• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan pendidikan (educational research and development). Sebagai dijelaskan oleh Borg and Gall (1989: 8) kegiatan research and development adalah suatu proses penelitian yang bertujuan mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan. Pengembangan produk pendidikan dalam penelitian ini adalah berupa pengembangan perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD di Kota Singaraja. Menurut Borg & Gall, (1989: 626) ada 12 tahapan penelitian dan pengembanga, sebagaimana dikemukakannya berikut:

Tahap-tahap penelitian dan pengembangan meliputi: (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan rencana produk, (4) uji coba awal/ terbatas, (5) revisi produk utama, (6) uji coba utama, (7) revisi produk oprasional, (8) uji coba lapangan, (9) revisi produk akhir, dan (10) desiminasi dan implementasi. Tahapat tersebut dapat diringkas menjadi empat tahap, yang disebut dengan 4D (define, design, development, dan dissemination).

Define adalah kegiatan mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan (needs assessement) untuk menyusun draf atau produk awal perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD di Kota Singaraja, yang dilakukan melalui studi pustaka dan studi lapangan/empirik. Studi pustaka dilakukan untuk menganalisis dan memformulasikan teori-teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan pengembangan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Sedangkan studi empirik dilakukan untuk mengetahui kondisi riil praktek pembelajaran IPS dan model pembelajaran berbasis multikultur yang dibutuhkan dalam praktek pembelajaran IPS-SD, yang meliputi pelaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan model pembelajaran dan evaluasi, proses pembelajaran, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan pola evaluasi yang

(2)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

dipraktekkan guru IPS. Design adalah kegiatan untuk merancang draf atau produk awal perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multukultur. Draf ini kemudian divalidasi oleh dua orang ahli yang terdiri dari akademisi pendidikan IPS dan praktisi pembelajaran IPS. Development adalah kegiatan memvalidasi dan mengembangkan produk perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur, sehingga dihasilkan produk valid dan reliabel yang siap diimplmentasikan dalam proses pembelajaran IPS-SD. Disseminate adalah kegiatan menyebarluaskan dan mengimplementasikan produk tanpa kehadiran peneliti. Penelitian dan pengembangan prangkat pembelajaran dan model pemebelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD di Kota Singaraja ini hanya akan dilakukan sampai pada tahap development, yaitu validitas pakar, uji coba melalui penelitian yang diadaptasi dari penelitian tindakan kelas dan uji coba luas melalui eksperimen.

Validitas pakar dilakukan untuk memastikan perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD sesuai dengan isi dan konstruk perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Uji coba melalui adaptasi penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengidentifikasi dan memformulasikan kelemahan-kelamahan rancangan produk perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur yang dikembangkan ditinjau dari langkah-langkah pembelajarannya, sehingga dapat disempurnakan berdasarkan hasil yang diperoleh (Sugiyono, 2010: 245; Sukadi, 2010).

Berkenaan dengan itu, maka dalam uji coba terbatas dengan adaptasi dari penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan beberapa kali siklus sampai ditemukannya model yang ideal, sesuai dengan langkah-langkah penelitian tindakan kelas. Uji coba luas dilakukan untuk membandingkan efektivitas produk perangkat pembelajaran dan model belajar IPS berbasis multikultur dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Untuk mengetahui efektivitas produk perangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur ini dilakukan uji coba luas dengan posttest only control group design, di mana kelas

(3)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

kontrol menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelas eksperimen menggunakan perangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran IPS berbasis multikultural dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, maka dilakukan dengan membandingkan pengetahuan, sikap dan keterampilan multikultural siswa. Prosedur pengembangan dan validasi produk dilakukan dengan diagram alur kegiatan berikut:

Tahap Define Tahap Design Tahap Development ANALISIS

KEBUTUHAN (Need Assesment) melalui studi literatur

dan studi lapangan/

empirik

  Menganalisis pokok-pokok materi pendidikan multikultur dan prangkat pembelajaran Pendidikan IPS

  Studi empirik praktek belajar IPS berbasis Multikultur pada siswa SD

  Studi

dokumentasi, studi empirik dan needs assesment praktek

pembelajaran IPS-SD di Kota Singaraja

PENGEMBANGAN MODEL DAN JUDGMENT AHLI

  Pengembangan model

pembelajaran IPS berbasis

multikultural pada

siswa SD

(prangkat pembelajaran, siklus

pembelajaran IPS berbasis

multikultur dan model evaluasi)

Penggunaan judgment ahli untuk

penyempurnaan model

  Penyempurnaan model

pembelajaran IPS berbasis

multikultur

UJI COBA DAN PENYEMPURNAAN

MODEL

 Uji coba melalui adaptasi penelitian tindakan kelas tahap pertama

 Revisi model

 Pelaksanaan

tindakan tahap kedua

 Revisi model

Pelaksanaan

tindakan tahap

ketiga dan

seterusnya

Eksperimentasi model dengan posttest only control group design

 Revisi model dan penemuan model utama

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN IPS BERBASIS MULTIKULTUR

PADA SISWA SD DI KOTA SINGARAJA

(4)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Bagan. 3.1. Tahapan Pengembangan Perangkat Pembelajaran dan Model Pembelajaran IPS Berbasis Multikultur

3.2. Lokasi dan Seting Penelitian

Pengembangan perangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD ini dirancang untuk dapat diterapkan pada siswa sekolah dasar di Kota Singaraja. Untuk itu, penelitian pada tahap Define dan design ini dilakukan di Kota Singaraja pada setting penelitian: pendidik, kepala sekolah, siswa dan perpustakaan atau pusat dokumentasi. Pertimbangan penentuan lokasi penelitian ini disebabkan karena; (1) Kota Singaraja merupakan salah satu kota yang masyarakatnya sangat beragam dalam berbagai dimensi dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Provinsi Bali, (2) di sisi lain masyarakat Kota Singaraja sebagai masyarakat yang multikultural memiliki nilai-nilai budaya Bali yang kuat yang digunakan sebagai pengangan dan pedoman hidup oleh semua masyarakatnya, (3) siswa yang ada di Kota Singaraja, khususnya siswa SD berasal dari beragam budaya, agama, etnis, bahasa, daerah, kondisi sosial ekonomi, politik, dan ras, dan (4) Kota Singaraja saat ini merupakan salah satu kota yang mencoba mengembangkan diri menjadi center of excelent dalam bidang pendidikan, sehingga sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan inovasi dalam pengembangan pendidikan yang lebih berkualitas dan berdaya saing. Tempat dan partisipan penelitian ini dipilih secara purpossive sesuai dengan jenis informasi yang dikumpulkan.

Sedangkan pada tahap development, yaitu uji coba melalui classroom action research sesuai dengan desainnya dilakukan di Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja-Bali dengan menggunakan setting kelas pembelajaran IPS. Kelas IPS yang dilibatkan dipilih secara purpossive (bertujuan). Adapun rasional pemilihan Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja sebagai lokasi penelitian, didasarkan atas pertimbangan bahwa: (1) siswa Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja sangat heterogen (berasal dari beragam agama, suku, ras, golongan, daerah dan budaya), (2) Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja saat ini dikembangkan menjadi salah satu

(5)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

sekolah dasar yang berstandar internasional, dan (3) Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja merupakan sekolah binaan Universitas Pendidikan Ganesha, sehingga sangat memungkinkan untuk diajak bekerjasama dalam mengembangkan inovasi model pembelajaran. Pada tahap development ini, dilibatkan 1 orang partisipan guru Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja yang memenuhi persyaratan dan bersedia mengikuti kegitan penelitian sesuai dengan fungsinya.

Persyaratan yang dimaksudkan adalah guru yang dapat menguasai dan terampil dalam menggunakan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Untuk ini guru yang menjadi partisipan diberikan diklat secara intensif terlebih dahulu selama 20 jam untuk meningkatkan keterampilannya dalam melangsungkan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Sedangkan untuk uji coba luas dilakukan pada empat sekolah di Kota Singaraja-Bali. Penentuan sampel sekolah dalam eksperimentasi model ini menggunakan cluster sampling (multy stage sampling).

Untuk tahap pertama melakukan random sekolah untuk mendapatkan 4 (empat) sekolah sebagai sampel, yang terdiri dari 2 (dua) sekolah swasta dan 2 (dua) sekolah negeri. Tahap kedua melakukan random kelas untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Adapun sekolah dan kelas yang menjadi sampel penelitian eksperiment model dapat digambarkan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1. Sekolah Dasar yang Menjadi Sampel Penelitian untuk Eksperimentasi Model

No Nama Sekolah Status dalam Eksperimen

Jumlah Kelas

1 SD K. Karya Kelas Eksperimen 1 Kelas

2 SD 3 dan 4 Kelas Eksperimen 1 Kelas

3 SD Mutiara Kelas Kontrol 1 Kelas

4 SD 1 Astina Kelas Kontrol 1 Kelas

Jumlah 4 Kelas

Pada tahap development ini, dilibatkan empat orang partisipan guru Sekolah Dasar di Kota Singaraja yang memenuhi persyaratan dan bersedia mengikuti kegitan penelitian sesuai dengan fungsinya sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Persyaratan yang dimaksudkan adalah guru-guru yang dapat

(6)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

menguasai dan terampil dalam penggunaan model pembelajaran IPS berbasis multikultur dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Untuk itu guru-guru yang menjadi partisipan diberikan diklat secara intensif terlebih dahulu selama 20 jam.

3.3. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian sebagai sumber informasi pada penelitian tahap pertama dan kedua (define dan design) ini terdiri dari subjek dokumen tertulis dan subjek individu. Subjek penelitian yang berupa dokumen ditentukan berupa buku-buku teks, jurnal ilmiah, majalah ilmiah populer, kliping surat kabar, hasil penelitian dan dokumen kurikulum yang berkaitan dengan pembelajaran IPS berbasis multikultur dan kurikulum serta pembelajaran IPS-SD berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (BSNP, 2006: 7). Untuk kepentingan ini penelitian dilakukan di perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Berdasarkan, studi pendahuluan yang telah dilakukan diperpustakaan ini memiliki koleksi yang cukup representatif untuk menunjang pengembangan model pembelajaran IPS berbasis multikultur di Kota Singaraja.

Subjek individu sebagai informan dalam penelitian ini ditentukan meliputi:

para guru IPS-SD, kepala sekolah dan beberapa kalangan siswa SD. Semua subjek yang dipilih dalam penelitian ini ditentukan secara purpossive dan dengan teknik snowball. Hubungan antara subjek dan objek penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 3.2. Hubungan Antara Subjek dan Objek Penelitian No Subjek Penelitian Objek Penelitian

1 Dokumen tertulis di perpustakaan / pusat

dokumentasi:

buku teks, jurnal ilmiah, majalah ilmiah populer, kliping surat kabar, hasil penelitian sejenis

1. Kajian filosofis dan praktis tentang perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran berbasis multikultur

2. Kajian teoritis filosofis tentang pembelajaran IPS berbasis multikultural, yang meliputi: sumber, substansi materi kajian, konsep-konsep, norma dan nilai-nilai, pengembanagn perilaku, serta sistem pendidikannya

3. Kajian teoritis kearifan budaya Bali yang relevan dengan multikulturalisme, kondisi sosial budaya

(7)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

dan dokumen kurikulum

masyarakat Bali, dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan multikultural

4. Kajian teoritis dan praktis pelaksanaan pembelajaran IPS-SD

5. Pengembangan standar-standar: isi, proses pembelajaran, bahan ajar, model evaluasi dan model pembelajaran IPS-SD

2 Para guru IPS, kepala sekolah dan siswa SD di Kota Singaraja

1. Kajian teoritis dan praktis pelaksanaan pembelajaran IPS-SD

2. Pengembangan standar-standar: isi, proses pembelajaran, dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD

3. Pandangan guru, kepala sekolah dan siswa berkaitan dengan pembelajaran IPS-SD di Kota Singaraja

4. Pola yang dikembangkan kepala sekolah dalam mamanejemen guru SD di Kota Singaraja

5. Pandangan siswa dan guru berkaitan dengan langkah-langkah pembelajaran IPS berbasis multikultur yang dikembangkan

6. Panadangan siswa berkaitan dengan media dalam mengekspresikan budaya

Sedangkan untuk penelitian tahap ketiga (development) subyek penelitian ditentikan sesuai kebutuhan. Untuk uji coba terbatas yang menjadi subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Labroratorium Undiksha Singaraja. Untuk uji coba terbatas melalui adaptasi penelitian tindakan kelas sampel ditentukan secara purporsive (bertujuan). Sedangkan untuk uji coba luas yang menjadi subjek penelitian adalah semua siswa kelas V Sekolah Dasar di Kota Singaraja. Untuk uji coba luas sampel ditentukan dengan random sampling.

Untuk penelitian ini penentuan sampel yang dipilih secara random adalah kelas, bukan orang per-orang. Akan tetapi random kelas pada uji coba luas tidak melibatkan kelas yang telah digunakan untuk uji coba terbatas.

3.4. Difinisi Konseptual dan Difinisi Oprasional 3.4.1. Difinisi Konseptual

(8)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Model pembelajaran merupakan pedoman yang digunakan oleh guru dalam menglangsungkan proses pembelajaran dari awal sampai akhir, termasuk pola evaluasi, sarana prasarana yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran serta perangkat pembelajarannya. Model pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran yang melibatkan keseluruhan komponen pembelajaran dan didasari oleh filsafat konstruktivis.

Model pembelajaran menurut Wahab (2008: 52) adalah sebuah perencanaan pembelajaran yang menggambarkan proses yang ditempuh dalam pembelajaran agar tercapai perubahan spesifik prilaku siswa seperti yang diharapkan. Model pembelajaran digunakan untuk mengarahkan dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Pada penelitian ini yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah pedoman yang memberikan gambaran yang utuh bagi guru untuk merancang, melaksanakan dan melakukan proses evaluasi dengan langkah-langkah yang jelas dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Sedangkan yang dimaksud dengan “kompetensi multikultural merupakan seperangkat sikap dan nilai-nilai hidup yang mengakui, menghargai, menghormati, budaya, etnis, ras, dan agama orang lain tanpa adanya prasangka dan sikap yang negatif, sehingga tercipta demokratisasi dan kesederajatan antar budaya”. Adanya pengakuan kesederajatan budaya antara minoritas dan mayoritas akan menciptakan hubungan yang positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang memiliki keragaman kultural seperti Indonesia.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan kompetemsi multikultural dalam penelitian ini adalah kemampuan dan kemauan untuk menghargai, menyadari, memahami dan mengevaluasi budaya orang lain.

Penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010: 39). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model

(9)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

pembelajaran yang diklasifikasikan menjadi model pembelajaran berbasis multikultur dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran IPS berbasis multikultural dikenakan pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikenakan kepada kelompok kontrol.

Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengetahuan multikultur, nilai-nilai/sikap multikultur dan keterampilan multikultur siswa yang muncul akibat penerapan model pembelajaran IPS berbasis multikultur dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

3.4.2. Definisi Operasional

Untuk menggambarkan secara operasional variabel penelitian, di bawah ini diberikan definisi operasional masing-masing variabel. Model pembelajaran berbasis multikultural yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan domain dan nilai-nilai multikulturaisme. Sintaks model pembelajaran multikultural diawali dengan inisiasi, individual opinion, kelompok multikultural, multicultural opinion, implementasi dan refleksi. Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif yang memenuhi langkah-langkah sintaks pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu penyampain tujuan oleh guru, menyajikan informasi, mengorganisir kelompok belajar, membimbing kelompok, evaluasi dan pemberian penghargaan.

Pengetahuan multikultural merupakan seprangkat pengetahuan tentang keberagaman suku, ras, agama dan budaya masyarakat Indonesia yang diperoleh oleh siswa melalui praktek pembelajaran IPS. Pengetahuan multikultural menyangkut aspek pengetahuan tentang toleransi, empati, cinta damai dan hukum karma yang dapat diukur melalui tes. Tes yang digunakan untuk mengukur pengetahuan multikultural siswa adalah tes pilihan ganda (objektif). Penilaian pengetahuan multikultural menyangkut aspek kognitif, diantaranya: mengingat, memahami, menerapkan, dan menganalisis. Nilai-nilai atau sikap multikultural yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap untuk toleran, empati, cinta

(10)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

damai dan meyakini adanya hukum karma. Sikap toleran, empati, cinta damai dan meyakini adanya hukum karma ini dapat diukur dengan menggunakan inventori nilai. Sedangkan keterampilan multikultural merupakan seprangkat sikap dan nilai-nilai hidup yang mengakui, menghargai, menghormati, suku, ras, agama dan budaya orang lain tanpa adanya prasangka dan sikap yang negatif, sehingga tercipta demokratisasi dan kesederajatan antar budaya. Keterampilan multikultural mencakup dan terlihat dalam kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan, keterampilan bekerjasama dan keterampilan untuk memecahkan masalah.

3.5. Prosedur Pengembangan Model Pembelajaran IPS Berbasis Multikultur 3.5.1. Analisis Kebutuhan (Define)

Analisis kebutuhan dilakukan sebagai dasar untuk merancang produk perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Analisis kebutuhan dilakukan melalui studi literatur dan studi lapangan/ empirik. Studi literatur dilakukan untuk mengkaji buku teks, jurnal ilmiah, majalah ilmiah populer, kliping surat kabar, hasil penelitian sejenis dan dokumen kurikulum IPS-SD. Adapun kegiatan yang dilakukan pada studi literatur adalah: (a) melakukan analisis terhadap kajian filosofis dan praktis tentang proses pembelajaran, model evaluasi, model belajar dan bahan ajar IPS berbasis multikultur pada siswa SD, (b) kajian teoritis tentang pembelajara IPS berbasis multikultur pada siswa SD, yang meliputi: sumber, substansi materi kajian, konsep-konsep, norma dan nilai-nilai, pengembanagan perilaku, serta sistem pendidikannya, (c) kajian teoritis dan praktis pelaksanaan pembelajaran IPS-SD di Kota Singaraja Provinsi Bali, dan (d) pengembangan standar-standar: isi, proses, bahan ajar, media, model evaluasi dan model pembelajaran IPS-SD.

Studi lapangan/ empirik dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan data berkenaan dengan; (a) kajian kearifan budaya yang relevan dengan pembelajaran IPS berbasis multikultural pada siswa SD, (b) kajian teoritis dan praktis pelaksanaan pembelajaran IPS-SD, dilihat dari perangkat pembelajaran yang digunakan, model evaluasinya dan model belajar yang digunakan oleh guru

(11)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

SD di Kota Singaraja dan (c) pandangan guru, kepala sekolah dan siswa berkaitan dengan pembelajaran IPS-SD di Kota Singaraja.

3.5.2. Perancangan Draf Perangkat Pembelajaran dan Model Pembelajaran IPS Berbasis Multikultur

Hasil yang diperoleh dari studi literatur dan studi lapangan digunakan sebagai bahan untuk merancang produk awal (draf) prangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Pada tahap ini dikembangkan standar-standar: isi, proses pembelajaran, bahan ajar, media, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Setelah draf awal selesai, maka dilakukan uji validitas pakar untuk mengetahui kelemahan konstruks dan langkah- langkah model yang dikembangkan. Sesuai dengan masukan pakar, maka dilakukan penyempurnaan model yang dikembangkan.

3.5.3. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dan Model Pembelajaran IPS Berbasis Multikultur (Development)

Pada tahap pengembangan ini akan dilakukan uji coba melalui adaptasi penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja. Kegiatan pada uji coba ini adalah sebagai berikut : (a) melakukan random kelas pada semua siswa kelas V Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha, untuk menentukan sampel kelas, (b) memberikan diklat kepada guru yang akan melangsungkan proses pembelajaran dengan prangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur, (c) guru melangsungkan proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur, (d) guru dan siswa memberikan tanggapan terhadap model pembelajaran IPS berbasis multikultur yang dikembangkan, dan (e) menyempurnakan model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Kemudian dialanjutkan dengan siklus berikutnya dengan langkah-langkah yang sama untuk menemukan model pembelajaran IPS berbasis multikultural yang representatif dengan kebutuhan siswa SD di Kota Singaraja. Menurut Arikunto, (2008: 16) ada empat langkah penelitian tindakan kelas, yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan,

(12)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

(3) pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun siklus classroom action research dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 3.2. Siklus Classroom Action Research

Untuk uji coba luas akan dilakukan dengan rancangan posttest only control group design. Kegiatan pada uji coba luas ini adalah sebagai berikut : (a) melakukan random sekolah untuk mendapatkan 4 (empat) sekolah sebagai sampel, yang terdiri dari 2 (dua) sekolah swasta dan 2 (dua) sekolah negeri.

Kemudian melakukan random kelas untuk menentukan kelas kontrol (dua kelas) dan kelas eksperimen (dua kelas), (b) memberikan diklat kepada guru yang akan melangsungkan proses pembelajaran dengan pangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur dan guru yang akan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, (c) guru melangsungkan proses pembelajaran dengan menggunakan prangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada kelas eksperimen, dan melangsungkan proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD pada kelas kontrol, (d) guru melakukan evaluasi terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan multikultural siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen, (e) peneliti melakukan analisi terhadap hasil belajar siswa yang berupa pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan multikultur, dan (f) merekomendasikan prangkat pembelajaran dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada guru-guru SD.

Perencanaan

SIKLUS I Pelaksanaan

Refleksi

Pengamatan Perencanaan SIKLUS II Pengamatan

Refleksi Pelaksanaan

Dst

(13)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Produk akhir dari penelitian dan pengembangan ini adalah perangkat pebelajaran, model pembelajaran dan model evaluasi pembelajaran IPS berbasis multikultur yang valid, reliabel dan relevan untuk diterapkan dalam praktek pembelajaran IPS-SD. Produk penelitian ini, diharapkan dapat langsung dipergunakan oleh guru, khususnya guru-guru IPS-SD yang ada di Kota Singaraja dan disebarluaskan kepada guru-guru IPS-SD yang ada di Provinsi Bali.

Sehingga, pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan multikultur bisa diinternalisasi dan diamalkan oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

3.6. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Instrumen penelitian dalam penelitian ini, menggunakan prinsip bahwa peneliti adalah instrumen utama penelitian (human instrumen). Hal ini didasari oleh suatu pertimbangan, bahwa hanya penelitilah yang dapat melakukan pengumpulan data dari berbagai subyek penelitian secara fleksibel hingga tercapainya kejenuhan data. Di samping itu, pengkajian mengenai pengembangan model pembelajaran IPS berbasis multikultur pada siswa SD di Kota Singaraja dibangun dan dikembangkan atas dasar pemikiran yang subyektif alamiah, (Atmaja, 2007: 7). Peneliti secara langsung berhubungan dengan subjek penelitian sekaligus dengan peristiwa dan latar alamiah penelitian. Selama berlangsungnya pengumpulan data, maka peneliti dalam kapasitasnya sebagai instrumen penelitian, menggunakan beberapa alat bantu pengumpul data, seperti;

(1) pedoman wawancara, (2) format observasi, (3) format studi dokumentasi, (4) tes pengetahuan multikultur, inventori nilai multikultur, format observasi tingkah laku multikultur, dan (5) kamera photo sebagai alat perekam situasi. Berdasarkan prinsip human instrumen yang dianut dalam penelitian ini, maka jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi; kata-kata, tindakan, situasi, peristiwa, dan hasil belajar siswa serta dokumen yang dapat diobservasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah kelompok subjek penelitian di atas yang dikembangkan secara sirkuler mulai dari awal hingga akhir penelitian. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berupa:

(14)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

1. Kata-kata diperoleh secara langsung atau tidak langsung seperti hasil wawancara, tulisan berupa rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), kurikulum, program tahuanan, program semesteran, model evaluasi, hasil belajar siswa dan dokumen lainnya dari subjek penelitian, yang diperoleh melalui tehnik wawancara, partisipasi, dan observasi.

2. Tindakan dapat diperoleh dari pelaksanaan praktek pembelajaran, penugasan kepada siswa, kegiatan yang dilakukan baik oleh guru maupun siswa, yang diperoleh dengan teknik observasi dan partisipasi.

3. Dokumen, berupa bahan tertulis atau cetak, gambar, foto, data statistik, catatan, yang berkaitan dengan penelitian ini, dikumpulkan dengan teknik studi kepustakaan (studi dokumentasi).

4. Peristiwa atau situasi, yang berkaitan dengan kegiatan subjek penelitian yang berkaitan dengan masalah penelitian, seperti dalam bentuk proses pembelajaran, penugasan kepada siswa, mengerjakan tugas, pembagian tugas dalam kelompok dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan masalah penelitian, yang dikumpulkan dengan teknik observasi-partisipatif.

5. Hasil belajar siswa, yang diperoleh dari jawaban siswa dalam mengerjakan tes pengetahuan multikultural, inventori nilai multikultural dan keterampilan multikultur siswa yang dievaluasi dalam proses pembelajaran.

Pengumpulan data pada tahap define dan design dilakukan melalui studi dokumen, wawancara mendalam dan observasi. Studi dokumen dilakukan di Perpustakaan Undiksha Singaraja. Studi literatur dilakukan untuk mengkaji buku teks, jurnal ilmiah, majalah ilmiah populer, kliping surat kabar, hasil penelitian sejenis dan dokumen kurikulum IPS-SD. Data yang dicari adalah kearifan budaya Bali yang relevan dengan multikulturalisme, kondisi sosial budaya masyarakat Bali, dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan multikultural. Untuk studi dokumen, instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman atau format studi/analisis dokumen. Format kajian dokumen ini mengandung bagian-bagian:

nama sumber/dokumen; judul dokumen; pengarang/pengawi/penulis; penerbit;

(15)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

tahun pembuatan/terbit; isi dokumen baik yang bersifat verbatim, deskripsi, mapun tabulasi; dan komentar atau interpretasi isi dokumen.

Untuk studi empirik, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap siswa, guru dan kepala sekolah yang menjadi informan penelitian. Semua informan yang dipilih pada tahap studi empirik ini ditentukan secara purpossive (bertujuan) dengan teknik snowball (bola salju). Adapun data yang dicari dalam studi empirik ini adalah kajian kearifan budaya Bali yang relevan dengan pembelajaran IPS berbasis multikultural pada siswa SD, kajian teoritis dan praktis pelaksanaan pembelajaran IPS-SD, dilihat dari perangkat pembelajaran yang digunakan, model evaluasinya dan model belajar yang digunakan oleh guru SD di Kota Singaraja dan pandangan guru, kepala sekolah dan siswa berkaitan dengan pembelajaran IPS-SD di Kota Singaraja. Instrumen penelitian yang digunakan dalam studi empirik ini adalah pedoman wawancara dan observasi. Peneliti mengembangkan pedoman wawancara secara mendalam yang tidak terstruktur. Tetapi, ketika pola- pola tertentu telah dapat ditemukan dan dilakukan wawancara ulang, pedoman wawancara dikembangkan ke pedoman wawancara terstruktur. Pedoman wawancara tidak terstruktur memuat point-point penting sebagai berikut: tujuan wawancara, nama interview, waktu dan durasi pelaksanaan wawancara, tempat/setting wawancara, pewawancara, outline atau pokok-pokok bahasan wawancara dan kemungkinan pengembangannya, tempat pencatatan proses wawancara, komentar atau interpretasi atas hasil wawancara, dan deskripsi/narasi hasil wawancara. Dalam melakukan wawancara, peneliti mengatur pertanyaan- pertanyaan untuk wawancara dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan informasi yang bersifat deskriptif dan naratif, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghasilkan informasi argumentatif dan bersifat struktural, berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghasilkan informasi komparatif atau kontras, dan pertanyaan-pertanyaan yang menghasilkan temuan tema-tema budaya yang signifikan (Spradley, 1980: 163).

(16)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Sedangkan untuk observasi, peneliti mengembangkan pedoman observasi tidak terstruktur berkaitan dengan berbagai aktivitas pembelajaran di kelas dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran (Arikunto, 2008: 106). Adapun kegiatan yang diobservasi dalam penelitian ini adalah proses pelaksanaan pembelajaran IPS-SD, aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS, kegiatan guru dalam proses pembelajaran IPS dan suasana intarksional dalam pembelajaran IPS.

Tahap (development), yaitu uji coba terbatas yang dilakukan melalui adaptasi penelitian tindakan kelas, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan tes hasil belajar, inventori nilai dan pedoman observasi. Observasi pada tahap ini dilakukan terhadap pelaksanaan langkah- langkah pembelajaran IPS berbasis multikultur, kegiatan guru dalam proses pembelajaran IPS berbasis multikultur, suasana intraksional dalam pembelajaran IPS berbasis multikultur dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.

Wawancara pada tahap ini dilakukan terhadap guru dan siswa kelas V Sekolah Dasar Laboratorium Undiksha Singaraja yang menjadi kelas uji coba model pembelajaran IPS berbasis multikultur. Sedangkan tes hasil belajar digunakan untuk memetakan kemampuan siswa yang berupa pengetahuan, nilai-nilai/sikap dan keterampilan multikultur. Hasil observasi, wawancara dan tes hasil belajar ini digunakan sebagai bahan refleksi dan evaluasi terhadap model pembelajaran IPS berbasis multikultur yang dikembangkan. Melalui evaluasi ini dilakukan perbaikan dan penyesuaian terhadap model yang dikembangkan sampai menemukan model pembelajaran IPS berbasis multikultur yang dinilai “ideal” dan layak untuk dipraktekkan dalam proses pembelajaran.

Sedangkan tahap (development), yaitu uji coba luas untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar IPS siswa dilakukan melalui tes objektif pilihan ganda tentang pengetahuan multikultur, inventori nilai/sikap multikultural, dan observasi tentang keterampilan multikultural siswa. Hasil belajar siswa ini kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran IPS berbasis multikultural dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun tes pengetahuan multikultur,

(17)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

inventori nilai multikultur dan pedoman observasi tingkah laku multikultural yang digunakan dalam penelitian tahap uji coba luas ini adalah sebagai berikut.

3.6.1. Tes Pengetahuan Multikultur

Tes pengetahuan multikultur yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan sendiri oleh peneliti. Tes yang dikembangkan dan digunakan adalah tes objektif pilihan ganda dengan 4 pilihan yang mengandung satu jawaban yang paling benar. Tes ini dikembangkan melalui prosedur: penyusunan kisi-kisi, pembuatan butir-butir soal, uji validasi ahli dan praktisi, revisi, uji coba, analisis hasil uji coba, dan penulisan akhir. Kisi-kisi soal yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3. Kisi-kisi Tes Pengetahuan Multikultur

NO INDIKATOR NOMOR

SOAL

JUMLAH BUTIR 1 Menyebutkan keragaman suku, ras, agama dan

budaya masyarakat Indonesia;

1, 2, 3, 3 2 Menjelaskan kelemahan dan kelebihan

masyarakat multikultural;

4, 5 2

3 Mengidentifikasi masalah-masalah multikultural yang ada pada lingkungan masyarakatnya;

6, 7, 8 3

4 Mengidentifikasi implikasi masalah-masalah multikultural bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

9, 10, 11 3

5 Menjelaskan pentingnya kesadaran multikultural bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

12, 13, 14 3

6 Menceritakan akibat jika

warganegara/masyarakat tidak menghargai adanya keberagaman agama, suku, rasa dan agama

15, 16, 17 3

7 Memformulasikan nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan hidup dalam masyarakat multikultural

18, 19, 20 3

8 Mengusulkan cara-cara meningkatkan kesadaran multikultural masyarakat untuk dapat hidup secara damai dan harmonis dalam keberagaman

21, 22, 23 3

9 Menujukkan contoh bentuk-bentuk penghargaan terhadap keberagaman di lingkungan sekolah;

24, 25, 26, 27

4 10 Menjelaskan kelemahan-kelemahan kesadaran

multikultural di lingkungan sekolah;

28, 29, 30 3

(18)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

11 Mengusulkan kegiatan yang menunjukkan adanya kesadaran multikulturalisme di lingkungan sekolah.

31, 32, 33, 34

4

Jumlah Butir 34

Selanjutnya 34 butir tes pengetahuan multikultur tesebut dibagi tiga bagian yaitu 11 butir dipergunakan pada siklus I, 12 butir dipergunakan pada siklus II, dan sisanya 11 butir dipergunakan pada siklus III. Selengkapnya mengenai kisi- kisi dan tes pengetahuan multikultur tiap siklusnya dapat dilihat pada lampiran 1.d.

Instrumen penelitian yang berupa tes pengetahuan multikultur perlu diuji coba. Uji coba instrumen dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tes yang telah disusun. Uji coba tes yang dilakukan adalah uji coba terpakai yaitu langsung dipakai pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

3.6.1.1. Validasi Instrumen Tes Pengetahuan Multikultur 3.6.1.1.1. Validitas

Validitas tes mengacu kepada ketepatan dan kecermatan suatu tes melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2002) yang berarti bahwa kemampuan tes mengukur yang seharusnya diukur. Validitas tes yang umum diperhatikan adalah validitas isi dan validitas susunan. Validitas isi tes dilakukan melalui uji ahli atau profesional (expert judment) oleh pakar evaluasi pendidikan dari staf pengajar Program Pasca Sarjana Undiksha (judment 1) dan seorang guru SD Lab. Undiksha Singaraja (judment 2) yang hasil penilaiannya dianalisis dengan teknik Gregory.

Untuk menentukan validitas isi dengan teknik Gregory dilakukan dua langkah. Pertama, para pakar melakukan penilaian terhadap instrumen per butir dengan menggunakan skala 1 untuk kategori tidak relevan, skala 2 untuk kategori agak relevan, skala 3 untuk kategori relevan, dan skala 4 untuk kategori sangat relevan. Selanjutnya dilakukan pengelompokan skala yaitu: skala 1 dan 2 dikelompokkan menjadi kurang relevan sedangkan skala 3 dan 4 dikelompokkan menjadi sangat relevan. Kedua, hasil penelitian pakar ditabulasikan kedalam bentuk matrik tabulasi silang (2x2) dan memasukkan data hasil tabulasi silang ke dalam rumus validitas isi. Rumus validitas yang digunakan adalah sebagai berikut

(19)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

D C B A Isi D Validitas

 

(Gregory, 2000:98-99) Keterangan:

A : sel yang menunjukkan pendapat kedua penilai/pakar menyatakan butir tes kurang relevan

B : sel yang menunjukkan pendapat penilai/pakar I menyatakan bahwa butir sangat relevan sedangkan penilai/pakar II menyatakan bahwa butir kurang relevan

C : sel yang menunjukkan pendapat penilai/pakar I menyatakan bahwa butir kurang relevan sedangkan penilai/pakar II menyatakan bahwa butir sangat relevan

D : sel yang menunjukkan pendapat kedua penilai/pakar menyatakan bahwa butir sangat relevan

Kriteria validasi isi:

0,80 – 1,00 : validasi isi sangat tinggi 0,60 – 0,79 : validasi isi tinggi 0,40 – 0,59 : validasi isi sedang 0,20 – 0,39 : validasi rendah

0,00 – 0,19 : validasi sangat rendah

Menurut Gable (dalam Koyan, 2007) semakin besar nilai D semakin baik pula validitas isi butir tes. Dari uji judges diperoleh validitas isi instrumen tes pengetahuan multikultur adalah 0,88. Jadi validitas isi dari tes pengetahuan multikultu tergolong sangat tinggi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.a.

Selain validitas isi, validitas butir tes pengetahuan multikultur juga dicari secara empiris. Validitas butir tes ditentukan melalui analisis butir berdasarkan koefisien korelasi point biserial (rpbi) dengan rumus:







 

 

q

M p r M

t t p

pbi

(Guilford, 1959 :303) Keterangan :

rpbi : koefisien korelasi point biserial Mp : rata-rata skor yang menjawab benar Mt : rata-rata skor seluruhnya

σt : simpangan baku skor seluruhnya

(20)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

p : proporsi yang menjawab benar q : proporsi yang menjawab salah

Dengan kriteria bahwa butir dikategorikan valid jika rpbi > rtabel pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan analisis butir dengan korelasi point biserial dengan menggunakan program excel diperoleh hasil sebagai berikut.

Pada siklus I, dari 11 butir instrumen tes pengetahuan multikultur semua butir tergolong valid. Siklus II, dari 12 butir instrumen tes pengetahuan multikultur 10 diantaranya valid dan sisanya 2 butir gugur yaitu butir nomor 2 dan 11. Sedangkan pada siklus III, dari 11 butir instrumen tes pengetahuan multikultur 10 diantaranya valid dan sisanya 2 butir diantaranya gugur, yakni butir nomor 9 dan 11. Hasil selengkapnya hasil perhitungan validitas instrumen tes pengetahuan multikultur dapat dilihat pada lampiran 4.a.b.c.

3.6.1.1.2. Reliabilitas

Reliabilitas tes mengacu kepada keajegan hasil pengukuran (Aswar: 2002), yang berarti bahwa hasil pengukuran akan relatif sama walaupun dilakukan pengukuran yang berulang-ulang terhadap subjek yang sama. Analisis tes dilakukan hanya untuk butir-butir tes yang valid. Sehingga analisis reliabilitas dilakukan setelah analisis validitas tes dikerjakan. Untuk menentukan reliabilitas tes kemampuan kognisi digunakan rumus KR-20 yaitu :





 



 

 

2 2

1 t

t tt

pq n

r n

(Guilford, 1959 : 303) Keterangan:

rtt : koefisien korelasi n : banyak butir σt2

: varian total

p : proporsi yang menjawab benar q : proporsi yang menjawab salah

Menurut Guilford (1959) reliabilitas suatu tes dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan seperti yang ditunjukkan tabel berikut:

Tabel 3.4. Kriteria Nilai Koefisien Reliabilitas

(21)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Kreteria Kualifikasi Kualifikasi 0,9 < Koef. Reliab < 1 Reliabilitas tes sangat tinggi 0,7 < Koef. Reliab. < 0,9 Reliabilitas tes tinggi 0,4 < Koef. Reliab. < 0,7 Reliabilitas tes cukup 0,2 < Koef. Reliab. < 0,4 Reliabilitas tes rendah 0,0 < Koef. Reliab. < 0,2 Reliabilitas tes sangat rendah

Dengan menggunakan excel diperoleh koefisien reliabilitas tes pengetahuan multikultur untuk 30 butir adalah 0,87. Berdasarkan kritera penggolongan di atas maka reliabilitas tes pengetahuan multikultur tergolong tinggi. Hasil perhitungan selengkapnya mengenai reliabitas tes pengetahuan multikultur dapat dilihat pada lampiran 4.d.

3.6.1.1.3. Daya Beda Tes

Sebelum menetukan daya beda tes, terlebih dahulu ditentukan kelompok atas dan kelompok bawah. Penentuan masing-masing kelompok dilakukan dengan mengurut skor siswa dari skor tertinggi sampai skor terendah, kemudian diambil 27% skor tertinggi (kelompok atas) dan 27% skor terendah (kelompok bawah).

Daya beda tes adalah kemampuan suatu tes untuk membedakan kemampuan siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai dalam suatu kelompok. Untuk menganalisis daya beda butir soal digunakan rumus:

n K DP 2(KAB)

(Depdiknas, 2007:4)

Keterangan:

DP = Daya Pembeda Soal

KA = Banyak siswa kelompok atas yang menjawab benar KB = Banyak siswa kelompok bawah yang menjawab benar n = Banyak siswa

Menurut Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas (2007: 7) soal yang baik atau diterima bila memiliki daya pembeda soal di atas 0,25, karena soal tersebut

(22)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

dapat membedakan kelompok siswa yang berkemampuan tinggi dan kemampuan rendah. Berikut ini kreteria daya pembeda butir soal (halaman berikut).

Tabel 3.5. Kriteria Daya Pembeda Butir Soal Kriteria Daya Pembeda Keputusan

DP > 0,25 Diterima

0 < DP ≤ 0,25 Diperbaiki

DP ≤ 0 Ditolak

(Depdiknas, 2007: 5)

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh dari 11 butir soal pada siklus I , 9 soal diterima dan sisanya 2 soal diperbaiki. Pada siklus II, dari 12 butir soal yang digunakan, 4 soal diterima, 7 soal diperbaiki dan satu soal ditolak.

Sedangkan pada siklus III, dari 11 soal yang digunakan 2 soal diterima, 7 soal diperbaiki 2 soal ditolak. Hasil selengkapnya mengenai perhitungan daya beda tes dapat dilihat pada lampiran 4.e.f.g.

3.6.1.1.4. Tingkat Kesukaran Tes

Tingkat kesukaran adalah proporsi siswa yang menjawab benar atau untuk menentukan apakah suatu instrumen terlalu sukar atau terlalu mudah bagi siswa yang akan diukur, sehingga tes benar-benar dapat menggambarkan kemampuan yang dimilikinya. Untuk mengukur kesukaran tes hasil belajar digunakan rumus:

n TKJB

(Depdiknas, 2007:12) Keterangan:

TK = Tingkat Kesukaran

JB = Banyak siswa yang menjawab benar n = banyaknya siswa

Tingkat kesukaran biasanya dibagi menjadi 3 kategori yaitu soal sukar, sedang dan mudah. Berikut kriteria tingkat kesukaran soal.

Tabel 3.6. Kriteria Tingkat Kesukaran Butir Soal Kriteria Tingkat Kesukaran Kategori

TK < 0,3 Sukar

0,3 ≤ TK ≤ 0,7 Sedang

TK > 0,7 Mudah

(23)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tingkat kesukaran tes pengetahuan multikultur dengan rincian 8 butir tergolong sedang dan sisanya 26 butir tergolong mudah. Hasil selengkapnya mengenai perhitungan tingkat kesukaran tes dapat dilihat pada lampiran 4.e.f.g.

3.6.2. Inventori Nilai/Sikap Multikultur

Inventori nilai/sikap multikultur yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan sendiri oleh peneliti. Inventori yang dikembangkan dan digunakan adalah inventori nilai multikultur yang mengandung pernyataan-pernyataan bermuatan nilai positif dan negatif dengan 4 pilihan jawaban dari tidak baik, kurang baik, baik, hingga sangat baik. Respon siswa kemudian diberi skor sesuai dengan sifat pernyataannya. Untuk pernyataan positif maka respon tidak baik diberi skor 1 dan seterusnya hingga respon sangat baik diberi skor 4. Begitu sebaliknya untuk pernyataan yang bersifat negatif. Inventori nilai ini dikembangkan melalui prosedur: penyusunan kisi-kisi, pembuatan butir-butir inventori, uji validasi ahli dan praktisi, revisi, uji coba, analisis hasil uji coba, dan penulisan akhir. Kisi-kisi inventori nilai yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.7. Kisi-kisi Inventori Nilai/Sikap Multikultur

NO INDIKATOR NOMOR SOAL JUMLAH

BUTIR 1 Sikap/Nilai Toleransi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,

11, 12, 13, 14

14 2 Sikap/Nilai Empati 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21,

22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

16

3 Sikap/Nilai Cinta Damai 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45

15 4 Sikap/Nilai Hukum Karma 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52,

53, 54, 55, 56, 57

12

Jumlah Butir 57

Selanjutnya 57 butir instrumen sikap multikultural tesebut dibagi menjadi tiga bagian yang sama yaitu 19 butir dipergunakan pada setiap siklusnya.

(24)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Selengkapnya mengenai kisi-kisi dan inventori nilai/sikap multikultur tiap siklusnya dapat dilihat pada lampiran 1.e.

Instrumen penelitian yang berupa inventori nilai/sikap multikultural perlu diuji coba. Uji coba instrumen dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tes yang telah disusun. Uji coba tes yang dilakukan adalah uji coba terpakai yaitu langsung dipakai pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

Setelah dilakukan uji coba pada penelitian dindakan kelas, maka akan ditemukan tingkat validitas dan reliabilitasnya, sehingga instrumen nilai/sikap multikultural dapat dipergunakan dalam eksperimen.

3.6.2.1. Validasi Instrumen Sikap Multikultur 3.6.2.1.1. Validitas

Untuk menentukan validitas isi dari instrumen sikap multikultural menggunakan teknik Gregory. Koefisien validitas isi yang diproleh dari hasil uji judges adalah 0,88. Sesuai dengan kriteria penggolongan di atas maka validitas instrumen sikap multikultural tergolong tinggi. Perhitungan selengkapnya dari hasil tabulasi pakar dapat dilihat pada lampiran 2.b.

Selain validitas isi, validitas butir instrumen sikap multikultural juga dicari secara empiris. Validitas butir instrumen sikap multikultural ditentukan melalui analisis butir berdasarkan koefisien korelasi product moment.

 

   

 

2 2 2 2

Y Y

N X X

N

Y X XY

rxy N

(Arikunto, 2008)

Keterangan :

X = skor butir Y = skor total

N = banyaknya responden

Kriteria yang digunakan adalah dengan membandingkan harga rxy dengan harga tabel kritik r product moment, dengan ketentuan rxy dikatakan valid apabila rxy > r tabel pada taraf signifikansi 5 %. Dengan menggunakan program excel, hasil validitas instrumen pada tiap siklusnya adalah sebagai berikut.

(25)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pada siklus I, dari 19 butir instrumen sikap multikultural 17 butir valid dan sisanya 2 butir gugur, yakni butir nomor 7 dan 12. Siklus II, dari 19 butir instrumen sikap multikultural 17 diantaranya valid dan sisanya 2 butir gugur yaitu butir nomor 8 dan 12. Sedangkan pada siklus III, dari 19 butir instrumen sikap multikultural 16 diantaranya valid dan sisanya 3 butir diantaranya gugur, yakni butir nomor 3, 5 dan 16. Hasil selengkapnya hasil perhitungan validitas instrumen sikap multikultural dapat dilihat pada lampiran 4.h.i.j.

3.6.2.1.2. Reliabilitas

Reliabilitas butir observasi diukur dengan menggunakan rumus Alpa- Cronbach :

2 2 2

1 t

i t

SD SD SD

k

r k

 

 

(Aplikasi Komputer UNJ, 2003) Keterangan:

K = banyakanya butir tes SDt2 = varians skor total SDt2 = varians skor butir ke-i

Dengan menggunakan program excel diperoleh koefisien reliabilitas untuk lembar adalah 0,91. Berdasarkan dari kriteria penggolongan di atas maka reliabilitasnya tergolong sangat tinggi. Hasil selengkapnya mengenai perhitungan reliabilitas instrumen sikap multikultural dapat dilihat pada lampiran 4.k.

3.6.3. Pedoman Observasi Keterampilan Multikultur

Pedoman observasi tingkah laku multikultur yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan sendiri oleh peneliti. Pedoman observasi yang dikembangkan dan digunakan adalah pedoman observasi yang mengandung keterampilan multikultur yang ditunjukkan siswa di lingkungan sekolah dengan 5 pilihan dari selalu, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Kemudian diberi skor sesuai dengan intensitas perilaku yang muncul pada diri siswa (setiap proses pembelajaran terjadi). Pedoman observasi ini dikembangkan melalui prosedur: penyusunan kisi-kisi, pembuatan butir-butir pedoman observasi, uji

(26)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

validasi ahli dan praktisi, revisi pedoman observasi, uji coba, analisis hasil uji coba, dan penulisan akhir untuk menemukan instrumen observasi keterampilan multikultur yang valid dan reliabel. Kisi-kisi pedoman observasi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.8. Kisi-kisi Pedoman Observasi Keterampilan Multikultur

NO INDIKATOR NOMOR SOAL JUMLAH

BUTIR 1 Keterampilan

Mengkomunikasikan Ide/Pikiran

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 9 2 Keterampilan Bekerjasama 10, 11, 12, 13, 14, 15,

16, 17, 18

9 3 Keterampilan Memecahkan

Masalah

19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27

10

Jumlah Butir 27

Butir-butir pedoman observasi yang dihasilkan dari pengembangan kisi- kisi di atas kemudian dinilai oleh dua orang pakar dan praktisi (guru IPS-SD) untuk mengetahui tingkat validitas isi instrumen yang dianalisis dengan teknik analisis Gregory. Berdasarkan uji judges diperoleh koefisien validitas isi instrumen keterampilan multikultur adalah 0,85. Berdasarkan kriteria di atas maka validitas isi instrumen keterampilan multikultur tergolong sangat tinggi. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.c.

Sama halnya dengan instrumen sikap multikultural selain validitas isi, validitas butir instrumen keterampilan multikultur juga dicari secara empiris.

Validitas butir instrumen keterampilan multikultural ditentukan melalui analisis butir berdasarkan koefisien korelasi product moment. Berdasarkan analisis butir korelasi product moment diperoleh dari 27 butir instrumen keterampilan multikultur semuanya tergolong valid. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.l. Reliabilitas instrumen keterampilan multikultur sama dengan instrumen sikap multikultural dicari dengan menggunakan rumus Alpa- Cronbach. Koefisien reliabilitas yang diperoleh adalah 0,87 dan berdasarkan kriteria di atas maka reliabilitas instrumen keterampilan multikultur tergolong tinggi. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.m.

(27)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

3.7. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1. Analisis Data Tahap Define dan Design

Analisis data dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis sumber dan data yang diperoleh. Untuk analisis data tahap define dan design dilakukan secara kualitatif, yaitu mengkatagori dan mengklasifikasi data secara menyeluruh berdasarkan kaitan logisnya, kemudian ditafsirkan dalam keseluruhan konteks penelitian, sehingga dapat diambil kesimpulan sesuai dengan makna yang sebenarnya. Peneliti dalam kegiatan ini, akan berusaha memunculkan makna dari setiap data yang ada, sehingga tidak hanya bersifat deskriptif melainkan menyentuh dimensi transenden atau menemukan makna dibalik data yang tampak dalam proses penelitian. Untuk mencapai hal itu, maka peneliti berusaha berpikir secara “divergen yang kreatif tetapi kritis” (Lincoln, 2009: 232), sehingga subjektivitas pemaknaan terhadap keseluruhan data dapat dieliminir. Adapun tahapan analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Miles dan Haberman, (1992: 74) dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 3.3. Komponen dalam analisis data Kualitatif

Secara rinci langkah-langkah pengolahan dan analisis data pada tahap define dan design ini dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) koleksi data, yaitu proses pengumpulan data dari subyek penelitian, baik yang berupa dokumen, kata-kata, tindakan dan pristiwa, (2) reduksi data, dalam tahap ini data yang telah terkumpul akan direduksi, dipilah, dipilih dan dirangkum hal-hal yang penting dan

Data Collection

Data Disply

Data Reduction

Conclusion Drawing/Verification

(28)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

berhubungan dengan kajian penelitian. Data yang tidak berhubungan dengan kajian penelitian akan dieliminir untuk analisis data berikutnya, sehingga memudahkan penarikan kesimpulan dan verifikasi data, (3) penyajian dan klasifikasi data, untuk dapat melihat gambaran data secara menyeluruh, maka akan dilakukan klasifikasi dengan menggunakan beberapa matrik data, kemudian dideskripsikan secara rinci. Klasifikasi ini dilakukan dengan menggunakan kode yang telah digunakan pada tahap sebelumnya, dan (4) penarikan kesimpulan dan verifikasi, pada dasarnya dalam penelitian naturalistik pengambilan kesimpulan telah dilakukan sejak awal penelitian, namun terus dikembangkan dan diverifikasi selama berlangsungnya penelitian. Dalam verifikasi ini, peneliti berusaha mencari data baru atau memperdalam penelitian atau melakukan “intersubjective consensus”. Hal ini dilakukan untuk merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian sampai terbentuknya hipotesis akhir penelitian.

Pada dasarnya, langkah-langkah di atas bukanlah sesuatu yang harus berurutan akan tetapi dapat pula dilakukan dengan bersamaan secara terus menerus selama berlangsungnya penelitian, hingga dapat dirumuskannya kesimpulan akhir penelitian mengenai pengembangan perangkat pembelajaran, model evaluasi dan model pembelajaran IPS berbasis multikultur yang ideal untuk diterapkan pada siswa SD di Kota Singaraja. Untuk menghindari terjadinya bias data dan agar proses serta temuan penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagaimana prinsip penelitian etnografi, maka akan dilakukan beberapa kegiatan, seperti; (1) perpanjangan observasi dan keikutsertaan, (2) triangulasi, (3) analisis data negatif, dan (4) thick description (uraian rinci) (Miles dan Haberman, 1992: 84; Lincoln, 2009: 243). Keempat kegiatan tersebut dilakukan semata-mata dimaksudkan agar proses dan hasil penelitian ini benar- benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah seperti halnya prinsip penelitian kualitatif.

3.7.2. Analisis Data Pada Uji Coba Terbatas

Sedangkan analisis data pada tahap divelopment lebih bersifat sinergis antara analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Ini terutama terjadi pada

(29)

I Nengah Suastika, 2013

Pengembangan Model Pembelajaran Ips Berbasis Multikultur Di Sekolah Dasar (Studi Pengembangan Model Pada Siswa Kelas V Sd Di Kota Singaraja Provinsi Bali) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

uji coba terbatas. Analisis data kuantitatif dilakukan untuk mengetahui efek pembelajaran terhadap kualitas hasil belajar siswa. Untuk itu tiap akhir dari suatu siklus maka analisis data pengetahuan multikultur akan dilakukan secara deskriptif dengan menghitung nilai rerata pengetahuan multikultur dengan rumus:

Keterangan :

: rata-rata : nilai siswa ke-i n : banyaknya siswa.

Tingkat ketuntasan belajar siswa (% KB) dimana siswa dinyatakan tuntas apabila siswa mencapai nilai minimal 75 (KKM IPS kelas V 75) dengan rumus:

Untuk menentukan tingkat kualifikasi sikap multikultur dan keterampilan multikultur siswa tiap siklusnya dianalisis secara deskriptif atas dasar rerata skor ideal (Mi) dan simpangan baku ideal (SDi), dengan menggunakan lima jenjang kualifikasi. Kriterianya dapat disusun seperti Tabel 3.9 berikut:

Tabel 3.9. Kriteria Sikap Multikultural dan Keterampilan Multikultur

Rentang skor Kualifikasi

Mi + 1,5 Sdi  Mi + 3,0 Sdi Sangat tinggi Mi + 0,5 Sdi  Mi + 1,5 Sdi Tinggi Mi – 0,5 Sdi  Mi + 0,5 Sdi Sedang Mi – 1,5 Sdi  Mi – 0,5 Sdi Rendah

Mi – 3,0 Sdi  Mi – 1,5 Sdi Sangat Rendah

(Koyan : 2007: 57) Keterangan:

ideal) minimum Skor

ideal maksimum (skor

2

Mi 1 

ideal) minimum Skor

ideal maksimum (skor

6

SDi1 

Gambar

Tabel 3.1. Sekolah Dasar  yang Menjadi  Sampel  Penelitian untuk  Eksperimentasi  Model
Tabel 3.2. Hubungan Antara Subjek dan Objek Penelitian  No  Subjek Penelitian  Objek Penelitian
Tabel 3.3. Kisi-kisi Tes Pengetahuan Multikultur
Tabel 3.4. Kriteria Nilai Koefisien Reliabilitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang didapat untuk Kinerja e-service quality pada online shop p-clothes berdasarkan hasil analisis deskriptif secara keseluruhan berada dalam kategori

– Tes virologis HIV yang positif (HIV-RNA atau HIV-DNA atau antigen HIV p24 yang ultrasensitif) dikonfirmasi ddengan tes virologis kedua yang didapatkan dengan cara berbeda lebih

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

serangga yang menjadi hama, pengamatan gejala yang ditimbulkan, tingkat kerusakan pada bibit di persemaian yang berumur 4-11 bulan dan keadaan umum lokasi penelitian

apakah citra Kereta Api Prambanan Ekspres dimata Komunitas Pramekers Joglo sudah sesuai dengan citra yang diharapkan perusahaan mengenai Kereta Api Prambanan Ekspres

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perbandingan bubur pepaya dan bubur terung belanda berpengaruh nyata terhadap nilai total padatan terlarut selai yang

Dalam upaya pengembangan literasi informasi terdapat beberapa potensi yang belum secara optimal dimanfaatkan, potensi tersebut antara lain potensi kewenangan,