49
© 2021 The Author(s). Published by Mahesa Research Center
This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License (http://creativecommons.org/license/by/4.0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
Komunitas Historical Sumatera Utara dan Perannya dalam Mempromosikan Situs Islam di Sumatera Utara, 2016-2021
Yudi Pratama*, Achiriah & Nurhayani
Universitas Islam Negeri Sumatera, Indonesia
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki begitu banyak dan beraneka ragam komunitas. Mulai dari komunitas agama, budaya, bola, pecinta alam dan sebagainya. Setiap komunitas ada yang legal dan ada pula yang masih ilegal atau belum memiliki izin. Ruang lingkup dari setiap komunitas tentunya juga sangat beragam, ada yang ruang lingkupnya hanya daerah atau kawasan tempat komunitas itu didirikan dan dibentuk, ada pula yang ruang lingkupnya meliputi seluruh wilayah Indonesia.
Komunitas didefenisikan sebagai kelompok sosial yang muncul dari unsur saling berbagi. Menurut Hermawan, komunitas merupakan sekelompok orang ataupun manusia yang memiliki rasa peduli antara satu sama lain. Dalam kelompok ini juga terdapat anggota yang saling memiliki rasa mendukung dan juga membantu (Hermawan, 2008).
Sedangkan Moedjiono berpendapat bahwa komunitas merupakan suatu wadah yang didalamnya memuat kerjasama beberapa orang untuk tujuan yang sama dengan aturan yang disepakati bersama (Moedjiono, 2002, p. 53).
Suatu komunitas akan terbentuk apabila terdapat hal yang melatarbelakanginya. Adapun faktor yang menyebabkan terbentuknya suatu komunitas menurut Yuwafi ialah; (1) adanya keinginan untuk berbagi dan berkomunikasi antar sesama anggota, (2) tempat tinggal atau wilayah di mana individu tersebut dapat bertemu dan berkumpul bersama, (3) berasal dari kebiasaan para anngota kelompok yang ada, (4) terdapat orang-orang yang berhak mengeluarkan keputusan dan menentukan segala halnya (Yuwafi, 2016).
Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi yang memiliki berbagai etnik dan budaya yang beraneka ragam.
Tentunya tidak lupa pula, wilayah yang satu ini juga kaya akan komunitas yang menyukai situs sejarah. Mulai dari situs sejarah umum hingga situs sejarah Islam. Salah satu komunitas di Sumatera Utara yang sudah banyak berkecimpung dalam dunia situs sejarah ialah, Komunitas Historical Sumatera Utara. Komunitas ini dibentuk awal Januari 2016, pasang surut perkembangan komunitas ini sering terjadi. Apalagi terkait perannya sebagai sebuah wadah yang mampu mempromosikan situs Islam yang ada di Sumatera Utara.
Dalam memainkan perannya sebagai komunitas yang mampu mempromosikan situs sejarah, Historical Sumatera Utara mampu memberikan informasi kepada khalayak umum terkait sejarah dan situs Islam yang ada di Sumatera Utara dengan baik. Akan tetapi dibalik itu semua, tentunya terdapat beberapa kendala ataupun hambatan yang dihadapi
ABSTRACT ARTICLE HISTORY
This article aims to discuss the History of the Historical Community of North Sumatra and its role in promoting Islamic sites in North Sumatra.
The North Sumatra Historical Community was established on January 17, 2016. This community is a community engaged in history, education, tourism and culture. The members of this community are approximately 20 people. The method used in this research is the historical method with four stages, namely; heuristics, criticism or verification, interpretation and historiography. Based on the results of research that the authors get.
The efforts made by the Historical Community of North Sumatra in carrying out its role as an institution that promotes Islamic sites in North Sumatra are; holding seminars and discussions, being a tour guide, promoting various historical sites through social media.
Submitted Revised Accepted
2021-08-10 2021-09-06 2021-09-12 KEYWORDS
Historical Community; promote; Islamic site.
CITATION (APA 6th Edition)
Pratama, Y, Achiriah & Nurhayani. (2021). Komunitas Historical Sumatera Utara dan Perannya dalam Mempromosikan Situs Islam di Sumatera Utara, 2016-2021. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage. 2(2), 49-54.
*CORRESPONDANCE AUTHOR [email protected]
komunitas ini. Hambatan itu muncul dari faktor ekternal dan internal, faktor eksternal biasanya muncul dari tanggapan dan respon masyarakat yang kurang mendukung kegiatan komunitas ini, sedangkan faktor internal biasanya muncul dari anggota komunitas ini sendiri (wawancara dengan Adam Zaki Gultom). Adapun yang menjad fokus permasalahan dari artikel ini ialah untuk melihat bagaimana Komunitas Historical Sumatera Utara berperan dalam mempromosikan situs Islam di Sumatera Utara. Selain itu penulis juga hendak melihat bagaimana upaya komunitas Historical Sumatera Utara dalam mempromosikan situs Islam yang ada di Sumatera Utara.
METODE
Metode merupakan suatu cara sistematis yang digunakan untuk melakukan suatu penulisan. Metode yang penulis gunakan untuk mengkaji penulisan mengenai “Peran Komunitas Historical Sumatera Utara dalam Mempromosikan Situs Islam Di Sumatera Utara” ialah metode penulisan sejarah. Menurut Daliman metode sejarah merupakan perangkat asas dan aturan yang sistematik yang didesain guna untuk membantu secara efektif mengumpulkan sumber-sumber sejarah, menilainya secara kritis, dan menyajikannya dalam bentuk tertulis (Daliman, 2018).
Ada empat tahapan dalam sejarah yaitu: Tahap Pertama, heuristik (pengumpulan sumber) dalam tahap heuristik terdapat dua sumber yaitu: sumber primer dan sumber sekunder. Tahap kedua kritik sumber, dalam tahapan ini sumber-sumber dikritik secara eksternal maupun internal. Tahap ketiga yaitu: Interpretasi data (penafsiran) menafsirkan data-data yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah. Tahap keempat yaitu: Historiografi (penulisan), dengan menyusun hasil-hasil penulisan (catatan fakta-fakta), dan menyusunnya untuk ditulis dan disajikan kepada pembaca sehingga dapat dimengerti dengan jelas. Untuk menerapkan empat tahapan penulisan sejarah tersebut, adapun langkah yang penulis lakukan ialah: mengumpulkan sumber melalui web Historical Sumatera Utara dan juga akun instagaram yang biasa mereka gunakan untuk memposting semua jadwal dan kegiatan yang dilakukan. Wawancara langsung dengan Adam Zaki Gultom selaku ketua Historical Sumatera Utara, Annisa Nainggolan selaku sekretaris dan juga Taslim Batubara selaku anggota dari Komunitas Historical Sumatera Utara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah Komunitas Historical Sumatera Utara
Komunitas Historical Sumatera Utara sudah dibentuk Pada tahun 2016. Komunitas Historical Sumatera Utara merupakan perkumpulan badan hukum yang bersifat profesional dan profitable dalam penelitian dan pengembangan sejarah, budaya, pendidikan dan pariwisata dalam wilayah administratif Provinsi Sumatera, komunitas ini berazazkan pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Utara (AHU-0000215. AH. 01. 08. Tahun 2019).
Komunitas Historical Sumatera Utara saat ini memiliki anggota kurang lebih dua puluh orang. Sudah banyak tempat-tempat bersejarah yang berbasis Islam maupun umum yang telah dipromosikan komunitas ini. Media utama yang digunakan untuk mempromosikan situs sejarah ialah media sosial. Komunitas ini memiliki visi sebagai barometer penelitian dan pengembangan sejarah, budaya, pendidikan dan pariwisata di Sumatera Utara, sedangkan misinya ialah (1) Menghasilakan penelitian sejarah, pendidikan, budaya dan pariwisata yang berkualitas. (2) Merekomendasikan destinasi wisata sejarah, pendidikan dan pariwisata di Sumatera Utara. (3) Mengaplikasikan nilai-nilai historis dan kearifan lokal melalui pendidikan di Sumatera Utara (wawancara dengan Taslim Batubara).
Menurut Annisa, komunitas Historical Sumatera Utara merupakan sebuah wadah perkumpulan legal yang mampu mengakomodir minat serta aspirasi para sejarawan, peneliti, pendidik yang kompeten dalam segmen komunitas keilmuan, dan juga lembaga penelitian (wawancara dengan Annisa Nainggolan). Keberagaman etnis dan budaya yang ada di Sumatera Utara semakin menambah dan memperkaya nilai sejarah daerahnya. Hal inilah yang menyebabkan Medan dikenal dengan Kota Multietnik. Nilai-nilai peradaban yang ada di Sumatera Utara dapat ditelusuri melalui kajian keilmuan. Salah satu kajian keilmuan yang dapat digunakan ialah merekonstruksi sejarah agar dapat dipelajari serta diaplikasikan untuk mempromosikan situs-situs sejarah dan juga kebudayaannya, dengan tujuan agar generasi muda mampu menumbuhkan peduli dan juga cinta terhadap situs sejarah.
Adapun fungsi dan tujuan dari Komunitas Historical Sumatera Utara ialah; menjadi wadah dan juga tempat dalam eksistensi diri, menjadi tempat untuk mencari, menambah serta bertukar informasi dan ilmu, menjadi wadah untuk saling mendukung dan menguatkan bagi seluruh anggota (wawancara dengan Adam Zaki Gultom). Menurut Poedjajani,
komunitas memiliki peran sebagai berikut: (1) tempat coming out, (2) tempat bertukar informasi, (3) menunjukkan eksistensi, (4) tempat untuk saling menguatkan (Poedjajani, 2005). Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa Komunitas Historical berhasil menjalankan perannya sebagai sebuah komunitas.
Peran Komunitas Historical Sumatera Utara dalam Mempromosikan Situs Islam di Sumatera Utara
Dalam menjalankan perannya sebagai wadah yang mempromosikan Situs Islam di Sumatera Utara, komunitas ini bekerjasama dengan berbagai lembaga, baik lembaga swasta maupun negeri. Beberapa lembaga yang pernah berkerjasama dengan komunitas ini ialah: Museum Negeri Sumatera Utara, Museum Uang, Museum Perkebunan, Prodi Sejarah Peradaban Islam UINSU dan juga beberapa sekolah Swasta diantaranya ialah; Yayasan Perguruan Al Ma’shum Kisaran, SMA Muhammadiyah 2 Medan, SMA Al-Hikmah Marelan (wawancara dengan Annisa Nainggolan).
Gambar 1. Komunitas Historical Sumut menjadi Tour Guide di Museum Perkebunan Sumber: Dokumentasi Tim Historical Sumut
Gambar 2. Komunitas Historical Sumut menjadi Tour Guide di Istana Maimun Sumber: Dokumentasi Tim Historical Sumut
Beberapa situs Islam yang pernah dikunjungi dan dipromosikan diantaranya ialah: Masjid Al Osmani di Labuhan Deli, Masjid Sulaimaniyah Pantai Cermin, Masjid Jamik Sultan Sinar yang berada di Kampung Serdang, serta Masjid Basyaruddin. Biasanya Komunitas Historical Sumatera Utara menjadi tour guide dalam setiap acara study tour, Cara ini dianggap lebih efektif dan efisien untuk mempromosikan situs sejarah Islam. Pada dasarnya komunitas Historical Sumatera Utara ini tidak hanya memromosikan situs Islam saja, tetapi juga mengajak semua lembaga dan juga masyarakat agar selalu menjaga dan merawat situs yang ada (wawancara dengan Taslim Batubara).
Gambar 3. Komunitas Historical Sumut menjadi Tour Guide di Masjid Al Osmani, Labuhan Deli Sumber: Dokumentasi Tim Historical Sumut
Gambar 4. Komunitas Historical Sumut mengunjungi dan membersihkan Masjid Jamik Sultan Sinar di Kampung Besar Serdang
Sumber: Dokumentasi Tim Historical Sumut
Upaya Komunitas Historical Sumatera Utara dalam Mempromosikan Situs Sejarah Islam di Kota Medan
Dalam menjalankan perannya sebagai sebuah komunitas atapun wadah yang mampu mempromosikan situs sejarah Islam di Kota Medan, Komunitas Historical Sumatera Utara melakukan beberapa upaya sebagai berikut.
Mengadakan seminar untuk mempromosikan situs sejarah Islam di Kota Medan
Sesuai dengan pengertian seminar yang diungkapkan oleh Ahmadi, ia mengatakan bahwa seminar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebagai proses untuk menyelesaikan masalah atau menemukan sebuah solusi yang dihasilkan dari penelitian atau literatur (Ahmadi, 2014). Salah satu upaya yang dilakukan komunitas Historical Sumatera Utara dalam mempromosikan situs sejarah Islam ialah dengan mengadakan seminar. Hal ini bertujuan untuk saling bertukar pikiran, informasi dan juga memecahkan sebuah masalah.
Melakukan diskusi minimal dua kali dalam sebulan
Biasanya diskusi ini dilakukan untuk mencari tahu informasi sebuah situs sejarah di Kota Medan. Diskusi ini biasanya dilakukan di lapangan, museum ataupun sekretariat. Dulunya ketika komunitas ini masih sangat aktif, hampir setiap minggu diadakan diskusi. Pembahasan yang didiskusikan biasanya beragam, mulai dari hal kecil terkait perkembangan komunitas hingga membahas isu ataupun topik yang sedang berkembang (wawancara dengan Annisa Nainggolan).
Menjadi pemandu wisata
Menurut Damarjati orang yang bersertifikat tanda lulus sebuah ujian profesi dari instansi atau lembaga resmi pariwisata dan juga telah memiliki tanda pengenal, berhak untuk melakukan sebuah perjalanan serta pemberian penjelasan tentang budaya, sejarah dan kekayaan alam (Damardjati, 2001). Komunitas Historical Sumatera Utara sering sekali ikut andil dalam acara study tour yang diadakan oleh beberapa sekolah yang ada di Kota Medan. Tak jarang mereka selalu menjadi tour guide atau pemandu wisata. Hal ini merupakan salah satu wujud dan juga cara komunitas ini untuk mempromosikan situs sejarah yang ada di Kota Medan. Ketika menjadi pemandu wisata setidaknya ada tiga fungsi yang dijalankan. (1) Memberikan informasi tentang segala hal yang menyangkut perjalanan wisata. (2) Mengarahkan perjalanan sesuai dengan itinerarary dan fasilitas yang dipersiapkan. (3) Memutuskan tindakan setelah memperhatikan mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan perjalanan (Nuriata, 2015).
Melakukan promosi situs sejarah Islam melalui media sosial
Menurut Andreas media sosial merupakan kumpulan aplikasi yang berbasis internet, dibangun atas dasar ideologi kesamaan dan pertukaran informasi maupun hal lainnya (Kaplan and HaenLein, 2010). Mengingat semakin pesat dan
canggihya dunia teknologi, maka hal ini sangat dimanfaatkan oleh komunitas Historical Sumatera Utara. Mereka mempromosikan berbagai situs Islam yang ada di Kota Medan melalui media sosial. Beberapa media sosial yang mereka gunakan dalam melakukan promosi ialah: instagram, youtube dan web.
Faktor Pendukung dan Penghambat Komunitas Historical dalam Mempromosikan Situs Sejarah Islam di Kota Medan Berikut ini merupakan faktor yang dapat mendukung Komunitas Historical dalam mempromosikan situs sejarah Islam di Kota Medan.
Sumber daya manusia yang memadai dan berkualitas
Hal ini merupakan hal utama yang harus ada disetiap komunitas, tidak peduli apapun latar belakang komunitasnya. Beruntung di dalam Komunitas Historical Sumatera Utara sumber daya manusianya sangat memadai.
Banyaknya jumlah anggota sebuah komunitas tidak menjamin dan menentukan kualitas sebuah komunitas. Lebih baik sumber daya manusianya memadai, tetapi berkualitas, dibanding sumber daya manusianya melimpah, tapi kurang berkualitas (wawancara dengan Taslim Batubara)
Struktur pembagian tim yang teratur dan terarah
Dalam sebuah komunitas tentunya sangat diperlukan sebuah tim yang terstruktur. Komunitas Historical Sumatera Utara memiliki susunan struktur tim yang sangat teratur dan terarah. Setiap tim memiliki ketua bidang masing-masing.
Jika ada permasalahan yang tidak bisa diatasi anggota tim, maka ketua tim, wajib membantu masalah tersebut. Setiap orang memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Hal ini menyebabkan semua hal menjadi terkoordinir dengan baik (wawancara dengan Adam Zaki Gultom).
Tim yang solid dan juga kompak
Unsur yang satu ini sangat mempengaruhi sebuah komunitas. Jika tidak ada kekompakan dalam sebuah tim, maka dapat dipastikan kinerja sebuah tim tidak akan berjalan maksimal. Sangat sulit membentuk sebuah tim yang solid dan juga kompak, banyak kepala didalamnya, setiap kepala melahirkan pikiran yang berbeda-beda pula. Setiap konflik dan masalah pasti akan muncul dalam sebuah komunitas, tergantung bagaimana tim atau komunitas tersebut menanggapinya. Di Komunitas Historical Sumatera Utara, setiap konflik dan masalah yang ada diatasi dengan jalan diskusi dan juga musyawarah, sehingga semua anggota dapat memberikan usulan dan pendapatnya (wawancara dengan Annisa Nainggolan).
Adapun hal yang menjadi penghambat bagi komunitas Historical Sumatera Utara dalam menjalankan perannya sebagai wadah mempromosikan situs sejarah Islam di kota Medan ialah:
Kurangnya penguasaan terhadap bahasa asing
Dalam mempromosikan situs sejarah Islam, kurangnya penguasaan terhadap bahasa asing, terutama bahasa Inggris, merupakan faktor penghambat yang cukup signifikan. Adakalanya penggunaan bahasa Inggris lebih diutamakan dalam melakukan promosi situs sejarah Islam.
Kurangnya sarana dan prasarana
Kendala yang cukup berpengaruh dalam segala kegiatan ialah sarana dan prasarana. Jika sarana dan prasarana cukup dan memadai, maka perencanaan semua kegiatan komunitas akan terlaksana dengan baik. Sebaliknya jika sarana dan prasarananya tidak memadai, maka semua kegiatan dan perencanaan akan terhambat (wawancara dengan Adam Zaki Gultom).
Hambatan yang bersifat dari luar dan dalam
Adapun maksud dari hambatan yang bersifat dari luar dan dalam ialah, hambatan yang terjadi dari dalam yang biasanya muncul dan dimulai dari tim kita sendiri. Terkadang kurangnya kesadaran akan pentingnya sebuah situs sejarah baik itu Islam ataupun umum sering muncul dalam tim kita. Nah, kesadaran kita inilah yang harus diutamakan, karena hal ini merupakan langkah awal kesuksesan dalam meningkatkan situs sejarah Islam di Kota Medan. Sedangkan hambatan dari luar ialah, kesadaran dari masyarakat kita sendiri, terkadang masyarakat sendiri yang membuat postingan kontras yang bertentangan dengan apa yang kita post dimasyarakat, hal ini mengakibatkan masyarakat tidak lagi sepenuhnya percaya pada komunitas kita.
SIMPULAN
Komunitas Historical Sumatera Utara merupakan komunitas yang cukup berperan dalam mempromosikan situs sejarah Islam. Komunitas ini sudah berdiri sejak tahun 2016. Beberapa upaya yang dilakukan komunitas Historical Sumatera Utara dalam mempromosikan situs sejarah Islam di Kota Medan ialah: mengadakan acara seminar, diskusi, menjadi pemandu wisata dan juga promosi melalui media sosial. Komunitas ini tidak hanya bergerak dibidang sejarah saja, tapi juga pendidikan, budaya dan pariwisata. Sepanjang perjalanannya dalam mempromosikan situs sejarah Islam, beberapa faktor pendukung komunitas ini dalam mempromosikan situs sejarah Islam ialah: sumber daya manusia yang memadai dan berkualitas, struktur pembagian tim yang teratur dan terarah, Tim yang solid dan juga kompak. Selain faktor pendorong, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat, hal itu berupa: kurangnya penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris, kurang memadainya sarana dan juga prasarana.
REFERENSI