commit to user
i
TRANSFORMASI BUDAYA MELAYU DALAM NOVEL
BULANG CAHAYA
KARYA RIDA K. LIAMSI
TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Oleh:
ANA MUSFITA YERI
S 840809001
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
iicommit to user
iiicommit to user
iv
PERNYATAAN
Nama : Ana Musfita Yeri
NIM : S 840809001
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tesis berjudul Transformasi Budaya
Melayu dalam Novel Bulang Cahaya adalah benar-benar karya saya sendiri.
Hal-hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut telah diberi tanda citasi dan
ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan
saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa
pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.
Surakarta, Juni 2011
Yang membuat pernyataan,
Ana Musfita Yeri
commit to user
v
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan berbagai wujud kemenangan pada diri penulis yang berupa pikir,
perasaan, dan segala kreativitas sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis in.
Penelitian dan penulisan tesis ini dapat diselesaikan berkat bantuan,
dukungan, maupun doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan
kali ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus
kepada semua pihak yang telah turut membantu hingga terselesainya tesis ini.
Penulis ucapkan kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.
2. Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D., Direktur PPs UNS yang
telah memberikan izin penyusunan tesis ini.
3. Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd. , selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah memberikan izin penyusunan tesis ini.
4. Prof. Dr. H. Sarwiji Suwandi, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
5. Dr. Andayani, M.Pd. , selaku pembimbing II yang memberikan bimbingan
kepada penulis.
6. Bapak dan Ibu Dosen di Program Pascasarjana Program Pendidikan Bahasa
Indonesia yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat dan
membekali penulis tentang teori-teori pendidikan dan pengajaran bahasa dan
commit to user
vi
7. Rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana khususnya Pendidikan Bahasa
Indonesia yang telah memberikan semangat dan bertukar pikir sehingga tesis
ini dapat diwujudkan.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
hingga diwujudkannya tesis ini.
Penulis berharap semoga bantuan tersebut menjadi sebuah keikhlasan yang
akan membuahkan kemenangan bagi semuanya. Penulis juga berharap semoga
tesis ini berguna bagi semua, khususnya untuk perkembangan dunia pendidikan di
bidang kesusastraan.
Surakarta, Juni 2011
Penulis
commit to user
vii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TESIS ... iii
PERNYATAAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
ABSTRAK ... xii
ABSTRACT ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
commit to user
viii
Halaman
1. Hakikat Novel ... 8
a. Pengertian Novel ... 8
b. Stuktur Novel ... 9
2. Hakikat Sosiologi Sastra ... 20
a. Pengertian Sosiologi Sastra ... 20
b. Macam-macam Sosiologi Sastra ... 24
c. Karakter dalam Sosiologi Sastra ... 26
3. Hakikat Budaya ... 27
a. Pengertian Budaya ... 27
b. Pengertian Kebudayaan ... 28
c. Wujud Kebudayaan ... 29
d. Komponen Kebudayaan ... 30
4. Hakikat Kebudayaan Melayu ... 33
a. Sejarah Kebudayaan Melayu ... 33
b. Kebudaan Melayu pada Saat Novel Ditulis ... 36
5. Hakikat Transformasi Budaya ... 36
B. Penelitian yang Relevan ... 43
C. Kerangka Berpikir ... 44
commit to user
ix
Halaman
B. Pendekatan Penelitian ... 47
C. Sumber Data ... 48
D. Teknik Cuplikan ... 48
E. Metode Pengumpulan Data ... 49
F. Validitas Data ... 50
G. Analisis Data ... 50
H. Prosedur Penelitian ... 52
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian ... 53
1. Struktur Novel Bulang Cahaya ... 54
a. Alur ... 54
b. Tokoh dan Penokohan ... 64
c. Latar / Setting ... 100
d. Tema ... 105
e. Sudut Pandang ... 106
2. Transformasi Budaya dalam Novel Bulan Cahaya Karya Rida K. Liamsi ... 107
a. Sosialisasi ... 107
b. Enkulturasi ... 108
commit to user
x
Halaman
a. Kontak dengan Budaya Lain ... 109
b. Konflik antara Melayu dan Bugis ... 110
c. Politik dalam Berebut Kekuasaan ... 111
4. Budaya Melayu dalam Novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi ... 112
a. Transformasi Sistem Kekuasaan ... 113
b. Transformasi Budaya Turun Temurun ... 114
c. Transformasi Sistem Peralatan ... 114
d. Transformasi dalam Bidang Agama... 115
e. Transformasi dalam Bahasa ... 116
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 117
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 121
A. Simpulan ... 121
B. Implikasi ... 122
C. Saran ... 124
1. Pembaca ... 124
2. Guru Bahasa Indonesia ... 124
3. Kepala Sekolah... 124
DAFTAR PUSTAKA ... 125
commit to user
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Biografi Pengarang... 129
commit to user
xii
ABSTRAK
Ana Musfita Yeri. S840809001. Transformasi Budaya dalam Novel Bulang
Cahaya Karya Rida K. Liamsi. Tesis. Program Pascasarjana. Program Studi
Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan struktur yang
membangun novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi; (2) Mendeskripsikan
dan menjelaskan tranformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K.
Liamsi; (3) Mendeskripsikan dan menjelaskan faktor yang mendorong adanya
transformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi; dan (3)
mendeskripsikan dan menjelaskan budaya Melayu dalam novel Bulang Cahaya
karya Rida K. Liamsi.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis. Data dalam penelitian berupa struktur teks dalam Novel
Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi. Sumber data adalah Novel Bulang Cahaya
karya Rida K. Liamsi yang diterbitkan oleh JP Book Surabaya bekerja sama dengan Yayasan Segang Pekanbaru tahun 2007, cetakan pertama dengan tebal buku 317 halaman. Teknik pengumpulan data mengikuti paradigma penelitian kualitatif. Teknik sampling yang digunakan bersifat selektif studi kepustakaan
(library research), yaitu mencatat dokumen-dokumen atau arsip yang berkaitan
erat dengan tema penelitian dan tujuannya (purpose sampling). Analisis data yang
digunakan adalah model interaktif (interactive model of analysis). Teknik ini
meliputi tiga komponen, yaitu reduksi data (data reduction), sajian data (data
display), dan penarikan simpulan (conclusion drawing).
Simpulan penelitian dikemukakan berikut ini. (1) unsur-unsur pembangun
dalam novel Bulang Cahaya ini meliputi alur flashback, tokoh utama Raja
Djaafar, latar tempat dalam novel ini adalah di daerah Kepulauan Riau sampai ke pantai timur semenanjung Malaysia dengan latar belakang sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga, latar waktunya siang dan sore hari, latar suasana yang digambarkan perasaan dendam, cemburu, dan saling berebut kekuasaan, tema yang diangkat dalam novel ini adalah percintaan yang tak sampai dengan dikemas dalam politik kekuasaan, sudut pandang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu; (2) faktor yang memengaruhi transformasi budaya Melayu yaitu kontak dengan kebudayaan lain, konflik antara Melayu dan Bugis, dan politik
dalam berebut kekuasaan; (3) budaya Melayu dalam novel Bulang Cahaya ini
meliputi transformasi sistem kepercayaan, budaya turun temurun, sistem peralatan, bidang agama, serta transformasi bidang bahasa.
commit to user
xiii
ABSTRACT
Ana Musfita Yeri. S840809001. The Cultural Transformation in the Novel
Entitled Bulang Cahaya Written by Rida K. Liamsi. Principal advisor : Prof.
Dr. H. Sarwiji Suwandi, M.Pd. Co-advisor : Dr. Andayani, M.Pd Thesis: The Graduate Program in Indonesian Language Education, Sebelas Maret University, Surakarta 2011.
The objectives of the research are to describe and explain: (1) the text
structures of the novel entitled Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi; (2)
factors which encourage the cultural transformation in the novel entitled Bulang
Cahaya written by Rida K. Liamsi; and (3) the Malay culture in the novel entitled
Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi.
This research used a descriptive qualitative research method with a sociological approach. The data of the research were the text structures in the
novel entitled Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi and published by JP
Book Surabaya in cooperation with Segang Foundation, Pekan Baru in 2007; the first edition consisted of 317 pages. The data were gathered in accordance with the paradigms of qualitative research; the samples of the research were taken through library research by taking notes from documents and archives related to the theme and objectives of the research. The data were then analyzed by using an interactive technique of analysis consisting of components, namely: data reduction, data display, and conclusion drawing.
The results of the research are as follows: 1) The text structures of the novel use flash back plots. In term of character, Raja Djaafar was the central character who was cunning, humorous, and slightly unconfident. Other characters were Tengku Buntat, a lady who was very much loved by Raja Djaafar and who was beautiful, graceful, charming, soft, and sensitive; Raja Husin who was a faithful friend to Raja Djaafar and who was cunning and humorous; and other supporting characters. The settings of place in the novel were from the regions in Riau island to the East Coast of Malaysian peninsula with the historical
backgrounds of the kingdoms of Melayu Riau Lingga; Kampung Bulang, Kota
commit to user
xiv
ended up feeling resentful, which conveys a cultural point of view on a historical life of a tribe called the Malay. The point of view used in the novel was the all-knowing third person’s point of view. 2) The factors influencing the cultural transformation in the novel are as follows: (a) cultural contact with other culture, that is, from the Malay royal capital brought by the main character to Kota Bulang, Riau Island; (b) the conflict between the Malay and the Bugis which could influence the existence of the Malay culture: the Malay and the Bugis were ever united against their enemies; and (c) the politic to fight for power between the Malay and the Bugis. 3) The Malay culture in the novel includes: (a) faith transformation: the Bulang community held mystical faiths considering that the region was famous for its magic; (b) inheritance transformation: the inheritance culture was well known by the Bulang community considering that the region embraced the royal system namely the Malay kingdom; (c) equipment transformation: the equipment used was luxurious considering that the region was the royal jurisdiction; (d) religion transformation: the focus was more emphasized on the arrival of Islam; and (e) language transformation: the language used within the region influenced the development of vocabulary repertoire as indicated by the Malay vocabulary items used in each utterance by the characters in the novel
entitled Bulang Cahaya.
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam
menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis dan mencerminkan
realitas sosial kemasyarakatan. Penciptaan karya sastra tidak dapat dipisahkan
dengan proses imajinasi pengarang dalam melakukan proses kreatifnya. Sebagai
imajinatif, sastra berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, serta dapat
menambah pengalaman bagi para pembaca. Novel merupakan salah satu ragam
prosa di samping cerpen dan roman yang di dalamnya terdapat peristiwa yang
dialami oleh tokoh-tokohnya secara sistematis dan terstruktur. Fiksi menceritakan
berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan
sesama. Dengan demikian, karya sastra menggambarkan pula sikap hidup
pengarang dan gejala-gejala sosial yang terjadi di sekitar mereka. Keterkaitan
antara karya sastra dengan keadaan masyarakat atau lingkungan terjadi karena
karya sastra merupakan hasil dialog antara pengarang dengan lingkungannya. Hal
tersebut menyebabkan karya sastra yang dihasilkan pengarang akan diwarnai oleh
budaya masyarakat tempat karya sastra dilahirkan.
Seorang pengarang mempunyai banyak kemungkinan di balik karya sastra
yang diciptakannya. Kemungkinan tersebut adalah sikap pengarang yang
mengubah pola pikir masyarakat. Sebagaimana dikatakan Sapardi Djoko Damono
commit to user
(1979:2) bahwa sastra bisa mengandung gagasan yang mungkin dapat
dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial yang dapat digunakan untuk
mencetuskan peristiwa sosial tertentu.
Karya sastra merupakan hasil perpaduan harmonis antara kerja perasaan
dan pikiran. Karya sastra tidak hanya mementingkan isi, tetapi juga tidak hanya
menggunakan bentuk. Karya sastra selalu memadukan dua unsur itu daalm
kesatuan yang kental. Karya sastra bersifat etis tetapi sekaligus juga estetis. Karya
sastra mempunyai kemampuan lebih keras dan kuat memproses perasan-perasaan
penikmatnya.
Karya sastra bukan untuk dinikmati tetapi juga dimengerti. Untuk itulah
diperlukan kajian atau penelitian dan analisis mendalam mengenai karya sastra.
Penelitian sastra merupakan kegiatan yang diperlukan untuk menghidupkan,
mengembangkan dan mempertajam suatu ilmu. Novel merupakan salah satu
bentuk karya sastra yang banyak mengalami perkembangan. Novel termasuk
[image:16.612.132.509.220.465.2]karya imajinatif yang merupakan hasil rekaan pengarang, namun kadang-kadang
gambaran kehidupan yang ada di dalamnya dapat dicari dalam realita kehidupan
sehari-hari. Seperti ditegaskan oleh Jacob Sumardjo (1994:30) dengan
pendapatnya mengenai novel yang mengalami proses pengolahan yang dilakukan
oleh pengarang. Tokoh-tokoh dalam novel merupakan faktor penting yang
memunculkan konflik dan akhirnya mengalirkan cerita.
Banyak anggapan bahwa karya sastra tidak bisa memberikan jaminan
masa depan secara intelektual, emosional, dan finansial. dikarenakan bahasanya
commit to user
Ditambah minat baca atau daya beli masyarakat terhadap buku sastra masih
rendah. Interestingly, the literature on fields of study and over – education have
so far neglected each other (Ortiz, Luis et all. 2008).
Sebuah karya sastra diperbaharui oleh latar belakang sosial budaya tempat
karya sastra tersebut dihasilkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa di dalam
sebuah karya sastra tergambar keadaan mayarakat di mana, oleh siapa dan kapan
karya sastra tesebut ditulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra
merupakan cermin kehidupan masyarakat pemiliknya, walaupun tentu saja ada
yang hadir dan tidak hadir. Jadi, dengan membaca sebuah karya sastra akan dapat
diketahui unsur-unsur bahkan bagian-bagian dari unsur-unsur suatu kebutuhan
pemilik karya tersebut.
Sementara itu, Culler (1977: 118) menegaskan, pembaca sastra harus
memiliki kompetensi kesastraan yang memadai, yakni, a set of conventions for
reading literary texs, sehingga diharapkan pembaca harus memiliki kompetensi
kesusastraan yang memadai terhadap novel. Membicarakan sastra yang memiliki
sifat imajinatif, kita berhadapan dengan tiga jenis (genre) sastra, yaitu prosa, puisi,
dan drama. Salah satu jenis prosa adalah novel. Sebuah novel menceritakan
kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang. Luar biasa karena dari
kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalir menggambarkan nasi
mereka. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam novel dihidupkan oleh
tokoh-tokoh yang ditampilkan, seorang pengarang melukiskan kehidupan manusia
commit to user
terjadi dengan dirinya sendiri. Pengarang memegang peranan penting dalam
penciptaan watak tokoh yang dilukiskannya dalam karya sastra.
Rida K Liamsi dalam novelnya yang berjudul Bulang Cahaya mengangkat
tema sosial budaya. Dalam karyanya yang berjudul Bulang Cahaya, ia mampu
menguraikan secara jelas tentang adanya budaya yang terjadi dalam masyarakat di
Kerajaan Melayu, yang merepresentasikan etika, adab, norma, tradisi, adat-istiadat
Melayu. Oleh karena itu, peneliti tertarik menjadikan novel ini sebagai topik
penelitian. Terdapat beberapa peristiwa menarik yang mengarah tentang adanya
transformasi budaya Melayu dalam tokoh Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi.
Novel ini bercerita tentang salah satu bagian dari perjalanan sejarah
kerajaan Lingga. Dengan menggunakan bentuk kilas-balik, cerita dimulai dari
luka hati yang dialami Raja Djaafar atas keputusan politik Yang Dipertuan Besar
Mahmud untuk menghentikan perang saudara antara Melayu dan Bugis. Salah
satu keputusan politik itu adalah penyatuan Melayu-Bugis melalui perkawinan
Tengku Butat dengan Tengku Husin, putra Sultan Mahmud. Inilah awal putusnya
percintaan Raja Djaafar dengan Tengku Butat. Sambil membawa dendam
kebencian dan cinta, pemuda Bugis itu hijrah ke Selangor.
Putaran nasib membawa Raka Djaafar kembali ke Riau. Ia diangkat
menjadi Yang Dipertuan Muda, sebuah jabatan penting yang memberi kekuasaan
besar dalam roda pemerintahan kerajaan. Di sinilah Raja Djaafar berhadapan
dengan problem pribadi dan tugas kerajaan. Cerita kemudian mengalir dengan
pusat penceritaan jatuhnya pada tokoh Raja Djafaar. Antara kekuasaan dan cinta
commit to user
Novel Bulang Cahaya ini tidak sekadar menyodorkan fakta dan peristiwa
sejarah Kerajaan Melayu secara meyakinkan, tetapi juga menyelusupkan ideologi
pengarangnya tentang posisi Melayu dan Bugis dalam perspektif historigrafi yang
berimbang. Dari sini terlihat adanya transformasi budaya karena pengaruh
faktor-faktor perubahan nilai yang dialami para tokoh-tokohnya.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut.
1. Bagaimanakah struktur yang membangun novel Bulang Cahaya karya Rida K
Liamsi?
2. Bagaimanakah tranformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida
K. Liamsi?
3. Faktor apa sajakah yang mendorong adanya transformasi budaya dalam novel
Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi?
4. Bagaimanakah budaya Melayu yang dideskripsikan dalam novel Bulang
Cahaya karya Rida K Liamsi?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan struktur yang membangun novel Bulang
Cahaya karya Rida K Liamsi.
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan tranformasi budaya dalam novel Bulang
commit to user
3. Mendeskripsikan dan menjelaskan faktor yang mendorong adanya
transformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi.
4. Mendeskripsikan dan menjelaskan budaya Melayu dalam novel Bulang
Cahaya karya Rida K Liamsi.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
a. Manfaat yang diperoleh setelah mengkaji hal-hal di atas adalah dapat
mengetahui dan menelaah apa yang telah dikaji dan dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam melakukan penelitian yang selanjutnya.
b. Dapat menambah khazanah penelitian sastra Indonesia khususnya
penelitian novel sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan karya
sastra Indonesia.
c. Menjadi tolok ukur untuk memahami dalam mendalami karya sastra pada
umumnya dan novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi pada
khususnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pembaca
1) Memberikan manfaat bagi pembaca terhadap novel terutama
mengenai masalah transformasi budaya dan aspek sosiologi sastra.
2) Dapat meningkatkan daya apresiasi terhadap karya sastra khususnya
commit to user
b. Bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pengajaran sastra di sekolah sehingga dapat menambah pengetahuan di
bidang sastra, khususnya novel.
c. Bagi Peneliti
1) Memberikan wawasan mengenai transformasi budaya Melayu dan
informasi tentang kehidupan budaya dan tata adat yang berlaku di
Riau.
2) Dapat mengetahui perkembangan dan kesejarahan sastra Indonesia
commit to user
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Novel
a. Pengertian Novel
Novel adalah suatu karya fiksi yang menawarkan suatu dunia, yaitu dunia
yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun
melalui berbagai unsur intrinsiknya, seperti peristiwa, plot, tokoh (penokohan),
latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya bersifat imajinatif (Burhan
Nurgiyantoro, 2007:4). Adapun dalam The American College Dictionary
(Tarigan, 1993:164), diterangkan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang
fiktif serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu
keadaan yang agak kusut atau kacau. Sebagai suatu karya sastra, novel
mengandung nilai-nilai moral yang berguna bagi pembacanya. Hal tersebut sesuai
dengan pendapat Herman J. Waluyo (2002:37), mengemukakan bahwa novel
bukan hanya alat hiburan, tetapi juga sebagai bentuk seni, yang mempelajari dan
meneliti segi-segi kehidupan dan nilai baik buruk (moral) kehidupan ini dan
mengarahkan kepada pembaca tentang pekerti yang baik dan budi
luhur.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel
adalah jenis cerita fiksi yang mempunyai panjang tertentu dengan memasukkan
berbagai unsur intrinsik di dalamnya dan bersifat imajinatif.
commit to user
b. Struktur Novel
Novel merupakan sebuah totalitas (keseluruhan) yang bersifat artistik dan
memiliki bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain.
Struktur tersebut dibedakan menjadi dua yaitu unsur intrinsik dan unsur
ekstrinsik.
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2007:23), unsur intrinsik adalah
unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Adapun tidak langsung
memengaruhi bangunan atau sistem organisme sastra.
Unsur-unsur intrinsik novel tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Tema
Tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak
pengarang dalam menyusun cerita, sekaligus merupakan permasalahan yang
ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Panuti Sudjiman (1988:52)
memberikan pengertian bahwa tema merupakan gagasan, ide atau pikiran
utama yang mendasari suatu karya sastra. Dalam sebuah karya fiksi, tema
tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi membaur ke seluruh cerita, yaitu
secara implisit, maka pembaca yang harus menafsirkan sendiri.
Usaha menafsirkan tema dapat dilakukan melalui detail kejadian dan
konflik yang menonjol, yaitu konflik utama cerita yang dialami, ditimbulkan
kepada tokoh utama. Hal di atas menunjukkan betapa erat kaitan antara tema
dan penokohan. Kaitannya dengan tema, tokoh mempunyai kedudukan yang
strategis, yaitu sebagai penyampai tema, baik secara terselubung maupun
terang-terangan. Adanya perbedaan tema akan menyebabkan perbedaan
commit to user
memilih tokoh-tokoh tertentu yang dirasa paling cocok untuk mendukung
temanya (Burhan Nurgiyantoro, 2007:173).
Pengarang yang baik akan mampu menampilkan cerita yang bersumber
pada realitas kehidupan sebagai reaksi atau saksi sejarah terhadap praktik
kehidupan masyarakat. Budi Darma (dalam Herman J. Waluyo, 1995:83)
menyatakan bahwa:
Pengarang yang baik adalah pengarang yang mampu menemukan hakikat manusia. Ia mempunyai kekuatan mata seperti rontgen yang mampu menembus tubuh manusia dan seperti televisi yang dapat menangkap gambar-gambar dari pemancar-pemancar yang jauh, serta menerima suara-suara masyarakat, dan bagaikan memiliki indera tambahan yang mampu menangkap getaran hati manusia yang menderita.
Tema harus mampu mengangkat ke permukaan realitas relung-relung
kehidupan manusia. Mochtar Lubis (dalam Herman J. Waluyo, 1995: 83)
menyatakan bahwa wilayah pengarang luas sekali, seolah-olah tanpa batas.
Wilayah yang baik adalah menjelajah ke ruang dalam manusia sendiri, artinya
ke berbagai batin manusia yang mempunyai berbagai permasalahan
kehidupan.
2) Latar (Setting)
Latar atau setting menyangkut tempat, waktu, dan situasi yang mendukung
dalam suatu cerita. Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2007: 216), latar atau
setting adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan
waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang
commit to user
Latar memberi pijakan konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberi
kesan realitas kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang
seolah-olah sungguh-sungguh terjadi. Sifat-sifat latar, dalam banyak hal akan
memengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan, sifat seseorang akan dibentuk oleh
keadaan latarnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Wellek dan Warren (dalam
Melani Budianta, 1993: 291) bahwa latar mungkin merupakan proyeksi
kehendak tersebut, antara manusia dan alam terdapat korelasi. Latar yang baik
harus benar-benar mutlak untuk menggarap karakter cerita. Latar wilayah
tertentu harus menghasilkan perwatakan tokoh dan tema tertentu. Latar harus
terintegrasi dengan watak, tema, gaya, dan implikasi filosofisnya.
3) Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view merupakan cara memandang yang
digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar,
dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dengan demikian, pada
hakikatnya sudut pandang merupakan strategi, teknik, atau siasat yang secara
sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan atau ceritanya. Sudut
pandang pada hakikatnya adalah visi pengarang yang berarti sudut pandangan
yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini,
tentunya harus dibedakan dengan pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab
sebuah karya sastra sebenarnya merupakan pandangan pengarang terhadap
kehidupan (Jakob Sumardjo, 1994:82).
Sudut pandang dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang orang pertama
commit to user
sudut pandang orang pertama, pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita
dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya.
Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut
sudut pandang orang pertama tokoh utama atau Akuan-Sertaan, sedangkan
apabila pencerita menjadi tokoh bawahan yang disebut sudut pandang orang
pertama tokoh bawahan atau Akuan-Taksertaan.
Dalam sudut pandang orang ketiga, pencerita berada di luar cerita. Dalam
kisahannya pencerita mengacu pada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan
kata ganti orang ketiga (ia, dia), atau menyebut nama tokoh. Sudut pandang
orang ketiga ada dua, yaitu orang ketiga mahatahu dan orang ketiga terbatas.
Orang ketiga mahatahu, apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan
segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita, bahkan
mampu mengungkap pikiran. Orang ketiga terbatas, apabila pencerita hanya
dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar.
4) Plot
Plot atau alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tetapi setiap
kejadian itu hanya dihubungkan dari berbagai akibat, peristiwa yang satu
disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Burhan
Nurgiyantoro, 2007:113). Adapun menurut Aminnudin (1987: 83), plot atau
alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa
sehingga menjalin suatu cerita yang dihindarkan oleh para pelaku dalam suatu
cerita.
Plot merupakan tulang punggung cerita sehingga keberadaannya begitu
commit to user
Pembaca terkesan pada penampilan kehidupan dan jati diri tokoh yang
memang lebih banyak menjanjikan. Dalam kaitan ini, plot sekadar sarana
untuk memahami perjalanan kehidupan tokoh, atau untuk menunjukkan jati
diri dan kehidupan tokoh, maka perlu diplotkan perjalanan hidupnya. Seperti
pendapat MacLaughlin dan Devoodg (dalam Morawski, 2010), “Readers are
always making choices about their thingking, focusing on both stances and
sometimes more on one thatn the other”. Pembaca selalu dapat menentukan
pilihan tentang cara berpikir, memfokuskan cara pandangan dan
kadang-kadang melebihi dari yang lain. Maksudnya, setiap pembaca memiliki cara
pandang sendiri terhadap novel yang sedang dibacanya yang dapat diamati
dari alurnya.
Plot atau alur tidak bisa dipaparkan begitu saja. Kejadian-kejadian dalam
plot mengalami perkembangan itu disebabkan oleh konflik. Konflik dalam
suatu cerita dipaparkan melalui gerak atau jalan cerita yang tersusun dari
kejadian-kejadian yang saling terkait dan merupakan sebab akibat. Konflik
dalam cerita dikupas menjadi elemen-elemen tertentu (Herman J. Waluyo,
1995:91).
Tahap-tahap plot atau alur, yakni exposition, inciting moment, rising
action, complication, climax, falling action, dan denoument.
(a) Exposition, yaitu paparan cerita awal. Pengarang mulai memperkenalkan
tempat kejadian, waktu, topik, dan tokoh-tokoh. Tingkat intensitas paparan
tergantung keinginan pengarang, apakah ia akan menulis novel atau
commit to user
(b) Inciting moment, yaitu mulai munculnya problem-problem.
Problem-problem mulai dimunculkan pengarang untuk kemudian dikembangkan.
(c) Rising action, yaitu problem dalam cerita dalam mulai meningkat dan
selanjutnya terjadi konflik.
(d) Complication, yaitu saat konflik semakin ruwet.
(e) Climax merupakan puncak seluruh cerita, dan semua cerita sebelumnya
ditahan untuk menonjolkan saat klimaks tersebut.
(f) Falling action, yaitu konflik yang dibangun mulai menurun karena telah
mencapai klimaksnya. Emosi yang memuncak telah berkurang.
(g) Denoument, yaitu penyelesaian atau pemecahan masalah.
Unsur-unsur plot berpusat pada konflik. Dengan adanya plot seperti di
atas, pembaca dibawa ke suatu keadaan yang menegangkan, timbul suatu
suspens dalam cerita. Suspens inilah yang menarik pembaca untuk mengikuti
jalan cerita. Kekuatan sebuah cerita terdapat pada bagaimana seorang
pengarang membawa pembacanya mengikuti timbulnya konflik dan
berakhirnya konflik. Timbulnya konflik atau terbinanya plot sering berkaitan
dengan watak atau tema, bahkan juga setting. Konflik dalam cerita mungkin
terjadi karena watak seseorang yang begitu rupa sehingga menimbulkan
konflik bagi orang lain dan lingkungannya.
5) Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam novel merupakan satu hal yang paling utama dalam cerita.
commit to user
cerita menjadi lebih menarik untuk dinikmati. Tokoh adalah pelaku yang
mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu
menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987:78). Tokoh adalah individu rekaan
yang mengalami peristiwa adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa
atau berkelakuan dalam tindakan.
Novel pada dasarnya mengisahkan seorang atau beberapa orang yang
memerankan karakter, dan selanjutnya disebut tokoh. Tokoh cerita adalah
individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai
peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Jadi, tokoh adalah
orangnya. Dalam cerita rekaan, terdapat bermacam-macam tokoh. Berdasar
cara menampilkannya, tokoh yang mendominasi jalannya cerita disebut tokoh
utama.
Berdasarkan segi peranannya, tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh
utama (main character), dan tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh
utama yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus
sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan tokoh
tambahan yaitu tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali
dalam cerita. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2007:165), istilah tokoh merujuk
pada pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan
sikap para tokoh, seperti ditafsirkan pembaca, lebih menunjuk kepada kualitas
pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi diartikan dengan
commit to user
Tokoh utama adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam sebuah
cerita. Tokoh utama merupakan tokoh dengan tingkat kemunculan paling
sering dan dibicarakan oleh pengarang. Tokoh tambahan adalah tokoh yang
memiliki peranan penting yang kemunculannya hanyalah untuk melengkapi,
melayani, dan mendukung pelaku utama. Ia merupakan tokoh yang terlalu
sering muncul dan dibicarakan ala kadarnya oleh pengarang (Aminudin,
1987:79-80).
Terdapat jenis-jenis tokoh, antara lain sebagai berikut.
a) Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang ditampilkan terus-menerus sehingga
terasa mendominasi cerita dan yang diutamakan penceritaannya. Adapun
tokoh tambahan adalah tokoh-tokoh yang dimunculkan sekali atau
beberapa kali dan itu pun dalam porsi yang relatif pendek. Kehadiran
tokoh tambahan berfungsi memperkuat karakter tokoh utama
b) Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendapat simpati dan empati
dari pembacanya. Pembaca sering mengidentifikasikan dirinya dengan
tokoh tersebut dan sering terlihat secara emosional. Adapun tokoh
antagonis adalah lawan dari tokoh protagonis yang menyebabkan
ketegangan dan konflik terutama bagi tokoh protagonis. Tokoh antagonis
tidak selalu berwujud manusia, tetapi bisa juga berwujud hal-hal di luar
commit to user
c) Tokoh Datar dan Tokoh Bulat
Tokoh datar adalah tokoh yang memiliki suatu kualitas kepribadian
tertentu atau satu sifat saja. Adapun tokoh bulat yaitu tokoh yang memiliki
banyak sifat dan banyak diungkap sisi kehidupannya, kepribadiannya, dan
jati dirinya
d) Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang
Tokoh statis adalah tokoh yang secara esensial tidak mengalami
perubahan perwatakan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan dan
perkembangan perwatakan sejalan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
dari plot yang dikisahkan
e) Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral
Tokoh tipikal adalah tokoh yang lebih banyak menonjolkan kualitas
kebangsaannya atau pekerjaannya, atau sesuatu yang lebih bersifat
mewakili. Tokoh netral adalah tokoh-tokoh yang bereksistensi demi cerita
itu sendiri, semata-mata tokoh yang dihadirkan sebagai tokoh imajiner
bebas, artinya tidak mewakili pihak mana pun.
Selain jenis-jenis tokoh, terdapat pula teknik pelukisan tokoh. Teknik
pelukisan tokoh dapat dilakukan secara ekspositoris (langsung) atau secara
dramatik (tidak langsung). Pelukisan tokoh secara ekspositoris adalah teknik
tokoh dengan memberikan uraian, deskripsi, atau penjelasan secara langsung.
Teknik pelukisan dramatik adalah pelukisan tokoh yang tidak dideskripsikan
commit to user
Pada umumnya, pengarang memilih secara campuran, menggunakan
teknik langsung dan teknik tidak langsung. Hal ini dirasa lebih
menguntungkan karena kelemahan tiap-tiap teknik dapat ditutup dengan
teknik lain.
Teknik pelukisan tokoh secara tidak langsung dapat dijelaskan melalui
beberapa teknik, antara lain (1) teknik cakapan, (2) teknik tingkah laku, (3)
teknik pikiran dan perasaan, (4) teknik arus kesadaran, (5) teknik reaksi tokoh
terhadap rangsang dari luar, (6) teknik reaksi tokoh lain terhadap tokoh utama,
(7) teknik pelukisan latar, dan (8) teknik pelukisan fisik. (Burhan
Nurgiyantoro, 2007:176-184).
Banyak sekali jenis novel dalam perkembangan sastra di Indonesia.
Hawthron (1989: 141) membedakan 15 jenis novel,yaitu:
The picareque novel, the epistolary novel, the historical novel, the
satirical novel, the bildungsroman (novel information or education),
the roman a clef (novel with a key) the tendenzroman (thesis novel),
the roman noir (gothic novel), the roman-fleuve, the roman
feuilieton, science fiction, the nouveau roman (novel), metafiction,
fiction.
Dengan mengidentifikasi jenis-jenis novel tersebut pada struktur sejumlah
novel sastra Indonesia yang terbit pada akhir abad XX, dapat dikatakan
adanya jenis novel yang memuat kearifan lokal. Kearifan lokal budaya seperti
commit to user
sastra di sekolah (Arli Parikesit, 2004). Sejalan dengan pendapatan mengenai
kearifan lokal, Prasetyo Utomo (2008) mengemukakan bahwa kearifan lokal
tidak dengan sendirinya membentuk sastra lokal, yang diminati masyarakat
setempat, dalam kurun waktu yang terbatas. Kearifan lokal yang menjadi
obsesi sastrawan secara kontemplatif, bisa jadi teks sastra yang digemari
pembaca secara lintas waktu. Begitu banyak teks sastra yang ditulis dengan
kekuatan kearifan lokal serupa ini dan menjadi bacaan yang tidak hanya laris,
melainkan juga bermuatan nilai estetik.
Perkembangan novel sastra Indonesia selama abad XX menunjukkan ciri
yang dinamis. Pengarang novel dari wilayah Sumatera memperlihatkan
adanya penggabungan tiga tradisi: tradisi mereka sendiri, tradisi sastra Melayu
lama, dan tradisi dari pembacaan cerita-cerita dalam bahasa Belanda (Junus,
1974: 8). Dengan kata lain, novel-novel karangan wilayah Sumatera
menggabungkan tradisi naratif Barat.
Penggabungan berbagai tradisi naratif dalam novel ini sesuai dengan
pendapat Teeuw (1983: 201): The creation of the novel in modern Indonesian
literature is a complicated phenomenon which certainly cannot be reduced to
a single source. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada tahun 1920-an, tetapi
commit to user
2. Hakikat Sosiologi Sastra
a. Pengertian Sosiologi Sastra
Teori sastra bergerak pada empat paradigma, yaitu penulis, pembaca,
karya, dan kenyataan. Untuk memenuhi keempat paradigma tersebut berbagai
teori muncul, salah satunya adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan
pendekatan dalam telaah sosiologi terhadap sastra yaitu pendekatan yang
berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan proses sosial ekonomi belaka
dan pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelaahan.
Pendapat Hegtvedt (1975: 211-224) menjelaskan tentang hubungan antara
sastra dan masyarakat sangatlah jelas. Sastra adalah refleksi dari masyarakat,
kekuatan dalam masyarakat, atau bagian dari kehidupan sosial. Pendapat lain
menyatakan bahwa sastra itu lebih kompleks, berpotensi menangkap beragam
bentuk interaksi yang ada dalam masyarakat.
Lebih lanjut diterangkan oleh Fischer yang menjelaskan tentang sosiologi
sastra dengan meminjam istilah Fuegen sebagai berikut.
commit to user
Berdasarkan penjelasan di atas, sastra merupakan pencerminan
masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problem
kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra
menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh
terhadap masyarakat. Bahkan sering kali masyarakat sangat menentukan nilai
karya sastra yang hidup pada suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah
anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak
dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan
sekaligus membentuknya. Sastra sering kali dikaitkan dengan situasi tertentu
dalam masyarakat, misalnya dengan sistem politik, ekonomi, dan sosial tertentu.
Penelitian sosiologi sastra dilakukan untuk menjabarkan pengarah masyarakat
terhadap sastra dan kedudukan sastra dalam masyarakat. Sosiologi adalah telaah
yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam mayarakat, telaah tentang
lembaga dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana
masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap
ada. Dengan memelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah
perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan
struktur sosial, kita mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialis, proses
pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya
masing-masing (Sapardji Djoko Damono, 1979:6).
Pendapat lain dikemukakan oleh Rushing mengenai sosiologi sastra,
commit to user
Sociology of literature, a branch of literary study that examines the relationship between literary work and their social context, including pattern of literacy, kinds of audience, modes of pub lication and dramatic presentation, and the social class possition of authors and readers (Rushing, 2004).
Sosiologi sastra, merupakan cabang pendekatan sastra yang saling
berkaitan dengan karya sastra dan konteks sosial budaya di dalamnya terdapat
unsur yang dapat menjadi teladan bagi pembaca. Pengkajian karya sastra yang
memfokuskan diri pada analisis hubungan antara pengarang, karya sastra dan
pembaca. Hal tersebut sebagai sarana untuk memahami karya sastra dan
merupakan metode dalam pengajaran karya sastra (Siegel, 2006).
Seperti halnya sosiologi, sastra berurusan dengan manusia dalam
masyarakat, usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk
mengubah masyarakat itu. Dalam hal isi, sesungguhnya sosiologi dan sastra
berbagi masalah yang sama. Dengan demikian, novel, genre utama sastra dalam
zaman industri ini dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali
dunia sosial ini: hubungan manusia dengan keluarganya, lingkungannya, politik,
negara dan sebagainya. Dalam pengertian dokumenter murni, jelas tampak bahwa
novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi, dan politik yang juga menjadi
urusan sosiologi. Perbedaan antara sosiologi dan sastra (dalam bentuk novel)
adalah bahwa sosiologi melakukan analisis ilmiah yang objektif, sedangkan novel
sebagai genre utama sastra menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan
commit to user
Perspektif sosiologi sastra yang pantas diperhatikan adalah pernyataan Levin
(dalam Elizabeth dan Burn, 1973: 31) bahwa penelitian sosiologi sastra dapat ke
arah hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi dan sastra. Keduanya saling
memengaruhi dalam hal-hal tertentu.
Hakikat sosiologi sastra menurut Laurenson adalah sebagai berikut.
Sociology is esentiality the scientific, objective study of man in society, the study of social institutions and off social processs, it seeks to answer the question of haw society is possible, haw it work, why it persists. Through a rigorous examination of the social instituion, religious, economic, political and familial, wich together constitate what is called social structur.... (1972: 11).
Pernyataan Wolf (dalam Faruk, 1994: 3) sosiologi sastra merupakan
disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah
studi-studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general yang
masing-masing hanya mempunyai persamaan dalam hal bahwa semuanya
berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat. Senada dengan tersebut,
Russel (1973: 529) mereview pendapat di atas dengan menyatakan bahwa
sosiologi sastra adalah studi tentang sarana produksi sastra, distribusi, dan studi
tentang masyarakat tertentu.
Karya sastra didekati dari hal-hal yang berada di luar sastra itu sendiri
(ekstrinsik) dengan memfokuskan perhatian pada latar belakang sosial budaya.
Dalam ilmu sastra, pendekatan ini disebut sosiologi sastra, yaitu pendekatan sastra
dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan, berhubungan dengan
masyarakat yang berada di sekitar sastra itu, baik penciptanya, gambaran
commit to user
Adanya analisis ilmiah yang objektif ini menyebabkan bahwa seandainya
ada dua orang novelis menulis tentang suatu masyarakat yang sama, hasilnya
cenderung berbeda sebab cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan
perasaannya itu berbeda-beda menurut pandangan setiap orang. Keterkaitan karya
sastra dengan masyarakat biasa disebut sosiologi sastra. Istilah sosiologi sastra
pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologi atau
pendekatan sosiokulutral terhadap sastra.
b. Macam Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra adalah suatu pendekatan terhadap sastra yang
mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Sosiologi sastra dibagi menjadi
tiga, yaitu (1) sosiologi pengarang, (2) sosiologi karya, dan (3) fungsi sosial
sastra.
Sosiologi pengarang, sosiologi sastra yang membicarakan tentang posisi
sosial pengarang dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca,
faktor-faktor sosial, yang bisa memengaruhi pengarang sebagai perorangan di
samping memengaruhi isi karya sastranya.
Sosiologi karya, sosiologi sastra yang membicarakan masalah sosial yang
terdapat dalam karya itu sendiri, bertitik tolak dari karya sastra itu sendiri. Fungsi
sosial sastra, sosiologi sastra yang membicarakan permasalahan pembaca dan
pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca apakah karya sastra yang
memengaruhi nilai-nilai sosial atau nilai-nilai sosial yang memengaruhi karya
commit to user
Dari berbagai pandangan teoretis dalam telaah sosiologi terhadap sastra
dapat disimpulkan bahwa ada dua kecenderungan utama. Pertama, pendekatan
yang didasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial
ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor-faktor di luar sastra untuk
membicarakan sastra, sastra hanya berharga dalam hubungannya dengan
faktor-faktor di luar sastra itu sendiri. Jelas bahwa dalam pendekatan ini teks sastra tidak
dianggap utama, ia hanya merupakan eppiphenomeon (gejala kedua). Kedua,
pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelahaan. Metode
yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui
strukturnya, kemudian dipergunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala
yang di luar sastra.
Semua fakta sastra menyiratkan adanya penulis, buku, dan pembaca, atau
secara umum dapat dikatakan: pencipta, karya, dan publik. Setiap fakta sastra
merupakan bagian suatu sirkuit. Dengan alat transmisi yang sangat kompleks,
yang merupakan bagian seni sekaligus juga teknologi dan usaha dagang, ia
mengaitkan individu-individu yang jelas definisinya (atau dikenal namanya) pada
suatu kolektivitas yang dapat dikatakan anonim, tetapi terbatas.
Pada semua titik sirkuit itu, kehadiran individu pencipta menimbulkan
masalah interpretasi psikologis, moral, dan filsafat. Media karya menimbulkan
masalah estetika, gaya bahasa, dan teknik. Adanya kolektivitas-publik menimbulkan
masalah dari segi historis, politik, sosial, bahkan ekonomi. Dengan kata lain, paling
commit to user
Jadi, pendekatan sosiologi akan bermanfaat dan berdayaguna tinggi bila tidak
melupakan faktor-faktor sosiologi serta menyadari bahwa karya sastra diciptakan oleh
suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imaji.
Salah satu pendekatan teoretis sistem sosial yang lebih dikenal dibandingkan
pendekatan-pendekatan yang lain adalah pendekatan yang amat berpengaruh di
kalangan para ahli sosiologi selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Sudut
pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat, pada dasarnya terintegrasi di
atas kata dasar ”sepakat” para anggotanya mengenai menilai, norma dan aturan
kemasyarakatan tertentu yang memiliki daya dalam mengatasi perbedaan-perbedaan
pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.
Seorjono Soekamto (1990: 61) menyatakan bahwa objek sosiologi adalah
masyarakat, yaitu menitikberatkan pada hubungan antarmanusia dan proses sebab
akibat yang muncul dari hubungan-hubungan antarmanusia tersebut. Jadi, objek
sosiologi adalah manusia yang menitikberatkan pada hubungan antara manusia yang
satu dengan manusia yang lain. Selain itu, juga proses sebab akibat yang tampak dari
hubungan-hubungan antarmanusia tersebut.
c. Karakter dalam Sosiologi Sastra
Penelitian sosiologi sastra memerbincangkan hubungan antara pengarang
dengan kehidupan sosialnya. Baik aspek bentuk maupun isi karya sastra akan
terbentuk oleh suasana lingkungan dan kekuatan sosial atau periode tertentu
commit to user
konsep cermin (miror). Dalam kaitan ini sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan)
masyarakat.
Perspektif sosiologi sastra yang patut diperhatikan bahwa penelitian
sosiologi sastra dapat ke arah hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi
dan sastra. Keduanya akan saling memengaruhi dalam hal-hal tertentu. Pada
prinsipnya, terdapat tiga macam perspektif yang berkaitan dengan sosiologi sastra,
sebagai berikut.
1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di
dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan.
2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial
penulisnya.
3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah
dan keadaan sosial budaya.
Menurut Jabrohim (2003: 159), tujuan penelitian sosiologi sastra adalah
untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang hubungan
timbal balik antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat. Pandangan sosial
sastrawan harus dipertimbangkan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin
mayarakat.
3. Hakikat Teori Budaya
a. Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama
commit to user
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada
budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya
itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang
koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain (2011).
b. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, dari bentuk jamak kata
buddhi yang berarti budi dan akal. Ada pengertian lain mengenai asal dari kata
kebudayaan yaitu suatu perkembangan dari majemuk budidaya, artinya daya dari
budi, kekuatan dari akal. Jadi, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya
manusia yang dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya itu (Koentjaraningrat, 2000:9). “Kebudayaan didefinisikan sebagai
keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya
commit to user
menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan
merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan
strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai
oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi
lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan
tindakan-tindakannya.”
Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan
manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi
tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu
masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada
anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui
proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam
bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan
yang dibuat oleh manusia).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan
merupakan keseluruhan dari pemikiran yang dihasilkan dan dikembangkan oleh
manusia sebagai daya dan usaha untuk menghasilkan karya.
c. Wujud Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu, (1) wujud idiil, (2) wujud
kelakuan, (3), dan wujud fisik. Wujud pertama adalah wujud idiil dari
commit to user
pikiran. Suatu contoh yaitu sebuah karangan dari buku-buku hasil karya para
penulis, atau bisa disimpan pada sebuag arsip, tape, koleksi microfilm, dan
microfis. Fungsi dari kebudayaan idiil biasanya sebagai tata kelakuan perbuatan
manusia dalam masyarakat.
Wujud kedua dari kebudayaan adalah wujud kelakuan atau sering disebut
sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas manusia-manusia yang
berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain berdasar waktu
serta mengikuti pola-pola tertentu sesuai dengan adat tata kelakuan. Sebagai
rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu
bersifat kongkret terjadi di sekeliling masyarakat yang bisa diobservasi, difoto,
dan didokumentasikan.
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Wujud ini
merupakan seluruh total hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia
dalam masyarakat. Bersifat konkret, berupa benda-benda yang besar dan bergerak
seperti perahu tangki minyak, candi atau hingga pada benda kecil sekalipun
seperti kain batik.
d.Komponen Kebudayaan
Terdapat empat komponen dalam kebudayaan, antara lain sebagai berikut.
1) Sistem Budaya
Sistem budaya atau cultural system merupakan komponen yang
abstrak dari kebudayaan, terdiri dari pikiran-pikiran, gagasan-gagasan,
commit to user
demikian, sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan, yang sering
disebut dengan adat istiadat. Dalam adat istiadat, terdapat sistem nilai
budaya, sistem norma berdasar pranata-pranata dalam masyarakat yang
bersangkutan. Fungsi dari sistem budaya adalah menata dan memantapkan
tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia
2) Sistem Sosial
Sistem sosial atau social system, terdiri dari aktivitas-aktivitas
manusia atau tindakan-tindakan dan tingkah laku berinteraksi antar
individu dalam kehidupan masyarakat. Interaksi manusia itu di satu pihak
ditata dan diatur oleh sistem budaya, tetapi di pihak lain dibudayakan
menjadi pranata-pranata oleh nilai-nilai dan norma-norma tersebut.
3) Sistem Kepribadian
Sistem kepribadian atau personality system, mengenai soal isi jiwa
dan watak individu yang berinteraksi sebagai warga masyarakat.
Kepribadian individu dalam suatu masyarakat meskipun berbeda-beda,
tetapi dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem
budaya dan oleh pola-pola bertindak dalam sistem sosial yang telah
diinternalisasinya melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan
selama hidup mulai sejak kecil. Dengan demikian, sistem kepribadian
manusia berfungsi sebagai sumber motivasi dari tindakan sosialnya.
4) Sistem Organik
Sistem organik atau organic system, melengkapi seluruh kerangka
commit to user
dalam organisme manusia sebagai suatu jenis makhluk alamiah yang
apabila dipikirkan lebih mendalam, dapat menentukan kepribadian
individu, pola-pola tindakan manusia, dan bahkan gagasan-gagasan yang
dicetuskannya.
Dalam sistem budaya, Parsons membaginya menjadi empat kelompok
lambang sebagai berikut.
1) Lambang Konstitusi
Lambang yang mengacu pada hal-hal yang bertalian dengan
kepercayaan manusia akan adanya kekuatan di luar dan di atas dirinya
yang mengatur dan menentukan hidup serta kehidupan. Dalam
perkembangannya, lambang ini kemudian menjadi berbagai kepercayaan
seperti agama, kemudian dikaitkan dengan keburukan dan penderitaan,
keterbatasan hidup manusia dan sebagainya.
2) Lambang Kognisi
Simbol yang dihasilkan manusia dalam uapayanya memperoleh
pengetahuan dan pengertian tentang kenyataan yang ada dalam alam
semesta, sehingga kenyataan-kenyataan yang ditemui di sekeliling
manusia akan dapat dimengerti dengan lebih baik.
3) Lambang Evaluasi
Lambang ini bertalian dengan nilai-nilai baik buruk, benar salah,
pantas tidak pantas, dan sebagainya sesuai dengan pertimbangan
commit to user
4) Lambang Ekspresi
Lambang yang dikaitkan dengan segala ungkapan beraneka macam
perasaan dan emosi manusia. Rasa hormat, kasih sayang, benci, kecewa,
iri, rasa terima kasih, dan sebagainya.
4. Hakikat Kebudayaan Melayu
a. Sejarah Kebudayaan Melayu
Sejarah kebudayaan Melayu mencakup dimensi dan wilayah geografis
yang luas, dengan rentang masa yang panjang. Secara geografis, kawasan tersebut
mencakup Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Thailand Selatan.
Pada abad ke-7 M, orang Melayu bermigrasi dalam jumlah besar ke Madagaskar,
sebuah pulau di benua Afrika. Sejak saat itu, kebudayaan Melayu juga
berkembang di Madagaskar. Bahasa orang-orang keturunan Melayu di pulau ini
banyak memiliki persamaan dengan bahasa Dayak Maanyan di Kalimantan.
Ketika Syeikh Yusuf Tajul Khalwati diasingkan kolonial Belanda ke Tanjung
Harapan (Afrika Selatan), ia bersama pengikutnya mengembangkan agama Islam
dan budaya Melayu. Sejak saat itu, kebudayaan Melayu berkembang pula di
Afrika Selatan.
Sepanjang perjalanan sejarahnya, banyak kerajaan yang telah berdiri di
kawasan Melayu ini, yang tertua adalah Koying di Jambi (abad ke-3 M) dan Kutai
di Kalimantan (abad ke-4 M). Tidak menutup kemungkinan, masih ada kerajaan
commit to user
dan Kutai, kerajaan Melayu lainnya muncul dan tenggelam silih berganti. Di
antara kerajaan-kerajaan tersebut, ada yang hanya seluas kampung atau distrik
kecil, tetapi ada pula yang berhasil menjadi imperium, seperti Sriwijaya di
Sumatera, Indonesia. Secara kronologis, sebagian kerajaan tersebut adalah Melayu
Kuno (abad ke-6 M), Sriwijaya (abad ke-7 M) dan Minangkabau (abad ke-7 M),
semuanya di Indonesia; Brunei di Brunei Darussalam (abad ke-7 M); Pattani di
Thailand (abad ke-11 M); Ternate (abad ke-13 M), Pasai (abad ke-13 M) dan
Indragiri (abad ke-13 M), semuanya di Indonesia; Tumasik di Singapura (abad
14 M); Malaka di Malaysia (abad 14 M); Pelalawan di Indonesia (abad
ke-14 M); Riau-Johor di Semenanjung Melayu (abad ke-16 M); Merina di
Madagaskar (abad ke-17 M); Siak Sri Indrapura (abad ke-18 M), Riau-Lingga
(abad ke-18 M) dan Serdang (abad ke-18 M), ketiganya di Indonesia.
Kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di kawasan Melayu ini selalu
menjalin relasi dengan kerajaan lain yang berdiri saat itu, terutama dengan dua
kekuatan besar Asia: Cina dan India. Oleh sebab itu, kerajaan-kerajaan tersebut
banyak terdapat dalam catatan Cina, seperti catatan K‘ang-tai dan Wan-chen dari
dinasti Wu (222-280 M) yang menceritakan tentang keberadaan kerajaan Koying
di Sumatera. Selain Koying, keberadaan Sriwijaya juga banyak terdapat dalam
catatan Cina. Menurut Ibnu Khaldun, kebudayaan yang besar dan kuat akan selalu
memengaruhi kebudayaan yang lebih lemah. Dalam konteks ini, salah satu
implikasi dari adanya relasi dengan kebudayaan besar adalah masuknya dua
agama besar dari India dan Cina: Hindu dan Buddha. Maka, hampir semua
commit to user
agama besar ini. Seiring dengan masuknya agama Hindu-Buddha, maka
berkembang pula kebudayaan yang menyertai agama ini. Orang-orang Melayu
mulai mengenal huruf dan bahasa. Dari prasasti yang ditemukan, huruf yang
banyak dipakai adalah Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Namun, ada juga yang
menggunakan bahasa Melayu kuno.
Selain Cina dan India, orang-orang Melayu juga memiliki relasi dagang
yang baik dengan para pedagang Arab. Dengan perdagangan yang semakin intens,
maka akhirnya Islam juga masuk dan menyebar di kawasan Melayu. Seiring
dengan itu, huruf dan bahasa Arab juga berkembang. Berkat kreativitas orang
Melayu, mereka kemudian memodifikasi huruf Arab menjadi huruf Arab Melayu
(Jawi). Manuskrip-manuskrip Melayu yang ada saat ini sebagian besar ditulis
dalam huruf dan bahasa Arab ini, tetapi banyak juga yang berbahasa Melayu
lokal. Saat ini, pengaruh dari berbagai kekuatan budaya yang pernah menjalin
relasi dengan kerajaan Melayu tampak jelas dalam kebudayaan Melayu, terutama
dalam bahasa.
Pada abad ke-16 M, kolonial Eropa (Inggris, Spanyol, Portugis, Perancis
dan Belanda) masuk ke kawasan Melayu. Dalam perkembangannya, hampir
seluruh kawasan ini tunduk pada kekuatan kolonial tersebut, bahkan banyak yang
runtuh, seperti Malaka di Malaysia. Singkat kata, Kerajaan Melayu memang
telah runtuh, tetapi kebudayaannya tidak akan musnah (sebagaimana dikatakan
Hang Tuah, “Tak kan Melayu hilang di dunia”). Kebudayaan Melayu selalu ada
commit to user
Minat dan perhatian kita terhadap budaya ini, sebenarnya refleksi dan bukti dari
masih kuatnya ruh budaya Melayu tersebut dalam jiwa para pendukungnya.
b. Kebudayaan Melayu pada Saat Novel Ditulis
Muncul, berkembang, dan redupnya suatu kebudayaan sangat tergantung
pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan sikap
pendu-kung kebudayaan itu sendiri; sementara faktor eksternal berhubungan dengan
penetrasi kebudayaan luar. Penetrasi kebudayaan luar merupakan konsekuensi
logis dari pilihan untuk membuka relasi dengan kebudayaan lain. Namun,
pengaruh dari penetrasi tersebut akan sangat tergantung pada pola respons
pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Dalam kerangka pemikiran di atas,
maka, redup atau berkembangnya kebudayaan Melayu akan sangat tergantung
pada orang Melayu, dalam mengembangkan kebudayaannya sendiri dan
merespons penetrasi kebudayaan asing. Gambaran yang paling nyata saat ini
adalah hegemoni negara-negara barat terhadap dunia Melayu, yang telah
membawa implikasi-implikasi tersendiri terhadap kehidupan orang-orang Melayu.
5. Hakikat Transformasi Budaya
Terjadinya suatu proses transformasi budaya telah diawali oleh para
pendiri negara ini dengan menyatakan tekad untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencerdaskan
kehidupan bangsa bermakna membawa bangsa Indonesia menuju masyarakat
modern. Burhan Nurgiyantoro (2007:18) mengemukakan bahwa transformasi
commit to user
adalah budaya, budaya itulah yang mengalami perubahan. Cikal bakal dari
persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah
Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian W.Pye, 1966, 2010: 30).
Perubahan akan terjadi apabila budaya tersebut masuk ke dalam kondisi
atau lingkungan yang lain, atau muncul dalam kondisi dan lingkungan yang
berbeda. Dengan demikian terjadinya transformasi mensyaratkan adanya
pemunculan budaya tersebut ke dalam kondisi dan atau lingkungan yang lain.
Oleh karena itu, jika terdapat transformasi folkor dalam karya prosa fiksi
Indonesia modern, teks kesastraan yang dihasilkan dapat dipandang sebagai
karya yang baru. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain, yang
mungkin berupa konvesi, bentuk-bentuk formal tertentu, atau gagasan yang
masih dapat dikenali (Rachmat Djoko Pradopo, 2002:179). Usaha
pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan
antarteks-teks tersebut.
Transformasi budaya di Indonesia telah berlangsung atas tiga tahap, antara
lain sebagai berikut.
a. Dari kebudayaan Jawa primitif ke arah terbentuknya format kebudayaan
Jawa-Hindu-Buddha.
b. Kebudayaan Jawa-Hindu-Buddha ke arah format terbentuknya kebudayaan
Jawa-Hindu-Islam (kebudayaan “lokal”).
c. Bertemunya kebudayaan “lokal" dengan kebudayaan Kolonial (Portugis,
Inggris, dan Belanda) mengalami perbedaan karakteristik. Baru pada akhir
commit to user
oleh lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, dan pelbagai pergolakan politik
modern.
Transformasi budaya secara teoretis diartikan sebagai suatu proses
‘dialog” yang terus-menerus antara kebudayaan “lokal” dengan kebudayaan
“donor”, sampai tahap tertentu membentuk proses “sintesa” dengan pelbagai
wujud yang akan melahirkan “format akhir” budaya yang mantap. Dalam proses
“dialog”, “sintesa” dan pembentukan “format akhir” tersebut didahului oleh
proses inkulturasi dan akulturasi.
“Dialog” yang terjadi pada akhir abad ke-19 membangun perubahan
sistem nilai dalam pelbagai bidang kehidupan, baik politik, pola pikir, ekonomi,
gaya hidup, pendidikan hingga kebiasaan (adat). Dengan demikian, adanya
pergeseran nilai estetik yang dapat dijadikan indikasi adanya proses transformasi
budaya Indonesia secara keseluruhan.
Transformasi budaya dipengaruhi dengan adanya proses perubahan
budaya. Menurut (Tjetjep Rohendi, 1994:37) terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya proses perubahan sosial dan budaya. Faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kontak dengan Budaya Lain
Kontak dengan kebudayaan lain berarti melakukan interaksi sosial dengan
kebudayaan lain. Dalam proses interaksi itulah seorang individu akan melakukan
proses imitasi dengan kebudayaan yang baru yang ia hadapi. Salah satu segi
commit to user
nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin akan mengakibatkan
terjadinya hal-hal negatif, biasanya hal yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang
menyimpang. Kontak sosial ada yang bersifat positif yang dapat mengarahkan
pada suatu kerja sama, sedangkan kontak yang bersifat negatif dapat mengarahkan
seseorang pada suatu pertentangan bahkan tidak terjadinya interaksi sosial.
b. Sistem Pendidikan yang Maju
Proses pengalihan kebudayaan sebagai model-model, pengeta