• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKREDITASI PROGRAM STUDI SARJANA MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AKREDITASI PROGRAM STUDI SARJANA MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

28

AKREDITASI PROGRAM STUDI SARJANA

MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

Niken Hendrakusma Wardani, Arief Andy Soebroto, Rekyan Regasari

Program Studi Teknik Informatika Universitas Brawijaya, Malang 65145 Email: [email protected], [email protected], [email protected]

ABSTRAK:

Setiap program studi sarjana dari perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Indonesia memerlukan penilaian akreditasi sebagai kendali mutu dan akuntabilitas publik institusi. Pencapaian predikat terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) bukanlah hal yang mudah dilakukan dalam waktu singkat. Keterbatasan sumber daya manusia, dana, waktu dan penilaian BAN-PT dijadikan sebagai pertimbangan ketua program studi (kaprodi) untuk perbaikan akreditasi. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dibuat untuk membantu kaprodi dalam menyusun prioritas perbaikan tujuh standar akreditasi berdasarkan pertimbangan kondisi program studi. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu metode dalam Multiple Criteria Decision Making (MCDM) yang mampu menguraikan sebuah masalah ke bentuk hierarki dengan level: tujuan, kriteria, dan alternatif [1].

Perangkat lunak yang dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan HTML. Hasil pengujian fungsionalitas terhadap 12 test case dengan metode black-box testing menunjukkan bahwa sistem ini 100% valid untuk memenuhi daftar kebutuhan sistem. Pengujian proses perankingan dan User Acceptance Test (UAT) dilakukan terhadap 7 objek uji. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem dapat diterima dan bekerja dengan baik untuk menentukan prioritas perbaikan standar akreditasi secara ideal (menggunakan perhitungan matematis metode AHP) berdasarkan bobot kriteria dan kondisi program studi.

Kata Kunci: Sistem Pendukung Keputusan, Analytic Hierarchy Process, Akreditasi, Program Studi Sarjana, BAN-PT.

I. PENDAHULUAN

Universitas Brawijaya memiliki 71 program studi sarjana [2] dengan program studi terakreditasi A sejumlah 19, program studi terakreditasi B sejumlah 14, program studi terakreditasi C sejumlah 3, dan program studi yang belum atau tidak terakreditasi BAN-PT sejumlah 35 [3]. Data tersebut menunjukkan bahwa 49% program studi sarjana di Universitas Brawijaya belum atau tidak terakreditasi.

Penyusunan prioritas perbaikan standar akreditasi membantu kaprodi dalam membuat perencanaan stategis peningkatan akreditasi. Penyusunan prioritas perbaikan standar akreditasi dilakukan berdasarkan pertimbangan kondisi program studi dan bobot penilaian BAN-PT. Kondisi program studi meliputi kecukupan alokasi dana untuk perbaikan, ketersediaan sumber daya manusia, dan rentang waktu perkiraan perbaikan akreditasi.

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah Multiple Criteria Decision Making (MCDM) [4]. AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan. Salah satunya adalah dapat digambarkan secara grafis sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan [1].

Pemodelan AHP diaplikasikan dalam SPK berbasis web sebagai pendukung keputusan dalam penentuan prioritas perbaikan standar akreditasi. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana pemodelan masalah pengambilan keputusan untuk perbaikan standar akreditasi dalam bentuk hierarki fungsional AHP?

2. Bagaimana perancangan SPK penentuan prioritas perbaikan standar akreditasi menggunakan metode AHP?

3. Bagaimana implementasi SPK penentuan prioritas perbaikan standar akreditasi?

4. Bagaiman hasil pengujian sistem dan analisis SPK penentuan prioritas perbaikan standar akreditasi menggunakan metode AHP?

Agar pembahasan masalah ini dapat dilakukan secara terarah, sesuai latar belakang dan rumusan masalah dalam penyusunan sistem perangkat lunak ini, maka batasan masalahnya adalah:

1. Standar akreditasi dan bobot penilaian akreditasi diambil dari Buku Pedoman Akreditasi Program Studi yang dikeluarkan oleh BAN-PT tahun 2008 yang telah direvisi tanggal 23 Juli 2010.

(3)

29 2. Berdasarkan studi literatur maka kriteria yang

digunakan dalam metode AHP ini mencakup 4 kriteria yaitu ketersediaan dana, ketersediaan sumber daya manusia, rentang waktu perbaikan dan bobot penilaian BAN-PT.

3. Sistem Pendukung Keputusan ini dibuat berbasis web.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Sistem Pendukung Keputusan

Efraim Turban, Jay E. Aronson dan Ting Peng Liang (2005), mengemukakan bahwa “Sistem Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS) dibuat untuk meningkatkan proses dan kualitas hasil pengambilan keputusan, dimana DSS dapat memadukan data dan pengetahuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam proses pengambilan keputusan tersebut” [5]. DSS biasanya dibangun untuk mendukung solusi atas suatu masalah atau untuk mengevaluasi suatu peluang sehingga menjadi alternatif terbaik. Aplikasi DSS berbasis Computer Based Information System (CBIS) digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan karena bersifat fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi.

2.13 Konsep Penentuan Prioritas

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, prioritas adalah yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Penentuan prioritas merupakan proses mengidentifikasi aktivitas yang paling penting dalam sebuah organisasi. Penentuan prioritas dikembangkan sebagai dasar pembuatan keputusan. Beberapa ciri proses penyusunan prioritas yang efektif adalah [6]:

1. Mulai dari apa yang telah ada dan sumber daya yang telah dimiliki.

2. Mengkomunikasikan perlunya penetapan prioritas dan berfokus pada masa depan organisasi.

3. Penggunaan kriteria yang kredibel dalam penentuan prioritas akhir.

4. Diperlukan kompetensi sumber daya manusia.

5. Adanya alokasi waktu yang cukup.

2.14 Akreditasi Program Studi Sarjana

Akreditasi program studi sarjana adalah proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen program studi terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridarma perguruan tinggi, untuk menentukan kelayakan program akademiknya [7]. Penilaian akreditasi program studi sarjana meliputi tujuh standar yaitu [8]:

1. Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaiannya

2. Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu

3. Mahasiswa dan lulusan 4. Sumber daya manusia

5. Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik

6. Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi

7. Penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama

2.15 Analytic Hierarchy Process (AHP)

Menurut Saaty, AHP adalah sebuah teori pengukuran melalui perbandingan berpasangan dan bergantung pada penilaian pakar untuk memperoleh skala prioritas. Skala yang digunakan adalah skala yang mengukur ketidakjelasan dalam takaran yang relatif [9].

Kelebihan AHP dibandingkan dengan yang lainnya adalah [10]:

 Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.

 Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.

 Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam menyelesaikan permasalahan dengan AHP adalah [1]:

1. Membuat hierarki

Sistem yang kompleks bisa dipahami dengan memecahnya menjadi elemen-elemen pendukung (tujuan, kriteria, dan alternatif), menyusun secara hierarki, dan mensintesisnya.

2. Penilaian kriteria dan alternatif

Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty, untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat.

3. Synthesis of priority

Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pair-wise comparisons). Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika.

4. Logical consistency

Konsistensi memiliki dua makna. Pertama, objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi.

Kedua, menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

2.16 Model Analisa SPK

Berikut ini dijelaskan beberapa model analisa Model Driven DSS [11]:

1. What-if analysis

Analisa yang digunakan untuk menentukan apa yang terjadi pada output, jika ada nilai variabel yang diubah.

2. Sensitivity analysis

(4)

30

Merupakan jenis analisa yang lebih baik daripada what-if analysis. Analisa ini dapat membantu dalam menentukan kepekaan model terhadap perubahan suatu variabel.

3. Goal seeking analysis

Analisa ini membantu dalam melakukan perhitungan mundur, yang berarti membantu dalam menentukan nilai input ketika output sudah diketahui.

4. Optimization analysis

Analisa untuk membantu dalam optimasi sumber daya menggunakan model statistik.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.8 Studi Literatur

Studi literatur menjelaskan dasar teori yang digunakan untuk menunjang penelitian. Teori-teori tersebut meliputi :

8. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) 9. Konsep Penentuan Prioritas dan Kriteria 10. Akreditasi Program Studi Sarjana 11. Analytic Hierarchy Process (AHP)

a. Proses-proses dalam Metode AHP b. Konsistensi Matriks AHP

c. Pembobotan Kriteria Total Responden d. Metode Rating untuk Penilaian Alternatif e. Proses Perankingan Alternatif

12. Aplikasi Berbasis Web 13. Rekayasa Perangkat Lunak 3.9 Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan bertujuan untuk menggambarkan kebutuhan-kebutuhan yang harus disediakan oleh sistem agar dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Proses analisis kebutuhan diawali dengan identifikasi aktor yang terlibat, analisis data yang akan disimpan, penjabaran tentang daftar kebutuhan dan kemudian memodelkannya ke dalam diagram use case. Gambar 1 Diagram Use Case SPK, menunjukkan spesifikasi fungsi-fungsi yang disediakan oleh sistem dari perspektif aktor Admin, Responden dan Kaprodi.

Aktor Admin dapat melakukan aksi login, logout, dan mengubah akun user lainnya (insert, delete, dan edit). Aktor Responden dapat melakukan aksi login, logout, dan melakukan penilaian bobot kepentingan antar kriteria. Aktor Kaprodi dapat melakukan aksi login, logout, mengisi penilaian alternatif berdasarkan kondisi program studi, mendapatkan hasil urutan prioritas perbaikan standar akreditasi, dan aktor kaprodi juga dapat melakukan simulasi analisis what- if yaitu merubah bobot kriteria untuk melihat pengaruhnya terhadap hasil keputusan.

Gambar 1. Diagram Use Case SPK

3.10 Perancangan

Perancangan sistem perangkat lunak dilakukan setelah semua kebutuhan sistem perangkat lunak didapatkan melalui tahap pengambilan data dan analisis kebutuhan. Perancangan sistem pendukung keputusan meliputi perancangan subsistem basis pengetahuan, subsistem manajemen model, subsistem manajemen data, dan subsistem antarmuka pengguna.

Gambar 2 adalah arsitektur sistem pendukung keputusan penentuan prioritas perbaikan standar akreditasi. Arsitektur sistem dibangun berdasarkan pemodelan menggunakan metode AHP dan basis pengetahuan yang dibangun dari penilaian kriteria oleh responden dan penilaian rating alternatif oleh kaprodi. Setiap data-data input dan data-data output hasil pemrosesan sistem akan disimpan ke dalam basis data SPK.

Sistem menyediakan fasilitas login untuk 3 user yaitu admin, responden dan kaprodi. Admin bekerja di luar sistem pemodelan AHP yaitu bertugas mengatur akun pengguna lainnya yang diperbolehkan mengakses sistem. Sedangkan responden dan kaprodi adalah aktor utama dalam penentuan bobot prioritas perbaikan standar akreditasi. Data input dari aktor responden akan membangun basis pengetahuan untuk menentukan tingkat kepentingan antar kriteria. Data input penilaian alternatif berdasarkan kondisi program studi yang dilakukan oleh aktor kaprodi akan membangun basis pengetahuan untuk penentuan bobot alternatif setiap standar akreditasi. Hasil sintesis alternatif terhadap kriteria menentukan bobot perankingan prioritas perbaikan standar akreditasi.

Setelah mendapatkan hasil perankingan prioritas perbaikan standar akreditasi maka user kaprodi dapat melakukan analisis what-if yaitu dengan memanipulasi bobot kriteria untuk melihat pengaruh perubahannya terhadap bobot alternatif.

(5)

31

Pembobotan tingkat kepentingan antar kriteria

Mengatur akun pengguna sistem Responden

(Respon Expert)

Kaprodi

Admin

Basis Data SPK

Penilaian Alternatif dengan mengisi form penilaian kondisi prodi Mengubah input form penilaian alternatif menjadi bobot rating

Pemodelan AHP

SPK Penentuan Prioritas Perbaikan Standar Akreditasi

Sintesis Alternatif (perkalian matriks bobot rating dan bobot kriteria )

Perankingan Alternatif berdasarkan bobot

akhir tertinggi Basis Pengetahuan

Responden

Basis Pengetahuan Kaprodi

Analisis What-If

Gambar 2. Arsitektur SPK Penentuan Prioritas Perbaikan Standar Akreditasi

Gambar 3 menunjukkan perancangan basis data SPK menggunakan pemodelan Entity Relationship Diagram (ERD). ERD ini terdiri dari 8 entitas yang saling berelasi dan mengilustrasikan struktur logika dari database yang akan dibuat. Database akan menyimpan data-data pengguna, basis pengetahuan responden, penilaian alternatif oleh kaprodi dan hasil pendukung keputusan. Sistem ini menggunakan server Database Management System (DBMS) yaitu MySQL.

pengguna username password

email

peran jabatan

telepon nama

alamat

menilai matriks_kriteria

id_maki kriteria1

kriteria kd_kriteria id_kriteria

bobot_kriteria N

memiliki 1

m_rating deskripsi id_rating

bobot_rating N

alternatif menilai

1

N

deskripsi k_alternatif

N id_user

matriks_alternatif

N

menyusun

1 id_penilaian

menyusun

1

data_prodi menilai

N 1

m_data standar id_data

content tipe

kriteria2

judgment

mempunyai N

N

deskripsi

kd_rating

content id

menyusun

N 1

Gambar 3. Entity Relationship Diagram (ERD) SPK Subsistem antarmuka pengguna digunakan user untuk berkomunikasi dan memberi perintah kepada sistem. Perancangan subsistem antarmuka pengguna dibagi menjadi 3 bagian yaitu halaman untuk admin, responden dan kaprodi. Site map halaman admin ditunjukkan pada gambar 4. Site map halaman

responden ditunjukkan pada gambar 5. Site map halaman kaprodi ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 4. Site Map Halaman Admin SPK

Gambar 5. Site Map Halaman Responden SPK

Gambar 6. Site Map Halaman Kaprodi SPK

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.15 Hierarki SPK

Penggunaan metode AHP untuk menyelesaikan masalah MCDM dimulai dengan membuat hierarki

(6)

32

fungsional yang merepresentasikan tujuan yang ingin dicapai, kriteria yang mempengaruhi alternatif dan alternatif yang akan diprioritaskan. Gambar 7 Struktur Hierarki SPK Prioritas Standar Akreditasi terdiri dari 3 level yaitu level tujuan, kriteria dan alternatif.

Gambar 7. Struktur Hierarki SPK

4.16 Pembobotan Kriteria

Penentuan kriteria dilakukan berdasarkan studi literatur dan wawancara dengan respon expert.

Terdapat 4 kriteria yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat prioritas tujuh standar akreditasi yaitu:

a. Ketersediaan Dana

Standar akreditasi yang membutuhkan dana lebih sedikit akan lebih diprioritaskan dalam perbaikan kualitas program studi.

b. Ketersediaan Sumber Daya Manusia

Setiap standar akreditasi dengan sumber daya manusia yang berkompeten akan lebih diprioritaskan.

c. Rentang Waktu Perbaikan

Memilih standar aktreditasi yang paling mungkin ditingkatkan dalam jangka waktu dekat sebagai prioritas utama.

d. Bobot BAN-PT

Memilih standar akreditasi yang memiliki bobot penilaian terbesar sebagai prioritas utama dalam peningkatan akreditasi.

Pembobotan tingkat kepentingan antar kriteria dilakukan dengan membuat matriks kriteria dari penilaian perbandingan berpasangan yang dilakukan oleh respon expert. Jika ada n kriteria maka diperlukan n x ((n–1)/2) penilaian dari masing-masing respon expert. Setelah mendapatkan nilai elemen matriks segitiga atas dari hasil penilaian respon expert gunakan persamaan (1) untuk mengisi elemen pada matriks diagonal dan persamaan (2) untuk mengisi elemen pada matriks segitiga bawah.

a

ii = 1 (1)

𝑎𝑖𝑗 = 1 𝑎𝑗𝑖

(2)

Dimana,

aii : elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-i

aij : elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j aji : elemen matriks pada baris ke-j dan kolom ke-i

Perhitungan nilai bobot kriteria dilakukan dengan manipulasi matriks. Berikut ini langkah-langkah untuk mendapatkan nilai bobot kriteria dari matriks perbandingan berpasangan kriteria:

1. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks kriteria.

2. Membagi setiap nilai dari elemen matriks dengan jumlah kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.

3. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris hasil perhitungan sebelumnya untuk mendapatkan jumlah kriteria dan membaginya dengan banyaknya kriteria untuk mendapatkan bobot kiteria.

Setiap respon expert memiliki penilaian bobot kriteria yang berbeda. Penilaian yang melibatkan banyak responden membutuhkan metode agregasi dengan perhitungan arithmetic mean untuk menyatukan penilaian tersebut. Metode ini menggunakan perhitungan rata-rata aritmatika untuk menghitung bobot kriteria keseluruhan respon expert.

Tabel I menunjukkan hasil perhitungan bobot kriteria dari 3 respon expert. Bobot kriteria ini akan digunakan untuk proses sintesis alternatif pada tahap perankingan alternatif.

Tabel I. Hasil Perhitungan Bobot Kriteria

Kriteria Responden 1

Responden 2

Responden 3

Total Bobot

Rata-rata Bobot Kriteria

Dana 0.159 0.120 0.357 0.635 0.212

SDM 0.043 0.201 0.439 0.683 0.228

Waktu 0.194 0.076 0.055 0.324 0.108

Bobot

BAN-PT 0.604 0.604 0.151 1.359 0.453

4.17 Penentuan Rating Alternatif

Selain membandingkan secara langsung dua alternatif untuk tiap-tiap kriteria dan membuat banyak pair-wise comparison matrix, Saaty [9] mengusulkan sebuah metode rating untuk memperoleh prioritas setiap alternatif. Langkah awalnya adalah menetapkan kategori rating yang digunakan untuk tiap kriteria tersebut dan membuat prioritas rating. Alternatif akan dievaluasi dengan memilih kategori rating yang layak untuk tiap kriteria. Tabel II adalah tabel penilaian kategori rating tiap kriteria dan prioritas ratingnya.

Penentuan kategori rating didapatkan dari hasil studi literatur dan wawancara dengan respon expert.

4.18 Penilaian Alternatif Terhadap Kriteria Penilaian alternatif dilakukan oleh kaprodi dengan mengisi form penilaian kondisi program studi. Pilihan

(7)

33 jawaban dari form ini adalah rating kategori yang dipilih kaprodi sesuai kondisi program studinya saat ini. Sedangkan penilaian alternatif terhadap kriteria bobot BAN-PT akan dihitung oleh sistem sesuai normalisasi bobot BAN-PT per standar akreditasi.

Berdasarkan form input penilaian alternatif yang diisi oleh kaprodi akan didapatkan bobot rating per kriteria. Tabel III adalah contoh hasil penilaian kaprodi menggunakan metode rating.

Tabel II. Penilaian Kategori Rating

C1 Ketersediaan

Dana

C2 Sumber Daya

Manusia

C3 Jangka Waktu

Perbaikan

C4 Bobot BAN-PT

R1 (lebih) 1.000

R4 (berkompeten) 1.000

R7 (kurang dari 1 tahun) 1.000

Standar 1 0.031 R2 (cukup)

0.405

R5 (cukup) 0.405

R8 (1 hingga 2 tahun) 0.665

Standar 2 0.062 R3 (kurang)

0.164

R6 (kurang) 0.164

R9 (2 hingga 3 tahun) 0.423

Standar 3 0.156 R10 (3 hingga 4 tahun)

0.195

Standar 4 0.219 R11 (4 hingga 5 tahun)

0.122

Standar 5 0.188 Standar 6

0.156 Standar 7

0.188

Tabel III. Contoh Hasil Penilaian Alternatif oleh Kaprodi

Alternatif

Kriteria C1 Dana 0.212

Kriteria C2 SDM 0.228

Kriteria C3 Waktu

0.108

Kriteria C4 Bobot BAN-PT

0.453

Standar 1 Lebih 1.000

berkompeten 1.000

< 1 tahun

1.000 0.031

Standar 2 Cukup 0.405

berkompeten 1.000

< 1 tahun

1.000 0.062

Standar 3 Cukup 0.405

berkompeten 1.000

1-2 tahun

0.665 0.156

Standar 4 Kurang 0.164

Kurang 0.164

1-2 tahun

0.665 0.219

Standar 5 Cukup 0.405

Kurang 0.164

2-3 tahun

0.423 0.188

Standar 6 Kurang 0.164

Cukup 0.405

2-3 tahun

0.423 0.156

Standar 7 Kurang 0.164

Kurang 0.164

3-4 tahun

0.195 0.188

4.19 Perankingan Alternatif

Setelah kaprodi melakukan penilaian maka setiap kategori rating memiliki bobot yang akan dikalikan dengan bobot kriteria. Proses ini disebut sintesis alternatif terhadap kriteria. Tabel IV menunjukkan hasil perhitungan sintesis bobot alternatif.

Tabel IV. Contoh Perhitungan Sintesis Bobot Alternatif

Alternatif Perhitungan Sintesis Alternatif Bobot Alternatif Standar 1 (0.212*1.000) + (0.228*1.000) + (0.108*1.000) + (0.453*0.031) 0.562 Standar 2 (0.212*0.405) + (0.228*1.000) + (0.108*1.000) + (0.453*0.062) 0.450 Standar 3 (0.212*0.405) + (0.228*0.405) + (0.108*0.665) + (0.453*0.156) 0.456

Standar 4 (0.212*0.164) + (0.228*0.164) + (0.108*0.665) + (0.453*0.219) 0.243 Standar 5 (0.212*0.405) + (0.228*0.164) + (0.108*0.423) + (0.453*0.188) 0.254 Standar 6 (0.212*0.164) + (0.228*0.405) + (0.108*0.423) + (0.453*0.156) 0.243 Standar 7 (0.212*0.164) + (0.228*0.164) + (0.108*0.195) + (0.453*0.188) 0.321

Sintesis alternatif dihitung dengan persamaan (3) untuk mendapatkan nilai bobot alternatif tujuh standar akreditasi.

𝑆

𝑗

= 𝑆

𝑖𝑗

(𝑊

𝑖

)

𝑖

(3)

Dimana,

Sij : bobot penilaian rating untuk kriteria ke i terhadap alternatif j

Wi : bobot penilaian kriteria ke-i Sj : bobot alternatif ke- j 4.20 Perankingan Alternatif

Berdasarkan hasil sintesis alternatif, dilakukan pengurutan prioritas standar akreditasi berdasarkan bobot alternatif tertinggi. Tabel IV menunjukkan urutan prioritas perbaikan akreditasi dimulai dari bobot alternatif tertinggi yaitu standar 1, standar 3, standar 2, standar 7, standar 5, standar 4 dan standar 6.

Hasil keputusan ini diharapkan dapat membantu kaprodi dalam membuat urutan prioritas perbaikan standar akreditasi. Urutan prioritas ini dibuat berdasarkan pertimbangan 4 kriteria, yaitu ketersediaan dana yang mampu dialokasikan program studi untuk perbaikan standar akreditasi, ketersediaan sumber daya manusia yang berkompeten untuk mendukung perbaikan akreditasi sesuai standar Borang BAN-PT, perkiraan waktu peningkatan standar akreditasi, dan bobot penilaian BAN-PT.

4.21 Analisis What-If

Analisis what-if memberikan fasilitas simulasi kepada user kaprodi untuk mengganti bobot kriteria sesuai persepsi kaprodi terhadap penilaian bobot kriteria. Jika user kaprodi merubah bobot kriteria (nilai kepentingan dari masing-masing kriteria) maka sistem akan menampilkan perubahan output hasil keputusan (urutan prioritas perbaikan standar akreditasi).

Berikut ini diberikan contoh perhitungan analisis what-if untuk mengetahui perubahan output prioritas perbaikan standar akreditasi jika dilakukan perubahan bobot kriteria oleh kaprodi. Tabel V menampilkan analisis what-if pada perubahan bobot ketersediaan dana dengan penambahan tingkat kepentingan 10%

yang mempengaruhi persentase prioritas alternatif.

Penambahan tingkat kepentingan dana sebesar 10%

mengartikan bahwa kaprodi menilai tingkat ketersediaan dana adalah faktor terpenting dalam menyusun prioritas perbaikan standar akreditasi.

Penambahan bobot kriteria dana sebesar 10% akan membuat pengurangan sebesar 6% pada kriteria BAN-

(8)

34

PT, pengurangan sebesar 3% pada kriteria waktu, dan pengurangan sebesar 1% pada kriteria waktu.

Penambahan tingkat kepentingan dana sebesar 10% membuat perubahan pada persentase bobot prioritas alternatif. Sintesis alternatif dihitung ulang dengan mengganti bobot kriteria awal dengan bobot kriteria setelah perubahan sehingga didapatkan hasil seperti pada Tabel V.

Pada contoh analisis pada tabel V, dilakukan perubahan bobot kriteria sebanyak 3 kali. Perubahan pertama yaitu penambahan bobot kriteria dana sebesar 10%. Perubahan kedua yaitu penambahan bobot kriteria dana sebesar 20%. Perubahan ketiga yaitu penambahan bobot kriteria dana sebesar 30%.

Tabel V. Analisis What-If

Bobot

Awal

Bobot Setelah Perubahan Perubaan Bobot

Perubahan 1 Perubahan2 Perubahan3

Kriteria

Dana 21.0% 31.0% 41.0% 51.0% +10%

SDM 23.0% 20.0% 17.0% 14.0% -3%

Waktu 11.0% 10.0% 9.0% 7.0% -1%

BAN-PT 45.0% 39.0% 33.0% 27.0% -6%

Alternatif Prioritas Awal

Prioritas Alternatif Setelah Perubahan

Standar 1 13.1% 14.9% 16.6% 18.2%

Standar 2 13.8% 13.3% 12.8% 12.2%

Standar 3 9.3% 9.4% 9.6% 9.6%

Standar 4 14.9% 14.1% 13.4% 12.8%

Standar 5 19.4% 20.2% 20.9% 21.7%

Standar 6 14.0% 13.4% 12.8% 12.3%

Standar 7 15.6% 14.7% 14.0% 13.2%

4.22 Implementasi SPK

Implementasi perangkat lunak dilakukan dengan mengacu kepada perancangan aplikasi. Implementasi SPK menggunakan database MySQL, software XAMPP 1.7.4 dan bahasa pemrograman PHP.

Aplikasi SPK Penentuan Prioritas Perbaikan Standar Akreditasi ini memiliki beberapa halaman web. Gambar 8 menampilkan implementasi halaman penilaian kriteria oleh user responden. Halaman ini merupakan user interface untuk mengambil data input penilaian kepentingan antar kriteria dari user responden.

Gambar 9 menampilkan implementasi halaman penilaian alternatif berupa input form penilaian kondisi program studi terhadap kriteria ketersediaan dana. Halaman ini merupakan user interface untuk mengambil data input penilaian kondisi program studi dari user kaprodi. Implementasi halaman input penilaian kondisi program studi meliputi penilaian kondisi pendanaan program studi, penilaian sumber daya manusia yang dimiliki program studi, dan perkiraan waktu perbaikan setiap standar akreditasi yang diasumsikan oleh kaprodi.

Gambar 8. Implementasi Halaman Penilaian Kriteria

Gambar 9. Implementasi Halaman Penilaian Alternatif Input penilaian kriteria oleh respon expert dan input penilaian alternatif oleh kaprodi disimpan di database. Input tersebut diolah dengan menggunakan metode AHP sehingga menghasilkan keputusan seperti pada Gambar 10. Gambar 10 menampilkan implementasi halaman hasil keputusan yang dilengkapi dengan fasilitas penjelas.

(9)

35 Gambar 10. Implementasi Halaman Penilaian Kriteria

Setelah kaprodi mendapatkan prioritas perbaikan standar akreditasi, maka kaprodi dapat melakukan analisis what-if terhadap hasil keputusan. Gambar 11 menampilkan implementasi halaman simulasi analisis what-if.

Pada halaman analisis ini, user kaprodi dapat melakukan perubahan persentase bobot kriteria dengan menekan tombol “tambah 10%” atau tombol

“kurang 10%”. Sistem akan menampilkan hasil perubahan persentase bobot kriteria pada kolom bobot kriteria akhir. Hasil perubahan alternatif berdasarkan perubahan bobot kriteria yang baru dapat dilihat dengan menekan tombol “lihat perubahan alternatif”.

User kaprodi dapat membandingkan hasil pembobotan alternatif sebelum simulasi (bobot alternatif disintesis menggunakan bobot kriteria awal berdasarkan input user responden) dengan hasil pembobotan alternatif setelah simulasi (bobot alternatif disintesis menggunakan bobot kriteria akhir berdasarkan penilaian kaprodi sendiri).

Gambar 11. Implementasi Halaman Analisis What-If

4.23 Pengujian Fungsionalitas Sistem

Pengujian fungsionalitas digunakan untuk mengetahui apakah sistem yang dibangun sudah menyediakan fungsi-fungsi sesuai dengan yang dibutuhkan. Pengujian fungsionalitas menggunakan metode pengujian Black Box, karena tidak difokuskan terhadap alur jalannya algoritma program namun lebih ditekankan untuk menemukan kesesuaian antara kinerja sistem dengan daftar kebutuhan.

Tabel VI menampilkan hasil pengujian fungsionalitas sistem terhadap 12 tindakan dalam use case diagram dengan metode black-box testing adalah 100% valid. Hasil pengujian dikatakan valid karena hasil yang diharapkan sesuai dengan hasil yang didapatkan setelah pengujian fungsionalitas terhadap tiap test case. Hal ini menunjukkan bahwa fungsionalitas sistem dapat berjalan dengan baik sesuai dengan daftar kebutuhan sistem.

Tabel VI. Hasil Pengujian Fungsionalitas Sistem

No Kasus Uji Hasil yang Didapatkan Status

1 Login 1. Sistem melakukan pemeriksaan karakter dari nama pengguna dan kata sandi untuk memeriksa validitas data akun pada database 2. Sistem melakukan pemeriksaan karakter dari

kode keamanan untuk memastikan yang login adalah manusia bukan robot atau mesin 3. Jika pengisian nama pengguna, kata sandi

dan kode keamanan valid maka aktor akan masuk ke menu utama sesuai peran aktor yang login

Valid

2 Logout 1. Sistem menghapus session user login 2. Sistem mengalihkan halaman web ke form

login

Valid

3 Insert Akun Responden

1. Sistem menampilkan form isian data akun 2. Sistem dapat menyimpan input data akun ke

dalam database

3. Sistem berhasil menambahkan data akun baru Valid

(10)

36

4 Edit Akun Responden

1. Sistem menampilkan form isian yang telah terisi data akun lama

2. Sistem berhasil menyimpan perubahan data akun yang baru di database

Valid

5 Delete Akun Responden

1. Sistem menampilkan text box untuk konfirmasi hapus data akun tersebut 2. Sistem berhasil menghapus data akun

tersebut dari database

Valid

6 Insert Akun Kaprodi

1. Sistem menampilkan form isian data akun 2. Sistem dapat menyimpan input data akun ke

dalam database

3. Sistem berhasil menambahkan data akun baru Valid

7 Edit Akun Kaprodi

1. Sistem menampilkan form isian yang telah terisi data akun lama

2. Sistem berhasil menyimpan perubahan data akun yang baru di database

Valid

8 Delete Data Akun User Operator

1. Sistem menampilkan text box untuk konfirmasi hapus data akun tersebut 2. Sistem berhasil menghapus data akun

tersebut dari database

Valid

9 Online Survey Penilaian Kriteria

1. Sistem menampilkan form pengisian penilaian perbandingan berpasangan 2. Sistem dapat menghitung bobot matriks dan

mengecek konsistensi matriks

3. Sistem berhasil menyimpan hasil penilaian responden ke database

Valid

10 Penilaian Alternatif

1. Sistem menampilkan form penilaian alternatif terhadap masing-masing kriteria 2. Sistem berhasil menyimpan hasil penilaian

kaprodi ke database

Valid

11 Hasil Keputusan

1. Sistem menampilkan hasil keputusan yaitu urutan prioritas perbaikan standar akreditasi berdasarkan sintesis bobot alternatif tertinggi

Valid

12 Analisis What If

1. Sistem menampilkan form untuk mengubah bobot kriteria

2. Sistem menampilkan hasil perubahan alternatif sesuai dengan perubahan bobot kriteria

Valid

4.24 Pengujian Proses Perankingan

Pengujian proses perankingan dilakukan untuk mengetahui hasil keputusan terhadap beberapa kasus uji yang berbeda. Objek pengujian proses perankingan adalah 7 program studi di Universitas Brawijaya yang dipilih secara acak.

Hasil pengujian proses perankingan menampilkan penilaian rating terhadap kondisi program studi dan hasil perankingannya. Tabel VII menunjukkan hasil pengujian proses perankingan terhadap 7 program studi.

Tabel VII. Hasil Pengujian Proses Perankingan

Uji

Kasus Alternatif

Bobot Rating Penilaian Alternatif Bobot

AHP

Ranking

C1 C2 C3 C4 Sistem Kaprodi

1

Standar 1 1 0.405 1 0.031 0.425 6 1

Standar 2 0.405 1 1 0.062 0.449 5 2

Standar 3 0.405 0.164 1 0.156 0.301 7 6

Standar 4 0.405 1 0.665 0.219 0.483 3 3

Standar 5 1 1 1 0.188 0.631 1 4

Standar 6 0.405 1 0.665 0.156 0.455 4 5

Standar 7 0.405 1 1 0.188 0.506 2 7

2

Standar 1 0.405 0.405 0.665 0.031 0.263 7 1

Standar 2 0.405 0.405 0.665 0.062 0.277 5 2

Standar 3 0.405 0.164 0.665 0.156 0.265 6 6

Standar 4 0.405 0.164 0.665 0.219 0.294 3 3

Standar 5 0.405 1 0.665 0.188 0.469 1 5

Standar 6 0.405 1 0.665 0.156 0.455 2 4

Standar 7 0.405 0.164 0.665 0.188 0.28 4 7

3

Standar 1 0.405 1 1 0.031 0.434 2 7

Standar 2 0.405 1 0.423 0.062 0.386 4 4

Standar 3 0.405 0.405 0.423 0.156 0.294 5 3

Standar 4 0.405 0.164 0.423 0.219 0.268 6 1

Standar 5 0.405 1 0.122 0.188 0.411 3 2

Standar 6 0.405 0.164 0.423 0.156 0.239 7 6

Standar 7 0.405 1 1 0.188 0.506 1 5

4

Standar 1 0.405 1 0.665 0.031 0.398 6 1

Standar 2 0.164 1 1 0.062 0.398 5 5

Standar 3 0.405 1 0.665 0.156 0.455 3 2

Standar 4 0.164 0.164 0.423 0.219 0.217 7 6

Standar 5 0.405 1 0.423 0.188 0.443 4 3

Standar 6 0.405 1 1 0.156 0.491 2 4

Standar 7 0.405 1 1 0.188 0.506 1 7

5

Standar 1 0.405 1 1 0.031 0.434 6 1

Standar 2 0.405 1 1 0.062 0.449 4 4

Standar 3 1 0.164 1 0.156 0.427 7 2

Standar 4 1 1 1 0.219 0.645 1 3

Standar 5 1 1 1 0.188 0.631 2 5

Standar 6 0.164 1 1 0.156 0.44 5 6

Standar 7 0.405 1 1 0.188 0.506 3 7

6

Standar 1 1 1 1 0.031 0.61 4 7

Standar 2 1 1 0.665 0.062 0.575 5 6

Standar 3 1 1 0.665 0.156 0.612 3 5

Standar 4 1 0.164 1 0.219 0.491 6 2

Standar 5 1 1 0.665 0.188 0.625 2 1

Standar 6 1 1 1 0.156 0.661 1 3

Standar 7 1 0.164 1 0.188 0.479 7 4

7

Standar 1 0.164 1 0.665 0.031 0.377 5 7

Standar 2 0.164 0.405 0.665 0.062 0.251 7 1

Standar 3 0.164 1 0.665 0.156 0.428 3 3

Standar 4 0.164 0.164 0.665 0.219 0.258 6 6

Standar 5 0.405 1 0.665 0.188 0.494 1 4

Standar 6 0.164 1 0.665 0.156 0.428 4 2

Standar 7 0.164 1 0.665 0.188 0.441 2 5

Perbedaan kondisi antar program studi (ditunjukkan dengan variasi bobot rating penilaian alternatif) membuat perbedaan terhadap hasil perankingan setiap program studi. Hasil perankingan yang ditampilkan sistem adalah urutan prioritas ideal untuk memperbaiki standar akreditasi dengan mempertimbangkan kondisi program studi dan input bobot kriteria. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan perankingan yang dilakukan sistem dengan perankingan yang diberikan kaprodi adalah faktor penilaian bobot kriteria oleh respon expert.

4.25 Pengujian User Acceptance Test (UAT) Pengujian UAT dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada ketua program studi untuk menjamin bahwa produk akhir sistem dapat memenuhi kebutuhan user. Pengujian UAT dilakukan terhadap 3 aspek pengujian yaitu desain aplikasi, kemudahan penggunaan aplikasi, dan efektivitas aplikasi. Tiap- tiap aspek memiliki 2 pertanyaan yang harus dijawab oleh kaprodi. Tabel VIII menunjukkan hasil pengujian UAT yang dilakukan terhadap 7 kaprodi.

Tabel VIII. Hasil Pengujian UAT

Aspek

Pengujian Uraian Pertanyaan Hasil Pengujian

SB B C K

Desain Aplikasi

1. Bagaimana desain antarmuka yang

ditampilkan sistem? 1 6 - -

2. Bagaimana pemahaman anda terhadap penggunaan menu sidebar, tombol action

dan link yang ada pada sistem? 1 5 1 -

Kemudahan Penggunaan Aplikasi

3. Bagaimana kemudahan dalam

pengaksesan menu pada aplikasi? 2 4 1 -

4. Bagaimana kemudahan anda memahami

alur kerja sistem ini dengan ditambahkan 3 3 1 -

(11)

37

penjelasan tentang penggunaan sistem (halaman bantuan) ?

Efektivitas Aplikasi

5. Bagaimana hasil rekomendasi keputusan

yang diberikan sistem? 2 3 2 -

6. Bagaimana interaksi model simulasi

analisis what-if ? 2 4 1 -

Jumlah 11 25 6 0

Pengujian UAT pada tabel VIII menunjukkan bahwa 26% user menilai sistem dapat memenuhi kebutuhan user dengan sangat baik, 60% user menilai sistem dapat memenuhi kebutuhan user dengan baik, dan 14% user menilai sistem dapat memenuhi kebutuhan user dengan cukup baik. Hasil pengujian UAT menunjukkan bahwa sistem pendukung keputusan ini dapat diterima dengan baik oleh user dan dapat memenuhi kebutuhan user dinilai dari aspek desain aplikasi, kemudahan penggunaan aplikasi, dan efektivitas aplikasi.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perancangan, implementasi dan pengujian yang dilakukan pada Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Prioritas Perbaikan Standar Akreditasi Program Studi Sarjana Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP), maka diambil kesimpulan sebagai berikut:

4. Sistem pendukung keputusan ini mampu memberikan rekomendasi berupa urutan prioritas perbaikan standar akreditasi program studi yang dirancang menggunakan metode AHP.

5. Hasil pengujian fungsional sistem terhadap 12 tindakan dalam use case diagram dengan metode black-box testing menunjukkan bahwa sistem 100% dapat berjalan dengan baik sesuai dengan daftar kebutuhan sistem.

6. Hasil pengujian UAT menunjukkan bahwa sistem dapat diterima dengan baik oleh 86% user responden setelah dilakukan pengujian terhadap aspek desain aplikasi, kemudahan penggunaan aplikasi, dan efektivitas aplikasi.

7. Hasil analisis proses perankingan menunjukkan bahwa hasil perankingan sangat bergantung pada input penilaian bobot kriteria yang dilakukan oleh respon expert.

Saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya tentang Sistem Pendukung Keputusan untuk Akreditasi, antara lain:

1. Penambahan profil program studi dapat dijadikan referensi data awal untuk membangun basis pengetahuan sistem pendukung keputusan.

2. Pengembangan metode fuzzy-AHP dapat diterapkan untuk mengurangi subyektifitas pengisian bobot kriteria.

3. Pembuatan sistem pendukung keputusan akreditasi program studi dapat dimulai dengan pembuatan datawarehouse untuk penyimpanan history data program studi yang akan mendukung decision- maker.

4. Selain menggunakan metode AHP, pembuatan sistem pendukung keputusan dengan studi kasus yang sama dapat dikembangkan dengan metode lain seperti optimasi sumber daya manusia atau rule based untuk penilaian akreditasi.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kusrini. 2007. Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: Andi.

[2] SNMPTN. 2012. Daftar Prodi.

http://www.snmptn.ac.id (diakses 1 Maret 2012).

[3] BAN-PT. 2012. Direktori Akreditasi Program Studi. http://ban-pt.kemdiknas.go.id/direktori.php (diakses 1 Maret 2012).

[4] Kusumadewi, S., Hartati, S., Harjoko, A. &

Wardoyo, R. 2006. Fuzzy Multi-Attribute Decision Making (Fuzzy MADM). Yogyakarta:

Graha Ilmu.

[5] Tahapary, Marthin A. & Syukur, Abdul. 2010.

Sistem Pendukung Keputusan Kelaikan Terbang Pada Helicopter Model Bell 205 A-1 Pusat Penerbangan TNI AD. Jurnal Teknologi Informasi, Volume 6 Nomor 1: 94-101.

[6] Seputro, Hery. 2008. Modul 3 Konsep Penentuan Prioritas. http://www.scribd.com (diakses 12 Mei 2009).

[7] BAN-PT. 2008. Buku I Naskah Akademik Program Studi Sarjana. Jakarta: BAN-PT.

[8] BAN-PT. 2008. Buku V Pedoman Penilaian Akreditasi Program Studi Sarjana. Jakarta: BAN- PT.

[9] Saaty, T. L. 2008. Decision Making with The Analytic Hierarchy Process. Int. J. Services Sciences, Vol. 1, No. 1: 83-98.

[10] Suryadi, Kadarsah. & Ramdhani, Ali. 2002.

Sistem Pendukung Keputusan: Suatu Wacana Struktural Idealisasi dan Implementasi Konsep Pengembangan Keputusan. Cetakan Ketiga.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[11] Behl, Ramesh. 2009. Information Technology for Management. New Delhi: Tata McGraw-Hill.

ISBN (13): 978-0-07-014492-7.

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi form untuk Sistem Pendukung Keputusan untuk menentukan mahasiswa berprestasi menggunakan form-form yang digunakan sudah berdasarkan DFD dan perancangan

Berdasarkan hasil implementasi, pengujian dan analisis sistem yang telah dilakukan pada penelitian ini, sistem pendukung keputusan pembelian tanah yang telah dibuat cukup

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN LOKASI PEMBANGUNAN TOWER DENGAN METODE ANALYTIC.. HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus

Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Guru Berprestasi Menggunakan Fuzzy- Analytic Hierarchy Process (F-Ahp) bahasa yang digunakan adalah pemrograman web antara lain HTML,

Penulisan ini bertujuan untuk membangun sebuah sistem pendukung keputusan yang mempunyai kemampuan analisa pemilihan karyawan baru dengan menggunakan metode

Berdasarkan pengujian black box hasil dari Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Seleksi Calon Guru menggunakan metode Dempster Shafer/Analytic Hierarchy Process (DS/AHP) ini sesuai

Muizzi Intaha 317 Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sistem pendukung keputusan pemilihan supplier dengan menggunakan metode AHP sebagai referensi

Sistem pendukung keputusan DESSTA ApMa merupakan sistem pendukung keputusan yang mampu digunakan untuk menganalisa kesesuaian jenis vegetasi mangrove terhadap faktor