Metabolik.

Riana, salah satu kader Posyandu di kelurahan setempat, mengatakan bahwa dirinya mengaku senang dengan adanya acara tersebut. Dia juga bercerita bahwa keadaan gizi anak-anak di Mulyorejo cukup variatif. Sebagian diantaranya berstatus gizi baik, dan sebagian lagi berstatus gizi kurang. Riana juga menuturkan bahwa pihak Posyandu setempat rutin mengadakan acara serupa selama dua minggu sekali.

(12)

Tak henti-hentinya menangis melihat sang ibu mengukur tensi darahnya (Foto:UNAIR NEWS)

“Di sini ada banyak sekali ibu yang bekerja di luar rumah. Sehingga, anak-anaknya banyak yang dititipkan. Masalahnya, kalau dititipkan itu asupan gizinya belum tentu terjamin. Oleh karena itu, kami terbantu dengan acara penyuluhan yang diselenggarakan oleh UNAIR ini,” tutur Riana.

Binti, salah satu ibu yang hadir terlihat antusias. “Saya akan coba mempraktikkan apa yang sudah disampaikan tadi terkait menu MPASI di rumah,” terang Binti.(*)

Penulis: Defrina Sukma Satiti Editor: Rio F. Rachman

(13)

Libatkan Alumni Menuju 500

Besar Dunia

UNAIR NEWS – Untuk mencapai peringkat 500 besar dunia,

Universitas Airlangga (UNAIR) melibatkan partisipasi dari Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA). Perwakilan pengurus pusat IKA-UA telah mengadakan pertemuan dengan Rektor UNAIR, Wakil Rektor IV UNAIR, serta Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR di ruang 301 Kahuripan, Kantor Manajemen UNAIR, Kamis lalu (7/1).

Rektor UNAIR, Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, mengatakan bahwa masukan dari para alumni akan digunakan sebagai bahan pembuatan rencana strategis (renstra). “Bagaimanapun, alumni UNAIR sudah tersebar di mana-mana dan pengalamannya banyak. Sehingga, mereka bisa melihat UNAIR dari perspektif yang berbeda. Kami berharap ada masukan-masukan dari alumni untuk lebih menyempurnakan renstra yang sedang kita buat,” tutur Rektor UNAIR.

Selain itu, dengan adanya pertemuan dengan perwakilan IKA-UA, Prof. Nasih juga berharap keterikatan antar alumni UNAIR b e r j a l a n s e m a k i n e r a t . K e t u a B P P , B a d r i M u n i r Sukoco,S.E.,MBA., Ph.D, mengatakan bahwa alumni UNAIR merupakan salah satu sumber daya strategis. Menurut Badri, alumni berperan dalam dua aspek. Yakni, reputasi akademik dan

employer.

“Mereka berperan membuat academic reputation kampus menjadi bagus. Sebab, pihak-pihak yang membutuhkan jasa seseorang, pasti mempertimbangkan asal orang tersebut. Termasuk, dalam aspek academic reputation tempat dia kuliah,” tutur Badri.

Pertemuan antara pimpinan UNAIR dan perwakilan Pengurus Pusat IKA-UA menghasilkan beberapa masukan. Di antaranya, perbaikan

(14)

komisariat dengan IKA masing-masing fakultas, dan update informasi secara berkala tentang UNAIR kepada alumni. (*) Penulis: Defrina Sukma S.

Editor: Binti Q. Masruroh

Teliti Pemilukada, Surya

Darma Jadi Wisudawan Terbaik

S2 FH

UNAIR NEWS – Surya Darma Kardeli ditetapkan sebagai wisudawan

terbaik S-2 Fakultas Hukum Universitas Airlangga, karena ia meraih IPK tertinggi, 3,89. Tesis yang ikut menunjang prestasinya itu pun cukup aktual, yakni “Perlindungan Hukum Terhadap Profesi Pegawai Negeri Sipil dalam Mengikuti Pemilukada Melalui Calon Independen”.

Alasan Surya memilih topik tesis itu tidak lain adalah perlindungan hukum terhadap hak-hak profesi PNS yang mengikuti pemilukada melalui calon independen. Dalam UU Nomor 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) Pasal 119 dan Pasal 123 Ayat (3), mewajibkan PNS yang mengikuti pemilukada untuk mengundurkan diri secara tertulis pada saat mengikuti pemilihan. Selain itu, ketentuan pasal tersebut merupakan penjabaran dari ketentuan pasal yang menyatakan bahwa PNS diberhentikan dengan tidak hormat apabila menjadi anggota atau pengurus partai politik.

Saat studi S-2 itu, Surya mengaku tak banyak mengikuti kegiatan lain diluar kegiatan akademik. Kegiatan diluar perkuliahan yang sering diikuti antara lain seminar, FGD, advocacy class, dan kegiatan yang ada kaitannya dengan studi

(15)

Ilmu Hukum. Laki-laki kelahiran Padang 19 April 1990 ini saat S-1 pernah Juara I lomba karya tulis ilmiah dalam acara Recht

Partij Ilmu Hukum yang diadakan UIN Sunan Gunung Djati,

Bandung, tempatnya menempuh studi. Kini, menjadi wisudawan terbaik S-2 FH UNAIR, bagi Suerya ini sangat membanggakan. “ P a d a P r o d i M a g i s t e r I l m u H u k u m F H U N A I R s i s t e m pembelajarannya terstruktur baik. Yang tak kalah penting yaitu sikap ramah dan tidak pelit ilmu para civitas akademika FH UNAIR yang selalu memotivasi dan mengayomi semua peserta didik,” ujarnya.

Kelancaran studi S-2-nya ini pun, katanya, tak terlepas dari peran dosen pembimbing tesisnya, Dr. Lanny Ramli, S.H., M.Hum. Setelah lulus ini Surya akan kembali Padang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dosen. “Sejak awal hendaknya sudah dipersiapkan target yang akan dicapai, dan harus konsisten dalam melaksanakannya,” ujar laki-laki yang kini menjadi anggota Lembaga Pembinaan dan Pengawas Keuangan, PW Muhammadiyah Sumatera Barat ini. (*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh Editor: Nuri Hermawan.

Menyaksikan Kebesaran Tuhan

dari Nuruzzaman

UNAIR NEWS – Hari masih gelap. Matahari belum beranjak dari

peraduannya. Azan subuh dari Masjid Nuruzzaman pun juga belum dikumandangkan. Segerombolan anak muda nampak sedang berusaha masuk ke Nuruzzaman dari gerbang utama Kampus B. Belum nampak tanda-tanda gerbang utama dari arah Jalan Airlangga tersebut akan dibuka, mereka lantas memutar kendaraannya menuju gerbang

(16)

samping dari arah Jalan Dharmawangsa. Mereka kemudian berhasil masuk ke Kampus B melewati Fakultas Hukum sebelum akhirnya memarkir kendaraannya bersama puluhan kendaraan lain yang sudah terparkir rapi di samping Nuruzzaman.

Meski masih pagi buta, mereka nampak bersemangat. Wajar, sebab rabu (9/3) memang hari istimewa. Fenomena gerhana matahari yang tidak sering dijumpai akan dapat disaksikan dari beberapa daerah di Indonesia termasuk Surabaya. Meskipun warga Surabaya hanya dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian, antusiasme menyaksikan salah satu tanda kebesaran Tuhan ini tidak lantas berkurang. Di Masjid Nuruzzaman, beberapa anak muda tadi ingin turut merenungkan kebesaran Tuhan. Jamaah Nuruzzaman memang mengadakan kajian keislaman sebelum kemudian menggelar shalat

kusuf atau shalat gerhana matahari.

Setelah shalat subuh bersama, para jamaah kemudian mendengarkan kajian yang diisi oleh Ustadz Ali Misbahul Munir.

Ustadz Ali mengingatkan jamaah untuk menjadi insan yang

senantiasa melakukan tafakkur, tadabbur, dan tadzakkur. Insan yang senantiasa memikirkan, mencermati, dan mengingat tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Jamaah yang mulanya hanya terdiri dari beberapa baris jamaah shalat subuh semakin lama semakin bertambah. Aula utama Nuruzzaman pun semakin penuh sesak hingga para jamaah yang baru datang pun kemudian menempati teras-teras masjid. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ali memuji antusiasme para jamaah untuk mengikuti shalat gerhana sebagai bagian dari semangat mereka dalam menghidupkan sunnah nabi.

“Di akhirat kita tentu ingin dikenali sebagai umat Nabi Muhammad. Barangsiapa yang menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, ia kelak akan dikenali oleh Nabi. Shalat gerhana ini adalah bagian dari menghidupkan sunnah itu,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

(17)

hadir justru semakin bertambah. Mahasiswa dan masyarakat umum berkumpul bersama tanpa sekat. Tanpa azan, lafaz ‘asshalatu

jamiah’ kemudian membangunkan para jamaah dari duduknya untuk

turut melaksanakan shalat gerhana bersama.

Dua rakaat, empat ruku’. Shalat gerhana di Nuruzzaman dilaksanakan dengan penuh kekusyukan. Kalam-kalam suci Ilahi yang dibacakan dalam shalat tersebut begitu syahdu hingga membuat beberapa jamaah terisak tak kuasa menahan tangis. Sejenak jiwa mereka dibawa terbang kepada Yang Maha Tinggi. Dua khotbah yang berisi nasihat-nasihat untuk semakin meningkatkan takwa menyempurnakan ritual dalam rangka merenungi kebesaran Tuhan itu.

Usai shalat gerhana, banyak diantara para jamaah kemudian menikmati pagi di teras Nuruzzaman sambil berusaha menyaksikan sisa-sisa gerhana dengan kacamata ND5 yang dibawanya. Beberapa nampak bergantian menggunakan kacamata yang mampu melindungi mata dari bahaya menatap matahari secara langsung tersebut. Ucapan-ucapan yang mengangungkan Tuhan terdengar dari beberapa orang usai menyaksikan fenomena alam langka tersebut.

“Tidak menyangka yang datang akan sebanyak ini,” celetuk Bagus Wilar, mahasiswa FEB UNAIR yang hadir mengikuti shalat gerhana di Nuruzzaman. Ia mengaku senang memiliki kesempatan untuk menyaksikan tanda kebesaran Tuhan tersebut bersama banyak orang di Nuruzzaman.

Gerhana matahari total sendiri diperkiran akan dapat disaksikan kembali di Indonesia pada 20 April 2042 dan 12 September 2053. Namun demikian, wilayah Indonesia juga akan dilintasi oleh gerhana matahari cincin dan total secara bersamaan pada 20 April 2023 dan 25 November 2049. (*)

(18)

Dosen UNAIR Jadi Pembicara

dalam

Legal

Preventive

Program Pertamina

UNAIR NEWS – Iman Prihandono, Ph.D, Ketua Departemen Hukum

Internasional, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, diundang sebagai pembicara pada acara Legal Preventive Program (LPP). Acara ini diselenggarakan oleh Pertamina Refinery Unit VII Kasim bertempat di Sorong, Papua Barat, pada Selasa (18/10). Pada kesempatan ini, Iman menyampaikan materi seputar ‘Audit Bisnis dalam Industri Hilir Migas Ditinjau dari Perspektif Hukum’ kepada sekitar 35 peserta. Mereka diantaranya terdiri dari general manager hingga supervisor lapangan Pertamina Refinery Unit VII Kasim, Sorong, Papua Barat.

General Manajer Pertamina RU VII Kasim, I Gusti Bagus Prihanta menyampaikan, kegiatan legal preventive program ini rutin d i s e l e n g g a r a k a n d u a k a l i d a l a m s a t u t a h u n . D e n g a n berlangsungnya kegiatan, diharapkan dapat membantu Pertamina untuk meningkatkan kepatuhan hukum dalam menjalankan operasi usahanya.

Lokasi Pertamina RU VII yang berada di Kasim, yakni sekitar hampir 100 kilometer dari kota Sorong, memerlukan pengetahuan khusus dalam bidang hukum, terutama hukum yang berkaitan dengan keadaan sosial. Sebab, letak dan jarak wilayah ini menyebabkan masyarakat dan lingkungan memiliki penanganan yang bersifat khusus.

Iman dalam materinya mengemukakan, hadirnya instrumen internasional berkaitan dengan tanggungjawab sosial, masyarakat, dan lingkungan perusahaan. Salah satu diantara

(19)

instrumen internasional tersebut adalah United Nations Guiding P r i n c i p l e s 2 0 1 1 d a n I S O 2 6 0 0 0 G u i d a n c e o n S o c i a l Responsibility.

Kedua instrumen ini masih bersifat sukarela, dan belum menjadi wajib secara hukum bagi korporasi di Indonesia. Meskipun belum wajib, kedua instrumen ini sangat bermanfaat dalam membantu mengidentifikasi risiko yang dapat ditimbulkan oleh perusahaan, dan bagaimana perusahaan dapat mengambil langkah yang sesuai untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Dalam sesi tanya jawab yang dipandu oleh Febriyani S. Rahayu, S.H. selaku Junior Legal Counsel Dispute Management Pertamina RU VII Kasim yang juga alumnus FH UNAIR, dikemukakan berbagai tantangan yang ditemukan di lapangan.

Secara umum, kegiatan ini mendapatkan sambutan yang baik dari karyawan Pertamina RU VII, baik di tingkat manajer sampai pengawas lapangan. Subandi Z selaku Senior Supervisor Legal Counsel Pertamina RU VII Kasim, mengapresiasi kerjasama dengan UNAIR dalam program ini. Ke depan, pihaknya juga akan melanjutkan kerjasama untuk kegiatan LPP lainnya. (*) Editor : Binti Q. Masruroh

Referensi

Dokumen terkait

1 Pejabat Eksekutif yang menangani fungsi audit intern telah menyampaikan laporan pelaksanaan audit intern kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris dengan tembusan kepada

bahwa dari hatilah timbul segala keinginan baik jahat maupun baik. Bahkan seorang Teolog bernama Yohanes Calvin juga mengatakan bahwa kehidupan manusia

menjelaskan hasil uji paired t nilai tekanan darah sistolik setelah diberikan perlakuan brisk walking exercise yaitu ρ value 0,000, ada pengaruh yang signifikan dari

Dengan mengamati teks siswa dapat menuliskan masalah dan penyelesaian masalah (sederhana) berkaitan dengan tubuh yang sehat dengan tepat4. Dengan mengamati cerita, siswa

1) Humas berperan dalam Pencitraan Universitas Sam Ratulangi Manado dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa Humas dengan informasinya mampu memberi pengetahuan

Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Bandura (dalam Alwisol, 2009) yaitu bahwa efikasi diri akademik mengacu pada keyakinan yang berkaitan dengan

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu “Terdapat perbedaan biomassa perifiton pada substrat keramik antara hulu, tengah, dan hilir Sungai Salo”..

DARI EPIDERMIS MENUJU ENDODERMIS KEMUDIAN KE VASKULER LAPISAN CASPARY Rambut akar Jalur seluler Lapisan caspary endodermis Jalur apoplas floem Xilem berdinding sel tebal JALUR