1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Penggambaran Transgender dalam sebuah acara televisi atau film sering kali ditampilkan menjadi pribadi yang aneh, menyimpang, menjijikkan dan sebagainya, yang digunakan sebagai lelucon untuk mengundang tawa (Kermode, 2010, p.7). Transgender, berdasarkan pengertian dari Susan Stryker, yaitu sebuah istilah yang menjelaskan semua identitas dan praktik yang mengacu pada lintas gender, dimana seseorang gemar berperilaku atau menggunakan pakaian dari lawan jenis. (Currah, Juang, and Minter, 2000, p.4).
Gambaran ini terdapat pada peran Laydee yang terdapat pada film Little Britain, yang memasukkan kekerasan secara verbal terhadap transgender (Kermode, 2010, p.9). Kermode juga menyimpulkan bahwa banyak orang-orang transgender yang merasa tidak puas dengan bagaimana diri mereka digambarkan dalam media, dimana mereka digambarkan sebagai sosok yang negatif (Kermode, 2010, p.11). Namun walaupun begitu, berdasarkan penelitian Kermode, gambaran transgender dalam film juga ada yang mendapatkan tanggapan positif dari orang- orang transgender. Seperti film dokumenter Age 8 and Wanting a Sex Change dan Make Me a Man yang dianggap bisa membantu orang-orang untuk memahami transgender lebih baik lagi (Kermode, 2010, p.7). Berdasarkan hasil penelitian dari Esther, transgender khususnya waria dalam acara televisi digambarkan sebagai objek lawakan, orang yang berdandan secara berlebihan, memiliki kode- kode bahasa sendiri, seorang perayu, dan sebuah penyakit (perilaku menyimpang) (Esther, 2010, p.11-12).
Peran transgender belakangan ini juga banyak digunakan di program-
program televisi komedi, yang digunakan hanya untuk bahan ejek-ejekan, seperti
Pinky Boy dalam Extravaganza, Olga Syahputra yang kerap menggunakan atribut
wanita (wig, pakaian, high heels), Opera Van Java juga sering menampilkan aktor
laki-laki yang menggunakan pakaian wanita. Dalam bentuk film, juga masih ada
sutradara yang menampilkan transgender sebagai bahan untuk membuat genre
2
Universitas Kristen Petra
komedi, atau menempatkan pelaku transgender dalam film yang bergenre komedi seperti Madame X dan Hantu Taman Lawang.
Gambar 1.1 : Sule dalam Opera Van Java Sumber : undergroundtauhid.com
Gambar 1.2 : Aming berperan sebagai Waria dalam film komedi Madame X Sumber : chicagofilmfestival.com
Ternyata belakangan ini Indonesia sedang dilanda demam komedi.
Dimana segala hal yang bisa, akan dibuat sebagai lelucon. Mulai dari hantu
sampai kaum transgender pun bisa dibuat menjadi objek tawa. Waria dianggap
memiliki potensi besar untuk memeriahkan panggung komedi. Oleh karena itu
3
Universitas Kristen Petra
semakin banyak aktor yang rela berdandan ala wanita untuk mendapatkan gelak tawa dari permisa (Rezamonda, 2012).
Bahkan sejak dulu, pelaku transgender disajikan dengan format humoris, dimana para pemain pentas yang merupakan transgender dianggap sebagi tumbal untuk bahan tertawaan, cemoohan, dan dianggap dungu (Thowok, 2005, p.xi).
Upaya mengubah diri dalam tampilan gender yang lain dianggap bisa mengundang tawa dan menggelitik. Hal ini bisa dilihat dari tampilan edan-edanan (pelaku transgender) yang menampilkan kekonyolan serta kelakuan seorang laki- laki yang memerankan perempuan (Thowok, 2005, p.47).
Walaupun sudah ada dan dipraktikkan pada kesenian sejak zaman dulu, namun di Indonesia hal ini masih terdengar tabu dan belum bisa diterima oleh masyarakat dengan baik. Buktinya, dengan masih banyaknya masyarakat yang belum menerima keberadaan mereka yang tergolong minoritas. Di Indonesia masih banyak terjadi kekerasan yang dilakukan kepada kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Terdapat lebih dari empat juta kaum LGBT, khususnya waria yang merasa tersisih, dianggap sebagai “sampah masyarakat”, dan mendapatkan perlakuan yang semena-mena dari masyarakat bahkan aparat keamanan (Dini, 2011).
Padahal gerakan transgender menyatakan bahwa transgender bukanlah sebuah kaum yang terpinggirkan, namun sebuah identitas yang jelas (Currah, Juang, and Minter, 2000, p.151). oleh karena itu tidak seharusnya pelaku transgender terus menjadi bahan lelucon untuk film-film dan program televisi dengan genre komedi.
Dalam film di Indonesia sendiri juga terdapat beberapa penelitian yang masih menyebutkan Transgender diperlakukan dalam film sebagai objek lawak atau menjadi bahan olokan. Dalam penelitiannya, Agustina dan Listiorini mendapatkan hasil yang juga mengatakan bahwa dalam film Realita Cinta dan Musik Rock & Roll, masih terdapat waria yang menjadi bahan olokan. Adegan ini terdapat pada scene 1, dimana Nugi merendahkan waria yang sedang “mangkal”
di pinggir jalan, serta mengatakan Ipang adalah seorang banci tanpa ada konteks
yang jelas. Kata banci juga digunakan oleh Ipang dan Nugi di scene 13, untuk
mengganggu teman sekelasnya yang culun dan sering diganggu oleh teman-
4
Universitas Kristen Petra
temannya (Agustina & Listiorini, 2013). Sedangkan di filmnya sendiri, juga masih terdapat adegan dimana Nugi dan Ipang mengganggu seorang waria dari dalam mobil, hingga membuat waria tersebut marah dan mengejar mereka. Dalam penelitian Irmawati yang berjudul Representasi Sosok Transgender dalam film Mendadak Bencong, juga mendapatkan hasil bahwa waria masih digunakan sebagai objek pengundang tawa, serta perilaku yang abnormal atau dianggap sebagai kelainan (Irmawati, 2011).
Hasil penelitian diatas sedikit berbeda dari penelitian Ayunda Putri, yang meneliti film transgender Thailand, Beautiful Boxer. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah transgender atau waria tidak digunakan sebagai objek lawakan atau pengundang tawa, melainkan menjadikan sebuah film menjadi dramatis dan mengundang kesedihan dan prihatin bagi penontonnya. Namun tetap saja dalam film ini, transgender masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal. Dalam film ini transgender dikatakan sebagai bagian dari kepercayaa Agama Buddha, yang diartikan sebagai karma yang harus mereka jalani karena perbuatan buruk di masa lampau (Putri, 2009).
Tidak seperti di Indonesia, film-film bertemakan Transgender yang dibuat dari sisi manusiawi dan menyentuh hati di luar negeri sudah lebih dulu menjadi minat produser di sana. Misalnya film yang disutradarai oleh Rainer Werner Fassbinder dengan judul In a Year of 13 Moons (1978). Film ini menceritakan tentang kisah seorang laki-laki bernama Erwin, yang menjadi transgender dan transseksual karena ia jatuh cinta dengan teman laki-lakinya.
Namun yang ia dapatkan bukanlah cinta teman lelakinya, justru malah semakin dijauhi oleh laki-laki tersebut, bahkan juga orang-orang dekatnya. Pada tahun 1997 Alain Berliner juga turut meramaikan film dengan tema transgender, dengan filmnya yang berjudul Ma Vie en Rose. Dalam film ini diceritakan kisah seorang anak laki-laki bernama Ludo yang gemar menggunakan pakaian perempuan.
Karena hobinya ini, tidak hanya Ludo, namun orangtuanya pun ikut dikucilkan oleh masyarakat karena membiarkan anaknya berdandan layaknya perempuan.
Bahkan terdapat adegan dimana rambut Ludo dipotong dengan paksa, karena
berdasarkan stereotipe anak laki-laki seharusnya berambut pendek. Selain itu, juga
ada film di tahun 90’an yang digarap oleh Pedro Almodovar dengan judul All
5
Universitas Kristen Petra
About My Mother, film berjudul Transamerica (2005) yang disutradarai oleh Duncan Tucker (Jacques, 2014).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sophie Shirley dan Jane Taylor, yang meneliti bagaimana transgender digambarkan dalam film “Boys Don’t Cry dan Transamerica, kedua film ini memperjuangkan hak yang dimiliki oleh transgender. Dimana kedua film ini ingin mendidik masyarakat untuk mengubah cara pandang mereka terhadap transgender. Karena menurut Shirley dan Taylor, masyarakat sudah dari beberapa dekade yang lalu telah terjebak pada bayangan negatif trangender yang dimainkan dan digerakkan oleh media.
Walaupun dianggap terlambat, mengingat banyaknya masyarakat yang sudah memandang transgender sebagai hal yang negatif, namun kedua film ini tetap ingin mengejar ketertinggalan mereka untuk mengubah cara pandang atau opini masyarakat terhadap transgender dengan lebih positif (Taylor, 2010, p.58-59).
Sedangkan berdasarkan Miller, dalam film transgender digambarkan
sebagai tiga hal. Yang pertama yaitu sebagai lelucon, dimana transgender
digunakan sebagai pengundang tawa dalam film-film bergenre komedi, yang juga
sering digunakan di Indonesia. Di Barat, film komedi yang menggunakan
transgender sebagai lelucon bisa ditonton melalui film Some Like It Hot, Tootsie,
dan Victor/Victoria (Miller, 2012, p.47). yang kedua, transgender juga
digambarkan sebagai killer surprise. Dimana disini penonton disajikan tampilan
transgender sebagai sosok yang menakutkan dan membuat jijik. Dimana
transgender digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan, perlu ditakuti, serta
penipu. Film-film transgender yang memuat gambaran seperti ini adalah film-film
dengan tema thriller, seperti film Ticked-Off Trannies with Knives, Peacock,
Sleepaway Camp, dan sebagainya (Miller, 2012, p.107-110). Yang terakhir,
adalah transgender yang digambarkan sebagai pengalaman hidup. Dimana
transgender disini digambarkan sebagai sosok yang membangkitkan simpati
penonton, yang menyebabkan masyarakat yang menonton mampu bersikap lebih
positif terhadap kaum yang dianggap terpinggirkan ini. Namun bukan berarti film-
film tersebut serta-merta mampu menjembatani secara utuh kesenjangan yang ada
diantara mereka. Film-film dengan gambaran seperti ini biasanya lebih
memperhatikan efek ekspresi, agar film tersebut seolah-olah memperlihatkan
6
Universitas Kristen Petra
sebuah kisah yang nyata dari seorang individu, untuk lebih membangkitkan simpati penontonnya. Contoh gambaran transgender seperti ini dapat ditemukan dalam film Boys Don’t Cry, Ma Vie En Rose, dan sebagainya (Miller, 2012, p.162-165).
Tidak hanya di Barat saja. Di Asia, seperti Thailand, juga memiliki beberapa judul film transgender. Misalnya Beautiful Boxer (2005), yang bercerita tentang seorang boxer yang gemulai, dan lebih memilih hidup sebagai perempuan dibandingkan laki-laki. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa film dokumenter yang menceritakan kerasnya kehidupan seorang transgender atau waria, hanya saja film-film ini tidak digarap oleh sutradara Indonesia, melainkan sutradara luar negeri yang mengambil lokasi di Indonesia. Seperti film dokumenter yang berjudul Waria Zone(2011) yang disutradarai oleh Kiwa dan Terje Toomitsu, serta film dokumenter Tales of Waria (2011) yang disutradarai oleh Kathy Huang.
Berdasarkan hal diatas peneliti menemukan beberapa film dengan tema LGBT, terutama transgender yang dibuat berbeda di Indonesia, yaitu peran transgender yang bukan lagi digunakan sebagai lelucon pada film-film komedi, tetapi memainkan peran dalam film drama yang dapat menyentuh hati penonton.
Dari hasil observasi peneliti, film transgender dengan genre drama yaitu Realita Cinta dan Rock and Roll (2006) yang berdasarkan penelitian Agustina dan Listiorini (2013) masih mendapatkan unsur kekerasan berupa ejekan yang ditujukan untuk melecehkan waria. selai itu juga terdapat film dengan genre yang sama seperti sanubari Jakarta serta “Lovely Man” (2011). Dari beberapa film diatas, peneliti memutuskan untuk meneliti film “Lovely Man”. Alasan peneliti memilih film ini adalah karena berdasarkan observasi peneliti, kedua film lainnya hanya menampilkan gambaran hubungan seorang waria dengan satu hal saja.
Seperti film Sanubari Cinta yang lebih memfokuskan hubungan kisah percintaan waria dengan kekasihnya, serta film Realita Cinta dan Rock & Roll (2006) yang fokus menampilkan hubungan waria dengan anaknya.
Sedangkan transgender waria dalam film “Lovely Man” menampilkan gap penggambaran hubungan dengan lingkungan sekitarnya yang lebih beragam.
Film ini menampilkan hubungan pada ruang sosial keluarga dengan anak dan
istrinya, selain itu disajikan juga ruang sosial masyarakat dengan masyarakat dan
7
Universitas Kristen Petra
preman, ruang sosial cebongan dengan waria yang juga bekerja sebagai PSK bersama Syaiful, hubungan percintaan Syaiful dengan kekasihnya, Menariknya, film ini juga mengangkat hubungan Syaiful dengan agamanya, yakni agama Islam (salah satu agama yang melarang adanya transgender atau waria serta mengharamkan praktik homoseksual karena dianggap berdosa, menyimpang dan diharamkan). Film ini, menjadikan agama atau kepercayaan sebagai nilai yang memiliki hubungan lebih individu antara manusia sebagai waria dengan Penciptanya, sedangkan pada film lain seperti pada film Panggil Aku Puspa (2013) dan Insyafnya Seorang Waria (2014), hubungan waria dalam agama dipengaruhi juga dengan lingkungan sekitar, seperti keluarga dan masyarakat yang ikut mencampuri urusan waria yang diharamkan dalam agamanya. Dan hubungan-hubungan inilah yang akan diteliti oleh peneliti.
Gambar 1.3 : Syaiful berkumpul dengan teman-temannya saat menjadi PSK Sumber : capture DVD “Lovely Man”
Gambar 1.4 : Syaiful dipukuli oleh preman
Sumber : capture DVD Lovely Man
8
Universitas Kristen Petra
“Lovely Man” adalah film yang disutradarai oleh Teddy Soeriadmatja.
Film ini bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 19 tahun yang mencari ayahnya. ditinggal sejak usia 4 tahun, Cahaya hanya memiliki sedikit gambaran tentang ayahnya. Ternyata sosok ayah yang ditemuinya di kota besar tidak sesuai dengan harapan Cahaya. Setelah 15 tahun berpisah, Cahaya bertemu lagi dengan ayahnya dengan sosok berdandan dan berpakaian wanita. Saat itu ayah Cahaya yang bernama Syaiful, sedang bekerja dipinggir jalan dengan menjajakan dirinya, bersama dengan waria lainnya. Saat bekerja Syaiful menggunakan nama Ipuy.
nama itu adalah nama khusus yang digunakan saat Syaiful menjadi waria.
Gambar 1.5 : Syaiful bersama anaknya yang bernama Cahaya Sumber : article.wn.com
Gambar 1.6 : Poster film “Lovely Man”
Sumber : haryofilm.blogspot.com
9
Universitas Kristen Petra
Untuk meneliti film ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika. Semiotika adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk mengkaji data. Berdasarkan buku Semiotika Komunikasi, semiotika dibedakan menjadi dua jenis. Yang pertama yaitu semiotika komunikasi, yang menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satunya mengansumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi (pengirim, penerima kode, pesan, saluran, komunikasi dan acuan). Sedangkan semiotika kedua yaitu semiotika signifikansi, yaitu semiotika yang lebih menekankan pada teori tanda dan pemahaman yang ada pada suatu konteks tertentu (Sobur, 2004, p.15). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan semiotika signifikansi, karena peneliti fokus pada tanda dan pemahaman pesan yang disampaikan sutradara dalam menggambarkan transgender dalam film tersebut.
Menurut Fiske (1990, p.189), semiotika lebih berpusat penurunan dan pertukaran makna. Yang ditekankan di sini bukanlah tahapan prosesnya, melainkan teks dan interaksinya dalam memproduksi dan menerima suatu kultur atau budaya, pada peran komunikasi dalam memantapkan dan memelihara nilai- nilai, dan bagaimana nilai-nilai tersebut memungkinkan komunikasi memiliki makna. Fiske memiliki kode-kode televisi yang dibagi menjadi tiga level, yaitu level realitas, representasi dan ideologi. Dengan semiotika Fiske dan kode-kode televisinya, peneliti akan meneliti keenam hubungan Ipuy yang digambarkan dalam film “Lovely Man”.
Peneliti menggunakan semiotika John Fiske yang memiliki kode televisi, karena “Lovely Man” sebagai sebuah film, adalah salah satu bagian dari televisi yang membawa sebuah pesan yang disusun berdasarkan kode-kode (visual dan audio), yang sesuai dengan kode televisi John Fiske. Menurut Setiawan (2013, par. 2), film dalam layar lebar memang memiliki sedikit perbedaan dengan film pada televisi, seperti audio yang lebih mendetail pada film layar lebar, juga layar lebar atau bioskop dianggap lebih memberikan kepuasan bagi penonton dengan membuat seolah-olah mereka melihat kejadian nyata dan tidak berjarak (Ardianto
& Erdinaya, 2005 p.136). Namun film pada layar lebar terdiri unsur-unsur yang
sama seperti film pada televisi, yang juga terdapat pada kode televisi John Fiske.
10
Universitas Kristen Petra
Film tetap memiliki fungsi edukasi, informatif, dan persuasi, dan untuk memperoleh hiburan (Efendy 1981, p.212).
Peneliti memberi batasan pada penelitian ini hanya pada peran transgender khususnya waria, yang ada pada film “Lovely Man”, yaitu Donny Damara yang memerankan Syaiful atau Ipuy.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas selanjutnya dapat dirumuskan permasalahn dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana representasi transgender dalam film “Lovely Man”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi transgender dalam film “Lovely Man”.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang bisa didapat dari membaca penelitian mengenai representasi transgender dalam film “Lovely Man” adalah :
a. Manfaat Akademis
Peneliti berharap agar penelitian ini dapat menambah pengetahuan dalam bidang ilmu komunikasi, khususnya pada tema transgender dalam film. Peneliti menganalisa dengan menggunakan metode semiotika untuk dapat merepresentasikan Transgender dalam film “Lovely Man” Peneliti juga berharap penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lainnya yang ingin mengetahui representasi transgender dalam sebuah film.
1.5 Batasan Penelitian
Agar penelitian ini lebih fokus dan mudah dipahami sesuai dengan tujuan
pembahasan serta memperjelas lingkup masalah yang dibahas, maka perlu
dilakukan pembatasan sebagai berikut :
11
Universitas Kristen Petra
1. Masalah yang diteliti oleh peneliti adalah mengenai representasi Transgender dalam film “Lovely Man”. Sehingga peneliti tidak akan membahas aspek lain di luar representasi transgender dari film ini.
2. Peneliti fokus pada aspek transgender yang ditunjukkan dalam gambar serta dialog, yang ditandai dengan denotasi (penanda) yang ditampilkan dalam film, dimana dalam film tersebut terdapat enam hubungan, yaitu antara Syaiful sebagai transgender dengan anaknya, hubungan Syaiful dengan istrinya, hubungan Syaiful dengan kekasih sesama jenisnya, hubungan Syaiful dengan teman sesama waria, hubungan Syaiful dengan masyarakat, dan hubungan Syaiful dengan preman.
3. Peneliti membatasi representasi transgender hanya pada tokoh waria Syaiful atau Ipuy.
1.6 Sistematika Penelitian
Pembahasan dalam skripsi ini diuraikan dalam masing-masing bab yang akan dijabarkan sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Di dalam bab ini, peneliti menuliskan tentang latar belakang masalah, tujuan yang ingin dicapai, manfaat yang ingin dicapai, sistematika pembahasan, dan batasan penelitian.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Pada tinjauan pustaka peneliti membahas teori-teori yang
digunakan dalam penelitian ini. Berikutnya peneliti juga membahas
nisbah antar konsep yang digunakan sebagai penghubung teori
yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini. dalam bab
ini peneliti juga membahas kerangka pemikiran.
12
Universitas Kristen Petra