1
KERJA INDONESIA (TKI)
(STUDI KASUS PADA KOPERASI SERBA USAHA BINA TKI SEJAHTERA,
DUSUN RINGINPUTIH, DESA SUMBERBOTO, KECAMATAN WONOTIRTO,
KABUPATEN BLITAR)
Dina Srirahayu
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
2013
ABSTRACT
Sumberboto village is one of enclave migrant workers in Blitar regency. The problem that arise is when the family and migrant workers find it difficult to managed the migrant workers remittance, so that the benefits of migrant workers remittance can not be used in real. Those situation becames the background of establishment of KSU Bina TKI Sejahtera to managed migrant workers remittance. This research using Anthony Giddens’s Structuration Theory (1984) to explain social practice that occured and its social practice patterns in the management of the migrant workers remittance. Qualitative techniques with case study approach were used to gather data, including individual in-depth interviews, direct and participant observation. Based on teoritical propotition and pair the pattern to data analyze. The result showed that the process of management migrant workers remittance started with the encounters from agent in Sumberboto village locale so that generate social practice of parties that engaged in cooperative. Social practice in the management of migrant workers remittance also generating another social practices such as saving and loan social practice and fertilizer sales social practice. Those social practices can be occured because of the agent and structure dualism which is reflected in signification, domination and legitimation structure. Agency dynamics and interactions between the various structure in the context of the locality, leads to changes in the structure of (S-D-L). Moreover, from the implementation of the three structures that are not balanced, latent potential conflict and the practice of moral hazard.
Key words: Migrant Workers Remittance, Structuration, Social Practice and Cooperative.
Pendahuluan
Masalah pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri bukanlah masalah yang baru di negara Indonesia. Pengiriman TKI di Indonesia ke luar negeri bahkan sudah berlangsung pada masa penjajahan atau masa kolonial. Dimana pada masa itu banyak TKI yang dikirim ke luar negeri sebagai tenaga kerja paksa ataupun sebagai pasukan perang bangsa penjajah. Sehingga migrasi yang dilakukan oleh TKI pada masa dulu bukan didorong oleh kebutuhan ekonomi para TKI, tetapi lebih ditentukan oleh kepentingan ekonomi negara penjajah dan para pengusaha asing.1
Pengiriman TKI ke luar negeri mengalami beberapa kali periode antara lain:
1 Tadjuddin Noer Effendi. Peluang Kerja, Migrasi Pekerja, dan
Antisipasi Menghadapi Era Pasar Bebas 2003. Dalam M. Arif Nasution (Ed.). 1999. Globalisasi dan Migrasi Antarnegara. Bandung: Alumni. Hal: 38
1. Periode 1875-1940 pekerja Indonesia sudah bekerja sebagai kuli kontrak di Suriname dan New Caledonia.
2. Periode 1924-1944 ketika pendudukan Jepang, demi memenuhi kebutuhan perang, Jepang mengirim dengan paksa pekerja-pekerja Indonesia untuk bekerja di Singapura dan Thailand.
Sedangkan mulai tahun 1960-an, migrasi yang dilakukan oleh TKI lebih bersifat sukarela (voluntary migration) dan terbagi ke dalam beberapa pola yaitu:
1. Periode 1969-1979: hampir 50 persen dari total TKI menuju ke negara-negara Eropa termasuk ke negara Belanda.
2. 1979-1989: negara-negara di Timur Tengah terutama Arab Saudi menjadi tujuan utama dari TKI yang bekerja di luar negeri
Meningkatnya arus migrasi TKI ke luar negeri, khususnya sejak zaman Orde Baru, yaitu pada tahun 1970-an, pemerintah terlihat secara eksplisit memberikan perhatian kepada migrasi internasional tenaga kerja yang mulai menunjukkan gejala peningkatan.2 Migrasi TKI tersebut terjadi sebagai
respon masyarakat terhadap perbedaan kemampuan ekonomi telah menimbulkan kesadaran adanya “tekanan” untuk melakukan migrasi ke daerah yang menjanjikan adanya kesempatan kerja yang lebih baik.
Dari sekian banyak kantung TKI, Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah kantung TKI yang cukup besar. Berdasarkan data dari BNP2TKI sampai bulan Juni 2012, Kabupaten Blitar menempati urutan ketiga se-Jawa Timur, sebagai daerah penghasil TKI yaitu sebanyak 4.300 orang. Sedangkan Desa Sumberboto sendiri menempati urutan keempat di Kabupaten Blitar sebagai daerah penghasil TKI. Berdasarkan data dari SBMI DPC Blitar yaitu pada tahun 2011 jumlah TKI Desa Sumberboto sebanyak 257 orang.
Banyaknya TKI tersebut, berkorelasi positif dengan banyaknya jumlah uang remitansi3 yang
dikirimkan ke daerah asal. Tahun 2011, Kabupaten Blitar telah menyumbang jumlah remitansi sebanyak Rp 67,85 milliar.4 Banyaknya jumlah remitansi yang
dihasilkan oleh para TKI tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan kesadaran dan kemampuan para TKI untuk memanfaatkan dan mengelola dana remitansi tersebut secara bijaksana dengan berorientasi kepada kesejahteraan kehidupan TKI dan keluarga TKI di masa depan.
Permasalahan tersebut melatarbelakangi berdirinya Koperasi Serba Usaha (KSU) Bina TKI Sejahtera yang diinisiatori seorang TKI Purna dari
2 Sejak orde baru, secara kuantitatif peningkatan jumlah pekerja
migran (TKI) di luar negeri adalah sebagai berikut: Pelita I (1969-1974) sebanyak 5.624 orang; Pelita II (1974-1979) sebanyak 17.052 orang; Pelita III (1979-1984) sebanyak 56.410 orang; Pelita IV (1984-1989) sebanyak 292.362 orang; Pelita V (1989-1994) sebanyak 558.296 orang. (Riwanto Tirtosudarmo. Dimensi Politik Migrasi Internasional: Indonesia dan negara Tetangga. Dalam M. Arif Nasution (Ed.). 1999. Globalisasi dan Migrasi Antarnegara. Bandung: Alumni. Hal: 151.
3
Remitansi adalah gaji yang dikirimkan oleh seorang TKI yang berada di luar negeri kepada keluarganya yang ada di kampung halamannya tersebut (N. Southiseng and J. Walsh. 2010. Remittances and the Changing Roles of Women in Laos.World Academy of Science, Engineering and Technology No. 49 Tahun 2011 hal: 83). Remitansi yang menjadi objek dalam penelitian skripsi ini dipusatkan pada monetary remittance khususnya dalam bentuk pengiriman uang (cash) dari TKI di luar negeri dikirim ke daerah asal atau kampung halamannya.
4 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Blitar.
2011. Data Remittance s/d Desember 2011.
Hongkong yaitu Ibu Tukirah. Pendirian KSU Bina TKI Sejahtera bertujuan untuk membantu keluarga TKI dalam proses penerimaan dan pengelolaan dana remitansi TKI agar dapat memberikan manfaat yang lebih nyata dengan tujuan akhir agar TKI tidak perlu menjadi TKI lagi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses dan pola pengelolaan dana remitansi yang dilakukan antara anggota dengan KSU Bina TKI Sejahtera.
Tinjauan Teoritis
Gambaran praktik sosial pengelolaan dana remitansi TKI disajikan dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens (1984). Teori strukturasi Giddens menggambarkan hubungan dualitas atau saling tergantung antara agen dengan struktur, yang dapat dilihat atau tercermin dalam praktik sosial yang dilakukan oleh para agen. Praktik sosial merupakan tindakan yang dilakukan secara terpola dan terus-menerus dalam lintas ruang dan waktu5 yang menggambarkan ketergantungan
timbal-balik antara agen dengan struktur.
Agen menunjuk pada aktor atau orang kongkrit dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia. Sedangkan struktur adalah sebagai aturan dan sumber daya yang terbentuk dari, dan membentuk keterulangan praktik sosial. Struktur sebagai hasil sekaligus sarana praktik sosial.6
Gagasan tentang agensi merujuk pada serangkaian tindakan, perbuatan atau perilaku yang mengacu pada arus tindakan tanpa henti.
Melalui gagasan hubungan dualitas antara agen dan struktur tersebut, Giddens mengajukan tiga gugus struktur yang disebut dengan prinsip-prinsip struktural yang dapat digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk praktik sosial antara agen dengan struktur. Prinsip struktural tersebut adalah struktur penandaan atau signifikasi (signification) menyangkut skemata simbolik, pemaknaan, penyebutan, dan wacana. Kedua, struktur penguasaan atau dominasi (domination) yang mencakup skemata penguasaan atas orang (politik) dan barang atau hal (ekonomi). Ketiga, struktur pembenaran atau legitimasi (legitimation) yang menyangkut skemata peraturan normatif, yang terungkap dalam tata hukum.
5
Anthony Giddens. 2009. Problematika Utama Dalam Teori Sosial Aksi, Struktur dan Kontradiksi dalam Analisis Sosial. (Penerjemah Dariyanto). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 121.
6
Dalam gerak praktik-praktik sosial, ketiga gugus prinsip struktural tersebut terkait satu sama lain.
Gambar 1 Skemata Praktik Sosial Giddens Sumber: Giddens. 2009.
Berdasarkan gambar 1 diatas, maka ketiga stuktur tersebut, terkait dengan praktik-praktik sosial agen dalam interaksi yang juga berkaitan dengan konsep tentang modalitas. Modalitas merepresentasikan dimensi utama dualitas struktur di dalam penciptaan interaksi. Modalitas strukturasi dimanfaatkan oleh para aktor untuk melakukan dan menciptakan interaksi, namun pada saat yang sama juga menjadi sarana untuk mereproduksi aneka komponen struktural sistem interaksi.
Konsep lain yang penting dalam teori strukturasi Giddens adalah membagi tingkat kesadaran agen ke dalam tiga kelas, yakni motivasi tidak sadar, kesadaran praktis dan kesadaran diskursif. Ketiga jenis kesadaran tersebut berkaitan tentang kemampuan agen dalam memberikan penjelasan atas motif, alasan dan tujuan dari tindakan yang dilakukan.7
Unsur penting lain dalam teori strukturasi Giddens adalah konsep waktu dan ruang. Ruang dan waktu tersebut menunjukkan proses (-isasi). Giddens membedakan tiga dimensi waktu, yaitu,8 duree,
irreversible time dan longue duree. Sedangkan
konsep ruang berkaitan dengan tempat dimana praktik sosial tersebut dilakukan, yaitu terdapat konsep locale sebagai latar interaksi dan konsep
regionalization sebagai penetapan wilayah ruang
waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan.9
KSU Bina TKI Sejahtera sebagai sebuah lembaga ekonomi desa yang berfungsi sebagai wadah untuk mengelola dana remitansi TKI, terbentuk sebagai hasil dari praktik sosial para agen
7 Ibid., hal: 21.
8 Anthony Giddens. 2010. Teori Strukturasi Dasar-dasar
Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. (Penerjemah Maufur dan Daryatno). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 55-57.
9 Ibid., hal: 182.
didalamnya dan melalui struktur tersebut, praktik sosial para agen dapat dilangsungkan kembali (direproduksi).
Penelitian ini mengambil delapan penelitian terdahulu tentang migrasi internasional tenaga kerja, manfaat dana remitansi dan peelitian tentang koperasi. Kedelapan penelitian terdahulu tersebut berfungsi sebagai acuan serta menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mengisi celah-celah yang terdapat dalam penelitian sebelumnya, yakni pada penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan pengelolaan dana remitansi TKI yang dilakukan melalui koperasi.
Metode Penelitian
Penelitian kualitatif yang digunakan menggunakan pendekatan studi kasus. Jenis studi kasus yang digunakan adalah studi kasus intrinsik dengan kasus tunggal dan menggunakan single level
analysis serta memakai model pengkajian deskriptif.10 Metode tersebut digunakan untuk menyoroti pola praktik sosial antara koperasi dan anggota dengan satu masalah penting yaitu pengelolaan dana remitansi TKI.
Langkah kerja metodologis dengan menggunakan dokumen, wawancara mendalam, observasi langsung dan observasi partisipan jenis partisipasi moderat.11 Teknis analisis data didasarkan
pada proposisi awal dan penjodohan pola. Proposisi awal penelitian ini adalah “perjumpaan-perjumpaan
antar agen dalam pengelolaan dana remitansi menghasilkan praktik sosial pihak-pihak yang terikat dalam koperasi, yang dapat terjadi karena adanya SDL yang terbangun dalam dualitas agen dan struktur serta dapat menghasilkan sebuah pola perubahan struktur (dinamika S-D-L)”. Sedangkan
teknik penjodohan pola merupakan strategi analisis data yang dilakukan dengan membandingkan pola yang didasarkan atas empiri dengan pola yang diprediksikan (atau beberapa prediksi alteratif).12
Pihak-Pihak yang Terikat dan Pengelolaan Dana Remitansi TKI Melalui KSU Bina TKI Sejahtera di Desa Sumberboto
KSU Bina TKI Sejahtera sebagai lembaga ekonomi yang terbentuk atas dasar inisiatif TKI
10 Agus Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial,
Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif. Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hal: 119-121.
11 Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif
dan R&D. Cetakan Keempat. Bandung: Alfabeta. Hal: 227.
12
Purna dengan mengajak TKI Purna yang lain dan keluarga TKI, sebelumnya berasal dari kegiatan arisan hari raya ibu-ibu warga Desa Sumberboto yang dapat terjadi karena adanya perjumpaan-perjumpaan antar para agen yakni expert agent dengan ibu-ibu mantan anggota arisan hari raya dalam suatu locale tertentu sebagai latar interaksi yakni Desa Sumberboto.
Agar menjadi sebuah ciri kehidupan yang lebih mapan (terinstitusionalisasi) maka perjumpaan-perjumpaan yang dilakukan oleh para agen tersebut harus dilakukan secara rutin yang menggambarkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara berulang (rekursif) yang menandakan bahwa kehidupan manusia atau aktivitas-aktivitas sosial manusia dipandang sebagai duree yaitu suatu arus perilaku yang terus-menerus.
Perjumpaan yang dilakukan oleh para agen tersebut, menggambarkan sebuah interaksi atau pertemuan-pertemuan yang mengacu pada berkumpulnya dua orang atau lebih dalam konteks keserempakan (pertemuan-muka/co-presence).13
Perjumpaan-perjumpaan yang terjadi juga mengarahkan untuk terbentuknya interaksi terfokus yaitu dimana dua individu atau lebih mengkoordinasikan aktivitas-aktivitasnya melalui titik pertemuan terus-menerus suara dan ekspresi wajah.14
Interaksi terfokus tersebut, membuat para agen menempatkan dirinya (positioning of the body) sesuai dengan tugas-tugasnya (spatiality of situation). Ibu Tukirah sebagai expert agent yakni
agen yang mampu memberi sederet kekuasaan kausal, termasuk mempengaruhi kekuasaan-kekuasaan yang disebarkan orang lain, mengajak para ibu-ibu mantan anggota arisan hari raya untuk mendirikan kembali arisan hari raya tersebut yang telah bubar. Ibu-ibu mantan anggota arisan hari raya tersebut berindak sebagai lay agent karena kedudukannya yang dapat dipengaruhi oleh expert
agent dan keberadaannya yang berfungsi untuk
mendukung tindakan yang dilakukan oleh expert
agent.
Pengambilan posisi tubuh yang dilakukan oleh
expert agent terlihat pada tindakan yang dilakukannya untuk mengumpulkan ibu-ibu mantan anggota arisan dan masyarakat pada umumnya untuk melakukan musyawarah serta memberikan
13 Anthony Giddens. 2011. The Constitution of Society: Teori
Strukturasi Untuk Analisis Sosial. (Penerjemah Adi Loka Sujono). Yogyakarta: Pedati. Hal: 84.
14 Ibid., hal: 85.
penjelasan atas penyampaian inisiatifnya untuk membentuk kembali arisan hari raya.
Interaksi yang terjadi antara expert agent dengan Ibu-Ibu mantan anggota arisan tersebut sebagai sebuah hubungan sosial, dapat berlangsung karena adanya ketersediaan lokal (locale) dan kehadiran (presence). Desa Sumberboto sebagai latar interaksi berupa daerah pedesaan, memberikan ciri-ciri tertentu dan memberikan karakteristik kehidupan yang khusus terhadap masyarakatnya, yaitu sebagai masyarakat paguyuban (gemeinschaft), dimana masyarakatnya masih hidup dalam suasana kekerabatan tinggi, tolong-menolong, gotong-royong dan kerukunan yang tinggi.15 Masyarakat hidup
dalam kedamaian dan kebersamaan.
Aspek fisik lokal berupa pangkalan (station) dimulai dari pertemuan expert agent dengan beberapa agen yang kemudian meluas dan dilakukan sekalian dengan memanfaatkan sarana kegiatan kemasyarakatan baik yang bersifat sosial seperti posyandu dan PKK maupun bersifat keagamaan seperti yasinan untuk melakukan pertemuan dan perjumpaan-perjumpaan dengan ibu-ibu mantan anggota arisan yang membahas upaya pembentukan kembali arisan hari raya yang telah bubar.
Dengan begitu, Desa Sumberboto secara khas telah diregionalisasikan secara internal menjadi ruang pertemuan yasinan, posyandu, PKK, musyawarah sebagai tempat melakukan kegiatan berupa interaksi sosial antara expert agent dengan ibu-ibu mantan anggota arisan yang dilakukan secara rutin. Proses pembentukan kembali arisan hari raya dapat diringkas dalam gambar dibawah ini.
Gambar 2 Proses Pembentukan Kembali Arisan Hari Raya
15
Inisiatif yang dilakukan oleh expert agent untuk membentuk kembali arisan hari raya, merupakan sebuah tindakan yang dilandasi oleh kesadaran praktis, yaitu sebuah bentuk tindakan yang secara khas dapat dilakukan, berupa gugus pengetahuan praktis yang tidak selalu dapat diurai. Kesadaran praktis melibatkan ingatan yang aksesnya dimiliki agen dalam duree tindakan tanpa mampu mengekspresikan apa yang dia ‘ketahui’.16
Kesadaran praktis yang dimiliki expert agent merupakan hasil dari pengalaman masa lalu yang sedang dihadirkan kembali (presencing). Sehingga pengalaman masa lalu tersebut merupakan media dimana masa lalu mempengaruhi masa depan, yang identik dengan mekanisme dasar memori.17
Kesadaran praktis menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh agen tanpa dipertanyakan lagi (begitu saja dilakukan) dan tindakan tersebut tidak selalu dapat diuraikan oleh agen.
Pada perkembangannya expert agent harus mampu memberikan penjelasan tentang alasan-alasan dan tujuan yang mendasari tindakan yang dilakukannya yang diperlukan untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada ibu-ibu mantan anggota arisan hari raya, agar dapat mendukung rencana expert agent untuk membentuk kembali arisan hari raya. Sehingga disini terjadi pergeseran atau perkembangan kesadaran yang dimiliki expert
agent dari kesadaran praktis menuju kesadaran
diskursif.
Setelah koperasi berhasil dibentuk kembali, jumlah anggota pada awalnya sebanyak 26 orang. Penurunan jumlah anggota disebabkan oleh kenaikan jumlah iuran dalam arisan hari raya. Baik mantan anggota yang tetap memilih untuk ikut kembali menjadi anggota arisan yang berhasil dibentuk kembali maupun mantan anggota yang memilih untuk tidak ikut, memiliki jenis kesadaran diskursif karena mampu memberikan alasan atas tindakan yang dilakukan meskipun juga terdapat beberapa anggota yang memiliki jenis kesadaran praktis karena tidak mampu memberikan penjelasan secara eksplisit.
Selang tiga tahun berjalan, arisan yang telah berhasil dibentuk mengalami perkembangan yang pesat dan mendorong untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai sebuah badan hukum berbentuk koperasi. Upaya yang dilakukan expert agent untuk merubah arian hari raya menjadi koperasi, memiliki pola yang sama dengan upaya membentuk kembali arisan hari raya, yaitu dilakukan pertama kali dengan
16 Giddens. 2011. Op.cit., hal: 58. 17 Ibid., hal: 55.
melakukan perjumpaan-perjumpaan untuk memberikan sosialisasi tentang kehidupan perkoperasian kepada anggota arisan agar mendapat dukungan dari anggotanya.
Pendirian koperasi selain dilatarbelakangi oleh perkembangan arisan yang menjadi semakin besar juga karena niatan expert agent untuk membantu keluarga TKI dalam penerimaan dan pengelolaan dana remitansi TKI serta merubah pola pikir dan tindakan keluarga TKI yang pragmatis dalam pemanfataan dana remitansi menjadi tindakan yang berorientasi kedepan demi peningkatan kesejahteraan keluarga agar dana remitansi TKI dapat dikelola secara bijaksana sehingga mampu memberikan manfaat secara nyata.
Pola dan Dinamika Praktik Sosial Pengelolaan Dana Remitansi TKI di KSU Bina TKI Sejahtera
Praktik sosial antar agen dimulai dengan praktik sosial pengelolaan dana remitansi TKI yang kemudian dapat melahirkan bentuk-bentuk praktik sosial yang lain yaitu praktik sosial simpan pinjam dan praktik sosial penjualan pupuk yang merupakan hasil dari pemanfaatan dan pengelolaan dana remitansi TKI oleh KSU Bina TKI Sejahtera.
Baik usaha simpan pinjam maupun penjualan pupuk yang dilakukan oleh KSU Bina TKI Sejahtera, memiliki dua sisi sudut pandang.
Pertama, apabila kedua aktivitas tersebut dilihat
sebagai sebuah teknis aktivitas atau mekanisme, maka tindakan tersebut disebut sebagai struktur.
Kedua, apabila aktivitas tersebut dilihat sebagai
sebuah tindakan yang didalamnya terdapat agen yang melakukan tindakan tersebut, maka kedua aktivitas tersebut dapat disebut sebagai praktik sosial.
Proses pembentukan kembali arisan hari raya yang diinisiasi oleh expert agent telah membentuk struktur dominasi pada expert agent, karena mampu mempengaruhi dan menguasai orang lain (dominasi politik) yaitu para mantan anggota arisan. Selain itu dalam praktik sosial tersebut, telah memunculkan prototipe18 bahwa sesuatu yang berhubungan dengan
arisan, atau ketika seseorang menyebut kata arisan, maka akan identik atau prototipe yang muncul adalah sosok dari expert agent yang berarti juga adanya dominasi atas sumberdaya (dominasi ekonomi) yaitu arisan hari raya ibu-ibu (karena arisan menjadi identik dengan expert agent).
18
Dari praktik sosial tersebut, juga muncul signifikasi pada diri expert agent yang dilegitimasi oleh masyarakat, berupa simbolisasi bahwa expert
agent adalah seorang yang ulet dan pekerja keras,
dapat dipercaya dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Legitimasi atas simbolik tersebut dapat muncul ketika para masyarakat menganggap hal tersebut sebagai sebuah kebenaran.
Dualitas agen dan struktur dalam pembentukan kembali arisan hari raya, terlihat dari hubungan bahwa praktik sosial yang terjadi telah membentuk struktur dan praktik sosial tersebut juga dapat berlangsung kembali (direproduksi kembali) karena adanya ketiga sruktur tersebut. Dari struktur-struktur yang telah terbentuk, juga dapat memperlihatkan pola praktik sosial dalam pembentukan kembali arisan hari raya memiliki pola dominasi – signifikasi – legitimasi (D – S – L).
Dalam perkembangannya, struktur selalu mengalami dinamika yang menunjukkan bahwa struktur tersebut tidak bersifat statis tetapi dinamis. Struktur dapat berubah sesuai dengan dinamika praktik sosial yang dilakukan oleh para agen. Arisan hari raya yang telah dilembagakan menjadi koperasi, pada proses awal upaya pembentukan koperasi tersebut, telah membentuk sekaligus membutuhkan struktur signifikasi yang terjadi melalui interaksi komunikasi antara expert agent dengan para anggota arisan dengan memanfaatkan skema interpretatif yang tersimpan dalam gudang pengetahuan masing-masing agen.
Strukur signifikasi yang terbentuk terdiri atas penginterpretasian yang dilakukan expert agent kepada para anggota arisan dan keluarga TKI tentang tujuan koperasi yaitu untuk menyejahterakan anggota, karena dalam koperasi terdapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang akan dibagikan kepada anggota setiap akhir tahun sebagai balas jasa kepada anggota karena telah berpartisipasi dan ikut aktif dalam memajukan koperasi. Selain itu koperasi berazazkan kekeluargaan sehingga selalu mengutamakan kepentingan anggotanya.
Keberadaan struktur signifikasi, selalu didukung bahkan dibarengi dengan adanya struktur dominasi.19 Dalam proses pendirian koperasi expert
agent dapat berinisiatif untuk mendirikan koperasi,
karena kedudukan atau jabatannya yang sebelumnya dalam arisan hari raya ibu-ibu warga Desa Sumberboto sebagai ketua arisan. Jabatan ketua menunjukkan bahwa expert agent telah memiliki kepercayaan dari para anggota, dan menjadi sarana
19 Giddens. 2011. Op.cit., hal: 36.
berupa fasilitas bagi expert agent untuk melakukan praktik sosial penguasaan.
Dominasi yang dilakukan expert agent adalah otoritas yang dimilikinya untuk merubah arisan hari raya menjadi koperasi dan menjadikannya sebagai wadah bagi para TKI untuk mengelola dana remitansi mereka serta kewenangan expert agent menyampaikan ide tersebut kepada anggota untuk mendapatkan dukungan.
Kedua struktur yang telah terbentuk dalam proses pendirian KSU Bina TKI Sejahtera, mendapatkan pengesahan dari beroperasinya struktur legitimasi. Struktur legitimasi merupakan hasil sekaligus sarana berlangsungnya praktik sosial berupa pemberian sanksi kepada anggota arisan yang tidak patuh atau tidak sejalan dengan ketua arisan untuk membentuk koperasi. Modalitas yang digunakan untuk melakukan praktik sosial pemberian sanksi adalah dengan adanya norma.20
Norma-norma baik yang tertulis ataupun tidak tertulis yang terdapat dalam hubungan antara anggota arisan dengan ketua arisan, terbentuk sebagai hasil dari struktur dominasi yang sangat kuat yang dimiliki expert agent yang kemudian diperkuat oleh struktur sosial-budaya masyarakat Desa Sumberboto. Kuatnya dominasi yang dimiliki expert
agent terlihat ketika expert agent memiliki inisiatif
untuk mendirikan KSU Bina TKI Sejahtera, maka anggota arisan memiliki kewajiban untuk mendukung rencana yang dimilikinya.
Kondisi tersebut diperkuat oleh tata kelakukan yang lazim terdapat pada masyarakat pedesaan bahwa anggota suatu kelompok ataupun masyarakat harus mematuhi pemimpinnya. Maka ketika terdapat anggota arisan yang tidak sepaham dengan keputusan expert agent untuk mendirikan koperasi, anggota tersebut dianggap telah melawan ketua arisan dan di mata masyarakat dilihat sebagai anggota masyarakat yang telah melanggar norma berupa tata kelakukan (mores) untuk mematuhi pemimpinnya dan dianggap telah tidak sopan.
Berdasarkan analisis diatas, terlihat bahwa dinamika praktik sosial para agen dari aktivitas pembentukan kembali arisan hari raya kemudian aktivitas pendirian koperasi, juga telah menyebabkan terjadinya dinamika perubahan struktur yang telah terbentuk. Pola praktik sosial yang terbentuk dari aktivitas pembentukan kembali arisan hari raya
20Norma merupakan sebuah aturan yang berlaku dikalangan
adalah D – S – L berubah menjadi pola praktik sosial S – D – L ketika berada pada aktivitas pendirian KSU Bina TKI Sejahtera.
Perubahan pola praktik sosial tersebut juga menunjukkan perubahan pada jenis struktur yang paling dominan. Praktik sosial pembentukan kembali arisan hari raya, menempatkan struktur dominasi sebagai struktur yang paling dominan karena tindakan untuk membentuk kembali arisan hari raya merupakan sebuah upaya untuk membentuk, menciptakan, atau menghadirkan kembali sesuatu yang sebelumya sudah pernah ada, yakni arisan hari raya. Sehingga yang dibutuhkan adalah kemampuan seseorang untuk mengkoordinir dan memimpin kelompok lainnya agar usaha tersebut dapat terwujud.
Berbeda dengan praktik sosial pendirian koperasi, masyarakat dihadapkan pada sebuah bentuk lembaga ekonomi yang baru yaitu berbentuk koperasi dimana banyak masyarakat yang masih merasa asing dengan koperasi itu sendiri. Sehingga dalam praktik sosial yang terjadi, menempatkan struktur signifikasi sebagai struktur yang dominan karena berperan penting dalam usaha untuk memberikan pemahaman, pengertian dan pemaknaan masyarakat terhadap koperasi. Struktur signifikasi dibutuhkan dalam upaya untuk membangun atau menciptakan sebuah institusi yang baru yang sebelumnya belum pernah ada, karena diperlukan sebuah komunikasi yang berfungsi sebagai jembatan untuk melakukan transfer pengetahuan antar agen.
Gambar 3 Pola Praktik Sosial Pembentukan Arisan dan Koperasi serta Pengelolaan dana Remitansi TKI
Setelah koperasi berdiri, koperasi mendirikan usaha simpan-pinjam dan penjualan pupuk dimana sebagian dari modal yang digunakan berasal dari dana remitansi TKI. Usaha simpan-pinjam tersebut,
merupakan pengembangan dari usaha simpan-pinjam yang dilakukan oleh arisan hari raya. Praktik sosial simpan-pinjam antar agen dapat terjadi karena KSU Bina TKI Sejahtera menyediakan jasa bagi para anggota untuk melakukan aktivitas simpan (menabung) maupun aktivitas pinjam (hutang) di koperasi.
Praktik sosial simpan-pinjam di koperasi dimulai dengan adanya struktur signifikasi yang dilakukan oleh para pengurus koperasi sebagai
expert agent. Pengurus koperasi melakukan komunikasi selain tentang kehidupan koperasi dan keuntungan dari menjadi anggota koperasi yang dapat menyejahterakan anggota, pengurus juga melakukan sosialisasi tentang hak dan kewajiban dari menjadi anggota koperasi, salah satunya adalah berhak mendapatkan pelayanan dari koperasi dan berhak memanfaatkan segala fasilitas yang terdapat di koperasi, misalnya jasa simpan-pinjam koperasi. Selain itu dengan memanfaatkan jasa koperasi berarti anggota telah ikut mengembangkan koperasi. Untuk itu sebagai balas jasa dari koperasi kepada anggota, anggota berhak mendapatkan SHU.
Maka dalam praktik sosial simpan-pinjam, koperasi juga memiliki dominasi baik dominasi atas orang yang disebut dengan dominasi politik maupun dominasi atas barang yang disebut dengan dominasi ekonomi. Dominasi atas orang tersebut terlihat pada kemampuan KSU Bina TKI Sejahtera untuk mengakomodir dan mengarahkan sebagian besar penduduk Desa Sumberboto untuk menjadi anggota koperasi dan ketika mereka telah menjadi anggota, mereka juga harus tunduk kepada segala peraturan dan kebijakan koperasi, misalnya dengan mengikuti anjuran pengurus koperasi untuk ikut aktif dalam mengembangkan koperasi salah satunya dengan memanfaatkan jasa dan pelayanan yang terdapat di koperasi.
Dominasi yang dimiliki oleh koperasi juga terlihat di bidang organisasional yaitu kemampuan koperasi untuk mengatur organisasi di koperasi yang membedakan antara pengurus dan karyawan, anggota dan non anggota koperasi. Sedangkan dominasi atas barang terlihat dari kedudukan koperasi sebagai satu-satunya koperasi TKI yang terdapat di Kabupaten Blitar dan mengelola dana remitansi TKI yang kemudian dana tersebut dimanfaatkan oleh koperasi untuk mendirikan usaha simpan-pinjam dan penjualan pupuk.
struktur legitimasi. Struktur legitimasi koperasi berfungsi untuk melakukan pembenaran terhadap tindakan yang dilakukan oleh koperasi meliputi seluruh aturan (nilai dan norma) baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Aturan yang tertulis terdiri atas Anggaran Dasar (AD) koperasi yang mengatur syarat atau ketentuan umum koperasi dan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang mengatur ekonomi rumah tangga KSU Bina TKI Sejahtera. Aturan yang dimiliki oleh KSU Bina TKI Sejahtera, memberikan perlakuan yang berbeda antara anggota koperasi dengan non anggota koperasi.
Perbedaan aturan antara anggota dan non anggota pada akhirnya juga menghasilkan praktik sosial yang berbeda diantara keduanya, misalnya interaksi yang dilakukan anggota dengan koperasi lebih intens apabila dibandingkan dengan non anggota. Hal tersebut terjadi karena sebagai anggota koperasi, anggota tiap bulan mengikuti pertemuan rutin rapat bulanan, rapat tiga bulanan, dan rapat-rapat anggota yang lainnya. Selain itu, anggota juga diwajibkan untuk membayar iuran wajib tiap bulan (disamping iuran cicilan jika mereka berhutang ke koperasi). Sehingga intensitas anggota ke koperasi lebih sering jika dibandingkan dengan non anggota. Pada diri anggota juga muncul kesadaran kolektif bahwa anggota harus ikut berpartisipasi dalam koperasi untuk mengembangkan koperasi serta kewajiban menjaga interaksi sosial dan hubungan baik antar anggota koperasi berdasarkan atas asas kekeluargaan, dimana sebagian besar dari kegiatan tersebut tidak menjadi kewajiban non anggota.
Hubungan dualitas antara agen dan struktur dalam aktivitas simpan-pinjam di koperasi telah membentuk pola praktik sosial dan menghasilkan struktur berupa signifikasi – dominasi – legitimasi (S – D – L). Pola praktik sosial tersebut ternyata tidak menunjukkan bahwa selamanya pola tersebut akan mapan seperti itu, tetapi struktur yang ada juga dapat mengalami sebuah goncangan yang oleh Giddens disebut dengan ‘situasi kritis’, yaitu keadaan-keadaan yang perubahannya radikal yang tidak bisa diprediksi dan sanggup mempengaruhi sejumlah besar individu, situasi-situasi yang mengancam atau menghancurkan kepastian-kepastian kegiatan rutin yang terlembagakan.21
Situasi kritis dalam koperasi terlihat ketika salah satu struktur yang dimiliki oleh koperasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya seperti praktik sosial yang terdapat pada struktur dominasi dan legitimasi. Koperasi sebagai lembaga ekonomi yang terdapat pada masyarakat pedesaan, dalam
21 Giddens. 2004. Op.cit., hal: 72.
pelaksanaannya banyak dipengaruhi oleh struktur sosial budaya masyarakat setempat tempat koperasi tersebut berada. Sebagai contoh, ketika terdapat anggota yang mengalami keterlambatan pembayaran, seringkali menempatkan koperasi dalam keadaan yang cenderung kurang dapat memberlakukan sanksi secara tegas atas pelanggaran yang dilakukan oleh anggota maupun non anggota.
Pada kondisi seperti itu struktur dominasi dan legitimasi koperasi berarti lemah karena koperasi tidak dapat menjalankan praktik sosial yang seharusnya dilakukan. Peraturan yang telah dibuat oleh koperasi tidak dapat dilaksanakan secara tegas dan kemampuan koperasi dalam mengatur anggotanya lemah. Namun disisi lain, ketika koperasi berusaha menegakkan aturan dan mengembalikan kewibawaan koperasi dengan menerapkan struktur dominasi dan legitimasi secara tegas, terdapat kecenderungan munculnya konflik laten antara anggota dengan koperasi. Konflik laten tersebut dapat terjadi disebabkan karena adanya pengetahuan dan interpretasi yang kurang dari para anggota masyarakat.
Konflik laten muncul ketika anggota ataupun masyarakat yang mengalami gagal bayar tetapi kurang bisa menerima dengan peraturan dan kebijakan yang dilakukan oleh koperasi kemudian membentuk kelompok baru tersendiri dengan orang-orang yang tidak paham dan mengerti tentang koperasi. Munculnya kelompok tandingan dalam koperasi tersebut mengancam keberlangsungan dan kemapanan praktik sosial simpan-pinjam, keadaan tersebut juga dapat menyebabkan kondisi yang kurang kondusif bagi kemajuan koperasi dan kehidupan kekeluargaan dalam koperasi.
Gambar 4 Pola Praktik Sosial Simpan-Pinjam di KSU Bina TKI Sejahtera
KSU Bina TKI Sejahtera memulai usaha penjualan pupuk pada tahun 2010 bekerjasama dengan distributor pupuk UD. Maju Makmur Desa Sumberboto. Usaha penjualan pupuk bertujuan untuk mendekatkan pupuk kepada kelompok tani karena dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat sekitar yang merasa kesulitan untuk mendapatkan pupuk ketika musim tanam tiba. Sehingga koperasi ingin mendekatkan pupuk dari tangan distributor kepada kelompok tani.
Keberhasilan koperasi mendirikan usaha penjualan pupuk menunjukkan bahwa koperasi telah berhasil menjadi lembaga ekonomi yang mendominasi para anggota dan kelompok tani di Desa Sumberboto karena koperasi mampu menjadi lembaga yang mendominasi pendistribusian dan penyediaan pupuk bagi anggota koperasi dan kelompok tani di Desa Sumberboto, dan dalam kondisi yang demikian maka koperasi telah melakukan bentuk dominasi ekonomi. Struktur dominasi ekonomi didukung dengan interpretasi masyarakat bahwa koperasi menyejahterakan anggotanya dan selalu mementingkan kepentingan anggotanya.
Usaha jasa penjualan pupuk yang dilakukan koperasi telah berhasil berjalan selama dua tahun, hingga akhirnya pada September 2012 lalu, usaha tersebut terpaksa dibubarkan dikarenakan banyak faktor, diantaranya adalah adanya program dana hibah dari kementrian pertanian tentang program Penggerak Membangun Desa (PMD) yang diberikan kepada kelompok tani desa. Berkat adanya dana hibah tersebut, kelompok tani Desa Sumberboto memiliki dana sendiri dan dapat memenuhi kebutuhan pupuknya sendiri tanpa melalui KSU Bina TKI Sejahtera bahkan mampu membuat gudang persediaan pupuk sendiri.
Faktor penyebab gagalnya usaha penjualan pupuk yang kedua adalah karena adanya pihak-pihak tertentu di Desa Sumberboto yang bermain curang. Meskipun telah terdapat peraturan yang jelas mengenai distribusi pupuk bersubsidi, pada kenyataannya di Desa Sumberboto pupuk tersebut dapat beredar secara bebas di masyarakat.22 Kedua
kondisi tersebut meyebabkan penjualan pupuk di koperasi Sejahtera mengalami kemacetan, karena tidak adanya masyarakat yang memilih untuk membeli pupuk di koperasi.
Kegagalan KSU Bina TKI Sejahtera dalam mempertahankan usaha penjualan pupuk menunjukkan bahwa dalam mekanisme penyaluran pupuk dari distributor kepada pengecer hingga sampai konsumen akhir terdapat sebuah struktur lain yang lebih besar di atas KSU Bina TKI Sejahtera yang dapat mempengaruhi bekerjanya struktur yang terdapat di koperasi. Perbedaan struktur tersebut tergantung pada lokal (locale) masing-masing. Struktur yang terdapat di koperasi bekerja demi mengusahakan keuntungan bersama yakni anggota koperasi. Sedangkan struktur yang terdapat di masyarakat bekerja berdasarkan orientasi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu saja, yakni pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan koperasi.
Dominasi yang dimiliki oleh struktur desa yang berada di atas koperasi tersebut, disebut telah memiliki kapasitas transformatif (transformative
capacity) yaitu kemampuan mengadakan intervensi
dalam peristiwa tertentu dan bertujuan untuk mengadakan perubahan,23 yang membawa dampak
terhadap perubahan integrasi pengelolaan penjualan pupuk di KSU Bina TKI Sejahtera.
Gagalnya usaha jasa penjualan pupuk oleh koperasi juga menunjukkan bahwa struktur yang dimiliki oleh koperasi lemah, terutama dalam struktur dominasi dan signifikasi. Koperasi pada kenyataannya tidak mampu mengkoordinir dan mengarahkan anggotanya untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka dengan membelinya dari koperasi. Maka terlihat bahwa struktur dominasi berupa dominasi otoritatif terhadap preferensi anggota agar membeli pupuk di KSU Bina TKI Sejahtera dan struktur dominasi alokatif berupa menyediakan pupuk dengan harga bersaing tidak
22 Hasil wawancara dengan Ibu Tukirah pada 18 Desember
2012.
23 Karnaji. 2002. Sektor Informal Kota: Analisis Teori
dapat dilakukan oleh koperasi. Sehingga para anggota maupun masyarakat ketika terdapat pilihan lain dalam pembelian pupuk yang dirasakan lebih murah, memilih untuk membeli pupuk di tempat lain tersebut karena dianggap lebih menguntungkan.
Sedangkan lemahnya struktur signifikasi koperasi terlihat dari pemahaman, pemaknaan serta interpretasi anggota koperasi terhadap usaha dan kehidupan berkoperasi. Pengurus koperasi dapat dianggap kurang berhasil dalam melakukan komunikasi makna dan menanamkan jiwa berkoperasi kepada anggotanya. Sehingga belum tumbuh sikap loyal para anggota terhadap koperasi dan masih tingginya sifat egois para anggota yang mementingkan keuntungan pribadi dibandingkan dengan memberikan keuntungan kepada koperasi yang mana hasilnya dapat memberikan dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Tujuan koperasi untuk menyejahterakan anggota dan kewajiban anggota untuk mengembangkan kehidupan koperasi secara bersama-sama belum dapat dipahami dengan baik oleh anggota.
Munculnya kelompok-kelompok tertentu atau munculnya keadaan dimana pupuk dapat beredar luas di masyarakat, merupakan sebuah situasi kritis karena keadaan tersebut tidak dapat diprediksi sebelumnya oleh KSU Bina TKI Sejahtera dan kondisi baru yang muncul tersebut dapat memberikan ancaman dan perubahan terhadap kegiatan jual-beli pupuk yang selama ini telah dilakukan oleh koperasi.
Konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari adanya situasi kritis tersebut adalah dengan dibubarkannya usaha penjualan pupuk yang dilakukan oleh KSU Bina TKI Sejahtera pada September 2012. Sedangkan konsekuensi psikologis yang muncul adalah berkurangnya rasa percaya dan keamanan ontologis dalam diri anggota terhadap koperasi karena dari keuntungan yang diambil oleh koperasi yang ditujukan untuk kepentingan seluruh anggota koperasi dimaknai secara berbeda oleh masyarakat dan dianggap merugikan mereka. Selain itu dengan terdapatnya gagal usaha di koperasi, berpengaruh terhadap rendahnya penilaian masyarakat tentang kemampuan berwirausaha koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.
Gambar 5 Pola Praktik Sosial Penjualan Pupuk di KSU Bina TKI Sejahtera
Berdasarkan gambar diatas, maka dapat diketahui bahwa praktik sosial penjulan pupuk di KSU Bina TKI Sejahtera dapat berlangsung sekaligus memiliki pola dominasi-signifikasi-legitimasi. Tetapi karena struktur dominasi dan signifikasi koperasi yang terbentuk lebih lemah jika dibandingkan dengan struktur yang terdapat di masyarakat, maka usaha penjualan pupuk yang dilakukan oleh koperasi tersebut terpaksa dibubarkan.
Temuan-Temuan Penting
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap KSU Bina TKI Sejahtera dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens, telah menunjukkan bahwa praktik sosial yang dilakukan oleh para agen mulai dari praktik sosial pembentukan kembali arisan hari raya hingga praktik sosial pendirian koperasi dan usaha yang dilakukan oleh koperasi pada awalnya membutuhkan struktur signifikasi yang lebih dominan namun pada perkembangannya menjadikan struktur dominasi menjadi struktur yang paling dominan yang didukung oleh struktur legitimasi.
Struktur dominasi yang terbentuk baik berupa dominasi politik maupun dominasi ekonomi. Dominasi atas sumberdaya otoritatif (dominasi politik) terlihat dari kemampuan ketua koperasi atau
expert agent untuk melakukan koordinasi terhadap
dan TKI yang kemudian menjadi anggota koperasi dan non anggota koperasi secara bersama-sama di suatu masyarakat dan reproduksinya disepanjang waktu merupakan jenis sumberdaya otoritatif yang paling mendasar.
Sedangkan dominasi atas sumberdaya alokatif (dominasi ekonomi) terlihat dari kemampuan expert
agent untuk melakukan perluasan ‘kekuatan produksi’ untuk menambah sumberdaya material yang sangat mendasar bagi ekspansi kekuasaaan.24
Dalam hal ini ketua koperasi memanfaatkan dana remitansi TKI yang terdapat di koperasi dipergunakan untuk mendirikan usaha simpan-pinjam dan penjualan pupuk. Dari usaha tersebut koperasi akan mendapatkan keuntungan yang dapat digunakan untuk meningkatkan modal dan membesarkan koperasi.
Dominasi expert agent yang kuat, juga terlihat dari fasilitas dan keistimewaan yang dimiliki oleh ketua koperasi untuk menjadi pengurus koperasi sekaligus merangkap sebagai karyawan koperasi. Dimana didalamnya juga terdapat sekretaris koperasi sekaligus juga merangkap sebagai karyawan koperasi, yang merupakan anak dari expert agent. Meskipun secara kualitas sekretaris koperasi memenuhi kualifikasi untuk menjadi pengurus koperasi dan tindakan yang dilakukan berupa menduduki posisi ganda merupakan tindakan rasional, namun aturan dalam koperasi menyebutkan bahwa dalam suatu kepengurusan koperasi tidak boleh terdapat hubungan darah atau hubungan saudara.
Dominasi expert agent yang kuat dalam koperasi selain memungkinkannya terjadinya hal tersebut diatas, juga menyebabkan kedua agen tersebut menjadi agen yang dilihat dan dipercaya oleh masyarakat untuk mengurus dan memimpin koperasi. Karena itu pengurus koperasi yang selama ini telah menjabat terus terpilih dan menjabat sebagai pengurus koperasi sejak koperasi berdiri sampai sekarang (tiga kali periode). Terpilihnya pengurus koperasi hingga tiga kali periode kepengurusan, menunjukkan bahwa pengurus koperasi memiliki dominasi yang kuat untuk menancapkan pengaruhnya di segala bidang kegiatan koperasi. Kepengurusan koperasi yang belum pernah mengalami pergantian menunjukkan bahwa pemberian kesempatan untuk melakukan kaderisasi ataupun pergantian kepengurusan tidak dilakukan secara maksimal.
Kondisi yang demikian, apabila dibiarkan terus berlanjut, dapat membuka peluang untuk melakukan
24 Ibid., hal: 315.
praktik moral hazard yang mungkin dapat dilakukan oleh ketua koperasi bersama pengurus koperasi yang lainnya. Moral hazard adalah pemanfaatan kesempatan sekecil mungkin untuk tujuan memperkaya diri atau dalam bahasa Jawa sering diekspresikan dengan ungkapan aji mumpung.25
Kemungkinan untuk dapat terjadinya praktik moral
hazard tersebut karena sebagai expert agent yang
telah berjasa dalam menginisiasi dan mewujudkan berdirinya KSU Bina TKI Sejahera akan berpotensi menganggap dirinya sebagai owner koperasi dan akan mewariskan posisi tersebut yang secara silsilah kepada agen yang masih memiliki garis keturunan atau hubungan darah dengan ketua koperasi, dan calon yang berpotensi untuk hal tersebut adalah sekretaris koperasi.
Jadi terdapat kecenderungan bahwa setelah
expert agent nanti tidak menjabat lagi, maka agen
yang akan menempati posisi ketua adalah agen yang sekarang menjabat sebagai sekretaris koperasi. Sehingga meskipun pada awalnya semua tindakan yang dilakukan oleh pengurus koperasi memiliki niatan yang baik yaitu ingin membantu TKI dan keluarga TKI serta masyarakat Desa Sumberboto pada umumnya, tetapi pada perkembangannya niat dan tujuan tersebut dapat berubah (kemungkinan munculnya kepentingan tertentu dalam diri agen) sebagai akibat adanya kesempatan-kesempatan yang secara ekonomi dapat menguntungkan agen.
Kemungkinan terjadinya pewarisan jabatan tersebut juga didukung oleh adanya budaya paternalistik pada masyarakat pedesaan.26 Budaya
paternalistik yang tumbuh pada masyarakat pedesaan
25
Pengertian moral hazard yang lain adalah keadaan yang berkaitan dengan sifat, pembawaan dan karakter manusia yang dapat menambah besarnya kerugian dibanding dengan resiko rata-rata. Manusia itu terutama adalah tertanggung sendiri tapi juga pegawainya atau orang-orang sekitarnya. Ciri-ciri moral hazard adalah sulit diidentifikasi, namun kadang-kadang tercermin dari keadaan-keadaan tertentu seperti, tidak rapi, tidak bersih, keadaan dimana peraturan perusahaan tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya (tidak disiplin). Ciri lain dari moral hazard adalah sulit diperbaiki atau dirubah karena menyangkut sifat, pembawaan ataupun karakter manusia (Sindung Haryanto. 2011. Sosiologi Ekonomi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hal: 86).
26
Budaya paternalistik adalah budaya dimana atasan atau pemimpin berperan sebagai “Bapak” yang dianggap lebih tahu akan segala hal, sehingga anggota atau bawahan merasa tidak enak jika menyampaikan usulan apalagi mengkritik kesalahan atasan. Manajemen yang menerapkan budaya seperti ini akan mengurangi inisiatif bawahan atau dengan kata lain akan menghambat adanya partisipasi (Anonim. 2009. Budaya
Paternalistik. Diakses dari
tersebut, membuat sebagian besar anggota koperasi bersifat pasif, bahkan cenderung apatis terhadap kepengurusan koperasi. Anggota tidak mau merasa direpotkan atau bahkan memikirkan siapa agen yang akan dicalonkan kelak untuk memimpin koperasi agar terjadi regenerasi kepengurusan koperasi
Anggota koperasi selama ini melihat sosok
expert agent sebagai sosok yang baik, bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Sehingga masyarakat dan khususnya anggota koperasi menjadi kesulitan untuk mencari figure atau sosok lain yang dapat dicalonkan menjadi pengurus koperasi. Tumbunya sikap pasif dan cenderung apatis dari para anggota koperasi tersebut memiliki dampak yang kurang baik bagi kesehatan, keberlangsungan dan keterbukaan (akuntabilitas) baik dalam bidang organisasional maupun keuangan koperasi, yang mana dalam hal tersebut dapat menimbulkan bahaya laten korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Berdasarkan beberapa penemuan penting tersebut, maka terdapat beberapa kitisi terhadap teori strukturasi Giddens, dimana dalam analisis praktik sosial, Giddens terlalu menekankan pada tindakan (agensi) dari agen, tanpa memperhatikan keberadaan struktur lain di luar struktur yang terbentuk sebagai hasil dari praktik sosial agen. Dinamika yang terjadi pada struktur sebagai hasil sekaligus sarana praktik sosial tersebut tidak hanya disebabkan oleh dinamika agensi yang dilakukan oleh agen, tetapi juga karena adanya interaksi dengan struktur lain, terutama interaksi dengan berbagai unsur atau struktur lokal tempat interaksi tersebut berlangsung.
Selain itu, perubahan yang terjadi pada struktur akibat adanya situasi kritis, tidak hanya menyebabkan konsekuensi-konsekuensi psikologis, seperti hancurnya rasa kepercayaan dan rasa aman ontologis (ontological security) sebagaimana yang disebutkan oleh Giddens, tetapi juga memiliki konsekuensi-konsekuensi yang secara struktural, misalnya terjadinya perubahan yang bersifat praktis maupun strategis dalam suatu lembaga.
Prinsip-prinsip struktural yang terdiri atas signifikasi, dominasi dan legitimasi yang berfungsi untuk menganalisis praktik sosial yang terjadi, pada kenyataannya di lapangan, apabila ketiga prinsip struktural tersebut diterapkan secara tegas sebagaimana seharusnya, ternyata memiliki akibat-akibat yang sebelumnya belum diprediksikan oleh Giddens. Akibat yang tidak selalu positif tetapi juga dapat bersifat negatif seperti munculnya konflik laten yang berpotensi menjadi konflik yang lebih besar, dan menurut peneliti Giddens belum melihat potensi dampak negatif tersebut sehingga belum
dapat dilakukan resolusi penyelesaian masalah yang secara teoritis maupun praktis dianggap sesuai.
Praktik sosial dan perjumpaan-perjumpaan antar agen yang dilakukan secara rutin, menurut peneliti tidak hanya dapat menimbulkan rasa percaya dan keamanan ontologis terhadap adanya kepastian tentang masa depan, tetapi juga dapat memungkinkan munculnya derajat kepercayaan yang lebih tinggi serta dapat menambah ataupun menyebabkan munculnya suatu jaringan sosial yang baru. Sehingga menurut peneliti, munculnya kepercayaan dan akibat dari perjumpaan-perjumpaan antar agen dapat membentuk sebuah modal sosial, kesadaran kolektif antar agen yang dapat menopang keberadaan suatu lembaga menjadi lebih mapan dan kokoh serta kemungkinan munculnya tindakan kolektif27 sebagai akibat dari pengaruh penerapan
struktur signifikasi yang kuat.
Berdasarkan proposisi awal dan temuan-temuan penting dalam penelitian ini, telah menghasilkan bangunan proposisi akhir berupa: kesadaran antar agen dalam perjumpaan-perjumpaan dalam locale, menghasilkan praktik sosial antar agen tersebut serta dapat merubah pola struktur yang sebelumnya sudah ada.
Bangunan proposisi tersebut dapat terbentuk karena adanya beberapa asumsi sebagai berikut:
1. Setiap agen dalam melakukan tindakan atau praktik sosial, selalu diringi oleh kesadaran agen yang menentukan motif, alasan dan tujuan atas tindakan yang dilakukan. Kesadaran agen tersebut juga dapat meningkat terakait dengan interaksi atau perjumpaan-perjumpaan dan agensi yang dilakukan oleh agen.
2. Perjumpaan-perjumpaan yang dilakukan oleh para agen dalam konteks locale, dapat menghasilkan praktik sosial antar agen dan memiliki karakteristik atau pola praktik sosial yang khas sebagai akibat adanya pengaruh dari struktur lokal.
3. Praktik sosial yang terjadi antar agen dan interaksinya dengan locale, menunjukkan bahwa struktur tersebut bersifat dinamis yang dapat merubah pola struktur yang sebelumnya sudah ada dan menjadi sistem organisasi yang terinstitusionalisasi (mapan) dalam kehidupan masyarakat lokal
27 Tindakan kolektif adalah tindakan atau partisipasi yang
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya:
1. Usaha pembentukan kembali arisan hari raya hingga menjadi koperasi, dapat terjadi karena adanya perjumpaan-perjumpaan yang secara rutin dalam lokal Desa Sumberboto yang dilakukan oleh para agen, yakni terdiri atas Ibu Tukirah sebagai expert agent dan agen-agen lain yang membantu Ibu Tukirah yang disebut sebagai lay agent. Perjumpaan-perjumpaan yang secara rutin tersebut menghasilkan sebuah praktik sosial pihak-pihak yang terikat dalam koperasi, baik pihak-pihak yang terikat secara langsung dengan koperasi maupun tidak secara langsung terikat dengan koperasi.
2. Praktik sosial pengelolaan dana remitansi yang terjadi di KSU Bina TKI Sejahtera memiliki pola praktik sosial tersendiri dalam setiap tahapannya. Ide Ibu Tukirah untuk membentuk kembali arisan hari raya dan menjadikannya sebagai sebuah lembaga ekonomi berbadan hukum berbentuk koperasi, melibatkan struktur signifikasi dan dominasi yang dimiliki oleh Ibu Tukirah yang dibutuhkan untuk memberikan pemahaman dan pemaknaan masyarakat terhadap manfaat arisan dan keuntungan berkoperasi yang kemudian mendapat legitimasi dari struktur sosial masyarakat Desa Sumberboto. Setelah koperasi berdiri, struktur dominasi menjadi yang paling dominan karena mampu menjadi lembaga ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya.
3. Dana remitansi TKI oleh koperasi dimanfaatkan untuk mendirikan usaha simpan-pinjam dan penjualan pupuk. Praktik sosial simpan-pinjam dan praktik sosial penjualan pupuk menujukkan struktur dominasi dan legitimasi yang kuat dari koperasi sebagai lembaga ekonomi yang telah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Namun ketika terdapat salah satu dari gugus prinsip struktural (S-D-L) tersebut yang lemah, struktur yang telah terbentuk mendapatkan goncangan bahkan mengalami perubahan.
4. Hal tersebut menunjukkan bahwa struktur bersifat dinamis, perubahan pada struktur tidak hanya diakibatkan oleh agensi para agen tetapi juga karena interaksinya dengan struktur lain yang lebih besar, khususnya dalam konteks lokalnya. Selain itu dari hasil perjumpaan-perjumpaan yang dilakukan para agen dan rasa kepercayaan yang muncul, dapat
memungkinkan munculnya suatu jaringan sosial baru dan membentuk modal sosial serta kesadaran kolektif antar agen yang dapat memperkokoh keberadaan suatu lembaga dan potensi untuk munculnya tindakan kolektif diantara para agen sebagai akibat dari pengaruh penerapan struktur signifikasi yang kuat.
5. Bangunan proposisi akhir yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: kesadaran antar agen dalam perjumpaan-perjumpaan dalam locale, menghasilkan praktik sosial antar agen tersebut serta dapat merubah pola struktur yang sebelumnya sudah ada.
Pada akhirnya, praktik sosial pengelolaan dana remitansi TKI yang dilakukan KSU Bina TKI Sejahtera telah berhasil memberikan manfaat yang nyata terhadap kehidupan anggota dan masyarakat sekitarnya, diantaranya modal TKI dapat terkumpul; terjadi perubahan pola pikir dan tindakan keluarga TKI dalam pemanfaatan dana remitansi, digunakan sebagai modal usaha, misalnya seperti membuka toko, membeli sawah dan hewan ternak, membeli mesin produksi, dan lain-lain. Selain itu anggota masyarakat yang lain dapat memperoleh pinjaman modal dengan mudah melalui KSU Bina TKI Sejahtera untuk mendirikan usaha, jumlah TKI Desa Sumberboto berkurang, serta usaha penduduk yang sudah ada semakin maju karena adanya bantuan modal dari koperasi.
Dengan demikian saran yang dapat diberikan antara lain adalah perjumpaan-perjumpaan antara anggota dengan pengurus harus rutin dilakukan seperti rapat bulanan, rapat triwulan dan musyawarah anggota harus tetap dilaksanakan tepat pada waktunya untuk menjaga keberlangsungan praktik sosial antara anggota dengan koperasi. Untuk meningkatkan kesadaran, kepercayaan dan pemahaman teoritis para anggota dan pengurus, serta untuk mengurangi potensi konflik yang mungkin terjadi, dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan tentang koperasi secara rutin. Serta aturan-aturan dalam koperasi yang belum dijalankan secara maksimal misalnya seperti pengurus yang menduduki jabatan ganda, dapat diantisipasi melalui kaderisasi guna regenerasi kepengurusan koperasi dan menghindari terjadinya praktik moral hazard.
beragam dan saran yang didapatkan juga lebih beragam pula demi terwujudnya koperasi yang sesuai dengan harapan para anggotanya.
Selain itu apabila menggunakan teori strukturasi untuk menganalisis fenomena di dalam konteks kelembagaan, selain untuk menganalisis bentuk praktik sosial yang terjadi, dapat menggabungkan teori strukturasi tersebut dengan konsep yang lain seperti ekonomi kelembagaan, modal sosial ataupun tindakan kolektif agar analisis yang dilakukan lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2007. Budaya Paternalistik. Online
Available at:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/1234567 89/23373/3/Chapter%20II.pdf. Diakses pada 27 Februari 2013.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Blitar. 2011. Data Remittance s/d Desember
2011. Blitar: Disnakertrans Kabupaten Blitar.
Effendi T. Noer. Tanpa Tahun. "Peluang Kerja,
Migrasi Pekerja, dan Antisipasi Menghadapi Era Pasar Bebas 2003". Dalam Nasution, M.
Arif (Ed.). 1999. Globalisasi dan Migrasi
Antarnegara. Bandung : Alumni.
Giddens, Anthony. 2009. Anthony Giddens. 2009.
Problematika Utama Dalam Teori Sosial Aksi, Struktur dan Kontradiksi dalam Analisis Sosial. (Penerjemah Dariyanto).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_________. 2010. Teori Strukturasi Dasar-dasar
Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat.
(Penerjemah Maufur dan Daryatno). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_________. 2011. The Constitution of Society: Teori
Strukturasi Untuk Analisis Sosial.
(Penerjemah Adi Loka Sujono). Yogyakarta: Pedati.
Haryanto, S.. 2011. Sosiologi Ekonomi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Hunt, P. B.. 1984. Sosiologi. Edisi Keenam Jilid I. (Penerjemah Aminuddin Ram dan Tita Sobari). Jakarta : Erlangga.
Karnaji. 2002. Sektor Informal Kota: Analisis Teori Strukturasi Giddens (Kasus Pedagang Pasar Keputran Kota Surabaya). Jurnal
Masyarakat Kebudayaan dan Politik. Tahun 22, Nomor 4, 286-298.
Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian
Sosial, Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif. Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Cetekaan Keempat.
Bandung: Alfabeta.
Tirtosudarmo, Riwanto. Tanpa Tahun. "Dimensi
Politik Migrasi Internasional: Indonesia dan negara Tetangga". Dalam Nasution, M. Arif
(Ed.). 1999. Globalisasi dan Migrasi
Antarnegara. Bandung : Alumni.
Walsh, N. S.. 2011. Remittances and the Changing Roles of Women in Laos. World Academy of
Science, Engineering and Technology No. 49, 969-977.
Yin, R. K.. 2008. Studi Kasus Desain dan Metode.
(Penerjemah M. Djauzi Mudzakir). Jakarta:
Raja Grafindo Persada.