Lampiran
Transkip Wawancara
Narasumber : Monang Situmorang dan Annisyah Yasin Tanggal : 5 Juni 2020
Dikarenakan sedang terlaksananya PSBB guna untuk mengurangi penyebaran Covid- 19,wawancara dilakukan secara telephone.
T : Siapa nama Bapak dan Ibu. Dan usia umur saat ini berapa? Kalau saya boleh tau, sudah berapa lama usia pernikahan Bapak dan ibu hingga saat ini.
Kalau saya boleh tau, Bapak asli dari mana dan Ibu asli dari mana? Sudah berapa lama tinggal ditempat tinggal saat ini. Agama Bapak dan Ibu. Serta pekerjaan Bapak dan Ibu.
A : Usia 54Tahun usia pernikahan sudah masuk ke tahun 31, tinggal di Vila Gading Baru Bekasi Utara sejak tahun 1995 (25tahun), Agama Kristen Protestan. Asal dari Pasuruan Jawa Timur. Pekerjaan guru les private.
M : Usia 54Tahun usia pernikahan sudah masuk ke tahun 31, tinggal di Vila Gading Baru Bekasi Utara sejak tahun 1995 (25tahun), Agama Kristen Protestan. Asal Padang Bulan Medan Sumatera Utara. Pekerjaan karyawan swasta.
T : Bapak dan Ibu memiliki berapa anak? Siapa saja, Dan berapa saja usia anak bapak dan ibu.
A: Kami memiliki 3 anak. Yang pertama bernama Dea Situmorang lahir tahun 1991, yang kedua Deo Febrian Situmorang lahir tahun 1999, yang ketiga Dicky Chritian Situmorang lahir tahun 2001.
T : Apakah Bapak dan Ibu mengikuti perkembangan dan pertumbuhan anak dari kecil hingga remaja ataupun saat ini?
A : Iya kebetulan kami berdua menangani A sampai Z bahkan sampai sekarang ngajarin. Kami memang sangat punya interest di pendidikan anak- anak jadi langsung kami tangani langsung.
M : Bahkan kalau saya bilang dari TK bisa dibilang antar jemput sampai SMA kelas 1 masih antar jemput, SMA kelas 2 sudah mulai tarik ulur kasih kepercayaan, antar jemput itu memang kita lakukan itu sendiri ya sampai kenal semua orangtuanya. Kita perduli pendidikannya, ya karena kita sama- sama punya latar belakang pendidikan.
A : Ya pokoknya kami punya semboyan anak-anak itu adalah anugerah titipan jadi kami pertanggung jawabkan dengan baik. Jadi memang itulah kami tidak punya apa-apa jadi yang kami berikan ya pendidikan.
M : Boleh dibilang kita tekankan ke anak-anak yang istilahnya yang kekal itu pendidikannya itu warisan yang istilahnya yang kami bekalin, kalau harta kan bisa hilang seketika dicuri orang kita bilang seperti itu sama anak- anak, kalau kemampuan serta pendidikan bisa kemana-kemana.
T : Bagaimana cara Bapak dan Ibu dalam mendidik tingkah laku anak? Dan apakah ada cara khusus dalam mendidik anak dengan mengikuti budaya masing- masing (Bapak/Ibu)? Kalau ada, bisakah dijelaskan seperti apa?
A : Kami sebetulnya punya suami yang memiliki latar belakang yang berbeda itu ujung-ujungnya jadi bersyukur. Dulu tidak tahu bahwa rencana Tuhan itu indah. Kalau dulu latar belakang kami karena satu kuliah, satu jurusan di IPB Bogor jadi sudah kenal memang sejak kuliah, hanya dulu memang yang sangat bagaimanapun orang Jawa kan takut sama orang Batak. Terus orangtua itu sangat berat melepas anak gadisnya mendapatkan suami orang Batak. Itu selama kurang lebih 6Tahun. Pada akhirnya kami memberikan contoh ke orangtua bahwa kami fine baik-baik saja, kami juga senang, keluarga disana juga baik. Ibu Bapak saya yang awal mula berat jadi pada akhirnya Oke pilihan anak, pilihan sendiri dan Ibu Bapak sudah melihat bahwa kalian sudah bisa mengarungi rumah tangga ini dengan baik akhirnya Ibu Bapak memberikan lampu hijau bahwa itu adalah garisnya dari Tuhan.
Jadi ujungnya kami bersyukurnya begini di Jawa itu kami punya culture yang sangat menekankan pada kesopanan, kelemah lembutan jadi saya ajarkan ke anak-anak bahwa nomer satu dalam hidup adalah sopan santun dan ber etika, jadi anak-anak itu selalu saya tekankan ucapkan terima kasih
kepada orang, ucapkan salam. ucapkan permisi itu adalah tiga kata yang kami bangun pertama untuk anak-anak kami pada saat mereka masih kecil itu yang kami ajarkan menurut filosofi Jawa. Sementara dari suami saya bersyukur karena dia mengajarkan kekita itu apa adanya katakana A dengan A, katakan B dengan B. Jangan mulut apa, dalam hati apa. Jadi itu yang kami kolaborasi antara sopan santun, lemah lembut dibalut dengan keberanian dan ketegasan. Saya bersyukurnya disitu anak saya tiga-tiganya jadi punya jiwa pemberani jadi kalau Bapaknya menekankan kalau benar dan dijalan yang benar tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya dan Bapaknya kalau ke Medan berapa hari ya santai saja mereka sudah mandiri karena sudah dibekali dengan keberanian dan berkata dengan jujur apa adanya tidak belok-belok. Ibaratnya saya kan orang Jawa suka ga enak hati, segan mau ngomong padahal mah dalam hatinya aduh.. gimana tapi mulut harus manis kalau dari Bapak punya budaya yang kental ya tidak bisa dari hati dan mulut itu beda tidak bisa dan itu mungkin itu sudah dibangun dari kecil.
Bersyukurnya ya maksud Tuhan itu baik dari budaya itu betul-betul kita kolaborasikan dengan baik dan kita ambil yang baik-baiknya juga.
T : Apakah Bapak dan Ibu pernah memiliki konfilik dengan anak? Jika Iya, Penyebabnya biasanya karena apa bisa dijelaskan.
M : Ya mungkin pertama ya dulu kita punya anak yang pertama itu jaraknya agak jauh dengan yang kedua selisih 8Tahun ya itu karena dia sudah biasa sendiri. Ya perhatian kita jadi ke kedua anak. Dia sendiri merasa kaya ada kecemburuan kita membaca disorot matanya, tingkah lakunya ya memang konflik dia tidak nyaman seperti ada yang dibedakan atau yang selama ini perhatian kita perhatian diambil oleh adiknya, cemburu dan tidak senanglah ya kita kasih pengertian bahwa orangtua itu sama-sama saying bukan berarti ke kakak tidak sayang hanya ke adik. Tapi lama-lama mengerti.
A : Sampai saat ini tidak ada konflik yang mendalam. ya semoga selamanya seperti ini. Karena anak-anak sudah dibiasakan untuk dalam meja makan kita makan itu mengemukakan apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan, nah itu kami biasakan hal-hal rasakan ya diungkapkan ke orangtua karena kita akan bahwa dalam doa. Soalnya kita kan ada doa dalam keluarga. Misalkan, “Mah aku cari pekerjaan, atau hal lain” ya itu semua dikomunikasikan yang perlu dijalin antara orangtua dan anak.
M : Ya kita demokrasi lah minta pendapatnya, misal masuk sekolah, kuliah jurusan apa.
A : Ya itu karena dari kecil sudah terbiasa diantar jadi ketika dimobil sudah terlihat muka-mukanya apakah kecewa, senang.
M : Misalkan anak pertama sudah lulus dari IPB terus baru kerja sebentar langsung berhenti dan minta lanjut sekolah lagi S2 di UI ya kata saya boleh saja dan kebetulan kita ada rezeki, kalau kami masih bisa menopang dan mendukung ya kita dukung. Begitupun anak kedua juga sama dan termasuk yang anak ketiga.
T : Bagaimana Bapak dan Ibu dalam mengatasi konflik yang sedang terjadi?
A : Ya kami selalu bicarakan. Jadi apapun itu selalu kami minta anak-anak untuk terbuka dengan kami, dan kami sebagai orangtua ya menampungnya dan dibicarakan secara baik-baik perihal apapun itu.
T : Jika sedang ada konflik dengan anak, cara komunikasi seperti apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu?
M : Ya komunikasi biasa saja. Tidak perlu dengan nada tinggi, dibicarakan pelan saja pun anak-anak sudah mengerti.
T : Setiap budaya memiliki karakteristik masing-masing, budaya Batak lebih mengedepankan sikap lugas dan terus terang, sementara budaya Jawa lebih mengedepankan kesopanan dan tata krama. Dalam menangani konflik terhadap anak apakah Bapak dan Ibu akan menggunakan komunikasi sesuai karakteristik budaya masing-masing atau menggunakan salah satu budaya yang Bapak dan Ibu anut?
A : Ya tergantung anak-anak itu pada dasarnya kami hidup ditanah Jawa juga, selama ini kan anak-anak juga tercover jadi artinya begini ini kan umur-umur kata orang banyak yang membantah karena umurnya 20an – 29an. Hanya kami itu selalu menekankan bahwa orangtua itu tutwurihandayani jadi konflik tidak ada yang tidak terselesaikan, jadi kami patokannya satu bahwa konflik itu pasti punya jalan keluar, bagaimana jalan keluarnya itu kita harus diskusikan itu jadi kolaborasi secara orang Batak itu sopan santunnya itu lebih loh, tidak seperti yang dulu saya fikir karena saya Jawa aduh, orang Batak kayanya kurang sopan, kasar, koar- koar padahal kalau kita lihat dan diselami ya sekarang saya juga rasakan bahwa orang batak itu punya nilai-nilai yang seperti orang China jadi dia itu
budaya untuk menghormati yang lebih tua luar biasa, dan sangat luar biasa.
Orang Jawa pun juga seperti itu punya budaya untuk menghormati yang lebih tua, hanya karena orang Batak hormatnya itu lebih-lebih jadi saya melihatnya justru kalau dilihat hormat ke orangtua, justru anak-anak melihatnya ke orangtuanya yakan.. jadi kami berdua dulu sepakat waktu dulu Ibu Bapak kami masih lengkap kalau ada misalnya dari keluarga saya orangtuanya butuh pertolongan dan keluarga Bapak juga butuh ini kita tampung dua-duanya dan kita mesti ada skala prioritas 123 yang mana lebih menyangkut nyawa jadi kami berdua memang dari awal itu istilahnya itu bukan lagi dua jiwa jadi satu bahkan dompet kitapun itu satu dompet keluarga. Saya tidak segan-segan ya memang dompet saya ada untuk sim dan ktp, hanya namanya apa yang saya cari dan Bapak cari itu tidak disimpan masing-masing jadi kita punya dompet keluarga.
M : Tidak ada uang wedok dan uang lanang.
A : Itulah kami. Punya porsi masing-masing yang saya bawa ya cost saya untuk kebutuhan keperluan saya dan rumah dan itu sudah dibicarakan didepan ABCD nya itu apa. Itu sepakat dari awal pernikahan. Misalnya ada keluarga dari Jawa ada yang minta dibantu tlp saya tapi saya tidak langsung kasih jawaban itu oke saya terima saya bicarakan dengan suami. Nanti yang transfer kekeluarga saya itu bukan saya tapi Bapak. Demikian juga kalau terjadi dikeluarga di Medan oke diterima dibicarakan bersama istri kalau sepakat ya nanti Bapak yang transfer karena saya tidak ahli transfer dan saya juga tidak suka behubungan dengan bank, tapi yang setelah ditransfer ke Medan itu pasti terima kasihnya ke saya. Begitupun misalnya ada masalah sama anak-anak ya bagaimanapun itukan anak-anak kita, yang terjadi dengan anak itu masalah kita. Jadi walaupun orang Batak itu lugas, keras itu hanya kulitnya jadi memang kami bekalin anak-anak memang dalam hidup itu perlu tegas, perlu lugas, jujur dan dibungkus dengan etika yang jujur dan benar jadi sampai saat ini anak-anak terbiasa dengan lemah lembut pada akhirnya karena masalah itu baru ada dan langsung dibicarakan. Jadi tidak sempat berakumulasi.
M : Jadi kalau keseharian missal ke Jawa ya tetap beda panggilannya ya Mbah kalau ke orangtua saya Opung, anak-anak kita ajarin makanya mengerti.
A : Kalau Bapak lagi ke Jawa ya dipanggilnya “Mas” begitupun sebaliknya kalau saya ke Medan dipanggilnya “Nantulang”. Nah jadi itulah sebetulnya pernikahan kami dimaknai perbedaan itu ya kekayaan. Misalkan saya dari keluarga muslim semua keluarga saya muslim. Tidak ada keluarga yang
mengasingkan saya, kami semua kompak banget. Jadi malah Bapak dan Ibu saya pernah tinggal selama 6bulan bersama kami. Kenapa tidak ada konflik ya karena disini kami punya anjing itu tidak dipermasalahkan karena anjingpun punya tempatnya disitu. Ibu Bapak saya kan juga di dalam tempat sholat ada. Tidak menjadikan itu konflik. Apapun masalah, apapun konflik konflik jangan sampai muncul besar.
T : Bagaimana Bapak dan Ibu menyikapi anak yang tidak mau mengikuti adat istiadat dari salah satu budaya orang tuanya?
A : Dulu anak saya yang pertama memang tidak terlalu suka adat batak dulu waktu masih kecil belum mengerti ya dia melihat orang Batak kok repot kelihatan dari arisan banyak banget, seperti arisan satu marga, arisan orang-orang batak disini, arisan satu kakek ataupun satu nenek, bolak balik jadi si anak merasa capek setiap sabtu keluar kadang minggu habis pulang gereja keluar sementara karena masih kecil kan sekolah pasti ada PR, jadi dalam pikiran dia orang Batak itu repot. Tapi kesini sudah makin besar remaja dia sudah semakin tahu, adat budaya itu baik adanya. Ya kalau arisan berarti nyambung silahturahmi. Kami juga selalu usahakan setiap lebaran pulang ke Pasuruan Jawa Timur karena kan disana enak kalau lebaran suasananya enak. Nah kalau natal tahun baru kita pulangnya ke Medan karena disana meriah ya asik. Jadi belakangan anak-anak menghindari pesta-pesta pernikahan dari pagi sampai malam itu “capek Mamah… aku ga ikut” gitu misalkan. Nah belakangan malah mereka yang minta, “aku ikut dong seru…” sudah mulai mengerti karena musiknya bagus, tariannya bagus jadi mereka belajar dari situ. Kalau ada pernikahankan orang Batak kan rempong tapi dibalik itu ada tujuan.
Artinya adalah untuk melangsungkan pernikahan itu melibatkan keluarga.
Pernikahan yang sudah terjadi ya harus dijalanin dan dirawat karena sudah melibatkan banyak orang. Dari situlah kita belajar budaya mereka itu pasti ada baiknya. Malah anak-anak sekarang ada 2 minggu sebelum pernikahan itu di Batak itu ada adat Martupol itu seperti lamaran, pagi kumpul dulu makan ngobrol-ngobrol biasanya sejam sebelum ke gereja jadi biasanya gedunga itu dekat dengan gereja. Ini seperti lamaran tapi ada ibadahnya.
Disaksikan keluarga dan ibadah dipimpin langsung gereja oleh pendeta dan ibadah betul-betul artinya perjanjian pra nikah ini si A sudah terikat dengan si B dan 2 minggu lagi akan diberkati dan itu diumumkan keseluruh keluarga.
Nah hal-hal seperti itu anak-anak kami sudah mau ikut. Padahal kalau dulu mereka males banget, tapi kalau sekarang sudah mau ikut.
T : Apa bahasa yang digunakan saat beradu argumen dengan anak agar tidak terjadi kesalah pahaman?
A : Ya karena kebetulan kami di Bekasi jadi menggunakan bahasa Indonesia ya bahasa sehari-sehari. Kalau bahasa Jawa kadang-kadang diajarkan sedikit begitupun bahasa Batak diajarkan sedikit juga. Pakai bahasa nasional saja.
M : Kadang-kadang mereka ketemu teman orang Batak terus sesampainya dirumah si anak tanya, ini artinya apasih Pah. Ataupun temannya kasih tahu lagu Batak nah sampai dirumah dia coba stel lagunya dan tanya apasih pah artinya. Masih sekedar itu saja. Kalau sehari-hari pakai bahasa Indonesia saja tidak menggunakan bahasa daerah.
T : Apakah Bapak dan Ibu saling terbuka menerima perbedaan budaya untuk meminimalisir adanya konflik?
A : Iya itu tadi kalau lebaran pulang ke Jawa. Artinya kalau kita tidak menerima kan tidak mungkin jauh-jauh ke Jawa. jadi kami dari awal memang beda suku, beda budaya dan dulu berbeda keyakinan. Itu bukan hal yang mudah. Tapi karena kita niatnya baik jadi kita ambil jalan bagaimana kita bisa terus berlayar dan kita harus menerima.
Ibu saya itu ada loh rasa kangennya ke besan. Misal “ndok, Ibu iki wes kangen loh karo besanku” dan bisa loh untuk maksa kami antar ke Medan.
M : Ketemu rangkul-rangkulan padahal sudah nenek ini rangkulan, tuker- tukeran baju.
T : Apa alasan anda menikah dengan orang yang berbeda budaya?
M : Ya kalau kita dari awal sih tidak kebayang tidak ada fikiran mau menikah dengan orang Jawa atau orang Ambon, Manado ataupun Batak ya kalau saya sih memang tekad saya selesai kuliah dulu dan memang dari SMA saya tidak pacaran, kuliah saya mau pacaran setelah saya selesai menyusun skripsi itu tekad saya. Karenakan saya orang gak ada dari Medan dan lingkungan saya di Medan itu bisa dikatakan masih sangat jarang yang kuliah apalagi kalau orang melihat “ngapain sekolah tinggi-tinggi memang bisa dia sekolah biayanya bagaimana” jadi saya takut pacaran. Karena takut membawa kegagalan. Jadi selama kuliah ini yang sekarang istri ya satu
kuliah dan satu jurusan di IPB jurusan Teknologi Pangan, ketika ada satu moment mempertemukan nah itulah mungkin jalannya jodoh.
Nah dulu dari Medan tidak kebayang, memang sih ada cewe Solo mantap nih kalau dapat cewe Solo kalau dibawa ke Sumatera padahal saya tidak kebayang ini cewe Solo tuh gimana. Itu kata teman-teman dikampus pada bilang seperti itu dapat puteri Solo. Nah setelah ini ada moment jalannya itulah membuat kita dekat dan jodoh.
A : Ya memang tidak terfikir dulu dapat orang Batak. Tidak kepingin juga sama orang Batak, sangat menghindari.
M : Pengakuannya ini istri saya kalau lihat orang Batak itu sebel.
A : Mikir ini yang bernama Monang udah Batak, beda keyakinan, udah NO aja pokoknya tapi ya itulah ya kalau kita tidak kepingin kok malah yang diatas mempertemukan. Dan yang paling berat itu ya beda keyakinan, karena ibu saya itu di Bogor mengajar ngaji setiap hari disekeliling kos- kosan saya. jadi memang semua jangankan orangtua, saudara, teman-teman sayapun yang tahu mereka menghalangi. Awal-awal saya mikir tidak mungkinlah tapi pada akhirnya Tuhan mau ya akhirnya kita menikah dan memang awal-awal pernikahan 1tahun 2tahun itu agak kaget. Karena di Jawa kan ngomongnya pelan-pelan, biasa di Jawa bangun sebelum subuh tapi begitu kenal keluarganya Bapak bangun pagi malah disuruh tidur lagi, saya kaget bin ajaib. Lalu makan saya kan makan pakai 3 jari dari dulu, dikunyah 32kali terkenal saya dari kecil. Sementara dikeluarga ini kalau makan pakai 5jari. Saya biasa makan secukupnya dan dikeluarga Bapak sudah banyak tambah lagi. Itu saya shock. Apalagi kalau sudah manggil anaknya atau orang nadanya kencang dan saya kaget tapi ini awal-awalnya begitu.
Tidak semua orang Batak punya budaya minum,main kartu itu bikin saya kaget banget dan rokok. Kebetulan di Jawa kan juga rokok hal biasa tapi dikeluarga saya sendiri sama sekali tidak ada yang mengenal rokok. Nah ini yang menurut saya perlu dijembatanin gimana caranya supaya saya tidak terlalu stress, shock, makanya saya bilang sama suami “yang aku lihat bukan saudara-saudara Batak Papah pada umumnya” tapi “yang aku lihat pribadimu, apa yang aku lihat” karena permintaan saya seperti itu akhirnya Pak Monang ini tidak merokok, tidak main kartu dan tidak minum juga.
Nah kebiasan kami seperti itu kok dilalah berlaku di arisan jadi kalau kami datang mereka tahu.. Oh keluarga ini tidak minum, tidak merokok, dan tidak main kartu. Itu semua bisa dimulai. Sebetulnya kan saya pendatang,
jadi saya kalau ke orang Jawa saya tidak nyebur juga jadi orang Batak.
Tidak harus seperti itu, kita ya kita, kita ya pribadi kita, kita punya budaya yang bagus bisa ditularkan. Jadi saya disetiap kesempatan bergaul dengan orang Batak, bertemu dengan orang Batak saya tidak pernah melakukan 3hal itu dan mereka menghormati, jadi mereka tidak memaksa, tidak pandang sebelah mata juga, gak pernah ada selentingan omongan. Jadi kita itu memang harus jadi diri sendiri. Kalau kita hadir ya kita dihargai sebagai kita.
M : Ya memang sih pada umunya kalau Batak itu dari keluarga pengen punya mantu orang Batak juga biasanya. Pada umumnya dari Batak itu pengen memperistrikan Pariban, Pariban itu anaknya paman yang cewek.
Tapi kalau dikeluarga saya karena banyak merantaunya jadi saya dikasih kebebasan mau menikah dengan siapa.
A : Tapi memang ada upacaranya, ada permisinya ke tulang bahwa kita ngambil boru Jawa misalnya. Permisi dulu gitu.
T : Apa kesulitan yg anda hadapi dalam pernikahan beda budaya.
A dan M : ada pasti kalo bicara kesulitan.
A : Kalau dikeluarga inti tidak ada karenakan saya kenal Bapak dari kuliah, temenan dan saya tahu dia baik. Makanya sampai sekarang saya merasa ya sama kaya temen aja ya saya dekat dia saya senang. Saya semenjak menikah itu ya teman terindah itu ya suami saya kemanakemana harus sama dia kayanya enak aja gitu. Tapi kesulitannya itu dikeluarga besar kalau mislanya lagi ada kumpul-kumpul dan mereka pakai bahasa Batak ya otomatis kalau mereka ketawa saya tidak ketawa kecuali saya dijelaskan baru saya ikut ketawa ya itu paling kesulitannya.
M : Ya memang dari Medan itu mengerti bahasa Jawa hanya begitu ketemu keluarga besar gunakan bahasa Jawa halus saya tidak mengerti.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola pengasuhan anak? Dalam hal apa saja?
M : Kalau di Batak pola pengasuhan anak ada istilah bahasa Bataknya
“Anakidoharmoraundeau” maksudnya adalah anak itu harta kekayaan dikeluarga bagi saya sebagai orangtuanya.. jadi anak itu segalanya kalau di Batak. Hanya ketika anak itu misalnya sekolah, orangtua itu tidak sayang- sayang menjual rumah, menjual sawah untuk anaknya sekolah. Yang
terpenting sekolah. Ketika anak itu sekolah berhasil itu sudah merupakan kekayaan buat orangtuanya.
A : Pendidikan sangat utama. Keperluan serta kebutuhan untuk pendidikan anak pasti akan kami perjuangkan. Karena saya paling takut kalau anak sampai tidak sekolah, tidak kuliah dan tidak kerja. Apalagi saya dan Bapak tidak pernah dirumah karena harus bekerja pulang malam, anak kita tinggal dari pagi sampai malam. Kalau anak posisi dirumah saja tidak ada kegiatan lalu keluar rumah ketemu pergaulan yang salah tidak cukup mengeluarkan dana untuk mengembalikan seperti semula dan kita akan stress. Itu yang tidak ternilai. Puji Tuhan anak-anak bagus mendapatkan IPK. Itu sudah menyenangkan hati orangtua. Karena anak-anak bertanggungjawab dan kita kasih reward.
M : Ya kami harus sepakatkan dulu baru kita sampaikan ke anak, agar anak tidak bingung. Jadi ya satu suara.
T : Apakah ada perbedaan dalam cara berpikir anda dengan suami/istri? Dalam hal apa saja?
A : Iya itu pasti ada. Ya kalau saya maunya cepat, segala sesuatunya harus cepat. Jadi terplanning, jadi kalau saya melakukan untuk besok jadi malam itu sudah dipersiapkan semua. Sementara kalau Bapak maunya mendadak- mendadak. Hanya kita saling mengisi missal “Pih kalau mendadak itu banyak ketinggalannya” jadi kita biasa ceklist tuh apa yang dibawa keperluannya. Sampai perihal belanja pun juga seperti itu sama. Jadi akhirnya kita ambil yang bagusnya.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola komunikasi dalam keluarga? Apakah anda dalam berkomunikasi lebih terbuka, terus terang dan apa adanya?
A : Ya betul harus terbuka, terus terang dan apa adanya.. ya sepakat.
Sampai mantan pun kami tahu, ya di bicarakan. Semua harus dikomunikasikan. Agar tidak terjadi salah paham.
T : Apakah dalam mengungkapkan emosi/perasaan anda berbeda dengan pasangan anda ? Mis : ketika ada amarah apakah anda mengungkapkan secara langsung?
A : Kita sih jarang marah ya..
M : Awal sih ya istri saya kan Jawa tapi Jawanya juga hampir mirip ke Batak juga akhirnya. Karena dia mau terbuka juga, kalau tidak setuju ya katakana tidak setuju ya akhirnya kita jadi klopnya sama.
A : Ya Bapak ini orangnya introvert sedangkan saya extrovert jadi saya kalau tidak setuju ya tidak setuju. Hanya saya ke anak-anak itu kami berdua harus satu suara, kadang-kadang bukan berarti satu suara itu benar. Karena kita orangtua juga tidak selamanya benar. Tapi saya kalau misalnya Bapak salah didepan anak-anaknya saya tetap diam.. jadi itulahsuara Bapaknya jadi anak-anak tinggal mengevaluasi dan menanggapi pada akhirnya Papahnya minta maaf karena Papah salah. Begitupun sebaliknya anak-anak begitu, intinya saya apa yang selalu dikatakan Bapak saya benarkan satu suaranya itu. Nanti kalau dikamar baru dibicarakan harusnya seperti ini bukan seperti itu. Nah tapi ini rahasia kita berdua tidak boleh anak-anak tahu. Itu sebabnya kami satu suara saja. Kalau saya bicara ya Papahnya diam. Pokoknya kalau ada masalah harus dibicarakan jangan dipendam karena biar selesai saat itu juga.
M : Tidak perlu sungkan minta maaf kalau salah.mengakui kesalahan kita.
A : Makanya yang tadi saya bilang. Teman terbaik saya selama ini dihidup saya ya suami saya. sampai terkadang saya punya firasat yang kurang enakpun saya kasih tahu suami saya. Jangan sampai dipendam sendiri.
T : Apakah anda memiliki perbedan dalam gaya hidup dengan pasangan anda.
Dalam hal apa saja?
A : Mula-mula beda dimakanan kalau Jawa kan anyeb-anyeb kaya temped dan tahu sama rasa manis-manisan. Sedangkan kalau di Batak itu kan identik daging dan ikan. Kalau di Jawa itu makan untuk hidup ya jadi sekedar makan untuk hidup. Dan kalau di Batak itu makan nomer satu dalam arti bahwa dengan makan kita kuat (kuat untuk mencari ilmu, mencari rezeki dll). Ya saya tinggal kolaborasi saja, jadi ada baiknya dapat orang Jawa karena bisa prihatin pada saat kita kan tidak terus selalu diatas, pada saat dibawah nah prihatinnya orang Jawa itu ditularkan akhirnya Pak Monang bisa makan tempe, tahu. Ya ada baiknya memang seimbang saja kalau daging terus juga kurang bagus untuk kesehatan, nah kalau tempe terus juga kan lembek-lembek lemes gitu.
M : Jadi ya diseimbangkan saja.
T : Apakah sering muncul sikap stereotip (misalnya menganggap etnis pasangan anda ...)
A : Ya kalau bercanda ajasih. Saya sering stereotip karena pernah beberapa kali kejadian itu saya kecele. Jadi ditol KM 57 arah Cikampek ada tukang ban direst area berkulit hitam, jelek. Saya fikir orang Batak gaktahunya orang Solo. Akhirnya belajar dari situ tidak bisa menjudge pribadi. Sama dengan orang yang suaranya kencang. Nah kalau saya lihat orang Batak penilaiannya ke orang Jawa itu bagus semua. Ayu, kalem.
Bapak Monang, ke istri sih ya memang awal-awal general Oh Jawa.. kalau Jawa tidak bisa to the point. Kadang-kadang jadi bercandaan saja, misalkan
“dasar Jawa kalau mau nembak Dorrr….. lemot”. Yaa ada warna-warni karena adanya perbedaan budaya.
T : Apakah anda dan pasangan anda sering kali menganggap etnis masing – masing lebih baik ? Dalam hal apa ? apakah ini menjadi sumber konflik?
A : Ya pada mulanya memang benar kita itu orang Jawa itu lebih bagus. Ya karena saya melihat kebiasaan mereka yang setiap hari saya tidak pernah lihat kalau di Jawa sementara di Batak itu jadi hal yang umum. Pada akhirnya kesininya saya tidak ada lagi melihat ras apapun. Kuncinya ya kami mau belajar dan mau rendah hati yang baik kita serap yang jelek kita tinggalkan. Jadi kita belajar yang baik-baik saja, dan yang diwariskan keanak-anak yang baik-baik juga. Kesiapapun pada akhirnya keteman- teman tidak pernah lagi saya stereotip. Sekarang lepas pribadi yang penting baik. Kita bisa sosialisasi kemana-mana.
M : Ya memang agak lama juga ibu ini memahami orang Batak. Kalau Batak itu orang kita tidak kenal tapi satu marga itu saudara, Ibu bilang
“saudara apaan kenal juga nggak Cuma bau-baunya doang Situmorang” ya memang kita tidak kenal dia dari mana, siapa. Ya memang kalau diurut ya jadi saudara bahwa oh ini orangtuanya ini dari siapa, neneknya siapa.
Karena satu marga. Padahal kitanya sendiri tidak kenal, makanya istri tidak terima yak arena belum paham. Tapi sekarang sudah paham dan mengerti.
T : Dalam menyelesaikan konflik apakah anda menggunakan gaya komunikasi yang formal dan informal dalam menyelesaikan konflik.
A : Kalau kita itu pendekatannya kalau ada konflik itu pasti timbul tinggal sekarang skalanya. Skalanya itu kecil atau besar. Kitabiasanya dirumah ini
konflik itu harus dibicarakan tidak disimpan. Makanya kita harus secepat mungkin menyelesaikan konflik tersebut. Gaya komunikasi yang kami pakai ya style anak muda saja, yang enjoyed, easygoing. Kalau kita formal sekali tidak masuk ke anak-anak.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan penyebab konflik dan menguasai konflik.
A : Sebetulnya kalau kami berdua bukan menghindari konflik tapi kami berdua berusaha untuk tidak menimbulkan konflik. Biasanya konflik itu datang dari keluarga Bapak kebanyakan tapi tidak juga sama saja dari keluarga saya juga. Ya tidak ada mancing-mancing cari konflik. Semua ya terbuka.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan strategi konflik?
M : Ya kita sama-sama ya. Ada masukan dari ibu kita terima, kita buat cari jalan yang baik. Begitupun sebaliknya. Ya kita demokratis saja.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap terbuka?
M : Ya itu bersikap terbuka dikedepankan.
A : Terbuka dan ikhlas menerimanya. Jangan bersurut-surut jika sudah ada keputusan ya diterima. Harus ikhlas.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap empati?
A : Ya saya sangat menghormati Bapak.
M : Begitupun saya juga sama.
A : Saya merasa orang yang paling disayang, soalnya jadi seringkali saya merasa lelah, sakit. Badan ini kan kesana kesini kegiatan jadi sakit. Terus Bapak mengatakan suruh istirahat saja dan langsung suami saya mengambil bawang merah dan langsung diurut sampai nyaman sesuai dengan keluhan masuk angin misalkan. Nah itu yang dilakukan oleh Bapak saya merasa, saya orang yang paling disayang. Saya tidak segan-segan ngomong “Papah sayang Mamah?” jadi kalimat-kalimat kecil itulah saya merasa bersyukur pada Tuhan dipertemukan dengan orang yang sayang dengan saya, perhatian. Ya demikian juga ketika Bapak gak enak badan pun setiap hari saya urut. Karena kalau suami sehat kan saya juga senang.
M : Yaa saling memperhatikan.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap positif?
A dan M : Iya bersikap positif thinking.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap saling mendukung?
M : Karena yang kita mau kalau ada konflik itu tidak berlama-lama ya karena kita tidak nyaman. Kalau dari bangun tidur ada konflik itu udah ga enak. Ya gimana sih kalau makan bareng yang satu mukanya udah asem kan gaenak.
A : Tidak kita biasakan untuk berlarut-larut, kita selalu dukung dalam banyak hal positif. Jadi misalnya pada saat seperti ini Bapak tidak bisa bekerja kemana-kemana. Sementara saya masih bisa karena murid-murid saya pilih yang zona hijau masih saya layani datang kerumahnya. Saya merasakan setiap hari itu didampingi diantar, dan Bapak tidak segan menemani berjam-jam. Itu merupakan bagian dari mendukung. Terus saya juga tidak meremehkan Bapak tidak bisa kerja, ya dia dalam menunggu Bapak tetap melakukan pekerjaannya di dalam mobil bawa laptop mengerjakan pekerjaan di dalam mobil sembari menunggu saya. pokoknya kita saling mendukung satu sama lain.
Transkip Wawancara
Narasumber : Aris Budi Cahyono dan Lasmanurita Sijabat Tanggal : 5 Juni 2020
Dikarenakan sedang terlaksananya PSBB guna untuk mengurangi penyebaran Covid- 19, wawancara dilakukan secara telephone.
Wawancara Aris Budi Cahyono
T : Siapa nama Bapak dan Ibu. Dan usia umur saat ini berapa? Kalau saya boleh tau, sudah berapa lama usia pernikahan Bapak dan ibu hingga saat ini.
Kalau saya boleh tau, Bapak asli dari mana dan Ibu asli dari mana? Sudah berapa lama tinggal ditempat tinggal saat ini dan agama Bapak dan Ibu apa.
A : Nama saya, Aris Budi Cahyono usia 55tahun (Karyawan Swasta) Asli dari Kebumen Jawa Tengah. Agama Muslim.
Nama istri saya Lasmanurita Sijabat usia 56tahun (Ibu Rumahtangga) Asli dari Siantar Sumatera Utara. Agama Protestan.
Usia Pernikahan 26 tahun. Sudah tinggal diBekasi sejak tahun 1986. Agama saya Muslim, istri saya Protestan.
T : Bapak dan Ibu memiliki berapa anak? Siapa saja, Dan berapa saja usia anak bapak dan ibu.
A: Memiliki anak 1 usia 25tahun bernama Bella Pramesty Sinaga.
T : Apakah Bapak dan Ibu mengikuti perkembangan dan pertumbuhan anak dari kecil hingga remaja ataupun saat ini?
A : Saya ngikutin dari kecil. Saya kerjakan misalkan kerja siang, malam saya pegang anak (Bella) gentian gitu. Kalau saya kerja Mamahnya yang pegang Bella.
T : Bagaimana cara Bapak dan Ibu dalam mendidik tingkah laku anak? Dan apakah ada cara khusus dalam mendidik anak dengan mengikuti budaya masing- masing (Bapak/Ibu) ? Kalau ada, bisakah dijelaskan seperti apa?
A: Kalau saya bebas saja nggak tergantung gitu. Paling dari lingkungan kitaaja. Lingkungan rumah, dari teman-temannya, dari tetangga- tetangganya. Tidak ada cara khusus mendidik anak. Jadi ya berkembang dengan sendirinya saja ngikutin teman-temannya sekitar saja.
Kalau istri juga ya bebas saja. Yang terpentingkan kita mengawasi saja.
Kalau umpanya sudah besar gitu main terlalu malam yaa suruh pulang ya ada control aja.
T : Apakah Bapak dan Ibu pernah memiliki konfilik dengan anak? Jika Iya, Penyebabnya biasanya karena apa bisa dijelaskan.
A : Kalau saya sih tidak pernah ada konflik sama anak biasa saja. Paling kita saling pengertian saja. Kalau anak misalkan tidur bangun siang yah wajar lah kita sebagai orangtua ngomel semisal malas-malasan ya kita suruh.
T : Bagaimana Bapak dan Ibu dalam mengatasi konflik yang sedang terjadi?
A: mengikuti arus saja tidak ada cara khusus. Kalau khusus gitu malah repot kita. Missal kamu harus ini seperti ini nantinya malah susah, terkekang nanti anaknya.
T :.Jika sedang ada konflik dengan anak, cara komunikasi seperti apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu?
A : Biasanya sih Mamahnya kalau lagi ada kurang bagus hubungannya ya Mamahnya yang deketin. Dia (Bella) kan kalau lagi marah ya suka menyendiri dikamar, nanti Mamahnya yang ngedeketin suruh makan, ini itu gitu.
T : Setiap budaya memiliki karakteristik masing-masing, budaya Batak lebih mengedepankan sikap lugas dan terus terang, sementara budaya Jawa lebih mengedepankan kesopanan dan tata krama.
Dalam menangani konflik terhadap anak apakah Bapak dan Ibu akan menggunakan komunikasi sesuai karakteristik budaya masing-masing atau menggunakan salah satu budaya yang Bapak dan Ibu anut?
A: Ya saya sih namanya anak perempuan kan dekatnya sama Mamahnya, jadi Mamahnya yang ngurusin semuanya. Kalau ada konflik ya Mamahnya yang ngurusin ya ngedektin gitu. Tapi tetap saja sebagai orangtua selalu mengalah gimana caranya biar ngikutin dia.
T : Bagaimana Bapak dan Ibu menyikapi anak yang tidak mau mengikuti adat istiadat dari salah satu budaya orang tuanya?
A : Saya rasa sejalan saja anak saya tidak pernah neko-neko gitu. Apa adanya orangtua ya diikutin saja. Kita tidak pernah mengedepankan adat.
Ngikutin yang sekarang saja apa yang kita jalanin ya jalanin gitu saja.
Umpamanya adat Sumatera kan paling arisan-arisan gitu, kumpulan. Ya kita ikutin saja.
T : Apa bahasa yang digunakan saat beradu argumen dengan anak agar tidak terjadi kesalah pahaman?
A : Ya bahasa Nasional saja. Tidak gunakan bahasa budaya. Karena saya juga dengan bahasa Batak tidak mengerti jadi ya bahasa Nasional.
T : Apakah Bapak dan Ibu saling terbuka menerima perbedaan budaya untuk meminimalisir adanya konflik?
A : Saya tidak pernah mempermasalahkan budaya, ya kita saling pengertian saja. Kalau Mamahnya mau seperti ini itu ya kita ikutin saja.
T : Apa alasan anda menikah dengan orang yang berbeda budaya ?
A : Ya mungkin karena adanya kecocokan . Kita saling cocok, tidak mengharapkan apa –apa gitu nggak. Memang kita cocok saja.
T : Apa kesulitan yg anda hadapi dalam pernikahan beda budaya
A : Tidak ada kesulitan. Saya tidak pernah merasa ada kesulitan, yang terpenting kita saling pengertian saja. Namanya keluarga ya saling mengerti, saling mengisi kekurangan sama-sama gitu. Jadi kita nggak susah gitu, kalau ada kekurangan ya harus ngisi. Namaya keluarga kan memang harus seperti itu.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola pengasuhan anak ? Dalam hal apa saja ? A : Tidak ada. Ya kita ngikutin saja, namanya anak kaya misalkan carin sekolah ya dia sendiri. Kuliah juga cari sendiri, tidak pernah ditunjuk harus disana disini ya jalan sendiri. Karena dia udah tau sendiri mau kemana. Cari kuliah sendiri, cari kos sendiri. Ya kita tinggal mendukung dia saja.
T : Apakah ada perbedaan dalam cara berpikir anda dengan suami/istri ? Dalam hal apa saja?
A : Kalau perbedaan dalam cara berfikir saya rasa tidak ada. Kita kan keluarga ya sejalan saja namanya udah keluargakan ya satu hati, satu jalan kedepannya bagaimana ya kita harus diskusikan mau ngapain-ngapain kan kita diskusi makanya kan kita sejalan.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola komunikasi dalam keluarga? Apakah anda dalam berkomunikasi lebih terbuka, terus terang dan apa adanya ?
A : Kalau istri saya sih apa adanya, terus terang saja tidak ada yang tersimpan. Apadanya gitu. Kalau Mamahnya ya apa adanya ya diomongin, diungkapin kalau dia. Karena dia tidak bisa menyimpan sesuatu kalau ada apa-apa ya diomongin tidak bisa disimpan-simpan.
Kalau saya pribadi sih lebih memilih diam, tidak pernah ngelawan- ngelawan. Lebih banyak diam saya.
T : Apakah dalam mengungkapkan emosi/perasaan anda berbeda dengan pasangan anda ? Mis : ketika ada amarah apakah anda mengungkapkan secara langsung ?
A : Kalau istri saya ngomong langsung apa adanya gitu, tidak ada yang ditutup-tutupin kalau umpanya udah mulai naik ya kita harus diam.
Misalnya ada marah ya kita lebih baik diam.
T : Apakah anda memiliki perbedan dalam gaya hidup dengan pasangan anda.
Dalam hal apa saja?
A : Gaya hidup ya mengikuti keadaan, istri saya juga sama mengikuti keadaan. Kalau keadaan kita lagi kurang bagus ya apadanya, kalau lagi bagus ya ngikutin juga. Umpanya kaya pengeluaran ya ngikutin. Kalau ada kekurangan ya kita tidak pernah mau ada pinjam-pinjam, ya apa adanya yang kita pegang.
T : Apakah sering muncul sikap stereotip (misalnya menganggap etnis pasangan anda ...)
A : Ya memang kalau orang Sumatera kan sikapnya keras. Ya kita nyikapinnya harus lebih dingin lagi. Kalau kita sama-sama keras ya jadinya bentrok. Kalau dia lagi keras ya sikapinnya dingin gitu aja.
T : Apakah anda dan pasangan anda sering kali menganggap etnis masing – masing lebih baik ? Dalam hal apa ? apakah ini menjadi sumber konflik ?
A : Ya kita saling menghargai namanya adat berbeda. Istripun menghargai adat saya juga. Saling menghargai saja. Tidak pernah menjadi sumber konflik atau dipermasalahkan. Kalaupun hubungan lagi kurang bagus juga tidak pernah dipermasalahkan dari dulu. Ya salah satu harus mengalah.
T : Dalam menyelesaikan konflik apakah anda menggunakan gaya komunikasi yang formal dan informal dalam menyelesaikan konflik.
A : Bahasa Nasional saja ya Normal saja sih.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan penyebab konflik dan menguasai konflik.
A : Kalau saya kan sifatnya mengalah. Kalau istrikan ketauan orang Sumatera kan keras, ya mengalah saja gitu.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan strategi konflik ?
T : Yang paling dominan ya istri. Saya ya ngikutin saja. Apa maunya dia ya kita ikutin saja. Tapi kalau kurang bener ya saya protes, tapi kalau kira-kira benar ya saya oke saja.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap terbuka
?
A : Ya terbuka saja, kan masalahnya cepat kelar. Tapi kalau saya sih tidak pernah terlalu keras konflik-konflik apa gitu ya biasa-biasa saja kalau saya.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap empati
?
A : Kalau saya kan sifatnya ngikutin saja, saya kan orangnya pendiam jadi malas rebut jadi ya ngikutin apa adanya saja kemauan dia. Yang pentingkan tidak melebihi batas gitu aja.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap positif ? A : Ya iya kita positif aja. Ya istri biasa saja. Gak pernah diributin. Namanya kan kita berkeluarga ya males ribut.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap saling mendukung ?
A : Ya kalau memang positif ya kita dukung. Tapi kalau kira-kira negative ya kita bilangin gitu. Tapi saling mendukung. Lagi juga kalau ada maalah terkadang saya keluar dulu sebentar, dan istri saya pun sebenarnya kalau lagi marah ya paling saat itu saja terus sudah baik dengan sendirinya. Ya 5menit 10menit diem baikan lagi.
Tidak pernah ada rasa dendam, rasa kesal itu tidak ada. Jadi tidak perlu dimasukin kehati, yang penting kesel dikeluarin ya yasudah.
Wawancara Lasmanurita Sijabat
T : Siapa nama Ibu? Dan usia umur saat ini berapa?
R : Lasmanurita Sijabat usia 56 tahun
T : Kalau saya boleh tau, sudah berapa lama usia pernikahan Bapak dan ibu hingga saat ini?
R : 26 tahun.
T : Kalau saya boleh tau, Bapak dan Ibu asli dari mana?
R : Saya dari Batak Medan Siantar, Bapak dari Jawa, Agama Bapak Muslim dan Ibu Kristen Protestan dan sudah lama cukup lama tinggal disini.
T : Bapak dan Ibu memiliki berapa anak? Siapa saja, Dan berapa saja usia anak bapak dan ibu.
R : Ada 1 anak perempuan umur 25 tahun namanya Bella
T : Apakah Bapak dan Ibu mengikuti perkembangan dan pertumbuhan anak dari kecil hingga remaja ataupun saat ini?
R : Iya ngikutin, karena memang saya yang ngasuh, tinggal sama ortu juga sama saya, dipantau terus
T : Bagaimana cara Bapak dan Ibu dalam mendidik tingkah laku anak? Dan apakah ada cara khusus dalam mendidik anak dengan mengikuti budaya masing- masing (Bapak/Ibu) ? Kalau ada, bisakah dijelaskan seperti apa?
R: Sama seperti pada umumnya, tapi sedari kecil saya tidak biarkan terlalu bebas, dan kalau apa yang dimimta masih saya turutin selama masih wajar, hal itu agar kelak nanti dewasa tidak menjadi seseorang yang manja.
T : Apakah Bapak dan Ibu pernah memiliki konfilik dengan anak? Jika Iya, Penyebabnya biasanya karena apa bisa dijelaskan.
R : Iya pernah, contohnya dalam pergaulannya saya sangat menjaga pergaulannya, tidak saya bolehkan keluar malam malam, dilingkungaannya saya juga memperhatikan. dibanding bapaknya saya lebih memperhatikan perkembangannya.
T : Bagaimana Bapak dan Ibu dalam mengatasi konflik yang sedang terjadi?
R : Saya langsung ajak komunikasi, contohnya seperti saya tidak suka kalau pulang malam akan saya kasih tahu untuk tidak pulang malam dan pergaulannya dijaga. kalau ada teman dekat cowok lebih baik dibawa kerumah agar keluarga kenal juga. saya tipe orang yang langsung nanya ke anaknya kalau ada konflik. cara komunikasi yang saya lakukan yaitu menasehati anaknya seperti kalau dia (anaknya) pulang malam akan saya kasih tau secara langsung.
T : Jika sedang ada konflik dengan anak, cara komunikasi seperti apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu?
R : Saya tipe orang yang tegas, seperti “dek jangan keluar malam-malam ya”, seperti keluar main malam-malam dengan temannya, saya membatasi dia keluar untuk main misal jam 9 atau 10 malam sudah harus pulang dulu waktu masih smp sma. kalau melanggar saya pasti akan marah karena saya lebih tegas dari bapaknya, karena bapaknya lebih cenderung lebih cuek tidak seperti saya yang lebih tegas. untuk itu menurut saya walaupun saya orang batak dan bapaknya orang jawa memang memiliki sifat seperti itu, kalau jawa tuh lebih cenderung pendiem dan sopan, kalau batak lebih lugas tegas dan apa adanya dibicarakan, kalau salah ya harus ditegur. kalau dalam menasehati anak lebih cenderung sifat saya sebagai budaya batak yang dominan karena saya lebih tegas tetapi masih menggunakan bahasa indonesia karena besar dibekasi anak saya, untuk bahasa dia hanya ngerti bahasa Indonesia. saya juga menggunakan bahasa Indonesia tetapi dengan sifat yang lebih tegas seperti itu
T : Setiap budaya memiliki karakteristik masing-masing, budaya Batak lebih mengedepankan sikap lugas dan terus terang, sementara budaya Jawa lebih mengedepankan kesopanan dan tata krama. Dalam menangani konflik terhadap anak apakah Bapak dan Ibu akan menggunakan komunikasi sesuai karakteristik budaya masing-masing atau menggunakan salah satu budaya yang Bapak dan Ibu anut?
Bagaimana Bapak dan Ibu menyikapi anak yang tidak mau mengikuti adat istiadat dari salah satu budaya orang tuanya?
R : Anak saya lebih cenderung kebatak, jadi secara pengenalan budaya batak anak saya lebih cenderung ke batak karena saya suka ajak dia ke medan jadi lebih mengerti adat batak daripada adat jawa dan saudara - saudara dari saya kebanyakan disini juga, mungkin bergaulnya lebih banyak dengan orang batak dikeluarga jadi lebih mengenal batak, sedangkan saudara - saudara dari bapaknya lebih banyak di jawa tidak seperti saya yang saudara-saudaranya banyak di jakarta
T : Apa bahasa yang digunakan saat beradu argumen dengan anak agar tidak terjadi kesalah pahaman?
R : Bahasa Indonesia karena dia lahir disini bukan lahir di medan atau di jawa.
T : Apakah Bapak dan Ibu saling terbuka menerima perbedaan budaya untuk meminimalisir adanya konflik?
R : Iya kalau itu pasti, namanya budaya berbeda kita juga harus saling menghargai, seperti kalau ada acara adat batak, seperti pernikahan, bapaknya ikut datang dan mengikuti adat istiadat seperti contoh bapaknya datang dengan menggunakan kebaya, kalau adat Batak menggunakan rukat jadi mengikuti alur adat masing masing. Saling terbuka dan menerima perbedaan budaya.
T : Apa alasan anda menikah dengan orang yang berbeda budaya ?
R : Sebenernya karena jodoh memang sudah diatur, tetapi alasan lain yang saya kagumi dengan orang jawa yaitu cenderung lebih sabar, tidak seperti saya yang lebih keras, kalau budaya batak dengam batak sama sama keras maka dari itu saya pertimbangkan untuk menikah dengan orang jawa untuk membangun rumah tangga.
T : Apa kesulitan yg anda hadapi dalam pernikahan beda budaya?
R : Kesulitanya yaitu pertama contoh simplenya yaitu seperti arisan di Adat batak cenderung ada acara khususnya tidak seperti adat Jawa. di adat Batak ada seperti pemotongan babi sedangkan di Jawa tidak mungkin ada yang seperti itu. Di Jawa itu kan seperti contohnya pernikahan tidak akan menggunakan kepala babi sebagai adat. maka dari itu kita saling belajar dan
memberikan informasi satu sama lain agar tidak kaget menerima atau melihat budaya adat yang baru. Kesulitan yang muncul tidak terlalu signifikan.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola pengasuhan anak ? Dalam hal apa saja ? R : Bapaknya lebih memanjakan anaknya, tidak seperti saya. bapaknya lebih cuek tetapi kalau anak minta sesuatu pasti akan dikasih, kalau sama saya akan jadi lebih susah apabila ada permintaan dari anak karena melihat dari umur si anak juga.
T : Apakah ada perbedaan dalam cara berpikir anda dengan suami/istri ? Dalam hal apa saja?
R : Yang saya alami cara berpikir adat batak kalau tidak suka ya bilang, kalau jawa cara berpikirnya lebih memendam lebih takut untuk terbuka jadi untuk cara berpikir dalam hal seperti itu. kalau sudah marah saya langsung di omongi, kalau adat jawa lebih banyak diam dan tidak bertindak jarang mengungkapkan perasaan.
T : Apakah ada perbedaan dalam pola komunikasi dalam keluarga? Apakah anda dalam berkomunikasi lebih terbuka, terus terang dan apa adanya ?
R : Ya kalau komunikasi seperti yang saya bilang tadi kalau ada masalah saya pasti akan langsung bilang di saat itu juga, jadi keesokan harinya tidak perlu dibahas lagi karena sudah selesai.
T : Apakah dalam mengungkapkan emosi/perasaan anda berbeda dengan pasangan anda ? Mis : ketika and amarah apakah anda mengungkapkan secara langsung ?
R: Ya berbedaya saya tipe org yang ngomong lgsung kalau tidak suka dari perbuatan atau kelakuan dari suami atau anak supaya bisa cepet beres dan tidak seperti itu lagi
T : Apakah anda memiliki perbedan dalam gaya hidup dengan pasangan anda.
Dalam hal apa saja?
R : Mungkin karena saya batak dan suami saya jawa dalam hal pembelian barang, kalau adat batak banyak cenderung banyak pesta dan banyak belanja, kalau jawa adat Jawa tidak sebanyak adat Batak seperti arisan pernikahan. Intinya dari sisi belanja. kalau bapak - bapak jawa itu tidak
terlalu memikirkan trend atau gaya busana, berbeda dengan perempuan ingin terlihat lebih cantik, jadi kalau ada acara tidak malu-maluin.
T : Apakah sering muncul sikap stereotip (misalnya menganggap etnis pasangan anda ...)
R : Engga ada dalam hubugan rumah tangga. Menghargai dan saling menghormati dan terbuka satu sama lain.
T : Apakah anda dan pasangan anda sering kali menganggap etnis masing – masing lebih baik ? Dalam hal apa ? apakah ini menjadi sumber konflik ?
R: Engga sih, kalau itu karena kita juga sudah besar disini (Jakarta Bekasi) jadi untuk itu tidak pernah dipermasalahkan di rumah tangga kami untuk masalah etnis.
T : Dalam menyelesaikan konflik apakah anda menggunakan gaya komunikasi yang formal dan informal dalam menyelesaikan konflik.
R : Kalau menyelesaikan konflik tidak perlu formal, kalau bicara dengan anak ya ngomong biasa aja, karena takut anak jadi gimana gitu. kalau formal nanti penyampainnya jadi ngga real tidak sedekat itu sama anak.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan penyebab konflik dan menguasai konflik.
R : Lebih cenderung Batak, karena tahu sendiri batak itu lebih tegas lebih keras, lebih ingin menang, kalau jawa lebih kalem lebih mengikuti. Dalam hubungan menurut saya memang lebih dominan adat Batak.
T : Siapa yang paling dominan dalam menentukan strategi konflik ?
R : Adat Batak saya sendiri yang saya alami karena suami saya Jawa itu lebih mengikuti, kalau opini saya dianggap benar makan akan di ikuti.
kadang kalau ngga cocok saya masih bikin argumen sedangkan saya pemikirannya panjang, seperti itu sih kalau batak.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap terbuka
?
R : Ya itu pasti, kami walaupun beda dalam adat dia Jawa saya Batak kita pasti akan selalu terbuka dalam masalah apapun itu, saya kalau ada masalah pasti terbuka.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap empati
?
R : Ya itu pasti karena namanya itu dia pasti mengeluarkan argumen kita saling menghargai dan menghormati untuk menghindari konflik, tertapi tidak terlalu jadul seperti dauhulu karena sudah terbawa lingkungan jadi lebih terbuka.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap positif ? R : Ya misalkan kalau negatif nanti bisa timbul masalah yang lain, kalau ada masalah langsung dibicarakan dan harus selesai hari ini supaya besok dianggap sudah selesai dan bisa dilupakan saja.
T : Apakah dalam penyelesaian konflik anda dan pasangan anda bersikap saling mendukung ?
R : Iya, jadi kan mendukung kalau ada konflik sama sama punya argumen kita omongin bareng bareng dan terbuka apa yang di inginkan satu sama lain. intinya kita harus saling mendukung untuk mendukung konflik-konflik berikutnya.
Curriculum Vitae (CV)
FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI / TUGAS AKHIR
Semester : 14
Nama Mahasiswa : Tiwi Astrida Stefani
NIM : 13140110043
Nama Dosen Pembimbing : Dr. Bertha Sri Eko Murtiningsih M, M.Si Tanggal
Konsultasi
Agenda/Pokok
Bahasan Saran Perbaikan Paraf Dosen
Pembimbing 15/03/2020 - Ganti tema - Buat Tema baru dengan judul
baru - Buat BAB I
16/03/2020 - BAB I - Perbaiki BAB I sudah diberi catatan
- Lanjutkan BAB II dan BAB III
15/04/2020 - BAB II dan III - Perbaiki BAB II dan BAB III sudah diberi catatan
27/05/2020 - BAB II dan III - Sudah diberi catatan
- Tolong perhatikan penulisan - Buat pertanyaan penelitian 04/06/20 - BAB II dan III
- Pertanyaan wawancara
- Pertanyaan sudah diberi catatan
- Langsung wawancara - Buat BAB IV
11/06/2020 - BAB IV - Sudah diberi catatan - Perbaiki, pahami teori dan
tujuan penelitian.
- Perbaiki typo, perhatikan penggunaan huruf besar dan kecil.
Catatan: Form ini wajib dibawa pada saat konsultasi & dilampirkan di dalam skripsi/TA Tangerang, 15 Juni 2020
Dr. Bertha Sri Eko Murtiningsih M, M.Si Dosen Pembimbing
FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI / TUGAS AKHIR
Semester : 14
Nama Mahasiswa : Tiwi Astrida Stefani
NIM : 13140110043
Nama Dosen Pembimbing : Dr. Bertha Sri Eko Murtiningsih M, M.Si Tanggal
Konsultasi Agenda/Pokok Bahasan Saran Perbaikan Paraf Dosen Pembimbing
13/06/2020 - BAB IV - Revisi sudah diberi
catatan
15/06/2020 - - Pengecekan keseluruhan bab I - V
- Perbaikan abstrak - Perbaikan Bab IV - Perbaikan Bab V
Catatan: Form ini wajib dibawa pada saat konsultasi & dilampirkan di dalam skripsi/TA Tangerang, 15 Juni 2020
Dr. Bertha Sri Eko Murtiningsih M, M.Si Dosen Pembimbing