1
A. Latar Belakang
Remaja adalah masa pubertas yang memiliki emosi yang berubah-ubah dan tidak stabil. Remaja juga sering meluapkan emosinya di media sosial, seperti facebook dengan membuat status atau sesuatu yang ingin dicurhatkan.
Remaja lebih sering menggunakan sosial media dibandingkan orang dewasa dengan mengutarakan seluruh isi hatinya tanpa tahu bagaimana dampak yang akan terjadi bagi dirinya. Di media sosial banyak hal yang dapat terjadi, seperti pembulyan atau disebut cyber bullying.
Bullying tidak hanya terjadi secara langsung namun bisa dapat terjadi secara tidak langsung melalui media sosial yang disebut cyber bullying, sehingga kemungkinan besar remaja dapat menjadi pelaku atau korban cyber bullying. Hal ini sesuai dengan pandangan Natalia, E. C (2016:121) bahwa cyber bullying termasuk kedalam perilaku menyimpang yang dapat merugikan orang lain akan tetapi dilakukan melalui media sosial. Cyber bullying bersifat negatif dan sangat besar pengaruhnya bagi korban, karena jika seorang yang pernah mengalami bullying, dapat menjadi pelaku bullying.
Menurut Patchin & Hinduja dalam Bagaskara, M. A (2019:302)
menyatakan bahwa estimasi jumlah remaja yang mengalami cyber bullying
bervariasi, berkisar dari 10% sampai 40% atau lebih, tergantung dari usia
partisipan dan definisi cyber bullying yang digunakan. Salah satu alasan
seseorang melakukan cyber bullying adalah konformitas. Hal ini senada dengan
pendapat Shim & Shin dalam Putri, N. K & Putra A.B (2016 : 66) bahwa seseorang melakukan cyber bullying dapat dikarenakan oleh tekanan dari kelompok atau konformitas agar dirinya dapat menghindari efek negatif yang dapat muncul seperti pengucilan dari kelompok tersebut.
Cyber bullying terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari dalam diri individu seperti tidak bisa mengontrol diri dalam menggunakan media sosial dan adanya keinginan untuk mendominasi yang lebih besar, sedangkan dari luar diri individu yaitu konformitas. Sesuai dengan pandangan Hinduja &
Patchin dalam Syadza, N & Sugiasih, I (2017:22) bahwa yang mempengaruhi perilaku cyberbullying terjadi di sebabkan oleh faktor teman sebaya.
Menurut Cialdini & Goldstein dalam Rahmayanthi (2017:72) konformitas adalah seorang remaja yang mengubah perilaku atau sikap untuk lebih menyerupai perilaku atau sikap dari suatu kelompok. Menurut Kulsum, U &
Jauhar, M (2016:215) konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada.
Remaja juga disebut masa mencari identitas diri, sehingga remaja ingin
mencarinya di kelompok teman sebaya. Seringkali dijumpai adanya kelompok-
kelompok atau disebut geng yang dimana kelompok tersebut memiliki aturan
atau norma yang harus dipatuhi. Hal ini sesuai dengan pandangan Widyastuti,Y
(2014:134) bahwa seseorang akan tinggal dalam kelompok karena adanya
tekanan atau kerugian yang akan ditanggung. Menurut Ali, M & Asrori, M
(2016:17) kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya
setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.
Remaja lebih banyak dipengaruhi oleh teman-temannya dibandingkan dengan keluarga dikarenakan remaja akan lebih banyak meluangkan waktu diluar rumah, seperti pada saat sekolah dan kegiatan lain. Jika seseorang ingin masuk kedalam kelompok, maka akan berusaha melakukan sesuatu yang dapat diterima oleh kelompok tersebut seperti mengubah penampilan, cara berperilaku, pendapat, dan juga kebiasaan lain yang sesuai dengan norma kelompok sendiri sehingga ia diakui, ini disebut dengan konformitas teman sebaya.
Contohnya seorang yang berada dalam kelompok, dan memiliki perbedaan pendapat dengan anggota yang lainnya, dan dikarenakan pendapatnya yang hanya berbeda, maka yang dilakukan adalah menerima pendapat kelompok dan berperilaku sesuai aturan kelompok. Contoh lain yaitu ketika seseorang ingin masuk kedalam kelompok atau geng dikelas yang terkenal dengan geng yang paling berkuasa dan sering melakukan perilaku negatif dan melanggar aturan di sekolah, maka seseorang yang ingin bergabung dan diakui harus melakukan tindakan yang sama dan harus setuju akan setiap tindakan yang dilakukan oleh geng tersebut.
Remaja disebut fase mencari jati diri, yang artinya remaja belum memiliki
tempat yang tepat. Remaja bukanlah anak-anak lagi namun belum bisa
dikatakan dewasa. Remaja belum memiliki kematangan emosi sehingga ketika
mengambil keputusan sesuai dengan keinginan tanpa memikirkan dampak
yang terjadi. Hal ini sesuai dengan pandangan Asih, Winarmo & Hastuti (2012:190) bahwa di dalam kelompok bermain remaja, mereka akan mematuhi aturan-aturan yang ada di dalam kelompok, mulai dari penampilan, gaya bahasa, dan tingkahlaku sehingga mempengaruhi perilaku remaja itu sendiri.
Berdasarkan observasi yang dilakukan selama praktik lapangan 3 bulan di sekolah pada bulan maret 2019 sampai bulan juni 2019 di kelas X SMAN 10 Kota Jambi, peneliti melihat bahwa ada banyak kelompok atau geng di kelas dan tempat duduk mereka juga diatur berdasarkan kelompok mereka atau yang mereka sukai, ketika berada di luar ruangan juga bersama dengan kelompok geng masing-masing seperti di kantin sekolah. Hal ini didukung oleh hasil dari sosiometri teman yang disukai dalam bermain di kelas, tergambar bahwa di kelas X IPS banyak kelompok-kelompok teman bermain dan banyak juga yang terisolir. Kelompok bermain dikelas XI IPS 2 ada sebanyak 8 kelompok atau bisa disebut banyak geng dikelas, dan mereka hanya memilih teman yang berada didalam kelompok mereka.
Berdasarkan hasil observasi selama di lapangan, ada banyak siswa yang
membolos. Hal ini terjadi pada hari Kartini, dikarenakan tidak ada guru yang
masuk ke kelas maka siswa-siswi sepakat untuk pergi dari sekolah tanpa ada
guru yang mengetahuinya. Akan tetapi ada satu orang siswa yang tidak ikut
membolos. Ketika siswa yang lain mengetahui bahwa ada satu orang orang
yang tidak ikut, maka beberapa mulai menyindir-nyindir sampai menggunakan
kata-kata kasar di grup whatsapp, hal tersebut dimulai oleh beberapa orang
yang menyindir dan yang lain ikut dalam mengejek, menyindir dan sampai
menggunakan kata-kata kasar. Hal tersebut diketahui oleh peneliti disaat melaksanakan konseling kelompok.
Sebelumnya diberitakan ada kasus bullying di Pontianak pada bulan April 2019 yang sampai viral di media sosial, yaitu berinisial A diduga dikeroyok oleh 12 orang siswa SMA, sehingga pelaku terancam 3,5 tahun penjara (Mardiastuti, A, 2019) karena berita tersebut viral ada banyak masyarakat yang membully para pelaku melalui media sosial yaitu instagram, youtube, facebook dan lain-lain, sehingga menyebabkan pelaku tersebut depresi.
Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan di SMAN 10 Kota
Jambi pada bulan mei 2020 pada 3 orang siswa dari kelas XI IPS ada beberapa
kejadian yang terjadi antara lain, siswa YG menjelaskan bahwa di grup kelas
nya pernah terjadi saling mengejek dengan cara mengubah wajah teman nya
yang jelek menjadi stiker atau bahan lelucon dan dikirim di grup dan mereka
saling membalas, terjadi juga saling memanggil nama orangtua, selain itu
pernah juga terjadi temannya mengeluarkan salah satu anggota grup dari grup
whatsapp dengan alasan iseng-iseng sehingga orang yang dikeluarkan enggan
untuk masuk kembali. Siswa RZ juga menjelaskan bahwa di grup media sosial
nya sering menyindir-nyindir temannya yang lain dikarenakan masalah pribadi
mereka sehingga temannya merasa di kucilkan dan tidak mau muncul ataupun
melawan di grup tersebut. Selanjutnya KI menjelaskan bahwa dia merasa
terganggu dengan grup di kelas di karenakan sering adanya pesan spam yang
tidak jelas, dan terkadang tengah malam, ada juga yang mengirim video namun
isinya adalah hantu sehingga membuat yang lain terkejut sehingga membalas dengan mengatakan kata-kata kasar.
Berdasarkan fenomena lapangan dan adanya isu publik yang marak dibahas di dunia maya, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Konformitas Teman Sebaya Terhadap Cyber Bullying Kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi”
B. Batasan Masalah
Agar pelaksanaan penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan dilaksanakannya penelitian, sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka peneliti menetapkan batasan-batasan masalah, yaitu :
1. penelitian ini difokuskan untuk melihat pengaruh konformitas teman sebaya terhadap cyber bullying pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi.
2. Penelitian ini difokuskan pada perilaku cyber bullying.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Seberapa besar konformitas teman sebaya pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi.
2. Seberapa besar cyber bullying yang terjadi pada siswa kelas XI IPS SMAN
10 Kota Jambi.
3. Apakah ada pengaruh Konformitas teman sebaya terhadap cyber bullying pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dipaparkan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar konformitas teman sebaya pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi
2. Untuk mengetahui seberapa besar cyber bullying pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi
3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh konformitas teman sebaya terhadap cyber bullying pada siswa kelas XI IPS SMAN 10 Kota Jambi.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian memiliki manfaat bagi berbagai pihak, yaitu mencakup manfaat teoritis dan praktis. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan keilmuwan mengenai pengaruh konformitas teman sebaya terhadap cyber bullying.
2. Manfaat Praktis a) Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki perilaku yang tidak baik
dikarena dampak yang akan ditimbulkan bagi dirinya maupun
oranglain.
b) Bagi guru BK
Penelitian ini diharapkan dapat mencegah terjadinya cyber bullying agar tidak terjadi pada siswa dan lebih memantau perilaku siswa serta memberikan arahan yang baik bagi siswa di sekolah dan dapat membantu siswa dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya.
c) Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi sekolah sebagai masukan dalam menyusun suatu kebijakan mengenai cyber bullying.
d) Bagi peneliti
Memberikan pengetahuan mengenai cyber bullying dan dapat memberikan masuk kepada sekolah agar mampu meminimalisir cyber bullying di lingungan sekolah.
e) Bagi peneliti lain
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan sumber informasi dalam bidang pendidikan serta sebagai bahan referensi terhadap penelitian yang sejenis.
F. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis penelitian dalam penelitian ini adalah ada pengaruh
konformitas teman sebaya terhadap cyber bullying siswa kelas XI IPS
SMAN 10 Kota Jambi.
G. Defenisi Operasional
a. Konformitas Teman Sebaya
Menurut Sears dalam Bagaskara, M.A (2019:305) konformitas merupakan suatu situasi dimana seseorang berusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan didalam kelompok sosial karena individu merasa ada tuntutan, tekanan, atau desakan untuk mnyesuaikan diri dan individu tersebut menampilkan perilaku tertentu disebabkan karena orang lain menampilkan perilaku tersebut.
Konformitas teman sebaya secara operasional diukur menggunakan skala konformitas teman sebaya dengan menggunakan bentuk-bentuk konformitas yang dikemukakan oleh Kulsum & Jauhar (2014) yaitu kekompakan, kesepakatan dan kepatuhan. Jadi, Konfromitas teman sebaya adalah adanya pengaruh dari kelompok untuk mengubah tingkah laku agar kompak dan adanya kesepakatan akibat dari penyesuaian serta kepatuhan atau ketaatan.
b. Cyber Bullying
Chadwick dalam Syadza, N & Sugiasih, I (2017) mengatakan
cyber bullying dapat didefinisikan sebagai penggunaan teknologi
dengan tujuan untuk melecehkan, mengancam, memperlakukan atau
menargetkan korban baru. Jadi, cyber bullying yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah tindakan yang dilakukan yang bersifat merugikan
orang lain melalui media sosial dalam bentuk mengancam, menghina,
menyebarluaskan hoax, pengucilan, penyamaran dan melecehkan serta mengolok-olok.
Cyber bullying secara operasional diukur menggunakan dengan
menggunakan skala cyber bullying dengan menggunakan aspek-aspek
cyber bullying yang dikemukakan oleh Willard dalam Bagaskara, M.A
(2019:304-305) yaitu Flaming (pesan kasar), Harassment (gangguan),
Denigration (pencemaran nama baik), Impersonation (peniruan),
Outing, Trickery (tipu daya), Exclusion (pengeluaran), Cyberstalking.
H. Kerangka Konseptual
Cyber Bullying (Y)
Konformitas Teman
Sebaya (X)
PENGARUH