12 A. Pengertian Qasam al-Quran
Secara etimologi kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu: halaf dan yamin yang berarti sumpah. Sumpah dinamakan juga dengan yamin karena orang-orang Arab ketika sedang bersumpah telah memegang tangan kanan sahabatnya.1
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, „sumpah‟ diartikan sebagai:
a. Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan saksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya).
b. Pernyataan yang disertai tekat melakukan sesuatu untuk menguat- kan kebenaran atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar.
c. Janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).2
Sedangkan menurut Louis Ma‟luf, dalam konteks bangsa arab, sumpah yang diucapkan oleh orang Arab itu biasanya menggunakan nama Allah atau selainNya. Pada intinya sumpah itu menggunakan sesuatu yang diagungkan seperti nama Tuhan atau sesuatu yang disucikan.3
Sedangkan secara terminologi, Qasam al-Quran adalah ilmu yang membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam al-Quran.
Kemudian yang dimaksud sumpah sendiri adalah sesuatu yang digunakan untuk menguatkan pembicaraan. Menurut al-Jurjani -seperti yang dikutip oleh Hasan
1 Manna’ Khalil Qathan, Studi Ilmu-Ilmu Quran, (Bogor: Pustaka Lentera Antar Nusa, 2006), hlm.
414
2 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 1102
3 Louis Ma’luf, al-Munjid, (Beirut: al-Mathba’ah al-Kathaliqiyyah, 1956), hlm. 664
Mansur Nasution- sumpah adalah sesuatu yang dikemukakan untuk menguatkan salah satu dari dua berita dengan menyebutkan nama Allah atau sifatnya.4
Maka yang dimaksud dengan qasam al-Quran adalah salah satu dari ilmu- ilmu al-Quran yang membahas tentang arti, maksud, rahasia, dan hikmah sumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam al-Quran. Qasam dapat pula diartikan sebagai bahasa Al-Quran dalam menegaskan atau menguatkan suatu pesan atau pernyataan dengan menyebut nama Allah atau ciptaanNya sebagai muqsam bih. Dalam Al-Quran, penyebutan kalimat qasam kadangkala dengan memakai kata aqsama, dan adakalanya dengan menggunakan kata halafa atau yamana.
Contoh penggunaan kedua kata tadi antara lain sebagai berikut:
Artinya: “Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui”. (QS. Al-Waqi‟ah: 76)
Artinya: “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah) lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mujadilah: 18) Orang yang pertama menyusun Ilmu Aqsamil Quran ini ialah Imam Ibnu Al Jauziyah (wafat 751 H.) yang menulis kitab At-Tibyan Fi Aqsamil Quran.
4 Hasan Mansur Nasution, Rahasia Sumpah Allah Dalam al-Quran, (Jakarta: Khazanah Baru, 2002), hlm. 7
B. Huruf-huruf Qasam
Huruf-huruf yang biasa digunakan untuk pernyataan qasam ada tiga;
1. Huruf waw, semisal dalam firman Allah SWT.:
Artinya: “Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyat: 23)
2. Huruf ta, semisal firman Allah SWT.:
Artinya: “Demi Allah, Sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan.” (An-Nahl: 56).
Sumpah dengan menggunakan huruf ta tidak boleh menggunakan kata yang menunjukkan sumpah dan sesudah ta harus disebutkan kata Allah atau rabb.5
3. Huruf ba, semisal firman Allah SWT.:
Artinya: “Aku bersumpah demi hari kiamat” (QS. Al-Qiyamah: 1)
Kalimat sumpah dengan menggunakan huruf ba boleh diikuti kata yang menunjukkan sumpah, sebagaimana contoh di atas, dan boleh pula tidak menyertakan kata sumpah, sebagaiman dalam firman Allah SWT.:
5 Drs. Muhammad Chirzin, M.Ag. Al-Quran dan Ulumul Quran. (Yogyakarta: PT Dhana Bhakti Prima Yasa, 1998) hlm. 136-137
Artinya: “Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Shaad: 82)
C. Sabab Sumpah (Qasam) dalam al-Quran
Sabab Qasam artinya sebab sumpah, yaitu latar belakang terjadinya sumpah. Allah bersumpah dengan sesuatu disebabkan sebagian manusia mengingkari ataupun mereka menganggap remeh sesuatu. Tanggapan ini terjadi dari ketidaktahuan mereka tentang faedahnya, atau lupa dan buta dari hikmah Allah Swt. Atau mungkin juga, pendapat seseorang terbalik dengan yang sebenarnya, lalu dia berakidah tidak sesuai dengan yang ditetapkan Allah.
Kenyataan yang demikian menjadi sebab bagi Allah untuk bersumpah.6
Memperhatikan keterangan di atas, maka terjadinya sumpah antara lain karena adanya penolakan terhadap sesuatu yang dikemukakan, yaitu al-Quran.
Al-Quran memang menjelaskan tentang situasi umat zaman dahulu sehingga perlu adanya penekanan untuk meyakinkan orang yang menerima informasi.
Selanjutnya, terjadinya sumpah dalam al-Quran memiliki tujuan dan maksud yang mempunyai arti lebih dari apa yang dijelaskan di atas, yaitu untuk dipikirkan dan diteliti. Hal ini akan membawa mereka kepada keyakinan yang kuat.7
D. Macam-macam Qasam
Qasam dalam al-Quran terdapat dua macam. Sebagaimana Manna‟ Al-Qaththan yang dikutip oleh Hasan Zaini dan Radhiatul Hasnah bahwa Qasam itu kadangkala zhahir dan adakalanya mudhmar.8
6 Hasan Mansur Nasution, Rahasia Sumpah Allah Dalam al-Quran, (Jakarta: Khazanah Baru, 2002), hlm. 9
7 Ibid, hlm. 10
8 Hasan Zaini dan Radhiatul Hasnah, ‘Ulum al-Quran, (Batusangkar, STAIN Batusangkar, 2011), hlm. 157
1. Zhahir, ialah sumpah di dalamnya disebutkan fi῾il qasam dan Muqsam bih. Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi῾il qasamnya, sebagaimana pada umumnya, karena dicukupkan dengan huruf jar berupa waw, ta dan ba. Seperti dalam firman Allah SWT.:
Artinya: “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
(QS. Al-Qiyamah: 1-2)
Dan ada juga yang didahului oleh “la nafi”, seperti:
Artinya: “Tidak sekali-kali, Aku bersumpah dengan hari kiamat.
Dan tidak sekali-kali, Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al Qiyamah: 1- 2)
Manna‟ al-Qattan memilih mengembalikan makna la kepada makna asalnya yaitu menafikan makna yang datang sesudahnya, seperti pada QS. Al-Qiyamah / 75: 1-3.
Artinya: “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”9
Pada ayat ini, ia menganggap ada kalimat yang dihilangkan setelah huruf la sesuai dengan maqam yang ada, sehingga jika
9 QS. Al-Qiyamah ayat 1-3. Al-Quran Digital
ditampakkan maka akan berbunyi, “la sihhah lima taz’umun annahu la hisab wala ’iqab”. Jadi, la nafiyah tersebut meniadakan kalimat yang dihilangkan sesudahnya, yang artinya; “tidak benar dugaan kalian bahwa tidak ada balasan dan siksa”.10
Pendapat Manna‟ al-Qattan tersebut dipertegas oleh Quraish Shihab, bahkan Ia menganggap di samping menafikan sesuatu yang datang sesudahnya, kata la dapat juga menafikan sesuatu sebelumnya, atau yang tersirat dalam benak pengucapnya, dan dengan demikian Anda berhenti pada kata tidak. Yakni tidak seperti yang kamu duga, lalu menyiratkan sesuatu dalam benak untuk dinafikan misalnya bahwa kebangkitan tidak akan terjadi.
Bisa juga kata la dipahami sebagai fungsi menguatkan sumpah dan dengan demikian ayat-ayat seperti ini diterjemahkan dengan Aku benar-benar bersumpah.11
Ada pula yang mengatakan bahwa la tersebut untuk menafikan qasam, seakan-akan Ia mengatakan, “Aku tidak bersumpah kepadamu dengah hari itu dan nafsu itu. Tetapi Aku bertanya kepadamu tanpa sumpah, apakah kamu mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangmu setelah hancur berantakan karena kematian? Masalahnya sudah amat jelas, sehingga tidak lagi memerlukan sumpah.”
Tetapi juga ada berpendapat bahwa la tersebut za’idah (tambahan). Jawaban qasam dalam ayat di atas tidak disebutkan, indikasinya adalah ayat sesudahnya (Al-Qiyamah: 3).
Penjelasannya ialah: “Sungguh kamu akan dibangkitkan dan akan dihisab.”
10 Manna’ Khalil Qatthan, Mabahits Fi Ulumil Quran (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009). hlm. 287
11 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002). hlm. 263
2. Mudhmar ialah yang di dalamnya tidak dijelaskan fi῾il qasam dan tidak pula muqsam bih, tetapi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk ke dalam jawab qasam, seperti firman Allah:
Artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.
Jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan. (Al-Imran: 186)
Selanjutnya, apabila qasam berfungsi untuk memperkuat Muqsam ‘alaih, maka beberapa fi῾il dapat difungsikan sebagai qasam jika konteks kalimatnya menunjukkan makna qasam.
Misalnya dalam QS. Ali Imran ayat 187:
…
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang- orang yang telah diberi kitab (yaitu): Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia….”
Huruf lam pada ayat:
سانلل ُهَّنَنِّيَبُتَل
adalah “lam qasam”, dan kalimat sesudahnya adalah jawab qasam, sebab “akhzu al-mitsaaq”bermakna “istihlaf” (mengambil sumpah).12 Dan atas dasar ini pula,
12 Op. Cit, Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Quran, hlm. 375
maka para mufassir menganggap sebagai qasam terhadap beberapa ayat di bawah ini, di antaranya pada:
a. QS. An-Nur: 55 “Dan Allah telah berjanji kepada orang- orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalelh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa….”
b. QS. Al-Baqarah: 83 “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah….”
c. QS. Al-Baqarah: 84; “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang)….. “
E. Unsur-unsur Qasam
Qasam terbagi menjadi tiga unsur yaitu adat qasam, Muqsam bih dan Muqsam ‘alaih.
1. Adat qasam adalah sighat yang digunakan untuk menunjukkan qasam/sumpah, baik dalam bentuk fi῾il maupun huruf seperti ba, ta, dan waw sebagai pengganti fi῾il qasam karena sumpah sering digunakan dalam keseharian. Contoh qasam dengan memakai kata kerja, misalnya firman Allah SWT.:
Artinya: “Mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan
(pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. “(QS. An-Nahl ayat: 38)
Adat qasam yang banyak dipakai adalah waw13, sebagaimana firman Allah SWT.:
Artinya: “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun dan demi bukit Sinai.” (QS.
At-Tiin: 1-2)
2. Al-Muqsam bih yaitu sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah. Sumpah dalam al-Quran ada kalanya dengan memakai nama yang Agung (Allah), dan adakalanya dengan menggunakan nama-nama ciptaanNya. Qasam dengan menggunakan nama Allah dalam al-Quran hanya terdapat dalam tujuh tempat yaitu14:
a. QS. An-Nisa ayat 65 b. QS. Yunus ayat 53 c. QS. Al-Hijr ayat 92 d. QS. Maryam ayat 68 e. QS. Saba‟ ayat 3
f. QS. At-Taghabun ayat 7 g. QS. Al-Ma‟arij ayat 40
Misalnya firman Allah SWT.:
13 Ibid, hlm. 291
14 Aisyah Abd Rahman, Al-Tafsir Al-Bayani Li Al-Quran Al-Karim, V (Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1977), JUZ II. hlm. 165-166
Artinya: “Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)". (QS. Yunus ayat: 53)
Selain pada tujuh tempat di atas, Allah memakai qasam dengan nama-nama ciptaanNya, seperti dalam firman Allah Swt.:
Artinya: “Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang- bintang”. (QS. Al-Waqi‟ah: 75).
3. Muqsam ‘alaih kadang juga disebut jawab qasam. Muqsam ‘alaih merupakan suatu pernyataan yang datang mengiringi qasam, berfungsi sebagai jawaban dari qasam. Di dalam Quran terdapat dua Muqsam ‘alaih, yaitu yang disebutkan secara tegas atau dihilangkan. Jenis yang pertama terdapat dalam ayat-ayat sebagai berikut15:
Artinya: “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.dan awan yang mengandung hujan, dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.”
(QS. Adz-Dzariyat: 1-6)
Jenis kedua Muqsam ‘alaih atau jawab qasam dihilangkan / dibuang karena alasan sebagai berikut:
15 Ibid, hlm. 180
1. Dalam Muqsam bih nya sudah terkandung makna Muqsam
‘alaih.
2. Qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.16 Seperti halnya pendapat al-Biqa‟i yang mengatakan bahwa tidak ada sumpah tanpa muqsam ‘alaih17. Maka dapat dikatakan bahwa seluruh sumpah Allah terdapat muqsam ‘alaih, baik tertulis dalam al-Quran maupun menurut pemahaman.
F. Faedah Qasam dalam al-Quran
Sebagaimana kita ketahui bahwa Qasam dalam Al-Quran bermuatan rahasia untuk menguatkan pesan-pesan Al-Quran yang sampai kepada manusia terutama untuk orang yang masih ragu-ragu, menolak bahkan mengingkari kebenaran ajaran-ajaran al-Quran. Menurut Hasan, ada tiga macam pola penggunaan kalimat berita dalam al-Quran, yaitu: ibtida’, thalabi, dan inkari.18
Ibtida’ (berita tanpa penguat), yaitu untuk orang yang netral dan wajar-wajar saja dalam menerima suatu berita, tidak ragu-ragu dan tidak mengingkarinya.
Thalabi, yaitu untuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran suatu berita, sehingga berita yang disampaikan kepadanya perlu diberikan sedikit penguat yang disebut dengan kalimat thalabi atau taukid untuk meyakinkan dan menghilangkan keraguannya.
Inkari, yaitu untuk orang-orang yang bersifat ingkar dan selalu menyangkal suatu berita, untuk kondisi seperti ini beritanya harus disertai dengan kalam inkari (diperkuat sesuai dengan kadar keingkarannya). Oleh
16 Jalaluddin Suyuti As, Al-Itqan Fi ‘Ulum Al-Quran (Kairo: Maktabah al-Safa, 2006). hlm. 262
17 Burhan al-Din al-Biqa`i, Nazhm al-Dhurar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, 1992), hlm. 26
18 Hasan dan Radiatul Hasnah Zaini, Ulum Al-Quran (Batu Sangkar: STAIN Batu Sangkar Press, 2011). hlm. 162
karena itu, Allah menggunakan kalimat sumpah dalam al-Quran untuk menghilangkan keraguan, menegakkan hujjah dan menguatkan berita terhadap orang-orang yang seperti ini.
G. Tujuan Qasam
Kalimat Sumpah dalam Al-Quran bertujuan untuk memberikan penegasan dan pengukuhan atas informasi yang disampaikan dalam suatu pesan atau pernyataan dengan menyebut nama Allah atau ciptaanNya. Dalam Al-Quran, penyebutan kalimat qasam kadangkala dengan memakai kata aqsama, dan adakalanya dengan menggunakan kata halafa atau yamana.
Hal ini sejalan dengan tanggapan manusia pada umumnya terhadap ajaran yang disampaikan kepada manusia. Dengan kata lain tujuan sumpah adalah untuk memperkuat pemberitaan kepada orang lain, yang mungkin akan mengingkari kebenarannya, sehingga pemberitaan tersebut dapat diterima dengan yakin.
Di antara golongan manusia itu ada yang meragukan, mempertanyakan bahkan menolak kebenaran al-Quran. Dalam hal ini sumpah dalam al-Quran ditunjukkan untuk menghilangkan keraguan, menegakkan argumentasi dan menguatkan hujjah yang dalam hal ini yaitu ajaran atau pesan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.19
19 Op. Cit, Manna’ al-Qaththan, Mabahits, hlm. 285.