• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIRUP. Universitas Gadjah Mada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SIRUP. Universitas Gadjah Mada"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SIRUP

Sirup : adalah larutan dalam air dan gula/pengganti gula yang kental, dengan atau tanpa penambahan flavoring agent atau obat.

Sirup yang mengandung flavoring agent tetapi tanpa obat disebut: non-medicated syrup. Banyak non-non-medicated syrup yang menjadi sirup dasar untuk pembuatan sirup obat.

Karena ketidakmampuan banyak anak dan orang dewasa untuk menelan obat maka bukan tidak mungkin farmasis diminta menyediakan sirup obat dengan bahan obat dan tablet/kapsul. Untuk itu pertimbangan kelarutan, stabilitas, bioavailabilitas harus dipertimbangkan kasus per kasus.

Sediaan cair yang terjadi bisa berupa larutan,/suspensi tergantung dari sifat kimia, fisika dan obatnya/sediaan padat nya.

Contoh sirup non-obat:

Sirup cherry: sirup sukrose dengan kadar 47% v/v juice cherry, bau enak dan bersifat

asam, berguna sebagai vehukulum untuk obat yang perlu suasana asam.

Sirup Cacao: suspensi serbuk cacao dalam vehukulum air yang dimaniskan dan

dikentalkan dengan sukrose, cairan glukose dan gliserin, dan di flavor dengan vanilin dan NaCl. Sirup ini efektif untuk obat pahit untuk anak-anak.

Sirup orange: sirup dibuat dan sukrose, menggunakan tinctur kulit dan asam sitrat. Sirup rasa menyerupai orange juice dan bagus untuk vehukulum obat dalam suasana asam.

Ora Sweet dan Ora Sweet SF: secara komersial tersedia untuk pembuatan sirup

(dibuat langsung). Ph 4-4,5 bebas alkohol. (SF = sugar free)

Sirup: larutan terdiri dan 85% b/v sukrose dalam air. Sirup dasar untuk pembuatan

sirup yang lain. (sirup simpeks)

Sirup Obat (medicated syrup) : dibuat dan bahan-bahan awal dengan

mengkombinasikan: air, gula, flavoring agent, pewama, obat dan bahan-bahan lain yang diperlukan.

Flavoring agent diperlukan untuk menghilangkan keraguan akan rasa yang tidak enak. Sirup dapat mengandung alkohol/tidak.

Semua obat yang larut dalam air dapat langsung ditambahkan pada sirup, tetapi harus hati-hati karena adanya kompatibilitas/inkompatibilitas dengan bahan lain. Misalnya sirup (vehikulum) bersifat asam, sedangkan obat stabil pada suasana basis. Komponen sirup:

(2)

1. Gula: sukrose atau pengganti gula yang memberi manis dan viskositas. 2. Pengawet/antimikroba.

3. Flavorant 4. Pewarna

Selain itu terutama sirup komersial mengandung solven, solubilizer, thickener atau stabilizer.

Sirup dasar gula atau non-gula.

Sukrose adalah gula yang paling banyak digunakan, walaupun dalam keadaan khusus sebgian/seluruhnya diganti dengan gula lain: dekstrose atau non-gula: sorbitol, gliserin, propilenglikol. Juga bahan-bahan glikogenetik (yang menghasilkan glukose di dalam badan) diganti yang non-glikogenetik seperti: MC (metil selulose), HEC (hidroksi etil selulose). Selulose tersebut tidak dihidrolisa dan tak diabsorbsi ke dalam badan. ini berguna terutama bisa untuk orang-orang yang menghindari gula seperti: diabetes atau diet.. (MC dan HEC tidak dihidrolisa menjadi glukosa, mempunyai viskositas yang baik)

Setelah itu ditambah pemanis buatan , maka akan dihasilkan seperti sirup gula.

Dengan mengukur kemanisan dan viskositas bisa didapatkan sirup yang sangat baik untuk sirup obat. Bila sirup ditelan: hanya sebagaian onat yang larut yang kontak dengan indera rasa. Sisanya langsung turun ke kerongkongan, sehingga baik untuk obat yang rasanya pahit.

Sirup mengandung sukrosa 60-80%. Sirup yang encer mempunyai sifat tidak stabil, mudah ditumbuhi mikroba terutama ragi dan jamur. Sirup kental (kadar gula tinggi) resisten terhadap pertumbuhan mikroba karena ketidak mampuan air yang diperlukan untuk pertumbuhan.

Sirup simpleks: kadar gula 85 g/100 ml sirup.; BD = 1,313 artinya 100 ml sirup =

131,3 g. 86% sukrose = 85 g, maka berat air tinggal 131-3 - 85 = 46,3 g

1 g gula larut dalam 0,5 ml air, maka masih ada sisa air 3,8 ml (tiap 100 ml sirup) Sisa ini dapat menjaga kestabilan sirup pada perubahan suhu. Kalau sirup jenuh, maka pada ruang yang dingin, akan terjadi kristalisasi gula, sehingga pada ruang normal kembali sirup menjadi tidak jenuh (perlu pengadukan untuk menjadi jenuh). Dalam keadaan ini sirup mudah ditumbuhi jamur.

Maka apabila kadar gula dalam sirup tidak dekat dengan kelarutan jenuhnya, perlu penambahan pengawet.

(3)

Contoh:

Antihistamin sirup : R/ CTM 0,4 g Gliserin 25 ml sirup simpleks 83 ml larutan sorbitol

(64%) 282 ml Na-bensoat 1 g alkohol 60 ml pewarna & flavor qs air ad 1.000 ml

Parasetamol sirup : R/ Parasetamol 24 g Asam benzoat 1 g Di-Na-, Ca-EDTA 1 g

Propilenglikol 150 ml Alkohol 150 ml Na-sacharin 1,8 g Air 200 ml Flavor qs Larutan sorbitol ad 1.000 ml

Pengawet antimikroba.

Jumlah pengawet yang dibutuhkan untuk mencegah pertumbuhan mikroba bervariasi dengan jumlah air untuk pertumbuhan, jenis dan material lain yang mempunyai daya antimikroba (minyak esensial mempunyai aktivitas antimikroba) dan kemampuan pengawet itu sendiri.

Yang lazim digunakan: asam bensoat 0,1 - 0,2% Na-bensoat 0,1 - 0,2% Kombinasi metil, propil, butil paraben: total 0,1% Alkohol: pada umumnya jumlah pada produk akhir tidak cukup berfungsi (perlu 15-20% atau —18%)

Contoh:

R/ Bahan obat 5 ml Bahan padat lain 3 ml Gliserin 15 ml Sukrose 25 g Etanol qs Air ad 100 ml

Sirup simpleks terdiri 85 g/100 ml sirup. BD 1,313, berat 100 ml sirup = 13 1,3 g. 100 ml berat= 131,3 g Sukrose=85g Berat air=46,3 g Volume sirup = 100 ml Volume air = 46,3 ml Volume gula= 53,7 ml 4

1. 85 g sukrose mengawetkan 46,3 ml air 1 g sukrose mengawetkan 0,54 ml air

25 g sukrose mengawetkan 0,54 x 25 = 13,5 ml 2. 85 g sukrose mempunyai volume 53,7 ml

(4)

1 g sukrose mempunyai volume 0,63 ml

25 g sukrose mempunyai volume 25 x 0,63 ml = 15,75 ml 3. Obat dan bahan aktif lain = 8 ml

4. Gliserin mengawetkan sama banyak air

15 ml gliserin mengawetkan 15 ml air (vol. Air-gliserin = 30 ml)

5. Sisa air yang belum diawetkan adalah = 100 - (13,5 + 15,75 + 8 + 30) = 32,75 6. Perlu 18% alkohol untuk mengawetkan air

Untuk 32,75 ml air dibutuhkan 0,18 x 32,75 = 5,9 ml alkohol (100%)

7. Bila digunakan alkohol 95%, diperlukan 5,9 x 100/95 = 6,21 ml alkohol 95%

Flavorant

Sebagian besar sirup ditambah flavoran sintetis/natural seperti minyak menguap (mis:minayk orange), vanilin dll. Supaya sirup berasa enak. Karena sirup vehukulum nya air, maka flavoran harus mempunyai kelarutan air yang cukup. Sering sedikit alkohol ditambahkan untuk menjaga kelarutan flavoran yang tidak larut dalam air.

Pewarna

Untuk menaikkan penampilan sirup, digunakan pewarna dan disesuaikan dengan rasanya (hijau: mint, coklat: cokolat, dll). Pewarna biasanya water-soluble, tidak bereaksi dengan komponen lain, stabil pada range pH yang besar dan stabil terhadap cahaya.

Pembuatan sirup

Tergantung kepada sifat kimia dan fisika bahan-bahannya 1. Melarutkan bahan-bahan dengan bantuan pemanasan.

2. Melarutkan bahan-bahan dengan penggojogan tanpa panas atau mencampur bahan-bahan cair biasa.

3. Menambahkan sukrose ke dalam larutan obat atau flavored liq 4. Percolasi bahan-bahan obat atau juga sukrose.

(5)

Sirup kering

Adalah bentuk sediaan solid, serbuk/granul dimana harus ditambah air pada saat menjelang pemakaian, supaya didapat dosis yang tepat dan bahan aktif pada sediaan cair yang terjadi.

Terutama diperuntukkan bahan-bahan padat yang tidak stabil atau sedikit stabil dalam medium air (misal: gol. Penisilin)

Contoh:

R/ Ampisilin trihidrat 500 mg Na-bensoat 4,90 mg NaC1 7,60 mg Na-citrat anhidrat 36,30 mg

Aroma citron (padat) 30,6 mg Aroma mentol 1 mg Aroma Strowberi 20 mg Amonium glizirizat 2 mg Sacchanum album ad 1 g.

Sirup tersebut ditambah air sebelum digunakan sampai diperoleh volume sirup 5 ml. Stabilitas tidak lebih dan 7 hari pada 15C.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil yang didapat disimpulkan bahwa absorbansi maksimum dari film lithium tantalat terjadi pada daerah infra merah yaitu pada panjang gelombang diatas

Dalam melakukan perannya dalam tindak lanjut penyelesaian laporan, Ombudsman RI perwakilan Jawa Tengah hanya pernah melakukan mediasi sebagai bentuk penyelesaian

Pertumbuhan perusahaan, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan membutuhkan dana yang lebih besar untuk membiayai aktivitas operasi, investasi, dan

(3) Berdasarkan hasil penelitian terkait implementasi kantin kejujuran dalam melatih karakter jujur peserta didik di SMA Negeri 6 Manado di nilai belum sepenuhnya

Penelitian prevalens asma di berbagai negara dengan menggunakan kuesioner baku ISAAC sudah dilakukan pada 56 negara di dunia di 156 pusat asma dan prevalens asma yang didapatkan

Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi.Evaluasi adalah

Sedangkan yang saya maksud dengan hemat premi 70 % adalah dari pada membayar dengan jumlah yang lebih tinggi untuk manfaat yang sama, mendingan pilih jumlah minimal, sehingga

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan, sikap ibu dan dukungan keluarga terhadap pemberian ASI