• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

C. Alat dan Bahan Penelitian

Untuk mengetahui keberadaan formalin pada ikan secara kasat mata, berikut alat yang di siapkan:

a. Handphone untuk merekan percakapan dan cadangannya b. Alat tulis

c. Lembar pertanyaan

Dalam melakukan penelitian di laboratorium, peneliti akan menyiapkan alat dan bahan sebagai berikut:

Alat :

a. Tabung Raksi b. Pipet Tetes

c. Rak Tabung Reaksi d. Pisau Cutter

e. Lumpan dan Alu f. Tumbukan Forsian

Bahan:

a. Sampel Ikan Tongkol b. Sampel Ikan Sarden c. Formalin I

d. Formalin II e. Formalin III f. Tissu

68

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

D. Prosedur Penelitian

Ada dua jenis penelitian kali ini. Untuk menggali kemampuan dalam mengenali ikan berformalin secara kasat mata terutama pada jenis ikan sarden dan ikan tongkol akan digunakan metode wawancara.Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperooleh informasi. (Nasution, 2009:113)

Berikut prosedur penelitian yang telah disusun oleh peneliti:

1. Persiapan wawancara.

Dalam hal ini persiapan wawancara seperti alat rekan. Buku, dan pena disediakan dan dipastikan dapat berfungsi dengan baik saat wawancara nantinya. Dan juga mempersiapkan daftarpertanyaan sebagai pertanyaan inti yang akan di tanyakan nantinya.

2. Pengambilan sampel.

Dalam penelitian ini digunakan tehnik pengambilan sampel

‘purposif sampel’. Tehnik ini adalah tehnik pengambilan sampel

dengan mengambil sampel yang terpilih betul oleh peneliti. Tehnik

purposive sampel adalah sampel yang dipilih dengan cermat hingga

relevan dengan design penelitian. (Nasution, 2009:98) dalam

penelitian untuk menguji identifikasi formalin pada ikan maka

peneliti mengambiil tiga sampel yang benar benar dianggap mumpuni

dalam hal ini mereka adalah Ibu Yuli, konsumen penggemar ikan

yang memang sudah terbiasa selama bbertahun tahun dalam

mengkonsumsi ikan, lalu Pak Yudi, pedangang yang memiliki

pengalaman belasan tahun dalam mendagangkan ikan di pasar

tradisional kota jambi. Ia dianggap sangat mengenali karakteristik

ikan yang ia jual mengingat pengalamannya yang tidak sedikit. Dan yang terakhir adalah Ibu Aswita yang merupakan seorang ahli di laboratorium yang kesehariannya terbiasa untuk menguji sampel bahan makanan illegal seperti formalin.

3. Analisa akhir

Dalam penelitian ini menggunakan deskriiptif analisis sangatlah relevan dalam penelitian ini. Karena peneliti akan mennggambarkkan secar inci hasil wawancara yang terjadi. Dan megambil kesimpulan terhadap hasil wawancara. Dari kesimpulan tersebut maka akan dilakukan deskripsi terhadap ikan yang akan di uji di laboratorium untuk mengetahui kesesuaian terhadap ikan yang dijadikan sampel dan juga hasil kesimpulan wawancara.

Selanjutnya penelitian yang bertujuan untuk melihat kadar formalin dalam ikan segar yang beredar luas di pasar tradisional Angso Duo Jambi. Dalam penelitian kali ini, penelliti akan melakukan serangkaian proses untuk mencari tahu keberadaan formalin dalam ikan segar yang beredar di pasar Jambi. Berikut beberapa prosedur yang harus dijalani:

1. Persiapan

Dalam persiapan pengujian ini termasuk izin untuk menggunakan labor UIN STS Jambi dan segala persiapan aalat yang erada didalamnya. Serta persiapan dalam pengadaan Kit formalin

2. Pengambilan Sampel

Penelitian akan mengambil sampel seara acak dengan starifikasi terhadap beberapa ikan laut yang berada dipasar tradisional Angso Duo, Pasar Keluarga dana Pasar Aur Duri I di kota Jambi.

Sapling randong yang distratifikasi sapling random dimana

sampel dibagi menjadi group group (Paul, 2009:225)

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

Dari sampel tersebut akan di uji formalin dan mengetahui kandungan formalin yang ada di dalamnya.berikut table yang menjelaskan pengambilan sampel pada penelitian kali ini.

Tabel 2. Stratifikasi Sampel Penelitian

No Pasar Tempat

Pengambilan Sampel

Jumlah Sampel

Proporsi Sampel

1 Pasar Angso Duo 4 33.33 %

2 Pasar Keluarga 4 33.33 %

3 Pasar Aurduri 4 33.33 %

Total 12 100 %

3. Prosedur Kerja

Adapun tahap pelaksanaan dalam penelitian Uji kualitatif dengan menggunakan metode KIT Tes

Prosedur pengujian:

a. Ambil sampel yang telah disediakan b. Iris sample menjadi potongan kecil

c. Ambil potongan sample kira-kira 10 gram, lalu masukkan kedalam wadah.

d. Tambahkan air secukupnya.

e. Sample di aduk sehingga akan menghasilkan ekstra sample.

f. Masukkan ekstra sample kedalam botol reagen formalin 1 sampai terisi 1/3 botol, lalu tutup dan kocok hingga reagen padat terlarut sempurna.

g. Pindahkan isi botol reagen formalin 1 kedalam botol reagen 2, lalu tutup dan kocok.

h. Pindahkan isi botol reagen 2 ke dalam botol reagen formalin

3.

i. Apabila terjadi perubahan warna larutan menjadi merah keunguan di indikasikan bahwa sample mengandung formalin.

4. Analisa akhir

Dalam penelitian kali ini. Peneliti mencoba menguji keberadaan formalin pada ikan lautyang beredar bebas di pasar tradisonal jambi, Angso Duo, Aur Duri dan Pasar Keluarga.

Penelitian Ikan berformalin yang dilakukan oleh peneliti

dilakukan secara kualitatif yaitu ketika menguji sample ikan yang

terduga berformalin. Hal ini dilakukan untuk memastikan benar

tidaknya adanya kadar formalin di dalam ikan tersebut. Dalam

menguji formalin kali ini, peneliti akan menggunakan Test Kit

Formalin yangmempunyai keistimewaan antara lain cepat, pasti

dan tidak memerlukanperalatan yang rumit dan dapat dilakukan

kapanpun dan dimanapun. Prinsip kerjanya adalah dengan

menambahkan cairan pada bahan makanan yang diduga

menggunakan bahan yang diselidiki, dengan hasil akhir

terjadinya perubahan yaitu 14 warna ungu dan negatif ditandai

dengan warna bening. Namun sangat sensitif saat

penggunaannya.

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

E. Jadwal Penelitian

Untuk memudahkan dalam melaksanakan kegiatan penelitian maka peneliti menggunakan jadwal yang dapat dilihat dibawah ini:

Tabel 3.Jadwal Penelitian

Bulanke, Tahunke

No Tahap Februari Maret April

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 1 Pengajuan Judul Proposal √

2 Pembuatan Proposal √ √ √ √

3 Pengajuan Dosen Pembimbing √

4 Bimbingan Proposal √ √

5 Izin Seminar Proposal 6 Perbaikan Hasil Seminar

Bulanke, Tahunke

No Tahap

Agustus September Oktober November

7 Pengajuan Izin Riset √

8 Pelaksanaan Riset √

9 Pengelolaan Data

10 Penulisan Skripsi

11 Bimbingan BAB 1 - BAB IV 12 Revisi BAB 1 - BAB IV 13 Revisi BAB III - BAB V 14 Revisi Seluruh BAB

15 ACC Agenda

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Mendeteksi Formalin secara kasat Mata.

Data hasil penelitian diperoleh dari teknik wawancara. Wawancara dilakukan terhadap tiga orang informan yang dianggap representatif terhadap obyek masalah dalam penelitian. Berikut ini merupakan data dari tiga informan dalam penelitian ini:

a. Ibu Yuli. Seorang Ibu Rumah Tangga sekaligus konsumen Ikan di Pasar Keluarga.

Wawancara ini berlangsung dipasar keluarga

Gambar 12. Wawancara bersama konsumen

Berukut kutipan wanwancara dengan Ibu Yuli di Pasar Keluarga Pewawancara :

Apakah anda dan keluarga anda khususnya menggemari Ikan Laut dalam santapan sehari hari? lalu seberapa sering anda menyantap hidangan ikan laut?

Narasumber:

Dak jugo la. Palingan seminggu tu cuma beberapo kali la nbeli

ikna. Kami kan emangbelanjo tiap pagi,nah seminggu tu biso

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

sampe tigo kali beli ikan. Diselingin samo ayam.. kadang dak beli ikan. Kadang Cuma tempe be.

Pewawancara :

Dari semua jenis ikan laut yang ada, jenis apa yang paling sering dikonsumsi atau bisa dibilang yang paling digemari dalam keluarga anda?

Narasumber:

Kalo beli Ikan sebenarnyo dak mesti nak Ikan laut nian. Tapi kalo kayak Ikan Es tu emang sering beli soalnyo kan enak. Anak anak jugo suko dengan ikan es apo lagi di sambalkan.

Pewawancara :

Apa anda pernah mendengar atau mengetahui adanya formalin dalam ikan?

Narasumber:

Pernah la kan dulu heboh di tipi. Dak lamo sebelum nnikan sempat heboh jugo bakso katonyo di Ujna yangmengandung formalin tu kan. Tapi kalo dalam ikan kayaknyo untuk sekarang memang dak terlalu kek mano nian la. Tapi kalo biso yo ikanni tetap aman dikonsumsi lah gitu

Pewawancara :

Bisakah anda mengenali ikan yang terpapar formalin hanya dengan kasat mata?

Narasumber:

Waduh, kalo nak tahu nian formalin apo idak jujur emang dak tahu nian yo. Cuma katonyokan yang ikan mengandungformalin tu biasonyo dangingnyo bagus tapi warnanyo la pucat. Agak aku kaku kek mano gitu kan. Tapi yang paling biso ditengok tu ado lalat apo idak? Biasonyo kalo lalat be dak mau ingap biasonyo memang ado formalin katonyokan.

Pewawancara:

Apa harapan anda kedepannya terhadap peredaran illegal formalin apalagi yang digunakan kedalam bahan pangan seperti ikan?

Narasumber:

Eloknyo memang formalin tu dak sembarangan be di jual.

Soalnyo kan emang bahayo nian. Kami ibu ibu rumah tangga ni

kadang milih ikan tu emang yang dagingnyo segar masih elok

la.. eh tahu tahu ado formalinyo. Yoo, kalo biso di cegah

secaradini lah samo pemerintah ni. Danjugo kalo bisopedagang

jujur jujur belah jualan tu.kanlebih halal.

Dari hasil wawancara dengan Ibu Yuli selaku Konsumen Ikan merasa cukup sering mengkonsumsi ikan jenis tongkol ataupun sarden. Dia mengakui bahwa setidaknya 3 kali dalam seminggu mengkonsumsi jenis ikan ini. Dalam penurutannya, ia menambahkan bahwa ikan adalah menu yang cukup diminati dikeluarganya dan untuk mengetahui apakah ia bisa mengidentifikasi secara kasat mata ikan berformalin, ia merasa cukup ragu karena menurutnya ikan berformalin akan berbeda dari tampilan dariikan kebanyakan. Dia menyakini bahwa ikan berformalin tidak mungkn dihinggapi lalat saat dipasar. Bagi dirinya ini adalah tanda alam yang sangat membantu untuk mengetahui apakah ikan yang akan ia beli aman atau tidak untuk di konsumsi.

Saat wawancara berlangsung ibu Yuli juga mengomentari bahwa selai lalat ada factor lain bagi diirinya untuk mencurigai apakah ikan yang ia beli mengandung formalin atau tidak. Salah satu diantaranya adalah tekstur daging ikan yang menjadi perhatiannya. Ikan yang bertekstur agak keras dari biasanya, akan segera ia curigai sebagai ikan berformalin.

Di akhir wawancara bu Yuli sebagai konsumen sangat

berharap bahwa kecurangan seperti ini yang langsung merugikan

komsumen ikan dapat berhenti. Baginya keselamatan adalah hal

yang utama dan harus di jaga. Dia juga berharap nantinya semua

pedagang dapat lebih jujur dalam menjajakan dagangannya.

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

b. Ibu Aswita. Pegawai Laboratorium.

Wawancara selanjutnya dilaksanakan di kantor BPPOM kota Jambi.

Gambar 13. Cuplikan Foto bersama Narasumber di Kantor BPom kota Jambi

Berikut kutipan dari wawancara dengan narasumber:

Pewawancara

Bagaimana tanggapan Ibu terhadap Ikan yang beredar di Kota Jambi yang berasaldari luar Jambi dancenderung memiliki jarak tempuh yangjauh namun tetap segar saat bedara di kota Jambi?

Narasumber

Itu menggunakan es batu. Tapi di jambi tidak banyak kok yang mengandung formalin.dalam uji kemarinpun taka da.

Pewawancara

Bagaimana ciri ciri ikan berformlain menurut ibu?

Narasumber:

Ikan itu keras dan berbau dan laalt tidak hinggap. Ciri ciri ikan yang tidak berformalin itu dihinggapi lalat strukturnya lembut sedangkan formalin itu agak menyengat dak yo baunyo.

Pewawancara:

Ibukan sering megnuji formalin. Pernahkan ditemukan ikan yang secara kasat mata terlihat segar namun mengandung formalin ketika di uji?

Narasumber:

Kita sering uji ikan tapi jarang ada formalin kalo di Jambi. Tapi ada satu satu itu di Desperindag Tanjabtim. Mereka menguji 50 sanpe seeratus ekor paling satu atau dua yang megandung formalin. Tapi dari beebrapa tahun ini memang tidak ditemukan formalin. Tiga tahun yang lalu ada satu ekor.

Pewawancara

Apa yang dilakuka terhadap oknum yang ketahuan menjual ikan berformalin?

Narasumber

Pertama penngawasan. Menasehati dulu. Mereka juga beralasan tidak tahu.

Dari hasil wanwancara dengan Pegawai laboratorium yang berpengalaman mengenai kandungan formalin berbahaya menyebutkan bahwa memang pada kenyataannya ikan berformalin memiliki perbedaan yang cukup bisa dilihat atau diteliti tanpa adanya uji labor. Dalam wawancara yang berlangsung cukup lama, Bu Aswitamenuturkan bahwa di Kota jambi sendiri tidak pernah ditemukannya lagi kasus formalin pada ikan yang menggemparkan dan menghebohkan seperti di beberapa kota lain yang sempat booming di media masa. Ibu Aswita menuturkan bahwa dalam mengenali ikan berformalin sungguh tidaklah sulit. Menurutnya ikan yang berformalin akan tercium bau formalin yang sangat mudah dideteksi oleh indra penciuman manusia. Ia juga memberikan beberapa tips dalam mengenali ikan berformalin.

Salah satu hal yang dapat dilihat dar ikan adalah warna ikan tersebut. Pada ikan segar, insang bisa menjadi indicator dalam melihat kesegaran ikan. Ikan berformalin insangnya cenderung berwarna lebih pucat dan teksturnya pun masih sanngat kaku.

Selain idnikator melalui insang dan daging. Factor luar seperti

dikerubungi lalat bisa menjadi penentu kecurigaan ada tidaknya

formalin. Ibu Aswita juga membeberkan bahwa saat ini untuk

adanya formalin pada ikan di Kota jambi memang bisa dibilang

tidak ada kasus sama sekali namun untuk di daerah lain seperti

tanjung jabung. Memnag di temukan ada satu dan dua sampel

dari limap uluh sampel yang telah di uji.

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

c. Pak Yudi. Pedagang Ikan yang telah berjualan selama 15 tahun

lebih.

Terakhir adalah wawancara dengan Pak Yudi

Gambar 14. Wawancara dengan pedagang ikan

Berikut kutipan wawancara dengan pak Yudi:

Pewawancara:

Apakah anda dan keluarga anda khususnya menggemari Ikan Laut dalam santapan sehari hari? lalu seberapa sering anda menyantap hidangan ikan laut?

Narasumber :

Saya nikan pedagang ikan. Jadi biso dibilang emang sering ketemu ikan dirumah. Kalo dibilang gemar yo mau dak mua lah jadi suko kkareno keseringan. Kalo ketemu ikan yo biso tiap hari lah kan.

Pewawancara:

Dari semua jenis ikan laut yang ada, jenis apa yang paling sering dikonsumsi atau bisa dibilang yang paling digemari dalam keluarga anda?

Narasumber :

Kareno pedagang kecik kayak sayo ni kalo dibilang suko ikan yang mano yo semuo la..Tapi kalo tongkol emang sering. Orang rumah hobbi masak tongkol

Pewawancara:

Apa anda pernah mendengar atau mengetahui adanya formalin

dalam ikan?

Narasumber :

Oh iyo. Resah jugo kareno banyak orang dak mau beli ikan lagi.

Tapi kalo kami insha allah idak lah. Takut jugo gek banyak yang dak mau beli ikan lagi

Pewawancara:

Bisakah anda mengenali ikan yang terpapar formalin hanya dengan kasat mata?

Narasumber :

Kalo formalin tu biso di tengok dari dagingnyo ni. Kalo diraso terlalu kaku gitu kan berarti mungkin ado frmalinnyo. Yang pasti kalo masih ado lalat yang daatang amanlah tu. Kecuali kalo dak didatangi lalat. Hati hati lah tu.

Pewawancara:

Apa harapan anda kedepannya terhadap peredaran illegal formalin apalagi yang digunakan kedalam bahan pangan seperti ikan?

Narasumber :

Semoga cepat ilang be. Solanyo yang ekno tu pedagang kecik kek kami ni la. Modal dikit kalo la dak do yang mau beli gegaro formalin kan kami jugo yang rugi. Kalo biso jangan lah nak curang curang kek gini. Mungkin pasti ado pedagang curang Cuma yang dak curang jugo keno imbasnyo.

Pak Yudi merupakan pedagang ikan yang cukup senior dalam mengenali ikan yang baik ataupun yang sudah rusak.baginya ikan merupakan menu yang sudah biasa dalam makanan sehari harinya. Sebagai pedagang ikan pak Yudi merasa begitu memahami mana ikan yang segar dan mana ikan yang mengandung formalin. Pengalamannya memberikan dia gambaran yang luas mengenai ikan yang bener bener segar.

Menurut Pak Yudi, hal plaing sederhana adalah melihat adanya lalat yang meengeerubungi ikan. Menurutnya, lalat akan sangat tertatarik dengan aroma khas ikan meskipun ikan tersebut masih tergolong segar. Dan jika ditemukan ikan yang sudah lama mati namun tidak dikerubungi lalat adalah hal yang mencurigakan.

Selain itu. Hal ini, juga memberikan tanda bahwa ikan yang tidak

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

dirubungi lalat biasanya memiliki tekstur daging yang tidak biasa. Semisal ikan pada umumnya akan lembek jika mati terlalu lama. Justru ikan yang mengandung zat berbahaya seperti formalin akan sedikit kaku dan keras. Pak Yudi juga mengakui pengalaman yang didapatnya sebagai pedagang ikan selama belasan tahun ditambah ilmu yang ia dapat dari berbagai berita, menguatkan bahwaia benar benar dapat mengenali secara kasat mata ikan yang diduga mengandung formalin.

2. Penelitian Identifikasi Formalin melalui Test Kit Formalin

Penelitian kandungan formalin pada sampel ikan laut telah

dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi ada

tidaknya kandungan formalin pada ikan yang telah beredar di pasar

pasar di Kota Jambi. Sampel yang didapat dari tiga pasar yang berada di

kota jambi seperti Angso Duo, Keluarga dan Aur Duri. Pada penelitian

kali ini. Setiap pasar diambil 2 pedagang dan dari setiap pedagang

diambil satu sampel untuk jenis ikan tongkol dan satu sampel untuk

jenis Ikan Sarden. Jadi secara keseluruhan peneliti meneliti sejumlah 12

sampel dari tiga pasar berbeda dan 6 sampel untuk Ikan Tongkol dan 6

sampel untuk Ikan Sarden. Berikut hasil pengujian formalin pada Ikan

Tongkol dan Ikan Sarden dari tiga pasar di Kota Jambi.

Dari diagram tersebut dapat dipastikan bahwa setiap pasar diambil sampel yang sama banyak dan dari dua jenis ikan yang berbeda yakni ikan sarden dan ikan tongkol.

Tabel 4. Hasil Uji Laboratorium

No Lokasi

Kode sampel

Hasil

Positif Negatif 1 Pasar Angso

Duo

S1 - -

S2 - -

S3 - -

S4 - -

2 Pasar Auduri S5 - -

S6 - -

S7 - -

S8 - -

3 Pasar Keluarga S9 - -

S10 - -

S11 - -

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Pasar Angso Duo

Pasar Keluarga Pasar Aurduri

Diagram Sample Penelitian

Ikan Tongkol Ikan Sarden

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

S12 - -

S1 : Sampel Satu (Ikan Sarden) S2 : Sampel Dua (Ikan Sarden) S3 : Sampel Tiga (Ikan Tongkol) S4 : Sampel Empat (Ikan Tongkol) S5 : Sampel Lima (Ikan Sarden) S6 : Sampel Enam (Ikan Sarden) S7 : Sampel Tujuh (Ikan Tongkol) S8 : Sampel Delapan (Ikan Tongkol) S9 : Sampel Sembilan (Ikan Sarden) S10 : Sampel Sepuluh (Ikan Sarden) S11 : Sampel Sebelas (Ikan Tongkol) S12 : Sampel Duabelas (Ikan Tongkol)

Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa tidak ada

satupun sampel mengalami perubahan warna setelah melakukan

rangkain uji test kit formalin di laboratorium Universitas Islam Negeri

Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Berikut diagram yang dapat

menunjukan hasil penelitian yang telah di uji di laboratorium UIN STS

Jambi

Dari hasil laboratorium yang ditunjukan oleh diagram batang diatas adalah tidak ditemukan sama sekali adanya ikna berformalin yang beredar di apsar pasar kota jambi.

B. Pembahasan

1. Mendeteksi Formalin secara kasat Mata.

a. Pemilihan Responden untuk wawancara

Dalam penelitian kali ikni menggunakan Purposisf sampeldiaman sampel yang diambil adalah sampel yang diyakini oleh peneliti merupakan sampel terpilih yang memiliki kualifikasi yang sesuai dengan peneltian. Dan oleh kakkrena itu peneliti memilih 3 orang untuk diwawancarai mengenai cara mendetekasi formalin secara kasat mata.

Responden pertama adalah Pak Yudi seorang pedagan yang sudah menjalani profesi sebagai epdagang ikan selama belasan tahun.

Terpilihnya Pak Yudi sebagaii salah satu orang yang akan diwanwacarai adalah pengalaman beliau mengenai ikan sangatlah luas.

Beliau dengan pengalaman berkeciputat dengan ikan layak di jadikan responden dalam waawancara ini. Yang kedua adalah Ibu Aswita.

Beliau adalah Kepala Labor BP Pom Provinsi Jambi. Secafra garis

0%

50%

100%

Pasar Angso Duo

Pasar Keluarga

Pasar Aurduri

HASIL PENELITIAN LABORATORIUM

Positif Formalin Negatif formalin

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

kelimuan beliau sangatlah mumpuni dalam permasalahan yang dihadapi oleh peneliti. Beliau merupakan orang yang memiliki ilmu dan pengalaman dalam menguji formalin dan memiliki integritas yang sangat cukup untuk menjabarkan bagaimana cara mendeteksi formalin secara kasat mata. Dan yang terakhir adalah konsemen ikan yang ditemu saaat pra research dalam penelitian kali ini. Bu Yuli merupakan penggemar ikan yang memang sering membeli ikan di pasar. BU Yuli menjadi representative yang cocok bagi konsumen kota jambi.

Kegemaran nya terhadap ikan memang diakuinya. Dan Bu Yuli menjadi pelengkap dalam wawancara dalam penelitian kali ini.

b. Identifikasi Formalin secara kasat mata

Secara kasat mata mungkin terdengatr sangat mustahil untuk melihat ada tidaknya formalin dalam ikan yang mungkin akandi konsumsi. Beberapa wawancara mendalam mengenai hal ini telah dilakukan oleh peneliti. Peneliti sengaja memilih 3 respoonden yang dianggap sebagai responden yang paling memiliki ilmu dalam hal ini juga termasuk pengalaman yang dapat dipertanggung jawabkan.

Ketiga responden iotu adalah seorang ibu rumah tangga yang menggemari ikan, pedagang yang memiliki pengalaman belasan tahun dalam berdagang ikan. Dan yang terakhir adalah seorang ahli yang biasa bekerja di laboratorium dan kesehariannya berkeciputan dengan hal yang sama.

Berikut adalah gambar dari ikan yangditeliti oleh peneliti secara

kasat mata berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai narasumber

Gambar 15. Penampakan Ikan yang akan diteliti secara kasat mata

Dari ketiga responden dapat dikatakan bahwa dalam menguji formalin secara kasat mata mungkin saja dilakukan denga indikasi yang telah dikemukakan sebelumnya. Menurut Loise ada beberapa indicator ikan berformalin secara kasat mata diantaranya:

1. Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar

2. Mata ikan merah, tetapi warna insang merah tua, bukan merah segar dan tidak cemerlang

3. Warna daging putih bersih, dengan tekstur kaku dan kenyal

4. Bau amis khas ikan berkurang, lender pada ikan cenderung sedikitdan tercium seperti bau kaporit

5. Tidak dikerubungi lalat

Dari hasil wanawancara yang dilakukan oleh peneliti maka dapat ditarik kesimpulan bahwa cara yang benar benar dapat dilakukan adalah:

1. Memastikan bahwa ada tidaknya lalat yang

menggerubungi ikan seperti sewajarnya

Dokumen terkait