• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Mahkamah Agung Nomor : 748/B/PK/PJK/2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Putusan Mahkamah Agung Nomor : 748/B/PK/PJK/2014"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PUTUSAN

Nomor 748/B/PK/PJK/2014

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara :

PT. ABC, berkedudukan di ZZZ Blok G No. X, Jalan RRR III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12160, dalam hal ini diwakili oleh DEF, Direktur PT. ABC selanjutnya memberi kuasa kepada : GHI, Tax Manager pada PT. ABC, berkantor di ZZZ Blok G No. X, Jalan RRR III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12160, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 Maret 2013 ; Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Penggugat ;

melawan:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, berkedudukan di Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40 – 42, Jakarta, selanjutnya memberi kuasa kepada :

1. JKL, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak ;

2. MNO, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding ;

3. PQR, Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding ; 4. STU, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding ;

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : SKU-1050/PJ./2013 tanggal 11 Juni 2013 ; Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Tergugat ;

Mahkamah Agung tersebut ;

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Penggugat telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Tergugat, dengan posita perkara sebagai berikut :

Bahwa KPP Pratama Manokwari menerbitkan SKPKB PPN Nomor 00016/207/08/955/11 tanggal 13 April 2011 untuk masa pajak Januari 2008, senilai Rp 654.689.615,00 SKPKB tersebut telah dibayar seluruhnya pada tanggal 12 Mei 2011, dengan menggunakan SSP senilai Rp617.706.293,00 dan pemindahbukuan Rp36.983.322,00;

Bahwa pada tanggal 4 Juli 2011, Penggugat mengajukan keberatan atas SKPKB tersebut dan dikabulkan seluruhnya melalui keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-94/WPJ.18/2012 tanggal 15 Maret 2012;

Bahwa akibat dikabulkannya seluruh keberatan Penggugat maka terjadi kelebihan pembayaran pajak dan Penggugat memohon agar dapat diberikan imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak tersebut;

Bahwa oleh KPP Pratama Manokwari permohonan imbalan bunga tidak dapat diberikan berdasarkan PP Nomor 80 Tahun 2007;

Bahwa Menurut Penggugat, PP Nomor 80 tahun 2007 bertentangan dengan Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 6 Tahun 1983 yang telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007;

(2)

Pada Pasal 27A ayat 1, UU Nomor 28 Tahun 2007, tertulis :

“Apabila pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau

seluruhnya, selama pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. untuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan

Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali; atau;

b. untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali”.

Bahwa berdasarkan Pasal 27A ayat (1) ini, dimungkinkan adanya imbalan bunga pada proses keberatan atas SKPKB yang sudah dibayar.

Pada Pasal 25 ayat 3a, UU Nomor 28 Tahun 2007, tertulis :

“Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.”

Bahwa berdasarkan Pasal 25 ayat (3a) ini, maka Penggugat harus membayar pajak paling sedikit sebesar yang telah disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan bila ingin mengajukan keberatan. Kalau membayar lebih dari itu, juga diijinkan terutama agar tidak dikenakan sanksi administrasi berupa denda 50% pada saat hasil keberatan, ditolak, sesuai Pasal 25 ayat (9), Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 :

“Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.”

Bahwa bagi Wajib Pajak yang tidak mempunyai masalah dengan “cash flow” maka ‘tax planning” seperti ini akan selalu digunakan bila mengajukan keberatan karena besarnya ketidakpastian di tingkat keberatan. Dan Wajib Pajak pun bersedia melakukan pembayaran SKPKB tersebut karena bila keberatannya dikabulkan, Penggugat akan menerima imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak tersebut.

Menurut Wajib Pajak Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 telah mendudukkan Penggugat dan fiskus pada posisi yang sederajat;

Bahwa tetapi PP Nomor 80 Tahun 2007 yang dibuat tanpa persetujuan wakil rakyat dan hanya berdasarkan Pasal 48 Undang- Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 6 Tahun 1983 yang telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, menyatakan : “hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah”, ternyata mengatur kembali masalah imbalan bunga pada Pasal 24 di PP Nomor 80 Tahun 2007 , yang mengutip kembali Pasal 27A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan tersebut tetapi menambah aturan baru pada Pasal 24 ayat (5) yang ternyata mengakibatkan tidak adanya imbalan bunga pada proses keberatan;

Bahwa untuk lebih jelasnya, Penggugat kutipkan Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 Tahun 2007 :

“Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan terhadap:

kelebihan pembayaran akibat Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang seluruhnya disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan telah dibayar sebelum mengajukan keberatan;”

Bahwa kelebihan pembayaran akibat Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas sebagian jumlah pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang tidak disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, namun dibayar sebelum pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali, atau sebelum diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali;

Penjelasannya Pasal 24 ayat 5 :

(3)

Bahwa ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah adanya kemungkinan Wajib Pajak memperoleh imbalan bunga yang seharusnya tidak diterima sehubungan dengan pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali;

Bahwa oleh karena itu, terhadap sebagian jumlah pajak yang tercantum dalam surat ketetapan pajak yang tidak disepakati dalam pembahasan akhir pemeriksaan dan dibayar oleh Wajib Pajak sebelum mengajukan keberatan, namun dalam surat keputusan keberatan, pengajuan keberatan tersebut dikabulkan sebagian atau seluruhnya sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak, terhadap kelebihan pembayaran pajak tersebut tidak diberikan imbalan bunga. Demikian pula, dalam hal kelebihan pembayaran pajak tersebut diakibatkan adanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, kelebihan pembayaran tersebut tidak diberikan imbalan bunga;

Contoh 1:

Bahwa untuk tahun pajak 2008, terhadap PT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00. Dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp200.000.000,00, akan tetapi Wajib Pajak telah melunasi seluruh SKPKB tersebut sebesar Rp1.000.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar

Rp600.000.000,00. Dalam hal ini, Wajib Pajak memperoleh kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp400.000.000.00 (Rp1.000.000.000,00-Rp600.000.000,00).

Berdasarkan ketentuan pada ayat ini, atas kelebihan pembayaran pajak Rp400.000.000,00 tidak diberikan imbalan bunga;

Bahwa demikian halnya, bagi Wajib Pajak yang menyetujui seluruh temuan pemeriksaan dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang mengakibatkan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dan Penggugat telah melunasi pajak yang masih harus dibayar tetapi mengajukan keberatan, dan dalam hal keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak, terhadap kelebihan pembayaran pajak tersebut tidak diberikan imbalan bunga. Demikian pula, dalam hal kelebihan pembayaran pajak tersebut diakibatkan adanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, kelebihan pembayaran tersebut tidak diberikan imbalan bunga;

Contoh 2:

Bahwa untuk Tahun Pajak 2008, terhadap PT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00. Dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00, dan telah melunasi seluruh SKPKB tersebut sebesar Rp1.000.000.000,00;

Bahwa Wajib Pajak kemudian mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak tersebut. Atas keberatan Penggugat, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan dengan menolak permohonan. Wajib Pajak sehingga jumlah pajak yang masih harus dibayar tetap sebesar Rp1.000.000.000,00. Wajib Pajak kemudian mengajukan banding atas Keputusan Keberatan tersebut. Atas banding Penggugat, Pengadilan Pajak mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sehingga jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp700.000.000,00. Dalam hal ini, Wajib Pajak memperoleh kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp300.000.000,00 (Rp1.000.000.000,00-Rp700.000.000,00). Berdasarkan ketentuan pada ayat ini, atas kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp300.000.000,00 tidak diberikan imbalan bunga;

Bahwa berdasarkan Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 tahun 2007, SKPKB yang tidak disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan maupun yang telah disetujui, yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan, tidak akan diberikan imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak berdasarkan putusan keberatan;

Bahwa kemudian bagaimana caranya untuk mendapatkan bunga bila menggunakan aturan PP Nomor 80 tersebut? Caranya adalah membayar SKPKB setelah mengajukan Keberatan;

Bahwa Untuk SKPKB yang telah disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan maka pengajuan Keberatan dengan pembayaran setelah mengajukan Keberatan akan ditolak oleh Dirjen Pajak karena melanggar Pasal 25 ayat (3a) dan ayat (4), UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 yang berbunyi : “Dalam hal WP mengajukan keberatan atas SKP, WP wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui WP dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan” dan “ Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (3a) bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan”. Artinya cara seperti ini

(4)

tidak dapat dilakukan;

Bahwa untuk SKPKB yang tidak disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan maka pengajuan Keberatan dengan pembayaran setelah mengajukan Keberatan akan mendapat bunga bila Keberatannya dikabulkan tetapi akan menghadapi resiko terkena denda sebesar 50% sesuai dengan Pasal 25 ayat (9), UU KUP Nomor 28 Tahun 2007, yang berbunyi : “ Dalam hal keberatan WP ditolak atau dikabulkan sebagian, WP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebsar 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan”;

Bahwa aturan-aturan dalam PP Nomor 80 Tahun 2007 melukai rasa keadilan Penggugat. Konsep bunga atas modal/uang adalah konsep waktu atas modal/uang yang tertanam/dipinjamkan/dipakai oleh pihak lain. Ketika Penggugat membayar SKPKB sebelum pengajuan Keberatan maka wajar bila Penggugat memperoleh bunga bila uang tersebut dikembalikan karena Keberatannya dikabulkan, sebab ada jangka waktu sejak Penggugat membayar dengan saat Dirjen Pajak mengembalikan uang tersebut. Menjadi tidak wajar bila Penggugat telah membayar SKPKB setelah pengajuan Keberatan tetapi tetap dikenakan denda 50% bila ternyata Keberatannya ditolak. Bukankah Dirjen Pajak telah menyimpan uang tersebut sejak dibayar hingga putusan Keberatan diterbitkan, sehingga dapat disimpulkan Dirjen Pajak telah menerima bunga selama jangka waktu tersebut;

Bahwa berdasarkan urutan perundang-undangan yang berlaku, Pengadilan Pajak berkedudukan di bawah Undang-Undang sehingga aturan PP yang berlawanan dengan aturan Undang-Undang, harus batal demi hukum. Menurut Penggugat Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 Tahun 2007 bertentangan dengan Pasal 27A ayat (1), Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Bahwa Penggugat memohon kepada Ketua Pengadilan Pajak/Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang terhormat agar dapat memberikan keputusan yang seadil-adilnya atas sengketa pajak ini ini beserta dasar hukumnya (bila ada) atau pertimbangan lainnya dari Ketua Pengadilan Pajak/Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang terhormat;

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut :

Menolak gugatan Penggugat terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: : S-571/WPJ.18/KP.0708/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Permohonan Imbalan Bunga, atas nama PT. ABC, NPWP 0X.XXX.XXX.X-XXX.00X, beralamat di ZZZ Blok G No. X, Jalan RRR III, Kebayoran Baru, Jakarta 12160;

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 7 Januari 2013, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 Maret 2013, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak Jakarta pada tanggal 14 Maret 2013, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 14 Maret 2013 ;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 17 Mei 2013, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 17 Juni 2013 ;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima ;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasanalasan peninjauan kembali yang pada pokoknya sebagai berikut :

(5)

1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Penggugat) sangat keberatan dengan pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

Halaman 25 alinea 6, 7 dan 8 :

“bahwa Majelis berpendapat bahwa ketentuan Pasal 24 ayat (5) huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tersebut telah jelas mengatur bahwa imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak sebagai akibat Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas sebagian jumlah pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang tidak disetujui dalam Pembahasan Akhir Pemeriksaan, namun dibayar sebelum pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali, atau sebelum diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali sebagaimana yang diminta oleh Penggugat tidak dapat diberikan”.

“bahwa dengan demikian Keputusan Tergugat yang menolak permohonan imbalan bunga tersebut sudah tepat dan telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku saat ini”.

“bahwa atas ketidaksetujuan Penggugat terhadap ketentuan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 80 yang mengatur mengenai imbalan bunga yang menurut Penggugat bertentangan dengan ketentuan Pasal 27A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Majelis berpendapat bahwa Peraturan Pemerintah a quo adalah merupakan pengaturan lebih lanjut ketentuan Pasal 27A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan tata cara Perpajakan”.

2. Bahwa berkenaan dengan amar pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 tersebut di atas, maka Pemohon Peninjauan kembali (semula Penggugat) dengan ini menyatakan bahwa Majeis Hakim Pengadilan Pajak yang telah memeriksa dan mengadili sengketa gugatan tersebut telah salah dan keliru atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya dengan telah mengabaikan dasar hukum dan atau prinsip perpajakan yang berlaku, sehingga hal tersebut nyata-nyata telah melanggar asas kepastian hukum dalam bidang perpajakan Indonesia.

3. Bahwa pada Pasal 27A ayat (1), UU Nomor 28 Tahun 2007, tertulis : “Apabila pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya, selama pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. untuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali; atau

b. untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali”.

Berdasarkan Pasal 27A ayat (1) ini, dimungkinkan adanya imbalan bunga pada proses keberatan atas SKPKB yang sudah dibayar.

(6)

4. Bahwa pada Pasal 25 ayat (3a), UU Nomor 28 Tahun 2007, tertulis : “Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.”

Berdasarkan Pasal 25 ayat (3a) ini, maka Wajib Pajak harus membayar pajak paling sedikit sebesar yang telah disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan bila ingin mengajukan keberatan. Kalau membayar lebih dari itu, juga diijinkan terutama agar tidak dikenakan sanksi administrasi berupa denda 50% pada saat hasil keberatan, ditolak, sesuai Pasal 25 ayat (9), UU Nomor 28 Tahun 2007 :

“Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.”

Bagi wajib pajak yang tidak mempunyai masalah dengan “cash flow” maka ‘tax planning” seperti ini akan selalu digunakan bila mengajukan keberatan karena besarnya ketidakpastian di tingkat keberatan. Dan wajib pajakpun bersedia melakukan pembayaran SKPKB tersebut karena bila keberatannya dikabulkan, wajib pajak akan menerima imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak tersebut.

Menurut kami, UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 telah mendudukkan wajib pajak dan fiskus pada posisi yang sederajat.

(7)

5. Bahwa PP Nomor 80 Tahun 2007 yang dibuat tanpa persetujuan wakil rakyat dan hanya berdasarkan Pasal 48 UU KUP Nomor 6 Tahun 1983 yang telah diubah terakhir dengan UU Nomor 28 Tahun 2007, menyatakan : “ hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah”, ternyata mengatur kembali masalah imbalan bunga pada Pasal 24 di PP Nomor 80 Tahun 2007, yang mengutip kembali Pasal 27A UU KUP tersebut tetapi menambah aturan baru pada Pasal 24 ayat (5) yang ternyata mengakibatkan tidak adanya imbalan bunga pada proses keberatan. Untuk lebih jelasnya, kami kutipkan Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 Tahun 2007 :

“Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan terhadap:

kelebihan pembayaran akibat Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang seluruhnya disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

kelebihan pembayaran akibat Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas sebagian jumlah pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang tidak disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, namun dibayar sebelum pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali, atau sebelum diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali. Penjelasannya Pasal 24 ayat (5) :

Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah adanya kemungkinan Wajib Pajak memperoleh imbalan bunga yang seharusnya tidak diterima sehubungan dengan pengajuan keberatan, permohonan banding, atau permohonan peninjauan kembali.

Oleh karena itu, terhadap sebagian jumlah pajak yang tercantum dalam surat ketetapan pajak yang tidak disepakati dalam pembahasan akhir pemeriksaan dan dibayar oleh Wajib Pajak sebelum mengajukan keberatan, namun dalam surat keputusan keberatan, pengajuan keberatan tersebut dikabulkan sebagian atau seluruhnya sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak, terhadap kelebihan pembayaran pajak tersebut tidak diberikan imbalan bunga. Demikian pula, dalam hal kelebihan pembayaran pajak tersebut diakibatkan adanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, kelebihan pembayaran tersebut tidak diberikan imbalan bunga.

Contoh 1:

Untuk tahun pajak 2008, terhadap PT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00. Dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp200.000.000,00, akan tetapi Wajib Pajak telah melunasi seluruh SKPKB tersebut sebesar Rp 1.000.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp600.000.000,00. Dalam hal ini, Wajib Pajak memperoleh kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp400.000.000.00 (Rp1.000.000.000,00-Rp600.000.000,00). Berdasarkan ketentuan pada ayat ini, atas kelebihan pembayaran pajak Rp400.000.000,00 tidak diberikan imbalan bunga.

Demikian halnya, bagi Wajib Pajak yang menyetujui seluruh temuan pemeriksaan dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang mengakibatkan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dan Wajib Pajak telah melunasi pajak yang masih harus dibayar tetapi mengajukan keberatan, dan dalam hal keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak, terhadap kelebihan pembayaran pajak tersebut tidak diberikan imbalan bunga. Demikian pula, dalam hal kelebihan pembayaran pajak tersebut diakibatkan adanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, kelebihan pembayaran tersebut tidak diberikan imbalan bunga.

Contoh 2:

Untuk Tahun Pajak 2008, terhadap PT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 1.000.000.000,00. Dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 1.000.000.000,00, dan telah melunasi seluruh SKPKB tersebut sebesar Rp 1.000.000.000,00. Namun Wajib Pajak kemudian mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak tersebut.

Atas keberatan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan dengan menolak permohonan. Wajib Pajak sehingga jumlah pajak yang masih harus dibayar tetap sebesar Rp 1.000.000.000,00.

Wajib Pajak kemudian mengajukan banding atas Keputusan Keberatan tersebut. Atas banding Wajib Pajak, Pengadilan Pajak mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sehingga jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp700.000.000,00. Dalam hal ini, Wajib Pajak memperoleh kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp300.000.000,00 (Rp 1.000.000.000,00-Rp700.000.000,00). Berdasarkan ketentuan pada ayat ini, atas kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp300.000.000,00 tidak diberikan imbalan bunga “.

Berdasarkan Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 Tahun 2007, SKPKB yang tidak disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan maupun yang telah disetujui, yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan, tidak akan diberikan

(8)

6. Bahwa penjelasan Pasal 24 ayat (5) agak sulit diterima oleh akal sehat karena dapat dengan mudah disiasati oleh Wajib Pajak dengan cara membayar SKPKB setelah mengajukan Keberatan.

7. Bahwa untuk SKPKB yang telah disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan maka pengajuan Keberatan dengan pembayaran setelah mengajukan Keberatan akan ditolak oleh Dirjen Pajak karena melanggar Pasal 25 ayat 3a dan ayat (4), UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 yang berbunyi: “Dalam hal WP mengajukan keberatan atas SKP, WP wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui WP dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan” dan “ Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (3a) bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan”. Artinya cara seperti tersebut di atas tidak dapat dilakukan.

8. Bahwa untuk SKPKB yang tidak disetujui dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan maka pengajuan Keberatan dengan pembayaran setelah mengajukan Keberatan akan mendapat bunga bila Keberatannya dikabulkan tetapi akan menghadapi resiko terkena denda sebesar 50% sesuai dengan Pasal 25 ayat (9), UU KUP Nomor 28 Tahun 2007, yang berbunyi : “ Dalam hal keberatan WP ditolak atau dikabulkan sebagian, WP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan”.

9 Bahwa aturan-aturan dalam PP Nomor 80 Tahun 2007 melukai rasa keadilan WP. Konsep bunga atas modal/uang adalah konsep waktu atas modal /uang yang tertanam/dipinjamkan/dipakai oleh pihak lain. Ketika WP membayar SKPKB sebelum pengajuan Keberatan maka wajar bila WP memperoleh bunga bila uang tersebut dikembalikan karena Keberatannya dikabulkan., sebab ada jangka waktu sejak WP membayar dengan saat Dirjen Pajak mengembalikan uang tersebut. Menjadi tidak wajar bila WP telah membayar SKPKB setelah pengajuan Keberatan tetapi tetap dikenakan denda 50% bila ternyata Keberatannya ditolak. Bukankah Dirjen Pajak telah menyimpan uang tersebut sejak dibayar hingga putusan Keberatan diterbitkan, sehingga dapat disimpulkan Dirjen Pajak telah menerima bunga selama jangka waktu tersebut.

10 Bahwa berdasarkan urutan perundang-undangan yang berlaku, PP berkedudukan di bawah UU sehingga aturan PP yang berlawanan dengan aturan UU, harus batal demi hukum. Menurut kami Pasal 24 ayat (5) PP Nomor 80 Tahun 2007 bertentangan dengan Pasal 27A ayat (1), UU Nomor 28 Tahun 2007.

11 Bahwa dengan demikian, telah terbukti pula secara nyata-nyata bahwa amar pertimbangan dan amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.

41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 tersebut telah dibuat dengan tidak berdasarkan kepada fakta- fakta yang ada dan yang telah nyata-nyata terungkap dalam pemeriksaan sengketa gugatan tersebut, bukti yang valid serta aturan perpajakan yang berlaku mengenai imbalan bunga, sehingga hal tersebut terbukti dengan jelas dan nyata- nyata telah melangggar ketentuan perpajakan yang berlaku, maka Putusan pengadilan Pajak Nomor : Put.

41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 tersebut adalah cacat secara hukum dan harus dibatalkan demi hukum.

PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat :

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dapat dibenarkan, karena Putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan menolak permohonan gugatan Penggugat atas Keputusan Tergugat Nomor : KEP-571/WPJ.18/KP0708/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Permohonan Imbalan Bunga atas nama Penggugat sekarang Pemohon Peninjauan Kembali, NPWP: 0X.XXX.XXX.X-XXX.001, adalah nyata-nyata bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 91 huruf e Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dengan pertimbangan :

a. Bahwa alasan-alasan permohonan peninjauan kembali dalam perkara a quo dapat dibenarkan, karena dalil-dalil yang diajukan dalam Memori Peninjauan Kembali dalam angka 1,2,3,10 dan 11 oleh Pemohon Peninjauan Kembali dihubungkan dengan Kontra Memori Peninjauan Kembali dapat menggugurkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang terungkap dalam persidangan serta pertimbangan hukum Majelis Pengadilan Pajak, dimana Penggugat memiliki hak untuk menerima kembali atas kelebihan pembayaran pajak berupa bunga sebesar 2% setiap bulan dan maksimum dapat diberikan 24 bulan atau ekivalen 48% yang dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan

pembayaran sampai dengan terbitnya putusan yang berkekuatan hukum tetap yaitu Putusan Banding/Gugatan atau Peninjauan Kembali ;

b. Bahwa dengan demikian, Imbalan Bunga dapat diberikan sejalan dengan ketentuan Pasal 27 A ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2007, oleh karena itu Imbalan Bunga dapat dibayarkan manakala bagi Pencari Keadilan

(9)

(Wajib Pajak atau Penanggung Pajak) yang hak-hak konstitusinya telah dirugikan akibat dari dan/atau telah memperoleh Putusan Banding/Gugatan atau Putusan Peninjauan Kembali ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, menurut pendapat Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali : PT. ABC dan membatalkan Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 serta Mahkamah Agung mengadili kembali perkara ini dengan amar seperti yang akan disebutkan dibawah ini ;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim Agung telah membaca dan mempelajari Jawaban Memori Peninjauan Kembali dari Termohon Peninjauan Kembali, namun tidak ditemukan hal-hal yang dapat melemahkan alasan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali ;

Menimbang, bahwa dengan dikabulkannya permohonan peninjauan kembali, maka Termohon Peninjauan Kembali dinyatakan sebagai pihak yang kalah, dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam peninjauan kembali ini ;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait ;

MENGADILI,

Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : PT. ABC tersebut ; Membatalkan Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put. 41770/PP/M.XV/99/2012 tanggal 28 November 2012 ;

MENGADILI KEMBALI

• Mengabulkan gugatan Penggugat ;

Menghukum Termohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam pemeriksaan peninjauan kembali ini sebesar Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu Rupiah) ;

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari : Kamis, tanggal 11 Desember 2014 oleh Dr. H. VWX, S.H.,M.H. Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. H.YZA, S.H.,M.S. dan Dr. H. BCD, S.H.,M.Hum. Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh EFG, S.H.,M.H. Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak ;

Anggota Majelis : ttd/.

Dr. H.YZA, S.H.,M.S.

ttd/.

Dr. H. BCD, S.H.,M.Hum.

Ketua Majelis, ttd/.

Dr. H. VWX, S.H.,M.H.

(10)

Biaya-biaya

1. M e t e r a i ... Rp 6.000,00 2. R e d a k s i ... Rp 5.000,00 3. Administrasi …... Rp2.489.000,00 Jumlah …... Rp2.500.000,00

Panitera Pengganti, ttd/.

EFG, S.H.,M.H.

Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.

a.n. Panitera

Panitera Muda Tata Usaha Negara

(HIJ, SH.) Nip. XX0000XXX.

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada

Bahwa barang yang kami impor adalah : Fireworks (Kembang Api) Bahwa dalam persidangan Terbanding tidak menyerahkan PIB pembanding barang serupa yang dijadikan dasar penetapan

Bahwa dengan demikian menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) atas discount asuransi tersebut bukanlah merupakan penyerahan jasa kena pajak seperti yang

Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf a dan huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2014

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan sebagian Permohonan banding Pemohon

Bahwa apabila menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) persediaan akhir 2007 telah disampaikan dalam SPT Masa PPN 2008, dan atas SKP/pemeriksaan tahun pajak

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menolak permohonan banding Pemohon Banding terhadap

dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak tidak dapat dibenarkan, karena setelah meneliti dan menguji kembali dalil-dalil yang diajukan dalam Memori Peninjauan Kembali