PUSAT PERBELANJAAN POLONIA ( Arsitektur Tropis )
SKRIPSI
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA ( Arsitektur Tropis )
SKRIPSI
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA ( Arsitektur Tropis )
SKRIPSI
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA
SKRIPSI
Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA
SKRIPSI
Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA
SKRIPSI
Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Oleh:
TENGKU HANNIZA HUSNY 120406044
Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PERNYATAAN
PUSAT PERBELANJAAN POLONIA
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Januari 2017 Penulis,
Tengku Hanniza Husny
Judul Skripsi : Pusat Perbelanjaan Polonia Nama Mahasiswa : Tengku Hanniza Husny Nomor Pokok : 120406044
Departemen : Arsitektur
Menyetujui Dosen Pembimbing,
Dr.Ir.Nelson M. Siahaan. Dipl,TP,M.Arch NIP. 195811271987011001
Koordinator Skripsi, Ketua Departemen Arsitektur,
Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc, Ph.D NIP. 195811271987011001 NIP.196307161998022001
Tanggal Lulus : 6 Januari 2017 Telah diuji pada
Tanggal : 6 Januari 2017
Penguji Skripsi
Ketua Penguji : Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch Anggota Penguji : 1. Hajar Suwantoro., S.T., M.T.
2. Amy Marisa, S.T., M.Sc
SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK SKRIPSI
Nama : Tengku Hanniza Husny
NIM : 120406044
Judul Skripsi : PUSAT PERBELANJAAN POLONIA
Tema : Arsitektur Tropis
Rekapitulasi Nilai :
A B+ B C+ C
Dengan ini mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan :
No. Status
Waktu Pengumpulan
Skripsi
Paraf Pembimbing
Paraf Koordinator Skripsi
1. Lulus Langsung
2. Lulus Melengkapi 3. Perbaikan
4. Tidak Lulus
Medan, Januari 2017
Koordinator Skripsi, Ketua Departemen Arsitektur,
Dr.Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc, Ph.D NIP. 195811271987011001 NIP.196307161998022001
ABSTRAK
Eks Polonia menjadi lokasi yang tepat untuk membangun kawasan strategis yang ditujukan pada masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Kawasan ini dirancang menggunakan konsep “resort di tengah kota” dengan memakai tema Ecocity yang dapat memberikan pengaruh baik bagi kecamatan Medan Polonia.
Kawasan ini terdiri dari Apartemen, Hotel, Konvensi, dan Pusat Perbelanjaan.
Bangunan yang akan dibahas pada skripsi ini adalah Pusat Perbelanjaan Polonia.
Bangunan ini memakai tema Arsitektur Tropis untuk meningkatkan tema kawasan. Proses pendekatan desain yang dilakukan pada perancangan ini yaitu pengumpulan data primer melalui studi lapangan dan pengumpulan data fisik.
Analisa perancangan Pusat Perbelanjaan Polonia berdasarkan studi literatur dan pengumpulan data, sehingga diketahui masalah, potensi dan solusi untuk menentukan karakterisktik Pusat Perbelanjaan yang cocok dibangun pada site perancangan.
Kata kunci: Arsitektur Tropis, Eks Polonia, Perancangan, Pusat Perbelanjaan Polonia
ABSTRACT
Ex Polonia became the right choice to build strategis areas aimed at middle or above income communities. This area is desaigned using the concept of “resort town” by using an Ecocity theme can give a good influence for Medan Polonia area. This area consists of Apartment, Hotel, Convention and Shopping Centre. The building which will be discussed in this thesis is the Shopping Centre. The Shopping Centre uses Tropical Architecture themes to enhance the theme of the area. The design approaches were made to design of the primary data collection through fieldwork and data collection. Analysis of the design of the Shopping centre based on the study of literature and the data collection, so that known problems, potentials, solutions, to determine the characteristics of the Shopping Centre that will be constructed on the site of a suitable design.
Key words: Tropical Architecture, Ex Polonia, Design, Polonia Shopping Center
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala berkat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Skripsi yang berjudul “Pusat Perbelanjaan Polonia (Arsitektur Tropis)” telah dapat diselesaikan.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl. TP., M.Arch selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu memberikan petunjuk dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
2. Bapak Hajar Suwantoro., S.T., M.T selaku Dosen Penguji I dan Ibu Amy Marisa, S.T., M.Sc selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.
3. Ibu Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc.Ph.D, selaku Ketua Departemen Arsitektur dan Ibu Beny O.Y Marpaung ST.,MT.,PhD, selaku Sekretaris Departemen Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, M.T dan Bapak Ir. Rudolf Sitorus, M.LA, yang telah membantu Saya dalam menyelesaikan studi di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
5. Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
6. Kedua orang tua, Tengku Boyke H.P Husny, S.H, M.H dan Ibu Elsintha Damayanti, S.H, serta atok uya, Tengku Abdurachman Husny, S.H dan atok umi, (alm) Arlaini Rachman yang telah memberikan semangat, dorongan dan bantuan menyelesaikan studi dan skripsi Saya di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
7. Adik-adik, Hannifa dan Habib, yang telah menemani dan mendukung saya dalam menyelesaikan studi ini.
8. Teman kelompok sidang, Suci, Kak Ira dan Bang Raja yang telah bersama-sama melewati waktu senang dan susah bersama. Terima kasih juga kita saling mendukung satu sama lain dan terus berusaha sampai akhir.
9. Eli, Qisti, Ima, Pacya dan Audrey yang selalu memotivasi dan banyak membantu Saya sampai akhir.
10. Wulan, Wewin, Lavi, Yola, Nike, dan Edu yang terus membuat tertawa di grup WA dan tetap menganggap Saya sebagai teman seperjuangan.
11. Teman-teman Angkatan 2012, kakak dan abang senior dan adik-adik junior.
12. Thia, Ana, Niken, Resa, Uchy, Gabby,Fika, Yanda dan kak Reva yang telah menemani, menghibur dan memberikan masukan kepada Saya.
13. Dan seluruh teman media sosial yang telah ada menemani Saya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi masih jauh dari sempurna. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi semua pihak.
Medan, Januari 2017 Penulis,
Tengku Hanniza Husny 120406044
DAFTAR ISI ABSTRAK
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI...iii
DAFTAR GAMBAR ...vii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud... 2
1.3 Tujuan ... 3
1.4 Masalah Perancangan... 3
1.5 Pendekatan ... 3
1.6 Lingkup dan Batasan... 4
1.7 Kerangka Berpikir ... 5
1.8 Sistematika Penulisan Laporan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Terminologi Judul ... 7
2.1.1 Pengertian Pusat Perbelanjaan ... 7
2.1.2 Polonia ... 8
2.1.3 Kesimpulan Terminologi Judul ... 8
2.2 Tinjauan Umum Proyek ... 8
2.2.1 Latar Belakang... 8
2.2.2 Perkembangan Kota ... 9
2.2.3 Deskripsi Umum Proyek... 12
2.2.4 Tujuan Proyek... 13
2.3 Tinjauan Daerah Perencanaan... 13
2.3.1 Tinjauan Kota ... 13
2.3.2 Tinjauan Lokasi ... 15
2.4 Tinjauan Fungsi... 16
2.4.1 Klasifikasi ... 16
2.4.2 Elemen-ElemenPusat Perbelanjaan ... 20
2.4.3 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan 21 2.4.4 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan ... 22
2.4.5 Deskripsi Perilaku... 25
2.4.6 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang ... 27
2.4.7 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang... 37
2.4.8 Studi Banding Arsitektur Sesuai Fungsi ... 38
2.5 Elaborasi Tema... 44
2.5.1 Pengertian Tema ... 44
2.5.2 Prinsip Tema ... 45
2.5.3 Interpretasi Tema ... 46
2.5.4 Keterkaitan Tema dengan Judul ... 49
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 50
3.1 Metode Penelitian... 50
3.2 Objek Penelitian ... 50
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 51
3.3.1 Data Primer ... 51
3.3.2 Data Sekunder... 51
3.4 Teknik Keabsahan Data ... 52
3.5 Teknik Analisis Data ... 52
3.6 Waktu dan Lokasi Penelitian/ Survey ... 53
BAB IV ANALISA PERANCANGAN... 54
4.1 Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan ...54
4.1.1 Analisa Lokasi Site dan Kondisi Lahan Eksisting...54
4.1.2 Analisa Regulasi ...56
4.1.3 Analisa Tata Guna Lahan ...57
4.1.4 Analisa Sirkulasi dan Pencapaian ...58
4.1.5 Analisa Vegetasi ...59
4.1.6 Analisa View...60
4.2 Analisa Fungsional ...62
4.2.1 Analisa Skema Kegiatan ...62
4.2.2 Analisa Kebutuhan Ruang ...65
4.2.3 Analisa Tipologi Bangunan ...73
BAB V KONSEP PERANCANGAN ... 76
5.1 Konsep Dasar ... 76
5.2 Konsep Perancangan Tapak ... 77
5.2.1 Penzoningan Site... 77
5.2.2 Tata Ruang Luar ... 77
5.2.3 Gubahan Massa... 79
5.3 Konsep Perancangan Bangunan. ... 81
5.3.1 Penzoningan ... 81
5.3.2 Sirkulasi ... 81
5.4 Konsep Perancangan Struktur Bangunan ... 82
5.4.1 Pondasi... 82
5.4.2 Lantai ... 82
5.4.3 Dinding ... 82
5.5 Konsep Perancangan Utilitas Bangunan ... 83
5.5.1 Sistem Pencahayaan... 83
5.5.2 Sistem Pengkondisian Udara ... 83
5.5.3 Sistem Penyediaan dan Distribusi Listrik ... 83
5.5.4 Sistem Penyediaan Air Bersih ... 84
5.5.5 Sistem Pembuangan Air Kotor (Drainase) ... 84
5.5.6 Sistem Penangkal Petir ... 85
5.5.7 Sistem Pemadam Kebakaran ... 85
5.5.8 Sistem Komunikasi ... 86
5.5.9 Sistem Audio dan Komunikasi Visual... 86
5.5.10 Sistem Transportasi... 87
5.5.11 Sistem Keamanan ... 87
5.5.12 Sistem Pengelolaan Sampah ... 87
BAB VI KONSEP PERANCANGAN ... 88
6.1 Suasana Eksterior ... 88
6.1.1 Taman ... 88
6.1.2 Taman Penghubung ke Hotel... 88
6.1.3 Plaza... 89
6.2 Suasana Interior... 90
6.2.1 Fashion (H&M)... 90
6.2.2 Supermarket (LotteMart) ... 91
6.2.3 Cafe... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 103 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir ... 5
Gambar 2.1 Peta Medan Polonia... 13
Gambar 2.2 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan ... 21
Gambar 2.3 Diagram Kegiatan Pengunjung ... 22
Gambar 2.4 Diagram Kegiatan Pengelola dan Karyawan ... 23
Gambar 2.5 Diagram Kegiatan Pengelola dan Karyawan ... 24
Gambar 2.6 Fasad Paleet Shopping Center... 38
Gambar 2.7 Interior Paleet Shopping Center ... 39
Gambar 2.8 Ruang Duduk di Paleet Shopping Center... 39
Gambar 2.9 Pelat Baja Paleet Shopping Center... 40
Gambar 2.10 Blind Walkway dan Papan Informasi ... 40
Gambar 2.11 Retail – Retail Pada Paleet Shopping Center ... 41
Gambar 2.12 Fasad Shopping Center PivovarDecin... 41
Gambar 2.13 Entrance Shopping Center Pivovar Decin... 42
Gambar 2.14 Hall Shopping Center Pivovar Decin ... 43
Gambar 2.15 Suasana Shopping Center Pivovar Decin... 43
Gambar 2.16 Roof Garden ... 47
Gambar 2.17 Sistem Pengolahan Air Hujan ... 47
Gambar 2.18 Ukuran Pengolahan Air Hujan ... 48
Gambar 4.1 Lokasi Site... 54
Gambar 4.2 GSB dan Site Perancangan... 56
Gambar 4.3 Rencana Skyline ... 57
Gambar 4.4 Analisa Pencapaian ... 58
Gambar 4.5 Solusi Desain... 59
Gambar 4.6 Analisa View ke Dalam... 60
Gambar 4.7 Analisa View ke Luar... 61
Gambar 4.8 Foto-Foto View ke Luar ... 61
Gambar 4.9 Alur Pengunjung ... 62
Gambar 4.10 Alur Staff Tenant... 62
Gambar 4.11 Alur Staff Operasional ... 63
Gambar 4.12 Alur Investor ... 63
Gambar 4.13 Alur Supplier ... 64
Gambar 4.14 Alur Penyelenggara Event... 64
Gambar 4.15 Alur Distribusi Properti Event... 65
Gambar 4.16 L-shaped Plan: Arndale Centre, Luton... 73
Gambar 4.17 T-shaped Plan: Willowbrook Mall, New Jersey ... 73
Gambar 4.18 Cruciform Plan: La Ppuente, California... 74
Gambar 4.19 Pinwheel Plan: Randhurst, Illinois ... 74
Gambar 4.20 Figure-of-eight Plan: Sherway gardens, Toronto ... 75
Gambar 5.1 Zoning Site ... 77
Gambar 5.2 Pergola dan Jembatan... 77
Gambar 5.3 Playground ... 78
Gambar 5.4 Gubahan Massa 1 ... 79
Gambar 5.5 Gubahan Massa 2 ... 80
Gambar 5.6 Penzoningan Bangunan ... 81
Gambar 5.7 Rencana Skematik Elektrikal ... 83
Gambar 5.8 Rencana Skematik Suplai Air Bersih ... 84
Gambar 5.9 Rencana Skematik Air Kotor ... 84
Gambar 5.10 Rencana Skematik Sistem Kebakaran... 86
Gambar 5.11 Rencana Skematik Telepon... 87
Gambar 5.12 Rencana Skematik Computer Network ... 87
Gambar 5.13 Rencana Skematik Sampah ... 88
Gambar 6.1 Desain Kawasan Eks Bandara Polonia ... 89
Gambar 6.2 Entrance Kawasan Eks Bandara Polonia ... 90
Gambar 6.3 Suasana Kawasan Eks Bandara Polonia ... 91
Gambar 6.4 Entrance Utama... 92
Gambar 6.5 Side Entrance ... 92
Gambar 6.6 Suasana Drop Off... 93
Gambar 6.7 Suasana Gedung Lotte Mart... 94
Gambar 6.8 Tempat Makan Outdoor ... 95
Gambar 6.9 Plaza ... 95
Gambar 6.10 Suasana Gedung Sport ... 96
Gambar 6.11 Taman... 97
Gambar 6.12 Pergola... 97
Gambar 6.13 Playground ... 98
Gambar 6.14 Gazebo... 99
Gambar 6.15 Taman Penghubung... 99
Gambar 6.16 Suasana H&M 1 ... 100
Gambar 6.17 Suasana H&M 2 ... 101
Gambar 6.18 Suasana LotteMart ... 102
Gambar 6.19 Suasana Cafe 1 ... 102
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penggunaan Lahan ... 10
Tabel 2.2 Kriteria Pemilihan Lokasi ... 15
Tabel 2.3 Klasifikasi Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Luas Area Pelayanan... 17
Tabel 2.4 Deskripsi Perilaku Pengunjung Pusat Perbelanjaan Polonia ... 25
Tabel 2.5 Deskripsi Kebutuhan Ruang Pusat Perbelanjaan Polonia... 27
Tabel 2.6 Deskripsi Besaran Ruang ... 33
Tabel 4.1 Kebutuhan Ruang Shopping Mall... 57
Tabel 4.2 Jenis-Jenis Retail Pada Shopping Mall ... 65
Tabel 4.3 Program Ruang Pusat Perbelanjaan Polonia ... 71
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
Eks Bandara Polonia berpotensi sebagai wilayah permukiman dan perdagangan. Ini terbukti karena Polonia direncakanan akan dialih fungsikan menjadi sebuah central business district (CBD) serta 40% lahannya untuk kebun raya. Selain lokasi yang strategis, Eks Bandara Polonia dapat berkembang menjadi wilayah yang lebih produktif.
Sebuah kawasan dapat hidup jika terdapat aktifitas. Salah satu bangunan yang menarik masyarakat yaitu rumah. Jika sudah ada rumah maka dibutuhkan bangunan pendukung untuk menghidupi masyarakat tersebut seperti pasar, tempat rekreasi, tempat berkumpul, dsb. Dengan pertimbangan tadi, Kawasan ini terdapat bangunan hunian (hotel dan apartemen) dan bangunan pendukung (pusat perbelanjaan dan konvensi). Sebuah kawasan yang terdapat bangunan hunian dengan bangunan penunjang menjadi pilihan yang tepat untuk membuat Eks Bandara Polonia menjadi lebih produktif.
Lokasi Eks Bandara Polonia terletak di tengah kota yang setiap 24 jam tetap beraktifitas. Akan merugikan jika membangun sebuah kawasan jika melihat masalah tersebut. Maka kawasan ini direncanakan memakai tema Eco City dengan konsep “resort di tengah kota”. Dengan memakai tema Eco City, diharapkan dapat membantu membuat kawasan lebih ramah lingkungan.
Konsep “resort di tengah kota” juga direncanakan dapat menambah nyaman seperti berada di tempat lain.
Kawasan ini dirancang untuk masyarakat yang berpendapatan menengah ke atas karena pada lokasi ini memiliki harga tanah yang sangat tinggi.
Masyarakat tersebut akan memilih kawasan ini untuk menanam modal ataupun untuk tempat tinggal yang berbeda dari yang lain karena memakai konsep
“resort di tengah kota”. Masyarakat perkotaan akan lebih memilih tempat tinggal yang nyaman seperti di pedesaan yang tenang dan hijau.
Masyarakat sekitar Polonia tergolong kaum atas atau tergolong kaya, maka pusat perbelanjaan branded sangat dibutuhkan di kawasan ini. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat kawasan, pusat perbelanjaan ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar Polonia. Dengan adanya Pusat Perbelanjaan Polonia dapat menarik konsumen sekitar untuk mau berbelanja di sini. Pusat Perbelanjaan Polonia ini di desain menjadi pusat perbelanjaan yang menjual barang-barang branded dan kebutuhan sehari hari.
Pusat Perbelanjaan Polonia menerapkan konsep plaza (tempat berkumpul) untuk menghidupkan konsep kawasan. Untuk menambah unsur nyaman, bangunan ini memakai tema Arsitektur Tropis. Tema ini jarang dipakai pada bangunan pusat perbelanjaan karena terkesan tradisional dan tidak mewah.
Maka saya akan mencoba memakai tema ini untuk membuat Pusat Perbelanjaan Polonia terlihat mewah dan nyaman dengan memakai bahan yang mudah didapat. Dengan memanfaatkan keuntungan dari Arsitetur Tropis, seperti ventilasi, sirkulasi, dsb, bangunan ini dapat menjadikan kawasan yang nyaman dan ramah lingkungan.
1.2 Maksud
Maksud dalam studi kasus Pusat Perbelanjaan Polonia, yaitu:
a. Merancang bangunan Pusat Perbelanjaan Polonia yang ramah lingkungan dengan memakai tema Arsitektur Tropis.
b. Menciptakan sirkulasi pengunjung dan kendaraan (mobil, motor, truk) pengunjung maupun pegawai yang nyaman dan tidak saling mengganggu.
c. Menciptakan ruangan pada Pusat Perbelanjaan yang dapat membuat pengguna merasa berada di wilayah yang “berbeda” dan nyaman dengan itu.
d. Menciptakan bangunan yang ikonik dan tetap ramah lingkungan.
1.3 Tujuan
Tujuan dalam studi kasus Pusat Perbelanjaan Polonia, yaitu:
a. Agar memberikan dampak positif bagi Kawasan Polonia dan tetap mempertahankan tema utama, yaitu Eco City.
b. Agar sirkulasi dalam Pusat Perbelanjaan Polonia teratur dan terkendali.
c. Agar pengunjung tetap merasakan konsep utama kawasan yaitu,
“resort di tengah kota” dan juga pengunjung tidak merasa bosan berada di Pusat Perbelanjaan Polonia.
d. Agar pengunjung mau datang ke Pusat Perbelanjaan Polonia dan dengan memakai bahan yang ramah lingkungan bangunan ini dapat menjadi ikonik bagi Kawasan Polonia.
1.4 Masalah Perancangan
Masalah yang diperkirakan akan timbul dalam Pusat Perbelanjaan Polonia, yaitu:
a. Bagaimana cara menentukan teknologi ramah lingkungan yang sesuai dengan Pusat Perbelanjaan Polonia dan dapat menunjukkan tema Arsitektur Tropis.
b. Bagaimana cara membagi sirkulasi penggunjung, pegawai dan penyewa yang teratur dan nyaman.
c. Bagaimana cara membuat ruangan yang tidak membosankan tetapi masih menampilkan konsep “resort di tengah kota”.
d. Bagaimana cara menentukan bentuk dan bahan yang cocok untuk Pusat Perbelanjaan Polonia.
1.5 Pendekatan
Pendekatan yang dilakukan dalam memecahkan masalah dalam Pusat Perbelanjaan Polonia, yaitu:
a. Studi Literatur
Penelitian dengan cara mencari data-data dan peraturan yang berkaitan dengan studi kasus, kemudian mempelajari masalah, potensi dan solusi dari studi kasus tersebut.
b. Studi Banding
Penelitian dengan cara mencari studi kasus bangunan serupa, kemudian mempelajari masalah, potensi dan solusi dari studi kasus tersebut.
c. Survey
Penelitian dengan cara survey ke lapangan atau lokasi.
1.6 Lingkup / Batasan Masalah
Ada pula lingkup kajian dan batasan terhadap bangunan Pusat Perbelanjaan Polonia, yaitu:
a. Lingkup Kajian
Pemilihan lokasi site dan peraturan pemerintah
Seluruh aspek fisik dan non fisik yang berhubungan dengan bangunan Pusat Perbelanjaan Polonia
Pengguna, pemilik, dan petugas Pusat Perbelanjaan Polonia b. Batasan
Tidak ada batasan usia dan gender.
Merupakan bangunan pusat perbelanjaan.
Peraturan pemerintah tentang KDB, KLB, dsb harus diperhatikan.
1.7 Kerangka Berfikir
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir (Sumber: Pengolahan Data Pribadi)
1.8 Sistematika Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang penjelasan secara menyeluruh apa yang menjadi perusmusan perancangan yang meliputi: latar belakang, maksud dan tujuan, masalah perancangan, pendekatan, lingkup/batasan, kerangka berfikir dan sistematika penulisan laporan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membahas mengenai terminologi judul, pemilihan lokasi, deskripsi kondisi eksisting, luas lahan, peraturan dan keistimewaan lahan, tinjauan fungsi dan studi banding arsitektur dengan fungsi sejenis.
BAB III METODOLOGI
Berisikan tentang uraian langkah-langkah penelitian Pusat Perbelanjaan Polonia
BAB IV ANALISA PERANCANGAN
Pendekatan Program Perencanaan Dan Perancangan Analisa-analisa yang berkaitan dengan pendekatan obyek fisik dan nonfisik, seperti analisa kegiatan, tapak, bangunan, ruang dan analisa sistem struktur.
BAB V KONSEP PERANCANGAN
Berisikan konsep penerapan hasil analisis yang digunakan dan dianggap sebagai pemecahan masalah. Konsep yang dibahas meliputi konsep perencanaan dan perancangan bangunan Pusat Perbelanjaan Polonia.
BAB VI PERANCANGAN ARSITEKTUR
Berisi akan hasil rancangan berupa site plan, denah, tampak, potongan, hingga suasana eksterior dan interior.
LAMPIRAN
Merupakan hasil keluaran berupa Gambar hasil Perancangan Arsitektur dan foto survey.
DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai studi literatur selama proses perencanaan dan perancangan kasus Pusat Perbelanjaan Polonia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terminologi Judul
Berikut merupakan penjelasan terhadap judul studi kasus Pusat Perbelanjaan Polonia.
2.1.1 Pengertian Pusat Perbelanjaan
Menurut Time Saver, Pusat perbelanjaan adalah kumpulan dari ritel (toko) yang fasilitasnya direncanakan sebagai satu bangunan untuk memberikan kenyamanan belanja maksimal untuk pelanggan dan barang dagangan.
Menurut Kotler, Pusat perbelanjaan adalah kelompok bisnis eceran yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki, dan dikelola sebagai satu unit.
Pusat perbelanjaan adalah sekelompok ritel dan ketentuan komersial lainnya yang direncanakan, dikembangkan, dan dimiliki, serta dikelola sebagai properti tunggal (Utami, 2006).
Menurut Rubenstain (1978) mall adalah sebagai suatu area pergerakan (linier) pada suatu area pusat bisnis kota atau Central Bussiness Distric (CBD) yang lebih diorientasikan bagi pejalan kaki, berbentuk pedestrian dengan kombinasi plaza dan ruang- ruang interaksional.
Sedangkan menurut maitland (1987), mall adalah pusat perbelanjaan yang berintikan suatu atau beberapa department store besar sebagai daya tarik dari retail-retail kecil dan rumah makan dengan tipologi bangunan seperti toko-toko yang menghadap ke koridor utama mall atau pedestrian yang merupakan unsur utama dari shopping mall, dengan fungsi sebagai sirkulasi dan sebagai ruang komunal bagi terselenggaranya interaksi antar pengunjung dan pedagang.
2.1.2 Polonia
Nama Polonia berasal dari nama negara asal para pembangunnya, Polandia (Polonia merupakan nama “Polandia” dalam bahasa latin).
Sebelum menjadi bandar udara, kawasan tersebut merupakan lahan perkebunan milik orang Polandia bernama Baron Michalsky. Kemudian dia menamakan wilayah itu dengan negeri kelahirannya, yaitu Polonia. Sampai sekarang Polonia merupakan salah satu kecamatan di Medan.
2.1.3 Kesimpulan Terminologi Judul
Jadi dapat disimpulkan Pusat Perbelanjaan Polonia adalah suatu kumpulan ritel (toko) yang berada pada satu atap dan terletak di Polonia.
2.2 Tinjauan Umum proyek 2.2.1 Latar Belakang
Sejarah perkembangan pusat perbelanjaan di mulai pada abad pertengahan. Pada waktu itu orang melakukan jual beli di bawah pohon yang membentuk suatu deretan atau garis memanjang. Karena jumlah penduduk semakin bertambah, maka kualitas dan kuantitas barang yang diperdagangkan juga semakin meningkat. Akibat dari hal tersebut bertambah luasnya tempat-tempat yang menjadi tempat perbelanjaan.
Perkembangan fisik tempat-tempat tersebut menyesuaikan kebutuhan dan tuntutan masyarakat pada masa itu. Jalan-jalan yang semula hanya diteduhi oleh pohon-pohon yang berderet lalu berubah menjadi suatu jalan dengan gedung-gedung disebelah kanan dan kirinya.
Perkembangan pertama terjadi pada abad ke-19 yaitu dengan dibangunnya Barton Arcade di kota Manchester. Bangunan berlantai empat yang memiliki arcade ini sebenarnya mempunyai satu koridor yang bagian atasnya ditutupi kaca. Sebelum bentuk arcade ini muncul, koridor yang terdapat dalam suatu pusat pertokoan merupakan koridor terbuka/ pusat perbelanjaan terbuka. Bentuk ini biasanya digunakan di negara-negara Eropa, menggunakan landscape untuk menutup jalan yang akan digunakan sebagai pedestrian yang terletak diantara toko-toko. Tetapi bentuk ini tidak menguntungkan bila dilihat dari faktor iklimnya. Sebagai langkah
pemecahannya, timbul shelter sebagai pelindung dari panas, dingin, dan hujan.
Pusat perbelanjaan tersebut ditutup dengan bahan yang tembus cahaya matahari (sky light), sehingga orang yang berada di dalam pusat perbelanjaan tersebut merasa seperti berada di alam bebas / alam terbuka.
Dengan didukung alat pengontrol iklim dan keamanan, maka pembeli dan pengunjung benar-benar dapat berbelanja dengan santai. Konsep inilah yang mendasari adanya pusat perbelanjaan.
Evolusi pusat perbelanjaan berkembang lebih lanjut, persyaratan pusat perbelanjaan tertutup mulai kurang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin maju pemikirannya di pergantian abad ke-20 ini.
Mereka menuntut lingkungan belanja yang lebih berkesan. Maka kriteria konseptual dalam perencanaan desain pusat perbelanjaan:
Pentingnya perpaduan jenis toko-toko
Pentingnya lingkungan dalam membentuk karakter dan kepribadian tempat
Menyediakan tempat makan (restoran atau cafe) sebagai pendukung aktivitas belanja dan rekreasi, serta menyediakan fasilitas khusus untuk kegiatan pengisi waktu luang.
2.2.2 Perkembangan Kota
Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi tepatnya pada tahun 1590. Sejarah kota Medan dimulai dari sebuah desa yang bernama “Medan Putri”. Dengan lokasi yang srategis yaitu berada di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura, membuat kampung ini berkembang dengan pesat. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai. Lambat laun kampung ini semakin pesat perkembangannya dan mengakibatkan banyak orang yang datang ke daerah ini.
Perkembangan pesat kota Medan dimulai sejak tahun 1918. Banyak berbagai fasilitas dibangun, seperti Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru dan beberapa fasilitas lainnya.
Saat ini kota Medan telah berkembang dengan begitu pesat. Dengan mulai berkembangnya pusat kota Medan yang sering juga disebut Medan City Center. Berbagai fasilitas publik dibangun di area ini. Berbagai fasilitas yang ada di Medan City Center ini adalah berbagai tempat belanja seperti mall, hotel mulai dari bintang dua hingga bintang lima tersedia untuk dipilih. Fasilitas sarana publik pun saat ini berkembang pesat. Salah satu fasilitas yang baru saja diresmikan adalah Bandara Kualanamu dengan akses langsung menuju stasuin pertama di Indonesia.
Letak geografis kota Medan berada pada 2⁰27’ – 2⁰47’ lintang utara dan 98⁰35’ – 98⁰44’ bujur timur. Berada 2,5 – 37,5 meter diatas permukaan laut. Topografi site datar (tidak berkontur), iklim tropis dengan suhu minimum antara 23.3⁰C – 24.4⁰C dan suhu maksimum antara 30.7⁰C – 33.2⁰C. Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan terdiri dari 5 WPP, beserta wilayah per WPP, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Penggunaan Lahan
WPP Cakupan Kecamatan Pusat
Pengembangan Sasaran Peruntukkan
A
Medan Belawan Medan Marelan Medan Labuhan
Belawan
Pelabuhan, industri, pemukiman, rekreasi, maritim, usaha
kegiatan
pembangunan jalan baru, jaringan air
minum, septic tank, sarana pendidikan
B Medan Deli Tanjung Mulia
Kawasan perkantoran, perdagangan,
rekreasi indoor, pemukiman, pembangunan jalan baru,
jaringan air
minum, pembuangan sampah, dan
sarana pendidikan
C
Medan Timur Medan perjuangan
Medan Tembung Medan Area Medan Denai Medan Amplas
Aksara
Pemukiman, perdagangan, dan
rekreasi, pembangunan sambungan air minum, septic tank, jalan
baru, rumah
permanen, sarana pendidikan dan
kesehatan
D
Medan Johor Medan Kota Medan Baru Medan Maimoon
Medan Polonia
Inti Kota
Kawasan perdagangan, perkantoran, rekreasi indoor
dan pemukiman, dengan program kegiatan pembangunan perumahan
permanen, penanganan sampah dan
sarana pendidikan
E
Medan Barat Medan Petisah Medan Sunggal Medan Helvetia Medan Selayang Medan Tuntungan
Sei Sikambing
Kawasan pemukiman, perdagangan,
dan rekreasi dengan program kegiatan
sambungan air minum, septic tank,
jalan baru, rumah permanen, sarana
pendidikan dan kesehatan
2.2.3 Deskripsi Umum Proyek
Nama Proyek : Pusat Perbelanjaan Polonia
Pemilik : Pihak Swasta
Status Proyek : Fiktif
Bangunan existing : Terminal dan parkir Bandara Polonia
Lokasi Proyek : Jl. Imam Bonjol, Suka Damai, Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara 20157
Batas – Batas Site
Batas Utara : Perumahan
Batas Timur : Terminal Bandara Polonia
Batas Selatan : Perumahan
Batas Barat : Terminal Bandara Polonia
Luas Lahan : ± 1,5 Ha (± 15.000 m2)
Kontur : Relatif datar
KLB : 4 lantai
KDB : 60%
KDH : 25%
Lebar Jalan
Jl. Parkir polonia : 15 meter
GSB
Jl. Parkir polonia : 8,5 meter
Potensi Lahan
Akses ke bangunan mudah
Transportasi lancar dan baik.
Terletak di lingkungan permukiman
Strategis
2.2.4 Tujuan Proyek
Tujuan proyek Pusat Perbelanjaan Polonia ini, yaitu:
a. Memberikan wadah kegiatan jual – beli untuk kawasan sekitar polonia yang rata rata merupakan kalangan menengah ke atas.
b. Menciptakan suasana ramah lingkungan (Eco-City) bagi kawasan sekitar.
2.3 Tinjauan Daerah Perancangan 2.3.1 Tinjauan Kota
a. Profil Medan Polonia
Gambar 2.1 Peta Medan Polonia (Sumber: Wikipedia)
Kecamatan Medan Polonia, Medan adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Medan Polonia, berbatasan dengan Medan Baru di sebelah barat, Medan Maimun di timur, Medan Johor di selatan, dan Medan Petisah di utara.
Pada tahun 2001, kecamatan ini mempunyai penduduk sebesar 46.316 jiwa.
Luasnya adalah 9,01 km² dan kepadatan penduduknya adalah 5.140,51 jiwa/km².
Sebagaian besar penduduk di kecamatan ini adalah suku-suku pendatang seperti:
Batak, Tionghoa, Minang, Aceh dan Jawa sedangkan suku asli Suku Melayu Deli 20% saja.
b. Sejarah Medan Polonia
Nama Polonia berasal dari nama negara asal para pembangunnya, Polandia (Polonia merupakan nama "Polandia" dalam Bahasa Latin). Sebelum menjadi bandar udara, kawasan tersebut merupakan lahan perkebunan milik orang Polandia bernama Michalski. Tahun 1872 dia mendapat konsesi dari Pemerintah Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Pesisir Timur Sumatera tepatnya daerah Medan. Kemudian dia menamakan daerah itu dengan nama Polonia, yang saat itu belum merdeka.
Tahun 1879 karena suatu hal, konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah tangan kepada Deli Maatschappij (Deli MIJ) atau NV Deli Maskapai. Tahun itu terdapat kabar pionir penerbang bangsa Belanda van der Hoop akan menerbangkan pesawat kecilnya Fokker dari Eropa ke wilayah Hindia Belanda dalam waktu 20 jam terbang. Maka Deli MIJ yang memegang konsesi atas tanah itu, menyediakan sebidang lahan untuk diserahkan sebagai lapangan terbang pertama di Medan.
Pada tahun 1924, setelah berita pertama tentang kedatangan pesawat udara itu tidak terdengar, maka rencana kedatangan pesawat udara kembali terdengar.
Mengingat waktu itu sangat pendek, persiapan untuk lapangan terbang tidak dapat dikejar, akhirnya pesawat kecil yang diawaki Van der Hoop yang menumpangi pesawat Fokker, bersama VN. Poelman dan Van der Broeke mendarat di lapangan pacuan kuda yakni Deli Renvereeniging, disambut Sultan Deli, Sulaiman Syariful Alamsyah.
Setelah pesawat pertama mendarat di Medan, maka Asisten Residen Sumatera Timur Mr. CS. van Kempen mendesak pemerintah Hindia Belanda di Batavia, agar mempercepat dropping dana untuk menyelesaikan pembangunan lapangan terbang Polonia. Pada 1928 lapangan terbang Polonia dibuka secara resmi, ditandai dengan mendaratnya enam pesawat udara milik KNILM, anak perusahaan KLM, pada landasan yang masih darurat, berupa tanah yang dikeraskan. Mulai tahun 1930, perusahaan penerbangan Belanda KLM serta anak perusahaannya KNILM membuka jaringan penerbangan ke Medan secara berkala.
Pada tahun 1936 lapangan terbang Polonia untuk pertama kalinya melakukan perbaikan yaitu pembuatan landasan pacu (runway) sepanjang 600 meter.
Pada tahun 1975, berdasarkan keputusan bersama Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan, pengelolaan pelabuhan udara Polonia menjadi hak pengelolaan bersama antara Pangkalan Udara AURI dan Pelabuhan Udara Sipil. Dan mulai 1985 berdasarkan Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 1985, pengelolaan pelabuhan udara Polonia diserahkan kepada Perum Angkasa Pura yang selanjutnya mulai 1 Januari 1994 menjadi PT. Angkasa Pura II (Persero).
2.3.2 Tinjauan Lokasi
Tabel 2.2 Kriteria Pemilihan Lokasi
No. Kriteria Lokasi
1 Tinjauan terhadap sturktur kota
Site harus berada pada wilayah RUTRK yang tata guna lahannya diperuntukan daerah
perdagangan dan jasa
Berada pada ring yang sesuai dengan bangunan ini
2 Pencapaian Lokasi harus berada pada daerah yang mudah dicapai oleh kendaraan dan pejalan kaki.
3 Area pelayanan
Area sekitar site merupakan permukiman penduduk dan pusat komersil lainnya yang dapat
menunjang pusat berbelanjaan.
4 Kemudahan entrance Harus mudah diakses oleh pengelola, penyewa, pengguna fasilitas dan pengunjung.
Lokasi perancangan terdapat pada Kecamatan Medan Polonia. Salah satu penggunaan lahan pada Kecamatan Medan Polonia yaitu kawasan perdagangan. Jadi, pembangunan Pusat Perbelanjaan Polonia dapat dilakukan di Kecamatan Medan Polonia.
Menurut Buku The Architect’s Handbook, lokasi yang dipilih umumnya berada di luar inti kota atau masih dalam lingkar/cakupan perkotaan, harus di jalan besar dan mudah diakses karena umumnya pengunjung datang dengan mobil, maksimum waktu mengemudi 10 sampai 15 menit dari pusat kota atau 25 menit dari luar pusat kota.
2.4 Tinjauan Fungsi
Sebagai tempat perdagangan (tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi) di bidang barang maupun jasa yang sifat kegiatannya untuk melayani umum dan lingkungan sekitarnya atau dapat juga diartikan sebagai tempat perdagangan eceran atau retail yang lokasinya digabung dalam satu bangunan atau komplek. (www.petra.ac.id, 20 Oktober 2010)
2.4.1 Klasifikasi
a. Berdasarkan Luas Area Pelayanan
Neigbourhood Shopping Center
Merupakan tipe pusat perbelanjaan yang paling kecil. Area yang disewakan di tempat ini antara 2.700 – 9.000 m2 tetapi pada umumnya pusat perbelanjaan ini mempunyai area sewa kotor ± 4.500 m2. Perdagangan dan jasa di tempat ini bertujua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk di lingkungan sekitarnya.
Community Shopping Center
Merupakan pusat perbelanjaan yang luasnya antara 9000-27.000 m2dan mempunyai area sewa kotor ± 13.500 m2. Di tempat ini biasanya terdapat departemen store dengan ukuran kecil, toko serba
ada atau toko obral, dan supermarket. Konsumen biasanya berasal dari area yang berjarak 10-20 menit dengan berkendaraan.
Regional Shopping Center
Merupakan pusat perbelanjaan terbesar kedua yang menyediakan pelayanan yang secara tipikal merupakan kawasan bisnis. Pusat perbelanjaan ini mempunyai area sewa kotor ± 36.000 m2dengan ukuran luas department store paling minimum 9000 m2.
Super-regional Shopping Center
Merupakan tipe pusat perbelanjaan yang terbesar yang secara umum melayani area metropolitan. Pusat perbelanjaan ini mempunyai toko khusus, arcade dan restoran. Konsumen yang datang tidak hanya tinggal di sekitarnya tapi juga dari berbagai bagian kota bahkan luar kota. Bentuk pusat perbelanjaan ini biasanya disebut dengan Mega Mall. Biasanya terdapat 150 unit perdagangan di dalamnya dan terdapat 3 departemen store dengan ukuran luas masing-masing sekitar 9000 m2dan mempunyai mencapai area sewa kotor ± 67.500 m2
Tabel 2.3 Klasifikasi Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Luas Area Pelayanan
(Sumber : Uli- The Urban Land Institude. Wasington: Shopping Center Development Handbook,1977)
Tipe Pusat
Perbelanjaan Penyewa Utama
Tipe (area yang disewakan)
Luas Lantai Penjualan
Populasi Pelayanan Minimum (orang) Neighbourhood
Shopping Center
Supermarket
atau drugstore 4.650 m2 2.800- 9.300 m2
2.500- 10.000 Community
Shopping Centre
Variety discount atay drugstore
14.000 m2
9.300- 27.900
m2
40.000- 150.000
Regional Shopping Centre
Satu atau lebih Departement
store besar/lengkap
dengan GLA 100.000
37.000 m2
27.900- 83.700
m2
150.000 atau lebih
Super Regional Shopping
Centers
Tiga atau lebih departement
store besar/lengkap
dengan GLA 100.000
74.400 m2
46.500- 93.000
m2
300.000 atau lebih
b. Berdasarkan Cara Pelayanan
Shopping Existing Personal Services
Pembeli dilayani langsung oleh para pelayan.Setelah transaksi, pelayan langsung meminta pembayaran dan membungkus barang tersebut.
Self Selection
Pembeli dapat memilih dan membeli barang-barang, kemudian mengumpulkan ke pelayan dan meminta bon pembayaran, lalu ke kasir untuk membayar dan mengambil barang.
Self Services
Pembeli dapat memilih dan mengambil barang-barang yang dibutuhkan, kemudian diletakkan pada keranjang / kereta dorong yang telah disediakan, lalu langsung dibawa ke kasir untuk pembayaran dan pembungkusan.
c. Berdasarkan Bentuk Fisik
Market
Rangkaian petak (stall) dan warung (booth) yang diatur berderetderet pada ruang terbuka atau tertutup. Merupakan bentuk sarana fisik yang tertua dari suatu tempat perbelanjaan.
Shopping Street
Toko-toko berderet di kedua sisi jalan, dengan pencapaian langsung dari jalan utama.
Shopping Precint
Toko-toko yang membentuk sebuah lingkaran yang bebas dari kendaraan, dan khusus untuk pejalan kaki.
Department Store
Kumpulan beberapa toko yang berada di bawah satu atap bangunan.
Supermarket
Toko dengan ruangan yang luas dan menjual bermacam-macam barang yang diatur secara berkelompok dengan sistem self service.
Shopping Centre
Bangunan atau kompleks pertokoan yang terdiri dari stan-stan toko yang disewakan atau dijual.
Shopping Mall
Bangunan atau kompleks pertokoan yang memilih sistem selasar atau satu koridor utama disepanjang toko-toko yang menerus.
d. Berdasarkan Luas dan Macam-Macam Desain
Full Mall
Full mall terbentuk oleh sebuah jalan, di mana jalan tersebut sebelumnya digunakan untuk lalu lintas kendaraan, kemudian diperbaharui menjadi jalur pejalan kaki, plaza (alun-alun) yang dilengkapi paving, pohon-pohon, bangku-bangku, pencahayaan dan fasilitas-fasilitas baru lainnya seperti patung dan air mancur.
Transit Mall
Transit mall atau transit way dikembangkan dengan memindahkan lalu lintas mobil pribadi dan truk ke jalur lain dan hanya mengijinkan angkutan umum seperti bus dan taksi. Area parkir direncanakan tersendiri dan menghindari sistem parkir pada jalan (on-street parking), jalur pejalan kaki diperlebar dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti : paving, bangku, pohon-pohon, pencahayaan, patung, air mancur dan lain-lain. Transit mall telah dibangun di kota-kota dengan rata-rata ukurannya lebih besar dari full mall maupun semi mall.
Semi Mall
Semi mall lebih menekankan pada pejalan kaki, oleh karena itu areanya diperluas dan melengkapinya dengan pohon-pohon dan tanaman, bangku-bangku, pencahayaan dan fasilitas buatan lainnya.Sedangkan jalur kendaraan dan area parkir dikurangi.
2.4.2 Elemen-Elemen Pusat Perbelanjaan a. Anchor (Magnet)
Transformasi dari "nodes", dapat juga berfungsi sebagai "landmark", perwujudannya berupa plaza dan mall.
b. Secondary Anchor
Transformasi dari "district", perwujudannya berupa toko-toko pengecer, retail,supermarket,superstore, bioskop, dll.
c. Street Mall
Transformasi bentuk "paths", perwujudannya berupa pedestrian yang menghubungkan magnet-magnet.
d. Landscaping (Pertamanan)
Transformasi bentuk "edges", sebagai pembatas pusat pertokoan dengan tempat-tempat luar.
2.4.3 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan
Magnet (Anchor) merupakan suatu hal yang mendorong orang berjalan kaki dari satu ke tempat ke tempat lainnya. Magnet bisa berupa pusat perbelanjaan, perkantoran, pelayanan umum seperti perpustakaan, museum, gedung bioskop dan sebagainya. Berikut merupakan peletakan magnet (anchor).
A C
B D
Gambar 2.2 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan (Sumber : Lion Edger, Shopping Center, Planning and Administration, 1976)
Keterangan
S: Supermarket Additional Store St: Store Additional Department Store D: Department Store Additional Mall
2.4.3 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan
Magnet (Anchor) merupakan suatu hal yang mendorong orang berjalan kaki dari satu ke tempat ke tempat lainnya. Magnet bisa berupa pusat perbelanjaan, perkantoran, pelayanan umum seperti perpustakaan, museum, gedung bioskop dan sebagainya. Berikut merupakan peletakan magnet (anchor).
A C
B D
Gambar 2.2 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan (Sumber : Lion Edger, Shopping Center, Planning and Administration, 1976)
Keterangan
S: Supermarket Additional Store St: Store Additional Department Store D: Department Store Additional Mall
2.4.3 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan
Magnet (Anchor) merupakan suatu hal yang mendorong orang berjalan kaki dari satu ke tempat ke tempat lainnya. Magnet bisa berupa pusat perbelanjaan, perkantoran, pelayanan umum seperti perpustakaan, museum, gedung bioskop dan sebagainya. Berikut merupakan peletakan magnet (anchor).
A C
B D
Gambar 2.2 Penempatan Magnet (Anchor) dalam Pusat Perbelanjaan (Sumber : Lion Edger, Shopping Center, Planning and Administration, 1976)
Keterangan
S: Supermarket Additional Store St: Store Additional Department Store D: Department Store Additional Mall
2.4.4 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan a. Pengguna
Gambar 2.3 Diagram Kegiatan Pengunjung (Sumber: Olah Data Primer)
Usia 5 – 15 tahun
Jalan-jalan, bermain, membaca buku, makan bersama keluarga, melihat-lihat, nonton, sholat, pergi ke toilet.
Usia 16 – 25 tahun
Jalan-jalan, melihat-lihat, membeli barang, membayar, membaca buku, bermain, makan bersama teman atau keluarga, nonton, sholat, pergi ke toilet.
Usia 26 - 50 tahun
Memarkirkan kendaraan, jalan-jalan, melihat-lihat, membeli barang, membayar, membaca buku, makan bersama teman atau keluarga, bertemu rekan bisnis, nonton, sholat, pergi ke toilet.
Usia ≥ 60 tahun
Jalan-jalan, melihat-lihat, membeli barang, membayar, membaca buku, makan bersama keluarga, sholat, pergi ke toilet.
b. Pengelola
Gambar 2.4 Diagram Kegiatan Pengelola dan Karyawan (Sumber: Olah Data Primer)
Direktur / Pimpinan Pusat Perbelanjaan Polonia
Memimpin perusahaan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan perusahaan; Memilih, menetapkan, mengawasi tugas dari karyawan dan kepala bagian (manajer); Menyetujui anggaran tahunan perusahaan; Menyampaikan laporan kepada pemegang saham atas kinerja perusahaan; Mengangkat dan memberhentikan karyawan.
Wakil Direktur / Pimpinan Pusat Perbelanjaan Polonia
Membantu Direktur dalam menjalankan tugas; Mengkoordinir semua devisi yang ada dibawahnya; Menerima, mempertimbangkan dan menyetujui anggaran tiap devisi dan melakukan evaluasi.
Sekretaris
Mengatur aktivitas perusahaan; Menjadi perantara pihak-pihak yang ingin berhubungan dengan pimpinan; Menjadi mediator pimpinan dengan bawahan.
Kepala Bagian / Manager
Bertanggung jawab penuh terhadap bagian yang dipimpin;
Mengawasi dan mengendalikan bagiannya; mengevaluasi kegiatan yang dilakukan bagiannya
Supervisor
Mengatur kelompok kerja pada grup yang dipegang; membuat rencana jangka pendek untuk tugas yang telah diberikan atasan;
Mengontrol dan mengevaluasi kinerja bawahan; Melaksanakan tugas proyek, dan pekerjaan secara langsung.
Staf administrasi
Mendukung kelancaran operasional perusahaan dalam layanan administrasi perkantoran, penyediaan fasilitas, serta melaksanakan pelayanan perusahaan.
Marketing
Menjual barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan pada masyarakat; Menciptakan dan mengelola relasi dengan konsumen.
c. Karyawan d.
Gambar 2.5 Diagram Kegiatan Pengelola dan Karyawan (Sumber: Olah Data Primer)
Office boy
Membantu karyawan dan staf untuk melakukan semua pekerjaan di luar pekerjaan seorang karyawan dan staf untuk mendukung pelaksanaan tugas dan pekerjaan.
Cleaning service
Menjaga kebersihan Pusat Perbelanjaan Polonia
Satpam / sekuriti
Menjaga situasi Pusat Perbelanjaan Polonia
Karyawan retail
Menjaga retail dan melayani pengunjung jika mau membeli ataupun melihat barang di retailnya.
2.4.5 Deskripsi Perilaku
Tabel 2.4 Deskripsi Perilaku Pengunjung Pusat Perbelanjaan Polonia (Sumber: Olah Data Primer)
Gender Pengguna Usia (tahun) Perilaku
Pria
Anak-anak 5 – 12
Pergerakan cepat (lincah), Suka bermain, selalu ingin tahu, selalu
bersama orang tua ataupun babysitter, suka mainan yang bersifat bergerak
Anak sekolah 12 – 17
Selalu ingin tahu, berkumpul bersama
temannya, suka bermain, mencari suasana baru, suka
jalan-jalan.
Anak kuliah /
pengusaha muda 17 – 25
Berkumpul bersama temannya, mencari hiburan, menghabiskan
waktu luang, bertemu rekan bisnis.
Pengusaha,
pegawai kantor ≥ 25 Serba cepat, Bertemu rekan bisnis, tidak ada
waktu untuk hiburan kecuali hari libur, suka
kopi dan makanan cepat saji.
Pensiunan ≥ 60
Pergerakan lama, mencari suasana baru,
tidak bisa lelah, diperlukan pengawasan.
Pengangguran 17 – 60 Mencari suasana baru
Wanita
Anak-anak 5 – 12
Pergerakan cepat (lincah), Suka bermain, selalu ingin tahu, selalu
bersama orang tua ataupun babysitter, suka boneka dan hal- hal yang bersifat lucu.
Anak sekolah 12 – 17
Selalu ingin tahu, berkumpul bersama
temannya, suka bermain, mencari suasana baru, suka
jalan-jalan.
Anak kuliah /
pengusaha muda 17 – 25
Berkumpul bersama temannya, mencari hiburan, menghabiskan
waktu luang, bertemu rekan bisnis, suka belanja hal-hal yang
tidak perlu.
Pengusaha,
pegawai kantor ≥ 25 Serba cepat, Bertemu rekan bisnis, suka
terhadap make up dan perawatan diri.
Pensiunan ≥ 60
Pergerakan lama, mencari suasana baru,
tidak bisa lelah, diperlukan pengawasan.
Ibu rumah tangga 25 – 40
Mencari kebutuhan pangan dan rumah tangga, tertarik pada harga diskon atau harga
promo.
2.4.6 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang a. Kebutuhan Ruang
Menurut Metric Handbook Planning & Design Data, minimal luas bangunan 4500 m2 yang setidaknya mempunyai 3 lantai dengan luas 900 m2.
Tabel 2.5 Deskripsi Kebutuhan Ruang Pusat Perbelanjaan Polonia (Sumber: Olah Data Primer)
Fungsi Fasilitas Pengguna Kegiatan Kebutuhan
Ruang
Fasilitas
Perbelanjaan H & M
Pengelola
Mengatur pengeluaran dan
pemasukan barang
Administrasi
Isoma
R. Manager
R.
Administrasi
Toilet
Karyawan
Melayani pengunjung
Memeriksa kondisi barang
R. Karyawan
Gudang
Toilet
Pantry
Melayani pembeli
Isoma
R. Kasir
Pengunjung
Belanja
Melihat-lihat
Jalan-jalan
Membeli barang
Membayar
Area Belanja
Toilet
Kamar Pas
Kasir
Supermarket ( Lottemart)
Pengelola
Mengatur pengeluaran dan
pemasukan barang
Administrasi
Isoma
R. Manager
R.
Administrasi
Toilet
Karyawan
Melayani pengunjung
Memeriksa kondisi barang
Melayani pembeli
Isoma
R. Karyawan
Gudang
Toilet
Pantry
R. Kasir
Pengunjung
Belanja
Menitipkan barang
Mengambil keranjang/ kereta
dorong
Membayar
Area Belanja
Toilet
Kasir
Sport Station Pengelola Mengatur R. Pengelola
pengeluaran dan pemasukan
barang
Administrasi
Isoma
R.
Administrasi
Toilet
Karyawan
Melayani pengunjung
Memeriksa kondisi barang
Isoma
R. Karyawan
Gudang
Toilet
Pantry
R. Kasir
Pengunjung
Belanja
Melihat-lihat
Jalan-jalan
Membeli barang
Membayar
Area Belanja
Toilet
Kasir
Retail (toko)
Penyewa
Mengatur penjualan
Melayani pembeli
Isoma
Retail (toko) Karyawan
Melayani pembeli
Isoma
Pengunjung
Melihat-lihat
Tawar- menawar
Belanja
Membeli
Makan / minum
Duduk
Area Rekreasi
Hall/ stage
Pengelola Administrasi
Isoma
R. Pengelola
Toilet
Karyawan - -
Pengunjung
Melihat-lihat
Bermain
Duduk
Stage / panggung
Foodcourt
Pengelola Administrasi
Isoma
R. Pengelola
Toilet
Karyawan
Melayani pengunjung
Isoma
R. Karyawan
Gudang
Toilet
Pantry
R. Kasir
Pengunjung
Makan dan minum
Duduk-duduk
Meeting
Membayar
Area Bermain
Kasir
Fitness Center
Pengelola Administrasi
Isoma
R. Pengelola
Toilet
Karyawan /trainer
Melayani pengunjung
Melatih pengunjung
Administrasi
Isoma
R. Karyawan
Gudang
Toilet
Pantry
R. Kasir
Pengunjung
Makan dan minum
Duduk-duduk
Berolahraga
Area Fitness
Kasir
Ruang ganti
Bar/ lounge
Membayar Fasilitas
Pendukung dan Pelayanan
Kantor Pengelola
Pengelola Utama
Administrasi
Isoma
R. Pimpinan
R. Wakil Pimpinan
Karyawan Administrasi
R. Sekretaris
R. Manager
R.
Bendahara
R. Karyawan
R. Rapat
R. Tamu
Pantry
Toilet
R. Arsip
Toilet Umum
Semua pengguna
dan pengunjung
Buang air besar/kecil
Cuci tangan/muka
Toilet umum
Musholla
Semua pengguna
dan pengunjung
Wudhu
Sholat
R. Sholat
Tempat Wudhu
Keamanan Petugas
Menjaga keamanan
Isoma
Pos Keamanan
R. CCTV
R. Istirahat
Utilitas Karyawan
Mengawasi peralatan
Menjalankan dan Mengatur
R. Pompa
R. AHU
R. Genset
R. Trafo
peralatan
Isoma
R. Mesin Lift
R. Sampah
R.Karyawan
Pergudangan
Karyawan
Mengontrol
Service
Administrasi
Loading dock
Gudang utama
Keamanan Penyewa
Menitipkan barang dagangan
Administrasi
Outdoor Pengunjung
Duduk-duduk
Jalan-jalan
Melihat-lihat
Bermain
Foto-foto
Jalur pedestrian
Playground
Tempat duduk
Taman/Fount ain
Parkir
Semua pengguna
dan pengunjung
Parkir mobil
Parkir motor
Parkir loading dock
R. Parkir pengelola dan
karyawan
R.Parkir Umum
b. Besaran Ruang
Tabel 2.6 Deskripsi Besaran Ruang (Sumber: Olah Data Primer)
Gedung Fashion (H&M)
Ruang Standart
m2/org Sumber
Hall / stage 1,5 DA+asumsi
toilet pria 1,5 DA
toilet wanita 1,5 DA
nursery room 1,2 asumsi
ruang satpam 2 TSS
retail 7 MHPD
cafe 1,9 MHPD
ruang ME 7,35 SBT
ruang karyawan 4,46 DA
area penjualan +
kasir 1,5 DA+asumsi
ruang pengelola 2,4 asumsi
Supermarket (LotteMart)
Ruang Standart
m2/org Sumber
Lobby 1,5 DA+asumsi
Toilet Pria 1,5 DA
Toilet Wanita 1,5 DA
Ruang
Karyawan 2,4 asumsi
Gudang 10 DA
Area Penjualan 1,5 DA
Informasi 1,5 DA
Penitipan
Barang 1,5 DA
Atm Center 1,2 DA+asumsi
Retail 7 MHPD
Foodcourt 1,9 MHPD
Ruang Pengelola 2,4 asumsi
Tps Loading Dock
R.Me
Musholla 0,84 DA
Sport Station
Ruang Standart
m2/org Sumber
Lobby 1,5 DA+asumsi
toilet pria 1,5 DA
toilet wanita 1,5 DA
ruang karyawan 2,4 asumsi
gudang 10 DA
area penjualan 1,5 DA
informasi 1,5 DA
penitipan barang 1,5 DA
ruang pengelola 2,4 asumsi
fitness center
food court
ruang standart
m2/org sumber
Area Makan +
Counter 1,9 MHPD
Kasir 3 asumsi
Ruang Pantry 1,2 asumsi
Gudang 10 DA
Toilet 1,5 DA
fasilitas adm
ruang standart
m2/org sumber
Ruang pimpinan 20 DA
Ruang wakil
pimpinan 18,54 DA
Ruang rapat 2 DA
Ruang tunggu 1,5 DA
Ruang sekretaris 10 DA
Ruang kabag
operasional 7 DA
Ruang kabag
keuangan 7 DA
Ruang kabag
kepegawaian 7 DA
Ruang kabag 7 DA
pemasaran Ruang kabag pemeliharaan dan
perawatan bangunan
7 DA
Ruang karyawan 4,46 DA
Toilet 1,2 DA+ asumsi
fasilitas utilitas
ruang standart
m2/org sumber
Ruang ME 15 asumsi
Ruang Genset 15 asumsi
Ruang panel utama 7,35 SBT
Ruang panel /lantai 1,125 SBT
Ruang ground
water tank 45 SBT
Ruang kontrol cctv 6 asumsi
Ruang sekuriti 2,4 asumsi
2.4.7 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang a. Fasilitas Publik
Merupakan fasilitas yang memenuhi kebutuhan pengunjung Pusat Perbelanjaan Polonia. Fasilitas ini disesuaikan dengan jumlah pengelola, karyawan, dan pengunjung Pusat Perbelanjaan Polonia.
Data Arsitek dan Time Saver Standards dipakai sebagai acuan untuk menentukan besaran ruang yang efisien.
b. Fasilitas Belanja
Merupakan fasilitas yang disediakan untuk pengunjung yang ingin berbelanja di Pusat Perbelanjaan Polonia. Terdapat supermarket (LotteMart), gedung fashion (H&M), Sport station dan retail-retail.
Data Arsitek, Time Saver Standards dan Metric Handbook Planning
& Design Data dipakai sebagai acuan untuk menentukan besaran ruang yang efisien.
c. Fasilitas Rekreasi
Merupakan fasilitas yang disediakan untuk menghibur pengunjung Pusat Perbelanjaan Polonia. Terdapat foodcourt dan outdoor /taman yang di desain berdasarkan konsep resort di tengah kota. Data Arsitek, Metric Handbook Planning & Design Data dan asumsi dipakai sebagai acuan untuk menentukan besaran ruang yang efisien.
d. Fasilitas Administrasi
Merupakan fasilitas yang disediakan untuk pengelola agar dapat beraktifat dengan nyaman. Data Arsitek dipakai sebagai acuan untuk menentukan besaran ruang yang efisien.
e. Fasilitas Utilitas
Merupakan fasilitas yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan ruang utilitas pada Pusat Perbelanjaan Polonia. Sitem Bangunan Tinggi dan asumsi dipakai sebagi acuan utntuk menentukan besaran ruang yang efisien.
2.4.8 Studi Banding Arsitektur Sesuai Fungsi a. Paleet Shopping Center
Gambar 2.6 Fasad Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Arsitek : JVA
Lokasi : Karl Johans gate 37, 0162 Oslo, Norway
Area : 10100.0 sqm
Proyek : Year2014
Fotografer : Nils Petter Dale, Einar Aslaksen
Konsultan : RISS AS, Linda Knoph Vigsnæs/LYSSTOFF AS Arsitek utama : Einar Jarmund, Håkon Vigsnæs, Alessandra
Kosberg, Siv Hofsøy, Claes Cho Heske Ekornås, Ane Sønderaal Tolfsen, Jeanette Alvestad, Mari Isdahl, Martin Kandola, Harald Lode (freelance) Paleet adalah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Karl Johans di pusat Oslo. Tempat ini telah beroperasi sebagai pusat perbelanjaan sejak tahun 1990,dengan memakai fasad lama sekitar tahun 1860-an. Terlihat jelas pada gambar, fasad luar bangunan tampak tidak modern.
Pada tahun 2014 Paleet telah mengalami perbaikan besar-besaran.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan personaliti dari pusat perbelanjaan ini agar dapat menjadi tempat perbelanjaan yang dikenal 2.4.8 Studi Banding Arsitektur Sesuai Fungsi
a. Paleet Shopping Center
Gambar 2.6 Fasad Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Arsitek : JVA
Lokasi : Karl Johans gate 37, 0162 Oslo, Norway
Area : 10100.0 sqm
Proyek : Year2014
Fotografer : Nils Petter Dale, Einar Aslaksen
Konsultan : RISS AS, Linda Knoph Vigsnæs/LYSSTOFF AS Arsitek utama : Einar Jarmund, Håkon Vigsnæs, Alessandra
Kosberg, Siv Hofsøy, Claes Cho Heske Ekornås, Ane Sønderaal Tolfsen, Jeanette Alvestad, Mari Isdahl, Martin Kandola, Harald Lode (freelance) Paleet adalah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Karl Johans di pusat Oslo. Tempat ini telah beroperasi sebagai pusat perbelanjaan sejak tahun 1990,dengan memakai fasad lama sekitar tahun 1860-an. Terlihat jelas pada gambar, fasad luar bangunan tampak tidak modern.
Pada tahun 2014 Paleet telah mengalami perbaikan besar-besaran.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan personaliti dari pusat perbelanjaan ini agar dapat menjadi tempat perbelanjaan yang dikenal 2.4.8 Studi Banding Arsitektur Sesuai Fungsi
a. Paleet Shopping Center
Gambar 2.6 Fasad Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Arsitek : JVA
Lokasi : Karl Johans gate 37, 0162 Oslo, Norway
Area : 10100.0 sqm
Proyek : Year2014
Fotografer : Nils Petter Dale, Einar Aslaksen
Konsultan : RISS AS, Linda Knoph Vigsnæs/LYSSTOFF AS Arsitek utama : Einar Jarmund, Håkon Vigsnæs, Alessandra
Kosberg, Siv Hofsøy, Claes Cho Heske Ekornås, Ane Sønderaal Tolfsen, Jeanette Alvestad, Mari Isdahl, Martin Kandola, Harald Lode (freelance) Paleet adalah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Karl Johans di pusat Oslo. Tempat ini telah beroperasi sebagai pusat perbelanjaan sejak tahun 1990,dengan memakai fasad lama sekitar tahun 1860-an. Terlihat jelas pada gambar, fasad luar bangunan tampak tidak modern.
Pada tahun 2014 Paleet telah mengalami perbaikan besar-besaran.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan personaliti dari pusat perbelanjaan ini agar dapat menjadi tempat perbelanjaan yang dikenal
dan dipilih orang. Bangunan ini bertujuan memberikan pengalaman secara keseluruhan melalui desain indah serta menawarkan berbagai tempat makan dan butik.
Gambar 2.7 Interior Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Paleet Shopping Center memberikan kejutan yang tidak terduga karena mempunyai interior yang luar biasa, berbeda dengan fasadnya, yang terlihat tidak modern. Dari luar bangunan dapat terlihat jendela yang tersusun secara monoton dengan bentuk dan ukuran yang sama. Setelah melihat interior, pengunjung bagaikan masuk ke dunia lain yang indah dan bergaya.
Perbedaan antara ruang-ruang bersama (publik) dan retail merupakan elemen penting dalam merancang sebuah pusat perbelanjaan. Retail (toko) pada pusat perbelanjaan ini mempertahankan individualitas mereka sementara restoran sebagai perantara retail dengan ruang bersama (hall/atrium).
dan dipilih orang. Bangunan ini bertujuan memberikan pengalaman secara keseluruhan melalui desain indah serta menawarkan berbagai tempat makan dan butik.
Gambar 2.7 Interior Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Paleet Shopping Center memberikan kejutan yang tidak terduga karena mempunyai interior yang luar biasa, berbeda dengan fasadnya, yang terlihat tidak modern. Dari luar bangunan dapat terlihat jendela yang tersusun secara monoton dengan bentuk dan ukuran yang sama. Setelah melihat interior, pengunjung bagaikan masuk ke dunia lain yang indah dan bergaya.
Perbedaan antara ruang-ruang bersama (publik) dan retail merupakan elemen penting dalam merancang sebuah pusat perbelanjaan. Retail (toko) pada pusat perbelanjaan ini mempertahankan individualitas mereka sementara restoran sebagai perantara retail dengan ruang bersama (hall/atrium).
dan dipilih orang. Bangunan ini bertujuan memberikan pengalaman secara keseluruhan melalui desain indah serta menawarkan berbagai tempat makan dan butik.
Gambar 2.7 Interior Paleet Shopping Center (Sumber: Archdaily)
Paleet Shopping Center memberikan kejutan yang tidak terduga karena mempunyai interior yang luar biasa, berbeda dengan fasadnya, yang terlihat tidak modern. Dari luar bangunan dapat terlihat jendela yang tersusun secara monoton dengan bentuk dan ukuran yang sama. Setelah melihat interior, pengunjung bagaikan masuk ke dunia lain yang indah dan bergaya.
Perbedaan antara ruang-ruang bersama (publik) dan retail merupakan elemen penting dalam merancang sebuah pusat perbelanjaan. Retail (toko) pada pusat perbelanjaan ini mempertahankan individualitas mereka sementara restoran sebagai perantara retail dengan ruang bersama (hall/atrium).