SKRIPSI
PEMBUATAN MODUL STARTING MOTOR INDUKSI 3 FASA DENGAN METODE RANGKAIAN BINTANG DELTA
Oleh:
NUR ACHSAN RESKIAWAN MUH. SYAHRIR 10582151615 10582154715
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2022
PEMBUATAN MODUL STARTING MOTOR INDUKSI 3 FASA DENGAN METODE RANGKAIAN BINTANG DELTA
Skripsi
Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar sarjana
Program Studi Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
Disusun Oleh
NUR ACHSAN RESKIAWAN MUH. SYAHRIR 10582151615 10582154715
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas dua nikmat yang sangat berharga yaitu nikmat sehat dan juga nikmat waktu sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu di limpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umat muslim yang senantiasa meneladani beliau.
Tugas akhir ini di susun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna penyelesaian pendidikan strata satu (S-1) pada Bidang Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar dengan judul:
PEMBUATAN MODUL STARTING MOTOR INDUKSI 3 FASA DENGAN METODE RANGKAIAN BINTANG DELTA
Penulis mengucapkan terima kasih kepada yang memberikan doa serta dukungan tulus tiada henti yaitu kepada :
1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan, keselamatan dan kesehatan baik dari segi jasmani dserta rohani.
2. Nabi Muhammad SAW, yang menjadi panutan kita semua.
3. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Ibu Dr. Ir. Hj. Nurnawati, ST., MT., IPM, selaku dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Ibu Adriani, ST., MT., selaku ketua jurusan Teknik Elektro.
6. Bapak Ir. Abdul Hafid, MT., selaku pembimbing 1.
ii
7. Bapak Dr. Ir Zahir Zainuddin M. Scc, selaku pembimbing 2.
8. dan Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman sekalian terkhusus di angkatan 2015 yang telah memberi dukungan, motivasi serta bantuan.
9. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungannya kepada penulis.
Penulis menyadari dan memohon maaf atas segala kekurangan dari Tugas Akhir ini. Akhir kata, semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat dalam pengembangan keilmuan di kemudian hari.
Makassar, Juni 2022
Penulis
iii
PEMBUATAN MODUL STARTING MOTOR INDUKSI 3 FASA DENGAN METODE RANGKAIAN BINTANG DELTA
Nur Achsan Reskiawan; Muh. Syahrir; Abdul Hafid*); Zahir Zainuddin*)
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Makassar
GEDUNG MENARA IQRA LT.3
Jl. Sultan Alauddin No. 259 Telp. (0411) 866 972 Fax (0411) 865 588 Makassar 90221 Website: https://teknik.unismuh.makassar.ac.id, e-mail: [email protected],
ABSTRAK
Motor listrik tiga phasa merupakan jenis motor yang paling banyak digunakan secara luas baik dalam industri besar maupun kecil dibandingkan dengan motor jenis lainnya. Hal ini karena motor jenis ini mempunyai keunggulan dari segi teknis dan ekonomis. Motor listrik tiga phasa memiliki karakteristik arus awal yang besar, tapi hal ini dapat diatasi dengan beberapa metode pengaturan, satu diantaranya adalah sistem pengasutan bintang (Y)-segitiga (Δ), sistem ini, sederhana dan dapat diterapkan pada semua jenis motor listrik tiga phasa. Tujuan yang ingin dicapai adalah pembuatan sistem kendali hubungan bintang (Y)-segitiga motor listrik tiga phasa secara manual. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah motode praktikum pada laboratorium dan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan rangkaian kontrol pengasutan dan proteksi bintang (Y)-segitiga (Δ) motor induksi tiga phasa berbasis PLC dapat bekerja dengan sempurna. Arus pengasutan motor listrik menggunakan metode pengasutan bintang (Y)-segitiga (Δ) adalah 2.89 ampere. Hal ini menunjukkan bahwa pengasutan motor indusi dapat mengurangi tingginya arus pengasutan saat motor induksi mulai dioperasikan.
Kata Kunci : Motor Induksi, Tegangan,Rangkaian Star dan Del
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
LEMBAR PENGESAHAN ...
LEMBAR PERBAIKAN ...
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penelitian ... 2
D. Manfaat Penelitian ... 2
E. Batasan Masalah ... 3
F. Sistematika Penulisan ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. Motor Listrik 3 Fasa ... 5
B. Jenis dan Bagian-bagian Motor Induksi 3 Fasa ... 6
C. Medan Putar ... 9
D. Prinsip Kerja Motor Induksi ... 11
E. Soft Starting ... 11
F. Rangkaian Bintang Delta ... 12
G. Peralatan Pengaman dan Kontrol ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 21
v
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 21
B. Alat dan Bahan Yang Digunakan Dalam Pembuatan modul ... 21
C. Spesifikasi Alat. ... 22
D. Skema Pembuatan Modul. ... 25
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
A. Perakitan Modul Rangkaian ... 28
B. Pengukuran Tegangan Line - 0. ... 31
C. Pengukuran Line – Line ... 32
D. Pengukuran Arus Fasa R, S dan T ... 32
BAB V PENUTUP ... 35
A. Kesimpulan ... 35
B. Saran ... 35
DAFTAR PUSTAKA ... 37
LAMPIRAN ... 39
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Motor Induksi Sangkar Tupai ... 6
Gambar 2.2 Motor Induksi 3 Fasa Rotor Lilitan ... 8
Gambar 2.3 Stator ... 8
Gambar 2.4 Rotor ... 9
Gambar 2.5 Medan Putar ... 10
Gambar 2.6 Bentuk Fisik dan Single Line Diagram Soft Starting ... 12
Gambar 2.7 Rangkaian Bintang Delta ... 13
Gambar 2.8 (a) Diagram Kontak TOR dan (b) TOR ... 15
Gambar 2.9 (a) Bentuk Fisik MCB (b) Simbol MCB ... 15
Gambar 2.10 (a) Bentuk Fisik Kontaktor dan (b) Simbol Kontaktor ... 16
Gambar 2.11 (a) Bentuk Fisik Timer dan (b) Simbol Timer ... 18
Gambar 2.12 (a) Bentuk Fisik Lampu Indikator dan (b) Simbol Lampu Indikator... 19
Gambar 2.13 Simbol Push Button NO (Normally Open) ... 19
Gambar 2.14 Simbol Push Button NC (Normally Close) ... 20
Gambar 2.15 Simbol Push Button Perpaduan NO & NC ... 20
Gambar 3.3 Motor Induksi 3 Fasa Squirrel Cage ... 23
Gambar 3.4 Kontaktor ... 23
Gambar 3.5 Thermal Over Load ... 24
Gambar 3.6 Timer ... 24
Gambar 3.7 Lampu Indikator ... 25
vii
Gambar 3.8 Push Button ... 25
Gambar 3.9 Skema Pembuatan Modul... 26
Gambar 3.10 Flowchart Penelitian ... 27
Gambar 4.1 Diagram Rangkaian Daya ... 29
Gambar 4.2 Diagram Rangkaian Kontrol ... 29
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Bahan yang Digunakan Dalam Pembuatan Modul ... 21
Tabel 3.2 Alat yang Digunakan Dalam Pembuatan Modul ... 22
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Tegangan Line - 0 ... 31
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Tegangan Line-Line ... 32
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Arus Fasa R,S, dan T ... 33
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Motor induksi tiga fasa adalah alat listrik yang mengubah energy listrik menjadi energy mekanik. Listrik yang diubah adalah listrik 3 phasa. Motor induksi sering juga disebut motor asinkron (Siswoyo, 2008). Motor induksi juga mempunyai berbagai keunggulan di banding dengan motor listrik yang lain, yaitu karena harga dari motor induksi yang relatif murah serta konstruksinya yang mudah di mengerti dan memiliki ketahanan konstruksi yang kuat dengan karakteristik kerja yang baik.
Sampai saat ini penggunaan motor induksi semakin luas karena motor induksi merupakan alat yang harus di gunakan apabila menggunakan alat listrik dengan kapasitas daya yang sangat besar. Namun dalam pemakaiannya terdapat permasalahan awal. Yaitu lonjakan arus starting yang di terima lilitan atau rotor pada motor induksi tiga fasa secara terus menerus dan dalam waktu yang akan lama merusak belitan motor. Kebanyakan pada motor induksi terutama motor induksi tiga fasa, arus starting bisa mencapai empat sampai tujuh kali besar arus nominalnya (Jhonson Siburian, 2021).
Metode starting motor induksi 3 fasa rangkaian bintang delta, awal pengoprasian tegangan dan arus dari sumber tenaga mengalir masuk kedalam motor secara bertahap, sehingga motor tidak menarik arus starting yang terlalu besar.
Adapun waktu-waktu yang di atur pada saat pengoprasian berlangsung yang nantinya merubah rangkaian dari bintang ke delta. Saat waktu yang telah di atur di capai maka
2
rangkaian berganti, pergantian ini bisa di lakukan karena adanya timer. Setalah berganti ke delta arus perlahan-lahan akan menurun.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan di kaji dalam Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
a. Berapa besar arus starting saat pengoprasian motor induksi 3 fasa berjalan?
b. Bagaimanakah bentuk rangkaian daya dan rangkaian kontrol motor induksi 3 fasa?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut:
a. Pengujian dan pengambilan hasil data arus starting yang di operasikan pada motor induksi 3 fasa dengan metode rangkaian bintang delta.
b. Mengetahui dan memahami cara kerja modul rangkaian daya dan rangkaian kontrol untuk pengoperasikan motor 3 fasa.
D. Manfaat Penelitian
Adapun Manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
a. Secara teori, penelitian ini memberikan kontribusi pengetahuan terhadap pengembangan keilmuan di bidang pengetahuan elektro, khususnya mengenai besarnya arus yang mengalir pada motor induksi 3 fasa model bintang delta, b. Menjadi media bahan ajar laboratorium untuk teman-teman selanjutnya dapat
mempelajari modul motor 3 fasa ini yang menggunakan rangkaian bintang delta.
3 E. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam Tugas Akhir ini adalah alat sistem pengoprasian elektromagnetik yang menggunakan rangkaian kontrol dan rangkaian daya serta arus yang mengalir ke motor induksi 3 fasa pada saat pengoprasiannya.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tugas akhir ini terdiri dari lima bab, yaitu pendahuluan, teori penunjang, perencanaan dan pembuatan alat, pengujian, serta penutup.
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas tentang latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan, sistematika laporan, serta relevansi.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas tentang teori penunjang yang mendukung dalam perencanaan pembuatan alat meliputi definisi dan prinsip kerja motor induksi tiga fasa, teori macam macam pengasutan motor induksi tiga fasa, teori definisi dari komponen komponen elektronika daya yang di gunakan pada masing-masing metode starting motor induksi 3 fasa rangkaian bintang delta.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Membahas tentang metode penelitian dan pembuatan modul serta tempat dan waktu pelaksanaan.
4 BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Membahas tentang pengukuran, pengujian, dan penganalisaan data yang telah di dapatkan, kemudian membahas tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan.
BAB V : PENUTUP
Menjelaskan tentang kesimpulan dari tugas akhir ini dan saran-saran untuk pengembangan alat ini lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Berisi tentang daftar sumber referensi yang di lampirkan dari sebuah buku, jurnal, atau yang lainnya, yang meliputi judul buku, nama pengarang, penerbit dan informasi yang terkait.
LAMPIRAN
Berisi tentang dokumentasi pada saat pembuatan modul.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Motor Listrik 3 Fasa
Motor listrik 3 fasa merupakan alat yang bekerja dengan memanfaatkan perbedaan fasa pada sumber untuk menimbulkan gaya putar pada bagian rotornya.
Perbedaan fasa pada motor 3 fasa yaitu di dapat langsung dari sumber. Hal ini yang menjadi pembeda antara motor 1 fasa dengan motor 3 fasa. Motor induksi tiga fasa banyak di gunakan oleh dunia industri karena memiliki beberapa keuntungan.
Keuntungan yang dapat di peroleh dalam pengendalian motor–motor induksi tiga fasa yaitu, struktur motor induksi tiga fasa lebih ringan (20% hingga 40%) di bandingkan motor arus searah (DC) (Abidin, Z., Priangkoso, T., & Darmanto, D, 2013)
Secara umum, motor 3 fasa memiliki dua bagian pokok, yakni stator dan rotor.
Bagian tersebut dipisahkan oleh celah udara yang sempit atau yang biasa disebut dengan air gap. Jarak antara stator dan rotor yang terpisah oleh air gap sekitar 0,4 milimeter sampai 4 milimeter. Dasar teori pada motor 3 fasa yaitu, apabila sumber tegangan 3 fasa dialirkan pada kumparan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan tertentu. Medan putar stator akan memotong batang konduktor yang ada pada rotor, sehingga pada batang konduktor dari rotor akan terjadi Gaya Gerak Listrik (GGL) induksi. Dalam penggunaan motor listrik sebagai penggerak mesin-mesin produksi pada suatu industri di perlukan suatu sistem pengaman proteksi yang harus di pasang pada motor tersebut untuk mengurangi kerugian-kerugian yang
6
di timbulkan akibat gangguan yang mungkin terjadi (Sembodo, B. P. S. P., &
Rochman, S. R., 2012)
B. Jenis dan Bagian-bagian Motor Induksi 3 Fasa
Ada dua jenis motor induksi 3 fasa berdasarkan rotornya yaitu:
1. Motor induksi 3 fasa rotor sangkar tupai (squirrel-cage rotor 3 phase induction motor).
Motor induksi 3 fasa rotor sangkar tupai (squirrel-cage rotor 3 phase induction motor) sangat banyak dan lazim digunakan pada dunia industri, teruatama pada industri manufakturing. Walaupun motor induksi tiga fasa mempunyai banyak keuntungan dan kelebihan, terdapat beberapa sisi negatif dari penggunaan motor induksi jenis ini, yaitu timbulnya harmonisa yang dapat mengurangi kualitas daya listrik (Badruzzaman, Y., 2015).
Gambar 2.1 Motor Induksi Sangkar Tupai (Siswoyo, 2008)
Selain itu motor induksi mempunyai efesiensi yang baik dan putaran konstan untuk setiap apabila terjadi perubahan beban. Starting motor induksi tiga fasa tidak
7
memiliki permasalahan yang cukup besar seperti pada motor sinkron. Pada dasarnya motor induksi daya yang kecil dapat distart langsung hanya dengan menghubungkannya dengan sumber tegangan. Namun untuk motor induksi yang besar hal ini tidak dapat dilakukan, karena arus start yang realtif besar yaitu 2 sampai 7 kali lipat arus nominal.
2. Motor induksi 3 fasa rotor belitan (wound rotor 3 phase induction motor) Rotor belitan (wound rotor) adalah jenis rotor yang rotornya terbuat dari lilitan.
Lilitan rotor tersebar secara menyeluruh pada slot-slot dan secara umum dihubungkan secara wye, ketiga terminal tersebut kemudian dihubungkan dengan slip-ring dan di hubungkan dengan sikat yang diam (stationary brushes) dengan demikian maka motor bias di beri resistor dari luar sehingga kecepatan motor dapat di atur dengan mengubah-ubah nilai tahanan resistor luar.
Ali, Kasim (2013) menyatakan bahwa motor induksi jenis ini mempunyai rotor dengan belitan kumparan tiga fasa sama seperti kumparan stator. Kumparan stator dan rotor juga mempunyai jumlah kutub yang sama. Rotor yang mempunyai tiga belitan yang mirip dengan belitan stator. Ketiga belitan tersebut biasanya terhubung bintang.
8
Gambar 2.2 Motor Induksi 3 Fasa Rotor Lilitan (Siswoyo, 2008)
3. Stator
Rangkaian stator merupakan rumah dari bagian – bagian motor yang terbuat dari besi tuang. Inti stator terbuat dari besi lunak atau baja silicon. Inti stator ini tersusun dari dari plat – plat stator yang mempunyai alur sebagai tempat meletakan belitan stator. Sedangkan belitan stator terbuat dari tembaga (Ali, Kasim, 2013).
Gambar 2.3 Stator (Baharuddin, 2016) 4. Rotor
9
Di dalam sebuah motor induksi 3 fasa terdapat bagian yang disebut dengan rotor, yang merupakan bagian yang berputar. Rotor terdiri dari 2 yaitu inti motor dan kumparan motor.
Perputaran poros rotor adalah yang menggerakan beban mekanis mendapat beban puntir untuk memutar beban. Daya mekanis di transmisikan dari mekanis dari poros melalui koping, puli – puli, sabuk dan rantai (Ali, Kasim, 2013).
Gambar 2.4 Rotor (Baharuddin, 2016) C. Medan Putar
Perputaran motor pada mesin arus bolak-balik di timbulkan oleh adanya medan putar (fluks yang berputar) yang dihasilkan didalam kumparan statornya. Medan putar ini akan terjadi apabila kumparan stator di hubungkan dengan satu sumber tegangan 3 fasa (Badruzzaman, Y., 2015). Di bawah ini akan di jelaskan bagaimana proses terjadinya medan putar. Perhatikan gambar 2.5.
10
Gambar 2.5 Medan Putar
Misalnya kumparan a-a; b-b; c-c dihubungkan 3 fasa, dengan fasa rnasing- masing 120°(gambar 2.5a) dan di aliri arus sinusoid. Distribusi ia, ib, is sebagai fungsi waktu adalah seperti gambar 2.5b. pada keadaan tl, t2, t3, dan 14 fluks resultan yang di timbulkan oleh kumparan tersebut masing-masing adalah seperti gambar 3.4 c, d, e, dan f. Pada t1 fluks resultannya mempunyai arah sama dengan arah fluks yang dihasilkan oleh kumparan a-a; sedangkan t2 fluks resultannya dihasilkan oleh kumparan b-b. Untuk t4, fluks resultannya berlawanan arah dengan fluks resultan yang dihasilkan pada saat tl. Dari gambar 2.5 c, d, e, dan f tersebut terlihat bahwa fluks resultan ini akan berputar satu kali. Oleh karena itu, untuk mesin dengan jumlah kutub lebih dari dua, kecepatan sinkron dapat diturunkan sebagai berikut.
Ns = 120.f/p...
f = frekuensi p = jumlah kutub
11 D. Prinsip Kerja Motor Induksi
Prinsip kerja motor induksi adalah berdasarkan induksi elektromagnet, dimana tegangan sumber di berikan pada kumparan stator, sehingga inti besi yang terdapat di stator menjadi magnet, yang kemudian menginduksikan magnet tersebut ke rotor.
Dengan demikian, pada kumparan rotor akan terinduksi tegangan di karenakan kumparan rotor merupakan loop tertutup, maka akan mengalir arus dikumparan rotor tersebut yang berinteraksi dengan medan magbet distator, sehingga timbullah gaya putar pada rotor yang mendorong rotor untuk berputar dengan kecepatan sinkron dan akan mengikuti persamaan dengan :
N = Kecepatan putar dari medan putar stator dalam rpm F = Frekuensi arus dan tegangan stator
P = Banyaknya kutub
Garis-garis gaya fluks dari stator tersebut yang berputar akan memotong penghantar-penghantar rotor sehingga pada penghantar rotor tersebut timbul Gaya Gerak Listrik (GGL) atau tegangan induksi. Karena ada perbedaan putaran antara medan putar stator dan putaran rotor, maka disebut motor induksi tidak serempak atau motor asinkron (Siswoyo, 2008)
E. Soft Starting
Soft starting merupakan salah satu metode pengasutan pada motor induksi 3 fasa, dengan memanfaatkan komponen elektronika daya thyristor yang dipasang secara anti pararel untuk mengatur besarnya tegangan yang masuk pada motor.
12
Prinsip kerja metode ini pertama-tama motor diberikan tegangan yang rendah sehingga arus dan torsipun rendah. Pada level ini motor hanya sekedar berputar perlahan dan tidak menimbulkan kejutan. Selanjutnya tegangan akan dinaikkan secara bertahap sampai pada tegangan nominal dan motor juga akan berputar dengan kecepatan nominalnya. Berikut dapat dilihat bentuk fisik soft starting dan single line pada gambar 2.6
Gambar 2.6 Bentuk Fisik dan Single Line Diagram Soft Starting F. Rangkaian Bintang Delta
Rangkaian bintang delta adalah suatu rangkaian motor listrik yang terdiri dari gabungan antara rangkaian bintang dan rangkaian delta yang di gunakan bertujuan untuk mengurangi lonjakan arus ketika motor baru di nyalakan. Rangkaian motor ini juga sering disebut sebagai Rangkaian Star Delta di karenakan bentuknya yang mirip seperti bintang segitiga seperti yang terlihat pada gambar 2.7
.
13
Gambar 2.7 Rangkaian Bintang Delta (Taufiq Sabirin, 2010)
Jadi ketika motor baru di nyalakan maka akan menggunakan rangkaian bintang terlebih dahulu, ketika kecepatan motor mencapai 80% maka rangkaian motor akan di ganti menjadi rangkaian delta. Hal ini di lakukan agar mengurangi lonjakan arus pada saat motor baru di nyalakan. Selain itu tujuan lainnya adalah agar torsi motor tidak berkurang di keranakan salah satu kelebihan rangkaian bintang yaitu torsi motor bisa sangat tinggi ketika baru di nyalakan.
Prinsip kerjanya adalah pada posisi start, belitan terhubung bintang/star, sedangkan pada posisi running belitan terhubung delta. Tegangan yang melewati masing-masing fase belitan pada posisi start bintang adalah 58% atau 3/1 dari tegangan hubungan delta, dengan konsekuensi arus yang mengalir berkurang saat starting (Pawawoi, Andi, 2009).
G. Peralatan Pengaman dan Kontrol
Alat pengaman arus listrik merupakan sebuah alat yang dipakai untuk memutus secara otomatis bila dalam suatu instalasi listrik ataupun pada rangkaian panel mengalami gangguan seperti beban berlebih, konsleting, percikan api, dan lain – lain.
14
Motor Control Center (MCC) merupakan pusat pengontrolan operasi motor listrik, sebagai pusat pengontrolan harus mampu mengontrol operasi motor secara bersamaan. Yang di maksud motor control center (MCC) adalah kumpulan beberapa komponen untuk mengendalikan motor-motor dengan berbagai jenis motornya starter mulai starter DOL (direct on line), SDS (star delta starter) dll.busbar dan peralatan kontrol yang semuanya berfungsi untuk melakukan pengontrolan operasi motor listrik dan menempatkan komponen-komponen tersebut dalam suatu panel-panel yang terintegrasi (Apriani, Yossi)
Dengan adanya alat ataupun komponen listrik sebagai pengaman maka apabila terjadi suatu gangguan pada instalasi atau rangkaian komponen pengaman akan lebih dulu memutus arus listrik sehingga tidak menimbulkan suatu kerusakan. Adapun alat pengaman yang paling sering ditemui dalam suatu instalasi adalah sebagai berikut :
1. Thermal Overload Relay.
Thermal Overload Relay ialah suatu alat pengaman instalasi listrik yang memiliki tugas memutus arus listrik yang sedang mengalir saat suhu suatu rangkaian naik atau meningkat. Sebelum suatu rangkaian mengeluarkan percikan api, maka alat ini akan terlebih dulu memutus arus yang mengalir.
15
(a) (b) Gambar 2.8 (a) Diagram Kontak TOR dan (b) TOR
(Samrasyid, 2020) 2. Miniatur Cicuit Breaker.
Miniature Circuit Breaker atau biasa disebut MCB merupakan alat pengaman arus listrik dari beban lebih dan hubung singkat. Terdapat dua komponen penting pada MCB yakni Thermis sebagai bahan pengaman dari beban lebih, dan Relay elektromagnetik sebagai pengaman dari arus pendek.
(a) (b)
Gambar 2.9 (a) Bentuk Fisik MCB (b) Simbol MCB
MCB dan Thermal Overload Relay merupakan dua alat atau komponen yang berfungsi sebagai pengaman pada instalasi listrik maupun rangkaian panel. Untuk suatu rangkaian panel selaian adanya komponen pengaman rangkaian ini juga
16
membutuhkan komponen pengontrol, ini memudahkan kinerja manusia untuk menghidupkan dan mematikan suatu beban listrik dengan menggunakan rangkaian kontrol.
Adapun komponen yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Kontaktor.
Kontaktor adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk memudahkan sistem kerja pada pemasangan listrik atau alat yang berkaitan. Kontaktor bekerja dengan prinsip induksi elektromagnetik, yakni kumparan dialiri tenaga listrik dan menghasilkan Kontak bantu NO (Normally open) tertutup dan NC (Normally Close) terbuka. Kontaktor terdiri dari dua jenis, yakni kontaktor utama dan kontaktor bantu.
Kontaktor utama digunakan untuk rangkaian daya, sedangkan kontaktor bantu digunakan untuk rangkaian kontrol.
(a) (b)
Gambar 2.10 (a) Bentuk Fisik Kontaktor dan (b) Simbol Kontaktor
Sebuah kontaktor tentunya terdiri dari rangkaian komponen komponen didalamnya. Diantara bagian bagian yang ada pada kontaktor adalah sebagai berikut:
a. Kontak Utama.
17
Kontak utama atau sering juga dikenal dengan nama RST ini terdiri dari komponen komponen simbol angka yakni L1,L2,L3 dan seterusnya. Kontak utama pada kontaktor ini mempunyai fungsi sebagai saklar penghubung listrik 3 fasa ( R, S, dan T ). Fungsi ini sama persis dengan MCB 3 fasa.
b. Kontak Output Utama atau UVW.
Bagian kontaktor yang satu ini terdiri dari komponen simbol angka T1,T2,T3 dan seterusnya.
c. Kumparan Magnet (Coil)
Kumparan magnet pada kontaktor memiliki peran sebagai media yang akan dialiri oleh sumber tegangan listrik. Kumparan ini disimbolkan dengan A1 – A2 dan seterusnya.
d. Kontak Bantu NO (Normally Open)
Kontak bantu NO merupakan bagian kontak yang hanya bekerja jika kontaktor magnet dalam kondisi aktif dan mati jika kontaktor dalam kondisi tidak aktif. Pada bagian ini terdapat komponen komponen angka 13,14,15, dan lain sebagaianya.
e. Kontak Bantu NC (Normally Close)
Kontak bantu NC memiliki prinsip kerja yang berbanding terbalik dengan kontak bantu No. Kontak NC akan bekerjaa hanya saat kontaktor magnet dalam keadaan tidak aktif / off. Fungsi yang hampir sama dengan bagian Normally Open, untuk Normally Close sendiri disimbolkan dengan angka angka 21,22, dan lain sebagainya.
2. Timer On Delay.
18
Kontaktor delay atau timer ini berfungsi untuk memindahkan kerja dari rangkaian pengontrol dalam waktu tertentu yang bekerja secara otomatis, misalnya untuk rangkaian kontrol hubungan Ү –Δ secara otomatis, hubungan kontrol secara berurutan dan lain –lain. Prinsip kerja dari alat ini tidak terlalu rumit, pada saat lilitannya mendapat supplytegangan listrik maka kontak bantunya yang semula dalam keadaan membuka menjadi menutup setelah beberapa detik atau sesuai dengan setting waktu yang telah dipilih. Dan begitu pula sebaliknya kontak bantu yang semula tertutup menjadi terbuka setelah setting waktu yang dipilih tercapai.
(a) (b)
Gambar 2.11 (a) Bentuk Fisik Timer dan (b) Simbol Timer 3. Lampu Indikator.
Pada suatu rangkaian panel terdapat tiga lampu kecil didepan box panel.Lampu ini berfungsi untuk memberi tahu rangakian yang sedang bekerja.
19
(a) (b) Gambar 2.12 (a) Bentuk Fisik Lampu Indikator dan
(b) Simbol Lampu Indikator 4. Push Button.
Push button adalah satu komponen elektronika yang dapat memutus dan mengalirkan arus listrik dalam suatu rangkaian. Dimana pemutusan dan pengaliran ini terjadi karena prinsip pengalihan dari satu konduktor ke konduktor lain. Ada tiga jenis push button yang dibedakan dari kegunanaannya yaitu :
a. Push Button NO (Normally Open)
Jenis push button ini akan menyambungkan arus listrik saat ditekan, dan akan kembali seperti semula saat dilepas. Fungsi push button NO biasanya untuk membuat tombol mulai atau start.
Gambar 2.13 Simbol Push Button NO (Normally Open)
20 b. Push Button NC (Normally Close)
Fungsi push button NC adalah kebalikan dari NO dan sering disebut sebagai tombol emergency atau stop. Dalam kondisi awal, ia bersifat mengalirkan arus listrik, sehingga pada saat ditekan ia akan memutus arus listrik serta kembali ke posisi semula apabila dilepas.
Gambar 2.14 Simbol Push Button NC (Normally Close) c. Push Button Perpaduan NO & NC
Untuk jenis yang satu ini memiliki empat kaki terminal kontak, dimana pada saat tombol ditekan maka sepasang terminal kontaknya akan berada dalam NC, sedangkan dua lainnya NO.
Gambar 2.15 Simbol Push Button Perpaduan NO & NC
21 BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada Laboratorium Unismuh Makassar.
Adapun waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2022.
B. Alat dan Bahan Yang Digunakan Dalam Pembuatan modul a. Bahan yang digunkan dalam pembuatan modul.
Tabel 3.1 Bahan yang Digunakan Dalam Pembuatan Modul
No. Nama Bahan Jumlah
1 MCB 3 FASA 16 A 1 BUAH
2 MCB 1 FASA 4 A 1 BUAH
3 THERMAL OVERLOAD RELAY 1 BUAH
4 TIME DELAY RELAY 1 BUAH
5 KONTAKTOR 3 BUAH
6 PUSH BUTTON TIPE NO & NC 2 BUAH
7 LAMPU INDIKATOR 3 BUAH
8 KABEL NYAF uk 1.5 mm 30 METER
9 TERMINAL BLOCK 2 BUAH
10 KABEL DUCT 1 BATANG
11 REL uk 3.5 cm 1 METER
12 SEKRUP 50 BUAH
13 TRIPLEKS uk 1 cm 1 LEMBAR
14 ENGSEL 3 BUAH
15 KABEL TIES 1 PCS
b. Alat yang digunakan dalam pembuatan modul
22
Tabel 3.2 Alat yang Digunakan Dalam Pembuatan Modul
No. Nama Alat Jumlah
1 GERGAJI KAYU 1 BUAH
2 GERGAJI BESI 1 BUAH
3 BOR 1 BUAH
4 MULTI METER 1 BUAH
5 OBENG TEST 1 BUAH
6 OBENG MINUS 1 BUAH
7 OBENG PLUS 1 BUAH
8 PISAU CUTTER 1 BUAH
9 TANG PENGUPAS KABEL 1 BUAH
10 TANG KOMBINASI 1 BUAH
11 TANG POTONG 1 BUAH
C. Spesifikasi Alat.
Berikut spesifikasi alat yang digunakan dalam perancangan serta pengoprasian motor induksi 3 fasa dengan rangkaian bintang (Y) delta (∆) adalah :
a. Motor Induksi 3 Fasa
Motor listrik yang digunakan adalah motor induksi 3 fasa dengan rotor sangkar (Squirrel Cage) yang memiliki spesifikasi voltage 220/380 V ∆/Y, frekuensi 50 Hz, current 2,7/1,6 A, daya 0,75 HP, speed 1405 rpm.
23
Gambar 3.3 Motor Induksi 3 Fasa Squirrel Cage b. Kontaktor
Kontaktor yang digunakan yaitu chint NXC-09 tipe IEC/EN 60947-4-1 dengan 3 kontak utama NO (Normally Open), 2 kontak bantu NO dan NC. Tegangan input coil 220 V, arus 20 A dengan frekuensi AC 50/60 Hz.
Gambar 3.4 Kontaktor
(https://www.tokopedia.com/listriknusantara/kontaktor-chint-nxc-09-4kw-3p-220v- contactor-1no-1nc, TokoPedia)
c. Thermal Over Load
Termal over load yang digunakan chint NXR-25 tipe IEC/EN 609477-4-1 dengan kapasitas arus 2,5-4 A, class 10 A. Kontak utama NC dan 2 kontak bantu NO dan NC.
24
Gambar 3.5 Thermal Over Load (Samrasyid, 2020) d. Timer
Timer yang digunakan OMRON tipe H3CR-A8 tegangan input 24-240 VAC, 50/60 Hz dan 8 kontak masukan.
Gambar 3.6 Timer
(https://shopee.co.id/Omron-Timer-H3CR-A8-220V-Timer-8-Kaki-220V-Include- Socket-i.10630793.1835069834, Shoopee)
e. Lampu Indikator
Lampu indikator yang digunakan 3 buah, masing-masing memiliki warna lampu merah, kuning, dan hijau dengan tegangan input 220 VAC dan arus kurang dari 20 mA.
25
Gambar 3.7 Lampu Indikator
(https://www.tokopedia.com/sinarsuryaltc/pilot-lamp-lampu-indikator-panel-22mm, TokoPedia)
f. Push Button
Push button yang digunakan ada 2 tipe yaitu, push button start dengan tipe NO (Normally Open) berwarna hijau dan push button stop tipe NC (Normally Close) berwarna merah.
Gambar 3.8 Push Button
(https://indonesian.alibaba.com/product-detail/Manhua-XB2-220VAC-Red-Push- Button-60683946240.html, Alibaba)
D. Skema Pembuatan Modul.
Dalam proses rancangan rangkaian yang di lakukan ada beberapa langkah- langkah perancangan sebagai berikut :
26
Gambar 3.9 Skema Pembuatan Modul
a. Rangkaian di beri sumber tegangan listrik 220 V (1 fasa) untuk rangkaian control dan 380 V (3 fasa) untuk rangkaian daya.
b. Kemudian tombol start di tekan untuk memulai pengoprasian rangkaian.
c. Kontaktor utama bekerja setelah mendapatkan aliran tegangan kemudian mengalirkan ke motor listrik.
d. Rangkaian awal terhubung secara bintang (Y).
Setelah rangkaian beroperasi selama 15 detik rangkain berpindah secara otomatis yang awalnya bintang (Y) menjadi delta (∆) karena adanya timer sebagai penunda waktu.
27
Gambar 3.10 Flowchart Penelitian
28 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian bentuk observasi dan survey alat di laksanakan di laboratorium Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar, merupakan hasil perancangan alat dan pengoprasian sistem starting bintang (Y) delta (∆) untuk motor induksi 3 fasa. Analisa data pada penelitian ini dapat di pakai sebagai bahan untuk membuat kesimpulan dan saran-saran yang berguna untuk penelitian selanjutnya.
A. Perakitan Modul Rangkaian
Modul rangkaian di buat dengan menggunakan triplek dengan ketebalan 1cm kemudian di bentuk menjadi box yang menyerupai box panel pada umumnya.
Setelah box telah selasai berikutnya memasang rel yang di tempatkan dalam box berguna untuk meyangga alat-alat electromagnet yang akan di pasang. Ketika rel sudah terpasang kemudian di lanjutkan memasang alat-alat elektromagnetik yaitu mcb 1 fasa, mcb 3 fasa, kontaktor , tor, dan timer. Pada bagian bawah rangkaian di pasang terminal yang fungsi nya sebagai penyambung antara input dan output.
Setelah semua terpasang kemudian di lanjutkan dengan instalasi alat-alat yang telah terpasang dengan mengikuti gambar yang sudah di buat.
a. Rangkaian Daya
29
Gambar 4.1 Diagram Rangkaian Daya b. Rangkaian Kontrol
Gambar 4.2 Diagram Rangkaian Kontrol c. Cara Kerja Rangkaian
Untuk cara kerja rangkaian bintang (Y) delta (∆) sebagai berikut :
30 1. Posisi ON
Ketika MCB 1 fasa dinaikkan (diaktifkan) maka aliran listrik melewati TOR (Thermal Over Load) dan tombol STOP sampai ke tombol START.
Ketika tombol START ditekan maka K1 (Kontaktor Utama) akan aktif dan
mengunci menggunakan kontak K1 (13 14). Di saat yang bersamaan aliran listrik juga melalui tombol kontak T1 (55 56) dan mengaktifkan K2 (kontaktor bintang Y).
K2 aktif maka rangkaian bintang (Y) aktif yang dapat ditandai dengan menyalanya lampu indikator H1 (berwarna hijau).
Selain itu aliran listrik juga mengalir menuju timer T1 sehingga timer T1 mulai melakukan perhitungan sampai waktu yang telah diatur.
Ketika timer T1 selesai menghitung waktu yang telah diatur maka anak
kontaknya (55 56) akan menjadi ON dan memutuskan aliran listrik ke K2 (kontaktor bintang Y). hal tersebut membuat rangkaian bintang (Y) berhenti bekerja.
Di saat yang bersamaan anak kontak T1 (67 68) yang sebelumnya NO
(Normally Open) menjadi NC (Normally Close) sehingga menghubungkan listrik ke K3 (Kontaktor Delta ∆).
Ketika K3 aktif maka rangkaian delta aktif yang dapat ditandai dengan menyalanya lampu indikator H2 (berwarna kuning)
2. Posisi OFF dan Gangguan
31
Untuk posisi off pada rangkaian starting bintang delta otomatis dengan menekan tombol stop maka rangkaian akan berhenti berjalan atau bisa juga dengan cara me- nonaktifkan MCB 1 fasa. Sama halnya dengan posisi gangguan, ketika terjadi gangguan overload (beban lebih) maka TOR akan memutuskan aliran listrik dan membuat beban motor berhenti. Di sisi lain juga MCB dapat bekerja memutus aliran listrik ketika pengaman TOR gagal bekerja.
d. Pengujian Alat
Pengujian alat di lakukan di laboratorium Universitas Muhammadiyah Makassar.
Rangkaian di beri tegangan sumber 1 fasa untuk rangkaian bintang dan 3 fasa untuk rangkaian delta. Setelah sumber tegangan sudah mengalir kemudian tekan tombol start pada modul, awalnya rangkaian terhubung bintang setelah 15 detik rangkaian berpindah menjadi delta. Pada saat rangkaian beroperasi di lakukan juga pengambilan data yaitu tegangan line – 0, tegangan line-line, dan jumlah arus tiap fasa R, S, dan T.
B. Pengukuran Tegangan Line - 0.
Upaya mengetahui suatu tegangan, hal pertama perlu di sediakan adalah tang amper dan clamp meter. Selanjutnya pengaturan posisi saklar selektor pada batas ukur 600 V AC, lalu hubungkan ke probe hitam terminal negative (-), probe merah pada terminal positif (+) fasa R,S atau T dan probe hitam keterminal negatif (-).
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Tegangan Line - 0 Tegangan Line – 0 Jumlah Tegangan (Volt)
R - 0 228
S - 0 227
32
T - 0 226
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan jumlah pengukuran tegangan (R-0) fasa R dengan netral (0) sebesar 228 volt, jumlah pengukuran tegangan (S-0) fasa S dengan netral (0) sebesar 227 volt, jumlah pengukuran tegangan (T-0) fasa T dengan netral (0) sebesar 226 volt.
C. Pengukuran Line – Line
Persiapan pengukuran suatu tegangan line-line, tahap awal menyediakan alat ukur tang amper. Posisikan sklar selektor pada batas pengukuran 600 V AC, sambungkan probe pada terminal tegangan fasa R, S atau T dua probe hitam kesalah satu terminal fasa yang diukur.
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Tegangan Line-Line Tegangan Line-Line Jumlah Tegangan (Volt)
R - S 400
R - T 396
S - T 397
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan hasil pengukuran tegangan fasa R dengan fasa S sebesar 400 Volt, hasil pengukuran tegangan fasa R dengan fasa T sebesar 396 Volt, untuk tegangan fasa S dengan fasa T jumlah pengukuran tegangannya yaitu sebesar 397 volt.
D. Pengukuran Arus Fasa R, S dan T
33
Pengukuran arus listrik pada rangkaian bintang (Y) delta (∆), saat pertama kali dinyalakan sumber tegangan rangkaian terlebih dahulu terhung bintang (Y), setelah 15 detik rangkaian berpindah secara otomatis ke rangkaian delta (∆).
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Arus Fasa R,S, dan T Hubungan Y - ∆ Detik (S)
Jumlah Arus (A)
R S T
Y
1 1,84 1,83 1,84
5 1,82 1,83 1,82
10 1,83 1,84 1,83
∆
15 0,93 0,92 0,93
20 0,75 0,74 0,75
25 0,58 0,56 0,58
Tabel 4.3 menunjukkan hasil pengukuran arus tiap fasa R,S dan T dengan pengoprasian rangkaian bintang delta otomatis. Pada detik 1 hingga 10 rangkaian awalnya terhubung sambungan bintang (Y) dan hasil pengukurannya adalah, detik 1 pada fasa R sebesar 1,84 A, fasa S sebesar 1,83 A dan fasa T sebesar 1,84 A. Pada detik ke-5 rangkaian tetap berada pada sambungan bintang (Y) dan hasil pengukurannya pada fasa R arus yang di dapatkan ialah sebesar 1,82 A, fasa S sebesar 1,83 A dan fasa T sebesar 1,82 A. Ketika memasuki detik ke-10 rangkaian masih sama dengan detik sebelumnya yang rangkaiannya terhubung bintang (Y) dan hasil pengukuran yang di peroleh juga tidak jauh berbeda yakni fasa R sebesar 1,83 A, fasa S sebsar 1,84 A dan fasa T sebesar 1,83 A. setelah mendapatkan hasil pengukuran pada saat rangkaian terhubung bintang (Y) kemudian rangkaian berpindah secara otomatis ke rangkaian delta (∆). Ini bisa terjadi karena adanya komponen timer sehingga membuat rangkaian dapat berpindah secara otomatis
34
dengan mengatur waktu perpindahannya. Pada detik ke-15 rangkaian telah berpindah dari yang awalnya rangkaian bintang (Y) ke rangkaian delta (∆) dan hasil pengukurannya adalah fasa R sebesar 0.93 A, fasa S sebesar 0,92 A dan fasa T sebesar 0.93 A. hasil pengukuran detik ke-20 fasa R sebesar 0,75 A, fasa S sebesar 0,74 A dan fasa T sebesar 0,75 A. Saat rangkaian masih berjalan pada sambungan delta (∆) dan memasuki detik ke-25 arus kemudian menjadi turun kembali hasil pengukurannya pada fasa R sebesar 0,58 A, fasa S sebesar 0,56 A dan fasa T sebesar 0,58 A.
35 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Sistem starting bintang (Y) delta (∆) untuk motor induksi tiga fasa bertujuan untuk menurunkan arus starting motor listrik yang besar. Pada awal pengoprasian rangkain awalnya terhubung bintang (Y) dan setalah 10 detik rangkaian berpindah menjadi delta (∆) secara otomatis dengan menggunakan timer. Pada 10 detik awal pengoprasian jumlah arus yang di hasilkan pada masing-masing jalur yaitu R 1,83 A, S 1,84 A, dan T 1,83 A. Setelah 10 detik rangkain berpindah menjadi delta (∆) dan arus yang di hasilkan pada masing-masing jalur yaitu R 0,58 A, S 0,56 A, dan T 0,58 A. Saat motor terhubung delta (∆) maka arus starting yang di pakai lebih kecil di bandingkan dari arus start dengan hubung bintang (Y).
2. Kegunaan kerja alat ini dengan memakai system control semiotomatis, dengan menggunakan fungsi primer oleh kontaktor menjadi alat saklar magnetis yang memiliki prinsip kerja elektromagnetik. Kontaktor bekerja berdasarkan pembentukan elektromagnet yang menjalankan elektromekanis penghubung dari dua atau lebih titik penhubung (konektor) rangkaian sehingga menerima hasil keadaan kontak on atau kontak off.
B. Saran
1. Kegunaan dari alat semacam pengendali motor listrik 3 fasa harapannya bisa dikembangkan kembali dengan memakai perlatan system kendali yang lebih modern.
36
2. Membuat perbandingan arus starting pada rangkaian bintang segita dengan rangkaian yang lainnya.
37
DAFTAR PUSTAKA
1. Belajar Elektronika (2016, 11 Januari). Pengertian Motor Listrik 3 Fasa dan Prinsip Kerjanya.
2. APRIANI, YOSI. "ANALISA SISTEM PENGAMAN MOTOR LISTRIK DENGAN MENGGUNAKAN MAINE CONTROL CENTER (MCC) PT.
PERTA-SAMTAN GAS SUNGAI GERONG."
3. Pawawoi, Andi (2009). Analisis Kedip Tegangan (Voltage Sags) Akibat Pengasutan Motor Induksi Dengan Berbagai Metode Pengasutan Studi Kasus DI PT. Jurnal Teknika, Universitas Andalas, 1(32), 49.
4. Ali, Kasim (2013). Pengaruh harmonisa motor induksi rotor belitan slip recovery. Jurnal Teknik Elektro, 3(5), 263-271.
5. Badruzzaman, Y. (2015). Pengasutan Konvensional Motor Induksi Tiga Fasa Rotor Sangkar Tupai. JTET (Jurnal Teknik Elektro Terapan), 1(1).
6. Abidin, Z., Priangkoso, T., & Darmanto, D. (2013). Pengujian Performance Motor Listrik Ac 3 Fasa Dengan Daya 3 Hp Menggunakan Pembebanan Generator Listrik. Majalah Ilmiah MOMENTUM, 9(1).
7. Sembodo, B. P. S. P., & Rochman, S. R. (2012). Studi Perencanaan Proteksi Motor Listrik 3 Fasa. Wahana: Tridarma Perguruan Tinggi, 58(1), 42-55.
8. Jhonson Sibuan, Jumari, Aldi Simangunsong (10 januari 2021).
9. Daryanto.2016. Konsep Dasar Teknik Elektronika Kelistrikan.Bandung:
Alfabeta.
38
10. Arindya, Radita.2013.Penggunaan dan Pengaturan Motor Listrik. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
11. Siswoyo 2008, Teknik listrik industri untuk SMK jilid 2.
12. Taufiq Sabirin 2010, STAR DELTA.
13. Samrasyid 2020, Pengertian Thermal Overload Relay.
14. https://indonesian.alibaba.com/product-detail/Manhua-XB2-220VAC-Red- Push-Button-60683946240.html
15. https://www.tokopedia.com/listriknusantara/kontaktor-chint-nxc-09-4kw-3p- 220v-contactor-1no-1nc
16. https://www.tokopedia.com/sinarsuryaltc/pilot-lamp-lampu-indikator-panel- 22mm
17. https://shopee.co.id/Omron-Timer-H3CR-A8-220V-Timer-8-Kaki-220V- Include-Socket-i.10630793.1835069834
39
LAMPIRAN
Pembuatan Box Modul
Pemasangan Komponen Rangkaian
40
Hasil dari pemasangan komponen
41
Pemasangan kabel pada rangkaian
Pemasangan lampu indicator dan push button
42
Tampak dalam dan luar modul rangkaian
43
Motor 3 fasa yang digunakan untuk pengujian rangkaian modul
Proses pengetesan rangkaian