• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT

Makalah ini di susun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih mu’amalah

Dosen Pengampu Imam Mustofa, M.S.I.

Disusun oleh:

Eva Puspita Mailani 1502100176

Kelas C

S1 PERBANKAN SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) JURAI SIWO METRO

(2)

JUAL BELI KREDIT

A. Pengertian Jual beli Kredit

Kredit dalam bahasa latin “credere” artinya percaya. Kredit adalah cara pembayaran dengan mengangsur. Definisi kredit adalah sesuatu yang dibayar secara berangsur-angsur, baik itu jual beli maupun dalam pinjam meminjam. Jadi kredit yaitu memberikan benda, jasa, uang, sekarang dengan pembayaran atau jasa dikemudian hari.1Kredit juga dikenal istilah bai‟ bit taqshid atau bai‟ bitstsaman „ajil.2

Menurut Suharwadi K. Lubis dalam bukunya Hukum Ekonomi Islam,

“pembelian dengan cara kredit” adalah suatu pembelian yang dilakukan

terhadap sesuatu barang yang pembayaran harga barang tersebut dilakukan kedua belah pihak.3

Menurut Hasan Alwi dalam bukunya kamus Bahasa Indonesia Edisi II, mengatakan bahwa kredit adalah cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai.4

Hal ini termasuk dalam jual beli murabahaha yaitu pembiayaan saling menguntungkan. Dengan konteks ini, harga yang disepakati dalam jual beli kredit, bisa sama dengan harga pasar, lebih besar atau bahkan lebih rendah. Namun demikian, yang lebih lazim berlaku adalah harga jual lebih tinggi dari harga pasar yang sebenarnya. Cara jual ini tidak dilarang dalam

1

Kasmir, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya” (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 86 sebagaimana dikutip oleh

Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli Kredit Terhadap Pola

Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo Metro,2014), h.15 2

Hukum Kredit Dalam Pandangan Ekonomi Islam, Jual Beli Kredit, diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 dari http://yandera.blogspot.co.id/2015/12/makalah-jual-beli-kredit.html?m=1

3

Suhrawadi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam,(Jakarta: Sinar Grafika,2000) sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli

Kredit Terhadap Pola Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo Metro,2014), h.16

4

(3)

islam, karena dengan adanya sistem kredit dapat memudahkan seseorang untuk mendapatkan barang yang diinginkan karena tidak perlu adanya uang tunai untuk mendapatkannya. 5

Meskipun sistem ini adalah sistem klasik, namun terbukti hingga kini masih menjadi trik yang sangat jitu untuk menjaring pasar, bahkan sistem ini terus menerus dikembangkan dengan berbagai modifikasi. 6

Para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai jual beli kredit. Persoalan hukum yang diperselisihkan mengerucut pada kekhawatiran akan munculnya riba dalam jual beli kredit.7

Ulama dari empat mazhab, Syafi‟iyah, Hanafiyah, Malikiyah,

Hanbaliyah,Zaid bin ali dan mayoritas ulama juga membolehkan jual beli dengan sistem ini, baik harga yang menjadi objek transaksi sama dengan harga cash maupun lebih tinggi. Namun demikian mereka mensyarakatkan kejelasan akad, yaitu adanya kesepahaman antara penjual dan pembeli bahwa jual beli itu memang dengan sistem kredit. Dalam transaksi semacam ini biasanya si penjual menyebutkan dua harga, yaitu harga cash dan harga kredit. Si pembeli harus jelas hendak membeli cash atau kredit. Memang ada kemiripan antara riba dan tambahan harga dalam sistem jual beli kredit. Namun, adanya penambahan harga dalam jual beli kredit adalah sebagai ganti penundaan pembayaran barang. Ada perbedaan yang mendasar antara jual beli kredit dengan riba. Allah menghalalkan jual beli termasuk jual beli kredit karena adanya kebutuhan.8

5

Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli Kredit Terhadap Pola

Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo Metro,2014), h. 16 6

Tinjauan Syariat Terhadapad Jual Beli Kredit, diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 dari http://yandera.blogspot.co.id/2015/12/makalah-jual-beli-kredit.html?m=1 7

Ibnu Rusyd, Bidayatul Muflaihid, Darul Fikr, Beirut, T.Th., h. 94 sebagaimana dikutip oleh Nur Fatoni, “Kearifan Islam Atas Jual Beli Kredit (Studi Pada Tukang

Kredit Di Kec. Cepiring Kabupaten Kendal)” (Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2014), h. 5

8

(4)

B. Dasar Hukum Jual Beli Kredit

Transaksi jual beli merupakan aktifitas yang di bolehkan dalam islam, baik disebutkan dalam Al-Quran dan al-Hadist.9

1. Al-Quran

Merupakan kumpulan wahyu ilahi yang disampaikan kepada Nabi Muhamad SAW dengan perantara malaikat jibril untuk mengatur hidup dan kehidupan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.

2. Hadits

Adalah segala apa yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa segala perkataan yang telah diucapkan, perbuatan yang pernah dilakukan pada masa hidupnya ataupun segala hal yang dibiarkan berlaku.10

Jumhur ulama yang memperbolehkan jual beli kredit berhujjah dengan ayat, hadis dan kaidah fiqihiyah :

1. Firman allah dalam surat al-baqarah aya 275, yang berbunyi :

“Padahal allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Keumuman ayat ini menunjukkan dihalalkannya jual beli, baik dilakukan dengan dua harga cash dan kredit maupun jual beli hanya dengan harga cash.

2. Firman allah dalam surat al-Nisa ayat 29, yang berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan

9

Rachmad Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung: CV penerbit Diponegoro, 2008), h. 47 sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli

Kredit Terhadap Pola Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo Metro,2014), h.18

10

M. Arifin Hamid,Hukum Islam Persepektif Keindonesiaan. Op.cit. hlm. 141-142 sebagaimana dikutip oleh Andri Ridwansyah Bahar Putra, Disertasi Doktor:

“Transaksi Jual Beli Kendaraan Melalui Bank Syariah Dengan Menggunakan Akad

(5)

perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara

kamu.”

Menurut jumhur, diantara sistem pembayaran dalam jual beli adalah dengan sistem kredit. Jual beli dengan kredit merupakan bagian dari cara untuk mendapatkan keuntungan. Kredit merupakan bagian dari jual beli dan bukan bagian dari riba. 3. Firman allah dalam surat al-Baqarah ayat 282, yang berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu

menuliskannya”.

Membayar harga secara kredit diperbolehkan, asalkan tempo atau waktu ditentukan dan jumlah pembayaran telah ditentukan sesuai kesepakatan.

4. Hadist riwayat Aisyah ra, yang berbunyi :

“Dari Aisyah ra. Berkata “Burairah menebus dirinya dari majikan dengan membayar Sembilan awaq setiap tahun, dan ini

merupakan pembayaran secara kredit”.

Hal ini tidak diingkari oleh Nabi, bahkan beliau menyetujuinnya. Tidak ada perbedaan, apakah harga sama dengan harga kontan atau ditambah karena adanya tempo pembayaran.

5. Hadis riwayat Abdullah bin Amr :

“Dari Abdullah Ibnu bin Amr Ibnu al-Ash Radliyallaahu „anhuma

bahwa Rasulullah Shallaahu „alaihi wa Sallan menyuruhnya untuk

menyiapkan pasukan tentara, tetapi unta-unta telah habis. Lalu

beliau menyuruhnya agar mengutang dari unta zakat. Ia berkata:

aku mengutang seekor unta akan dibayar dengan dua ekor unta

zakat.”

(6)

6. Ulama yang memperbolehkan jual beli dengan sistem kredit juga berhujjah dengan kaidah :

“Pada dasarnya hukummu‟amalah adalah halal, kecuali ada dalil yang melarangnya”

Tidak ada dalil yang melarang jual beli dengan sistem kredit, berdasarkan kaidah diatas, maka berarti jual beli semacam ini halal. Hal ini dikembalikan ke hukum dasar mu‟amalah, yaitu halal. Transaksi semacam ini juga berbeda dengan riba nasi‟ah, karena jual beli kredit pertambahan harga sebagai ganti atas barang yang dijual dan tempo yang diberikan. Sementara dalam riba nasi‟ah pertambahan uang hanya sebagai ganti atau penundaan pembayaran utang.

7. Argumen lain yaitu dengan menggunakan mafhum muwafaqah , dari hadist :

“Dari Ibnu „abbas ra. Beliau berkata : ketika Nabi Shallahu „alaihi

wa sallam tiba dikota Madinah, sedangkan penduduk Madinah

telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun

dan tiga tahun, maka beliau bersabda, „Barangsiapa yang

memesan sesuatu maka hendaknya ia memesan dalam jumlah

takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) dan dalam

timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), serta

hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak)

pula.”

Logika yang dapat diambil dari hadis diatas yaitu dengan

mafhum muwafaqah. Hadis di atas menjadi dalil diperbolehkan

(7)

sebaliknya juga boleh, yaitu penyerahan barang terlebih dahulu, kemudian pembayaran harga dikemudian waktu, baik harga sama dengan harga cash maupun bertambah karena seiring dengan berjalannya waktu.

Terlebih jual beli kredit harus memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan ulama. Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut

1. Jual beli secara kredit jangan sampai mengarah keriba. 2. Penjual merupakan pemilik sempurna barang yang dijual.

Tidak diperbolehkan seseorang menjual barang yang bukan miliknya, atau barang masih dalam penguasaan pihak lain. Larangan

Ini berdasarkan hadis berikut ini :

“Dari Hakim bin Hizam, “beliau berkata kepada Rasulullah, ‟wahai Rasulullah, ada orang yang mendatangiku. Orang

tersebut ingin mengadakan transaksi jual beli, denganku,

barang yang belum aku miliki. Bolehkah aku membelikan

barang tertentu yang dia inginkan dipasar setelah

bertransaksi dengan orang tersebut?, kemudian, Nabi

bersabda, „janganlah engkau menjual barang yang belum kau miliki.”

Konsekuensi dari adanya syarat diatas, maka sebuah lembaga pembiayaan tidak diperbolehkan membuat kesepakatan jual beli secara kredit dengan konsumen, selama barang yang menjadi objek jual beli belum berada dibawah kepemilikkan lembaga tersebut. Hal ini sama saja menjual barang yang bukan hak miliknya.

3. Barang diserahkan kepada pembeli oleh sang penjual. 4. Hendaknya barang dan harga bukan jenis yang

(8)

5. Harga dalam jual beli kredit merupakan utang (tidak dibayar kontan).

6. Barang yang diperjual belikan secara kredit diserahkan secara langsung.

7. Waktu pembayaran jelas, sesuai dengan kesepakatan, berapa kali angsuran, berapa pembayaran tiap angsuran dan sampai kapan pembayaran berakhir harus jelas yang tidak boleh dingkari oleh suatu pihak.

8. Hendaknya pembayaran dilakukan secara angsur, tidak boleh dibayarkan secara langsung. Namun demikian, dalam kitab al- Muntaqa min fatawa al-fauzan diperbolehkan membayar sekaligus dalam jual beli kredit.11

9. Seseorang dilarang menjual barang yang tidak ada pada dirinya.12

C. Unsur-unsur Kredit

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut :

1. Kepercayaan

Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (berupa uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali di masa tertentu di masa datang. 2. Kesepakatan

11

Sulaiman binTurki, Bai‟ al-Taqsith wa Ahkamuhu‟ (Saudi Arabia: Dar Isbiliya) II/351 sebagaimana dikutip olehImam Mustofa,” Fiqih Mu‟amalah Kontemporer” (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 55-58

12

Kasmudi Assidiq dan Ardito Bhinadi, “Berbagai Transaksi Yang Diharamkan dan

Akad-akad Produk Lembaga Keuangan Syariah” (Gresik dan Yogyakarta, 2013), h.

(9)

Di samping unsur percaya di dalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit.

3. Jangka waktu

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.

4. Risiko

Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak tertagihan/macet pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. 13

Adanya unsur-unsur kredit yang diuraikan diatas sangat penting dalam melakun suatu transaksi kredit, karena unsur-unsur tersebut untuk meyakinkan antara si pemberi kredit dan penerima kredit, karena adanya rasa kepercayaan sehingga kreditur yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.

Di dalam jual beli kredit memiliki rukun dan syarat yang sama seperti pada jual beli biasanya, yaitu14

a. Akad

Yaitu ikatan kata antara penjual dan pembeli ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan sebab ijab qabul menunjukkan kerelaan

13

Kasmir, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya” (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 87

14

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT RajaGrafindo, Persada, 2005), h. 70 sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli

Kredit Terhadap Pola Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo

(10)

(keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan dan tulisan.

b. Orang-orang yang berakad

Adanya 2 pihak yaitu bai‟ (penjual) dan mustari (pembeli).

Ma „kud alaih (objek akad) / benda-benda yang diperjual belikan. Ma „kud alaih adalah barang-barang yang bermanfaat menurut pandangan syara‟15

c. Ada harga yang disepakati kedua belah pihak yang pembayarannya ditangguhkan.16

Kredit juga mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan daya guna uang

Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit.

2. untuk meningkatkan daya guna barang

kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.

3. Meningkatkan peredaran barang

Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke

15

Nizarudin, “Fiqih Mu‟amalah” (Yogyakarta: Idea Sejahtera, 2013), h. 91-92 16

Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah,(Yogyakarta: Pustaka

Pelajar,2010). H. 111 sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor:

(11)

wilayah lainnya sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.

4. Sebagai alat stabilitas ekonomi

Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. 17

D. Berakhirnya Akad Kredit

Suatu akad kredit akan berakhir apabila telah lunas cicilan kreditnya atau terjadi kecacatan dalam kredit tersebut. Seperti yang disebutkan oleh Mariawan Darus Badrulzaman, “apabila terjadi cavt pada kesepakatan maka perjanjian dapat dibatalkan (pasal 1321 KUHP Perdata)”.18 Kredit merupakan salah satu perjanjian jual beli yang ditangguhkan. Tentunya memiliki poin-poin kesepakatan yang harus dijalankan masing-masing pihak.19

17

Kasmir, “Bank dan Lembaga Keuangan…, h. 89-90

18

Muchadarsyah Sinungan, Manajemen Dana Bank, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), h. 211 sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh

Jual Beli Kredit Terhadap Pola Konsumtif Ibu Rumah Tangga” (Metro: Stain Jurai Siwo Metro,2014), h. 21

19

Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih…, H. 111 sebagaimana dikutip oleh Dita Septiyani, Disertasi Doctor: “Pengaruh Jual Beli Kredit Terhadap Pola Konsumtif Ibu

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Andri Ridwansyah Bahar Putra, Disertasi Doktor: “Transaksi Jual Beli Kendaraan

Melalui Bank Syariah Dengan Menggunakan Akad Murabahah” (Makassar: Fakultas

Hukum Universitas Hasanuddin Makassar, 2013)

Dita Septiyani, Disertasi Doctor: (2014) “Pengaruh Jual Beli Kredit Terhadap Pola

Konsumtif Ibu Rumah Tangga” Metro: Stain Jurai Siwo Metro

Hukum Kredit Dalam Pandangan Ekonomi Islam, Jual Beli Kredit, diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 dari http://yandera.blogspot.co.id/2015/12/makalah-jual-beli-kredit.html?m=1

Sopian Hadi, “Muqaramah Fi Al-Mu‟amalah (Jual Beli Kredit)” (Institut Agama Islam Negeri Mataram, Mataram,2015)

Tinjauan Syariat Terhadapad Jual Beli Kredit, diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 dari http://yandera.blogspot.co.id/2015/12/makalah-jual-beli-kredit.html?m=1

Kasmir, (2013)“Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”Jakarta: Rajawali Pers Nizarudin, “Fiqih Mu‟amalah” (Yogyakarta: Idea Sejahtera, 2013)

Kasmudi Assidiq dan Ardito Bhinadi, “Berbagai Transaksi Yang Diharamkan dan

Akad-akad Produk Lembaga Keuangan Syariah” (Gresik dan Yogyakarta, 2013)

Nur Fatoni, “Kearifan Islam Atas Jual Beli Kredit (Studi Pada Tukang Kredit Di Kec.

Cepiring Kabupaten Kendal)” (Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas tidur responden yang didominasi oleh kualitas tidur buruk pada penelitian ini sesuai dengan kondisi karakteristik responden yang didominasi oleh jenis kelamin

Contoh-contoh transportasi pakan dari silo ke kandang dengan bantuan sistem transportasi spiral, auger dan rantai transportasi.. Sistem FlexVey Sistem FlexVey gabungan untuk

 setiap individu tidak dapat hidup sendiri. perlu bantuan

Namun, belum ditemukan jenang yang berbahan dasar sayuran, maka, inovasi jenang sayuran bisa di jadikan alternatif untuk menarik minat anak-anak dan remaja

Terwujudnya konsep manusia utuh adalah merupakan target dari Pendidikan Umum, mengingat bidang ini adalah merupakan program pendidikan bagi semua orang (generasi muda)

Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam Sejarah Dan Peranannya Dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Terjemahan dari judul asli : Higher Learning in Islam :

Saat ini telah banyak kota-kota di dunia yang menerapkan konsep smart city, tetapi penerapan smart city di kota – kota Indonesia masih terbilang sedikit karena konsep

 Lengkapi laporan Lengkapi laporan asesmen asesmen dan dan proses proses sesuai sesuai dengan dengan kebijakan dan prosedur sistem asesmen dan persyaratan kebijakan dan