• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH MARINE GROWTH TERHADAP INTEGRITAS JACKET STRUCTURE Anom Wijaya Daru 1, Murdjito 2, Handayanu 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENGARUH MARINE GROWTH TERHADAP INTEGRITAS JACKET STRUCTURE Anom Wijaya Daru 1, Murdjito 2, Handayanu 3"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 ANALISIS PENGARUH MARINE GROWTH TERHADAP INTEGRITAS

JACKET STRUCTURE

Anom Wijaya Daru 1 , Murdjito 2 , Handayanu 3

1 Mahasiswa Teknik Kelautan ITS, 2,3 Staf pengajar Teknik Kelautan ITS

Abstrak

Analisis pengaruh marine growth terhadap integritas jacket ini menggunakan data struktur APN A dan data lingkungan di Laut Jawa, daerah sekitar jacket struktur tersebut beroperasi. Pada analisis ini, kedalaman divariasi 25%, 50%, 75%, dan 100% kedalaman menurut keberadaan marine growth untuk mengetahui ketebalan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap integritas struktur. Sedangkan variasi ketebalan marine growth adalah saat kondisi tidak ada marine growth, kondisi marine growth aktual, dan kondisi ketebalan marine growth di atas kriteria desain (1,496 in) dengan kelipatan 20% sampai struktur tersebut mengalami kegagalan atau fail.Analisis menggunakan GT Strudl versi 27.0.Berdasarkan hasil analisa, diketahui ketebalan marine growth yang menyebabkan struktur mengalami kegagalan jika ketebalan marine growth 2,76 inch atau 80% di atas kriteria desain marine growth. Saat ketebalan 2,76 inch tersebut, member 662 memiliki UC 1,008 pada kondisi badai dan 1,002 pada kondisi operasi. Sedangkan pada ketebalan marine growth 3,89 inch, didapat UC joint punching shear jacket terbesar pada joint 385 yaitu 0,977 saat kondisi operasi dan 1,012 saat kondisi badai.

Variasi ketebalan marine growth terhadap kedalaman tidak berpengaruh signifikan terhadap UC member stress maupun UC punching shear.

Kata kunci: Marine growth, jacket structure, analisa statis 1. PENDAHULUAN

Dimulai dengan instalasi struktur lepas pantai di Teluk Meksiko pada tahun 1947, teknologi eksplorasi semakin berkembang dengan instalasi struktur lepas pantai pada kondisi lingkungan yang ekstrim di Laut Utara sekitar tahun 1960. Saat ini beragam jenis struktur yang digunakan untuk mengeksplorasi minyak dan gas, diantaranya fix jacket structure, jack-up drilling rig, semisubmersible, gravity structure, dan lain sebagainya.

Setiap struktur selalu dikenai beban. Namun beban yang diberlakukan terhadap struktur tidak sama, tergantung pada kondisi lingkungan dan kondisi struktur tersebut. Menurut Sudjono (1999), beban yang harus dipertimbangkan saat perancangan struktur lepas pantai adalah beban mati (dead load), beban hidup (live load), beban akibat kecelakaan (accidental load), dan beban lingkungan (enviromental load).

Marine growth merupakan beban yang bekerja pada sebuah struktur dan termasuk dalam beban lingkungan. Beban marine growth apabila di luar batas toleransi, akan berakibat pada perubahan hasil perhitungan yang telah pada proses perancangan sehingga memengaruhi pengoperasian struktur lepas pantai secara keseluruhan.

Gambar 1. Struktur jacket APN A

(sumber: http://oilrigphotos.com.s3.amazonaws.com) Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh marine growth pada struktur APN A (gambar 1) yang berlokasi di Laut Jawa.

Analisis tersebut dilakukan dengan memvariasikan ketebalan marine growth dan kedalaman, sehingga diharapkan bisa memberikan pemahaman mengenai dampak yang ditimbulkan marine growtkh terhadap kekuatan struktur jacket.

Gambar 2. Marine growth yang tumbuh di kaki jacket

(sumber:http://www.foundocean.com/webpac_conten

t/oil-and-gas/what-we-do/marine-growth-control/)

(2)

2 2. DASAR TEORI

2.1 Beban gelombang

Penerapan teori untuk beban gelombang berdasarkan rasio diameter member (D) dan panjang gelombang () adalah sebagai berikut;

1. Jika D/ < 0.2, Persamaan Morison dapat diaplikasikan.

2. Jika D/ ≥ 0.2, Teori Difraksi diaplikasikan.

Persamaan Morison mengasumsikan bahwa gaya gelombang merupakan gabungan dari komponen gaya inersia dan gaya hambatan (drag) yang dijumlahkan secara linier. Koefisien kedua gaya tersebut diperoleh dari hasil eksperimen. Persamaan Morison tepat jika diterapkan pada kasus struktur dimana gaya hambatan signifikan, yakni ketika pada ukuran diameter (D) member jacket relatif kecil jika dibandingkan dengan panjang gelombang () atau bernilai kurang dari 0,2. Persamaan Morison yang digunakan untuk mendapatkan gaya gelombang per unit panjang adalah (Indiyono P., 2004):

F = ½ ρ C

D

D |u| u + ρ C

I

(π D

2

) / 4 a

z

(1) dengan:

ρ : massa jenis air laut (kg/m

3

) C

D

: koefisien drag

C

I

: koefisien inersia u : kecepatan (m/s) a

z

: percepatan (m/s

2

) 2.2 Beban arus

Arus laut memiliki harga yang bervariasi untuk kedalaman perairan tertentu. Hal ini menyebabkan distribusi beban yang ada pada struktur akibat arus juga tidak sama. Kecepatan arus tersebut dirumuskan dalam formulasi matematis berikut (Dawson 1983):

U

T

= U

OT

(y/h)

1/7

(2)

U

W

= U

OW

(y/h) (3)

dengan:

U

T

: kecepatan arus pasang surut (m/s) U

OT

: kecepatan arus pasang surut di permukaan (m/s)

U

W

: kecepatan arus akibat angin (m/s) U

OW

: kecepatan arus akibat angin di permukaan (m/s)

y : jarak dari dasar laut (m) h : kedalaman laut (m)

Berdasarkan hasil analisa Swamidas (1997) yang telah dikutip oleh Suyuthi (2002), gaya arus yang bekerja pada suatu struktur dirumuskan sebagai berikut:

  z C U   z U   z D dz F

d

C C D

C

0

_ _

2 1  (4)

dengan:

 : massa jenis air (kg/m

3

)

  z U

C

_

: kecepatan arus pada ketinggian z di atas dasar laut (m/s

2

)

C

D

: koefisien drag D : diameter struktur (m) 2.3 Koefisien hidrodinamis

Penelitian di laboratorium yang dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara Cd, Cm dan Cl dengan Reynold Number (Re) dan Keulegan- Carpenter Number. Hasil percobaan itu menunjukkan Cd dan Cm pada silinder halus adalah fungsi Re dan KC (Sarpkaya, 1976).

Cd atau koefisen drag merupakan bilangan yang menunjukkan besar kecilnya tahanan fluida yang diterima oleh suatu benda. Harga koefisien drag yang kecil menunjukkan hambatan fluida yang diterima benda saat berjalan adalah kecil, dan begitu juga sebaliknya. Nilai Cd efektif didapat dari perhitungan berikut:

OD

2

Cd

model

= Cd OD

2model

(5)

Sedangkan nilai koefien inersia efektif didapat dari perhitungan berikut:

OD Cm

model

= Cm OD

model

(6) dengan:

OD : diameter jacket leg sebelum ada marine growth

OD

model

: diameter jacket leg ditambah dengan tebal marine growth (ft)

Cd : koefisien drag sebelum ada marine growth

Cd

model

: koefisien drag setelah ada marine growth

Cm : koefisien inersia sebelum ada marine Growth

Cm

model

: koefisien drag setelah ada marine growth

2.4 Gaya drag

Gaya drag merupakan salah satu gaya aerodinamika yang arah gayanya berlawanan dara arah gaya thrust (gaya dorong) sehingga berpengaruh untuk menghambat gerak. Drag merupakan suatu gaya mekanis yang disebabkan oleh interaksi dan kontak dari solid body dengan fluida.

dF

d

= (0,5 Cd ρ D u u ) ds (7)

(3)

3 ρ : massa jenis air laut (kg/m

3

)

C

D

: koefisien drag u : kecepatan (m/s) D : Diameter silinder (m) 2.5 Gaya inersia

Konsep gaya inersia adalah bahwa partikel air dalam gelombang membawa suatu intensitas momentum. Partikel air yang melewati silinder akan mengalami percepatan dan perlambatan.

Hal ini terjadi jika ada kerja oleh gaya pada silinder untuk menaikkan momentum.

dFm = Cm ρ

πD42 ∂u∂t

ds (8) Fm : gaya inersia

ρ : massa jenis air laut (kg/m

3

) C

m

: koefisien inersia

u : kecepatan (m/s) D : Diameter silinder (m) 2.6 Teori gelombang

Penentuan teori gelombang yang dapat diaplikasikan dalam desain dapat mengacu pada grafik yang dikeluarkan oleh American Petroleum Institute (API), yaitu pada dokumen API RP2A (2000). Pemilihan teori gelombang didasarkan pada tiga parameter utama gelombang, yaitu kedalaman perairan (d), tinggi gelombang (H), dan periode gelombang (Tapp)

Gambar 3. Daerah penerapan fungsi Stream, Stokes orde 5, dan teori gelombang linear (API RP 2A WSD, 2000)

3. METODOLOGI

Pengerjaan tugas akhir ini dimulai dengan studi literatur tentang jurnal yang berhubungan dengan marine growth dan pengaruhnya terhadap struktur. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengumpulan data, baik itu data struktur maupun data lingkungan. Data struktur dan lingkungan dapat ditunjukkan oleh tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Data Struktur APN A Nama Struktur APN A Platform Block/ Kompleks APN Field

Lokasi Geografis Laut Jawa, Indonesia Orientasi Struktur 45

0

Utara sebenarnya Jenis Struktur Well Platform Tahun Instalasi 2005

Jumlah Deck 3 (Main Deck, Well Deck, Heli Deck)

Tabel 2. Data Lingkungan Struktur APN A Mean Sea Level (MSL) 40, 95 m Tinggi Gelombang

Maksimum:

 Operasi

 Badai

3,5 m 5.5 m Periode Tinggi

Gelombang Maksimum:

 Operasi

 Badai

7 s 8.7 s Total Pasang Surut :

 Operasi

 Badai

1,04 m 1,04 m Kecepatan Arus

 Operasi

 Badai

Surface: 0,67 m/s Bottom: 0,29 m/s Surface: 1,09 m/s Bottom: 0,31 m/s Kecepatan Angin

 Operasi

 Badai

12,4 m/s 25,7 m/s Tipe Tanah Dominan Clay

Pemodelan struktur jacket dengan menggunakan

perangkat lunak GT STRUDL 27.0, kemudian

dilakukan validasi model berdasarkan berat

struktur yang ada. Dilanjutkan pemodelan dan

penghitungan beban lingkungan sebelum ada

marine growth yang menempel pada struktur.

(4)

Gambar 4. Redraw Solid APN A

Marine growth dan beban lingkungan yang laiinya dianalisis menggunakan

SELOS dengan 8 arah pembebanan yaitu; 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 270, 300, 330, dan 360 derajat. Bila ketebalan marine growth sudah melebihi ketebalan yang diijinkan, dilakukan removal karena dapat mengganggu integritas struktur tersebut.

Ketebalan marine growth tersebut divariasi menurut ketebalan dan kedalaman. Untuk ketebalan marine growth digunakan skenario 20%, 40%, 60%, dan seterusnya di atas ketebalan marine growth yang diijinkan samp struktur mengalami kegagalan.

skenario kedalaman meliputi 0%

kedalaman, 25%-50% kedalaman, 50%

kedalaman, 75%-100% kedalaman, dan 0%

100% kedalaman. Setelah tahap analisis tersebut, diambil kesimpulan dan saran dari proses analisis.

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Validasi struktur

Validasi dibutuhkan untuk membuktikan bahwa struktur yang dimodelkan sudah dapat mewakili struktur sesungguhnya. Dalam penelitian ini, validasi struktur mengacu pada berat struktur.

Tabel 3. Hasil perbandingan berat struktur PERBANDINGAN BERAT STRUKTUR PT Paramuda Jaya Output Model

STRUDL 2171,07 kN 2162,53 kN

4.2 Pengaruh marine growth koefisien hidrodinamis

Marine growth yang tumbuh menempel pada jacket akan menimbulkan perbedaan nilai koefisien drag. Perbedaan koefisien drag terhadap ketebalan marine growth

pada grafik di bawah ini.

Redraw Solid APN A

dan beban lingkungan yang laiinya dianalisis menggunakan software GT SELOS dengan 8 arah pembebanan yaitu; 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 270, 300, 330, marine growth tebalan yang diijinkan, karena dapat mengganggu

tersebut divariasi dan kedalaman. Untuk

digunakan skenario 20%, 40%, 60%, dan seterusnya di atas yang diijinkan sampai . Sedangkan skenario kedalaman meliputi 0%-25%

kedalaman, 50%-75%

100% kedalaman, dan 0%- lah tahap analisis tersebut, diambil kesimpulan dan saran dari

ANALISA DAN PEMBAHASAN

embuktikan bahwa struktur yang dimodelkan sudah dapat mewakili penelitian ini, validasi struktur mengacu pada berat struktur.

. Hasil perbandingan berat struktur BERAT STRUKTUR

SELISIH

GT

(%)

2162,53 kN 0,39

marine growth terhadap yang tumbuh menempel pada jacket akan menimbulkan perbedaan nilai koefisien drag. Perbedaan koefisien drag marine growth ditunjukkan

Gambar 4.1. Grafik pengaruh ketebalan marine growth terhadap koefisien drag (Cd) Pada ketebalan marine growth 1,8 in

drag (Cd) bernilai 1,12. Nilai koefisein drag semakin besar pada ketebalan 2,16 in, 2,4 in, dan 2,76 in, hingga mencapai puncaknya pada ketebalan 3,89 in dengan nilai Cd 1,2 tersebut membuktikan semakin tebal marine growth, semakin besar nilai koefisien dragnya.

Sedangkan pengaruh marine growth

perubahan koefisien inersia ditunjukkan oleh grafik berikut.

Gambar 5. Grafik pengaruh ketebalan terhadap koefisien inersia (Cm Pada ketebalan marine growth 1,8 in, koef inersia (Cm) bernilai 2,13. Nilai koefisein drag semakin besar pada ketebalan 2,16 in, 2,4 in, dan 2,76 in, hingga mencapai puncaknya pada ketebalan 3,89 in dengan nilai Cm 2,29 tersebut membuktikan semakin tebal marine growth, semakin besar nilai koefisien inersianya.

etebalan marine growth terhadap koefisien drag (Cd)

,8 in, koefisien . Nilai koefisein drag kin besar pada ketebalan 2,16 in, 2,4 in, , hingga mencapai puncaknya pada ngan nilai Cd 1,2. Hal tersebut membuktikan semakin tebal marine growth, semakin besar nilai koefisien dragnya.

marine growth terhadap perubahan koefisien inersia ditunjukkan oleh

. Grafik pengaruh ketebalan marine growth terhadap koefisien inersia (Cm)

ne growth 1,8 in, koefisien

. Nilai koefisein drag

semakin besar pada ketebalan 2,16 in, 2,4 in,

dan 2,76 in, hingga mencapai puncaknya pada

n nilai Cm 2,29. Hal

tersebut membuktikan semakin tebal marine

growth, semakin besar nilai koefisien

(5)

4.3 Pengaruh marine growth terhadap massa struktur

Penambahan massa oleh marine growth ditunjukkan dengan grafik berikut ini.

Gambar 6. Grafik pengaruh ketebalan marine growth terhadap massa.

Pada struktur jacket, adanya marine growth akan menyebabkan struktur menjadi penambahan massa sehingga menyebabkan perubahan respon struktur tersebut terhadap beban-beban dinamis yang diterimanya.

Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin tebal marine growth, massa yang dibebankan kepada struktur jacket menjadi lebih besar. Saat ketebalan marine growth 1,8 inch, marine growth sebesar 5,95 ton. Massa tersebut terus meningkat seiring dengan bertambahnya ketebalan marine growth.

4.4 Pengaruh marine growth terhadap member

Pada analisis penelitian ini, digunakan variasi ketebalan marine growth dan kedalaman.

Sehingga akan dihasilkan nilai

member yang sesuai pada setiap kondisi variasi.

Gambar 7. Grafik hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman pada

kondisi operasi.

Grafik di atas merupakan grafik ya menggambarkan hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman kondisi operasi. Hasil dari variasi di atas

terhadap massa

marine growth ditunjukkan dengan grafik berikut ini.

. Grafik pengaruh ketebalan marine growth

marine growth akan menyebabkan struktur menjadi terjadi

sehingga menyebabkan perubahan respon struktur tersebut terhadap

beban dinamis yang diterimanya.

Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin massa yang dibebankan menjadi lebih besar. Saat 1,8 inch, massa ton. Massa tersebut terus meningkat seiring dengan bertambahnya

terhadap UC

Pada analisis penelitian ini, digunakan variasi dan kedalaman.

Sehingga akan dihasilkan nilai-nilai UC member yang sesuai pada setiap kondisi variasi.

. Grafik hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman pada

Grafik di atas merupakan grafik yang hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman saat

Hasil dari variasi di atas

menunjukkan bahwa jacket ditumbuhi marine growth memiliki UC sekitar 0,956. Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan marine growth signifikan

member jacket menjadi 0,957. UC

jacket tersebut semakin naik seiring dengan variasi ketebalan marine growth bertambah, hingga terdapat member kegagalan (fail) karena UC member lebih dari 1 dengan nilai UC 1,001 ketebalan marine growth mencapai 3

Gambar 8. Grafik hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman pada

kondisi badai.

Grafik di atas merupakan grafik yang menggambarkan hubungan UC member ketebalan marine growth dan kedalaman pada kondisi badai. Hasil dari variasi di atas menunjukkan bahwa jacket

ditumbuhi marine growth memiliki UC sekitar 0,81. Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan marine growth signifikan

member jacket menjadi 0,86. UC member jacket tersebut semakin naik seiring dengan variasi ketebalan marine growth yang bertambah, hingga terdapat member mengalami kegagalan (fail) karena UC member mencapai lebih dari 1 dengan nilai UC 1,01 saat ketebalan growth mencapai 3 in. Kedua g

menunjukkan bahwa variasi kedalaman tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada nilai UC atau kekuatan member.

jacket yang tidak memiliki UC member sekitar 0,956. Pada kondisi aktual, yaitu saat signifikan 1,08 in, UC menjadi 0,957. UC member tersebut semakin naik seiring dengan marine growth yang member mengalami member mencapai bih dari 1 dengan nilai UC 1,001 saat

mencapai 3 in. .

. Grafik hubungan UC member dengan ketebalan marine growth dan kedalaman pada

Grafik di atas merupakan grafik yang

hubungan UC member dengan

wth dan kedalaman pada

Hasil dari variasi di atas

jacket yang tidak

memiliki UC member

. Pada kondisi aktual, yaitu saat

signifikan 1,08 in, UC

member jacket

tersebut semakin naik seiring dengan variasi

yang bertambah,

mengalami kegagalan

mencapai lebih dari 1

ebalan marine

. Kedua grafik di atas

menunjukkan bahwa variasi kedalaman tidak

memberikan pengaruh yang signifikan pada

(6)

4.5 Pengaruh marine growth terhadap UC joint punching shear

Selain member check, analisis kekuatan struktur juga meliputi joint punching shear check.

Berikut ini grafik yang menunjukkan hasil analisis joint punching shear pada kondisi operasi.

Gambar 9. Grafik hubungan UC joint punching shear dengan ketebalan marine growth dan kedalaman

pada kondisi operasi.

Hasil dari variasi di atas menunjukkan bahwa jacket yang tidak ditumbuhi marine growth memiliki UC joint punching shear

Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan growth signifikan 1,08 in, UC joint punching shear menjadi 0,833. UC joint punching shear jacket tersebut semakin naik seiring dengan variasi ketebalan marine growth bertambah, hingga terdapat joint yang memiliki nilai UC joint punching shear mencapai 0,977 saat ketebalan marine growth 3,89

Sedangkan hasil analisis pengaruh ketebalan marine growth terhadap UC joint ounching shear saat kondisi badai ditunjukkan oleh grafik berikut.

Gambar 10. Grafik hubungan UC joint punching shear dengan ketebalan marine growth da

kedalaman pada kondisi badai

Hasil dari variasi di atas menunjukkan bahwa jacket yang tidak ditumbuhi marine growth memiliki UC joint punching shear

Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan growth signifikan 1,08 in, UC joint punching shear menjadi 0,847. UC joint punching shear terhadap UC analisis kekuatan struktur joint punching shear check.

Berikut ini grafik yang menunjukkan hasil pada kondisi

. Grafik hubungan UC joint punching shear growth dan kedalaman

Hasil dari variasi di atas menunjukkan bahwa marine growth joint punching shear sekitar 0,818.

Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan marine joint punching joint punching shear tersebut semakin naik seiring dengan marine growth yang yang memiliki mencapai 0,977

in.

Sedangkan hasil analisis pengaruh ketebalan joint ounching saat kondisi badai ditunjukkan oleh grafik

. Grafik hubungan UC joint punching shear dengan ketebalan marine growth dan

kedalaman pada kondisi badai.

Hasil dari variasi di atas menunjukkan bahwa marine growth joint punching shear sekitar 0,826.

Pada kondisi aktual, yaitu saat ketebalan marine joint punching joint punching shear

jacket tersebut semakin naik seiring dengan variasi ketebalan marine growth bertambah, hingga terdapat joint yang memiliki nilai UC joint punching shear mencapai saat ketebalan marine growth 3,89 menyebabkan kegagalan struktur. Kedua g hubungan UC joint punching shear ketebalan marine growth dan kedalaman menunjukkan bahwa variasi kedalaman tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada nilai UC joint punching shear atau kekuatan struktur.

5. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis pengaruh marine growth terhadap integritas struktur ini antara lain:

1. Marine growth menambah massa

menambah koefisien hidrodinamis, dan menambah dimensi efektif jacket

beban gelombang dan arus, sehingga mempengaruhi kekuatan member

punching shear jacket.

2. Desain kriteria marine growth jacket APN A adalah 1,496 proses analisis, diketahui ketebalan growth yang menyebabkan struktur mengalami kegagalan adalah sebesar atau 80% di atas ketebalan marine growth yang diijinkan. Kondisi tersebut terdapat pada 25% kedalaman. Saat ketebalan growth 2,76 in, member 662 memiliki UC 1,002 pada kondisi operasi dan 1,008 pada kondisi badai.

Sedangkan pada ketebalan marine growth 3,89 in, didapat UC joint punching shear jacket terbesar pada joint 385

saat kondisi operasi dan 1,012

badai yang mengakibatkan struktur mengalami kegagalan. Kondisi tersebut terdapat pada 25% kedalaman.

kedalaman saat analisis tidak berpengaruh signifikan.

5.2. Saran

1. Untuk analisa selanjutnya dapat dilakukan variasi marine growth sesuai dengan tingkat kekerasan dan kedalaman struktur.

2. Diperlukan analisis lanjutan tentang dampak marine growth, misalnya terhadap korosi dan integritas struktur setelah terjadi korosi.

tersebut semakin naik seiring dengan marine growth yang yang memiliki mencapai 1,012 ,89 in sehingga menyebabkan kegagalan struktur. Kedua grafik joint punching shear dengan dan kedalaman di atas menunjukkan bahwa variasi kedalaman tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada atau kekuatan

Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis terhadap integritas menambah massa struktur, menambah koefisien hidrodinamis, dan jacket terkena beban gelombang dan arus, sehingga member dan joint marine growth untuk struktur APN A adalah 1,496 in. Setelah proses analisis, diketahui ketebalan marine yang menyebabkan struktur adalah sebesar 2,76 in marine growth . Kondisi tersebut terdapat . Saat ketebalan marine in, member 662 memiliki UC

dan 1,008 pada marine growth joint punching shear besar pada joint 385 yaitu 0,977 1,012 saat kondisi yang mengakibatkan struktur Kondisi tersebut 25% kedalaman. Variasi kedalaman saat analisis tidak berpengaruh

Untuk analisa selanjutnya dapat dilakukan dengan tingkat kekerasan dan kedalaman struktur.

Diperlukan analisis lanjutan tentang dampak

terhadap korosi

dan integritas struktur setelah terjadi korosi.

(7)

7 6. Daftar Pustaka

American Petroleum Institute. 2000.

Recommended Practice For Planning and Constructing Fixed Offshore Platform-Working Stress Design, API Recommended Practice 2A (RP 2A) WSD, Washington

Chakrabarti, S.K. (1987). Hydrodynamics of Offshore Structures, Computational Mechanics Publications Southampton, Boston, USA.

Dawson, T.H..(1983). Offshore Structural Engineering. Prentice Hall ,Inc., New Jersey.

Indiyono,Paul, 2004, HIDRODINAMIKA Bangunan Lepas Pantai. Surabaya:

Penerbit SIC.

McClelland, B. dkk 1986. Planning and Designing of Fixed Offshore Platforms.

Van Norstrand Reinhold. New York.

Murdjito, 1997, Inovasi dalam Perancangan Jacket Platform untuk Perairan Dalam, ITS, Surabaya.

Popov, E. P. 1993. Mechanical of Material.

Prentice-Hall Inc. Engelwood Cliffts.

New Jersey. USA.

Putra, I W. S. E., 2010, Studi Eksperimen Pengaruh Kecepatan Arus dalam Pertumbuhan Marine growth , Teknik Kelautan ITS, Surabaya.

Retno, E. T., 1992, Analisa Perawatan Bangunan Lepas Pantai terhadap Pengaruh Marine growth , Teknik Kelautan ITS, Surabaya.

Rosyid, D. M.,1996, Perancangan Struktur Anjungan Lepas Pantai – Filosofi, Prosedur, Model Analisis, ITS, Surabaya.

Sarpkaya, T.(1981). Mechanics of Forces on Offshore Structures. Litton Educational publishing, Inc. USA.

Soedjono, J. J., 1998, Diktat Mata kuliah Konstruksi Bangunan Laut II, Jurusan Teknik Kelautan ITS, Surabaya.

Suryanto, H., 2000, Aplikasi Elemen Hingga untuk Analisa Struktur Statik dengan Program MSC/ Nastran, Teknik Mesin Universitas Negeri Malang, Malang.

Waluyo, P.R (2003). Diktat Kuliah Finite

Element Model. Jurusan Teknik Kelautan

FTK-ITS, Surabaya.

Gambar

Gambar 1. Struktur jacket APN A
Gambar 3. Daerah penerapan fungsi Stream, Stokes orde 5,  dan teori gelombang linear (API RP 2A WSD, 2000)
Gambar 4. Redraw Solid APN A
Gambar 9. Grafik hubungan UC joint punching shear  dengan ketebalan marine growth dan kedalaman

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu perilaku lain yang berkaitan dengan budaya organisasi yang dapat mempengaruhi partisipatif dalam proses penyusunan anggaran sebuah organisasi atau perusahaan adalah

Peningkatan rerata frekuensi denyut jantung kelompok B pada hari ke-2 dan ke-3 secara tidak langsung dipengaruhi oleh kenaikan suhu tubuh akibat vaksinasi,

A – Kaedah ini dapat menghasilkan anak pokok dalam jumlah yang banyak5. Anak-anak pokok yang dihasilkan mempuyai genetik yang sama dengan pokok induk dengan ini

Pada bagian dasar laut, semua joint dimodelkan sebagai pilehead (titik transisi untuk pemodelan tiang pancang) yang berarti pemodelan jacket akan diteruskan ke dalam

Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) bagi Pengajar BIPA di Language Training Center.. Universitas Kristen Satya Wacana

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas segala penyertaan dan berkat-Nya sehingga penulis telah menyelesaikan penyusunan Tesis yang berjudul ”Analisis Nilai

Pendekatan pengalaman berbahasa (PPB) menganut pandangan bahwa belajar membaca merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses perkembangan bahasa siswa. Oleh karenanya belajar

Berdasarkan uraian diatas, untuk menghindari dan mendapatkan efesiensi routing pada jaringan wireless mesh di Universitas Widyatama, akan dilakukan pemfilteran broadcast