• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Objek Penelitian (Gambaran Umum Klasis Pulau Ambon)

Klasis Pulau Ambon menjadi area pelayanan yang terbesar dengan jumlah jiwa 137.897 jiwa dibanding dengan 25 Klasis lainnya yang tersebar dalam wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku.Klasis GPM Pulau Ambon secara administratif terletak di sebagian besar kawasan Pulau Ambon dan berkedudukan di dua pusat pemerintahan, yakni Pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah dan Pemerintah Kota Ambon.

Klasis GPM Pulau Ambon secara geografik memiliki batas-batas wilayah pelayanan sebagai berikut :

ƒ Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Leihitu

ƒ Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Banda

ƒ Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Salahutu

ƒ Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Leihitu Barat.

Klasis GPM Pulau Ambon beranggotakan 62 jemaat, yang memiliki komposisi jemaat sebagai berikut 7 (tujuh) jemaat berada di kabupaten Maluku Tengah, dan 55 jemaat di Kota Ambon. Sesuai data terakhir medio tahun 2010, warga gereja di Klasis Pulau Ambon berjumlah 137.897 jiwa dari 32.044 kepala kelarga (KK) yang tersebar di 62 jemaat. Jumlah jiwa

(2)

terbesar ada di beberapa jemaat yakni jemaat Rehoboth, Passo, Galala, Halong, Latuhalat, Waai, dan Nehemia.

Berdasarkan database pelayanan khusus (pendeta) di Klasis GPM Pulau Ambon sesuai SK MPH Sinode GPM di Pulau adalah 124 orang, yang terdiri dari Pendeta Organik di kantor Klasis sebanyak 6 orang dan di jemaat sebanyak 118 orang.

4.1.1 KARAKTERISTIK JEMAAT-JEMAAT DALAM KLASIS GPM PULAU AMBON.

Hasil amatan selama penelitian dan telaah terhadap dokumen organisasi gereja berupa Rencana Strategi pelayanan (Renstra) yang tertuang di dalam Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan Gereja Protestan Maluku (PIP RIPP GPM) tahun 2005-2015 memperlihatkan karakteristik jemaat-jemaat dalam wilayah pelayanan Klasis Pulau Ambon yang unik. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dari kondisi kewilayahan Klasis GPM Pulau Ambon, yakni:

1) Keragaman Budaya. Dalam konteks kepulauan Maluku dan Maluku Utara, jemaat-jemaat GPM terstruktur di dalam suatu unit sub-kultur masing-masing.Jemaat-jemaat GPM adalah satu satuan budaya yang penting.Setiap negeri dan/atau jemaat-jemaat memiliki berbagai pranata, simbol budaya, carapandang masyarakat (tentang hidup, Tuhan, alam semesta atau keutuhan ciptaan TUHAN), bahasa, adat, dan pembauran antar-etnik yang berbeda.

Setiap jemaat tidak homogen.Setiap orang dengan latar belakang budaya dan status social hidup bersama dalam satu

(3)

jemaat. Kekayaan multikulturalisme (pembauran kebudayaan masyarakat di kawasan Lease, Ambon, Pulau Seram, Maluku Tenggara (Kei Besar dan Kei Kecil), Lemola, Babar, Kisar, Aru, Banda, Ternate, Sula, Tobelo, Bacan, Obi, Buru. Selain itu terdapat pula etnis Tionghoa, Jawa, Batak, Menado, Toraja, dan lainnya) Keragaman budaya telah lama menjadi ciri kebudayaan masyarakat di GPM. Tentu terdapat cara pandang kebudayaan yang berbeda antara satu jemaat dengan lainnya;

2) Keunikan Sistem Sosial. Di dalam kawasan kebudayaan tadi, hidup dan berkembang berbagai pranata sosial-budaya, ritus, simbol budaya masing-masing. Ide persaudaraan seperti pela-gandong, kaka-wait, larvul-ngabal, atau pranata kebudayaan yang berkaitan dengan fungsi pemeliharaan lingkungan dan keutuhan ciptaan seperti sasi, masohi, maren, babalu, sosoki, dapat menjadi kekuatan bagi gereja dalam mendorong pelayanan dalam perspektif ‘keluarga Allah’ dan

‘keutuhan ciptaan’. Kearifan lokal seperti persekutuan soa, mata rumah, Tiga Batu Tungku, mengandung nilai bersama yang penting; 3) Tipikal Komunitas, Keberadaan jemaat- jemaat di pulau Ambon, dengan tipikal masyarakat pegunungan dengan masyarakat pesisir, masyarakat pedesaan, perkotaan merupakan aspek penting lain yang terkait dengan tuntutan pengembangan karakter bergereja, berjemaat dan karakater pelayan gereja. Dimensi solidaritas sosial (koinonia) menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan, seiring dengan perkembangan sosial dan perubahan dalam relasi antar-masyarakat; 4) Kemajemukan

(4)

Sosial. Dalam konteks kemajemukan sosial, GPM di kawasan Klasis Pulau Ambon, bersentuhan langsung juga dengan komunitas dari agama yang lain. Maluku pasca konflik social tahun 1999 sudah seharusnya memelihara hubungan baik dituntut untuk berelasi dan berinteraksi dengan komunitas agama lain, termasuk denominasi lain, dan seluruh stakeholders dalam masyarakat; 5) Beragam tingkat Pendidikan & Jenis Pekerjaan Klasis Pulau Ambon, secara geografik terletak satu daratan dengan pemerintah Provinsi dan Kota Ambon. 60 % warga jemaat pada Klasis Pulau Ambon berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (guru, dosen, pegawai pemerintah kota dan provinsi, TNI dan polri). Selain itu juga sebagai pegawai swasta.40 % bekerja sebagai petani dan nelayan. Tingkat pendidikan warga jemaat rata-rata berpendidikan D3/S1/S2/S3 bahkan Profesor.

Dalam konteks itulah GPM diharuskan dapat memberikan jawaban terhadap kompleksitas permasalahan yang melingkupinya.

4.1.2 PROFIL PENDETA KLASIS GPM PULAU AMBON

Karakteristik kewilayahan tersebut diatas membutuhkan karakter pelayan khusus yang dapat beradaptasi dengan keunikan locus pelayanannya itu. Sinode GPM dalam rencana strateginya (PIP/RIPP GPM 2005 – 2015) telah memperlihatkan perubahan titik tolak strategi pelayanannya dengan memberi fokus perhatian dan pengembangan pada pemberdayaan jemaat untuk membentuk

(5)

Profil Gereja yang meliputi: Kapasitas Umat, Kapasitas pelayan dan Kapasitas Lembaga.

Kapasitas pelayan GPM diharapkan bisa membentuk para pelayan yang memiliki kesadaran panggilan (sense of calling) dan berkomitmen; memiliki kesadaran bergereja (sense of belonging) dan perhatian terhadap tugas bergereja;

meningkat kapasitas wawasan dan intelektualnya; mampu memimpin dan menggembalakan jemaat; memiliki kematangan moral-etis; mampu berteologi dalam konteks pelayanannya; berkesadaran sosial, politik dan demokrasi (melek politik); berwibawa serta menjaga integritas diri sebagai pelayan; memelihara persekutuan jemaat; berkesadaran oikumenis dan pluralis.

Berhadapan dengan konteks pelayanan klasis Pulau Ambon yang digambarkan di atas, maka seyogiayanya proses penempatan pendeta seharusnya memperhatikan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi locus seperti itu. BPH Sinode GPM dalam merencanakan Sumber Daya Manusia telah memperhatikan kualitas pendeta yang akan dimutasi pada klasis Pulau Ambon. Unsur-unsur yang diperhatikan dalam proses mutasi yang dilakukan BPH Sinode adalah, a) Keputusan penempatan berdasarkan kinerja dan kompetensi pendeta; b) penempatan berdasarkan lama senioritas (masa kerja lama di Sinode GPM).

Kinerja yang baik di barengi dengan masa kerja yang lama menjadi ukuran yang potensial bagi pendeta untuk di tempatkan di wilayah pelayanan (klasis Pulau Ambon) yang

(6)

memiliki karakteristik yang kompleks struktur sosialnya.Pertimbangan Sinode lebih didasarkan pada kesiapan dan kematangan pendeta dari sisi kemampuannya untuk melayani di wilayah yang kompleksitas pelayanannya tinggi.

4.2 Karakteristik Responden

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Gender Tabel 4.1

Responden Berdasarkan Gender

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Pria 47 51,1 51,1 51,1

Wanita 45 48,9 48,9 100,0 Total 92 100,0 100,0

Sumber data olah SPSS 2013

Responden dalam penelitian ini adalah 92 responden, yang terdiri dari 47 orang laki-lak dengan presentasi sebesar 51.1%

dan 45 orang perempuan sebesar 48,9%. Artinya responden dalam penelitian ini seimbang.

(7)

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 4.2

Responden Berdasarkan Usia

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid <30 1 1,1 1,1 1,1

31-40 6 6,5 6,5 7,6 41-50 61 66,3 66,3 73,9

>50 24 26,1 26,1 100,0 Total 92 100,0 100,0

Sumber data olah SPSS 2013

Berdasarkan data usia diatas maka diketahui bahwa sampel didominasi oleh Pendeta dengan usia 41-50 tahun dengan presentasi sebesar 66,3%, kemudian usia>50 tahun sebesar 26,1% , sisanya pada usia 31-40 tahun dan <30 tahun. Artinya usia rata-rata pendeta yang dijadikan sebagai responden adalah pendeta pada kisaran umur 41-50 tahun.

4.2.3Karakteristik Responden Berdasarkan Status perkawinan

Tabel 4.3

Responden Berdasarkan Status Perkawinan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Kawin 81 88,0 89,0 89,0

Belum 10 10,9 11,0 100,0 Total 91 98,9 100,0

Missing System 1 1,1 Total 92 100,0

Sumber data olah SPSS 2013

(8)

Berdasarkan data status perkawinan diatas maka diketahui bahwa sampel di dominasi oleh Pendeta yang sudah menikah sebanyak 81 dengan presentasi sebesar 88,9% dan yang belum menikah sebanyak 10 orang dengan presentasi sebanyak 10,9 %. Artinya, rata-rata pendeta yang dijadikan sebagai responden pada yang sudah kawin.

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Tabel 4.4

Responden Berdasarkan Masa Kerja

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid <5 thn 2 2,2 2,2 2,2

6-15 4 4,3 4,3 6,5 16-30 83 90,2 90,2 96,7

>31 3 3,3 3,3 100,0 Total 92 100,0 100,0

Sumber data olah SPSS 2013

Berdasrkan data di atas, sampel yang berada pada masa kerja 16-30 tahun presetasi sebesar 90,2 %, 6-15 tahun sebesar 4,3% , >31 tahun sebesar 3.3% dan <5tahun sebesar 2,2%. Artinya, rata-rata pendeta yang dijadikan sebagai responden pada masa kerja yang berkisar antara 16-30 tahun.

(9)

4.2.5KarakteristikResponden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 4.5

Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid D3 13 14,1 14,1 14,1

S1 72 78,3 78,3 92,4 S2 7 7,6 7,6 100,0 Total 92 100,0 100,0

Sumber data olah SPSS 2013

Berdasarkan data di atas, sampel yang berada pada tingkat pendidikan yaitu pada tingkat S1 sebesar 78,3 %, D3 sebesar 14,1% dan S3 sebesar 7,6 % , Artinya, rata-rata pendeta yang dijadikan sebagai responden pada tingkat pendidikan adalah S1.

4.3. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan karakterisitik data tanpa membuat satu kesimpulan.Tepatnya untuk mengetahui distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah dikumpulkan.Distribusi frekuensi diperoleh dari hasil tabulasi skor jawaban responden. Berikut ini adalah hasil analisis statistik deskriptif variabel penelitian dasar interpretasi rata- rata skor item dalam variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

Tabel 4.6

Dasar Interpretasi Skor Item Dalam Variabel Penelitian

No Nilai/Skor Interpretasi

1.

2.

3.

4.

5.

1,00 s/d 1,80 1,81 s/d 2,60 2,61 s/d 3,40 3,41 s/d 4,20 4,21 s/d 5,00

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Sumber: Data primer yang diolah, 2013

4.3.1.VariabelSelf Efficacy (X1)

Distribusi frekuensi variabel self efficacy (X1) terdiri dari 3 indikator dan terbagi dalam 10 item pertanyaan. Distribusi frekuensi indikator dan item pada variabel self efficacy (X1) disajikan pada Tabel 4.3 berikut :

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Indikator dan Item Self Efficacy

No Indikator Presentase (%)

Mean 1 2 3 4 5 1 Pengalaman keberhasilan (mastery experiences)

keberhasilan dirinya sendiri - 1,1 17,4 54,3 27,2 4,08 Keberhasilan bersama orang

lain - - 43,5 44,6 12,0 3,68 Keberhasilan didukung oleh

lingkungan - 9,8 5,4 66,3 18,5 3,93 2 Pengalaman orang lain (vicarious experiences)

Keberhasilan yang mirip

dengan orang lain 5,4 6,5 43,5 44,6 - 3,27 Keberhasilan dari

pengetahuan - 1,1 17,4 54,3 27,2 4,08 Keberhasilan sebagai

dukungan dalam - - 43,5 44,6 12,0 3,68

(11)

lingkungan

3 Pesuasi sosial (social persuation) Keberhasilan berdasarkan

informasi yang diterima - 1,1 18,5 53,3 27.2 4,07 Keberhasilan karena

keadaan fisiologis dan emosional

- - 18,5 54,3 27,2 4,09

Keberhasilan sebagai akibat

dari adanya ketegangan - - 41,3 46,7 12,0 3,71 Keberhasilan sebagai bagian

dari keluhan lingkungan - - 19,6 56,5 23,9 4,04 Self Efficacy 0,5 2 26,8 52 18,7 3,86 Sumber: Data primer diolah, 2013

Keseluruh item pada variabel self efficacy didapatkan nilai rata-rata item yang paling rendah adalah keberhasilan yang mirip dengan orang lain (X1.4) sebesar 3,27, dan yang tertinggi adalah item keberhasilan dirinya sendiri (X1.1) sebesar 4,08 serta keberhasilan dari pengetahuan yang ada (X1.5) sebesar 4,08.

Berdasarkan distribusi frekuensi jawaban responden, dari 3 indikator, ternyata indikator keberhasilan dari adanya persuasi sosial mempunyai rata-rata tertinggi sebesar 3,97 dan yang terendah adalah keberhasilan berdasarkan pengalaman orang lain sebesar 3,67. Dari 3 indikator ternyata masing-masing indikator mempunyai nilai rata-rata di atas 3,4. Menurut kriteria penilaian skor item, nilai rata-rata variabel self efficacy adalah sebesar 3,86 dan berada pada

(12)

bagian tingkatan yang tinggi sehingga bisa dikatakan bahwa self efficacy dari pendeta GPM bisa dikatakan tinggi.

Secara umum nilai rata-rata pada variabel self efficacy termasuk kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 3,86.

Namun jika melihat frekuensi, masih ditemukan beberapa responden yang menjawab netral.Hal ini mengindikasikan tinbgkat yang tinggi dari self efficacy belum sepenuhnya merupkan bagian dari keberhasilan diri sendiri.

4.3.2.VariabelSocial Support (X2)

Distribusi variabel social support (X2) terdiri dari 5 indikator dan terbagi menjadi 10 item pertanyaan. Distribusi frekuensi indikator dan item pada variabel social support (X2) disajikan pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Indikator dan Item Social Support

No Indikator Presentase (%)

Mean 1 2 3 4 5 1 Dukungan emosional

Perhatian karena rasa

empati 1,1 3,3 19,6 53,3 22,8 3,93 Perhatian karena

kepercayaan yang diberikan - - 8,7 63 28,3 4,20 2 Dukungan penghargaan

Penghargaan untuk diri

sendiri - - 8,7 66.3 25 4,16

Penghargaan

membandingkan dengan orang lain

- 12 2,2 66,3 19,6 3,93

3 Dukungan instrumental

(13)

Dukungan dari lokasi

pelayanan - - 9,8 66,3 23,9 4,14 Dukungan dari rekan-rekan - 14,1 4,3 63 18,5 3,86 4 Dukungan informasi

Dukungan dari feedback

pelayanan - - 18,5 57,6 23,9 4,05 Dukungan dari empati

berinteraksi - - 8,7 59,8 31,5 4,23 5 Dukungan jaringan social

Kondisi pelayanan yang

mendukung - - 10,9 63 26,1 4,15 Dukungan dari interaksi

sosial - - 42,4 44,4 13 3,71

Social Support 0,1 2,9 13,4 60,3 23,3 4,03 Sumber: Data primer diolah, 2013

Keseluruhan item pada variabel social support didapatkan nilai rata-rata item yang paling rendah adalah adalah dukungan yang didapat dari berinteraksi dalam kegiatan sosial (X2.10) sebesar 3,71 dan yang tertinggi adalah item dukungan dari empati ketika berinteraksi (X2.8) sebesar 4,20.

Berdasarkan distribusi frekuensi jawaban responden dari 5 indikator variabel social support, ternyata indikator yang mempunyai rata-rata terkecil ternyata indikator dukungan jaringan sosial sebesar 3,71 dan yang tertinggi adalah indikator dukungan informasi. Dari 5 indikator ternyata masing-masing indikator mempunyai rata-rata diatas 3,4.

Menurut kriteria penilaian skor item, rata-rata variabel social support berada pada tingkatan nilai yang tinggi sehingga bisa

(14)

dikatakan bahwa dalam pelayanan pendeta dipengaruhi oleh tingkat social supportyang tinggi dalam pelayanannya.

4.3.3.Variabel Burnout (Z)

Distribusi frekuensi variabel burnout (Z) terdiri dari 3 indikator dan terbagi menjadi 9 pertanyaan. Distribusi frekuensi indikator dan item pada variabel burnout (Z) disajikan pada Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Indikator dan Item Burnout

No Indikator Presentase (%)

Mean 1 2 3 4 5 1 Karakteristik individu

Faktor demografi 1,1 3,3 17,4 53,3 25 3,98 Faktor perfeksionis 2,2 1,1 13 58,7 25 4,03 Harapan yang ada - - 7,6 63 29,3 4,22 2 Lingkungan kerja

Beban kerja - - 8,7 66,3 25 4,16 Ambiguitas peran - 12 1,1 66,3 20,7 3,96 Keterlibatan emosional - - 9,8 66,3 23,9 4,14 3 Interaksi lingkungan sosial

Dukungan dari rekan

pelayanan - 12 4,3 53,3 30,4 4,02 Frustasi akibat

berhubungan dengan orang lain

- - 18,5 56,5 25 4,07

Ketakutan terhadap keadaan kritis pelayanan dalam masyarakat

- - 8,7 58,7 32,6 4,24

Burnout 0,4 3,1 9,9 60,3 26,3 4,09 Sumber: Data primer diolah, 2013

(15)

Keseluruhan item pada variabel burnout didapatkan nilai rata-rata item yang paling rendah adalah ambigiusitas peran (Z5) sebesar 3,96, dan yang paling tertinggi adalah item ketakutan terhadap keadaan kritis pelayanan dalam masyarakat (Z9) sebesar 4,24.

Berdasarkan distribusi frekuensi jawaban responden, dari 3 indikator variabel burnout, masing-masing indikator mempunyai nilai rata-rata diatas 3,4. Menurut kriteria penilaian item, rata-rata skor item atau nilai variabel burnout sebesar 4,09 dan berada pada tingkatan nilai yang tinggi, sehingga bisa dikatakan bahwa pendeta sebagai pelayanan di GPM cenderung relatif tinggi mengalami burnout dalam pekerjaannya sebagai pimpinan jemaat.

4.3.4.VariabelIndividual Performance (Y)

Distribusi variabel individual performance (Y) terdiri dari 5 indikator dan terbagi menjadi 10 item pertanyaan. Distribusi frekuensi indikator dan item pada variabel individual performance (Y) disajikan pada Tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.10

Distribusi Frekuensi Indikator dan Item Individual Performance

No Indikator Presentase (%)

Mean 1 2 3 4 5 1 Kemampuan diri sendiri

Tingkat pengetahuan - 1,1 41,3 45,7 12 3,68 Tingkat interaksi 1,1 6,5 34,8 46,7 10,9 3,60 2 Motivasi

Internal - 1,1 18,5 52,2 28,3 4,08 Eksternal - 1,1 17,4 54,3 27,2 4,08

(16)

3 Dukungan yang diterima

Pihak gereja 1,1 14,1 23,9 56,5 4,3 3,49 Pihak keluarga - - 9,8 63 27,2 4,17 4 Keberadaan dalam pelayanan

Ukuran dan penghargaan

dari kinerja pelayanan - - 40,2 45,7 14,1 3,74 Ukuran dan penghargaan

terhadap kualitas pelayanan - - 17,4 55,4 27,2 4,10 5 Hubungan dengan lingkungan pelayanan

Hubungan dengan rekan-

rekan pelayanan - 1,1 38 46,7 14,1 3,74 Hubungan dengan dalam

masyarakat - 6,5 42,4 39,1 12 3,57 Individual Performance 0,2 3.1 28,4 50,5 17,7 3,83 Sumber: Data primer diolah, 2013

Keseluruhan item pada variabel individual performance didapatkan nilai rata-rata item yang paling rendah adalah adalah dukungan yang didapat dari pihak gereja (Y7) sebesar 3,49 dan yang tertinggi adalah item dukungan yang diterima dari pihak keluarga (Y8) sebesar 4,17.

Berdasarkan distribusi frekuensi jawaban responden dari 5 indikator variabel individual performance (Y), ternyata indikator yang mempunyai rata-rata terkecil ternyata indikator hubungan dengan lingkungan pelayanan sebesar 3,65 dan yang tertinggi adalah indikator motivasi sebesar 4,08. Dari 5 indikator ternyata masing-masing indikator mempunyai jumlah rata-rata nilai mean sebesar 3,83. Menurut kriteria penilaian skor item, rata-rata variabel individual performance (Y) berada pada tingkatan nilai yang tinggi sehingga bisa

(17)

dikatakan bahwa kinerja individu sangat tinggi dalam menunjang peran pendeta dalam pelayanannya.

4.4. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data 4.4.1.Uji Validitas

Validitas data menunjukan tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi objek pengukuran yang dilakukan dengan instrumen penelitian tersebut.Jika suatu item pernyataan dinyatakan tidak valid, maka item pernyataan itu tidak dapat digunakan dalam uji-uji selanjutnya. Hasil uji validitas di dapat dari nilai correted item total correlation > dari rtabel (0,172), dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.11 Hasil Validitas Data

Variabel Indikator

Corrected Item Total Correlation

(r hitung)

Keterangan

Self Efficacy (X1)

X1.1 0,754 Valid X1.2 0,765 Valid X1.3 0,292 Valid X1.4 0,248 Valid X1.5 0,754 Valid X1.6 0,765 Valid X1.7 0,432 Valid X1.8 0,753 Valid X1.9 0,777 Valid X1.10 0,246 Valid

X2.1 0,603 Valid

(18)

Social Support (X2)

X2.2 0,555 Valid X2.3 0,696 Valid X2.4 0,401 Valid X2.5 0,714 Valid X2.6 0,600 Valid X2.7 0,463 Valid X2.8 0,530 Valid X2.9 0,240 Valid X2.10 0,304 Valid

Burnout (Z)

Z1 0,670 Valid

Z2 0,335 Valid

Z3 0,580 Valid

Z4 0,747 Valid

Z5 0,391 Valid

Z6 0,752 Valid

Z7 0,481 Valid

Z8 0,557 Valid

Z9 0,546 Valid

Individual Performance

(Y)

Y1 0,721 Valid

Y2 0,207 Valid

Y3 0,610 Valid

Y4 0,488 Valid

Y5 0,376 Valid

Y6 0,607 Valid

Y7 0,821 Valid

Y8 0,642 Valid

Y9 0,331 Valid

Y10 0,765 Valid

(19)

4.4.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan dengan menghitung nilai cronbach alpha.Berdasarkan hasil uji reliabilitas tampak dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa angket yang digunakan reliabel dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.

Tabel 4.12 Reliabilitas Item

Variabel

Nilai Cronbach

Alpha

Keterangan

Self Efficacy

(X1) 0,753 Reliabel

Social Support

(X2) 0,738 Reliabel

Burnout

(Z) 0,748 Reliabel

Individual Performance

(Y) 0,749 Reliabel

Sumber: data primer yang diolah, 2013

4.4.3 Hasil Pengujian Asumsi Linearitas

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur (path analysis).Metode jalur (path analysis) memiliki beberapa persyaratan asumsi yang harus dipenuhi di antaranya adalah linearitas dan normalitas data peneltian.Oleh karena itu, terlebih dahulu perlu dilakukan pengujian terhadap ketiga hal tersebut agar persyaratan asumsi dalam path analysis (analisis jalu) terpenuhi.

(20)

4.4.4 Uji Linearitas

Uji linearitas adalah uji yang menyatakan bahwa hubungan antara variabel independen dan dependen, untuk setiap persamaan regresi linear (Santosa dan Ashari, 2005).Uji liniearitas ini menggunakan uji langrage multiplier. Dilakukan dengan meregresikan variabel independen dengan nilai residual persamaannya untuk memperoleh χ2 hitung (n x R2) yang akan dibandingkan dengan χ2 tabel. Asumsi linearitas kan terpenuhi jika χ2 hitung kurang dari χ2 tabel. Dan hasil pengujian linearitas disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.13

Hasil Pengujian Linieritas

Persamaan Χ2 hitung X2 tabel Kesimpulan

Pertama 80,68 87,70 Linearitas terpenuhi

Kedua 64,67 70,30 Linearitas terpenuhi Sumber: data primer diolah, 2013

4.4.5 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel penggangu atau residual memiliki distribusi normal.Uji normalitas bisa dilakukan dengan analisis grafik dan uji statistik.Adapun dalam penelitian ini menggunakan uji statistik dan uji grafik.Uji statistik dan uji grafik dilakukan secara bersama-sama karena uji normalitas dengan grafik bisa saja menyesatkan, bila tidak hati-hati

(21)

grafik secara visual bisa terlihat normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Dan hasil pengujian normalitas data pada penelitian dengan menggunakan uji kolmogrof Smirnov (Liliefors), ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.14

Hasil Pengujian Normalitas Data

Jalur Liliefors

hitung Sig. Keterangan

X1 dan X2 terhadap Z X1, X2, dan Z terhadap Y

0,739 1,041

0,646 0,229

Normal Normal

Sumber: Data primer diolah, 2013

Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa sig. Masing- masing jalur yang akan diuji lebih besar dibandingkan α sebesar 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini menyebar normal.

Uji normalitas grafik dilakukan dengan melihat penyebaran data disekitar garis regresi.Apabila data hasil survey yang dilakukan penyebarannya ada disekitar garis regresi, maka data dikatakan berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas terpenuhi dan data dapat digunakan dalam analisis lanjutan. Hasil pengujian dengan bantuan software SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 20.0 menampilkan grafik Normal Probability Plot berikut ini.

(22)

Gambar 4.1 Uji Grafik Normalitas

4.5 Analisis Jalur dan Hasilnya

Perhitungan analisis path pada penelitian ini dengan menggunakan bantuan software SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 20.0 for windows.

4.5.1.Pengaruh Self Efficacy (X1) dan Sosial Support (X2) Terhadap Burnout (Z)

Hasil analisis path pengaruh self efficacy (X1) dan social support (X2) terhadap burnout (Y) disajikan pada tabel berikut:

(23)

Tabel 4.15

Hasil Analisis Path Pengaruh Self Efficacy (X1) dan Social Support (X2) Terhadap Burnout (Z)

Variabel Eksogen

Standardzed Coefficient

Beta

t hitung

t

tabel Sig. Keterangan

X1 X2

1,053 -0,234

23,083 -5,133

1,662 1,662

0,000 0,000

Signifikan Signifikan Variabel endogen : Z

R : 0,937 Adjusted

R Square : 0,875 Sumber: Data primer diolah, 2013

Nilai Adjusted R Square sebesar 0,875 atau 87,5%

menunjukan bahwa variabel Self Efficacy (X1) dan Social Support (X2) memberikan kontribusi terhadap burnout (Z) sebesar 87,5%. Sedangkan sisanya yaitu 22,5% merupakan kontribusi dari variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian ini.

Hasil pengujian secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy (X1) mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 1,053. Nilai t hitung yang diperoleh sebesar 23,083 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 1,662 atau sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan α sebesar 0,05 sehingga menunjukan bahwa variabel self efficacy (X1) signifikan berpengaruh terhadap burnout (Z).

Variabel social support (X2) mempunyai pengaruh negatif dengan nilai koefisien path sebesar -0,234. Nilai t hitung yang diperoleh sebesar -5,697 lebih besar dibandingkan t tabel

(24)

sebesar –1,662 atau sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan α sebesar 0,05. Menunjukan bahwa variabel social support (X2) signifikan berpengaruh terhadap burnout (Z).

4.5.2.Pengaruh Self Efficacy (X1), Sosial Support (X2) dan Burnout (Z) Terhadap IndividualPerformance (Y)

Hasil analisis path pengaruh self efficacy (X1), social support (X2) dan burnout (Y) terhadap individual performance (Y) disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.16

Hasil Analisis Path Pengaruh Self Efficacy (X1), Social Support (X2) dan Burnout (Z) Terhadap Individual

Performance (Y)

Variabel Eksogen

Standardzed Coefficient

Beta

t hitung

t

tabel Sig. Keterangan

X1 X2 Z

0,874 0,601 -0,872

4,628 7,393 -5,252

1,662 1,662 1,662

0,000 0,000 0,000

Signifikan Signifikan Signifikan Variabel endogen : Y

R : 0,838 Adjusted

R Square : 0,693

Nilai Adjusted R Square sebesar 0,693 atau 69,3%

menunjukan bahwa variabel Self Efficacy (X1), Social Support (X2) dan burnout (Z) secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap individual performance (Y) sebesar 69,3%.

(25)

Sedangkan sisanya yaitu 30,7% merupakan kontribusi dari variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian ini.

Variabel self efficacy (X1) mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 0,874. Nilai t hitung yang diperoleh sebesar 4,628 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 1,662 atau sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan α sebesar 0,05 sehingga menunjukan bahwa variabel self efficacy (X1) signifikan secara parsial berpengaruh terhadap individual performance (Y).

Variabel social support (X2) mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 0,601. Nilai t hitung yang diperoleh sebesar 5,697 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 1,662 atau sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan α sebesar 0,05. Menunjukan bahwa variabel social support (X2) signifikan secara parsial berpengaruh terhadap individual performance (Y).

Variabel Burnout (Z) mempunyai pengaruh negatif dengan nilai koefisien path sebesar -0,872. Nilai t hitung yang diperoleh sebesar -5,252 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar -1,662 atau sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan α sebesar 0,05. Menunjukan bahwa variabel Social Support (X2) signifikan secara parsial berpengaruh terhadap individual performance (Z).

(26)

4.5.3. Pengaruh langsung Tidak Langsung dan Total Variabel Self Efficacy (X1), Sosial Support (X2) Terhadap Individual Performance (Y) Melalui Burnout (Z)

Melalui hasil analisis path pada tabel dapat diketahui pengaruh tidak langsung variabel Variabel Self Efficacy (X1), Sosial Support (X2) Terhadap Individual Performance (Y) melalui Burnout (Z).

Pengaruh tidak langsung, variabel self efficacy (X1) terhadap individual performance (Y) melalui burnout (Z) sebesar:

P6 = p1 x p5 = (1,053) x (-0,872) = -0,918

Hal ini berarti pengaruh tidak langsung self efficacy (X1) terhadap individual performance (Y) melalui variabel burnout (Z) sebesar -0,918.

Pengaruh tidak langsung, variabel social support (X2) terhadap individual performance (Y) melalui burnout (Z) sebesar:

P7 = p2 x p5 = (-0,234) x (-0,872) = 0,204

Hal ini berarti pengaruh tidak langsung social support (X2) terhadap individual performance (Y) melalui variabel burnout (Z) sebesar 0,204

Persamaan path yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

Z = 1,053 X1 + (-0,234) X2

Y = 0,874 X1 + 0,601 X2 + (-0,872) Z

(27)

Model hubungan antar variabel (diagram jalur) yang dihasilkan pada penelitian ini digambarkan pada Gambar 4.2 berikut:

0,874

1,053

-0,872

-0,234

0,601

Gambar 4. 2 Hasil Analisis Jalur

Analisis pengaruh langsung (direct effect), pengaruh tak langsung (indirect effect), dan pengaruh total (total effect) antar variabel dalam model digunakan untuk membandingkan besarnya pengaruh setiap variabel.Pengaruh langsung adalah koefisien dari semua garis koefisien dengan anak panah satu ujung, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah efek yang muncul melalui sebuah variabel antara (intervening variabel).

Pengaruh total adalah pengaruh dari berbagai hubungan.

X1 `

X2

Z Y

(28)

Hasil uji pengaruh langsung, tidak langsung dan total disajikan pada Tabel 4.11 berikut:

Tabel 4.17

Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, Total antar Variabel Selff Efficacy, Social Support terhadap Individual

Performance melalui Burnout

Variabel Eksogen

Variabel Endogen

Pengaruh Perbandingan

Efek

Keterangan Langsung Tidak

langsung Total

X1 Z -0,234 0

-

0,234 DE = TE Signifikan X2 Z 1,053 0 1,053 DE = TE Signifikan

X1 Y 0,874 -0,918

-

0,044 DE > TE

Tidak Signifikan X2 Y 0,601 0,204 0,805 DE < TE Signifikan

Z Y -0.872 0

-

0,872 DE = TE Signifikan

Tabel menunjukan bahwa terdapat jalur yang tidak signifikan yaitu variabel self efficacy terhadap individual performance melalui burnout, dikarenakan pengaruh total lebih kecil dari pengaruh langsung. Artinya, burnout sebagai variabel intervening tidak memperkuat pengaruh variabel self efficacy sebagai variabel eksogen terhadap individual performance.Sedangkan, total pengaruh variabel social support lebih besar dari pengaruh langsungnya.Artinya, burnout sebagai variabel intervening memperkuat pengaruh self efficacy terhadap individual performance.

(29)

Berdasarkan teori triming, maka jalur-jalur yang tidak signifikan dibuang.Sehingga diperoleh model yang didukung oleh data empirik.Hasil uji menunjukan terdapat satu jalur yang tidak signifikan yaitu pengaruh variabel self efficacy terhadap individual performance melalui burnout.Maka, jalur ini tidak dipakai dalam model selanjutnya.

4.6 Hasil Pengujian Hipotesis

Hipotesis 1 “adanya pengaruh self efficacy terhadap burnout”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 1,053. Nilai sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan nilai alpha sebesar 0,05 menunjukan bahwa self efficacy signifikan berpengaruh positif terhadap burnout. Dengan demikian, disimpulkan bahwa self efficacy dari seorang pendeta dapat mempengaruhi adanya burnout.

Artinya, kepercayaan diri yang terlalu tinggi dari seorang pendeta akan mempengaruhi terjadinya burnout pada dirinya.

Hipotesis 2 “adanya pengaruh social support terhadap burnout”. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support mempunyai pengaruh negatif dengan nilai koefisien path sebesar -0,234. Nilai sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan nilai alpha sebesar 0,05 menunjukan bahwa social support signifikan berpengaruh negatif terhadap burnout. Dengan demikian, disimpulkan bahwa semakin menurun atau berkurang dukungan sosial yang diberikan

(30)

kepada seorang pendeta dapat mempengaruhi adanya burnout pada pendeta GPM. .

Hipotesis 3 “adanya pengaruh self efficacy terhadap individual performance”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 0,874. Nilai sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan nilai alpha sebesar 0,05 menunjukan bahwa self efficacy signifikan berpengaruh positif terhadap individual performance. Dengan demikian, disimpulkan bahwa kinerja seorang pendeta dalam pelayanannya dipengaruhi oleh self efficacy yang ada dalam dirinya.Semakin meningkat self efficacy pada diri pendeta maka semakin meningkat pula individual performance dalam pelayanannya.

Hipotesis 4 “adanya pengaruh social support terhadap individual performance”. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support mempunyai pengaruh positif dengan nilai koefisien path sebesar 0,601. Nilai sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan nilai alpha sebesar 0,05 menunjukan bahwa social support signifikan berpengaruh positif terhadap individual performance. Dengan demikian, disimpulkan kinerja seorang pendeta dalam pelayanannya dipengaruhi oleh social support.Semakin meningkat dukungan sosial yang diberikan terhadap pendeta semakin tinggi pula individual performance dalam pelayanannya.

Hipotesis 5 “adanya pengaruh burnout terhadap individual performance”. Hasil uji secara parsial menunjukan

(31)

bahwa variabel burnout mempunyai pengaruh negatif dengan nilai koefisien path sebesar -0,872. Nilai sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan nilai alpha sebesar 0,05 menunjukan bahwa burnout signifikan berpengaruh negatif terhadap individual performance. Dengan demikian, disimpulkan bahwa kinerja seorang pendeta (individual performance) dalam pelayanannya dipengaruhi oleh burnout.Semakin menurunnya individual performance seorang pendeta kemungkinan adanya pengaruh burnout yang terjadi dalam dirnya.

Hipotesis 6 “adanya pengaruh self efficacy secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout”.

Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy tidak berpengaruh secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout, dimana total pengaruh lebih kecil dari pengaruh langsung. Dengan demikian, disimpulkan burnout tidak memperkuat adanya pengaruh self efficacy seorang pendeta terhadap individual performance dalam pelayanannya.

Hipotesis 7 “adanya pengaruh social support secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout”. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support berpengaruh secara tidak langsung dan signifikan terhadap individual performance melalui burnout sebesar P6 = p1 x p5 = (-0,234) x (-0,872) = 0,204, dimana total pengaruh lebih besar dari pengaruh langsung. Dengan demikian, disimpulkan burnout memperkuat hubungan

(32)

pengaruh yang terjadi antara social suppport secara tidak langsung dengan individual performance.

4.7. Pembahasan dan Analisis

4.7.1 Pengaruh Self Efficacyterhadap Burnout.

Hasil pengujian hipotesis diatas membuktikan bahwa

“adanya pengaruh self efficacy terhadap burnout”. Dengan demikian, disimpulkan bahwa self efficacy dari seorang pendeta dapat mempengaruhi adanya burnout. Artinya, kepercayaan diri yang tinggi dari seorang pendeta akan mempengaruhi kemampuannya untuk menghadapi burnout pada dirinya.Pendeta dalam kapasitasnya sebagai pelayan tidak saja dipandang sebagai pemimpin dalam jemaat tetapi juga menyandang status sebagai “pemimpin spiritual”. Dalam status itu, ia (pendeta) dianggap sebagai seorang manusia yang mampu mengatasi dan mengelola konflik didalam jemaat.

Temuan ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Caputo (1971) ia mengemukakan pendapat melalui kajiannya bahwa individu menjadi burnout apabila individu itu tidak berupaya untuk menghadapi tekanan kerja ataupun kehidupan pribadi dengan sebaik mungkin.

Sebagai pelayan jemaat, sang pendeta harus mampu menguasai dirinya agar tantangan yang ia hadapi dalam tanggungjawab memimpin jemaat dapat ia atasi.

Permasalahan yang dialami harus dikelola secara bijaksana

(33)

karena kehadirannya bagi jemaat adalah solusi terhadap persoalan jemaat.

4.7.2 Pengaruh Social Suport terhadap Burnout.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan bahwa

“adanya pengaruh social support terhadap burnout”. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support mempunyai pengaruh negatif .Dengan demikian, disimpulkan bahwa semakin menurun atau berkurang dukungan sosial yang diberikan kepada seorang pendeta dapat mempengaruhi adanya burnout pada seorang pendeta.

Temuan ini diperkuat dengan pandangan Lieberman (1992) bahwa secara teoritis social support dapat menurunkan kecenderungan munculnya kejadian yang dapat mengakibatkan stress. Apabila kejadian tersebut muncul, interaksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau mengubah persepsi individu pada kejadian tersebut dan oleh karena itu akan mengurangi potensi munculnya stress.

Sejalan dengan pandangan Lieberman dapat diungkapkan bahwa terlepas dari statusnya sebagai pemimpin spiritual, seorang pendeta juga adalah sama dengan jemaat yang lain (pendeta juga adalah manusia biasa), ia butuh dukungan bukan saja dari lingkaran terdekat dari dirinya (istri dan anak-anak dan keluarga terdekatnya) tetapi juga support dari anggota jemaatnya. Dalam konstitusi Gereja Protestan Maluku, pendeta bersama jemaat melakukan program-program jemaat yang dirumuskan dan diputuskan

(34)

dalam Persidangan Jemaat dalam rentang waktu 1 tahun pelayanan.Perdeta bersama Majelis Jemaat memiliki tanggungjawab utama untuk melakukan kegiatan pelayanan berdasarkan keputusan Persidangan Jemaat.Untuk itu pendeta memiliki tanggungjawab besar untuk merealisasikan program jemaat.Dalam realitasnya ada program-program yang tidak terealisasi, hal ini menjadikan pendeta sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk memberi jawab atas pertanyaan jemaat.pada perspektif ini jika dukungan jemaat atau lingkungan terdekat pendeta tidak maksimal maka besar kemungkinan pendeta juga akan mengalami burnout.

4.7.3 Pengaruh Self Efficacy terhadapIndividual Performance.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan bahwa

“adanya pengaruh self efficacy terhadap individual performance”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy mempunyai pengaruh positif.Dengan demikian, disimpulkan bahwa kinerja seorang pendeta dalam pelayanannya dipengaruhi oleh self efficacy yang ada dalam dirinya.Semakin meningkat self efficacy pada diri pendeta maka semakin meningkat pula individual performance dalam pelayanannya.

Temuan ini diperkuat melalui hasil penelitian Bandura (dalam Landry, 2003) yang menyatakan bahwa self efficacy merupakan kunci bagi keberadaan manusia. Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi akan memiliki kinerja yang

(35)

sangat diharapkan (memiliki motivasi kuat dan tujuan yang jelas)

Optimisme untuk menunjukkan kinerja yang baik dalam berkarya di jemaat adalah modal utama seorang pendeta.Dalam konteks jemaat pada klasis Pulau Ambon yang kompleks (keragaman budaya dan tingkat intelektualitas yang tinggi) membutuhkan kualifikasi pendeta yang tinggi pula (tingkat pendidikan dan pengalaman berjemaat). MPH Sinode GPM, dalam proses mutasi pendeta untuk ditugaskan dijemaat pulau Ambon telah menetapkan kriteria, seperti kapastitas, integritas dan masa tugas yang panjang di wilayah-wilayah GPM. Karena itu pendeta yang melakukan tanggungjawab di wilayah pelayanan klasis pulau Ambon adalah pendeta yang memiliki self efficacy yang memadai.

Rasa percaya diri yang tinggi menjadi modal berharga untuk seorang pendeta memulai tanggungjawab pelayanan di jemaat.Rasa percaya diri yang dimaksudkan adalah kesadaran diri yang dikontrol oleh seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang panjang yang telah dialami pendeta. Dengan demikian optimisme yang dibangun adalah kemampuan diri bahwa ia mampu menjalani tanggungjawab untuk menunaikan peran managerial dan pastoral di tengah jemaat.

4.7.4 Pengaruh Social Suport terhadap Individual Performance.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan bahwa

“adanya pengaruh social support terhadap individual

(36)

performance”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support mempunyai pengaruh positif.Dengan demikian, disimpulkan kinerja seorang pendeta dalam pelayanannya dipengaruhi oleh social support.Semakin meningkat dukungan sosial yang diberikan terhadap pendeta semakin tinggi pula individual performance dalam pelayanannya.

Temuan ini diperkuat dengan hasil penelitian dari Buhnis, dkk dalam Erni (1995) yang mengemukakan dua alasan penting keberadaan dukungan sosial. Pertama, individu membutuhkan bantuan orang lain bilamana tujuan atau aktivitas pekerjaan demikian luas dan kompleks sehingga tidak dapat menyelesaikan sendiri. Kedua, hubungan antara karyawan mempunyai nilai sebagai tujuan yaitu pekerjaan yang menuntut hubungan saling membantu.

Dalam Tata Gereja GPM Bab I Pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa Majelis Jemaat (Pendeta, Penatua dan Diaken) adalah Pelaksana Harian Majelis Jemaat yang berfungsi memimpin, mengarahkan pelayanan gereja, memperlengkapi warga jemaat, dan yang mewakili Jemaat berdasarkan Tata Gereja, Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Gereja Protestan Maluku. Artinya bahwa pendeta tidak bekerja sendiri untuk memimpin jemaat. Tangungjawab pelayanan adalah tanggungjawab kolektif kolegial. Kinerja pendeta ditengah jemaat sangat ditentukan dari kemampuannya untuk mensinergikan seluruh potensi di dalam Majelis Jemaat.

(37)

Dalam konteks jemaat pada klasis pulau Ambon yang heterogen, pendeta seyogianya bekerja di dalam team work.Keberhasilannya di jemaat tidak dapat diraih dengan bekerja secara individual. Ukuran kinerjanya ditentukan dari kepiawainnya mendistribusi tanggungjawab dan melakukan fungsi kontrol atas tiap tugas yang didelegasikan. Model kinerja seperti itu dengan sendirinya akan menuai dukungan bukan saja dari penatua dan diaken tetapi juga, mendapat sambutan dari anggota jemaat.

4.7.5 Pengaruh Burnout terhadap Individual Performance.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan “adanya pengaruh burnout terhadap individual performance”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel burnout mempunyai pengaruh negatif.Dengan demikian, disimpulkan bahwa kinerja seorang pendeta (individual performance) dalam pelayanannya dipengaruhi oleh burnout.Semakin menurunnya individual performance seorang pendeta kemungkinan adanya pengaruh burnout yang terjadi dalam dirinya.

Dalam konteks Klasis Pulau Ambon yang heterogen selain berdampak positif bagi pendeta yang bertugas juga mendatangkan efek negatif bagi para pendeta yang melayani di jemaat tersebut. Pendeta dengan individual performance yang menurun diakibatkan oleh cara pandangnya dalam memandang masalah. Memulai tugas di jemaat yang beragam permasalahan dan di lingkupi oleh karakteristik jemaat yang maju kualitas inteketualnya dituntut dari tiap pendeta untuk

(38)

terus melengkapi pengetahuannya setiap waktu.Pengalaman dan lama tugas bukan satu-satunya syarat untuk mampu mengatasi tiap masalah berjemaat. Karenanya pendeta yang tidak mengupgrade pengetahuannya akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan pelayanannya. Imbas dari individual performance yang rendah akan memicu rendahnya kualitas kerja (rendah kinerja).

4.7.6 Pengaruh Self Efficacy secara tidak langsung terhadap Individual Performance melalui Burnout.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan “adanya pengaruh self efficacy secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout”. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel self efficacy tidak berpengaruh secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout, dimana total pengaruh lebih kecil dari pengaruh langsung. Dengan demikian, disimpulkan burnout tidak memperkuat adanya pengaruh self efficacy seorang pendeta terhadap individual performance dalam pelayanannya.

Artinya, self efficacy parallel dengan individual performance. Efikasi diri yang tinggi dalam konteks penelitian ini menjamin meningkatnya individual performance.Kinerja pendeta yang tinggi adalah muara dari efikasi diri atau kemampuan pendeta untuk beradaptasi dengan dinamika lingkungan kerjanya.Tantangan dan dinamika kerja tidak menjadikan pendeta larut didalamnya, justru turbulence

(39)

lingkungan kerja dipandang sebagai bagian dari tanggungjawab untuk mengelola konflik dan masalah sebagai peluang untuk semakin meningkatkan kinerjanya.

self efficacy menjadi suplemen bagi pendeta untuk tegar hadapi masalah dalam lingkungan kerjanya. Tugas yang diemban membuat seorang pendeta selalu berhubungan dengan jemaat.Jalinan hubungan antara pendeta dan jemaat tidak selalu berbanding lurus dengan harapan pendeta untuk selalu mendapatkan dukungan. Kritik bahkan yang ekstrim datang silih berganti dengan support dari jemaat. dalam situasi itu pendeta memang sudah seharusnya mampu mengelola burnout agar tidak dominan mempengaruhi kinerjanya.

4.7.7Pengaruh Social Suport secara tidak langsung terhadapIndividual Performancemelalui Burnout.

Hasil pengujian hipotesis diatas menunjukkan bahwa

“adanya pengaruh social support secara tidak langsung terhadap individual performance melalui burnout”.Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa variabel social support berpengaruh secara tidak langsung dan signifikan terhadap individual performance melalui burnout.Dengan demikian, disimpulkan burnout memperkuat hubungan pengaruh yang terjadi antara social support secara tidak langsung dengan individual performance.

Bukti penelitian ini dikuatkan dengan hasil penelitian Rosyid dan Farhati (1996) yang menunjukkan bahwa

(40)

ketiadaan dukungan sosial terhadap individu/karyawan akan mengakibatkan timbulnya burnout. Golembiewsky, dkk (1983) mengatakan bahwa akibat dari burnout dapat muncul dalam bentuk berkurangnya kepuasan kerja, memburuknya kinerja, dan produktivitas rendah.

Artinya pula bahwa, turbulence lingkungan kerja dan kerentanan pendeta (tidak luput dari masalah) dapat menyumbang terhadap kinerja pendeta dalam jemaat.asumsinya adalah pendeta juga membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekatnya untuk melakoni tugas ditengah jemaat. Hasil penelitian menunjukkan nilai yang menarik bahwa tantangan didalam tugas telah dipahami oleh pendeta bahwa dinamika berjemaat adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tugasnya. Pemahaman itu membuatnya berkeyakinan bahwa bekerja dengan dedikasi dan loyalitas harus menjadi gaya hidup yang terus dijaga walaupun surut dukungan terhadap kinerja yang ia lakukan dijemaat.

Gambar

Tabel 4.11  Hasil Validitas Data
Tabel 4.12  Reliabilitas Item  Variabel  Nilai  Cronbach  Alpha  Keterangan  Self Efficacy  (X1)  0,753 Reliabel  Social Support  (X2)  0,738 Reliabel  Burnout  (Z)  0,748 Reliabel  Individual Performance   (Y)  0,749 Reliabel
grafik secara visual bisa terlihat normal, padahal secara  statistik bisa sebaliknya. Dan hasil pengujian normalitas data  pada penelitian dengan menggunakan uji kolmogrof Smirnov  (Liliefors), ditampilkan pada tabel di bawah ini:
Gambar 4.1  Uji Grafik Normalitas

Referensi

Dokumen terkait

Bahan ajar yang digunakan masih kurang dalam penyajian contoh soal untuk melatih siswa dalam pemecahan soal, kemudian bahasa yang digunakan, siswa mengalami

Mahakam Berlian Samjaya berdasarkan nilai wajar dari imbalan yang diterima dan atau yang dapat diterima dalam bentuk kas atau setara kas telah sesuai dengan standar

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: pertama, mengetahui konsep awal siswa pada konsep kalor; kedua, mengetahui konsep siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan

Berdasarkan hasil analisis deskriptif tingkat pendapatan, harga benur, siklus, keuntungan laba kotor, keuntungan laba bersih, tingkat efisiensi biaya, mutu SDM, seperti

Bukti kontrak pengalaman paling sedikit 1 (satu) pekerjaan sebagai Penyedia dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk

1) Untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode. 2) Untuk

Tingkat error yang terjadi dalam menggunakan single web server adalah 360 sedangkan jika menggunakan Load balancing adalah 152 dengan algoritma Round Robin dan

menghasilkan gunung api yang dapat di8edakan sear a nyata dengan penglihatan. as yang terlarut dalam airan magma. 4a'a dide=inisikan se8agai magma yang keluar dari 8atuan dalam