PERMASALAHAN YANG TIMBUL PADA TAHAP PERK

11 

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN YANG TIMBUL PADA TAHAP

PERKEMBANGAN MASA BAYI, MASA ANAK-ANAK DAN

REMAJA

Perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang terjadi akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif. Dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing maju dan bukan mundur. Teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang mengikutinya.1

Berbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri itu yang biasa disebut aktualisasi diri adalah sangat penting. Namun tidak statis. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat untuk dilakukan, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikologis. Akan tetapi, tidak semua individu dapat menjalani proses perubahan ini sebagaimana yang harus dilaluinya sesuai dengan usia dan tugas perkembangannya. Ada individu-individu yang mengalami hambatan ataupun permasalahan dalam perkembangan, yaitu terhambatnya proses perubahan yang bertujuan untuk aktualisasi diri. Hambatan ini dapat terjadi sejak masa bayi sampai dewasa, yang kemudian akan lebih dibahas mengenai anak dan remaja, baik yang dialami sejak lahir akibat faktor-faktor pranatal, genetis, maupun yang terjadi dalam proses perkembangan itu sendiri (akibat interaksi dengan lingkungan).

Hambatan perkembangan yang terjadi dapat berupa gangguan yang tidak menetap (seperti anorexia nervosa, bulimia dan lain-lain) dan ada juga yang digolongkan sebagai gangguan yang menetap (Autisme,

(2)

Rett, Asperger dan lain-lain). Hambatan perkembangan dapat juga berupa keterlambatan perkembangan, di mana tidak tercapainya tugas perkembangan pada waktu yang ditentukan. Efek dari terjadinya hambatan dalam perkembangan ini sangat luas, tidak hanya berpengaruh pada pencapaian aktualisasi diri karena ada type hambatan perkembangan yang menyebabkan learning disabilities tetapi juga berpengaruh secara sosial di mana individu tidak dapat menjadi orang yang diinginkan baik fisik maupun psikologis.

A. MASA BAYI

Masa bayi merupakan masa ketergantungan, masa ketidakberdayaan dan masa membutuhkan oranglain, atau masa yang menuntut kesabaran orangtua.2 Secara psikologis, masa bayi merupakan

saat terbentuknya sikap dari orang-orang yang berarti bagi bayi. Kebanyakan sikap yang terbentuk sepanjang periode pranatal dan mungkin berubah secara radikal setelah bayi dilahirkan, tetapi beberapa diantaranya relatif menetap atau semakin kuat tergantung pada kondisi pada saat kelahiran dan pada mudah atau sulitnya penyesuaian antara bayi dan orangtua.

Pada masa bayi kerap diiringi dengan tangisan, dimana tangisan ini memberikan petunjuk bahwa bayi menginginkan sesuatu. Hal itu dikarenakan pada masa ini, bayi belum bisa berbicara, dan tangisan sebagai isyarat baginya terhadap sesuatu yang ia kehendaki. Namun, jika tangisan bayi berlebihan dapat mengakibatkan gangguan gastrointestinal, muntah-muntah dan ketegangan saraf serta dapat menimbulkan perasaan kurang aman yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian bayi.3

Bayi berkembang pesat, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan cepatnya pertumbuhan ini, perubahan tidak hanya terjadi dalam

2 Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm.135

3 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1980), hlm.

(3)

penampilan tetapi juga dalam kemampuan. Perkembangan yang pesat dimulai dari susunan saraf, pengerasan tulang dan penguatan otot memungkinkan bayi menguasai tugas-tugas perkembangan masa bayi, bayi yang berkembang lambat akan mengalami kesulitan pada saat ia mencapai awal masa kanak-kanak.

Pada perkembangan fisik, beberapa bayi memulai kehidupan dengan badan yang lebih kecil dan perkembangan yang kurang normal. Mungkin ini disebabkan karena belum cukup umur atau kondisi fisik yang buruk akibat ibu kekurangan gizi, mengalami tekanan atau kondisi kurang baik lainnya selama periode pranatal. Akibatnya, bayi itu cenderung tertinggal dari teman-teman sebayanya dalam tahun-tahun di masa bayi.

Masa bayi adalah masa pembentukan pola-pola psikologis fundamental untuk makan dan buang air. Meskipun pembentukan kebiasaan tersebut mungkin tidak selesai pada akhir masa bayi. Pada pola makan bayi, permasalahan yang timbul biasanya ketidaksukaan bayi terhadap makanan cair yang terbiasa pada usia empat sampai lima bulan. Sehingga cukup sulit bagi bayi untuk menyesuaikan diri dengan makanan yang agak keras.

Pola buang air, pengendalian buang air besar rata-rata mulai dari usia enam bulan, sedangkan pengendalian buang air kecil mulai antara usia 15 sampai 16 bulan. Dalam hal buang air besar, sesekali bayi mengalami permasalahan ataupun penyimpangan, khusunya ketika bayi lelah, sakit.

B. MASA KANAK-KANAK

(4)

sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak yang matang secara seksual.4

Masa bayi sering membawa masalah bagi orangtua dan umumnya berkisar pada masalah perawatan fisik bayi. Dengan datangnya masa kanak-kanak, sering terjadi masalah perilaku yang lebih menyulitkan daripada masalah perawatan fisik masa bayi. Masalah perilaku itu sering terjadi di awal masa kanak-kanak dikarenakan anak-anak muda sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Anak yang lebih muda seringkali bandel, keras kepala, melawan dan marah tanpa alasan serta merasa cemburu.

Pada perkembangan fisik, pertumbuhan selama awal masa kanak-kanak berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa bayi. Nafsu makan kanak-kanak tidak sebesar seperti pada masa bayi. Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan telah menurun dan sebagian karena sekarang ia telah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan dan tidak disukai.5

Dalam perkembangan berkomunikasi, biasanya anak-anak mengalami masalah, dimana mutu pembicaraan anak yang buruk/isi pembicaraan anak bersifat merendahkan dan ketidakberhasilan anak-anak untuk mendengarkan lebih banyak menyebabkan kegagalan untuk mengerti. Sehingga pembicaraan mereka tidak terjalin baik.

Di akhir masa kanak-kanak (late childbood) berlangsung dari usia enam tahun sampai saatnya individu menjadi matang secara seksual.

Di masa akhir kanak-kanak ini, dalam kemajuan berbicara, ia mulai terdorong untuk memperbaiki kemampuannya dalam berbicara, yakni dengan memperbaiki ucapan yang salah serta memperbaiki tata bahasa. Anak dapat berbicara mengenai apa saja, tetapi pokok pembicaraan yang digemari bila bercakap-cakap dengan temannya menjadi pengalaman

4 Ibid, hlm. 108

(5)

sendiri. Namun kalau anak berbicara tentang dirinya sendiri, biasanya terjadi dalam bentuk bualan. Anak membual tentang segala hal yang berhubungan dengann diri sendiri seperti kehebatannya dalam keterampilan dan berprestasi. Dan pada masa ini, biasanya anak lebih suka mengkritik dan menertawakan orang. Pada saat menyampaikan kritikan, anak lebih sering mengungkapkan dalam bentuk makian atau hal lain yang bersifat merendahkan.6 Karena sebenarnya anak lebih

banyak menonjolkan kelebihan dan kurang berani menunjukkan kelemahan dirinya sendiri.

C. MASA REMAJA

Istilah adolescense atau remaja berasal dari kata latin “adolescere” (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescense mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.

Bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembangan berlangsung semakin cepat dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan. Tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang memperhatikan perkembangan atau kurangnya perkembangan dengan kagum, senang atau takut. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.

Pada masa ini, remaja lebih banyak bersikap negatif atau sikap menolak. Biasanya terhadap segala sesuatu, remaja bersikap serba ragu, tidak pasti, tidak senang, tidak setuju. Remaja sering murung, sedih tetapi ia sendiri tidak mengerti apa sebabnya dan sering melamun tidak menentu dan kadang berputus asa.7

6 Ibid, hlm. 153

(6)

Pada masa remaja terjadi perubahan fisik dan phikis yang selalu mendatangkan konflik pada diri remaja, sehingga banyak remaja yang gamang melewati masa remajanya. Orangtua, guru dan masyarakat perlu memahami permasalahan remaja sehingga dapat membantu mereka menemukan solusi melewati masa remaja dengan sukses.

Permasalahan yang sering dialami pada perkembangan remaja biasanya mencakup budi pekerti remaja, dimana remaja terlibat dalam perbuatan/akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: 8

a. Rendahnya Keimanan Remaja terhadap Allah

Sebagian besar remaja mengalami kemunduran kepercayaan terhadap Allah, hal ini ditandai dengan semakin beraninya remaja melanggar larangan Allah secara terang-terangan seperti tidak shalat, tidak puasa dan lain-lain. Rendahnya keimanan remaja menjadi penyebab permasalahan akhlak remaja lainnya seperti seks bebas, merokok, penyalahgunaan narkotika, pencurian dan lain-lain.

b. Menurunnya Pelaksanaan ibadah pada remaja

Sebagian remaja mengalami penurunan pengalaman agama dibandingkan pada masa anak-anak. Mereka mungkin sudah terbias atau pernah shalat pada masa anak-anak kemudian tidak melaksanakan shalat pada masa remaja. Sebagian remaja bahkan marah ketika diingatkan untuk melaksanakan ibadah dengan alasan malas, bosan dan sebagainya.

c. Penyalahgunaan Narkoba

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasioanl (BNN), jumlah kasus penyalahgunaan Narloba di Indonesia dari tahun 1998-2003 adalah 20.301 orang, dimana 70% diantaranya berusia antara 15-19 tahun.

d. Seks Bebas

Adikusuma dalam penelitiannya tentang Sikap Remaja terhadap Seks Bebas di Kota Negara Bali menemukan 88,33% responden mengatakan ingin melakukann seks bebas tetapi takut resiko dan 26,66% menyatakan cara terbaik memenuhi keinginan seksual adalah hubungan

(7)

seks. Sebuah survei yang dilakukan di 33 provinsi pada pertengahan tahun 2008 Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN melaporkan bahwa 63% remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21% diantaranya melakukan aborsi. Secara umum survei itu mengindikasikan bahwa pergaulan remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan.

e. Merokok

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, walaupun merokok dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok dan orang-orang yang ada disekitarnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang meroko adalah untuk mendapatkkan pengakuan (anticioatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma permissivek beliefs/fasilitative).

f. Bolos Sekolah

Para remaja bolos sekolah untuk menonton konser artis/aktor kesayangannya, untuk jalan-jalan di mall atau untuk kegiatan hura-hura lainnya.

Akibat yang ditimbulkan dari berbagai permasalahan dalam perkembangan sikap remaja ialah:9

 Terkena HIV.AIDS

 Mencuri, menodong, mencopet dan sejenisnya  Bunuh diri

 Berkelahi dengan teman atau antar sekolah

 Kebut-kebutan

 Mengguurkan kandungan

 Berbohong

(8)

Dan untuk mengatasi masalah ataupun menghindari permalsahan tersebut yang perlu dilakukan ialah:

a) Membekali keimanan remaja

Membekali keimanan remaja dapat dilakukan orangtua sejak anak-anak. Di dalam al-Qur’an Allah berfirman bagaimana Luqman mengajarkan tauhid kepada anaknya :

             “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Larangan ini disampaikan Luqman kepada anaknya sebagai pelaksanaan tugas yang sangat penting dari orangtua kepada anaknya yaitu mengajarkan agama yang benar dan budi pekerti yang luhur.

b) Memberi contoh dan mengingatkan pengalaman ibadah remaja Pembiasaan melakukan ibadah sudah diajarkan sejak masa anak-anak kemudian dilanjutkan pada masa remaja. Jika pada masa anak-anak-anak-anak orangtua hanya mengajarkan shalat, tetapi setelah remaja oarngtua dianjurkan memukul anak remaja yang tidak shalat setelah diajarkan shalat pada waktu kanak-kanak. Hadis Rasulullah :

هريييغودواد وييبأ هور) َاييههييلهعه ههويبهررييضي فه نه يينرييسر عهبيييسه غهييلهبهاذهار ةرله ييصص ل َاييبر يص برييصص لااويرهمه

(حيحصوهو

“Perintahkanlah anak-anak untuk shalat ketika usianya mencapai tujuah tahun. Jika sampai usia sepuluh tahun si anak masih meninggalkan shalat, pukullah.” (H.R. Abu Daud)

(9)

Informasi tentang bahaya merokok dan narkoba harus disampaikan orangtua atau guru kepada para remaja. Penyampaian informasi ini dapat dilakukan dalam bentuk obrolan dalam keluarga atau nasehat yang diberikan orangtua dan guru pada waktu tertentu.

d) Memberikan informasi tentang pengaturan perilaku seksual dalam Islam

Pengaturan perilaku seksual dalam Islam telah diatur dengan baik, maka orangtua dapat melakukanpemberian informasi pengaturan perilaku seksual ini secara bertahap pula. Tahapan tersebut adalah:

 Membedakan cara berpakaian remaja putra dan putri.

 Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan  Menjelaskan larangan Allah mendekati zina (berduaan tanpa

muhrim)

 Menjelaskna azab Allah kepada pelaku perbuatan mendekati zina atau berzina

 Menjelaskan akibat perbuatan zina pada kehidupan dunia (kesehatan, sanksi sosial dan hukuman).

e) Membiasakan anak bersikap terbuka kepada orangtua

Orangtua adalah orang yang peling dekat dengan anak, maka seyogyanya orangtua adalah orang yang pertama bagi anak untuk menyampaikan keluh kesahnya. Agar dapat menjadi teman yang akrab, orangtua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak, menjadi contoh, penasehat dan pelindung bagi anak.

f) Mendoakan anak

(10)
(11)

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Masganti Sit. 2012. Perkembangan Peserta Didik. Medan: Perdana Publishing

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...