• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 1 ayat (1), Pajak adalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 1 ayat (1), Pajak adalah"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perpajakan

2.1.1 Pengertian Pajak

Pajak menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 1 ayat (1), “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.” Sedangkan pengertian pajak dalam Mardiasmo (2016:1) “Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum."

2.1.2 Fungsi Pajak

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berikut ini berbagai fungsi pajak menurut Direktorat Jendral Pajak:

a. Fungsi Anggaran

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya.

Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan

(2)

pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

b. Fungsi Mengatur

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.

c. Fungsi Stabilitas

Pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga dengan adanya pajak inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.

d. Fungsi Redistribusi Pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

2.1.3 Jenis Pajak

Siti Resmi (2017:7) Terdapat berbagai jenis pajak yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pengelompokan menurut golongan, menurut sifat, dan menurut lembaga pemungutnya:

2.1.3.1 Menurut Golongan

Pajak Menurut golongan dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Pajak Langsung, pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain. Pajak harus menjadi beban Wajib Pajak yang bersangkutan. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh) PPh dibayar atau ditanggung oleh pihak-pihak tertentu yang memperoleh penghasilan tersebut.

b. Pajak Tidak Langsung, pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga. Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu kegiatan, peristiwa, atau perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak, misalnya terjadi penyerahan

(3)

barang atau jasa. Contoh: Pajak Pertambahan Nilal (PPN). PPN terjadi karena terdapat pertambahan nilai terhadap barang atau jasa. Pajak ini dibayarkan oleh produsen atau pihak yang menjual barang, tetapt dapat dibebankan kepada konsumen baik secara eksplisit maupun implisit (dimasukkan dalam harga jual barang atau jasa). Cara menentukan apakah suatu pajak termasuk pajak langsung atau pajak tidak langsung dalam arti ekonomis, yaitu dengan cara melihat ketiga unsur yang terdapat dalam kewajiban pemenuhan perpajakannya.

Berikut ini ketiga unsur tersebut.

1. Penanggung jawab pajak adalah orang yang secara formal yuridis diharuskan melunasi pajak.

2. Penanggung pajak adalah orang yang dalam faktanya memikul terlebih dahulu beban pajaknya

3. Pemikul pajak adalah orang yang menurut undang-undang harus dibebani pajak Jika ketiga unsur tersebut ditemukan pada seseorang, pajaknya disebut Pajak Langsung.

2.1.3.2 Menurut Sifat

Pajak menurut sifatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Pajak Subjektif, pajak yang pengenaannya memperhatikan keadaan pribadi Wajlb Pajak atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan subjeknya. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh). Dalam PPh terdapat Subjek Pajak (Wajib Pajak) orang pribadi Pengenaan PPh untuk orang pribadi tersebut memperhatikan keadaan pribadí Wajib Pajak (status perkawinan, banyaknya anak, dan tanggungan lainnya).

Keadaan pribadi Wajib Pajak tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan besarnya penghasilan tidak kena pajak

b. Pajak Objektif, pajak yang pengenaannya memperhatikan objeknya, baik berupa benda, keadaan, perbuatan, maupun peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak, tanpa memperhatikan keadaan pribadi Subjek Pajak (Wajib Pajak) dan tempat tinggal. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

2.1.3.3 Menurut Lembaga Pemungut

Pajak menurut lembaga pemungut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Pajak Negara (Pajak Pusat), pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayal rumah tangga negara pada umumnya. Contoh: PPh, PPN, dan PPnBM.

b. Pajak Daerah, pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah, baik daerah tingkat I (pajak provinsi) maupun daerah tingkat II (pajak kabupaten/kota), dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing-masing. Pajak Daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Contoh: Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan, Pajak Air

(4)

Permukaan, Pajak Rokok, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

c. Pajak Provinsi meliputi Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di atas Air, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di atas Air, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor serta Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. Pajak Kabupaten/Kota meliputi Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir, Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

2.1.4 Kewajiban dan Hak Wajib Pajak 2.1.4.1 Kewajiban Wajib Pajak

Kewajiban Wajib Pajak Berikut ini kewajiban Wajib Pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007:

a. Mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak, apabila telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif.

b. Melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya. meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.

c. Mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang rupiah, serta menandatangani dan menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

d. Menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan satuan mata uang selain rupiah yang diizinkan, yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

e. Membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

(5)

f. Membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak.

g. Menyelenggarakan pembukuan bagi Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan, dan melakukan pencatatan bagi Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

h. Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak.

i. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan;

dan/atau

j. Memberikan keterangan lain yang diperlukan apabila diperiksa.

2.1.4.2 Hak-Hak Wajib Pajak

Berikut ini hak-hak Wajib Pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007:

a. Melaporkan beberapa Masa Pajak dalam 1 (satu) Surat Pemberitahuan Masa.

b. Mengajukan surat keberatan dan banding bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu.

c. Memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak.

d. Membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.

e. Mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

f. Mengajukan keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu:

1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;

2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;

3. Surat Ketetapan Pajak Nihil;

4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar; atau

5. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

g. Mengajukan permohonan banding kepada badan peradilan pajak atas Surat Keputusan Keberatan.

h. Menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

(6)

i. Memperoleh pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak dalam hal Wajib Pajak menyampaikan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebelum Tahun Pajak 2007, yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar dan dilakukan paling lama dalam jangka waktu I (satu) tahun setelah berlakunya UU No. 28 Tahun 2007.

2.2 Penghasilan

2.2.1 Pengertian Penghasilan

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 4 ayat (1) mengatakan bahwa

“Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan.” Zaini (2006:136) dalam Muhammad Rifaldi (2011:11) dalam jurnal mengatakan penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva.

Dari beberapa pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa penghasilan adalah kemampuan ekonomis yang diterima Wajib Pajak untuk menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut.

2.3 Pajak Penghasilan Pasal 21

2.3.1 Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21

PPh Pasal 21 menurut Direktorat Jendral Pembendaharan Kementrian Keuangan Republik Indonesia adalah pemotongan atas penghasilan yang

(7)

dibayarkan atas penghasilan uang pesangon, uang manfaat pensiun, Tunjangan Hari Tua, dan Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus. Sedangkan pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21 menurut Siti Resmi (2017:175) Adalah pajak yang dilewatkan terhadap Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri atas penghasilan yang terkait dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.

2.3.2 Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21

Pemotong PPh Pasal 21 adalah Wajib Pajak orang pribadi atau badan termasuk Bentuk Usaha Tetap yang mempunyai kewajiban melakukan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan. Pemotong PPh Pasal 21 sesuai dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2016 sebagai berikut:

a. Pemberi kerja yang terdiri atas:

1. orang pribadi dan badan;

2. cabang, perwakilan, atau unit, dalam hal yang melakukan sebagian atau seluruh administrasi yang terkait dengan pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain adalah cabang, perwakilan, dan unit tersebut.

b. Bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk bendahara atau pemegang kas kepada Pemerintah Pusat termasuk institusi TNI/POLRI, Pemerintah Daerah. instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran

(8)

lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan.

c. Dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua.

d. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang membayar:

1. Honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya.

2. Honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak luar negeri;

3. Honorarium, komisi, fee, atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan pegawai magang.

e. Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau penghargaan dalam bentuk apa pun kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.

(9)

2.3.3 Objek Pajak Penghasilan Pasal 21

Objek pajak menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 4 ayat (1) mengatakan:

Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk:

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini;

b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

c. Laba usaha;

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:

1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;

2. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;

3. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;

4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan

5. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

g. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis;

h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

(10)

k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;

l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;

n. Premi asuransi;

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;

q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;

r. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan s. Surplus Bank Indonesia.

2.3.4 Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21

Yang menjadi subjek pajak menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 2 ayat (1, 2, 3, dan 4) mengatakan:

a. Orang pribadi dan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak;

b. Badan; dan

c. Bentuk usaha tetap.

d. Subjek pajak dalam negeri terdiri atas:

1. Orang pribadi, baik yang merupakan Warga Negara Indonesia maupun warga negara asing yang:

1. Bertempat tinggal di Indonesia;

2. Berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;

3. Balam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;

2. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:

1. Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan;

2. Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

3. Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah;

4. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara; dan

3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

(11)

e. Subjek pajak luar negeri terdiri atas:

1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia;

2. Warga negara asing yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;

3. Warga Negara Indonesia yang berada di luar Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan serta memenuhi persyaratan:

1. Tempat tinggal;

2. Pusat kegiatan utama;

3. Tempat menjalankan kebiasan;

4. Status subjek pajak;

5. Persyaratan tertentu lainnya yang ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan;

dan

4. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia atau yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

2.3.5 Biaya Jabatan

Perhitungan PPh Pasal 21 karyawan paling umum di setiap perusahaan adalah PPh 21 pegawai tetap. Pengertian pegawai tetap menurut aturan perpajakan merujuk pada penghasilan yang diterima dalam jumlah tertentu secara teratur.

Sehingga, karyawan yang menerima gaji bulanan dalam jumlah tetap dikategorikan Direktorat Jenderal Pajak sebagai pegawai tetap. Dalam menghitung PPh 21 pegawai tetap, selain iuran pensiun, ada komponen lain pengurang penghasilan bruto yang disebut sebagai biaya jabatan.

Biaya jabatan, seperti disebutkan dalam Peraturan Dirjen Pajak No PER- 16/PJ/2016 adalah “Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa memandang mempunyai jabatan atau tidak.” Secara sederhana, biaya jabatan diasumsikan sebagai pengeluaran pegawai tetap untuk

(12)

memperoleh penghasilan. Karena itu, sebelum penghasilan dikenai pajak, maka boleh dikurangi biaya jabatan lebih dulu. Karena itu ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-16/PJ/2016 bahwa biaya jabatan adalah sebesar 5% dari penghasilan bruto setahun dan setinggi-tingginya Rp 500.000.00 sebulan atau Rp 6.000.000.00 setahun.

2.3.6 Iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

BPJS adalah jaminan sosial yang wajib bagi para pekerja yang terdiri dari berbagai kategori. Secara umumnya, BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS sendiri memiliki 5 komponen:

a. Jaminan Kesehatan

Tarif iuran Jaminan Kesehatan yang harus di bayar karyawan adalah 4%

dari gaji pokok dan tunjangan. Besaran ini menjadi penambah penghasilan sementara itu, besaran Jaminan Kesehatan yang dibayar pegawai adalah 1%. Biaya ini bukan pengurang penghasilan.

b. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

JKK adalah kompensasi yang diberikan jika karyawan mengalami kecelakaan kerta di kantor ataupun setelah pulang ke rumah dan menderita penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja yang biasanya diberikan perusahaan adalah 0,24%. Namun, sebenarnya besaran premi disesuaikan dengan tingkat kecelakaan kerja di setiap perusahaan. Berikut ini pengelompokan premi berdasarkan dengan resiko terjadinya kecelakaan kerja:

Kelompok I: 0,24% dari gaji sebulan.

(13)

Kelompok II: 0,54% dari gaji sebulan.

Kelompok III: 0,89% dari gaji sebulan.

Kelompok IV: 1,27% dari gaji sebulan.

Kelompok V: 1,74% dari gaji sebulan.

Perhitungan Jaminan Kecelakaan Kerja dalam PPh 21 adalah sebagai penambah penghasilan. JKK ditambahkan dengan gaji pokok dan tunjangan untuk mendapatkan penghasilan bruto.

c. Jaminan Kematian (JKM)

Jaminan Kematian adalah asuransi kematian yang akan diterima ahli waris karyawan jika karyawan meninggal. Syarat Jaminan Kematian yaitu karyawan meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian ditanggung oleh perusahaan sebesar 0,3% dari gaji. Besaran iuran Jaminan Kematian ini juga dimasukkan sebagai penambah penghasilan.

d. Jaminan Hari Tua (JHT)

Jaminan Hari Tua diberikan kepada pegawai ketika ia tak lagi bekerja.

Besaran Jaminan Hari Tua yang harus dibayar oleh perusahaan adalah 3,7%. Besaran ini tidak termasuk objek pajak PPh 21, sehingga tidak menambah penghasilan. Sementara itu, Jaminan Hari Tua yang harus karyawan tanggung adalah 2%. Nilai tersebut djjadikan sebagai salah satu pengurang penghasilan karyawan.

e. Jaminan Pensiun (JP)

Jaminan Pensiun diberikan kepada karyawan atau ahli warisnya setelah karyawan pensiun atau menderita cacat. Jaminan Pensiun dibayarkan oleh

(14)

perusahaan sebesar 2% dan dibayar karyawan sebesar 1%. Jaminan Pensiun yang dibayar karyawan merupakan objek PPh 21, sebagai pengurang penghasilan. Namun, Jaminan Pensiun yang dibayar perusahaan bukan merupakan objek PPh 21, sehingga tidak masuk dalam penambah penghasilan. Peraturan terbaru menyatakan bahwa besaran gaji maksimal yang dikenakan Jaminan Pensiun adalah Rp 9.077.600.00 Sehingga, iuran Jaminan Pensiun sebanyak 1% maksimal yaitu Rp 90.776.00

2.3.7 Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah besarnya penghasilan yang menjadi batasan tidak kena pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi, dengan kata lain apabila penghasilan Neto Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha dan/atau pekerjaan bebas jumlahnya dibawah PTKP tidak akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) dan apabila berstatus sebagai penerima penghasilan sebagai objek PPh Pasal 21. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan pasal 7 ayat (1) telah mengatur tentang besarnya PTKP. Besarnya PTKP untuk tahun 2021:

a. Rp 54.000.000.00 (lima puluh empat juta rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;

b. Rp 4.500.000.00 (empat juta lima ratus ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;

c. Rp 54.000.000.00 (lima puluh empat juta rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1); dan

d. Rp4.500.000.00 (empat juta lima ratus ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

(15)

2.3.8 Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Pengusaha Kena Pajak atau yang biasa disebut dengan PKP adalah Penghasilan kena pajak PPh 21 adalah penghasilan yang menjadi dasar dalam menghitung PPh pasal 21 terutang. Berikut ini tarif PKP yang berlaku pada tahun 2022:

Tabel 2. 1 Tarif PKP tahun 2021

Penghasilan Netto Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan 60 juta

60 juta sampai dengan 250 juta 250 juta sampai dengan 500 juta 500 juta sampai dengan 5 milyar Diatas 5 milyar

5%

15%

25%

30%

35%

Sumber: www.pajak.go.id, 2022

Referensi

Dokumen terkait

Dampak afeksi yang dialami yaitu merasa sedih, marah, malu, dendam dikarenakan mendapat komentar dan pesan dengan kata-kata kasar melalui sosial media seperti “brengsek,

Kinerja pencahayaan alami sangat buruk dengan nilai iluminasi di luar bangunan yang sangat tinggi mencapai 100.000 lux yang dipengaruhi oleh posisi matahari, ketinggian

BCA berupaya meningkatkan koordinasi di antara unit kerja terkait dalam melakukan evaluasi atau kajian terhadap proses, sistem dan prosedur untuk mengembangkan maupun

1. Keterbatasan anggaran pemeliharaan yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pemeliharaan seluruh ruas jalan. Saat ini, pemerintah daerah melakukan penanganan berdasarkan fakta

Berkaitan dengan Evaluasi Renja Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau Tahun 2019 yang mempertimbangkan bahwa Dinas Komunikasi, Informatika dan

Berdasarkan hasil diskusi peneliti dan observer untuk melakukan refleksi hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut, a) Guru belum mampu mengelola waktu

Dalam proses akuntansi diidentifikasikan berbagai transaksi atau peristiwa yang merupakan kegiatan ekonomi perusahaan, yang dilakukan melalui pengukuran, pencatatan, penggolongan,

Hasil tersebut memperlihatkan juga bahwa, meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan pada karakteristik keterampilan berpikir kreatif secara umum antara subjek