• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN LEMBAGA ADAT DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN LEMBAGA ADAT DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

45

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

PERAN LEMBAGA ADAT DALAM PENANGGULANGAN TINDAK

PIDANA

NURUL CHAERANI NUR [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimanakah Proses Penyelesaian Tindak Pidana Adat Pada Masyarakat Supiori Di Kabupaten Supiori dan Bagaimanakah kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian tindak pidana di masyarakat hukum adat Supiori di Kabupaten Supiori.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis empiris. Dimana dilakukan dengan cara meneliti di lapangan sebagai data primer.

Hasil yang diperoleh penulis dari penelitian ini, antara lain : 1. Ada beberapa jenis-jenis tindak pidana atau pelanggaran adat yang sudah pernah ditangani oleh pengadilan adat atau lembaga adat Supiori, seperti : Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Tindak pidana perzinahan, Tindak pidana penghinaan (terhadap wanita dan kepala adat), Tindak pidana penganiayaan, Tindak pidana perkelahian, Tindak pidana pencurian, Tindak pidana membuka rahasia masyarakat, Tindak pidana pembunuhan, Hamil diluar perkawinan, Melarikan seorang perempuan 2. Kendala-kendala atau hambatan yang sering dihadapi pengadilan adat/lembaga adat Kabupaten Supiori dalam menyelesaikan perkara tindak pidana adalah

1 Koentjaraningrat, dkk, 1994, Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk , Djambatan, Jakarta, hlm.385

sebagai berikut : Adanya penundaan persidangan karena ketidakhadiran salah satu pihak yang berselisih, tunda juga biasanya dilihat dari bukti (saksi) yang dihadirkan untuk meringankan pelaku, dan kendala dari korban.

Kata Kunci: Peran Lembaga Adat, Penanggulangan Tindak Pidana

PENDAHULUAN

Masyarakat Supiori mengena dualisme sistem pemerintahan yaitu pemerinthan formal dan pemerinthan non-formal.

Pemerinthan formal dapat dipahami sebagai pemerintahan yang terstruktur sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku pada Negara Kesatuan Republik Indonrsia. Sedangkan pemerinthan yang bersifat non-formal yakni pemerintahan adat. Dalam sistem pemerintahan adat ini masyarakat Supiori dipimpin oleh seorang mananwir beserta aparaturnya. Pada kepemimpinan yang disebut sebagai ketua suku menganut sistem klen yang mana kedudukan pemimpi dari orang tua kepada anak pria sulung. Bilamana anak tersebut tidak mampu mewarisinya disebabkan karena tidak memenuhi syarat- syarat maka salah seorang adiknya atau saudara ayahnya yang memnuhi syarat kepemimpinan tersebut yang dapat mendudukinya1 . meskipun bersifat turun temurun dalam hal jabatan tetapi dalam hal pemilihan mananwir tetap mengutamakan sistem demokrasi yang mana partisipasi dari masyarakat adat tetap di dengar.

Peranan mananwir sangatlah penting dalam masyarakat suku adat. Seperti contoh dalam hal penyelesain sengketa yang terjadi. . Seorang Ketua adat Mananwir mempunyai

(2)

46

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

kekuasaan, kewenangan mengatur, penyelenggaraan dan peruntukan atas sengketa adat. Dalam proses penyelesiaan sengketa tersebut masyarakat dapat memilih penyelesaian baik dalam jalur litigasi maupun non litigasi atau dapat dikenal dengan istilah Para-Para Adat yakni prises penyelesaian sengketa secara adat. Peradilan adat di Papua diatur berdasarkan Peraturan Khusus Provinsi Papua No.20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat Papua (yang selanjutnya disebut Perdasus Peradilan Adat). Perdasus ini adalah pelaksanaan dari Undang-undang No.21 Tahun 2001 tentang Pemberian Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (yang selanjutnya disebut undang- undang Otsus).

Berdasarkan Undang-Undang Otsus tersebut dalam Pasal 18B AYAT (2) UUD 1945 menyatakan bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (yang selanjutnya disebut NKRI), yang diatur dalam Undang-undang. Jaminan konstitusional merupakan dasar hukum yang sangat kuat bagi kesatuan masyarakat hukum adat.

Salah satu kekhususan otonomi bagi Provinsi Papua adalah adanya penyelenggaraan pengadilan adat sebagaimana tercantum dalam Pasal 50 ayat (2) dan Pasal 51 ayat (1) sampai dengan ayat (8) UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus. Pada kenyataannya kehidupan masyarakat adat di Papua masih terus memberlakukan, mempertahankan dan tunduk pada pengadilan adatnya masing-masing terutama dalam penyelesaian perkara adat yang terjadi diantara sesama warga masyarakat hukum

adat. Kenyataan ini makin diperkuat dengan pengaturannya dalam Perdasus Peradilan Adat.

Sehingga berdasarkan hal tersebut penelitian bertujuan untuk mengetahui serta menguraikan terkait dengan peradilan adat yang masih dianut di daerah Indonesia Timur khususnya di Biak Numfor.

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah Proses Penyelesaian Tindak Pidana Adat Pada Masyarakat Supiori Di Kabupaten Supiori?

2. Bagaimanakah kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian tindak pidana di masyarakat hukum adat Supiori di Kabupaten Supiori?

TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk tindak pidana yang diselesaikan dalam masyarakat hukum adat Supiori di Kabupaten Supiori.

2. Untuk mengetahui bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian tindak pidana di masyarakat hukum adat Supiori di Kabupaten Supiori.

2 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris yang mana penelitian dengan cara melihat bagaimana bekerjanya hukum di tengah masyarakat berdasarkan dengan Undang-Undang yang berlaku. Adapun data yang digunakan pada penelitian ini ialah dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara secara langsung pada pihak-pihakk yang bersangkutan pada penelitian ini sedangkand ata sekunder ialah data yang diambil dari buku literature seperti peraturan perundang-

(3)

47

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

undangan, artikel-artikel hukum dan buku yang berkaitan dalam permasalahan.

Pada penelitian ini sampel yang digunakan ialah dengan menggunakan metode pusposive sampling yakni sampel yang disengaja dipilih karena dapat mewakili seluruh populasi secara menyeluruh. Bilaman seluruh data telah terkumpul maka akan digunakan suatu analisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif yakni menganalisis data yang diperoleh dari penelitian kemudian menjelaskan dan menggambarkan kennyataan-kenyataan yang ditemui di lapangan.

HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN Proses Penyelesaian Tindak Pidana Adat Pada Masyarakat Supiori Di Kabupaten Supiori?

Hukum Pidana Adat menurut Ter Haar dapat diartikan sebagai perbuatan sepihak yang oleh pihak lain dengan tegas atau secara diam-diam dinyatakan sebagai perbuatan yang mengganggu keseimbangan.

Berdasarkan pendapat tersebut Hilman Hadikusuma memberikan kesimpulan bahwa hukum pidana adat ialah hukum yang menunjukkan peristiwa dan perbuatan yang harus diselesaikan (dihukum) karena peristiwa dan perbuatan itu telah menggaggu keseimbangan masyarakat2. Pada hukum pidana adat ini menitikberatkan pada keseimbangan yang terganggu yang mana bilamana keseimbangan pada suatu masyarakat tersebut terganggu maka akan mendapat sanksi hukum adat. Dalam hukum pidana adat ini tidak mengenal kodifikasi atau hukum hukum yang tertulis.

2 Prof. H. Hilman Hadikusuma, SH. ,2014, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung, hlm.221

Didik mulyadi mengatakan berpendapat bahwa hukum pidana adat ialah perbuatan yang menlanggar perasaan keadilan dan kepatuhan yang hidup dalam masyarakat sehingga menimbulkan gangguan ketentraman dan keseimbangan pada masyarakat yang bersangkutan. Adapun diantaranya dasar berlakunya hukum pidana adat antara lain:

a. Undang-Undang Dasar 1945

b. Undang-Udang Dasar Sementara (UUDS) 1950

c. I.S Pasal 131 jo R. R Pasal 75 (Baru dan Lama)

Pada pidana adat meskipun terdapat beberapa perbedaan di dalamnya namun adanya sedikit kesamaan dengan hukum pidana yang berlaku di masyarakat pada umumnya.

Diantara kesamaan tersebut ialah adanya delik adat delik adat menurut Hilman Hadikusuma ialah

Delik adata adalah peristiwa atau perbuatan yang dikenakan adanya reakhsi dari masyarakat maka keseimbangan adanya reaksi harus dipulihkan kembali. Peristiwa atau perbuatan itu apakah berujud atau tidak berujud menimbulkan kegonccangan dalam masyarakat harus dipulihkan dengan hukuman denda atau dengan upacara adat.

Apabila keseimbangan yang teragnggu itu akibat peristiwa atau perbuatan seseorang maka yang bersalah dimaksud dikenakan hukuman adat untuk mengembalikan keseimbangan masayarakat”3

3 Tolib Setiady, S.H.,M.Pd.,M.H. , 2013, Intisari Hukum Adat Indonesia Dalam Kajian Kepustakaan, Alfabeta, Bandung, hlm.345

(4)

48

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

Adapun unsur-unsur yang terrdapat dalam delik adat ialaj

a. Ada perbuatan yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok atau Pengurus (Pimpinan/Pejabat) Adat sendiri.

b. Perbuatan itu bertentangan dengan norma-norma hukum adat.

c. Perbuatan itu dipadang dapat menimbulkan kegoncangan karena mengganggu keseimbangan dalam masyarakat, dan

d. Atas perbuatan itu timbul reaksi dari masyarakat yang berupa sanksi adat.

Beberapa sifat daripada delik adat ialah menyeluruh dan menyatukan, ketentuan yang terbuka, membeda-bedakan permasalahan, peradilan dengan permintaan, tindakan reaksi atau koreksi4.

Sebagaimana di Supiiori sendiri masih menerapkan sistem Peradilan Adat yakni apabila ada masyarakat yang melakukan suatu kesalahan yang mengganggu ketentraman maka akan di proses melalui peradilan adat. Peradilan adat sediri ebagaimana telah diatur dalam para-para adat Pasal 9 Ayat (3) Peraturan Khusus Propinsi Papua No 20 Tahun 2008 menyebutkan bahwa penyelenggaraan peradilan adat diurus oleh hakim adat. Adapun keputusan tertinggi berada di tangan para mananwir yakni hakim adat.

Lembaga masyarakat adat Kabupaten Supiori terdapat beberapa urutan yakni antara lain 1) Kepala Dewan Adat, 2) Kepala Suku atau dapat disebut sebagai mananwir, 3) Masyarakat Kabupaten Supiori. Dalam

4 Tolib Setiady, S.H.,M.Pd.,M.H. , 2013, Intisari Hukum Adat Indonesia Dalam Kajian

Kepustakaan,Alfabeta, Bandung, hlm.346

perkara pembunuhan Mananwir akan melaporkan ke Dewan adat. Dewan adat terdiri dari 3 orang perwakilan masing- masing dari Marga/Wilayah (territorial) adat.

Dewan adat ini yang akan menentukan berapa jumlah sanksi yang akan dibayarkan pelaku kepada pihak korban.

Peradilan adat dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus sendiri dijelaskan bahwa peradilan adat adalah peradilan perdamaian di lingkungan masyarakat hukum adat, yang mempunyai kewenangan memeriksa dan mengadili sengketa perdata adat dan perkara pidana di antara para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Peradilan adat sediri dalam pelaksanaannya dapat dilakukan oleh anggota keluarga masyarakat secara perorangan, oleh keluargam kepada kerabat atau ketua adat (Hakim Adat), Kepala Desa atau pengurus perkumpulan organisasi.

Perdailan adat asli memiliki otoritas berupa mengadili perkara sesuai dengan hukum normative masing-masing sub-suku atau suku. Adapun beberapa tingkatan setelaj Dewan Adat Papua (DAP) terbentuk pada tahun 2002 antara lain:

1. Peradilan adat daerah (disetiap daerah)

2. Peradilan adat wilayah (ada tujuh wilayah adat)

3. Peradilan adat Papua (satu untuk setanah Papua)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kaleb Mansoben terkait dengna peradilan adat ia mengatakan:

(5)

49

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

berlakunya hukum adat dilingkungan Kabupaten Supiori berdasarkan asas territorial. Jadi, hukum adat ini berlaku bagi siapa saja yang masuk dalam wilayah Kabupaten Supiori.

Baik masyarakat suku diluar Kabupaten Supiori maupun pendatang atau warga pribumi. Tapi berlakunya hukum adat ini tergantung dari kepada siapa korban melapor.

Misalkan korban adalah seorang warga pribumi atau seorang wisatawan dan menjadi korban delik adat, apabila yang menjadi korban melapor pada Mananwir maka penyelesaian delik adat itu secara hukum adat yang berlaku.

Penyelesaian perkara adat yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan keluarga dan masyarakat walaupun adakalanya perkaranya sampai ditangani oleh alat negara dapat ditempuh dengan cara melalui pribadi dan atau keluarga yang bersangkutan, perkumpulan dan organisasi.

Begitu pula dengan perkara-perkara adat atau yang dikenal oleh masyarakat adat merupakan pelanggaran adat, yang terjadi di masyarakat adat Kabupaten Supiori.

Peran utama lembaga masyarakat adat Kabupaten Supiori dalam menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi di masyarakat adat Kabupaten Supiori yaitu, menjadi fasilitator dengan menampung dan menyelesaikan semua keluhan-keluhan atau masalah-masalah, aspirasi dari masyarakat tentang adat di Kabupaten Supiori. Dan juga sebagai penegak hukum dalam penyelesaian perkara pidana dan sengketa perdata di masyarakat hukum adat Kabupaten Supiori.

Sedangkan fungsi daripada lembaga masyarakat adat di Kabupaten Supiori ialah sebagai mediator dalam menyelesaikan

perkara tindak pidana dan perdata secara adat.

Adapun bentuk-bentuk penyelesaian perkara adat yang terjadi pada masyarakat Supiori yakni dengan cara mengumpulkan semua pihak-pihak seperti yang tercantum dalam struktur dewan adat Kabupaten Supiori yaitu, ketua (Mananwir), kepala suku, pihak yang berperkara, pesuruh besar dari Mananwir, dan tua-tua adat. Dan yang menjadi pemimpin disini (hakim adat) adalah Mananwir. Pada penyelesaian adat sendiri Mananwir melihat terhadap tingkat pelanggaran. Apabila pelanggaran yang dibuat berat maka denda yang diterima pun berat namun bila perbuatan yang dilanggar ringan maka sebaliknya.

Mengenai denda atau sanksi yang diberikan itu sesuai dengan nilai uang yang beredar di masyarkat, dulu biasanya Rp 100.000,- namun sekarang mencapai jutaan (bila berat pelanggaran yang dibuatnya). Lembaga adat Kabupaten Supiori dalam menyelesaikan berbagai persoalan pidana maupun perdata adat didasarkan atas hukum adat atau norma- norama yang berlaku di masyarakat hukum adat Kabupaten Supiori dengan mengesampingkan hukum Nasional.

Pada penyelesaian perkara pidana sendiri yang terjadi di Kabupaten Supiori dalam hal ini senantiasa mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan. Kedua belah pihak diundang untuk diselesaikan di depan forum yang terbuka untuk umum, setelah mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak lalu diambil keputusan sesuai tingkat kesalahannya/pelanggarannya dan diberi sanksi adat dengan membayar sejumlah uang atau denda adat. Jenis denda adat yang ada ini umumnya disepakati oleh korban dan pelaku.

Sebab jenis denda ini sebagai sarana

(6)

50

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

penyelesaian perkara adat pada umumnya, dan fungsinya sebagai penyeimbang dalam mengembalikan sejumlah nilai adat yang diabaikan. Dalam banyak hal, pemberlakuan denda adat ini justru menjadi jalinan hubungan kekerabatan yang baru antara pihak pelaku dan pihak korban.

Bentuk sanksi yang diberikan oleh Mananwir dalam sidang adat terhadap pelaku ditetapkan dan tidak dapat diganggu gugat oleh para pihak yang bertikai, dan korban juga harus menerima besar- kecilnya denda yang dapat diberikan oleh pelaku kepadanya sesuai keputusan Mananwir. Di sini Mananwir sebagai ketua juga harus melihat status sosial dan kedudukan pelaku di Kabupaten Supiori dalam hal kesanggupan untuk membayar ganti kerugian.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian tindak pidana di masyarakat hukum adat Supiori di Kabupaten Supiori.

Terkait dengan kendala yang dialami dalam proses penyelesaian tindak pidana yang dialami masyarakat hukum adat Kabupaten Supiori berdsarkan dengan wawancara yang telah dilakukan bersama Stevanus Sarakan antara lain

1. Adanya penundaan persidangan karena ketidakhadiran salah satu pihak yang berselisih yaitu pelaku, alasannya karena sakit dan menganggap pihak lain tidak perlu ikut campur dalam penyelesaian masalah yang dihadapi.

2. Tunda juga biasanya dilihat dari bukti (saksi) yang dihadirkan untuk meringankan pelaku. Sehingga harus dibuat perjanjian sebelumnya untuk dilanjutkan kembali persidangannya

kapan dilaksanakan. Penundaan sidang biasanya dari pelaku dalam hal pembayaran denda, pelaku biasanya

meminta waktu untuk

mengumpulkan harta yang akan dibayarnya kepada korban di depan meja pimpinan dengan disaksikan ketua Dewan Adat, wakil ketua, sekertaris, pesuruh besar, kepala- kepala suku, tokoh agama, dan masyarakat setempat.

3. Kendala dari korban yaitu, biasanya dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perzinahan korban malu untuk diselesaikan melalui sidang adat karena merupakan aib keluarga, sehingga biasanya diselesaikan dalam satu keluarga atau satu marga.

KESIMPULAN DAN SARAN

Beberapa kendala yang menjadi hambatan dalam penyelesaian tindak pidana masyarakat adat ialah adanya penundaan persidangan karena ketidakhadiran salah satu pihak yang berselisih tunda juga bisanya dilihat dari bukti (saksi) yang hadir untuk meringankan pelaku dan kendala dari korban.

Sebagai saran kepada pengadilan/lembaga adat Kabupaten Supiori agar lebih berperan aktif dalam upaya menyelesaikan perkara tindak pidana adat yang terjadi, mengingat masyarakat adat Kabupaten Supiori di Kabupaten Supiori lebih mengenal cara penyelesaian masalah melalui adat ketimbang melalui jalur hukum nasional (hukum tertulis, Undang-Undang). Kepada msyarakat Kabupaten Supiori diharapkan selalu mendukung eksistensi pengadilan adat/lembaga masyarakat adat Kabupaten Supiori dalam menyelesaikan masalah-

(7)

51

Jurnal Hukum: https://journal.stihbiak.ac.id.

masalah tindak pidana adat maupun perdata adat guna terciptanya keamanan dan kesejahteraan masyarakat adat Kabupaten Supiori di Kabupaten Supiori.

DAFTAR PUSTAKA Buku

Hilman Hadikusuma, SH. ,2014, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung

Koentjaraningrat, dkk, 1994, Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk , Djambatan, Jakarta

Tolib Setiady, S.H.,M.Pd.,M.H. , 2013, Intisari Hukum Adat Indonesia Dalam Kajian Kepustakaan, Alfabeta, Bandung, hlm.345 Tolib Setiady, S.H.,M.Pd.,M.H. , 2013, Intisari Hukum Adat Indonesia Dalam Kajian Kepustakaan,Alfabeta, Bandung, hlm.346 Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Undang Undang Dasar 1945 Peraturan Perundang-Undangan

Peraturan Khusus Provisni Papua No 20 Tahun 2008 Tentang Peradilan Adat di Papua Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah peran pihak kepolisian dalam melaksanakan perpolisian masyarakat dalam penyelesaian perkara tindak

d) Hasil perdamaian diwujudkan dalam bentuk tertulis dan mewari (angkatan saudara) serta keterlibatan polisi dan tokoh masyarakat. Proses penyelesaian perkara pidana anak

Judul: Peran Mosa Sebagai Lembaga Pemangku Adat Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Ulayat Melalui Upaya Perdamaian Bagi Masyarakat Hukum Adat Kecamatan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari permasalahan ini yaitu, Proses penyelesaian tindak pidana zina menurut hukum pidana adat dilakukan dengan cara menegur

perkara tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga menurut hukum adat Batak di Tapung Hulu tersebut apabila telah tercapainya kata sepakat dan para pihak setuju

Bahwa delik pidana adat apakah itu delik zina maupun delik nedosa sangat penting dalam kaidah-kaidah hukum Adat yang masih di hormati dan di taati hingga kini oleh masyarakat

Dalam proses Peradilan Adat Dayak Bangkalaan ini setelah para pihak menjelaskan duduk permasalahannya, para Tetuha Adat memberikan pandangan atas perkara yang telah dilanggar oleh

Kendala yang dihadapi pihak Kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana perjudian toto gelap togel yang terjadi di Kota Batam pada tahun 2021 yaitu kurangnya respon masyarakat terhadap