• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE VARIETY OF LANGUAGE ASSESSMENT USAGE IN SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) FACULTY OF ENGINEERING, UNIVERSITY OF ANDI JEMMA PALOPO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE VARIETY OF LANGUAGE ASSESSMENT USAGE IN SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) FACULTY OF ENGINEERING, UNIVERSITY OF ANDI JEMMA PALOPO."

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

PALOPO

( TINJAUAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR) THE VARIETY OF LANGUAGE ASSESSMENT USAGE IN

SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) FACULTY OF ENGINEERING, UNIVERSITY OF ANDI JEMMA PALOPO

Tesis

Oleh

CHECE DJAFAR

Nomor Induk Mahasiswa : 04.08.904.2013

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR

2015

(2)

PALOPO

( TINJAUAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR) TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister

PROGRAM STUDI

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

DISUSUN DAN DIAJUKAN OLEH

CHECE DJAFAR

Nomor Induk Mahasiswa : 04.08.904.2013

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR

2015

(3)

ANDI JEMMA PALOPO

(TINJAUAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR)

Yang Disusun dan Diajukan oleh CHECE DJAFAR

Nomor Induk Mahasiswa : 04.08.904.2013

Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Tesis pada tanggal 30 Mei 2015

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. H.M. Ide Said D M, M. Pd. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum.

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana KetuaProdi Magister PendBahasa dan Sastra Indonesia

Prof. Dr. H.M. Ide Said D M, M.Pd. Dr. Abdul Rahman Rahim, M.Hum.

NBM. 988 463 NBM.

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI

(4)

Teknik Universitas Andi Jemma Palopo (Tinjauan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar)

Nama : Chece Djafar

Nim : 04.08.904.2013

Program studi : Magister PendidikanBahasadanSastra Indonesia

Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada Tanggal 30 Mei 2015 dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 30 Mei 2015

TIM Penguji :

1. Prof. Dr. H.M. Ide Said D M, M. Pd. ...

(Pembimbing I)

2. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum. ...

(Pembimbing II)

3. Dr. H. Bahrun Amin, M.Hum. ...

(Penguji I)

4. Dr. Abdul Rahman Rahim, M.Hum. ...

(Penguji II)

MOTO DAN PERSEMBAHAN

(5)

Karena apa yang kamu targetkan Merupakan modal utama untukmu Menuju cita-citamu di hari esok

Hambatan dan tantangan hidup hari ini Merupakan jawaban emas untuk menuju hari esok yang lebih cemerlang dan Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu Ada kemudahan

Allah tidak membebankan

Seseorang melainkan dengan kesanggupannya (Qs. AL Baqarah: 286) Kuperuntukan karya ini kepada

kedua orang tua tercinta, keluarga kecilku, dan saudara-saudaraku yang

tersayang, serta teman-teman yang dengan tulus dan ikhlas selalu berdoa

dan membantu, baik material maupun moril demi keberhasilan penulis.

(6)

Nim : 04.08.904.2013

Program studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, 30 Mei 2015 Yang menyatakan,

Chece Djafar

(7)

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTO ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian... 6

D. Manfaat Penelitian... 7

E. Definisi Operasional ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Tinjauan HasilPenelitian ... 8

B. Tinjauan Teori dan Konsep ... 10

C. Kerangka Pikir ... 101

BAB III METODE PENELITIAN ... 103

A. Pendekatan Penelitian ... 103

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 104

C. Unit Analisis dan Penentuan Informan ... 104

D. Teknik Pengumpulan Data ... 105

E. Teknik Analisis Data ... 106

F. Pengecekan Keabsahan Temuan ... 107

(8)

2. Deskripsi Kelembagaan ... 110

B. Paparan Dimensi Penelitian ... 115

C. Pembahasan ... 124

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 134

A. Simpulan ... 134

B. Saran ... 135

DAFTAR PUSTAKA ... 136

RIWAYAT HIDUP ... 140

LAMPIRAN ... 141

1. KORPUS DATA ... 141

2. IZIN PENELITIAN ... 147

(9)

dibimbingolehH. M. Ide Said, D.M., dan Hj. Kembong Daeng.

Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan konteks situasi pemakaian bahasa dalam SMS mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo dan mendeskripsikan wujud kaidah pemakaian bahasa dalam SMS mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo.

Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif lapangan dengan sasaran penelitian mengandalkan data yang diperoleh melalui informan dan data dokumentasi yang berkaitan dengan subjek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Andi Jemma Palopo Fakultas Teknik Informatika, yang aktif dan terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 dengan sasaran utama penggunaan bahasa SMS antara dosen dan mahasiswa dalam ragam formal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ragam bahasa yang digunakan mahasiswa ini dipengaruhi dialek dari bahasa sehari-hari dalam masyarakat atau ragam bahasa masa kini. Penggunaan dialek atau gaya bahasa masa kini dianggap sebagai bahasa pergaulan masyarakat khususnya mahasiswa.

Selanjutnya, terkait kaidah penulisan dalam SMS di atas, penggunaan huruf kapital yang seharusnya digunakan pada Indonesia menjadi Indonesia karena merupakan nama sebuah negara. Sebaliknya kata yang tidak menggunakan huruf kapital seperti Dgn menjadi dgn. Hasil kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahawa wujud dari penggunaan bahasa dalam SMS ditinjau dari konteks situasi pemakaian atau ragam bahasa yang digunakan merupakan bentuk adanya pengaruh dalam perkembangan bahasa, terkait adanya penyingkatan, permainan angka yang digunakan sebagai pengganti lambang huruf, pengganti lafal huruf, dan tanda pengulangan lafal huruf adalah bentuk ekspresi semata. Penggunaan bahasa SMS ditinjau dari ejaannya, menggambarkan adanya kebiasaan menyingkat kata demi efisiensi ketika mengirim pesan singkat melalui ponsel, sering menghapus huruf atau kata yang tidak penting, mengubah frase menjadi inisial, menyingkat kata, serta malas menggunakan titik atau koma, sehingga menghasilkan adanya ambigu dan bahasa yang non-baku.

Kata-kata kunci :Ragam bahasa, SMS

(10)

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. karena atas limpahan rahmat taufik dan hidayah-Nya jualah sehingga tesis yang berjudul “Kajian Pemakaian Ragam Bahasa dalam SMS (Short Message Service) Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo”

dapat diselesaikan dengan baik.

Sesuai dengan eksistensi penulis, apa yang tertuang adalam tesis ini merupakan manifestasi dari kemampuan optimal yang penulis miliki selama perkuliahan. Penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam tesis ini baik segi teknis maupun materinya. Oleh karena itu, saran dari segenap pembaca yang sifatnya konstruktif sangat penulis harapkan.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said D. M, M.Pd. dosen pembimbing I dan Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum. dosen pembimbing II yang telah rela meluangkan waktunya, mencurahkan tenaganya yang disertai dengan kesungguhan hati dalam memberikan arahan, petunjuk, bimbingan, dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan tesis ini.

Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada : Rektor

Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) Dr. Irwan Akib, M.Pd.,

Ketua Program Studi Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH)

Dr. Abdul Rahman Rahim, M.Hum., sekretaris Program Studi PGSD

Universitas MuhammadiyahMakassar (UNISMUH), dan para dosen pada

(11)

Ucapan terima kasih yang sama kepada kedua orang tua penulis, Bapak tersayang Djafar Busra dan Ibuku tersayang Nurhana yang telah memberikan doa restu yang tiada henti-hentinya demi keberhasilan anak- anaknya mulai dari awal sampai akhir penyelesaian studi penulis. Kepada suamiku M. Sahril Idris, anak-anakku tersayang, Muh. Rayhan Sahril dan Nur istiqamah Sahril, adik-adikku tersayang : Gerhani Djafar, Herman Saputra, Pertiwi Sari, Imam Busra, Muthia Azahra, dan keponakanku tecinta Aqila Alfa Fariza, sahabatku Kartini, S.Pd., M.Pd. serta keluarga besar tercinta yang telah memberikan doa dan dukungan, baik moril maupun spiritual yang tiada pernah habisnya terhadap penyelesaian penulisan tesis ini.

Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu yang telah membantu menyelesaikan tesis ini, penulis hanya dapat memanjatkan doa ke hadirat Allah Swt. semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat pahala yang berlipat ganda. Akhirnya, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk kemaslahatan bersama. Amin.

Makassar, Mei 2015

Penulis

(12)

Timur, Kabupaten Luwu.Anak pertama dari lima bersaudara, Gerhani Djafar, Pertiwi Sari, Imama Busra, dan Muthia Azhara Busar.

Pasangan Bapak Djafar Busra dan Ibu Nurhana. Penulis mulai memasuki

pendidikan dasar di kampung halamannya, yaitu SDN 275 Tappong dan

tamat pada tahun 1992. Kemudian penulis melanjutkan pendididkan ke

SMP Negeri 3 Palopo dan tamat pada tahun 1995. Pada tahun yang sama,

penulis melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 1Palopo, di sekolah

inilah penulis menamatkan pendidikan pada tahun 1998. Pada tahun ajaran

2009/2010 penulis melanjutkan pendidikan Universitas Cokroaminoto

Palopo dan selesai pada tahun 2013. Kemudian, penulis melanjutkan

pendidikan di salah satu universitas yang berada di Kota Palopo yaitu

Universitas Cokroaminoto Palopo dan penulis memasuki Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada

tahun 2013 penulis diterima di Universitas Muhammadiyah Makassar pada

Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saat ini

penulis sedang penyelesaian studi dan Insya Allah akan menamatkan

pendidikan tahun 2015.

(13)

2. Surat Keterangan Pembimbing ... 148

(14)

EYD : Ejaanyang Disempurnakan

Afaresis : Penanggalan huruf awal atau suku awal kata

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehadiran bahasa di muka bumi tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia kapan dan di mana pun berada. Artinya, tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Bahasa merupakan alat interaksi dan alat komunikasi verbal yang hanya dimiliki manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun secara eksternal, secara internal artinya pengkajian itu hanya dilakukan terhadap struktur intern bahasa itu saja, seperti struktur fonologi, struktur morfologi, struktur sintaksis hingga wacana, kajian internal ini dilakukan dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik saja. Sebaliknya, kajian secara eksternal berarti kajian itu dilakukan terhadap hal-hal atau faktor-faktor yang berada di luar bahasa, tetapi berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial masyarakat. Pengkajian secara eksternal ini akan menghasilkan rumusan-rumusan atau kaidah-kaidah yang berkenaan dengan penggunaan dan kegunaan bahasa dalam segala kegiatan manusia di dalam masyarakat.

Mengkaji tentang bahasa dalam sejarah perkembangannya yang dari

waktu ke waktu makin bervariasi dan sekaligus menjadi warna dalam

karagaman karakter manusia sebagai pelaku bahasa. Bahasa Indonesia

(16)

secara resmi diakui sebagai "Bahasa Persatuan Bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Pidato pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan, "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tetapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."

Uraian di atas, memberi gambaran sejarah singkat bahasa di

Indonesia, perkembangan bahasa khususnya bahasa Indonesia yang baik

dan benar sudah mulai ternoda dengan adanya variasi bahasa modern di

kalangan masyarakat khususnya remaja. Variasi bahasa terjadi akibat

keberagaman penutur dalam wilayah yang sangat luas. Penggunaan

variasi bahasa harus disesuaikan dengan tempatnya, yaitu antara bahasa

resmi dan tidak resmi. Variasi bahasa resmi digunakan dalam situasi

resmi seperti, pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah,

surat-menyurat resmi, dan buku pelajaran. Variasi bahasa resmi dipelajari

melalui pendidikan formal, sedangkan variasi bahasa tidak resmi

digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung,

dalam surat-surat pirbadi, di jalan. Variasi bahasa tidak resmi dipelajari

secara langsung dalam masyarakat umum, tidak dalam pendidikan formal.

(17)

Thomas (1999:97), berpendapat bahwa variasi bahasa yang digunakan akan berbeda-beda tergantung pada jenis situasi dan jenis media yang digunakan. Variasi atau ragam bahasa dalam penelitian ini adalah ragam bahasa yang digunakan dalam pesan singkat salah satu alat komunkasi elektronik (Handphone), dalam bahasa Inggris disebut Short Messege Send (SMS). Ragam bahasa SMS ini akan menggunakan bahasa dan penulisan yang bervariasi atau beragam sesuai dengan jenis situasi dan jenis media yang digunakan, media yang digunakan dalam ragam bahasa SMS adalah salah satu alat komunikasi elektronik (Handphone).

Handphone dikenal oleh semua orang sebagai alat penunjang kegiatan sehari-harinya terutama dalam hal komunikasi. Komunikasi melalui handphone sangat banyak kelebihannya daripada menggunakan alat komunikasi lainnya, satu kelebihan handphone adalah layanan SMS (Short Message Service) atau layanan pesan singkat. Layanan ini memiliki kapasitas 160 karakter per SMS. Layanan SMS ini lebih murah dibandingkan dengan menelpon Remaja adalah pengguna handphone dalam jumlah yang sangat besar di Indonesia. Berbagai layanan yang tersedia pasti digunakan remaja, salah satunya adalah layanan SMS.

Penggunaan SMS oleh seorang remaja bisa dilakukan lebih dari 25 kali

sehari. Ada beberapa pengaruh negatif dari handphone secara umum,

yaitu mengganggu perkembangan anak, efek radiasi, rawan terhadap

(18)

tindak kejahatan, sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, pemborosan dan lain-lain (Tias. 2009).

Kebiasaan yang sering dilakukan remaja dalam mengirim SMS adalah menyingkat kata-kata dalam pesan yang akan dikirim. Penyebab hal ini ada beberapa faktor salah satunya ialah bertujuan untuk menghemat biaya pengiriman SMS. Kebiasaan menyingkat inilah yang mendasari timbulnya keberagaman bahasa yang digunakan dalam SMS. Banyak sekali ragam bahasa yang biasa dipakai dalam mengirim SMS, seperti menggunakan emoticon (emotion icon) dan penggunaan bahasa slang.

Bahasa yang beragam tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman antara penerima dan pengirim SMS. Kesalahpahaman tersebut bisa disebabkan oleh penyingkatan kata yang bermakna ambigu. Tingkat penggunaan bahasa SMS dalam berkomunikasi jauh lebih tinggi dibanding dengan berbicara langsung melalui telepon atau handphone.

Karakteristik ragam bahasa SMS yang digunakan di kalangan

mahasiswa sangat unik, terutama dalam gaya penulisannya. Namun, yang

menarik bagi peneliti adalah ragam bahasa dalam SMS mahasiswa

kepada dosen. SMS sebagai pengganti surat yang berisi pesan atau

informasi kepada lawan tutur, seharusnya sudah dipahami oleh

mahasiswa sebagai pengguna bahasa SMS tersebut. Demikian juga

dengan pesan atau informasi yang akan disampaikan kepada dosen,

tentunya mahasiswa sudah mengerti dan paham dengan konteks situasi

berdasarkan isi pesan yang disampaikan. Namun, hal tersebut secara

(19)

tidak langsung kurang dipahami mahasiswa pemakai bahasa SMS, sehingga muncul keragaman gaya dan simbol bahasa SMS yang mungkin sama digunakan ketika berkomunikasi dengan teman-temannya.

Fenomena lain yang menarik bagi peneliti, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo kurang memahami konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar secara mendasar. Hal ini tampak dari bahasa SMS yang digunakan saat berkomunikasi dengan dosen. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indoneia yang berlaku. Konsep inilah yang banyak menyimpang di kalangan mahasiswa sebagai pengguna bahasa SMS, karena mungkin belum menyadari dengan siapa dan di mana sedang bicara jadi tidak menyesuaikan susunan kaliamat yang digunakan. Berdasarkan gambaran fenomena-fenomena tersebut sangat menarik perhatian penulis sehingga masalah ini diangkat sebagai tema dari karya tulis ilmiah ini.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah konteks situasi pemakaian bahasa dalam SMS mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo ?

2. Bagaimanakah wujud kaidah pemakaian bahasa dalam SMS

mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo ?

(20)

C. Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan yang dilakukan tentu mempunyai tujuan, demikian juga penelitian yang dilakukan terhadap ragam bahasa SMS dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah:

1. Mendeskripsikan konteks situasi pemakaian bahasa dalam SMS mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo.

2. Mendeskripsikan wujud kaidah pemakaian bahasa dalam SMS mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang di peroleh melalui penelitian ini dibagi atas dua yaitu:

1. Manfaat Praktis :

a. Menigkatkan pembelajaran penggunaan bahasa Indonesia baku, serta ragam bahasa.

b. Mendorong mahasiswa untuk tetap berbahasa baku meskipun melalui berbagai media, salah satunya bahasa SMS.

2. Manfaat Teoretis

a. Memberi sumbangan teknik bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia.

b. Landasan konseptual dan operasional pelaksanaan pengembangan

pembelajaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya

melalui bahasa SMS.

(21)

E. Pembatasan Masalah

Untuk membatasi penelitian ini agar lebih mendalam dan terarah

sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, sangat diperlukan adanya

pembatasan masalah. Penulis membatasi penelitian ini pada wujud

pemakaian bahasa dalam SMS yang ditinjau dari tulisan dan ejaannya,

serta memberi batasan bentuk SMS yang akan diteliti yaitu SMS dari

mahasiswa kepada dosen.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hasil Penelitian

Penelitian tentang kajian pemakaian bahasa SMS terhadap mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andi Jemma Palopo dalam tinjauan bahasa Indonesia yang baik dan benar bertujuan untuk mengetahui adanya konsep pemakaian ragam bahasa SMS di kalangan mahasiswa yang semakin berkembang dengan gaya dan karakteristik bahasa.

Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya, yaitu penelitian dengan judul Ragam Bahasa SMS dalam Rubrik Suara Publik di Harian Surya Edisi 19 Agustus 2008. Penelitian tersebut memang tidak sama persis dengan penelitian ini karena merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan media surat kabar, sementara penelitian penulis merupakan penelitian kualitatif, namun secara jelas efek dari penggunaan bahasa SMS di lingkungan pelajar dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini.

Skripsi Puspitandari (2004) Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada yang berjudul “Ragam Bahasa Short Message Service”.

Kajian tersebut mendeskripsikan bentuk-bentuk kebahasaan SMS dan

campur kode dalam Short Message Service (SMS). Kekhasan tersebut

adalah bentuk penyingkatan, perubahan fonem atau suku kata,

(23)

peringkasan bentuk kata, dan variasi pemendekan kata, sedangkan bentuk kalimat dalam SMS ditulis dengan menghilangkan (melesapkan) salah satu unsur inti dalam kalimat.

Penelitian lain yang membahas tentang bahasa SMS adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurwidyohening (2003) dalam laporan penelitiannya yang berjudul ”SMS dalam Bahasa Perancis dan Kaitannya dengan Ekonomi Bahasa”. Penelitian ini membahas bentuk-bentuk kebahasaan SMS dalam bahasa Perancis. Peneliti menyimpulkan bahwa bentuk kebahasaan SMS dalam bahasa Perancis memiliki lima pola pembentukan. Pertama, penyingkatan kata dengan abreviasi atau singkatan. Kedua, perubahan penulisan bentuk yang lebih panjang dengan penulisan sesuai dengan bunyi fonetis sehingga menjadi lebih pendek. Ketiga, dengan menggunakan simbol, huruf, atau angka yang kebetulan mempunyai nama yang berbunyi sama dengan kata yang akan diganti sehingga lebih singkat penulisannya. Keempat, dengan menempatkan beberapa kata sekaligus dalam satu rangkaian kata yang lebih pendek sesuai bunyi fonetisnya. Kelima, dengan menghilangkan satu huruf atau silabi yang tidak berpengaruh pada perubahan makna.

B. Tinjauan Teori dan Konsep

Penelitian ini didukung beberapa teori yang dianggap relevan, yang

diharapkan dapat mendukung temuan di lapangan sehingga dapat

memperkuat teori dan keakuratan data. Teori-teori tersebut adalah variasi

(24)

atau ragam bahasa, bahasa SMS, dan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

1. Pemakaian Ragam Bahasa a. Ragam Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik, yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.

Menurut Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.

Sebaliknya, dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

Ragam atau variasi bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi

sosiolinguistik. Bahasa menjadi beragam dan bervariasi, bukan hanya

penuturnya tidak homogen, melainkan juga karena kegiatan interaksi

sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Keragaman bahasa di

Indonesia dalam berkomunikasi dapat disatukan dengan adanya bahasa

(25)

Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Jika diperhatikan pemakaian bahasa pada kelompok-kelompok tertentu, ternyata bahasa Indonesia yang digunakan sangat bervariasi. Variasi ini terdapat pada bunyi bahasa, intonasi, morfologi, pilihan kata atau istilah, jenis, dan bentuk kalimat.

Chaer dan Agustina (1995:62) mengatakan bahwa ragam bahasa itu pertama-tama bedakan berdasarkan penutur dan penggunaannya.

Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, di mana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan.

Berdasarkan penggunaannya berarti, bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya.

Bahasa yang digunakan oleh kelompok remaja di kota, memiliki dialek yang beragam dengan ciri khas tersendiri, misalnya variasi terdapat pada morfologi: “dikerjain” dan “nyatu” untuk bentuk kata “dikerjakan” dan

“bersatu”. Lain halnya dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok ilmuwan, variasi terdapat pada pilihan istilah, yaitu sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari. Misalnya kata “mencret” bagi orang-orang awam, sedangkan bagi dokter menggunakan istilah “diare” untuk pengertian yang sama.

Uraian di atas memberi gambaran, bahwa walaupun terdapat variasi

dalam pemakaian bahasa oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu,

ide atau maksud yang diungkapkan tetap dapat dipahami oleh kelompok

(26)

penutur bahasa lainnya. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia mempunyai pola umum yang terdapat pada setiap variasi tersebut. Variasi pemakaian bahasa Indonesia oleh kelompok masyarakat tersebut disebut ragam bahasa.

b. Macam-Macam Ragam Bahasa Indonesia

Ragam atau variasi bahasa adalah bentuk atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di samping ditandai oleh ciri-ciri linguistik, timbulnya ragam bahasa juga ditandai oleh ciri-ciri nonlinguistik, misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya, lingkungan sosial pemakaiannya, dan lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan. Secara umum ragam bahasa dibagi dalam beberapa bagian, antara lain :

1) Ragam lisan dan ragam tulis

2) Ragam baku dan ragam tidak baku 3) Ragam baku tulis dan ragam baku lisan 4) Ragam sosial dan ragam fungsional 5) Ragam Indonesia yang baik dan benar

Bahasa Indonesia di samping dikenal kosakata nonbaku Indonesia

dikenal pula kosakata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut

sebagai kosakata baku bahasa Indonesia baku. Kosakata baku bahasa

Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang

dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur

bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam

(27)

menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosakata itu digunakan di dalam ragam baku, bukan ragam santai atau ragam akrab.

Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosakata ragam nonbaku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.

1) Ragam bahasa berdasarkan waktu penggunaan a. Ragam bahasa Indonesia lama

Ragam bahasa Indonesia lama dipakai sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai dengan saat dicetuskannya Sumpah Pemuda, ciri ragam bahasa Indonesia lama masih dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Bahasa Melayu inilah yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia. Alasan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia :

(1) Bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca,

(2) Bahasa Melayu sederhana karena tidak mengenal tingkatan bahasa, (3) Keikhlasan suku daerah lain ,dan

(4) Bahasa Melayu berfungsi sebagai kebudayaan b. Ragam bahasa Indonesia baru

Penggunaan ragam bahasa Indonesia baru dimulai sejak

dicetuskannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 sampai dengan

saat ini melalui pertumbuhan dan perkembangan bahasa yang beriringan

dengan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia.

(28)

2) Ragam bahasa berdasarkan pokok pembicaraannya / bidang a. Ragam bahasa undang-undang adalah ragam bahasa yang digunakan

pada undang-undang yang berlaku untuk hukum Indonesia.

b. Ragam bahasa jurnalistik adalah ragam bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita, disebut juga bahasa komunikasi massa yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa.

Ciri utama dari ragam bahasa jurnalistik adalah komunikatif dan spesifik. Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Spradley, 1980).

c. Ragam bahasa ilmiah adalah ragam bahasa yang harus memenuhi syarat di antaranya benar (menurut kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat, dan sistematis. Kegiatan ilmiah biasanya bersifat resmi.

Oleh sebab itu, ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ini

adalah ragam baku (ragam bahasa Indonesia baku). Jadi, ragam

bahasa yang digunakan untuk kegiatan ilmu dan teknologi adalah

ragam ilmiah atau ragam baku. Kegiatan ilmiah untuk menghindari

salah tafsir, baik dalam penggunaan ragam bahasa tulis maupun lisan,

(29)

kelengkapan, kecermatan, dan kejelasan pengungkapan ide harus diperhatikan.

Ciri ragam bahasa ilmiah

1. Kaidah bahasa Indonesia yang digunakan harus benar sesuai dengan kaidah pada bahasa Indonesia baku, baik kaidah tata ejaan maupun tata bahasa (pembentukan kata, frasa, klausa, dan kalimat)

2. Ide yang diungkapkan harus benar, sesuai fakta atau dapat diterima akal sehat (logis)

3. Ide yang diungkapkan harus tepat dan hanya mengandung satu makna.

4. Kata yang dipilih harus bernilai denotatif yaitu makna sebenarnya.

5. Ide yang diungkapkan dalam kalimat harus padat berisi/bernas.

6. Pengungkapan ide dalam kalimat ataupun alinea haru lugas dan langsung menuju sasaran.

7. Unsur ide dalam kalimat ataupun alinea diungkapkan secara runtun dan sistematis.

8. Ide yang diungkapkan dalam kalimat harus jelas sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kejelasan dan

ketepatan pengungkapan ide sangat bergantung pada keutuhan ketiga

unsur tersebut.

(30)

d. Ragam bahasa sastra

Berbeda dengan ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra banyak mengunakan kalimat yang tidak efektif. Penggambaran yang sejelas- jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra. Hal ini dilakukan agar tercipta pencitraan di dalam imajinasi pembaca.

Ciri-ciri ragam bahasa sastra :

1) Menggunakan kalimat yang tidak efektif 2) Menggunakan kata-kata yang tidak baku

3) Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi e. Ragam bahasa bidang-bidang tertentu

Ragam bahasa ini digunakan pada bidang-bidang tertentu seperti transportasi, komputer, ekonomi, hukum, dan psikologi. Contoh : diagnosis, USG dipakai dalam bidang kedokteran.

Ragam bahasa bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam berbisnis, yang biasa digunakan oleh para pebisnis dalam menjalankan bisnisnya. Ciri-ciri ragam bahasa bisnis :

1) Menggunakan bahasa yang komunikatif 2) Bahasanya cenderung resmi

3) Terikat ruang dan waktu

4) Membutuhkan adanya orang lain

(31)

c. Ragam bahasa berdasarkan media pembicaraan

Ragam bahasa dari segi sarana atau jalur yang digunakan, dibagi dalam ragam lisan dan ragam tulis atau juga ragam dalam berbahasa yang menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya dalam bertelepon atau bertelegraf. Selian itu, ada juga ragam bahasa tulis yang saat ini berkembang di tegah masyarakat dengan gaya dan ciri khas, yaitu ragam bahasa SMS melalui media telepon genggam atau Handphone.

Ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa kedua ragam bahasa ini memiliki wujud struktur yang tidak sama. Perbedaan dari wujud struktur ini adalah dalam berbahasa lisan atau menyampaikan informasi secara lisan, ada bantuan unsur-unsur nonsegmantal atau nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala fisik lainnya. Sedangkan dalam bahasa tulis, hal-hal yang disebutkan itu tidak ada dan sebagai gantinya harus dieksplisitkan secara verbal. Contoh seseorang yang diperintahkan mengambil sebuah benda dengan menunjuk atau mengarahkan pandangan ke arah benda tersebut, sambil mengatakan

“ambil itu !”, tetapi dalam bahas tulis tidak dikenal unsur penunjuk atau pengarah pandangan, jadi secara eksplisit harus menuliskan benda yang dimaksudkan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa tulis lebih

menekankan pada penggunaan kalimat-kalimat yang disusun sehingga

mudah dipahami pembaca. Kesalahan pada bahasa lisan dapat segera

(32)

diperbaiki atau diralat, tetapi dalam berbahasa tulis kesalahan baru kemudian bisa diperbaiki.

Ragam bahasa bertelpon sebenarnya termasuk dalam ragam bahasa lisan dan ragam bahasa bertelegraf, serta ragam bahasa SMS termasuk dalam bahasa tulis, tetapi kedua macam sarana komunikasi ini mempunyai ciri-ciri dan keterbatasannya sendiri, sehingga tidak dapat digunakan sesuka hati.

a) Ragam bahasa lisan

Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang diucapkan oleh pemakai bahasa. Dalam ragam lisan juga dikaitkan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal atau memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

Ragam bahasa lisan, adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya.

Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.

Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah

kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau

(33)

santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.

Ciri-ciri ragam lisan :

1) Memerlukan orang kedua/teman bicara;

2) Tergantung pada situasi, kondisi, ruang & waktu;

3) Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.

4) Berlangsung cepat;

5) Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;

6) Kesalahan dapat langsung dikoreksi;

7) Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

Ragam lisan di antaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang- bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang- bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian.

Ragam bahasa lisan meliputi :

1) Ragam bahasa cakapan. Ragam bahasa yang digunakan saat

berbicara dengan teman, berbicara dengan orang lain yang lebih

muda atau berbicara tidak resmi.

(34)

2) Ragam bahasa pidato adalah ragam bahasa yang digunakan untuk berpidato.

3) Ragam bahasa kuliah adalah ragam bahasa yang digunakan saat perkuliahan, misalnya saat mahasiswa berbicara dengan dosen.

4) Ragam bahasa panggung adalah ragam bahasa yang digunakaan saat pentas untuk menghibur orang lain.

Kelebihan :

1) Lebih jelas karena pembicara menggunakan tekanan dan gerak anggota badan, sehingga pendengar lebih mudah mengerti

2) Pembicara dapat langsung melihat ekspresi pendengar 3) Lebih bebas dalam mengungkapkan sesuatu

Kelemahan :

1) Pembicara sering mengulangi kalimat yang telah diucapkan

2) Pendengar belum tentu mendengar jelas apa yang dikatakan pembicara

3) Tidak semua orang bisa menyampaikan sesuatu dengan baik secara lisan. Contoh : pidato, presentasi

b. Ragam bahasa tulis

Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan

memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam

ragam tulis, akan dikaji tentang tata cara penulisan (ejaan) di samping

aspek tata bahasa dan kosakata. Dengan kata lain, dalam ragam bahasa

tulis, dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata

(35)

ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide. Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dan lain- lain.

Ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

Menurut Fishman ed (1968:32) bahwa, ciri ragam bahasa tulis : (1) Tidak memerlukan kehadiran orang lain.

(2) Tidak terikat ruang dan waktu.

(3) Kosakata yang digunakan dipilih secara cermat.

(4) Pembentukan kata dilakukan secara sempurna.

(5) Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap.

(6) Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.

(7) Berlangsung lambat.

(8) Memerlukan alat bantu.

Ragam bahasa tulis meliputi :

1) Ragam bahasa teknis adalah ragam bahasa yang memperhatikan teknis atau cara penulisan.

2) Ragam bahasa undang-undang adalah ragam bahasa menggunakan

bahasa yang resmi. Ragam bahasa hukum adalah bahasa Indonesia

yang corak penggunaan bahasanya khas dalam dunia hukum,

mengingat fungsinya mempunyai karakteristik tersendiri. Oleh karena

(36)

itu, bahasa hukum Indonesia haruslah memenuhi syarat dan kaidah- kaidah bahasa Indonesia.

Ciri-ciri ragam bahasa hukum :

(a) Mempunyai gaya bahasa yang khusus

(b) Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan ketaksaan (c) Objektif dan menekan prasangka pribadi

(d) Memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat dan kategori yang diselidiki untuk menghindari kesimpangsiuran

(e) Tidak beremosi dan menjauhi tafsiran bersensasi

3) Ragam bahasa catatan adalah ragam bahasa yang singkat untuk mengingatkan sesuatu.

4) Ragam bahasa surat adalah ragam bahasa untuk menyampaikan suatu informasi.

Kelebihan :

(a) Informasi yang disajikan dapat dikemas di dalam media cetak (b) Dapat menambah kosakata

Kelemahan :

(a) Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.

(b) Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.

Contoh : buku-buku pelajaran, majalah, koran, dan lain-lain.

(37)

3) Ragam bahasa berdasarkan situasi a. Ragam bahasa resmi

Mengkaji tentang ragam bahasa dari segi pemakaian atau situasi, yang paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek (Nababan 1994), ragam, atau register. Variasi bahasa dalam bidang pemakaiannya, menyangkut bahasa yang digunakan untuk keperluan dan bidang apa. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekankan kata dari segi estetis sehingga dipilih atau digunakanlah kosakata yang tepat. Ragam bahasa jurnalis juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas.

Ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas, sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang penuh dengan disiplin dan instruksi. Ragam militer di Indonesia dikenal dengan cirinya yang memerlukan keringkasan dan ketegasan yang dipenuhi berbagai singkatan dan akronim. Ragam bahasa ilmiah juga dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas dari keambiguan, serta segala macam metafora dan idom.

b. Ragam bahasa dari segi keformalan

Chaer (2004:700) membagi ragam bahasa dari tingkat keformalannya

dalam lima macam gaya, yaitu :

(38)

a) Ragam beku (frozen), yaitu ragam bahasa yang paling formal, digunakan pada situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah mesjid, dan sebagainya.

b) Ragam resmi (formal), yaitu ragam bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, dan sebagainya.

c) Ragam usaha (konsultatif), yaitu ragam bahasa yang lazim dalam pembicaraan di sekolah, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.

d) Ragam akrab (intimate), yaitu ragam bahasa yang digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab antaranggota keluarga atau antarteman yang sudah karib, ragam dengan penggunaan kalimat- kalimat pendek merupakan ciri ragam bahasa akrab. Kalimat-kalimat pendek ini menjadi bermakna karena didukung oleh bahasa nonverbal seperti anggukan kepala, gerakan kaki dan tangan tangan,atau ekspresi wajah.

e) Ragam santai (casual), yaitu ragam bahasa yang digunakan pada situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.

Kelima ragam bahasa di atas, biasanya digunakan dalam kehidupan

sehari-hari secara bergantian. Sebenarnya banyak faktor atau variabel

lain yang menentukan pilihan ragam mana yang harus digunakan. Ambil

contoh bahasa pada surat kabar, meskipun secara keseluruhan bahasa

yang digunakan adalah bahasa jurnalistik dengan ciri-ciri yang khas tetapi

(39)

dapat dilihat pada wilayah rubrik atau editorial pojok digunakan bahasa ragam santai, pada teks karikatur aktual digunakan ragam akrab. Namun, dalam bahasa iklan dari pemerintahan digunakan ragam beku. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ragam-ragam keformalan itu sering tidak terpisah-pisah, tetapi berganti-ganti berdasarkan keperluannya. Ragam bahasa berdasarkan situasi atau kondisi pemakaian, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1) Menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten;

2) Menggunakan imbuhan secara lengkap ; 3) Menggunakan kata ganti resmi ;

4) Menggunakan kata baku ; 5) Menggunakan EYD ;

6) Menghindari unsur kedaerahan .

c. Ragam bahasa konsultasi adalah ragam yang digunakan ketika kita mengunjungi seorang dokter, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa resmi. Namun, dengan berjalannya waktu terjadi alih kode. Bukan bahasa resmi yang digunakan, melainkan bahasa santai, itulah ragam bahasa konsultasi.

4) Ragam bahasa berdasarkan penutur

Ragam bahasa dapat ditinjau dari segi penutur bahasa dan pemakai

bahasa. Mengkaji lebih jauh tentang ragam bahasa berdasarkan penutur

(40)

bahasa yang dapat ditinjau dari segi daerah, pendidikan, dan sikap penutur.

1) Ragam bahasa dari segi penutur a. Ragam bahasa idiolek

Ragam bahasa idiolek adalah ragam bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai ragam bahasa atau idioleknya masing-masing.

c. Ragam bahasa dialek

Ragam bahasa dialek adalah ragam bahasa dari sekelomok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Bugis dialiek Palakka, Wajo, Rappang, dan lain-lain.

d. Ragam bahasa kronolek atau dialek temporal

Bahasa kronolek atau dialek temporal adalah bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Umpamanya ragam bahasa Indonesia pada masa tiga puluhan, ragam bahasa pada lima puluhan, dan ragam bahasa pada masa kini.

e. Ragam bahasa sosiolek

Ragam bahasa sosiolek adalah ragam bahasa yang berkenaan

dengan status, golongan, dan kelas sosial penuturnya. Ragam bahasa

ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia,

pendidikan, pekerjaan, tingkatan kebangsawanan, keadaan sosial

ekonomi, dan sebagainya.

(41)

(a) Ragam bahasa berdasarkan usia masyarakatnya. Perbedaan ragam bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.

(b) Ragam bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur.

Ragam bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah ragam bahasa yang mempunyai kemiripan dengan ragam bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan. Misalnya, seseorang yang memilki tingkat ekonomi lebih tinggi tentu berbeda bahasanya dengan orang yang memiliki ekonomi lemah.

(c) Ragam bahasa tingkat golongan

Ragam bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya ragam bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan broken.

(Chaer, dan Agustina, 1995:66).

Kajian dari ragam bahasa tersebut, lebih jauh akan dibahas sebagai berikut:

(a) Akrolek adalah ragam sosial yang dianggap lebih tinggi dan lebih bergengsi dari ragam sosial lainnya, misalnya: Bokap (panggilan untuk Ayah);

(b) Basilek adalah ragam sosial yang dianggap kurang bergengsi atau

bahkan dipandang rendah;

(42)

(c) Vulgar adalah ragam sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan tidak berpendidikan, misalnya: goblok;

(d) Slang adalah ragam bahasa yang bersifat khusus dan rahasia, misalnya bahasa di kalangan waria (wandu);

(e) Kolokial adalah ragam bahasa yang diguanakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (prefesor), dan lain-lain;

(f) Jargon adalah ragam bahasa yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, para tukang batu dan bangunan dengan istilah disiku, ditimbang, dan lain-lain;

(g) Argot adalah ragam sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet daun dalam arti uang;

(h) Broken adalah ragam sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, ragam bahasa para pengemis.

2) Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur

Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang

berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam

pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,

vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin

(43)

akan mengucapkan fitnah, komplek, vitamin, pideo, pilm, pakultas.

Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu, bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

3) Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur

(a) Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku.

Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Ragam bahasa dapat timbul karena adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan yaitu :

(b) Variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur

bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu

(44)

(c) Variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam.

Menurut Sugono (1999:9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan nonbaku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.

Sebaliknya, dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

1. SMS (Short Message Service) a. Sejarah dan Pengertian SMS

SMS (Short Message Service) adalah pesan singkat dalam bentuk

teks yang hidup berkembang dalam dunia telekomunikasi seluler. Sekilas

fasilitas ini tidak jauh beda dengan layanan pesan teks dari perangkat

sebelumnya, yaitu pager yang kini sudah menjadi barang langka, bahkan

sudah mendekati kepunahan. Penemuan sistem komunikasi SMS berawal

pada 3 Desember 1992 yang pada saat itu seorang ahli teknisi asal

Norwegia bernama Neil Papworth menggunakan fasilitas SMS dalam

mengirimkan pesan ucapan hari Natalnya kepada rekannya yang

bernama Richard Jarvis yang bekerja di perusahaan layanan GSM

Vodafone di Inggris. Kemudian, ide komunikasi ini dikembangkan oleh

Riku Pihkonen dari perusahaan Nokia dengan memfasilitaskan layanan

SMS pada telepon selular GSM (Global System for Mobile) sehingga SMS

dapat diketik pada telepon tersebut.

(45)

Seluruh operator GSM network mempunyai Message Centre, yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian atau manajemen dari beberapa berita yang ada. Bila seseorang mengirim berita kepada orang lain dengan hpnya, maka berita ini harus melewati MC (Message Centre) dari operator network tersebut, dan MC ini dengan segera dapat menemukan si penerima berita tersebut. MC ini menambah berita tersebut dengan tanggal, waktu dan nomor dari si pengirim berita dan mengirim berita tersebut kepada si penerima berita. Apabila HP penerima sedang tidak aktif, maka MC akan menyimpan berita tersebut dan akan segera mengirimnya apabila HP penerima terhubung dengan network atau aktif.

SMS menyediakan mekanisme untuk mengirimkan pesan singkat dari dan menuju media-media wireless dengan menggunakan sebuah Short Messaging Service Center (SMSC), yang bertindak sebagai sistem yang berfungsi menyimpan dan mengirimkan kembali pesan-pesan singkat.

Jaringan wireless menyediakan mekanisme untuk menemukan station yang dituju dan mengirimkan pesan singkat antara SMSC dengan wireless station.

SMS mendukung banyak mekanisme input sehingga memungkinkan

adanya interkoneksi dengan berbagai sumber dan tujuan pengiriman

pesan yang berbeda. Pengguna telepon seluler, bahkan kini mereka yang

menggunakan layanan berbasis CDMA tidak akan pernah lupa

menanyakan layanan SMS sebelum membeli suatu jenis layanan telepon

seluler. Jika di dunia ada sekitar 1,4 milyar manusia menggunakan jasa

(46)

layanan telepon seluler (GSM) dan (CDMA), maka sekitar 85% dari jumlah manusia yang setiap hari menggunakan SMS.

ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) mencatat kontribusi SMS bagi pendapatan operator berkisar 20 persen hingga 30 persen.

Model skema pendapatan SKA (Sender Keep All) memungkinkan operator mandapat tambahan pendapatan dari layanan itu tanpa menghitung biaya terminating charge untuk interkoneksi. SMS memang sudah menjadi generator pendapatan ke-2 bagi operator, setelah suara. Subagyo (2006:12) mengenali delapan ciri lingual wacana SMS, yaitu: (1) semilisan, (2) ekonomis, (3) peka konteks, (4) berorientasi pada tujuan, (5) ekspresif dan subjektif, (6) kreatif, (7) rekreatif, dan (8) tak normatif.

b. Karakteristik Bahasa SMS

Bentuk tuturan yang biasa dalam suatu bahasa menurut Poedjosoedarmo (1984: 27), disebut tutur sederhana atau tutur ringkas.

Tutur ringkas biasanya terdapat pada ragam bahasa informal. Oleh

karena itu, tutur ringkas dalam bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri yang

umumnya dimiliki ragam bahasa informal, yaitu mengalami penanggalan-

penanggalan (deletions). Penanggalan-penanggalan itu antara lain

penanggalan kalimat dalam wacana, penanggalan klausa atau frasa

dalam kalimat, penanggalan kata dalam frasa, dan penanggalan suku kata

atau fonem dalam kata. Selain itu, tutur ringkas memperoleh manfaat

penggunaan, yaitu sebagai intonasi kalimat, sebagai kata seru (interjeksi),

seperti lho, oh, aduh, dan e, sebagai partikel penanda kehendak, seperti

(47)

dong, sih, ya, ah, dan ok, sebagai istilah panggilan (term of address), seperti pak, bu, mas, dan Jon.

Tutur ringkas menunjuk hal-hal yang sifatnya ekstralinguistik, misalnya pada benda yang ada di sekitar tempat bicara dan pada pengertian yang dimengerti bersama oleh peserta tutur terdapat alih kode, baik ke bahasa lain maupun sitiran-sitiran langsung seseorang, menunjukkan inversi kalimat dengan menyalahi susunan kata yang biasanya terjadi pada kalimat normal, terdapat bentuk-bentuk dialek sebagai akibat pengaruh bahasa daerah, tipe-tipe kalimat yang terpakai biasanya kata-kata yang tergolong sangat umum, dan bukan idiom serta istilah teknik yang eksplisit. SMS merupakan layanan pesan singkat satu arah melalui media HP. Sesuai dengan fungsinya, SMS memberikan pesan-pesan singkat.

Bahasa yang digunakan dalam SMS memiliki kekhasan dengan karakteristik sebagai berikut ( Sari, 2009:14).

1) SMS sebagai ragam lisan yang dituliskan Menurut Nababan (1994:

22) SMS termasuk ke dalam ragam lisan yang dituliskan. Penulisan

SMS berasal dari pemikiran yang akan dibicarakan penutur kepada

lawan tuturnya dalam bentuk tulisan melalui media HP. Tutur ringkas

umumnya terjadi ketika penutur secara sadar atau tak sadar

beranggapan bahwa penutur telah mengetahui latar belakang tuturan

yang akan diucapkan, tidak ada hal-hal khusus yang harus dijelaskan

oleh penutur secara eksplisit, hati-hati, dan terperinci, serta

penyampaian informasi berasal dari kehendak lebih penting daripada

(48)

penonjolan suasana keresmian, kesopanan bahasa atau status sosial penutur (Poedjosoedarmo, 1984: 30)

2) SMS bersifat informal/santai. Ragam SMS adalah ragam informal yang digunakan dalam situasi santai, akrab, dan tidak resmi. Dalam ragam informal yang diutamakan adalah tersampaikannya pesan.

Oleh karena itu, ragam ini menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang ringkas, tidak lengkap, dan hanya menampilkan hal-hal yang dianggap penting. Penggunaan ragam ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menyikapi keterbatasan karakter huruf yang ditampilkan dalam HP.

3) SMS bersifat singkat. Sifat tersebut tampak jelas pada penulisan kata dengan singkat. Hal itu berarti terdapat berbagai bentuk singkatan dalam penulisan SMS.

4) SMS memiliki pelambangan. Pelambangan merupakan bentuk-bentuk yang menunjukkan kemiripan dalam penggantiannya, baik berupa angka maupun lambang huruf.

Sudaryanto (1997: 72) menegaskan bahwa ciri-ciri kreatif bahasa SMS mencakup : (a) menyiasati ruang, (b) menyiasati waktu, (c) multisemiotis, (d) tanggap situasi, (e) menghadirkan keindahan, serta (f) mengasah kompetensi komunikatif. Berikut pemaparannya :

(1) Menyiasati ruang

Penulis SMS dihadapkan pada keterbatasan ruang (jumlah karakter)

dalam layar HP. Ruang yang tersedia bergantung pada merek dan seri

(49)

Hp, karena produsen HP selalu bersaing dalam menarik minat masyarakat dengan menawarkan ruang yang lebih luas untuk menulis SMS. Namun, bagaimanapun ruang tetap terbatas, apalagi pengguna HP yang bermotif ekonomis, menghemat ruang demi menghemat uang. Keluasan ruang untuk menulis SMS memicu persaingan para produsen HP, motif ekonomis konsumen mendorong persaingan para provider untuk menawarkan biaya SMS yang lebih murah.

Keterbatasan spasial dan motif finansial pada gilirannya mendorong penulis SMS berkreasi. Hasilnya berupa singkatan atau bentuk-bentuk singkat bervariasi. Singkatan-singkatan itu secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu singkatan lazim dan tak lazim (Subagyo, 2006: 185).

Singkatan yang lazim adalah singkatan yang sudah biasa dipakai dalam komunikasi tulis informal, seperti bgmn atau bgm (bagaimana), blm (belum), brp (berapa), bs (bisa), dpt (dapat), jd (jadi), jl (jalan), no (nomer), sdh (sudah), skr (sekarang), spt (seperti), tdk (tidak), tgl atau tg (tanggal), dan trm ksh (terima kasih). Termasuk juga singkatan kata-kata bahasa daerah, seperti kmwn (kemawon ’saja’), mbtn (mboten ’tidak’), Mtr nwn atau nwn (nuwun ’terima kasih’), dan smpn (sampun ’sudah’), maupun kata-kata bahasa asing, seperti GBU (God bless you ’Allah memberkatimu’), OK (oke ’setuju’), dan thx (thanks ’terima kasih’).

Adapun singkatan yang tidak lazim adalah singkatan yang tidak atau

belum biasa dipakai dalam komunikasi, sekadar contoh: bimb

(bimbingan), d (di), g (gak, tidak), j (jalan), ktm (ketemu), mua (semua),

(50)

pss (posisi), sls (selesai), tk (terima kasih), serta yay atau yys (yayasan).

Dalam singkatan yang tidak lazim, dapat dimasukkan juga singkatan kata- kata bahasa daerah, seperti bl (bali ‘pulang’), gk (gek ‘segera’), nmpk (numpak ‘naik’), tlk (tilik ‘menengok’), maupun kata-kata bahasa asing, seperti Inggris yang agaknya khas SMS, seperti tx b4 (thanks before

‘terima kasih sebelumnya’), thx 4 ur info (thanks for your information

‘terima kasih atas informasi anda’), 2U (to you ‘untukmu’), serta U2 CU (you too, see you ‘kamu juga, sampai jumpa). Contoh-contoh berikut menunjukkan bagaimana singkatan-singkatan itu, baik yang lazim maupun tidak lazim, digunakan dalam wacana SMS.

(1) Gk bl lho! Jd tlk by to? (Gek bali lho! Jadi tilik bayi gak?) (2) No g ktm (Nomer gak ketemu)

(3) Skr pss d mn? (Posisi di mana?) (4) Aq msh d j (Aku masih di jalan)

(5) Thx 4 your imel (Thanks for your e-mail)

(6) U’r wl cm Sir. CU (You’re welcome, Sir. See you) (7) Slmt jln kl ada wkt pasti ke yk, skr saya di ubinus

(Selamat jalan. Kalau ada waktu pasti ke Yogyakarta. Sekarang saya di Ubinus)

(8) Slmt ya, sy senang skl. Skr sy tmbh sibk krn bnt direktrt 3 hr dlm

seminggu krn s2 sy dibiayai drktrt

(51)

(Selamat ya, saya senang sekali. Sekarang saya tambah sibuk karena membantu direktorat 3 hari dalam seminggu karena S2 saya dibiayai direktorat)

(9) Pak,klo bsk dri bndra naik damri aja trun gmbir trus naik tksi blue bird dri hlte dpn gmbir jgn yg didlm trus arah jtnegra,lbh smpel+hmat ongkos

(Pak, kalau besok dari bandara, naik Damri saja, turun Gambir terus naik taksi Blue Bird dari halte depan Gambir, tapi jangan yang di dalam, terus ke arah Jatinegara. Lebih simpel dan hemat ongkos).

Beberapa contoh, misalnya (8) dan (9) memperlihatkan singkatan- singkatan yang sungguh tidak lazim karena seturut “selera” penulisnya yang oleh Subagyo (2006) dikatakan ”ekspresif-subjektif” seperti sibk (sibuk), bnt (bantu), bndra (bandara), trun (turun), hlte (halte), dan jtnegra (Jatinegara).

Selain itu, Morelent (2007:15) mencatat ada sejumlah singkatan yang

berpotensi menimbulkan interpretasi ganda, seperti mk (maka atau

muka?), sls (selesai atau Selasa?), dan ttp (tetap atau tetapi?). Walaupun

begitu, wacana-wacana tersebut terpahami karena memenuhi salah satu

syarat tekstualitas, yaitu situationality (situasionalitas). Singkatan-

singkatan tersebut merupakan bagian dari wacana yang terikat situasi

(konteks) yang telah dipahami bersama oleh pengirim dan penerima

pesan sehingga singkatan-singkatan yang tak lazim pun tetap terpahami.

(52)

Aneka singkatan dalam wacana SMS memperlihatkan daya kreatif penulis SMS dalam mengatasi ruang. Memang, fenomena itu dapat pula dipahami sebaliknya, manusia yang mampu mengatasi ruang, melainkan manusia yang telah ditundukkan ruang. Akan tetapi, pemahaman pertamalah yang kiranya lebih positif karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu menempatkan manusia sebagai subjek pengguna HP dan pengguna bahasa, atau sebagai pihak yang memiliki otonomi dan kesadaran atas tindakannya. Kedua, kreativitas manusia memang cenderung muncul dalam kesempitan; dalam hal ini ”logika ruang sempit”

mendorong penulis SMS berkreasi dengan singkatan-singkatan.

(2) Menyiasati Waktu

Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi telah melahirkan

”logika waktu pendek”. Segala urusan seolah-olah harus dikerjakan dan diselesaikan dengan cepat. Kecepatan menjadi nilai (value) dalam masyarakat informasi karena itulah, selain berhadapan dengan keterbatasan ruang, penulis SMS juga berhadapan dengan keterbatasan waktu. Bisa jadi pesan yang hendak ditulis sebenarnya tidak panjang sehingga tidak bermasalah dengan ruang. Namun, ”logika waktu pendek”

tetap mendorong penulis SMS menghasilkan wacana sependek mungkin.

Apalagi para penulis SMS lazimnya mereka yang merasa selalu berpacu dengan waktu. Menulis SMS pun menjadi ”kegiatan sambilan tapi utama”.

Kegiatan itu tidak hanya dilakukan di waktu senggang, tetapi juga saat

(53)

mengikuti aktivitas lain, termasuk yang sifatnya formal, seperti kuliah atau rapat.

Beberapa orang mampu menulis SMS di kala melakukan pekerjaan

yang menuntut konsentrasi tinggi, seperti menyetir mobil atau

mengendarai motor. Sama halnya dengan upaya penulis mengatasi

keterbatasan ruang, hasil dari usaha menyiasati waktu adalah singkatan-

singkatan atau bentuk-bentuk singkat dengan berbagai variasinya, baik

yang lazim maupun tak lazim. Contoh (1) s.d. (9) bisa ditengok kembali,

dan tiga contoh dialog berikut makin memperjelas. Dalam contoh (10), A

dan B adalah dua kolega seperusahaan yang kantornya terpisah. A

mengundang B untuk berkoordinasi. Saat menjawab pertanyaan A, B

sedang mengemudikan mobil menuju kantor A. C dan D dalam contoh

(11) adalah bapak dan anak. Sang Bapak (C) yang mempunyai kewajiban

menjemput anaknya (D) pulang sekolah, menulis SMS sambil mengikuti

rapat di kantor; sedangkan si anak menjawab SMS sang bapak saat

masih di dalam kelas, mengikuti pelajaran jam terakhir. Adapun dalam

contoh (12) E dan F merupakan dua teman lama. Mereka dulu sama-

sama kuliah di Yogyakarta. E berasal dari Yogyakarta, tetapi bekerja di

Pekanbaru Riau, sedangkan F berasal dari Solo, tetapi bekerja di

Yogyakarta. E menulis SMS di bandara Adisucipto, ketika menunggu

bagasi. Di seberang sana, F membalas pemberitahuan E sambil makan

bakso bersama keluarga di kompleks Pasar Klewer.

Gambar

Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir

Referensi

Dokumen terkait