PERENCANAAN PEMBELAJARAN DALAM SETTING
PENDIDIKAN INKLUSIF
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI) menerapkan kurikulum yang berlaku secara nasional (Kurikulum 2013) yang diadaptasi sesuai dengan kebutuhan PDBK. Adaptasi kurikulum meliputi adaptasi tujuan, isi/materi, proses, dan/atau penilaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku oleh pemerintah.
Adaptasi kurikulum dilakukan oleh SPPPI dengan mengacu kepada kebutuhan PDBK yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen.
Merencanakan sebuah pembelajaran yang efektif bagi PDBK merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dalam menyusun perecanaan tersebut tentunya tidak hanya dapat dilakukan secara langsung tanpa persiapan dan informasi yang jelas tentang kondisi dan kesiapan peserta didik. Oleh sebab itu guru akan membutuhkan sejumlah informasi yang lengkap dari peserta didik yang mengalami gangguan fisik, mental, intelektual, emosi dan perilaku tersebut dengan melakukan asesmen. Diharapkan informasi hasil asesmen dapat dijadikan sebagai dasar dalam memberikan layanan yang berorientasi pada kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Peserta didik di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif kemampuannya beragam. Hal tersebut menuntut adanya pengembangan kurikulum adaptif bagi PDBK yang mengikuti pendidikan di SPPI.
1. Pengertian Kurikulum Adaptif
Kurikulum adaptif adalah kurikulum yang dikembangkan agar dapat mengakomodasi peserta didik dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, dengan tujuan agar kurikulum lebih peka mempertimbangkan keragaman peserta didik dan pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya. SPPI harus mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tingkat, perkembangan, dan karakteristik peserta didik agar lulusan memiliki kompetensi untuk bekal hidup (life skill). Kurikulum adaptif yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, bahan, dan isi serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang bersifat inklusif yakni mengakomodasi PDBK dengan berbagai latar belakang dan
A Pengantar Kurikulum Adaptif
Daftar Isi
A Pengantar Kurikulum Adaptif Pengertian Kurikulum Adaptif 1
2 Prinsip Pengembangan Kurikulum Adaptif
3 Model Pengembangan Kurikulum Adaptif
B Modifikasi Tujuan
C Modifikasi Isi/materi Modifikasi Proses
D
1 Pendekatan Pembelajaran
2 Metode Pembelajaran
3 Model Pembelajaran
4 Media Pembelajaran Sumber belajar
5
E Modifikasi Penilaian
Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen 1
2 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Referensi
1 1
2 3 6
7 8
8 9
13 14 15
17
17 20
21
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI) menerapkan kurikulum yang berlaku secara nasional (Kurikulum 2013) yang diadaptasi sesuai dengan kebutuhan PDBK. Adaptasi kurikulum meliputi adaptasi tujuan, isi/materi, proses, dan/atau penilaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku oleh pemerintah.
Adaptasi kurikulum dilakukan oleh SPPPI dengan mengacu kepada kebutuhan PDBK yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen.
Merencanakan sebuah pembelajaran yang efektif bagi PDBK merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dalam menyusun perecanaan tersebut tentunya tidak hanya dapat dilakukan secara langsung tanpa persiapan dan informasi yang jelas tentang kondisi dan kesiapan peserta didik. Oleh sebab itu guru akan membutuhkan sejumlah informasi yang lengkap dari peserta didik yang mengalami gangguan fisik, mental, intelektual, emosi dan perilaku tersebut dengan melakukan asesmen. Diharapkan informasi hasil asesmen dapat dijadikan sebagai dasar dalam memberikan layanan yang berorientasi pada kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Peserta didik di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif kemampuannya beragam. Hal tersebut menuntut adanya pengembangan kurikulum adaptif bagi PDBK yang mengikuti pendidikan di SPPI.
1. Pengertian Kurikulum Adaptif
Kurikulum adaptif adalah kurikulum yang dikembangkan agar dapat mengakomodasi peserta didik dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, dengan tujuan agar kurikulum lebih peka mempertimbangkan keragaman peserta didik dan pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya. SPPI harus mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tingkat, perkembangan, dan karakteristik peserta didik agar lulusan memiliki kompetensi untuk bekal hidup (life skill). Kurikulum adaptif yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, bahan, dan isi serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang bersifat inklusif yakni mengakomodasi PDBK dengan berbagai latar belakang dan
A Pengantar Kurikulum Adaptif
Daftar Isi
A Pengantar Kurikulum Adaptif Pengertian Kurikulum Adaptif 1
2 Prinsip Pengembangan Kurikulum Adaptif
3 Model Pengembangan Kurikulum Adaptif
B Modifikasi Tujuan
C Modifikasi Isi/materi Modifikasi Proses
D
1 Pendekatan Pembelajaran
2 Metode Pembelajaran
3 Model Pembelajaran
4 Media Pembelajaran Sumber belajar
5
E Modifikasi Penilaian
Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen 1
2 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Referensi
1 1
2 3 6
7 8
8 9
13 14 15
17
17 20
21
kemampuan sehingga lebih peka untuk mempertimbangkan keragaman peserta didik agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Kurikulum yang disusun bersifat inklusif dan responsif jender, proses belajar mengajar yang efektif, lingkungan sekolah yang mendukung, sumber daya yang berasas pemerataan dan standarisasi dalam hal-hal tertentu (monitoring, evaluasi dan tes). Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif pada dasarnya menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah umum/kejuruan, namun kurikulumnya perlu fleksibel atau disesuaikan dengan kebutuhan PDBK karena hambatan dan kemampuan yang dimilikinya bervariasi. Secara umum terdapat empat komponen utama yang harus ada di dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi/materi, proses dan evaluasi/penilaian.
2. Prinsip Pengembangan Kurikulum Adaptif
Prinsip pengembangan kurikulum adaptif harus dijadikan acuan oleh para guru untuk PDBK yaitu kurikulum umum/kejuruan yang diberlakukan untuk peserta didik reguler perlu diubah untuk disesuaikan dengan kondisinya.
Penyesuaian atau adaptasi kurikulum dengan kemampuan PDBK terjadi pada komponen tujuan, materi, proses, dan penilaian. Penyusunan kurikulum tidak harus sama untuk masing-masing komponen, proses penyesuaian juga tidak harus sama untuk semua materi, dan proses adaptasi juga tidak sama untuk semua mata pelajaran. Proses adaptasi juga tidak sama pada masing-masing PDBK.
a Kurikulum umum yang diberlakukan untuk peserta didik reguler perlu diadaptasi sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK.
b Penyesuaian kurikulum dengan kemampuan PDBK.
c Penyesuaian kurikulum tidak harus sama pada masing-masing komponen, artinya jika komponen tujuan dan materi harus dimodifikasi, mungkin demikian juga proses dan penilaiannya.
d Proses penyesuaian juga tidak harus sama untuk semua materi. Materi tertentu perlu disesuaikan, tetapi mungkin tidak perlu untuk materi yang lain.
e Proses penyesuaian juga tidak sama untuk semua mata pelajaran. Mata pelajaran tertentu mungkin perlu banyak penyesuaian tetapi tidak demikian untuk mata pelajaran yang lain.
f Proses penyesuaian juga tidak sama pada masing-masing jenis kekhususan. PDBK yang tidak mengalami hambatan kecerdasan, misalnya: peserta didik tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa, mungkin sedikit membutuhkan adaptasi kurikulum. PDBK yang mengalami hambatan kecerdasan (tunagrahita) membutuhkan penyesuaian hampir pada pada semua komponen pembelajaran (tujuan, isi, proses, dan penilaian).
3. Model Pengembangan Kurikulum Adaptif
Dikenal ada 5 (lima) model kemungkinan pengembangan Kurikulum Adaptif bagi PDBK yang mengikuti pendidikan di SPPPI, yakni: model eskalasi, duplikasi, modifikasi, subtitusi, dan omisi.
a Eskalasi
Eskalasi berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dan
sebagainya). Model eskalasi berarti adaptasi atau penyesuaian
kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik yang memliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa (gifted and talented). Prinsip
utama dalam eskalasi untuk peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah penerapan kurikulum
diferensiasi. Kurifikulum diferensiasi kurikulum nasional dan lokal yang
dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan
melalui sistem eskalasi dan enrichment yang dapat memacu dan
mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan
estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen. Dalam upaya
menyusun kurikulum diferensiasi adalah penggunaan pendekatan peta
konsep. Peta konsep merupakan salah satu intrumen yang digunakan
untuk menata materi kurikulum agar diperoleh keterkaitan antar konsep
dan keutuhan materi yang akan disajikan kepada peserta didik dalam
satu kesatuan waktu (semester). Dengan peta konsep peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa akan mengetahui
kemampuan sehingga lebih peka untuk mempertimbangkan keragaman peserta didik agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Kurikulum yang disusun bersifat inklusif dan responsif jender, proses belajar mengajar yang efektif, lingkungan sekolah yang mendukung, sumber daya yang berasas pemerataan dan standarisasi dalam hal-hal tertentu (monitoring, evaluasi dan tes). Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif pada dasarnya menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah umum/kejuruan, namun kurikulumnya perlu fleksibel atau disesuaikan dengan kebutuhan PDBK karena hambatan dan kemampuan yang dimilikinya bervariasi. Secara umum terdapat empat komponen utama yang harus ada di dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi/materi, proses dan evaluasi/penilaian.
2. Prinsip Pengembangan Kurikulum Adaptif
Prinsip pengembangan kurikulum adaptif harus dijadikan acuan oleh para guru untuk PDBK yaitu kurikulum umum/kejuruan yang diberlakukan untuk peserta didik reguler perlu diubah untuk disesuaikan dengan kondisinya.
Penyesuaian atau adaptasi kurikulum dengan kemampuan PDBK terjadi pada komponen tujuan, materi, proses, dan penilaian. Penyusunan kurikulum tidak harus sama untuk masing-masing komponen, proses penyesuaian juga tidak harus sama untuk semua materi, dan proses adaptasi juga tidak sama untuk semua mata pelajaran. Proses adaptasi juga tidak sama pada masing-masing PDBK.
a Kurikulum umum yang diberlakukan untuk peserta didik reguler perlu diadaptasi sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK.
b Penyesuaian kurikulum dengan kemampuan PDBK.
c Penyesuaian kurikulum tidak harus sama pada masing-masing komponen, artinya jika komponen tujuan dan materi harus dimodifikasi, mungkin demikian juga proses dan penilaiannya.
d Proses penyesuaian juga tidak harus sama untuk semua materi. Materi tertentu perlu disesuaikan, tetapi mungkin tidak perlu untuk materi yang lain.
e Proses penyesuaian juga tidak sama untuk semua mata pelajaran. Mata pelajaran tertentu mungkin perlu banyak penyesuaian tetapi tidak demikian untuk mata pelajaran yang lain.
f Proses penyesuaian juga tidak sama pada masing-masing jenis kekhususan. PDBK yang tidak mengalami hambatan kecerdasan, misalnya: peserta didik tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa, mungkin sedikit membutuhkan adaptasi kurikulum. PDBK yang mengalami hambatan kecerdasan (tunagrahita) membutuhkan penyesuaian hampir pada pada semua komponen pembelajaran (tujuan, isi, proses, dan penilaian).
3. Model Pengembangan Kurikulum Adaptif
Dikenal ada 5 (lima) model kemungkinan pengembangan Kurikulum Adaptif bagi PDBK yang mengikuti pendidikan di SPPPI, yakni: model eskalasi, duplikasi, modifikasi, subtitusi, dan omisi.
a Eskalasi
Eskalasi berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dan
sebagainya). Model eskalasi berarti adaptasi atau penyesuaian
kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik yang memliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa (gifted and talented). Prinsip
utama dalam eskalasi untuk peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah penerapan kurikulum
diferensiasi. Kurifikulum diferensiasi kurikulum nasional dan lokal yang
dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan
melalui sistem eskalasi dan enrichment yang dapat memacu dan
mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan
estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen. Dalam upaya
menyusun kurikulum diferensiasi adalah penggunaan pendekatan peta
konsep. Peta konsep merupakan salah satu intrumen yang digunakan
untuk menata materi kurikulum agar diperoleh keterkaitan antar konsep
dan keutuhan materi yang akan disajikan kepada peserta didik dalam
satu kesatuan waktu (semester). Dengan peta konsep peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa akan mengetahui
cakupan, urutan dan seberapa banyak materi yang direncanakan akan dipelajari oleh peserta didik serta bagaimana hubungan antara materi satu dengan lainnya. Peta konsep merupakan gambaran visual yang berisikan jumlah materi serta hubungan antar konsep.
b Duplikasi
Duplikasi artinya salinan yang serupa benar dengan aslinya. Menyalin berarti membuat sesuatu menjadi sama atau serupa. Dalam kaitannya dengan model kuriukulum, duplikasi berarti mengembangkan dan atau memberlakukan kurikulum untuk PDBK secara sama atau serupa dengan kurikulum yang digunakan untuk peserta didik reguler. Jadi model duplikasi adalah cara dalam pengembangan kurikulum, dimana PDBK menggunakan kurikulum yang sama seperti yang dipakai oleh peserta didik reguler. Model duplikasi dapat diterapkan pada empat komponen utama kurikulum, yaitu tujuan, isi, proses dan penilaian.
c Modifikasi
Modifikasi berarti mengubah atau menyesuaikan. Dalam kaitan dengan model kurikulum untuk PDBK, maka model modifikasi berarti cara pengembangan kurikulum, dimana kurikulum umum yang diberlakukan bagi peserta didik reguler diubah untuk disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK. Dengan demikian, PDBK menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Modifikasi dapat diberlakukan pada empat komponen utama, yaitu tujuan, materi, proses, dan evaluasi/penilaian. Dengan demikian PDBK menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Modifikasi dapat diberlakukan pada 4 (empat) komponen utama.
d Substitusi
Subtitusi berarti mengganti. Dalam kaitannya dengan model pengembangan kurikulum, maka substansi berarti mengganti sesuatu
yang ada dalam kurikulum umum dengan sesuatu yang lain. Penggantian dilakukan karena hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh PDBK tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang sama bobotnya dengan yang digantikan. Model Substansi bisa terjadi dalam hal tujuan pembelajaran, materi, proses maupun penilaian. Misalnya peserta didik tunarungu tidak mungkin dikembangkan atau diuji kemampuan mendengarnya maka materi- materi yang berkenaan dengan kemampuan mendengar diganti dengan kemampuan isyarat atau bahasa tubuh lainnya.
e Omisi
Omisi berarti menghilangkan. Dalam kaitan dengan model
pengembangan kurikulum, omisi berarti upaya untuk menghilangkan
sesuatu dari kurikulum umum/kejuruan karena hal tersebut tidak
mungkin diberikaan kepada PDBK. Dengan kata lain, omisi berarti
sesuatu yang ada dalam kurikulum umum tetapi tidak disampaikan atau
tidak diberikan kepada PDBK, karena sifatnya terlalu sulit atau tak akan
mampu dilakukan oleh PDBK. Bedanya dengan substitusi adalah jika
dalam substitusi ada materi pengganti yang sama bobotnya, sedangkan
dalam model omisi tidak ada materi pengganti. Misalnya peserta didik
tunanetra tidak mungkin praktik tentang cahaya, maka kompetensi ini
dihilangkan dan tidak mungkin bisa diganti yang sama bobotnya.
cakupan, urutan dan seberapa banyak materi yang direncanakan akan dipelajari oleh peserta didik serta bagaimana hubungan antara materi satu dengan lainnya. Peta konsep merupakan gambaran visual yang berisikan jumlah materi serta hubungan antar konsep.
b Duplikasi
Duplikasi artinya salinan yang serupa benar dengan aslinya. Menyalin berarti membuat sesuatu menjadi sama atau serupa. Dalam kaitannya dengan model kuriukulum, duplikasi berarti mengembangkan dan atau memberlakukan kurikulum untuk PDBK secara sama atau serupa dengan kurikulum yang digunakan untuk peserta didik reguler. Jadi model duplikasi adalah cara dalam pengembangan kurikulum, dimana PDBK menggunakan kurikulum yang sama seperti yang dipakai oleh peserta didik reguler. Model duplikasi dapat diterapkan pada empat komponen utama kurikulum, yaitu tujuan, isi, proses dan penilaian.
c Modifikasi
Modifikasi berarti mengubah atau menyesuaikan. Dalam kaitan dengan model kurikulum untuk PDBK, maka model modifikasi berarti cara pengembangan kurikulum, dimana kurikulum umum yang diberlakukan bagi peserta didik reguler diubah untuk disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK. Dengan demikian, PDBK menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Modifikasi dapat diberlakukan pada empat komponen utama, yaitu tujuan, materi, proses, dan evaluasi/penilaian. Dengan demikian PDBK menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Modifikasi dapat diberlakukan pada 4 (empat) komponen utama.
d Substitusi
Subtitusi berarti mengganti. Dalam kaitannya dengan model pengembangan kurikulum, maka substansi berarti mengganti sesuatu
yang ada dalam kurikulum umum dengan sesuatu yang lain. Penggantian dilakukan karena hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh PDBK tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang sama bobotnya dengan yang digantikan. Model Substansi bisa terjadi dalam hal tujuan pembelajaran, materi, proses maupun penilaian. Misalnya peserta didik tunarungu tidak mungkin dikembangkan atau diuji kemampuan mendengarnya maka materi- materi yang berkenaan dengan kemampuan mendengar diganti dengan kemampuan isyarat atau bahasa tubuh lainnya.
e Omisi
Omisi berarti menghilangkan. Dalam kaitan dengan model
pengembangan kurikulum, omisi berarti upaya untuk menghilangkan
sesuatu dari kurikulum umum/kejuruan karena hal tersebut tidak
mungkin diberikaan kepada PDBK. Dengan kata lain, omisi berarti
sesuatu yang ada dalam kurikulum umum tetapi tidak disampaikan atau
tidak diberikan kepada PDBK, karena sifatnya terlalu sulit atau tak akan
mampu dilakukan oleh PDBK. Bedanya dengan substitusi adalah jika
dalam substitusi ada materi pengganti yang sama bobotnya, sedangkan
dalam model omisi tidak ada materi pengganti. Misalnya peserta didik
tunanetra tidak mungkin praktik tentang cahaya, maka kompetensi ini
dihilangkan dan tidak mungkin bisa diganti yang sama bobotnya.
Modifikasi Tujuan berarti tujuan-tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum umum dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi PDBK. Sebagai konsekuensi dari modifikasi tujuan PDBK, maka akan memiliki rumusan kompetensi sendiri yang berbeda dengan peserta didik reguler, baik berkaitan dengan SKL dan SI (KI-KD).
Perhatikan contoh modifikasi KD dan Indikator berikut:
B MODIFIKASI TUJUAN
TABEL 3.5 Matrik Model modifikasi Kompetensi Dasar (KD) Satuan Pendidikan : SMA
Kelas : X
Kompetensi Inti (KI)
Kompetensi
Dasar (KD) PDBK Dengan Hambatan Akademik (Kecerdasan)
KD Modifikasi
Keterangan
SENIRUPA
3 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual seni, konseptual, prosedural berdasarkan rasa keingintahuannya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
3.1. Memahami bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.2. Menerapkan jenis, simbol, dan nilai estetis dalam konsep seni rupa
3.3. Memahami pameran karya seni rupa
3.4. Memahami jenis simbol, fungsi dan nilai estetis dalam kritik karya seni rupa.
3.1.a. Mengenal bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.2.a. Mengenal jenis, symbol, dan nilai estetis dalam konsep seni rupa
3.3.a. Mengenal pameran karya seni rupa
3.4.a. Mengenal jenis simbol, fungsi dan nilai estetis dalam kritik karya seni rupa.
Modifikasi materi KD agar lebih sederhana disesuaikan
dengan karakteristik PDBK
3.1. Memahami bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa.
3 .1.a Mengenal bahan, media, dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.1.a.1. Menunjukkan bahan dan media yang digunakan dalam melukis
Kompetensi Dasar (KD)
TABEL 3.6 Matrik Model Modifikasi Indikator
Kompetensi Dasar (KD) Modifikasi
Peserta Didik pada Ummunya
PDBK Dengan Hambatan Akademik (Kecerdasan)/ Tunagrahita atau Autis Low Function)
3.1. 1. Menjelaskan bahan dan media yang digunakan dalam seni rupa dua dimensi
3.1.a.2 Menyebutkan cara membuat lukisan 3.1.2. Menjelaskan
teknik dalam proses berkaiya senimpa dua dimensi
lndikator Modifikasi
Modifikasi Isi berarti materi-materi pelajaran yang diberlakukan untuk peserta didik reguler diubah untuk disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK. Dengan demikian PDBK mendapatkan sajian materi yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuannya. Modifikasi Isi bisa berkaitan dengan keleluasan, kedalaman dan kesulitannya berbeda (lebih rendah) daripada materi yang diberikan kepada peserta didik reguler.
C MODIFIKASI ISI/MATERI
Modifikasi Tujuan berarti tujuan-tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum umum dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi PDBK. Sebagai konsekuensi dari modifikasi tujuan PDBK, maka akan memiliki rumusan kompetensi sendiri yang berbeda dengan peserta didik reguler, baik berkaitan dengan SKL dan SI (KI-KD).
Perhatikan contoh modifikasi KD dan Indikator berikut:
B MODIFIKASI TUJUAN
TABEL 3.5 Matrik Model modifikasi Kompetensi Dasar (KD) Satuan Pendidikan : SMA
Kelas : X
Kompetensi Inti (KI)
Kompetensi
Dasar (KD) PDBK Dengan Hambatan Akademik (Kecerdasan)
KD Modifikasi
Keterangan
SENIRUPA
3 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual seni, konseptual, prosedural berdasarkan rasa keingintahuannya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
3.1. Memahami bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.2. Menerapkan jenis, simbol, dan nilai estetis dalam konsep seni rupa
3.3. Memahami pameran karya seni rupa
3.4. Memahami jenis simbol, fungsi dan nilai estetis dalam kritik karya seni rupa.
3.1.a. Mengenal bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.2.a. Mengenal jenis, symbol, dan nilai estetis dalam konsep seni rupa
3.3.a. Mengenal pameran karya seni rupa
3.4.a. Mengenal jenis simbol, fungsi dan nilai estetis dalam kritik karya seni rupa.
Modifikasi materi KD agar lebih sederhana disesuaikan
dengan karakteristik PDBK
3.1. Memahami bahan, media dan teknik dalam proses berkarya seni rupa.
3 .1.a Mengenal bahan, media, dan teknik dalam proses berkarya seni rupa
3.1.a.1. Menunjukkan bahan dan media yang digunakan dalam melukis
Kompetensi Dasar (KD)
TABEL 3.6 Matrik Model Modifikasi Indikator
Kompetensi Dasar (KD) Modifikasi
Peserta Didik pada Ummunya
PDBK Dengan Hambatan Akademik (Kecerdasan)/
Tunagrahita atau Autis Low Function)
3.1. 1. Menjelaskan bahan dan media yang digunakan dalam seni rupa dua dimensi
3.1.a.2 Menyebutkan cara membuat lukisan 3.1.2. Menjelaskan
teknik dalam proses berkaiya senimpa dua dimensi
lndikator Modifikasi
Modifikasi Isi berarti materi-materi pelajaran yang diberlakukan untuk peserta didik reguler diubah untuk disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK. Dengan demikian PDBK mendapatkan sajian materi yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuannya. Modifikasi Isi bisa berkaitan dengan keleluasan, kedalaman dan kesulitannya berbeda (lebih rendah) daripada materi yang diberikan kepada peserta didik reguler.
C MODIFIKASI ISI/MATERI
Modifikasi Proses berarti ada perbedaan dalam kegiatan pembelajaran yang dijalani oleh PDBK dengan yang dialami oleh peserta didik reguler. Metode atau strategi pembelajaran umum yang diberlakukan untuk peserta didik reguler tidak diterapkan untuk PDBK. Jadi, mereka memperoleh strategi pembelajaran khusus yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuannya. Modifikasi proses atau kegiatan pembelajaran bisa berkaitan dengan penggunaan pendekatan, model, dan metode mengajar, lingkungan/setting belajar, waktu belajar, media belajar serta sumber belajar
1. Pendekatan Pembelajaran
Kaitannya dengan Pendekatan Saintifik 5 M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Menalar, dan Mengomunikasikan) dalam Kurikulum 2013 bukan satu-satunya pendekatan pembelajaran dan bukan urutan langkah-langkah baku. 5 M lebih untuk memberikan pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, mendorong ekosistem sekolah berbasis aktivitas ilmiah, menantang, dan memotivasi. Guru diberi ruang menggunakan pendekatan/model pembelajaran lain. Bukan berbasis ceramah dan bukan berbasis hafalan tetapi berbasis aktivitas dan kreativitas, menginspirasi, meyenangkan, dan berprakarsa.
Perlu dipahami oleh guru kaitanya dengan “mengamati” ada hal-hal yang harus dipertimbangkan bagi PDBK. Proses “mengamati” bagi peserta didik tunanetra lebih menggunakan indera pendengaran karena fungsi pelihatannya memiliki hambatan. Bagi peserta didik tunarungu lebih menggunakan indera penglihatan karena fungsi pendengarannya memiliki hambatan.
Dalam hal kemampuan “menanya” dan “mengomunikasikan” bagi peseta didik tunanetra tidak memiliki kesulitan. Peserta didik tunanetra
D MODIFIKASI PROSES
memiliki keterampilan bertanya seperti peserta didik reguler, namun bagi peserta didik tunarungu akan mengalami kesulitan sehingga dalam kegiatan menanya dan mengomunikasikan akan dibantu dengan bahasa tubuh atau isyarat atau mungkin dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo). Begitu pula dengan peserta didik autis, tunagrahita, dan peserta didik tunadaksa yang Cerebral Palsy (CP) memiliki hambatan dalam komunikasi yang perlu diketahui oleh guru. Dengan mengetahui itu semua maka guru akan mengondisikan kegiatan pembelajaran dan memperhaatikan karakteristik PDBK. Begitu pula halnya dalam kegiatan “mengumpulkan informasi” dan”menalar” hambatan yang dialami PDBK perlu menjadi bahan pertimbangan guru dan peserta didik reguler dalam melaksanakannya
2. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsung pembelajaran (Sudjana, 2005:76). Beberapa metode pembelajaran digunakan dalam kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan KD. Proses belajar-mengajar yang baik hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain.
Setiap metode pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Penggunaan metode yang variatif dan sesuai dengan materi serta tujuan pembelajaran dapat membuat peserta didik senang dan termotivasi untuk belajar. Metode tersebut harus dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi atau bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
Dalam setting pendidikan inklusif maka setiap pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran perlu juga disesuaikan dengan karakteristik PDBK. Artinya ketika menggunakan metode pembelajaran maka perlu memahami peta karakter peserta didik sehingga mengetahui hambatan-hambatan yang dialami PDBK sehingga ada beberapa adaptasi atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilakukan. Misalnya ketika guru menggunakan metode ceramah maka untuk peserta didik tunarungu perlu
(Pendekatan, Metode, Model, dan Media)
Modifikasi Proses berarti ada perbedaan dalam kegiatan pembelajaran yang dijalani oleh PDBK dengan yang dialami oleh peserta didik reguler. Metode atau strategi pembelajaran umum yang diberlakukan untuk peserta didik reguler tidak diterapkan untuk PDBK. Jadi, mereka memperoleh strategi pembelajaran khusus yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuannya. Modifikasi proses atau kegiatan pembelajaran bisa berkaitan dengan penggunaan pendekatan, model, dan metode mengajar, lingkungan/setting belajar, waktu belajar, media belajar serta sumber belajar
1. Pendekatan Pembelajaran
Kaitannya dengan Pendekatan Saintifik 5 M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Menalar, dan Mengomunikasikan) dalam Kurikulum 2013 bukan satu-satunya pendekatan pembelajaran dan bukan urutan langkah-langkah baku. 5 M lebih untuk memberikan pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, mendorong ekosistem sekolah berbasis aktivitas ilmiah, menantang, dan memotivasi. Guru diberi ruang menggunakan pendekatan/model pembelajaran lain. Bukan berbasis ceramah dan bukan berbasis hafalan tetapi berbasis aktivitas dan kreativitas, menginspirasi, meyenangkan, dan berprakarsa.
Perlu dipahami oleh guru kaitanya dengan “mengamati” ada hal-hal yang harus dipertimbangkan bagi PDBK. Proses “mengamati” bagi peserta didik tunanetra lebih menggunakan indera pendengaran karena fungsi pelihatannya memiliki hambatan. Bagi peserta didik tunarungu lebih menggunakan indera penglihatan karena fungsi pendengarannya memiliki hambatan.
Dalam hal kemampuan “menanya” dan “mengomunikasikan” bagi peseta didik tunanetra tidak memiliki kesulitan. Peserta didik tunanetra
D MODIFIKASI PROSES
memiliki keterampilan bertanya seperti peserta didik reguler, namun bagi peserta didik tunarungu akan mengalami kesulitan sehingga dalam kegiatan menanya dan mengomunikasikan akan dibantu dengan bahasa tubuh atau isyarat atau mungkin dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo). Begitu pula dengan peserta didik autis, tunagrahita, dan peserta didik tunadaksa yang Cerebral Palsy (CP) memiliki hambatan dalam komunikasi yang perlu diketahui oleh guru. Dengan mengetahui itu semua maka guru akan mengondisikan kegiatan pembelajaran dan memperhaatikan karakteristik PDBK. Begitu pula halnya dalam kegiatan “mengumpulkan informasi” dan”menalar” hambatan yang dialami PDBK perlu menjadi bahan pertimbangan guru dan peserta didik reguler dalam melaksanakannya
2. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsung pembelajaran (Sudjana, 2005:76). Beberapa metode pembelajaran digunakan dalam kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan KD. Proses belajar-mengajar yang baik hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain.
Setiap metode pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Penggunaan metode yang variatif dan sesuai dengan materi serta tujuan pembelajaran dapat membuat peserta didik senang dan termotivasi untuk belajar. Metode tersebut harus dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi atau bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
Dalam setting pendidikan inklusif maka setiap pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran perlu juga disesuaikan dengan karakteristik PDBK. Artinya ketika menggunakan metode pembelajaran maka perlu memahami peta karakter peserta didik sehingga mengetahui hambatan-hambatan yang dialami PDBK sehingga ada beberapa adaptasi atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilakukan. Misalnya ketika guru menggunakan metode ceramah maka untuk peserta didik tunarungu perlu
(Pendekatan, Metode, Model, dan Media)
ada perhatian dan penyampaian pesan/informasi khusus dengan melakukan juga keterarahwajahan ketika menyampaikan materi pembelajaran, ada tambahan penjelasan, penggunaan bahasa tubuh dan/atau bahasa isyarat, dsb.
Perhatikan contoh adaptasi metode pembelajaran berikut:
TABEL 3.8 Metode Pembelaiaran dan Adaptasinya
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Proyek Metode proyek adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak pada suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah perlu melibatkan bukan hanya satu mata pelajaran,
melainkan hendaknya melibatkan berbagai mata pelajaran yang ada kaitannya dengan pemecahan masalah tersebut.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode proyek bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana
peserta didi
k melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.Peserta didi
k dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode eksperimen bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode tugas atau resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas
tertentu agar
peserta didi
k melakukan kegiatan belajar. Metode ini diberikan karena materi pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Agar materi pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya digunakan oleh guru.Tugas ini biasanya bisa dilaksanakan di
perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode tugas atau resitasi bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Demonstrasi
Metode deruonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada
peserta didi
k suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau- pun tiruan dengan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaanpeserta didi
k terhadap pelajaran akan berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan demonstrasi
eksperimen bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Problem Solving
Metode problem solving bukan hanya sekedar metode meugajar, tetapi juga mempakan suatu metode berfikir sebab dalam metode problem solving dapat mengutamakan metode-metode lainnya yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode Problem Solving bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya. Metode
Sosiodrama
Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasi tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode sosiodrama bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya. Metode Diskusi Metode diskusi adalah cara penyajian
pelajaran, dimana
peserta didi
k dihadapkan pada suatu masalah yang bersifatproblematis untuk dibahas dan dipecahkan secara bersama. Teknik diskusi adalah salah satu leknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Dalam diskusi terjadi interaksi, tukar menukar pengalaman, infonuas memecahkan masalah dan
peserta didi
k menjadi aktif.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode diskusi bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya. Untuk peserta didik tunarungu dalam berdiskusi bisa dibantu dengan bahasa isyarat atau bahasa tubuh
rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan ditempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik individu maupun kelompok, tugas yang diberikan sangat banyak macamnya
tergantung dari tujuan yang hendak dicapai.
ada perhatian dan penyampaian pesan/informasi khusus dengan melakukan juga keterarahwajahan ketika menyampaikan materi pembelajaran, ada tambahan penjelasan, penggunaan bahasa tubuh dan/atau bahasa isyarat, dsb.
Perhatikan contoh adaptasi metode pembelajaran berikut:
TABEL 3.8 Metode Pembelaiaran dan Adaptasinya
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Proyek Metode proyek adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak pada suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah perlu melibatkan bukan hanya satu mata pelajaran,
melainkan hendaknya melibatkan berbagai mata pelajaran yang ada kaitannya dengan pemecahan masalah tersebut.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode proyek bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana
peserta didi
k melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.Peserta didi
k dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode eksperimen bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode tugas atau resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas
tertentu agar
peserta didi
k melakukan kegiatan belajar. Metode ini diberikan karena materi pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Agar materi pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya digunakan oleh guru.Tugas ini biasanya bisa dilaksanakan di
perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode tugas atau resitasi bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Demonstrasi
Metode deruonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada
peserta didi
k suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau- pun tiruan dengan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaanpeserta didi
k terhadap pelajaran akan berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan demonstrasi
eksperimen bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Problem Solving
Metode problem solving bukan hanya sekedar metode meugajar, tetapi juga mempakan suatu metode berfikir sebab dalam metode problem solving dapat mengutamakan metode-metode lainnya yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode Problem Solving bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasi tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode sosiodrama bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Diskusi Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana
peserta didi
k dihadapkan pada suatu masalah yang bersifatproblematis untuk dibahas dan dipecahkan secara bersama. Teknik diskusi adalah salah satu leknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Dalam diskusi terjadi interaksi, tukar menukar pengalaman, infonuas memecahkan masalah dan
peserta didi
k menjadi aktif.Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode diskusi bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya. Untuk peserta didik tunarungu dalam berdiskusi bisa dibantu dengan bahasa isyarat atau bahasa tubuh
rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan ditempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik individu maupun kelompok, tugas yang diberikan sangat banyak macamnya
tergantung dari tujuan yang hendak dicapai.
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Latihan
Metode latihan merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode latihan bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode tradisional karena sejak dulu dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Dalam metode ceramah dibutuhkan keaktifan guru dalam kegiatan pengajaran. Metode ini banyak digunakan pada pengajar yang kekurangan fasilitas.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode ceramah bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Peserta didik tunanetra akan cocok dengan metode ceramah, namun sebaliknya bagi peserta didik tunarungu metode ini kurang cocok
sehingga harus divariasikan dengan gambar, bahasa tubuh atau isyarat
Metode Karyawisata
Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan keluar kelas dalam rangka belajar.
Teknik karya wisata adalah teknik mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak peserta didik kesuatu tempat atau objek tertentu diluar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode karyawisata bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada peserta didik ,tetapi dapat pula dari peserta didik kepada guru. Metode tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan peserta didik.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode Tanya jawab bagi PDBK disesiaikan dengan karakteristiknya.
Peserta didik tunarungu dalam melakukan tanya jawab bisa dibantu dengan bahasa isyarat/
bahasa tubuh.
3. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran adalah pola interaksi peserta didik dengan guru di dalam kelas yang menyangkut pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan-tahapan, prinsip-prinsip reaksi guru dan peserta didik serta sistem penunjang yang disyaratkan Menurut Arends (dalam Suprijono, 2013: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuantujuan pembelajaran, tahap- tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat diartikan juga sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Beberapa model pembelajaran ilmiah yang direkomendasikan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013 antara lain Discovery/Inquiry Learning, Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), dan Cooperatif Learning.
Perhatikan contoh adaptasi model pembelajaran berikut:
Model
Pembelajaran Karakteristik TABEL 3.7 Model Pembelajaran
Komponen/Sintak Adaptasi Discovery/
Inquiry Learning
Peserta didik secara aktif menemukan ide dan mendapatkan makna
1. Simulasi dan identifikasi masalah 2. Mengumpulkan informasi
3. Pengolahan informasi 4. Verifikasi hasil 5. Generalisasi
Pada dasarnya model pembelajaran yang digunakan sama dengan peserta didik pada umumnya hanya bagi PDBK perlu disesuaikan dengan hambatan atau kekhususan yang dialaminya sehingga perlu ada adaptasi, misalnya dalam menjelaskan langkah-langkah Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1. Identifikasi dan merumuskan masalah 2. Menyusun rancangan penyelesaian masalah 3. Mengumpulkan informasi 4. Mengolah infomiasi 5. Menyelesaikan masalah Memecahkan
masalah kontekstual
No Nama Metode Pengertian Adaptasi
Metode Latihan
Metode latihan merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode latihan bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode tradisional karena sejak dulu dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Dalam metode ceramah dibutuhkan keaktifan guru dalam kegiatan pengajaran. Metode ini banyak digunakan pada pengajar yang kekurangan fasilitas.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode ceramah bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Peserta didik tunanetra akan cocok dengan metode ceramah, namun sebaliknya bagi peserta didik tunarungu metode ini kurang cocok
sehingga harus divariasikan dengan gambar, bahasa tubuh atau isyarat
Metode Karyawisata
Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan keluar kelas dalam rangka belajar.
Teknik karya wisata adalah teknik mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak peserta didik kesuatu tempat atau objek tertentu diluar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode karyawisata bagi PDBK disesuaikan dengan karakteristiknya.
Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada peserta didik ,tetapi dapat pula dari peserta didik kepada guru. Metode tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan peserta didik.
Perlu adanya beberapa penyesuaian dalam menggunakan metode Tanya jawab bagi PDBK disesiaikan dengan karakteristiknya.
Peserta didik tunarungu dalam melakukan tanya jawab bisa dibantu dengan bahasa isyarat/
bahasa tubuh.
3. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran adalah pola interaksi peserta didik dengan guru di dalam kelas yang menyangkut pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan-tahapan, prinsip-prinsip reaksi guru dan peserta didik serta sistem penunjang yang disyaratkan Menurut Arends (dalam Suprijono, 2013: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuantujuan pembelajaran, tahap- tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat diartikan juga sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Beberapa model pembelajaran ilmiah yang direkomendasikan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013 antara lain Discovery/Inquiry Learning, Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), dan Cooperatif Learning.
Perhatikan contoh adaptasi model pembelajaran berikut:
Model
Pembelajaran Karakteristik TABEL 3.7 Model Pembelajaran
Komponen/Sintak Adaptasi Discovery/
Inquiry Learning
Peserta didik secara aktif menemukan ide dan mendapatkan makna
1. Simulasi dan identifikasi masalah 2. Mengumpulkan informasi
3. Pengolahan informasi 4. Verifikasi hasil 5. Generalisasi
Pada dasarnya model pembelajaran yang digunakan sama dengan peserta didik pada umumnya hanya bagi PDBK perlu disesuaikan dengan hambatan atau kekhususan yang dialaminya sehingga perlu ada adaptasi, misalnya dalam menjelaskan langkah-langkah Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1. Identifikasi dan merumuskan masalah 2. Menyusun rancangan penyelesaian masalah 3. Mengumpulkan informasi 4. Mengolah infomiasi 5. Menyelesaikan masalah Memecahkan
masalah kontekstual
Model
Pembelajaran Karakteristik Komponen/Sintak Adaptasi atau sintak model pembelajaran lebih disederhakan, lebih fokus, dan lebih perhatian agar PDBK dapat memahami dan mengikuti tugas- tugas yang diperolehnya. Bagi PDBK tertentu bisa dibantu tutor yaitu temannya yang lebih unggul dan perhatian hal ini untuk lebih memahamkan berbagai tugas atau hal-hal yang harus dikerjakan PDBK Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning)
1. Menyampaikan tujuan 2. Menyajikan informasi 3. Membentuk kelompok 4. Bekerja dalam kelompok 5. Presentasi hasil kerja kelompok
6. Menerima umpan balik Peserta didik
secara aktif menyelesaikan suatu project, penyelesaian memerlukan waktu penyelesaian relatif lama
Kerjasama tim dalam melaksanakan pembelajaran Cooperatif
Learning
1. Menyampaikan tujuan 2. Menyajikan informasi 3. Membentuk kelompok 4. Bekerja dalam kelompok 5. Presentasi hasil kerja kelompok
6. Menerima umpan balik
4. Media Pembelajaran
Adanya peserta didik berkebutuhan khusus di SPPPI menuntut sekolah untuk menyiapkan sarana prasarana khusus yang sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus dan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang bervariasi. Penyediaan sarana prasarana dan media pembelajaran tidak perlu menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Dengan kretivitas guru dapat membuat dan menyediakan media pembelajaran yang sederhana dan murah.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.
Media Pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai yang paling kecil sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri, ada media yang
diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran.
Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku). selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain gambar, model, LCD, dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru.
Beberapa media pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus perlu diadaptasikan disesuaikan dengan kekhususan peserta didik.
Contoh media pembelajaran visual tidak cocok digunakan untuk peserta didik tunanetra. Demikian pula media pembelajaran audio.
5. Sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sumber baik itu berupa daya, lingkungan maupun pengalaman yang digunakan dan sebagai pendukung dalam proses belajar mengajar agar berjalan lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.
Sumber belajar perlu mengakomodasi peserta didik berkebutuhan khusus.
Contohnya Ruang Keterampilan disalah satu SMK seyogyanya dapat
mengakomodasi pelaksanaan praktik keterampilan yang sesuai dengan
karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, baik itu bagi Peserta Didik
Tunagrahita, Autis, Tunadaksa, dan yang lainnya.
Model
Pembelajaran Karakteristik Komponen/Sintak Adaptasi atau sintak model pembelajaran lebih disederhakan, lebih fokus, dan lebih perhatian agar PDBK dapat memahami dan mengikuti tugas- tugas yang diperolehnya. Bagi PDBK tertentu bisa dibantu tutor yaitu temannya yang lebih unggul dan perhatian hal ini untuk lebih memahamkan berbagai tugas atau hal-hal yang harus dikerjakan PDBK Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning)
1. Menyampaikan tujuan 2. Menyajikan informasi 3. Membentuk kelompok 4. Bekerja dalam kelompok 5. Presentasi hasil kerja kelompok
6. Menerima umpan balik Peserta didik
secara aktif menyelesaikan suatu project, penyelesaian memerlukan waktu penyelesaian relatif lama
Kerjasama tim dalam melaksanakan pembelajaran Cooperatif
Learning
1. Menyampaikan tujuan 2. Menyajikan informasi 3. Membentuk kelompok 4. Bekerja dalam kelompok 5. Presentasi hasil kerja kelompok
6. Menerima umpan balik
4. Media Pembelajaran
Adanya peserta didik berkebutuhan khusus di SPPPI menuntut sekolah untuk menyiapkan sarana prasarana khusus yang sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus dan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang bervariasi. Penyediaan sarana prasarana dan media pembelajaran tidak perlu menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Dengan kretivitas guru dapat membuat dan menyediakan media pembelajaran yang sederhana dan murah.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.
Media Pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai yang paling kecil sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri, ada media yang
diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran.
Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku). selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain gambar, model, LCD, dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru.
Beberapa media pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus perlu diadaptasikan disesuaikan dengan kekhususan peserta didik.
Contoh media pembelajaran visual tidak cocok digunakan untuk peserta didik tunanetra. Demikian pula media pembelajaran audio.
5. Sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sumber baik itu berupa daya, lingkungan maupun pengalaman yang digunakan dan sebagai pendukung dalam proses belajar mengajar agar berjalan lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.
Sumber belajar perlu mengakomodasi peserta didik berkebutuhan khusus.
Contohnya Ruang Keterampilan disalah satu SMK seyogyanya dapat
mengakomodasi pelaksanaan praktik keterampilan yang sesuai dengan
karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, baik itu bagi Peserta Didik
Tunagrahita, Autis, Tunadaksa, dan yang lainnya.
Golongan Media
Contoh Dalam Pembelajaran TABEL 3.9 Media Pembelajaran
Cocok Pemanfaatan Untuk PDBK
Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon Semua PDBK kecuali Tunarungu harus dimodifikasi No
Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet,
gambar Semua PDBK kecuali
Tunanetra harus dibraillekan atau direkam (buku bicara) Audio Cetak Kaset audio yang dilengkapi bahan
tertulis Semua PDBK kecuali
untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi Proyeksi
Visual Diam
Overhead transparansi (OHT),
Film bingkai (slide) Semua PDBK kecuali Tunanetra
Proyeksi Audio visual diam
Film bingkai (slide) bersuara Semua PDBK kecuali untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi
Visual Gerak Film bisu Semua PDBK kecuali
Tunanetra Visual Gerak
dan Bersuara
Audio Visual gerak, film gerak bersuara,
video/VCD, televisi Semua PDBK kecuali
untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi Obyek Fisik Benda nyata, model, specimen Semua PDBK Manusia dan
Lingkungan Guru, Pustakawan, Laboran Semua PDBK Komputer CAI (Pembelajaran berbantuan
komputer), CBI (Pembelajaran berbasis komputer).
Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa dan PDBK lainnya diadaptasi.
Modifikasi Penilaian, berarti ada perubahan dalam sistem penilaian hasil belajar yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK.
Dengan kata lain PDBK menjalani sistem penilaian yang berbeda dengan peserta didik reguler.
Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan perubahan dalam soal- soal penilaian/soal/ujian, perubahan dalam waktu penilaian, teknik/cara penilaian, atau tempat penilaian. Termasuk juga bagian dari modifikasi penilaian adalah perubahan dalam kriteria kelulusan/ketuntasan, sistem kenaikan kelas, dan raport.
1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen
Penilaian hasil belajar dilakukan untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan peserta didik, memonitor perkembangan belajar peserta didik, menilai ketercapaian kurikulum, memberi nilai peserta didik dan menentukan efektivitas pembelajaran baik aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan. Untuk tujuan-tujuan tersebut dapat digunakan berbagai teknik dan bentuk instrumen penilaian. Penilaian dapat dilakukan secara lisan, tertulis, observasi, praktik maupun penugasan perseorangan atau kelompok, produk, projek, dan portofolio.
Untuk memiliki pemahaman yang lebih rinci mengenai teknik penilaian dan bentuk instrumen, perhatikan tabel 3.12.
Penilaian pembelajaran bagi PDBK di SPPI mengacu pada kurikulum yang ditetapkan satuan pendidikan bagi peserta didik yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran bagi PDBK di SPPI meliputi penilaian proses dan hasil pembelajaran. Penilaian proses dan hasil pembelajaran dilakukan oleh guru mata pelajaran sesuai dengan tugas kewenangannya. Penilaian proses dilakukan sepanjang waktu pembelajaran ditujukan untuk mengetahui kesulitan yang dialami peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran, dan digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran berikutnya sesuai dengan kebutuhan.
Sekolah menentukan KKM. Dalam penentuan KKM sekolah mempertimbangkan 3 (tiga) hal yaitu karakteristik peserta didik,
E MODIFIKASI PENILAIAN
Golongan Media
Contoh Dalam Pembelajaran TABEL 3.9 Media Pembelajaran
Cocok Pemanfaatan Untuk PDBK
Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon Semua PDBK kecuali Tunarungu harus dimodifikasi No
Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet,
gambar Semua PDBK kecuali
Tunanetra harus dibraillekan atau direkam (buku bicara) Audio Cetak Kaset audio yang dilengkapi bahan
tertulis Semua PDBK kecuali
untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi Proyeksi
Visual Diam
Overhead transparansi (OHT),
Film bingkai (slide) Semua PDBK kecuali Tunanetra
Proyeksi Audio visual diam
Film bingkai (slide) bersuara Semua PDBK kecuali untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi
Visual Gerak Film bisu Semua PDBK kecuali
Tunanetra Visual Gerak
dan Bersuara
Audio Visual gerak, film gerak bersuara,
video/VCD, televisi Semua PDBK kecuali
untuk Tunanetra dan Tunarungu perlu Diadaptasi Obyek Fisik Benda nyata, model, specimen Semua PDBK Manusia dan
Lingkungan Guru, Pustakawan, Laboran Semua PDBK Komputer CAI (Pembelajaran berbantuan
komputer), CBI (Pembelajaran berbasis komputer).
Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa dan PDBK lainnya diadaptasi.
Modifikasi Penilaian, berarti ada perubahan dalam sistem penilaian hasil belajar yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan PDBK.
Dengan kata lain PDBK menjalani sistem penilaian yang berbeda dengan peserta didik reguler.
Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan perubahan dalam soal- soal penilaian/soal/ujian, perubahan dalam waktu penilaian, teknik/cara penilaian, atau tempat penilaian. Termasuk juga bagian dari modifikasi penilaian adalah perubahan dalam kriteria kelulusan/ketuntasan, sistem kenaikan kelas, dan raport.
1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen
Penilaian hasil belajar dilakukan untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan peserta didik, memonitor perkembangan belajar peserta didik, menilai ketercapaian kurikulum, memberi nilai peserta didik dan menentukan efektivitas pembelajaran baik aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan. Untuk tujuan-tujuan tersebut dapat digunakan berbagai teknik dan bentuk instrumen penilaian. Penilaian dapat dilakukan secara lisan, tertulis, observasi, praktik maupun penugasan perseorangan atau kelompok, produk, projek, dan portofolio.
Untuk memiliki pemahaman yang lebih rinci mengenai teknik penilaian dan bentuk instrumen, perhatikan tabel 3.12.
Penilaian pembelajaran bagi PDBK di SPPI mengacu pada kurikulum yang ditetapkan satuan pendidikan bagi peserta didik yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran bagi PDBK di SPPI meliputi penilaian proses dan hasil pembelajaran. Penilaian proses dan hasil pembelajaran dilakukan oleh guru mata pelajaran sesuai dengan tugas kewenangannya. Penilaian proses dilakukan sepanjang waktu pembelajaran ditujukan untuk mengetahui kesulitan yang dialami peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran, dan digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran berikutnya sesuai dengan kebutuhan.
Sekolah menentukan KKM. Dalam penentuan KKM sekolah mempertimbangkan 3 (tiga) hal yaitu karakteristik peserta didik,
E MODIFIKASI PENILAIAN
Aspek yang Dinilai
Kompetensi Inti (KI)
TABEL 3.12 Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen Bentuk Instrumen
Sikap KI-1 Sikap Spiritual
Teknik penilaian diri dan antar teman kurang sesuai dilakukan untuk peserta didik tunagrahita dan autis yang low function validitasnya diragukan
sehubungan dengan karakt eristik mereka.
Untuk teknik penilaian lainnya disesuaikan dengan karakteristik PDBK ada beberapa penyesuaian baik itu penyesuaian isi/
materi, cara.
No Teknik
Penilaian
Keterangan Adaptasi bagi PDBK
Observasi Penilaian Diri
Lembar Observasi Daftar Cek, Skala Likert Penilaian
Antar Teman Daftar Cek, Skala Likert Jurnal Lembar/Catatan Jurnal KI-2 Sikap
Sosial Observasi Penilaian Diri
Lembar Observasi Daftar Cek, Skala Likert Penilaian
Antar Teman Daftar Cek, Skala Likert Jurnal Lembar/Catatan Jurnal
Pengetahuan KI-3
Pengetahuan
Tes Lisan
Tes Tulisan
Tanya Jawab Quis
Daftar Pertanyaan Benar-Salah, Menjodohkan, Pilihan Ganda, Isian/ Melengkapi, Uraian
Penugasan
Sampel pekerjaan peserta didikterbaik yang diperoleh dari penugasan dan tes tertulis
KI-4
Keterampilan Praktik/Kinerja Rubrik Penilaian Praktik/
Kinerja Rubrik
Produk Penilaian Proyek Rubrik Proyek
Sanipel pekerjaan peserta didik terbaik dari KD pada KI-4
Tugas yang dilakukan secara individu maupun kelompok
Jurnal
Keterampilan
Penilaian Proyek Portofolio
Waktu, alat, dan mungkin gabungan beberapa
penyesuaian isi/
materi, cara, waktu dan alat