BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN,
A. Kajian Teori
5. Hakikat Transformasi Budaya
Terjadinya suatu proses transformasi budaya telah diawali oleh para pendiri negara ini dengan menyatakan tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa bermakna membawa bangsa Indonesia menuju masyarakat modern. Burhan Nurgiyantoro (2007:18) mengemukakan bahwa transformasi adalah perubahan terhadap suatu hal atau keadaan. Jika suatu hal atau keadaan itu
commit to user
adalah budaya, budaya itulah yang mengalami perubahan. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian W.Pye, 1966, 2010: 30).
Perubahan akan terjadi apabila budaya tersebut masuk ke dalam kondisi atau lingkungan yang lain, atau muncul dalam kondisi dan lingkungan yang berbeda. Dengan demikian terjadinya transformasi mensyaratkan adanya pemunculan budaya tersebut ke dalam kondisi dan atau lingkungan yang lain. Oleh karena itu, jika terdapat transformasi folkor dalam karya prosa fiksi Indonesia modern, teks kesastraan yang dihasilkan dapat dipandang sebagai karya yang baru. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain, yang mungkin berupa konvesi, bentuk-bentuk formal tertentu, atau gagasan yang masih dapat dikenali (Rachmat Djoko Pradopo, 2002:179). Usaha pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan antarteks-teks tersebut.
Transformasi budaya di Indonesia telah berlangsung atas tiga tahap, antara lain sebagai berikut.
a. Dari kebudayaan Jawa primitif ke arah terbentuknya format kebudayaan Jawa-
Hindu-Buddha.
b. Kebudayaan Jawa-Hindu-Buddha ke arah format terbentuknya kebudayaan
Jawa-Hindu-Islam (kebudayaan “lokal”).
c. Bertemunya kebudayaan “lokal" dengan kebudayaan Kolonial (Portugis,
Inggris, dan Belanda) mengalami perbedaan karakteristik. Baru pada akhir abad ke-19 mulai terjadi “dialog” antara dua kebudayaan itu yang ditandai
commit to user
oleh lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, dan pelbagai pergolakan politik modern.
Transformasi budaya secara teoretis diartikan sebagai suatu proses ‘dialog” yang terus-menerus antara kebudayaan “lokal” dengan kebudayaan “donor”, sampai tahap tertentu membentuk proses “sintesa” dengan pelbagai wujud yang akan melahirkan “format akhir” budaya yang mantap. Dalam proses “dialog”, “sintesa” dan pembentukan “format akhir” tersebut didahului oleh proses inkulturasi dan akulturasi.
“Dialog” yang terjadi pada akhir abad ke-19 membangun perubahan sistem nilai dalam pelbagai bidang kehidupan, baik politik, pola pikir, ekonomi, gaya hidup, pendidikan hingga kebiasaan (adat). Dengan demikian, adanya pergeseran nilai estetik yang dapat dijadikan indikasi adanya proses transformasi budaya Indonesia secara keseluruhan.
Transformasi budaya dipengaruhi dengan adanya proses perubahan budaya. Menurut (Tjetjep Rohendi, 1994:37) terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya proses perubahan sosial dan budaya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kontak dengan Budaya Lain
Kontak dengan kebudayaan lain berarti melakukan interaksi sosial dengan kebudayaan lain. Dalam proses interaksi itulah seorang individu akan melakukan proses imitasi dengan kebudayaan yang baru yang ia hadapi. Salah satu segi positif dari proses imitasi adalah dapat mendorong seseorang untuk mematuhi
commit to user
nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya hal-hal negatif, biasanya hal yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Kontak sosial ada yang bersifat positif yang dapat mengarahkan pada suatu kerja sama, sedangkan kontak yang bersifat negatif dapat mengarahkan seseorang pada suatu pertentangan bahkan tidak terjadinya interaksi sosial.
b. Sistem Pendidikan yang Maju
Proses pengalihan kebudayaan sebagai model-model, pengetahuan, nilai- nilai, dan kepercayaan senantiasa terjadi melalui proses pendidikan. Dengan demikian, pendidikan mempunyai arti sebagai proses pengembangan kebudayaan yang dikaitkan dengan dinamika perubahan masyarakat dan kebudayaannya. Pendidikan juga membawa nilai pembaruan kebudayaan suatu proses yang bersifat kreatif.
c. Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan Keinginan-Keinginan
untuk Maju
Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju dapat mendorong terjadinya suatu perubahan budaya. Hal itu terlihat ketika kali pertama diciptakan sebuah sepeda. Sebelum diciptakannya sebuah sepeda, sebuah alat yang bisa mempercepat dan memberi kenyamanan di saat bepergian, orang mulai menghargai ciptaan tersebut. Bagi orang yang berkeinginan untuk maju akan mencoba menggunakan sepeda jika bepergian. Akan tetapi, jika orang tidak ada keinginan-keinginan untuk maju, maka tidak akan mengubah budayanya. Orang tersebut akan berjalan kaki jika bepergian.
commit to user
d. Toleransi terhadap Perbuatan-Perbuatan Menyimpang
Budaya Barat yang mulai masuk ke dalam budaya Indonesia sudah tidak bisa dihindari. Media elektronik dan massa, membantu ekspansi dari kebudayaan
tersebut. Suatu contoh, dalam sebuah acara pernikahan di gedung dengan standing
party, tamu undangan menyantap makanan dengan berdiri. Padahal dalam budaya Indonesia, hal tersebut telah melanggar norma kesopanan. Dengan demikian, perbuatan itu merupakan suatu perwujudan toleransi terhadap perbuatan yang menyimpang.
e. Sistem Lapisan-Lapisan Masyarakat yang Terbuka
Sistem lapisan masyarakat yang terbuka bisa mendorong sebuah perubahan budaya. Hal itu dikarenakan masyarakat pada lapisan bawah bisa berinteraksi bebas dan saling memengaruhi dengan lapisan masyarakat lapisan atas. Jadi, masyarakat lapisan bawah bisa melakukan imitasi kebudayaan masyarakat lapisan atas.
f. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan
Tertentu
Pada masyarakat di sekitar pesisir pantai, mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Sistem mata pencaharian mereka itu didasarkan pada letak geografis mereka yang dekat dengan laut. Akan tetapi, selaras berjalannya waktu, dari mereka pasti ada yang tidak puas dengan kehidupan mencari ikan di laut, akhirnya banyak dari mereka yang beralih profesi untuk menjadi karyawan, pedagang, atau beralih mata pencaharian yang lain.
commit to user
g. Orientasi ke Masa Depan
Sikap manusia yang mempunyai orientasi ke masa depan, mendorong suatu perubahan sosial dan budaya. Hal itu terlihat pada mulai lunturnya budaya “banyak anak banyak rejeki”. Akan tetapi, bagi orang yang memiliki orientasi ke masa depan justru akan beranggapan bahwa banyak anak akan merepotkan dalam mengatur perekonomian. Biaya sekolah semakin bertambah tiap tahunnya, belum juga diringi dengan bertambahnya biaya hidup.
h. Nilai Meningkatkan Taraf Hidup
Nilai meningkatkan taraf hidup dapat mendorong suatu perubahan budaya. Menurut Louis Leahy (dalam Johanes Mardimin, 1994: 15-17), bahwa untuk memberikan gambaran pentingnya transformasi budaya, terlebih dahulu melihat kondisi masyarakat kita sekarang ini. Dalam proses transformasi budaya ada tiga hal yang penting, yakni bidang religi, ekonomi, dan pendidikan. Ketiga bidang ini dipilih karena dipandang mempunyai pengaruh yang sangat dominan dalam proses transformasi budaya secara menyeluruh. Ketiga bidang tersebut, antara lain sebagai berikut.
1) Transformasi dalam Bidang Religi
Transformasi dalam bidang religi hendaknya tidak dititikberatkan pada rasionalisasi terhadap dogma-dogma agama, tetapi pada penghapusan takhayul-takhayul yang masuk di dalamnya sebagai akibat sinkretisasi di masa lampau. Sebab, tidak semua agama dapat dijelaskan secara rasional. Agama menyingkapkan fakta yang tidak dapat diterangkan secara rasional.
commit to user
2) Transformasi dalam Bidang Ekonomi
Bahwa budaya lokal berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi sudah dikemukakan oleh banyak ahli dalam berbagai disiplin. Akan tetapi, nilai-nilai budaya berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi global setelah beberapa ahli bergabung dalam sebuah seminar internasional yang
diselenggarakan di Harvard Academy for International and Area Studies,
Amerika Serikat, pada musim panas tahun 1998 (Harison, 2000: 14). Beberapa persoalan utama yang dihadapi kelembagaan ekonomi tradisional di pedesaan adalah kemampuan yang lemah dalam menggalang jaringan kerjasama dengan kelembagaan modern, rendahnya kapasitas internal untuk dapat bersaing di bidang ekonomi, dan menghadapi tekanan
dari luar (di bidang gaya hidup, ekonomi, politik, social dignity dan
budaya kota dan manca negara). Bagaimana mengubah seluruh pelaku sosial, baik secara individual maupun (terutama) kolektif, menjadi pelaku ekonomi atau makhluk produktif merupakan tantangan besar dalam memajukan perekonomian rakyat dan masyarakat pedesaan. Dalam kaitan ini memercepat proses transformasi kelembagaan tradisional harus dipandang sebagai instrument strategis untuk mencapai hal tersebut (Hayami, 1987: 202).
3) Transformasi dalam Bidang Pendidikan
Pendidikan di Indonesia tahap demi tahap telah melakukan perubahan- perubahan, yang meliputi perubahan struktural, isi, peran guru, kegiatan-
commit to user
kegiatan baru, dan perubahan pengelolaan sistem pendidikan. Perubahan struktural antara lain menyangkut perubahan jenjang dan penerapan kewajiban belajar pada tahap pendidikan tertentu. Karena cepatnya perkembangan ilmu, bertimbunnya informasi baru yang tumbuh secara eksponensial yang sering membuat bidang studi kedaluwarsa menyebabkan perubahan isi. Berkaitan dengan perubahan isi, terjadi pula perubahan proses belajar mengajar yang pada gilirannya juga mengubah peranan guru dan penempatan tanggung jawab kepada murid. Pendidikan, yang semula ditekankan pada aspek ingatan, diubah untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan pengamatan, analisis, dan penalaran. Permasalahan dalam belajar bukan lagi menguasai informasi yang telah didokumentasikan, melainkan bagaimana mencari informasi tersebut dengan teknik-teknik yang mutakhir.
Konsep belajar yang berjalan terus-menerus telah menggeser konsep pendidikan dari konsep sekolah menjadi konsep belajar. Sehubungan dengan perubahan-perubahan itu pula, pengelolaan sistem pendidikan pun perlu disesuaikan. Pendidikan harus dirancang sedemikian rupa untuk mengantisipasi masa depan.