• Tidak ada hasil yang ditemukan

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

vi DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.

UCAPAN TERIMAKASIH ... Error! Bookmark not defined.

ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR GAMBAR ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined.

BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

1. Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.

2. Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined.

3. Batasan Masalah... Error! Bookmark not defined.

4. Tujuan ... Error! Bookmark not defined.

5. Manfaat ... Error! Bookmark not defined.

6. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

1. Gugus Bintang ... Error! Bookmark not defined.

1.1. Proses Pembentukan ... Error! Bookmark not defined.

1.2. Karakter Gugus ... Error! Bookmark not defined.

1.3. Gugus Bintang Terbuka ... Error! Bookmark not defined.

1.4. Morfologi dan Klasifikasi ... Error! Bookmark not defined.

1.5. Akhir Hidup ... Error! Bookmark not defined.

2. Fotometri CCD ... Error! Bookmark not defined.

2.1. Magnitudo Semu dan Magnitudo Mutlak ... Error! Bookmark not defined.

2.2. Indeks Warna ... Error! Bookmark not defined.

(2)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

vii

2.4. Fotometri CCD Dengan Perangkat Lunak ... Error! Bookmark not defined.

3. Diagram Hertzsprung-Russel ... Error! Bookmark not defined.

3.1. Sejarah Penemuan ... Error! Bookmark not defined.

3.2. Bentuk Diagram ... Error! Bookmark not defined.

3.3. Interpretasi ... Error! Bookmark not defined.

BAB III METODE PENELITIAN ... Error! Bookmark not defined.

1. Metode Penelitian... Error! Bookmark not defined.

2. Waktu Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

3. Pengolahan Data... Error! Bookmark not defined.

3.1. Data Observasi ... Error! Bookmark not defined.

3.2. Instrumen Pengolahan Data ... Error! Bookmark not defined.

3.3. Magnitudo ... Error! Bookmark not defined.

3.4. Penentuan Usia, Pemerahan dan Jarak Gugus Bintang Terbuka M67 ... Error! Bookmark not defined.

4. Prosedur Penelitian... Error! Bookmark not defined.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined.

1. Magnitudo Instrumen ... Error! Bookmark not defined.

2. Tranformasi Magnitudo Baku ... Error! Bookmark not defined.

3. Magnitudo Baku ... Error! Bookmark not defined.

4. Fotometri Gugus Bintang Terbuka M67 ... Error! Bookmark not defined.

5. Perhitungan Usia, Pemerahan dan Jarak .... Error! Bookmark not defined.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... Error! Bookmark not defined.

1. Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined.

2. Saran ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

(3)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1 BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Sejak masa lampau bintang-bintang telah menjadi bagian dari kebudayaan

manusia. Banyak kebudayaan masa lampau yang menjadikan bintang-bintang

sebagai patokan dalam kegiatan praktik keagamaan, navigasi, penanda waktu

dalam kegiatan agraris dan masih banyak lagi. Hingga masa kini, ilmu

perbintangan klasik masih dapat digunakan salah satunya adalah pemanfaatan rasi

bintang sebagai navigasi serta kalender Gregorian yang umum digunakan manusia

kini juga disusun berdasarkan posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, yakni

Matahari.

(4)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2

Gambar (1.1) menunjukkan rasi bintang yang terlihat pada langit bagian

utara dan selatan. Penamaan rasi bintang kebanyakan diambil dari mahluk-mahluk

(5)

yunani, maka menunjukkan bahwa bangsa Yunani merupakan salah satu

penyumbang terbesar perkembangan astronomi dunia. Bangsa Yunani kuno sudah

mulai sadar akan keberadaan obyek astronomi terutama bintang-bintang, hal ini

dibuktikan dengan hadirnya katalog bintang pertama astronom Yunani yang

dibuat oleh Aristillus dengan bantuan Timocharis kira-kira 300 tahun sebelum

masehi. Kemudian katalog populer lain dibuat oleh Hipparcus (190-120 SM) yang

memuat 1028 bintang. Katalog lain disusun oleh Claudius Ptolemaus (90-168

SM) atau yang lebih dikenal dengan Ptolemy dengan berisikan bintang-bintang

yang terlihat oleh mata telanjang.

Pada awalnya studi tentang bintang-bintang sebatas bintang yang tampak

karena bermula dari rasa ingin tahu. Pada prosesnya rasa ingin tahu akan

bintang-bintang telah membuka dan menggiring manusia pada ilmu pengetahuan tentang

alam semesta. Bintang merupakan obyek astronomi yang menarik karena selain

menghasilkan cahaya sendiri yang membuatnya mudah terdeteksi, juga

dikarenakan bintang memiliki jalur evolusi tersendiri yang membuat manusia bisa

memperkirakan keadaan bintang, baik di masa depan maupun di masa lalu.

Bintang dapat terbentuk oleh karena adanya kontraksi awan molekul

(nebula). Pada prosesnya bintang-bintang terbentuk secara berkelompok. Kelompok-kelompok bintang ini disebut sebagai gugus (cluster) dan dibagi

menjadi beberapa kelas bedasarkan jumlah anggota dan interaksi gravitasinya.

Adapun klasifikasi bintang yang diurutkan berdasarkan interaksi gravitasi

terlemah hingga terkuat adalah asosiasi bintang, gugus terbuka (open cluster), gugus muda masif (young massive cluster) serta gugus bola (globular cluster). Gugus bintangmerupakan obyek yang sangat penting dalam studi evolusi bintang.

Bintang-bintang anggota gugus terikat satu sama lain oleh gaya gravitasi dan

terpengaruh oleh gravitasi dari obyek lain. Bintang anggota gugus memiliki

komposisi kimia yang mirip karena berasal dari awan molekul yang sama,

sehingga parameter utama anggota gugus seperti usia, jarak dan pemerahan

(reddening) akan lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bintang yang menyendiri. Selain itu, gugus bintang memiliki anggota yang lahir dalam waktu

yang hampir bersamaan, oleh karenanya tiap bintang dalam satu gugus memiliki

(6)

4

Salah satu gugus yang menarik untuk dipelajari adalah gugus bintang

terbuka M67 atau NGC 2682 yang terletak di konstelasi Cancer. Estimasi usia terbaik yang dapar diberikan pada gugus bintang terbuka M67 berkisar antara 3,1

hingga 5 miliar tahun (Sarajedini, 2009). Gugus bintang ini memiliki beberapa

keunikan diantaranya adalah gugus bintang terbuka M67 merupakan salah satu

gugus bintang tua di Galaksi Bima Sakti. Ada juga beberapa anggapan bahwa

bintang terdekat dengan Bumi yakni Matahari berasal dari gugus bintang terbuka

M67 dikarenakan lebih dari seratus bintang anggotanya memiliki kemiripan

dengan Matahari (Sanders, 1977). Pada kenyataaanya gugus bintang terbuka M67

bukanlah yang tertua di Galaksi Bima Sakti, namun gugus bintang terbuka tua

lainnya memiliki jarak yang relatif lebih jauh. Dengan statusnya sebagai gugus

bintang terbuka tua dan terdekat dengan Bumi ditambah dengan jumlah

anggotanya yang melimpah, M67 merupakan salah satu laboratorium terbaik

untuk mempelajari evolusi bintang.

Keadaan fisis bintang dapat ditentukan berdasarkan spektrum dan kuat

cahayanya. Pengukuran kuat cahaya dapat dilakukan dengan metode fotometri.

Fotometri dilakukan untuk mempelajari kuantitas, kualitas dan arah pancaran

radiasi. Fotometri pada awalnya digunakan sebagai metode untuk mengamati

benda langit yang sebatas pada panjang gelombang visual atau optik. Namun,

dewasa ini fotometri digunakan berdasarkan konsep radiasi benda hitam sehingga

sinyal yang diterima tidak hanya sebatas cahaya tampak.

Studi tentang gugus bintang merupakan hal yang penting, dimana para

astronom dapat memprediksikan banyak sekali kemungkinan dengan mengetahui

parameter fisis gugus bintang. Salah satu parameter fisis fundamental gugus

bintang adalah usia dan jarak. Usia gugus bintang dapat memberikan petunjuk

tentang sejarah formasi galaksi. Contohnya, bintang dalam gugus bola (Globular Cluster) merupakan bintang paling tua dalam galaksi, sehingga dengan mengetahui usia gugus, dapat diperkirakan pula usia galaksi dan lebih jauh lagi

usia alam semesta. Gugus bintang terbentuk dari awan molekul yang sama dan

terbentuk dalam waktu yang bersamaan, sehingga dengan mempelajari usia gugus

(7)

merupakan besaran fundamental yang dapat menggambarkan luasnya alam

semesta sehingga lebih meyakinkan kebesaran sang pencipta.

Penelitian ini berfokus pada pengolahan data fotometri gugus bintang

terbuka M67 yang diamati oleh Dr. Hakim L. Malasan menggunakan teleskop

berdiameter 65 cm, pada tanggal 27 Januari 2000 yang berlokasi di Gunma

Astronomical Observatory (GAO) Jepang. Pekerjaan dilakukan dengan mengolah

citra gugus bintang terbuka M67 sehingga menghasilkan magnitudo instrumen

tiap bintang dalam citra. Penghitungan besar koefisien ekstingsi atmosfer dan

transformasi magnitudo dilakukan sehingga mendapatkan nilai magnitudo baku

untuk tiap bintang. Setelah magnitudo baku bintang didapat maka dapat dibangun

diagram Russel. Dengan membandingkan diagram

Hertzsprung-Russel hasil observasi dan model isochrone yang tepat, maka parameter fisis gugus bintang seperti usia, jarak dan pemerahan dapat dihitung.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, terdapat beberapa

masalah yang ingin dipecahkan, yakni:

 Bagaimana menentukan magnitudo baku untuk tiap bintang berdasarkan citra obyek gugus bintang terbuka M67 dalam pita B dan V?

 Berapakah usia, besar nilai pemerahan dan jarak gugus bintang terbuka

M67 melalui metode fotometri?

3. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini masalah akan dibatasi pada:

 Pemerosesan citra menggunakan metode fotometri absolut.

 Jumlah bintang anggota gugus bintang terbuka M67 pada citra berjumlah 60 bintang.

 Penentuan usia dan jarak menggunakan metode pencocokan isochrone

secara manual. Tidak ada metode statistik tertentu yang digunakan dalam

(8)

6

4. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang dibuat, maka tujuan penelitian ialah

sebagai berikut:

 Menentukan magnitudo baku tiap bintang berdasarkan citra gugus bintang

terbuka M67 dalam pita B dan V.

 Menentukan usia, pemerahan dan jarak gugus bintang terbuka M67

melalui metode fotometri.

5. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini diantaranya adalah:

1. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi penelitian gugus bintang

terbuka dengan menggunakan metode fotometri untuk mendapatkan

parameter fisis gugus bintang.

2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi praktikan selanjutnya dalam

memberikan gambaran bahwa hasil penelitian dapat memberikan alternatif

sudut pandang atau solusi dalam pemecahan masalah penentuan parameter

fisis bintang menggunakan metode fotometri.

3. Sebagai perbandingan bagi penelitian selanjutnya mengenai gugus bintang

(9)

6. Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan

Berisi latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan, metode

penelitian, manfaat dan sistematika penulisan dari penelitian yang telah dilakukan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Menjelaskan konsep dasar gugus bintang, metode yang dugunakan yakni aperture photometry menggunakan fotometri CCD, penggunaan besaran dan satuan dalam astronomi dan diagram Hertzsprung-Russel.

BAB III Metode Penelitian

Menjelaskan tentang metode penelitian, metode pengolahan data, prosedur

penelitian dan waktu penelitian.

BAB IV Hasil dan Pembahasan

Menjelaskan proses pengolahan data secara rinci dan bertahap serta parameter

fisis yang dihasilkan dari penelitian.

BAB V Kesimpulan dan Saran

BAB V menjelaskan kesimpulan yang didapat dari penelitian serta saran untuk

(10)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

28 BAB III

METODE PENELITIAN

1. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kuantitatif.

Fenomena yang ada merupakan fenomena alam berupa kumpulan bintang-bintang

dalam gugus terbuka. Variabel terukur berupa data magnitudo semu bintang yang

kemudian diolah menjadi diagram Hertzsprung-Russel.

Metode penelitian dilakukan dengan melakukan studi literatur dan

pengolahan data, studi literatur dimaksudkan untuk mempelajari seluruh aspek

yang berkaitan dengan materi mengenai perbintangan, sedangkan pengolahan data

dilakukan untuk mendapatkan parameter fisis dari data mentah yang dijadikan

bahan penelitian.

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan metode aperture

photometry. Aperture photometry adalah metode yang digunakan untuk mengukur besar fluks atau intensitas cahaya. Prinsip kerja metode aperture photometry adalah menempatkan tiga buah lingkaran dengan diameter beragam, dimana ketiga lingkaran tersebut ditempatkan sedemikian rupa sehingga

mengurung sumber cahaya. Penggunaan tiga buah lingkaran memiliki fungsi

tersendiri, dimana lingkaran terdalam digunakan untuk mengukur besar intensitas

dari sumber, lingkaran tengah sebagai area pembatas agar meyakinkan bahwa

intensitas terukur merupakan intensitas sumber cahaya tanpa dikotori oleh

pengaruh lain, dan lingkaran terluar digunakan untuk mengukur intensitas langit.

Sistem fotometri yang digunakan adalah sistem fotometri UBV dengan

menggunakan dua buah pita, yakni pita B dan V.

2. Waktu Penelitian

(11)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Pengolahan Data

3.1.Data Observasi

Citra obyek gugus bintang terbuka M67 diambil oleh Dr. Hakim Luthfi

Malasan (dari Obs. Bosscha ITB) menggunakan teleskop berdiameter 65 cm

dengan panjang fokus 780 cm seperti terlihat pada Gambar (3.1).

Gambar 3.1 Teleskop yang Digunakan Untuk Pengambilan Citra

Gugus Bintang terbuka M67 (Sumber: www.astron.pref.gunma.jp)

Tempat pengambilan data berlokasi di Gunma Astronomical

Observatory (GAO), Jepang yang berada pada 36°35’37 LU dan 138°58’35”

BT dengan ketinggian 885 meter dari permukaan laut. Waktu paparan

(exposure time) untuk citra dengan pita V selama 60 detik, sedangkan untuk citra dengan pita B selama 120 detik. Pengambilan data dilakukan pada

tanggal 27 Januari 2000. Area gugus bintang terbuka M67 terpotret di langit

memiliki ukuran 5,8 menit busur, sedangkan pada citra obyek memiliki

(12)

30

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Citra obyek harus dikalibrasi terlebih dahulu melalui pengaturan

kecerahan dan kontras agar tiap bintang dapat terdeteksi, kemudian invert warna yang dimaksudkan untuk memudahkan penempatan tiga buah

lingkaran untuk mengukur intensitas cahaya. Pada prosesnya pengaturan

besar lingkaran dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak.

Gambar 3.2 Citra Obyek Gugus Bintang Terbuka M67 Sebagai Obyek

Penelitian

Gambar (3.2) menunjukkan area langit yang terpotret dan merupakan

bagian dari gugus bintang terbuka M67 yang berpusat pada α = 8° 41’ 14,62”, δ = 11° 47’ 25,54” dan bukan merupakan keseluruhan gugus, dapat dibandingkan area obyek penelitian merupakan area yang ditandai dalam citra

gugus bintang terbuka M67 lain yang berukuran 40 menit busur seperti

(13)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.3 Citra Gugus Bintang Terbuka M67 Berukuran 40 Menit

Busur (Sumber: http://dss.nao.ac.jp)

Terdapat 10 bintang standar dalam area penelitian yang digunakan

sebagai pembanding dan koreksi ekstingsi atmosfer. Kesepuluh bintang

tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1 Data Bintang Standar dari Bruce Gary, Hereford Arizona

Observatory (Sumber: brucegary.net/M67)

(14)

32

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

8° 51' 22.797" 11° 48' 51.65" 13.283 12.701 8° 51' 26.779" 11° 48' 42.56" 11.094 10.502

3.2.Instrumen Pengolahan Data

Instrumen pengolahan data yang digunakan berupa perangkat lunak

bernama ImageJ. Penggunaan perangkat lunak ImageJ pada penelitian ini

sebatas pada pengukuran intensitas sumber. ImageJ merupakan perangkat

lunak open source atau perangkat lunak yang dapat diunduh dan dipakai secara gratis, pengoprasiannya memerlukan Java. Perangkat lunak ini

dikembangkan oleh National Institute of Health, Amerika Serikat. ImageJ

didesain sebagai alat pemrosesan dan pengolahan citra ilmiah.

Penggunaannya sangat fleksibel dengan ribuan plugin dan macros yang dapat di install guna pekerjaan beragam.

Gambar 3.4 Tampilan Standar ImageJ dengan Plugin Astronomi Untuk Pekerjaan Fotometri

Penggunaan perangkat lunak ImageJ untuk pekerjaan fotometri

(15)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

intensitas diantara lain intensitas sumber, intensitas langit (background), koordinat dalam piksel, right acsension dan deklinasi.

3.3.Magnitudo

3.3.1. Magnitudo Instrumen

Menggunakan bantuan perangkat lunak ImageJ, multiple aperture photometry dapat dilakukan sehingga intensitas tiap bintang anggota gugus dapat terukur. Kemudian dengan menggunakan

persamaan (2.2) magnitudo instrumen dari tiap bintang anggota gugus

bintang terbuka M67 dapat ditentukan.

Koreksi ekstingsi atmosfer perlu dilakukan pada nilai magnitudo

instrumen dikarenakan pengaruhnya yang membuat berkurangnya

intensitas radiasi sumber akibat partikel dalam atmosfer bumi.

Dampak ekstingsi ini berupa penyerapan dan penyebaran cahaya.

Koefisien ekstingsi atmosfer yang terukur merupakan hasil

perbandingan nilai antara magnutudo instrumen dengan magnitudo

standar. Dengan rajah magnitudo standar versus magnitudo instrumen,

besar nilai koefisien untuk masing-masing pita dapat diperoleh. Nilai

magnitudo standar haruslah lebih kecil dibandingkan dengan

magnitudo instrumen dikarenakan dalam sistem magnitudo obyek

yang lebih cerah memiliki nilai lebih kecil, pada kasus ini setelah

koefisien ekstingsi dihilangkan maka obyek akan terlihat lebih cerah.

3.3.2. Magnitudo Baku

Bintang standar katalog diperlukan agar pengamat yang berbeda

dapat saling membandingkan hasil satu sama lain. Perbandingan hasil

pengamatan diperlukan atas dasar bahwa tiap observasi akan memiliki

respon yang berbeda, bintang yang sama tidak akan memiliki nilai

kecerlangan yang sama dengan pengaturan instrumen yang berbeda.

Perbedaan hasil dapat diakibatkan dari perbedaan ukuran dan kondisi

(16)

34

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

digunakan. Untuk menghilangkan faktor tersebut, sistem bintang

standar katalog dapat digunakan untuk mengkalibrasi data hasil

observasi terhadap kecerlangan bintang standar. Koefisien

transformasi adalah:

� = + � � + � (4.1)

Dimana t merupakan koefisien transformasi dan z adalah zero point. Persamaan 4.1 dapat ditransformasikan menjadi persamaan untuk mendapatkan nilai magnitudo baku untuk tiap bintang.

Sehingga persamaan transformasinya adalah:

� = �� + ∗ − � + (4.2)

− � = ∗ − � � + (4.3)

Dimana V dan (B-V) merupakan magnitudo baku yang akan dicari,

Vobs dan (B-V)obs telah diketahui sebelumnya dari magnitudo

instrumen terkoreksi koefisien ekstingsi atmosfer. Lalu C1, C2, C3 dan

C4 merupakan nilai yang perlu dicari. Karena warna dan magnitudo

bintang standar katalog telah diketahui, maka dengan rajah grafik

� �− ��� versus − � �dan rajah grafik − � � versus − � �� nilai nilai C1, C2, C3 dan C4 dapat diketahui. Kemudian

dengan menggunakan persamaan (4.2) dan (4.3) maka nilai magnitudo

baku untuk tiap bintang dapat diketahui. Dengan diketahuinya seluruh

nilai magnitudo baku untuk tiap bintang, maka diagram HR yang

dibangun berdasarkan magnitudo baku dapat dibangun.

3.4.Penentuan Usia, Pemerahan dan Jarak Gugus Bintang Terbuka M67

Usia, pemerahan dan jarak gugus bintang dapat diperkirakan dengan

mencocokkan data hasil observasi dengan model isochrone. Dalam evolusi bintang, isochrone merupakan kurva pada diagram HR yang menggambarkan populasi bintang berusia sama. Isochrone dapat digunakan untuk mengetahui

usia gugus bintang dikarenakan anggota gugus memiliki usia yang hampir

(17)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Initial mass function (IMF) merupakan fungsi empirik yang mendeskripsikan distribusi massa awal populasi bintang. IMF memberikan

probabilitas fungsi distribusi massa ketika bintang memasuki periode deret

utama (memulai proses reaksi fusi). Jika IMF dari gugus bintang diketahui,

isochrone dapat dibangun menggunakan bintang-bintang pada populasi awal. Kurva isochrone dapat di rajah bersamaan dengan HR diagram yang dibangun berdasarkan data observasi untuk dilihat berapa besar kecocokkan

antara keduanya. Apabila kurva isochrone dan HR diagram magnitudo observasi tercocokkan dengan baik, maka asumsi usia isochrone dapat diprediksi mirip dengan usia gugus.

Perbandingan beberapa usia isochrone dengan HR diagram perlu dilakukan dengan masksud mendapatkan hasil yang lebih presisi. Besar

pergeseran isochrone sumbu X menggambarkan nilai ekses warna E(B-V) atau pemerahan dan besar pergeseran sumbu Y merupakan besar nilai

modulus jarak m-M. Koefisien ekstingsi materi antarbintang dapat dihitung

dengan menggunakan persamaan (2.10). Nilai-nilai tersebut selanjutnya dapat

(18)

36

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Prosedur Penelitian

Keseluruhan prosedur pengolahan data diberikan dalam Gambar 3.5

berikut:

Studi Literatur

Mengunduh Program Pengolah Data ImageJ

Pengolahan Data Dengan Menggunakan Metode Apperture Photometry

Koreksi Magnitudo Instrumen Dengan Koefisien Ekstingsi Atmosfer

Penentuan Jarak Ke Gugus

Bintang M67 Menggunakan Modulus Jarak RajahGrafik Magnitudo V vs Indeks

Warna B-V (H-R Diagram)

Penentuan Usia Gugus Bintang Berdasarkan Pembelokan Deret Utama Pada Diagram H-R (Fitting

Isochrone)

Transformasi Magnitudo ke Sistem Magnitudo Baku Pengukuran Besar Ekstingsi Atmosfer

Penentuan Besar Nilai Pemerahan dan Absorpsi Materi

Antar Bintang Mendapatkan Chart Pembanding Bintang

(19)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(20)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

49 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data fotometri yang dilakukan, maka dapat

dapat disimpulkan:

 Magnitudo baku bintang anggota gugus bintang terbuka M67 dalam pita

B memiliki rentang nilai 10,318 hingga 17,08 sedangkan dalam pita V

memiliki rentang nilai 9,884 hingga 16,116.

 Gugus bintang terbuka M67 berusia , × 9 tahun, besar nilai

pemerahan sebesar 0,06 dan berjarak 909 pc.

2. Saran

Diperlukan studi lebih lanjut dengan jumlah bintang anggota lebih banyak

sehingga kedudukan bintang-bintang pada diagram HR dapat lebih jelas terlihat.

Bagian diagram HR yang memuat deret utama dan red giant dapat lebih jelas dikarenakan gugus bintang terbuka M67 merupakan gugus bintang tua.

Penggunaan perangkat lunak ImageJ sebagai tools memiliki beberapa kekurangan dalam menganalisis nilai intensitas sumber. Intensitas yang terukur

terkadang tidak memiliki nilai atau error meskipun lingkaran sudah melingkupi sumber. Penggunaan multi aperture photometri juga tidak merespon nilai error ditengah pengukuran, sehingga diakhir pengukuran seringkali didapat nilai error yang membuat pengukuran harus diulang.

Adapun saran dalam melakukan pengolahan data yang dilakukan adalah

sebagai berikut:

 Untuk pengukuran nilai magnitudo instrumen bintang menggunakan

(21)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

 Rajah beberapa model isochrone yang digunakan memiliki rentang usia

yang jauh guna memudahkan dalam melihat hasil pencocokkan dengan

(22)

51

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Bahcall, J, N. (2000). “How The Sun Shines”. Nobel Foundation. Retrieved 2006-08-30.

Battaglini, F; P, P, Brollo; L, Cassarini & P, Sabbadin. (2010). “Photometric Analysis of the Open Cluster Ngc 6791”. I1 Cielo come Laboratorio, 1.

Binney, J & Merrifeld, M. (1998). Galactic Astronomy. Princeton, New Jersey: Princeton University Press.

de la Fuente Marcos. R. (1998). “Dynamical Evolution of Open Star Cluster”. Publication of the Astronomical Society of the Pacific 110 (751): 1117-1117.

Formert, H & K, Christine. (2007). “Open Star Cluster”. SEDS. University of Arizona, Lunar and Planetary Lab. Retrieved 2009-01-02.

Hills, J, G. (1980). “The Offect of Mass Loss On The Dynamical Evolution of Stellar System – Analitycal Approximations”. Astrophysical Journal 235: 986-991.

Howell, S, B. (2006). Handbook of CCD Astronomy. Cambridge: Cambridge University Press.

Kroupa, P; S. Aarseth. & J. Hurley. (2001). “The Formation of a Bound Star Cluster: from the Orion Nebula Cluster to the Pleiades”. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 321 (4): 699-712.

Kroupa, P. (2004). “The Fundamental Building Blocks of Galaxy”. Procedings of

the Gaia Symposium “The Three-Dimensional Universe With Gaia”(ESA

(23)

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Lada, C, J. (2010). “The Physics and Modes of Star Cluster Formation: Observations”. Philosophical Transaction of the Royal Society A 368: 713-731.

Montgomery, K, A; L, A, Marschall & K, A, Janes. (1993). “CCD Photometry of the Old Open Cluster M67”. The Astronomical Journal Vol. 106: 181-219.

Naim, S. O. & Evgeny, G. (2012). “Examining the M67 Classification as an Open Cluster”. International Journal of Astrophysics, 2012, 2: 167-173.

Nilakshi, S. R; Pandey, A.K. & Mohan, V. (2002). “A study of spatial structure of galactic open star clusters”. Astronomy and Astrophysics 383 (1): 153– 162

Payne-Gaposchkin, C. (1979). “Stars and Clusters”. Cambridge: Harvard University Press.

Percival, S, M; Salaris, M. & Kilkenny, D. (2003). “The Open Cluster Distance

Scale – A New Empirical Approach”. Astronomy & Astrophysics 400: 541-552.

Sanders, W. L. (1977). “Membership of the Open Cluster M67”. Astronomy and Astrophysics Supplement Series 27: 89-116

Sanders, W. L. (1989). “UBV Photometry of M67 Members”. Rev Mexicana Astron. Astrof 17: 31-35.

Sarajedini, A; A, Dotter. & K, Allyson. (2009). “Deep 2MASS Photometry of M67 and Calibration of the Main Sequence J-KS Color Difference as an Age Indicator”. AJ, 2009.

(24)

53

FAJAR RAMADHAN, 2015

FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Yakut, K; W, Zima; B, Kalomeni; H, van Wickel; C, Waelkens; P, De Cat; E,

Bauwens; M, Vuckovic; S, Saesen; L, Le Guillou; M, Parmaksizoglu; K, Oluc; I, Khamitov; G, Raskin & C, Aerts. (2009). “Close Binary and Other Variable Stars in the Solar Age Galactic Open Cluster M67”. Astronomy and Astrophysics Vol. 505 : 165-176.

Brucegary.net/M67

http://dss.nao.ac.jp

stev.oapd.inaf.it

Gambar

Gambar 1.1 Kumpulan Rasi Bintang (Sumber: www.redorbit.com)
Gambar 3.1 Teleskop yang Digunakan Untuk Pengambilan Citra
Gambar 3.2 Citra Obyek Gugus Bintang Terbuka M67 Sebagai Obyek
Tabel  3.1 Data Bintang Standar dari Bruce Gary, Hereford Arizona
+2

Referensi

Dokumen terkait