• Tidak ada hasil yang ditemukan

RASIONALITAS DAN RESPONS MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN PENCABUTAN SUBSIDI BBM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "RASIONALITAS DAN RESPONS MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN PENCABUTAN SUBSIDI BBM"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

RASIONALITAS DAN RESPONS MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN PENCABUTAN SUBSIDI BBM

Oleh Wayan Gede Suacana

Setelah tertunda-tunda cukup lama dan menimbulkan ketidakpastian serta diprotes berbagai elemen masyarakat, pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie, Menteri Keuangan Jusuf Anwar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dan Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati, akhirnya mengumumkan kenaikan harga BBM rata-rata 29 persen pada hari Senin 28 Februari malam. Persoalannya, apakah kebijakan yang tidak populis dan di back up oleh sejumlah intelektual organik dari Freedom Institute ini sudah mengedepankan rasionalitas dan rasa keberpihakan bagi rakyat kecil ? Selanjutnya, apakah kebijakan ini memang sudah tepat dilaksanakan pada saat sekarang ini ?

Ide untuk mengurangi subsidi BBM didengungkan pertama kali oleh pemerintah melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pemerintah berencana untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak yang dipandang kurang tepat sasaran, secara bertahap kecuali untuk jenis minyak tanah bagi konsumsi rumah tangga, guna melindungi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Alasannya, agar dapat dilakukan penghematan anggaran subsidi yang kurang tepat sasaran, dan mengalihkan penggunaan serta alokasinya ke pos-pos lain yang lebih produktif dan bermanfaat. Hal ini diharapkan akan dapat menciptakan lapangan kerja, menanggulangi kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat, seperti sektor pendidikan dan kesehatan.

Dalam rangka menekan beban anggaran subsidi BBM inilah, pemerintahan SBY- JK melalui berbagai kesempatan telah menyampaikan akan mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengkaji metode penetapan dan penyesuaian harga BBM dalam negeri yang tepat, realistis, dan sekaligus menjamin kestabilan harga dan ekonomi. Dengan telah diberlakukannya kenaikan harga BBM per 1 Maret 2005, pemerintah semestinya juga memberikan penjelasan guna mendapatkan dukungan politik dan pemahaman dari masyarakat luas.

(2)

Namun. Dalam keputusan menaikkan harga BBM, tim ekonomi SBY-JK yakin bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin, pemerintah harus segera mengurangi subsidi BBM. Berdasarkan keyakinan ini, pemerintah melakukan propaganda yang gencar untuk memaksa rakyat memahami pemikiran tersebut.

Tak ada keraguan sedikit pun bahwa seluruh rakyat Indonesia akan sepakat dan mendukung segala upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin.

Dengan jumlah rakyat miskin 36 juta jiwa, tak ada cara lain yang dapat dilakukan kecuali melakukan terobosan dan inovasi kebijakan untuk mengurangi angka itu. Di tengan keterbatasan dana APBN, pemerintah SBY-JK harus mengelolal pengeluarannya secara adil dan berupaya mencari tambahan penerimaan untuk menghapus kemiskinan.

 Pilihan “Rasional” Pemerintah

Sebuah pilihan rasional dalam proses formulasi kebijakan publik biasanya didasarkan pada pemikiran yang rasional dan didukung oleh data atau informasi yang komprehensif. Menyadari akan sulitnya mencapai rasionalitas dalam pembuatan kebijakan, maka pemerintah sering menerapkan prinsip rasionalitas terbatas dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang mungkin tersedia kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling cocok untuk mengatasi suatu masalah.

Kebijakan menaikkan harga BBM per 1 Maret 2005 sesungguhnya tidak terlepas dari berbagai kontroversi. Banyak kalangan mengkhawatirkan dampak kenaikan itu akan meluas pada harga kebutuhan pokok sehari-hari. Bahkan kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi jauh-jauh hari sebelumnya telah menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut dengan berbagai aksi demonstrasi. Namun, pemerintah tetap tidak bergeming dan berkeyakinan itulah pilihan paling rasional guna mengurangi tekanan subsidi yang dianggap sangat memberatkan APBN.

(3)

Kebijakan pengurangan subsidi BBM menurut perhitungan pemerintah yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2005, akan disertai upaya kompensasi kenaikan agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat atau diimbangi dengan pemberian dana kompensasi kepada masyarakat miskin. Perhitungan rasionalnya, dengan asumsi harga minyak mentah 37, 17 dollar AS per barel, subsidi BBM telah mencapai Rp. 69 triliun. Sekarang ini harga minyak mentah sudah mencapai 50 dollar AS per barrel, pemerintah harus menanggung subsidi Rp. 73 triliun atau Rp. 200 miliar per hari.

Namun, dengan pengurangan subsidi sebesar rata-rata 29 persen dengan menaikan harga BBM pada tahun ini, masih tersisa subsidi Rp. 39, 8 triliun, atau Rp. Rp. 110 miliar per hari. Untuk mengurangi beban rakyat, pemerintah mengusulkan dana kompensasi Rp. 17,8 triliun. Menurut pemerintah, itu berasal dari penghematan subsidi BBM Rp.

10,5 triliun dan berbagai program yang sudah ada dalam APBN senilai Rp. 7,3 triliun.

Dengan kata lain, meski hanya didasarkan pada hasil studi yang terbatas, pemerintah menjamin kenaikan harga BBM tak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin, tetapi bahkan akan menurunkan jumlah rakyat miskin sebesar 3 %---sebuah kampanye yang berlebihan dan sulit diterima apabila kita memamami realitas masyarakat yang sebenarnya.

Perhitungan dengan model rasional komprehensif ini seperti ini tampaknya sangat logis, tapi tetap diragukan dalam implementasinya. Sebab, perhitungan yang didasarkan pada hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu didasarkan atas asumsi-asumsi yang begitu ideal.

Padahal, sistem yang ada di negeri ini, dengan berbagai kendala yang dihadapinya masih belum diyakini akan mampu menyalurkan dana kompensasi itu tepat sasaran.

(4)

 Respons Masyarakat

Keraguan seperti itu tampak, misalnya dari respons masyarakat terhadap kebijakan pengentasan kemiskinan dengan mencabut subsidi BBM ini sangat negatif.

Penolakan terus dilakukan baik oleh kelompok profesional, mahasiswa, ibu rumah tangga, rohaniwan, para wakil rakyat, dan bahkan rakyat miskin yang mestinya mendapat manfaat langsung dari program kompensasi subsidi BBM.

Kalau kebijakan itu adil dan bijak untuk mengurangi kemiskinan, mengapa berbagai kalangan menolak ? Pasti ada yang salah dari kebijakan tersebut. Untuk memahami penolakan masyarakat, dapat diuraikan berbagai alasan yang sering diajukan.

Pertama, masyarakat tidak setuju jika pengurangan subsidi BBM dilakukan

sekarang. Saat ini jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 10 juta, dan ada 20 juta rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Di samping itu, daya beli masyarakat masih sangat rendah. Dengan kondisi seperti itu, mestinya pemerintah tak menaikkan harga BBM karena berdampak negatif bagi masyarakat kecil. Kenaikan BBM rata-rata 29% jelas akan mendorong kenaikkan harga lebih dari 10%. Menurut Survei Bank Indonesia 2003, kenaikkan harga BBM 10% saja akan diikuti oleh naiknya harga produk manufaktur sebesar 10%. Oleh karena itu, mestinya pemerintah terlebih dahulu berupaya meningkatkan pendapatan masyarakat sebelum menaikkan harga BBM. Hasil survai Badan Pusat Statistik menyimpulkan hal yang sama. Apabila harga barang naik 10%, maka harus diikuti kenaikan pendapatan 13% agar masyarakat tidak jatuh di bawah garis kemiskinan.

Kedua, masyarakat tak dapat menerima pernyataan pemerintah bahwa subsidi

harus segera dikurangi untuk mengurangi kemiskinan karena tidak ada sumber dana lain.

Keberatan masyarakat sangat masuk akal karena mestinya masih ada alternatif untuk menambah penerimaan negara. Di samping pengurangan subsidi bunga obligasi bank

(5)

rekap dan cicilan utang luar negeri, masih banyak sumber penerimaan negara yang dapat dioptimalkan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan penerimaan pajak. Dalam jangka pendek, pemerintah dapat meningkatkan jumlah wajib pajak yang kini hanya berjumlah kurang dari tiga juta orang. Kebijakan lain yang dapat dilakukan adalah memberikan tax amnesty (pengampunan pajak) yang didukung dengan pengawasan dan enforcement yang tegas. Di samping itu, kebijakan alternatif lain yang akan mendorong

investasi, mengurangi underreporting, dan sekaligus berpotensi meningkatkan penerimaan pajak. Apabila revitalisasi sektor pajak dilakukan, akan ada tambahan penerimaan APBN yang signifikan tanpa menambah beban masyarakat golongan bawah.

Di samping itu, peningkatan efisiensi Pertamina juga meningkatkan penerimaan.

Sampai saat ini, banyak sumber inefisiensi di Pertamina, seperti penggunaan jasa trading company (brokers) untuk ekspor-impor BBM, tingkat utilisasi kilang minyak yang

rendah sehingga output-nya optimal. Jika sejumlah inefisiensi di Pertamina dapat dikurangi, pemerintah akan dapat menghemat subsidi BBM belasan triliun rupiah.

Potensi lainnya adalah dana dari selisih perhitungan BBM antara Departemen Keuangan dan Pertamina. Menurut data DPR, untuk tahun 2004 saja selisih perhitungan volume BBM sebesar dua juta kiloliter, sedangkan selisih perhitungan harga pokok dengan rata-rata tertimbang, sebesar Rp 212 per liter. Berdasarkan data itu, ada dana lebih dari Rp 7 triliun yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menambah penerimaan APBN.

Ketiga, masyarakat melihat ada pengeluaran lain yang lebih membebani APBN,

yang mestinya dihapus terlebih dahulu sebelum menaikkan harga BBM. Beban tersebut antara lain, cicilan utang luar negeri yang Rp 71,9 triliun pada 2005 dan beban subsidi bunga obligasi bank rekap Rp 41 triliun. Sayangnya, sampain saat ini, pemerintah belum mempunyai rencana untuk mengurangi beban APBN dari dua pos tersebut. Jika langkah

(6)

ini dilakukan, maka kebijakan pemerintah akan lebih adil dan tidak ada dampak langsung yang memberatkan masyarakat golongan bawah. Jadi, tak ada alasan lain yang lebih tepat terhadap langkah pemerintah menaikkan harga BBM selain mencari jalan paling mudah untuk menyiasati beban anggaran yang terbatas.

Keempat, belum ada keyakinan bahwa kenaikan harga BBM akan dapat

memenuhi rasa keadilan rakyat. Persoalan keadilan timbul bilamana rakyat menilai pemerintah dalam prakteknya dengan tujuan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan sah yang saling bersaingan dan tuntutan-tuntutan bertentangan yang diajukan oleh para anggota masyarakat. Distribusi dana kompensasi secara pilih kasih, misalnya dengan semena-mena memberikan prioritas kepada sesuatu golongan dan pemakaian dana secara tidak merata untuk kemanfaatan semua pihak dapat dianggap melanggar konsep keadilan ekonomi.

Analisis lebih lanjut terhadap rasa keadilan rakyat kecil dalam kenaikan harga BBM ini adalah sampai pada pengertian kelayakan (fairness). Pengertian keadilan sebagai sesuatu yang layak itu terutama diterapkan pada proses pertukaran sehingga terdapat ungkapan pertukaran yang adil (just exchange), seperti harga yang layak (fair price) dalam kasus kenaikan harga BBM. Karena dengan kenaikan harga BBM ini, maka

rakyat kecillah yang pertama-tama akan menjadi korban. Ketika keputusan menaikkan harga BBM diambil sudah dapat dibayangkan berbagai kesulitan yang segera dihadapi oleh rakyat kecil. Mulai dari kenaikan tarif angkutan yang kemudian berimbas pada kenaikan harga semua kebutuhan pokok sehari-hari, mulai dari kebutuhan pangan, sandang, tranfortasi, papan dan seterusnya.

Tidak adilnya, pemerintah seakan-akan menyederhanakan persoalan dengan memberikan kompensasi kenaikan BBM hanya pada dua masalah yang dianggap paling serius dihadapi oleh rakyat kecil, yaitu pendidikan dan kesehatan. Padahal sesungguhnya

(7)

permasalahan yang dihadapi oleh rakyat kita dalam situasi krisis saat ini masih seputar perjuangan untuk dapat bertahan hidup dengan berusaha memenuhi kebutuhan primer sehari-hari mereka, seperti pangan, sandang dan papan. Pemenuhan kebutuhan primer ini biasanya jauh mengambil porsi yang lebih besar daripada urusan pendidikan dan kesehatan. Dengan kata lain pengeluaran rutin untuk pemenuhan kebutuhan makanan, pakaian, transfortasi, perumahan dan yang lainnya jauh lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran untuk masalah pendidikan dan kesehatan.

 Epilog

Dari uraian di atas sesungguhnya sangat jelas bahwa tanpa menaikkan harga BBM, ternyata masih sangat banyak sumber untuk memanmbah penerimaan APBN.

Alasan pemerintah bahwa pengurangan subsidi BBM harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin sangat tidak mendasar. Adalah tugas pemerintah untuk memilih kebijakan yang paling adil dan bijak untuk mengentaskan kemiskinan. Tugas pemerintah juga untuk bekerja keras dan melakukan inovasi kebijakan guna meningkatkan penerimaan agar dapat membiayai program-programnya.

Namun, sebuah kebijakan yang dianggap rasional oleh pemerintah sangat berpeluang menimbulkan bias dan dampak yang sangat kompleks di lapangan. Kebijakan tersebut bisa menjadi nyebit tiying, amis kecenik yang terlalu banyak mengorbankan dan memperberat beban hidup rakyat kecil. Kita berharap pasca kenaikan harga BBM, pemerintah mampu mengontrol dan mengendalikan kenaikan harga barang dan jasa, dan tidak membiarkannya terus melambung. Sehingga tujuan pengalihan subsidi BBM untuk menciptakan lapangan kerja, menanggulangi kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat tidak sekadar isapan jempol.

(8)

Kontroversi dan dampak politik, ekonomi serta sosial dari kenaikan harga BBM ini apabila dibiarkan, akan dapat memicu keresahan dan ketidakpercayaan rakyat.

Implikasinya, dapat mengganggu stabilitas pemerintahan SBY-JK yang sejak awal kampanye memang tidak pernah memprogramkan kenaikan harga BBM. Kearifan dan kejujuran memang sangat diperlukan dalam memilih sebuah kebijakan publik.

Referensi

Dokumen terkait

Karena itulah dapat disimpulkan bahwa dengan kenaikan nilai temperature sintering akan memperkecil nilai koersivitas (Hc). Dari Gambar 4.31 dapat diketahui bahwa secara umum

Sintering fasa cair adalah salah satu metode yang dilakukan untuk menurunkan suhu sinter yaitu dengan cara menambahkan material dengan titik lebih rendah atau

Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi

Dalam pengembangan geometri Eucclides itu postulat disebut postulat kesejajaran yang diartikan menjadi melalui suatu titik di luar garis dapat dibuat tepat satu gris yang

Wallpaper dengan motif yang tegas, selain membuat tampilan rumah terlihat dinamis, juga berfungsi untuk menegaskan keberadaan sebuah ruang lain di

PENGADAAN PERALATAN PENDIDIKAN SD NEGERI DAN SD SWASTA / SD/ SDLB (DAK) CV.ASAKA PRIMA|DUTA MEDIA

Gejala stres kerja yang terjadi pada karyawan PT BPR Syari’ah Gebu Prima Medan yaitu gejala psikis seperti tidak mampu berkonsentrasi dalam menyelesaikan masalah atau

Semakin intensifnya penangkapin ikan gabus rnembawa danpak menurunnya populaii ikan ga6us di alam, apalagr rawa-rawa sebagai habitat ikan gabus sudah banyakyang ditirnbun