TEKNOLOGI FERMENTASI JERAMI
SEBAGAI NILAI TAMBAH DAN SOLUSI DALAM PENYEDIAAN PAKAN ALTERNATIF TERNAK SAPI POTONG
Argono R. Setioko1 dan B. Haryanto2
Abstrak
Masalah kekurangan pakan ternak ruminansia merupakan kondisi klasik di Indonesia. Pada musim kemarau kekurangan pakan disebabkan karena rendahnya produktifitas hijauan pakan ternak, sedangkan pada musim hujan, kekurangan pakan disebabkan karena kandungan air yang tinggi didalam hijauan pakan yang dihasilkan. Sementara itu, limbah pertanian seperti jerami padi dan pucuk tebu belum dimanfaatkan secara optimal karena dianggap mempunyai nilai hayati rendah yang berkaitan dengan kandungan ligno-selulosa yang tinggi.Teknologi peningkatan kualitas limbah pertanian sebagai bahan pakan ternak telah ditunjukkan melalui proses fermentative anaerob menggunakan probiotik, baik secara tunggal maupun campuran dari berbagai spesies mikroba. Potensi limbah pertanian sebagai bahan pakan berserat untuk sapi potong di Jawa Barat dengan luas panen padi lebih dari satu juta hektar per tahun mampu menghasilkan lebih dari 5 juta ton jerami padi yang seharusnya dapat mendukung kebutuhan pakan berserat untuk 2,5 juta ekor sapi sepanjang tahun. Dengan demikian jerami padi seharusnya menjadi bahan pakan berserat utama, bukan hanya sebagai pakan alternatif, untuk sapi potong.
Kata kunci: pakan alternatif; fermentasi jerami; sapi potong.
1
Kepala Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.
2
Peneliti pada Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor. PENDAHULUAN
Permintaan produk hasil ternak dalam bentuk daging yang berasal dari sapi potong, secara nasional belum dapat dipenuhi oleh kemampuan produksi dalam negeri, sehingga masih diperlukan impor dari luar negeri. Nilai impor daging sapi dan sapi hidup masih cukup tinggi yaitu sekitar 400 ribu ekor untuk tahun 2001. Populasi sapi di dalam negeri perlu ditingkatkan secara signifikan agar peluang penyediaan daging sapi tersebut dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Peningkatan populasi ternak sapi dan ternak ruminansia lainnya
menyebabkan adanya peningkatan
kebutuhan pakan, baik pakan berserat maupun pakan konsentrat. Sumber pakan hijauan akan menjadi lebih sulit diperoleh apabila mengandalkan pada rumput segar.
Dalam upaya pemanfaatan
sumberdaya lokal secara optimal, pada kawasan persawahan dapat dikembangkan usaha pemeliharaan sapi. Hal ini berkaitan dengan adanya jerami padi yang berlimpah setiap kali musim panen. Meskipun sebagian jerami padi telah dimanfaatkan sebagai bahan industri kertas, bahan pembuatan pupuk maupun media pertumbuhan jamur,
Produktivitas lahan persawahan sebagai penghasil pangan perlu dipertahankan melalui penanganan mutu fisika, kimia dan mikrobiologi tanah sehingga kesehatan tanah dapat menunjang kebutuhan tanaman (padi) dengan baik. Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama ternyata dapat menyebabkan perubahan struktur tanah yang cenderung membuat kondisi tanah sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengikat unsur hara dengan baik, disamping terjadinya perubahan mikrobiologi tanah.
Pada kondisi seperti ini kemungkinan terjadi inefisiensi pemanfaatan unsur hara menjadi lebih besar. Salah satu cara untuk mengembalikan kesehatan tanah adalah melalui perbaikan struktur tanah dan pemenuhan mikrobiologi tanah. Penggunaan pupuk organik pada lahan persawahan memberikan peluang untuk menambah kandungan bahan organik tanah serta mikrobia tanah. Dengan penggunaan pupuk organik juga diharapkan akan mengurangi biaya pupuk anorganik. Dalam kaitannya dengan penyediaan pupuk organik tersebut maka pemeliharaan sapi pada kawasan persawahan memberikan peluang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang ada pada kawasan tersebut, misalnya jerami padi yang dapat digunakan sebagai pakan sapi yang pada gilirannya sapi akan menghasilkan kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organik.
Dengan demikian, pada kawasan
persawahan tersebut selain menghasilkan pangan dalam bentuk beras juga akan mampu menghasilkan daging. Berkurangnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian di Indonesia dewasa ini menunjukkan bahwa sebenarnya diperlukan tidak kurang dari 100 persen tambahan bahan organik untuk mengembalikan pada keadaan kesehatan tanah yang normal. Hal ini berarti akan diperlukan pupuk organik yang sangat besar untuk membuat kembali keadaan kesehatan tanah normal tersebut. Di lain pihak, peternakan terutama ternak ruminansia memberikan peluang yang besar untuk menghasilkan kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organik. Kandungan mikroba rumen dapat dimanfaatkan untuk membantu proses dekomposisi bahan organik yang ada pada manure ternak tersebut.
POTENSI KAWASAN PERSAWAHAN
Produksi jerami padi dapat mencapai 5-8 ton per hektar per panen, meskipun bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman padi yang digunakan. Jerami padi yang dihasilkan ini dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun. Sehingga pada lokasi yang mampu panen 2 kali setahun akan dapat menunjang kebutuhan pakan berserat untuk 4-6 ekor. Disamping jerami padi, dapat pula digunakan dedak padi sebagai salah satu komponen bahan pakan untuk menyusun ransum.
Tabel 1. menunjukkan data luas panen padi di Indonesia, sementara itu, di Jawa Barat tercatat sekitar satu juta luas panen padi setiap tahun yang berarti mampu menyediakan jerami padi sebanyak sekitar 5 juta ton. Sementara itu, apabila seekor sapi dewasa memerlukan sekiitar 2 ton jerami (fermetasi) selama setahun, maka potensi jerami padi di Jawa Barat akan mampu mendukung kebutuhan sekitar 2,5 juta ekor sapi sepanjang tahun. Di lain pihak, data statistic menunjukkan bahwa populasi sapi di Jawa Barat tercatat hanya sebanyak 157 ribu ekor (pada tahun 1999). Kondisi ini memberikan peluang yang besar untuk pengembangan peternakan sapi di kawasan persawahan sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya local seoptimal mungkin.
Tabel 1. Luas dan Produktivitas Tanaman
Padi sawah 10.476.000 44,37 46.483.000
Padi ladang 1.255.000 21,95 2.754.000
Kedelai 1.095.000 11,92 1.308.000
Jagung 3.848.000 26,43 10.169.000
Singkong 1.205.000 121,92 14.696.000
(Sumber: Departemen Pertanian, 1999)
STRATEGI PEMANFAATAN JERAMI SEBAGAI PAKAN SAPI
fermentasi terbuka ini dapat dilakukan sebagai berikut: pembuatan jerami padi termentasi dilakukan pada tempat terlindung dari hujan maupun sinar matahari langsung. Proses pembuatan dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap fermentatif dan tahap pengeringan dan penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang baru dipanen dari sawah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan tersebut, dan diharapkan masih mempunyai kandungan air sekitar 65 persen. Bahan yang digunakan dalam proses fermentatif adalah urea dan probiotik, yaitu campuran dari berbagai mikroorganisme
yang dapat membantu pemecahan
komponen serat dalam jerami padi tersebut. Jerami padi segar yang akan dibuat menjadi jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan kurang lebih 20 cm kemudian ditaburi dengan urea dan probiotik secukupnya, dan diteruskan dengan lapisan timbunan jerami padi berikutnya yang juga setebal sekitar 20 cm. Demikian seterusnya sehingga ketebalan tumpukan jerami padi tersebut mencapai sekitar satu hingga 2 meter. Jumlah urea yang digunakan adalah mengikuti takaran sebanyak 5 kg urea untuk setiap ton jerami padi segar. Demikian pula takaran probiotik yang digunakan adalah 5 kg probiotik untuk setiap ton jerami padi segar.
Setelah pencampuran urea dan probiotik pada jerami padi tersebut dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentatif dapat berlangsung dengan baik. Setelah itu, pada tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami padi fermentasi tersebut. Tumpukan jerami padi yang telah mengalami proses fermentatif tersebut dikeringkan dibawah sinar matahari dan dianginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang juga terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi tersebut dapat diberikan kepada sapi sebagai pakan menggantikan rumput segar. Dengan cara demikian pemanfaatan hijauan pakan ternak dalam bentuk jerami padi akan dapat dilakukan sepanjang tahun dan lebih efisien dalam pemanfaatan waktu dan tenaga peternak.
Bangunan tempat pengolahan jerami padi dibuat dengan kapasitas 100 ton, yang terdiri atas 5 unit, masing-masing berkapasitas 20 ton. Untuk itu diperlukan masing-masing bangunan/saung berukuran 4 x 10 m2. Lantai dasar bangunan terbuat dari
beton/semen-bata tanpa dinding. Bahan terbuat dari kayu atau bambu yang cukup besar dan kuat. Atap terbuat dari genting. Jarak lantai ke atap adalah 3 m. Sebagai gambaran dalam pelaksanaan pembuatan jerami padi yang difermentasikan dapat dilihat seperti dalam alur berikut:
Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan kemampuan genetik ternak untuk pertumbuhan atau deposisi nutrien dalam jaringan tubuh maka perlu dilengkapi dengan ransum yang memenuhi kebutuhan nutrien tersebut. Formulasi ransum dapat dilakukan menggunakan bahan-bahan pakan yang tersedia di lokasi, seperti dedak padi, jagung, atau mendatangkan dari lokasi lain seperti bungkil kelapa, bungkil inti sawit dan lain sebagainya. Penyusunan ransum untuk memenuhi kebutuhan ternak untuk hidup pokok dan berproduksi dapat mengikuti standard yang dikeluarkan oleh NRC (National Research Council).
Jerami dari sawah
Tumpukan + probiotik + urea
Pengeringan
Pengepresan
Penyimpanan
Pemberian pada Ternak
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisis Ternak
Proses fermentasi dan amoniasi (3 minggu)
Sinar matahari
POTENSI SAPI SEBAGAI PENGHASIL PUPUK ORGANIK
Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran (feses) sebanyak 8-10 kg setiap hari. Apabila kotoran sapi ini diproses menjadi pupuk organik dapat diharapkan akan menghasilkan 4-5 kg per hari. Dengan demikian, pada luasan sawah satu hektar dapat diharapkan akan menghasilkan sekitar 7,3 sampai dengan 11,0 ton pupuk organik per tahun. Sementara itu, penggunaan pupuk organik pada lahan persawahan adalah 2 ton per hektar untuk setiap kali tanam, sehingga potensi pupuk organik yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8 sampai dengan 2,7 hektar dengan dua kali tanam setahun.
PEMELIHARAAN TERNAK
Pemeliharaan ternak merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan pemanfaatan sumberdaya local di daerah persawahan secara optimal. Kegiatan ini meliputi berbagai aspek, antara lain yang berkaitan dengan perkandangan, pakan/nutrisi, repoduksi/breeding, kesehatan ternak serta aspek social budaya setempat.
Kandang
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi serta tempat pengumpulan kotoran ternak yang akan diproses menjadi pupuk organik. Alas kandang dapat digunakan serbuk gergaji, bagase atau bahan lain yang dapat menyerap air dan campuran antara alas kandang dengan kotoran sapi (feses dan urine) tidak perlu dibersihkan setiap hari, namun dikumpulkan hingga 12-14 hari kemudian dipindahkan pada lokasi pembuatan pupuk organik. Lama waktu pengumpulan dan penggantian alas kandang ini sangat tergantung pada kondisi yang ada. Pada kondisi tertentu, dapat pula ditunggu hingga 30 hari baru diganti dengan alas kandang yang baru.
Tempat Penyimpanan Pakan
Untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun maka perlu disediakan tempat penyimpanan pakan, baik dalam bentuk jerami padi yang telah difermentasikan maupun bahan pakan konsentrat yang diperlukan. Untuk tempat penyimpanan jerami padi yang telah
difermentasikan cukup dibuat dalam bentuk bangunan lindungan (shed) agar tidak langsung terkena hujan atau panas matahari setiap saat.
Potensi Produksi Daging
Dengan pola pemeliharaan sapi secara terintegrasi ini diharapkan akan dapat diperoleh pertambahan berat badan sapi sebesar 0,4-0,8 kg per hari, sehingga potensi produksi tambahan berat badan dapat diperkirakan sekitar 150 sampai dengan 300 kg per ekor per tahun. Apabila dalam kawasan seratus hektar sawah dapat dipelihara 100 ekor sapi maka dapat diharapkan akan ada tambahan berat badan sapi sebesar 15000 sampai dengan 30000 kg. Untuk kondisi harga sekarang, potensi produksi daging ini setara dengan tambahan pendapatan sebesar Rp. 225 juta sampai dengan Rp. 450 juta per tahun per 100 hektar sawah, sebelum dikurangi biaya pemeliharaan. Sementara itu, apabila digunakan sapi betina yang diharapkan dapat menghasilkan anak sapi sebagai bakalan dalam usaha penggemukan sapi, maka akan dapat diperoleh keuntungan dengan adanya peningkatan populasi ternak.
Bahan Pakan
sehingga manfaat nutrisi yang terkandung didalam formula pakan tersebut tinggi.
Menyiasati Ketersediaan Bahan Pakan
Bahan pakan yang tersedia di wilayah pemeliharaan sapi perlu diketahui, baik dari segi jumlah, keberlanjutan, kualitas maupun harga. Bahan-bahan pakan yang berkualitas rendah perlu mendapatkan perlakuan awal sebelum digunakan dalam penyusunan ransum. Hijauan sebagai sumber serat, terutama dengan kandungan lignoselulosa tinggi dapat dilakukan proses fermentasi terlebih dahulu. Bahan pakan dengan kandungan protein tinggi perlu diupayakan agar protein tersebut tidak mudah didegradasi didalam rumen sehingga akan dapat mencapai saluran cerna pascarumen secara utuh dan dapat dimanfaatkan dalam proses deposisi nutrien. Proses fermentasi mikrobial didalam rumen dapat pula diupayakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu pemanfaatan nutrien dalam pakan dengan lebih efisien. Agar diperoleh kualitas pakan yang baik maka diperlukan adanya pengetahuan tentang kandungan nutrien serta sifat-sifat fisika yang mempengaruhi karakteristik degradasinya didalam rumen.
Kemampuan Konsumsi Pakan Ternak
Sebagaimana telah dinyatakan diatas, jumlah pakan yang dapat dikonsumsi seekor ternak (sapi) ditentukan oleh kapasitas rumen dan kecukupan energi yang dikonsumsi. Secara teoritis, ternak akan berhenti makan apabila kebutuhan energi telah terpenuhi, atau apabila kapasitas rumen sudah maksimal sehingga tidak mungkin lagi menampung tambahan pakan. Kecepatan cerna dari komponen nutrien, terutama serat akan mempengaruhi degradasi partikel pakan serta kecepatan aliran digesta dari rumen ke saluran cerna pasca rumen. Dengan demikian akan mempengaruhi pula jumlah konsumsi pakan.
Penyusunan Ransum
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam penyusunan ransum adalah bahan baku yang tersedia, komposisi kimia masing-masing bahan baku tersebut, sifat degradabilitas masing-masing komponen nutrien serta harga. Hijauan pakan ternak adalah komponen utama, sedangkan pakan konsentrat perlu diformulasikan dan
disesuaikan dengan kecukupan nutrien yang disediakan oleh hijauan tersebut. Imbangan antara energi dan protein dalam pakan perlu diperhatikan. Pakan konsentrat dapat disusun sehingga kadar protein mencapai 13-16 % dengan total digestible nutrien (TDN) sekitar 68%.
Proses Pembuatan Pupuk Organik
Lahan pertanian memerlukan pupuk organik untuk mempertahankan kesehatan tanah serta kecukupan unsur hara tanaman. Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama ternyata dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi tidak sehat untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini berkaitan dengan perubahan fisika tanah dan mikrobiologi tanah sedemikian rupa sehingga pertumbuhan perakaran tanaman menjadi terganggu yang pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Berkurangnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian di Indonesia dewasa ini menunjukkan bahwa sebenarnya diperlukan tidak kurang dari 100% tambahan bahan organik untuk mengembalikan pada keadaan kesehatan tanah yang normal. Hal ini berarti akan diperlukan pupuk organik yang sangat besar untuk membuat kembali keadaan kesehatan tanah normal tersebut. Di lain pihak, peternakan terutama ternak ruminansia memberikan peluang yang besar untuk menghasilkan kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organik. Kandungan mikroba rumen dapat dimanfaatkan untuk membantu proses dekomposisi bahan organik yang ada pada manure ternak tersebut. Disamping itu, limbah-limbah pertanian lainnya juga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik. Berikut ini adalah gambaran mengenai upaya pemanfaatan kotoran ternak (sapi) yang terdiri atas campuran dari serbuk gergaji, feses, urin dan bahan-bahan lain sebagai bahan utama pembuatan pupuk organik.
dipindahkan ke tempat pembuatan pupuk organik. Tempat pemrosesan pembuatan pupuk organik harus dijaga agar tidak mendapatkan panas langsung dari sinar matahari, dan juga harus terlindung dari air hujan. Manure tersebut dicampur dengan probiotik dengan imbangan 2,5 kg probiotik untuk setiap ton bahan pupuk, selanjutnya ditumpuk pada tempat yang telah disiapkan sehingga mempunyai ketinggian tumpukan sekitar 1 meter. Sumber unsur kalsium (kapur) ditambahan dan dicampurkan dengan kebutuhan 2,5 kg per ton bahan pupuk, sumber unsur phosphor (TSP) ditambahkan sebanyak 2,5 kg juga. Campuran tersebut didiamkan selama kurang lebih 3 minggu dengan pembalikan dilakukan setiap minggu.
Proses fermentasi (dekomposisi) bahan organik dalam manure dan bahan-bahan lain yang tercampur didalamnya akan
menyebabkan adanya peningkatan
temperatur, dan ini harus dicatat pada interval waktu tertentu untuk mengetahui perubahan temperatur yang terjadi. Keberhasilan proses dekomposisi tersebut akan diikuti dengan peningkatan temperatur hingga mencapai sekitar 70 derajat C kemudian menurun yang menunjukkan adanya pendinginan yang disebabkan oleh berkurangnya proses dekomposisi dan akhirnya mencapai titik konstan. Hal ini menunjukkan akhir proses dekomposisi sehingga proses pembuatan pupuk organik telah selesai. Bahan sumber unsur kalsium (CaCO3) dan sumber potasium (abu sekam) dapat ditambahkan dan diaduk merata sebanyak 2,5 kg CaCO3 dan 100 kg abu sekam untuk setiap ton pupuk organik. Untuk mendapatkan partikel pupuk organik yang relatif sama, maka dilakukan pengeringan dengan sinar matahari pada periode satu minggu terakhir, kemudian dilanjutkan dengan penyaringan secara fisik. Pupuk organik yang sudah siap ini selanjutnya disimpan dalam kantong plastik (ukuran tergantung pada tujuan pengepakan) dan selanjutnya siap untuk didistribusikan. Sebagai gambaran alur kegiatan pembuatan pupuk organik ditunjukkan sebagai berikut:
Kotoran sapi + alas kandang
Ditimbun + probiotik + urea +TSP
Pembalikan (per minggu hingga 3 kali)
Penyaringan
Pengepakan
Penyimpanan
Strategi Pemberian Pakan
Jerami padi yang sudah diolah dijadikan pakan berserat yang utama. Jumlah pemberian sebanyak 6-8 kg per ekor per hari. Pakan tambahan berupa konsentrat diberikan secara strategis disesuaikan dengan status fisiologis ternak (kering, bunting atau menyusui). Pada kondisi sapi induk tidak bunting pakan tambahan diberikan sebanyak 1-2 kg per ekor per hari. Pakan tambahan diberikan dalam jumlah lebih banyak (3 kg per ekor per hari) selama dua minggu sebelum dikawinkan hingga 4 minggu setelah dikawinkan. Setelah itu jumlah pakan yang diberikan dikurangi menjadi 1 kg ekor per hari sampai umur kebuntingan 210 hari (7 bulan). Kemudian pemberian pakan tambahan ditingkatkan lagi menjadi 3 kg per ekor per hari hingga saat melahirkan. Air minum disediakan cukup setiap saat. Kebutuhan air minum sekitar 50 liter ekor per hari
Perlu dikembangkan tanaman leguminosa sebagai sumber hijauan berprotein tinggi. Glirisidia, turi, lamtoro dan kaliandra adalah contoh tanaman leguminosa yang dapat dikembangkan.
IMPLIKASI
Teknologi fermentasi jerami diharapkan
mampu memberikan jalan keluar
setiap tahun. Sistem integrasi sapi dengan tanaman padi memberikan peluang untuk ikut meningkatkan produktivitas padi, menjaga kelestarian kesuburan lahan pertanian serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian. 1999. Profil pertanian dalam angka. Jakarta.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2000b. Laporan bulanan Pusat Penelitian Ternak. Mei 2000. Bogor.