3. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2003,p.14) penelitian kuantitatif, adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Penelitian kuantitatif memperoleh data dari sampel dan populasi penelitian yang dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan kemudian diinterprestasikan.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi atau penyamarataan yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013,p.90).
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek yang diteliti itu. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013,p.91).
Populasi pada penelitian ini mengambil karyawan sebanyak 36 orang.
Karena jumlah populasi hanya 36 orang, maka seluruh populasi diambil sebagai responden dengan metode sensus.
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Menurut Sugiyono (2005,p.5) variabel penelitian merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati. Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini dibedakan menjadi variabel dependen (variabel terikat/Y) dan variabel independen (variabel bebas/X). Kompensasi finansial (X1), kompensasi non finansial (X2) dan komitmen organisasional (Y) dalam penelitian ini. Variabel penelitian ini dikembangkan lebih lanjut dengan merinci masing-masing variabel sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1. Variabel Penelitian dan Indikator Penilaiannya VARIABEL
PENELITIAN
SUB VARIABEL
INDIKATOR
Kompensasi Finansial (X1) Menurut Mondy (2008,p4) menyatakan kompensasi finansial adalah bayaran yang diterima
seseorang dalam bentuk upah, gaji, komisi dan bonus.
Gaji Gaji sudah mencukupi
kehidupan sehari-hari
Gaji sudah sesuai beban kerja
Pembayaran gaji tepat waktu Upah Penetapan uang lembur dihitung
secara adil
Pemberian hari libur yang sesuai dengan peraturan perusahaan
Pemberian kenaikan tahunan terkait kinerja selama setahun sebelumnya (merit pay) Insentif Adanya bonus/komisi apabila
mencapai target penjualan tertentu
Adanya liburan bersama dengan dana perusahaan
Tunjangan Pemberian tunjangan hari raya
Pemberian tunjangan hari tua/dana pensiun
Perusahaan memberikan peralatan yang memadai bagi karyawan untuk menyelesaikan pekerjaannya
Kompensasi Non Finansial (X2) Menurut Mondy (2008,p5) menyatakan kompensasi non finansial adalah kepuasan yang diterima dari pekerjaan itu sendiri atau
Tugas yang menarik
Pemberian tugas yang bervariasi
Setiap tugas yang diberikan memberikan wawasan baru.
Tanggung jawab
Perusahaan memberi tanggung jawab penuh atas pekerjaan sehingga percaya diri saat melaksanakannya
Perusahaan memberi kesempatan untuk
lingkungan psikologis dan atau fisik tempat orang tersebut bekerja.
menyelesaikan suatu pekerjaan dari awal hingga akhir
Tantangan pekerjaan
Pekerjaan yang diberikan dapat mengasah kemampuan
Dalam menyelesaikan pekerjaan sering menemui hambatan Pengakuan
atas pekerjaan
Atasan memberikan pujian atas pekerjaan yang diselesaikan dengan baik
Promosi yang menarik dan adil bagi karyawan yang berprestasi Lingkungan
kerja
Memiliki relasi yang baik dengan rekan kerja
Merasa kebijakan perusahaan sudah adil dan sesuai dengan sanksi
Komitmen
Organisasional (Y) Menurut Mowday, Porter, Steers (Kuntjoro, 2002,p1) mendefinisikan komitmen karyawan pada organisasi (organizational commitment) sebagai kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi.
Identifikasi Memiliki tujuan bekerja yang sama dengan tujuan organisasi
Yakin pekerjaan saat ini telah sesuai cita-cita dan keinginan karyawan
Keterlibatan Memperbaiki kualitas pekerjaan, karena ingin membantu
mencapai tujuan perusahaan
Merasa bahwa masalah organisasi juga menjadi masalahnya
Karyawan merasa segala tugas yang dikerjakan telah disetujui bersama dalam pengambilan keputusan
Merasa bertanggung jawab dalam memajukan perusahaan Loyalitas Karyawan merasa nyaman dan
aman bekerja dalam perusahaan
Karyawan bersedia meluangkan waktu untuk bekerja lembur
Karyawan tetap bekerja di organisasi ini karena merasa diperlakukan adil
Karyawan bangga dan ingin terus menjadi bagian dari perusahaan
3.4 Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang dikumpulkan berupa data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif serta terdiri dari data primer dan data sekunder. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (scoring) Sugiyono (2007,p.23). Data primer bersumber langsung dari karyawan itu sendiri sedangkan data sekunder diambil dari data-data yang diperoleh dari perusahaan seperti jumlah karyawan, absensi, masa kerja,dan beberapa literatur yang berkaitan dengan penelitian ini. Dataprimer merupakan hasil dari kuesioner yang diisi secara langsung oleh responden (self enumeration).
3.5 Teknik Pengumpulan data 3.5.1 Metode Pengumpulan Data
Metode utama yang dipakai untuk pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Kuesioner
Kuesioner yaitu dengan menggunakan daftar pertanyaan secara tertulis kepada karyawan Pelangi Minimarket, untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
b. Wawancara langsung
Wawancara langsung yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mewawancarai langsung responden sesuai dengan permasalahan yang diteliti, untuk mendapatkan penjelasan terhadap data yang diperoleh.
3.5.2 Skala Pengukuran
Skala pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Likert. Menurut Sugiyono (2007,p.87), skala Likert adalah skala yang berisi 5 tingkat preferensi jawaban dengan pilihan sebagai berikut:
Alternatif Jawaban Skor Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju Cukup Setuju
Setuju Sangat Setuju
1 2 3 4 5
3.6 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Statistik Deskriptif adalah pengolahan data hasil penelitian yang bertujuan hanya menggambarkan keadaan gejala sosial apa adanya tanpa melihat hubungan-hubungan yang ada (Bungin, 2001,p.187). Deskripsi atau penggambaran sekumpulan data secara visual dapat dilakukan dalam dua bagian yaitu dalam bentuk gambar atau grafik dan dalam bentuk tulisan. Ruang lingkup statistik deskriptif antara lain:
a. Frekuensi : Persentase dari data yang sering ditampilkan dalam diagram dan grafik.
b. Modus : Nilai yang paling sering muncul untuk menyatakan jumlah kategori yang paling sering muncul pada suatu kasus.
c. Median : Nilai tengah yang menjadi pembagi data sebagai titik tengah.
d. Mean : Rataan dari skor yang diukur.
Deskripsi jawaban responden dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata (mean) tanggapan responden pada masing-masing pertanyaan dan secara keseluruhan. Untuk mengkategorikan rata-rata jawaban responden digunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:
Interval Kelas : 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑇𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 = 5−15 = 0,8
Dengan interval kelas 0,8 kemudian disusun kriteria rata-rata jawaban responden yang disajikan pada Tabel di bawah ini:
Interval Rata-Rata Skor Kriteria Setiap Variabel 1,0 - 1,8
1,9 – 2,6 2,7 - 3,4 3,5 – 4,2 4,3 – 5,0
Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Cukup Setuju
Setuju Sangat Setuju
3.7 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Uji instrumen dilakukan terhadap indikator dari masing-masing variabel agar dapat diketahui tingkat kevalidan dan keandalan indikator sebagai alat ukur variabel. Uji instrumen ini terdiri dari :
a. Uji Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2010 ,p.5). Pengujian validitas dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.00 Windows. Menurut Azwar, validitas item dapat dilihat dari nilai korelasi (corrected item total correlation). Sebuah item dikatakan valid apabila memiliki koefisien korelasi (corrected item total correlation) ≥ 0,3, sebaliknya apabila koefisien korelasi (corrected item total correlation) ≤ 0,3 maka dikatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur (kuesioner) dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Artinya bahwa instrumen dikatakan reliabel jika digunakan beberapa kali dalam waktu yang berbeda untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2002). Dalam penelitian ini digunakan Teknik Cronbach Alpha (α), dimana suatu instrumen dapat dikatakan reliabel apabila memiliki koefisien keandalan (α) > 0,6 (Ghozali, 2005,p.92).
Dimana : r11 : reliabilitas instrumen (Cronbach Alpha) k : banyaknya butir pertanyaan
Σ σ t ² : jumlah varians butir σ t ² : varians total
3.8 Tahapan Penelitian
Teknik analisis data yan digunakan adalah regresi linier berganda. Sebelum melakukan pengolahan data, terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi, antara lain :
3.8.1 Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2011). Dasar pengambilan keputusan (Ghozali, 2011) sebagai berikut:
a) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal, atau grafik histogram tidak menunjukan pola distribusinormal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Selain itu uji normalitas juga dapat dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov, yaitu dengan criteria jika nilai signifikansi uji yang dihasilkan lebih besar dari 0.05, maka disimpulkan bahwa asumsi normalitas terpenuhi).
b. Uji Multikolinieritas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui korelasi yang mempengaruhi satu variabel dengan variabel lainnya. Bila pada regresi berganda terjadi
multikolinieritas diantara variabel bebasnya, maka variabel yang berkolinier tidak memberikan tambahan apa-apa kepada variabel Y. Menurut Gujarati (2003,p.359), ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinieritas, antara lain :
1. Koefisien determinasi (R²) tinggi dan signifikasi nilai t dari estimasi regresi dari seluruh variabel. Apabila R² sangat tinggi (lebih dari 0,8) dan tidak satupun koefisien regresi yang signifikan secara statistik berarti terjadi gejala multikolinieritas.
2. Melihat dari VIF (variance inflation factor), dimana jika VIF dibawah 10 berarti tidak terjadi gejala multikolinieritas. Pada penelitian ini untuk melihat ada atau tidaknya korelasi antar variabel bebas pada model regresi, dilakukan dengan melihat VIF (variance inflation factor), dimana jika VIF < 10 berarti tidak terjadi gejala multikolinieritas. Nilai VIF dapat dihitung dengan rumus : VIF = 1 / (1 - R²).
Sementara besaran Tol (tolerance) dapat dihitung dengan rumus : Tol = (1 - R²).
Uji multikolinieritas dapat juga diketahui dari matriks interkorelasi dengan korelasi pearson maupun mengregres prediktor tidak melebihi nilai 10 (Sudarmanto, 2005,p.136). Uji ini dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00 for Windows.
c. Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance dari residual satu ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut Homokedastisitas, namun jika terdapat perbedaan variance maka dijumpai gejala heteroskedastisitas. Model regresi yang baik tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi gejala ini antara lain dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot di sekitar nilai X dan Y.
Heteroskedastisitas terjadi bila variasinya tidak konstan, sehingga seakan-akan ada beberapa kelompok data yang mempunyai besaran error yang berbeda-beda, sehingga akan membentuk suatu pola tertentu. Selain itu, Uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi heterokedastisitas adalah Uji Glejser (Ghozali, 2011) dengan model:
|𝑒𝑖| = 𝛽𝑖𝑋𝑖+ 𝑣𝑖
Apabila β signifikan secara statistik berarti terdapat heterokedastisitas
d. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah keadaan di mana terjadinya korelasi antara residual pada suatu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi.
Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi pada model regresi. Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin- Watson (DW) pada α = 5%. Metode pengujian menggunakan uji Durbin-Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut:
1. 1 Jika d (DW) lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4-dl), maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
2. Jika d (DW) terletak di antara du dan (4-du), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
3. Jika d (DW) terletak di antara dl dan du atau di antara (4- du) dan (4- dl),maka tidak menghasilkan kesimpilan yang pasti.
Nilai du dan dl dapat diperoleh dari tabel statistik Durbin- Watson yang bergantung banyaknya observasi dang banyaknya variabel yang menjelaskan (Priyanto, 2010, p.87).
e. Analisis Regresi Linier Berganda
Gujarati mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variable) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory). Variabel pertama disebut juga sebagai variabel terikat, sedangkan variabel kedua disebut juga sebagai variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut analisis regresi berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan dikenakan kepada variabel terikat. Oleh karena itu, dalam penelitian ini memiliki lebih dari satu variabel bebas, dengan demikian digunakan analisis linear berganda dimana yang menjadi variabel bebas adalah
kompensasi (X) dan sebagai variabel terikat adalah komitmen organisasional (Y).
Persamaan regresi linier berganda dapat dinyatakan dengan rumus : Y = a + b1X1+ b2X2
Dimana :
Y = Variabel dependen (komitmen organisasional) X1 = Variabel independen (kompensasi finansial) X2 = Variabel independen (kompensasi non finansial) a = Nilai konstanta
b1,b2 = Koefisien regresi 3.8.2 Uji Hipotesis
a. Uji F (Annova)
Untuk menguji koefisien regresi berganda dengan menggunakan uji-F (Fisher Test). Uji F (annova) ini merupakan uji kelayakan model, apakah model regresi linier berganda yang diajukan adalah model yang layak untuk menguji apakah variabel independen yang terdiri dari kompensasi finansial dan kompensasi non finansial terhadap variabel dependen (komitmen organisasional). Bila nilai signifikasi annova < 0,05 maka model ini layak atau fit. Uji F dapat diketahui dengan kriteria sebagai berikut :
- Ho : β = 0 (tidak ada pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat) - Ha : βi ≠ 0 (ada pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat) - Level of significant = 5%
Rumus yang digunakan untuk mengetahui nilai Fhitung adalah :
Dimana :Fhitung : Hasil F perhitungan
R2 : Koefisien regresi berganda k : Jumlah variabel independen
n : Jumlah sampel
b. Koefisien Determinasi (R2)
Untuk mengukur seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen, maka digunakan koefisien determinasi (R2). Koefisien ini menunjukkan proporsi variabilitas total pada variabel dependen yang dijelaskan oleh model regresi. Nilai R2 berada pada interval 0 ≤ R2 ≤ 1. Secara logika dapat diketahui bahwa semakin baik estimasi model dalam menggambarkan data, maka semakin dekat nilai R ke nilai 1.
c. Uji T-Test
Uji hipotesis dengan t-test digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen memiliki pengaruh signifikan atau tidak terhadap variabel dependen.
Untuk mengetahui faktor atau variabel X yang paling dominan mempengaruhi variabel Y dapat dilihat dari nilai Thitung yang paling besar. Setelah didapat nilai dari hasil penghitungan Thitung, dapat berlaku ketentuan sebagai berikut:
- Jika thitung> thitung, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
- Jika thitung < thitung, maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat.