• Tidak ada hasil yang ditemukan

P DAN LSM DAN NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "P DAN LSM DAN NEGARA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

P

LSM DAN NEGARA

Philip Eldridge

Tulisan ini akan menguraikan sejumlah peran yang dimainkan LSM, dan menunjukkan tiga model yang tampaknya menjadi karakteristik keseluruhan orientasi mereka dalam berhadapan dengan struktur negara. Sejumlah organisasi akan dibicarakan dalam kaitannya dengan kerangka ini. Potensi akan pengembangan jaringan kerja dan pembentukan koalisi antara sejumlah corak LSM dan dampak yang mungkin akan ditimbulkannya terhadap struktur makro akan pula ditelaah secara singkat di bagian akhir tulisan ini.

ertama-tama, penting untuk menawarkan sejumlah justifikasi prima

facie guna menunjukkan bahwa LSM

memang memiliki signifikansi politik.

Selama ini, hampir semua LSM cenderung mengadopsi profil yang menekankan karakter non-politik. Walaupun cara berpijak seperti itu dapat dilihat sebagai langkah politik yang bijaksana dalam konteks Indonesia, itu juga merefleksikan nilai-nilai yang sangat berakar, yakni konsep tentang masyarakat dan negara yang merembes ke dalam diskursi tentang “gerakan LSM” tidak hanya di Indonesia melainkan juga di banyak negara lain, baik di Dunia Ketiga maupun negara-negara barat. Arief Budiman mencatat bahwa “LSM telah menjadi saluran absah bagi partisipasi sosial dan politik yang sebelumnya telah dibendung oleh pemerintah”, namun menilai bahwa “…hanya sedikit dari mereka yang memformulasikan ide-ide politik”.1 Pernyataan ini benar di permukaan, walaupun di masyarakat manapun kita akan dengan mudah menjumpai kelompok-kelompok yang bertindak dengan basis ide-ide yang sangat kabur dan terartikulasi secara parsial namun terbukti memiliki dampak politik. LSM, pada khususnya, akan cenderung lebuh menyukai “aksi” daripada “teori”. Lebih jauh lagi, bila memang mereka telah berhasil menjadi sebuah saluran absah partisipasi politik, maka keberhasilan itu pasti berasal, paling tidak dalam derajat tertentu, dari aksi politik kreatif yang mereka lakukan.

Pada pemikiran politik Barat, paling tidak, politik berkaitan sepenuhnya dengan negara. Namun demikian tampaknya diakui bahwa tidak ada batas-batas yang kaku dan diterima secara luas yang dapat ditarik untuk memisahkan konsep “masyarakat” dan “negara”. Bila keduanya didefinisikan sebagai

1 Wawancara dalam Inside Indonesia, No. 17, Desember 1988, hal. 2-4.

mencakup totalitas kehiduapan sosial dan politik, maka proporsi semacam itu tampak tautologis. Bila negara didefinisikan secara lebih sempit sebagai sekedar aparat ‘negara’, pembedaan tersebut tetap tak dapat dengan begitu mudah dihilangkan. Sementara pemerintah dan masyarakat sipil, dalam arti wilayah ekonomi, sosial dan komunitas, berinteraksi di semua tahap, tidak dengan sendirinya masyarakat sipil tidak memiliki otonomi dalam mengartikulasikan nilai-nilai, melakukan kontrol terhadap sumberdaya dan kapasitas untuk mengatur diri sendiri (self-management).

Dalam konteks pembangunan Indonesia, pengertian kedua konsep tersebut, negara dan

bangsa, telah mencakup keseluruhan

masyarakat sipil. Kenyataan dan kekuatan dari ideologi negara totalistik yang disertai mekanisme sosialisme dan kontrol yang semakin canggih tentunya tidak dapat diingkari. Namun masih tersedia ruang bagi perbedaan, sebagaimana masih dapat dipertanyakan seberapa jauh totalitas itu dapat melenyapkan peluang bagi formasi sosial independen serta artikulasi nilai-nilai alternatif. Masih pula diragukan tingkat keseragaman pemahaman organ-organ pemerintah dalam mengimplementasikan cetak biru nasional atau kesamaan pola penanganan mereka pada saat berhadapan dengan kelompok-kelompok non pemerintah.

(2)

langsung, namun bisa juga sebaliknya. Penamaan “politik” disini tentu tidak harus diberikan hanya pada aktivitas yang dirancang untuk berkonfrontasi dengan struktur politik atau memperoleh tampat dalam kekuasaan pemerintah. Sejauh bahwa LSM meningkatkan kapasitas bagi self-management di kalangan kelompok-kelompok terbelakang, melengkapi kelompok-kelompok tersebut dengan kemampuan untuk berurusan dengan badan-badan pemerintah dan kekuatan-kekuatan lainnya secara lebih setara, pada dasarnya mereka berperan dalam meningkatkan kemampuan masyarakat sipil vis-a-vis negara.

Derajat otonomi tersebut tentu harus dipandang dalam batasan relatif, terutama dalam konteks Indonesia. Semua kelompok harus mengupayakan sejumlah modus vivendi dengan pemerintah. Banyak kontradiksi lahir dari usaha mengkombinasikan mobilisasi kelompok-kelompok untuk menuntut hak dan pelayanan dengan ketergantungan pada pemerntah dalam hal dukungan dan perlindungan. Seperti akan kita lihat, sejumlah kelompok berusaha untuk mengatasi kontradiksi ini dengan berkooperasi dalam program-program resmi pemerintah, sementara jumlah lainnya justru tetap menjaga jarak.

LSM memiliki dampak langsung terhadap negara melalui pengaruhnya terhadap proses pembentukan kebijaksanaan pemerintah dan opini publik di berbagai sektor. Namun sebagian besar dari mereka menyadari bahwa tujuan untuk menanamkan posisi dalam struktur negara sebagaimana yang berusaha dicapai struktur partai dan kuasi-partai konvensional akan bertentangan baik dalam arti ideologi maupun praktek, dengan tujuan lebih luas untuk membangun struktur masyarakat otonom. Ini merefleksikan ketidakpastian umum tentang hubungan antara kegiatan di tingkat mikro dan makro, terutama dalam kaitannya dengan pembentukan koalisi.2

TERMINOLOGI

2 Philip Eldridge, “The Political Role of Community Action Groups in India

and Indonesia: In Search of a General Theory”, Alternatives, Vol. X, No. 3, hal. 401-434.

Retorika LSM sebagai gerakan ‘non-politis’ bisa menjadi sangat membingungkan sebagaimana banyak peran mereka yang dipaparkan di atas memiliki signifikansi politik yang nyata. Sebuah keputusan taktis diambil pada tahun 1983, yakni meninggalkan penggunaan kata Non Governmental

Organization (NGO) untuk kemudian

digantikan dengan istilah Lembaga Swqadaya Masyarakat/ Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LSM/LPSM). Diargumentasikan bahwa kata NGO dapat secara mudah ditafsirkan sebagai ‘anti-pemerintah’. Sebaliknya, swadaya mengandung dimensi penentuan-diri-sendiri (self-determination) yang memang menjadi sifat dasar mereka, dan pada saat yang sama terasa lebih berakar dalam sejarah dan kebudayaan bangsa. Dalam prakteknya, istilah NGO tetap banyak digunakan, baik karena kelaziman penggunaannya secara internasional maupun karena menekankan identitas pembeda dari pemerintah

PEMBANGUNAN DAN MOBILISASI

Dalam kurun 70-an, terdapat perhatian yang meningkat dalam usaha pengembangan masyarakat (community development) oleh NGO, sebagai bagian dari kritik terhadap ‘ketidakmerataan pembangunan’ dan pencarian strategi ‘alternatif’ atau ‘kebutuhan pokok’ yang dapat menguntungkan secara lebih langsung mayoritas kaum miskin. Umumnya LPSM/LSM menyelenggarakan program-program pembangunan berskala kecil di berbagai bidang seperti irigasi, air minum, pusat kesehatan masyarakat, pertanian, peternakan bersama-sama dengan program-program yang meningkatkan penghasilan seperti kerajinan tangan. Pendidikan non-formal juga memainkan peranan penting. Akar aktivitas semacam itu dapat dilacak kembali pada kurun 1950an dan menunjukkan sejumalah kesamaan dengan gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan dimasa sebelumnya.

(3)

dan memobilisasi masyarakat dalam berbagai isu bercakupan luas yang berkaitan dengan ekologi dan hak asasi manusia, termasuk didalamnya persoalan status wanita, hak kaum tani, buruh tani serta gelandangan terutama dala hubungannya dengan kasus-kasus penggusuran dan perampasan tanah. Kegiatan dalam corak yang disebutkan tadi dapat dikategorikan sebagai berorientasi terhadap ‘pembangunan’, sementara corak yang kedua dapat disamakan berorientasi pada ‘mobilisasi’, kendatipun tentu kedua aspek tersebut berkaitan.

‘Mobilisasi’ jenis ini telah tumbuh menjamur di banyak negara dunia ketiga sejalan dengan semakin menguatnya dominasi struktur kekuasaan di negara-negara tersebut, yang terlihat melumpuhkan aktivitas-aktivitas pengembangan masyarakat yang lebih konvensional. Di Indonesia, pergeseran ini terjadi bersamaan dengan perubahan arah strategi kaum aktivis mahasiswa, yang berkaitan dengan kebangkitan kembali gerakan kelompok-kelompok islam baik di bidang politik dan sosial dalam kurun 1970an. Dibandingkan dengan India, dimana perbedaan antara corak gerakan ‘pembangunan’ dan ‘mobilisasi’ lebih tajam diartikulasikan, LSM-LSM Indonesia telah menunjukkan kecakapan yang memadai dalam mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut.3 Dengan kuatnya tingkat

pengontrolan negara terhadap bentuk-bentuk protes yang nyata, LSM di Indonesia lebih memilih untuk bergerak di bawah payung slogan-slogan pembangunan pemerintah sambil pada saat yang sama mendefinisikan kembali slogan-slogan tersebut ke dalam pengertian paradigma yang lebih berorientasi ke arah struktur partisipatif dan bentuk-bentuk pengembangan masyarakat yang demokratis.

Berdasarakan pengalaman, keterlibatan dalam program-program pembangunan berskala kecil setelah satu jangka waktu, tetap membawa LSM/LPSM pada posisi yang mengharuskan mereka menyuarakan tuntutan perubahan kebijkasanaan pada pemerintah. Dan tatkala tuntutan seperti ini tidak memperoleh perhatian atau tidak diimplementasikan, kebutuhan akan

3Ibid,. hal. 414-417

mobilisasi masyarakat yang lebih luas menjadi lebih nampak. Sebaliknya upaya untuk memobilisasi masyarakat di sektor isu lingkungan hidup, perlindungan hukum, kondisi perburuhan, serta isu-isu struktural lainnya akan juga tergantung pada kelangsungan program-program yang mampu menghasilkan pemasukan dana yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan hidup minimal mereka.

Banyak kelompok telah mengenali potensi yang dikandung koperasi dalam mengintegrasikan tujuan-tujuan pembangunan dan mobilisasi, dalam bentuk bahwa kehadiran institusi tersebut dapat mengatasi posisi lintah darat, meningkatkan pemasukan sektor informal dan masyarakat desa, memperkuat organisasi masyarakat dan kemandirian, serta menawarkan sebuah model yang berbeda dari tatanan nilai kapitalis maupun sosialis. Dari segi taktik, pengembangannya memungkinkan semacam perlindungan dan keabsahan umum dalam berhadapan dengan negara. Di beberapa tahun terakhir ini, nampak peningkatan berarti baik dalam jumlah koperasi yang resmi terdaftar maupun yang memiliki struktur informal.

HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH DAN

LINGKUP KEGIATAN LSM

(4)

Meskipun terjalin kerjasama, pemerintah tetap berusaha mencegah bangkitnya keterlibatan masyarakat yang didasarkan pada kelompok-kelompok yang secara murni mengandalkan kekuatan sendiri. Satu cara yang ditempuh pemerintah untuk menetralisir kekuatan LSM adalah dengan menciptakan struktur paralel yang bertujuan memobilisasi kelompok-kelompok sasaran seperti pemuda, petani, dan wanita. Dalam kenyataannya, organisasi-organisasi bentukan pemerintah ini pada umumnya sekedar menjadi wadah kosong yang tak didukung masyarakat. Walaupun penting sebagai sarana kontrol politik, pengandalan yang berlebihan terhadap berbagai ‘kelompok fungsional’ adalah counter productive terhadap pemecahan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang semakin menghimpit dan semakin memperoleh perhatian pemegang keputusan dalam spectrum yang lebih luas, kontradiksi ini tampaknya cukup mendasar dalam memahami perdebatan semi public tentang’ partisipasi’ dan ‘keterbukaan’ politik yang menghangat di Indonesia dewasa ini. Anjloknya harga minyak sejak 1985 telah mengeringkan sumber dana yang dikuasai pemerintah.Walaupun LSM tetap dituntut untuk bersikap ‘low profile’ untuk menghindari tujuan meremehkan martabat bangsa, kapasitas mereka untuk memobilisasi dana asing telah memperkukuh pijakan mereka dalam berhadapan dengan pemerintah Indonesia. Bank Dunia serta sejumlah negara donor utama secara berkelanjutan berusaha melibatkan organisasi-organisasi masyarakat ke dalam program pembangunan pemerintah yang mereka biayai. Dengan demikian LSM-LSM Indonesia telah semakin menempati peran penengah dalam perancangan program, dalam mengidentifikasi dan memobilisasi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan serta menyalurkan dana untuk kelompok-kelompok tersebut. Mereka memanfaatkan peluang ini untuk mengidentifikasikan diri dengan slogan-slogan’ liberalisasi’ dan ‘de-birokratisasi’ yang berhubungan dengan strategi ekonomi terakhir. Sementara kebijaksanaan

4Rajni Kothari, “NGOs, The state and world capitalism” , economic and

political weekly, vol. XXI, No. 50, 13 Desember 1986, Hal. 2177-2182.

pemerintah, seperti yang ditunjukkan dengan UU keormasan tahun 1985, mengenakan control yang lebih besar terhadap LSM, meningkatnya pengaruh internasional melalui bantuan dana asing hampir dapat dipastikan akan melumpuhkan dampak pengetattan tersebut pada mereka.

Tentu saja, motivasi perubahan arah kebijaksanaan seperti yang dilakukan badan donor internasional tersebut masih terbuka untuk dipertanyakan. Terdapat dugaan, misalnya bahwa LSM pada kondisi ini sekedar menjadi alat yang dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi baru penetrasi kapitalis kedalam wilayah-wilayah pinggiran yang belum terjamah di seluruh dunia ketiga. Proses ini akan meningkatkan tekanan untuk mengkooptasi LSM-LSM besar kedalam struktur negara korporasi dalam aliansi dengan agen-agen capital internasional seperti bank dunia. Struktur ‘ fleksibel’ yang dimiliki LSM-LSM ini menyediakan sarana yang memungkinkan untuk menghindari kontrol birokratik berlebihan terhadap modal, dan pada saat yang sama melancarkan tanggungjawab publik.4 Tentu saja anlisis seperti itu dapat terlihat membesar-besarkan sifat monolitik badan-badan internasional. Apapun motivasi yang mendasarinya konflik dengan pemerintah Indonesia mengenai isu-isu yang berkaitan dengan ‘liberalisasi’ dan ‘de-birokratisasi’ akan meningkatkan ruang manuver LSM.

(5)

tampaknya akan melenyap hanya melalui proses yang sangat lambat. Adalah penting untuk mengembangkan sumber dana alternatif yang akan memungkinkan LSM/LPSM mempertahankan keabsahan nasional untuk jangka waktu yang lama.

LSM DAN TUJUAN DEMOKRATISASI

Walaupun saya tidak memiliki bukti sistematis tentang nilai dan aspirasi berbagai kelompok komponen yang secara bersama-sama membentuk “gerakan LSM”, namun tidaklah dapat diasumsikan bahwa komitmen terhadap hak asasi dan partisipasi demoktatik dengan sendirinya harus diterjemahkan sebagai hasrat untuk menyelenggarakan restorasi kea rah demokrasi bergaya Barat di Indonesia. Nilai-nilai kooperatif yang secara implisit bersifat antitesis terhadap sifat kompetitif partai-partai politik turut berperan dalam menentukan etos keseluruhan LSM/LPSM. Ini tidak membawa implikasi pada penerimaan terhadap pengekangan oleh negara baik terhadap organisasi politik maupun kebebasan pribadi.Tradisi voluntarist dimana mereka bergerak sangat menghargai kebebasan individual. Namun demikian orang dapat menangkap adanya dukungan mendasar terhadap ide-ide pancasila bahkan dalam sepanjang pernyataan Petisi 50 pada 1980, yang melontarkan kritik tajam terhadap usaha pemerintah untuk memonopoli interprestasi terhadap dasar negara tersebut. Analisis ini, bila dapat diterima, menempatkan isu keseimbangan kooperasi dan otonomi struktur negara dalam perspektif yang lain. Interpretasi murni baik dari teori demokrasi ortodoks dan prinsip-prinsip teori yang menempatkan partisipasi masyarakat sebagai prasyarat dalam pembuatan keputusan cenderung akan mengukur otonomi dalam arti diferensiasi yang tajam antara struktur pemerintah dan masyarakat. Pembedaan seperti ini adalah kurang realistis dalam konteks kebudayaan Indonesia, karena disini struktur formal dan informal seringkali bertumpang tindih, terutama dilingkup lokal. Ideologi negara sendiri, Pancasila menekankan proses musyawarah dan mufakat.

Dengan demikian, isu tersebut mungkin lebih bermanfaat ditempatkan dalam mempersoalkan pilihan antara musyawarah bergaya hirarkhis atau berbasis luas, disamping menjajagi lingkup potensial informalitas didalam struktur pemerintah yang dapat dikuak oleh LSM/LPSM. Walaupun dipihak lain, tingginya tingkat informalitas yang diadopsi LSM/LPSM dalam bentuk struktur organisasional mereka yang dipercaya sebagai persyaratan untuk keberlangsungan hidp, dapat pula menyulitakan berkembangnya struktur demokratis yang memiliki landasan hokum kukuh, di tingkat lebih rendah. Ini pada gilirannya akan mengekakalkan ketergantungan mereka pada kehadiran tokoh-tokoh yang progresif dan berpengaruh.

Barangkali keberhasilan utama dari LSM-LSM Indonesia di tingkat makro adalah kemampuan mereka mengangkat isu-isu yang lahir dari pengalaman lapangan ke tingkat yang lebih bergaung dalam agenda politik nasional. Pada sepuluh tahun terakhir, agenda ini telah menjadi semakin membengkak dan dalam, sejalan dengan bertambahnya jumlah LSM yang terlibat dan meluasnya segmen birokrasi yang terkena terpaan ide-ide tersebut. LSM/LPSM juga telah melakukan aksi refleksi dan mengartikulasikan keprihatinan yang lebih umum terhadap ekologi, dengan persoalan-persoalan hak asasi dan demokratisasi memperoleh perhatian lebih besar, walau tetap terbatas, dikalangan kelas menengah. Namun demikian, pemerintah Indonesia tetap belum siap untuk mentolerir mobilisasi massa. Terlepas dari pengaruh pemerintah, komunitas LSM Indonesia masih harus mengartikulasikan secara lebih jelas tujuan mereka, dibandingkan dengan India dimana strategi empowerment dan model coaltion building lebih memasyarakat walaupun juga masih harus menapaki jalan yang panjang untuk mencapai sasaran yang diharapkan.

STATUS HUKUM LSM/LPSM

(6)

otonomi LSM/LPSM.5 Sejauh ini, paling tidak, kekhawatiran tersebut belum terbukti dan komunitas LSM pun merasa yakin bahwa ancaman yang terkandung di dalam UU tersebut, yang sama sekali tidak baru bagi mereka, dapat dihindari.

Pengaturan yang dikenakan terhadap LSM sebelum 1985 ditujukan terhadap penyaluran dana asing, dengan LSM-LSM lokal sebagai pihak yang paling terpengaruh karena ketergantungan mereka pada bantuan asing tersebut. Pada tahun 1973 lembaga-lembaga donor luar negeri diwajibkan menandatangani perjanjian yang mencakup tujuan-tujuan umum serta prosedur operasi dengan departemen pemerintah terkait. Proses tersebut dikoordinasikan oleh sebuah komite di bawah Sekkab (Sekretaris Kabinet).6 Peraturan-peraturan ini, yang sebagian merupakan hasil samping dari konflik antara badan-badan intelijen, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Sosial, menandai awal kebangkitan LSM/LPSM.7

Implementasi peraturan itu tak pernah berhasil dilaksanakan sepenuhnya. Dalam prakteknya, umumnya, atas dasar keberhati-hatian, menandatangani berbagai persetujuan formal yang disyaratkan, namun dalam pelaksanaannya keketatan persyaratan tersebut tak harus dipenuhi pada setiap tahap. Laporan periodik beserta pertanggungjawaban keuangan kepada Sekkab umumnya telah dianggap memadai. Situasi ini pada dasarnya tidak berubah setelah dikeluarkan UU Keormasan. Namun betapapun tidak besarnya dampak yang selama ini terlihat, hadirnya peraturan tersebut telah menempatkan organisasi-organisasi sosial Indonesia sebagai obyek peraturan dengan potensi pengaruh yang besar, sementara sebelumnya satu-satunya persyaratan hokum yang harus dipenuhi hanyalah pendaftaran diri di notaris sebagai yayasan, yang memungkinkan badan

5Lihat misalnya, Ben Witjes, “The Indonesian law on Social Organisation”,

October-November 1986 (Studi Internal bagi NOVIB, Nijmegen, Belanda).

6 Peraturan Tentang Kerjasama dan Bantuan Teknik Luar Negeri,

September 1973, Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud. Philip J. Eldridge,

Indonesia and Australia: The Politics of Aid and Development Since 1966.

Canberra, Australia National University, Development Studies Centre Monograph, No. 18, 1980, hal. 140-147.

pengelola merancang komposisi anggota dan badan pelaksana secara sangat leluasa.

Sebagian besar perdebatan publik tentang UU keormasan berpusat pada persyaratan untuk menempatkan Pancasila dalan AD/ART mereka sebagai azas tunggal yang mengerahkan segenap aktivitas mereka. Pemerintah Orde Baru memang telah menggunakan Pancasila sebagai instrument untuk menekankan konformitas ideologis. Organisasi-Organisasi Islam, terutama, telah banyak menyuarakan kekhawatiran terhadap Undang-Undang tersebut. Namun demikian, mengingat Pancasila secara historis terbuka terhadap interprestasi yang demokratik dan pluralis, sebagian besar LSM/LPSM bersikap yakin bahwa pengaturan ini tak akan mencabiut mereka dari karakter dan fungsi dasar mereka. Perhatian LSM/LPSM sendiri lebih ditumpukan terhadap berbagai ketentuan terinci mengenai pengaturan dan ‘pengarahan’yang membayangi UU ini beserta rangkaian peraturan organiknya.8

Masih banyak pertanyaan yang menggantung tentang bagaimana kemasyarakatan didefinisikan. Para juru bicara LSM umumnya menilai bahwa hanya organisasi massa seperti partai politik, organisasi mahasiswa dan pemuda, serta serikat buruh yang terkena. Peraturan itu sendiri mengacu pada ‘organisasi kemasyarakatan’, yang menunjuk pada konteks masyarakat yang lebih luas. Namun ketiadaan keanggotaan formal pada LSM memang memberikan dasar pengecualian yang lebih kuat.

UU Keormasan memungkinkan pemerintah untuk menindak keras organisasi-organisasi yang aktivitasnya dinilai mengancam stabilitas dan kesatuan nasional.9 Namun demikian, ini

hanyalah memformalkan kekuatan yang dimiliki pemerintah vis-à-vis segenap jenis organisasi sepanjang periode Orde Baru. Rangkaian ketetapan yang lebih rinci diadakan bagi pengarahan teknis oleh berbagai Departemen terkait serta bagi

7 Philip J. Eldridge, Indonesia and Australia: The Politics of Aid and

Development Since 1966. Canberra, Australia National University, Development Studies Centre Monograph, No. 18, 1980, hal. 140-147.

(7)

‘pengarahan umum’ melalui struktur Departemen Dalam Negeri. Namun demikian, sejalan dengan masih kaburnya pola pertanggungjawaban, LSM/LPSM tetap memiliki keleluasaan untuk memperoleh simpati dan perlindungan dari dalam birokrasi, mengupayakan penataan adhoc bersama pejabat lokal dengan formalitas hukum seminim mungkin.

OTONOMI VS KOOPTASI: UPAYA

PENCARIAN MODEL

Terdapat tiga jenis umum pendekatan yang dilakukan berbagai LSM/LPSM dalam hal penjalinan hubungan dengan pemerintah Indonesia, sebagaimana diindikasikan matriks (tabel 1.) berorientasi pada aktivitas yang tergolong murni karitatif. Selain itu diasumsikan pula bahwa oposisi terbuka terhadap pemerintah

10 Akronim dari “Government Organised Non-Government Organisation:.

Contoh yang tepat dari GONGO adalah Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, yang didirikan tahun 1969 oleh Departemen Tenaga Kerja. Di dalam dewan kepengurusannya, duduk para wakil Departemen Tenaga Kerja dan

sama sekali tidak mendapat tempat dalam kondisi Indonesia saat ini.

Pendekatan pertama, berlabel ‘Kerjasama Tingkat-tinggi : Pembangunan Akarrumput’, menekankan kerjasama dalam program-program pembangunan pemerintah dengan menyusupkan pengaruh terhadap rancangan maupun implementasi program-program tersebut. Kendatipun LSM-LSM dalam kategori ini menjalin hubungan kerjasama yang erat dengan berbagai badan pemerintah dan pejabat terkait, mereka tidak menunjukkan ketertarikan untuk mengubah atau merambah lebih jauh ke dalam proses politik itu sendiri; mereka membatasi diri pada upaya untuk mempengaruhi kebijakan melalui badan-badan pemerintah yang secara langsung berkepentingan. Pendekatan serupa mereka jalankan pada saat berhadapan dengan penguasa-penguasa lokal, cara yang dipandang paling efektif untuk mempertahankan otonomi mereka maupun otonomi kelompok-kelompok lokal yang merupakan rekan kerja mereka. LSM model ini pada umumnya berangkat dari kelompok-kelompok kecil berorientasi lokal yang perkembangnnya menjadi organisasi dengan program berskala besar cenderung tercipta secara kebetulan dan bukannya melalui perjalanan terencana. Mereka umumnya tetap sangat menyadari pentingnya menjalin jaringan ‘akarrumput’ yang efektif yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai GONGOS.10 Pendekatan kedua disebut sebagai ‘Politik Tingkat Tinggi: Mobilisasi Akarrumput’. Berbeda dengan pendekatan pertama, yang terutama berangkat dari arus utama teori social

work, pendekatan kedua merupakan

pengembangan gagasan berdasarkan kerangka berpikir teori sosial radikal, yang digabung dengan kritik lebih luas terhadap falsafah dan praktek Orde Baru. Sambil mempromosikan ‘peningkatan kesadaran’ dan kapasitas self management di kalangan kelompok-kelompok sasaran, mereka juga mengupayakan status hukum dan perlindungan terhadap kelompok-kelompok tersebut dalam berhadapan dengan aparat

(8)

pemerintah tingkat bawah serta kelompok kepentingan lainnya melalui berbagi lobi dengan pejabat pemerintah di tingkat pusat. LSM/LPSM dalam kategori ini pada umumnya tidak melibatkan diri dalam program-program pembangunan yang diselenggarakan pemerintah walaupun sebagian menjalankan penelitian atas nama pemerintah-misalnya di bidang lingkungan hidup. Mereka menempati peran pembela masyarakat baik dalam mengupayakan perlindungan dan ruang gerak bagi mobilisasi lokal maupun pada saat bereaksi terhadap isu-isu kebijaksanaan yang berkaitan dengan wilayah perhatian mereka. LSM/LPSM dalam kategori ini pada umumnya memiliki hubungan baik, bila bukan pengaruh, terhadap jaringan militer dan birokrasi serta memantau secara seksama perkembangan politik di Jakarta. Di pihak lain, sejalan dengan kecenderungan untuk menjalin hubungan melalui jaringan sosial yang kuat berlandaskan Islam, beragam formasi kelompok kecil yang mereka sponsori dapat dipandang sebagai penyediaan dukungan infrastruktur informal bagi aktivitas tingkat tinggi yang berorientasi politik.

Fokus kegiatan kelompok ketiga lebih berada di tingkat lokal daripada nasional. Konsep mobilisasi mereka lebih menekankan ‘peningkatan kesadaran’ (consciousness raising) dan kesadaran akan hak, daripada upaya mengubah kebijaksanaan, sambil mengupayakan formasi kelompok otonom tanpa pretensi politis tertentu. Walaupun tetap berusaha mencari posisi hukum dan birokratik yang menyebabkan mereka bisa beroperasi, mereka umumnya menjalani kontak minimal dengan badan-badan pemerintah. Dalam pandangan pendekatan ini, perubahan sosial dan politik kurang bergantung pada ‘persuasi’ dan perubahan kebijaksanaan oleh pemerintah melainkan lebih pada hadirnya kelompok-kelompok mandiri dengan keyakinan bahwa pada waktunya kelompok-kelompok ini akan melahirkan sebuah gerakan masyarakat yang kuat meskipun tidak terstruktur secara informal. Dengan memperkuat hubungan tatap muka dan bukan hubungan organisasi secara formal, mereka juga cenderung untuk meminimalkan keterlibatan mereka dalam tatanan jaringan berskala besar. Pendekatan

ini dapat disebut sebagai ‘Penguatan Akarrumput’.

(9)

orientasi pada perubahan struktural atau bahkan terhadap pengupayaan pergeseran kontrol didalam sistem yang tengah berjalan. Sebaliknya, LSM Model 2 berinteraksi secara erat dengan para pengambil keputusan dalam usaha untuk mempengaruhi, membujuk atau bahkan bila perlu menantang mereka untuk menempuh arah yang diinginkan. Kapasitas untuk melakukan itu akan tergantung pada derajat kekuatan dukungan masyarakat yang berhasil digalang melalui proses formasi kelompok yang mereka sponsori. Meskipun terdesentralisasi dan tidak memiliki batasan-batasan yang baku, basis dukungan tersebut dapat dipandang sebagai kuasi-partai. Dalam konteks bahwa kelompok-kelompok Islam menempati posisi penting di antara LSM-LSM model 2 tersebut, Pendekatan ini dapat pula dipandang sebagai sebuah varian baru dari politik aliran.11

Harus ditekankan bahwa kendatipun terdapat serangkaian perbedaan, LSM-LSM Indonesia memiliki secara bersama sejumlah karakteristik tertentu. Pertama adalah orientasi mereka terhadap penguatan kelompok-kelompok masyarakat sebagai basis dari tumbuhnya sebuah masyarakat yang sehat dan sebagai kekatan penyeimbang terhadap pemerintah. Ini berkaitan dengan sebuah pencarian kreatif terhadap pola-pola baru formasi kelompok untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan sosial yang terus berubah serta mengatasi struktur keterbelakangan dan ketidakberdayaan yang terus berkembang. Kedua adalah komitmen yang umumnya kuat terhadap ide-ide partisipasi masyarakat luas dalam pembuatan keputusan. Walaupun tak terelakkan terdapat berbagai corak ketidakkonsistenan baik dalam batasan maupun implementasi, ketiga kelompok tersebut telah mengembangkan praksis yang dapat dikenali dalam hal ini. Terakhir, terlepas dari banyaknya ketegangan, rivalitas birokratis, serta perbedaan ideologis, agama maupun kepribadian, adalah absah untuk berbicara tentang sebuah masyarakat LSM Indonesia dengan banyak irisan personal dan institusional, yang menyediakan basis dukungan, pertukaran ide dan

11 Diskusi klasik tentang aliran dilakukan, dalam konteks politik

‘konstitusional’ di tahun 1950-an, oleh C. Geertz, The Religion of Java,

London, Collier-Macmillan, 1960.

pengalaman serta pemilikan bersama sumber daya, yang dapat dijadikan front bersama di berbagai tingkat bagi mereka yang mengidentifikasikan diri terhadap serangkaian gagasan ideal tersebut.

(10)

bendungan serta perjuangan akan hak-hak gelandangan yang bermukim di pinggir kali. Di antara organisasi wanita, Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga (LKBHWK) paling tepat ditempatkan dalam kategori 2, sebagaimana juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang sebagian dikelola oleh dan ditujukan untuk kaum wanita. Sementara organisasi buruh, latihan dan usaha kecil yang berpusat di Yogyakarta, Yayasan Anisa Swasti, lebih merupakan wakil dari Model 3.

Model 1

Kerjasama Tingkat Tinggi : Pembangunan Akar Rumput

(i) Bina Swadaya

Pada kurun 1980an, Bina Swadaya mengalihkan orientasi utama mereka dari pengembangan kelompok-kelompok usaha bersama (UB) menjadi keterlibatan yang substansial dalam program-program pemerintah, dengan alasan bahwa kerjasama seperti itu telah menjadi keniscayaan agar gagasan-gagasan mereka dapat memiliki dampak berskala luas. Jumlah UB yang didukung orientasi tersebut telah menyurut secara drastis dari 591 buah di tahun 1981 menjadi 289 di tahun 1988.12 Strategi yang dijalankan Bina Swadaya dalam kerjasama mereka dengan pemerintah adalah mengalihkan UB kepada program-program Keluarga Berencana, transmigrasi dan pengembangan petani kecil.

Perkebunan Inti Rakyat (PIR) di Pasaman Barat, Sumatra Barat merupakan contoh yang baik. Disini sebuah asosiasi kelompok-kelompok petani kecil Badan Koordinasi Antar Kelompok (BKAK) dibentuk dengan tujuan memperkuat posisi tawar petani dalam berhadapan dengan perusahaan-perusahaan swasta yang ditunjuk Departemen Pertanian sebagai pemasok alat-alat pertanian. Ide ini bertolakbelakang dengan skema standar PIR dimana para petani kecil harus menangani kebutuhan mereka dengan perusahaan secara individual. Asosiasi ini kini melibatkan sekitar

12 Sumber-sumber Bina Swadaya

13 Konsep Akhir LAporan Penelitian, Surveyof Self Help Groups in

Indonesia – Kasus : LPSM Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Kerjasama

2400 petani yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok lokal dan badan-badan daerah yang memiliki dewan kepengurusan yang mampu menangani segenap fungsi manajemen sendiri. Ini telah membawa hasil, misalya dengan menurunnya secara drastis jumlah kasus kegagalan pembayaran hutang akibat mismanajemen yang sebelumnya sering terjadi. Tingkat pembayaran kembali hutang yang sedemikian mengesankan telah mendorong Bank Pembangunan Sumatra Barat untuk tidak lagi memberlakukan persyaratan akan sertifikat tanah sebagai jaminan tanah yang lazim dikenankan dan seringkali menjadi pangkal ketegangan di banyak program pembangunan pedesaan. Sebagai langkah lanjut BKAK juga telah mendirikan LSM sendiri bernama Yayasan Suluh Desa yang menyelenggarakan program pendidikan, kesehatan, peternakan, tambak ikan, warung dan juga lokakarya.

Bina Swadaya juga telah mengadakan perundingan dengan Bank Rakyat Indonesia, sejumlah bank Jerman Barat serta lembaga donor lainnya dalam rangka memperoleh perluasan fasilitas bantuan bagi para petani kecil dan kelompok-kelompok swakarya lainnya. Bina Swadaya dalam kaitan ini berperan sebagai pihak penjamin dan penengah dalam mengidentifikasi dan menyalurkan dana bantuan bagi kelompok-kelompok tersebut.13 Lebih kontroversial lagi

adalah upaya Bina Swadaya untuk bekerjasama dan mempengaruhi organisasi petani dan nelayan yang bernaung di bawah payung GOLKAR, HKTI.14 Sementara

sebagian besar aktivis LSM meragukan manfaat yang bisa diperoleh dari keterlibatan dalam organisasi seperti itu, Bina Swadaya justru melihatnya sebagai kelompok loby yang potensial dalam kaitannya dengan penentuan harga, penyediaan input dan jasa serta untuk menyalurkan keluhan mengenai sertifikat tanah. Dana bantuan disalurkan kepada sejumlah kelompok HKTI lokal untuk membentuk usaha bersama. Dalam hal ini HKTI tampak dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengimbangi monopoli dalam

antar Bank Indonesia, Jakarta dengan Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,1987.

14 Direktur Bina Swadaya, Bambang Ismawan, adalah juga Sekretaris

(11)

pemasaran hasil-hasil pertanian yang dijalankan KUD sebagaimana diatur dalam INPRES, No. 4, 1984.15

(2) Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS)

YIS, yang semula bernama Yayasan Kesehatan Umat Kristen (YAKKUM) dan didirikan di Solo tahun 1950-an, bergerak di wilayah program-program pengembangan masyarakat dalam spektrum yang luas, dengan pusat perhatian pada kesehatan masyarakat beserta latihan dan pendidikan yang berkaitan dengannya. Strategi yang mereka jalankan dalam mengembangkan kelompok-kelompok kecil sangat bergantung pada struktur komunitas formal dan informal yang tersedia. Polanya dari lokasi ke lokasi berbeda mengikuti sikap yang ditunjukkan otoritas lokal. Berbeda dengan Bina Swadaya, program latihan YIS senantiasa terbuka untuk semua orang, bahkan terdapat banyak program latihan yang secara khusus dirancang bagi para pejabat pemerintahan lokal. Ini pada gilirannya menjadikan YIS dikenal dan memiliki hubungan kerja yang erat dengan sejumlah badan pemerintah, seperti Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana. YIS telah berulangkali diminta untuk menyelenggarakan program-program latihan tingkat nasional serta berpartisipasi dalam memformulasikan kebijakan dan program pemerintah.

Intervensi di awal 1970-an oleh Departemen Dalam Negeri terhadap pengembangan masyarakat tingkat desa telah menimbulkan banyak persoalan bagi YIS, sebagaimana juga terhadap banyak LSM lainnya. Pendekatan yang dilakukan oleh Bangdes cenderung bersifat memaksakan tujuan dan sasaran dengan wadah bentukan yang kosong seperti LKMD, dan sangat bergaya ’atas-bawah’.16 Dalam beberapa kasus, YIS dipaksa untuk meninggalkan wilayah dimana mereka mengembangkan kegiatan selama

15 HKTI dikontrol Departemen Pertanian, dan tampaknya bersang dengan

KUD, yang berada di bawah naungan Departemen Koperasi

16 Seluruh program pengembangan masyarakat semula diharapkan dapat

dilebur ke dalam struktur LKMD. Rangkaian program tersebut kemudian dipilah ke dalam berbagai seksi di bawah pengawasan Lurah. Pada kenyataannya, kebanyakan LKMD tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga baik program pemerintah maupun non-pemerintah umumnya dinegosiasikan langsung dengan pihak otoritas lokal.

tahun, namun dapat bertahan dengan mempererat hubungan baik dengan Bupati serta berusaha mengkonsentrasikan kegiatan hanya pada wilayah yang tidak mengundang kecurigaan pemerintah.17 Pada masa genting-genting inilah, YIS menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah pada masa itu, Supardjo Rustam, yang belakangan menhadi Menteri Dalam Negeri dan sangat membela perkembangan LPSM/LSM.

Program-program yang diprakarsai oleh YIS dan YAKKUM di Solo dalam lapangan kesehatan anak, rehidrasi oral, nutrisi dan keluarga berencana yang dikaitkan dengan lembaga-lembaga tradisional seperti arisan, dimasukkan ke dalam sejumlah program resmi pemerintah. Beberapa diantaranya dipadukan ke dalam sistem kesehatan terpadu di desa-desa, di bawah program Posyandu yang dikembangkan sejak 1984. Para pekerja YIS sendiri menyatakan keprihatiannya terhadap implementasi Posyandu yang dinilai terlalu menekankan keseragaman dan cenderung bersifat ‘atas-bawah’, dengan mengabaikan karakteristik lokal yang spesifik maupun harapan-harapan masyarakat itu sendiri. Dalam kondisi seperti itu dikhawatirkan motivasi para kader yang senantiasa menjadi faktor kunci keberhasilan YIS akan melemah. Apa yang dihadapi YIS ini mencerminkan persoalan-persoalan yang berulangkali hadir dalam bidang pengembangan masyarakat, pada saat upaya dilakukan untuk mereplikasikan pendekatan berskala kecil dan diprakarsai secara lokal ke dalam program-program nasional.

Bahkan dalm program-program lokal yang dikembangkan, YIS diwajibkan untuk bekerja melalui struktur resmi pemerintah, terutama melalui PKK-sebuah organisasi yang sering kali oleh para feminis dipandang sebagai organisasi mengukuhkan stereo-type tentang peran wanita dan menyulitkan pengembangan formasi kelompok-kelompok wanita otonom.18 Bagi YIS sendiri, walau

17 Eldridge, Indonesian and Australia….., op.cit., hal. 145-147

18 Norma Sullivan, “Indonesian Women in Development: State Theory and

(12)

bagaimanapun PKK menyediakan kerangka kerja yang memungkinkan pengembangan struktur self-management secara informal, terutama bila dikaitkan dengan pranata tradisional seperti arisan.

Secara jelas terlihat tidak satupun dari kedua organisasi yang disebut diatas dapat sepenuhnya berada di luar politik birokratik, kendati keterlibatan mereka pada tingkat yang lebih tinggi masih berada pada tahap yang relatif dini. Kondisi kesejarahan awal mereka menyebabkan keduanya memelihara orientasi yang kuat ke arah formasi kelompok-kelompok otonom, walaupun konteks nasional dan pengambilan keputusan yang lebih kompleks dimana mereka beroperasi terus menuntut mereka untuk menjalankan peran penengah yang semakin melebar. YIS telah berusaha untuk mengimbangi bahaya keterputusan hubungan dengan jaringan akarrumput melalui perluasan hubungan kerja dengan LSM-LSM yang lebih kecil dan mempromosikan jaringan kader antar wilayah.

Model 2

Politik Tingkat Tinggi : Mobilisasi Akar Rumput

(i) Lembaga Studi Pembangunan

LSP merupakan bagian dari “gelombang baru” (new wave) LSM-LSM yang lahir dari pergolakan politik kurun 1970-an yang menghasilkan iklim radikalisme di kalangan kelompok-kelompok mahasiswa, intelektual, dan Islam. Merasa frustasi dengan kegagalan perjuangan untuk mencapai reformasi politik dan berhadapan dengan penekanan terhadap para aktivis mahasiswa yang diikuti dengan gerak pemerintah untuk menegaskan kembali hegemoni dan konformitas ideologis,19

kelompok-kelompok ini berusaha merambah dukungan basis massa baru, dengan menggunakan program-program sosial ekonomi yang dipandang sebagai sarana yang memadai untuk mencapai tujuan tersebut. LSP melihat upaya pengembangan koperasi sebagai cara yang penting untuk menghubungkan aspek-aspek mikro dan makro perjuangan masyarakat dan sebagai

19 Misalnya melalui kewajiban mengikuti P4 terhadap pegawai negeri dan

kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

cara non-revolusioner dan non-kekuasaan untuk mengalihkan sumber daya serta kecakapan self-management kepada kelompok-kelompok yang lebih lemah. Pendekatan ini merupakan bagian dari gerakan Islam yang lebih luas untuk mempromosikan koperasi sebagai jalan tengah antara individualisme kapitalis dan kolektivisme. Legitimasi konstitusional yang berangkat dari ayat 33 UUD 45 yang mengidealkan penanganan koperasi terhadap sumber daya nasional, yang pada gilirannya akan memperkuat kedaulatan nasional melawan dominasi kapitalis asing. LSP sangat menekankan pendaftaran koperasi-koperasi yang bernaung dibawahnya, sementara Bina Swadaya memilih untuk memanfaatkan ketetapan perundang-undangan yang memungkinkan dibentuknya lembaga-lembaga antara dalam rangka mengembangkan usaha bersama yang terstruktur lebih informal. Terdapat banyak pro dan kontra dalam argumentasi ini, namun LSP berpendirian bahwa selain akan membantu memperoleh akses yang lebih terjamin terhadap kredit murah, pendaftaran secara informal juga akan memungkinkan kelompok berintegrasi dan bernegosiasi dengan pihak yang berwenang sehingga dapat menjadi bagian absah dari struktur politik. Sebaliknya, kelompok-kelompok yang berorientasi terhadap Model 3 dan Model 1 lebih memilih usaha bersama.

(13)

semua kaki lima untuk bergabung ke dalam koperasi.

Koperasi perumahan yang dibangun di desa Cimeka, Jawa Barat pada 1983, diprakarsai para pimpinan buruh industri tekstil yang frustasi dengan upah yang rendah dan ketiadaan kebebasan. Pembangunan kompleks perumahan yang dihuni 120 keluarga tersebut dibiayai melalui pinjaman berbunga rendah dari NOVIB (Belanda) yang diupayakan LSP. Beragam program Usaha Bersama, kesehatan, persediaan air, sanitasi, dan berbaai program komunitas lainnya telah berkembang pada saat yang sama. Walaupun ini tanpa diragukan telah meningkatkan taraf hidup dan kepercayaan diri para pekerja, sebagaimana ditunjukkan dengan penuh sesaknya setiap pertemuan yang diselenggarakan di balai masyarakat yang baru dibangun koperasi, namun terpusatnya kepemimpinan pekerja di Cimeka mungkin adalah salah satu faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya program-program serupa yang dijalankan di tiga desa lainnya. Demikian pula, implikasidari kehadiran serikat pekerja dalam konteks pabrik tidaklah jelas.

(2) Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

Dengan peran utama yang dijalaninya sebagai pelindung hak-hak konsumen, YLKI dapat dikategorikan sebagai LSM Model 2. Namun demikian organisasi ini belum lagi berada pada posisi untuk melakukan mobilisasi akarrumput mengingat mereka tidak memiliki basis anggota. YLKI berusaha untuk memperluas basis dukungan yang kini ada, yang terutaa datang dari kelas menengah kota, melalui kerjasama dengan LPSM/LSM dan organisasi sosial lainnya, dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran konsumen di tengah masyarakat. Untuk itu misalnya, 15 pesantren di Lampung dan 14 di Lombok telah memiliki kelompok-kelompok konsumen. Direncanakan pula pengembangan kelompok-kelompok yang sama bagi kaum wanita dan pemuda.

Dalam pandangan YLKI, isu-isu perlindungan konsumen dapat menjadi katalis yang potensial bagi upaya penguatan yang lebih luas bagi kaum wanita, yang merupakan mayoritas basis pendukung aktif lembaga itu. Dalam kaitan ini, walaupun

untuk konteks kelas menengah kota proses penguatan tersebut dapat terlihat, namun keterkaitan YLKI dengan LSM-LSM berbasis desa tidaklah cukup kuat untuk menjustifikasikan cara pandang tersebut. Di samping itu, terdapat pula bahaya pengukuhan persepsi konvesional tentang peran domestik wanita, misalnya sebagai pemegang keputusan kunci dalam penyajian makanan.

(3) LP3ES

Rangkaian nilai dasar yang melandasi falsafah LP3ES dapat diringkaskan menjadi upaya pencarian corak-corak pembangunan yang lebih berakar secara kultural dan tidak menciptakan keterasingan sosial, politik yang lebih terbuka, serta sebuah jalan tengah diantara totalitarianisme negara dan ‘ultra-individualisme’ Barat. Rangkaian gagasan ideal tersebut telah berusaha diberi wujud konkrit melalui pengembangan masyarakat dan pendidikan di berbagai pesantren dan melalui program-program industri kecil dan ekonomi keluarga di Klaten, Jawa Tengah. Hubungan para pimpinan LP3ES baik baik dengan kaum modernis dan Tradisionalis Islam memang mendalam. Dalam derajat tertentu, LP3ES dapat dilihat sebagai menjalankan misi untuk menggairahkan pengembangan institusi-institusi Islam sejalan dengan gagasan-gagasan inti mereka, yang diharapkan dapat menjadi modal bagi keseluruhan masyarakat. Seusai menjalankan proyek pecontohan awal, LP3ES biasanya memilih untuk menarik diri dari keterlibatan langsung di tingkat lokal. Sebagian besar pesantren yang terlibat dalam program tersebutkini telah membentuk unit-unit pengembangan masyarakat sendiri dan saling berhubungan melalui Pusat Pengembangan Pesantren Masyarakat (P3M).

(14)

menjalankan peran pembela dan penengah dan memperkuat dukungan bagi kegiatan kelompok-kelompok masyarakat lapisan bawah dalam lingkungan pemerintah. Namun demikian, kesenjangan antara lingkungan jakarta dan desa tetap terentang lebar dan terkesan bahwa kebanyakan para tokoh LP3ES menghabiskan sebagian besar perhatian dan energinya terhadap kesibukan-kesibukan intelektual, kultural dan politik di Jakarta.

Terdapat keraguan yang dilontarkan sejumlah orang yang terlibat dalam gerakan tersebut tentang keefektifan pesantren sebagai sarana untuk membangun organisasi masyarakat yang otonom. Terlepas dari usaha kaum reformis untuk mengintegrasikan tujuan-tujuan pendidikan dan keagamaan tradisional dengan peran pembangunan dan sosial yang lebih luas, hirarki yang terkandung dalam pesantren itu sendiri menganggap akan secara tak terelakkan mendominasi masyarakat sekitarnya; dan efek tersebut justru dirancang untuk memperluas pengaruh mereka.20 Walau

bagaimanapun gerakan pesantren telah berperan untuk memperkuat masyarakat sipil dengan menyediakan kekuatan pengimbangan politik dan sosial terhadap pemerintah, sebagaimana juga sebagai basis dukungan bagi kaum intelektual dan LSM-LSM yang mempromosikan cetak biru perubahan di Jakarta.

(4) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Peran kunci WALHI berpusat pada pelatihan, penelitian berorientasi-aksi, pendidikan publik dan komunikasi melalui dialog antara pemerintah, masyarakat dan kelompok-kelompok kepentingan lain serta partisipasi dalam penyusunan pernyataan-pernyataan keprihatinan terhadap dampak lingkungan.21 Sebagai sebuah federasi yang longgar WALHI menghubungkan sekitar, paling tidak di atas kertas, 400 kelompok, dengan 120 diantaranya bergerak aktif, dengan rentangan corak yang mencakup ketiga model

20 Lihat misalnya Mansour Fakih, “Communication Development in

Pesantren: Issues and Problems”, Pesantren’s Linkage, vol.3, no.2, 1987, hal. 5-8. Mansour Fakih adalah salah satu ketua program di P3M

21Tentang struktur dan aktivitas WALHI, lihat Koesnadi Hardjasoemantri,

Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University Press, 1986, hal. 363-367.

yang telah disebutkan. Namun demikian peran dominannya sebagai penuntut kebijakan yang mengindahkan pertimbangan ekologi, serta kedekatan hubungan yang telah dikembangkannya terhadapa Menteri Negera Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Prof. Emil Salim, menjadikan WALHI diidentifikasikan ke dalam Model 2. Di pihak lain, upaya mereka untuk menggiatkan kelompok-kelompok lokal menyelenggarakan sendiri kegiatan perlindungan dan action-research, menunjukkan ciri Model 3. Pendanaan bersama untuk menyelenggarakan program pendidikan dan latihan ANDAL dalam rangka memanfaatkan sejumlah ketetapan yang memberi peluang bagi kelompok-kelompok lokal untuk berpartisipasi dan bekerjasama dalam Barefoot ANDAL Training Workshop di Irian Jaya dan Sulawesi Utara menunjukkan orientasi yang sama.22

Prof. Emil Salim mendukung peran partisipatif LSM/LPSM dalam melaksanakan kebijaksanaan Lingkungan Hidup, sebagaimana ditunjukkan dalam Pasal 19 UU Lingkungan Hidup.23 Terlepas dari kedekatan hubungan ini, tak ada tanda-tanda WALHI memperlunak intensitas kritik mereka terhadap pemerintah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam surat terbuka kepada Bank Dunia, April 1987, yang didukung oleh International Non-Government Groupfor Indonesia (INGI) yang menggugat kebijaksanaan di bidang transmigrasi dan kehutanan di Indonesia Timur. Surat tersebut dianggap telah mempermalukan sejumlah pejabat senior.24

(5) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia

Tujuan YLBHI untuk mengubah kebijaksanaan nasional dan struktur hokum yang sesuai dengan gagasan ideal mereka tentang sebuah Negara Hukum, Menempatkan organisasi ini terutama dalam Model 2, walaupun hubungan mereka dengan bnayk kelaompok informal menunjukkan

22 Koesnadi Hardjasoemantri, Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat

Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup; Gadjah Mada University Press, 1986, hal. 19. Lihat pula. Environosia, Vol.1, No.2 (1987), hal. 9-21.

23 Koesnadi Hardjasoemantri, Enviromental Legislation in Indonesia,

Gadjah Mada University Press, 1987, hal. 41

(15)

adanya pula orientasi kea rah Model 3. Kadar oposisi mereka berada di atas LSM/LPSM lain dalam kategori ini. Kegiatan pembangunan yang dikembangkan tidaklah dalam corak yang dapat membawa mereka kepada kontak yang berorientasi pemecahan masalah bersama dan kooperatif dengan pihak yang berwenang -yang sebenarnya seringkali dapat dijadikan penengah wilayah-wilayah konflik lainnya- sementara sifat kegiatan mereka dan realita struktur sosial dan politik Indonesia secara tak terelakkan mendorong YLBHI untuk menempati posisi paling ujung dari spektrum LSM.

Kegiatan-kegiatan bantuan hukum yang dijalankannya berfungsi sebagai pembuka jalan bagi pendidikan hukum yang lebih luas, berkaitan baik dengan perlindungan hukum yang telah terselenggara maupun dengan kebutuhan akan berbagai perubahan dalam hukum dam implementasinya. Pada saat sama, pendekatan bantuan hukum menjadi pengabsah kahadiran mereka secara resmi maupun sebagai sumber pemasukan dana dari klien-klien yang lebih kaya.

Isu terpelik dan tidak terselesaikan yang dihadapi YLBHI adalah perdebatan pilihan antara bantuan hukum “litigasional” dan struktural”.25 Dasar argumen yang melandasi posisi radikal adalah bahwa ketidakadilan di dalam hukum akan terus berlangsung kecuali bila ketidakadilan di dalam kekuasaan dan kekayaan yang demikian mencolok dikoreksi. Dalam YLBHI tersedia divisi hak-hak asasi manusia yang lingkup perhatiannya mencakup – selain persoalan hak azasi dalam arti sempit – dimensi sosial ekonomi yang luas. Kecenderungan orientasi seperti itu, menjadikan YLBHI tidak memperoleh cukup “patron” maupun bapak pelindung dalam lingkungan elit pemerintah bila dibandingakan dengan LSM/LPSM lainnya. Kontak tingkat atas terdekat yang pernah terjalin adalah dengan kaum oposisi, terutama dengan kelompok Petisi 50. Dalam tahun-tahun pembentukannya, bantuan dana cukup besar diperoleh dari bekas Gubernur Jakarta, Letjend Ali Sadikin, walaupun ini tidak

25 Daniel. S. Lev; Legal Aid in Indonesia, Monash University, Centre of

Southeast Asian Studies, Working Paper No. 44, August 1987, hal. 20.

26Serikat pekerja Seluruh Indonesia. Perubahan dari nama sebelumnya,

Federasi Buruh Seluruh Indonesia, pada tahun 1985 dilakukan (1) untuk

mencegah LBH melancarkan gugatan dalam issue penggusuran yang dilaksanakan pemerintah daerah Jakarta. Bantuan keuangan terus dilanjutkan Pemda Jakarta setelah Ali Sadikin mengakhiri masa jabatan tahun 1977, dan baru berhenti pada tahun 1986.

YLBHI juga mengembangkan jaringan dengan membangun pos-pos maupun bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang berafiliasi secara longgar di berbagai propinsi. Ini pada gilirannya menyuburkan jaringan lokal di kota-kota kecil dan desa-desa, yang mengangkat berbagai issue seperti sertifikat tanah di pedesaan, hak-hak para penghuni liar, pedagang kaki lima, dan penarik becak di kota. Pelaksanaanya biasanya dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai LSM/LPSM yang telah berdiri, terutama dalam upaya memperoleh akses. Issue otonomi lokal juga membutuhkan penanganan yang berhati-hati. Secara umum, YLBHI Jakarta menyediakan pelatihan dan bantuan sumber daya disamping bertindak sebagai penyangga (buffet) dalam berhadapan dengan pemerintah. Akan halnya cabang-cabang propinsi, YLBHI menunjuk direktur lokal dan menentukan alokasi anggaran, sementara kelompok-kelompok afiliasi memperoleh otonomi lebih luas. Dewan Pengurus tidak dibentuk melalui proses pemilihan, melainkan ditunjuk, mengingat proses yang pertama tersebut dianggap lebih memungkinkan kooptasi eksternal di masa mendatang. Dalam konteks itu, dapat dicatat bahwa sejumlah organisasi bantuan hukum telah bermunculan pada tahun-tahun terakhir ini, dengan banyak diantaranya berada di dalam badan-badan pemerintah atau semi pemerintah seperti Pramuka.

YLBHI juga telah berusaha membantu pengembangan organisasi-organisasi buruh di tingkat lokal, dengan memanfaatkan ketetapan dalam undang-undang perburuhan yang mengizinkan pembentukan serikat pekerja di tingkat perusahaan – yang mempekerjakan labih dari 25 orang- di bawah pengawasan formal SPSI.26

(16)

peraturan baru yang dikeluarkan sejak 1986 telah memperketat pengontrolan pemerintah terhadap proses yang berkaitan dengannya. Sambil terus mempertahankan kedekatan hubungan dengan banyak pejabat menengah yang bersimpati dalam SPSI, usaha YLBHI sekarang lebih diorientasikan pada memperkuat organisasi-organisasi informal melalui pembentukan usaha bersama di luar lingkungan kerja. YLBHI juga mendukung pengembangan organisasi dam program pendidikan di antara kaum buruh yang tidak terorganisasi – misalnya di kalangan pembantu di Jakarta.27 LBH Yogyakarta bekerjasama dengan Yayasan Anisa Swasti (YAS), sebuah organisasi wanita berpusat di Yogyakarta yang mempromosikan usaha bersama dan program-program pendidikan umum di kalangan wanita pelayan toko dan buruh pabrik. YAS secara sadar berupaya mencari alternatif terhadap model PKK, yang mereka pandang sebagai memaksakan kontrol monopoli terhadap berbagai organisasi wanita.

Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Wanita dan Keluarga (LKBHWK) didirikan pada tahun 1979 oleh sebuah kelompok wanita pengusah Islam, yang dipimpin oleh Ibu Nani Yamin yang memiliki kedekatan hubungan dengan LBH sejak awal berdirinya. Tujuan organisasi ini adalah untuk memperbaiki status wanita Islam di dalam kerangka komitmen keislaman, dengan titik perhatian terutama pada issue-issue yang berkaitan dengan hukum perkawinan dan keluarga. LKBHWK tampaknya memiliki hubungan informal cukup akrab dengan Dharma Wanita, yang ditunjukkan dengan diselenggarakannya sejumlah kursus latihan oleh LKBHKW bagi organisasi wanita nasional tersebut. Sayangnya, upaya untuk mengembangkan basis sosial yang lebih luas mengalami pukulan cukup berat karena adanya perbedaan pandangan dengan pihak pengelola Mesjid Agung Al-Azhar Jakarta, yang kemudian tidak lagi mengizinkan LKBHKW berkantor di lingkungan wilayah mesjid tersebut.

Model 3

27 Kondisi dan situasi para pembantu didiskusikan dalam Dong Bret, No. 2,

April 1986, yang diterbitkan Kalyamitra.

Penguatan di Tingkat Akar rumput

Kelompok-kelompok dalam pendekatan ini pada dasarnya lebih menyebar, lebih kecil dan kurang berhubungan dengan LSM-LSM besar. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, mereka tersebar di berbagai wilayah aktivitas yang digeluti kelompok-kelompok model 2, terutama yang berkaitan dengan issue-issue ekologi, hak asasi dan perlindungan hukum serta wanita. Jaringan antar kelompok umumnya dibantu oleh pusat-pusat penelitian dan dokumentasi seperti Kalyanamitra, untuk kasus wanita; serta INSAN (Studi dan Informasi Hak Asasi), yang mengembangkan pusat data issue-issue dan perjuangan hak asasi di Indonesia, dengan bekerjasama dengan berbagai kelompok yang bergerak di bidang yang sama di negara-negara Asia Tenggara.

Issue-issue berkaitan dengan pendekatan “penguatan” ini akan dikaji secara singkat melalui dua kasus di Yogyakarta : (1) Kelompok Studi Bantuan Hukum (KSBH) dan (2) Masyarakat pinggir kali Gondolayu. KSBH didirikan sekitar tahun 1980, digerakkan oleh sebuah kelompok kecil inti dengan sebuah komunitas mengambang terdiri dari sukarelawan dan pendukung umumnya adalah kaum mahasiswa dan akademisi. KSBH memiliki tujuh pos yang aktif dan swakelola (self-managing), yang mengkombinasikan pendidikan hukum dengan kegiatan arisan dan usaha bersama. KSBH menerbitkan bulletin bulanan, Nawala, dan giat mempertunjukkan teater tradisional lokal. Status hukumnya didasarkan pada saling kesalingpengertian dengan Departemen Sosial yang juga memberikan sedikit bantuan dalam bentuk peralatan kantor.

(17)

yang terlalu besar. KSBH umumnya enggan menangani kasus-kasus individual kecuali bila mereka melihat adanya keterkaitan sosial dari kasus tersebut. Mereka cenderung memilih upaya peningkatan kapasitas masyarakat untuk mampu menangani persoalan sendiri. Namun bila terasa dibutuhkan, KSBH bersedia mendampingi masyarakat dalam proses penyelesaian persoalan-persoalan tersebut, seperti dalam kasus masyarakat di lingkungan Candi Prambanan yang menolak pengusiran akibat uang ganti rugi yang tidak memadai28. Kerjasama dalam cakupan lebih luas diperoleh dalam upaya menentang rencana pembangunan bendungan di Kedung Ombo, Jawa Tengah.29

Contoh lain adalah Gondolayu. Proses pengembangan masyarakat di antara komunitas rentan yang bermukim di pinggir kali tersebut., diprakarsai seorang mahasiswa berusia muda dari fakultas ilmu sosial ilmu politik, Willy Prasetyo.30 Ia, yang memang berasal dari komunitas tersebut, menempati peran penengah antara pihak kepolisian dengan kelompok-kelompok masyarakat di sana yang seringkali dianggap sebagai sekadar kaum kriminal dan gelandangan. Sejumlah mahasiswa dan pengajar dari universitas lokal turut membantu. Bahkan Romo Mangunwijaya, seorang pendeta Katolik, intelektual dan aktivis sosial dengan reputasi nasional dating untuk menetap bersama komunitas pinggir kali tersebut. Beragam program berskala kecil, dengan penekanan khusus terhadap kelompok muda, pendidikan non-formal, seni dan budaya, dikembangkan, bersama-sama dengan perbaikan dan penataan kontruksi perumahan dan lingkungan. Proses pembangunan dan pengembangan masyarakat ini memperoleh tantangan bukan hanya dari pihak otoritas lokal namun juga elemen kecil kriminal yang bekerjasama dengan mereka.

Satu efek dari rangkaian program tersebut adalah, sejalan dengan Model 2, terciptanya hubungan yang lebih dekat dengan pemerintah daerah. Gondolayu, sebagaimana banyak pemukiman pinggir kali lainnya,

28 Sumber-sumber KSBH. Juga lihat Nawala, No. IV, tahun VII. Baik di

Borobudur maupun Prambanan, mereka yang terusir menuntut agar komite yang dibentuk untuk menentukan besarnya uang ganti rugi harus menyertakan para wakil dari masyarakat yang tanahnya terkena proyek.

belum lagi diakui secara resmi sebagai bagian dari struktur pemerintah lokal. Pada tahun 1983, Pemda Yogyakarta secara resmi mengakui pemukiman tersebut, serta menunjuk Willy Prasetyo sebagai Ketua RW dan kemudian mendukungnya sebagai Lurah. Namun begitu, pengakuan tersebut ternyata tidak dengan sendirinya menjamin kelanggengan tempat tinggal bagi para pemukim, yang sampai saat ini berhasil menentang penekanan dari pemerintah daerah dan sejumlah perusahaan swasta yang berhasrat untuk memperoleh tanah tersebut dalam rangka program “pengindahan kota”. Upaya penentangan skema tersebut memperoleh perhatian nasional dan internasional, yang memperkuat organisasi masyarakat dan perasaan bersatu di kalangan mereka. Titik balik terjadi pada saat Romo Mangun memutuskan untuk melakukan aksi puasa., sebuah taktik kuasi Gandhian yang memperoleh dukungan sangat luas, dan sama sekali tak pernah diduga dapat terjadi oleh pihak penguasa. Keputusan untuk mengalah yang ditunjukkan pemerintah pada issue ini mungkin akan memperlancar jalan ke arah sikap umum yang lebih manusiawi terhadap sektor informal maupun komunitas marjinal lain di seluruh kota.

JARINGAN KERJA DAN PEMBENTUKAN

KOALISI

Dalam banyak cara, ketiga model yang dipaparkan dalam tulisan ini dapat dipandang sebagai sebuah bentuk dialog internal di antara LSM-LSM pada saat mereka berkonfrontasi dengan sejumlah permasalahan dan pilihan baru. Proses penciptaan jaringan kerja (networking) menguatkan interaksi tersebut, dan pada derajat tertentu mengaburkan batas-batas tegas di antara ketiga corak pendekatan. Meski begitu, orientasi kelompok tetap akan mempengaruhi cara pandang masing-masing terhadap penciptaan jaringan kerja, dengan LSM model 3 akan paling kurang aktif dari pada yang lain.

Tujuan utama jaringan kerja mencakup pemberian fasilitas bagi pertukaran informasi,

29Kedaulatan Rakyat, 31 Oktober, 19987; Kompas, 26 Desember 1987. 30 Patrick Guiness, Harmony and Hierarchy in a Javanese kampong,

(18)

kooperasi dan gerakan bersama; negoisasi dengan lembaga donor asing dan sebagai saluran untuk penyebaran dana; serta mempertunjukkan kesatuan kekuatan pada saat berhadapan dengan pemerintah. Motif lebih jauh adalah untuk mendahului kemungkinan pembentukan organisasi-organisasi “payung” oleh pemerintah untuk mempersatukan berbagai organisasi yang telah ada di bawah kekuatan ‘pengarah’ yang terkandung di dalam UU Keormasan. Untuk itu, LSM/LPSM telah membangun forum dan jaringan tersendiri tanpa peraturan dan kenaggotaan formal. Di pihak lain, strategi seperti itu dapat merintangi evolusi struktur demokratis di dalam komunitas LSM.31

Di luar kecenderungan untuk membentuk jaringan yang terdiri dari sejumlah LSM kecil di seputar LSM besar yang didasrkan pada basis agama dan sosial, corak jaringan lain yang terbentuk dapat diklasifikasikan sebagai sectoral, regional dan nasional.

Jaringan LSM sektoral dipandang oleh sejumlah pihak sebagai sangat terbuka bagi kontrol dan pengaruh pemerintah.32 Sementara kaum optimis menilai pengambilalihan seperti itu terlalu sulit untuk dilakukan mengingat jumlah, keragaman dan ketiadaan basis kenaggotaan formal pada jaringan tersebut; kaum pesimis menunjukkan bahwa kontrol yang dikhawatirkan tersebut telah terjadi dengan telah dibentuknya sejumlah organisasi ‘payung’ yang memonopoli tanggungjawab di bidang kesejahteraan sosial dan Keluarga Berencana.33 Bahkan kisah sukses WALHI

dianggap dapat dengan mudah dibelokkan dengan pergantian menteri. Dalam kaitan ini, pemapanan ‘hubungan khusus’ dengan badan-badan pemerintah dapat dilihat, sejalan dengan Model 2, sebagai landasan yang dibutuhkan bagi pengembangan pengaruh yang lebih luas.

31 Contoh yang disertakan di dalam keterangan penjelasan undang-undang

keormasan adalah KNPI dan HKTI.

32 Untuk analisa yang pesimistik, lihat Ben Witjes, op. cit, hal.23-25. Lihat

pula George J. Aditjondro, “Networking to Promote Or to Control Indonesian NGOs? Question Concerning the Networking and Coordinating Rush among Jakarta-Based NGOs. Ministrics and Donor Agencies”, YPMD-IRJA Working Paper For the 3rd Inter NGO Conference on IGGI Matters, Zeist,

The Netherlands, 27-29 April 1987.

Di pihak lain, upaya pembentukan forum regional masih sangat terbatas geraknya. Pengelompokan informal yang longgar telah dilakukan di Bandung dan Medan. Embrio pembentukan kelompok di Jawa Tengah mengalami kegagalan akibat inisiatif prematur dari Badan Perencana Daerah. Sementara di Yogyakarta, sebuah forum yang diprakarsai 15 kelompok pada tahun 1985, yang mencakup ketiga corak orientasi yang disajikan dalam tulisan ini, nampak lebih membuahkan hasil. Usaha pemerintah di awal proses untuk tidak menyertakan LBH dan KSBH mengalami kegagalan. Jaringan kerja ini berhasil membangun struktur manajemen dan demokratik yang dibutuhkan, tanpa keanggotaan dan AD/ART formal. Meski begitu, organisasi-organisasi yang tergabung di dalamnya tampak menjalankan interaksi terbatas dan saling menimba pengetahuan dan pengalaman, terutama di antara kelompok-kelompok kecil. Ketidakseimbangan tetap terjadi di antara LSM besar dan LSM kecil, dengan dana bantuan asing pada tahap ini sebagian besar masih disalurkan melalui LSM-LSM besar.34 Usaha untukmembangun organisasi nasional LSM/LPSM sejauh ini berakhir dengan kesia-siaan. Semula, diharapkan Bina Desa akan menjalankan peran ini.35 Prospek ini digugurkan oleh UU Keormasan, pasal 8 yang menyatakan, “Untuk lebih berperan dalam fungsinya, Organisasi Kemasyarakatan berhimpun dalam satu wadah pembinaan dan pengembangan yang sejenis”. Bina Desa kini terus bergerak tanpa menjalani peran sebagai jaringan kerja, walaupun mereka memperoleh dana cukup besar untuk mengembangkan pembentukan kelompok kecil, terutama di luar Jawa.

Sebagai penggantinya, Kelompok Tiga Belas (K-13) dibentuk sebagai perhimpunan LSM-LSM besar, tanpa memiliki jadwal pertemuan rutin maupun struktur formal. Namun perkembangannya kembali dapat menjadi

33 Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dan

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

34 Amir Effendi Siregar, The Communication Patterns Among Indonesian

Non-Government Organisations in Yogyakarta, M.A. Thesis, University of Iowa, May 1987, hal.91-95.

35 Untuk perspktif tentang kegiatan Bina Desa, lihat BINA DESA : Bulletin

(19)

contoh bagaimana sulitnya mengembangkan struktur demokratik di dalam lingkungan hukum dan politik yang negatif. Kesibukan kelompok ini untuk mengembangkan strategi kompleks untuk menanggulangi upaya kooptasi terhadap gerakan LSM telah menjauhkan mereka dari akarrumput. Banyak LSM kecil bersikap negatif terhadap kekuatan patronase dan kontrol yang dianggap berusaha diperoleh LSM-LSM besar melalui kewenangan untuk mendistribusikan bantuan dana asing. K-13 menolak anggapan bahwa mereka melanggar otonomi LSM, dan melihat peran mereka sekedar sebagai penyangga antara LSM-LSM dengan pemerintah. Di pihak lain LSM-LSM kecil menganggap K-13 telah menyalahgunakan peran ini dengan mengatasnamakan keseluruhan LSM di Indonesia.36

Konflik internal di dalam K-13 sendiri cenderung berkisar pada persoalan rivalitas personal dan keagamaan, walaupun juga terdapat pertentangan pilihan orientasi strategi sebagaimana ditunjukkan dalam Model 1 dan 2 dalam hal penanganan hubungan dengan pemerintah. Model 1 LSM tampaknya cenderung mendukung pembentukan jaringan sektoral dan mendukung perluasan peran Bina Desa,37 sementara LSM-LSM yang berorientasi pada Model 2 lebih berhati-hati pada kedua hal tersebut berkaitan dengan kekhawatiran akan “organisasi-organisasi payung” yang didominasi pemerintah.

Terdapat cukup banyak keanggotaan silang pada badan kepengurusan berbagai LSM/LPSM yang tergabung di dalam K-13, sementara para individu kunci mempunyai hubungan erat dengan elemen-elemen di dalam Golkar. Demikianlah, Rahmat Witular, suami mantan Direktur YLKI, Erna Witular,adalh anggota DPR dan bahkan Sekjen Golkar, LP3ES dan P3M bekerjasama erat dengan Abdurrachman Wahid yang berperan besar dalam pemisahan diri NU dari PPP dengan dalih untuk memberi

36 Goerge J. Aditjondro, op.cit.

37 Hubungan personal dan organisasional yang erat nampak nyata terjalin

antara Bina Desa dan Bina Swadaya, yang memang memiliki kesamaan premis

kesempatan berkonsentrasi pada kegiatan sosial dan pendidikan, namun pada dasarnya memungkinkan anggota NU untuk berkooperasidengan pemerintah dalam rangka mengupayakan keterbukaan proses politik.

Partisipasi para anggota K-13 dalam Kelompok Kerja (Pokja) yang dibentuk Departemen Dalam Negeri dalam hal peran LSM dalam pembangunan daerah (Bangda) dan Sekretaris Kabinet dalam hal peran lembaga donor asing, telah pula memperlebar wilayah kontroversi.38 Pokja Bangda secara khusus dikritik sebagai Jawa-sentris dan terlalu dipenetrasi oleh kepentingan-kepentingan birokratik. Namun demikian, kedua Pokja ini sama sekali tidak dapat dikatakan tidak kritis terhadap pemerintah regional dan lokal sebagaimana juga terhadap sejumlah LSM yang berkolaborasi, seperti yang ditunjukkan dalam kasus program koperasi antara beberapa LSM/LPSM dengan pemerintah lokal di Banjarnegara.39

KESIMPULAN

Menilik ulang model-model yang telah disajikan, terlihat bahwa ketiganya berperan memperkuat masyarakat sipil melalui berbagai strategi mereka untuk merangsang pembentukan kelompok otonom. Ketiganya bersikap ambivalen dalam pendekatan terhadap struktur negara. Kecuali dari corak pendekatan ketiga yang relatif kecil, komunitas LSM Indonesia pada umumnya cenderung menerima struktur yang ada secara pragmatis dan mengkonsentrasikan diri pada perubahan inkremental.

Sebagai akibatnya, tidak dapat dipastikan apakah pilihan yang hendak dicapai adalah menciptakan sebuah negara yang melayani masyarakat atau untuk mengurangi, bila tidak menghilangkan, peran negara secara perlahan-lahan. Sementara pendekatan pertama dan ketiga menunjukkan dua bentuk cara yang berbeda dalam upaya mengurangi peran negara, Pendekatan kedua

38 Sekretaris dari Pokja pertama adalah Adi Sasono, Direktur LSP. Laporan

tentang badan-badan bantuan asing dikoordinasikan oleh Aswab Mahasin, Direktur LP3ES, Bina Desa terlibat di kedua Pokja tersebut.

39Final Report for the Workshopon Encouraging People’s Participation in

Gambar

Tabel 1.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh binaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terhadap perilaku dan kadar cholinesterase pada petani di Kecamatan Kabanjahe

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan dalam hal ini

Dengan penahanan dan penekanan napas di bawah perut sambil bergerak menyebabkan keadaan hipoksik (kekurangan oksigen) pada paru, berlanjut ke darah dan berakhir

Soekarno bersama Hatta memilih untuk bekerjasama dengan Jepang, sedangkan Sjahrir memilih untuk bergerak di bawah tanah dan menolak kerjasama dengan Jepang.Sejak kemerdekaan

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT Payung Pusaka Mandiri yang bergerak di bidang produksi barang dagang berupa jamu (obat- obatan).PT Payung Pusaka Mandiri

Maka singkatnya, di negara maju fenomena LSM yang lahir pada dekade 1970-an karena semangat otokritik dari kaum modernis, sementara di negara berkembang seperti Indonesia, ia

Pembicaraan pertanian di bawah Putaran Doha dimaksudkan untuk membangun komitmen pemerintah untuk bergerak menuju sistem perdagangan pertanian yang adil dan

Jumlah payung daun bibit karet yang ditanam di lahan dengan kelas kesesuaian lahan S2 (sesuai) untuk tanaman karet berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lilit