• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS DAERAH

Pada bab ini disajikan berbagai permasalahan pembangunan

daerah dan isu-isu strategis baik di tingkat regional, nasional,

maupun internasional yang memberikan pengaruh yang signifikan

terhadap kondisi kehidupan masyarakat dan pembangunan di

Kabupaten Tasikmalaya.

Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai di

masa mendatang dengan kondisi riil saat perencanaan dibuat.

Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul

dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal, kelemahan

yang tidak diatasi, peluang yang tidak dimanfaatkan, dan ancaman

yang tidak diantisipasi.

Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah

adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi

keberhasilan atau kegagalan kinerja pembangunan daerah di masa

lalu. Identifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap

lingkungan internal maupun eksternal dengan mempertimbangkan

masukan dari Perangkat Daerah dan pemangku kepentingan lainnya.

Identifikasi permasalahan pembangunan diuraikan dengan

pendekatan urusan wajib dan pilihan. Hal ini dimaksudkan agar

dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan

yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan

pemerintahan daerah guna menentukan isu-isu strategis

pembangunan jangka menengah daerah.

4.1. Permasalahan Pembangunan

Urusan Pendidikan

Permasalahan pendidikan mencakup:

1) Masih rendahnya rata-rata Lama Sekolah, sekitar 7,2 tahun

(2)

3) Belum tersedianya BOS, BSM, Beasiswa berprestasi,

beasiswa transisi yang didanai dari APBD Kab Tasikmalaya

4) Rendahnya mutu dan tata kelola pendidikan dasar yang

dicirikan dengan nilai akreditasi sekolah, rata-rata nilai UN

dan Ujian Kompetensi Guru.

Urusan Kesehatan

Permasalahan bidang kesehatan, antara lain:

1) Belum ditetapkannya SPM Bidang Kesehatan

2) Rendahnya ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan

dasar dan rujukan sesuai dengan standard akreditasi

nasional

3) Masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka

Kematian Ibu (AKI) serta Balita Kurang Gizi di masyarakat.

4) Masih tingginya angka kesakitan dan kematian akibat

penyakit menular dan penyakit tidak menular di masyarakat

5) Keterbatasan akses terhadap pelayanan rujukan (RS) bagi

masyarakat di wilayah Tasikmalaya selatan

6) Keterbatasan fasilitas kesehatan yang melayani rawat inap

dikarenakan jumlah tempat tidur yang kurang mencukupi

kebutuhan pelayanan masyarakat sekitar 1.400 TT

7) Keterbatasan tenaga kesehatan terutama Dokter Spesialis di

RSUD dan tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya

8) Rendahnya cakupan PHBS di tataran Rumah Tangga dan

Tempat-tempat Umum

9) Belum optimalnya pengelolaan limbah medis dan non medis

di puskesmas dan jaringannya

10)Belum optimalnya promosi kesehatan terutama masih

rendahnya cakupan desa siaga aktif

11)Belum tersedianya RSUD yang representatif setingkat tipe B.

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

1) Belum ditetapkannya SPM Bidang Pekerjaan Umum dan

(3)

2) Kondisi rusak berat jalan sepanjang 156,609 km (12

persen), kondisi rusak sedang sepanjang 293,145 km

(22,5%0 dan kondisi rusak ringan sepanjang 195,498 km

(15%).

3) Belum tuntasnya infrastruktur jalan Ciawi-Singaparna

4) Masih banyak jembatan yang rusak dan belum terbangun

5) Belum semua kawasan perkotaaan didukung dengan

Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang

(RDTR) dan peraturan zonasi sebagai alat pengendali

pemanfaatan ruang dan perijinan.

6) Belum terselesaikannya perwujudan ruang kawasan Ibu

Kota dan kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten

Tasikmalaya.

7) Belum terpenuhinya kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

seluas 30% (persen) dari luas wilayah kota di Kabupaten

Tasikmalaya.

8) Belum terbangunnya pasar dan terminal di jalan

Ciawi-Singaparna.

9) Belum optimalnya pengendalian dan pengawasan

pemanfaatan ruang

10) Belum adanya PPNS penataan ruang.

11) Masih rendahnya cakupan pelayanan air minum baik

perpipaan (4,6 persen) maupun non perpipaan.

12) Belum memadainya infrastruktur sumber daya air dan

irigasi dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat.

13) Belum tuntasnya pembangunan 11 (sebelas) kantor

pemerintahan.

Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

1) Belum ditetapkannya SPM bidang Perumahan Rakyat dan

Permukiman

2) Banyaknya permukiman di daerah rawan bencana

3) Masih banyaknya rumah tidak layak huni di perdesaan

(4)

4) Terbatasnya Prasarana, Sarana dan Utilitas perumahan dan

permukiman.

5) Lemahnya pengawasan dan pengendalian ketersediaan dan

penyerahan PSU perumahan dan permukiman.

Urusan Ketenteraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat

1) Makin menurunya perlindungan dan hak atas rasa aman

serta ketenteraman masyarakat.

2) menurunnya wawasan kebangsaan dan kesadaran bela

negara

3) Makin tinggi dan beragam tingkat kriminalitas di

masyarakat

4) Keterbatasan jumlah anggota satpol PP dan PPNS

5) Belum optimalnya pembinaan Satuan LINMAS

Urusan Bidang Sosial

1) Kecenderungan peningkatan jenis dan jumlah Penyandang

Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)

2) Penanganan PMKS masih rendah karena terbatasnya

sarana dan prasarana, sumberdaya manusia dan

keberpihakan anggaran pemerintah untuk penanganan

masalah-masalah sosial

3) Belum optimalnya pemberdayaan Tenaga Kesejahteraan

Sosial Kecamatan (TKSK).

4) Data PMKS dan penduduk miskin belum akurat dan aktual

5) Belum ada kebijakan pagu indikatif anggaran kemiskinan

dan pronangkis sesuai karakteristik kemiskinan daerah

Urusan Ketenagakerjaan

1) Terbatasnya kapasitas kelembagaan, sarana dan prasarana

pelatihan serta terbatasnya paket kegiatan bimbingan

usaha.

(5)

3) Tingginya pekerja rentan

Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

1) Masih rendahnya pemberdayaan kelembagaan

pengarusutamaan gender dan anak.

2) Belum ada data terpilah dan terpadu berbasis gender

3) Terbatasnya akses terhadap kesempatan usaha,

pendidikan, dan kesehatan bagi perempuan terutama

perempuan kepala keluarga (PEKKA).

4) Makin meningkatnya jumlah dan jenis kasus kekerasan

terhadap perempuan dan anak

Urusan Pangan

1) Harga pangan pokok strategis tidak stabil pada saat-saat

tertentu.

2) Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi

pangan yang beragam, bergizi, seimbang, aman dan halal.

3) Rendahnya cadangan pangan pemerintah daerah dan

masyarakat.

Urusan Pertanahan

1) Makin sulit dan mahalnya pengadaan tanah untuk

kepentingan umum.

2) Banyak tanah/lahan kosong terlantar tak termanfaatkan.

3) Banyak tanah pemerintah daerah dan Desa yang belum

tersertifikasi.

4) Masih rendahnya sertifikasi kepemilikan tanah warga.

Urusan Lingkungan Hidup

1. Degradasi sumber daya alam khususnya air dan lahan,

yang ditandai dengan deplesi sumber air (air permukaan

dan air bawah tanah, baik kuantitas maupun kualitasnya),

semakin meluasnya lahan kritis, penurunan produktifitas

lahan, semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama

karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun

(6)

2. Lemahnya fungsi pengendalian lingkungan

3. Masih rendanya tingkat kesadaran para pelaku usaha

dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup

4. Kurangnya sarana dan prasarana pengawasan lingkungan

5. Belum seimbangnya penyediaan prasarana dan sarana

pengolahan air limbah domestik/rumah tangga dengan

pertumbuhan penduduk;

6. Belum dimilikinya IPAL Komunal (system off site sanitation)

dan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT) di Kabupaten

Tasikmalaya, untuk dapat melayani wilayah pusat kota dan

kawasan perkotaan;

7. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan

persampahan

8. Belum terbangunnya TPA Nangkaleah

9. Belum adanya TPST di wilayah pusat kegiatan lokal (PKL

Singaparna, Karangnunggal, Ciawi, Manonjaya, Cikatomas

dan Taraju)

10. Belum adanya TPS di tiap kecamatan

Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil

1) Keterbatasan akses layanan dan tertib administrasi

pengelolaan kependudukan dokumen kependudukan dan

catatan sipil

2) Belum optimalnya pemanfaatan data kependudukan untuk

pembangunan daerah

3) Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya

data kependudukan dan catatan sipil

4) Terbatasnya sarana dan prasarana mobilitas layanan

kependudukan dan catatan sipil.

Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

1) Masih rendahnya sumber daya aparatur pemerintahan desa

dalam tata kelola pemerintahan dan keuangan desa.

2) Terbatasnya tingkat kesejahteraan aparatur pemerintahan

(7)

3) Belum optimalnya peran lembaga desa dan lembaga

masyarakat desa.

4) Lemahnya lembaga ekonomi Desa.

5) Menurunnya nilai-nilai gotong royong masyarakat dalam

pembangunan desa.

6) Belum dikembangkannya sistem informasi desa.

7) Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemerintahan

dan pembangunan desa.

Urusan Kependudukan dan Keluarga Berencana

1) Keterbatasan ketersediaan alat kontrasepsi gratis bagi

masyarakat miskin.

2) Keterbatasan tenaga penyuluh program KB.

3) Rendahnya usia perkawinan pertama.

4) Lemahnya institusi KB.

5) Terbatanya pembinaan ketahanan keluarga.

Urusan Perhubungan

1) Masih banyak daerah yang belum terlayani trayek angkutan

umum.

2) Belum terlaksananya pembangunan terminal baru tipe B.

3) Belum optimalnya pengelolaan sub terminal.

4) Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana lalu-lintas

dan angkutan jalan.

5) Belum adanya trayek menuju lokasi-lokasi strategis seperti

ke pusat pemerintahan.

Urusan Komunikasi dan Informatika

1) Terbatasnya cakupan layanan untuk infrastruktur

telekomunikasi kabel.

2) Terbatasnya akses dan kemampuan masyarakat menikmati

layanan telekomunikasi nirkabel.

3) Belum terintegrasinya layanan pemerintah berbasis

(8)

4) Belum tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung

pelaksanaan E Government.

Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah

1) Masih rendahnya kualitas/pengelolaan manajemen

Koperasi dan UKM.

2) Terbatasnya akses terhadap potensi pasar dan sumber

produktif lainya.

3) Masih terbatasnya akses permodalan.

4) Masih kurangnya inovasi dan penerapan TTG yang

berdampak pada kemampuan daya saing produk.

5) Kurangnya Diversifikasi dan tingkat kreatifitas desain

produk.

6) Belum terbangunnya rumah kemasan.

Urusan Penanaman Modal

1) Rendahnya investasi di daerah.

2) Belum semua kewenangan perizinan diselenggarakan

secara terpadu.

3) Kajian potensi dan peluang investasi yang dapat ditawarkan

kepada investor masih terbatas.

4) Kurangnya daya dukung regulasi dan kebijakan investasi.

5) Lemahnya data dan informasi penanaman modal.

6) Rendahnya promosi investasi penanaman modal.

Urusan Kepemudaan dan Olahraga

1) Pembinaan olah raga yang belum terpadu antara olahraga

pendidikan di lingkungan persekolahan, olahraga rekreasi

di lingkungan masyarakat, dan olah raga prestasi untuk

kelompok atlit.

2) Terbatasnya sarana dan prasarana olahraga.

3) Tingginya tingkat pengangguran pemuda dengan

keterampilan rendah.

(9)

Urusan Statistik

1) Belum tingginya kesadaran pentingnya data statistic.

2) Rendahnya ketersediaan statistik sektoral yang dimiliki

pemerintah daerah.

3) Terbatasnya SDM yang mengerti tentang statistic.

Urusan Persandian

1) Belum dilaksanakannya penyelenggaraan urusan

persandian.

2) Belum dimilikinya pola persandian antar perangkat daerah.

Urusan Kebudayaan

1) Rendahnya ketahanan budaya masyarakat akibat imbas

perubahan global

2) Belum optimalnya proses regenerasi dalam rangka

pewarisan budaya daerah

3) Belum termanfaatkannya produk budaya sebagai potensi

industri kreatif

Urusan Perpustakaan

1) Kurangnya minat dan budaya baca masyarakat

2) Keterbatasan sarana dan prasarana perpustakaan/tidak

ada perpustakaan yang representatif.

3) Terbatasnya tenaga pengelola perpustakaan (Pustakawan)

Urusan Kearsipan

1) Keterbatasan sarana dan prasarana kearsipan.

2) Terbatasnya tenaga pengelola kearsipan (arsiparis).

3) Rendahnya keasadaran pentingnya kearsipan.

Urusan Kelautan dan Perikanan

1) Belum selesaianya penyediaan sarana dan prasarana

perikanan tangkap (Pangkalan Pendaratan Ikan/PPI).

2) Degradasi kualitas lingkungan pesisir yang mengakibatkan

(10)

3) Berkurangnya kualitas, kuantitas, dan debit air di sentra

perikanan air tawar.

4) Masih rendahnya produktivitas perikanan budidaya air

tawar, payau dan laut.

5) Rendahnya kualitas induk ikan yang digunakan

masyarakat pembenih ikan.

6) Masih kurangnya sarana dan prasarana pembenihan ikan.

Urusan Pariwisata

1) Tidak memadai dan kurang penataan terhadap objek wisata

yang ada.

2) Aksesibilitas, Fasilitas, Sarana dan Prasarana serta atraksi

wisata yang belum optimal.

3) Lemahnay kapasitas kelembagaan kepariwisataan.

4) Belum terjalinya kerjasama pengelolaan potensi pariwisata.

5) Belum optimalnya startegi pemasaran pariwisata.

6) Masih terbatasnya Sumber Daya Manusia di Bidang

Pariwisata.

Urusan Pertanian

1) Keterbatasan Kepemilikan Lahan dengan rata-rata <0,25

Ha.

2) Tingginya laju alih fungsi lahan pertanian menjadi non

pertanian terutama untuk sawah produktif yang beririgasi

teknis.

3) Sektor pertanian bukan lagi pilihan utama sebagai sumber

mata pencaharian.

4) Penurunan kesuburan tanah akibat praktek pertanian

intensif bertahun-tahun.

5) Menurunnya kualitas infrastruktur pertanian terutama

jaringan irigasi tersier.

6) Penerapan teknologi tepat guna masih terbatas.

7) Masih terbatasnya sarana dan prasarana panen dan pasca

(11)

8) Rendahnya kualitas dan nilai tambah produk yang

dihasilkan.

9) Kelembagaan kelompok tani belum mandiri.

10) Berkurangnya sumber daya manusia pertanian.

11) Masih kurangnya/lemahnya penelitian-penelitian yang

berorientasi pada produk-produk unggulan

pertanian/inovasi produk pertanian.

12) Sistem agribisnis dari sub sistem pemasaran masih lemah

dan infrastruktur penunjang belum ada (terminal

agribisnis).

13) Masih lemahnya aspek permodalan (aspek sub sistem

penyediaan jasa agribisnis masih lemah).

14) Masih rendahnya tingkat produktivitas dan nilai tambah

komoditas perkebunan.

15) Kondisi rumah potong hewan, Pasar Hewan, Unit Perbibitan

Ternak masih jauh dari memadai.

16) Terbatasnya akses peternak terhadap permodalan.

17) Terbatasnya hijauan makanan ternak.

Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral

1) Belum adanya masterplan ataupun grand design arah

pengelolaan kegiatan usaha pertambangan.

2) Pengelolaan kegiatan pertambangan masih berorientasi

terhadap penjualan raw material, sehingga tidak dapat

memberikan nilai tambah.

3) Orientasi pelaku usaha pertambangan hanya pada

penambangan bahan galian saja, tanpa memperhatikan

aspek pengelolaan lingkungan dan reklamasi lahan bekas

tambang.

4) Masih terbatasnya penyediaan sumber-sumber energi

alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) mikro

(12)

Urusan Perdagangan

1) Belum tersedianya sarana dan prasarana kemetrologian.

2) Tidak memadainya pasar rakyat.

3) Belum optimalnya pemanfaatan sistem resi gudang (SRG).

4) Masih kurangnya kualitas produk unggulan yang berdaya

saing.

5) Masih kurangnya fasilitas pemerintah daerah dalam

perdagangan ekspor.

6) Belum ada penataan dan pemberdayaan PKL.

Urusan Industri

1) Masih Rendahnya struktur industri dan pemberdayaan IKM

untuk dapat mendorong sektor ekonomi daerah.

2) Belum optimalnya kemampuan desain dan pengemasan

produk.

3) Kurangnya sarana dan prasarana bagi sentra-sentra

industry.

4) Belum memadainya peralatan produksi dan keterbatasan

bahan baku.

5) Akses teknologi terbatas.

Urusan Perencanaan Pembangunan Daerah

1) Inkonsistensi perencanaan dan penganggaran.

2) Lemahnya data dan informasi pembangunan.

3) Perencanaan pembangunan belum terintegrasi berbasis

teknologi informasi.

4) Masih rendahnya kapasitas dan partisipasi masyarakat

dalam perencanaan pembangunan.

Urusan Penelitian dan Pengembangan

1) Pemanfaatan Iptek dan TI di masyarakat masih kurang.

2) Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil penelitian sebagai

dasar perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan

(13)

Urusan Keuangan Daerah

1) PAD rendah sehingga ketergantungan terhadap dana

transfer masih tinggi.

2) Masih adanya aset yang belum tersertifikasi.

3) Sebagian aset belum dimanfaatkan dengan optimal sebagai

sumber pendapatan.

4) Belum proporsionalnya belanja langsung dan belanja tidak

langsung dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

5) Terbatasnya pemutakhiran penilaian objek pajak secara

massal.

Urusan Aparatur dan Pelayanan Publik

1) Sistem manajemen kepegawaian belum mampu mendorong

peningkatan profesionalitme ASN.

2) Masih rendahnya sarana dan prasarana pemerintahan.

3) Penempatan pegawai belum sesuai dengan kompetensi

pegawai dan proporsional.

4) Reformasi birokrasi tidak berjalan.

5) Belum memiliki sarana dan prasarana pengembangan

aparatur.

6) Cakupan peserta Diklat masih kecil, 5% dari total pegawai

per tahun.

7) Kekurangan pegawai untuk formasi tertentu urusan

layanan dasar.

Urusan Kebencanaan

1) Masih sedikit desa tangguh bencana.

2) Belum terwujudnya keterpaduan antar instansi pemerintah

maupun dengan lembaga lainnya, dalam menindaklanjuti

penanggulangan bencana, baik pada tahapan pra-bencana,

tanggap darurat dan pasca bencana.

3) Belum optimalnya keterlibatan masyarakat, dunia usaha

dan instansi pemerintah lainnya dalam penanggulangan

(14)

4) Belum dimilikinya secara keseluruhan dokumen rencana

kontingensi untuk semua jenis bencana yang ada di

wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

5) Keterbatasan sarana prasarana penanggulangan bencana

6) Keterbatasan sarana dan prasarana serta personil

kebakaran.

Urusan Keagamaan

1) Belum optimalnya peran lembaga-lembaga keagamaan

dalam kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat.

2) Belum optimalnya pengumpulan, pengelolaan dan

penyaluran zakat profesi.

3) Kecenderungan menurunnya pendidikan keagamaan

terutama di lingkungan keluarga.

4) Belum optimalnya upaya peningkatan kesejahteraan bagi

guru madrasah diniyah.

Urusan Politik

1) Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap

lembaga-lembaga politik.

2) Kecenderungan penurunan partisipasi masyarakat dalam

pemilihan umum.

3) Partisipasi masyarakat dalam penyusunan dan

pengambilan kebijakan publik masih rendah.

4) Belum optimalnya proses pendidikan politik kepada

masyarakat.

5) Keberpihakan anggaran pendidikan politik masih rendah.

6) Proses politik makin mahal.

7) Maraknya politik uang.

8) Kurang berjalannya fungsi representasi lembaga perwakilan

(15)

Urusan Hukum

1) Belum adanya grand design tentang pembuatan program

legislasi daerah.

2) Belum ada integrasi antara kebijakan dan regulasi/regulasi

kurang mendukung kebijakan.

3) Kurang dan rendahnya kapasitas dan kompetensi

sumberdaya manusia di bidang hukum.

4) Masih rendahnya budaya hukum masyarakat

5) Rendahnya produk hukum daerah.

4.2. Isu Strategis

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun

2017, isu strategis adalah kondisi/hal yang harus diperhatikan atau

dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena

dampaknya signifikan bagi daerah. Kondisi/kejadian yang menjadi

isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi akan

menimbulkan kerugian lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak

dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Karakteristik isu

strategis adalah kondisi/hal bersifat penting, mendasar, berjangka

panjang, mendesak, bersifat kelembagaan/keorganisasian dan

menentukan tujuan di masa yang akan datang. Mengingat

permasalahan pembangunan sangat banyak seperti disebutkan di

atas, untuk menentukan permasalahan yang akan dijadikan bahan

isu strategis perlu terlebih dahulu diidentifikasi isu global, nasional,

regional, dan lokal sesuai dinamika yang berkembang saat ini.

Adapun isu strategis yang terpilih secara berturut-turut adalah

sebagai berikut:

1. Penanggulangan kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah utama yang harus dipecahkan.

Penanggulangan kemiskanan secara sinergis dan sistematis harus

dilakukan agar setiap warga negara mampu menikmati kehidupan

yang bermartabat. Oleh karena itu sinergi berbagai pemangku

(16)

Pemerintah sebagai pelaksana kedaulatan rakyat memiliki

tanggungjawab dalam mensejahterakan masyarakat hal ini

merupakan konsekwensi dari prinsip negara kesejahteraan ( walfare

state) sebagaimana ditegaskan dalam alinea ke IV Pembukaan

Undang Undang Dasar Tahun 1945, salah satu implementasinya

adalah tanggung jawab pemerintah dalam penanggulangan

kemisikan sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 166 Tahun

2014 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan pada pasal 6

pendanaan bagi pelaksanaan program percepatan penananggulangan

kemiskinan bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara

(APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan sumber

pendanaan lain yang tidak mengikat sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

Di Kabupaten Tasikmalaya dengan kondisi geografis yang

menyebar di 39 Kecamatan dan 351 Desa serta gambaran jumlah

penduduk miskin di Kabupaten Tasikmalaya pada Tahun 2011

sebanyak 211.600 orang, kemudian turun menjadi 201.500 orang

pada Tahun 2012, selanjutnya di Tahun 2013 turun kembali menjadi

199.300 orang, di Tahun 2014 menurun menjadi 194.800 orang dan

di akhir Tahun 2015 naik kembali menjadi 208.120 orang, kemudian

pada Tahun 2016 turun menjadi 195.610 orang dan di akhir Tahun

2017 turun kembali menjadi 189.350 orang.

Kemudian jika dilihat proporsi (%) jumlah penduduk miskin

terhadap total jumlah penduduk di Kabupaten Tasikmalaya selama 5

(lima) tahun terakhir tren-nya menurun yaitu di Tahun 2011

proporsinya sebesar 12,49 %, di Tahun 2012 sebesar 12,36 %,

kemudian di Tahun 2013 menjadi 11,6 %, di Tahun 2014 sebesar

11,57 % dan di akhir Tahun 2015 naik menjadi 11,99 %, kemudian

di Tahun 2016 turun menjadi 11,24 % dan pada akhir Tahun 2017

turun ke angka 10,84 %, sehingga dapat dilihat bahwa persentase

penduduk miskin di Kabupaten Tasikmalaya masih jauh dari target

yang telah ditetapkan SDGs.

Nilai capaian tingkat kemiskinan yang belum mampu mencapai

(17)

Kabupaten Tasikmalaya menunjukan bahwa permasalahan masih

menjadi pekerjaan yang harus segera ditangani secara serius. Upaya

penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara sinergis antara

pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Sedangkan dalam RPJMD Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2016 –

2021 masalah kemiskinan tercantum dalam Program Pembangunan

Kabupaten Tasikmalaya 2016-2021 pada Misi Pertama, yaitu

mewujudkan masyarakat yang beriman, bertaqwa,

berakhlaqulkarimah dan berkualitas. Dengan Isu Strategi yang

pertama yaitu penanggulangan kemiskinan. Kemudian pencapaian

misi tersebut salah satunya diukur melalui penurunan target angka

kemiskinan dari 11,99% pada tahun 2016 menjadi 9,44% pada tahun

2021.

Kondisi umum daerah yang relevan dengan kemiskinan, baik

sisi geografis, demografis, ekonomi, dan Indeks Pembangunan

Manusia (IPM). Sesuai paradigma pembangunan pembangunan

manusia, maka pencapaian tujuan pembangunan diantaranya

direpresentaikan dengan indikator pembangunan manusia. Aspek

penting dalam pembangunan yang meliputi aspek kesejahteraan

masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah

pada dasarnya diarahkan untuk dapat meningkatkan pembangunan

manusia itu sendiri. Berdasarkan Pengelolaan Basis Data Terpadu

(PBDT) yang dikelola TNP2K, Rumah Tangga miskin yang ada di

Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 702.546 penduduk miskin, yang

terbagi dalam 4 (desil) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.5.

berikut ini.

Gambar 4.1

Penduduk Miskin versi Basis Data Terpadu TNP2K Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2015

(18)

Dari jumlah tersebut di atas, terbagi dalam 39 kecamatan

sebagaimana dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk dengan Kesejahteraan 40 % Terendah di Kabupaten Tasikmalaya

Karangnunggal 11,941 10,325 3,256 355

Leuwisari 4,339 5,067 2,852 403

(19)

Penyebab Permasalahan Kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya

Dalam permasalahan sosial tidak disebabkan oleh satu faktor

tunggal. Begitu pun dengan kemiskinan. Selalu ada keterhubungan,

interdependesi. Penyebab permasalahan kemiskinan berdasarkan

pada empat aspek: geografis; beban kependudukan, aspek

pemenuhan hak dasar dan aspek ketidakadilan dan ketidaksetaraan

gender.

I. Faktor Geografis

1) Kondisi daerah yang rawan bencana merupakan penyebab

terbesar/ancaman terhadap kemiskinan.

2) Biaya ekonomi mahal (biaya produksi, transportasi,

pemasaran, dll).

3) Akses terhadap sumber-sumber ekonomi menjadi sulit dan

mahal.

4) Akses terhadap layanan publik sulit dan mahal.

II. Faktor Beban Kependudukan

1) Rumah tangga miskin memiliki beban keluarga lebih besar,

sebab memiliki rata-rata anggota keluarga 4-5 orang.

2) Pasangan usia subur yang tinggi (di atas 400 ribu) namun

kurang memiliki pengetahuan yang cukup tentang masalah

KB.

3) Keterbatasan terhadap akses kesehatan reproduksi dan

fasilitas kesehatan lainnya.

4) Ketersebaran dan Kepadatan penduduk di beberapa

kecamatan tertentu.

5) Migrasi penduduk dari perdesaan ke kota termasuk ke luar

daerah karena faktor ekonomi.

III. Aspek Pemenuhan Hak Dasar

1) Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan.

2) Terbatasnya kecukupan dan kelayakan mutu pangan

berkaitan dengan daya beli yang rendah, ketersediaan

pangan yang tidak merata ketergantungan yang tinggi

(20)

3) Dari sisi suply, petani penghasil pangan kurang dukungan

produksi pangan, tata niaga yang tidak efisien dan

rendahnya penerimaan usaha tani pangan.

4) Terbatasnya Akses dan Rendahya Mutu Layanan Kesehatan

5) Masyarakat miskin menghadapi masalah keterbatasan akses

layanan kesehatan dan rendahnya status kesehatan yang

berdampak pada rendahnya daya tahan mereka untuk

bekerja dan mencari nafkah, terbatasnya kemampuan anak

untuk tumbuh dan berkembang dan rendahnya derajat

kesehatan ibu.

6) Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar,

rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya

pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, rendahnya

pendapatan, mahalnya jasa layanan kesehatan, mahalnya

ongkos/biaya mengakses akibat keterbatasan jumlah dan

jarak geografis.

7) Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan

Pendidikan

8) Disebabkan tingginya biaya pendidikan; terbatasnya jumlah

dan mutu sarana dan prasarana pendidikan; terbatasnya

jumlah dan mutu guru di daerah pelosok, terbatasnya

jumlah, sebaran dan mutu program kesetaraan melalui

pendidikan non formal.

9) Terbatasnya kesempatan kerja dan Berusaha

10)Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi

keterbatasan kesempatan kerja dan berusaha, terbatasnya

peluang untuk mengembangkan usaha, lemahnya

perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah

serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja

anak dan perempuan.

11)Terbatasnya Akses terhadap Air Bersih dan Sanitasi

12)Jangkauan layanan PDAM masih sangat terbatas;

menurunnya jumlah dan mutu sumber air, serta kurang

(21)

13)Lemahnya Kepastian Kepemilikan dan Penguasaan Tanah

14)Struktur kepemilikan dan penguasaan tanah serta

ketidakpastian dalam penguasaan dan kepemilikan lahan

pertanian. Rata-rata kepemilikan tanah oleh warga,

khususnya petani adalah kurang dari 0,25 ha/keluarga.

Tanpa dilindungi dengan dokumen pertanahan yang kuat

secara yuridis dan tak dapat dijadikan jaminan ke bank.

2. Penataan kawasan Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya

Pengertian Tata Ruang menurut Undang Undang Republik

Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 2 adalah wujud

struktur ruang dan pola ruang. Sedangkan pengertian kota, ditinjau

dari segi geografis menurut Bintarto (1989), kota dapat diartikan

suatu sistem jaringan kehidupan manusia, ditandai dengan

kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial

ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. Atau dapat

pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh

unsur-unsur alam dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan

penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat

heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah di

bawahnya.

Dalam Pasal 1 sub 10 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang dinyatakan bahwa kawasan perkotaan

adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian

dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman

perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,

pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah mencanangkan bahwa

pembangunan dilaksanakan secara terencana, komprehenshif,

terpadu, terarah, bertahap, dan berkelanjutan dengan

mengembangkan tata ruang dalam suatu tata lingkungan yang

dinamis serta tetap memelihara kelestarian lingkungan hidup.

(22)

berlandaskan keseimbangan antara berbagai kepentingan, yaitu

keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

Kota Singaparna yang merupakan Ibu Kota Kabupaten

Tasikmalaya sebagai pusat perekonomian wilayah memiliki peran

yang sangat besar bagi pembangunan, dimana konstribusinya

terhadap pemenuhan kebutuhan hidup warganya melahirkan

berbagai permasalahan. Jumlah penduduk yang terus bertambah

dan dikaitkan dengan implikasinya pada ruang kota, bagi para pakar

dan pemerhati lingkungan sangatlah menakutkan. Apalagi ada

banyak kejadian terutama di negara berkembang, kota-kota tersebut

berkembang tanpa pengendalian. Jumlah penduduk terus

bertambah, ruang kota semakin padat dan berkualitas rendah, lalu

lintas semrawut, penghijauan sangat kurang, terjadi banjir dan

sebagainya.

Selain akan terjadi kepadatan dan ketidak teraturan bangunan,

akan berdampak buruk juga pada sisi lainnya, antara lain, (1)

kepadatan bangunan dengan tata letak yang tidak teratur, (2) tidak

adanya ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan hujan dan

pengurang polusi udara, (3) akses jalan yang sulit dilewati oleh

kendaraan besar (mobil) pada pemukiman padat penduduk, (4)

kecilnya jalan akses menuju daerah tertentu karena banyak

dijadikan pemukiman, (5) akses untuk mendapatkan air bersih dan

air minum sulit didapat, (6) tidak adanya drainase yang baik dapat

menyebabkan banjir pada saat musim penghujan, (7) kepadatan

penduduk membuat banyak sampah rumah tangga menumpuk, (8)

banyak penyakit yang timbul karena lingkungan yang tidak bersih,

(9) buruknya instalasi kelistrikan di daerah tersebut, (10) banyaknya

kejadian kebakaran yang terjadi di permukiman padat karena

hubungan arus pendek listrik, (11) banyaknya sungai atau drainase

yang tercemar oleh limbah rumah tangga.

Uraian di atas dapat dipahami bahwa akan banyak dampak

buruk yang ditimbulkan akibat tidak adanya perencanaan penataan

dalam sebuah wilayah permukiman, terlebih lagi pada permukiman

(23)

adanya intervensi dari pemerintah untuk melakukan pengawasan

dalam setiap pembangunan di wilayahnya. Meskipun pada umumnya

kota telah dilengkapi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),

bahkan dengan perencanaan yang lebih detail dalam bentuk Rencana

Detail Tata Ruang Kota (RDTR) serta perencanaannya yang

kedalamannya sudah sampai pada Rencana Tata Bangunan dan

Lingkungan (RTBL) dan Zoning Regulation.

3. Aksesibilitas dan mutu pelayanan dasar

Pelayanan publik merupakan bentuk pelayanan yang diberikan

oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya harus

mendistribusikan pelayanan tersebut secara adil dalam upaya

pemenuhan kebutuhan kepada semua lapisan masyarakat tanpa

terkecuali, hakekatnya pelayanan publik adalah pemberian

pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan

aparatur Negara sebagai pengabdi masyarakat.

Tuntutan kinerja terbaik oleh pemerintah daerah kini semakin

marak menyusul diberlakukannya UndangUndang No.23 Tahun

2014. Undang-Undang tersebut menekankan pada pemberian

kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan

pemerintahan menurut otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian

otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat

terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan

pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

Disamping itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu

meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi,

pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi

dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan

Republik Indonesia. Pemberian kewenangan didalam Undang-undang

tersebut memiliki implikasi yang besar terhadap akuntabilitas publik,

yaitu bahwa aparat dan lembaga pelayanan publik didaerah harus

dapat dipertanggungjawabkan apa yang mereka berikan atau mereka

lakukan untuk kepentingan masyarakat. Dalam konteks ini

pelayanan publik diberi makna yang sangat luas, artinya tidak hanya

(24)

menyangkut semua kegiatan yang dilakukan pemerintah baik

langsung maupun tidak langsung.

Peranan pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berupaya

melaksanakan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2018

tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sebagaimana ketentuan

dalam Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah

Dalam Peraturan ini disebutkan bahwa Standar Pelayanan

Minimal atau disingkat dengan SPM merupakan ketentuan mengenai

Jenis dan Mutu Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan

Pemerintahan Wajib yang berhak diperoleh setiap Warga Negara

secara minimal. Pelayanan dasar dimaksud adalah pelayanan publik

untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara.

Pelayanan dasar dalam Standar Pelayanan Minimal merupakan

urusan pemerintahan wajib yang diselenggarakan Pemerintah daerah

baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Daerah. Urusan

Pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar yang

selanjutnya menjadi jenis SPM terdiri atas :

1) Pendidikan

2) Kesehatan

3) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

4) Perumahan Rakyat dan Kawasan permukiman

5) Ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan

masyarkat, dan

6) Sosial

4. Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan menurut Undang-undang Nomor : 18

Tahun 2012 tentang Pangan didefinisikan sebagai kondisi

terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang

tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun

mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta

tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya

(25)

berkelanjutan. Berdasarakan definisi ini, Ketahanan Pangan

ditentukan minimal oleh 2 (dua) aspek yaitu aspek ketersediaan dan

aspek keterjangkauan atau akses, disamping aspek lainnya yaitu

aspek keamanan pangan.

Dalam aspek ketersediaan pangan, pangan bias dihasilkan dari

produksi dalam negeri dan cadangan pangan nasional serta impor

apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan.

Sebagaimana amanat UU Pangan, tiap tingkatan pemerintahan

berkewajiban menyediakan cadangan pangan pemerintah yang yang

terdiri dari cadangan pangan pemerintah pusat, cadangan pangan

pemerintah provinsi, cadangan pemerintahan daerah kabupaten/kota

dan cadangan pemerintah desa. Di samping itu dianjurkan pula

adanya cadangan pangan masyarakat berupa lumbung-lumbung

pangan. Aspek keterjangkauan atau akses juga sama pentingnya

dengan aspek ketersediaan karena berhubungan dengan kemampuan

rumah tangga atau perseorangan untuk memperolah pangan cukup,

baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata.

Beberapa kelompok masyarakat yang dikategorikan miskin dan

sangat miskin (20% dari jumlah penduduk) tidak bias mengakses

pangan sehingga dibantu dengan program pemerintah yaitu Beras

Sejahtera.

Isu Ketahanan Pangan telah menjadi isu dunia di samping isu

Ketahanan Energi karena dapat membuat suatu pemerintahan tidak

stabil dan keadaan menjadi chaos. Beberapa negara yang dilanda

kelaparan dan kelangkaan pangan menjadikan negara tersebut tidak

stabil secara politik. Dan sebaliknya ketidakstabilan politik dapat

mengakibatkan kelangkaan pangan dan kelaparan. Dalam konteks

nasional, isu ketahanan pangan selalu dikendalikan sejak

Pemerintah Orde Baru karena dianggap sebagai salah satu sumber

instabilitas. Pemerintah Orde Baru membentuk lembaga Badan

Urusan Logistik (BULOG) yang bertanggung jawab untuk menjaga

ketersediaan dan kestabilan harga pangan terutama pangan pokok

yaitu beras. Pemerintah menerapkan kebijakan beras murah yang

(26)

terjangkau. Pada masa reformasi, meski peran BULOG tidak lagi

dominan tapi pemerintah menerapkan strategi impor beras di saat

harga beras naik dan tidak terjangkau oleh masyarakat kecil.

Pemerintah juga mensubsidi harga beras untuk kelompok

masyarakat miskin dalam bentuk Beras untuk Keluarga Miskin

(RASKIN). Karena berbagai permasalahan di lapangan, saat ini

program ini beralih nama menjadi Beras Sejahtera (RASTRA) dan

akan terus bertransformasi menjadi Bantuan Pangan Non Tunai.

Dalam konteks daerah atau Kabupaten Tasikmalaya, isu

ketahanan pangan menjadi sangat penting karena hal-hal sebagai

berikut

a.Bertambahnya Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya menurut BPS

Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2017 yaitu sebanyak 1.747.318

jiwa. Sedangkan jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya pada

Tahun 2012 berjumlah 1.716.178 jiwa. Berarti selama 5 (lima) tahun

penduduk Kabupaten Tasikmalaya bertambah sejumlah 31.140 jiwa

atau 1,81%. Apabila memakai patokan kebutuhan beras per kapita

berdasarkan Survei Sosial Ekonomi BPS Tahun 2015 yaitu 98

kg/orang/tahun maka kebutuhan beras Kabupaten Tasikmalaya per

tahun yaitu 1.747.318 orang x 98 kg/orang = 171.237 Ton. Apabila

diasumsikan bahwa rendemen beras dari gabah yaitu 65%, maka

gabah kering giling yang harus dihasilkan untuk kebutuhan per

tahun yaitu 171.237 ton x 1/0,65 = 263.441 Ton.

b. Berkurangnya Areal Sawah melalui Alih Fungsi Lahan Pertanian

Setiap tahun lahan sawah di Kabupaten Tasikmalaya beralih

fungsi dari fungsi pertanian ke fungsi non pertanian seperti

pemukiman/perumahan, industri, perdagangan dan jasa serta fungsi

non-pertanian lainnya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 41

Tahun 1999 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan

(LP2B), setiap Kabupaten/Kota diwajibkan untuk mengalokasikan

lahan pertanian pangan berkelanjutan untuk dijadikan sawah abadi.

(27)

Kementan, 2015), yang diusulkan untuk dijadikan lahan pertanian

pangan berkelanjutan hanya sekitar 19.000 Ha. Lahan pertanian

pangan berkelanjutan ini selanjutnya akan dijadikan Kawasan

Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam RTRW Kabupaten

Tasikmalaya.

c. Tidak Menentunya Iklim

Kabupaten Tasikmalaya sebagaimana daerah lain di Indonesia

mengalami ketidakpastian iklim yang berakibat pada tidak

menentunya musim hujan dan musim kemarau. Hal ini

mengakibatkan adanya beberapa kawasan sawah yang mengalami

gagal panen atau fuso karena kekurangan air. Kegagalan panen ini

berimbas pada penurunan produksi padi yang tidak sesuai target

yang telah ditetapkan.

d. Banyaknya Penduduk Miskin

Berdasarakan data terakhir 2017, jumlah rumah tangga miskin

di Kabupaten Tasikmalaya berjumlah 211.807 RTM atau 702.227

jiwa (10,84%). Banyak rumah tangga miskin atau penduduk miskin

berarti banyaknya penduduk yang tidak mempunyai akses terhadap

pangan atau ketahanan pangannya rendah. Hal ini menjadi

kewajiban pemerintah untuk memastikan bahwa rumah tangga

miskin atau penduduk miskin terjamin kebutuhan pangannya

minimal kebutuhan pangan pokok yaitu beras.

e. Pola Konsumsi Pangan yang Kurang Sehat

Pola konsumsi pangan yang sehat dapat dilihat dari Pola Pangan

Harapan. Pola pangan harapan mencerminkan susunan konsumsi

pangan anjuran untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Dengan

pendekatan PPH dapat dinilai mutu pangan berdasarkan skor

pangan dari 9 bahan pangan. Konsumsi pangan dipengaruhi oleh

ketersediaan pangan, yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh

tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang mencukupi

dari pada tingkat regional dan lokal ditunjukkan oleh tingkat

(28)

waktu, dalam jumlah yang cukup dan hanya terjangkau sangat

menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga.

Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh

pada komposisi komsumsi pangan. Skor pola pangan harapan

Kabupaten Tasikmalaya 2017 yaitu 66,78, sedangkan skor pola

pangan harapan yang ideal yaitu 80 poin. Dari nilai tersebut, pola

konsumsi pangan masyarakat Kabupaten Taikmalaya masih timpang.

Hal ini disebabkan oleh :

A. Masih tingginya konsumsi padi-padian terutama beras.

B. Masih rendahnya konsumsi pangan hewani, umbi-umbian,

serta sayur dan buah.

C. Pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal seperti umbi,

jagung, dan sagu masih rendah.

D. Diperlukan upaya untuk menganekaragamkan konsumsi

pangan masyarakat menuju skor PPH yang ideal agar hidup

sehat, aktif, dan produktif.

E. Kebijakan terfokus pada peningkatan produksi dan belum

mempertimbangkan kecukupan gizi (nutrition sensitive

production system) Penyelenggaraan Penanggulangan

Bencana.

5. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

Menurut UU No. 8 tahun 2007, untuk menyelenggarakan

penanggulangan bencana nasional, asas yang harus dijadikan

pijakan adalah kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam

hukum dan pemerintahan, keseimbangan, keselarasan, dan

keserasian, ketertiban dan kepastian hokum, kebersamaan,

kelestarian lingkungan hidup, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Semnetara prinsip yang harus dilakukan cepat dan tepat, prioritas,

koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna,

transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, pemberdayaan,

nondiskriminatif, dan nonproletisi.

Tujuan dari penanggulangan bencana harus memberikan

(29)

menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;

menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara

terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh; menghargai

budaya lokal; membangun partisipasi dan kemitraan publik serta

swasta; mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan

kedermawanan; dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tanggungjawab untuk

menyelenggarakan penanggulangan bencana ada di tangan

pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yang dimandatkan kepada

BNPB di tingkat nasional dan BPBD di daerah, Meski begitu

masyarakat memiliki hak untuk berpartisipasi dalam semua proses

penanggulangan bencana ini: berperan serta dalam perencanaan,

pengoperasian, dan pemeliharaan program penyediaan bantuan

pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial; berpartisipasi

dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan

bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya;

dan melakukan pengawasan sesuai dengan mekanisme yang diatur

atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Lembaga-lembaga

nasional dan internasional juga boleh dan diberi peran untuk

penanggulangan bencana, dengan tetap berkoordinasi dengan BNPB.

Penyelenggaraan bencana yang dilakukan harus meliputi

aspek-aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat; kelestarian

lingkungan hidup; kemanfaatan dan efektivitas; dan lingkup luas

wilayah. Setelah dikaji, mungkin dan bisa saja pemerintah

menetapkan daerah rawan bencana menjadi daerah terlarang untuk

pemukiman; dan/atau mencabut atau mengurangi sebagian atau

seluruh hak kepemilikan setiap orang atas suatu benda sesuai

dengan Peraturan Perundang-undangan.

a. Tahap Pra Bencana

Proses peneyelenggaraan penanggulangan bencana, harus

melewati tahap prabencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana;

atau dalam situasi ketika terdapat potensi terjadi bencana. Dalam

tahap ini disusun perencanaan tindakan-tindakan: pengenalan dan

(30)

masyarakat; analisis kemungkinan dampak bencana; pilihan

tindakan pengurangan risiko bencana; penentuan mekanisme

kesiapan dan penanggulangan dampak bencana; dan alokasi tugas,

kewenangan, dan sumber daya yang tersedia. Poros dari tahap pra

bencana adalah pencegahan dan kesiapsiagaan menghqdapi

kemungkinan bencana.

b.Tahap Saat Bencana

Tahap selanjutnya adalah tanggap darurat, mencakup evakuasi

dan penyelamatan korban-korban bencana; dan pemenuhan

kebutuhan dasar yang bersifat segera, kebutuhan air bersih dan

sanitasi; pangan, sandang, pelayanan kesehatan, pelayanan

psikososial, dan penampungan dan tempat hunian. Kegiatan yang

dilakukan adalah pendataan, penempatan pada lokasi yang aman,

dan pemenuhan kebutuhan dasar. Dan kelompok rentan yang harus

mendapat perhatian lebih adalah bayi, balita, dan anak-anak; ibu

yang sedang mengandung atau menyusui; penyandang cacat; dan

orang lanjut usia.

c. Tahap Pasca Bencana

Setelah itu dilakukan tahap pemulihan meliputi rehabilitasi dan

rekonstruksi. Rehabilitasi mencakup perbaikan lingkungan daerah

bencana; perbaikan prasarana dan sarana umum; pemberian

bantuan perbaikan rumah masyarakat; pemulihan sosial psikologis;

pelayanan kesehatan; rekonsiliasi dan resolusi konflik; pemulihan

sosial ekonomi budaya; pemulihan keamanan dan ketertiban;

pemulihan fungsi pemerintahan; dan pemulihan fungsi pelayanan

publik.

Sedangkan pemulihan dengan rekonstruksi, yang dilakukan

adalah: pembangunan kembali prasarana dan sarana; pembangunan

kembali sarana sosial masyarakat; pembangkitan kembali kehidupan

sosial budaya masyarakat; penerapan rancang bangun yang tepat

dan penggunaan; peralatan yang lebih baik dan tahan bencana;

partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan,

(31)

dan budaya; peningkatan fungsi pelayanan publik; dan peningkatan

pelayanan utama dalam masyarakat.

Seluruh pembiayaan penyelenggaraan penanngualanagan

benacana, sebagian besar pembiayaan untuk kegiatan-kegiatan

Penanggulangan bencana terintegrasikan dalam kegiatan-kegiatan

pemerintahan dan pembangunan yang dibiayai dari anggaran

pendapatan dan belanja nasional, propinsi atau kabupaten/kota.

Kegiatan sektoral dibiayai dari anggaran masing-masing sektor yang

bersangkutan. Bantuan dari masyarakat dan sektor non-pemerintah,

termasuk badan-badan PBB dan masyarakat internasional, dikelola

secara transparan oleh unit-unit koordinasi.

Tabel 4.2

Daerah Rawan Bencana

Kecamatan Rawan Bencana Luas (Ha)

Kec. Bantarkalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 2365.777 Kec. Bantarkalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2169.339 Kec. Bantarkalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1941.848

Kec. Bojongasih Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 2677.190

Kec. Bojongasih Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 688.101

Kec. Bojongasih Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1618.102

Kec. Bojonggambir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 4984.860 Kec. Bojonggambir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 7599.890

Kec. Bojonggambir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 752.836

Kec. Ciawi Kawasan Rawan Gempa 287.270

Kec. Ciawi Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 2105.001

Kec. Ciawi Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2190.463

Kec. Ciawi Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 81.836

Kec. Cibalong Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 549.394

Kec. Cibalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 1898.112

Kec. Cibalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 913.021

Kec. Cibalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 2806.913

Kec. Cigalontang Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 299.285 Kec. Cigalontang Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 1966.252

Kec. Cigalontang Kawasan Rawan Gempa 135.679

Kec. Cigalontang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 8913.587

Kec. Cigalontang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 2841.557

Kec. Cikalong Kawasan Rawan Tsunami Tinggi 3912.707

Kec. Cikalong Kawasan Rawan Tsunami Menengah 975.876

Kec. Cikalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 6815.478

Kec. Cikalong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 4342.677

Kec. Cikatomas Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 6257.441

Kec. Cikatomas Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 6749.337

Kec. Cikatomas Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1453.078

(32)

Kecamatan Rawan Bencana Luas (Ha)

Kec. Cineam Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 6101.881

Kec. Cineam Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 14.137

Kec. Cipatujah Kawasan Rawan Tsunami Tinggi 2151.932

Kec. Cipatujah Kawasan Rawan Tsunami Menengah 1199.742

Kec. Cipatujah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 15110.523

Kec. Cipatujah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 3921.418

Kec. Cipatujah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1511.666

Kec. Cisayong Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 572.758

Kec. Cisayong Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 1591.271

Kec. Cisayong Kawasan Rawan Gempa 2147.670

Kec. Cisayong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 749.701

Kec. Cisayong Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 7.917

Kec. Culamega Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 4051.565

Kec. Culamega Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 3255.070

Kec. Culamega Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1334.973

Kec. Culamega Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 0.000

Kec. Culamega Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 0.000

Kec.

Gunungtanjung

Kawasan Rawan Gempa 975.282

Kec.

Gunungtanjung

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 3598.562

Kec.

Gunungtanjung

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 202.838

Kec. Jamanis Kawasan Rawan Gempa 67.871

Kec. Jamanis Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 1683.883

Kec. Jatiwaras Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 324.867

Kec. Jatiwaras Kawasan Rawan Gempa 434.501

Kec. Jatiwaras Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 769.664

Kec. Jatiwaras Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 5139.315

Kec. Jatiwaras Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 2108.450

Kec. Kadipaten Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 2286.834

Kec. Kadipaten Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2031.293

Kec. Karangjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 4132.558

Kec. Karangjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 676.751

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Tsunami Tinggi 730.295

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Tsunami Menengah 589.675

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 9640.042

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2390.091

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 2022.842

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 0.000

Kec.

Karangnunggal

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 0.000

Kec. Leuwisari Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 121.465

Kec. Leuwisari Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 786.727

Kec. Leuwisari Kawasan Rawan Gempa 1812.790

Kec. Leuwisari Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 281.976

(33)

Kecamatan Rawan Bencana Luas (Ha)

Kec. Mangunreja Kawasan Rawan Gempa 80.504

Kec. Mangunreja Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 1882.978

Kec. Mangunreja Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 429.163

Kec. Manonjaya Kawasan Rawan Gempa 2735.512

Kec. Manonjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 1392.327

Kec. Manonjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 153.087

Kec. Padakembang Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 327.834

Kec. Padakembang Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 458.913

Kec. Padakembang Kawasan Rawan Gempa 1162.624

Kec. Padakembang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 42.820

Kec. Pagerageung Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 3189.142

Kec. Pagerageung Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 3145.459

Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Tsunami Menengah 7.952

Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 11077.221 Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 4902.108

Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 85.662

Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 0.000

Kec. Pancatengah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 0.000

Kec.

Parungponteng

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 1075.818

Kec.

Parungponteng

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2833.124

Kec.

Parungponteng

Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1163.025

Kec. Puspahiang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 118.179

Kec. Puspahiang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 4898.615

Kec. Puspahiang Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 720.202

Kec. Rajapolah Kawasan Rawan Gempa 717.485

Kec. Rajapolah Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 804.339

Kec. Salawu Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 76.419

Kec. Salawu Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 5832.547

Kec. Salawu Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1492.166

Kec. Salopa Kawasan Rawan Gempa 105.439

Kec. Salopa Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 301.982

Kec. Salopa Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 9622.611

Kec. Salopa Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 623.679

Kec. Sariwangi Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 407.645

Kec. Sariwangi Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 2179.210

Kec. Sariwangi Kawasan Rawan Gempa 1151.370

Kec. Sariwangi Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 0.000

Kec. Sariwangi Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 276.775

Kec. Singaparna Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 688.707

Kec. Singaparna Kawasan Rawan Gempa 1188.908

Kec. Singaparna Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 70.174

Kec. Sodonghilir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 1458.120

Kec. Sodonghilir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 5031.120

Kec. Sodonghilir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 3229.051

Kec. Sodonghilir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 0.000

Kec. Sodonghilir Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 0.000

(34)

Kecamatan Rawan Bencana Luas (Ha)

Kec. Sukahening Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 119.413

Kec. Sukahening Kawasan Rawan Gempa 914.721

Kec. Sukahening Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 129.887

Kec. Sukahening Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 1581.013

Kec. Sukahening Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 158.917

Kec. Sukaraja Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 860.311

Kec. Sukaraja Kawasan Rawan Gempa 573.189

Kec. Sukaraja Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 888.442

Kec. Sukaraja Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2418.750

Kec. Sukaraja Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 0.862

Kec. Sukarame Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 591.538

Kec. Sukarame Kawasan Rawan Gempa 1055.380

Kec. Sukaratu Kawasan Gunung Berapi Daerah Terlarang 2344.054

Kec. Sukaratu Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 706.059

Kec. Sukaratu Kawasan Rawan Gempa 1230.638

Kec. Sukaratu Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 0.000

Kec. Sukaratu Kawasan Rawan Gempa 0.000

Kec. Sukaresik Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 1655.151

Kec. Tanjungjaya Kawasan Gunung Berapi Daerah Bahaya 231.517

Kec. Tanjungjaya Kawasan Rawan Gempa 240.936

Kec. Tanjungjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 79.420

Kec. Tanjungjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 2821.877

Kec. Tanjungjaya Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 346.831

Kec. Taraju Kawasan Rawan Gerakan Tanah Rendah 88.146

Kec. Taraju Kawasan Rawan Gerakan Tanah Menengah 4395.840

Kec. Taraju Kawasan Rawan Gerakan Tanah Tinggi 1925.647

Sumber: BPBD Kabupaten Tasikmalaya 2016

6. Reformasi Birokrasi untuk Pemerintahan yang Baik dan Efektif Berbasis Teknologi Informasi

Kondisi birokrasi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya di era

reformasi saat ini bisa dikatakan belum menunjukan arah

perkembangan yang baik, untuk melaksanakan fungsi

birokrasi secara tepat, cepat, dan konsisten guna mewujudkan

birokrasi yang akuntabel dan baik, maka pemerintah telah

merumuskan sebuah peraturan untuk menjadi landasan dalam

pelaksanaan reformasi biroksi di Indonesia, yaitu Peraturan Presiden

Nomor 80 Tahun 2011 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi

Indonesia 2010-2025.

Reformasi Birokrasi merupakan salah satu upaya pemerintah

untuk mencapai good governance dan melakukan pembaharuan dan

(35)

pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan

(organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur.

Melalui reformasi birokrasi dilakukan penataan terhadap system

penyelenggaraan pemerintah dimana uang tidak hanya efektif dan

efisien, tetapi juga reformasi birokrasi menjadi tulang punggung

dalam perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tujuan reformasi birokrasi adalah untuk menciptakan

birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik,

berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu

melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh

nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Adapun misi Kabupaten Tasikmalaya dalam mewujudkan

reformasi birokrasi yaitu : Mewujudkan Tata Kelola Kepemerintahan

yang baik (good govermance)

7. Pengembangan destinasi wisata

Pariwisata menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2019

tentang Kepariwisataan adalah berbagai macam kegiatan wisata dan

didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh

masyarakat, Pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh

seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat

tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau

mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam

jangka waktu sementara dan Destinasi wisata menurut Daryanto

(1997:167) dalam kamus Bahasa Indonesia lengkap destinasi

diartikan sebagai tempat tujuan atau daerah tujuan wisata

sedangkan menurut Hadinoto (1996:15) destinasi wisata merupakan

suatu kawasan spesifik yang dipilih oleh seseorang pengunjung ia

dapat tinggal dalam waktu tertentu.

Karena kepariwisataan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan

jasmani, rohani dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi

dan perjalanan serta menigkatkan pendapatan Negara untuk

mewujudkan kesejahteraan rakyat. Maka kepariwisataan bisa

(36)

pariwisata yang bersifat multidimensi serta multidisiplin yang

muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta

interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempat, sesama

wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Pengusaha.

Kabupaten Tasikmalaya mempunyai luas wilayah sebesar

270.871,776 ha terdiri dari 39 kecamatan dan 351 desa. Dari seluruh

luasan wilayah administrasi hampir di seluruh Kecamatan wilayah

Kabupaten Tasikmalaya terdapat potensi daya tarik wisata, namun

belum semua tersentuh baik pembangunan maupun penataan secara

optimal. Adapun beberapa jenis objek wisata di Kabupaten

Tasikmalaya yang sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan sebagai

berikut :

a) WISATA ALAM

1) Kawasan Wisata Galunggung

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan

ketinggian 2.167 mdpl. Berlokasi di Desa Linggajati, Kecamatan

Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Dengan luas sekitar 124,027 Ha

setelah meletus terakhir tahun 1982, panorama alam di sekitar

Gunung Galunggung saat ini sangat mempesona. Kawah seluas 49

Ha yang dulu memuntahkan lahar panas, pasir dan bebatuan, kini

telah berubah wujud menjadi danau yang berair bening dan tenang,

jarak dari pusat kota Tasikmalaya sekitar 17 Km.

Daya tarik utamanya adalah: Panorama alam indah; Danau

Kawah; Air panas; Curug Panoongan dan Terowongan (saluran

pembuangan air danau kawah). Daya tarik pendukung :

a) Curug Citiis Desa Padakembang Kecamatan Padakembang

b) Curug Ciparay Desa Cidugaleun Kec. Cigalontang

c) Curug Panoongan Satria (Agro teh Panoongan Satria) Desa

Kersamaju Kecamatan Cigalontang

Sarana dan Fasilitas yang ada diantaranya :

Jalan lingkungan, Tangga kawah, Gerbang dan loket karcis, Kolam

renang air panas, bak rendam air panas, yang konon berkhasiat

untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit, arena bermain

(37)

panggung hiburan, camping area, area parkir, Toilet, saung ranggon,

ruang bilas dan penitipan pakaian, mushola, toilet dll.

2) Pemandian Air Panas Cipacing

Daya tarik wisata Cipanas Cipacing berlokasi di Desa Banjarsari

Kecamatan Sukaresik. Berjarak sekitar 23 km dari pusat kota

Tasikmalaya ke arah barat. di dalamnya terdapat bak rendam, kolam

renang air panas yang konon berkhasiat untuk menyembuhkan

berbagai jenis penyakit kulit, serta fasilitas bermain anak-anak.

Daya tarik wisata Cipanas Cipacing lebih popular dengan

sebutan Objek Wisata Pengobatan. Sarana dan Fasilitas yang ada

antara lain :

Taman bermain (playground), Kolam renang anak, Bak Rendam, TIC,

Kios wisata,Mushola, toilet, Gerbang dan loket karcis.

3) Geopark Jasper (Taman Jasper Cibuniasih)

Kabupaten Tasikmalaya memiliki banyak potensi wisata baik

alam maupun budaya, salah satu potensi yang dimiliki kabupaten

Tasikmalaya yang jarang dimiliki oleh Kabupaten lain adalah Potensi

wisata Geologi (Geopark), Taman Jasper Cibuniasih Desa Cibuniasih

Kecamatan Pancatengah, dilokasi tersebut terdapat batu-batu jasper

(batu mulia berwarna merah) sekitar 200 buah-batu jasper dengan

berat rata-rata 50 ton yang diperkirakan berumur 25 juta tahun.

b) WISATA TIRTA a. Bahari

1) Pantai Cipatujah

Setelah porak-poranda dilanda Tsunami tahun 2006, kini Pantai

Pasanggrahan Cipatujah yang berjarak sekitar 74 km dari pusat kota

Tasikmalaya atau sekitar 60 km dari pantai Pangandaran itu, kini

mulai bersolek kembali. Saat ini telah dibangun kios-kios wisata,

gazebo, arena bermain anak, menara pandang, mesjid, panggung

terbuka, penginapan, area parkir, dan sarana rekreasi lainnya.

Lokasinya sangat strategis, karena berada di bibir pantai yang

menghubungkan pantai Pangandaran Ciamis dengan Pelabuhan Ratu

Gambar

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dengan Kesejahteraan  40 % Terendah
Daerah Rawan BencanaTabel 4.2
Tabel 4.4 Konvergensi Isu Strategis Pembangunan Daerah

Referensi

Dokumen terkait

(1) Jenis pelayanan dasar, sasaran, indikator kinerja, batas waktu pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana

Program-program yang direncanakan merupakan program prioritas pemerintah daerah yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Maluku Tengah yang dijabarkan dalam RENSTRA Dinas

Pihak pertama berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah seperti

Pihak pertama berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah seperti

Pihak pertama berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah seperti

Secara umum kegiatan – kegiatan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kendal telah berjalan dengan baik, namun masih ada beberapa kendala dan permasalahan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode lima (5) tahun yang memuat penjabaran dari visi,

Renstra Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pulang Pisau Tahun 2018-2023 adalah Dokumen Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah