BAB II
AL-QURAN RASM UTSMANI
A. Sejarah Al-Quran Rasm Utsmani
Al-Quran berasaal dari kata Qara’a-Yaqra’u-Qur’anan. Qara’a yang berarti mengumpulkan dan menghimpun, Sedangkan Qur’anah yang berarti qira’atahu artinya bacaan atau cara membaca.
Al- Qur’an dikhususkan. Al-Qur’an adalah pengkhususan nama bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga nama itu menjadi khas kitab tersendiri, sebagai kitab yang mencakup inti dari kitab-kitab sebelumnya dan sebagai kitab penjelas.1.
Mushaf al-Quran al-Karim yang digunakan saat ini adalah mengikuti kaedah peulisan yang diterapkan oleh Khalifah Utsman bin Affan r.a. sehingga kaedah penulisan ayat-ayat al-Qurannya dikenal dengan Rasm Utsmani yang memang diarahkan oleh beliau akibat berlakunya perselisihan bacaan dikalangan umat Islam.
Pada masa nabi, para sahabat menulis Al-Quran pada tulang, pelepah kurma dan pada batu-batu. Hal tersebut dilakukan karena belum adanya kertas pada masa itu. Sehingga belum bisa dibukukan menjadi satu kesatuan mushaf, karena kondisinya masih berceceran dimana-mana. Kemudian kebanyakan dari masyarakat pada masa nabi adalah ummy (tidak bisa membaca dan menulis) yang menjadi penyebab mereka mengandalkan hapalan, faktor lainnya karena penghargaan nabi dan para sahabat kepada mereka yang mempunyai hapalan banyak. Terkait penulisan, nabi selalu menyuruh para sahabat untuk menulis Al-Quran ketika Al-Quran diturunkan, dan kurang lebih 40 orang yang terlibat dalam penulisan wahyu tersebut, agar sahabat fokus terhadap penulisan Al-Quran, nabi melarang sahabat untuk tidak menulis selain
1 Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran. Terj. Mudzakir AS, (Bogor: Pustaka Lintera Antar Nusa,2011), hlm. 17
yang diperintahkan. Hal tersebut bertujuan agar tidak tercampur dengan hadis-hadis beliau2.
Setelah Rasulullah wafat, kemudian kepemimpinan diambil alih oleh sahabat Abu Bakar (632-634 M)3 yang pada saat itu terjadi perang Yamamah (tahun 12 H)4 dengan Musailimah al-Kadzazab yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Pada perang tersebut banyak para sahabat yang gugur syahid, dalam satu riwayat mencapai 70 orang, riwayat lain 500 orang, kemudian menurut Muhammad Makky Nasr 1.200 orang 700 di antaranya penghafal Al-Quran. Kemudian hal tersebut menjadi ketakutan tersendiri bagi umat Islam, karena dengan gugurnya para penghafal Al- Quran berarti hilang pula al-Qur’an5.
Melihat banyak para penghafal yang gugur, timbulah pemikiran Umar bin Khattab untuk mengusulkan kepada Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Quran. Abu Bakar menyetujui usulan Umar bin Khattab yang kemudian ia menyuruh Zaid bin Tsabit untuk memeriksa, mencari suhuf-suhuf Al-Quran (lembaran-lembaran Al- Quran) dan mendatangi orang-orang yang menghafalkannya. Maka dengan adanya pengumpulan Al-Quran dari para penghafal inilah usaha pengumpulan pertama Al- Quran. Setelah semuanya terkumpul, suhuf-suhuf tersebut dipegang oleh Umar. Pada saat itu Umar bin Khatab (581-644 M ) menjadi seorang Khalifah menggantikan Abu Bakar.
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ( 644-655 M), mulailah gerakan penyalinan suhuf-suhuf6 menjadi mushaf. Ada beberapa riwayat yang melatar belakangi Khalifah Usman bin Affan untuk kedua kalinya Al-Quran ditulis.
2 Mazmur Sya’roni, Pedoman Umum Penulisan & Pentashihan Mushaf Al-Quran dengan Rasm Utsmani, (Jakarta : Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama Departemen Agama, 1999), hlm. 3
3 Zaenal Arifin, Mengenal Rasm Utsmani, Jurnal Suhuf , Vol. 5, No. 1, (Jakarta : Lajnah Pentahsihan Mushaf al-Qur’an, 2012), hlm. 5
4 Perang Yamamah merupakan perag kemurtadan pada masa Abu Bar As-Shidiq yang berllangsung pada tahun 12 H.
5 Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Quran & Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), hlm 71
6 Tulisan-tulisan Al-Quran yang masih pada lembaran-lembaran belum dibukukan.
Pertama, menurut riwayat al- Bukhari dan Anas bin Malik adalah perbedaan cara membaca Al-Quran di antara prajurit Islam yang sedang berperang di kawasan Armenia dan Azerbaijan (Uni Soviet). Prajurit dari Irak membaca Al-Quran mereka dari sahabat yang ada di Irak, prajurit Syiria membaca Al-Quran dari sahabat yang ada di Syiria. Perbedaan itu memang ada karena nabi mengajarkannya sesuai dengan dialek mereka dengan tujuan memudahkan mereka untuk membaca Al-Quran.
Namun pada generasi Tabii’in hal tersebut menjadi pemicu pertikaian, sehingga di antara mereka selalu mengklaim bahwa bacaanyalah yang benar7. Kemudian Usman meminta Al-Quran yang dipegag oleh istri Rasulullah Sayyidah Hafsah binti Umar,8. Kedua, menurut riwayat ‘Imarah bin Gaziyah, dalam Fathul Bari Syarh al- Bukhari , karya Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa sebab Usman bin Affan melakukan penyalinan Al-Quran kedua berawal pada saat Huzaifah pulang dari perang yang tidak langsung pulang kerumah melainkan menumui Usman bin Affan, kemudian berkata ‘’Wahai Amirul Mukminin, aku meihat banyak orang saling menyalahkan satu sama lain ketika aku mengikuti perang pembebasan Armenia. Aku melihat penduduk Syam membaca qiraah Ubay bin Ka’ab. Abdullah bin Mas’ud kemudian datang dan membaca yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam, dan di antara mereka kemudian mengkafirkan yang lain9.
Ketiga, menurut Ibnu Jarir riwayat dari Abu Qalabah. Pada saat itu terdapat beberapa guru (mu’allim) yang mengajarkan qiraah kepada anak-anak dengan berbeda-beda, sehingga membuat mereka berselisih. Kemudian hal tersebut terdengar oleh Usman, dan berkata ‘’Di sisiku kalian berselisih dalam hal membaca Al-Quran, bagaimana dengan orang yang jauh dariku? bersatulah wahai pengikut Muhammad, buatkanlah Al-Quran yang menjadi Imam pemersatu bagi banyak manusia10.
7 Mazmur Sya’roni, Op.Cit, Hlm. 5
8 Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.Cit. hlm 74
9 Zaenal Arifin, Mengenal Rasm Utsmani, Jurnal Suhuf , Vol. 5, No. 1, (Jakarta : Lajnah Pentahsihan Mushaf al-Qur’an, 2012), hlm 7
10 Ibid.
Keempat, pada riwayat Ibnul Asir, dikatakan pada saat Huzaifah bin Al- Yamani menuju Azerbaijan dengan Sa’ad bin al-‘As, sementara Sa’ad tinggal di Azerbaijan sampai Huzaifah kembali pada perjalananya. Kemudian keduanya kembali ke Madinah, di tengah perjalanan Huzaifah berkata kepada Sa’ad bin al-‘As mengenai perselisihan dalam membaca al-Qur’an yang terjadi pada umat Islam.
Ketika di Kuffah, Huzaifah mengutarakan kekhawatirannya terhadap adanya perselisihan bacaan di antara umat Islam, yang kemudian pendapat itu diterima oleh para sahabat dan tabi’in, namun sahabat Ibnu Mas’ud tidak menyetujui pendapat tersebut. Keputusan itu tentu membuat Huzaifah dan Sa’ad marah, sehingga membuat Huzaifah bersumpah atas nama Allah sesampainya di Madinah akan menceritakan semua yang terjadi mengenai perselisihan bacaa Al-Quran kepada Khalifah Usman11.
Hingga akhirnya Khalifah Usman bin Affan membentuk panitia penyalinan terdiri dari empat orang, tiga di antaranya orang Quraisy yakni Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-Ash dan Abd al-Rahman bin al-Harits, dan satu dari Anshar yaitu Zaid bin Tsabit. Usaha penyalinan tersebut berhasil menjadi satu mushaf yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Utsmani12.
Jika pada saat itu Khalifah Usman bin Affan tidak melakukan tindakan yang cepat dan matang dengan mengumpulkan para sahabat dan segera menyepakati pola penulisa Al-Quran yang mencakup semua bacaan yang ada, mungkin hingga saat ini mmasih berkembang keberadaan mushaf Al-Quran Ubay bin Ka’ab, mushaf Al- Quran ‘Abdullah bin Mas’ud, mushaf Abdullah Muusa al-Asy’ari, mushaf Al-Quran al-Miqdad bin Amr, dan lain-lain.
Bila ditilik dari sejarah, yang menjadi tokoh kunci dan inisator dari kodifikasi Al-Quran mushaf Utsmani adalah Huzaifah bin al-Yamani yang resah terhadap banyaknya penduduk yang mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan bacaan mereka, meskipun dalam tim penyusunan mushaf ini Huzaifah tidak termasuk di dalamnya.
11 Ibid.
12 Mazmur Sya’roni, Op.Cit, Hlm. 5
Dasar yang dipakai Usman bin Affan ( 644-655 M) dalam penulisan kali ini.
Pertama, menuliskan bacaan yang benar- benar telah diajarkan Nabi kepada para sahabat, selama tidak terjadi naskh (penghapusan) sampai pada penyampaian terakhirnya. Kedua, apabila ada penulisan yang tidak dapat disatukan dalam satu tulisan, maka tulisan tersebut dipencar pada beberapa mushaf. Namun bila perbedaan tersebut masih bisa ditolerir dalam satu bentuk tulisan maka akan ditulis sama pada seluruh mushaf, contoh kata (maliki) tanpa ا . Ketiga, apabila ada perbedaan di antara anggota tim penulisan tentang cara penulisan sebuah bacaan, maka penulisan bacaan disepakati berdasarkan dialek Quraisy, mengingat Al-Quran pertama kali diturunkan dengan dialaek mereka13.
‘Umar bin Shabba, meriwayatkan melalui Sawwar bin Shahib, melaporkan :
‘’Saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu Ibnu az-Zubair, kemudian mempertanyakan ‘’mengapa Usman bin Affan memusnahkan semua mushaf a-Quran kuno ? Dia menjawab ‘’pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banyak membuat terkait perbedaan dalam membaca Al-Quran, yang kemudian khalifah Umar mengumpulkan salinan naskah Al-Quran dan menanyakan tentang cara baca mereka untuk ditulis kembali. Akan tetapi sebelum semuanya terwujud khalifah Umar telah meninggal dunia terlebih dahulu. Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan ada orang yang mengingatkan untuk membuat mushaf sendiri. Kemudian khalifah Usman bin Affan menyuruh saya untuk mengambil suhuf pada bekas isteri Rasulullah, Aisyah R.A yang Nabi sendiri mendiktekan keseluruhan Al- Quran. Mushaf yang dikumpulkan secara Independent (sendiri) kemudian dibandingkan dengan suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi, barulah beliau menyuruh agar seluruh salinan naskah Al-Quran dimusnahkan’’14. Meskipun riwayat tersebut dianggap lemah menurut kalangan ahli hadits, tapi ada gunanya menyebutkan riwayat ini yang mengambil suhuf dari pengawasan dan penjagaan Sayyidah Aisyah R.A.
13 Ibid.Hlm 6
14 M.M. Al-A’zami, Sejarah Teks Al-Quran- Dari Wahyu Sampai Kompilasinya,terjemahan Suharimi Solihin, et.al. The History The Qur’anic Text. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hlm. 98
Riwayat lain yang tidak begitu terkenal yaitu, Khalifah Usman bin Affan ( 644-655 M) sebelumnya sudah memberi wewenang pengumpulan mushaf dengan menggunakan sumber utama, sebelum membandingkannya dengan suhuf yang ada.
Khalifah Usman bin Affan mengangkat dua belas orang sebagai tim penyusun,diantaranya yaitu Sa’ad bin al-‘As, Nafi’ bin Zubair bin Amr bin Naufal, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Zubair, ‘Abdurrahman bin Hasyim, Kasir bin Aflah, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Umar bin Abdullah bin ‘Amr al-
‘As15.
Kebijakan yang dilakukan Usman bin Affan untuk menyuruh kaum Muslimin membakar semua mushaf yang ada di tangan mereka dan merujuk pada mushaf yang sudah ditulis oleh panitia sembilan atau dikenal dengan Masahif Utsmaniyyah. Hal ini mendapat dukungan dari sahabat Ali bin Abi Thalib dengan berkata “Jika saya ditunjuk sebagai kepala pemerintahan, maka saya pasti akan melakukan sebagaimana Usman berbuat’’. Adapun mushaf-mushaf yang ada pada tangan pribadi sahabat dan tabi’in, kemungkinan ada terjadinya kekhilafan dalam penulisan atau menuliskan penafsiran bersebelahan dengan teks-teks Al-Quran yang ada atau kemungkinan-kemungkinan lainnya. Alangkah lebih baiknya mushaf yang ada di tangan pribadi untuk dibakar, bahkan mushaf yang ditulis pada masa Abu Bakar pun harus dibakar. Tujuannya untuk mempersatukan mushaf kaum muslimin agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari16.
Setelah penulisan Al-Quran selesai, mulailah pendistribusian mushaf-mushaf ke berbagai wilayah sebagai acuan bagi penulisan. Para ulama Islam berbeda pendapat tentang jumlah ekslempar (Cetak) mushaf yang ditulis dan disebarkan. pada riwayat Abu Amr al-Dani (w. 444 H) menyebutkan ada 4 buah mushaf yang dikirim ke penduduk Basrah, Kufah, Syam (Syiria), dan Madinah sendiri17, Ibnu ‘Ashir mengatakan 6 buah, Abu Hatim as-Sijistani mengatakan sebanyak 7 ekslempar selain
15 ibid
16 Mazmur Sya’roni, Op.Cit, hlm. 8
17 Ibid
yang sudah disebutkan ia menambahkan untuk Mekkah, Yaman, dan Bahrain18, Ibnu al-Jazari (w. 833 H) mushaf tersebut berjumlah 8 buah19.
Sementara itu al-Suyuthi (w. 911 H) menytebutkan pendapat lain disamping pendapat diatas, yang meurutnya mahsyur itu ada 5 ekslempar. Semua naskah itu ditulis di atas ketas, kecuali naskah yang dikhususkan Usman bin Affan untuk dirinya yang kemudian dikenal dengan al-Mushaf al-Imam. Sebagian ulama mengatakan ditulis di kulit rusa. Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli Rasm yang kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. Naskah yang diperuntukan untuk Mekkah dan Madinah dikenal dengan sebutan mushaf Hijazy, untuk Kuffah dan Bashrah dengan mushaf ‘Iraqy, dan untuk Syam dengan sebutan mushaf Syamy20. Akan tetapi penulisan pada mushaf tersebut tidak adanya harakat, tanda titik pada huruf yang membedakan huruf satu dan lainnya. Khat yang digunakan pun yaitu khat ‘’kufi’’
yang kaku dan banyak persegi. Mushaf-mushaf yang ditulis pada masa sahabat Usman bin Affan disebut Rasm Utsmani21.
Proses pendistribusian mushaf-mushaf tersebut tidak kalah penting, Usman bin Affan menyertakan seorang qari’ dari kalangan sahabat Nabi SAW bertujua untuk menutun kaaum muslimin agar dapat membaca mushaf—mushaf tersebut sebagaimana diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Tentu sangat beralasan sebab mushaf-mushaf hanya mengandung huruf konsonan. Tanpa adanya qari’
kemungkinan terjadi kesalahan membaca terulang kembali22.
Rasm secara terminologi mempunyai makna bekas, peninggalan. Sedangkan dalam pembendaharaan bahasa Arab rasm mempunyai beberapa sinonim , seperti Az- Zubur, Ar-Rasmu, al-Khat dan as-Sathru yang semuanya memiliki arti sama yaitu
18 Dian Febrianingsih, Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani, (Jurnal al-Murabbi : 2016), Vol. 2, No. 2, hlm. 296
19 Zainal Arifin Madzkur’, Legalisasi Rasm ‘Uthmani Dalam Penulisan al-Qur’an, (Journal of Quran and Hadith Studies : 2012), Vol.1, No.2, hlm. 219
20 Ibid.
21 Mazmur Sya’roni, Op.Cit, hlm. 8
22 Dian Febrianingsih, Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani, (Jurnal al-Murabbi : 2016), Vol. 2, No. 2, hlm. 297
‘’tulisan’’. Utsmani dengan ya nisbah dalam disiplin gramatikal bahasa Arab adalah penisbatan pada Khalifah ketiga, ‘’Usman bin Affan’’. Untuk itu secara bahasa Rasm Utsmani adalah bekas penulisan Al-Quran yang polanya pernah dibakukan pada masa Khalifah Usman bin Affan23.
Rasm utsmani adalah cara penulisan kaimat-kalimat Al-Quran yang telah disepakati dan disetujui oleh sahabat Usman bin Affan pada waktu penulisan mushaf.
Hal itu merupakan gambaran utuh sebuah mushaf yang ditulis pada masa khalifah Utsman bin Affan. Gambaran mushaf Utsmani meliputi urutan surat, jumlah ayat di setiap surat, penggunaan basmallah di tiap surat (kecuali yang tidak ditulis), nama surat, dan bentuk tulisan kata di tiap ayat Al-Quran24. Serta tidak mempunyai banyak tanda lainnya, hal tersebut tidak menjadi permasalahan dikarenakan para sahabat sudah mampu membaca mushaf tanpa harus dibimbing dengan tanda baca apapun25.
Rasm Utsmanii menurut Syeikh Abd al-Mun’im Kamil Syair telah menyebut dalam kitab Al-I’jaz al-Qur’ani fi al-Rasm al-Uthmani: ‘’yang dimaksudkan dengan Rasm Uthmani adalah kaedah atau cara penulisan pekataan-perkataan al-Quran pada mushaf-mushaf yang ditulis oleh para sahabat di zaman pemerintah Uthman bin Affan r.a, yang dihantar ke negara-negara Islam. Maka dinamakan kaedah ini dengan Rasm Uthmani adalah sebagai sandaran kepada Uthman bin Affan r.a atas perintah beliau untuk menulis semula ayat-ayat al-Quran’’26.
Perlu diperhatikan bahwa Rasm Mushaf Utsmani mempunyai spesifik dan karakter tersendiri dibandingkan dengan Rasm Imla’i yang banyak digunakan pada penulisan huruf atau kalimat-kalimat Arab masa kini, seperti tulisan di koran, majalah, dan lain-lain.
23 Ibid. hlm 9
24 Achmad Faizur Rosyad, Karakteristik Diakritik Mushaf Maghribi, Arab Saudi, dan Indonesia, (jurnal Suhuf, 2015), Vol. 8 No. 1, hlm. 73
25 Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-Quran, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 82
26 Norazman bin Alias, dkk. Rasm Uthmani; Hubunganya Dalam Bidang Ilmu Qiraat, (Universiti Sains Islam Malaysia), hlm 2
Kekhawatiran para sahabat terhadap mushaf Utsmani yang bisa dibaca oleh para sahabat yang hafal Al-Quran membuat mereka berfikir bahwa pekerjaan menghimpun mushaf sudah selesai sampai di situ. Pada kenyataanya mereka melupakan suatu hal, bahwa tidak semua orang yang hidup masa itu adalah orang- orang penghafal Al-Quran dan masih banyak orang-orang awam yang belum tersentuh al-Qur’an. Hal diperlukan kinerja kembali untuk terus mengembangkan mushaf. Kekhawatiran tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk mengupayakan alat bantu membuat Abu al-Aswad (lahir di Bashrah 45 H),
‘Ubaidillah bin Zayyad (wafat 67 H), al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi (wafat 95 H).
tokoh-tokoh tersebut yang merehab Mushaf Utsmani agar orang awam bisa lebih mudah membaca dan memahami Al-Quran.27
Langkah demi langkah selalu dilakukan oleh Khalifah Usman bin Affan untuk menutupi kekurangan-keurangan pada mushaf Al-Quran yang disalinya. Namun, hal tersebut rupanya tak lantas membuat umat Islam puas dan dia seolah-olah semuanya sudah beres. Kritikan-kritikan terus mengalir dari berbagai pihak yang memulai mempertanyakan terkait hukum penulisan yang dilakukan pada Rasm mushaf Utsmani apakah Tauqifi28 atau Ijtihadi29. Polemik ini terus bergulir dari masa ke masa dan seolah belum menemukan titik terang.
Mayoritas berpendapat bahwa Rasm Utsmani bersifat Tauqifi. Bila pendpat itu benar dengan dibuktikan oleh data-data sejarah yang lengkap atau setidaknya perspektif baru tentang ke-tauqifan Rasm Utsmani. Apalagi pembahasan yang panjang lebar mengenai Ijtihadi juga pernah dipaparkan oleh al-Baqilani ( w.403 H/103 M), dan Abdurrahman Ibn Khaldun pada 779 H/ 1379 M. Kajian historis terkait Tauqifi memanglah sangat penting, mengingat ketetapan yang dibuat oleh Rasulullah berdasarkan wahyu yang diterimanya. Apabila kebenaran atas ketetapan kaidah dari wahyu tersebut terbukti maka penulisan selain itu harus ditolak.
27 Ibid. 83
28 Ketentuan penulisan Al-Quran dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, melalui wahyu yang diturunkan.
29 Ketentuan yang disepakati oleh para Sahabat setelah Nabi wafat.
Karenanya banyak penulisan mushaf yang menyimpang dari penulisan kaidah Rasm Utsmani30.
Tokoh-tokoh yang dianggap berpendapat bahwa Rasm Utsmani adalah Tauqifi31, di antaranya : Malik bin Annas (w. 179 H/ 795 M), Yahya an-Nasaiburi (w.
226 H/ 886 M), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/ 854 M), Abu ‘Amr Ad-Dani (w. 444 H/ 1051 M), ‘Ali bin Muhammad As-Sakhawi (463 H/ 1244 M), Ibrahim bin ‘Umar al-Jabiri (w. 732 H/ 1331 M), dan Ahmad al-Husain al-Baihaqi (w. 450 H/ 1065 M).
kemudian tokoh-tokoh yang dianggap berpendapat pada Ijtihadi, di antarannya : Abu Bakar al-Baqilani (w. 403 H/1013 M), dan Abdurrahman Ibn Khaldun (w. 808 H/
1405M). Adapun tokoh yang mencoba menengahi di antara keduanya dengan cara mengakomodasi adalah Badruddin Az-Zarkasyi (w. 794 H/1391 M) yang menulis al- Burhan fi Ulum Al- Qur’an, dan Izzudin Ibnu ‘Abdissalam (w. 661 H/ 1266 M) dalam banyak diskursus Islam, orang terakhir yang dikenal teorinya dengan mengedepankan kemashlahatan umat (teori maslahah)32.
Berdasarkan informasi yang didapat dari Abu Ahmad al-Askari (w. 382) yang mengatakan bahwa terdapat waktu yang cukup lama dalam hal pembakuan tulisan mushaf Usman. Bahkan lebih lama dari kodifikasi mushaf pada zaman Khalifah Abu Bakar (632-634 M) menuju era Khalifah Utsman bin Affan (644-655 M). Saat itu kaum Muslimin membaca Al-Quran menggunakan salinan mushaf Utsmani selama empat puluh tahun lebih hingga masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (685- 705 M). Kaum muslimin menulis Al-Quran pada lembaran-lembaran kertas yang kemudian tersebar di Irak33. Dari sini dapat diperoleh kemungkinan mushaf Utsmani
30 Zaenal Arifin, Diskursus ke-tauqifi-an Rasm Utsmani, Jurnal Suhuf, Vol. 3 No. 1 (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2010), hlm. 56
31 Ibid, mengutip dari buku Muhammad Salim Muhaisin, al-Fath al-Rabbani fi ‘Alqat al- Qiraat bi ar-Rasm Utsmani, (Mamlakah al-Arabiyyah al-Sa’udiyyah : Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah) 1415 H/1994 M.
32 Ibid. yang mengutip dari buku Izzudin Ibnu ‘Abdissalam, Qawaid al-Ahkam fi Masalih al- Anam, (Bairut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) 1240 H/ 1999 M
33 Zaenal Arifin, Op.Cit, hlm.61
yang original belum diberi Syakal34’.Tulisanya sepi dari tanda baca, sehingga banyak sarjana muslim yang menyimpulkan bawa Rasm Utsmani ditulis pada masa itu.
Tujuanya untuk mengcover bacaan yang menjadi perdebatan saat itu. Hal tersebut yang kemudian dipakai Orientalis untuk menyematkan mushaf Utsmani sebagai
‘’biang keladi’’ dari munculnya banyak perbedaan qiraat. Pada masa ke kekhalifahan Abdul Malik hal tersebut sudah menjadi gejala kekhawatiran di kalangan pembesar.
Dapat dipahami bahwa kita tidak bisa memandang sejarah penulisan Al-Quran adalah suatu proses yang monoton, dengan berkembangnya zaman membuktikan bahwa terjadi adaptasi yang sangat luar biasa dalam dunia tulis menulis. Perubahan pada pola penulisan sangatlah mungkin terjadi, tetapi tidak begitu berpengaruh dalam pola bacaan. Penjelasan di atas cukup jelas, bahwa perselisihan kata-kata yang para ulama terkait pola penulisan Rasm Mushaf Utsmani bukanlah tauqifi. Akan tetapi ada beberapa redaksi anjuran dan kehati-hatian seperti, La (jangan/larangan), Yahrumu (pengharaman), Yanbagi (anjuran), dan wajib (keharusan).ada beberapa ulama yang mengannggap cukup untuk tidak menyalahi secara terus menerus tulisan Utsmani. Bukan karena ke tauqifiannya akan tetapi kuatnya tradisi muslim yang menekankan pada etika dan senioritas pemahaman keagamaan pada ulama-ulama generasi pertama seperti sahabat. Sehingga apapun yang sudah dilakukan oleh mereka biasanya selalu diterima sebagai bentuk dari keberkahan, tidak dikritisi sebagaimana yang sering dilakukan oleh para orientalis35.
Golongan pertama yang berpendapat bahwa Rasm Utsmani adalah Tauqifi dan tidak boleh mengubahnya, haram menyalahi penulisannya serta penyusunanya adalah mengikuti surat dan ayat.
Ibn Darastawaih berkata : dua jenis penulisan yang tidak boleh dikias (kepada penulisan lain) yaitu penulisan mushaf (zaman Khalifah Uthman bin Affan r.a) dan penulisan bait-bait syair Arab. Imam Malik pernah ditanya: ‘’Adakah anda menulis
34 Syakal adalah tanda baca (Fathah, Kasroh, Dhommah, Fathatain, Kasrotai, Dhommatain, Sukun, Tasydid, Tanda Panjang)
35 Zaenal Arifin, Op.Cit, hlm.65
mushaf mengikut penulisan oran ramai dengan berpedoman pada al-hija’ (hija’iah atau tulisan mengikut bahasa rasm ?)’’ lalu beliau menjawab: ‘’Tidak, melainkan penulisan yang mula-mula (Rasm Utsmani)’’. Bahkan al-Imam Qadhi’Iyadh dengan nada tegas telah menyebut di akhir kitabnya: ‘’Dan sesungguhnya barang siapa yang mengurangkan hurufnya dengan sengaja, atau menukarnya dengan huruf yang lain, atau menambah padanya satu huruf yang tidak meliputi mushaf yang telah disepakati ijma’, dan seluruh ummah telah bersepakat bahwa ia bukanlah al-Quran, maka sesungguhnya beliau telah kufur’’36.
Golonga kedua yang berpegang bahwa Rasm Utsmani bukanlah Tauqifi dan menganggap tidak salah apabila ada yang mengubah penulisan mengikuti kaedah bahasa Arab (selagi mana tidak merubah ayat al-Quran). Sedangkan golongan ketiga (Tauqifi dan Ijtihadi) diantaranya Sultan al-Ulama’ Izzuddin Abd al-Salam, Badrudin al-Zarkashi, yang berpendapat bahwa harus hukumnya untuk menulis al-Quran dengan penulisan bahasa Arab kini bagi masyarakat awam, namun juga dengan menjaga dan mengekalkan Rasm Utsmani oleh para ulama dan orang-orang tertentu (pakar al-Quran). Ia seperti peninggalan sejarah dan warisan yang perlu dipelihara bagi generasi akan datang37.
Bagaimana pun perdebatan mengenai Rasm Utsmani apakah Tauqifi atau Ijtihadi, nyatanya mayoritas umat Islam menyepakati pola penulisan Al-Quran harus mengacu pada Rasm Utsmani, meskipun ini tidak melegalisasikan Rasm Utsmani sebagai sesuatu yang tauqifi dari Nabi. Rasm Utsmani adalah cara peulisan ayat Al- Quran yang telah disepakati oleh Khalifah Usman bin Affan pada waktu penulisan mushaf. Cara inilah yang menurut al-Zarqon mempunyai ciri khusus, serta menyimpang dari penulisan pola Arab konvensional pada umumnya.
36 Norazman bin Alias, dkk. Rasm Uthmani: Hubungannya Dalam Bidang Ilmu Qiraat, (University Sains Islam Malaysia), hlm. 7
37 Ibid.hlm 8
Tabel. 1
Rasm Imla’i Rasm Utsmani
ةايحلا ةويحلا
ةلاصلا ةولصلا
ةاكزلا ةوكزلا
B. Penggunaan Al-Quran Rasm Utsmani Di Idonesia
Pada 1970-an mushaf Al-Quran di Indonesia mengalami fenomena perdebatan yang cukup panas, yang katanya mushaf Indonesia menggunakan kaidah Rasm Utsmani. Setelah ditelusuri ternyata banyak yang menggunakan Rasm Imla’i, bukan hanya itu ternyata di masyarakat sendiri menyisakan problem yang cukup besar di kalangan masyarakat yang membaca mushaf Al-Quran Indonesia yaitu masalah dalam hal salah baca38. Hingga pada akhirnya problema memakai Rasm Utsmani menjadi memuncak di kalangan para ulama Indonesia yang menjadikan hal tersebut sebagai diskusi hangat pada 1974, tepatnya pada Musyawarah kerja (Muker) I ulama ahli Al-Quran se-Indonesia yang dilaksanakan di Ciawi Bogor, 5-6 Februari 1974.
Para ulama mengkaji mengenai boleh atau tidaknya mushaf Al-Quran dikaji selain dengan Rasm Utsmani. Akhirnya para ulama al-Qur’an menyepakati bahwa mushaf Al-Quran harus mengacu pada Rasm Utsmani, kecuali dalam keadaan darurat.
Berawal dari Muker I-IX (1983), yang kemudian melahirkan mushaf standar Indonesia dan keluarnya Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 25 tahun 1984 tentang tonggak awal berkembangnya Rasm Utsmani di Indonesia. Mushaf Al-Quran standar yang didedikasikan untuk orang awas, sebagaimana musaf standar Bahriyah39
38 Ibid.
39 Muhaf Bahriyah adalah mushaf andalan para penghafal al-Quran di sejumlah pesantren khusus tahfiz di Indonesia, dan dikenal dengan istilah ‘’Quran Kudus’’. Serta pada setiap bacaan mad thabi’I tidak berharakat.
untuk para penghafal Al-Quran dan mushaf standar Brile40 untuk orang tunanetra.
Tiga mushaf tersebut semuanya mengacu pada Rasm Utsmani41.
Hasil yang diperoleh dari Muker diatas yaitu mushaf Indonesia harus mengacu pada Rasm Utsmani. Keputusan para ulama tersebut berdasarkan pada pandangan Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hambal al-Baihaqi yang melarang penulisan Al-Quran dengan Rasm Imla’i42. Hal tersebutlah yang menjadi spirit bagi para ulama Al-Quran pada Muker-muker selanjutnya. Dua puluh lima tahun kemudian (1974-1999), diadakan penelitian kembali yang diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Al-Quran (waktu itu masih menyatu dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI) yang kemudian dikodifikasikan menjadi buku ‘’Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al-Quran dengan Rasm Utsmani.’’ Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa dalam ilmu Rasm Utsmani terdapat dua aliran besar (Mazhab), yaitu mazhab al- Dani43 (w. 444 H) dan mazhab Abu Dawud44 (w. 496) yang keduanya dikenal deengan Syaikhoni fi Rasm (dua pakar otoritatif dalam rasm)45.
Merujuk pada hasil Muker I-IX, mushaf standar ini disebut dengan beberapa nama, yaitu Mushaf Standar Utsmani, Al-Quran Mushaf Standar Utsmani, Mushaf Al-Quran Standar, Al-Quran Standar dan Mushaf Standar. Mushaf Indonesia yang telah disepakati penulisannya dengan menggunakan Rasm Utsmani, kemudian dikenal dengan nama ‘’Mushaf Al-Quran Standar Utsmani’’(MASU). Tidak ada perbedaan yang mendasar antara Mushaf Utsmani yang beredar di kalangan umat Islam baik di Indonesia maupun di negara lainnya, karena MASU juga menggunakan
40 Mushaf standar Brile adalah varian mushaf Indonesia yang ditulis dengan simbol Brile diperuntukan bagi para tunanetra atau orang-orang yang mempunyai gangguan penglihatan.
41 Zaenal Arifin, Kajian Ilmu Rasm Utsmani dalam Mushaf Indonesia, Jurnal Suhuf, Vol. 6, No.1 (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2013), hlm. 3
42
43 Al- Dani atau dikenal Abu Amr al-Dani adalah seseorang yang menguasai berbagai disiplin ilmu Tafsir, Ulumul qur’an hadits, Fiqih, Lughoh, Nahwu, dan yang paling dikenal sebagi spesialis dalam bidang Qiraat, Waqaf dan Ibtida, Tajwid, ilmu Rasm dan Dabt-nya.
44 Abu Dawud Sulaiman an-Najah adalaah murid dari Abu Amr al—Dani. Abu Dawud adalah Syaikh dari para quro, ahli dalam segala ilmu quran, tafsir, hadis, aqidah dan lainnya.
45 Ibid. hlm 7
kaidah-kaidah rasm utsmani, untuk itu disebut juga Mushaf Utsmani. Jikapun ada perbedaan seperti dengan mushaf Al-Qura terbitan Saudi Arabia, itu terbatas pada penggunaan beberapa harakat, tanda baca dan tanda waqaf46.
Mushaf Al-Quran Standar Utsmani telah diterbitkan dalam dua edisi, yaitu edisi perama pada (1983) dan edisi kedua (2002).
MASU edisi Petama (1983)
Edisi pertama penerbitan MASU dilakukan pada saat penyelenggaran Muker ke-IX di Jakarta 1983 dan diterbitkan juga pada tahun yang sama, hanya saja SK Kementerian Agama dikeluarkan pada 1984. Mushaf ini ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa’ad sampai khatam 30 juz, sehingga mushaf ini dijadikan bahan pembahasan pada Muker ke-IX. MASU ini pertama kali dikeluarkan perdana sudah tiga kali cetak. Pertama, sampul warna merah (1983), sampul warna hijau (1984- 1985), dan ketiga sampul warna biru (1986-1987). Hal itu terjadi dikarenakan adanya sayembara untuk menemukan beberapa kesalahan yang kemudian dijadikan bahan perbaikan dan dicetak ulang dengan warna yang berbeda. Penulisan menggunakan Khat Nakhsi dengan huruf yang tidak terlalu tebal.
Para ulama menyepakati bahwa penlisan Al-Quran harus menggunakan rasm utsmani. MASU pun menggunakan rasm utsmani bahkan ke utsmaniyahan nya dicantumkan dengan kalimat ‘’nasikha ‘ala ar-rasm al-utsmani’’ (ditulis berdasarkan rasm utsmani).
MASU edisi kedua, 2002
Pada edisi kedua ini MASU ditulis kembali (1999-2001). Penyebab adanya penulisan kembali berawal dari ide untuk mengembaikan kembali penulisan MASU
46 Zaenal Arifin, Mengenal Mushaf Al-Quran Standar Utsmani Indonesia: Studi Komparatif Atas Mushaf Standar Utsmani 1983 dan 2002, Jurnal Suhuf, Vol.4, No. 1 (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2011), hlm.4
menggunakan tulisannya seperti mushaf Bombay yang lebih tebal. Tulisan pada edisi perdana dinilai terlalu tipis. Selainnya tidak ada yang dirubah lagi.
MASU edisi kedua ini ditulis oleh cucu penulis perdana, yaitu Baiquni Yasin bersama tim. Naskah aslinya milik yayasan Iman Jama’47 yang bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Sekarang tersimpan di Museum Bayt Al- Quran Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Jika pada edisi perdana 1983 MASU ditulis menggunakan Khat Naskhi yang tidak terlalu tebal, maka berbeda dengan edisi kedua 2002 yang sangat tebal bahkan ketebalannya mendekati mushaf Bombay. Di awal mushaf dilengkapi kalimat penegasan riwayat Hafs dan ‘Asim. Penegasan itu sangatlah diperlukan karena dalam Ilmu Qira’at dikenal beberapa riwayat imam Qurra, seperti Qiraah Sab’ah (bacaan imam tujuh) atau Asyirah (bacaan imam sepuluh). Asim termasuk ke dalam Imam tujuh, yang memiliki dua perawi utama, yaitu Sub’ah dan Hafs. Selain itu penentuan Qiraat juga akan menentukan tanda baca Qiraat yang bersangkutan48.
C. Kaidah Al-Quran Rasm Utsmani Serta Mahdzab Rasm Ad-Dani dan Abu Daud
Kita mengenal dalam ilmu hadis istilah perawi yaitu orang yang dijadikan rujukan atas hadis tersebut. Begitupun dengan Al-Quran, dalam mencermati tulisan Al-Quran yang tertulis pada Rasm Utsmani sudah ada sejak permulaan abad ke dua hijriah. Yaitu Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj (w. 117 H) menjadi rujukan utama dalam Rasm Utsmani. Begitu pula dengan Imam Nafi’ (w. 169 H), salah satu imam tujuh dalam Qiraat terkenal, dan Imam Hamzah (w. 156 H), Imam Ibnu ‘Amir (w.
118 H) dan lainya. Keterlibatan mereka dalam dunia Qiraat sangatlah kental
47 Yayasan Iman Jama’ adalah nama perpustakaan di daerah Lebak Bulus, Jakarta, dengan koleksi buku sebanyak 15.000. Iman Jama’ adalah perpustakaan yang mengutamakan koleksi buku di bidang al-Quran dan Hadis.
48 Ibid. hlm 6
menekuni dan mencermati tulisan-tulisan Al-Quran, sehingga mereka sangatlah pantas dijadikan sebagai rujukan utama dalam Rasm Utsmani49.
Istilah Syaikhana dalam Ilmu hadits berarti diberikan kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Pada Ilmu Fiqih Syafi’i berarti Imam Nawawi dan Rafi’i50. Maka dalam ilmu Al-Quran istilah itu diberikan kepada Abu ‘Amr Ad-Dany (w. 444 H) dan Abu Daud (w. 496 H). keduanya dikenal sebagai Syakhani fi Rasm (dua pakar otoritatif dalam rasm) Imam Rasm ini seringkali keduanya berbeda, meski keduanya memiliki relasi guru murid. Misalnya dalam penulisan kata (Ashoorhi Ghisyaawah) Ad-Dany menuliskannya dengan menetapkan (Itsbat) alif, sementara Abu Daud menuliskannya dengan membuang alif51. Jika terjadi perbedaan penulisan Al-Quran, maka ada yang mentarjihkan riwayat Abu Daud sebagaimana pada mushaf yang diterbitkan di Saudi Arabia dengan nama mushaf Nabawi. Sedangkan riwayat Ad- Dani dipakai di Libia yang menggunakan Qiraat Nafi’ riwayat Qalun.
Beberapa kitab yang dipakai pada Rasm Utsmani, mengingat Rasm Utsmani tidak akan lepas dengan Ilmu Qiraat, di antaranya kitab al-Muqni karangan Abu ‘Amr ad-Dany, inilah puncak prestasi dari penulisan yang berkaitan dengan Rasm Utsmani.
Kitab Attanzil, Karya Sulaiman bin Najah, Abu Daud bin Abi Al-Qasim Al-Andalusi (w. 496 H) salah satu murid dari Ad-Dany. Kitab Al-Munsif kartya Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Muradi Al-Andalusi Al-Balansi (w. 564 H). Kitab ‘Aqilat Atrab Al-Qasa id, karya Syathibi, Abu Muhammad Qasim bin Firruh bin Abil Qasim bin Ahmad (w. 590 H). kitab ini berupa syair yang merangkum dari apa yang ada pada Kitab al-Muqni’ karya Ad-Dany. Kitab Mawrid Al-Zam’an yang berisi bait-bait syair Rasm Utsmani berjumlah 608 bait, yang dikarang oleh Al-Kharraz, Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al-Umawi Asy-Syuraisi (w. 718 H)52.
49 Mazmur Sya’roni, Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al-Quran dengan Rasm Utsmani, (Jakarta : Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama Departemen Agama , 1999), hlm 14
50 Mazmur Sya’roni, Op.Cit, Hlm 15
51 Zaenal Arifin, Kajian Ilmu Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-Quran Standar Utsmani Al- Quran, Jurnal Suhuf, Vol. 6 No. 1, (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2013), hlm. 8
52 Ibid.
Terkait rasm, penulisan teks-teks yang digunakan pada Mushaf standar mengacu pada kaidah Rasm Utsmani sebagaimana termaktub dalam kitab al-Itqan fi Ulum Al-Quran karya as-Suyuti. Namun, mushaf ini tidak melalui verifkasi riwayat.
Artinya tidak ada riwayat yang diunggulkan, sehingga pada beberapa tempat bersesuaian dengan mahzab ad-Dani dan mahzab Abu Daud53.
Kaidah Rasm Utsmani yang digunakan pada kebanyakan Mushaf khusunya mushaf standar Indonesia yaitu kaidah yang disusun atau dirancang oleh As-Suyuti yang termaktub dalam kitabnya al-Itqan. Sebenarnya bukan as-Suyuti saja yang menawarkan kaidah rasm, akan tetapi rumusan as-Suyuti yang cukup populer dan paling diterima dikalangan pegiat Ulumul Quran. Rumusan as-Sutyuti lebih eksis dan mampu bertahan hingga sekarang dibanding pendahulunya.
Mushaf Utsmani ditulis menggunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah Imla’i. kaidah tersebut menjadi enam istillah, yaitu :
Pertama, Kaidah hazf al-huruf (membuang huruf). Kaidah ini selalu dikaitkan dengan isbat al-hurf (menetapkan huruf). Macam kaidah membuang huruf, [1] hazf isyaroh membuang huruf dengan tujuan menunjukan adanya huruf lain. Adantya pembuangan huruf alif itu agar dua bacaan menjadi satu kata. [2] hazf ikhtisar membuang huruf dengan tujuan meringkas tulisan, seperti membuang alif pada setiap jama’ mudzakar salim, atau semisalnya jika huruf setelah alif bukanlah hamzah atau tasydid. [3] membuang alif pada kata tertentu saja. Huruf-huruf yang dibuang dalam penulisan rasm utsmani ada 5, yaitu alif, waw, ya, la dan nun54.
Kedua, ziyadah al-huruf (penambahan huruf). Yaitu memberi tambahan huruf dalam suatu kata, namun tidak mempengaruhi bacaanya baik ketika wasal maupun waqaf. Ziyadah seperti itu dinamakan ziyadah dengan huruf haqiqi. Selain itu ada ziyadah ghairu haqiqi, yaitu apabila tambahan huruf mempengaruhi pada bacaan
53 Abdul Hakim, Perbandingan Rasm Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Pakistan dan Mushaf Madinah : Analisis Rasm Kata Berkaidah Hazf al-Huruf. Jurnal Suhuf, Vol. 10, No. 2 (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2017), hlm. 6
54 Ibid. hlm 9
ketika waqaf. Ketika waqaf seluruh Imam Qiraat membacanya dengan isbat al-alif.
Huruf yang ditambahkan dalam kaidah ini yaitu, alif, ya, dan waw55.
Ketiga, hamzah (penulisan hamzah). Ada empat pola penulisan hamzah dalam rasm utsmani, [1] terkadang ditulis menggunakan alif, [2] terkadang ditulis dengan menggunakan huruf waw, [3] terkadang ditulis dalam huru ya. Dan terkadang ditulis tanpa (hazf sirah).
Tabel.2
No. Bentuk Hamzah Contoh
1 Bentuk huruf alif لوأ
2 Bentuk huruf waw نونمؤي
3 Bentuk huruf ya ةكئلم
4 Tanpa bentuk (hazf surah) )ءرملا نيب(
Keempat, al-badl yaitu pergantian huruf dalam ilmu rasm utsmani ada tiga macam, yaitu penulisan alif yang berasal dari ya, penulisan, alif yang berasal dari waw, dan alif yang tidak diketahui asalnya.
Kelima, al-fasl wa al-wasl. Kaidah yang kelima ini sebenarnya berasal dari dua kaidah yaitu kaidah al-fasl (pemisahan kata )dan kaidah al-wasl (penyambungan kata).
لا نا - ام نم - ام نا - نم نع - ام نع - ام نا - مل نا - ل نا - ل نا - ام نا - نم ما - نيح تلا - لامف - م تيح
Al-wasl adalah penulisan kata menyambung atau bersambung dengan kata sesudahnya.
امنيا - امسئب - لايك - مع - امعن - اما - ميف - نمم - امبر - نلا - ناكيو - امنياامهم - امسئب - لايك - مع - امعن - اما - ميف -
Keenam, kalimat yang mempunyai dua bacaan yang kemudian ditulis salah satunya, selama tidak tergolong qiaat syazah56.
55 Ibid
56 Ibid.hlm 10
Tabel.3
Salah Satu Mazhab Mazhab Lain
نوع دخي نوعداخي
نوبذكي نوبذاكي
Namun, dalam kajian yang dipakai pada penelitian ini dibatasi hanya fokus memakai kaidah Hazf al-huruf (pembuangan alif) dan Isbat al-huruf (penetapan alif) karena 90% Rasm Utsmani menggunakan kaidah Hazf al-huruf dan Isbat al-huruf.
Berdasarkan acuan riwayat imam rasm, mayoritas rasm mushaf al-Quran diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dan Abu Daud Sulaiman. Akan tetapi, dalam pemaparan Mazmur Sya’roni nampaknya Mushaf Indonesia tidak mengunggulkan diantara dua imam rasm tersebut, seperti yang diungkapkan bahwa, ‘’Apabila penulisannya tidak sesuai dengan sala satu dari kedua pokok tersebut, maka dilakukanlah penyesuaian sesuai dengan kaidah yang ada pada salah satu rujukan yang ada itu’’. Demikian dapat dikatakan setiap penulisan al-Quran Indonesia tidak berkib lat pada salah satu imam, namun lebih kepada penyesuaian diri sesai dengan kondisi yang terjadi. Lebih lanjut dikatakan Sya’roni bahwa dalam al-Quran Indonesia sistem peulisnnya adakalanya mengacu pada ad-Dani dan adakalanya ada yang mengacu pada Abu Daud Sulaiman. Berikut tabel penulisan rasm imam Ad- Dani dan rasm imam Abu daud pada kaidah Hazf wa al-Isbat al-Huruf.
Tabel. 4
Ad-Dani Abu Daud
اودانف دانف
نورفاكلا نورفكلا
اواهلا واهلا
مكتهلا مكتهلاء
قلاتخا قلاتخا
لزنؤا لزنءا
تومسلا تومسلا
بابسلاا ببسلاا
بحصاو بحصاو
ةكيئل ةكيئل
ةدحاو ةدحو
قارشلاا قارشءلاا
هنيتاو هنيتاءو
نمصخ نامصخ
طارصلا طرصا
ةدحاو هدحو
اونما ونماء
تحلصلا تحلصلا
هنتف هنتف
انرفغف انرفغف
بام بائم
اونما ونماء
تحلصلا تحلصلا
هنلزنا هنلزنا
كربم كربم
هتيا هتياء
بابللااولوا ببللااولوا
نميلس نميلس
تنفصلا تنفصلا
نميلس نميلس
نيرخا نيرخاء
بام بائم
هندجوانا هندجوانا
ميهربا ميهربا
قحسا قحسا
مهنصلخا مهنصلخا
ليعمسا ليعمسا
بام بائم
ةهكافب ةهكفب
ترصق ترصق
نيغطلل نيغطلل
بام بائم
رخاو رخاءو
راصبلاا رصبلاا
دحاولا دحولا
تومسلا تومسلا
رافغلا رفغلا
اؤبن ؤبن
لاملاب ءلاملاب
ةكئلملل ةكئلملل
نيدجس نيدجس
ةكئلملا ةكئلملا
نورفكلا نورفكلا
نيملعلل نيملعلل