• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol.IX No.3 September 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol.IX No.3 September 2017"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas WIralodra Indramayu 28

Vol.IX No.3 –September 2017

PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN TEKNIK PROBING-PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN

MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP

oleh Mellawaty [email protected]

Dalam Kurikulum 2013 disebutkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan fokus dari pembelajaran.Akan tetapi padakenyataannya masih kita jumpai siswa yang kemampuan pemecahan masalah matematikanya rendah, hal ini boleh jadi ada kaitannnya dengan pembelajaran yang digunakan guru.Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting. Berdasarkan metodenya penelitian ini adalahpenelitian eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 40 Bandung yang dipilih secara acak menurut kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan skala sikap. Tes yang digunakan adalah tes tipe uraian soal-soal kemampuan pemecahan masalah.

Sedangkan skala sikap menggunakan model Skala Likertyang berisikan pernyataan-pernyataan siswa mengenai pelajaran matematika, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting dan soal-soal

kemampuan pemecahan masalah matematika.Tes diujicobakan terlebih dahulu.Dari hasil uji coba tersebut, diperoleh hasil validitas tinggi, reliabilitas yang berkategori sedang, indeks kesukaran yang sukar dan sedang, serta daya pembedanya sangat baik dan baik.Berdasarkan hasil ujicoba tersebut, semua soal dipakai untuk penelitian.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t melalui program SPSS 17.0 for Windows yaitu dengan menggunakan Independent Sample t-Tes.

Berdasarkan analisis data hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa: kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual dengan teknik probing- prompting lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan biasa; sikap siswa terhadap pelajaran matematika, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting, dan soal-soal pemecahan masalah matematika pada umumnya positif; terdapat korelasi positif sikap siswa dengan kemampuan pemecahan masalah matematika.

Kata Kunci: Pemecahan Masalah, Pendekatan Kontekstual, Probing- Prompting.

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan gabungan antara kegiatan pengajaran yang dilakukan guru sebagai seorang pendidik dan kegiatan

belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan pembelajaran akan terjadi interaksi, baik interaksi antara siswa dengan siswa, ABSTRAK

(2)

WACANA DIDAKTIKA

guru dengan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa sehingga mampu mencapai kompetensi yang diharapkan.

Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang penting untuk dipelajari.

Pembelajaran matematika menuntut siswa untuk aktif mengembangkan kemampuan berpikir rasional, kritis, dan kreatif.

Matematika yang cenderung di anggap sulit dan sukar dipahami oleh siswa berakibat pada rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

Dalam Kurikulum 2013 disebutkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan fokus dari pembelajaran.Belajar pemecahan masalah pada dasarnya menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti.Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.Untuk itu kemampuan siswa dalam mengusai konsep-konsep, prinsip- prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan, (Syah, 2013:123).“Untuk keperluan ini guru dianjurkan menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada pemecahan masalah” (Lawson dalam Syah, 2013:123).

Dalam pembelajaran di sekolah selayaknya guru menggunakan pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik fisik maupun mental.Ruseffendi (2006:249) menyatakan, ”Strategi mengajarkan konsep matematika ialah prosedur dan algoritma yang berkaitan dengan mengajarkan konsep itu. Strategi mengajar yang guru pilih itu tentunya yang sesuai dengan kesenangan dan kemampuan ia sendiri, sesuai dengan tujuan dan dapat menyenangkan siswa”. Pemilihan pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran yang tepat akan memberikan

masalah matematika siswa.

Salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan kontekstual.“Pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi” (Johnson, 2007:35).CTL terdiri dari delapan komponen: Membuat Keterkaitan yang Bermakna, Pembelajaran Mandiri, Melakukan Pekerjaan yang Berarti, Bekerja sama, Berpikir Kritis dan Kreatif, Membantu Individu untuk Tumbuh dan Berkembang, Mencapai Standar yang Tinggi, dan Menggunakan Penilaian Autentik (Johnson, 2007:15).

Rahmat (2006:110) mengatakan,

“Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu harus menguasai teknik mengajar.Dengan demikian teknik mengajar adalah salah satu strategi pembelajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan”.Salah satu teknik mengajar yang melibatkan keaktifan siswa adalah probing- prompting.Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan dan batasan masalahnya adalah: (1) Apakah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan biasa?; (2) Apakah siswa bersikap positif terhadap pelajaran matematika, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing- prompting, dan soal-soal pemecahan masalah matematika?; (3) Apakah terdapat korelasi positif antara sikap siswa dengan kemampuan pemecahan masalah matematika?

KAJIAN TEORI

1. Pembelajaran Probing-Prompting Berdasarkan arti katanya probing adalah

(3)

Universitas WIralodra Indramayu 30

Vol.IX No.3 –September 2017

suatu teknik dalam pembelajaran dengan cara mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya agar dapat membangunnya sendiri menjadi pengetahuan baru”.

Suherman (dalam Sudarti, 2008:18) mengatakan, ”Teknik Probing adalah pembelajaran dengan cara mengajukan suatu rangkaian pertanyaan kepada siswa”. Sedangkan Sujarwo(dalam Muflihin, 2010:12) mengatakan,

”Teknik probing adalah pembelajaran dengan cara mengajukan satu seri pertanyaan kepada siswa dan apabila siswa mengalami kebuntuan jawaban, guru membimbing melalui pertanyaan- pertanyaan yang jawabannya bisa memberi petunjuk kebuntuan jawaban”.

Sedangkan prompting menurut arti katanya, adalah menuntun atau mendorong. Rahman (dalam Muflihin, 2010:12) mengatakan, ”Prompting question adalah bentuk pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban yang tepat”.

Usman (dalam Muflihin, 2010:12) mengemukakan, ”Prompting adalah pertanyaan yang diajukan pada siswa apabila guru menghendaki siswanya untuk memperhatikan dengan seksama bagian tertentu atau pelajaran inti yang dianggap penting.

Berikut ini merupakan tahap-tahap pembelajaran matematika dengan teknik probing-prompting adaptasi dari Development Model, Joce & Weil (Kurniati dalam Rosdiana, 2010:13):

a. Tahap I, menghadapkan siswa pada situasi baru (berupa penyajian masalah), misalnya dengan memperhatikan gambar, alat, menunjuk gambar atau situasi lainnya yang mngandung teka- teki.

b. Tahap II, menunggu beberapa saat (1-3 menit) untuk memberi kesempatan kepada siswa memahami masalah.

c. Tahap III, memngajukan pertanyaan sesuai dengan indikator kepada semua siswa.

d. Tahap IV, menunggu beberapa saat (1-3 menit) untuk memberikan kesempatan kepada siswa merumuskan jawabannya.

e. Tahap V, meminta salah seorang siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

f. Tahap VI, dari respon siswa pertama itu apabila jawabannya relevan dan benar maka mintalah tanggapan dari siswa yang lainnya untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung dan berilah pujian atas jawaban yang benar. Namun apabila jawabannya tidak relevan, maka ajukanlah beberapa pertanyaan susulan yang berhubungan dengan respon pertama tersebut mulai dari pertanyaan yang bersifat observasional, lalu diajukan dengan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi sampai siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang diajukan pada langkah keenam ini sebaiknya diajukan pada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam satu kegiatan probing-prompting.

g. Tahap VII, mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa indikator tersebut benar-benar telah dipahami oleh seluruh siswa.

2. Kemampuan Pemecahan Masalah Gagne (dalam Ruseffendi, 2006:335) mengatakan, ”Pemecahan masalah adalah tipe belajar yang tingkatnya paling tinggi dan kompleks dibandingkan dengan tipe belajar lainnya”. Suatu persoalan dikatakan masalah, jika persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ruseffendi (2006:335), ”Masalah dalam matematika adalah sesesuatu persoalan

yang ia sendiri mampu

menyelesaikannya tanpa algoritma rutin”.

Langkah-langkah penyelesaian yang dikemukakan Polya (1973) yaitu:

1. Memahami Masalah

(4)

WACANA DIDAKTIKA

Pada langkah ini siswa harus menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Untuk lebih memahami masalah sebaiknya siswa disuruh oleh guru untuk menulis kembali persoalan dalam kata-kata sendiri dalam bentuk yang lebih operasional, menentukan notasi yang tepat atau menyatakan dalam gambar.

2. Membuat rencana penyelesaian

Pada langkah ini harus ditentukan alat yang berupa konsep-konsep atau rumus- rumus dan strategi yang cocok untuk menyelesaikan masalah.

3. Pelaksanaan Rencana

Pada langkah ini dilakukan proses pengolahan data dengan operasi dan prosedur yang telah direncanakan sampai ditemukan hasilnya.

4. Memeriksa kembali hasil yang diperolah Pada langkah ini ditelaah kembali kevalidan langkah ketiga. Dibuktikan bahwa hasil tersebut sudah dapat dinyatakan dalam bentuk umum (generalisasi).

3. Sikap

Menurut Syah (2013:120), “Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental”. “Sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu” (Bruno dalam Syah, 2013:120). Dengan demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan caratertentu (Syah, 2013:120).

Sikap siswa terhadap matematika masih rendah, walaupun begitu sikap tersebut dapat dibangun menjadi lebih baik.

Berikut cara menumbuhkan sikap positif bagi siswa Menurut Rusffendi (2006:236),sikap positif bisa tumbuh bila:

1. Materi pelajaran diajarkan sesuai dengan kemampuan siswa; pada umumnya siswa akan sering memperoleh nilai baik.

2. Matematika yang diajarkan banyak kaitanya dengan kehidupan sehari-hari.

3. Siswa banyak berpartisipasi dalam rekreasi, permainan, dan teka-teki matematika.

4. Soal-soal yang dikerjakan siswa, pekerjaan rumah misalnya, tidak terlalu banyak, tidak terlalu sukar, dan tidak membosankan; berikan tugas-tugas untuk mengeksplorasi matematika, bukan mengerjakan soal-soal rutin.

5. Penyajian dan sikap gurunya menarik, dan dapat dorongan dari semua pihak.

Penyajian pelajaran akan menarik siswa bila tepat dalam memilih materi ajar, strategi belajar-mengajar, metode/teknik mengajar, dan media pengajaran. Sikap guru yang menarik dan dorongan dari luar, bisa dalam bentuk pengakuan dan pujian, baik dari guru, orang tua murid maupun temannya.

Evaluasi keberhasilan belajar siswa yang dilakukan guru, mendorong siswa untuk lebih tertarik belajar matematika, tidak sebaliknya, membunuh.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.Dalam penelitian ini diperlukan dua kelas, yaitu satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, sebagai kelas eksperimen dipilih secara acak.Selanjutnya kelas eksperimen memperoleh pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting sebagai perlakuan dan kelas kontrol memperoleh pembelajaran dengan pendekatan biasa sebagai perlakuan.

Adapun penelitian ini akan dilakukan di Kota Bandung dengan pertimbangan nilai rerata UN matematika Kota Bandung adalah 8,09 yang artinya mendekati nilai rerata UN provinsi Jawa Barat. Sehingga SMP yang ada di Kota Bandung mempunyai karakteristik yang serupa dengan populasi.

Dari sekian banyak SMP yang ada di Kota Bandung, dipilih SMPN 40 Bandung dengan pertimbangan, nilai rerata UN matematika

(5)

Universitas WIralodra Indramayu 32

Vol.IX No.3 –September 2017

Bandung memiliki rerata yang mendekati rerata UN Kota Bandung yaitu 8,09. Oleh karena itu SMP Negeri 40 Bandung memilki karakteristik yang serupa dengan populasi.Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 40 Bandung.

Dari tingkatan kelas yang ada di SMP yaitu kelas VII, kelas VIII dan kelas IX, yang akan dijadikan objek penelitian adalah siswa kelas VII. Sedangkan pengambilan sampel dalam penelitian ini dipilih dua kelas secara acak menurut kelas.Satu kelas dijadikan sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lainnya dijadikan sebagai kelas kontrol. Jadi, sampelnya adalah siswa SMPN 40 Bandung kelas VII yang dipilih secara acak menurut kelas.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan non-tes. Instrumen tes yang digunakan adalah tipe uraian karena untuk menguji kemampuan pemecahan masalah matematika. Instrumen non-tes yang digunakan adalah skala sikap untuk mengukur sikap siswa terhadap pelajaran matematika, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing- prompting, dan soal-soal kemampuan pemecahan masalah matematika.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terhadap skor awal (pretes) kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat disimpulkan bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan.Ini berarti bahwa pemilihan kelasnya berasal dari populasi yang homogen.Sedangkan berdasarkan hasil analisis terhadap skor akhir (postes) dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan biasa. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi hambatan dalam penelitian ini, hambatan yang dialami peneliti dalam

melaksanakan penelitian ini diantaranya, siswa belum terbiasa belajar menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting, terutama ketika siswa harus mengkonstruksikan konsep, prinsip dan aturan menjadi sebuah pengetahuan baru dan dalam pembelajaran ini memerlukan banyak waktu. Untuk mengatasi hambatan tersebut, peneliti menggunakan teknik membimbing terhadap siswa dan menggunakan media untuk membantu serta mempermudah dalam pengerjaan soal-soal yang diberikan.

Berdasarkan hasil analisis skala sikap, pada umumnya siswa memberikan respon positif terhadap pelajaran matematika, pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting, dan soal- soal kemampuan pemecahan masalah yang diberikan. Seperti terlihat pada hasil skala sikap yang diberikan pada siswa kelas eksperimen, dari pernyataan yang diberikan, umumnya siswa setuju bahwa pembelajaran kontekstual dengan teknik probing- prompting menyenangkan dan mempermudah mereka dalam memahami materi, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting bisa mengurangi ketidaksenangan siswa terhadap matematika.

Hal ini didasarkan pada jawaban siswa yang cenderung lebih memilih jawaban setuju untuk pernyataan positif, dan tidak setuju untuk pernyataan yang bersifat negatif daripada memilih jawaban netral.

Berdasarkan hasil analisis antara nilai postes dengan nilai skala sikap, terdapat korelasi yang positif antara sikap siswa dengan kemampuan pemecahan masalah siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting. Akan tetapi interpretasi dari koefisien korelasinya rendah, artinya hanya sebagian kecil siswa yang kemampuan pemecahan masalah matematikanya dipengaruhi oleh sikap siswa sedangkan sebagian besar ditentukan oleh faktor lain.

Berdasarkan temuan peneliti di lapangan, pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting membuat siswa

(6)

WACANA DIDAKTIKA

lebih serius dalam belajar terutama ketika mengerjakan soal-soal, dan mereka tidak takut atau malu untuk bertanya kepada guru, dan pada saat guru bertanya siapa yang mau mengerjakan soal sebagian besar siswa ingin berpartisipasi. Meskipun demikian, tidak seluruh siswa berubah cara belajarnya, akan tetapi pada umumnya siswa menjadi lebih aktif ketika belajar matematika.

Dari hasil penelitian ini, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting dapat mendukung peran matematika dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya diharapkan siswa akan menjadi lebih paham terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya dan akhirnya akan berdampak positif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, bahwa tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dilihat dari nilai tes akhir (postes) sangat berbeda baik kelompok kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan biasa; (2) Sikap siswa terhadap pelajaran matematika, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dengan teknik probing-prompting, dan soal- soal pemecahan masalah matematika pada umumnya positif; (3) Terdapat korelasi positif antara sikap siswa dengan kemampuan pemecahan masalah matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, E.B. (2007). Contextual Teaching and Learning. California; CROWN PRESS.INC.

Muflihin. (2010). Pembelajaran Matematika dengan Teknik Probing-Prompting untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kristis Siswa SMP. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Polya, G. (1973). How To Solve It. New Jersey: Princeton University Press.

Rahmat, dkk. (2006). Psikologi Pendidikan.

Bandung: UPI PRESS.

Rosdiana, Nita. (2010). Penggunaan Teknik Probing-Prompting pada Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Skripsi. Bandung:UPI.

Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sudarti, T. (2008). Perbandingan Kemampuan Penalaran Adatif Siswa SMP Antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika melalui Teknik Probing dengan Metode Ekspositori. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Syah, M. (2013). Psikologi Pendidikan.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Referensi

Dokumen terkait

Though the producers and West Sumatran recording industry practitioners whom I interviewed would not divulge exactly how many copies of each recording have been made,

Pengantar karya Tugas Akhir ini berjudul “Perancangan Buku Ilustrasi Ensiklopedia Jajanan Tradisional Kota Solo untuk Anak Usia Kelas 3-5 SD”. Adapun permasalahan yang

Kecepatan tinggi selama mixing diperlukan sebab penambahan bahan disini terjadi dilakukan pada adonan dan salah satu bahan yang ditambahkan adalah shortening yang

a. Swakelola; Baik secara individu maupun kelompok sesuai pasal 39 dan lampiran I Bab III Keppres No.80 tahun 2003. Kesetiakawanan; Dilandasi oleh kepedulian sosial untuk

Oleh karena itu, dasar hukum berlakunya kesepakatan perdagangan regional dalam ketentuan World Trade Organization atau WTO diperbolehkan dalam pasal 24 GATT, dengan

Pentingnya perpustakaan perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan, maka perpustakaan perguruan tinggi telah menjadi salah satu indikator mutu pendidikan di

Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan larutan elektolit sebagai representasi dari tubuh manusia, dan penelitian ini perlu dilakukan untuk dapat mengedukasi

UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENCIPTAKAN IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI YANG KONDUSIF DI SEKOLAHg. OLEH