BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
3. Korban Pelecehan seksual
Menurut Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan dan Penyalahgunaan Kekuasaan (The Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power) yang diadopsi oleh resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1985, bahwa yang dimaksud dengan korban (victim) adalah orang yang secara individual atau kolektif telah mengalami penderitaan, meliputi penderitaan fisik atau mental, penderitaan emosi, kerugian ekonomis atau pengurangan substansial hak-hak asasi melalui perbuatan-perbuatan atau pembiaran-pembiaran (omisionaris) yang melanggar hukum pidana yang
20
berlaku di negara-negara anggota dan meliputi juga peraturan hukum yang melarang penyalahgunaan kekuasaan (Gosita, 2004).
Karmen (1984) juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan korban (victim) adalah: setiap individu yang mengalami luka-luka, kerugian, kehilangan ataupun penderitaan dengan alasan apapun. Setiap orang dapat dikatakan menjadi korban karena beberapa alasan diantaranya: kecelakaan, penyakit, bencana alam atau permasalahan sosial seperti perang, diskriminasi atau bentuk ketidakadilan lainnya. korban kejahatan dirugikan karena adanya tindakan pelanggaran (h. 59).
Dalam kasus kekerasan seksual, kecenderungan menyalahkan korban merupakan hal yang sangat mungkin terjadi yang akhirnya mempengaruhi penilaian tentang insiden yang terjadi (Bieneck dan Krahé, 2011). Menyalahkan korban adalah suatu tindakan di mana korban dianggap mempunyai andil dalam kejahatan yang terjadi pada dirinya. Korban dianggap memancing kekerasan seksual yang menimpa dirinya dengan perkataan atau cara berpakaiannya.
Banyak orang lebih suka mempercayai bahwa seseorang yang dalam kesehariannya berbuat baik pasti mendapatkan sesuatu yang baik pula begitupun juga sebaliknya, sehingga dunia tampak sebagai tempat yang lebih aman. Budaya menyalahkan korban merupakan salah satu alasan utama mengapa banyak korban kekerasan seksual tidak melaporkan insiden yang menimpa mereka. Selain itu, seringkali korban juga menyalahkan diri mereka sendiri untuk viktimisasi mereka (Fetchenhauer dkk, 2005).
21 4. Feminisme Radikal
Sejarah pembedaan antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, dan penguatan konstruksi sosial kultural, keagamaan bahkan melalui kekuasaan negara. Gender lambat laun menjadi seolah-olah kodrat tuhan atau ketentuan biologis yang tidak dapat diubah lagi. Akibatnya, gender mempengaruhi keyakinan manusia serta budaya masyarakatnya tentang bagaimana laki-laki dan perempuan berpikir dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial tersebut.
Keyakinan pembagian itu selanjutnya diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, akhirnya lama kelamaan pembagian keyakinan gender tersebut dianggap alamiah, normal dan kodrat sehingga bagi mereka yang mulai melanggar dianggap tidak normal dan melanggar kodrat. Oleh karena itu diantara bangsa-bangsa dalam kurun waktu yang berbeda, pembagian gender tersebut berbeda-beda (PSW, 2003).
Feminisme radikal berpendapat bahwa ketidakadilan gender itu justru terletak pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itu sendiri.
Dominasi laki-laki atau subordinasi perempuan menurut mereka merupakan suatu model konseptual yang bisa menjelaskan berbagai bentuk penindasan lain. Jegger menyebutkan bahwa menurut aliran ini “jenis kelamin seseorang adalah faktor paling berpengaruh dalam menentukan posisi sosial, pengalaman hidup, kondisi fisik, psikologis, kepentingan dan nilai-nilainya (PSW, 2003).
22
Inti gerakan feminis radikal menurut Arivia (2006) ialah isu mengenai penindasan perempuan. Penindasan tersebut disebabkan oleh adanya pemisahan antara ruang privat dan ruang publik, dimana kondisi ini memungkinkan tumbuh suburnya patriarki. Dalam feminis radikal, tubuh dan seksualitas memegang esensi yang sangat penting. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa penindasan diawali melalui dominasi atas seksualitas perempuan dalam ruang privat. Para feminis radikal juga memberikan perhatian khusus pada isu mengenai kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Dominasi laki-laki dalam sistem patriarki membuat kekerasan yang menimpa perempuan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga menjadi tampak alami dan “layak”. Sejalan dengan pemahaman ini tercipta dikotomi mengenai good girls dan bad girls. Apalabila seorang perempuan berperilaku baik, terhormat dan patuh, maka ia tidak akan dicelakai (Arivia, 2006).
Menurut Walklate (2007), feminisme radikal dengan jelas menempatkan kekerasan laki-laki terhadap perempuan dalam kajian kriminalitas. Dimana kriminalitas (kejahatan) adalah pola tingkah laku yang merugikan masyarakat, secara fisik maupun psikologis (Mustofa, 2005). Tingkah laku tersebut dapat dirumuskan oleh hukum maupun tindakan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat di luar hukum (Mannheim dalam Darmawan, 1994).
Secara historis, di tahun 1970-an bersamaan dengan berkembangnya gerakan feminisme, pemikiran feminis radikal muncul sebagai ketidakpuasan terhadap pemikiran feminis sosialis dan feminis marxis (Tong, 2009).
23
Bryson (1992) berpendapat bahwa secara umum, feminisme radikal melihat bahwa penindasan terhadap perempuan bukan karena organisasi sosial, tetapi lebih pada kontrol laki-laki terhadap budaya dan pengetahuan yang membatasi pola pikir masyarakat. Akhirnya konsepsi patriarki diinternalisasi oleh perempuan maupun laki-laki dan menjadi pola relasi dalam hidup bermasyarakat.
Melalui teorinya “sexual politics” (politik seksual) Kate Millet (salah seorang feminis radikal-libertarian) menunjukkan bagaimana posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal. Kata
‘politik’ mengacu pada hubungan kekuasaan terstruktur yang menunjukkan suatu kelompok mengontrol kelompok lain, sedangkan seksual merujuk pada penunjukan supremasi kaum (yang berjenis kelamin) laki-laki terhadap perempuan, keluarga dan masyarakat (Millet, 1970). Sehingga “sexual politics” dimaknai sebagai politisasi kekuasaan dengan berdasarkan jenis kelamin atau gender.
Dalam bukunya sexual politics Millet (1970) berpendapat bahwa seks adalah politik, terutama karena hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan paradigma dari semua hubungan kekuasaan. Menurutnya ideologi patriarkal membesar-besarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, dan memastikan bahwa laki-laki selalu mempunyai peran yang maskulin dan dominan, sedangkan perempuan selalu mempunyai peran yang subordinat, atau feminin. Intimidasi menurut Millet, ada dimana-mana di dalam budaya patriarki (Tong, 1998).
24
Berdasarkan pandangan Millet (1970), hegemoni maskulinitas dan subordinasi femininitas tergambarkan lewat ketidaksetaraan pembagian watak, peran dan status antara feminin dan maskulin.. Dalam pembagian watak, perempuan diintegrasikan oleh kepasifan, kepatuhan, kebaikan, sedangkan laki-laki diasosiasikan dengan penyerangan, kecerdasan, dan kekuatan. Millet (1970) juga menyatakan bahwa dalam masyarakat patriarkal pembagian peran yang diteguhkan pada laki-laki adalah ambisiusitas, penghargaan dan kepentingan, sedangkan perempuan kerap diidentikan dengan pelayan ‘domestik’ (berhubungan dengan ranah privat seseorang, pada umumnya menyangkut seksualitas) dan pengasuhan anak. Sedangkan dalam kategori pembagian status, Millet (1970) menyatakan bahwa status perempuan diafirmasi melalui dua kategori yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu watak dan perilaku.
Sistem dan struktur kebudayaan yang patriarki menciptakan pembagian ruang di dalam masyarakat berdasarkan gender. Dimana ruang publik didominasi oleh laki-laki dan ruang domestik dikhususkan untuk perempuan. Domestikasi ini mengakibatkan eksistensi perempuan dibuat menjadi tidak berharga. Perempuan dianggap sebagai “warga kelas dua”. Sehingga posisi perempuan dijadikan rentan terhadap terjadinya kekerasan khususnya pelecehan seksual. Budaya patriarki juga menempatkan laki-laki sebagai fokus utama sehingga menimbulkan relasi kuasa yang tidak seimbang antara laki dan perempuan. Dalam relasi tersebut, laki-laki sebagai pihak yang dianggap lebih kuat belajar mengendalikan dan mengontrol perempuan. Sehingga perempuan dilihat sebagai “objek kepunyaan” dari laki-laki.
Kemampuan laki-laki untuk mengontrol perilaku perempuan merupakan tindakan
25
yang menggambarkan superioritas laki-laki dan yang mengingkari harga diri perempuan.
Dalam perkembangan wacana akademis feminis, konsep patriarki kemudian digunakan untuk menjelaskan dominasi struktural yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan (Dialeti, 2013).
Seksualitas terkait dengan dan diperkuat oleh konstruksi tentang nilai, norma, etika baik dan buruk tentang seksualitas yang dipandang normal atau ideal dalam masyarakat. Perilaku seksualitas seseorang diatur oleh suatu aturan baku (nilai) yang dianggap merupakan batas kenormalan yang harus dianut oleh masyarakat pendukungnya. Norma dan aturan-aturan dibuat dan dibakukan oleh lembaga yang berkuasa membentuk pengetahuan atau wacana pengetahuan. Norma tersebut kemudian menjadi sistem kekuasaan yang mengatur praktik seksualitas atau model normativitas yang dianggap diterima dan yang tidak diterima serta dianggap sebagai tidak normal atau amoral. Seksualitas dimaknai sebagai konstruksi sosial tentang norma, pengetahuan dan perilaku serta subjektivitas yang berkaitan dengan seks dan terkait erat dengan sistem kekuasaan pengetahuan (Musawa volume 2).
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini, dengan menggunakan pendekatan penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan
26
keadaan yang sebenarnya (naturalistik) di lapangan (Irawan, 2006). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2013).
Sesuai dengan pengertian di atas peneliti bermaksud mengetahui, memahami dan mempelajari fenomena pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line melalui pengalaman para korban (narasumber) pelecehan seksual yang akan dilakukan dalam penelitian kali ini, juga berusaha memahami fenomena tersebut dari sudut pandang korban (narasumber).
2. Metode Pengumpulan Data
2.1 Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawanca yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan (Moleong, 2013). Wawancara (interview) dilakukan untuk mendapatkan informasi, yang tidak diperoleh melalui observasi. Karena tidak semua data dapat diperoleh dengan observasi. Oleh karena itu peneliti harus mengajukan pertanyaan kepada
27
narasumber. Pertanyaan sangat penting untuk menangkap persepsi, pikiran, pendapat, perasaan orang tentang suatu gejala, peristiwa, fakta atau realita. Dalam wawancara, peneliti bukan hanya mengajukan pertanyaan, tetapi mendapatkan pengertian tentang pengalaman hidup orang lain. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dengan indepth interview. Dengan wawancara yang mendalam peneliti akan menangkap arti yang diberikan partisipan pada pengalamannya. Pengalaman dan pendapat inilah yang menjadi bahan dasar data yang nantinya akan dianalisis secara ilmiah (Raco, 2010).
Sebagai langkah awal untuk memperoleh data primer dari wawancara, peneliti terlebih dahulu menentukan siapa yang akan menjadi narasumber dalam penelitiannya nanti. Peneliti dalam hal ini melakukan pemilihan narasumber secara purposif. Teknik pemilihan narasumber secara purposif digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki pengetahuan tentang tentang fenomena yang sedang diteliti (Creswell & Clark, 2011). Dalam konteks penelitian ini, maka narasumber yang dipilih adalah yang masuk dalam kriteria subyek penelitian, yaitu individu yang memiliki pengalaman menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line.
Strategi pemilihan narasumber dalam penelitian ini ialah teknik sampling snowball. Teknik sampling snowball ialah suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus (Neuman, 2003). Pada pelaksanaannya, teknik sampling snowball ini adalah teknik yang multitahapan, didasarkan pada analogi bola salju, yang dimulai dengan bola salju yang kecil kemudian membesar secara bertahap karena ada
28
penambahan salju ketika digulingkan dalam hamparan salju. Ini dimulai dengan beberapa orang atau kasus, kemudian meluas berdasarkan hubungan-hubungan terhadap responden. Dalam sampling snowball identifikasi awal dimulai dari seseorang atau kasus yang masuk dalam kriterian penelitian. Kemudian berdasarkan hubungan keterkaitan langsung maupun tidak langsung dalam suatu jaringan, dapat ditemukan responden berikutnya atau unit sampel berikutnya (Neuman, 2003). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jaringan pertemenan yang digunakan dalam mencari narasumber yang dibutuhkan dalam penelitian.
Identifikasi awal dimulai dari teman-teman terdekat penulis yang pengguna KRL commuter line dan pernah mengalami pelecehan seksual.
Siapa yang dimaksud dengan narasumber dalam penelitian ini. Pertama, narasumber ialah mereka yang tentunya memiliki informasi yang dibutuhkan.
Kedua, mereka yang memiliki kemampuan untuk menceritakan pengalamannya atau memberikan informasi yang dibutuhkan. Ketiga, mereka yang benar-benar terlibat dengan gejala, peristiwa, masalah itu, dalam artian mereka mengalaminya secara langsung. Keempat, mereka yang bersedia untuk ikut serta diwawancarai.
Kelima, mereka harus tidak berada dibawah tekanan, tetapi penuh kerelaan dan kesadaran akan keterlibatannya dalam penelitian. Jadi syarat utamanya yaitu kredibel dan kaya akan informasi yang dibutuhkan (information rich) (Raco, 2010).
Dalam penelitian kali ini, tentunya yang akan menjadi narasumber ialah individu yang mempunyai pengalaman terkait pelecehan seksual di KRL commuter line. Pengalaman ini biasanya ada yang berupa pengalaman langsung maupun tidak
29
langsung. Pengalaman langsung ialah narasumber tersebut menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line.
Peneliti melakukan wawancara kepada 4 narasumber. Mengapa peneliti melakukan wawancara kepada 4 narasumber tersebut karena pertama, mereka pengguna KRL commuter line. Kedua, mereka pernah menjadi korban pelecehan seksual dalam perjalanan KRL commuter line. Peneliti berharap dengan mewawancarai 4 narasumber tersebut peneliti dapat memperoleh target data yang ingin dicapai.
Demi mendapatkan informasi mengenai narasumber dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu bertanya kepada orang-orang terdekat maupun orang yang dikenalnya terlebih dahulu, siapa diantara mereka yang mungkin memiliki pengalaman ataupun memiliki seorang kenalan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual di KRL commuter line. Karena isu pelecehan seksual ini merupakan isu yang sensitif, sehingga banyak orang yang tidak mau menceritakan pengalaman buruk yang pernah menimpanya kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, bahkan Sebagian orang tidak ingin mengungkitnya lagi. Setelah mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang pernah mengalami pelecehan seksual, kemudian penulis menanyai maksud dan tujuan penulis mewawancarai narasumber untuk memperoleh informasi dari pengalaman narasumber yang nantinya akan dijadikan data oleh penulis dalam penelitiannya. Ketika informan bersedia untuk diwawancarai, dijadikanlah ia narasumber dalam penelitian ini.
Tabel I.F.1 Informasi Tentang Narasumber
30
Narasumber Usia Status Penggunaan KRL
commuter line
Lu 23 Tahun Mahasiswi Dua kali dalam
seminggu
Ki 22 Tahun Mahasiswi Dua kali dalam
seminggu
Fy 22 Tahun Mahasiswi Setiap hari
Li 20 Tahun Mahasiswi Setiap hari
2.2 Data Sekunder
Selain data primer yang diperoleh dari wawancara dan observasi, peneliti juga mengumpulkan sejumlah data sekunder yang peneliti gunakan dengan menggunakan metode online desk review. Dengan metode tersebut peneliti melakukan studi kepustakaan baik berupa buku, jurnal, juga menggunakan sumber elektronik yang terpercaya seperti jurnal daring, pemberitaan di media, artikel website maupun penelitian terdahulu yang peneliti anggap relevan dengan penelitian ini. Data sekunder ialah data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain (Suryani dan Hendryadi, 2015).
Selain studi kepustakaan, peneliti juga mendapatkan data terkait angka pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line seperti data sekunder yang didapat melalui wawancara dengan salah satu staff PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Selain menggunakan data sekunder yang diperoleh dari PT KCI penulis juga mencari data-data lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian ini dalam website
31
resmi KRL dan sumber-sumber elektronik terpercaya untuk digunakan sebagai data tambahan dalam penelitian ini. Data-data sekunder ini nantinya digunakan dibagian Bab I dan Bab II dalam penelitian.
3. Metode Analisis Data
Analisis data menurut Bogdan dan Biken adalah upaya yang dilakukan dengan cara mengorganisasikan data, memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang paling penting dan yang dipelajari, dan memutuskan yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2013).
Analisis data kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian (Sugiyono, 2009).
Miles dan Hubberman mengungkapkan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, berikut ini merupakan teknik analisis data interaktif menurut Miles dan Hubberman (dalam Sugiyono 2009):
1. Pengumpulan data, pertama-tama dimulai dengan menggali data dari berbagai sumber yang kemudian dituliskan dalam catatan lapangan dengan memanfaatkan dokumen pribadi, foto dan sebagainya. Dalam penelitian ini
32
pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan 4 narasumber, dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber.
2. Reduksi data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuang yang tidak perlu.
3. Penyajian data, bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Miles dan Hubberman menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif yang paling sering digunakan ialah dengan teks yang bersifat naratif.
4. Penarikan kesimpulan bisa berubah ketika penulis menemukan kembali data-data yang diperlukan dalam penelitian.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan dalam penelitian ini disusun dengan sistematika yang terdiri dari:
BAB I: Pendahuluan. Berisi tentang latar belakang permasalahan, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II: Gambaran umum tentang lokasi penelitian. Berisi tentang perkembangan Kereta Commuter Indonesia (KCI), peningkatan layanan yang dilakukan oleh PT KCI, peta rute perjalanan KRL commuter line.
33
BAB III: Pembahasan. Berisi tentang temuan data yang diperoleh dengan menggunakan metode pengumpulan data dalam penelitian dan analisis hasil temuan data yang dikaitkan dengan kerangka teori.
BAB IV: Penutup. Berisi kesimpulan dan saran dalam penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
34 BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Kereta Commuter Indonesia (KCI)
Menurut UU No. 13/1992 (Dephub, 1992), kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik yang berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya yang akan ataupun sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan salah satu transportasi yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya mengangkut baik penumpang maupun barang secara massal atau dalam jumlah besar dalam setiap perjalanannya, hemat energi, hemat dalam penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi dan tingkat pencemaran atau polusi yang rendah serta lebih efisien dibandingkan dengan transportasi di jalan raya. Menurut Departemen Perhubungan (dalam Hidayat, 2004), masyarakat yang menggunakan jasa kereta api sebagai sarana transportasi untuk bepergian sejauh ini berjumlah sekitar 180 juta penumpang per tahunnya, diantaranya ialah penumpang non-komersial (kelas ekonomi) yang terdiri dari pekerja kantoran, mahasiswa dan anak sekolahan dan penumpang komersial (kelas eksekutif).
PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sejak tanggal 19 September 2017 berganti nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dan merupakan salah satu anak perusahaan di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengelola KA Commuter Jabodetabek dan sekitarnya. Pembentukan anak
35
perusahaan ini berawal dari keinginan para stakeholder nya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan transportasi yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi masalah transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Perseroan ini resmi menjadi anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sejak tanggal 15 September 2008 (http://www.krl.co.id/).
Seiring dengan konsep pengembangan KRL Jabodetabek dan sekitarnya, PT KAI (Persero) membentuk anak perusahaan yakni PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang ditugaskan menjadi operator sarana Kereta Rel Listrik. PT KCJ yang kini berganti nama menjadi KCI dibentuk menggantikan Divisi Jabodetabek PT KAI sebagai pengelola KRL pada tahun sebelumnya. Kini KRL Commuter line semakin menjadi moda transportasi andalan masyarakat perkotaan untuk mobilitas yang aman, nyaman, dan bebas macet. Tugas pokok perusahaan yang baru ini adalah menyelenggarakan pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter dengan menggunakan sarana kereta rel listrik di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan sekitarnya serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang (Ibid).
KCI memulai modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011 dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi lima rute utama, penghapusan KRL ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi kereta Commuter line. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta yang dilakukan bersama PT KAI (persero) dan Pemerintah. Pada 1 Juli 2013, KCI
36
mulai menerapkan sistem tiket elektronik (E-Ticketing) dan sistem tarif progresif.
Penerapan dua kebijakan ini menjadi tahap selanjutnya dalam modernisasi KRL Jabodetabek (Ibid).
Hingga Juni 2018, KCI telah memiliki 900 unit KRL. Sepanjang tahun 2017, KCI telah melakukan penambahan armada sebanyak 60 kereta. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan penumpang yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Rata-rata jumlah pengguna KRL hingga bulan Juni 2018 per hari mencapai 1.001.438 pengguna pada hari kerja, dengan rekor jumlah pengguna terbanyak yang dilayani dalam satu hari adalah 1.154.080. Sebagai operator sarana, kereta Commuter line yang dioperasikan KCI saat ini melayani 79 stasiun di seluruh Jabodetabek, Banten dan Cikarang dengan jangkauan rute mencapai 418,5 km (Ibid).
B. Peningkatan Layanan KCI
Pertumbuhan penumpang KRL commuter line yang selalu naik setiap tahunnya membuat KCI (Kereta Commuter Indonesia) terus meningkatkan pelayanannya demi kenyamanan pengguna commuter line, terutama perempuan. Pada 19 Agustus 2010 Inovasi kereta khusus wanita (KKW) hadir untuk memenuhi kebutuhan pengguna KRL, khususnya wanita yang ingin menggunakan Commuter line tanpa berbagi ruang dengan laki-laki. Dengan hadirnya kereta khusus wanita ini diharapkan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para wanita yang menggunakan commuter line.
37
GAMBAR II.1 Kereta Khusus Wanita (KKW)
(Sumber: http://www.krl.co.id/)
Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyebut pemisahan gerbong antara perempuan dan laki-laki di beberapa moda transportasi umum yang ada di Jakarta tidak menjawab permasalahn pelecehan seksual yang kerap menyerang perempuan (CNN, 2019). Sebagai perwakilan KRPA Anindiya Restu Fiani mengatakan pemisahan gerbong untuk mencegah pelecehan malah terkesan menjadikan
Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyebut pemisahan gerbong antara perempuan dan laki-laki di beberapa moda transportasi umum yang ada di Jakarta tidak menjawab permasalahn pelecehan seksual yang kerap menyerang perempuan (CNN, 2019). Sebagai perwakilan KRPA Anindiya Restu Fiani mengatakan pemisahan gerbong untuk mencegah pelecehan malah terkesan menjadikan