• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

55

1. Pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon

Hasil survey menunjukkan bahwa pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon sudah menggunakan kurikulum 2013 (kurtilas), kurikulum tersebut merupakan kurikulum berbasis kompetensi, pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pada penilaian hasil belajar, penilaian didapat dari semua aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Pengambilan nilai siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga didapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap, dan lain-lain.

Waktu belajar di SMPN 7 Kota Cirebon di laksanakan pagi hari yaitu pukul 07:00 WIB dan selesai pada pukul 12:10 WIB, kecuali pada hari selasa yaitu selesai pada pukul 13:00 WIB dan hari jum’at pada pukul 11:00 WIB. Jumlah kelas di SMPN 7 Kota Cirebon yaitu 31 kelas. 12 kelas VII, 10 kelas VIII, dan 9 kelas IX. Sedangkan mata pelajaran IPS pada kelas VII terdapat 2 kali pertemuan atau 4 jam pelajaran, di mana setiap jamnya yaitu 40 menit, jadi total pertemuan setiap minggu yaitu 160 menit.

Pembelajaran yang diterapkan di SMPN 7 Kota Cirebon jika dilihat dari perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) masih seperti pada sekolah umumnya.

Selain itu guru sudah banyak menerapkan pembelajaran sesuai kurtilas, guru sudah menerapkan metode pembelajaran kreatif seperti diskusi. Sesuai dengan hasil observasi di dalam kelas mengenai proses pembelajaran IPS, antara rencana pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran sudah cukup selaras dengan rencana yang sudah

(2)

disusun. Ini terlihat saat proses pembelajaran IPS berlangsung, dimana sebelum memulai pembelajaran guru melakukan apersepsi yaitu dengan bernyanyi. Pada kegiatan inti, guru cenderung pasif dalam bergerak artinya siswa lebih aktif dalam pembelajaran, ini sesuai dengan pembeljaran yang diterapkan pada kurtilas. Di akhir pembelajaran guru memberikan konfirmasi maupun kesimpulan dari hasil pembelajaran yang tercapai. Terakhir pada tahap penutupan atau akhir, guru memberikan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa.

Karena evaluasi itu jelas sangat penting untuk dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para siswa, setelah siswa mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Ataupun untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu. Begitu pula dalam hal interaksi antara guru dengan siswa terlihat sangat baik, bahkan terlihat seperti teman. Hal ini saya temukan saat guru memberikan batas waktu tugas yang akan diselesaikan dimana keputusannya dirumbukan bersama antara guru dengan siswa tersebut dalam proses pembelajaran berlangsung.

Siswa di SMPN 7 Kota Cirebon sangat aktif dalam proses pembelajaran mulai dari bertanya, artinya segala sesuatu yang dia belum mengerti dipertanyakan. Selain itu, sifat ingin tahunya sangat tinggi mengenai apa saja pada mata pelajaran IPS. Namun keaktifannya tersebut tidak hanya dalam hal positif saja artinya ada sedikit keributan dalam pembelajaran berlangsung, entah itu dengan mengobrol, dan terlihat jelas keributan terjadi di saat guru keluar. Hal ini sebenarnya wajar untuk kalangan siswa SMP di manapun.

Sedangkan dari sisi etika, siswa terlihat baik, dimana saat masuk kelas mengucapkan salam, dan mencium tangan gurunya. Selain itu, juga dilihat dari cara berpakaian, siswa laki-laki terlihat rapi begitu juga dengan siswi perempuannya. Artinya sekolahan benar-benar

(3)

menerapkan peraturan yang tegas dan dijalankan dengan baik oleh semua elemen di sekolah.

Hasil respon siswa terhadap pembelajaran dapat dilihat dari wawancara (09 April 2016) pada salah satu siswa, yakni sebagai berikut:

“Pelajaran IPS saya suka, tetapi tergantung bagaimana cara guru mengajarnya. Kalau gurunya mengajar dengan metode ceramah itu membuat saya bosan, mengantuk dan malas untuk mendengarkan atau mengerjakan tugas. Tetapi kalau dengan diskusi kelompok itu tidak membuat saya malas dan mengantuk.

Selain itu, guru-guru harus lebih tegas lagi dalam mengajar, karena siswanya susah diatur, jalan-jalan ketika ada guru di kelas dan susah sekali memperhatikan ketika guru menyampaikan dan menerangkan materi pembelajaran. apa lagi kalau gurunya keluar kelas siswanya langsung pada ribut”

(Maulidiana).

Selain Maulidiana, respon mengenai pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon juga dipaparkan oleh M. Raka Raihan, ada pun hasil wawancaranya yakni sebagai berikut:

“Saya kalau mengikuti pelajaran IPS terkadang kalau gurunya menerangkannya enak saya kerjakan tugas dengan tuntas, tetapi kalau gurunya hanya menerangkan saja yang membuat saya mengantuk itu membuat saya malas untuk mengerjakan tugas bawaanya mager” (M. Raka Raihan).

Gambar 01. Wawancara dengan siswa

(4)

Hasil wawancara dengan guru IPS (19 April 2016), memberikan pendapatnya mengenai bagaiamana pembelajaran IPS di SMPN 7 Kota Cirebon. Ada pun hasil wawancaranya yakni sebagai berikut:

“Metode Pembelajaran IPS sendiri sudah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi seperti diskusi, penugasan dan observasi/pengamatan. Karena sudah menggunakan kurikulum 2013 (kurtilas). Khususnya untuk mata pelajaran IPS guru sudah menerapkan metode pembelajaran yang menarik, bukan hanya ceramah. Walaupun sesekali juga ceramah terkadang diterapkan agar siswa tidak bosan terus-terusan berdiskusi. Untuk observasi/pengamatan langsung pada mata pelajaran IPS, kita mengadakan pengamatan langsung seperti pengamatan ke Cipari, Kuningan untuk mengamati benda-benda bersejarah hasil kebudayaan masyarakat Indonesia pada masa praaksara yang ada pada bab terakhir” (Sri Rukhyati).

Seperti apa yang dikatakan oleh ibu Aas Lastariati selaku guru IPS juga di SMPN 7 Kota Cirebon ketika wawancara pada tanggal 07 Mei 2016. Berikut hasil wawancaranya:

Gambar 02. Wawancara dengan Ibu Sri (guru IPS)

(5)

“Bahwa pembelajaran IPS di SMPN 7 sudah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Dilihat dari LKS maupun buku paket IPS kurtilas juga kebanyakan materi daripada latihan-latihan. Jadi pembelajarannya lebih banyak mempraktekkan, di dalam kelas maupun di luar kelas. Karena nantinya siswa akan terjun di masyarakat, siswa harus dibekali bagaimana bersosialisasi yang baik agar bisa diterima di masyarakat tersebut. Pembelajaran IPS itu sangat penting karena di dalamnya terdapat berbagai macam ilmu seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan politik. Semuanya berhubungan dengan kehidupan di masyarakat” (Aas Lastariati).

Dari hasil penelitian mengenai pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon diperkuat oleh teori yang di kemukakan oleh Trianto, bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil satu topik dari

Gambar 03. Ketika pengamatan ke Cipari, Kuningan

(6)

suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu sosial.

Serta mata pelajaran IPS juga bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.

Menurut observasi bahwa pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon sudah termasuk pada pembelajaran terpadu seperti apa yang dikatakan oleh Trianto, sudah terintegrasikan dari berbagai ilmu sosial hal itu terlihat ketika guru menerangkan mengenai materi interaksi manusia yang dikaitakan dengan bagaimana interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan ekonomi. Sehingga materinya lebih dalam dan luas. Selain itu juga guru mengaitkan materi dengan isu ataupun pesistiwa real di sekitar kehidupan siswa, serta untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi dan kerjasama siswa dalam pembelajaran didukung dengan metode pembelajaran diskusi bervariasi.

2. Sikap Siswa di SMPN 7 Kota Cirebon Terkait dengan Implementasi Nilai-Nilai Anti Korupsi

Hasil survey menunjukkan bahwa untuk mengetahui hasil penelitian mengenai bagaimana sikap siswa di SMPN 7 Kota Cirebon yakni dengan wawancara wakil kepsek, bapak Ocid Rosid. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut:

(7)

“SMPN 7 merupakan SMP yang terletak di daerah perkotaan, sehingga sikap siswa-siswinya berbeda sekali dengan siswa- siswi yang berada di kabupaten. Pengaruh lingkungan dan teknologi membuat siswa kurang disiplin, pernah juga ada yang telibat dengan tawuran,merokok dan pil. Dari segi agama masih kurang kalau dibandingkan dengan sikap siswa-siswi yang berdomisili di kabupaten. Oleh karena itu, penanaman sikap termasuk sikap anti korupsi sangatlah penting, seharusnya penanaman sikap bukan hanya pada jenjang SMP saja, melainkan dari jenjang paling dasar sudah ditanamkan.

Penanaman sikap anti korupsi sangatlah untuk siswa sehingga siswa bisa mengenal baik dan buruk” (Ocid Rasid).

Pernyataan tersebut sejajar dengan pernyataan dari wakasek kesiswaan ibu Yuyun. Karena selain dengan wakasek kurikulum, wawancara dilakukan dengan wakasek kesiswaan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa di SMPN 7 Kota Cirebon. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut:

“Pengaruh lingkungan padat penduduk serta pengaruh teknologi membuat siswa susah diatur. Terlebih jumlah siswa SMPN 7 terlalu banyak ± 1.350 siswa, sehingga susah untuk mengkondisikannya. Masih banyak siswa yang belum disiplin, suka membolos, merokok, main game online di sekitar sekolah, dari rumah bilangnya berangkat sekolah tetapi membolos dengan main game tersebut. Untuk membentuk sikap siswa butuh waktu cukup lama, berbeda dengan pengetahuan yang Gambar 04. Wawancara dengan Bpk. Ocid

(WAKA/PKS Kurikulum)

(8)

hanya beberapa bulan dengan mengikuti les saja sudah mengerti berbeda dengan membentuk sikap/menanamkan nilai-nilai kepada siswa, harus secara perlahan. Oleh karena itu menanamkan sikap lebih utama. Penanaman sikap seperti sikap anti korupsi seharusnya sudah diajarkan dari sekolah dasar, dimulai dari hal-hal kecil seperti budaya mengantri, menghormati orang yang lebih tua, berbagi dengan teman dll”

(N. Yuyun R).

Selanjutnya untuk memperoleh data mengenai sikap siswa di SMPN 7 Kota Cirebon yakni wawancara dengan salah satu guru BK ibu Ernalia. Berikut hasil wawancaranya:

“Sikap siswa di SMPN 7 ini sangat beragam, ada yang baik, ada yang kurang baik, ada yang biasa-biasa saja. Yang baik dia selalu mentaati peraturan sekolah dan tidak bermasalah dalam hal apapun, yang kurang baik ada saja tingkahnya seperti dalam hal kehadiran, tunggakan nilai, bolos, merokok di sekolah, dari segi kejujuran yang terkait dengan korupsi itu pernah ada masalah siswa mengambil makanan di kopsis dengan tidak bayar, akhirnya ketahuan karena temannya menceritakan, ada juga yang berani jujur dengan menulis surat dan membayar sejumlah makanan yang dia ambil. Sebenarnya penyebabnya itu bukan karena dari segi kekurangan melainkan karena situasi yang mendukung untuk melakukan hal tersebut” (Ernalia AK).

Gambar 05. Wawancara dengan Ibu Yuyun (Kesiswaan)

(9)

Selain wawancara dengan para guru, untuk mengetahui sikap siswa yang terkait dengan nilai-nilai anti korupsi di dalam kelas selanjutnya wawancara dengan siswa. Berikut hasil wawancaranya:

“saya selalu aktif di kelas pada saat diskusi maupun pada saat guru sedang menerangkan, mengerjakan tugas tepat waktu, disiplin dalam pembelajaran, pada saat diskusi saya selalu bekerja sama dengan teman, pada saat mengerjakan tugas individu juga saya selalu mengerjakannya dengan sendiri.

Membantu teman yang belum paham” (Maulidiana).

Dalam hal positif juga ada diantanya yaitu prestasi dibidang olahraga di tahun 2014 lalu, penghargaan juara 1 baseball PORDA dimenangkan oleh seorang pitcher dari SMPN 7 Kota Cirebon.

Prestasi yang membanggakan juga datang dari ekstra kurikuler yaitu pramuka. Dimana sering mendapat kejuaraan dalam event perlombaan. Serta hal positif juga terlihat dari partisipasi siswa pada bidang esktra kurikuler.

Siswa sangat antusias dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mereka senangi seperti PMR, OSIS, hadroh, qiro’ah, KIR, English club, degung, dan ekstra kurikuler dalam bidang olahraga lainnya.

Dari sekian banyak ekstra kurikuler, hampir semuanya aktif dalam segi latihan maupun kejuaraan.

Gambar 06. Persiapan lomba pramuka

(10)

Dengan adanya kegiatan-kegiatan positif, sebagai upaya meminimalisir tindak negatif siswa, karena untuk merubah sikap siswa tidak bisa dengan cara instan harus secara perlahan. Dengan adanya pembiasaan-pembiasaan positif seperti kegiatan ekstra kurikuler, razia setiap hari, tausiah dan pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan di kelas. Untuk menumbuhkan sikap positif melalui budaya sekolah, pihak sekolah mengadakan kegiatan tausiah setiap hari jum’at, semua siswa-siswi berkumpul di halaman sekolah, dengan membawa sajadah dan Al-Qur’an masing-masing. Kegiatannya meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, hadroh dari siswa-siswi SMPN 7 Kota Cirebon, pembacaan asma’ul husna, sayyidul istighfar, dan ceramah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menanamkan kerohanian kepada siswa-siswi.

Hasil observasi di dalam kelas menunjukkan bahwa seperempat siswa dari jumlah siswa kurang lebih 40/kelas sudah menunjukkan sikap yang baik dan aktif pada saat KBM berlangsung, siswa aktif dalam bertanya, berdiskusi, mengerjakan tugas disiplin dll. Walaupun masih ada sebagian siswa yang masih ribut.

Gambar 07. Kegiatan tausiah

(11)

Hal ini diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh Wibowo bahwa penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang akan melakukan korupsi. Dengan demikian, jika menggunakan sudut pandang penyebab korupsi seperti ini, maka salah satu penyebab korupsi adalah cara pandang terhadap kekayaan. Cara pandang terhadap kekayaan yang salah akan menyebabkan cara yang salah dalam mengakses kekayaan.

faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi yaitu: aspek perilaku individu, aspek organisasi, dan aspek masyarakat tempat individu dan organisasi berada. Terhadap aspek perilaku individu, Isa Wahyudi memberikan gambaran, sebab-sebab seseorang melakukan korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan, niat, atau kesadaran untuk melakukannya.

3. Peran Pendidikan IPS dalam Menanamkan Nilai-nilai Anti Korupsi di Kalangan Siswa SMPN 7 Kota Cirebon

Pendidikan dianggap sebagai sarana efektif guna menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Hasil yang diperoleh dari pendidikan sifatnya jangka panjang dan tidak instan, namun pendidikan mampu menjadi obat mujarab serta semacam investasi bagi terbentuknya generasi anti korupsi di masa yang akan datang. Pendidikan IPS merupakan pendidikan yang membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan sosial yang berguna untuk masa depannya, keterampilan sosial dan intelektual dalam membina perhatian serta kepedulian sosialnya sebagai SDM yang bertanggung jawab dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional. Salah satu tujuan pendidikan IPS yaitu agar anak didik memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan diantaranya yaitu niali-nilai anti korupsi.

(12)

Pembelajaran IPS yang secara konseptual ideal merupakan studi integratif mengenai kehidupan masyarakat. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.

Nilai-nilai anti korupsi tidak dijadikan pokok bahasan yang harus disampaikan, materi pelajaran bisa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai anti korupsi tersebut seperti halnya pada pelajaran IPS, nilai-nilai antikorupsi dikembangkan pada pokok bahasan seperti pemanfaatan SDA, Interaksi, Sejarah dan lain sebagainya. Maka para guru tidak perlu repot-repot mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai- nilai anti korupsi. Hal ini diperkuat hasil wawancara.

Guru mata pelajaran IPS memberikan tanggapan mengenai peran pendidikan IPS dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi di kalangan siswa di SMPN 7 Kota Cirebon, yaitu sebagai berikut:

“Setelah siswa mempelajari pendidikan IPS, terlihat adanya perubahan dari sikap atau perilaku, dari mulai kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian dan keadilan. Sikap-sikap Gambar 08. Proses KBM dengan metode

roll play

(13)

tersebut terlihat ketika KBM maupun di luar KBM, seperti ketika materi pemanfaatan SDA, mereka diajarkan untuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dan menjaga alam agar tetap lestari. Kejujuran juga dapat dilihat dari pengumpulan uang kas, pada saat ulangan, maupun dalam menjawab pertanyaan guru. Siswa dapat bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas, peduli terhadap teman, berani bertanya maupun mengemukakan pendapat, adil dalam pembagian tugas kelompok dan mandiri terlihat pada saat diskusi dikelas.

Kesederhanaan terlihat dari penampilan siswa, serta toleransi sesama teman tanpa melihat dari segi materil. Oleh karena itu IPS merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai anti korupsi” (Sri Rukhyati).

Salah satu upaya pendidikan IPS dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi yaitu melalui metode pembelajaran, pengembangan metode dilakukan dengan memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang bisa mendorong terjadinya penanaman nilai, tumbuhnya sikap dan perilaku anti korupsi, seperti jujur, disiplin, adil, janggung jawab, dan sebagainya. Beberapa metode seperti diskusi, bermain peran, demontrasi, simulasi, curah pendapat dan sebagainya.

Selain melalui metode, penanaman nilai-nilai anti korupsi juga melalui media dan sumber belajar, seperti menanyangkan video, gambar, berita media masa dan lain-lain yang berkaitan dengan korupsi. Seperti halnya menurut ibu Aas Lastariati:

Gambar 09. Wawancara dengan ibu Aas (Guru IPS)

(14)

“Dalam penanaman nilai-nilai anti korupsi guru menyampaikan pembelajaran kejujuran, IMTAK, mengenai moral dan memberikan contoh-contoh anti korupsi dalam pembelajaran IPS. Dari penanaman nilai-nilai tersebut terlihat adanya perubahan sikap dalam diri siswa. Seperti pada saat ulangan, pengerjaan tugas serta perilaku pada saat KBM maupun di luar KBM” (Aas Lastariati).

Konsep penanaman nilai-nilai anti korupsi pada penelitian ini adalah penyisipan pada mata pelajaran IPS, tidak berdiri sendiri artinya tidak dijadikan materi khusus. Seperti apa yang dikatakan oleh bapak Ocid Rosid selaku wakasek kurikulum, berikut hasil wawancaranya:

“Konsep penanaman nilai-nilai anti korupsi dimasukkan ke dalam pelajaran seperti pada mata pelajaran IPS. Guru mempunyai peran penting dalam hal ini, karena guru harus pandai menyampaikan nilai-nilai sikap. Penanaman tersebut bisa dilihat dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada bagaian kompetensi inti dan kompetensi dasar. Sikap-sikap yang akan dicapai pada proses pembelajaran tertuang pada kompetensi inti dan kompetensi dasar” (Ocid Rosid).

Dari hasil wawancara dan observasi mengenai peran pendidikan IPS dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi di kalangan siswa SMPN 7 Kota Cirebon yaitu sebagai berikut:

1) Nilai kejujuran ditanamkan pada saat iyuran uang untuk pengamatan ke Cipari Kuningan dan pengumpulan uang kas, selain itu penanaman nilai kejujuran juga pada materi kegiatan ekonomi yaitu produksi, distribusi, konsumsi.

Dimana siswa diberikan pemahaman dan arahan pada materi produksi untuk menjual barang sesuai dengan kualitas dan kuantitas barang tersebut artinya siswa dilatih untuk menjadi pedagang yang jujur, serta mencari keuntungan/laba yang tidak terlalu tinggi.

2) Nilai kepedulian ditanamkan pada saat ada salah satu siswa yang orang tuanya meninggal, setiap siswa memberikan

(15)

uang seikhlasnya dan kepedulian juga ditamanan di materi IPS mengenai keragaman flora dan fauna di Indonesia, siswa diajarkan untuk peduli dengan mahluk hidup yang ada di muka bumi demi kelangsungan hidup bersama, serta pada materi yang membahas bencana alam seperti tsunami, gempa bumi dan banjir, siswa diajarkan untuk peduli terhadap sesama manusia yang sedang terkena bencana alam.

3) Nilai kemandirian ditanamkan pada materi kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara. Guru menggambarkan bagaimana cara hidup manusia pada zaman praaksara dimana pada saat zaman tersebut manusia untuk mendapatkan makanannya harus dengan cara berburu dan berladang terlebih dahulu, belum ada alat-alat tekhnologi artinya mereka melakukannya dengan sendiri (mandiri), sedangkan sekarang seiring berkembangnya teknologi mendorong manusia untuk bermalas-malasan.

Siswa dididik untuk melakukan sesuatu tidak tergantung pada fasilitas. Nilai kemandirian juga ditanamkan dengan pada saat mengerjakan tugas masing-masing.

4) Nilai kedisiplinan ditanamkan pada materi konektivitas antar-ruang dan waktu, materi ini membahas mengenai konsep waktu dalam sejarah. Waktu yang sudah berlalu tidak akan terulang kembali. Karena itu jangan biarkan waktu berlalu begitu saja, siswa diajarkan untuk disiplin dalam memanfaatkan waktu. Dan kedisiplinan dalam mengunpulkan tugas.

5) Nilai Tanggung jawab ditanamkan pada materi potensi dan pemanfaatan sumber daya alam, dimana siswa diajarakan untuk bertanggung jawab dalam menjaga potensi dan memanfaatkan sumber daya alam sebaik mungkin.

(16)

6) Nilai kerja keras ditanamkan ketika siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, siswa bekerja keras dalam mengerjakan tugasnya sebaik mungkin.

7) Nilai kesederhanaan ditanamkan dengan cara melarang siswa memakai aksesoris yang berlebihan. Pada mata pelajaran IPS pada sub bab kegiatan konsumsi, siswa diajarkan untuk membuat skala prioritas kebutuhannya.

Siswa dididik untuk merinci kebutuhannya dan tidak boros demi memenuhi segala kebutuhannya.

8) Nilai keberanian ditanamkan melalui metode pembelajaran, metode diskusi dan presentasi seperti roll play, STAD, dan lain-lain, atau berupa games evaluasi. Siswa dituntun untuk berani tampil di depan kelas, berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

9) Nilai keadilan ditanamkan pada siswa dengan cara menentukan anggota kelompok secara berhitung, sehingga tidak pilah-pilih, siswa akhirnya tidak banyak yang protes karena pimilihannya secara adil.

Mengenai peran pendidikan IPS dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi diperkuat dengan teori Menurut Saksono (2010: 129) yang dikutip oleh Thobroni (2015:366), “Dalam penyelenggaraan pendidikan, nilai-nilai budaya anti korupsi harus sejak dini dibiasakan keluarga dan masyarakat. Sekolah, terutama SMA sederajat yang muridnya berusia remaja, dapat mengaktifkan guru BPO (Badan Pengawas Organisasi) dan olahraga. Kedua guru tersebut biasanya dekat dengan siswanya yang sudah remaja. Dengan bekerjasama dengan dokter, LSM, Departemen Sosial, dan lain-lain, sekolah dapat memebentuk program remaja pendidik. Melalui berbagai latihan, siswa memberikan pengetahuan faktual kepada teman sebaya. Mereka juga diminta melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan diri dan mengenal diri sendiri dengan tujuan mencari jati diri”.

(17)

Di samping itu, sekolah dapat membuat program kepemimpinan.

Mereka yang lolos program ini dapat berfungsi sebagai contoh atau teladan dan juga mengajarkan keterampilan sosial seperti keterampilan menolak tekanan teman sebaya, keterampilan berkomunikasi yang baik, serta keterampilan mengatasi kesulitan dan mengambil keputusan.

Ruang lingkup pembelajaran berwawasan anti-korupsi mencakup semua bidang, tidak berbatas bidang apapun. Korupsi adalah bahaya laten, yaitu kejahatan yang sewaktu-waktu muncul tanpa memilih orang tertentu atau institusi tertentu tempat korupsi itu terjadi. Contoh ruang lingkup pembelajaran berwawasan anti-korupsi seperti di: Lingkungan keluarga; Lingkungan pendidikan; Lingkungan social budaya; Lingkungan pemerintah; Lingkungan aparat dan penegak hukum; Lingkungan kerja.

4. Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Menanamkan Nilai- nilai Anti Korupsi di Kalangan Siswa SMPN 7 Kota Cirebon

Hasil survey menunujukkan bahwa pengaruh pergaulan adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua mempunyai peranan pertama dan utama bagi anak-anak nya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam pergaulan membawa murid sebagai anak didik kerah kedewasaan.

Dalam konteks pendidikan, lingkungan masyarakat merupakan lembaga pendidikan selain keluarga dan sekolah yang akan membentuk kebiasaan, pengetahuan, minat dan sikap, kesusilaan, kemasyarakatan, dan keagamaan anak. Kesempatan kali ini mewancarai salah satu guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 7 Kota Cirebon.

(18)

Guru BK memberikan tanggapan mengenai faktor penghambat dan pendukung dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi siswa di SMPN 7 Kota Cirebon, ada pun hasil wawancaranya yakni sebagai berikut:

“Faktor penghambat dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi yaitu kurangnya kerjasama dengan semua pihak antara guru, keluarga dan lingkungan. Terutama yaitu orang tua karena jumlah waktu orang tua dengan siswa lebih banyak, sehingga orang tua lebih tahu dan lebih sering mendidik siswa. Serta pengaruh lingkungan negative seperti dari teman, keluarga, dan masyarakat, contohnya solidaritas antar siswa yang susah dirubah. Sedangkan faktor pendukung yaitu masih banyak siswa yang bisa diatur. Dari BK sendiri untuk menangani masalah dengan mengkonseling siswa terlebih dahulu, tahapan selanjutnya yaitu orang tua dipanggil dan wali kelas” (Enalia AK.).

Selain BK wawancara dengan wakasek kurikulum dan guru IPS mengenai faktor penghambat dan pendukung dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Berikut hasil wawancaranya:

“faktor penghambat dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi menurut saya yaitu yang paling besar yaitu faktor lingkungan (keluarga,teman, masyarakat), kurangnya saling mengingatkan Gambar 10. Wawancara dengan guru

BK

(19)

antar teman. Sedangkan faktor pendorong dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi yaitu adanya dukungan dari kepala sekolah mengenai kegiatan-kegiatan yang diadakan disekolah, setiap jum’at diadakan tausiah, adanya peringatan-peringatan hari besar, diadakannya ekstra kurikuler, serta kedisiplinan dari pihak sekolah seperti adanya razia, teguran dan hukuman seperti bersih-bersih” (Ocid Rosid).

Faktor penghambat dan pendorong dalam menanamkan nilai- nilai anti korupsi menurut guru IPS yaitu sebagai berikut:

”Faktor penghambatnya yaitu masih ada siswa yang rebut pada saat pembelajaran berlangsung serta pergaulan lingkungan karena sikap siswa SMP masih labil/ masih mencari jati dirinya sehingga mudah dipengaruhi. Sedangkan faktor yang mendorong yaitu adanya kerja keras guru dalam membimbing siswa, serta adanya metode yang bermacam-macam dalam pembelajaran sehingga memudahkan dalam menanamkan nilai- nilai anti korupsi” (Aas Lastariati).

Hal ini diperkuat dengan teori Faktor penghambat dan pendorong dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi diantara yaitu, faktor penghambat: (1) Semua aspek kehidupan bangsa ini terlibat korupsi dari lembaga pendidikan sampai lembaga keagamaan sekalipun, (2) Terjadinya sikap apatis warga sekolah terhadap tindakan korupsi, (3) pergeseran pola hidup warga sekolah yang

Gambar 11. Kegiatan rutin salaman pagi sekaligus razia atribut

(20)

tadinya menjujung tinggi nilai-nilai spiritualitas bergeser pada nilai- nilai materialistis dan konsumerisme. Adapun faktor pendorong diantaranya yaitu: (1) Penanaman nilai dan sikap hidup anti korupsi kepada warga sekolah melalui pembelajaran, (2) Pembudayaan perilaku anti korupsi kepada warga sekolah.

B. Pembahasan

Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan di atas, maka jelaslah bahwa persoalan penanaman nilai-nilai anti korupsi sampai saat ini menarik untuk diperbincangkan. Semenjak terus meningkatnya tindak pidana korupsi di Indonesia serta upaya-upaya pemberantasan semakin gencar dilakukan diberbagai lembaga, termasuk dalam lembaga pendidikan, di ruang lingkup sekolah, pendidik harus mampu tampil menjadi agent of change di tengah- tengah kehidupan masyarakat.

Menurut Dewantara (1977:14) yang dikutip Wibowo (2013:34), mengatakan bahwa Pendidikan adalah suatu proses belajar dan penyesuaian individu-individu secara terus menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita- cita masyarakat; suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Pendidikan di SMPN 7 Kota Cirebon sebagai sarana penyesuaian individu secara terus menerus seperti apa yang dikatakan oleh Dewantara, hal itu terlihat dari bagaimana proses belajar yang dilakukan siswa, seperti pada mata pelajaran IPS siswa secara terus menerus dididik dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, siswa dididik untuk mampu bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya melalui materi-materi yang diajarkan. Selain itu, upaya yang dilakukan SMPN 7 Kota Cirebon untuk memajukan budi pekerti, pikiran dan jasmani siswa juga dilakukan secara terus menerus

(21)

melalui budaya sekolah dengan membentuk sikap siswa melalui peraturan- peraturan yang ada dan pembiasaan-pembiasaan positif seperti tausiah, razia, dan tadarus bersama.

Menurut Soemantri (2001:92) yang dikutip Sapriya (2011:11), pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

Sapriya (2011:7-8), mata pelajaran IPS merupakan sebuah nama mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya. Ciri khas IPS sebagai mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah sifat terpadu (integrated) dari sejumlah mata pelajaran dengan tujuan agar mata pelajaran ini lebih bermakna bagi peserta didik sehingga pengorganisasian materi/bahan pelajaran dengan lingkungan, karakteristik, dan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, dalam perkembangannya muncul berbagai pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Sapriya (2011:53-56), program pendidikan IPS yang komprehensif adalah program yang mencakup empat dimensi, diantaranya yaitu dimensi nilai dan sikap (Values and Attitudes). Nilai yang dimaksud disini adalah seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang terungkap ketika berfikir atau bertindak. Umumnya, nilai yang dipelajari sebagai hasil dari pergaulan atau komunikasi antar individu atau kelompok masyarakat atau persatuan dari orang-orang satu tujuan.

Nilai yang ada dalam masyarakat sangat bervariasi sesuai dengan tingkat keragaman masyarakat. Heterogenitas nilai ini tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi guru dalam pembelajaran IPS di kelas. Nilai dapat dibedakan atas nilai substantif dan nilai prosedural. Kondisi keluarga yang mencerminakan nilai yang dianut oleh keluarga yang berbeda-beda perlu dikenali oleh para siswa dalam pembelajaran IPS. Sehingga siswa mengenal

(22)

implikasi dari kondisi keluarga bagi kehidupan pribadi maupun sosial.

Program pembelajaran IPS hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan, merefleksikan, dan mengartikulasikan nilai- nilai yang dianutnya. Proses ini tergantung pada nilai-nilai prosedural di kelas.

Peran guru dalam dimensi nilai sangat besar terutama dalam melatih siswa dengan langkah-langkah pembelajaran di kelas. Nilai-nilai prosedural yang perlu dilatih atau dibelajarkan antara lain nilai kemerdekaan, toleransi, kejujuran, menghormati kebenaran dan mneghargai pendapat orang lain.

Nilai-nilai kunci ini merupakan nilai yang menyokong masyarakat demokratis, seperti: toleran terhadap pendapat yang berbeda, menghargai bukti yang ada, kerjasama dan menghormati pribadi orang lain.

Pembelajaran yang mengaitkan pendidikan nilai ini secara eksplisit atau implisit hendaknya telah ada dalam langkah-langkah atau proses pembelajaran dan tidaklah menjadi bagian dari konten tersendiri. Dengan kata lain nilai-nilai ini tidak perlu dibelajarkan secara terpisah.

Seperti apa yang katakana oleh Sapriya bahwa ciri khas IPS sebagai mata pelajaran pada jenjang pendidikan menengah adalah bersifat terpadu (integrated), hal ini sesuai dengan pelajaran IPS yang ada di SMPN 7 Kota Cirebon sudah terintegrasi dengan mata pelajaran sejarah, goeografi, ekonomi dan sosialogi. Pembelajaran terpadu lebih bermakna karena dikaitakan dengan berbagai ilmu contohnya materi IPS di SMPN 7 Kota Cirebon pada sub bab interaksi manusia dengan lingkungan alam, sub bab tersebut dikaitkan dengan ilmu lain. Jadi interaksi manusia bukan hanya dengan lingkungan alam saja melainkan interaksi manusia dengan sosial, budaya dan ekonomi.

Sapriya juga mengatakan bahwa program pendidikan IPS yang komprehensif adalah program yang mencakup dimensi nilai dan sikap.

Begitu pula dengan pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon sudah mengaitkannya pada pendidikan nilai dan sikap hal itu bisa dilihat dari perangkangkat pembelajaran IPS (RPP) dan proses pembejaran di kelas.

(23)

Nilai-nilai yang diterapkan seperti toleransi, mengargai keanekaragaman budaya, menghargai pendapat teman, termasuk juga nilai-nilai anti korupsi.

Penerapan nilai-nilai tersebut tidak secara terpisah melainkan sudah ada pada langkah-langkah pembelajaran. Sehingga peran serta guru IPS sangat besar dalam membentuk sikap yang ada pada nilai-nilai tersebut.

Fauzi (2014:429), mengatakan bahwa upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan, maka kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik. Kurikulum juga seharusnya diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan masalah secara kreatif. Kurikulum mempunyai peranan penting dalam menanamkan budaya anti korupsi ini, karena kurikulum sebagai salah satu jalan mensukseskannya. Sebaiknya budaya anti korupsi sudah jelas-jelas terlihat ditanamkan pada jenjang sekolah dasar samapi perguruan tinggi. Upaya menanamkannya bukan hanya disisipkan pada materi tertentu saja melainkan mempunyai bab khusus untuk membahasnya.

Dengan demikian memudahkan guru untuk menumbuhkan sikap tersebut.

Kurikulum yang diterapkan di SMPN 7 Kota Cirebon adalah kurikulum 2013 (kurtilas), seperti apa yang dikatakan oleh Fauzi bahwa upaya menumbuhkan budaya jujur dan anti korupsi melalui kegiatan pembelajaran harus didukung dengan kurikulum. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dianggap sesuai untuk menumbuhkan budaya jujur dan anti korupsi karena kurtilas merupakan kurikulum yang mengedepankan penilaian sikap.

Syah (2005: 120), Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987) sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu.

Rahman (2013:131-134), selama ini sikap diyakini terbentuk kerena proses belajar berikut: (1) sikap terbentuk karena mengamati orang lain atau

(24)

belajar sosial (learning by observer other), (2) sikap terbentuk karena reward-punishment (Learning through: Instrumental conditioning). (3) sikap terbentuk karena sikap asosiasi (Learning through association:

classical conditioning, (4) sikap terbentuk karena pengalaman langsung (Learning by direct experience), (5) sikap terbentuk melalui pengamatan terhadap perilaku sendiri (Learning by observing our own behavior).

Sikap siswa-siswi SMPN 7 Kota Cirebon sangatlah beragam ada yang baik dan ada yang kurang baik, seperti apa yang dikatakan Syah bahwa sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Sikap siswa SMPN 7 Kota Cirebon terbentuk karena proses belajar seperti apa yang dikatakan oleh Rahman, sikap tersebut terbentuk karena proses pembiasaan di sekolah dengan melihat lingkungan sekitar (teman dan guru) maupun pengalaman yang pernah siswa alami.

Wibowo (2013: 36), Pendidikan mampu menjadi upaya preventif bagi berkembangnya sikap, perilaku, dan budaya korupsi, meskipun secara empiris jelas tidak cukup mengingat faktor pressure sosial politik yang dapat juga mendistorsi peran normatif tersebut. Kendati demikian, jika ada kemauan dari segenap komponen bangsa untuk menjadikan pendidikan sebagai panglima melawan korupsi, jelas bukan hal mustahil direalisasikan.

Pendidikan menjadi salah satu alternatif atau trobosan untuk melawan korupsi, menanamkan mental anti korupsi pada peserta didik secara perlahan serta kontinuitas pada saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran atau dengan budaya sekolah. Semua pelajaran mampu menerapkannya. Namun, ada beberapa mata pelajaran yang lebih tepat karena didukung dari materi pelajaran tersebut seperti PKN, IPS, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam, dan Bimbingan Konseling.

Strategi pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dengan lembaga- lembaga anti korupsi saja, melainkan perlu lembaga lain sebagai upaya preventif dalam menanamkan sikap anti korupsi. Pendidikan merupakan salah satu lembaga yang mampu menanamkan sikap tersebut secara

(25)

perlahan dan terus menerus. Terlihat pada pendidikan di SMPN 7 Kota Cirebon dalam menanamkan sikap anti korupsi pada siswanya melalui penyisipan pada mata pelajaran, seperti pada mata pelajaran IPS siswa diajarkan bersikap jujur melalui pengumpulan uang kas dan pada saat ulangan dan menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui materi yang diajarkan. Walaupun demikian, masih ada saja siswa yang masih belum menanamkan nilai-nilai tersebut pada dirinya. Penanaman tersebut harus secara perlahan dan terus menerus.

Menurut Dikdaskemdikbud (2012: 14) yang dikutip Wibowo (2013:36), mengatakan bahwa upaya pemberantasan korupsi melalui jalur pendidikan dilakukan karena pendidikan merupakan wahana yang sangat strategis untuk membina generasi muda, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan termasuk anti korupsi. Pendidikan juga sangat efektif untuk membentuk suatu pemahamn yang menyeluruh pada masyarakat bahaya korupsi. Dari pemahaman itu diharapkan megahasilkan suatu persepsi atau pola pikir masyarakat Indonesia secara keseluruhan, bahwa korupsi adalah musuh bersama bangsa ini. Dengan demikian upaya pemberantasan korupsi melalui jalur pendidikan buakanlah suatu alternatif melainkan sebuah keharusan atau kewajiban. Perlu adanya dukungan/keterlibatan dari seluruh anggota pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi tersebut. Peran serta kurikulum, guru dan warga sekolah sangat dibutuhkan, perlu adanya kerjasama dan kekompakan bukan malah sebaliknya.

Seperti menurut Dewantara yang telah dibahas pada paragraf awal bahwa pendidikan merupakan suatu proses belajar dan penyesuaian individu-individu secara terus menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita- cita masyarakat suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Hal ini sejajar dengan apa yang telah dikatakan oleh Wibowo bahwa pendidikan merupakan wahana strategis untuk membina generasi muda, termasuk dalam menanamkan nilai-nilai

(26)

kehidupan termasuk anti korupsi. Bahkan menurut Wibowo pendidikan bukanlah suatu alternatif melainkan sebuah keharusan dalam memberantas korupsi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan kondisi pendidikan di SMPN 7 Kota Cirebon yang telah berupaya dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan termasuk nilai-nilai anti korupsi melalai pembelajaran dan pembiasaan-pembiasaan positif.

Dikti (2011) yang dikutip Wibowo (2013:48), Perlu disadari dan diperhatikan oleh guru bahwa mendesain pembelajaran anti korupsi agar menarik, tidak monoton dan efektif bukan hal mudah. Materi tentu penting untuk memperkuat aspek kognitif, namun pemilihan metode pembelajaran yang kreatif merupakan kunci bagi keberhasilan mengoptimalkan intelektual, sifat kritis dan etika integritas siswa. Para guru sendiri harus menjadi komunikator, fasilitator dan motivator yang baik bagi siswa. Guru bisa menggunakan metode-metode menarik yang memacu siswa untuk menumbuhkan sikap anti koruptif secara sengaja maupun tidak disengaja.

Seperti pada pendidikan IPS di SMPN 7 Kota Cirebon, sudah menggunakan metode-metode menarik dalm pembelajarannya seperti diskusi kelompok, STAD, roll play, picture n picture, snowball throwing dll.

Hasbullah (2012: 103), pengaruh timbal balik antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Pendidikan tidak lepas dari efek-efek luar yang saling memengaruhi keberadaannya, terutama bagi masyarakat sekitarnya, yang mempunyai hubungan saling ketergantungan. Dalam hal pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada lulus tidaknya produk serta kualitas out put pendidikan (sekolah) itu sendiri. Pengaruh masyarakat terhadap sekolah. Pada dasarnya masyarakat senantiasa memiliki dinamika untuk selalu tumbuh dan berkembang, setiap masyarakat memiliki identitas sendiri sesuai dengan pengalaman budaya dan perbendaharaan alamiahnya. Masyarakat dengan segala atribut dan identitasnya yang memiliki dinamika ini, secara langsung akan berpengaruh terhadap pendidikan persekolahan.

(27)

Pengaruh pergaulan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua mempunyai peranan pertama dan utama bagi anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam pergaulan membawa murid sebagai anak didik kearah kedewasaan. Dalam konteks pendidikan, lingkungan masyarakat merupakan lembaga pendidikan selain keluarga dan sekolah yang akan membentuk kebiasaan, pengetahuan, minat dan sikap, kesusilaan, kemayarakatan, dan keagamaan anak.

Menurut Tulus (2004:16) yang dikutip oleh Masdudi (2012:171-172), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi siswa diantaranya: (1) Lingkungan keluarga, (2) Pergaulan diluar rumah, (3) media massa, (4) Aktivitas organisasi, (5) lingkungan sekolah.

Faktor penghambat dan pendorong dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi diantara yaitu, faktor penghambat: (1) Semua aspek kehidupan bangsa ini terlibat korupsi dari lembaga pendidikan sampai lembaga keagamaan sekalipun, (2) Terjadinya sikap apatis warga sekolah terhadap tindakan korupsi, (3) pergeseran pola hidup warga sekolah yang tadinya menjujung tinggi nilai-nilai spiritualitas bergeser pada nilai-nilai materialistis dan konsumerisme. Adapun faktor pendorong diantaranya yaitu: (1) Penanaman nilai dan sikap hidup anti korupsi kepada warga sekolah melalui pembelajaran, (2) Pembudayaan perilaku anti korupsi kepada warga sekolah.

Dari hasil wawancara dengan narasumber, bahwa sikap siswa dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat, sekolah, dan keluarga. Hal ini diperkuat oleh apa yang telah dikatakan oleh Hasbullah dan Masdudi.

Pengaruh sikap siswa SMPN 7 Kota Cirebon tidak terlepas dari lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu faktor yang menghambat penanaman nilai- nilai anti korupsi pada siswa SMPN 7 Kota Cirebon adalah karena lingkungan, lingkungan perkotaan yang masih kurang dalam segi agama.

Sehingga pergeseran pola hidup warga sekolah yang tadinya menjujung

(28)

tinggi nilai-nilai spiritualitas bergeser pada nilai-nilai materialistis dan konsumerisme.

Bagan 01. Pengembangan Nilai-nilai Antikorupsi

Berdasarkan data-data diatas bahwa penanaman nilai-nilai anti korupsi pada siswa SMPN 7 Kota Cirebon bisa disisipkan pada mata pelajaran IPS.

Tetapi, untuk menyempurnakan penanaman nilai-nilai tersebut harus didukung dengan peran serta seluruh warga sekolah dan berbagai kegiatan di sekolah seperti pada kegiatan ekstra kurikuler dan budaya sekolah.

Seperti apa yang dikatakan oleh Yulita (2010) yang dikutip Wibowo (2013:47-48), dengan mengintegrasikan nilai-nilai dalam kehidupan/ proses belajar siswa diharapkan siswa mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, dan akhirnya akan bersikap anti-koruptif. Penanaman nilai ini tidak sebatas pada insersi mata pelajaran, tetapi perlu diberikan di semua lini pendidikan. Nilai ini hendaknya selalu direfleksikan kedalam setiap proses pembelajaran baik yang bersifat inta kurikuler maupun ekstra kurikuler.

Syarbini dan Arbain (2014:17), lalu bagaimana cara melakukan transformasi nilai kepada generasi muda (siswa sekolah) agar kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, terutama masyarakat yang bersih dari korupsi? Ada beberapa reka-daya terhadap komunitas sekolah agar anti korupsi. Pertama, perekadayaan sekolah agar mengedepankan nilai anti korupsi dengan mempertimbangkan konsistensi aturan sekolah dengan

NILAI ANTIKORUPSI

MATA PELAJARAN

PENGEMBANGAN DIRI

BUDAYA SEKOLAH

(29)

perilaku melalui mekanisme modeling, reward, dan punishment, dan keterlebitan seluruh civitas sekolah pada kegiatan-kegiatan sekolah. Kedua, internalisasi nilai anti korupsi dilakukan secara melekat (embedded) yang terus-menerus dikawal oleh para guru. Peran guru dalam kegiatan ini adalah sebagai mentor. Guru setiap saat membimbing, mengawasi, dan membetulkan perilaku yang menyimpang dari jalan lurus anti korupsi.

Ketiga, evaluasi dilakukan secara periodik terhadap program-program internalisasi nilai anti korupsi. Gunanya memperbaiki reka-daya yang telah dialaksanakan. Jadi sikap dan perilaku anti korupsi tidak perlu mengulang sejarah gagalnya pendidikan nilai karena pencantumannya secara formal di dalam kurikulum.

Gambar

Gambar 01. Wawancara dengan siswa
Gambar 02. Wawancara dengan Ibu Sri (guru IPS)
Gambar 03. Ketika pengamatan ke Cipari, Kuningan
Gambar 05. Wawancara dengan Ibu Yuyun (Kesiswaan)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan studi literatur yang dilakukan dengan mempelajari beberapa karya ilmiah dalam bentuk jurnal maupun buku teks atau artikel-artikel lainnya yang

Kategori plastik memiliki persentase terbesar dengan nilai 77,8% yang terdiri dari jenis bentuk botol dan gelas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), puntung rokok,

Dalam hal ini, penganalisian secara kualitatif deskriftif digunakan untuk mengetahui pembentukan kepribadian muslim melalui kegiatan marhabanan remaja usia 13-18 tahun di

Tapi jika terkait pembinaan kami akan memberikan pelayanan yang prima.” (wawancara 23 September 2019) Senada dengan Kepala Seksi Bina Pemasran produk unggulan

pertimbangan tersebut, negara mengesahkan beberapa peraturan perundang-undangan dengan substansi hukumnya menjamin hak asasi anak yang merupakan hak dasar yang

Reaktivitas : Tidak ada data tes khusus yang berhubungan dengan reaktivitas tersedia untuk produk ini atau bahan bakunya... Stabilitas

1) Lapisan mukosa, terdiri dari 3 lapisan dari dalam keluar: lapisan muskularis mukosa, lamina propria, selapis sel-sel epitel kolumner. 2) Lapisan submukosa, hampir

Bagaimanakah korelasi antara profil senyawa kimia dengan aktivitas antioksidan pada ekstrak metanol dari bagian tanaman yang memiliki potensi sebagai bahan pangan