• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Tinjauan Teori dan Konsep

1. SMS (Short Message Service) a. Sejarah dan Pengertian SMS

SMS (Short Message Service) adalah pesan singkat dalam bentuk teks yang hidup berkembang dalam dunia telekomunikasi seluler. Sekilas fasilitas ini tidak jauh beda dengan layanan pesan teks dari perangkat sebelumnya, yaitu pager yang kini sudah menjadi barang langka, bahkan sudah mendekati kepunahan. Penemuan sistem komunikasi SMS berawal pada 3 Desember 1992 yang pada saat itu seorang ahli teknisi asal Norwegia bernama Neil Papworth menggunakan fasilitas SMS dalam mengirimkan pesan ucapan hari Natalnya kepada rekannya yang bernama Richard Jarvis yang bekerja di perusahaan layanan GSM Vodafone di Inggris. Kemudian, ide komunikasi ini dikembangkan oleh Riku Pihkonen dari perusahaan Nokia dengan memfasilitaskan layanan SMS pada telepon selular GSM (Global System for Mobile) sehingga SMS dapat diketik pada telepon tersebut.

Seluruh operator GSM network mempunyai Message Centre, yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian atau manajemen dari beberapa berita yang ada. Bila seseorang mengirim berita kepada orang lain dengan hpnya, maka berita ini harus melewati MC (Message Centre) dari operator network tersebut, dan MC ini dengan segera dapat menemukan si penerima berita tersebut. MC ini menambah berita tersebut dengan tanggal, waktu dan nomor dari si pengirim berita dan mengirim berita tersebut kepada si penerima berita. Apabila HP penerima sedang tidak aktif, maka MC akan menyimpan berita tersebut dan akan segera mengirimnya apabila HP penerima terhubung dengan network atau aktif.

SMS menyediakan mekanisme untuk mengirimkan pesan singkat dari dan menuju media-media wireless dengan menggunakan sebuah Short Messaging Service Center (SMSC), yang bertindak sebagai sistem yang berfungsi menyimpan dan mengirimkan kembali pesan-pesan singkat.

Jaringan wireless menyediakan mekanisme untuk menemukan station yang dituju dan mengirimkan pesan singkat antara SMSC dengan wireless station.

SMS mendukung banyak mekanisme input sehingga memungkinkan adanya interkoneksi dengan berbagai sumber dan tujuan pengiriman pesan yang berbeda. Pengguna telepon seluler, bahkan kini mereka yang menggunakan layanan berbasis CDMA tidak akan pernah lupa menanyakan layanan SMS sebelum membeli suatu jenis layanan telepon seluler. Jika di dunia ada sekitar 1,4 milyar manusia menggunakan jasa

layanan telepon seluler (GSM) dan (CDMA), maka sekitar 85% dari jumlah manusia yang setiap hari menggunakan SMS.

ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) mencatat kontribusi SMS bagi pendapatan operator berkisar 20 persen hingga 30 persen.

Model skema pendapatan SKA (Sender Keep All) memungkinkan operator mandapat tambahan pendapatan dari layanan itu tanpa menghitung biaya terminating charge untuk interkoneksi. SMS memang sudah menjadi generator pendapatan ke-2 bagi operator, setelah suara. Subagyo (2006:12) mengenali delapan ciri lingual wacana SMS, yaitu: (1) semilisan, (2) ekonomis, (3) peka konteks, (4) berorientasi pada tujuan, (5) ekspresif dan subjektif, (6) kreatif, (7) rekreatif, dan (8) tak normatif.

b. Karakteristik Bahasa SMS

Bentuk tuturan yang biasa dalam suatu bahasa menurut Poedjosoedarmo (1984: 27), disebut tutur sederhana atau tutur ringkas.

Tutur ringkas biasanya terdapat pada ragam bahasa informal. Oleh karena itu, tutur ringkas dalam bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri yang umumnya dimiliki ragam bahasa informal, yaitu mengalami penanggalan-penanggalan (deletions). Penanggalan-penanggalan-penanggalan itu antara lain penanggalan kalimat dalam wacana, penanggalan klausa atau frasa dalam kalimat, penanggalan kata dalam frasa, dan penanggalan suku kata atau fonem dalam kata. Selain itu, tutur ringkas memperoleh manfaat penggunaan, yaitu sebagai intonasi kalimat, sebagai kata seru (interjeksi), seperti lho, oh, aduh, dan e, sebagai partikel penanda kehendak, seperti

dong, sih, ya, ah, dan ok, sebagai istilah panggilan (term of address), seperti pak, bu, mas, dan Jon.

Tutur ringkas menunjuk hal-hal yang sifatnya ekstralinguistik, misalnya pada benda yang ada di sekitar tempat bicara dan pada pengertian yang dimengerti bersama oleh peserta tutur terdapat alih kode, baik ke bahasa lain maupun sitiran-sitiran langsung seseorang, menunjukkan inversi kalimat dengan menyalahi susunan kata yang biasanya terjadi pada kalimat normal, terdapat bentuk-bentuk dialek sebagai akibat pengaruh bahasa daerah, tipe-tipe kalimat yang terpakai biasanya kata-kata yang tergolong sangat umum, dan bukan idiom serta istilah teknik yang eksplisit. SMS merupakan layanan pesan singkat satu arah melalui media HP. Sesuai dengan fungsinya, SMS memberikan pesan-pesan singkat.

Bahasa yang digunakan dalam SMS memiliki kekhasan dengan karakteristik sebagai berikut ( Sari, 2009:14).

1) SMS sebagai ragam lisan yang dituliskan Menurut Nababan (1994:

22) SMS termasuk ke dalam ragam lisan yang dituliskan. Penulisan SMS berasal dari pemikiran yang akan dibicarakan penutur kepada lawan tuturnya dalam bentuk tulisan melalui media HP. Tutur ringkas umumnya terjadi ketika penutur secara sadar atau tak sadar beranggapan bahwa penutur telah mengetahui latar belakang tuturan yang akan diucapkan, tidak ada hal-hal khusus yang harus dijelaskan oleh penutur secara eksplisit, hati-hati, dan terperinci, serta penyampaian informasi berasal dari kehendak lebih penting daripada

penonjolan suasana keresmian, kesopanan bahasa atau status sosial penutur (Poedjosoedarmo, 1984: 30)

2) SMS bersifat informal/santai. Ragam SMS adalah ragam informal yang digunakan dalam situasi santai, akrab, dan tidak resmi. Dalam ragam informal yang diutamakan adalah tersampaikannya pesan.

Oleh karena itu, ragam ini menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang ringkas, tidak lengkap, dan hanya menampilkan hal-hal yang dianggap penting. Penggunaan ragam ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menyikapi keterbatasan karakter huruf yang ditampilkan dalam HP.

3) SMS bersifat singkat. Sifat tersebut tampak jelas pada penulisan kata dengan singkat. Hal itu berarti terdapat berbagai bentuk singkatan dalam penulisan SMS.

4) SMS memiliki pelambangan. Pelambangan merupakan bentuk-bentuk yang menunjukkan kemiripan dalam penggantiannya, baik berupa angka maupun lambang huruf.

Sudaryanto (1997: 72) menegaskan bahwa ciri-ciri kreatif bahasa SMS mencakup : (a) menyiasati ruang, (b) menyiasati waktu, (c) multisemiotis, (d) tanggap situasi, (e) menghadirkan keindahan, serta (f) mengasah kompetensi komunikatif. Berikut pemaparannya :

(1) Menyiasati ruang

Penulis SMS dihadapkan pada keterbatasan ruang (jumlah karakter) dalam layar HP. Ruang yang tersedia bergantung pada merek dan seri

Hp, karena produsen HP selalu bersaing dalam menarik minat masyarakat dengan menawarkan ruang yang lebih luas untuk menulis SMS. Namun, bagaimanapun ruang tetap terbatas, apalagi pengguna HP yang bermotif ekonomis, menghemat ruang demi menghemat uang. Keluasan ruang untuk menulis SMS memicu persaingan para produsen HP, motif ekonomis konsumen mendorong persaingan para provider untuk menawarkan biaya SMS yang lebih murah.

Keterbatasan spasial dan motif finansial pada gilirannya mendorong penulis SMS berkreasi. Hasilnya berupa singkatan atau bentuk-bentuk singkat bervariasi. Singkatan-singkatan itu secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu singkatan lazim dan tak lazim (Subagyo, 2006: 185).

Singkatan yang lazim adalah singkatan yang sudah biasa dipakai dalam komunikasi tulis informal, seperti bgmn atau bgm (bagaimana), blm (belum), brp (berapa), bs (bisa), dpt (dapat), jd (jadi), jl (jalan), no (nomer), sdh (sudah), skr (sekarang), spt (seperti), tdk (tidak), tgl atau tg (tanggal), dan trm ksh (terima kasih). Termasuk juga singkatan kata-kata bahasa daerah, seperti kmwn (kemawon ’saja’), mbtn (mboten ’tidak’), Mtr nwn atau nwn (nuwun ’terima kasih’), dan smpn (sampun ’sudah’), maupun kata-kata bahasa asing, seperti GBU (God bless you ’Allah memberkatimu’), OK (oke ’setuju’), dan thx (thanks ’terima kasih’).

Adapun singkatan yang tidak lazim adalah singkatan yang tidak atau belum biasa dipakai dalam komunikasi, sekadar contoh: bimb (bimbingan), d (di), g (gak, tidak), j (jalan), ktm (ketemu), mua (semua),

pss (posisi), sls (selesai), tk (terima kasih), serta yay atau yys (yayasan).

Dalam singkatan yang tidak lazim, dapat dimasukkan juga singkatan kata-kata bahasa daerah, seperti bl (bali ‘pulang’), gk (gek ‘segera’), nmpk (numpak ‘naik’), tlk (tilik ‘menengok’), maupun kata-kata bahasa asing, seperti Inggris yang agaknya khas SMS, seperti tx b4 (thanks before

‘terima kasih sebelumnya’), thx 4 ur info (thanks for your information

‘terima kasih atas informasi anda’), 2U (to you ‘untukmu’), serta U2 CU (you too, see you ‘kamu juga, sampai jumpa). Contoh-contoh berikut menunjukkan bagaimana singkatan-singkatan itu, baik yang lazim maupun tidak lazim, digunakan dalam wacana SMS.

(1) Gk bl lho! Jd tlk by to? (Gek bali lho! Jadi tilik bayi gak?) (2) No g ktm (Nomer gak ketemu)

(3) Skr pss d mn? (Posisi di mana?) (4) Aq msh d j (Aku masih di jalan)

(5) Thx 4 your imel (Thanks for your e-mail)

(6) U’r wl cm Sir. CU (You’re welcome, Sir. See you) (7) Slmt jln kl ada wkt pasti ke yk, skr saya di ubinus

(Selamat jalan. Kalau ada waktu pasti ke Yogyakarta. Sekarang saya di Ubinus)

(8) Slmt ya, sy senang skl. Skr sy tmbh sibk krn bnt direktrt 3 hr dlm seminggu krn s2 sy dibiayai drktrt

(Selamat ya, saya senang sekali. Sekarang saya tambah sibuk karena membantu direktorat 3 hari dalam seminggu karena S2 saya dibiayai direktorat)

(9) Pak,klo bsk dri bndra naik damri aja trun gmbir trus naik tksi blue bird dri hlte dpn gmbir jgn yg didlm trus arah jtnegra,lbh smpel+hmat ongkos

(Pak, kalau besok dari bandara, naik Damri saja, turun Gambir terus naik taksi Blue Bird dari halte depan Gambir, tapi jangan yang di dalam, terus ke arah Jatinegara. Lebih simpel dan hemat ongkos).

Beberapa contoh, misalnya (8) dan (9) memperlihatkan singkatan-singkatan yang sungguh tidak lazim karena seturut “selera” penulisnya yang oleh Subagyo (2006) dikatakan ”ekspresif-subjektif” seperti sibk (sibuk), bnt (bantu), bndra (bandara), trun (turun), hlte (halte), dan jtnegra (Jatinegara).

Selain itu, Morelent (2007:15) mencatat ada sejumlah singkatan yang berpotensi menimbulkan interpretasi ganda, seperti mk (maka atau muka?), sls (selesai atau Selasa?), dan ttp (tetap atau tetapi?). Walaupun begitu, wacana-wacana tersebut terpahami karena memenuhi salah satu syarat tekstualitas, yaitu situationality (situasionalitas). Singkatan-singkatan tersebut merupakan bagian dari wacana yang terikat situasi (konteks) yang telah dipahami bersama oleh pengirim dan penerima pesan sehingga singkatan-singkatan yang tak lazim pun tetap terpahami.

Aneka singkatan dalam wacana SMS memperlihatkan daya kreatif penulis SMS dalam mengatasi ruang. Memang, fenomena itu dapat pula dipahami sebaliknya, manusia yang mampu mengatasi ruang, melainkan manusia yang telah ditundukkan ruang. Akan tetapi, pemahaman pertamalah yang kiranya lebih positif karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu menempatkan manusia sebagai subjek pengguna HP dan pengguna bahasa, atau sebagai pihak yang memiliki otonomi dan kesadaran atas tindakannya. Kedua, kreativitas manusia memang cenderung muncul dalam kesempitan; dalam hal ini ”logika ruang sempit”

mendorong penulis SMS berkreasi dengan singkatan-singkatan.

(2) Menyiasati Waktu

Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi telah melahirkan

”logika waktu pendek”. Segala urusan seolah-olah harus dikerjakan dan diselesaikan dengan cepat. Kecepatan menjadi nilai (value) dalam masyarakat informasi karena itulah, selain berhadapan dengan keterbatasan ruang, penulis SMS juga berhadapan dengan keterbatasan waktu. Bisa jadi pesan yang hendak ditulis sebenarnya tidak panjang sehingga tidak bermasalah dengan ruang. Namun, ”logika waktu pendek”

tetap mendorong penulis SMS menghasilkan wacana sependek mungkin.

Apalagi para penulis SMS lazimnya mereka yang merasa selalu berpacu dengan waktu. Menulis SMS pun menjadi ”kegiatan sambilan tapi utama”.

Kegiatan itu tidak hanya dilakukan di waktu senggang, tetapi juga saat

mengikuti aktivitas lain, termasuk yang sifatnya formal, seperti kuliah atau rapat.

Beberapa orang mampu menulis SMS di kala melakukan pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, seperti menyetir mobil atau mengendarai motor. Sama halnya dengan upaya penulis mengatasi keterbatasan ruang, hasil dari usaha menyiasati waktu adalah singkatan-singkatan atau bentuk-bentuk singkat dengan berbagai variasinya, baik yang lazim maupun tak lazim. Contoh (1) s.d. (9) bisa ditengok kembali, dan tiga contoh dialog berikut makin memperjelas. Dalam contoh (10), A dan B adalah dua kolega seperusahaan yang kantornya terpisah. A mengundang B untuk berkoordinasi. Saat menjawab pertanyaan A, B sedang mengemudikan mobil menuju kantor A. C dan D dalam contoh (11) adalah bapak dan anak. Sang Bapak (C) yang mempunyai kewajiban menjemput anaknya (D) pulang sekolah, menulis SMS sambil mengikuti rapat di kantor; sedangkan si anak menjawab SMS sang bapak saat masih di dalam kelas, mengikuti pelajaran jam terakhir. Adapun dalam contoh (12) E dan F merupakan dua teman lama. Mereka dulu sama-sama kuliah di Yogyakarta. E berasal dari Yogyakarta, tetapi bekerja di Pekanbaru Riau, sedangkan F berasal dari Solo, tetapi bekerja di Yogyakarta. E menulis SMS di bandara Adisucipto, ketika menunggu bagasi. Di seberang sana, F membalas pemberitahuan E sambil makan bakso bersama keluarga di kompleks Pasar Klewer.

(10) A: Sdm? (Sekarang di mana?) B: otw (On the way)

(11) C: pjb? (Pulang jam berapa?) D: j1 (Jam 1) (12)

E: Aq d Yk lho (Aku sedang di Yogyakarta, lho) F: Sr aq lg plg Sl (Sori, aku lagi pulang Solo)

Sebagaimana penjelasan sebelumnya situasionalitas sangat membantu para partisipan tutur menafsirkan dan memastikan maksud berbagai bentuk singkat dalam SMS. Di dalamnya termasuk intimitas atau kedekatan relasi antarpartisipan tutur, yang tentu didukung kebiasaan mereka saling berkirim SMS dengan singkatan bentuk-bentuk singkat tersebut. Intimitas relasi semacam itu, prinsip ”makin panjang bentuk, tuturan makin sopan” tidak berlaku. Lagi-lagi, fenomena itu pun dapat dipahami sebaliknya, bukan manusia yang mampu menyiasati waktu, tetapi justru manusia yang telah ditaklukkan waktu. Akan tetapi, lagi-lagi lagi, pemahaman itu tidak dianut. Argumentasinya juga sama. Pertama, manusia merupakan subjek pengguna HP dan pengguna bahasa, atau sebagai pihak yang memiliki otonomi dan kesadaran atas tindakannya.

Kedua, kreativitas manusia terwujud antara lain dalam kemampuannya mengelola waktu dalam hal ini ”logika waktu pendek” lalu memacu penulis SMS berkreasi dengan singkatan-singkatan.

(3) Multisemiotis

Fairclough (1995:4) mencatat, di era multimedia seperti sekarang ini muncul fenomena-fenomena multisemiotik. Sebuah wacana tidak melulu berwujud satu media ekspresi, misalnya hanya bahasa lisan atau tulis saja, tetapi paduan berbagai media. Televisi merupakan contoh yang paling nyata dalam memadukan bahasa lisan dengan gambar, musik, dan efek-efek suara. Demikian pula dalam teks di media cetak, dijumpai gambar, grafik, bagan, dan desain grafis yang membuat eksistensinya sebagai teks tertulis tidak murni lagi. Sifat multisemiotis SMS tampak lewat pemaduan tanda tulis konvensional (huruf, angka, dan tanda baca tekstual) dengan tanda-tanda lain (gambar, suara, termasuk juga huruf, angka, maupun tanda baca secara inkonvensional). Tentu saja pemaduan tanda tulis konvensional dan tanda lain apa pun bukan hal baru. Namun, dalam konteks SMS, pemaduan itu tidak hanya inovatif, tetapi sering juga tidak mudah dilakukan, maka layak dikategorikan kreatif.

Kreativitas multisemiotis SMS terwujud dalam empat bentuk. Pertama, pemaduan huruf, angka, dan tanda baca konvensional dengan huruf, angka, dan tanda baca yang bernuansa lisan. Misalnya tulisan CU, b4, 2U, dan U2. Jika diucapkan, CU menjadi see you, b4 menjadi before, 2U menjadi to you, dan U2 menjadi you too. Bentuk-bentuk tertulis itu hanya bermakna jika dieja, lalu dipahami lisannya. Kedua, pemaduan teks tulis dan gambar dengan gejala suara sehingga terbentuk SMS audio-visual.

Namun, karena keterbatasan teknis, contoh tidak disajikan. Ketiga,

pemaduan teks dengan emoticons atau simbol-simbol yang mencerminkan suasana hati atau perasaan tertentu.

(4) Tanggap Situasi

Disadari ataupun tidak, SMS telah mendorong manusia lebih tanggap situasi. Hal ini positif karena membuat manusia tidak teralienasi dari situasi yang melingkupinya. Fenomena SMS yang tanggap situasi menegaskan pendapat klasik Halliday (1978) tentang fungsi ideasional bahasa, yakni bahwa bahasa merepresentasikan pengalaman dan dunia.

Subagyo (2006) menyebut humor SMS sebagai ”folklor masyarakat informasi” atau ”cerita rakyat yang tersebar luas dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi”. Di tengah kepenatan dan beratnya tekanan hidup, SMS humor menjadi alternatif tertawa atau tersenyum bersama yang murah, meriah, serta mampu membangun semangat kolektif dan ikatan sosial.

(5) Mencipta ”Keindahan”

Bahasa SMS mampu juga mencipta ”keindahan”. ”Estetika” lingual itu mewujud dalam empat fenomena: persajakan, pemendekan, pemanjangan, serta ungkapan reflektif. Persajakan ditandai adanya persamaan bunyi pada suku akhir sekuen-sekuen SMS. Misalnya:

1) Beli pandan utk dianyam, dibuat tas utk belanja.

Slmt memasuki th dua ribu enam, smg kita makin maju dl banyak hal

& mkn mjd berkah bg sesama.

2) Buka hati jangan murung. Buka pikiran jangan bingung.

Buka mata jangan linglung. Buka paha dapat burung. Buka BH dapat gunung. Buka semua? Burungku bingung!

3) Surat ME kpd YZ ttg 16 ANG: Mas YZ yg tersayANG, kau tlah membuatku mabuk kepayANG, krnmu aku bisa hidup senANG, kau memanjakanku dg segepok uANG, walau istrimu berANG, aku siap menantANG, krn aku terlanjur sayANG, maaf ya mas video kita trlanjur tayANG, jutaan mata sdh memandANG, melihat kita berdua telanjANG, aku tak peduli apa kata orANG, ttg yg mrk bilANG, katanya anu mas kecil & tdk panjANG, bagiku tetap merangsANG, krn bulunya rindANG, spt burung dlm sarANG ….

4) Gurindam 12: Induk itik pulang ke kandang, anak bulus pergi berenang. Si burung hanya memandang, kalau dielus pasti menjulang.

5) Dhahar kupat duduhe santen, sedaya lepat nywn pangapunten. Slmt Idul Fitri 1427 H.

6) Cowok idaman: orangnya sabar, duitnya nyebar, badannya kekar, anunya besar, dijepit makin liar, makin lama makin gempar, tidak cepet keluar, bikin cewek menggelepar.

7) Feeling bored? Think ME! Feeling sad? Call ME! Feeling lonely? See ME! Feeling sleepy? Dream … of …. ME! Feeling hungry? Eat … IndoMIE.

8) Without LOVE, days will be SADDAY, MOANDAY, TEARSDAY, THIRSTDAY, FIGHTDAY, SHATTERDAY. Happy Valentine.

Berikut beberapa SMS yang memperlihatkan ”estetika” karena pemendekan. Di samping ”estetis”, SMS-SMS ini pun bernuansa humor (meskipun juga terkesan porno).

(1) Gubernur Jatim mulai menggalakkan kembali program KB dengan motto: DUA aNak CUKup yang disingkat DUANCUK!

(2) Bupati Banyumas tdk mau kalah, mbuat program Orang tua dan keluarGA Sejahtera dengan Mengutamakan PENdidikan anAK, disingkat ORGASME PENAK.

(3) Slh satu parpol berkampanye di Wonosari, Gunungkidul, berjanji membangun daerah itu sbg tempat wisata plng bergengsi se-Asia dg nama TEMpat PIKnik GUNung KiDUL dan wisatawan dihrpkn KONvoi TOLak (bareng2 tdk perlu nginap). ”Estetika” dapat pula tercipta karena pemanjangan. Sebagaimana dalam hal pemendekan, SMS-SMS

Ungkapan reflektif adalah pernyataan yang menunjukkan kedalaman seseorang dalam olah rasa, olah budi, dan olah hati yang dikemas dengan olah kata. Hasilnya lalu dibagikan lewat SMS sebagai renungan atau kata-kata mutiara terkait dengan peristiwa-peristiwa penting, seperti peringatan hari besar keagamaan, tahun baru, ulang tahun, atau momen lain. Olah kata juga menghasilkan persajakan yang menebar ”keindahan”.

(6) Mengasah Kemampuan Komunikatif

Bahasa SMS yang kreatif juga mampu mengasah kemampuan komunikatif. Ciri kreatif ini tampak dalam beberapa fenomena, antara lain terjadinya komunikasi interaktif, pemanfaatan ketidakterusterangan, penggunaan bahasa asing, dan penggunaan bahasa daerah. SMS mampu mengatasi keterpisahan ruang. Dua tempat yang terpisahkan jarak ribuan mil sekalipun, dengan mudah disatukan oleh HP yang nirkabel. Seseorang yang berada di Yogya, misalnya, dengan mudah berinteraksi dengan sobatnya di Roma tanpa tersela waktu yang lama (Subagyo, 2006). SMS pun menjadi wacana yang interaktif. Situasi ini amat berbeda dengan komunikasi tulis lain, seperti surat, tetegram, ataupun faksimile. Seseorang yang menerima SMS secara etis dituntut (segera) membalas dengan SMS pula. Komunikasi pun menjadi intensif.

Hal itu secara tidak langsung mengasah kemampuan komunikatif pengguna SMS.

(1) A : Bgmn kbr Yk? (Bagaimana kabar Yogya?)

B : Yk aman tentram. Bgmn Roma? (Yogya aman tenteram.

Bagaimana Roma?)

A : Sdg trn salju ckp lbt. Sgt dingin. (Sedang turun salju cukup lebat.

Sangat dingin)

B : Ok, smg knds bdn ttp fit. (Oke, semoga kondisi badan tetap fit)

Pengamatan sekilas menunjukkan, peran modus interogatif (kalimat tanya) sangat penting dalam SMS karena menjadi ”pemancing” terjadinya interaksi.

(2) Anda termasuk sehat, tanpa cacat, badan cukup berisi tanpa noda.

Karena itu kami ingatkan anda untuk berhati2, sebab Panitia Idhul Adha mengincar anda.

(3) Lihatlah di sekelilingmu, itulah karunia Tuhan. Lihatlah di meja makanmu, itulah kemurahan Tuhan. Lihatlah di cermin, itu cobaan Tuhan.

(4) Selamat Anda memenangkan VW Beatle/Kodok dari undian City Bank.

c. Pemendekan Kata dalam Bahasa SMS

Komunikasi melalui media HP, kata yang digunakan sering mengalami pemendekan. Blomfield (dalam Tarigan, 1985:6) menyatakan bahwa kata adalah bentuk bebas yang paling kecil, yaitu kesatuan terkecil yang dapat diucapkan secara berdikari. Sementara itu, Alisjahbana (1974:72) mengatakan bahwa kata ialah satuan kumpulan bunyi atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian. Menurut Ramlan (1985:30) kata ialah satuan bebas yang paling kecil. Kata sendiri dapat diartikan sebagai satuan kebahasaan terkecil yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau morfem gabungan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kemendikbud, 1994:395), mendefinisikan kata ialah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan

yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Pemendekan yaitu bentuk pendek sebuah kata dari kata bentuk panjang kata tersebut. Bentuk-bentuk pemendekan meliputi singkatan, penggalan, pemendekan, kontraksi, dan lambang huruf (Kridalaksana, 2007:159). Selain itu, Kridalaksana (2007:162) mengemukakan bahwa penggalan merupakan proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem. Penggalan mempunyai beberapa subklasifikasi, yaitu penggalan suku kata pertama dari satu kata, sebagai contoh dok berasal dari kata dokter, pengekalan suku terakhir suatu kata, sebagai contoh pak dari bentuk lengkap bapak, pengekalan tiga huruf pertama dari suatu kata, sebagai contoh bag yang berasal dari bentuk lengkap bagian, pengekalan empat huruf pertama dari suatu kata, sebagai contoh prof dari kata profesor, dan pelesapan sebagian kata, sebagai contoh pabila yang berasal dari kata apabila.

Penelitian yang pernah dilakukan Sari (2009:24) ditemukan beberapa jenis pemendekan kata dalam bahasa SMS. Pemendekan kata tersebut adalah sebagai berikut:

a) Penanggalan huruf atau suku kata dalam satu kata banyak ditemukan dalam penulisan SMS. Penanggalan tersebut merupakan akibat dari penulisan SMS yang melakukan ekonomis bahasa dalam proses kreatif penulisan bahasa SMS. 1) Penanggalan huruf dibedakan menjadi tiga, yaitu penanggalan huruf di awal kata, penanggalan huruf di tengah kata, dan penanggalan huruf di akhir kata. 2) Penanggalan

suku kata. Selain penanggalan huruf, terdapat juga penanggalan suku kata. Penanggalan tersebut dibedakan menjadi dua jenis, yaitu penanggalan suku kata di awal kata dan penanggalan suku kata di akhir kata.

b) Penggantian bentuk kata dalam SMS dilakukan untuk menghemat dan menunjukkan kekreatifan penulis SMS. Penggantian bentuk kata

b) Penggantian bentuk kata dalam SMS dilakukan untuk menghemat dan menunjukkan kekreatifan penulis SMS. Penggantian bentuk kata