• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSFORMASI BUDAYA MELAYU DALAM NOVEL BULANG CAHAYA KARYA RIDA K. LIAMSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TRANSFORMASI BUDAYA MELAYU DALAM NOVEL BULANG CAHAYA KARYA RIDA K. LIAMSI"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

 

TRANSFORMASI BUDAYA MELAYU DALAM NOVEL

BULANG CAHAYA

KARYA RIDA K. LIAMSI

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Oleh:

ANA MUSFITA YERI

S 840809001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii
(3)

commit to user

iii
(4)

commit to user

iv

 

PERNYATAAN

Nama : Ana Musfita Yeri

NIM : S 840809001

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tesis berjudul Transformasi Budaya

Melayu dalam Novel Bulang Cahaya adalah benar-benar karya saya sendiri.

Hal-hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut telah diberi tanda citasi dan

ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan

saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa

pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, Juni 2011

Yang membuat pernyataan,

Ana Musfita Yeri

(5)

commit to user

v

 

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan berbagai wujud kemenangan pada diri penulis yang berupa pikir,

perasaan, dan segala kreativitas sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis in.

Penelitian dan penulisan tesis ini dapat diselesaikan berkat bantuan,

dukungan, maupun doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan

kali ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus

kepada semua pihak yang telah turut membantu hingga terselesainya tesis ini.

Penulis ucapkan kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.

2. Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D., Direktur PPs UNS yang

telah memberikan izin penyusunan tesis ini.

3. Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd. , selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah memberikan izin penyusunan tesis ini.

4. Prof. Dr. H. Sarwiji Suwandi, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.

5. Dr. Andayani, M.Pd. , selaku pembimbing II yang memberikan bimbingan

kepada penulis.

6. Bapak dan Ibu Dosen di Program Pascasarjana Program Pendidikan Bahasa

Indonesia yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat dan

membekali penulis tentang teori-teori pendidikan dan pengajaran bahasa dan

(6)

commit to user

vi

 

7. Rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana khususnya Pendidikan Bahasa

Indonesia yang telah memberikan semangat dan bertukar pikir sehingga tesis

ini dapat diwujudkan.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu

hingga diwujudkannya tesis ini.

Penulis berharap semoga bantuan tersebut menjadi sebuah keikhlasan yang

akan membuahkan kemenangan bagi semuanya. Penulis juga berharap semoga

tesis ini berguna bagi semua, khususnya untuk perkembangan dunia pendidikan di

bidang kesusastraan.

Surakarta, Juni 2011

Penulis

(7)

commit to user

vii

 

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TESIS ... iii

PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

ABSTRAK ... xii

ABSTRACT ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

(8)

commit to user

viii

 

Halaman

1. Hakikat Novel ... 8

a. Pengertian Novel ... 8

b. Stuktur Novel ... 9

2. Hakikat Sosiologi Sastra ... 20

a. Pengertian Sosiologi Sastra ... 20

b. Macam-macam Sosiologi Sastra ... 24

c. Karakter dalam Sosiologi Sastra ... 26

3. Hakikat Budaya ... 27

a. Pengertian Budaya ... 27

b. Pengertian Kebudayaan ... 28

c. Wujud Kebudayaan ... 29

d. Komponen Kebudayaan ... 30

4. Hakikat Kebudayaan Melayu ... 33

a. Sejarah Kebudayaan Melayu ... 33

b. Kebudaan Melayu pada Saat Novel Ditulis ... 36

5. Hakikat Transformasi Budaya ... 36

B. Penelitian yang Relevan ... 43

C. Kerangka Berpikir ... 44

(9)

commit to user

ix

 

Halaman

B. Pendekatan Penelitian ... 47

C. Sumber Data ... 48

D. Teknik Cuplikan ... 48

E. Metode Pengumpulan Data ... 49

F. Validitas Data ... 50

G. Analisis Data ... 50

H. Prosedur Penelitian ... 52

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian ... 53

1. Struktur Novel Bulang Cahaya ... 54

a. Alur ... 54

b. Tokoh dan Penokohan ... 64

c. Latar / Setting ... 100

d. Tema ... 105

e. Sudut Pandang ... 106

2. Transformasi Budaya dalam Novel Bulan Cahaya Karya Rida K. Liamsi ... 107

a. Sosialisasi ... 107

b. Enkulturasi ... 108

(10)

commit to user

x

 

Halaman

a. Kontak dengan Budaya Lain ... 109

b. Konflik antara Melayu dan Bugis ... 110

c. Politik dalam Berebut Kekuasaan ... 111

4. Budaya Melayu dalam Novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi ... 112

a. Transformasi Sistem Kekuasaan ... 113

b. Transformasi Budaya Turun Temurun ... 114

c. Transformasi Sistem Peralatan ... 114

d. Transformasi dalam Bidang Agama... 115

e. Transformasi dalam Bahasa ... 116

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 117

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 121

A. Simpulan ... 121

B. Implikasi ... 122

C. Saran ... 124

1. Pembaca ... 124

2. Guru Bahasa Indonesia ... 124

3. Kepala Sekolah... 124

DAFTAR PUSTAKA ... 125

(11)

commit to user

xi

 

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Biografi Pengarang... 129

(12)

commit to user

xii

 

ABSTRAK

Ana Musfita Yeri. S840809001. Transformasi Budaya dalam Novel Bulang

Cahaya Karya Rida K. Liamsi. Tesis. Program Pascasarjana. Program Studi

Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan struktur yang

membangun novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi; (2) Mendeskripsikan

dan menjelaskan tranformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K.

Liamsi; (3) Mendeskripsikan dan menjelaskan faktor yang mendorong adanya

transformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi; dan (3)

mendeskripsikan dan menjelaskan budaya Melayu dalam novel Bulang Cahaya

karya Rida K. Liamsi.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis. Data dalam penelitian berupa struktur teks dalam Novel

Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi. Sumber data adalah Novel Bulang Cahaya

karya Rida K. Liamsi yang diterbitkan oleh JP Book Surabaya bekerja sama dengan Yayasan Segang Pekanbaru tahun 2007, cetakan pertama dengan tebal buku 317 halaman. Teknik pengumpulan data mengikuti paradigma penelitian kualitatif. Teknik sampling yang digunakan bersifat selektif studi kepustakaan

(library research), yaitu mencatat dokumen-dokumen atau arsip yang berkaitan

erat dengan tema penelitian dan tujuannya (purpose sampling). Analisis data yang

digunakan adalah model interaktif (interactive model of analysis). Teknik ini

meliputi tiga komponen, yaitu reduksi data (data reduction), sajian data (data

display), dan penarikan simpulan (conclusion drawing).

Simpulan penelitian dikemukakan berikut ini. (1) unsur-unsur pembangun

dalam novel Bulang Cahaya ini meliputi alur flashback, tokoh utama Raja

Djaafar, latar tempat dalam novel ini adalah di daerah Kepulauan Riau sampai ke pantai timur semenanjung Malaysia dengan latar belakang sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga, latar waktunya siang dan sore hari, latar suasana yang digambarkan perasaan dendam, cemburu, dan saling berebut kekuasaan, tema yang diangkat dalam novel ini adalah percintaan yang tak sampai dengan dikemas dalam politik kekuasaan, sudut pandang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu; (2) faktor yang memengaruhi transformasi budaya Melayu yaitu kontak dengan kebudayaan lain, konflik antara Melayu dan Bugis, dan politik

dalam berebut kekuasaan; (3) budaya Melayu dalam novel Bulang Cahaya ini

meliputi transformasi sistem kepercayaan, budaya turun temurun, sistem peralatan, bidang agama, serta transformasi bidang bahasa.

(13)

commit to user

xiii

 

ABSTRACT

Ana Musfita Yeri. S840809001. The Cultural Transformation in the Novel

Entitled Bulang Cahaya Written by Rida K. Liamsi. Principal advisor : Prof.

Dr. H. Sarwiji Suwandi, M.Pd. Co-advisor : Dr. Andayani, M.Pd Thesis: The Graduate Program in Indonesian Language Education, Sebelas Maret University, Surakarta 2011.

The objectives of the research are to describe and explain: (1) the text

structures of the novel entitled Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi; (2)

factors which encourage the cultural transformation in the novel entitled Bulang

Cahaya written by Rida K. Liamsi; and (3) the Malay culture in the novel entitled

Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi.

This research used a descriptive qualitative research method with a sociological approach. The data of the research were the text structures in the

novel entitled Bulang Cahaya written by Rida K. Liamsi and published by JP

Book Surabaya in cooperation with Segang Foundation, Pekan Baru in 2007; the first edition consisted of 317 pages. The data were gathered in accordance with the paradigms of qualitative research; the samples of the research were taken through library research by taking notes from documents and archives related to the theme and objectives of the research. The data were then analyzed by using an interactive technique of analysis consisting of components, namely: data reduction, data display, and conclusion drawing.

The results of the research are as follows: 1) The text structures of the novel use flash back plots. In term of character, Raja Djaafar was the central character who was cunning, humorous, and slightly unconfident. Other characters were Tengku Buntat, a lady who was very much loved by Raja Djaafar and who was beautiful, graceful, charming, soft, and sensitive; Raja Husin who was a faithful friend to Raja Djaafar and who was cunning and humorous; and other supporting characters. The settings of place in the novel were from the regions in Riau island to the East Coast of Malaysian peninsula with the historical

backgrounds of the kingdoms of Melayu Riau Lingga; Kampung Bulang, Kota

(14)

commit to user

xiv

 

ended up feeling resentful, which conveys a cultural point of view on a historical life of a tribe called the Malay. The point of view used in the novel was the all-knowing third person’s point of view. 2) The factors influencing the cultural transformation in the novel are as follows: (a) cultural contact with other culture, that is, from the Malay royal capital brought by the main character to Kota Bulang, Riau Island; (b) the conflict between the Malay and the Bugis which could influence the existence of the Malay culture: the Malay and the Bugis were ever united against their enemies; and (c) the politic to fight for power between the Malay and the Bugis. 3) The Malay culture in the novel includes: (a) faith transformation: the Bulang community held mystical faiths considering that the region was famous for its magic; (b) inheritance transformation: the inheritance culture was well known by the Bulang community considering that the region embraced the royal system namely the Malay kingdom; (c) equipment transformation: the equipment used was luxurious considering that the region was the royal jurisdiction; (d) religion transformation: the focus was more emphasized on the arrival of Islam; and (e) language transformation: the language used within the region influenced the development of vocabulary repertoire as indicated by the Malay vocabulary items used in each utterance by the characters in the novel

entitled Bulang Cahaya.

(15)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam

menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis dan mencerminkan

realitas sosial kemasyarakatan. Penciptaan karya sastra tidak dapat dipisahkan

dengan proses imajinasi pengarang dalam melakukan proses kreatifnya. Sebagai

imajinatif, sastra berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, serta dapat

menambah pengalaman bagi para pembaca. Novel merupakan salah satu ragam

prosa di samping cerpen dan roman yang di dalamnya terdapat peristiwa yang

dialami oleh tokoh-tokohnya secara sistematis dan terstruktur. Fiksi menceritakan

berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan

sesama. Dengan demikian, karya sastra menggambarkan pula sikap hidup

pengarang dan gejala-gejala sosial yang terjadi di sekitar mereka. Keterkaitan

antara karya sastra dengan keadaan masyarakat atau lingkungan terjadi karena

karya sastra merupakan hasil dialog antara pengarang dengan lingkungannya. Hal

tersebut menyebabkan karya sastra yang dihasilkan pengarang akan diwarnai oleh

budaya masyarakat tempat karya sastra dilahirkan.

Seorang pengarang mempunyai banyak kemungkinan di balik karya sastra

yang diciptakannya. Kemungkinan tersebut adalah sikap pengarang yang

mengubah pola pikir masyarakat. Sebagaimana dikatakan Sapardi Djoko Damono

(16)

commit to user

(1979:2) bahwa sastra bisa mengandung gagasan yang mungkin dapat

dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial yang dapat digunakan untuk

mencetuskan peristiwa sosial tertentu.

Karya sastra merupakan hasil perpaduan harmonis antara kerja perasaan

dan pikiran. Karya sastra tidak hanya mementingkan isi, tetapi juga tidak hanya

menggunakan bentuk. Karya sastra selalu memadukan dua unsur itu daalm

kesatuan yang kental. Karya sastra bersifat etis tetapi sekaligus juga estetis. Karya

sastra mempunyai kemampuan lebih keras dan kuat memproses perasan-perasaan

penikmatnya.

Karya sastra bukan untuk dinikmati tetapi juga dimengerti. Untuk itulah

diperlukan kajian atau penelitian dan analisis mendalam mengenai karya sastra.

Penelitian sastra merupakan kegiatan yang diperlukan untuk menghidupkan,

mengembangkan dan mempertajam suatu ilmu. Novel merupakan salah satu

bentuk karya sastra yang banyak mengalami perkembangan. Novel termasuk

[image:16.612.132.509.220.465.2]

karya imajinatif yang merupakan hasil rekaan pengarang, namun kadang-kadang

gambaran kehidupan yang ada di dalamnya dapat dicari dalam realita kehidupan

sehari-hari. Seperti ditegaskan oleh Jacob Sumardjo (1994:30) dengan

pendapatnya mengenai novel yang mengalami proses pengolahan yang dilakukan

oleh pengarang. Tokoh-tokoh dalam novel merupakan faktor penting yang

memunculkan konflik dan akhirnya mengalirkan cerita.

Banyak anggapan bahwa karya sastra tidak bisa memberikan jaminan

masa depan secara intelektual, emosional, dan finansial. dikarenakan bahasanya

(17)

commit to user

Ditambah minat baca atau daya beli masyarakat terhadap buku sastra masih

rendah. Interestingly, the literature on fields of study and over – education have

so far neglected each other (Ortiz, Luis et all. 2008).

Sebuah karya sastra diperbaharui oleh latar belakang sosial budaya tempat

karya sastra tersebut dihasilkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa di dalam

sebuah karya sastra tergambar keadaan mayarakat di mana, oleh siapa dan kapan

karya sastra tesebut ditulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra

merupakan cermin kehidupan masyarakat pemiliknya, walaupun tentu saja ada

yang hadir dan tidak hadir. Jadi, dengan membaca sebuah karya sastra akan dapat

diketahui unsur-unsur bahkan bagian-bagian dari unsur-unsur suatu kebutuhan

pemilik karya tersebut.

Sementara itu, Culler (1977: 118) menegaskan, pembaca sastra harus

memiliki kompetensi kesastraan yang memadai, yakni, a set of conventions for

reading literary texs, sehingga diharapkan pembaca harus memiliki kompetensi

kesusastraan yang memadai terhadap novel. Membicarakan sastra yang memiliki

sifat imajinatif, kita berhadapan dengan tiga jenis (genre) sastra, yaitu prosa, puisi,

dan drama. Salah satu jenis prosa adalah novel. Sebuah novel menceritakan

kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang. Luar biasa karena dari

kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalir menggambarkan nasi

mereka. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam novel dihidupkan oleh

tokoh-tokoh yang ditampilkan, seorang pengarang melukiskan kehidupan manusia

(18)

commit to user

terjadi dengan dirinya sendiri. Pengarang memegang peranan penting dalam

penciptaan watak tokoh yang dilukiskannya dalam karya sastra.

Rida K Liamsi dalam novelnya yang berjudul Bulang Cahaya mengangkat

tema sosial budaya. Dalam karyanya yang berjudul Bulang Cahaya, ia mampu

menguraikan secara jelas tentang adanya budaya yang terjadi dalam masyarakat di

Kerajaan Melayu, yang merepresentasikan etika, adab, norma, tradisi, adat-istiadat

Melayu. Oleh karena itu, peneliti tertarik menjadikan novel ini sebagai topik

penelitian. Terdapat beberapa peristiwa menarik yang mengarah tentang adanya

transformasi budaya Melayu dalam tokoh Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi.

Novel ini bercerita tentang salah satu bagian dari perjalanan sejarah

kerajaan Lingga. Dengan menggunakan bentuk kilas-balik, cerita dimulai dari

luka hati yang dialami Raja Djaafar atas keputusan politik Yang Dipertuan Besar

Mahmud untuk menghentikan perang saudara antara Melayu dan Bugis. Salah

satu keputusan politik itu adalah penyatuan Melayu-Bugis melalui perkawinan

Tengku Butat dengan Tengku Husin, putra Sultan Mahmud. Inilah awal putusnya

percintaan Raja Djaafar dengan Tengku Butat. Sambil membawa dendam

kebencian dan cinta, pemuda Bugis itu hijrah ke Selangor.

Putaran nasib membawa Raka Djaafar kembali ke Riau. Ia diangkat

menjadi Yang Dipertuan Muda, sebuah jabatan penting yang memberi kekuasaan

besar dalam roda pemerintahan kerajaan. Di sinilah Raja Djaafar berhadapan

dengan problem pribadi dan tugas kerajaan. Cerita kemudian mengalir dengan

pusat penceritaan jatuhnya pada tokoh Raja Djafaar. Antara kekuasaan dan cinta

(19)

commit to user

Novel Bulang Cahaya ini tidak sekadar menyodorkan fakta dan peristiwa

sejarah Kerajaan Melayu secara meyakinkan, tetapi juga menyelusupkan ideologi

pengarangnya tentang posisi Melayu dan Bugis dalam perspektif historigrafi yang

berimbang. Dari sini terlihat adanya transformasi budaya karena pengaruh

faktor-faktor perubahan nilai yang dialami para tokoh-tokohnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut.

1. Bagaimanakah struktur yang membangun novel Bulang Cahaya karya Rida K

Liamsi?

2. Bagaimanakah tranformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida

K. Liamsi?

3. Faktor apa sajakah yang mendorong adanya transformasi budaya dalam novel

Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi?

4. Bagaimanakah budaya Melayu yang dideskripsikan dalam novel Bulang

Cahaya karya Rida K Liamsi?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan dan menjelaskan struktur yang membangun novel Bulang

Cahaya karya Rida K Liamsi.

2. Mendeskripsikan dan menjelaskan tranformasi budaya dalam novel Bulang

(20)

commit to user

3. Mendeskripsikan dan menjelaskan faktor yang mendorong adanya

transformasi budaya dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi.

4. Mendeskripsikan dan menjelaskan budaya Melayu dalam novel Bulang

Cahaya karya Rida K Liamsi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

a. Manfaat yang diperoleh setelah mengkaji hal-hal di atas adalah dapat

mengetahui dan menelaah apa yang telah dikaji dan dapat menjadi bahan

pertimbangan dalam melakukan penelitian yang selanjutnya.

b. Dapat menambah khazanah penelitian sastra Indonesia khususnya

penelitian novel sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan karya

sastra Indonesia.

c. Menjadi tolok ukur untuk memahami dalam mendalami karya sastra pada

umumnya dan novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi pada

khususnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pembaca

1) Memberikan manfaat bagi pembaca terhadap novel terutama

mengenai masalah transformasi budaya dan aspek sosiologi sastra.

2) Dapat meningkatkan daya apresiasi terhadap karya sastra khususnya

(21)

commit to user

b. Bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pengajaran sastra di sekolah sehingga dapat menambah pengetahuan di

bidang sastra, khususnya novel.

c. Bagi Peneliti

1) Memberikan wawasan mengenai transformasi budaya Melayu dan

informasi tentang kehidupan budaya dan tata adat yang berlaku di

Riau.

2) Dapat mengetahui perkembangan dan kesejarahan sastra Indonesia

(22)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Hakikat Novel

a. Pengertian Novel

Novel adalah suatu karya fiksi yang menawarkan suatu dunia, yaitu dunia

yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun

melalui berbagai unsur intrinsiknya, seperti peristiwa, plot, tokoh (penokohan),

latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya bersifat imajinatif (Burhan

Nurgiyantoro, 2007:4). Adapun dalam The American College Dictionary

(Tarigan, 1993:164), diterangkan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang

fiktif serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu

keadaan yang agak kusut atau kacau. Sebagai suatu karya sastra, novel

mengandung nilai-nilai moral yang berguna bagi pembacanya. Hal tersebut sesuai

dengan pendapat Herman J. Waluyo (2002:37), mengemukakan bahwa novel

bukan hanya alat hiburan, tetapi juga sebagai bentuk seni, yang mempelajari dan

meneliti segi-segi kehidupan dan nilai baik buruk (moral) kehidupan ini dan

mengarahkan kepada pembaca tentang pekerti yang baik dan budi

luhur.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel

adalah jenis cerita fiksi yang mempunyai panjang tertentu dengan memasukkan

berbagai unsur intrinsik di dalamnya dan bersifat imajinatif.

(23)

commit to user

b. Struktur Novel

Novel merupakan sebuah totalitas (keseluruhan) yang bersifat artistik dan

memiliki bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain.

Struktur tersebut dibedakan menjadi dua yaitu unsur intrinsik dan unsur

ekstrinsik.

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2007:23), unsur intrinsik adalah

unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Adapun tidak langsung

memengaruhi bangunan atau sistem organisme sastra.

Unsur-unsur intrinsik novel tersebut antara lain sebagai berikut.

1) Tema

Tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak

pengarang dalam menyusun cerita, sekaligus merupakan permasalahan yang

ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Panuti Sudjiman (1988:52)

memberikan pengertian bahwa tema merupakan gagasan, ide atau pikiran

utama yang mendasari suatu karya sastra. Dalam sebuah karya fiksi, tema

tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi membaur ke seluruh cerita, yaitu

secara implisit, maka pembaca yang harus menafsirkan sendiri.

Usaha menafsirkan tema dapat dilakukan melalui detail kejadian dan

konflik yang menonjol, yaitu konflik utama cerita yang dialami, ditimbulkan

kepada tokoh utama. Hal di atas menunjukkan betapa erat kaitan antara tema

dan penokohan. Kaitannya dengan tema, tokoh mempunyai kedudukan yang

strategis, yaitu sebagai penyampai tema, baik secara terselubung maupun

terang-terangan. Adanya perbedaan tema akan menyebabkan perbedaan

(24)

commit to user

memilih tokoh-tokoh tertentu yang dirasa paling cocok untuk mendukung

temanya (Burhan Nurgiyantoro, 2007:173).

Pengarang yang baik akan mampu menampilkan cerita yang bersumber

pada realitas kehidupan sebagai reaksi atau saksi sejarah terhadap praktik

kehidupan masyarakat. Budi Darma (dalam Herman J. Waluyo, 1995:83)

menyatakan bahwa:

Pengarang yang baik adalah pengarang yang mampu menemukan hakikat manusia. Ia mempunyai kekuatan mata seperti rontgen yang mampu menembus tubuh manusia dan seperti televisi yang dapat menangkap gambar-gambar dari pemancar-pemancar yang jauh, serta menerima suara-suara masyarakat, dan bagaikan memiliki indera tambahan yang mampu menangkap getaran hati manusia yang menderita.

Tema harus mampu mengangkat ke permukaan realitas relung-relung

kehidupan manusia. Mochtar Lubis (dalam Herman J. Waluyo, 1995: 83)

menyatakan bahwa wilayah pengarang luas sekali, seolah-olah tanpa batas.

Wilayah yang baik adalah menjelajah ke ruang dalam manusia sendiri, artinya

ke berbagai batin manusia yang mempunyai berbagai permasalahan

kehidupan.

2) Latar (Setting)

Latar atau setting menyangkut tempat, waktu, dan situasi yang mendukung

dalam suatu cerita. Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2007: 216), latar atau

setting adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan

waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang

(25)

commit to user

Latar memberi pijakan konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberi

kesan realitas kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang

seolah-olah sungguh-sungguh terjadi. Sifat-sifat latar, dalam banyak hal akan

memengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan, sifat seseorang akan dibentuk oleh

keadaan latarnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Wellek dan Warren (dalam

Melani Budianta, 1993: 291) bahwa latar mungkin merupakan proyeksi

kehendak tersebut, antara manusia dan alam terdapat korelasi. Latar yang baik

harus benar-benar mutlak untuk menggarap karakter cerita. Latar wilayah

tertentu harus menghasilkan perwatakan tokoh dan tema tertentu. Latar harus

terintegrasi dengan watak, tema, gaya, dan implikasi filosofisnya.

3) Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view merupakan cara memandang yang

digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar,

dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dengan demikian, pada

hakikatnya sudut pandang merupakan strategi, teknik, atau siasat yang secara

sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan atau ceritanya. Sudut

pandang pada hakikatnya adalah visi pengarang yang berarti sudut pandangan

yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini,

tentunya harus dibedakan dengan pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab

sebuah karya sastra sebenarnya merupakan pandangan pengarang terhadap

kehidupan (Jakob Sumardjo, 1994:82).

Sudut pandang dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang orang pertama

(26)

commit to user

sudut pandang orang pertama, pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita

dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya.

Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut

sudut pandang orang pertama tokoh utama atau Akuan-Sertaan, sedangkan

apabila pencerita menjadi tokoh bawahan yang disebut sudut pandang orang

pertama tokoh bawahan atau Akuan-Taksertaan.

Dalam sudut pandang orang ketiga, pencerita berada di luar cerita. Dalam

kisahannya pencerita mengacu pada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan

kata ganti orang ketiga (ia, dia), atau menyebut nama tokoh. Sudut pandang

orang ketiga ada dua, yaitu orang ketiga mahatahu dan orang ketiga terbatas.

Orang ketiga mahatahu, apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan

segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita, bahkan

mampu mengungkap pikiran. Orang ketiga terbatas, apabila pencerita hanya

dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar.

4) Plot

Plot atau alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tetapi setiap

kejadian itu hanya dihubungkan dari berbagai akibat, peristiwa yang satu

disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Burhan

Nurgiyantoro, 2007:113). Adapun menurut Aminnudin (1987: 83), plot atau

alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa

sehingga menjalin suatu cerita yang dihindarkan oleh para pelaku dalam suatu

cerita.

Plot merupakan tulang punggung cerita sehingga keberadaannya begitu

(27)

commit to user

Pembaca terkesan pada penampilan kehidupan dan jati diri tokoh yang

memang lebih banyak menjanjikan. Dalam kaitan ini, plot sekadar sarana

untuk memahami perjalanan kehidupan tokoh, atau untuk menunjukkan jati

diri dan kehidupan tokoh, maka perlu diplotkan perjalanan hidupnya. Seperti

pendapat MacLaughlin dan Devoodg (dalam Morawski, 2010), “Readers are

always making choices about their thingking, focusing on both stances and

sometimes more on one thatn the other”. Pembaca selalu dapat menentukan

pilihan tentang cara berpikir, memfokuskan cara pandangan dan

kadang-kadang melebihi dari yang lain. Maksudnya, setiap pembaca memiliki cara

pandang sendiri terhadap novel yang sedang dibacanya yang dapat diamati

dari alurnya.

Plot atau alur tidak bisa dipaparkan begitu saja. Kejadian-kejadian dalam

plot mengalami perkembangan itu disebabkan oleh konflik. Konflik dalam

suatu cerita dipaparkan melalui gerak atau jalan cerita yang tersusun dari

kejadian-kejadian yang saling terkait dan merupakan sebab akibat. Konflik

dalam cerita dikupas menjadi elemen-elemen tertentu (Herman J. Waluyo,

1995:91).

Tahap-tahap plot atau alur, yakni exposition, inciting moment, rising

action, complication, climax, falling action, dan denoument.

(a) Exposition, yaitu paparan cerita awal. Pengarang mulai memperkenalkan

tempat kejadian, waktu, topik, dan tokoh-tokoh. Tingkat intensitas paparan

tergantung keinginan pengarang, apakah ia akan menulis novel atau

(28)

commit to user

(b) Inciting moment, yaitu mulai munculnya problem-problem.

Problem-problem mulai dimunculkan pengarang untuk kemudian dikembangkan.

(c) Rising action, yaitu problem dalam cerita dalam mulai meningkat dan

selanjutnya terjadi konflik.

(d) Complication, yaitu saat konflik semakin ruwet.

(e) Climax merupakan puncak seluruh cerita, dan semua cerita sebelumnya

ditahan untuk menonjolkan saat klimaks tersebut.

(f) Falling action, yaitu konflik yang dibangun mulai menurun karena telah

mencapai klimaksnya. Emosi yang memuncak telah berkurang.

(g) Denoument, yaitu penyelesaian atau pemecahan masalah.

Unsur-unsur plot berpusat pada konflik. Dengan adanya plot seperti di

atas, pembaca dibawa ke suatu keadaan yang menegangkan, timbul suatu

suspens dalam cerita. Suspens inilah yang menarik pembaca untuk mengikuti

jalan cerita. Kekuatan sebuah cerita terdapat pada bagaimana seorang

pengarang membawa pembacanya mengikuti timbulnya konflik dan

berakhirnya konflik. Timbulnya konflik atau terbinanya plot sering berkaitan

dengan watak atau tema, bahkan juga setting. Konflik dalam cerita mungkin

terjadi karena watak seseorang yang begitu rupa sehingga menimbulkan

konflik bagi orang lain dan lingkungannya.

5) Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam novel merupakan satu hal yang paling utama dalam cerita.

(29)

commit to user

cerita menjadi lebih menarik untuk dinikmati. Tokoh adalah pelaku yang

mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu

menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987:78). Tokoh adalah individu rekaan

yang mengalami peristiwa adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa

atau berkelakuan dalam tindakan.

Novel pada dasarnya mengisahkan seorang atau beberapa orang yang

memerankan karakter, dan selanjutnya disebut tokoh. Tokoh cerita adalah

individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai

peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Jadi, tokoh adalah

orangnya. Dalam cerita rekaan, terdapat bermacam-macam tokoh. Berdasar

cara menampilkannya, tokoh yang mendominasi jalannya cerita disebut tokoh

utama.

Berdasarkan segi peranannya, tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh

utama (main character), dan tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh

utama yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus

sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan tokoh

tambahan yaitu tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali

dalam cerita. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2007:165), istilah tokoh merujuk

pada pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan

sikap para tokoh, seperti ditafsirkan pembaca, lebih menunjuk kepada kualitas

pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi diartikan dengan

(30)

commit to user

Tokoh utama adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam sebuah

cerita. Tokoh utama merupakan tokoh dengan tingkat kemunculan paling

sering dan dibicarakan oleh pengarang. Tokoh tambahan adalah tokoh yang

memiliki peranan penting yang kemunculannya hanyalah untuk melengkapi,

melayani, dan mendukung pelaku utama. Ia merupakan tokoh yang terlalu

sering muncul dan dibicarakan ala kadarnya oleh pengarang (Aminudin,

1987:79-80).

Terdapat jenis-jenis tokoh, antara lain sebagai berikut.

a) Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan

Tokoh utama adalah tokoh yang ditampilkan terus-menerus sehingga

terasa mendominasi cerita dan yang diutamakan penceritaannya. Adapun

tokoh tambahan adalah tokoh-tokoh yang dimunculkan sekali atau

beberapa kali dan itu pun dalam porsi yang relatif pendek. Kehadiran

tokoh tambahan berfungsi memperkuat karakter tokoh utama

b) Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendapat simpati dan empati

dari pembacanya. Pembaca sering mengidentifikasikan dirinya dengan

tokoh tersebut dan sering terlihat secara emosional. Adapun tokoh

antagonis adalah lawan dari tokoh protagonis yang menyebabkan

ketegangan dan konflik terutama bagi tokoh protagonis. Tokoh antagonis

tidak selalu berwujud manusia, tetapi bisa juga berwujud hal-hal di luar

(31)

commit to user

c) Tokoh Datar dan Tokoh Bulat

Tokoh datar adalah tokoh yang memiliki suatu kualitas kepribadian

tertentu atau satu sifat saja. Adapun tokoh bulat yaitu tokoh yang memiliki

banyak sifat dan banyak diungkap sisi kehidupannya, kepribadiannya, dan

jati dirinya

d) Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang

Tokoh statis adalah tokoh yang secara esensial tidak mengalami

perubahan perwatakan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan dan

perkembangan perwatakan sejalan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi

dari plot yang dikisahkan

e) Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral

Tokoh tipikal adalah tokoh yang lebih banyak menonjolkan kualitas

kebangsaannya atau pekerjaannya, atau sesuatu yang lebih bersifat

mewakili. Tokoh netral adalah tokoh-tokoh yang bereksistensi demi cerita

itu sendiri, semata-mata tokoh yang dihadirkan sebagai tokoh imajiner

bebas, artinya tidak mewakili pihak mana pun.

Selain jenis-jenis tokoh, terdapat pula teknik pelukisan tokoh. Teknik

pelukisan tokoh dapat dilakukan secara ekspositoris (langsung) atau secara

dramatik (tidak langsung). Pelukisan tokoh secara ekspositoris adalah teknik

tokoh dengan memberikan uraian, deskripsi, atau penjelasan secara langsung.

Teknik pelukisan dramatik adalah pelukisan tokoh yang tidak dideskripsikan

(32)

commit to user

Pada umumnya, pengarang memilih secara campuran, menggunakan

teknik langsung dan teknik tidak langsung. Hal ini dirasa lebih

menguntungkan karena kelemahan tiap-tiap teknik dapat ditutup dengan

teknik lain.

Teknik pelukisan tokoh secara tidak langsung dapat dijelaskan melalui

beberapa teknik, antara lain (1) teknik cakapan, (2) teknik tingkah laku, (3)

teknik pikiran dan perasaan, (4) teknik arus kesadaran, (5) teknik reaksi tokoh

terhadap rangsang dari luar, (6) teknik reaksi tokoh lain terhadap tokoh utama,

(7) teknik pelukisan latar, dan (8) teknik pelukisan fisik. (Burhan

Nurgiyantoro, 2007:176-184).

Banyak sekali jenis novel dalam perkembangan sastra di Indonesia.

Hawthron (1989: 141) membedakan 15 jenis novel,yaitu:

The picareque novel, the epistolary novel, the historical novel, the

satirical novel, the bildungsroman (novel information or education),

the roman a clef (novel with a key) the tendenzroman (thesis novel),

the roman noir (gothic novel), the roman-fleuve, the roman

feuilieton, science fiction, the nouveau roman (novel), metafiction,

fiction.

Dengan mengidentifikasi jenis-jenis novel tersebut pada struktur sejumlah

novel sastra Indonesia yang terbit pada akhir abad XX, dapat dikatakan

adanya jenis novel yang memuat kearifan lokal. Kearifan lokal budaya seperti

(33)

commit to user

sastra di sekolah (Arli Parikesit, 2004). Sejalan dengan pendapatan mengenai

kearifan lokal, Prasetyo Utomo (2008) mengemukakan bahwa kearifan lokal

tidak dengan sendirinya membentuk sastra lokal, yang diminati masyarakat

setempat, dalam kurun waktu yang terbatas. Kearifan lokal yang menjadi

obsesi sastrawan secara kontemplatif, bisa jadi teks sastra yang digemari

pembaca secara lintas waktu. Begitu banyak teks sastra yang ditulis dengan

kekuatan kearifan lokal serupa ini dan menjadi bacaan yang tidak hanya laris,

melainkan juga bermuatan nilai estetik.

Perkembangan novel sastra Indonesia selama abad XX menunjukkan ciri

yang dinamis. Pengarang novel dari wilayah Sumatera memperlihatkan

adanya penggabungan tiga tradisi: tradisi mereka sendiri, tradisi sastra Melayu

lama, dan tradisi dari pembacaan cerita-cerita dalam bahasa Belanda (Junus,

1974: 8). Dengan kata lain, novel-novel karangan wilayah Sumatera

menggabungkan tradisi naratif Barat.

Penggabungan berbagai tradisi naratif dalam novel ini sesuai dengan

pendapat Teeuw (1983: 201): The creation of the novel in modern Indonesian

literature is a complicated phenomenon which certainly cannot be reduced to

a single source. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada tahun 1920-an, tetapi

(34)

commit to user

2. Hakikat Sosiologi Sastra

a. Pengertian Sosiologi Sastra

Teori sastra bergerak pada empat paradigma, yaitu penulis, pembaca,

karya, dan kenyataan. Untuk memenuhi keempat paradigma tersebut berbagai

teori muncul, salah satunya adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan

pendekatan dalam telaah sosiologi terhadap sastra yaitu pendekatan yang

berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan proses sosial ekonomi belaka

dan pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelaahan.

Pendapat Hegtvedt (1975: 211-224) menjelaskan tentang hubungan antara

sastra dan masyarakat sangatlah jelas. Sastra adalah refleksi dari masyarakat,

kekuatan dalam masyarakat, atau bagian dari kehidupan sosial. Pendapat lain

menyatakan bahwa sastra itu lebih kompleks, berpotensi menangkap beragam

bentuk interaksi yang ada dalam masyarakat.

Lebih lanjut diterangkan oleh Fischer yang menjelaskan tentang sosiologi

sastra dengan meminjam istilah Fuegen sebagai berikut.

(35)

commit to user

Berdasarkan penjelasan di atas, sastra merupakan pencerminan

masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problem

kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra

menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh

terhadap masyarakat. Bahkan sering kali masyarakat sangat menentukan nilai

karya sastra yang hidup pada suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah

anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak

dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan

sekaligus membentuknya. Sastra sering kali dikaitkan dengan situasi tertentu

dalam masyarakat, misalnya dengan sistem politik, ekonomi, dan sosial tertentu.

Penelitian sosiologi sastra dilakukan untuk menjabarkan pengarah masyarakat

terhadap sastra dan kedudukan sastra dalam masyarakat. Sosiologi adalah telaah

yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam mayarakat, telaah tentang

lembaga dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana

masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap

ada. Dengan memelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah

perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan

struktur sosial, kita mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia

menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialis, proses

pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya

masing-masing (Sapardji Djoko Damono, 1979:6).

Pendapat lain dikemukakan oleh Rushing mengenai sosiologi sastra,

(36)

commit to user

Sociology of literature, a branch of literary study that examines the relationship between literary work and their social context, including pattern of literacy, kinds of audience, modes of pub lication and dramatic presentation, and the social class possition of authors and readers (Rushing, 2004).

Sosiologi sastra, merupakan cabang pendekatan sastra yang saling

berkaitan dengan karya sastra dan konteks sosial budaya di dalamnya terdapat

unsur yang dapat menjadi teladan bagi pembaca. Pengkajian karya sastra yang

memfokuskan diri pada analisis hubungan antara pengarang, karya sastra dan

pembaca. Hal tersebut sebagai sarana untuk memahami karya sastra dan

merupakan metode dalam pengajaran karya sastra (Siegel, 2006).

Seperti halnya sosiologi, sastra berurusan dengan manusia dalam

masyarakat, usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk

mengubah masyarakat itu. Dalam hal isi, sesungguhnya sosiologi dan sastra

berbagi masalah yang sama. Dengan demikian, novel, genre utama sastra dalam

zaman industri ini dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali

dunia sosial ini: hubungan manusia dengan keluarganya, lingkungannya, politik,

negara dan sebagainya. Dalam pengertian dokumenter murni, jelas tampak bahwa

novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi, dan politik yang juga menjadi

urusan sosiologi. Perbedaan antara sosiologi dan sastra (dalam bentuk novel)

adalah bahwa sosiologi melakukan analisis ilmiah yang objektif, sedangkan novel

sebagai genre utama sastra menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan

(37)

commit to user

Perspektif sosiologi sastra yang pantas diperhatikan adalah pernyataan Levin

(dalam Elizabeth dan Burn, 1973: 31) bahwa penelitian sosiologi sastra dapat ke

arah hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi dan sastra. Keduanya saling

memengaruhi dalam hal-hal tertentu.

Hakikat sosiologi sastra menurut Laurenson adalah sebagai berikut.

Sociology is esentiality the scientific, objective study of man in society, the study of social institutions and off social processs, it seeks to answer the question of haw society is possible, haw it work, why it persists. Through a rigorous examination of the social instituion, religious, economic, political and familial, wich together constitate what is called social structur.... (1972: 11).

Pernyataan Wolf (dalam Faruk, 1994: 3) sosiologi sastra merupakan

disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah

studi-studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general yang

masing-masing hanya mempunyai persamaan dalam hal bahwa semuanya

berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat. Senada dengan tersebut,

Russel (1973: 529) mereview pendapat di atas dengan menyatakan bahwa

sosiologi sastra adalah studi tentang sarana produksi sastra, distribusi, dan studi

tentang masyarakat tertentu.

Karya sastra didekati dari hal-hal yang berada di luar sastra itu sendiri

(ekstrinsik) dengan memfokuskan perhatian pada latar belakang sosial budaya.

Dalam ilmu sastra, pendekatan ini disebut sosiologi sastra, yaitu pendekatan sastra

dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan, berhubungan dengan

masyarakat yang berada di sekitar sastra itu, baik penciptanya, gambaran

(38)

commit to user

Adanya analisis ilmiah yang objektif ini menyebabkan bahwa seandainya

ada dua orang novelis menulis tentang suatu masyarakat yang sama, hasilnya

cenderung berbeda sebab cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan

perasaannya itu berbeda-beda menurut pandangan setiap orang. Keterkaitan karya

sastra dengan masyarakat biasa disebut sosiologi sastra. Istilah sosiologi sastra

pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologi atau

pendekatan sosiokulutral terhadap sastra.

b. Macam Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu pendekatan terhadap sastra yang

mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Sosiologi sastra dibagi menjadi

tiga, yaitu (1) sosiologi pengarang, (2) sosiologi karya, dan (3) fungsi sosial

sastra.

Sosiologi pengarang, sosiologi sastra yang membicarakan tentang posisi

sosial pengarang dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca,

faktor-faktor sosial, yang bisa memengaruhi pengarang sebagai perorangan di

samping memengaruhi isi karya sastranya.

Sosiologi karya, sosiologi sastra yang membicarakan masalah sosial yang

terdapat dalam karya itu sendiri, bertitik tolak dari karya sastra itu sendiri. Fungsi

sosial sastra, sosiologi sastra yang membicarakan permasalahan pembaca dan

pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca apakah karya sastra yang

memengaruhi nilai-nilai sosial atau nilai-nilai sosial yang memengaruhi karya

(39)

commit to user

Dari berbagai pandangan teoretis dalam telaah sosiologi terhadap sastra

dapat disimpulkan bahwa ada dua kecenderungan utama. Pertama, pendekatan

yang didasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial

ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor-faktor di luar sastra untuk

membicarakan sastra, sastra hanya berharga dalam hubungannya dengan

faktor-faktor di luar sastra itu sendiri. Jelas bahwa dalam pendekatan ini teks sastra tidak

dianggap utama, ia hanya merupakan eppiphenomeon (gejala kedua). Kedua,

pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelahaan. Metode

yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui

strukturnya, kemudian dipergunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala

yang di luar sastra.

Semua fakta sastra menyiratkan adanya penulis, buku, dan pembaca, atau

secara umum dapat dikatakan: pencipta, karya, dan publik. Setiap fakta sastra

merupakan bagian suatu sirkuit. Dengan alat transmisi yang sangat kompleks,

yang merupakan bagian seni sekaligus juga teknologi dan usaha dagang, ia

mengaitkan individu-individu yang jelas definisinya (atau dikenal namanya) pada

suatu kolektivitas yang dapat dikatakan anonim, tetapi terbatas.

Pada semua titik sirkuit itu, kehadiran individu pencipta menimbulkan

masalah interpretasi psikologis, moral, dan filsafat. Media karya menimbulkan

masalah estetika, gaya bahasa, dan teknik. Adanya kolektivitas-publik menimbulkan

masalah dari segi historis, politik, sosial, bahkan ekonomi. Dengan kata lain, paling

(40)

commit to user

Jadi, pendekatan sosiologi akan bermanfaat dan berdayaguna tinggi bila tidak

melupakan faktor-faktor sosiologi serta menyadari bahwa karya sastra diciptakan oleh

suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imaji.

Salah satu pendekatan teoretis sistem sosial yang lebih dikenal dibandingkan

pendekatan-pendekatan yang lain adalah pendekatan yang amat berpengaruh di

kalangan para ahli sosiologi selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Sudut

pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat, pada dasarnya terintegrasi di

atas kata dasar ”sepakat” para anggotanya mengenai menilai, norma dan aturan

kemasyarakatan tertentu yang memiliki daya dalam mengatasi perbedaan-perbedaan

pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.

Seorjono Soekamto (1990: 61) menyatakan bahwa objek sosiologi adalah

masyarakat, yaitu menitikberatkan pada hubungan antarmanusia dan proses sebab

akibat yang muncul dari hubungan-hubungan antarmanusia tersebut. Jadi, objek

sosiologi adalah manusia yang menitikberatkan pada hubungan antara manusia yang

satu dengan manusia yang lain. Selain itu, juga proses sebab akibat yang tampak dari

hubungan-hubungan antarmanusia tersebut.

c. Karakter dalam Sosiologi Sastra

Penelitian sosiologi sastra memerbincangkan hubungan antara pengarang

dengan kehidupan sosialnya. Baik aspek bentuk maupun isi karya sastra akan

terbentuk oleh suasana lingkungan dan kekuatan sosial atau periode tertentu

(41)

commit to user

konsep cermin (miror). Dalam kaitan ini sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan)

masyarakat.

Perspektif sosiologi sastra yang patut diperhatikan bahwa penelitian

sosiologi sastra dapat ke arah hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi

dan sastra. Keduanya akan saling memengaruhi dalam hal-hal tertentu. Pada

prinsipnya, terdapat tiga macam perspektif yang berkaitan dengan sosiologi sastra,

sebagai berikut.

1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di

dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan.

2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial

penulisnya.

3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah

dan keadaan sosial budaya.

Menurut Jabrohim (2003: 159), tujuan penelitian sosiologi sastra adalah

untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang hubungan

timbal balik antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat. Pandangan sosial

sastrawan harus dipertimbangkan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin

mayarakat.

3. Hakikat Teori Budaya

a. Pengertian Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama

(42)

commit to user

terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat

istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,

sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia

sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada

budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya

itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,

abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.

Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial

manusia. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang

koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya

meramalkan perilaku orang lain (2011).

b. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, dari bentuk jamak kata

buddhi yang berarti budi dan akal. Ada pengertian lain mengenai asal dari kata

kebudayaan yaitu suatu perkembangan dari majemuk budidaya, artinya daya dari

budi, kekuatan dari akal. Jadi, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya

manusia yang dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan

karyanya itu (Koentjaraningrat, 2000:9). “Kebudayaan didefinisikan sebagai

keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya

(43)

commit to user

menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan

merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan

strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai

oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi

lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan

tindakan-tindakannya.”

Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan

manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan

menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi

tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu

masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada

anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui

proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam

bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan

yang dibuat oleh manusia).

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan

merupakan keseluruhan dari pemikiran yang dihasilkan dan dikembangkan oleh

manusia sebagai daya dan usaha untuk menghasilkan karya.

c. Wujud Kebudayaan

Kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu, (1) wujud idiil, (2) wujud

kelakuan, (3), dan wujud fisik. Wujud pertama adalah wujud idiil dari

(44)

commit to user

pikiran. Suatu contoh yaitu sebuah karangan dari buku-buku hasil karya para

penulis, atau bisa disimpan pada sebuag arsip, tape, koleksi microfilm, dan

microfis. Fungsi dari kebudayaan idiil biasanya sebagai tata kelakuan perbuatan

manusia dalam masyarakat.

Wujud kedua dari kebudayaan adalah wujud kelakuan atau sering disebut

sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas manusia-manusia yang

berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain berdasar waktu

serta mengikuti pola-pola tertentu sesuai dengan adat tata kelakuan. Sebagai

rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu

bersifat kongkret terjadi di sekeliling masyarakat yang bisa diobservasi, difoto,

dan didokumentasikan.

Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Wujud ini

merupakan seluruh total hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia

dalam masyarakat. Bersifat konkret, berupa benda-benda yang besar dan bergerak

seperti perahu tangki minyak, candi atau hingga pada benda kecil sekalipun

seperti kain batik.

d.Komponen Kebudayaan

Terdapat empat komponen dalam kebudayaan, antara lain sebagai berikut.

1) Sistem Budaya

Sistem budaya atau cultural system merupakan komponen yang

abstrak dari kebudayaan, terdiri dari pikiran-pikiran, gagasan-gagasan,

(45)

commit to user

demikian, sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan, yang sering

disebut dengan adat istiadat. Dalam adat istiadat, terdapat sistem nilai

budaya, sistem norma berdasar pranata-pranata dalam masyarakat yang

bersangkutan. Fungsi dari sistem budaya adalah menata dan memantapkan

tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia

2) Sistem Sosial

Sistem sosial atau social system, terdiri dari aktivitas-aktivitas

manusia atau tindakan-tindakan dan tingkah laku berinteraksi antar

individu dalam kehidupan masyarakat. Interaksi manusia itu di satu pihak

ditata dan diatur oleh sistem budaya, tetapi di pihak lain dibudayakan

menjadi pranata-pranata oleh nilai-nilai dan norma-norma tersebut.

3) Sistem Kepribadian

Sistem kepribadian atau personality system, mengenai soal isi jiwa

dan watak individu yang berinteraksi sebagai warga masyarakat.

Kepribadian individu dalam suatu masyarakat meskipun berbeda-beda,

tetapi dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem

budaya dan oleh pola-pola bertindak dalam sistem sosial yang telah

diinternalisasinya melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan

selama hidup mulai sejak kecil. Dengan demikian, sistem kepribadian

manusia berfungsi sebagai sumber motivasi dari tindakan sosialnya.

4) Sistem Organik

Sistem organik atau organic system, melengkapi seluruh kerangka

(46)

commit to user

dalam organisme manusia sebagai suatu jenis makhluk alamiah yang

apabila dipikirkan lebih mendalam, dapat menentukan kepribadian

individu, pola-pola tindakan manusia, dan bahkan gagasan-gagasan yang

dicetuskannya.

Dalam sistem budaya, Parsons membaginya menjadi empat kelompok

lambang sebagai berikut.

1) Lambang Konstitusi

Lambang yang mengacu pada hal-hal yang bertalian dengan

kepercayaan manusia akan adanya kekuatan di luar dan di atas dirinya

yang mengatur dan menentukan hidup serta kehidupan. Dalam

perkembangannya, lambang ini kemudian menjadi berbagai kepercayaan

seperti agama, kemudian dikaitkan dengan keburukan dan penderitaan,

keterbatasan hidup manusia dan sebagainya.

2) Lambang Kognisi

Simbol yang dihasilkan manusia dalam uapayanya memperoleh

pengetahuan dan pengertian tentang kenyataan yang ada dalam alam

semesta, sehingga kenyataan-kenyataan yang ditemui di sekeliling

manusia akan dapat dimengerti dengan lebih baik.

3) Lambang Evaluasi

Lambang ini bertalian dengan nilai-nilai baik buruk, benar salah,

pantas tidak pantas, dan sebagainya sesuai dengan pertimbangan

(47)

commit to user

4) Lambang Ekspresi

Lambang yang dikaitkan dengan segala ungkapan beraneka macam

perasaan dan emosi manusia. Rasa hormat, kasih sayang, benci, kecewa,

iri, rasa terima kasih, dan sebagainya.

4. Hakikat Kebudayaan Melayu

a. Sejarah Kebudayaan Melayu

Sejarah kebudayaan Melayu mencakup dimensi dan wilayah geografis

yang luas, dengan rentang masa yang panjang. Secara geografis, kawasan tersebut

mencakup Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Thailand Selatan.

Pada abad ke-7 M, orang Melayu bermigrasi dalam jumlah besar ke Madagaskar,

sebuah pulau di benua Afrika. Sejak saat itu, kebudayaan Melayu juga

berkembang di Madagaskar. Bahasa orang-orang keturunan Melayu di pulau ini

banyak memiliki persamaan dengan bahasa Dayak Maanyan di Kalimantan.

Ketika Syeikh Yusuf Tajul Khalwati diasingkan kolonial Belanda ke Tanjung

Harapan (Afrika Selatan), ia bersama pengikutnya mengembangkan agama Islam

dan budaya Melayu. Sejak saat itu, kebudayaan Melayu berkembang pula di

Afrika Selatan.

Sepanjang perjalanan sejarahnya, banyak kerajaan yang telah berdiri di

kawasan Melayu ini, yang tertua adalah Koying di Jambi (abad ke-3 M) dan Kutai

di Kalimantan (abad ke-4 M). Tidak menutup kemungkinan, masih ada kerajaan

(48)

commit to user

dan Kutai, kerajaan Melayu lainnya muncul dan tenggelam silih berganti. Di

antara kerajaan-kerajaan tersebut, ada yang hanya seluas kampung atau distrik

kecil, tetapi ada pula yang berhasil menjadi imperium, seperti Sriwijaya di

Sumatera, Indonesia. Secara kronologis, sebagian kerajaan tersebut adalah Melayu

Kuno (abad ke-6 M), Sriwijaya (abad ke-7 M) dan Minangkabau (abad ke-7 M),

semuanya di Indonesia; Brunei di Brunei Darussalam (abad ke-7 M); Pattani di

Thailand (abad ke-11 M); Ternate (abad ke-13 M), Pasai (abad ke-13 M) dan

Indragiri (abad ke-13 M), semuanya di Indonesia; Tumasik di Singapura (abad

14 M); Malaka di Malaysia (abad 14 M); Pelalawan di Indonesia (abad

ke-14 M); Riau-Johor di Semenanjung Melayu (abad ke-16 M); Merina di

Madagaskar (abad ke-17 M); Siak Sri Indrapura (abad ke-18 M), Riau-Lingga

(abad ke-18 M) dan Serdang (abad ke-18 M), ketiganya di Indonesia.

Kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di kawasan Melayu ini selalu

menjalin relasi dengan kerajaan lain yang berdiri saat itu, terutama dengan dua

kekuatan besar Asia: Cina dan India. Oleh sebab itu, kerajaan-kerajaan tersebut

banyak terdapat dalam catatan Cina, seperti catatan K‘ang-tai dan Wan-chen dari

dinasti Wu (222-280 M) yang menceritakan tentang keberadaan kerajaan Koying

di Sumatera. Selain Koying, keberadaan Sriwijaya juga banyak terdapat dalam

catatan Cina. Menurut Ibnu Khaldun, kebudayaan yang besar dan kuat akan selalu

memengaruhi kebudayaan yang lebih lemah. Dalam konteks ini, salah satu

implikasi dari adanya relasi dengan kebudayaan besar adalah masuknya dua

agama besar dari India dan Cina: Hindu dan Buddha. Maka, hampir semua

(49)

commit to user

agama besar ini. Seiring dengan masuknya agama Hindu-Buddha, maka

berkembang pula kebudayaan yang menyertai agama ini. Orang-orang Melayu

mulai mengenal huruf dan bahasa. Dari prasasti yang ditemukan, huruf yang

banyak dipakai adalah Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Namun, ada juga yang

menggunakan bahasa Melayu kuno.

Selain Cina dan India, orang-orang Melayu juga memiliki relasi dagang

yang baik dengan para pedagang Arab. Dengan perdagangan yang semakin intens,

maka akhirnya Islam juga masuk dan menyebar di kawasan Melayu. Seiring

dengan itu, huruf dan bahasa Arab juga berkembang. Berkat kreativitas orang

Melayu, mereka kemudian memodifikasi huruf Arab menjadi huruf Arab Melayu

(Jawi). Manuskrip-manuskrip Melayu yang ada saat ini sebagian besar ditulis

dalam huruf dan bahasa Arab ini, tetapi banyak juga yang berbahasa Melayu

lokal. Saat ini, pengaruh dari berbagai kekuatan budaya yang pernah menjalin

relasi dengan kerajaan Melayu tampak jelas dalam kebudayaan Melayu, terutama

dalam bahasa.

Pada abad ke-16 M, kolonial Eropa (Inggris, Spanyol, Portugis, Perancis

dan Belanda) masuk ke kawasan Melayu. Dalam perkembangannya, hampir

seluruh kawasan ini tunduk pada kekuatan kolonial tersebut, bahkan banyak yang

runtuh, seperti Malaka di Malaysia. Singkat kata, Kerajaan Melayu memang

telah runtuh, tetapi kebudayaannya tidak akan musnah (sebagaimana dikatakan

Hang Tuah, “Tak kan Melayu hilang di dunia”). Kebudayaan Melayu selalu ada

(50)

commit to user

Minat dan perhatian kita terhadap budaya ini, sebenarnya refleksi dan bukti dari

masih kuatnya ruh budaya Melayu tersebut dalam jiwa para pendukungnya.

b. Kebudayaan Melayu pada Saat Novel Ditulis

Muncul, berkembang, dan redupnya suatu kebudayaan sangat tergantung

pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan sikap

pendu-kung kebudayaan itu sendiri; sementara faktor eksternal berhubungan dengan

penetrasi kebudayaan luar. Penetrasi kebudayaan luar merupakan konsekuensi

logis dari pilihan untuk membuka relasi dengan kebudayaan lain. Namun,

pengaruh dari penetrasi tersebut akan sangat tergantung pada pola respons

pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Dalam kerangka pemikiran di atas,

maka, redup atau berkembangnya kebudayaan Melayu akan sangat tergantung

pada orang Melayu, dalam mengembangkan kebudayaannya sendiri dan

merespons penetrasi kebudayaan asing. Gambaran yang paling nyata saat ini

adalah hegemoni negara-negara barat terhadap dunia Melayu, yang telah

membawa implikasi-implikasi tersendiri terhadap kehidupan orang-orang Melayu.

5. Hakikat Transformasi Budaya

Terjadinya suatu proses transformasi budaya telah diawali oleh para

pendiri negara ini dengan menyatakan tekad untuk mencerdaskan kehidupan

bangsa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencerdaskan

kehidupan bangsa bermakna membawa bangsa Indonesia menuju masyarakat

modern. Burhan Nurgiyantoro (2007:18) mengemukakan bahwa transformasi

(51)

commit to user

adalah budaya, budaya itulah yang mengalami perubahan. Cikal bakal dari

persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah

Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian W.Pye, 1966, 2010: 30).

Perubahan akan terjadi apabila budaya tersebut masuk ke dalam kondisi

atau lingkungan yang lain, atau muncul dalam kondisi dan lingkungan yang

berbeda. Dengan demikian terjadinya transformasi mensyaratkan adanya

pemunculan budaya tersebut ke dalam kondisi dan atau lingkungan yang lain.

Oleh karena itu, jika terdapat transformasi folkor dalam karya prosa fiksi

Indonesia modern, teks kesastraan yang dihasilkan dapat dipandang sebagai

karya yang baru. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain, yang

mungkin berupa konvesi, bentuk-bentuk formal tertentu, atau gagasan yang

masih dapat dikenali (Rachmat Djoko Pradopo, 2002:179). Usaha

pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan

antarteks-teks tersebut.

Transformasi budaya di Indonesia telah berlangsung atas tiga tahap, antara

lain sebagai berikut.

a. Dari kebudayaan Jawa primitif ke arah terbentuknya format kebudayaan

Jawa-Hindu-Buddha.

b. Kebudayaan Jawa-Hindu-Buddha ke arah format terbentuknya kebudayaan

Jawa-Hindu-Islam (kebudayaan “lokal”).

c. Bertemunya kebudayaan “lokal" dengan kebudayaan Kolonial (Portugis,

Inggris, dan Belanda) mengalami perbedaan karakteristik. Baru pada akhir

(52)

commit to user

oleh lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, dan pelbagai pergolakan politik

modern.

Transformasi budaya secara teoretis diartikan sebagai suatu proses

‘dialog” yang terus-menerus antara kebudayaan “lokal” dengan kebudayaan

“donor”, sampai tahap tertentu membentuk proses “sintesa” dengan pelbagai

wujud yang akan melahirkan “format akhir” budaya yang mantap. Dalam proses

“dialog”, “sintesa” dan pembentukan “format akhir” tersebut didahului oleh

proses inkulturasi dan akulturasi.

“Dialog” yang terjadi pada akhir abad ke-19 membangun perubahan

sistem nilai dalam pelbagai bidang kehidupan, baik politik, pola pikir, ekonomi,

gaya hidup, pendidikan hingga kebiasaan (adat). Dengan demikian, adanya

pergeseran nilai estetik yang dapat dijadikan indikasi adanya proses transformasi

budaya Indonesia secara keseluruhan.

Transformasi budaya dipengaruhi dengan adanya proses perubahan

budaya. Menurut (Tjetjep Rohendi, 1994:37) terdapat beberapa faktor yang

menyebabkan terjadinya proses perubahan sosial dan budaya. Faktor-faktor

tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kontak dengan Budaya Lain

Kontak dengan kebudayaan lain berarti melakukan interaksi sosial dengan

kebudayaan lain. Dalam proses interaksi itulah seorang individu akan melakukan

proses imitasi dengan kebudayaan yang baru yang ia hadapi. Salah satu segi

(53)

commit to user

nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin akan mengakibatkan

terjadinya hal-hal negatif, biasanya hal yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang

menyimpang. Kontak sosial ada yang bersifat positif yang dapat mengarahkan

pada suatu kerja sama, sedangkan kontak yang bersifat negatif dapat mengarahkan

seseorang pada suatu pertentangan bahkan tidak terjadinya interaksi sosial.

b. Sistem Pendidikan yang Maju

Proses pengalihan kebudayaan sebagai model-model, pengeta

Gambar

gambaran kehidupan yang ada di dalamnya dapat dicari dalam realita kehidupan
Gambar 1. Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait