PENGARUH BERAT JENIS LARUTAN KALSIUM KARBONAT (CaCO
3) TERHADAP LOSSES KERNEL
DI PT.HARKAT SEJAHTERA
KARYA ILMIAH
NURMA YUNITA 132401034
PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
PENGARUH BERAT JENIS LARUTAN KALSIUM KARBONAT (CaCO
3) TERHADAP LOSSES KERNEL
DI PT.HARKAT SEJAHTERA
KARYA ILMIAH
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh Ahli Madya
NURMA YUNITA 132401034
PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
PERSETUJUAN
Judul : Penentuan Berat Jenis Larutan Kalsium Karbonat CaCO3 terhadap Losses Kernel di PT. HARKAT SEJAHTERA Bosar Maligas
Kategori : Karya Ilmiah
Nama : Nurma Yunita
Nomor Induk Mahasiswa : 132401034 Program Studi : D3 Kimia Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sumatera Utara
Disetujui di
Medan, Juni 2016
Diketahui oleh,
Program Studi D3 Kimia
Ketua Dosen Pembimbing
Dra Emma Zaidar Nst,M.Si Dr.Rumondang BulanNst,MS NIP.195512181987012001 NIP.195408301985032001
Disetujui oleh,
Ketua Departemen Kimia
Dr.Rumondang Bulan Nst,MS NIP.195408301985032001
PERNYATAAN
PENGARUH BERAT JENIS LARUTAN KALSIUM KARBONAT (CaCO
3) TERHADAP LOSSES KERNEL
DI PT.HARKAT SEJAHTERA
KARYA ILMIAH
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juni 2016
Nurma Yunita 132401034
PENGHARGAAN
Segala puji dan syukur Penulis ucapkan terima kasih atas kehadirat Allah SWT, yang tiada hentinya memberikan nikmat amal, insan dan ihsan, serta semangat dan kekuatan sehingga Penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah ini dengan sebaik-baiknya. Karya Ilmiah ini berjudul “ Pengaruh Berat Jenis Larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) Terhadap Losses Kernel di PT.
HARKAT SEJAHYERA “.
Karya ilmiah ini merupakan syarat untuk melengkapi gelar Ahli Madya pada Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan D3 Kimia Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaiakan penulisan karya ilmiah ini, penulis banyak menemukan masalah, namun berkat bantuan dari semua pihak, sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih atas segala bimbingan dan fasilitas yang telah diberikan baik sebelum atau sesudah PKL dilaksanakan, kepada :
1. Bapak Dr.Krista Sebayang selaku Dekan FMIPA USU Medan
2. Ibu Dr.Rumondang Bulan Nst,M.S sebagai Ketua Departemen Kimia FMIPA USU.
3. Ibu Dr.Rumondang Bulan Nst,M.S sebagai Dosen Pembimbing Penulis yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu penulis menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
4. Ibu Dra.Emma Zaidar Nst,M,Si sebagai Ketua Jurusan D3 Kimia FMIPA USU.
5. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Masengut dan Ibunda Suhartini yang sangat penulis sayangi yang telah memberikan dukungan moril dan material, serta dukungan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
6. Kakanda penulis, Yuli Mashariani dan Nurmas Hariandi, serta adik penulis Winda Lestari yang sangat penulis sayangi yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
7. Bapak / Ibu Staff Pengajar khususnya program studi D3 Kimia FMIPA USU yang telah banyak membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan.
8. Rekan-rekan mahasiswa D3 Kimia „013 dan Ibu Irmawaty sebagai pembimbing ditempat PKL serta para Staff di PT. HARKAT SEJAHTERA.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya ilmiah ini masih banyak memiliki kekurangan dalam materi dan cara penyajian penulisannya, untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan karya ilmiah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini. Penulis berharap karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.
Medan, Juni 2016
Penulis
PENGARUH BERAT JENIS LARUTAN KALSIUM KARBONAT (CaCO
3) TERHADAP LOSSES KERNEL
DI PT.HARKAT SEJAHTERA
ABSTRAK
Pengaruh berat jenis larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) terhadap Losses kernel di PT. Harkat Sejahtera dilakukan melalui metode uji coba nilai berat jenis dari larutan CaCO3, selain itu juga melihat perhitungan nilai losses kernel dalam waktu yang bersama. Diperoleh pada percobaan I berat jenis 1,06 g/cm3 dihasilkan losses kernel 6,05 %, percobaan II berat jenis 1,07 g/cm3 dihasilkan losses kernel 4,53 %, percobaan III berat jenis 1,12 g/cm3 dihasilkan losses kernel 1,56 %, percobaan IV berat jenis 1,10 g/cm3 dihasilkan losses kernel 2,39 % dan percobaan V berat jenis 1,10 g/cm3 dihasilkan losses kernel 2,39 %.
EFFECT OF WEIGHT SOLUTION OF CALCIUM CARBONATE (CaCO3) LOSSES ON KERNEL
IN PT.HARKAT SEJAHTERA
ABSTRACT
Effect of specific gravity solution of Calcium Carbonate (CaCO3) to the kernel Losses in PT. Harkat Sejahtera done through a test method specific gravity value of CaCO3 solution, but it also saw value calculation losses within the shared kernel. Obtained in the first experiment the density of 1.06 g / cm3 generated losses of 6.05% kernel, II trial density of 1.07 g / cm3 generated losses of 4.53%
kernel, III trial density of 1.12 g / cm3 generated losses kernel 1.56%, IV experiments density of 1.10 g / cm3 generated losses of 2.39% and the experimental kernel V density of 1.10 g / cm3 kernel generated losses of 2.39%.
DAFTAR ISI
Halaman
Persetujuan i
Pernyataan ii
Penghargaan iii
Abstrak v
Abstract vi
Daftar Isi vii
Daftar Tabel ix
Daftar Gambar x
Bab 1.Pendahuluan 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Permasalahan 2
1.3.Tujuan Penelitian 2
1.4.Manfaat Penelitian 2
Bab 2. Tinjauan Pustaka 3
2.1. Sejarah Kelapa Sawit 3
2.2. Varietas Kelapa Sawit 3
2.3. Proses Pengolahan Minyak Sawit 4
2.3.1.Pengangkutan TBS ke pabrik 5
2.3.2. Perebusan TBS 6
2.3.3. Perontokan dan Pelumatan Buah 6 2.3.4. Pemerasan atau Ekstraksi Minyak Sawit 7 2.3.4. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit 8 2.3.5. Pengeringan dan Pemecahan Biji 8
2.3.6. Pemisahan Inti Sawit dari Tempurung 9 2.4. Teknologi Pengolahan 9
2.3.4. Miyak Sawit 9
2.3.4. Sifat Fisiko-Kimia Minyak Sawit 10
2.3.5. Inti Sawit 11
2.3.6. Persyaratan Mutu Inti 12
2.4. Standar Mutu 13
2.6. Bobot Jenis 14
2.7. Karbonat 18
Bab 3. Metode Penelitian 20
3.1. Metodologi 20
3.1.1.Alat 20
3.1.2. Bahan 20
3.2. Prosedur Kerja 21
3.2.1.Menentukan Berat Jenis dari Larutan CaCO3 21
3.2.2. Menentukan Losses Kernel 21
Bab 4. Hasil dan Pembahasan 22
4.1. Hasil Data Percobaan 22
4.2. Perhitungan 23
4.2.1. Perhitungan Losses Kernel 23
4.2.1. Perhitungan Berat Jenis Larutan CaCO3 24
4.3. Pembahasan 25
Bab 5. Kesimpulan dan Saran 27
5.1. Kesimpulan 27
5.2. Saran 27
Daftar Pustaka 28
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Nilai Sifat Fisiko-Kimia Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit 13
Tabel 2. Standar Mutu Minyak Sawit, Minyak Inti Sawit dan Inti Sawit 14
Tabel 4.1. Data losses kernel pada bak claybath 20
Tabel 4.2. Data Berat Jenis Larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) 21
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakangan
Semula tanaman kelapa sawit ( Elaeis guinnensis jacg) hanya diusahakan oleh perkebunan besar di Indonesia. Sejak tahun 1977-1978 pemerintah Indonesia bertekad mengubah situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem PIRBUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan). Perusahaan besar sebagai “inti” berfungsi memberikan ahli sebagai kebun “plasma”. Petani palsma berkewajiban menjual seluruh hasil kebun plasma kepada perusahaan inti.
Sejak adanya pola PRIBUN maka kompisisi perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia berubah dengan cepat. Luas perkebunan rakyat tumbuh dengan kecepatan 50,2 % sedangkan perkebunan negara 9,5% dan perkebunan swasta 9,2%.
Pengembangan perkebunan rakyat sangat cepat ini merupakan salah satu tujuan pemerintah, karena disamping untuk menghasilkan devisa negara juga untuk memperluas kesempatan kerja dan sekaligus juga untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kelapa sawit di Indonesia dewasa ini merupakan komoditas primadona, luasnya terus berkambang dan tidak hanya merupakan monopoli perkebunan besar negara atau perkebunan swasta. Saat ini perkebunan rakyat sudah berkembang dengan pesat. Perkebunan kelapa sawit yang semula hanya di Sumatera Utara dan Daerah Istimewa Aceh saat ini berkembang dibeberapa propinsi antara lain : Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Irian Jaya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Jawa Barat.
Permintaan minyak kelapa sawit disamping digunakan sebagai bahan mentah industri pangan juga digunakan sebagai bahan mentah industri nonpangan. Jika dilihat dari biaya produksinya, komoditas kelapa sawit jauh lebih rendah dari pada minyak nabati lainnya.(Ir. Suyatno Risza.1994)
I.2. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
Pengaruh penambahan CaCO3 pada pemisahan kernel berdasarkan berat jenis dan menghitung losses kernel keluaran dari claybath.
I.3. Tujuan
Adapun tujuan dari karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengendalian kernel losses dan untuk mengurangi kernel losses pada fibre cyclone dan separating
I.4. Manfaat
1. Sebagai masukan bagi industri, sehingga dapat diketahui pengaruh berat jenis larutan CaCO3 terhadap kernel losses setiap penambahan CaCO3.
2. Sebagai bahan dan informasi kepada mahasiswa Diploma Kimia Universitas Sumatera Utara tentang proses pemisahan padatan – padatan dengan menggunakan CaCO3.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 .Sejarah Kelapa Sawit
Mengenai dasar asal kelapa sawit terdapat beberapa pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Afrika, Sedangkan pendapat yang kedua menyebut Amerika Serikat sebagai daerah asal. Pendapat pertama diperkuat bukti catatan-catatan sejarah penjelajahan orang - orang Eropa ke benua Afrika pada abad ke-15 dan ke-16. Don Mosto dalam penjelajahannya antara tahun 1435 dan 1460 menemukan sejumlah besar pohon hitam dikawasan Afrika Barat. Sedangkan penjelajahan Duarte adanya pohon-pohon kelapa sawit dipantai Liberia. Pendapat kedua, yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Serikat, didukung oleh Cook dan Hunger yang mengajukan alasan bahwa di Afrika hanya terdapat satu jenis kelapa sawit, yaitu Elaeis guineensis.
Sedangkan di benua Amerika selain Elaeis guineensis juga ditemukan jenis lain yaitu E.melanococca yang sekarang dikenal sebagai Coroza oleifera. Hingga kini belum dicapai kata sepakat mengenai daerah asal kelapa sawit, Namun secara umum para ahli cenderung beranggapan bahwa kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika.(Mangoensoekarjo, S. 2003)
2.2. Varietas Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis) berasal dari Guinea dipesisir Afrika Barat, kemudian diperkenalkan kebagian Afrika lainnya, Asia Tenggara dan
Amerika Latin sepanjang garis equator (antara garis lintang utara 15o dan lintang selatan 12o). Kelapa sawit tumbuh baik pada daerah iklim tropis, dengan suhu antara 24 oC - 32 oC dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan 200 mm pertahun. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis. Kandungan minyak dalam perikarp sekitar 30% - 40%. Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan sifatnya, yaitu :
1. Minyak sawit (CPO), yaitu minyak yang berasal dari sabut kelapa sawit 2. Minyak inti sawit (CPKO), yaitu minyak yang berasal dari inti kelapa
sawit
Pada umumnya minyak sawit mengandung lebih banyak asam-asam palmitat, oleat dan linoleat jika dibandingkan dengan minyak inti sawit. Minyak sawit merupakan gliserida yang terdiri dari berbagai asam lemak, sehingga titik lebur dari gliserida tersebut tergantung pada kejenuhan asam lemaknya. Semakin jenuh asam lemaknya maka semakin tinggi titik lebur dari minyak sawit tersebut.
Kelapa sawit dapat diklasifikasikan atas beberapa varietas antara lain :
1. Dura
Cangkangnya tebal, daging buah tipis, intinya tipis, dan hasil ekstraksi minyaknya rendah yaitu berkisar 17-18%.
2. Pisifera
Tidak mempunyai cangkang, serat tebal mengelilingi inti sawit yang kecil.
Jenis ini tidak dikembangkan untuk tujuan komersil.
3. Tenera
Suatu hibrida yang berasal dari penyilang Dura dan Pisifera. Cangkangnya tipis, mempunyai cincin dikelilingi biji dan hasil ekstraksi minyaknya tinggi, yaitu berkisar 23-26%.(Tambun, Rondang.2006)
2.3. Proses Pengolahan Minyak Sawit
Pengolahan TBS dipabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik. Pada dasarnya ada dua macam hasil olahan utama pengolahan TBS di pabrik, yaitu :
a. Minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan dagimg buah b. Minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit 2.3.1. Pengangkutan TBS ke pabrik
Tandan buah segar hasil pemanenan harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah lebih lanjut. Pada buah yang tidak segera diolah, maka kandungan ALB- nya semakin meningkat. Untuk menghindari hal tersebut, maksimal 8 jam setelah panen, TBS harus segera diolah. Asam lemak bebas terbentuk karena adanya kegiatan enzim lipase yang terkandung didalam buah dan berfungsi memecah lemak/minyak menjadi asam lemak dan gliserol. Kerja enzim tersebut semakin aktif bila struktur sel buah matang mengalami kerusakan. Untuk itu, pengangkutan TBS ke pabrik mempunyai peranan yang sangat penting.
Sesampai TBS di pabrik, segera dilakukan penimbangan. Penimbangan penting dilakukan sebab akan diperoleh angka-angka yang terutama berkaian dengan produksi perkebunan, pembayaran upah para pekerja, perhitungan
rendemen minyak sawit, dan lain-lain. Setelah ditimbang TBS mengalami proses selanjutnya yaitu perebusan.
2.3.2. Perebusan TBS
Buah beserta lorinya kemudian direbus dalam suatu tempat perebusan (sterilizer) atau dalam ketel rebus. Perebusan dilakukan dengan mengalirkan uap panas selama 1 jam atau tergantung pada besarnya tekanan uap yang digunakan adalah 2,5 atmosfer dengan suhu uap 125o C. Perebusan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar minyak dan pemucatan kernel. Sebaliknya, perebusan dalam waktu yang terlalu pendek menyebabkan semakin banyak buah yang tidak rontok dari tandannya. Tujuan perebusab adalah :
a. Merusak enzim lipase yang menstimulir pembentukan ALB b. Mempermudah pelepasan buah dari tandan dan inti dari cangkang c. Memperlunak daging buah sehingga memudahkan proses pemerasan d. Untuk mengkoagulasikan (mengendapkan) protein sehingga memudahkan
pemisahan minyak
2.3.3. Perontokan dan Pelumatan Buah
Setelah perebusan lori-lori yang berisi TBS ditarik keluar dan diangkat dengan alat Hoisting Crane yang digerakkan dengan motor. Hoisting Crane akan membalikkan TBS ke atas mesin perontok buah (thresher). Dari thresher, buah- buah yang telah rontok dibawaah ke mesin pelumat (digester). Tandan buah kosong yang sudah tidak mengandung buah diangkut ke tempat pembakaran dan digunakan sebagi bahan bakar. Selain bahan bakar, tandan kosong tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan mulsa (penutup tanah).
2.3.4. Pemerasan atau Ekstraksi Minyak Sawit
Untuk memisahkan biji sawit dari hasil lumatan TBS, maka perlu dilakukan pengadukan selama 20 – 30 menit. Setelah lumatan buah bersih dari biji sawit, langkah selanjutnya adalah pemerasan atau ekstraksi yang bertujuan untuk mengambil minyak dari massa adukan. Ada beberapa cara dan alat yang digunakan dalam proses ekstraksi minyak, yaitu sebagai berikut :
a. Ekstraksi dengan sentrifugasi
Alat yang digunakan berupa tabung baja silindris yang berlubang-lubang pada bagian dindingnya. Buah yang sudah lumat, dimasukkan ke dalam tabung, lalu diputar. Dengan adanya sentrifusi, maka minyak akan keluar melalui lubang- lubang pada dinding tabung.
b. Ekstraksi dengan cara screw press
Prinsip ekstraksi minyak dengan cara ini adalah menekan bahan lumatan dalam tabumg yang berlubang dengan alat ulir yang berputar sehingga minyak akan keluar lewat lubang-lubang tabung. Besarnya tekanan ini dapat diatur secara elektris, dan tergantung dari volume bahan yang akan dipress.
c. Ekstraksi dengan bahan pelarut
Cara ini sering dipakai dalam ekstraksi minyak biji-bijian, termasuk minyak inti sawit. Sedangkan ekstraksi minyak sawit dari daging buah, belum umum digunakan dengan cara ini karena kurang efisien. Pada dasarnya, ekstraksi dengan cara ini adalah dengan menambah pelarut tertentu pada lumatan daging buah sehingga minyak akan terpisah dari partikel yang lain.
d. Ekstraksi dengan tekanan hidrolisis
Dalam sebuah peti pemeras, bahan ditekan secara otomatis dengan tekanan hidrolisis.
2.3.5. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit
Minyak sawit yang keluar dari tempat pemerasan atau pengepresan masih berupa minyak kasar karena masih mengandung kotoran berupa partikel-partikel dari tempurung dan serabut serta 40 – 45% air. Minyak sawit yang masih kasar kemudian dialirkan kedalam tangki minyak kasar (Crude Oil Tank) dan setelah melalui pemurnian atau klarifikasi yang bertahap, maka akan dihasilkan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil,CPO). Proses penjernihan dilakukan untuk menurunkan kandungan air di dalam minyak. Minyak sawit ini dapat ditampung dalam tangki-tangki penampungan dan siap dipasarkan atau mengalami pengolahan lebih lanjut sampai dihasilkan minyak sawit murni (Processed Palm Oil, PPO) dan hasil olahan lainnya. Sedangkan sisa olahan berupa lumpur, masih dapat dimanfaatkan dengan proses daur ulang untuk diambil minyak sawitnya.
2.3.6. Pengeringan dan Pemecahan Biji
Biji sawit yang telah pada proses pengadukan, diolah lebih lanjut untuk diambil minyaknya. Sebelum dipecah, biji-biji sawit dikeringkan dalm silo, minimal 14 jam dengan sirkulasi udara kering pada suhu 50OC. Akibat proses pengeringan ini, inti sawit akan mengerut sehingga memudahkan pemisahan inti sawit dari tempurungnya. Biji-biji sawit yang sudah kering kemudian dibawah kealat pemecah biji.
2.3.7. Pemisahan Inti Sawit dari Tempurung
Berdasarkan perbedaan berat jenis antara inti sawit dan tempurung. Alat yang digunakan disebut hydrocyclone separator. Dalam hal ini, inti dan tempurung dipisahkan oleh aliran air yang berputar dalam sebuah tabung atau dapat juga dengan mengapungkan biji-biji yang telah dipecah dalam larutan lempung yang mempunyai berat jenis 1,16. Proses selanjutnya adalah pencucian inti sawit dan tempurung sampai bersih. Untuk menghindari kerusakan akibat mikroorganisme, maka inti sawit harus segera dikeringkan dengan suhu 80o.
Setelah kering inti sawit dapat dipak atau diolah lebih lanjut yaitu diekstraksi sehingga dihasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO). Hasil samping pengolahan minyak inti sawit adalah bungkil inti sawit ( kernel oil cake, KOC) yang dimanfaatkan untuk pakan ternak. Sedangkan tempurung dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, sebagai pengeras jalan, atau dibuat arang dalam industri pabrik bakar aktif.(Tim Penulis PS,1992)
2.4.Teknologi Pengolahan
2.4.1. Minyak sawit
Sebagai minyak atau lemak, minyak sawit adalah suatu trigliserida, yaitu senyawa gliserol dengan asam lemak. Sesuai dengan bentuk bangun rantai asam lemaknya, minyak sawit termasuk golongan minyak asam oleat-linoleat. Minyak sawit berwarna merah jingga karena kandungan karotenoida (terutama β- karotena), berkonsistensi setengah padat pada suhu kamar (konsistensi dan titik lebur banyak ditentukan oleh kadar ALB-nya), dan dalam keadaan segar dan asam lemak bebas yang rendah, bau dan rasanya cukup enak. (Mangoensoekarjo, 2003)
2.4.2. Sifat Fisiko-Kimia Minyak Kelapa Sawit
Sifat fisiko-kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, bau dan flavor, kelarutan, titik cair dan polimorphism, titik didih (boiling point), titik pelonakan, slipping point; bobot jenis, indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point), titik asap, titik nyala dan titik api. Beberapa sifat fisiko-kimia dari kelapa sawit nilainya dapat dilihat pada Tabel .1.
Tabel.1. Nilai Sifat Fisiko-Kimia Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit
Sifat Minyak sawit Minyak inti sawit Bobot jenis pada suhu kamar 0,900 0,900-0,913
Indeks bias D 40ºC 1,4565-1,4585 1,495-1,415
Bilangan Iod 48-56 14-20
Bilangan Penyabunan 196-205 244-254
Sumber: Krischenbauer (1960) (Ketaren,1986)
Titik lebur minyak sawit tergantung pada kadar ALB-nya atau lebih tepat lagi pada kadar digliseridanya. Pada kadar ALB-nya 7 % terdapat titik lebur terendah terbentuk formasi eutectic antara digliserida dengan trigliserida.
Rumus bangun minyak sawit adalah sebagi berikut :
H H
H C H HOOCR1 H C OOCR1
H C H + HOOCR2 H C OOCR2 + 3H2O
H C H HOOCR3 H C OOCR3
H H
Gliserol Asam Lemak Trigliserida Air
Minyak sawit terdiri atas berbagai trigliserida dengan rantai asam lemak yang berbeda-beda. Panjang rantai adalah antara 14-20 atom karbon. Dengan demikian sifat minyak sawit ditentukan oleh perbandingan dan komposisi trigliserida tersebut. (Mangoensoekarjo, 2003)
2.4.3. Inti Sawit
Untuk pemakainnya inti sawit masih harus diolah lebih lanjut, yaitu diekstraksi menghasilkan minyak sawit dan bungkil inti sawit. Pemakaian minyak inti sawit adalah untuk pembuatan bahan makanan, sama seperti minyak kelapa nyiur karena komposisinya hampir sama, dan untuk pemakaian dalam industri.
Bungkil inti sawit dipakai sebagai campuran makanan ternak.
Mutu minyak dan bungkil inti sawit terutama tergantung pada mutu inti sawitnya sendiri. Minyak inti sawit dikehendaki mempunyai kadar ALB rendah, warna kuning muda dan mudah dipucatkan. Jadi, sama juga seperti minyak sawit.
Bungkil inti sawit dikehendaki berwarna muda dan nilan gizinya tidak rusak, terutama kandungan asam amino dari protein. Mutu inti sawit terutama dinilai dari kadar ALB minyaknya, perubahan warna dan kadar air, serta kadar inti berjamur
(memberi petunjuk tentang lamanya dan kondisi penimbunan sebelumnya), yang dapat mempengaruhi ALB dan warna.
2.4.4. Persyaratann Mutu Inti Sawit
Untuk dapat memenuhi keinginan konsumen seperti tersebut diatas dan demi efisiensi, maka pabrik ekstraksi inti sawit mamberikan persyaratan mutu sebagai berikut :
Kadar ALB <2,5%
Kadar Kotoran <4%
Kadar air 7%
Inti berwarna <40%
a. kadar kotoran. Jika terlalu tinggi akan mempercepat keausan mesin pemecah inti sawit dan menyulitkan pembentukan pelet dari bungkilnya. Selain itu kadar protein dalam bungkil menjadi lebih rendah. Untuk bungkil inti sawit dipersyaratkan kandungan profat yaitu jumlah kadar protein dan minyak dalam bungkil, harus lebih dari 15%. Jika kadar protein kurang maka kadar minyak dalam bungkil harus diperbesar. Sedangkan harga jual sebagai minyak adalah jauh lebih tinggi dibanding harga jual sebagai bungkil, lebih kurang 6:1.
b. kadar air. Pada lembap nisbi kesetimbangan (equilibrium relative kumudity, ERH) 0,7 kadar air inti sawit adalah 7%. Jika inti sawit dikeringkan sampai kadar air yang lebih rendah, selama ditimbun inti sawit akan menyerap air sampai mencapai 7% tersebut.
c. perubahan warna. Inti dapat terradi karena perebusan terlalu lama atau suhu perebusan terlalu tinggi. Juga dapat „terjadi karena pemeraman selama
penimbunan dalam keadaan lembab. Minyak dari inti yang berwarna akan sulit dipucatkan.
d. kadar ALB. Reaksi pembentukan ALB adalah juga hidrolisis otokatalitik dan liposis oleh enzim lipolitik dalam inti maupun oleh jamur yang lipolitik. Untuk terakhir ini suhu optimum pertumbuhannya adalah 42-54 OC. Ini dapat terjadi pada tumpukan inti yang lembab. Lipolisa dapat ditekan dengan sterilisasi dan mengurangi kadar inti pecah.
2.5. Standar Mutu
Minyak sawit memegang peranan penting dalam perdaganan dunia. Oleh karena itu, syarat mutu harus menjadi perhatian utama dalam perdagangannya.
Istilah mutu minyak sawit dapat dibedakan menjadi dua arti. Pertama, benar-benar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat-sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur nilai titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan.
Kebutuhan mutu minyak sawit yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan nonpangan masing-masing berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebih diperhatikan.
Rendahnya mutu minyak sawit sangat ditentukan oleh banyak faktor. Faktor- faktor tersebut dapat langsung dari sifat pohon induknya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan. Selain itu, ada beberapa
faktor yang secara langsung berkaitan dengan standar mutu minyak sawit seperti dalam tabel 2.
Tabel 2. standar mutu minyak sawit, minyak inti sawit dan inti sawit
Karakteristik Minyak sawit
Inti sawit Minyak inti sawit
Keteranga n
Asam lemak bebas 5% 3,5% 3,5% Maksimal
Kadar kotoran 0,5% 0,02% 0,02% Maksimal
kadar zat menguap 0,5% 7,5% 0,2% Maksimal
Bilangan peroksida 6 meq - 2,2 meq Maksimal
Bilangan iodine 14-58 mg/gr
- 10,5-
18,5 mg/gr
-
Kadar logam (Fe, Cu) 10 ppm - - -
Lovibond 3-4 R - - -
Kadar minyak - 47% - Maksimal
Kontaminasi - 6% - Maksimal
Kadar pecah - 15% Maksimal
Sumber : direktorat jenderal perkebunan, 1989 (Fauzi,Yan.dkk,2002)
2.6. Bobot Jenis
Bobot jenis adalah perbandingan berat dari suatu volume contoh pada suhu 25OC dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Cara ini dapat
digunakan untuk sesama minyak dan lemak yang dicairkan. Alat yang digunakan untuk penentuan ini adalah piknometer.
Prosedur. Piknometer dibersihkan dan dikeringkan, kemudian diisi dengan air suling yang telah mendidih dan didinginkan pada suhu 20O - 23OC. Piknometer diisi sedemikian rupa sampai air bobot meluap dan tidak terbentuk gelembung udara. Setelah ditutup dengan penutup yang dilengkapi thermometer. Piknometer direndam dalam bak air yang bersuhu 25O ± 0,2OC dan dibiarkan pada suhu yang konstan selam 30 menit. Piknometer diangkat dari bak air dan dikeringkan dengan kertas pengisap, kemudian piknometer dengan isinya ditimbang. Bobot air adalah selisih botol piknometer dengan isinya dikurangi bobot piknometer kosong.
Contoh minyak atau lemak cair disaring dengan kertas saring untuk membuang bahan asing dan fraksi air, lalu didinginkan sampai 20O - 23OC.
Kemudian dimasukkan kedalam piknometer sampai meluap dan diusahakan agar tidak terbentukgelembung udara. Piknometer ditutup, minyak yang meluap dan menempel di bagian luar piknometer dibersihkan. Kemudian piknometer direndam dalam bak air pada suhu 25O ± 0,2OC selama 30 menit. Dengan hati-hati piknometer diangkat dari bak air, dibersihkan dan dikeringkan dengan kertas pengisap. Piknometer beserta isinya ditimbang, dan bobot contoh dihitung dari selisih bobot piknometer beserta isinya dikurangi bobot piknometer kosong.
Bobot jenis minyak pada 25O/25O adalah :
bobot piknometer dan minyak − (bobot piknometer kosong) volume air pada 25o C (ml)
Jika bobot jenis pada suhu 25O telah diketahui maka untuk menghitung bobot jenis pada suhu tertentu lainnya dapat digunakan rumus berikut :
G = G‟ + 0,0007 (T – 25OC)
Keterangan :
G = bobot jenis pada 25OC
G = bobot jenis pada TOC/ 25OC
T = suhu minyak (OC)
Bagi lemak yang berbentuk padat pada suhu 25OC, bobot jenisnya dapat ditentukan pada suhu 60O/25OC.(Ketaren,S.1986)
Minyak goreng (olein) butter margarin, lemak kue,vanas pati,cocoa , ,substitute
Stearin,sa bun,asam lemak,gli serin,dete rgent,pelu mas,plasti cizer,kos metik,BB M,pro- vitamin A pro- vitamin E
- oleokimia - minyak goreng - salad oil
-makanan terna
POHON - pupuk
KELAPA SAWIT
-Arang, karbon aktif -Bahan pengisi -Asap cair -kertas pulp -particle board
-pupuk
-kompos-energi -Bahan konstruksi
-pulp -bahan kimia -bahan energi -particle board
Gambar : Pohon Industri Kelapa Sawit
(Mangoensoekarjo, S. 2003) Daging buah
Minyak sawit (CPO)
Oleokimia Nonpangan sabut
slude
BiJi Bungkil
cangkang
Tanda kosong
Batang Pohon
pangan
-particle board -pulp kertas -energi
-energi
-pulp kertas
-energi
-makanan ternak -sabun
- pupuk
INTI
Minyak inti (PKO) (]
2.6. Karbonat
Kelarutan karbonat semua normal, dengan kekecualian karbonat dan logam-logam alkali serta amonium, tak larut dalam air. Hidrogen karbonat atau bikarbonat dari kalsium, strontium, barium, magnesium dan mungkin dari a dalam larutan air,mereka terbentuk karena aksi oleh asam karbonat yang berlebihan terhadap karbonat-karbonat normal, entah dalam larutan air atau suspensi dan akan terurai pada pendidihan larutan.
CaCO3 endapan + H2O + CO2 Ca2+ + 2HCO3-
Hidrogen karbonat dari logam-logam alkali larut dalam air, tetapi kurang larut dibandingkan karbonat normal padanannya. Untuk mempelajari reaksi ini dipakai larutan natrium karbonat, NaCO3 10H2O2 0,5 M. Pada asam klorida encer terjadi penguraian dengan berbuih karena karbon dioksida dilepas :
CO32- + 2H+ CO2 panas + H2O
Gas ini dapat diidentifikasi dari sifatnya yang mengeruhkan air :
CO2 + Ca2+ + 2OH- CaCO3 endapan + H2O
CO2 + Ba2+ + 2OH- BaCO3 endapan + H2O
Beberapa karbonat alam, seperti magnesit, MgCO3, siderit, FeCO3, dan dolomit, (Ca, Mg)CO3, tak bereaksi dengan berarti dalam keadaan dinding, zat-zat ini harus dihancurkan menjadi bubuk halus, dan campuran yang bereaksi dipanaskan.
Hidrogen karbonat kebanyakan reaksi hidrogen karbonat adalah serupa dengan reaksi karbonat. Uji yang diuraikan disini cocok untuk membendakan hidrogen
karbonat dari karbonat. Uji terhadap hidrogen karbonat dengan adanya karbonat normal. Dengan menambahkan kalsium klorida yang berlebihan kepada suatu campuran karbonat dan hidrogen karbonat, karbonat diendapkan secara kuantitatif.
CO32- + Ca2+ CaCO3 endapan
(Vogel,1985)
BAB
3
METODE PENELITIAN 3.1. Metodologi
Sampel Larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) dan kernel dari bak claybath dalam beberapa waktu yaitu diambil pada hari kamis tanggal 18 februari sampai hari jum‟at tanggal 19 fenruari 2016 dengan sampel inti sawit banyak, inti sawit sedang, dan inti sawit sedikit, lalu digabungkan untuk mewakili sifat keseluruhan sampel.
3.1.1. Alat
a. Piknometer 25,261 g/cm3 pyrex b. Neraca Analitik digital Ohaus
c. Oven Memmert
d. Timbangan HWH
e. Plastik
f. Beaker glass 1000 ml pyrex g. Gayung
h. Pemecah (martil)
3.1.2. Bahan
a. Kalsium Karbonat (CaCO3)
b. Sampel yang berasal dari keluaran claybath
c. Air
d. Larutan CaCO3 dari claybath
3.2. Prosedur Kerja
3.2.1. Menentukan Berat Jenis dari Larutan CaCO3
a. Diambil larutan kalsium karbonat (CaCO3) yang berasal dari claybath dengan menggunakan gayung.
b. Dimasukkan larutan kalsium karbonat (CaCO3) kedalam beaker glass 500 ml
c. Diaduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai homogen
d. Diisi piknometer dengan larutan kalsium karbonat (CaCO3) sampai penuh
e. ditimbang piknometer yang telah berisi larutan Kalsium Karbonat (CaCO3)
f. Dihitung berapa berat jenis, kemudian catat hasilnya.
3.2.2. Menentukan Losses Kernel
a. Diambil sampel pada buangan shell di claybath sebanyak 1sampai 2 kg
b. Ditimbang sampel dalam jumlah tertentu
c. Dipisahkan nut dan kernel
d. Ditimbang kernel
e. Dicatat berat dari nut
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dari hasil yang dilakukan di Laboratorium Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di PT. HARKAT SEJAHTERA Bosar Maligas, maka diperoleh data dalam analisa berat jenis larutan CaCO3 terhadap losses kernel. Data ini diambil langsung dari bak claybath, dan diperoleh data-data sebagai berikut : ( Tabel 4.1 dan Tabel 4.2)
Tabel 4.1. Data losses kernel pada bak claybath
No Berat Sampel Berat Inti Losses (%)
1 1650 99,9 6,05
2 1770 80,2 4,53
3 1790 27,9 1,56
4 1830 43,9 2,39
5 1690 20,1 1,19
Tabel 4.2. Data berat jenis larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) pada bak claybath
No Berat Larutan Claybath Volume Piknometer Berat Jenis g/cm3
1 28,0014 25,261 1,06
2 27,0938 25,261 1,07
3 28,2923 25,261 1,12
4 28,7975 25,261 1,10
5 26,9945 25,261 1,14
4.2. Perhitungan
4.2.1. Perhitungan Losses Kernel
Rumus :
% 𝑙𝑜𝑠𝑠𝑒𝑠 = Berat Inti
Berat Sampel × 100%
Untuk percobaan 1
% 𝑙𝑜𝑠𝑠𝑒𝑠 = 99,9
1650 × 100%
= 6,05%
Dilakukan perhitungan yang sama pada percobaan 2,3,4,5
4.2.2. Perhitungan berat jenis larutan CaCO3
Rumus :
berat jenis = massa volume
keterangan :
massa : berat larutan claybath (g)
volume : volume piknometer = 25,261 g/cm3
Untuk percobaan 1
berat jenis = 28,0014 25,261
= 1,06 g/cm3
Dilakukan perhitungan yang sama pada percobaan 2,3,4,5
4.3. Pembahasan
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan pada tabel diatas dapat dibuat data pengaruh berat jenis larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) terhadap losses kernel menunjukkan bahwa berat jenis larutan Kalsium Karbonat (CaCO3) masih sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan yaitu 1,15 sampai 1,20 dimana pada berat jenis larutan tersebut inti akan mengapung pada larutan claybath sedangkan cangkang akan tenggelam kedasar bak claybath, sehingga akan dihasilkan inti yang bersih dengan kadar kotoran yang rendah dan kernel losses pada cangkang akan berkurang.
penambahan CaCO3 berpengaruh terhadap nilai berat jenis dari larutan.
Semakin banyak CaCO3 yang diberikan maka semakin tinggi nilai berat jenis dari larutan. Hal ini dikarenakan larutan CaCO3 memiliki sifat mudah jenuh dan mudah mengendap akibatnya dengan adanya penambahan CaCO3 berakibat pada naiknya nilai berat jenis dari larutan CaCO3 dan air tersebut. Oleh karena itu penambahan CaCO3 harus diperhatikan secara terjadwal.
penambahan CaCO3 juga berpengaruh terhadap losses kernel. Semakin banyak CaCO3 yang diberikan maka kehilangan akan kernel (losses kernel) semakin menurun. Hal ini disebabkan karena penambahan CaCO3 mempengaruhi nilai berat jenis, dengan adanya penambahan CaCO3 berarti nilai berat jenis akan meningkat tentunya kernel tidak ikut mengendap bersama shell, dikarenakan berat jenis kernel lebih kecil dari pada berat jenis larutan CaCO3 tersebut. Sehingga mengakibatkan losses kernel menurun.
Pada pengambilan sampel yang dilakukan dilapangan pada hari kamis tanggal 18 februari 2016 sampai hari jum‟at tanggal 19 februari berat jenis larutan claybath yang ada berkisar antara 1,06 sampai 1,14. Dimana pada berat jenis 1,06 g/cm3 dihasilkan losses kernel 6,05 %, berat jenis 1,07 g/cm3 dihasilkan losses kernel 4,53 %, berat jenis 1,12 g/cm3 dihasilkan losses kernel 1,56 %, berat jenis 1,10 g/cm3 dihasilkan losses kernel 2,39 % dan berat jenis 1,10 g/cm3 dihasilkan losses kernel 2,39 %. Oleh karena itu berat jenis larutan claybath perlu dilakukan kontrol setiap saat, dikarenakan berat jenis larutan tersebut dapat berubah akibat pertambahan zat tersuspensi yang berasal dari debu dan pecahan biji sehingga berat jenis larutan menjadi tidak sesuai.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pengendalian kernel losses :
a. Pada fibre cyclone dan separating system berfungsi untuk mengatur volume dan kecepatan angin didalam sistem sehingga didapat kekuatan isap dari fan yang sesuai yaitu dengan cara merubah setelan luasan penumpang melintang didalam kolom dan damper.
b. Pada claybath berfungsi untuk menjaga agar berat jenis larutan didalam inti dapat terpisahkan. Inti dapat mengapung dipermukaan larutan sedangkan cangkang dapat mengendap kedasar bak claybath.
5.1. Saran
1. Diharapkan para pekerja tidak lagi mengecek ataupun mengamati proses pemisahan antara kernel tersebut dengan melihat sampel keluaran tersebut.
2. Diharapkan para pekerja perlu memperhatikan Suspensi CaCO3 secara terjadwal, agar produk kernel yang dihasikan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi,Yan.dkk. 2002. Kelapa Sawit. Jakarta. Penebar Swadaya
Ketaren,s.1986.Pengantar Teknologi Minyak Dan Lemak Pangan. Jakarta. UI – press
Mangoensoekarjo,s.2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta.
Gadjah Mada University Press
Risza,Suyatno.1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta.
Penerbit Kanisius
Tambun,R. 2006. Buku Ajar Teknologi Oleokimia (TKK-322). Medan.
Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara- press
Tim Penulis PS. 1997. Kelapa Sawit Usaha Budi Daya Pemanfaatan Hasil Dan Aspek Pemasaran. Cetakan 8. Jakarta. Penebar Swadaya
Vogel,Arthur.1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Edisi kelima. Jakarta . PT. Kalman Media Pusaka