UJI KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN LAUT YANG DI JUAL DI PASAR TRADISIONAL
KOTA JAMBI
SKRIPSI
Oleh
MIRNA GUSTIANI NIM. TB. 140474
PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2019
UJI KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN LAUT YANG DI JUAL DI PASAR TRADISIONAL
KOTA JAMBI
SKRIPSI
Oleh
MIRNA GUSTIANI NIM. TB. 140474
PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2019
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi seluruhnya merupakan hasil karya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi yang saya kutip dari orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian skripsi bukan hasil karya saya sendiri atau terindikasi adanya unsur plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sangsi sesuai dengan peraturan dan perundang- undangan yang berlaku.
Jambi, Januari 2019
Mirna Gustiani NIM. TB. 140474
PERSEMBAHAN
Asslamualaikum wr.wb
Syukur alhamdulillah dengan hati yang ikhlas dan tulus, Ku ucapkan Kehadirat allah SWT telah memberikan aku kesempatan untuk Membahagiakan Orang-orang yang aku
cintai dan kusayangi
Satu langkah telah kutepati dan semoga akan menambah kemantapan langkah hari esokku.
Skripsi ini kupersembahkan kepada
Kedua orang tuaku Ayahanda Amir Hamzah dan Ibunda tercinta Siti Rohana dan kakak saudara kandungku Atas pengorbanan dan do’a demi cita-cita masa depanku. Dan orang-
orang yang mencintai ilmu pengetahuan.
Terimakasih bingkisan ini sebagai persembahanku Semoga allah meridhoi
Wassalamualaikum wr.wb
MOTTO
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu”. (Q.S: Al-Baqarah :168). Al-quran dan terjemahan. Kementrian agama RI, Jakarta. PT Karya Toha Putra. (2010)
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang maha ‘Alim yang kita tidak mengetahui kecuali apan yang di ajarkan, atas iradah-Nya hingga skripsi ini dapat dirampungkan. Shalawat dan salam atas Nabi SAW pembawa risalah pencerahan bagi manusia.
Penulis skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat akademik guna mendapat gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Uin Sulthan Tahaha Saifuddin Jambi. Penulis menyadri sepenuhnya bahwa menyelesaikan skripsi ini banyak melibatkan pihak yang telah memberikan motivasi baik moril maupun materil, untuk melalui kolom ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada:
1. Dr. H. Hadri Hasan, MA sebagai Rektor UIN STS Jambi dan para wakil rektor beserta jajarannya.
2. Ibu Dr. Hj. Armida, M. Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi beserta jajarannya.
3. Reny Safita, M.Pd sebagai ketua Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi beserta jajarannya.
4. Fery Kurniawan, M.Si sebagai sekretaris Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi beserta jajarannya.
5. Dr.H Kasful Anwar Us, M.Pd sebagai pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan pemikirannya demi kemudahan pada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Fery Kurniawan, M.Si sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan pemikirannya demi kemudahan pada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Ibu kepala Laboratorium UIN STS JAMBI Rita Safitri, M.Si yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam memperoleh data di lapangan.
8. Ibu kepala laboratorium Badan pom kota jambi Aswita. yang telah menjadi patner dalam diskusi dalam menyusun skripsi
9. Yusra Wati dkk yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan pemikirannya demi kemudahan pada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Akhirnya semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dan amal semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu.
Jambi, Januari 2019 Penulis,
Mirna Gustiani Nim: TB 140474
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi ABSTRAK
Nama :Mirna Gustiani Jurusan :Pendidikan Biologi
Judul :Uji Kandungan Formalin pada Ikan Laut yang di jual di pasar Tradisoinal Kota Jambi
Konsumsi ikan meningkat beberapa tahun belakangan, peningkatan ini menunjukan minat makan ikan di Indonesia mulai bergairah. Sebagai Negara maritime hal ini sangatlah berdampak positif terhadap kegiatan ekonomi.
Sayangnya, peningkatan konsumsi ikan ini di baying-bayangi pedagang curang.
Provinsi Jambi saat ini masih memasok kebutuhan ikan dari provonsi tetangga.Jarak dan waktu menjadi alasan “klise” untuk pedagang berbuat curang.
Tujuan penelitian lebih memfokuskan pada identifikasi formalin pada ikan laut jenis Sarden (Sardenilla Aurita) dan Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis)secar kasat mata dan melalui ujilaboratorium. Di tiga pasar di kota Jambi. Tiga pasar tersebut antara lain pasar Angso Duo Jambi, Pasar Keluarga dan Pasar Aurduri. Peneliti menggunakan metode wawancara saat mengumpulkan informasi dari pedagang perihal konsumsi ikan masyarakat serta metode kualitatif dalam menganalisa hasil wawancara tersebut. Hasil nya adalah memang tidak mudah mengidentifikasi formalin secara kasat mata setidaknya ada cara yang bias dilakukan seperti melihat kondisi daging, mata serta ikan. Dan melihat keadaan lalat yang mengerubungi ikan tersebut. Dan didalam menguji total 12 sampel dari tiga pasar tersebut menggunakan Kit Reagen Formalin. Hasil menunjukan bahwa, dari 12 sampel total, 6 sampel ikan Sarden dan 6 sampel IkanTongkol. Dari hasil pengujian tidak ditemukan satu sampel pun pada jenis tongkol namun untuk jenis ikan Sarden ditemukan tidak satu pun sampel yang positif mengandung formalin.
Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti lebih lanjut mengenai kadar formalin pada jenis makanan lain yang sedang digemari.
Kata kunci : Ikan, Formalin, Pasar Kota Jambi
ABSTRACT Name :Mirna Gustiani
Department :Biologi Education Department
Title :Formalin Test of Sea Fish in Tradisional Market JambiCity.
Fish consumption rise for a few years behind. This rise showd interested of eating fish start to be enthusiasm. It is good sign for economic as maritime land.
Unfortunately, this good sign haunted by a cheat seller. Jambi Province sill supplied fish from another province. Distance and time is always be a reason for this mistaken. The purpose of this research is identify formalin on fish that local people said Sarden (Sardenilla Aurita) and Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis).
There were three traditional markets where research applied; Angso Duo, Keluarga, Aurduri. The researcher used interview method to collecting the data from the seller about fish consumption and qualitative to analyze the result of the interview. The result is not easy to identify formalin on fish without lab test. At least, there are some indication about formalin on it. The condition of the fish, fihs’eyes and flies around those fish can be another indication about formalin on it. There are nosampels of Sarden which indicated by formalin on it from 6 sampels and there were found any formalin from 6 sampels of tongkol.
Keyword : Fish, Formalin, Jambi City’s Market
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
PERSEMBAHAN ... .iii
MOTO ... .iv
KATA PENGANTAR ... ..v
ABSTRAK ... .vi
ABSTRACK ... vii
KATA PENGANTAR ... .viii
DAFTAR ISI ... ...ix
DAFTAR TABEL ... ...x
DAFTAR GAMBAR ... ...xi
LAMPIRAN...xii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 7
BAB II : LANDASAN TEORITIS A.Bahan Tambahan Pangan ... 9
B. Formalin ... . 10
C. Ikan Sarden (Sardenilla Lemuru) dan Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis)12 D. Pasar Tradisional Kota Jambi ... 16
F. Studi yang relevan ... 20
G.Kerangka Berfikir ... 28
BAB III : METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 31
B. Metode Penelitian ... 33
C. Alat dan Bahan Penelitian ... 35
D. Prosedur Penelitian ... 36 E. Jadwal Penelitian ... 57
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil... 40 B.Pembahasan ... 49
BAB III : KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 58 B. Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA...61
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi DAFTAR TABEL
Tabel 1. Study Yang Relevan………21
Tabel 2. StratifikasiSampelPenelitian………...…... 38
Tabel 3. Jadwal Penelitian………..…. 57
Tabel 4. HasilUjiLaboratorium………... 47
Tabel 5. Hasilpengamatanberdasarkanhasilwanwancara……….... 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Cuplikan foto Pak Yudi saat wawancara………... 44
Gambar 2. Struktur molekul formaldehida ………..…... 11
Gambar 3. Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis)……… 13
Gambar 4. Peta Penyebaran Ikan Tongkol (Euthynnusaffinis) didunia...………... 14
Gambar 5. Ikan Sarden bernama latin Sardenillia Lemuru……… 15
Gambar 6. Peta Penyebaran Ikan Tongkol (Sardenilla Lemuru) didunia………... 15
Gambar 7. Kerangka Fikir……...………... 29
Gambar 8. Denah Pasar Aurduri Kota Jambi….……… 31
Gambar 9. Denah Pasar Keluarga Kota Jambi………... 32
Gambar 10. Denah Pasar Angso Duo Kota Jambi………. 33
Gambar 11. Denah Penelitian………. 33
Gambar 12. Wawancara bersama konsumen……….………..….. 40
Gambar 13. Cuplikan poto bersama Ibu Aswita…….……….…. 42
Gambar 14. Wawancara dengan pedagang Ikan…….………... 44
Gambar 15. Ikan yang akan diteliti secara kasat mata……….… 51
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN POTO... 67 TEKS WAWANCARA... 64
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan merupakan faktor penting yang menunjang kehidupan manusia, segala sesuatunya dimulai dari makanan.
Manusia melakukan kegiatan sehari-hari membutuhkan energi yang didapat dari makanan. Untuk itu perlu perhatian yang lebih terhadap makanan, makanan yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Salah satunya makanan yang dikonsumsi harus aman dari bahan- bahan kimia yang berbahaya. Salah satu jenis makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian kali ini alah ikan dimana Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil ikan terbesar didunia.
Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besar terdiri dari luasnya lautan dan memiliki ribuan pulau. Maka Indonesiapun termasuk salah satu negara dengan garis pantai terpanjang didunia.
Seruan “ Nenek moyangku seorang pelaut” mungkin tidak asing lagi di dengar oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagai Negara agrari terbesar saat ini maka tidaklah berlebihan jika Indonesia seharusnya menjadi Negara dengan produsen hasil laut terbesar.
Selain itu dengan jumlah penduduk yang sangat banyak seharusnya mampu menjadikan Indonesia menjadi konsumen terbesar. Menurut data yang diperoleh peneliti, bahwa konsumsi ikan mengalami kenaikan sebesar 1,61% (Dewi. 2018).
Data tersebut sangat mengembirakan karena melebihi target yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Konsumsi ikan yang sedang meningkat membuat polemik baru yang beredar di masyarakat luas.
Hasil laut seperti ikan dan lain lain membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tangan konsumen Indonesia. Hal ini memancing banyak orang menggunakan bahan tambahan pangan agar hasil laut terutama Ikan sampai ke tangan konsumen dalam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi keadaan segar. Menurut keputusan mentri kesehatan Indonesia, bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasa tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan ingredient khas makanan mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan. Penggunaan bahan tambahan pangan memiliki tujuan.
Penggunaan bahan tambahan bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi, penerimaan konsumen, kualitas daya simpan, mengurangi limbah serta mempermudah preparasi bahan makanan (Cahyadi.
2007: 224)
Bahan tambahan pangan sering disertakan guna meningkatkan mutu makanan dalam hal ini adalah ikan. Dan salah satu hal sering yang terjadi di Indonesia khususnya Jambi adalah penggunaan Formalin sebagai bahan tambahan pangan. Hal ini tentunya bukanlah hal yang seharusnya dilakukan mengingat bahaya bahan diatasbukanlah hal yang bisa dibiarkan begitu saja.
Masyarakat kita sempat heboh dengan kabar beredarnya ikan berpengawet yang berbahaya di pasar pasar tradisional, dimana mereka biasa membeli kebutuhan sehari hari. Jambi adalah provinsi yang berada di pulau Sumatra Indonesia dimana banyak masyarakatnya merupakan penkomsumsi ikan dan hasil laut lainnya.
Luas perairan provinsi jambi sekitar 44.496 KM dengan panjang garis pantai 210 KM. Potensi besar ini haruslah dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Namun, Kota Jambi, yang merupakan ibu kota dari provinsi Jambi inipun memiliki jarak yang cukup jauh dari garis pantai dimana hasil laut dan ikan didapat. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengangkut hasil ikan segar yang ada didaerah pesisirgaris pantai ke kota Jambi. Hal ini menjadi celah bagi orang orang yang berniat jahat untuk mengeruk keuntungan lebih dari keadaan ini. Faktanya, ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak jika tidak di konsumsi.Cara –cara lama yang hingga kini masih digunakan untuk mengawetkan ikan segar adalah dengan cara
menggaraminya. Namun cara ini akan mengubah betuk fisik dan cita rasa ikan segar, olahan ini dikenal sebagai Ikan Asin. Namun, untuk membuat ikan tetap segar tanpa mengubahnya menjadi ikan asin memang mengundang peluang kecurangan terlebih lagi bahan tambahan poangan berbahaya seperti formalin mudah untuk didapatkan.
Larutan formalin bisa dengan mudah didapatkan di tokoh obat kimia.
Larutan Formaldehida yang biasanya digunakan untuk pengawetan mayat, kayu atau pembunuh serangga.namun di gunakan sebagai bahan tambahan pangan. Karena mudah didapatkan, maka masalahpun muncul dan tak dapat dihindari ketika para oknum mulai mencurangi dagangan mereka. Dalam hal ini adalah ikan segar yang di jual bebas di pasar tradisional. Beberapa oknum mungkin dengan sengaja menambahkan larutan Formaldehida.Larutan Formaldehida atau yang lebih dikenal sebagai formalin merupakan larutan yang mengandung kira-kira 37 % gas formaldehida dalam air. Biasanya ditambahkan 10-15% metanol (Cahyadi. 2012: 5).
Dampak ikan berformalin pun mulai tersebar diberbagai media dan mulai mengusik keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan segar. Faktanya, Banyak orang yang belum mengetahui bahwa mengkonsumsi bahan pangan seperti tahu, mie, bakso, ayam terutama ikan, yang berformalindalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi efek dari bahan pangan(makanan) berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian. Di dalam tubuhcepat teroksidasi membentuk asam format terutama di hati dan sel darah merah.Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaiturasa sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syarafatau kegagalan peredaran darah.Salah satu bahaya yang mengintai dari penggunaan formaldehida sebagai bahan tambahan pangan adalah dapat menjadi karsinogenik (menahun) menyebabkan
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi terjadinya kerusakan hati, limpa, pankreas, susunan syaraf pusat, ginjal, kanker dan berujung pada kematian. (Amin. 2016: 126). Hal ini sungguh sangat membahayakan menginat fungsi dari formaldehida adalah sebagai tambahan disenfektan.
Program pemerintah dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan akan sangat terkendala jika peredaran formalinyang berbahaya ini tidak diselidiki dan dihentikan. Untuk menghentikan peredaran bahan makanan berbahaya ini, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penggunaan bahan berbahaya ini. Menurut keputusan mentri kesehatan republik Indonesia No.722/MenKEs/Per/IV/88 menyatakan bahwa larangan menggunakan formaldehida atau yang lebih dikenal sebagai formalin.Penggunaan formalin ini memang memicu penolakan, selain bahaya yang dapat ditimbulkannya, tampilan ikan segar yang berformalinpun susah dikenali secara kasat mata. Untuk itu perlunya pengenalan dan penelitian yang dapat membuktikan bahwa ikan berformalin masih beredar atau ikan benar benar bebas dalam peredarannya di pasar tradisional Jambi. Untuk mengenal lebih jauh kondisi real dilapangan, peneliti telah melakukan serangkaian wawancara awal dalam menelaah kemungkinan kemungkinan adanya ikan berformalin yang beredar di pasar tradisional. Dipilihnya pasar angso duo menjadi lokasi penelitian dikarenakan posisinya yang strategis dan ramainya masyarakat yang mengunjungi pasar tersebut meskipun banyak pasar lain yang sangat ramai dan berada di daerah kota jambi.
Peneliti telah melakukan wawancara langsung dengan pedagang yang berada didalam pasar angso duo tersebut. Berikut adalah bukti hasil poto dengan Pak Yudi di Pasar Angso Duo.
Pedagang tersebut bernama Yudi, secara jelas menyatakan bahwa ikan yang didapatkannya merupakan hasil laut yang didatangkan dari padang dan di beri es untuk menjaga kesegaran. Dan secara gamblang, ia menjelaskan bahwa ikan yang didatangkan dari
medanlah yang berpotensi dicurangi. Hal ini menguatkan duagaan jarak dan waktu tempuh yang jauh menjadi alasan utama mengapa ikan rentan dicurangi dengan formalin. Jika di perkirakan jarak Padang ke Jambi hanya memerlukan waktu beberapa jam maka mendinginkan ikan atau menggunakan es saja sudah cukup untuk menjaga kesegaran Ikan hingga ketangan konsumen. Berbeda jauh dengan ikan yang didatangkan dari Medan. Jarak waktu yang lebih dari sehari memaksa pedagang melakukan kecurangan demi menjaga ikan mereka tetap segar hingga ke tangan konsumen.
Wawancara kedua dilakukan dengan konsumen yang merupakan ibu rumah tangga yang memang menggemari Ikan Tongkol sebagai sajian di rumahnya. Ibu Nia yang berada di Sungai Kambangini mengaku cukup khawatir jika ikan yang ia beli mengandung formalin. Ketakutan itu juga diakibatkan banyaknya pemberitaan tentang bahaya formalin yang sering bermunculan diberbagai media televisi. Bu Nia, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga mengaku juga lebih berhati hati mengenai ikan berformalin yang mungkin beredar di pasar yang ia sering kunjungi yaitu pasar keluarga. Menurutnya, ia akan sangat mencurigai ikan yang memiliki penampilan yang terlalu sempurna. Termasuk diantaranya hilangnya bau amsi khas ikan. Dan menurutnya, hal yang paling aneh adalah ketika ikan tidak dihinggapi lalat seperti layaknya ikan. Ia akan memutuskan untuk tidak mengambil ikan yang tidak dikerubungi lalat tersebut.
Peneliti sangat tertarik melakukan kajian mengenai hal ini.
Mengingat ikan berformalin sangat sulit di deteksi dengan kasat mata dan justru banyak konsumen terptipu dengan bentuk fisiknya yang nyaris sempurna maka melakukan peneliatian mendalam mengenai kejelian konsumen untuk mengetahui pengetahuan mereka mengenai Ikan berformalin sangatlah perlu. Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan dua jenis ikan yang berbeda yaitu Ikan Tongkol dan
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Ikan Sarden. Peneliti menyimpulkan secara kasat matabahwa ditemukan 2 jenis ikan tersebut yang mencurigai, adapun dengan ciri ciri sebagai berikut:
1. Tidak berbau amis seperti ikan pada umumnya 2. Kaku dan terlalu dingin
3. Jarang dikerubungi lalat
Berdasarkan temuan di atas maka telah melengkapi kecerugiaan peneliti akan adanya bahan berbahaya formalin yang nyata telah dilarang. Latar belakang di atas, peneliti mulai tergelitik untuk menganalisa lebih lanjut mengenai formalin yang berada di pasar tradisional Jambi seperti Angso Duo, Keluarga dan Aur Duri I di kota Jambi.Kejelian konsumen dalam memilah ikan yang akan dikonsumsi perlu diuji dan dibuktikan seberapa jauh mereka perduli dan memahami bahaya formalin itu sendiri. Tak jarang yang menjadi korban formalin adalah mereka mereka yang tidak tahu menahu tentang hail ini. Sebagian dari mereka cenderung untuk memilih ikan yang memiliki bentuk fisik nyaris sempurna meskipun rentan berformalin. Untuk itu diperlukannya pengumpulan informasi mengenai identifikasi formalin secara kasat mata dan dilanjutkan dengan pembuktian laboratorium untuk mengetahuitingkat keakuratannya secara lebit=h ilmian dan teruji. karenanya peneliti akan mengambil judul “Uji Kandungan Formalin pada Ikan Laut yang di jual di pasar Tradisoinal Kota Jambi”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat teridentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Formalin memang sangat popular setelah beberapa kasus ditemukannya formalin pada bahan makanan. Masyarakakt sudah menyadari untuk lebih berhati hati memilih makanan,
terutama ikan, dan melihat indikasi kasat mata jika diduga ikan tersebut mengandung formalin atau tidak.
2. Melihat begitu tingginya tingkat konsumsi ikan dan jarak tempuh yang jauh, apalagi dalam penetilian awal dibuktikan bahwa pasokan ikan didatangkan dari provinsi tetangga. Maka akan ada kecenderungan untuk melakukan tindakan kecurangan dengan menggunakan formaldehida agar ikan masih terlihat segar ditangan konsumen.Ikan didatangkan khusus dari padang, dimana jarak sejauh ratusan KM dengan jarak tempuh hampir 12 jam hingga sampai di beberapa pasar traditional kota Jambi.
3. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melihat adanya kecurangan yang terjadi saat ikan laut ditambahkan formaldehida sebagai bahan tambahan pangan.
C. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan penulis dalam waktu biaya dan luasnya penelitian maka penelitian ini diberikan batasan sebagai berikut:
1. Mengumpulan informasi dari para ahli atau pakar dalam melihat atau mengidantifikasi ikan diduga formalin secar kasat mata.
2. Subjek penelitian dalam mengumpulkan informasi mengenai indikasi ikan secara kasat amata adalah konsumen ikan yangdipilih secara khusus dan meyakinkan dalampenelitian kali ini. Lalu akan dilakukan uji laboratorium terhadap ikan yang telah diidentifikasi secara kasat mata agar diketahui lebih akurat dan ilmiah.
3. Jenis Ikan yang ingin diamati dalam penelitian kali ini adalah jenis ikan sarden (Sardenilla Lemuru) dan Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis)
4. Penelitian hanya sebatas mengetahui ada tidaknya kandungan formalin dalam ikan tersebut.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi 5. Lokasi Penelitian hanya berada di Pasar Tradisional Angso Duo,
Pasar Aur Duri I dan Pasar Keluarga di kota Jambi
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang masalah diatas, maka berikut rumusan masalah yang akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini:
1. Bagaimankah cara mengenali ikan berformalin secara kasat mata terutama pada jenis ikan sarden dan ikan tongkol?
2. Bagaimana hasil uji kandungan Formalin pada Ikan laut yang di jual di Pasar Angso Traditional Kota Jambi, terutama pada jenis ikan sarden dan ikan tongkol?
E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitiaan
Penelitian ini memiliki tujuan ingin mengumpulkan informasi cara mengidentifikasikan ikan secara kasat mata dan diuji kembali di laboratorium untuk diketahui tingkat kebenarannya lebih terukur secar ailmiah melalui test kit formalin.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan keilmuan serta mempertajam teori bagi peneliti khususnya penelitian formalin pada ikan yang beredar bebas di pasaran.
2. Sebagai syarat pelengkap studi akhir di program study Biologi Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negri Jambi.
3. Menjadi referensi yang akurat untuk peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang uji kadar kandungan bahan tambahan pangan.
b. Maanfaat Praktis
1. Peneilitian ini diharapkan akan memberi manfaat bagi pihak pihak yang terkait terutama masyarakat dalam usaha mengenali ikan secara kasat mata sebagai konsumen.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam mengkonsumsi makanan khususnya ikan laut untuk lebih waspada dan hati hati dalam mengkonsumsi ikan laut segar.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Bahan Tambahan Pangan
Bahan Tambahan Pangan memang sudah menjadi perhatian pemerintah sebelum formalin marak beredar dan meresahkan masyarakat. Dalam peraturan pemerintah tentang keamanan mutu dan gizi pangan yang tertuang dalam peraturan pemerintah nomer 28 tahun 2018 menyatakan bahwa bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan utuk mempengaruhi sifat dan bentuk pangan atau produk makanan.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 tahun 2012 yang merupakan revisi dari Permenkes No.722/Menkes/Per/IX/1988 dan Permenkes No.1168/ Menkes/Per/X/1999 dijelaskan bahan tambahan pangan yang dapat digunakan dalam pangan terdiri atas beberapa golongan yaitu: antikempal ‘Anticaking agent’, antioksidan
‘Antioxidant’, pemanis buatan ‘Artificial Sweetener’, pengatur keasaman ‘Acidity regulator’, pengawet ‘Preservative’, pemutih dan pematang telur ‘Flour treatment agent’, pengemulsi, pengatur keseimbangan, dan pengental ‘Emulsifir’, ‘Stabilizer’ and Thickener’, pengeras ‘Firming agent’, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa ‘Flavour, Flavour enhancer’, pewarna ‘Colour’ dan sekuestran ‘Sequestrant’.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan penggunaan bahan tambahan pangan yang berujuk buruk bagi kesehatan pengkonsumsinya.
Diantaranya (Saparinto. 2012: 34)
1. Penggunaan bahan yang sebenarnya bukan untuk pangan, karena alasan ekonomi. Sebagai contoh, formalin sebagai pengawet ikan segar.
2. Kurangnya sosialisasi tentang dosis serta manfaat dan juga bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan tambahan pangan yang salah.x
Bahan tambahan pangan memang sengaja digunakan untuk menambah mutu, memberi warna, memberikan rasa lebih enak, tahan lebih lama dan memperbaiki tekstur. Dalam penggunaannya tetap berpatokan pada undang-undang RI No 7 Tahun 1996 tentang Pangan, pada Bab II mengenai Keamanan Pangan, pasal 10 tentang Bahan Tambahan Pangan dicantumkan, (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai bahan tambahan makanan yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas maksimal yang telah ditetepkan. (2) Pemerintah menetapkan lebih lanjut bahan yang dilarang dan atau dapat digunakan sebagai bahan tambahan makanan dalam kegiatan atau proses produksi pangan serta ambang batas maksimal sebagaimana dimaksud ayat(1). (Efendi. 2015:123)
Bahan tambahan pangan yang dilarang penggunaanya dalam makanan berdasarkan Permenkes RI No.722/Per/IX/1988 dan No.1168/Menkes/Per/X/1999 sebagai berikut: boraks ‘Natrium Tetraborat’, formalin ‘formaldehyd’, minyak nabati yang dirominasi
‘brominated vegetable oils’, kloramfenikol ‘chlorampenicol’, kalium klorat ‘potassim chlorate’, dietilpirokarbonat ‘diethylpyrocarbonat, DEPC’, nitofuranzon ‘nirtofuranzone’, phenetilkarbamida (p- phenethycarbamide, dulcin, 4- ethoxyphenylurea’, asam salisilat dan garamnya ‘salicylic acid and its salt, pewarna merah ‘rhodamin B’, pewarna kuning ‘methanyl yellow’, pemmanis sintesis ‘dulsin’, pengeras ‘potasium bromat’.
B. Formalin‘Formaldehida’
Formalin adalah nama dagang dari senyawa formaldehida.
Larutan formaldehid atau larutan formalin mempunyai nama dagang formalin, formol, atau mikrobisida dengan rumus molekul O mengandung kira-kira 37 % gas formaldehida dalam air. (Cahyadi.
2012: 5-6)
Gambar 1. Struktur Molekul Formaldehida
Senyawa kimia formaldehida merupakan formmaldehida berbentuk gas dengan rumus kimia HCHO. Pada awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksander Butlerov pada tahun 1859 dan diidentifikasi oleh Hoffman pada tahun 1867(Sucipto. 2015:164) Penggunaan terbesar formaldehida yaitu untuk produksi resin dengan urea, fenol, dan melamin dan resin poliasetal. Selain itu, dalam dunia industry formaldehida banyak digunakan sebagai senyawa antara sintesis senyawa kimia yang selanjutnya digunakan sebagai senyawa antara pada sintesis senyawa kimia yang selanjutnya digunakan dalam pembuatan plastik poliutera dan poliester dan pelumas sintetik. Formaldehida memang tidak pernah disarankan untuk dikonsumsi meskipun sebagai bahan tambahan pangan. Dalam tubuh manusia terutama di hati dan sel darah merah, formaldehida dikonversi menjadi asam formiat yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia, koma, atau kematian. Formaldehida juga bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu ekspresi genetic yang normal.(Salim. 2007:4)
Efek samping penggunaan formalin tidak secara langsung akan terlihat. Namun, efek ini hanya terlihat secara kumulatif, kecuali jika
seseorang mengalami keracunan formalin dengan dosis tinggi.
Kontaminasi formalin dalam bahan makanan sangat membahayakan bagi tubuh. Formalin dalam makanan dapat menimbulkan efek bagi kesehatan.
Bahaya formalin dalam jangka pendek (akut) adalah apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit jika menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Efek dari formalin juga dapat menjadi karsinogenik (menahun) menyebabkan terjadinya kerusakan hati, limpa, pankreas, susunan syaraf pusat, ginjal, kanker dan berujung pada kematian. (Amin. 2016: 126)
Efek akut penggunanaan formalin adalah (Saparinto, 2006:64)
a. Tenggorokan dan perut terasa terbakar, tenggorokan terasa sakit untukmenelan;
b. Mual, muntah dan diare;
c. Mungkin terjadi pendarahan dan sakit perut yang hebat;
d. Sakit kepala dan hipotensi (tekanan darah rendah);
e. Kejang, tidak sadar hingga koma; dan
f. Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, serta sistem susunan sarafpusat dan ginjal.
C. Ikan Sarden ‘Sardenilla Lemuru’ dan Ikan Tongkol
‘Euthynnus Affinis’
Ikan laut merupakan sumber makanan yang melimpah bagi manusia di bumi ini. Ketersediaannya seakan tanpa batas dan memang disediakan tuhan untuk manusia. Ikam merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat nutrisi.
Sebagai salah satu sumber protein hewYuli,ikan mengandung asam lemak tidak jenuh (omega 3, Eicosapentaenoic acid/ EPA,
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Docosahexanoic acid DHA) youdium selenium, flourida, zat besi, magnesium, zink, taurin, co-enxyme Q 10. (Warsidi, 2008: 5)
Ikan segar merupakan ikan yang baik untuk dikonsumsi. Hal ini dikeranakan nilai gizi yang didapatkan dapat dipenuhi secara maksimal. Ikan segar memiliki ciri ciri sebagai berikut (Warsidi, 2008:26):
1. Lendir yang tipis menyelimuti tubuh ikan dengan bau ikan yang khas
2. Sisik yang kuat melekat dengan tanda dan wanrna khusus sesuai dengan jenis ikan
3. Mata cemerlang , cembung bening, pupil hitam dan tidak bbanyak berdarah.
4. Daging kenyal jika dipijat dan tidak meninggalkan bekas.
5. Insang berwarna merah cerah khas sesuai jenis ikan
6. Perut ikan masih kencang dan tidak pecah serta dubur tertutup rapat.
Terlepas dari semua itu, dalam penelitian ini menggunakan dua jenis ikan laut yangberbeda dan sering ditemukan di pasar pasar tradisional kota jambi. Kedua jenis ikan tersebut adalah ikan Sarden ‘Sardenilla Lemuru’
dan Ikan Tongkol ‘Euthynnus Affinis’. Kedua Ikan ini merupakan ikan laut yang banyak ditemui di perairan Indonesia terutama di pulau Sumatra.
Menurut Murniyati (Murniyati,2004. 14), ikan tongkol merupakan jenis ikan tuna paling kecil dengan panjang rata-rata sekitar 50-50 cm atau 200- 500 gram/ekor. Bentuk badan seperti cerutu atau torpedo dengan kulit licin, tidak bersisik kecuali pada corselet dan garis rusuk. Pada belakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip tambahan kecil-kecil. Warna tubuh bagian atas biru kehitaman dan bagian bawah putih keperakan.
Gambar 2.Ikan Tongkol ‘Euthynnus Affinis’
(Sumber: FAO Fisheries & Aquaculture, 2018)
Ikan Tongkol yang bernama latin Euthynnus affinis. Ikan ini hidup diperairan dengan suhu 18 to 29° C. merupakan suhu yang cocok di perairan khatulistiwa seperti di Indonesia. Berikut adalah peta penyebaran Ikan Tongkol di perairan dunia menurut data Food And Agriculture OrgYulizations of United States.
Gambar 3. Peta Penyebaran
Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) di Dunia (Sumber: FAO Fisheries & Aquaculture, 2018)
Dari gambar telihat jelas bahwa ikan tongkol mendominasi di perairan Indonesia. Ikan ini menyebar di perairan barat Indonesia
mulai dari malakan hingga laut jawa. Di bagian timur beredar diselatan papua hingga peraian utara Australia. Hal ini merupakan keuntungan sendiri bagi Indonesia memiliki spesies yang cukup digemari untuk dikonsumsi tersebut. Ikan merupakan bahan makanan yang menjadi salah satu makanan utama masyarakat Indonesia mengingat sebagian besar wilayah Indonesia merupakan lautan.
Maka ikan dan hasil laut lainnya menjadi komuditas dagang yang perhitungkan. Namun pada kenyataannya, juka tidak ditangYuli dengan tepat, maka ikan segar yang tadinya ditangkap di laut mejadi gampang tercemar atau kerusakan setelah tiba di tangan konsumen karena memakan watu yang tidak sedikit. Kerusakan kerusakan yang pada umumnya terjadi adalah proses yang terjadi kerena zat atau mikro orgYulisme yang menyebabkan kemiunduran atau kerusakan sehingga ikan tak lagi segar saat tiba ditangan konsumen.
Gambar 4. Ikan Sarden bernama latin Sardenilla Lemuru (Sumber: FAO Fisheries & Aquaculture, 2018)
Selain tongkol, ikan sarden yang bernama latin Sardenilla lemuru. Ikan ini merupakan ikan yang cukup popular dikalangan konsumen pasar tradisional jambi. Ikan ini merupakan ikan yang sering ditemu pasar pasar. Sangat mirip “Longceps Sardinella” yang kisarannya mungkin tumpang tindih di Laut Andaman, tetapi kepala lebih pendek. panjang standar 6,5 hingga 22 cm. Di habitatnya itupun sendiri ikan ini sering ditemukan di perairan Sumatra hingga Bali. Berikut peta habitat Sardenilla lemuru.
“
Gambar 5. Peta Penyebaran
Ikan Tongkol (Sardenilla Lemuru) di dunia (Sumber: FAO Fisheries & Aquaculture, 2018)
Dari ciri ciri yang gampang dikenali dari ikan segar maka penggunaan formalin mungkin akan tersa sukar di telaah. Formalin yang bersifat mudah larut dalam air mengakibatkan gampangnya larut dalam daging ikan. Proses pelarutan terjadi karena bahan berbahaya tersebut memiliki kekentalan yang lebih rendah dari pada jaringan ikan. Hal inilah yang mengakibatkan ikan tersebut menganndung formalin didalamnya yang pada akhirnya memperlambat proses zat atau organisme perusak yang di bawa secara alami.
Dalam menguji ada tidaknya formalin dalam ikan diperlukan adanya uji laboratorium terlebih dahulu. Namun ada beberapa indikasi yang menunjukan kearah sana jika ikan terlihat mencurigakan secara kasat mata. Berikut ciri ciri Ikan berformalin (Luisa, 2011:36) diantaranya:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi 1. Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar
2. Mata ikan merah, tetapi warna insang merah tua, bukan merah segar dan tidak cemerlang
3. Warna daging putih bersih, dengan tekstur kaku dan kenyal
4. Bau amis khas ikan berkurang, lender pada ikan cenderung sedikitdan tercium seperti bau kaporit
5. Tidak dikerubungi lalat
D. Pasar Tradisional di Kota Jambi 1. Pasar Tradisional
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar- menawar, dan pasar tradisional juga hanya mempunyai bangunan yang sederhana seperti kios-kios atau gerai yang dibuka oleh penjual atau pengelola pasar. Sebaliknya berbeda dengan pasar tradisional, pasar modern adalah tempat-tempat bertemunya penjual dan pembeli yang tidak bertransaksi secara langsung namun pembeli hanya melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), pasarmodern juga mempunyai bangunan yang lebih bagus dibandingkan dengan pasar tradisional. Selain itu dalam segi pelayanan pasar modern dilakukan secara mandiri(swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga misalnya hypermart, pasar swalayan super market atau mini market
Sederhananya,Pasar traditional merupakan suatu bentuk pasar dimana dalam kegiatannya atau proses transaksinya masih dilakukan secara tradisional, yaitu penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan tawar-menawar harga suatu barang/ jasa. Pasar tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing secara alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area perjualan yang luas,
keragamaan barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar-menawar yang menunjukan keakraban antara penjual dan pembeli. Berbeda dengan pasar modern yang memaksa konsumen untuk mematuhi harga yang sudah dipatok dan tidak mungkin dapat ditawar. Disamping beberapa keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional, beberapa kelemahan juga dimiliki pasar tradisional antara lain: kondisi pasar yang becek dan bau, faktor keamanan yang lemah, risiko pengurangan timbangan terhadap barang yang akan dibeli, penuh sesak, dan sejumlah alasan yang lainnya. Pasar tradisional umumnya menyediakan berbagai macam bahan pokok keperluan rumah tangga, dan pasar tradisional biasanya berlokasi di tempat yang terbuka. Dari segi bangunan, bangunan di pasar tradisional berbentuk toko dan los.
Toko semi permanen umumnya digunakan untuk berjualan aneka kue, pakaian, dan barang atau perabotan.
2. Pasar traditional di kota jambi
Pasar Tradisonal di kota Jambi memang udah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Namun siring bertambahnya wilayah dan penduduk. Maka pasar pasar baru bermunculan demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada cukup jauh dari pasar pasar tradisional yang sudah ada dan dikenal luas. Berikut daftar pasar tradisional kota jambi:
a. Pasar Angso Duo b. Pasar Keluarga c. Pasar Aurduri d. Pasar Simpang Pulai e. Pasar Hongkong
f. Pasar Baru Talang Banjar g. Pasar Jalan Baru
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi 3. Pasar Angso Duo, Aurduri dan Keluarga
Dalam penelitian kali ini ada setidaknya tiga pasar yang menjadi tempat penelitian uji formlain terhadap ikan laut diantaranya adalah; Pasar Angso Duo, Pasar Keluarga dan Pasar Aurduir.Salah satunya yang menjadi ikon kota jambi adalah pasar angso duo. Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di provinsi Jambi. Di pasar ini terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian, perabot rumah tangga. Di lokasi ini ada sebuah pasar tradisional kecil.
orang menyebutnya Pasar Tanah Pilih. Pasar ini lah yang menjadi cikal bakal Pasar Angso duo walaupun letaknya tidak sama dengan yang sekarang berdiri. Pasar yand dikenal bernama Pasar Angso Duo resmi berdiri pada Tahun 1970an, tepat di tepi sungai Batanghari. (Anonim. 2016). Sejak berdirinya hingga kini, muncul kembali wacana untuk memindahkan Pasar Angso Duo ini ke tempat lain. Rencana ini adalah rencana baru ang berusaha mengubah image Pasar Angso Duo yang kumuh menjadi pasar tradisional dengan sentuhan modern yang indah dan bersih.
Rencana lokasi baru yang dipilih hanya berjarak kurang lebih 100 meter lokasi yang lama. Lokasi ini juga berada di tepi sungai Batanghari, tetapi posisinya agak lebih tinggi daripada sungai itu.
Rencana pemerintah kota Jambi akan menjadikan pasar ini menjadi pasar yang semimodern, Pasar ini tidak hanya akan menampung pedagang dalam kios dan lapak tetapi juga akan menyediakan ruko dan ruang-ruang pameran, serta tempat parkir yang lebih luas. Sedangkan Eks Pasar Angso Duo nantinya akan dijadikan ruang hijau atau taman kota, untuk memberi kenyamanan bagi masyarakat Jambi.
Selain itu, ada dua pasar traditional lainnya yang juga menjadi tempat penelitian dalam penelitian kali ini, diantaranya pasar keluarga dan pasar aur duri I. Pasar Keluarga yang terletak
di Jln. Hos Cokroaminoto Simpang 3 Sipin Jambi merupakn salah satu pasar yang cukup ramai. Pasar yang seakan dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Pasar ini merupakan pasar kecil tapi ramai pengunjung. Tak seramai pasar angso duo yang merupakan pasar besar. Pasar keluarga merupakan pasar yang hadir di gang kecil di daerah simpang tiga sipin.
Sedangkan pasar Aur Duri I Jambi merupakan salah satu pasar tradisional modern Jambi yang keberadaannya bisa dikatakan baru dan merupakan salah pasar yang cukup ramai mengingat keberadaannya ada di tengah tengah pemukiman.
Pasaraurduri juga dibangun pada tahun 2016 oleh pemkot kota jambi dan diresmikan langsungoleh wali kota Jambi.
Baik pasar angso duo, aur duri dan keluarga merupakan beberapa pasar tradisional di kota jambi yang menjadi perhatian peneliti dalam penelitian masalah pengawet kali ini. Ketiga pasar tersebut dianggap penting dan keberadaanya selalu ramai oleh pengunjung. Hal ini jugalah menjadi salah satu alasan mengapa ketiga pasar terseut menjadi tempat penelitian ideal bagi penelitian kali ini.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi E. Studi Yang Relevan
Studi relevan yakni memuat hasil-hasil penelitian sebelumnya relevan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain,dengan maksud untuk menghindari duplikasi. Di samping itu, untuk menunjukkan bahwa topik yang akan diteliti belum pernah diteliti dalam konteks yang sama. Permasalahan yang akan penulis teliti sudah pernah diteliti oleh beberapa orang sebelumnya diantaranya:
Soni Wicaksono dalam penelitiannya di Universitas Indonesia pada tahun 2010 (Wicaksono, 2010) dengan judul “Analis Formalin Dalam Ikan Dan Udang Segar Dengan Pereaksi Schryver Yang Dimodivikasi”
tercatat bahwa telah ditemukannya kadar formaldehida rata rata sebesar 888,32 πg/g untuk sampel ikan dan udang yang telah ia teliti dan sebesar 1030 πg/g untuk sampel udang dengan metode Pereaksi Schryver Yang Dimodivikasi
M. Ichya’uddin yang berasal dari Universitas Maulana Malik Ibrahim tahun: 2014, dengan penelitiannya yang berjudul: “Analis Kadar Formalin dan Uji Organoleptik Ikan Asin di beberapa Pasar tradisional di Kabupaten Tuban”(Ichya’udin. 2014). Dalam penelitiannya telah ditemukan fakta bahwa sekitar 70% sampel penelitiannya dinyatakan positif mengandung Formaldehida. Konsentrasi tertinggi sekitar 1162,5 ppm dan terendah berada di 3,55 ppm. Hal ini menunjukan tingginya kadar penggunaan formalin di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Tuban.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suhada yang berasal dari Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung tahun 2017, ia memberi judul penelitiannya “Identifikasi kandungan formalin pada bakso yang Beredar di enam pasar tradisional Bandar lampung”. Dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa bahwa dua puluh sampel tersebut dinyatakan negative formalin baik menggunakan Colorimetric KIT Tes maupun mengunakan larutan fenilhidrazin. Dengan demikian tidak
terdapat kandungan formalin pada bakso yang beredar di enam pasar tradisional Bandar Lampung dan bakso tersebut dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ida Mudzkirah dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar tahun 2016, ia memberi judul penelitiannya “Identifikasi Penggunaan Zat Pengawet Boraks Dan Formalin Pada Makanan Jajanan Di Kantin Uin Alauddin Makassar”.
Dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa 12 sampelvatau seluruh sampel tidak mengandung boraks dengan persentase sebesar 100%. Kandungan formalin pada makanan jajanan di kantin UIN Alauddin Makassar, dari 12 sampel makanan jajanan (100%) bebas dar izat berbahaya tersebut.
Terakhir dari penelitian yang dilakukan oleh Sanny Susanty dari Universitas Islam Sarifhidayatullah Jakarta pada tahun 2010. Ia memberi judul penelitiannya “Penetapan Kadar Formaldehid pada tahu yang di jual di pasar ciputat dengan metode spektrofotometri UV-Vis disertai kolorimetri menggunakan pereaksi Nash” dalam penelitiannya ditemukan bahwa bahwa kurva kalibrassi dengan konsentrasi pada rentang 100 – 300 µg/mL memiliki koofisien r+ 0.9992. Metode yang digunakan mempunyai batas deteksi 11,1328 µg/mL.
Berdasarkan studi relevan yang telah disusun maka dapat disintesiskan dalam tabel state of the research sebagai berikut:
Tabel 1.Study Yang Relevan No Identitas Peneliti,
Tahun Penelitian dan Judul
Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
1 Soni Satria Wicaksono.
Mahasiswa Universitas
Hasilnya menyatakan bahwa ditemukann ya kadar
Sama sama menguji formaldehid a pada ikan
Selain menguji pada Ikan, udang juga menjadi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Indonesia
Tahun:2010.
Analis formalin dalam ikan dan udang segar dengan pereaksi schryver yang
dimodivikasi
formaldehid a rata rata sebesar 888,32 πg/g untuk sampel ikan dan udang yang telah ia teliti Dan sebesar 1030 πg/g untuk sampel udang
salah satu subjek penelitianny a. Dalam penelitianny a,
mengunakan metode kualitiatif dimana ia menggunaka n kalium perioksidat sebagai pereaktif 2 M. Ichya’uddin
Universitas Maulana Malik Ibrahim Tahun: 2014
Analis Kadar Formalin dan Uji Organoleptik Ikan Asin di beberapa Pasar tradisional di
Hasil penelitian ditemukan bahwa sekitar 70%
dinyatakan positif mengandun g
Formaldehi da.
Konsentrasi tertinggi sekitar 1162,5 ppm
Menguji Kandungan Formaldehi a di pasar tradisional
Tidak hanya sebatas menguji, Metode dalam penelitian ini adalah metode asam Kromatofat.
Kabupaten Tuban dan terendah berada di 3,55 ppm 3 Suhada
Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung 2017
Identifikasi kandungan formalin pada bakso yang Beredar di enam pasar tradisional Bandar lampung
Hasil penelitian menunjukka n bahwa dua puluh sampel tersebut dinyatakan negatif formalin baik menggunak an
Colorimetri c KIT Tes maupun mengunaka n larutan fenilhidrazi n. Dengan demikian tidak terdapat kandungan formalin
Menguji kandungan formalin pada makanan.
Tidak menguji pada ikna namun bakso yang menjadi salah satu makanan yang cukup diminnati.
Selain itu metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.
Dua puluh sampel bakso yang diidentifikas i didapatkan dari
pedagang
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi pada bakso
yang beredar di enam pasar tradisional Bandar Lampung dan bakso tersebut dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat
bakso yang memiliki warung menetap di enam pasar tradisional yang terdapat di Kota Bandar Lampung.
Pemeriksaan kualitatif dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan Colorimetri c KIT Tes dan dengan larutan fenilhidrazin 4 Ida Mudzkirah
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Hasil penelitian ini adalah Kandungan boraks pada makanan
Persamaann ya adalah sama samam menguji kandungan
Tidak hanya formalin, boraks juga mendapat perhatian dalam
2016
Identifikasi Penggunaan Zat Pengawet Boraks Dan Formalin Pada Makanan Jajanan Di Kantin Uin Alauddin Makassar
jajanan di kantin UIN Alauddin Makassar, dari 12 sampel makanan jajanan (100%) yaitu 12 sampel atau seluruh sampel tidak mengandun g boraks dengan persentase sebesar 100%.
Kandungan formalin pada makanan jajanan di kantin UIN Alauddin Makassar,
formalin pada makanan.
penelitian ini.
Menggunak an metode penelitian kuantitatif.
Dalam hal ini
menggunaka n rancangan penelitian observasion al dengan pendekatan deskriptif yang menggamba rkan terkait masalah kesehatan yang terjadi pada kasus atau fenomena berdasarkan distribusi tempat, waktu, dan lain-lain
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi dari 12
sampel makanan jajanan (100%) yaitu ada 6 sampel makanan jajanan positif mengandun g formalin dengan persentase sebesar 50% dan ada 6 makanan jajanan negatif mengandun g formalin dengan persentase sebesar 50%. Dari hasil pemeriksaa n
menggunak an
spektrofoto meter UV- VIS kadar formalin yang terendah terdapat pada sampel D (Tahu) dengan nilai 0,6631 mg/l. Kadar formalin yang tertinggi terdapat pada sampel C (Mie Bakso) dengan nilai 1,7140 mg/l.
5 Sanny Susanty Universitas Islam Sarifhidayatullah Jakarta. 2010
Penetapan Kadar
Hasil validasi metode menunjukan bahwa kurva kalibrassi
Menguji formaldehid a pada makanan
Perbedaanny a pada subjek, dimana pada penelitian ini hanya menguji
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Formaldehid pada
tahu yang di jual di pasar ciputat dengan metode spektrofotometri UV-Vis disertai kolorimetri menggunakan pereaksi Nash
dengan konsentrasi pada rentang 100 – 300 µg/mL memiliki koofisien r+
0.9992.
Metode yang digunakan mempunyai batas deteksi 11,1328 µg/mL
ikan sedangkan sanny menguji pada tahu.
Selain itu, metode spektrofoto metri UV- Vis disertai kolorimetri menggunaka n pereaksi Nash digunakan dalam penelitianny a.
F. Kerangka Berfikir
Masyarakat membutuhkan produk pangan yang aman dan munculnya issue mengenai formalin sungguh sangat menghawatirkan. Untuk memenuhi kebutuhan produk pangan bagi masyarakat yang bebas dari kerusakan dan kontaminasi, baik kontaminasi toksin/mikroba dan senyawa kimia, maka keamanan pangan merupakan faktor penting untuk diperhatikan dan diterapkan.
Namun selalu ada cela untuk berbuat curang. Untuk itu dibutuhkan penelitan uji kandungan terhadap ikan laut yang beredar khususnya yang beredar di pasar tradisional Angso Duo Jambi.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Berikut kerangka berfikir yang dibuat peneliti untuk mempermudah memahami penelitian ini:
Gambar VI Kerangka Fikir Keterangan:
Pedagang Ikan Konsumen Ikan
Pedagang Ikan Laut:
Sarden dan Tongkol
Pengambilan Sampel
Uji Labor Konsumen Ikan
Laut:
Sarden dan Tongkol Penentuan Responden
Wawancara
Positif Formalin
Negatif Formalin Mengetahui Adanya
Formalin
Tidak Mengetahui Adanya Formalin
Meningkatkan kesadaran Pentingnya
Kejelian Masyarakat akan bahaya Formalin
Meningkatkan kesadaran Pentingnya Kepedulian Pedagang akan bahaya Formalin
pada Ikan MENCIPTAKAN
MASYARAKAT SEHAT BEBAS
PASAR ANGSO DUO PASAR
AURDURI
PASAR KELUARGA
Bagian keseluruhan
Bagian yang di teliti
Berdasarkan diagram kerangka teori diatas maka peneliti berpendapat bahwa masyarakat membutuhkan produk pangan yang lebih baik untuk masa yang akan datang, yaitu pangan yang aman, bermutu dan bergizi untuk dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan produk pangan bagi masyarakat yang bebas dari kerusakan dan kontaminasi, baik kontaminasi toksin/mikroba dan senyawa kimia, maka ke amanan pangan merupakan faktor penting untuk diperhatikan dan diterapkan dalam proses pengolahan pangan. Dibutuhkannya pengetahuan mengenai mengela formalin atau mengenali idnikasi indikasi ikan yang diduga mengandung formalin didalamnya. Untuk itu diperlukan penelitian mengenai cara mencari tahu cara atau mengenali ciri ciri ikan diduga mengandung formalin secara kasat mata.
Selain itu, untuk menguatkan penelitian mengenai ikan yang secara kasat mata diperlukannya uji laboratorium yang lebih akurat mengenai ikan yang diduga memiliki formalin didalamnya. Hal ini karena penggunaan bahan tambahan kimia khususnya formalin dalam pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun konsumen.
Formalin merupakanbahan kimia berbahaya yang digunakan sebagai jalan pintas bagi pengolah untuk mengurangi kerugian. Penggunaan formalin pada makanan tidak diperbolehkan karena dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia.
Dalam penelitian kali ini peneliti mefokuskan penelitian pada jenis ikan Sarden dan Ikan Tongkol yang beredar di pasar Angso Duo Jambi, Pasar Keluarga dan Pasar Aurduri. Serta Konsumen Kedua jenis ikan tersebut mengenai pengetahuan mereka dalam melihat ada tidaknnya formalin pada ikan melalui kasat mata.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian uji kandungan formalin direncanakan akan dilaksanakan pada bulan september 2018 dilaboratorium terpadu Universitas Islan Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Dimana dalam pengambilan sampel akan diadakan dikawasan pasar ikan Angso Duo, Pasar Keluarga dan Pasar Aur Duri I Kota Jambi.
Untuk penelitian dilakukan pada kejelian konsumen dalam melihat ada tidaknya formalin akan dilakukan di Pasar dimana peneliti bertemu dengan konsumen tersebut.
Berikut beberapa denah peneltian yang dilakukan oleh peneliti:
Gambar 7. Denah Pasar Aur Duri Kota Jambi
Gambar 8. Denah Pasar Keluarga Kota Jambi
Keterangan : 1. Sipin Auto Parts
2. Mitshubisi Kerinci Permata Motor
3. Gudang Mitshubisi Kerinci Permata Motor 4. Sate Tugu Juang
5. IDX Jambi
6. Copiyying Suplay Shop 7. Shinta Bakery
Gambar 9. Denah Pasar Angso Duo Kota Jambi
Gambar 10. Denah Penelitian
B. Metode Penelitian
Penelitian dapat didefenisikan bahwa penelitian adalah proses untuk mendapatkan solusi dari permasalahan setelah melakukna studi dann analis dari berbagai factor (Nasution, 2007:
11) Sedangkan Menurut Sutrisno Hadi, penelitian adalah usaha menemukan, mengembangkan dan menguji kebbenaran suatu
pengetahuan. (Narbuko,2009:2) berdasarkan define diatas sudah jelas bahwa daam penelitian diperlukan untuk memecahkan masalah menggunakan study yang terukur. Dalam hal ini peneliti menganggap bahwa keberadaan formalin dalam ikan merupakan hal yang serius untuk ditangani. Untuk itu dalam pembuktiannya diibutuhkan sebuah metode penelitian yang dapat mengungkap kebenaran mengenai kecurigaan adanya formalin dalam ikan yang beredar di pasar pasar tradisional kota Jambi.
Dibutuhkan sebuah penelitian yang tergolong ilmiah dalam membuktikan permasalahan yang dihadapi oleh peneliti. Karena setidaknya penelitian ilmiah merupakan penelitian yang difokuskan kepada tujuan yang dilakukan melalui tahappan logis, terorgYulisisasi, dan menggunakan metode yang baku uuntuk mengidentifikasi masalah, pengumpulan data serta menganalisa dan akhirnnya mampu memberikan kesimpulan penelitian. (Nasution, 2007:12)
Berdasarkan definisi diatas maka dalam penelitian ini, peniliti menggunakan metode yang ilmiah dalam menyelesaikan masalah yang ada. Untuk penelitian mengenai pengetahuan mengidentifikasi formalin secara kasat mata dan identifikasi formalin melalui uji laboratorium akan menggunakan metode kualitatif.Perreault dan McCarthy (2006: 176) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang berusaha menggali informasi secara mendalam, serta terbuka terhadap segala tanggapan dan bukan hanya jawaban ya atau tidak. Penelitian ini mencoba untuk meminta orang-orang untuk mengungkapkan berbagai pikiran mereka tentang suatu topik tanpa memberi mereka banyak arahan atau pedoman bagaimana harus berkata apa. Dalam hal ini, peneliti akan membicarakan topic mengenai identifikasi formalin secara kasat mata.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi Secara umum, riset yang menggunakan metodologi kualitatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Kriyantono, 2009: 57-58):
1. Intensif, partisipasi periset dalam waktu lama pada setting lapangan, periset adalah instrumen pokok riset.
2. Perekaman yang sangat hati-hati terhadap apa yang terjadi dengan catatan-catatan di lapangan dan tipe-tipe lain dari bukti-bukti dokumenter.
3. Analisis data lapangan.
4. Melaporkan hasil termasuk deskripsi detail, quotes (kutipan- kutipan) dan komentar-komentar.
5. Tidak ada realitas yang tunggal, setiap periset mengkreasi realitas sebagai bagian dari proses risetnya. Realitas dipandang dinamis dan sebagai produk konstruksi sosial.
6. Subjektif dan berada hanya dalam referensi periset. Periset sebagai sarana penggalian interpretasi data.
7. Realitas adalah holistik dan tidak dapat dipilah-pilah.
8. Periset memproduksi penjelasan unik tentang situasi yang terjadi dan individu-individunya.
9. Lebih pada kedalaman (depth) daripada keluasan (breadth).
10. Prosedur riset: empiris-rasional dan tidak berstruktur.
11. Hubungan antara teori, konsep, dan data: data memunculkan atau membentuk teori baru
C. Alat dan Bahan
Untuk mengetahui keberadaan formalin pada ikan secara kasat mata, berikut alat yang di siapkan:
a. Handphone untuk merekan percakapan dan cadangannya b. Alat tulis
c. Lembar pertanyaan
Dalam melakukan penelitian di laboratorium, peneliti akan menyiapkan alat dan bahan sebagai berikut:
Alat :
a. Tabung Raksi b. Pipet Tetes
c. Rak Tabung Reaksi d. Pisau Cutter
e. Lumpan dan Alu f. Tumbukan Forsian
Bahan:
a. Sampel Ikan Tongkol b. Sampel Ikan Sarden c. Formalin I
d. Formalin II e. Formalin III f. Tissu
68
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
D. Prosedur Penelitian
Ada dua jenis penelitian kali ini. Untuk menggali kemampuan dalam mengenali ikan berformalin secara kasat mata terutama pada jenis ikan sarden dan ikan tongkol akan digunakan metode wawancara.Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperooleh informasi. (Nasution, 2009:113)
Berikut prosedur penelitian yang telah disusun oleh peneliti:
1. Persiapan wawancara.
Dalam hal ini persiapan wawancara seperti alat rekan. Buku, dan pena disediakan dan dipastikan dapat berfungsi dengan baik saat wawancara nantinya. Dan juga mempersiapkan daftarpertanyaan sebagai pertanyaan inti yang akan di tanyakan nantinya.
2. Pengambilan sampel.
Dalam penelitian ini digunakan tehnik pengambilan sampel
‘purposif sampel’. Tehnik ini adalah tehnik pengambilan sampel
dengan mengambil sampel yang terpilih betul oleh peneliti. Tehnik
purposive sampel adalah sampel yang dipilih dengan cermat hingga
relevan dengan design penelitian. (Nasution, 2009:98) dalam
penelitian untuk menguji identifikasi formalin pada ikan maka
peneliti mengambiil tiga sampel yang benar benar dianggap mumpuni
dalam hal ini mereka adalah Ibu Yuli, konsumen penggemar ikan
yang memang sudah terbiasa selama bbertahun tahun dalam
mengkonsumsi ikan, lalu Pak Yudi, pedangang yang memiliki
pengalaman belasan tahun dalam mendagangkan ikan di pasar
tradisional kota jambi. Ia dianggap sangat mengenali karakteristik
ikan yang ia jual mengingat pengalamannya yang tidak sedikit. Dan yang terakhir adalah Ibu Aswita yang merupakan seorang ahli di laboratorium yang kesehariannya terbiasa untuk menguji sampel bahan makanan illegal seperti formalin.
3. Analisa akhir
Dalam penelitian ini menggunakan deskriiptif analisis sangatlah relevan dalam penelitian ini. Karena peneliti akan mennggambarkkan secar inci hasil wawancara yang terjadi. Dan megambil kesimpulan terhadap hasil wawancara. Dari kesimpulan tersebut maka akan dilakukan deskripsi terhadap ikan yang akan di uji di laboratorium untuk mengetahui kesesuaian terhadap ikan yang dijadikan sampel dan juga hasil kesimpulan wawancara.
Selanjutnya penelitian yang bertujuan untuk melihat kadar formalin dalam ikan segar yang beredar luas di pasar tradisional Angso Duo Jambi. Dalam penelitian kali ini, penelliti akan melakukan serangkaian proses untuk mencari tahu keberadaan formalin dalam ikan segar yang beredar di pasar Jambi. Berikut beberapa prosedur yang harus dijalani:
1. Persiapan
Dalam persiapan pengujian ini termasuk izin untuk menggunakan labor UIN STS Jambi dan segala persiapan aalat yang erada didalamnya. Serta persiapan dalam pengadaan Kit formalin
2. Pengambilan Sampel
Penelitian akan mengambil sampel seara acak dengan starifikasi terhadap beberapa ikan laut yang berada dipasar tradisional Angso Duo, Pasar Keluarga dana Pasar Aur Duri I di kota Jambi.
Sapling randong yang distratifikasi sapling random dimana
sampel dibagi menjadi group group (Paul, 2009:225)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi