• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGALAMAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DI KRL COMMUTER LINE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGALAMAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DI KRL COMMUTER LINE"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PENGALAMAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DI KRL COMMUTER LINE

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Hani Hanifah 11141110000054

HALAMAN JUDUL

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

HIDAYATULLAH JAKARTA

2021

(2)

i

(3)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswi:

Nama: Hani Hanifah NIM: 11141110000054 Program Studi: Sosiologi

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

PENGALAMAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DI KRL

COMMUTER LINE

………

………

………

dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.

Jakarta, 13 Juli 2021

Mengetahui, Menyetujui,

Ketua Program Studi Dosen Pembimbing

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si Dr. Vinita Susanti, M.Si NIP. 197609182003122003 NIP.196501151991032002

(4)

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

SKRIPSI

PENGALAMAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DI KRL COMMUTER LINE

Oleh:

Hani Hanifah 11141110000054

Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 13 Juli 2021 Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Sosiologi.

Ketua, Sekretaris,

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si Dr. Joharotul Jamilah,M.Si NIP. 197609182003122003 NIP.196808161997032002

Penguji I, Penguji II,

Dr. Iim Halimatusa’diyah, M.A Kasyfiyullah, M.Si

NIP. 198101122011012009 NIP. 197701192009121001 Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 13 Juli 2021

Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UIN Jakarta

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si NIP. 197609182003122003

(5)

iv ABSTRAK

Penelitian ini berupaya menganalisa mengenai pengalaman korban pelecehan seksual di Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line dengan menggunakan perspektif feminisme radikal. Dalam penulisannya penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara secara mendalam terhadap beberapa korban pelecehan seksual, serta menggunakan data-data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber terpercaya dengan pemilihan narasumber didasarkan pada metode teknik sampling snowball dan dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Pelecehan seksual di KRL commuter line merupakan tindak kejahatan karena perilaku tersebut merugikan bagi korban yang umumnya adalah perempuan. Pengalaman pelecehan seksual yang dialami oleh korban juga memberikan dampak yang buruk terutama berimbas pada psikologis korbannya. Perempuan sering kali menjadi korban pelecehan seksual dikarenakan perempuan masih tersubordinasi oleh konstruksi sosial di masyarakat. Pelecehan seksual di KRL commuter line disebabkan oleh ketertindasan perempuan dalam sistem seks ataupun gender dimana ketertindasan perempuan bermula di ranah pribadi hingga pada ranah publik.

Kata kunci: Pelecehan seksual, Korban, Gender, Seksualitas, Perempuan dan KRL commuter line.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah segala puji dan dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengalaman Korban Pelecehan Seksual di KRL Commuter Line”. Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, para pengikut dan para penerus perjuangan beliau hingga akhir zaman.

Penulisan skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penyusunannya, penulis tentunya dibantu oleh berbagai pihak, baik berupa do’a, dukungan dan bimbingannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ali Munhanif, M.A. Selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si dan Ibu Dr. Joharotul Jamilah, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

vi

3. Ibu Dr. Vinita Susanti, M.Si selaku dosen pembimbing yang banyak membantu dan memberikan masukan, motivasi dan arahan selama proses penulisan skripsi ini.

4. Ibu Dr. Iim Halimatusa’diyah, M.A dan Bapak Kasyfiyullah, M.Si selaku Dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan dalam penulisan skripsi ini.

5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Prodi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mengajarkan banyak ilmu, pengetahuan, inspirasi dan bimbingannya selama masa perkuliahan.

6. Para staff pengurus bidang akademik dan administrasi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu pengurusan berkas dalam proses penulisan skripsi ini.

7. Segenap pengelola Perpustakaan Utama dan Perpustakaan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta pengelola Perpustakaan Utama dan Perpustakaan FISIP Universitas Indonesia (UI) yang telah membantu penulis dalam mencari buku-buku referensi dan jurnal-jurnal guna kebutuhan dalam penulisan skripsi ini.

8. Kedua orang tua ku tercinta Bapak dan Mimi terima kasih atas segala kasih sayang, cinta, pengorbanan, semangat dan semua do’a nya sehingga penulis bisa bertahan sampai sekarang dan mampu menyelesaikan skripsi ini.

9. Seluruh saudaraku tersayang A. Afifi, A. Wildan, A. Firdaus, A. Salman, Teh Nazilah dan Dede Azka Tamam terima kasih atas segala do’a,

(8)

vii

semangat, kasih sayang dan ocehan kalian yang membuat penulis semangat menyelesaikan skripsi ini.

10. Sahabat-sahabat Sosiologi B 2014 terkhusus Viki, Mela, Nining dan Tina terima kasih untuk waktu, cinta, support, nasihat, kenangan dan dukungannya selama masa pekuliahan sampai selesai penulisan skripsi ini.

11. Teman KKN 073 “Pena Emas” terkhusus Vida, Reo dan Elfrida terima kasih atas supportnya.

12. Mba Bela KCI terima kasih atas data-data yang telah diberikan untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

13. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini.

Sudah tentu terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun dari setiap pembaca sangat penulis harapkan, demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan dan membutuhkannya sebagai referensi penulisan penelitian yang terkait.

Jakarta, 22 Juni 2021

Hani Hanifah

(9)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... 1

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ...Error! Bookmark not defined. PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii

ABSTRAK ...iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Pernyataan Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 10

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

1. Tujuan Penelitian ... 10

2. Manfaat Penelitian ... 10

D. Tinjauan Pustaka ... 11

E. Kerangka Teori………..16

1. Pelecehan Seksual………16

2. Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual………18

3. Korban Pelecehan seksual………19

4. Feminisme Radikal……….21

F. Metode Penelitian ... 16

1. Pendekatan Penelitian ... 25

2. Metode Pengumpulan Data ... 26

3. Metode Analisis Data ... 31

G. Sistematika Penulisan ... 32

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 34 A. Kereta Commuter Indonesia (KCI) ...Error! Bookmark not defined.

B. Peningkatan Layanan KCI ...Error! Bookmark not defined.

(10)

ix

C. Peta Rute KRL Commuter Line……….40

BAB III PEMBAHASAN ... 46

A. Pengalaman Korban Pelecehan Seksual ... 46

B. Dampak Korban Pelecehan Seksual ...Error! Bookmark not defined. C. Perempuan Korban Pelecehan Seksual dalam Kajian Feminisme Radikal ………….……….…..…………54

BAB IV PENUTUP ... 59

A. Kesimpulan ……….……….………..59

B. Saran ……….……….…..60

DAFTAR PUSTAKA ... 62 LAMPIRAN

(11)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1.A. 1 Pelaporan Kasus Pelecehan Seksual ... 4

Tabel I.E. 1 Bentuk-bentuk Pelecehan Seskual Menurut Grubber dkk (1996)…….19

Tabel I.F. 1 Informasi Tentang Narasumber ... 420

Tabel II.C. 1 Jumlah Penumpang Tiap Perlintasan Tahun 2018 ... 18

Tabel III.A. 1 Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual yang Dialami Narasumber ... 54

Tabel III.C. 1 Korban Pelecehan Seksual………..54

DAFTAR GAMBAR Gambar II. 1 Kereta Khusus Wanita (KKW)………...37

(12)

xi

Gambar II. 2 Kampanye Pelecehan Seksual di Stasiun Sudirman………..……38

Gambar II. 3 Peta Rute KRL Commuter Line………40

Gambar II. 4 Keadaan Berdesakan di Dalam Kereta………..43

Gambar II. 5 Humas Cikini………44

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

Sarana transportasi massal seperti Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line merupakan primadona bagi sebagian besar warga di wilayah metropolitan Jakarta dalam mendukung usaha pemenuhan kebutuhan transportasi. Ratusan warga baik di Ibukota Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang setiap harinya menggunakan jasa KRL commuter line selain tarifnya yang relatif murah penumpang yang sebagian besar karyawan, dan pelajar bisa mencapai tempat tujuan lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum lainnya. Hal inilah yang kemudian menurut Annisa (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan alasan para penumpang rela berdesakan saat berada di commuter line. Sayangnya, pelayanan angkutan tersebut masih mengabaikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi para penumpangnya. Situasi berdesakan di dalam KRL commuter line ini juga bisa dimanfaatkan oleh para pelaku pelecehan seksual untuk melakukan aksinya kepada penumpang. Banyak diantara penumpang perempuan yang kerap kali menjadi korban pelecehan seksual (Karliana dan Prabowo, 2014)

Mengutip Kalyanamitra pelecehan seksual bisa dilakukan dan dialami oleh siapa saja. Tetapi pada kenyataannya banyak kasus menunjukkan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban. Pelecehan seksual juga bisa terjadi pada orang yang tidak saling mengenal sebelumnya. Tidak ada batasan mengenai kelas

(14)

2

sosial, suku, ras, pendidikan, sosial ekonomi. Tidak ada batasan waktu dan tempat, bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Seperti rumah, tempat kerja, sekolah, angkutan dan tempat umum lainnya (Pireno, 2005:5).

Seperti halnya yang dialami penumpang bernama Virginia hingga ceritanya menjadi viral. Mengutip Purnamasari (2017) (dalam https://m.detik.com/). Ia memang tidak mengalami pelecehan seksual secara langsung namun ia melihat kejadian tersebut di dekatnya bahkan di depan matanya sendiri. Ia pun mengungkapkan kejadiannya lewat curhat di Instagram Stories. Ia menulis berdasarkan kejadian yang dialaminya, saat naik KRL commuter line tujuan Bekasi, Ia berdiri di belakang pelaku dimana kondisi kereta dalam keadaan penuh dan berdesakan. Ia menggambarkan sosok pelaku sebagai orang yang menyeramkan. Ia kemudian perlahan pindah dari posisinya. Ia yang melihat aksi pelaku langsung kaget dan ketakutan. Sebab, si pelaku pelecehan terus menerus menatap dirinya.

Dalam situasinya yang ketakutan, ia langsung menelepon ayahnya. Dia juga mencoba meminta bantuan kepada penumpang yang berada disebelahnya. Namun ternyata penumpang tersebut ketakutan. Begitu kereta tiba di stasiun Bekasi, ia langsung mengambil ancang-ancang dan langsung keluar dari kereta berusaha melewati desakan. Ia berlari untuk menemui petugas keamanan. Namun rupanya si pelaku ikut mengejar dirinya. Beruntung ia akhirnya bertemu petugas keamanan.

Sama halnya kisah yang di alami oleh S (nama inisial) yang diceritakan oleh temannya bernama Dina (Diakses dari https://news.detik.com/) kepada Putri (2011) Detikcom pada Selasa 26 April 2011 dan juga diposting di milis KRL-Mania.

Menurut Dina, rekannya saat itu naik commuter linejurusan Tanah Abang dari

(15)

3

stasiun Universitas Pancasila dan saat itu kereta dalam keadaan sangat padat, belum lagi ditambah dengan orang-orang masuk pada stasiun berikutnya. Desakan penumpang dari stasiun selanjutnya memaksa temannya untuk lebih jauh ke dalam gerbong. Di dalam kereta dia tidak mencurigai apapun saat melihat sekitar 10 pria bergerombol, tanpa di sadari hal tak terduga terjadi ketika pria yang dibelakangnya menurunkan tangan yang ternyata sedang membuka celana panjangnya dan mengeluarkan alat vitalnya kemudian menggesekkan di bagian belakang rekannya.

Teman-teman pria lainnya seperti menutupi kejadian yang ada. Yang lebih miris ketika rekannya meminta tolong, tidak ada yang bisa membantu karena kondisi kereta yang sangat padat.

Meskipun pada umumnya para korban pelecehan seksual adalah perempuan, namun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria pun tidak pernah mengalami pelecehan seksual. Mengutip Pradewo (2017) (dalam https://www.jawapos.com/) Seperti yang diungkapkan Deddy Herlambang, perwakilan kelompok pengguna commuter line atau disebut CL Mania saat berkunjung ke Redaksi Jawa Pos.com di Gedung Graha Pena, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Kamis (14/12). Menurutnya, korban pelecehan seksual tidak semuanya perempuan, temannya (laki-laki) pun pernah mengalami pelecehan seksual yang ternyata pelaku pelecehan seksual itu mempunyai kelainan. Karena sesama laki-laki, pelaku tetap memburu korban dengan cara meremas alat kelaminnya. Beruntung kejadian tersebut sempat diketahui oleh korban. Namun, kejadian itu tidak sampai dilaporkan ke pihak kepolisian.

(16)

4

Selain dari dari tiga kasus tersebut, tentunya masih banyak terjadi kasus pelecehan seksual baik di peron-peron stasiun maupun di dalam KRL commuter line. Berikut tabel di bawah ini menunjukan total jumlah pelaporan kasus pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line:

Tabel I.A.1 Pelaporan Kasus Pelecehan Seksual

Tahun Total

2017 26

2018 34

2019 35

(Sumber: http://www.krl.co.id/ )

Melihat tabel di atas, kasus pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line setiap tahunnya mengalami peningkatan. Meski demikian, tidak ada satupun kasus pelecehan seksual dilanjutkan dengan laporan ke aparat penegak hukum. Kita sebagai penumpang yang sudah membayar hendaknya mendapatkan pelayanan yang layak dari pihak KRL commuter line(Ibid).

Alasan-alasan kasus pelecehan seksual tidak dilaporkan oleh korban kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti karena beberapa faktor diantaranya korban merasa malu dan tidak ingin aib yang menimpa dirinya diketahui oleh orang lain.

Hal tersebut tentu saja mempengaruhi mental atau kejiwaan dari para korban dan juga berpengaruh pada proses penegakan hukum itu sendiri untuk mewujudkan rasa keadilan bagi korban. Faktor korban sangat berperan penting untuk dapat mengatasi atau menyelesaikan kasus pelecehan seksual tersebut, sehingga memerlukan

(17)

5

keberanian dari korban untuk melaporkan kejadian yang menimpanya kepada pihak yang berwenang, karena pada umumnya korban mengalami trauma dan takut atas apa yang telah menimpa dirinya (Marwayanti, 2015)

Direkur LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Siti Mazuma juga mengatakan keengganan korban untuk melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya karena sistem hukum di Indonesia yang belum memihak korban. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Rika Rosvianti dari komunitas perEMPUan menurutnya lemahnya sistem hukum di Indonesia dalam hal pelecehan dan kekerasan seksual penyebabnya ialah belum adanya undang-undang pelecehan seksual yang spesifik mengatur kekerasan seksual. Keengganan korban untuk melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya juga bisa disebabakan oleh faktor psikologis yang datang dari dirinya sendiri maupun keluarga dan lingkungannya seperti perasaan trauma, reaksi victim blaming, atau bahkan kecanderungan lingkungan untuk lebih membela pelaku (diakses dari https://www.kompas.com pada 25 juli 2020).

Menurut tanggapan kaum feminis (dalam Tong, 1984), pelecehan seksual dapat terjadi dikarenakan relasi kekuasaan yang tidak imbang, dimana perempuan memiliki kedudukan yang inferior. Relasi kekuasaan yang tidak imbang antara laki- laki dan perempuan ini tidak hanya terlihat dari bentuk fisik saja, namun secara umum, ketimpangan ini juga dapat dilihat dari siapa yang memegang kekuasaan di ranah politik, sosial, ekonomi dan pemerintahan dimana kaum laki-laki lebih memiliki andil besar daripada kaum perempuan. Pelecehan seksual adalah penyalahgunaan kekuasaan serta ekspresi dari seksualitas laki-laki. Dimana

(18)

6

pelecehan dapat terjadi karena berasal dari relasi posisi yang menempatkan laki- laki lebih tinggi dari pada perempuan, dan dalam hal ini si pelaku pelecehan memegang kendali atas posisi superiornya (Dwiyanti, 2013).

Angka kekerasan yang khas ditujukan kepada perempuan dikarenakan “mereka perempuan” seperti halnya pelecehan seksual, kekerasan seksual, tindak perkosaan cenderung meningkat setiap tahunnya. Kekerasan tersebut bisa dipahami sebagai kekerasan berbasis gender. Konsep tersebut mengacu pada posisi subordinasi perempuan karena relasi keduanya mencerminkan powerless dan powerful, dengan kata lain, terdapat ketimpangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat (Sihite, 2007).

Pelecehan seksual diakui dapat menimpa siapapun, kelas, ekonomi, ras, jenis kelamin apapun. Namun, mayoritas yang menjadi korban adalah perempuan.

Persoalannya ialah bahwa di sejumlah negara tindakan ini belum tersentuh oleh hukum karena belum diatur secara tegas termasuk di Indonesia. Meskipun demikian, khusus di Indonesia tindakan tersebut dapat dirujuk pada kitab Undang- Undang Hukum Pidana tentang pelanggaran kesusilaan atau perbuatan tidak menyenangkan atau pencabulan. Jadi pelaku pelecehan seksual tidak bebas begitu saja, tetapi dapat dibawa ke meja hijau dan dikenai sanksi. Persoalannya ialah korban sering terbentur sulitnya menghadirkan saksi serta bukti-bukti yang akurat (Ridwan, 2006).

Pasal-pasal yang mengatur tentang tindak pidana pelecehan seksual tersebut terdapat dalam KUHP mengenai kejahatan kesusilaan dan pelanggaran kesusilaan.

(19)

7

Pencabulan (pasal 289-296; 2) penghubungan pencabulan (pasal 286-288). Padahal dalam kenyataan, apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual belum masuk dalam kategori yang dimaksud dalam pasal-pasal tersebut. Konsepsi kekerasan menurut KUHP, sebagaimana tertuang dalam pasal 289 KUHP yang berbunyi

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”. Pengertian tersebut hanya memberikan penjelasan penggunaan kekerasan secara fisik, padahal masih ada bentuk penggunaan kekerasan secara psikis seperti pada kasus korban pelecehan seksual, hal ini tidak terangkum dalam KUHP. (Kinasih, 2007) (dalam http://journal.unair.ac.id).

Kasus pelecehan seksual yang terjadi di dalam commuter line tentu sudah sering menjadi perhatian publik selama ini. PT KAI sendiri terhitung mulai tanggal 1 April 2003 mengkhususkan dua gerbong, yakni gerbong satu dan dua kereta rel listrik hanya untuk penumpang perempuan. Langkah tersebut merupakan respons dari manajemen PT KAI sehubungan banyaknya dari penumpang perempuan yang mengalami pelecehan seksual selama dalam perjalanan (Tamarasari, 2004).

Inovasi kereta khusus wanita (KKW) juga kemudian hadir untuk memenuhi kebutuhan pengguna commuter line, khususnya para wanita yang ingin menggunakan Commuter line tanpa berbagi ruang dengan laki-laki. KKW mulai berlaku sejak 19 Agustus 2010 dengan kereta pertama dan terakhir dalam setiap rangkaian kereta khusus untuk penumpang wanita. Dengan hadirnya kereta khusus

(20)

8

wanita ini diharapkan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para wanita yang menggunakan Commuter line (diakses dari http://www.krl.co.id/ pada 20 Juli 2018).

Mengutip Latif 2017 (dalam https://kumparan.com/). Menurut data PT KAI Commuter Jabodetabek, sebanyak 1.050.000 penumpang menggunakan jasa commuter line setiap harinya. Pasalnya jumlah penguna commuter line tidak sebanding dengan jumlah gerbong dan armada yang disediakan commuter line.

Akibatnya terjadi desak-desakan penumpang pada jam-jam sibuk yaitu saat jam berangkat kantor pada pagi hari dan pulang kantor pada sore hari. Humas PT KCI Eva Chairunisa juga menanggapi masalah yang dihadapi pengguna commuter line.

Menurutnya soal desak-desakkan di dalam commuter line, khususnya pagi dan sore hari itu sebenarnya hal yang biasa, terlebih untuk angkutan publik berbasis massal memang karena kapasitas angkutnya banyak, ditambah lagi dengan meningkatnya volume penumpang saat ini sangat pesat sehingga hal yang bisa dilakukan hanya melakukan sisi pengamanan oleh petugas-petugas yang diperon dan mereka akan memberikan himbauan kepada penumpang untuk tidak memaksakan diri apabila kondisi kereta dalam keadaan sudah sangat padat. Kendati pun demikian, para penumpang sering tidak menghiraukan himbauan petugas-petugas commuter line tersebut dikarenakan sebagian besar dari penumpang ialah karyawan, mahasiswa dan pelajar sehingga mereka lebih memilih berdesakan di dalam perjalanan commuter line ketimbang terlambat sampai tempat tujuan.

Pada tahun 2018 pun pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menggelar sosialisasi aksi pelecehan seksual untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada

(21)

9

para penumpangnya. Adapun sosialisasi bertema “Komuter Pintar Peduli Sekitar”

itu digelar di stasiun Bogor, Sabtu 24 april 2018. Mengutip Aji Pitoko (2018), dalam https://ekonomi.kompas.com/). Humas PT KCI Eva Chairunnisa juga mengatakan,

bahwa pihaknya mencatat belasan kasus pelecehan seksual yang terjadi di dalam maupun di stasiun commuter line sepanjang 2017. Namun Ia juga menyayangkan dari semua kasus pelecehan tersebut, tak satu pun dari pelakunya mendapat hukuman sesuai aturan hukum yang berlaku. Ini karena keengganan korban melanjutkan laporan kasusnya sesuai prosedur aparat penegak hukum. Melalui sosialisasi ini, Ia meminta pengguna commuter line untuk aktif melapor kepada petugas jika melihat penumpang lain menjadi korban pelecehan seksual. Selain itu, ia juga mengimbau penumpang tidak hanya mendokumentasikan peristiwa tersebut untuk disebarkan melalui media sosial, ia berharap masyarakat ikut serta melapor ke pihak berwajib, karena menurutnya ada pihak-pihak yang senantiasa bersedia memberikan pendampingan hingga selesainya proses hukum.

Dengan melihat latar belakang di atas, maka studi yang berjudul “Pengalaman Korban Pelecehan Seksual di KRL Commuter line” menjadi penting untuk dikaji secara mendalam dengan menggunakan teori feminisme radikal, melihat banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual terjadi di tempat umum, khususnya juga terjadi di transportasi massal seperti KRL commuter line. Dimana pelecehan seksual tersebut tidak bisa dihindari terlebih para pelaku biasa memulai aksinya dalam keadaan kereta padat dan berdesakan.

(22)

10 B. Pertanyaan Penelitian

Mengacu pada pernyataan penelitian yang telah di paparkan di atas maka pertanyaan dalam penelitian ini meliputi:

1. Bagaimana pengalaman korban pelecehan seksual di KRL commuter line?

2. Bagaimana dampak yang dialami oleh korban pelecehan seksual di KRL commuter line?

3. Mengapa perempuan lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini ialah dapat mengetahui pengalaman para korban, dampak yang dialami oleh korban terkait kasus pelecehan seksual yang menimpanya dan mengapa perempuan lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line

2. Manfaat Penelitian

Secara Akademis: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan secara teoritis terkait proses pengalaman dan dampak yang dirasakan oleh korban pelecehan seksual di KRL commuter line. Sehingga secara akademis penelitian ini menjadi signifikan untuk memberikan sumbangan pengetahuan mengenai apa yang dialami korban pelecehan seksual sebagai

(23)

11

suatu fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dan dapat meresahkan sekaligus merugikan banyak orang.

Secara Praktis: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan rujukan bagi para akademisi dan instansi. Dan nantinya penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam membuat kebijakan yang lebih peka dan tanggap terhadap permasalahan-permasalahan kekerasan terhadap perempuan yang selama ini masih dianggap sebagai masalah yang kurang atau bahkan tidak perlu disikapi lebih lanjut secara hukum.

D. Tinjauan Pustaka

Banyak dari penelitian sebelumnya yang membahas tentang pelecehan seksual.

Baik penelitian pelecehan seksual di transportasi umum seperti KRL commuter line, di tempat kerja, pelecehan seksual dengan pendekatan kriminologi maupun pelecehan seksual dengan pendekatan feminisme, seperti beberapa penelitian di bawah ini:

Menurut kategori tentang pelecehan seksual di KRL commuter line terdapat dalam penelitian Menurut kategori tentang pelecehan seksual di KRL commuter line terdapat dalam penelitian Tamarasari (2004), tentang “Terrorisme Seksual Terhadap Perempuan Pengguna Jasa commuter line Jakarta-Bogor (Persepsi Perempuan Pengguna Jasa commuter line Jakarta-Bogor Terhadap Pelecehan Seksual Sebagai Bentuk Terrorisme Seksual)” menjelaskan bahwa pelecehan seksual di gerbong commuter line menimbulkan perasaan terintimidasi, perasaan

(24)

12

takut dan perasaan terancam khususnya bagi mereka yang pernah menjadi korban.

Hal ini membuktikan bahwa pelecehan seksual di dalam gerbong commuter line merupakan suatu bentuk terrorisme seksual. Dimana menurut Sekjen Komnas Perempuan Kamala Chandrakirana mengatakan bahwa terrorisme seksual merupakan penyerangan yang meluas yang ditujukan pada tubuh dan seksualitas perempuan, yang menciptakan kondisi dimana korban senantiasa merasa terintimidasi dan terancam akibat keberadaannya sebagai perempuan. Dengan menggunakan metode kuantitatif dan penelitian survey yang menggunakan instrumen kuesioner sebagai alat bantu diharapkan dapat mengukur persepsi perempuan pengguna jasa commuter line mengenai pelecehan seksual sebagai bentuk terrorisme seksual.

Terdapat persamaan dengan penelitian diatas pada lokasi penelitian, dampak yang dirasakan korban. Namun perbedaannya terdapat dalam pengalaman yang dialami oleh korban tidak dijelaskan dalam penelitian di atas serta metode penelitian yang digunakan dimana penlitian di atas menggunakan metode penelitian kuantitatif.

Penelitian sebelumnya dengan menggunakan pendekatan kriminologis diantaranya penelitian dari Marwayanti (2015) tentang “Tinjauan Kriminologis Terhadap Kejahatan Pelecehan Seksual (Studi Kasus Tahun 2011-2013 di Kota Makassar)” menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kejahatan pelecehan seksual karena adanya beberapa hal yakni: pergaulan bebas, faktor lingkungan, perkembangan teknologi yang semakin canggih, kurangnya pemahaman terhadap hukum dan faktor alkohol. Teori yang digunakan dalam

(25)

13

penelitian ini mengenai kejahatan. Metode yang digunakan ialah kualitatif yang kemudian disajikan secara deskriptif, serta teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi kepustakaan serta wawancara langsung dengan pihak- pihak yang berkompeten.

Terdapat persamaan dalam penelitian di atas dimana kasus yang diangkat mengenai pelecehan seksual dan metode penelitian kualitatif, namun terdapat banyak perbedaan dalam penelitian yang dilakukan penulis, dimana teori yang digunakan dan lokasi penelitian yang berbeda.

Penelitian sebelumnya dengan menggunakan pendekatan feminisme diantaranya penelitian dari Dwiyanti (2013) , Marcheyla (2013) seperti dalam uraian berikut ini:

Fiana Dwiyanti dalam risetnya tentang “Pelecehan Seksual Pada Perempuan di Tempat Kerja (Studi Kasus Kantor Satpol PP Provinsi DKI Jakarta)” yang dimuat dalam (Jurnal Kriminologi Indonesia Volume 10 No. 1, Mei 2014) menjelaskan bahwa terjadinya pelecehan seksual dipengaruhi oleh faktor-faktor penyebab pelecehan seksual di Kantor Satpol PP DKI Jakarta. Adapun tiga faktor utamanya adalah budaya lingkungan kerja yang didominasi oleh laki-laki dan bersifat maskulin. Karakteristik korban yang rentan tertimpa pelecehan seksual ialah perempuan yang sudah menikah. Dan karakter pelaku kebanyakan laki-laki yang memiliki jabatan lebih tinggi dari yang dilecehkan. Ada berbagai penyebab munculnya perilaku pelecehan seksual di tempat kerja diantaranya adalah dominasi laki-laki pada sistem manajemen, dominasi kekuatan laki-laki terhadap perempuan,

(26)

14

pengaruh media massa dan ideologi, adanya standar ganda dalam sistem sosial masyarakat, perempuan yang tidak asertif dan struktur pekerjaan yang lebih mengutamakan kaum laki-laki. Dalam penelitiannya Ia menggunakan perspektif kriminologi feminis. Menurut tanggapan kaum feminis pelecehan seksual dapat terjadi dikarenakan relasi kekuasaan yang tidak imbang, dimana perempuan memiliki kedudukan yang inferior. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi-partisipatoris yang memungkinkan peneliti untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh sebjek penelitian dan memahami langsung fenomena yang terjadi di dalamnya.

Terdapat persamaan dengan penelitian di atas mengenai kasus pelecehan seksual, teori yang digunakan namun lokasi nya berbeda dengan penelitian penulis.

Marcheyla Sumera dalam penelitiannya tentang “Perbuatan Kekerasan/Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan” yang dimuat dalam Jurnal (Lex et Societatis, Vol. 1/No. 2/April-Juni/2013) menjelaskan bahwa kekerasan seksual mengacu pada suatu perlakuan negatif yang berkonotasi seksual sehingga menyebabkan seseorang mengalami kerugian. Menurutnya Pelecehan seksual adalah istilah yang paling tepat untuk memahami kekerasan seksual. Dimana pelecehan seksual memiliki rentang yang sangat luas, mulai dari ungkapan verbal, serangan dan paksaan yang tidak senonoh, hingga perkosaan. Indonesia telah meratifikasi “Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan” dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984, dan membuat sebuah Undang-Undang yang diharapkan dapat menghapus tindak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan di dalam ruang lingkup rumah tangga yaitu UU No. 23 Tahun

(27)

15

2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) karena dirasa apa yang diatur dalam KUHP belum cukup untuk meminimalisir bahkan menghapus tindak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian hukum normatif atau disebut hukum kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Data sekunder tersebut mencakup bahan hukum primer yang terdiri dari peraturan perundang-undangan dan bahan hukum sekunder yang terdiri dari karya tulis dari kalangan hukum dan pendapat para pakar hukum. Bahan hukum yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis secara normatif kualitatif.

Terdapat persamaan dengan penelitian di atas dimana kasus yang diangkat mengenai pelecehan seksual, namun dalam metode penelitian terdapat banyak perbedaan dimana penlitian di atas hanya menggunakan bahan-bahan pustaka dalam penelitiannya.

Dari penelitian sebelumnya bisa dilihat terdapat kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis yaitu mengenai kasus yang diangkat berupa pelecehan seksual, lokus penelitian di KRL commuter line, mengingat lokus dalam penelitian ini di commuter line maka narasumber dalam penelitian ini adalah pengguna KRL commuter line yang pernah menjadi korban pelecehan seksual serta teori pengantar feminisme radikal.

Penelitian kali ini secara umum penulis ingin melihat bagaimana pengalaman narasumber (sebagai korban pelecehan seksual) terkait pelecehan seksual di KRL commuter line. Pengalaman pelecehan tersebut dijabarkan terkait bentuk pelecehan

(28)

16

seksual yang biasa terjadi di KRL commuter line, dampak dari pengalaman pelecehan seksual tersebut dan mengapa masih banyak terjadi tindak pelecehan seksual terutama terhadap perempuan di KRL commuter line. Penelitian kali ini menggunakan analisis feminisme radikal dalam menganalisis pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line.

E. Kerangka Teori 1. Pelecehan Seksual

Mengacu pada beberapa sumber tentang isu ini banyak sekali definisi mengenai pelecehan seksual baik dari definisi yang bersifat umum sampai pada definisi yang menempatkan isu pelecehan seksual ini dalam konteks gender.

MacKinnon (1992), seorang penulis dan pemerhati masalah-masalah perempuan, melihat pelecehan seksual sebagai salah satu dampak dari hubungan kekuasaan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Pandangan Mackinnon ini juga dapat kita temui dalam apa yang dikatakan oleh Tuttle (1987): pelecehan seksual adalah istilah untuk tingkah laku laki-laki yang bersifat sepihak, tidak diminta, tidak diinginkan yang tujuannya adalah perendahan seorang perempuan hanya sebagai suatu obyek seks.

Definisi-definisi di atas dengan jelas menempatkan pelecehan seksual dalam konteks gender, selanjutnya definisi yang sifatnya umum dan diinformasikan oleh beberapa LSM perempuan. Mengutip Sari (1998) dimana LBH APIK yang dalam lembar informasinya menyatakan bahwa: pelecehan seksual adalah setiap

(29)

17

perbuatan yang memaksa seseorang terlibat dalam suatu hubungan seksual atau menempatkan seseorang sebagai obyek perhatian seksual yang tidak diinginkannya. Pada dasarnya perbuatan itu dirasakan atau dipahami sebagai merendahkan atau menghinakan pihak yang dilecehkan sebagai manusia (h.3).

Satu LSM perempuan lainnya, Rifka Annisa menyebutkan pelecehan seksual ialah segala bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti: rasa malu, marah, tersinggung dan sebagainya pada diri orang yang menjadi korbannya. Pelecehan seksual biasanya terjadi selama dalam perjalanan dan dilakukan oleh penumpang laki-laki terhadap penumpang perempuan. Biasanya pelaku melakukan aksi pelecehan seksual di saat penumpang kereta berdesakan (Ibid, h.4).

Pelecehan seksual tidak hanya muncul pada konteks perbedaan kekuasaan formal. Misalnya pada lingkungan pekerjaan ataupun dunia akademis, dimana terdapat perbedaan kekuasaan yang nyata antara atasan dan bawahan maupun antara dosen dan mahasiswa. Akan tetapi pelecehan seksual juga dapat terjadi pada situasi dimana perbedaan kekuasaan tersebut bersifat nonformal. Misalnya pelecehan seksual yang terjadi di tempat maupun kendaraan umum, dimana umumnya antara pelaku dan korban tidak saling kenal. Namun inti mengenai pelecehan seksual adalah perilaku tersebut tidak diinginkan oleh korbannya (MaPPi, 2016) .

(30)

18

Tindakan yang tidak diinginkan disini ialah Tindakan yang tidak diminta dan yang bersangkutan (korban) menganggap Tindakan tersebut tidak diharapkan atau tidak sopan. Perilaku tidak diinginkan dilihat dari sudut pandang orang yang mendapat pelecehan seksual (korban). Tindakan tidak diinginkan tersebut dapat dilihat dengan ciri sebagai berikut:

1. Korban telah menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak diinginkan 2. Korban merasa terhina, tersinggung, atau terintimidasi oleh pelaku

3. Pelaku menyadari dengan perbuatannya akan mengakibatkan orang lain tersinggung, dipermalukan dan terintimidasi (MaPPi, 2016).

2. Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual

Dalam penelitian ini akan menggunakan tipologi mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual yang digunakan oleh Gruber. Lihat pada tabel di bawah ini:

Tabel I.E.1 Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual Menurut Gruber dkk (1996) Bentuk-Bentuk

pelecehan seksual (Gruber, Smith &

Toropainen, 1996 h.155)

Permintaan Secara seksual (Verbal request)

- Penyuapan Seksual (sexual bribery) - dorongan seksual (sexual advances) - dorongan relasional (relational advances) - tekanan/ dorongan halus (kehidupan seksual)

{subtle pressure/

advances (sex life)}

(31)

19 Komentar verbal (verbal comments)

- komentar pribadi (personal remarks) - objektifikasi subjektif (subjective

objectification) - pernyataan kategoris seksual (sexual categorical remarks) Tampilan non verbal

(nonverbal display)

- penyerangan seksual (sexual assault) - sentuhan sexual (sexual touching) - postur seksual (sexual posturing)

- Materi seksual (sexual material)

3. Korban Pelecehan Seksual

Menurut Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan dan Penyalahgunaan Kekuasaan (The Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power) yang diadopsi oleh resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1985, bahwa yang dimaksud dengan korban (victim) adalah orang yang secara individual atau kolektif telah mengalami penderitaan, meliputi penderitaan fisik atau mental, penderitaan emosi, kerugian ekonomis atau pengurangan substansial hak-hak asasi melalui perbuatan-perbuatan atau pembiaran-pembiaran (omisionaris) yang melanggar hukum pidana yang

(32)

20

berlaku di negara-negara anggota dan meliputi juga peraturan hukum yang melarang penyalahgunaan kekuasaan (Gosita, 2004).

Karmen (1984) juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan korban (victim) adalah: setiap individu yang mengalami luka-luka, kerugian, kehilangan ataupun penderitaan dengan alasan apapun. Setiap orang dapat dikatakan menjadi korban karena beberapa alasan diantaranya: kecelakaan, penyakit, bencana alam atau permasalahan sosial seperti perang, diskriminasi atau bentuk ketidakadilan lainnya. korban kejahatan dirugikan karena adanya tindakan pelanggaran (h. 59).

Dalam kasus kekerasan seksual, kecenderungan menyalahkan korban merupakan hal yang sangat mungkin terjadi yang akhirnya mempengaruhi penilaian tentang insiden yang terjadi (Bieneck dan Krahé, 2011). Menyalahkan korban adalah suatu tindakan di mana korban dianggap mempunyai andil dalam kejahatan yang terjadi pada dirinya. Korban dianggap memancing kekerasan seksual yang menimpa dirinya dengan perkataan atau cara berpakaiannya.

Banyak orang lebih suka mempercayai bahwa seseorang yang dalam kesehariannya berbuat baik pasti mendapatkan sesuatu yang baik pula begitupun juga sebaliknya, sehingga dunia tampak sebagai tempat yang lebih aman. Budaya menyalahkan korban merupakan salah satu alasan utama mengapa banyak korban kekerasan seksual tidak melaporkan insiden yang menimpa mereka. Selain itu, seringkali korban juga menyalahkan diri mereka sendiri untuk viktimisasi mereka (Fetchenhauer dkk, 2005).

(33)

21 4. Feminisme Radikal

Sejarah pembedaan antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, dan penguatan konstruksi sosial kultural, keagamaan bahkan melalui kekuasaan negara. Gender lambat laun menjadi seolah-olah kodrat tuhan atau ketentuan biologis yang tidak dapat diubah lagi. Akibatnya, gender mempengaruhi keyakinan manusia serta budaya masyarakatnya tentang bagaimana laki-laki dan perempuan berpikir dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial tersebut.

Keyakinan pembagian itu selanjutnya diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, akhirnya lama kelamaan pembagian keyakinan gender tersebut dianggap alamiah, normal dan kodrat sehingga bagi mereka yang mulai melanggar dianggap tidak normal dan melanggar kodrat. Oleh karena itu diantara bangsa- bangsa dalam kurun waktu yang berbeda, pembagian gender tersebut berbeda-beda (PSW, 2003).

Feminisme radikal berpendapat bahwa ketidakadilan gender itu justru terletak pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itu sendiri.

Dominasi laki-laki atau subordinasi perempuan menurut mereka merupakan suatu model konseptual yang bisa menjelaskan berbagai bentuk penindasan lain. Jegger menyebutkan bahwa menurut aliran ini “jenis kelamin seseorang adalah faktor paling berpengaruh dalam menentukan posisi sosial, pengalaman hidup, kondisi fisik, psikologis, kepentingan dan nilai-nilainya (PSW, 2003).

(34)

22

Inti gerakan feminis radikal menurut Arivia (2006) ialah isu mengenai penindasan perempuan. Penindasan tersebut disebabkan oleh adanya pemisahan antara ruang privat dan ruang publik, dimana kondisi ini memungkinkan tumbuh suburnya patriarki. Dalam feminis radikal, tubuh dan seksualitas memegang esensi yang sangat penting. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa penindasan diawali melalui dominasi atas seksualitas perempuan dalam ruang privat. Para feminis radikal juga memberikan perhatian khusus pada isu mengenai kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Dominasi laki-laki dalam sistem patriarki membuat kekerasan yang menimpa perempuan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga menjadi tampak alami dan “layak”. Sejalan dengan pemahaman ini tercipta dikotomi mengenai good girls dan bad girls. Apalabila seorang perempuan berperilaku baik, terhormat dan patuh, maka ia tidak akan dicelakai (Arivia, 2006).

Menurut Walklate (2007), feminisme radikal dengan jelas menempatkan kekerasan laki-laki terhadap perempuan dalam kajian kriminalitas. Dimana kriminalitas (kejahatan) adalah pola tingkah laku yang merugikan masyarakat, secara fisik maupun psikologis (Mustofa, 2005). Tingkah laku tersebut dapat dirumuskan oleh hukum maupun tindakan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat di luar hukum (Mannheim dalam Darmawan, 1994).

Secara historis, di tahun 1970-an bersamaan dengan berkembangnya gerakan feminisme, pemikiran feminis radikal muncul sebagai ketidakpuasan terhadap pemikiran feminis sosialis dan feminis marxis (Tong, 2009).

(35)

23

Bryson (1992) berpendapat bahwa secara umum, feminisme radikal melihat bahwa penindasan terhadap perempuan bukan karena organisasi sosial, tetapi lebih pada kontrol laki-laki terhadap budaya dan pengetahuan yang membatasi pola pikir masyarakat. Akhirnya konsepsi patriarki diinternalisasi oleh perempuan maupun laki-laki dan menjadi pola relasi dalam hidup bermasyarakat.

Melalui teorinya “sexual politics” (politik seksual) Kate Millet (salah seorang feminis radikal-libertarian) menunjukkan bagaimana posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal. Kata

‘politik’ mengacu pada hubungan kekuasaan terstruktur yang menunjukkan suatu kelompok mengontrol kelompok lain, sedangkan seksual merujuk pada penunjukan supremasi kaum (yang berjenis kelamin) laki-laki terhadap perempuan, keluarga dan masyarakat (Millet, 1970). Sehingga “sexual politics” dimaknai sebagai politisasi kekuasaan dengan berdasarkan jenis kelamin atau gender.

Dalam bukunya sexual politics Millet (1970) berpendapat bahwa seks adalah politik, terutama karena hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan paradigma dari semua hubungan kekuasaan. Menurutnya ideologi patriarkal membesar-besarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, dan memastikan bahwa laki-laki selalu mempunyai peran yang maskulin dan dominan, sedangkan perempuan selalu mempunyai peran yang subordinat, atau feminin. Intimidasi menurut Millet, ada dimana-mana di dalam budaya patriarki (Tong, 1998).

(36)

24

Berdasarkan pandangan Millet (1970), hegemoni maskulinitas dan subordinasi femininitas tergambarkan lewat ketidaksetaraan pembagian watak, peran dan status antara feminin dan maskulin.. Dalam pembagian watak, perempuan diintegrasikan oleh kepasifan, kepatuhan, kebaikan, sedangkan laki- laki diasosiasikan dengan penyerangan, kecerdasan, dan kekuatan. Millet (1970) juga menyatakan bahwa dalam masyarakat patriarkal pembagian peran yang diteguhkan pada laki-laki adalah ambisiusitas, penghargaan dan kepentingan, sedangkan perempuan kerap diidentikan dengan pelayan ‘domestik’ (berhubungan dengan ranah privat seseorang, pada umumnya menyangkut seksualitas) dan pengasuhan anak. Sedangkan dalam kategori pembagian status, Millet (1970) menyatakan bahwa status perempuan diafirmasi melalui dua kategori yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu watak dan perilaku.

Sistem dan struktur kebudayaan yang patriarki menciptakan pembagian ruang di dalam masyarakat berdasarkan gender. Dimana ruang publik didominasi oleh laki-laki dan ruang domestik dikhususkan untuk perempuan. Domestikasi ini mengakibatkan eksistensi perempuan dibuat menjadi tidak berharga. Perempuan dianggap sebagai “warga kelas dua”. Sehingga posisi perempuan dijadikan rentan terhadap terjadinya kekerasan khususnya pelecehan seksual. Budaya patriarki juga menempatkan laki-laki sebagai fokus utama sehingga menimbulkan relasi kuasa yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Dalam relasi tersebut, laki- laki sebagai pihak yang dianggap lebih kuat belajar mengendalikan dan mengontrol perempuan. Sehingga perempuan dilihat sebagai “objek kepunyaan” dari laki-laki.

Kemampuan laki-laki untuk mengontrol perilaku perempuan merupakan tindakan

(37)

25

yang menggambarkan superioritas laki-laki dan yang mengingkari harga diri perempuan.

Dalam perkembangan wacana akademis feminis, konsep patriarki kemudian digunakan untuk menjelaskan dominasi struktural yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan (Dialeti, 2013).

Seksualitas terkait dengan dan diperkuat oleh konstruksi tentang nilai, norma, etika baik dan buruk tentang seksualitas yang dipandang normal atau ideal dalam masyarakat. Perilaku seksualitas seseorang diatur oleh suatu aturan baku (nilai) yang dianggap merupakan batas kenormalan yang harus dianut oleh masyarakat pendukungnya. Norma dan aturan-aturan dibuat dan dibakukan oleh lembaga yang berkuasa membentuk pengetahuan atau wacana pengetahuan. Norma tersebut kemudian menjadi sistem kekuasaan yang mengatur praktik seksualitas atau model normativitas yang dianggap diterima dan yang tidak diterima serta dianggap sebagai tidak normal atau amoral. Seksualitas dimaknai sebagai konstruksi sosial tentang norma, pengetahuan dan perilaku serta subjektivitas yang berkaitan dengan seks dan terkait erat dengan sistem kekuasaan pengetahuan (Musawa volume 2).

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini, dengan menggunakan pendekatan penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan

(38)

26

keadaan yang sebenarnya (naturalistik) di lapangan (Irawan, 2006). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2013).

Sesuai dengan pengertian di atas peneliti bermaksud mengetahui, memahami dan mempelajari fenomena pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line melalui pengalaman para korban (narasumber) pelecehan seksual yang akan dilakukan dalam penelitian kali ini, juga berusaha memahami fenomena tersebut dari sudut pandang korban (narasumber).

2. Metode Pengumpulan Data

2.1 Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawanca yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan (Moleong, 2013). Wawancara (interview) dilakukan untuk mendapatkan informasi, yang tidak diperoleh melalui observasi. Karena tidak semua data dapat diperoleh dengan observasi. Oleh karena itu peneliti harus mengajukan pertanyaan kepada

(39)

27

narasumber. Pertanyaan sangat penting untuk menangkap persepsi, pikiran, pendapat, perasaan orang tentang suatu gejala, peristiwa, fakta atau realita. Dalam wawancara, peneliti bukan hanya mengajukan pertanyaan, tetapi mendapatkan pengertian tentang pengalaman hidup orang lain. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dengan indepth interview. Dengan wawancara yang mendalam peneliti akan menangkap arti yang diberikan partisipan pada pengalamannya. Pengalaman dan pendapat inilah yang menjadi bahan dasar data yang nantinya akan dianalisis secara ilmiah (Raco, 2010).

Sebagai langkah awal untuk memperoleh data primer dari wawancara, peneliti terlebih dahulu menentukan siapa yang akan menjadi narasumber dalam penelitiannya nanti. Peneliti dalam hal ini melakukan pemilihan narasumber secara purposif. Teknik pemilihan narasumber secara purposif digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki pengetahuan tentang tentang fenomena yang sedang diteliti (Creswell & Clark, 2011). Dalam konteks penelitian ini, maka narasumber yang dipilih adalah yang masuk dalam kriteria subyek penelitian, yaitu individu yang memiliki pengalaman menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line.

Strategi pemilihan narasumber dalam penelitian ini ialah teknik sampling snowball. Teknik sampling snowball ialah suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus (Neuman, 2003). Pada pelaksanaannya, teknik sampling snowball ini adalah teknik yang multitahapan, didasarkan pada analogi bola salju, yang dimulai dengan bola salju yang kecil kemudian membesar secara bertahap karena ada

(40)

28

penambahan salju ketika digulingkan dalam hamparan salju. Ini dimulai dengan beberapa orang atau kasus, kemudian meluas berdasarkan hubungan-hubungan terhadap responden. Dalam sampling snowball identifikasi awal dimulai dari seseorang atau kasus yang masuk dalam kriterian penelitian. Kemudian berdasarkan hubungan keterkaitan langsung maupun tidak langsung dalam suatu jaringan, dapat ditemukan responden berikutnya atau unit sampel berikutnya (Neuman, 2003). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jaringan pertemenan yang digunakan dalam mencari narasumber yang dibutuhkan dalam penelitian.

Identifikasi awal dimulai dari teman-teman terdekat penulis yang pengguna KRL commuter line dan pernah mengalami pelecehan seksual.

Siapa yang dimaksud dengan narasumber dalam penelitian ini. Pertama, narasumber ialah mereka yang tentunya memiliki informasi yang dibutuhkan.

Kedua, mereka yang memiliki kemampuan untuk menceritakan pengalamannya atau memberikan informasi yang dibutuhkan. Ketiga, mereka yang benar-benar terlibat dengan gejala, peristiwa, masalah itu, dalam artian mereka mengalaminya secara langsung. Keempat, mereka yang bersedia untuk ikut serta diwawancarai.

Kelima, mereka harus tidak berada dibawah tekanan, tetapi penuh kerelaan dan kesadaran akan keterlibatannya dalam penelitian. Jadi syarat utamanya yaitu kredibel dan kaya akan informasi yang dibutuhkan (information rich) (Raco, 2010).

Dalam penelitian kali ini, tentunya yang akan menjadi narasumber ialah individu yang mempunyai pengalaman terkait pelecehan seksual di KRL commuter line. Pengalaman ini biasanya ada yang berupa pengalaman langsung maupun tidak

(41)

29

langsung. Pengalaman langsung ialah narasumber tersebut menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line.

Peneliti melakukan wawancara kepada 4 narasumber. Mengapa peneliti melakukan wawancara kepada 4 narasumber tersebut karena pertama, mereka pengguna KRL commuter line. Kedua, mereka pernah menjadi korban pelecehan seksual dalam perjalanan KRL commuter line. Peneliti berharap dengan mewawancarai 4 narasumber tersebut peneliti dapat memperoleh target data yang ingin dicapai.

Demi mendapatkan informasi mengenai narasumber dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu bertanya kepada orang-orang terdekat maupun orang yang dikenalnya terlebih dahulu, siapa diantara mereka yang mungkin memiliki pengalaman ataupun memiliki seorang kenalan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line. Karena isu pelecehan seksual ini merupakan isu yang sensitif, sehingga banyak orang yang tidak mau menceritakan pengalaman buruk yang pernah menimpanya kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, bahkan Sebagian orang tidak ingin mengungkitnya lagi. Setelah mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang pernah mengalami pelecehan seksual, kemudian penulis menanyai maksud dan tujuan penulis mewawancarai narasumber untuk memperoleh informasi dari pengalaman narasumber yang nantinya akan dijadikan data oleh penulis dalam penelitiannya. Ketika informan bersedia untuk diwawancarai, dijadikanlah ia narasumber dalam penelitian ini.

Tabel I.F.1 Informasi Tentang Narasumber

(42)

30

Narasumber Usia Status Penggunaan KRL

commuter line

Lu 23 Tahun Mahasiswi Dua kali dalam

seminggu

Ki 22 Tahun Mahasiswi Dua kali dalam

seminggu

Fy 22 Tahun Mahasiswi Setiap hari

Li 20 Tahun Mahasiswi Setiap hari

2.2 Data Sekunder

Selain data primer yang diperoleh dari wawancara dan observasi, peneliti juga mengumpulkan sejumlah data sekunder yang peneliti gunakan dengan menggunakan metode online desk review. Dengan metode tersebut peneliti melakukan studi kepustakaan baik berupa buku, jurnal, juga menggunakan sumber elektronik yang terpercaya seperti jurnal daring, pemberitaan di media, artikel website maupun penelitian terdahulu yang peneliti anggap relevan dengan penelitian ini. Data sekunder ialah data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain (Suryani dan Hendryadi, 2015).

Selain studi kepustakaan, peneliti juga mendapatkan data terkait angka pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line seperti data sekunder yang didapat melalui wawancara dengan salah satu staff PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Selain menggunakan data sekunder yang diperoleh dari PT KCI penulis juga mencari data-data lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian ini dalam website

(43)

31

resmi KRL dan sumber-sumber elektronik terpercaya untuk digunakan sebagai data tambahan dalam penelitian ini. Data-data sekunder ini nantinya digunakan dibagian Bab I dan Bab II dalam penelitian.

3. Metode Analisis Data

Analisis data menurut Bogdan dan Biken adalah upaya yang dilakukan dengan cara mengorganisasikan data, memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang paling penting dan yang dipelajari, dan memutuskan yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2013).

Analisis data kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian (Sugiyono, 2009).

Miles dan Hubberman mengungkapkan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, berikut ini merupakan teknik analisis data interaktif menurut Miles dan Hubberman (dalam Sugiyono 2009):

1. Pengumpulan data, pertama-tama dimulai dengan menggali data dari berbagai sumber yang kemudian dituliskan dalam catatan lapangan dengan memanfaatkan dokumen pribadi, foto dan sebagainya. Dalam penelitian ini

(44)

32

pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan 4 narasumber, dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber.

2. Reduksi data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuang yang tidak perlu.

3. Penyajian data, bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Miles dan Hubberman menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif yang paling sering digunakan ialah dengan teks yang bersifat naratif.

4. Penarikan kesimpulan bisa berubah ketika penulis menemukan kembali data-data yang diperlukan dalam penelitian.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan dalam penelitian ini disusun dengan sistematika yang terdiri dari:

BAB I: Pendahuluan. Berisi tentang latar belakang permasalahan, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: Gambaran umum tentang lokasi penelitian. Berisi tentang perkembangan Kereta Commuter Indonesia (KCI), peningkatan layanan yang dilakukan oleh PT KCI, peta rute perjalanan KRL commuter line.

(45)

33

BAB III: Pembahasan. Berisi tentang temuan data yang diperoleh dengan menggunakan metode pengumpulan data dalam penelitian dan analisis hasil temuan data yang dikaitkan dengan kerangka teori.

BAB IV: Penutup. Berisi kesimpulan dan saran dalam penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

(46)

34 BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Kereta Commuter Indonesia (KCI)

Menurut UU No. 13/1992 (Dephub, 1992), kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik yang berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya yang akan ataupun sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan salah satu transportasi yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya mengangkut baik penumpang maupun barang secara massal atau dalam jumlah besar dalam setiap perjalanannya, hemat energi, hemat dalam penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi dan tingkat pencemaran atau polusi yang rendah serta lebih efisien dibandingkan dengan transportasi di jalan raya. Menurut Departemen Perhubungan (dalam Hidayat, 2004), masyarakat yang menggunakan jasa kereta api sebagai sarana transportasi untuk bepergian sejauh ini berjumlah sekitar 180 juta penumpang per tahunnya, diantaranya ialah penumpang non-komersial (kelas ekonomi) yang terdiri dari pekerja kantoran, mahasiswa dan anak sekolahan dan penumpang komersial (kelas eksekutif).

PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sejak tanggal 19 September 2017 berganti nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dan merupakan salah satu anak perusahaan di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengelola KA Commuter Jabodetabek dan sekitarnya. Pembentukan anak

(47)

35

perusahaan ini berawal dari keinginan para stakeholder nya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan transportasi yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi masalah transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Perseroan ini resmi menjadi anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sejak tanggal 15 September 2008 (http://www.krl.co.id/).

Seiring dengan konsep pengembangan KRL Jabodetabek dan sekitarnya, PT KAI (Persero) membentuk anak perusahaan yakni PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang ditugaskan menjadi operator sarana Kereta Rel Listrik. PT KCJ yang kini berganti nama menjadi KCI dibentuk menggantikan Divisi Jabodetabek PT KAI sebagai pengelola KRL pada tahun sebelumnya. Kini KRL Commuter line semakin menjadi moda transportasi andalan masyarakat perkotaan untuk mobilitas yang aman, nyaman, dan bebas macet. Tugas pokok perusahaan yang baru ini adalah menyelenggarakan pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter dengan menggunakan sarana kereta rel listrik di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan sekitarnya serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang (Ibid).

KCI memulai modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011 dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi lima rute utama, penghapusan KRL ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi kereta Commuter line. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta yang dilakukan bersama PT KAI (persero) dan Pemerintah. Pada 1 Juli 2013, KCI

(48)

36

mulai menerapkan sistem tiket elektronik (E-Ticketing) dan sistem tarif progresif.

Penerapan dua kebijakan ini menjadi tahap selanjutnya dalam modernisasi KRL Jabodetabek (Ibid).

Hingga Juni 2018, KCI telah memiliki 900 unit KRL. Sepanjang tahun 2017, KCI telah melakukan penambahan armada sebanyak 60 kereta. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan penumpang yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Rata-rata jumlah pengguna KRL hingga bulan Juni 2018 per hari mencapai 1.001.438 pengguna pada hari kerja, dengan rekor jumlah pengguna terbanyak yang dilayani dalam satu hari adalah 1.154.080. Sebagai operator sarana, kereta Commuter line yang dioperasikan KCI saat ini melayani 79 stasiun di seluruh Jabodetabek, Banten dan Cikarang dengan jangkauan rute mencapai 418,5 km (Ibid).

B. Peningkatan Layanan KCI

Pertumbuhan penumpang KRL commuter line yang selalu naik setiap tahunnya membuat KCI (Kereta Commuter Indonesia) terus meningkatkan pelayanannya demi kenyamanan pengguna commuter line, terutama perempuan. Pada 19 Agustus 2010 Inovasi kereta khusus wanita (KKW) hadir untuk memenuhi kebutuhan pengguna KRL, khususnya wanita yang ingin menggunakan Commuter line tanpa berbagi ruang dengan laki-laki. Dengan hadirnya kereta khusus wanita ini diharapkan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para wanita yang menggunakan commuter line.

(49)

37

GAMBAR II.1 Kereta Khusus Wanita (KKW)

(Sumber: http://www.krl.co.id/)

Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyebut pemisahan gerbong antara perempuan dan laki-laki di beberapa moda transportasi umum yang ada di Jakarta tidak menjawab permasalahn pelecehan seksual yang kerap menyerang perempuan (CNN, 2019). Sebagai perwakilan KRPA Anindiya Restu Fiani mengatakan pemisahan gerbong untuk mencegah pelecehan malah terkesan menjadikan perempuan sebagai permasalahnnya. Menurutnya, upaya menciptakan ruang aman bagi korban atau calon korban pelecehan seksual tidak sekedar menciptakan ruang baru, tetapi dengan menciptakan ruang yang aman bagi semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Untuk mewujudkan itu, Fiani mengatakan yang perlu dilakukan adalah memberikan edukasi soal pelecehan seksual khususnya di moda transportasi umum kepada masyarakat. Masyarakat harus tahu bahwa tidak boleh melakukan pelecehan baik terhadap perempuan maupun laki-laki (CNN, 2019).

Kegiatan kampanye yang dilakukan PT KCI ini merupakan salah satu upaya dalam memperingati Hari Perempuan Internasional dengan menggandeng komnas perempuan, dan komunitas perempuan dan para pengguna KRL sebagai sasaran utamanya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi edukasi kepada seluruh pengguna

(50)

38

jasa KRL mengenai bentuk pelecehan yang biasa terjadi, melakukan upaya pencegahan, hingga bagaimana membantu diri sendiri maupun orang lain yang menjadi korban pelecahan seksual (KCI, 2019). Hal itu dilakukan agar pengguna KRL commuter line khususnya korban pelecehan seksual di KRL commuter line memahami mengenai pelecehan seksual serta diharapkan para korban dan saksi nantinya dapat berani bertindak melaporkan kasus yang menimpanya kepada pihak yang berwenang. Kampanye ini, selain merupakan bentuk edukasi kepada masing- masing individu untuk peduli terhadap dirinya sendiri, juga kepada para penumpang KRL commuter line untuk peduli kepada penumpang lainnya.

Gambar II. 2 Kampanye Pelecehan Seksual di Stasiun Sudirman

(Sumber: KCI, 2019)

Pada Selasa 12 Maret 2019, PT KCI meluncurkan kampanye dengan nama

“Kampanye Pencegahan Pelecehan Seksual di KRL Commuter Line” yang bertempat di Stasiun Sudirman, Jakarta. Kampanye ini diwujudkan dengan menerbitkan brosur terkait pelecehan seksual dan booklet berupa edukasi penanganan bila terjadi pelecehan seksual dan akan diteruskan dengan penerbitan

(51)

39

video di dalam KRL yang akan diputar terus menerus secara bergantian (Friastuti, 2019).

Eva Chairunnisa selaku Humas PT. KCI juga mengatakan bahwa sering melihat kasus pelecehan seksual yang ramai di media sosial namun demikian, tidak ada pelaporan dari korban mengenai hal tersebut kepada PT. KCI sebagai penanggung jawab moda transportasi KRL. Dengan adanya kampanye ini diharapkan dapat mengedukasi para penumpang dalam berperilaku di dalam KRL sehingga dapat membantu untuk meningkatkan keberanian para korban untuk melaporkan kejadian pelcehan yang mereka alami kepada pihak yang berwajib (Ibid).

Pada Jumat 27 Desember 2019 PT. KCI bersama sejumlah komunitas kembali menggelar kampanye untuk mencegah pelecehan seksual di ruang publik.

Kampanye kali ini digelar melibatkan komunitas perEMPUan dan Komunitas Anker Twitter dalam kegiatan bertajuk “Transportasi Yang Aman Untuk Semua”

di Stasiun Jakarta Kota. Pada kampanye ini, PT. KCI membuat media sosialisasi berbentuk standing banner yang berisi tentang pencegahan pelecehan seksual di 80 stasiun KRL commuter line. Dengan adanya media sosialisasi tersebut, pengguna jasa KRL bisa mendapatkan edukasi bagaimana mencegah dan membantu diri sendiri maupun orang lain yang menjadi korban pelecehan (Pramita, 2019).

Dalam dua tahun terakhir PT KCI juga senantiasa menggelar kampanye

“Komuter Pintar Peduli Sekitar” dalam menyambut peringatan Hari Perempuan Internasional. Upaya teknis juga dilakukan PT. KCI dengan memasang CCTV di

Referensi

Dokumen terkait