• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

45

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

A. Keadaan Alam

Secara keseluruhan, luas wilayah Kecamatan Polokarto yaitu 6.218 Ha atau sekitar 13,32% dari luas wilayah Kabupaten Sukoharjo. Desa Bakalan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Desa Bakalan memiliki luas wilayah seluas 305 Ha. Terdiri dari lahan sawah 70,16% atau seluas 214 Ha dan lahan bukan sawah 29,84% atau seluas 91 Ha. Desa Bakalan berjarak 5 km dari pusat pemerintahan Kecamatan Polokarto. Adapun batas-batas wilayah Desa Bakalan adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Kemasan Sebelah Timur : Desa Gentan Sebelah Selatan : Desa Karangwuni Sebelah Barat : Desa Ngombakan

Desa Bakalan terdiri dari 3 dusun, 9 RW, dan 33 RT. Jarak antar dusun tidak terlalu jauh sekitar 1-2 km. Berdasarkan topografi, Desa Bakalan merupakan wilayah dataran rendah.

B. Keadaan Penduduk

1. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Penduduk merupakan orang yang bertempat tinggal disuatu wilayah pada waktu tertentu. Berdasarkan jenis kelamin, penduduk dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat menunjukkan beberapa hal diantaranya sex ratio, yaitu perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan (Mantra, 1995). Keadaan penduduk menurut jenis kelamin di Desa Bakalan adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 1. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Bakalan No. Jenis Kelamin Jumlah Orang Persentase (%)

1. Laki-laki 2.980 49,99

2. Perempuan 2.981 50,01

Jumlah 5.961 100

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan Tahun 2019 commit to user

(2)

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Desa Bakalan adalah 5.961 orang, terdiri dari 2.980 penduduk laki-laki dan 2.981 penduduk perempuan. Maka sex ratio dapat dihitung sebagai berikut:

Sex Ratio = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑘𝑖−𝑙𝑎𝑘𝑖

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛× 100

= 2.980

2.981× 100

= 99,96

Angka sex ratio di Desa Bakalan sebesar 99,96. Hal ini menunjukkan bahwa dalam 100 penduduk perempuan terdapat 100 penduduk laki-laki. Dengan demikian, pembagian kerja yang ditanggung oleh keduanya tidak jauh berbeda.

2. Keadaan Penduduk Menurut Umur

Pengelompokkan penduduk berdasarkan umur salah satunya bertujuan untuk mengetahui jumlah penduduk non produktif yaitu penduduk dengan rentang umur 0-14 tahun, penduduk produktif yaitu rentang umur 15-64 tahun, dan penduduk yang sudah tidak produktif lagi yaitu mereka yang berumur di atas 64 tahun (Mantra, 1995). Keadaan penduduk menurut umur di Desa Bakalan adalah sebagai berikut:

commit to user

(3)

Tabel 4. 2. Keadaan Penduduk Menurut Umur di Desa Bakalan No. Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1. 0-4 385 6,5

2. 5-9 478 8,0

3. 10-14 479 8,0

4. 15-19 466 7,8

5. 20-24 414 6,9

6. 25-29 418 7,0

7. 30-34 413 6,9

8. 35-39 503 8,4

9. 40-44 486 8,2

10. 45-49 444 7,4

11. 50-54 405 6,8

12. 55-59 340 5,7

13. 60-64 257 4,3

14. 65-69 182 3,1

15. 70-74 115 1,9

16. ≥75 176 3,1

Jumlah 5961 100

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk terbanyak berada pada kelompok umur 35-39 tahun yaitu sebanyak 503 orang dan paling sedikit pada kelompok umur 70-74 yaitu sebanyak 115 orang. Jumlah penduduk dalam usia produktif di Desa Bakalan yaitu sebanyak 4.106 orang dengan persentase 68,88%. Jumlah penduduk dalam usia non produktif sebanyak 1.855 orang atau sebesar 31,12%.

Persentase tersebut menunjukkan jumlah penduduk dengan usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia non produktif.

Keadaan penduduk menurut umur ini dapat digunakan untuk menghitung Angka Beban Tanggungan (ABT) di Desa Bakalan yaitu sebagai berikut:

ABT =𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑛𝑜𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑓

𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑓 × 100

=1.855

4.106× 100

= 45,12

commit to user

(4)

Berdasarkan perhitungan Angka Beban Tanggungan (ABT) di atas dapat diketahui besarnya angka beban tanggungan yaitu sebesar 45,12. Artinya, dalam setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia non produktif. Semakin besar rasio antara jumlah penduduk non produktif dan produktif, maka semakin besar pula angka beban tanggungannya. Menurut BPS, semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

3. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Sebab, pendidikan menyangkut pembangunan karakter sekaligus jati diri suatu bangsa (Winardi, 2010). Tingkat pendidikan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi inovasi dari sasaran penyuluhan. Penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah menerima suatu inovasi dan perubahan, begitu pula sebaliknya. Keadaan penduduk di Desa Bakalan menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. 3. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Bakalan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Tamat SD/Sederajat 1.521 37,21

2. Tamat SMP/Sederajat 1.210 29,60

3. Tamat SLTA/Sederajat 1.019 24,93

4. Diploma I/II 24 0,59

5. Akademi/Diploma III/Sarjana muda

91 2,23

6. Diploma IV/Strata I 213 5,21

7. Strata II 8 0,20

8. Strata III 1 0,03

Jumlah 4.087 100

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa persentase terbesar berada pada tingkat pendidikan SD/sederajat yaitu sebesar 37,21% dan commit to user

(5)

hanya sedikit penduduk yang tamat sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Hal tersebut menunjukkan tingkat pendidikan di Desa Bakalan masih tegolong rendah. Tingkat pendidikan yang rendah akan mempengaruhi adopsi atau penerimaan sebuah inovasi dan perubahan.

4. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian merupakan aktivitas yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh kehidupan yang layak. Berbagai macam mata pencaharian dapat digunakan sebagai tolok ukur kesejahteraan penduduk disuatu wilayah. Keadaan penduduk menurut mata pencaharian dapat menunjukkan keadaan pereekonomian yang ada pada wilayah tersebut. Berikut ini keadaan penduduk di Desa Bakalan menurut mata pencahariannya:

Tabel 4. 4. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Bakalan

No. Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Petani 1.047 60,10

2. Buruh Pabrik 281 16,13

3. PNS 112 6,43

4. Pegawai Swasta 114 6,54

5. Wiraswasta/Pedagang 168 9,64

6. TNI 5 0,31

7. Polri 7 0,40

8. Bidan 2 0,11

9. Perawat 6 0,34

Jumlah 1.742 100

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa mata pencaharian penduduk di Desa Bakalan bermacam-macam. Sebagian besar penduduk di Desa Bakalan bermatapencaharian sebagai petani dengan persentase sebesar 60,10%. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memegang peranan penting bagi penduduk untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Sebagian besar penduduk menjadi petani karena sejak kecil sudah terbiasa membantu orang tua sehingga bisa dikatakan menjadi petani karena sudah turun temurun. commit to user

(6)

C. Keadaan Pertanian dan Peternakan

Kegiatan pertanian memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kebutuhan pangan dapat terpenuhi apabila didukung dengan tersedianya lahan pertanian, benih atau bibit yang baik, teknologi atau inovasi yang mendukung, tercukupinya kebutuhan pupuk, dan juga sumber daya manusia yang berkualitas. Berikut ini adalah gambaran keadaan pertanian di Desa Bakalan:

Tabel 4. 5. Luas Lahan Menurut Komoditas di Desa Bakalan

No Komoditas Luas lahan (Ha) Rata-rata

produksi (ton/ha)

1. Padi 634 7,44

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan 2019

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa lahan pertanian yang ada di Desa Bakalan hanya digunakan untuk menanam komoditas padi dengan luasan 634 ha dan rata-rata produksi 7,44 ton/ha. Sementara tanaman palawija seperti kacang-kacangan, jagung, ubi, dan ketela pohon tidak ditanam di Desa Bakalan. Sistem pengairan yang digunakan petani untuk mengairi lahannya yaitu menggunakan jenis irigasi teknis.

Penduduk Desa Bakalan juga memelihara beberapa hewan ternak.

Usaha ternak tersebut berupa sapi, kambing, domba, ayam kampung, itik/angsa, dan babi. Namun, usaha tersebut masih dalam skala kecil karena mayoritas hanya usaha sampingan atau investasi. Berikut ini gambaran keadaan peternakan di Desa Bakalan:

Tabel 4. 6. Jumlah Ternak Menurut Jenisnya di Desa Bakalan

No. Jenis Ternak Jumlah (ekor)

1. Sapi 613

2. Kambing 131

3. Domba 120

4. Ayam kampong 1.503

5. Itik/angsa 510

6. Babi 21

Sumber: Data Monografi Desa Bakalan 2019 commit to user

(7)

Tabel 4.6. menunjukkan bahwa hewan yang paling banyak diternak adalah ayam kampung yaitu sebanyak 1.503 ekor. Ternak unggas lebih diminati karena perawatannya yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan ternak yang lainnya. Sapi menempati urutan kedua yang banyak diternak oleh penduduk Desa Bakalan. Selain dijual dan dimanfaatkan dagingnya, kotorannya pun bisa dimanfaatkan jika diperlukan. Potensi pertanian dan peternakan yang tersedia dapat menjadi alternatif untuk memperoleh penghasilan tambahan.

D. Keadaan Sarana Perekonomian

Keadaan perekonomian di Desa Bakalan dapat dilihat dari tersedianya sarana perekonomian di desa tersebut. Keberadaan sarana perekonomian di suatu wilayah merupakan salah satu pendukung laju kegiatan perekonomian.

Sarana perekonomian merupakan tempat terjadinya kegiatan jual beli atau pemindahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen yang saling menguntungkan. Berikut ini merupakan sarana perekonomian yang ada di Desa Bakalan:

Tabel 4. 7. Sarana Perekonomian di Desa Bakalan

No. Jenis Sarana Jumlah

1. Toko Kelontong 70

2. Kedai Makanan 40

3. Kios Pupuk 2

Sumber: Monografi Desa Bakalan Tahun 2019

Desa Bakalan memiliki 70 toko kelontong, 40 kedai makanan, dan 2 kios pupuk sebagai sarana perekonomian. Kios pupuk yang berada di Desa Bakalan yaitu kios Amanah dan Sumber Rejeki. Kios tersebut menjadi tempat petani membeli pupuk bersubsidi, non subsidi, dan juga obat pembasmi hama. Keberadaan sarana tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan warga dan juga menjalankan roda perekonomian di Desa Bakalan.

E. Gambaran Umum Program Kartu Tani di Desa Bakalan

Program Kartu Tani merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang bekerjasama dengan PT. Bank Rakyat Indonesia dengan membuat aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pertanian Indonesia commit to user

(8)

(SIMPI). Program tersebut mulai diluncurkan pada tahun 2017. Kartu tani pada dasarnya merupakan kartu debit pada umumnya yang bisa digunakan untuk menabung dan tarik tunai. Namun selain itu, Kartu Tani juga memiliki fungsi lain yaitu dapat digunakan petani untuk membeli pupuk bersubsidi, mendapat kemudahan menjual hasil panen, dan bantuan sosial.

Kartu Tani juga memuat data pertanian berupa informasi identitas petani, komoditas yang ditanam, luas lahan, kuota pupuk yang digunakan, jumlah produksi, dan waktu panen. Kartu Tani dapat dimonitoring dan diakses secara online untuk mengetahui perubahan kuota pupuk dan pergerakan penyaluran pupuk bersubsidi agar tepat sasaran. Petugas di desa atau kelurahan bertugas memasukkan data setiap petani yang terdaftar dalam kelompok tani sekaligus memantau penggunaannya memalui aplikasi SIMPI pada perangkat komputer. Desa Bakalan memiliki 4 kelompok tani yaitu kelompok Tani Makmur, Kenteng, Bakalan, dan Pondok yang semua anggotanya terdaftar sebagai penerima kartu tani. Namun, menurut data SIMPI pada tahun 2019 terdapat satu kelompok tani yang pergerakan kartu taninya tidak tercatat di dalam aplikasi SIMPI yaitu kelompok tani Bakalan.

Pergerakan tersebut akan terlihat apabila kartu tani digunakan oleh petani dalam setiap transaksi pembelian pupuk bersubsidi di kios pupuk yang sudah ditentukan.

Permasalahan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keaktifan kelompok tani, keaktifan setiap anggota kelompok tani, kedisiplinan pemilik kios pupuk untuk mewajibkan pembelian pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani, atau sosialisasi dan pendampingan yang kurang dari penyuluh atau pemerintah setempat. Kondisi 59 petani yang terdaftar dalam kelompok tani Bakalan kini sudah tidak aktif lagi mengadakan pertemuan kelompok, sehingga anggota kurang mendapatkan informasi mengenai kartu tani melalui pertemuan kelompok. Begitu juga dengan kegiatan penyuluhan yang jarang sekali diadakan oleh penyuluh.

commit to user

Gambar

Tabel 4. 1. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Bakalan  No.  Jenis Kelamin  Jumlah Orang  Persentase (%)
Tabel 4. 2. Keadaan Penduduk Menurut Umur di Desa Bakalan  No.  Umur (tahun)  Jumlah (orang)  Persentase (%)
Tabel  4.  3.  Keadaan  Penduduk  Menurut  Tingkat  Pendidikan  di  Desa  Bakalan
Tabel  4.  4.  Keadaan  Penduduk  Menurut  Mata  Pencaharian  di  Desa  Bakalan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara isolat mikroba pelarut fosfat dengan dosis pupuk P terhadap P tersedia, aktivitas fosfatase, populasi

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penolakan sosial dan kecenderungan neurotik ‘moving toward’ tidak mampu

dari film Animasi Dokumenter adalah Abductees (2005) karya Paul Vester, film ini menampilkan wawancara dengan beberapa orang yang mengaku pernah diculik oleh makhluk luar

Pondok pesantren Manbail Futuh sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional dengan berbagai ciri khas dan keunikannya, memiliki materi pendidikan akhlak yang sangat utuh dan

Dengan adanya penggunaan intellectual capital tersebut, diharapkan akan meningkatkan penjualan serta menggunakan sumber daya perusahaan secara efisien dan ekonomis yang

Gambar 10 memperlihatkan bahwa dalam proses dengan penyinaran tanpa fotokatalis TiO 2 baik tanpa maupun adanya ion Hg(II), tidak ada ion Cd(II) yang hilang. Ini membuktikan

Disamping harga yang mahal beberapa obat cacing komersial yang penggunaannya tidak tepat terbukti menyebabkan resistensi (Walter dan.. Pricard, 1985), beberapa residu kimiawi

Kesimpulan penelitian tidak ditemukan hubungan bermakna antara suplementasi vitamin A terhadap kejadian stunting, sedangkan pemberian imunisasi dan riwayat penyakit infeksi yaitu