• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi ke-23 Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung, Oktober 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi ke-23 Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung, Oktober 2020"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

658

KAJIAN PENERAPAN RUANG HENTI KHUSUS SEPEDA MOTOR DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN DI

SIMPANG BERSINYAL DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI VISSIM

(STUDI KOTA PALANGKARAYA)

Muhamad Kusuma Pradana Taruna DIV Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan

Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Jl. Semeru No. 3, Slerok, Kec.

Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, 52125

[email protected]

Dr. Siti Maimunah, S.Si, M.S.E., M.A

Dosen DIV Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan

Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Jl. Semeru No. 3, Slerok, Kec.

Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, 52125

[email protected]

Nugroho Suadi, ATD, MT Dosen DIV Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan

Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Jl. Semeru No. 3, Slerok, Kec.

Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, 52125

[email protected]

Abstract

Specially Stop Space at signaled intersections are used by motorbike users to wait for intersection during the traffic light phase. This study aims to determine the Specially Stop Space for motorbikes that are suitable for intersection of Jalan Tjilik Riwut Utara and Jalan Tjilik Riwut Selatan, Palangkaraya City by conducting simulation trials on Vissim software. Based on results of analysis, the Specially Stop Space at intersection of Tjilik Riwut Utara Road and Tjilik Riwut Selatan Road using Vissim software can improve the performance intersection with a decrease in queue length on Jalan Tjilik Riwut Utara which can reduce queuing lengths by 13.6 meters and delays of 1.1 seconds. Tjilik Riwut Selatan Road is able to reduce the queue length by 21.4 meters and a delay of 11.6 seconds. Antang Road is able to reduce the queue length by 9.9 meters and a delay of 1.1 seconds.

Keywords: intersection, motor cycle, safety, specially stop space, vissim

Abstrak

Ruang Henti Khusus Sepeda Motor adalah ruang pada simpang bersinyal yang digunakan oleh pengguna sepeda motor untuk menunggu dipersimpangan saat fase lampu lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Ruang Henti Khusus Sepeda Motor yang sesuai untuk pendekat simpang Jalan Tjilik Riwut Utara dan Jalan Tjilik Riwut Selatan Kota Palangkaraya dengan melakukan uji coba simulasi pada software Vissim, serta mengetahui konflik lalu lintas sebelum dan sesudah uji coba Ruang Henti Khusus Sepeda Motor tersebut.

Berdasarkan hasil analisis, Ruang Henti Khusus pada simpang Jalan Tjilik Riwut Utara dan Jalan Tjilik Riwut Selatan menggunakan software Vissim dapat meningkatkan kinerja simpang dengan adanya penurunan panjang antrian pada Jalan Tjilik Riwut Utara mampu menurunkan panjang antrian sebesar 13,6 meter dan tundaan sebesar 1,1detik. Jalan Tjilik Riwut Selatan mampu menurunkan panjang antrian sebesar 21,4 meter dan tundaan sebesar 11,6 detik. Jalan Antang mampu menurunkan panjang antrian sebesar 9,9 meter dan tundaan sebesar 1,1 detik.

Kata Kunci: keselamatan, ruang henti khusus, sepeda motor, simpang, vissim

(2)

659

PENDAHULUAN

Simpang dapat didefinisikan sebagai daerah umum dimana dua jalan atau lebih bergabung atau bersimpangan, termasuk jalan dan fasilitas tepi jalan untuk pergerakan lalu lintas di dalamnya, persimpangan dibuat dengan tujuan untuk mengurangi potensi konflik diantara kendaraan (termasuk pejalan kaki) dan sekaligus menyediakan kenyamanan maksimum dan kemudahan pergerakan bagi kendaraan (Khisty. C.J dan Kent L.B, 2003).

Berdasarkan data statistik kecelakaan nasional yang dikeluarkan oleh Kepolisisan Republik Indonesia (2009), menggambarkan dari total kecelakaan pada tahun 2008 adalah sebanyak 130.062 kecelakaan, sekitar 75% yakni sebanyak 95.209 kecelakaan diantaranya melibatkan sepeda motor. Sedangkan, pada tahun 2014 tercatat sebesar 152.130 kejadian kecelakaan dimana sekitar 72% diantaranya yakni melibatkan sepeda motor atau sebanyak 108.883 kecelakaan.

Pertumbuhan populasi sepeda motor ini telah membawa sejumlah fenomena menarik terhadap lalu lintas hampir di setiap ruas-ruas jalan, khususnya ruas-ruas jalan perkotaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan mengenai sepeda motor pada kurun waktu 2007-2012 menunjukkan komposisi sepeda motor rata-rata dalam lalu lintas berada pada kisaran 60-75%. Kepemilikan sepeda motor meningkat dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan jumlah sepeda motor mencapai 19% hingga 37% setiap tahunnya dan pada tahun 2011 populasi sepeda motor mencapai 67,83 juta unit (AISI, 2012). Berdasarkan data dari Korlantas POLRI pertanggal 1 januai 2018 jumlah kendaraan yang terdaftar di Indonesia mencapai 111,56 juta unit. Dari angka tersebut sepeda motor mendominasi jumlahnya yaitu sebesar 82% atau berkisar 91,1 juta unit. Dari data 4 tahun terjadinya kecelakaan, sepeda motor merupakan kendaraan yang sering terlibat dalam kejadian kecelakaan yaitu sebanyak 262 kendaraan dikarenakan sepeda motor merupakan kendaraan yang paling banyak melintas di sepanjang ruas jalan Tjilik Riwut.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dilakukan rekayasa lalu lintas dengan cara memberikan Ruang Henti Khusus (RHK) untuk sepeda motor. Hal ini dilakukan untuk memisahkan sepeda motor dengan kendaraan lain sehingga diharapkan hambatan dan konflik yang timbul dapat berkurang. Beberapa kota di Indonesia telah mengimplementasikan Ruang Henti Khusus (RHK) sepeda motor. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amaliyah (2017), penerapan RHK sepeda motor menyebabkan terjadinya penurunan konflik lalu lintas baik dari jumlah maupun tingkat keseriusan dan meningkatkan pelepasan arus lalu lintas. Hal ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Idris (2009) terkait penerapan ruang henti khusus sepeda motor yang berpengaruh terhadap penurunan tingkat konflik dan tingkat keparahan konflik. Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Yuniar dkk. (2016), penerapan RHK dapat memperbanyak volume kendaraan yang lepas saat fase hijau dan mengurangi panjang antrian.

Ruang Henti Khusus berfungsi untuk membantu sepeda motor langsung ke persimpangan dengan mudah dan aman yang memungkinkan sepeda motor dapat bergerak lebih dahulu dari kendaraan roda empat dan membuat persimpangan bersih lebih dahulu, dan untuk menertibkan sepeda motor yang berhenti di lampu merah. Selain tersusun rapi, dengan adanya ruang henti khusus sepeda motor ini juga dapat meminimalisir resiko kecelakaan

(3)

660

akibat dari penyerobotan jalan dari masing-masing persimpangan dan dari penurunan resiko kecelakaan secara otomatis meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Berdasarkan Penjelasan yang telah diuraikan tersebut, maka ditemukan beberapa rumusan masalah yaitu, (a) Bagaimana kondisi eksisting kinerja simpang Tjilik Riwut-Antang dilihat dari panjang antrian dan waktu tundaan. (b) Bagaimana desain Ruang Henti Khusus sepeda motor yang sesuai untuk simpang Tjilik Riwut-Antang. (c) Bagaimana Kondisi kinerja simpang setelah diterapkan Ruang Henti Khusus sepeda motor dilihat dari panjang antrian dan waktu tundaan.

TINJAUAN PUSTAKA

Persimpangan

Persimpangan adalah pertemuan atau percabangan jalan, baik sebidang atau tidak sebidang.

Termasuk dalam dalam pengertian simpang adalah simpang tiga, simpang empat, simpang lima, simpang bentuk bundaran, dan simpang tidak sebidang, namun tidak termasuk persilangan sebidang dengan rel kereta api. (PP nomor 43 tahun 1993). Menurut Abubakar, dkk (1998), menyatakan bahwa persimpangan adalah simpul pada jaringan jalan bertemu dan lintasan kendaraan berpotongan. Persimpangan merupakan tempat yang rawan terhadap kecelakaan karena terjadinya konflik. Secara umum terdapat tiga jenis persimpangan, yaitu persimpangan sebidang, pembagian jalur jalan tanpa ramp (pemisah jalur masuk dan keluar), dan interchange (simpang susun). Tujuan dari pembuatan simpang adalah mengurangi potensi konflik diantara pengguna jalan (baik pengguna kendaraan bermotor, pengguna kendaraan tidak bermotor dan pejalan kaki) dan sekaligus menyediakan kenyamanan maksimum dan kemudahan pergerakan bagi kendaraan. Berikut ini adalah empat elemen dasar yang umumnya dipertimbangkan dalam merancang persimpangan sebidang:

1. Faktor manusia, seperti kebiasaan mengemudi dan waktu pengambilan keputusan dan waktu reaksi.

2. Pertimbangan lalu lintas, seperti kapasitas dan pergerakan membelok, kecepatan kendaraan, dan ukuran serta penyebaran kendaraan.

3. Elemen-elemen fisik, seperti karakteristik dan penggunaan dua fasilitas yang saling berdampingan, jarak pandang dan fitur-fitur geometris.

4. Faktor ekonomi, seperti biaya dan manfaat (benefit and cost), dan konsumsi energi Pengaturan Simpang

Pengaturan simpang disusun berdasarkan kebutuhan arus dari tiap-tiap pendekat. Menurut Morlok (1988), jenis simpang berdasarkan cara pengaturannya dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu pengaturan simpang tak bersinyal dan pengaturan simpang bersinyal. Kinerja suatu persimpangan dapat dilihat dari beberapa parameter diantaranya tundaan per mobil yang dialami oleh arus yang melalui simpang, angka henti dan rasio kendaraan terhenti pada suatu sinyal, dan besarnya panjang antrian kendaraan dalam suatu pendekat. Dasar dari semua parameter tersebut adalah kapasitas dan arus lalu lintas yang melintas di persimpangan tersebut.

Ruang Henti Khusus

Ruang Henti Khusus (RHK) sepeda motor pada persimpangan (Idris, 2007) merupakan salah satu alternative pemecahan masalah penumpukan sepeda motor pada persimpangan

(4)

661

bersinyal. Penerapan Ruang Henti Khusus ini dikembangkan berdasarkan Advance Stop Lane (ASLs) yang diterapkan di Eropa. Persyaratan Geometri Persimpangan bersinyal yang memperkenankan penempatan Ruang Henti Khusus adalah memiliki minimum dua lajur pada pendekat simpang. Kedua pendekat tersebut bukan merupakan lajur belok kiri langsung dan lebar lajur pendekat simpang disyaratkan 3,5 meter. Secara umum ada 2 (dua) tipikal Ruang Henti Khusus (RHK), yaitu Ruang Henti Khusus tipe kotak dan Ruang Henti Khusus tipe P.

Gambar 1. Ruang Henti Khusus

Titik dan Tipikal Konflik

Menurut Idris (2007), berdasarkan teknik konflik yang dikembangkan oleh Baguley (1984) dan TRL (1987) terdapat 10 titik konflik yang terjadi pada simpang bersinyal saat fase merah menuju ke fase hijau yaitu konflik masuk arus secara langsung, konflik pindah lajur secara ttidak langsung dari kiri, konflik masuk arus secara tidak langsung dari kanan, konflik masuk arus secara langsung dari kanan, konflik lurus sama arah, konflik bersinggungan sama arah, konflik belok kanan-lurus, konflik lurus-belok kanan, konflik belok kanan sama arah, konflik putar sama arah.

Mikrosimulasi

Menurut Hormansyah, Sugiarto, dan Amalia (2017), mikrosimulasi adalah simulasi pergerakan kendaraan secara individu dalam pergerakan arus lalu lintas. Simulasi sistem transportasi saat ini banyak diminati karena kemudahannya dalam proses pergantian beberapa skenario dengan tetap melihat potensi yang dapat diimplementasikan di lapangan.

Salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan untuk simulasi secara mikroskopik adalah Vissim karena memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat memodelkan berbagai jenis kendaraan bermotor ataupun tidak bermotor.

VISSIM

Menurut PTV - AG (2011), Vissim menyediakan kemampuan animasi dengan perangkat tambahan besar dalam 3-D. Selain itu, klip video dapat direkam dalam program, dengan kemampuan untuk secara dinamis mengubah pandangan dan perspektif. Elemen visual lainnya, seperti pohon, bangunan, fasilitas transit dan rambu lalu lintas, dapat dimasukkan ke dalam animasi 3-D. Vissim juga merupakan alat bantu atau perangkat lunak simulasi lalu lintas untuk keperluan rekayasa lalu lintas, perencanaan transportasi, waktu sinyal, angkutan umum serta perencanaan kota yang bersifat mikroskopis dalam aliran lalu lintas multi–modal yang diterjemahkan secara visual. Berikut parameter prilaku pengguna jalan pada Vissim, dapat dilihat pada Tabel 1.

(5)

662 Tabel 1. Kalibrasi

Trial ke- Parameter yang diubah Nilai

Sebelum Sesudah Default 1. Desired position at free flow Middle of lane Middle of lane

2. Overtake on same lane left & on right Off Off 1 1. Desired position at free flow Middle of lane Any

2. Overtake on same lane left & on right Off On

2

1.Average standstill distance 2 0.5

2.Additive part of safety Distance 2 0.5

3.Multiplicative part safety distance 3 1

Sumber: Irawan 2015

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan penelitian developmental yang merupakan kegiatan uji coba lapangan penerapan Ruang henti Khusus Sepeda Motor pada simulasi Vissim dengan melalukan simulasi lalu lintas, sebelum diujikan perlu di validasi. Validasi berguna untuk mengetahui dan memperbaiki kesalahan yang ada pada media simulasi lalu lintas. Pada kondisi eksisting validasi meliputi volume lalu lintas, jumlah konflik lalu lintas, dan hasil kinerja simpang setelah dinyatakan layak maka penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor dapat diuji coba pada media simulasi lalu lintas pada Vissim untuk melihat hasil kinerja simpang dan konflik lalu lintas pada saat penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa Inventarisasi simpang, survei gerakan membelok, survey penumpukan sepeda motor di mulut simpang, survei kecepatan, survei jumlah fase dan waktu siklu apill, simulasi vissim.

Dan data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah peta jaringan jalan Kota Palangka Raya dan tata guna lahan Simpang Tjilik Riwut-Antang Kota Palangka Raya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Eksisting Simpang Jalan Tjilik Riwut Selatan Kota Palangkaraya

1. Inventarisasi Simpang

Simpang Jalan Tjilik Riwut-Antang memiliki 3 (tiga) kaki simpang yakni sebagai berikut:

a. Kaki Simpang Utara : Jalan Tjilik Riwut b. Kaki Simpang Selatan : Jalan Tjilik Riwut c. Kaki Simpang Barat : Jalan Antang

(6)

663

Pada persimpangan ini yang merupakan kaki simpang jalan minor adalah ruas Jalan Antang.

Sedangkan untuk jalan mayor adalah ruas Jalan Tjilik Riwut. Berikut ini merupakan keterangan rinci untuk tiap – tiap kaki simpang seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 2. Invetarisasi Simpang

Sumber: Hasil Analisis

Pemodelan Simulasi Persimpangan

Permodelan simulasi persimpangan dengan software Vissim dilakukan melalui input data yang sudah diolah. Data yang diinput dalam software Vissim diantaranya yakni volume kendaraan, distribusi kecepatan kendaraan, rute perjalanan, proporsi kendaraan yang sesuai dengan data observasi di lapangan.

Langkah–langkah permodelan simulasi persimpangan diawali dengan membuat network model yang disesuaikan dengan kondisi geometrik dan kondisi lalu lintas di lapangan.

Langkah selanjutnya yakni melakukan kalibrasi dan validasi dalam Vissim Penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor

Setelah pemodelan simulasi kondisi eksisting simpang dinyatakan valid, kemudian dilakukan analisis simulasi simpang yang dilengkapi dengan Ruang Henti Khusus sepeda motor.

Untuk langkah-langkah sama dengan kondisi eksiting yaitu pemodelan simulasi kendaraan diawali dengan membuat network model di software Vissim dengan ketentuan kondisi geometrik dan kondisi lalu lintas sesuai dengan data hasil observasi di lapangan, melakukan kalibrasi dan validasi dalam Vissim agar hasil simulasi dalam Vissim sesuai dengan kondisi yang di observasi di lapangan, dan yang terakhir adalah menghitung output kinerja simpang dan konflik lalu lintas. Berikut analisis desain Ruang henti Khusus pada Pendekat Utara dan Pendekat Selatan.

Pendekat Utara Barat Selatan

Tipe Lingkungan COM COM COM

Hambatan samping Sedang Sedang Sedang

Median Ada Tidak Ada Ada

Lebar Median 50 cm 0 50 cm

Belok kiri jalan terus Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada

Lebar Pendekat 10.5 m 3.4 m 10.5 m

Lebar pendekat masuk 10.5 m 3.3 m 10.5 m

Lebar pendekat LTOR 0 0 0

Lebar pendekat keluar 10.5 m 3.4 m 10.5 m

(7)

664

Tabel 3. Desain Area Ruang Henti Khusus Sepeda Motor pada Pendekat Utara dan Selatan

Uraian Keterangan

Proporsi lajur 33% : 35% : 32%

Kebutuhan Ruang Henti Khusus 3 lajur Rata-rata Penumpukan Sepeda Motor 46

Lebar Ruang Henti Khusus 3 x 3.5 meter

Panjang Utama Bagian Ruang Henti Khusus (m) 8 meter

Sumber: Perencanaan Teknis Ruang Henti Khusus

Efektivitas Penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor

Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan Vissim maka diperoleh perbandingan efektivitas penerapan ruang henti khusus sepeda motor. Berikut merupakan tabel perbandingan efektivitas penerapan ruang henti khusus sepeda motor pada simpang Tjilik Riwut-Antang.

Tabel 4. Perbandingan efektivitas penerapan RHK

Sumber: Hasil Analisis

KESIMPULAN

Kondisi eksisting tingkat pelayanan kinerja simpang di simpang Tjilik Riwut-Antang. Pada Kondisi eksisting kinerja simpang empat Jakarta Kota tegal pada

masing–masing pendekat simpang sebagai berikut :

1. Pada pendekat Utara siklus Alat PemberiIsyarat lalu lintas yaitu Hijau 28 detik, kuning 3 detik, merah 50 detik dihasilkan panjang antrian 33 meter dan tundaannya 27 detik/kendaraan dengan tingkat pelayanan C.

2. Pada pendekat Selatan siklus Alat Pemberi Isyarat lalu lintas yaitu Hijau 20 detik, kuning 3 detik, merah 58 detik dihasilkan panjang antrian 40 meter dan tundaannya 38,9 detik/kendaraan dengan tingkat pelayanan D.

C _ _

21 3 _

2 0 _

18,6 14,1 17,4

Simpang Rekomendasi

31,9 19,4

_ _

LOS C D D

Kinerja

32 36,5

D

Lane

Change 3 0 _

Konflik Lalu lintas

Rear End 23 11 _

27,3 42,5

Antrian 33 40 24

C C D

Simpang

Tundaan 27 38,9 43,6 25,9

Eksisting Kondisi Parameter Tjilik Riwut

Utara

Tjilik

Riwut Antang Tjilik Riwut Utara

Tjilik Riwut Selatan Antang

(8)

665

3. Pada pendekat Barat siklus Alat Pemberi Isyarat lalu lintas yaitu Hijau 15 detik, kuning 3 detik, merah 63 detik dihasilkan panjang antrian 24 meter dan tundaannya 43,6 detik/kendaraan dengan tingkat pelayanan D.

4. Untuk panjang antrian simpang sepanjang 32 meter dan tundaan 36,5 detik/kendaraan dengan tingkat pelayanan D

Desain Ruang Henti Khusus Sepeda Motor yang sesuai pada simpang Tjilik Riwut-Antang sebagai berikut :

1. Pendekat Utara

Ruang Henti Khusus = 3 lajur dengan lajur pendekat Lebar Ruang Henti Khusus = 3 x 3,5 m

Panjang Ruang Henti Khusus = 8 m 2. Pendekat Selatan

Ruang Henti Khusus = 3 lajur dengan lajur pendekat Lebar Ruang Henti Khusus = 3 x 3,5 m

Panjang Ruang Henti Khusus = 8 m

3. Pendekat Barat = Tidak dapat diterapkan Ruang Henti Khusus Sepeda motor

SARAN

Melihat keberhasilan penerapan ruang henti khusus di beberapa kota besar di Indonesia, beberapa saran dari studi ini antara lain:

1. Perlunya sosialisasi guna memberikan pemahaman tentang fungsi Ruang Henti Khusus, sehingga tercipta lingkungan jalan yang tertib dan lancar.

2. Perlunya pemantapan koordinasi antar instansi sehingga rancangan perubahan atau pengembangan tata ruang dapat menyertakan penataan dan peningkatan jaringan jalan sesuai dengan peraturan yang ada.

3. Perancangan ini masih memerlukan studi lanjutan untuk meningkatkan kinerja simpang seperti pengoptimalan waktu siklus yang sesuai karena hal ini tidak terlepas dari volume lalu lintas akibat pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua yang terus meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2009). Jakarta:

Pemerintah Indonesia.

Pemerintah Menteri Perhubungan Nomor 96 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Manajemen Rekayasa Lalu Lintas. (2015). Jakarta: Pemerintah Indonesia.Manual Kapasitas Jalan Indonesia . (1997). Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Surat Edaran Menteri PU Nomor 52/SE/M/2015 Tentang Pedoman Perancangan Ruang Henti Khusus (RHK) Sepeda Motor pada Simpang Bersinyal di Kawasan Perkotaan. (2015).

Jakarta: Pemerintah Indonesia.

Amaliah, A. F. (2017). Kajian Uji Coba Penggunaan Ruang Henti Khusus (RHK) Sepeda Motor Pada Simpang Empat Bersinyal Procot Kabupaten Tegal. Tegal: Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan.

Idris, M. (2009). Penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor Pada Persimpangan Bersinyal.

Bandung: Pusat Litbang Jalan dan Jembatan.

(9)

666

Irawan, Muhammad Zudhy, dan Nurjannah Haryanti Putri. (2015). Kalibrasi Vissim Untuk

Mikrosimulasi Arus Lalu Lintas Tercampur Pada Simpang Bersinyal. Indonesia: Jurnal Penelitian Transportasi Multimoda.

Khisty, J. d. (2003). Dasar-dasar Rekayasa Transportasi Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Margiani, S. Y. (2019). Penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor Melalui Mikrosimulasi Lalu Lintas Dengan Menggunakan Vissim. Simpang Jalan Kawi Kota Malang: Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan.

Morlok, E. K. (1988.). Pengantar Teknik Dan Perencanaan Transportasi. Jakarta:: Erlangga.

Peraturan Pemerintah Nomor . (1993). Prasarana dan lalu Lintas Jalan.

PTV Planing Transport Verkehr AG. (2014). PTV Vissim 7. Karlsruhe: PTV-AG.

Reska AyunYuniar M, d. (2016). Analisis Efektivitas Ruang Henti Khusus Sepeda Motor pada Simpang Bersinyal di Kota Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.

Roesdyningtyas, A. (2016). Kajian Rencana Penerapan Ruang Henti Khusus Sepeda Motor Di Persimpangan Bersinyal. Malang: Universitas Brawijaya.

Khisty, J. d. (2003). Fundamentals of Transportation Engineering Volume I.

Referensi

Dokumen terkait