• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sulit dipungkiri, selama 10 tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG, untuk selanjutnya akan disebut dengan corporate governance untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini) kian popular. Tak hanya popular, istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Pertama, corporate governance merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global. Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan corporate governance. (Daniri, 2005 dalam Kaihatu, 2006)

Pada tahun 1999, kita melihat negara-negara di Asia Timur yang sama- sama terkena krisis mulai mengalami pemulihan, kecuali Indonesia. Harus dipahami bahwa kompetisi global bukan kompetisi antarnegara, melainkan antarkorporat di negara-negara tersebut. Jadi menang atau kalah, menang atau terpuruk, pulih atau tetap terpuruknya perekonomian satu negara bergantung pada korporat masing-masing. (Moeljono, 2005 dalam Kaihatu, 2006)

Pemahaman tersebut membuka wawasan bahwa korporat kita belum dikelola secara benar. Dalam bahasa khusus, korporat kita belum menjalankan governansi. (Moeljono, 2005 dalam Kaihatu, 2006)

Sejak kejadian krisis ekonomi tahun 1997 tersebut, maka pelaksanaan tata kelola perusahaan, atau lebih dikenal dengan corporate governance menjadi isu yang mengemuka di Indonesia. Akibat buruknya tata kelola pemerintahan dan perusahaan di Indonesia pada masa itu, menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi terpuruk. Semenjak itulah, semua pihak sepakat untuk dapat bangkit dari keterpurukan, Indonesia harus memulai dengan tata kelola yang baik dari pemerintah, perusahaan pemerintah dan swasta. Berbagai upaya memperbaiki tata kelola dilakukan dengan menerapkan prinsip corporate governance di semua lini masyarakat. Meski demikian, upaya membangun corporate governance tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi memerlukan komitmen, konsistensi,

(2)

dan kesungguhan dari berbagai pihak yang terkait, yaitu manajemen perusahaan, karyawan, komisaris, pemegang saham, serta pihak regulator yaitu pemerintah.

(Zarkasyi, 2008)

Implementasi corporate governance telah menjadi isu sentral dalam kalangan publik di Indonesia. Respons pihak pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta, maupun perusahaan yang telah go public sangat positif atas upaya mewujudkan corporate governance tersebut. Berbagai program di negara kita selama ini, sering kali hanya menjadi demam sesaat dan kurang menyentuh pada tataran implementasi dalam pengelolaan bisnis di Indonesia. Konsep mengenai corporate governance tidak hanya penting untuk diketahui Chief Excecutive Officer (CEO) semata, namun perlu juga diketahui oleh karyawan, pemegang saham, pemerintah, serta masyarakat (publik). Oleh karena itu, adanya upaya untuk menyebarluaskan konsep dan implementasi corporate governance perlu dukungan kita bersama. Lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia (World Bank), Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank), dan Organization for Economic Countries Development (OECD) bekerja sama dengan pemerintah di berbagai negara turut menyebarluaskan pengetahuan mengenai corporate governance. Beberapa lembaga di Indonesia yang turut serta mensosialisasikan secara aktif dan mengembangkan konsep corporate governance adalah Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) dan The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG). (Effendi, 2009)

Corporate governance memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam reformasi bisnis, namun komitmen perusahaan terhadap implementasi prinsip-prinsip corporate governance merupakan salah satu faktor kunci (key success factor) untuk mempertahankan dan menumbuhkan kepercayaan para investor (terutama investor asing) terhadap perusahaan di Indonesia. Bahkan Standard & Poors, suatu lembaga penelitian internasional, telah membuat kerangka evaluasi serta membuat peringkat (ranking) terhadap perusahaan-perusahaan yang ada di dunia. Biasanya, hasil evaluasi atau peringkat yang dibuat oleh lembaga tersebut dapat mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya di suatu negara, tak terkecuali di Indonesia. Implementasi

(3)

prinsip-prinsip corporate governance dalam pengelolaan perusahaan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut telah dikelola dengan baik dan transparan. Hal tersebut merupakan modal dasar bagi timbulnya kepercayaan publik sehingga bagi perusahaan yang telah go public, saham perusahaannya akan lebih diminati oleh para investor dan berdampak positif terhadap peningkatan nilai saham. Selain itu, implementasi corporate governance di perusahaan dapat membuat akses sumber modal yang mudah dan murah, di samping memiliki tingkat risiko yang terkendali. (Effendi, 2009)

Implementasi corporate governance merupakan peluang yang cukup besar bagi perusahaan untuk meraih berbagai manfaat termasuk kepercayan dari investor terhadap perusahaannya. Implementasi prinsip corporate governance diharapkan dapat memberikan manfaat bukan saja bagi manajemen dan karyawan perusahaan, namun juga pemangku kepentingan (stakeholders) dan berbagai pihak terkait seperti konsumen, pemerintah, dan lingkungan masyarakat (publik) dimana perushaan tersebut beroperasi. (Effendi, 2009)

Tuntutan terhadap pelaksanaan corporate governance di setiap sektor (publik maupun swasta) semakin gencar. Tuntutan ini memang wajar, mengingat banyak penelitian yang menunjukkan bahwa terjadinya krisis ekonomi yang luar biasa di negeri ini, ternyata disebabkan oleh buruknya pengelolaan (bad governance) pada sebagian besar pelaku ekonomi di Indonesia. Indikasi buruknya pengelolaan tersebut tercermin dari berbagai indikator berikut: (Zarkasyi, 2008)

1. Tahun 1998, secara umum hasil survey Booz – Allen dan Hamilton bahwa belum efektifnya pelaksanaan GCG pada perusahaan di Indonesia adalah yang paling rendah di Asia Timur (2,88) dibandingkan dengan Malaysia (7,72), Thailand (4,89), Singapura (8,93), dan Jepang (9,17). Asian Development Bank juga mengemukakan bahwa fenomena yang sering dijumpai pada perusahaan-perusahaan di Indonesia antara lain bekum melakukan pengelolaan perusahaan secara profesional, karena konsentrasi kepemilikan oleh pihak tertentu yang memungkinkan terjadinya afiliasi antar pemilik, pengawas dan pengelola perusahaan, serta tidak berfungsinya Dewan Komisaris Perusahaan.

(4)

2. Tahun 1999, di sektor swasta, menurut hasil riset McKinsey & Company yang melibatkan para investor di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat terhadap lima negara di Asia menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat terendah dalam pelaksanaan corporate governance. Sedangkan menurut hasil survey Political and Economic Risk Consultancy (PERC) terhadap pelaku bisnis asing di Asia ternyata Indonesia merupakan negara terburuk di bidang governance.

Tabel 1.1 Skor Peringkat Good Governance di Asia

Negara Skor

Singapura Hongkong Jepang Philipina Taiwan Malaysia Thailand Cina Indonesia Korea Selatan Vietnam

2,00 3,59 4,00 5,00 6,10 6,20 6,67 8,22 8,29 8,83 8,89

Sumber : Media Akuntansi, No.17/TH. VII/April – Mei 2001 dalam Zarkasyi (2008, p. 56)

Keterangan : Makin tinggi skor, makin buruk Good Governance.

3. Tahun 2000, di sektor publik, birokrasi pemerintahan Indonesia, termasuk yang terburuk di Asia. Menurut hasil survey yang dilakukan PERC terhadap para eksekutif bisnis asing, birokrasi Indonesia pada tahun 2000 memperoleh skor 8,0 dan tidak mengalami perbaikan dibanding tahun 1999, meskipun lebih baik dibanding Cina, Vietnam, dan India.

4. Tahun 2001, hasil survey yang dikembangkan oleh Credit Lyonnais Securities (CLSA) dengan 7 kategori, meliputi disiplin, transparansi,

(5)

kemandirian, akuntabilitas, tanggung jawab, keadilan, dan kesadaran nasional terhadap standar corporate governance pada 115 perusahaan di 25 negara berkembang menunjukkan bahwa skor total untuk perusahaan di Indonesia yang disurvei hanya 37,7 dari skala 0 – 100 (100 adalah tertinggi).

5. Tahun 2003, hasil survey yang dilakukan oleh Utama, berkaitan dengan pelaksanaan corporate governance berkesimpulan bahwa terdaparnya konsentrasi kepemilikan dan kontrol yang meningkatkan informasi asimetris antara shareholder mayoritas dan shareholder minoritas, sehingga shareholder minoritas sulit utuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan juga dapat menyebabkan lemahnya proteksi hukum bagi shareholder minoritas.

Data internal The Jakarta Consulting Group menunjukkan 88 persen perusahaan swasta nasional berada di tangan keluarga sehingga perusahaan keluarga memiliki peranan yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia.

(Susanto, 2007 dalam http://jakartaconsulting.com/art-05-09.htm diakses pada tanggal 27 September 2011)

Terdapat sedikitnya tujuh mitos mengenai perusahaan keluarga. Pertama, yang paling sering terdengar adalah perusahaan keluarga tidak profesional. Pada kenyataannya profesionalitas perusahaan keluarga memiliki gradasi yang berbeda- beda. Kedua adalah tidak adanya pemisahan antara keuangan perusahaan dan keuangan pribadi. Ketiga, perusahaan keluarga dianggap tidak dapat menerapkan sistem dan prosedur yang sehat. Keempat, perusahaan keluarga hanya memberikan kesempatan untuk menduduki posisi kunci hanya kepada kerabat keluarga saja. Kelima, kinerja tidaklah penting, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan membina hubungan yang dekat dengan pemilik. Keenam, perusahaan keluarga akan berakhir di tangan generasi kedua. Terakhir, perusahaan keluarga tidak memandang SDM sebagai aset perusahaan yang penting. Semua ini hanya akan menjadi mitos yang tidak benar dan tidak berlaku jika perusahaan keluarga dikelola secara bijaksana. Salah satu cara untuk mengelola perusahaan keluarga secara bijaksana yaitu dengan menerapkan prinsip GCG pada perusahaan tersebut.

(6)

(Susanto, 2007 dalam http://jakartaconsulting.com/art-05-09.htm diakses pada tanggal 27 September 2011)

Dari penjelasan di atas, penelitian tentang corporate governance ini penting karena tanpa implementasi prinsip corporate governance pada suatu perusahaan dengan baik dan benar, maka dikhawatirkan kejadian krisis ekonomi tahun 1997 akan terulang kembali apabila kondisi ini dibiarkan terus-menerus.

Jika hal ini terjadi, tentunya sangat merugikan berbagai pihak dalam masyarakat.

Selain itu, dengan penelitian ini diharapkan bahwa perusahaan dapat semakin memperbaiki diri dalam tata kelolanya apabila saat ini perusahaan belum menerapkan prinsip corporate governance sehingga untuk ke depannya, perusahaan dapat menjadi suatu perusahaan yang baik dan benar serta menguntungkan tidak hanya untuk internal perusahaan saja, tetapi juga untuk masyarakat di luar perusahaan.

Objek penelitian dari penulis dalam penelitian ini yaitu Suara Surabaya Media, suatu perusahaan keluarga dalam bidang komunikasi, khususnya radio.

Suara Surabaya Media mempunyai beberapa afiliasi radio, antara lain M-Radio, She FM, dan Maja FM. Tetapi, penulis memfokuskan penelitian tentang corporate governance pada M-Radio.

Ada sebuah anggapan bahwa pemilik perusahaan keluarga sering dianggap bersikap tertutup terhadap informasi yang berkaitan dengan perusahaannya. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh karyawan non-keluarga, namun juga oleh anggota keluarganya sendiri. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pemilik perusahaan bersikap demikian, salah satunya adalah ketakutan akan adanya pesaing yang diuntungkan akibat adanya informasi mengenai kondisi internal perusahaan. Selain itu, perusahaan juga ketakutan akan karyawan yang mengetahui keburukan perusahaan apabila mereka mengetahui informasi perusahaan (Susanto, 2007)

M-Radio yang memiliki nama perusahaan PT. Kartika Bahari Dirgantara Jaya merupakan radio dengan siaran 100% musik tanpa ada interaksi antara penyiar dan pendengarnya. PT. Kartika Bahari Dirgantara Jaya merupakan perusahaan yang baru berdiri pada tahun 2007, artinya perusahaan ini baru menjalankan kegiatan operasionalnya selama empat tahun. Walaupun perusahaan

(7)

ini baru berdiri, tetapi perusahaan ini mengatakan bahwa mereka telah menerapkan prinsip corporate governance dengan baik sejak awal berdirinya.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka penulis menjadi tertarik untuk mengetahui sejauh mana indikator terlaksananya corporate governance dengan ‘baik’ menurut perusahaan.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana penerapan prinsip-prinsip corporate governance dalam perusahaan keluarga PT. Kartika Bahari Dirgantara Jaya (M-Radio)?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

Mendeskripsikan penerapan prinsip-prinsip corporate governance dalam perusahaan keluarga PT. Kartika Bahari Dirgantara Jaya (M- Radio)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1.4.1. Bagi Penulis

1.4.1.1. Penulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai penerapan corporate governance dalam perusahaan keluarga 1.4.1.2. Penulis dapat mencocokkan hasil penelitian dengan teori yang

telah dipelajari dalam masa perkuliahan

1.4.1.3. Penulis dapat mengetahui pengelolaan perusahaan keluarga PT.

Kartika Bahari Dirgantara Jaya

1.4.2. Bagi Perusahaan

1.4.2.1. Membantu perusahaan untuk mengetahui kinerja operasionalnya saat ini

(8)

1.4.2.2. Memberikan saran atau masukan kepada perusahaan terkait dengan implementasi corporate governance dari hasil penelitian yang didapat

1.4.2.3. Menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk mengelola perusahaan menuju ke arah yang lebih baik

1.4.3. Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat mengetahui dan memhami isu corporate governance dan implementasinya dalam perusahaan keluarga

1.4.4. Bagi Pendidikan Akademis

Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pendidikan akademis dan juga dapat memperluas ilmu pengetahuan yang terkait dengan corporate governance

1.5. Batasan Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis hanya memotret penerapan corporate governance dalam perusahaan keluarga PT. Kartika Bahari Dirgantara Jaya (M-Radio) yang ada di Surabaya.

Gambar

Tabel 1.1 Skor Peringkat Good Governance di Asia

Referensi

Dokumen terkait

Melalui tayangan Malang TV Nonggo yang menyelipkan iklan atau promosi produk Sari Jahe Keraton, diharapkan dapat mendorong atau memotivasi khalayak agar memenuhi kebutuhan akan

Buatlah sebuah Applet terdiri dari textfield button dan gambar lingkaran, dimana bila button diclick akan menampilkan gambar lingkaran mulai dari sumbu 0 s/d isi dari text field

berdasarkan perhitungan Location Quotient Analysis (LQ) yang besar dan sektor Perdagangan Ritel dengan nilai LQ yang lebih besar, dan dari Shift Share Component

Dipilih tempat yang strategis karena untuk mempermudah Pertamina dalam melakukan kegiatan bisnis seperti distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia.. Sehingga tidak

Pentingnya mengangkat tema ini adalah agar para pemelik maupun pegelolala UKM di Kabupaten Bantul dapat tetap bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis yang

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP No. 71 Tahun 2010) definisi aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai

Penelitian ini dilakukan untuk menguji teori yang ada dan membuktikan ada atau tidaknya pengaruh pertumbuhan perusahaan, financial distress, leverage dan ukuran

Untuk mengetahui Pengaruh Media Sosial dan Diferensiasi Produk terhadap kinerja usaha pada UKM di sentra konveksi suci bandung.. Secara teoritis, hasil penelitian ini