• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama sebagai Realisasi Kesadaran Kolekt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Agama sebagai Realisasi Kesadaran Kolekt"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Agama sebagai Realisasi Kesadaran Kolektif

(Mengusik Keindividualan Agama yang Meradikal Berdasarkan Analisis Durkheim)

B. Christian Triyudo P

Pengantar

Jika kita membaca berita mengenai situasi Indonesia beberapa tahun terakhir, baik dalam media

cetak atau elektronik, berita mengenai merebaknya bentuk konflik antarkelompok sering muncul. Ada

beberapa kelompok yang ingin memaksakan kepada orang lain apa yang dia yakini ‘benar’ dengan

berbagai macam cara termasuk dengan menyiksa bahkan berani membunuh orang lain tanpa merasa

bersalah. Mereka seringkali mengklaim ada kebenaran yang sedang mereka lakukan atas nama doktrin

tertentu dan kebenaran –yang tentu hanya mereka yakini- itu harus ditegakkan.

Di lain sisi, kita juga bisa melihat kelompok lain yang dipaksakan kehendaknya pasti merasa diri harus membela ‘kebenaran’ yang dianutnya dan tidak ingin diijak-injak oleh kelompok yang mengancam dan memaksakan. “lingkaran setan konflik” pun dapat berada dalam tataran ini. Lingkaran

setan di sini adalah keinginan untuk melakukan agenda-agenda kelompoknya sendiri-sendiri dan

menghilangnya unsur menerima dan menghargai perbedaan sebagai sebuah kesadaran kolektif. Jika

konflik ini terus berlangsung tanpa putusnya, salah satu implikasi ekstrem yang tidak bisa dielakkan

adalah pecahnya suatu kebersamaan sebagai satu tubuh. Integrasi terancam luluh lantah. Di titik ini, kita

bisa bertanya, di dalam keadaan carut marut itu, masih tersisakah sepercik harapan akan kesadaran

kolektif dalam kehidupan bersama yang di mana setiap kelompok tetap memiliki persepsinya dan

keunikannya sendiri-sendiri?

Pertanyaan di atas sebenarnya selalu mengganjal di relung hatiku yang terdalam ketika membaca

berbagai macam berita terkait dengan kekerasan, pemusnahan orang lain untuk mewujudkan tujuan

kelompoknya. Saya merasa banyak orang yang seringkali tenggelam dalam hal-hal besar dan

mengasyikkan kelompoknya tetapi lupa akan hal-hal yang mendasar dalam kebersamaan. Begitu pula

agama di dalam masyarakat yang menurut Durkheim sebagai proyeksi kesadaran kolektif. Agama jika

terus-menerus hanya terorientasi pada agenda-agenda pribadinya dan tidak kembali pada pilar-pilar

utama dapat mematikan kehidupan berbangsa.

Beberapa permenungan mengenai “yang lain” dari Levinas dan pemahaman dasar kesadaran kolektif dari Emmile Durkheim cukup membantuku untuk melihat kembali makna yang lain1 sebagai

(2)

2

realita dasar yang tak dapat dipisahkan di dalam “kebersamaan” itu sendiri. Dalam makalah ini, penulis

secara khusus ingin melihat kembali alasan Durkheim melihat agama sebagai proyeksi kesadaran

kolektif dalam masyarakat serta ingin mengritisi agama yang jika tidak hati-hati (kehilangan dasar

pembentukannya di dalam masyarakat yang plural) bisa menjadi pisau tajam dalam pluralitas

kebersamaan. Oleh sebab itu, penulis ingin menatapkan judul “Agama sebagai Realisasi Kesadaran Kolektif” dalam rangka untuk mengusik “keindividualan” kelompok yang seringkali menggejala dan ingin dipaksakan dalam kebersamaan, termasuk jika keindividualan agama itu sendiri mulai meradikal.

Pemahaman dasar mengenai kesadaran kolektif

Dalam sebuah kelompok besar, tentu ada banyak unsur yang menyertainya – setiap unsur itu unik,

berbeda satu sama lain-. Pada landasan yang sama sebagai kelompok, setiap unsur itu pasti akan

bergerak di dalamnya, yang idealnya adalah bersama-sama dalam keanekaragaman itu bergerak pada

kebersamaan sebagai suatu kelompok besar demi kesejahteraan bersama. Namun, dalam kenyataannya

sekarang, setiap unsur itu bergerak sendiri-sendiri dan menjauh dari komitmen serta keterlibatan

bersama. Hal ini tidak bisa disangkal karena setiap unsur unik dan keunikan itu kadangkala ingin

ditonjolkan apalagi jika ikatan yang sudah dijadikan pilar bersama mulai memudar sehingga jika tidak

dihadapi secara dewasa dan siap, dapat menimbulkan konflik yang saling menjatuhkan dan

memaksakan.

Konflik seperti inilah yang dapat memecahkan integrasi dan solidaritas dalam kebersamaan. Suatu

praktik-praktik individualistis unsur pun dapat muncul di sini dan itulah juga yang dilihat Emille

Durkheim. Sebagai contoh sederhana, di Amerika, dengan berakhirnya program pengembangan yang

pesat dalam universitas di tahun 1960-an, departemen-departemen beserta program-program dalam

lingkungan universitas semakin bersaing untuk memperoleh dana-dana yang langka. Karena itu, di

belakang sikap hormat antara para sejawat dalam profesi akademis itu, mungkin ada semacam perasaan

kesal dan cemburu satu sama lain dan berusaha diam-diam untuk saling menjatuhkan. Peraturan tidak

tertulisnya adalah bahwa setiap departemen akan mengurus diri sendiri daripada universitas secara

keseluruhannya. Hal ini tentu akan merusakkan atau menghambat perasaan kebersamaan dan solidaritas

universitas secara keseluruhan.2

Tipe berbeda namun memiliki esensi sama seperti contoh di atas bisa terjadi dalam kebangsaan

negara Indonesia kita sekarang. Bisa saja setiap unsur yang berbeda dalam kebangsaan kita saling tikam

dan menjatuhkan ketika apa yang menjadi pilar kebangsaan (ikatan emosional) mulai dilupakan.

(3)

3

Kenyataan memang menunjukkan hal tersebut seperti perang antarsuku, perpisahan provinsi dari Negara

Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), konflik polisi dengan rakyat, konflik antaraliran kepercayaan,

praktik korupsi dari anggota parlemen, dll.

Dan persis di situlah, pertanyaan dasar dari Durkheim yang masih dapat digemakan yaitu

bagaimana masyarakat yang beragam itu dapat mempertahankan kohesinya?3 Pertanyaan ini merujuk

pada masalah integrasi sosial dan solidaritas yang dilihat tidak hanya dalam hubungannya dengan

kelompok-kelompok atau organisasi tertentu tetapi juga dalam hubungannya dengan masyarakat secara

keseluruhan.4 Solidaritas yang dimaksudkan menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan

atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang

diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan

kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional karena hubungan-hubungan serupa itu mengandaikan

sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar

kontrak itu.5 Pertanyaannya adalah apa yang menjadi proyeksi dari bentuk solidaritas seperti itu

sehingga bentuk masyarakat yang diproyeksikan dapat terlaksana? Untuk dapat menjawab pertanyaan

ini tentu kita harus melihat terlebih dahulu analisis dari Durkheim mengenai kesadaran Kolektif.

Menurut Durkheim, gejala individu manusia (kemauan, kesadaran, kepentingan individu) hanya

dapat dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar individu. Durkheim menggambarkan

kekuatan eksternal ini sebagai suatu kesadaran kolektif; ikatan sosial bersama yang diungkapkan lewat

ide-ide, nilai-nilai, norma-norma, keyakinan-keyakinan, dan ideologi dari suatu kebudayaan. “Ini lalu

merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut dilihat sebagai

sesuatu yang berada di luar kesadaran individu.”6 Sementara kesadaran kolektif itu dilihat sebagai

sesuatu yang dapat mengendalikan kekuatan-kekuatan individual, ia melihat bahwa dasar itu tentu

berasal dari masyarakat.

Durkheim menguraikan analisisnya terutama penyebab dan akibat melemahnya ikatan kelompok

(dan dengan demikian juga melemahnya kesadaran kolektif) pada individu dalam dua karyanya, The

Division of Labor in Society (1893) dan Suicide (1897). Tujuan dari karya ini adalah untuk menganalisa

pengaruh atau fungsi kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan

perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Singkatnya,

pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur sosial dari

3 Bdk. M. Sastrapratedja, Agama dan Tantangan Masa Kini (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2002), 102. 4 Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi klasik dan modern, 165.

5Ibid., 181.

(4)

4

solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Pembedaan antara solidaritas mekanis dan organik

merupakan salah satu sumbangan Durkheim yang paling terkenal.7

Solidaritas Mekanis

Solidaritas Mekanis adalah “solidaritas yang datang dari homogenitas yang tinggi dalam

kepercayaan, sentimen, dan mencapai titik maksimum ketika kesadaran kolektif sepenuhnya menyelimuti seluruh kesadaran kita.”8 Solidaritas Mekanis terjadi pada masyarakat sederhana masa lalu di mana belum ada pembagian kerja. Masyarakat semacam itu relatif homogen, pria dan wanita terlibat

dalam tugas serta aktivitas sehari-hari yang serupa. Mereka memiliki pengalaman serupa. Dalam

masyarakat seperti itu, beberapa pranata yang berbeda tetap dapat mengungkapkan nilai-nilai dan

norma-norma yang serupa serta cenderung saling menguatkan satu sama lain. Norma-norma, nilai-nilai,

dan keyakinan-keyakinan masyarakat (atau kesadaran kolektif) sedemikian homogen dan menghadapkan

individu pada kekuatan yang begitu besar dan konsisten sehingga hanya ada sedikit peluang dalam

masyarakat seperti itu untuk individualitas dan penyimpangan dari kesadaran kolektif.9

Menurut Durkheim, kebudayaan-kebudayaan tradisional mengalami tingkat integrasi sosial dan

moral yang tinggi sehingga hanya ada sedikit individuasi dan sebagian besar tingkah laku diatur oleh

norma-norma sosial yang biasanya menjadi bagian dari agama. Dengan melibatkan diri dalam

aktivitas-aktivitas dan ritual-ritual yang sama, orang pada masyarakat-masyarakat tradisional memiliki nilai-nilai

moral bersama, yang oleh Durkheim disebut kesadaran kolektif. Dalam masyarakat seperti ini orang

cenderung memandang diri mereka sebagai anggota dari suatu kelompok; kesadaran kolektif melingkupi

kesadaran individual dan hanya ada sedikit peluang bagi pilihan pribadi. Dengan kata lain, solidaritas mekanis didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama yang menunjuk pada “totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama

itu.”10

Solidaritas Organik

Berbeda dengan solidaritas mekanis, kesadaran organik mulai berkembang sebagai hasil dari

pembagian kerja yang bertambah besar. Ketika masyarakat menjadi semakin kompleks,

individu-individu mulai memainkan peranan yang semakin terspesialisasi dan menjadi semakin berbeda dalam

pengalaman sosial, kepentingan-kepentingan, materi, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan mereka.

7 Bdk. Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, 182. 8Ibid., 183.

(5)

5

Individu-individu berada dalam sistem sosio-budaya yang sedemikian berbeda; akan tetapi mereka harus

menjadi semakin bergantung satu sama lain agar dapat bertahan hidup.

Pertumbuhan individualisme hanya dapat berkembang meluas dengan mengorbankan nilai-nilai,

moralitas, keyakinan-keyakinan, dan aturan-aturan normatif bersama dalam masyarakat –

perasaan-perasaan dan keyakinan-keyakinan yang sebelumnya telah dipegang oleh semua. Dengan kata lain.

munculnya individualisme itu merombak kesadaran kolektif yang telah terbangun sebelumnya, yang

pada gilirannya menjadi kurang penting lagi sebagai dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan dengan

saling ketergantungan fungsional yang bertambah antara individu-individu yang memiliki spesialisasi

dan secara relatif lebih otonom sifatnya.11

Dengan mengendornya aturan-aturan dan nilai-nilai bersama, mereka juga kehilangan

kepekaannya akan komunitas atau identitas sebagai kelompok. Ikatan sosial menjadi melemah dan

nilai-nilai sosial serta keyakinan-keyakinan tidak lagi memberikan bimbingan moral yang terpadu atau

mendesak. Individu lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih terbatas dalam

masyarakat luas dan terutama yang lebih menguntungkan bagi setiap individu itu.12 Pertanyaan yang

muncul tentu lebih pada “apakah tindakan ini memenuhi kebutuhan-kebutuhanku? Dan

menguntungkanku?” daripada pertanyaan yang bersifat moral yang membangun masyarakat. Individu

dibiarkan menemukan jalannya sendiri di dunia di mana pilihan-pilihan pribadi bagi tingkah laku telah

berlipat ganda, sementara norma-norma yang kuat dan mendesak serta petunjuk-petunjuk moral telah

melemah. Hasilnya dapat menjadi anomi atau keadaan tanpa arti dan tanpa norma di mana individu

terkatung-katung, putus dari ikatan sosial di mana pengaturan normatif itu dilaksanakan. Suatu bunuh

diripun dapat muncul dalam situasi ini. Karena Durkheim memprihatinkan tingkah laku moral dan

keadilan sosial, maka ia mengalihkan perhatiannya ke studi tentang agama yang dirasakan dapat menjadi

proyeksi kesadaran kolektif yang dapat memunculkan kembali kesadaran kolektif masyarakat.

Agama sebagai proyeksi kesadaran kolektif

Setelah pertanyaan bagaimanakah masyarakat dapat mempertahankan kohesinya muncul dan

melihat kenyataan objektif masyarakat, ia mulai memusatkan telaahnya pada unsur sosial yang

menghasilkan solidaritas dan ia menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan

faktor esensial bagi identitas dan integrasi masyarakat. Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu

pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui

(6)

6

pembentukan sistem kepercayaan dan ritus.13 Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci, Agama

mengikat orang-orang ke dalam berbagai kelompok masyarakat yang terikat satu kesamaan. Ia

merupakan suatu sistem intepretasi-diri kolektif. Dengan kata lain, dapat disimpulkan agama adalah

sistem simbol dengan mana masyarakat menjadi sadar akan dirinya; ia adalah cara khas berpikir tentang

eksistensi kolektif.14 Bagaimanakah sistem simbol itu?

Sistem simbol ini akan berpusat pada martabat manusia sebagai pribadi, kesejahteraan umum, dan

norma-norma etik yang selaras dengan masyarakat modern, rasional, demokratis serta sosialis. Setiap

masyarakat dalam proses menghayati cita-citanya yang tertinggi akan menumbuhkan “kebaktian” pada

representasi diri simboliknya.15 “Tak ada masyarakat yang tidak merasa butuh menegaskan da n

meneguhkan, pada selang waktu tertentu, perasaan kolektifnya dan gagasan kolektifnya yang

menciptakan kesatuan dan kepribadiannya.”16

Agama itu mengekspresikan nilai-nilai terdalam yang ada dalam tatanan sosial. Orang-orang

mengenang saat-saat yang berarti dalam sejarah dan memproyeksikan gambaran simbolik mengenai

masa depan masyarakat. Ia dapat menilai kondisi sosial saat sekarang dengan mengacu pada gambaran

masyarakat ideal sehingga gerakan pembaharuan dapat muncul, demikian ungkap Emile Durkheim

dalam The Elementary Form of Religious Life (1915).

Berangkat dari kajiannya tentang paham totemisme masyarakat primitif di Australia, Durkheim

berkesimpulan bahwa dasar agama yang dapat mempertahankan kekolektifannya meliputi: Pemisahan antara “yang suci” dan “profan”, permulaan cerita tentang dewa-dewa, dan macam-macam bentuk ritual. Dasar dari agama ini ingin mengungkapkan aspek komunitas yang menegaskan arti kebersamaan. Jadi

ada sesuatu yang kekal dalam agama yang berperan untuk melindungi simbol-simbol tertentu yang

mengungkapkan pemikiran keagamaan. Tidak ada masyarakat yang tidak merasa perlu untuk

menegakkan dan meneguhkan secara berkala perasaan-perasaan kolektif dan ide-ide kolektif yang

menciptakan kesatuannya dan kepribadiannya. Agamalah yang menjadi salah satu kekuatan utama yang

membentuk kesadaran kolektif; agama yang mengizinkan individu untuk mengatasi kedirian dan

bertindak bagi kebaikan sosial. Komitmen agama yang bersifat pribadi yang sejajar dengan pertumbuhan

individualisme dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada solidaritas organik menjadi sebuah

proyeksi yang berguna bagi masyarakat modern. Komitmen itu terletak pada bentuk-bentuk

13Ilha Haki , Aga a e urut pa da ga E ille Durkhei dala http://sos-ant.blogspot.com/2009/05/agama-menurut-pandangan-emile-durkheim.html (2010)

14 E. Durkheim, Suicide (New York: Free Press, 1950), 315. 15 Bdk. M. Sastrapratedja, Agama dan Tantangan Masa Kini, 102.

(7)

7

kebersamaan yang menyatukan dan kepedulian pada sesama. Ritual dalam agama bisa menunjukkan

proyeksi komitmen bertemu itu bagi masyarakat.

Penutup

Durkheim, yang hidup pada masa perkembangan Kapitalisme dan Revolusi Industri, telah

memberikan jawaban atas pertanyaan dasarnya, “bagaimanakah masyarakat mempertahankan kohesinya?”. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa dalam masyarakat modern yang cirinya adalah diferensiasi fungsional yang tinggi dan pembagian kerja yang rumit, keharmonisan yang sederhana

mulai terancam dan potensi konflik mulai membesar. Oleh sebab itu, konflik merupakan gejala yang

mendapat perhatian besar dalam rangka memahami gejala harmoni dan faktor-faktor integrasi.

Revolusi Industri dan perkembangan Kapitalisme awal di Eropa Barat pada abad ke-19 ditandai

oleh timbulnya konflik yang memuncak dan kerap kali berakhir dengan revolusi. Ada dua persepsi

mengenai timbulnya konflik pada masa industialisasi yang bersifat kapitalis itu. Pertama konflik timbul

karena persaingan dalam akses terhadap sumber daya dan perebutan manfaat. Dan kedua timbul karena

dampak destruktif kapitalisme terhadap ikatan-ikatan tradisional dan kesepakatan-kesepakat normatif.

Itulah mengapa orang seperti Durkheim kembali menengok kembali pada masyarakat pra-industri untuk

mengetahui sebab-sebab hakiki dari konflik dan harmoni dalam masyarakat, guna mencari dasar-dasar

baru bagi suatu integritas masyarakat modern.17

Dengan melihat pada latar belakang industrialisasi, perkembangan kapitalisme dan proses

terbentuknya masyarakat modern, agama dalam tradisisi pemikiran sosiologi, tidak bisa dipersepsikan

sebagai sumber konflik. Agama adalah sebagai sistem simbolik, sistem sosial yang berhadapan dengan

proses-proses dalam masyarakat. Di dalam proses itu, Agama memang mengalami disintegrasi. Dalam

proses disintegrasi itu timbul konflik. Tetapi sumber konflik itu bukanlah agama melainkan proses

terbentuknya masyarakat ekonomi baru yang menimbulkan persaingan (masa transisi), sebagai suatu

bentuk konflik yang telah direduksi menjadi konflik yang terkendali, berdasarkan kerangka aturan main

yang disepakati. Dengan perkataan lain bahwa agama adalah penerima dampak dari proses perubahan.

Persoalan yang timbul dari perebutan sumber daya akan menyeret agama ke dalam suatu konflik,

apabila agama dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh sebab itu, sangat kelihatan

jelas bahwa isu-isu yang berbau agama, akan membuat sesuatu menjadi konflik besar. Isu agama sangat

sensitif dan itu biasanya dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk melegitimasi kehendak kelompoknya.

(8)

8

Isu keagamaan menjadi sangat sensitif karena setiap kelompok mengidentifikasikan dirinya pada suatu

agama dan bila isu itu dimunculkan, setiap kelompok pasti akan membela agamanya dan segera

bergerak untuk membela. Ada banyak unsur yang kadang kala melatarbelakangi konflik antaragama

sendiri.

Dalam pembicaraan mengenai agama sebagai faktor integratif dan pencipta harmoni, tersembunyi

suatu asumsi tertentu mengenai konflik. Dalam konteks ini konflik dilihat sebagai gejala patologis yang

tampak sebagai suatu penyakit dalam masyarakat. Pandangan positif mengenai agama sebagai kekuatan

integratif, seperti yang tercermin dalam teori Durkheim, bertolak dari asumsi ini, Durkheim bersifat

pesimistis dalam melihat kedudukan dan peran agama dalam masyarakat modern. Karena itulah, maka ia

berusaha mencari substitusi agama yang ia temukan dalam ideologi sosialisme, terutama sosialisme

gilda (guild sosialism). Menurut analisis Durkheim, sosialisme adalah merupakan protes kaum pekerja

terhadap situasi disintegrasi yang terjadi pada ikatan-ikatan sosial dan sistem tradisional dan bukannya

perjuangan untuk menghapus institusi hak milik pribadi. Pemberontakan timbul karena situasi anomi,

keadaan tanpa arti. Negara sebagai produk modernitas, sebenarnya dimaksudkan sebagai substitusi

terhadap institusi agama. Sebagaimana halnya agama, maka negara juga menciptakan obyek-obyek suci

yang berusaha mengikat individu melalui upacara-upacara repetitif sebagai bentuk ritual baru. Hari-hari

besar untuk diperingati; pahlawan, kuburan para pemimpin negara, museum, patung-patung, tugu-tugu,

bendera kebangsaan, dan lembaga negara itu perlu dijaga kesakralannya sendiri. Upacara- upacara yang

dilakukan negara dengan khidmat dan secara religius. Upacara –upacara dimaksudkan untuk membentuk

referensi spiritual mengikat individu dalam solidaritas mekanis dan menimbulkan komitmen nilai yang

telah ditetapkan oleh negara.

Ada kalanya negara modern membentuk suatu ideologi nasional yang mewadahi nilai-nilai luhur

yang dirumuskan sebagai kesepakatan. Ideologi nasional itu tidak saja memberikan makna, tetapi juga

merupakan pedoman tingkah laku. Dengan ideologi, setiap warga negara tidak saja diharapkan patuh

kepada pimpinan nasional atau aturan birokrasi, melainkan juga bertindak dengan sikap mengabdi tanpa

kehilangan keunikan diri. Di sinilah terjadi integrasi penuh antara agama dengan negara.

Agama yang masih dapat mempertahankan perhatiannya pada “Yang Lain” yang penampakkannya memanggil untuk bertanggungjawab padanya masih dapat dijadikan proyeksi bagi kesadaran kolektif

masyarakat. Ia masih dapat mengusik dan memperingatkan keindividualan dalam masyarakat.

Sebaliknya, Keindividualan atas nama agama hanya akan membawa batu sandungan bagi masyarakat

(9)

9 Daftar Pustaka

Durkheim, Emmile. The Division of Labor in Society. New York: Free Press, 1964.

Durkheim, Emmile. The Elementary Form of Religious Life. New York: Free Press, 1965.

Durkheim, Emmile. The Rules of Sociological Method. New York: Free Press, 1964.

Paul Johnson, Doyle. Teori Sosiologi klasik dan modern, diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang.

Jakarta: Gramedia, 1986.

Sastrapratedja, M. Agama dan Tantangan Masa Kini . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma,

2002,hlm 102-103.

Hari Kustanto, J. B. “Kesadaran Kolektif: Mekanis” dalam presentasi Sosiologi Agama, 2011

Hakim, Ilham. “Agama menurut pandangan Emille Durkheim” dalam

Referensi

Dokumen terkait

Hambatan yang terjadi pada kegiatan pendidikan agama Islam bagi narapidana Muslim di lembaga pemasyarakatan Panyabungan yaitu kurangnya kesadaran narapidana dalam mengikuti

Pandangan Durkheim tentang agama terpusat pada klaimnya bahwa agama adalah ”sesuatu yang amat bersifat moral”.. Sumber agama adalah masyarakat itu sendiri yang akan menilai

Di dalam budaya hukum masyarakat dapat pula dilihat apakah masyarakat kita dalam kesadaran hukumnya sungguh-sungguh telah menjunjung tinggi hukum sebagai suatu aturan main dalam

Strategi guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan kesadaran berpakaian siswa di SMK PGRI 1 Tulungagung ……….... Strategi guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan

Satu dari yang paling menjadi sorotan dalam hubungan berbagai agama saat ini di Rusia adalah kesadaran tentang phobia agama dalam masyarakat terhadap interaksi gerakan keagamaan baru

Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan

Dengan melihat hal tersebut, adapun tujuan dalam penelitian ini ialah untuk menciptakan kesadaran kolektif masyarakat Toraja di tengah pandemi covid 19 yang

Dengan demikian, kesadaran pendidikan agama anak adalah 4835 : 6000 = 0,805 atau 81% dari kriterium yang ditetapkan dapat disimpulkan bahwa kesadaran pendidikan agama anak sangat tinggi