TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI 1
Capaian Pembelajaran
CPL
Bekerjasama & memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap
masyarakat dan lingkungan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika
Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan dibidang keahliannya secara mandiri
Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang farmasi
Mampu mengevaluasi diri dan mengelola pembelajaran diri sendiri, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan diri secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kemampuan praktik
kefarmasian
CPMK
Mampu menyusun dan mengevaluasi sediaan cair
Sub-CPMK
Mampu menyusun dan mengevaluasi sediaan sirup
Tujuan
Mahasiswa mampu memilih senyawa aktif untuk diformulasikan dalam sediaan sirup
Mahasiswa mampu menyusun formula sirup
Mahasiswa mampu menjelaskan evaluasi dalam
sediaan sirup
Integrasi AIK mentafakuri Surat Al-Baqarah: 173 dan 219
Ayat-ayat tsb mnenegaskan makanan dan minuman yang diharamkan untuk dikonsumsi, yaitu: dilarang memakan bangkai, darah, daging babi, dan khamar.
Beberapa penelitian medis menyebutkan bahwa mengkonsumsi ke-4 hal tsb dapat menyebabkan
seseorang yang memakannya terjangkit suatu penyakit.
Dalam produksi sediaan obat perlu diperhatikan
sumber bahan yang digunakan serta menjamin proses produksi tidak terkontaminasi dengan hal2 yg
diharamkan sehingga konsumen yang menggunakan
sediaan obat tsb mendapatkan benefit yg optimal
Bentuk sediaan cair
Dispersi molekuler : Larutan
Dispersi halus : Koloid
Dispersi kasar : Suspensi dan emulsi
Komposisi sediaan cair
Bahan aktif; berkhasiat
Eksipien ; pelarut, kosolven, korigensia, pengawet,
antioksidan, pengental, dapar, pensuspensi, pengemulsi,
dll
Keunggulan sediaan cair
Pasien; mudah dlm pemberian
Tujuan tertentu; injeksi, tetes mata
Absorbsi; lebih cepat
Dosis; lebih tepat
Kelemahan
Kestabilan : pelarut air menurunkan kestabilan obat;
kadar, warna, bau, kejernihan, kekeruhan,dll
Kurang praktis: wadah gelas, volume besar, perlu sendok, dll
Dosis; sendok tdk selalu standar (1 cth = 5mL, 1 C = 15mL)
Kestabilan
Ketidakstabilan :
Yang terdeteksi secara visual;
Berubah bentuk : viskositas, bau, rasa
Terbentuk : endapan, lapisan2, gas
Yg tidak terdeteksi secara visual
Hidrolis, oksidasi/reduksi
Perubahan pH, struktur senyawa, efek terapi
Kecuali dinyatakan tertentu, sediaan disebut STABIL apabila TIDAK MENGALAMI PERUBAHAN
BERMAKNA DALAM WAKTU > 3 TAHUN
Expired date????
Rekonstitusi
Bentuk sediaan rekonstitusi = bentuk sediaan yang dari pabrik dibuat dalam bentuk padat; ditambah pelarut bila akan digunakan oleh pasien
Ex: sirup kering, suspensi kering
Tujuan : kestabilan
Hasil akhir : sirup, suspensi, larutan
Berapa lama sediaan cair stabil??
LARUTAN
Larutan = bentuk sediaan cair yg mgd 1/lebih bahan kimia terlarut
Karakter utama : jernih
TAHAPAN
1. Karakteristik bahan berkhasiat; kelarutan 2. Pilihan bentuk sediaan; sirup, eliksir
3. Pilihan eksipien 4. Penetapan formula
5. Pengerjaan (pembuatan dan evaluasi)
6. Kemasan
Hal yg diperhatikan dalam formulasi sed cair
Konsentrasi obat (%, dosis)
Kelarutan
Pemilihan pembawa cair
Stabilitas fisika dan kimia
Pengawetan sediaan
Pemilihan eksipien ; dapar, pensolubilisasi, pemanis
(alami/sintetik), rasa, pewarna, pengawet, antioksidan,
flavor
Kelarutan
obat dlm larutan berada pd konsentrasi tdk jenuh
- dlm keadaan jenuh, obat mengkristal krn perub.suhu, atau seeding dari komponen lain
rasa obat dr seny.organik merupakan fungsi kelarutan dlm air
semua komponen formula harus masih dlm bentuk terlarut selama usia guna
Kelarutan > < Kecepatan melarut
Kelarutan : jumlah zat yg dapat larut dalam sejumlah pelarut tertentu pd suhu dan tekanan tertentu sampai terbentuk larutan jenuh ( 1 gram/10 mL)
Kecepatan melarut : jumlah zat yg dapat larut per satuan
waktu (1 gram/menit)
Pengukuran kelarutan
- Sejumlah zat ditimbang dlm vial yg mengandung sejumlah volume tertentu pelarut yg akan diuji
- Vial ditutup (kedap) dan ditempatkan diatas shaker pd suhu terkontrol (25⁰C ± 1⁰C atau 37⁰C ± 1⁰C ) selama bbrp hari, sampai tercapai
kesetimbangan
- Interval waktu tertentu, diambil sampel, disaring melalui penyaring kecil filter (skala mikrometer)/ 0,22-0,45µm), lalu kadar obat
ditentukan
- Kesetimbangan belum akan tercapai sampai dilakukan sekurang2nya dua kali penagmbilan sampel secara berturut2 dgn hasil yg konstan - Penentuan jg dilakukan pada suhu dingin (2⁰C - 25⁰C )
Faktor yg mempengaruhi kelarutan
Suhu
pH
Konstanta dielektrik : menggambarkan polaritas senyawa: polar (>50)), semipolar (20-50), nonpolar(1-20)
Titik leleh atau titik didih
Struktur molekul
Koefisien partisi
dsb
Faktor yg mempengaruhi kecepatan melarut
Ukuran partikel
Kelarutan
Suhu
Pengadukan
Kecepatan melarut (disolusi = pelarutan)
Noyes whitney
dC/dt = K S (Cs – C) dC/dt = kecepatan melarut
K = konstanta laju pelarutan
S = luas permukaan zat yg dilarutkan Cs = konsentrasi obat pd lapisan difusi
C = konsentrasi obat pd medium pelarut pd waktu t
Tahapan pelarutan
- Menghilangkan molekul dari fasa solut pd suhu tertentu
- Pembentukan rongga besar dlm pelarut utk dpt menerima molekul solut
- Akomodasi molekul solut dalam rongga pelarut
- Agar bahan dapat melarut, daya tarik menarik antarmolekul solut dapat dilewati oleh pelarut-solut
A – A
> AS A: solut
S – S S : solven
Efek pH
- Zat dgn fungsi asam dan basa menunjukkan karakteristik kelarutan berbeda, sesuai perubahan pH larutan dan konstanta ionisasi
- Hubungan pH – kelarutan; pH = pKa + log (Cs)/(Ca) pKa: konstanta ionisasi asam
Cs : konsentrasi molar bntk garam dlm air Ca : konsentrasi molar asam bebas dlm air Kelarutan total asam lemah :
Sт = [Ca] + [Cs]
Pengaruh temperatur
- Kelarutan meningkat seiring meningkatnya suhu; seny.kimia mengabsorbsi panas bila dilarutkan
Efek struktur molekuler
- Struktur dpt mempengaruhi penentuan kelarutan relatif
- Bentuk kristal (molekul tdk simetris) cenderung lbh larut dibanding molekul sangat simetris
- Molekul simetris cenderung penyesuaian diri lbh cepat pd kisi kristal
Solubilisasi
- Proses peningkatan kelarutan
- Teknik solubilisasi; penambahan kosolven, pembentukan garam, pembuatan prodrug, kompleksasi, penurunan ukuran partikel, penggunaan surfaktan
Kosolvensi
- Kosolven : pelarut organik tercampur air yg digunakan dlm formulasi sed.cair, utk meningkatkan kelarutan obat yg sukar larut
- Kosolvensi: teknik penggunaan kosolven
- Dpt jg meningkatkan kelarutan konstituen volatil (flavor dan odor) - Contoh: etanol, sorbitol, gliserin, propilen glikol dan PEG
- Perhatian: sifat toksisitas dan iritasi kosolven
- Jarang digunakan sampai 100% krn rasa dan bau kurang menyenangkan
Pembentukan garam
- Obat yg sukar larut, dpt terlarut dlm btk garam
- Penggunaan asam atau basa yg sesuai utk pengaturan pH (formulasi dlm btk larutan); stabilitas garam dlm pH larutan
Kompleksasi
Miselisasi ; penambahan surfaktan, solubilisasi, CMC
Pembentukan prodrug
- Karakteristik kelarutan obat dpt diubah melalui modifikasi struktur kimia;
pendekatan prodrug
- Misal: kelarutan betametason dlm air 5,8 mg/100 mL (25⁰C), kelarutan ester dinatrium fosfat tjd peningkatan kel.1500 kali; kloramfenikol-
kloramfenikol palmitat
- Bentuk prodrug hrs terlebih dahulu mengalami biotransformasi sblm
Penggolongan larutan :
BERDASARKAN PELARUT:
SPIRITS
TINCTUR
AIR AROMATIK
ELIKSIR
SIRUP
BERDASARKAN RUTE PEMAKAIAN:
LARUTAN ORAL
LARUTAN TOPIKAL
OTIS SOLUTION
NASAL SOLUTION
INHALASI
OPTALMIK
IRIGASI
Manufaktur; ketentuan CPOB a. Bahan baku
- pengontrolan kualitas pelarut (air murni, demineralisata)
- tangki penyimpanan dikonstruksi sedemikian rupa;memudahkan pengujian dan pembersihan
b.Peralatan
- untuk dpt melarutkan, digunakan peralatan dgn sistem pemanas dan pendingin
- pemindahan cairan dgn sistem pompa
- sistem penyaringan; mencegah kontaminasi - sistem pembersihan dan pencucian
c. Metode pembuatan
- Larutan encer; melarutkan secara cepat solut ke dlm solven dan diaduk sampai larut
- zat yg tdk mudah larut; pemanasan (tdk dengan api langsung)
- penambahan eksipien utk meningkatkan kecepatan pelarutan atau pendispersian
Evaluasi
IN PROCESS CONTROL
PENIMBANGAN KEBENARAN MENIMBANG/MENAKAR
PENCAMPURAN/PELARUTAN HOMOGENITAS BUKAN MASALAH KELARUTAN TERGANTUNG FORMULA
KEJERNIHAN
VISKOSITAS
NILAI pH
KESERAGAMAN VOLUME
TES KEBOCORAN
STABILITAS (FISIKA, KIMIA, MIKROBIOLOGI)
PASCA PRODUKSI
PENANGANAN CLAIM
SIRUP
Larutan konsentrat air dgn gula atau subsitusi gula dan penambahan/tanpa flavor dan bahan obat
Sirup obat dan sirup bukan obat
Komponen sirup :
- gula / sukrosa (60-80%); rasa manis dan kental
- pengawet antimikroba (asam benzoat, natrium benzoat, kombinasi nipagin-nipasol
- rasa dan aroma
- solven tertentu: poli-ol (ex: sorbitol, gliserol, propilenglikol untuk menghambat cap-locking)
- seny.pensolubilisasi
- pengental dan penstabil
Golongan poli-ol dpt berfungsi sbg pemanis, pengawet, pengental, kosolven dalam sediaan cair, sedangkan dlm sed semisolid berfungsi sebagai
Preparasi sirup
a.Pencampuran dgn bantuan panas
b.Pengadukan tanpa panas; pengocokan sederhana c.Penambahan sukrosa dlm cairan obat atau cairan
beraroma
d.Perkolasi
Pengadukan dgn penggunaan panas
- Mempersiapkan dgn lbh cepat
- Komponen sirup tdk rusak atau menguap krn panas
- Gula ditambahkan ke dlm air suling dan dipanaskan hingga semua gula terlarut
- Komponen lain yg tahan panas ditambahkan dlm campuran gula-air panas, dan campuran dibiarkan dingin
- Penambahan pelarut yg mdh menguap, dilakukan stlh gula terlarut dan larutan segera didinginkan hingga suhu kamar
- Perhatian jk penggunaan panas berlebih; konversi gula shg dpt mempengaruhi rasa manis sirup dan btk fisik larutan jd lbh gelap
Pengadukan tanpa bantuan panas
- Sukrosa dan bhn lain dilarutkan dlm air suling dgn menempatkan komponen formula dlm wadah dgn vol.lebih besar, utk memudahkan pengadukan
- Proses membtuhkan waktu lbh banyak, namun stabilitas produk maksimum
- Saat bhn padat ditambahkan dlm sirup, sebaiknya dilarutkan dlm juml.minimal pelarut, kmdn tercampur dgn bahan lain
- Penambahan langsung solid dlm sirup, akan terlarut lbh lambat krn kekentalan alami gula yg membatasi distribusi segera dlm sirup, dan juml.air yg realtif sedikit
Penambahan sukrosa dlm cairan obat/beraroma
- tingktur, ekstrak cair
- Tersusun atas komponen larut alkohol dan dicampurkan dlm pelarut alkohol atau hidroalkohol
- Jika komponen tsb tdk diperlukan, dpt dihilangkan dgn
mencampurkan tingktur dan ekstrak cair dlm air, sampai pemisahan seny.tdk larut air sempurna dan disaring
- Filtrat merupakan cairan obat dan sukrosa ditambahkan ke dlm cairan tsb.
- Jika tingktur dan ekstrak cair bercampur dgn air, maka dpt ditambahkan langsung dlm sirup
Perkolasi
- Sukrosa atau sirup obat di perkolasi , kmdn diperoleh ekstrak yg akan ditambahkan dlm sirup/sukrosa
- Pendekatan 2 prosedur : preparasi ekstraktif obat dan preparasi sirup - Contoh: sirup ipeca; gliserin dan sirup ditambahkan pd serbuk ipeca
(hasil ekstaksi) hasil perkolasi
- Kandungan ipeca : rhizoma dan batang kering , mengandung alkaloid emetin, cephalin, psychotrin (hasil ekstraksi – perkolasi serbuk ipeca)