LANDASAN POLITIK PENDIDIKAN
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.
Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. selanjutnya
Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita Indonesia, agar pendidikan yang sedang berlangsung dinegara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama.
Politik Pendidikan, yaitu studi ilmiah tentang aspek politik dalam seluruh kegiatan pendidikan. Bisa juga dikatakan studi ilmiah pendidikan tentang kebijaksanaan pendidikan. (Suhartono, 2008 :103)
Dari ketiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa, landasan politik penting untuk melatih jiwa masyarakat, berbangsa dan bertanah air dan juga dapat dimaknai sebagai suatu studi untuk mengkritisi suatu system pemerintahan dan pemerintah yang bila memungkinkan melakukan penyimpangan amanat.
Budaya politik seseorang atau masyarakat sebenarnya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan seseorang atau masyarakat. Hal itu bisa dipahami mengingat semakin tinggi
kesempatan seseorang atau masyarakat mengenyam pendidikan, semakin tinggi pula seseorang atau masyarakat memiliki kesempatan membaca, membandingkan, mengevaluasi, sekaligus mengkritisi ruang idealitas dan realitas politik. Maka, kunci pendidikan politik masyarakat sebenarnya terletak pada politik pendidikan masyarakat.
Politik pendidikan yang dimaksud termanifestasikan dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintah dalam bidang pendidikan. Politik pendidikan yang diharapkan tentunya politik pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil atau miskin. Bagaimanapun, hingga hari ini masih banyak orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SD sekalipun. Masih banyak sekolah yang kekurangan fasilitas atau bahkan tidak memiliki gedung yang representatif atau tak memiliki ruang belajar sama sekali. Masih banyak sekolah yang sangat kekurangan guru pengajar. Masih banyak pula guru (honorer) yang dibayar sangat rendah yang menyebabkan motivasi mengajarnya sangat rendah.
B. Kebijakan Politik dalam Pendidikan
Dalam usia 63 tahun kemerdekaan Indonesia, dunia pendidikan kita tampaknya masih terpasung kepentingan politik praktis dan ambiguitas kekuasaan. Padahal, politik dan kekuasaan suatu negara memegang kunci keberhasilan pendidikan.
Dalam konteks pembangunan demokratisasi dan desentralisasi di Indonesia, peran politik eksekutif dan legislatif untuk memajukan pendidikan begitu besar. Ranah politik dan kekuasaan harus mampu mewujudkan sistem pendidikan yang mencerdaskan dan mencerahkan peradaban bangsa ini.
Tokoh liberalisme pendidikan asal Amerika Latin Paulo Freire pernah menegaskan bahwa bagaimanapun kebijakan politik sangat menentukan arah pembinaan dan pembangunan pendidikan. Freire memandang politik pendidikan memiliki nilai penting untuk menentukan kinerja pendidikan suatu negara.
Bangsa yang politik pendidikannya buruk, maka kinerja pendidikannya pun pasti buruk. Sebaliknya, negara yang politik pendidikannya bagus, kinerja pendidikannya pun juga akan bagus. Pertanyaannya kini, bagaimanakah realitas politik pendidikan kita saat ini?
Semenjak kemerdekaan sampai dengan era reformasi perjalanan politik pendidikan nasional telah mengalami tiga kali perubahan, yaitu di era orde lama, pada tahun 1954, di era orade baru, dan sat ini di era reformasi.
C. Kebijakan pendidikan di era orde lama ditahun 1954.
Pada masa ini penekanan kebijakan pendidikan pada isu nasionalisasi dan ideologisasi. Penekanan pada kedua bidang tersebut tidak lain karena masa tersebut masa krusial pasca kemerdekaan dimana banyak konflik yang mengarah pada separatisme dan terjadi interplay (tarik ulur) antara pihak yang sekuler dengan agamis.
Implikasi dari kebijakan politik pendidikan pada waktu itu adalah terbentuknya masyarakat yang berjiwa nasionalis dan berpatriot pancasila. Kebijakan politik tersebut sejatinya berupaya
menjadi ”win-win solution” dengan mengakomodasi semua kepentingan. Di sini terjadi pengakuan terhadap keanekaragaman baik budaya, seni, maupun agama. Pada dasarnya upaya membangun nasionalisme melalui pendidikan relatif berhasil, hanya saja kurang diimbangi dengan kebijakan yang lain sehingga kemelut bernegara selalu ada di masa tersebut.
Dengan dikeluarkannya undang-undang sistem pendidikan ditahun 1989. Berbeda dengan kebijakan di era orde lama, kebijakan di era orde baru memberi penekanan pada sentralisasi dan birokratisasi.
Di masa ini jalur birokrasi sebagai sebuah kepanjangan tangan dari pusat sangat kental. Orang-orang daerah didoktrin sedemikian rupa sehingga menjadi kader-kader yang ‘yes man’, selalu patuh buta terhadap kepentingan pusat. Akibat yang terjadi dari kebijakan ini adalah matinya daya kritis, daya kreatif dan daya inovatif, yang ada hanyalah birokrat yang “sendikho dhawuh”. Bahkan sistem pada masa ini berhasil membunuh idealisme. Orang-orang atau cendekia yang idealis, kritis, dan inovatif tiba-tiba memble ketika masuk pada jalur birokrasi.
Disadari bahwa sistem pendidikan nasional pada masa itu sebab kuatnya intervensi kekuasaan sangat mewarnai di setiap aspek pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional pada masa orba, muatan kurikulumnya sempat dimanfaatkan oleh pemerintah yang bertujuan untuk
melanggengkan kekuasaan. Beberapa pelatihan di sekolah-sekolah atau instusi-institusi
pendidikan pada umumnya lebih mengenalkan indoktrinasi ideologi penguasa. Praktek penataran P4 merupakan salah satu bukti riil dari indoktrinasi ideologi penguasa pada waktu itu. (Mu’arif, 2008:13)
Di era ini pula terjadi penyeragaman-penyeragaman sehingga budaya daerah, seni daerah, dan kearifan lokal mengalami nasib yang tragis, bahkan banyak yang telah mati. Yang tersisa hanyalah seni dan budaya yang sifatnya mondial. Bahkan istilah Bhinneka Tunggal Ika yang sejatinya bermakna berbeda-beda tetapi satu jua telah dimaknai menjadi sesuatu entitas yang seragam, ya serba seragam.
E. Kebijakan politik pendidikan di era reformasi.
Kebijakan ini ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional N0 20 tahun 2003. Di era reformasi ini penekanannya terletak pada desentralisasi dan demokratisasi. Kewenangan yang semula terletak di pusat dan berjalan secara top-down diubah dengan memberi kewenangan daerah yang lebih luas sehingga pola yang berjalan adalah bottom-up.
Regulasi yang relatif longgar di era reformasi ini ternyata belum memberi angin segar bagi dunia pendidikan, bahkan banyak potensi untuk diselewengkan dengan mengambil dalih demokratisasi dan desentralisasi. Demokrasi telah menjadi kebebasan dan desentralisasi daerah telah menjadi keangkuhan daerah.
Kebijakan politik yang paling di sorot pada masa ini adalah kebijakan- kebijakan tentang otonomi daerah dalam bidang pendidikan, penerapan kurikulum yang berganti-ganti, hingga yang diterapkan saat ini yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan pro dan kontra yang terjadi pada pelaksanaan Ujian Nasional.
1. Otonomi Daerah dalam bidang pendidikan
Otonomi daerah sebagai salah satu bentuk desentralisasi pemerintahan, pada hakikatnya ditujukan untuk memenuhi kepentingan bangsa secara keseluruhan, yaitu upaya untuk lebih mendekati tujuan-tujuan penyelenggaraan pemerintah untuk mewujudkan cita-cita masyarakat yang lebih baik, suatu masyarakat yang lebih adil dan lebih sejahtera.
Desentralisasi bidang pendidikan dimulai dengan keluarnya UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan kemudian ditindak lanjuti dengan PP No. 20 tentang Peribangan Keuangan Daerah yang di dalamnya mengatur tentang sektor-sektor yang didesentralisasikan dan yang tetap menjadi urusan Pemerintah Pusat. Pendidikan termasuk salah satu sektor yang
didesentralisasikan, sehingga sejak itu pendidikan terutama dari TK sampai dengan SMA menjadi urusan kabupaten/kota. Sedangkan pendidikan tinggi menjadi urusan Pemerintah Pusat dan Provinsi..
Sejak urusan pendidikan didesentralisasikan, signal-signal adanya banyak masalah baru sudah tampak. Diantaranya, adalah tarik menarik kepentingan untuk urusan guru serta saling lempar tanggung jawab untuk pembangunan gedung sekolah. Pengelolaan guru menjadi tarik menarik, karena jumlahnya yang banyak, sehingga banyak kepentingan politik maupun ekonomi yang bermain di dalamnya. Sedangkan pembangunan gedung sekolah, utamanya gedung SD menjadi lempar-lemparan tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dan Pemda karena besarnya dana yang diperlukan untuk itu. Sementara, di lain pihak, baik Pemerintah Pusat maupun Pemda sama-sama mengeluh tidak memiliki dana.
1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan angin segar bagi dunia pendidikan dasar dan menengah. KTSP dimaknai sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Ini berarti satuan pendidikan tertantang untuk menterjemahkan standar isi yang ditentukan oleh Depdiknas. Bahkan diharapkan sekolah mampu mengembangkan lebih jauh standar isi tersebut.
Meskipun sekolah diberi kelonggaran untuk menyusun kurikulum, namun tetap harus memperhatikan rambu-rambu panduan KTSP yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini diharapkan agar selalu ada sinkronisasi antara standar isi dan masing-masing KTSP.
tatacara penyusunan sebuah kurikulum yang baik. Ketiga, kebingungan pelaksana dalam menerjemahkan KTSP.
Sudah sering dikemukakan oleh berbagai kalangan, ketidaklogisan KTSP terjadi karena seolah diberikan kebebasan untuk mengolaborasikan kurikulum inti yang dibuat Depdiknas, tetapi evaluasi nasional oleh pemerintah dengan melalui Ujian Nasional (UN) justru yang paling menentukan kelulusan siswa.
1. Ujian Nasional
Kebijakan pemerintah melaksanakan Ujian Nasional selalu menghadirkan pro dan kontra. Bagi yang sependapat UN merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menengah di negeri ini. Sementara bagi yang kontra, UN justru akan membebani siswa dalam belajar. Bahkan menjadi hantu yang menakutkan dan kemungkinan besar justru mematikan potensi anak.
Lepas dari setuju tidak setuju, UN sebenarnya diperlukan dalam memotret pemetaan kualitas satuan pendidikan nasional. Namun yang sering dikeluhkan, kenapa UN dijadikan alat vonis penentuan kelulusan? Adilkan suka duka siswa dalam belajar selama tiga tahun hanya ditentukan nasibnya selama tiga hari pelaksanaan UN?
Kontroversi mengenai ujian nasional (UN) kebijakan ini dengan jelas menggambarkan betapa lemahnya visi pemerintah dalam kebijakan pendidikan selama ini. Visi adalah sebuah jangkauan terpanjang dari apa yang hendak dicapai dan dituju. Tetapi kalau suatu kebijakan hanya
diarahkan semata-mata untuk mengejar target, di mana visi pendidikan kita yang mencerdaskan itu ? Inilah yang membuat paradigma pendidikan menjadi semakin tidak jelas. Sasaran apa yang hendak dicapai?
Kita menghadapi persoalan sangat mendasar dalam konteks kebijakan ini. Apakah dengan adanya Ujian Nasional ini mutu pendidikan kita bisa ditingkatkan? Sayang sekali pertanyaan ini selalu luput dari perhatian.
Mutu pendidikan bukan hanya sekedar ditentukan oleh Ujian Nasional melainkan pada paradigma pendidikan itu sendiri. Selama ini kita sering menjadikannya sebagai tolok ukur prestasi, padahal secara substansial hal itu tidak pernah menjadi bukti. Justru pendidikan kita semakin terperosok karena kebijakan tersebut selalu dibarengi dengan perilaku tak terpuji seperti korupsi, manipulasi anggaran, dan kecurangan-kecurangan lain yang dilakukan untuk
mempertahankan kredibilitas sekolah maupun daerah.
A. Realitas Politik Pendidikan
rendahnya mutu dan daya saing pendidikan, upaya otonomi pendidikan yang masih setengah hati, dan sebagainya.
Pemerintah sebetulnya telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005–2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan, dan meningkatnya tata kepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik.
Pemerintah Indonesia juga telah berupaya terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan negara, yaitu mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun dalam realitasnya, kita menyaksikan ternyata kebijakan dan praktik pendidikan kita masih jauh panggang dari api.
Sampai saat ini dunia pendidikan kita juga masih dihadapkan pada tantangan besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Tantangan utama yang dihadapi di bidang pendidikan pada 2008 adalah meningkatkan akses, pemerataan, dan kualitas pelayanan pendidikan, terutama pada jenjang pendidikan dasar, perbaikan kurikulum pendidikan, dan tuntutan profesionalisme dan kesejahteraan guru.
Pada saat yang sama, kesenjangan partisipasi pendidikan juga masih terjadi, terutama antara penduduk miskin dan penduduk kaya. Meskipun pemerintah telah menyediakan bantuan operasional sekolah (BOS) untuk jenjang pendidikan dasar, masih ditemukan adanya beberapa sekolah yang masih menarik berbagai iuran, sehingga memberatkan orang tua, terutama bagi keluarga miskin. Kesenjangan partisipasi pendidikan tersebut terlihat makin mencolok pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Selain itu, ada beberapa agenda yang perlu diperhatikan untuk menentukan arah dan masa depan politik pendidikan, diantaranya adalah, Pertama, menghapus dikotomi dualisme
penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif. Pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama harus berjalan seimbang dalam hal mutu, kualitas dan kemajuannya. Sehingga tidak ada lagi pandangan bahwa pendidikan keagamaan terkesan tidak bermutu dan terbelakang.
Kedua, peningkatan anggaran pendidikan. Kita semua menyadari, bahwa untuk memajukan dunia pendidikan nasional, pemenuhan alokasi anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD adalah menjadi keniscayaan. Ini menjadi persoalan mendesak, jika kita betul-betul serius ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan, UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) telah
mengamanahkannya.
Keempat, perbaikan kurikulum. Pendidikan mesti diarahkan pada sistem terbuka dan multimakna serta pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Karena itu, kurikulum pendidikan harus mampu membentuk insan cerdas, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kebebasan mengembangkan potensi diri. Pendidikan juga mesti diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajarannya.
Kelima, penghargaan pada pendidik. Pemerintah harus lebih serius meningkatkan kualifikasi, profesionalisme dan kesejahteraan guru. Sebab, guru merupakan pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa. Tanpa guru yang profesional dan sejahtera, mustahil pendidikan kita akan maju dan berdaya saing.
Makalah Politik Pendidikan
Ibrahim MA
7:38 PM
pendidikanPolitik
1.1 Latar Belakang Masalah
Politik pendidikan atau the politics of education adalah kajian tentang relasi antara proses munculnya berbagai tujuan pendidikan dengan cara – cara penyampaiannya. Kajian ini lebih terfokus pada kekuatan yang menggerakkan perangkat pencapaian tujuan pendidikan dan bagaimana serta kemana perangkat tersebut akan diarahkan. Kajian politik pendidikan terkonsentrasi pada peranan Negara dalam bidang pendidikan, sehingga dapat menjelaskan asumsi dan maksud dari berbagai strategi perubahan pendidikan dalam suatu masyarakat secara lebih baik.Kajian politik pendidikan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kaitan antara berbagai kebutuhan politik Negara dengan isu – isu praktis sehari hari di sekolah; tentang kesadaran kelas; tentang berbagai bentuk dominasi dan subordinasi yang sedang dibangun melalui jalur pendidikan.
BAB IIPEMBAHASAN
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:
Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.
2.2 Hubungan Politik dan Pendidikan
Pendidikan dan politik adalah dua elemen penting dalam system sosial politik disetiap Negara, baik Negara maju maupun Negara berkembang. Keduanya sering dilihat sebagai bagian – bagian yang terpisah, yang satu sama lain tidak memiliki hubungan apa – apa. Padahal, keduanya bahu membahu dalam proses pembentukan karakteristik masyarakat disuatu Negara. Lebih dari itu, keduanya saling menunjang dan saling mengisi lembaga – lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat di Negara tersebut. Ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik disetiap Negara. Hubungan tersebut adalah realitas empiris yang telah terjadi sejak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian para ilmuan.
PendidIkan sering dijadikan media dan wadah untuk menanamkan ideology Negara atau tulang yang menopang kerangka politik. Di Negara – Negara barat kajian tentang hubungan antara pendidikan dan politk dimulai oleh Plato dalambukunya Republic yang membahas hubungan antara ideology dan institusi Negara dengan tujuan dan metode pendidikan.
hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan dan aktivitas politik. Keduanya sakan dua sisi dari satu koin, tidak mungkin terpisahkan. Analisis Plato tersebut telah meletakkan fundamental bagi kajian hubungan politik dan pendidikan di kalangan generasi ilmuwan generasi berikutnya.
Dalam ungkapan Abernethy dan Coombe (1965 : 287), education and politics are inextricably linked (pendidikan dan politik terikat tanpa bias dipisahkan). Hubungan timbal balik antara politik dan pendidikan dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (employment), dan peranan politik kaum cendikia (the political role of the intelligentsia).
Dalam masyarakat yang lebih maju dan berorientasi teknologi, dan mengadopsi nilai – nilai dan lembaga barat, pola hubungan antara pendidikan dan politik berubah dari pola tradisional ke pola modern. Dibanyak Negara berkembang, dimana pengaruh modernisasi sangat kuat. Jika politik dipahami sebagai praktik kekuatan, kekuasan, dan otoritas dalam masyarakat dan pembuatan keputusan – keputusan otoritatif tentnag alokasi sumber daya dan nilai – nilai sosial (Harman, 1974 : 9), maka jelaslah bahwa pendidikan tidak lain adalah sebuah bisnis politik.
Hal tersebut menegaskan bahwa pendidikan dan politik adalah dua hal yang berhubungan erat dan saling mempengaruhi. Dengan kata lain, berbagai aspek pendidikan senantiasa mengandung unsur – unsur politik. Begitu juga sebaliknya, setiap aktivitas politik ada kaitannya dengan aspek – aspek kependidikan.
2.3 Kontrol Negara terhadap Pendidikan
Pemerintah adalah bagian dari Negara yang paling kasat mata dan dapat juga menjadi bagian paling penting dan paling aktif dari Negara, tetapi pemerintah bukanlah keseluruhan dari Negara. Negara terdiri dari berbagai institusi yang masing masing memiliki fungsi dan peran tersendiri dalam tatanan kehidupan kenegaraan.
Menurut Dale (1989: 39 - 43), control Negara terhadap pendidikan umunnya dilakukan melalui empat cara. Pertama, system pendidkan diatur secara legal. Kedua, system pendidikan dijalankan sebagai birokrasi, menekankan ketaatan pada aturan dan objektivitas. Ketiga, penerapan wajib pendidikan (compulsory education). Keempat, reproduksi politik dan ekonomi yang berlangsung disekolah berlangsung dalam konteks tertentu. Dale (1989 : 59) menambahkan bahwa perangkat Negara dalam bidang pendidikan, sepeti sekolah dan administrasi pendidikan memiliki efek tersendiri terhadap pola, proses, dan praktik pendidikan.
2.4 Sketsa Politik Pendidikan di Indonesia
Setiap periode perkembangan pendidikan nasional adalah persoalan penting bagi suatu bangsa karena perkembangan tersebut menentukan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknolgi, karakteristik, dan kesadara politik yang banyak mempengaruhi masa depan bangsa tersebut. Setiap periode perkembangan pendidikan adalah faktor politik dan kekuatan politik karena pada hakikatnya pendidikan adalah cerminan aspirasi, kepentingan, dan tatanan kekuasaan kekuatan – kekuatan politik yang sedang berkuasa.
Ada empat strategi pokok pembangunan pendidikan nasional, yaitu :
1. Peningkatan pemerataan kesempatan pendidikan
2. Peningkatan relevansi pendidikan dengan pembangunan
3. Peningkatan kualitas pendidikan
4. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan.
1. Periode pertama adalah periode awal atau periode prasejarah yang berlangsung hingga pertengahan tahun 1800an. Pada masa ini penyelenggaraan pendidikan di tanah air mengarah pada sosialisasi nilai – nilai agama dan pembangunan keterampilan hidup. Penyelenggaraan pendidikan pada periode ini dikelola dan dikontrol oleh tokoh – tokoh agama.
2. Periode kedua adalah periode kolonial Belanda yang berlangsung dari tahun 1800an hingga tahun 1945. Pada periode ini penyelenggaraan pendidikan ditanah air diwarnai oleh proses modernisasi dan pergumulan antara aktivitas pendidikan pemerintahan colonial dan aktivitas pendidikan kaum pribumi. Disatu pihak, pemerintah colonial berusaha menempuh segala cara untuk memastikan bahwa berbagai kegiatan pendidikan tidak bertentangan dengan kepentingan kolonialisme dan mencetak para pekerja yang dapat diekploitasi untuk mendukung misi sosial, politik, dan ekonomi pemerintah kolonial.
3. Periode ketiga adalah periode pendudukan Jepang yang berlangsung dari tahun 1942 hingga tahun 1945. Berbagai kegiatan pendidikan pada periode ini diarahkan pada upaya mendiseminasi nilai – nilai dan semangat nasionalisme serta mengobarkan semangat kemerdekaan ke seluruh lapisan masyarakat. Salah satu aspek perkembangan dunia pendidikan pada masa periode ini adalah dimulainya penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam lingkungan pendidikan formal.
4. Periode keempat adalah periode Orde Lama yang berlangsung dari tahun 1945 hungga tahun 1966. Pada periode ini kegiatan pendidikan di tanah air lebih mengarah pada pemantapan nilai – nilai nasionalisme, identitas bangsa, dan pembangunan fondasi ideologis kehidupan berbangsa dan bernegara. Tujuan utama pendidikan pada periode ini adalah nation and character building dan kendali utama penyelenggaraan pendidikan nasional dipengang oleh tokoh – tokoh nasionalis.
5. Periode kelima adalah periode Orde Baru yang berlangsung dari tahun 1967 hingga tahun 1998. Pada periode ini pendidikan menjadi instrument pelaksanaan program pembangunan di berbagai bidang, khususnya bidang pedagogi, kurikulum, organiasi, dan evaluasi pendidikan diarahkan pada akselerasi pelaksanaan pembangunan. Karena focus utama pembagunan nasional pada era Orde Baru adalah pada bidang ekonomi.
Landasan Politik Pendidikan
30 Agustus 2013 pukul 19:57
LANDASAN POLITIK PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mewujudkan kemanusiannya yang berbeda dengan hewan karena manusia itu adalah mahkluk yang memerlukan pendidikan. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar,manusia sebagai animal educabial berarti memiliki potensi untuk dididik atau dikembangkan. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen,sehingga dapat dikatakan bahwa tugas mendidik adalah tugas yang paling tua didunia ini.
Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka
memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengertian bahwa pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia.
Dengan demikian Hakekat manusia dan proses pendidikan yang terjadi pada lingkup manusia sebagai mahkluk yang dididik,dan dapat mendidik sesamanya,sehingga kebijakan pendidikan harus melibatkan anak,pendidik,dan hubungan interpersonal didalam suatu masyarakat yang memiliki nilai-nilai budaya.
B. Landasan politik pendidikan
Politik pada awalnya berasal dari kata yunani politea yang diperkenalkan pertama kali oleh plato (347 SM) dengan makna hal ihwal mengenai Negara,kemudian dikembangkan lagi oleh
didalamnya untuk memahami kebijakan-kebijakan tertentu untuk mewujudnyatakan tujuan – tujuan tertentu.
Menurut pendapat BN Marbun dalam kamus politik pemahaman tentang politik dibagi atas empat pokok yaitu pertama politik sebagai hal ihwal mengurus Negara,kedua politik sebagai aneka macam kegiatan dalam suatu Negara menyakutt pengambilan keputusan yang menyangkut tujuan Negara maupun pelaksanaannya,ketiga politik sebagai suatu kebijakan dan yang keempat politik sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu.
Sementara Miriam Budiardjo memahami politik dalam lima makna yaitu, Pertama politik adalah Negara,kedua politik adalah kekuasaan,ketiga politik adalah pengambilan keputusan,keempat politik adalah kebijaksanaan atau policy dan yang kelima politik adalah distribusi dan
alokasi.Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan politik merupakan Suatu cara atau seni yang dipakai untuk mencapai tujuan bersama,berdasarkan keputusan dan kebijakan yang telah diambil bersama.
Dengan demikian politik pendidikan adalah suatu kebijakan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang sisdiknas no 20 thn 2003 yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
C.Kebijakan Pendidikan.
Kebijakan pendidikan merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan berbangsa,konsep yang sering kita dengar ,kita ucapkan dan kita lakukan,tetapi kita tidak mengetahui maknanya.Kata kebijakan (poicy) seringkali dicampuradukan dengan kata kebijasanaan (wisdom).Kedua istilah ini mempunyai arti yang sangat jauh berbeda,landasan utama yang mendasari suatu kebijakan adalah pertimbnagan akal.
Kata pendidikan sudah dikenal oleh manusia sejak Ia dilahirkan didunia ini,karena ia dilahirkan dari seorang ibu yang secara insting akan melindungi dan mengajari anaknya sehingga menjadi orang dewasa,didalam proses pendewasaan itu seorang ibu akan dibantu oleh orang-orang disekitarnya yaitu melalui proses pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan baik secara formal maupun informal.
Kebijakan pendidikan merupakan keseluruhan proses dan hasil perumusan langkah-langkah strategis pendidikan yang dijabarkan dari visi,misi pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu masyarakat untuk suatu kurun waktu
D.Kekuasaan dan Pendidikan
Pendidikan sangat erat kaitannya dengan struktur kekuasaan didalam masyarakat,Kekuasaan yang merampas hak-hak asasi manusia yang akan berakibat fatal terhadap perkembangan manusia.seperti beberapa masalah yang terjadi yang diuraikan para pakar pendidikan,Yang pertama Ki Hadjar Dewantara (karena kekuasaan colonial yang telah membatasi perkembangan pribadi manusia Indonesia dan pendidikan hanya untuk kaum colonial), kedua Romo Mangun (Negara menyusun suatu sisitem pendidikan yang pada hakekatnya telah membelengu peserta didik,terlebih orang miskin),ketiga Paulo Freire (system pendidikan yang berlaku dinegaranya sebagai bentuk perampasan terhadap hak asasi manusia) dan keempat adalah seorang ekonom Amarta Sen (kemiskinan, kelaparan karena ketidak berdayaan kaum yang tertindas untuk menyatakan sesuatu sehingga membatasi perkembangann ya).
Dari bebrapa contoh diatas,peran pemerintah dalam memfasilitasi rakyat untuk mewujudakan hak asasinya,khusus dalam dunia pendidikan sangat dibutuhkan.bagi John Dewey masalah Kekuasaan (power) dalam dunia pendidikan memperoleh dimensi yang lain.Menurutnya pendidikan hendaknya mengembangkan kekuasaan yang berada dalam hakekat peserta didik.Kekuatan itu insting atau kebutuhan Peserta didik yang terstimulasi oleh lingkungan manusia (masyarakat) dan lingkungan alamnya.
D.Kebijakan Pendidikan Berdasarkan Hakekat Pendidikan.
Pada uraian sebelumnya telah diuraikan bagaimana pandangan tentang hakekat pendidikan dilihat dari sudut pandang tentang hakekat manusia,seperti yang telah dipaparkan oleh empat tokoh pemikir seperti Kihadjar Dewantara,Romo Mangun, Paulo Freire,Dan Amartyn
Sen,mereka berempat mempunyai kesamaan dalam hal melihat manusia bukan sebagai
objek,tetapi sebagi subjek yang bermartabat dan bertanggung jawab dalam memberikan makna terhadap kehidupannya.Dalam hal ini mereka mempunyai hak dan kebebasan (Hak memerdekan diri dalam pendidikan),tetapi pada kenyataannya kemerdekaan dan kreativitas manusia banyak terhalang dalam berbagai konstruksi,dalam kehidupan social buatan manusia (kekuasaan orang yang berkuasa).Dengan kata lain kesadaran akan pribadi yang merdeka (hak-hak asasi manusia) serta kemampuan untuk berkreativitas telah dibatasi oleh berbagai kekuasaan dalam masyarakat. Manusia yang dapat dididik dan harus mendapatkan pendidikan apabila proses pendidikan itu sesuai denagn hakikat manusia yang bebas,karena proses pendidikan yang sejalan dengan pandangan manusia sesuai dengan hak-hak asasinya merupakan suatu proses untuk
memberdayakan manusia atau proses pemberdayaan.Dalam proses memberdayakan manusia untuk mewujudkan kemerdekaannya dibutuhkan suatu lingkungan yang aman (lingkungan yang kondusif) bagi perkembangan pribadi yang merdeka.
Proses pendidikan merupakan kesatuan antara teori dan praktik pendidikan.Kebijakan
yang menjadi manusia dalam lingkungan kemanusian.Proses pendidikan sebagi pemanusian terjadi dalam lingkungan alam serta lingkungan sosialnya.Oleh sebab itu,kebijakan pendidikan merupakan penjabaran dari visi-misi dari pendidikan dalam masyarakat tertentu.
Kebijakan pendidikan dilahirkan dari ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis yaitu kesatuan antara teori dan praktik pendidikan,dan haruslah mempunyai validitas dalam perkembangan pribadi serta masyarakat yang memiliki pendidikan bagi perkembangan individu.
Proses pendidikan sebagai proses pemanusian terjadi dalam interaksi social.Halini berarti bahwa pendidikn merupakan milik masyarakat.Apabila pendidikan itu merupakan milik masyarakat maka suara masyarakat dalam berbagai tingkat perumusan,pelaksanaan dan evaluasi kebijakan perlu mendengar suara atau saran-saran dari masyarakat.
Suatu kebijakan pendidikan bukanlah sesuatu yang abstrak tetapi sesuatu yang dapat
diimplementasikan dan didukung oleh riset dan pengembangan.Suatu kebijakan pendidikan merupakan pilihan dari berbagai alternative kebijakan sehingga perlu dilihat output dari kebijakan tersebut dalam praktik.Kebijakan pendidikan bukanlah monopoli dari pakar pendidikan saja,tetapi berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu.
E.Filsafat Politik dan Pendidikan
Proses pendidikan merupakan tindakan dalam kehidupan manusia,manusia yang dilahirkan dalam keadaan yang tak berdaya dikaruniai kebebasan yang akan berkembang sesuai dengan pertumbuhannnya serta lingkungan ynag membentuknya baik lingkungan manusia maupun lingkungan alam.kebebasan yang dimiliki oleh manusia disertai denagn perkembangan akal,emosi,jasmani pada akhirnya membawa anak manusia sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab.Kebebasan manusia mempunyai dua aspek yaitu kebebasan dari dan kebebasan untuk.Kebebsan bukanlah suatu kebebasan yang absolute tetapi kebebasan yang memiliki batas.Kebebbasan dari lingkungan (alam,manusia,budaya,dll)untuk pembentukan perkembangan pribadinya.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan manifestasi dari manusia sebagai mahkluk
Nilai-nilai luhur pancasila berpijak atau bertumpu pada konsep kemakmuran dan keadilan hal itu berarti kemakmuran yang dicita-citakan harus dinikmati dan merupakan hak semua warga Negara Indonesia tanpa kecuali dengan memberikan kesempatan yang sama merata pada seluruh rakyat untuk menggapainya ,hak yang sama untuk mengecap pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi dan untuk mendapatkan pendidikan yang
bermutu/berkualitas ,menggunakan semua fasilitas (sarana dan prasarana pendidikan). Dan demikian pula kebijakan pendidikan dalam era globalisasi yang terlalu melihat keluar (outward looking) sehingga meninggalkan masalah-masalah domestic,benar kita harus mempersiapkan bangsa kita untuk menghadapi era globalisasi tersebut tetapi kita harus sadar bahwa perkembangan pendidikan kita masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, ini adalah masalah-masalah yang konkrit dalam dunia pendidikan kita ditanah air,jadi kita benahi dulu mutu pendidikan dalam negeri kita kemudian kita mempersiapkan bangsa kita untuk menunju pasar bebas tersebut. Karena jika tidak akan mengakibatkan frustasi bagi rakyat banyak atau merasa tercerabut dari budaya lokal tempat dimana ia berpijak.
Kebijakan politik diera globalisasi hendaknya juga diarahkan /ditujukan untuk memperkuat rasa harga diri manusia Indonesia,karena dengan rasa harga diri yang kuat manusia itu mempunyai kemerdekaan (manusia yang bermutu,manusia yang siap pakai).Identitas manusia,identitas kelompok,identitas suatu bangsa merupakan ungkapan dari kemerdekaan seseorang dalam menentukan eksistensinya sendiri didunia ini (ia akan menentukan kemana arah ia akan melangkah sesuai kualitas dirinya)Inilah wujud kebijakan pendidikan yang didasarkan kepada moral Pancasila.
F. Kebijakan Pendidikan berdasarkan Fakta dan Informasi.
Pada tataran filsafat pendidikan kita lihat proses lahirnya visi dan misi pendidikan yang dijabarkan berdasarkan filsafat manusia.Perumusan visi dan misi pendidikan juga mendapat sumbangan dari filsafat politik,ilmu politik,kajian-kajian sosiologi ekonomi dan budaya,Semua kajian tersebut diproyeksikan kedalam kehidupan manusia yang konkrit melalui analis SWOT ( strenght weakness opportunity threat )kekuatan,ancaman.kelemahan dan peluang.Dalam analisis tersebut terlihat apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan,kesempatan-kesempatan terbuka apa saja dan ancaman yang terdapat didalam masyarakat sehingga hasil analisis tersebut menjadi masukan pada tataran teori pendidikan, yang akan menghasilakan kebijakan pendidikan yang lebih baik untuk diberlakukan.
Proses pendidikan merupakan kajian dari ilmu pendidikan yang bersifat praksis,ilmu pendidikan dapat dipelajari dari belakang meja tanpa unsure-unsur dari pendidikan seperti peserta didik dan pendidik,tujuan pendidikan dan kebijakan pendidikan.proses pendidikan terjadi dalam
Prof Hargraves dari London menyatakan bahwa ilmu pendidikan akan mandek dan tidak akan berkembang karena tidak mendapatkan input dari praktek pendidikan.Oleh sebab itu menurut Polato ilmu pendidikan itu bukan berada didalam goa tetapi terjadi dalam hubunga interaksi antara pendidik dan peserta didik.Demikian juga keadaan pendidikan kita di tanah air,hal ini disebabkan karena karena putusnya hubungan dengan praktik pendidikan ,dengan sendirinya banyak kebijakan pendidikan di Indonesia bukan ditentukan oleh data dn informasi di lapangan,tetapi berdasarkan lamunan atau denagn menggunakan dugaan-dugaan yang tidak relevan denagn ilmu pendidikan yang terpokus pada kebutuhan peserta didik.
Kebijakan pendidikan yang berdasarkan pada filsafat moral harus diwujudkan dalam bentuk tindakan dan mengandung dua pokok permasalahan diantaranya;
Pengembangan ilmu pendidikan Pengembangan profesionalisme Guru.
Pengembangan ilmu pendidikan dalam pengertian bahwa kebijakan pendidikan yang dilaksanakan harus mendapatkan input dan informasi dari lapangan berdasarkan
masalah-masalah yang terjadi dilapangan.sehingga hasilnya benar-benar valid.Pelaksanaan serta evaluassi kebijakan pendidikan juga menuntu peran serta dari guru atau para pendidik yang professional karena dari mereka-merekalah dapat disusun kebijakan pendidikan berdasarkan hasil riset dan fakta-fakta yang positif dari lapangan.Menurut UU No.14 Tahun 2004 tentang Guru dan Dosen menuntut terbinanya guru professional yang bukan semata-mata ditentukan oleh ijazah
formal,terutama dalam partisipasinya dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Dinegara-negara berkembang seperti Inggris dan Amerika Partisipassi aktif dari para pendidik dalam peminaan keprofesionalan telah diterapkan.Yaitu dengan dibentuknya salah satu wadah untuk menampung sekolah –sekolah yang berperan serta dalam pengemabngan
profesionalannya,dan mereka digabungkan dalam Professional Development School(PDS).Dan hal ini memberikan hasil yang sangat baik,karena bukan saja meningkatkan profesinalitas guru tetapi tetapi juga peran serta masyarakat dalam pendidikan seperti dalam pelaksanaan dan perumusan kebijakan pendidikan.dan wadah ini juga memberikan arti yang sebenarnya dari pendidikan (sekolah) yang otonom.
Kebijakan pendidikan yang benar ketika kebijakan tersebut telah valid,dengan demikian kebijakan akan tumbuh dari bawah meskipun pada kenyataanya kebijakan itu dirumuskan dan diinstruksikan dari atas (pemerintah pusat atau pemerintah daerah).Kebijakan pendidikan yang tidak berakar dilapangan akan sulit diterapkan dilapangan dan akan sulit untuk menentukan tingkat keberhasilannya,dengan demikian akan melahirkan suatu budaya yaitu budaya asalkan bapak senang (ABS) yang mana hasil yang dilaporkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan,hal ini tergambar pada silih bergantinya kurikulum disekolah,apakah pernah kita melihat fakta-fakta dilapangan bagaimana sosialisasi dari kurikulum,bagaimana kesiapan para pendidik dalam penerapannya.
pendidikan,atau gedung-gedung pendidikan yang bagus,tetapi proses pendidikan dilihat dari kualitas pendidikan seperti sejauh mana para lulusan (output) dipakai pada dunia
kerja,sejauhmana pendidikan dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat,sejauhmana para lulusan dapat membuka lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain (Eterpreneur).
G.Implementasi Landasan politik pendidikan.
Sebagaiman yang telah diuraikan diatas bahwa manusia sebagai animal educabili yang mana manusia itu mempunyai potensi untuk didik dan atau dikembangkan,dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan kemanusiannya (animal educandum) sehingga manusia membutuhkan
pendidikan sebagai sesuatu yang mutlak.
Proses pendidikan terjadi dalam masyarakat yang berbudaya.Kebudayaan manusia merupakan hasil interaksi dari suatu anggota masyarakat,Proses pendidikan adalah suatu proses untuk mencerdaskan bangsa.untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu dibuthkan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pendidikan itu.
Sejarah membuktikan kepada kita bahwa pendidikan ditanah Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan mulai dari masa Kolonial sampai kepada masa orde Baru.Pada masa colonial Pendidikan yang berjalan tidak merata yang hanya diprioritaskan bagi anak colonial dan bangsawan,sedangkan anak bumi putera hanya mengecap pendidikan seadanya ,karena
dipersiapkan untuk menjadi pegaawai pemerintah rendahan.
Pada era kemerdekaan orde lama proses indoktrinasi idiologi pendidikan dipaksakan melalui pendidikan pendidikan ynag berjalan pada semua tingkatan pendidikan ,baik yang dilaksanakan oleh pemerinah maupun pendidikan yang dilaksanakan oleh masyarakat,hal ini membuktikan bahwa kekuasaan kebebasan manusia untuk kepentingan Negara.
Era orde baru memang membawa perubahan,pendidikan diabdikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakayat,tetapi pada akhirnya kekuasaan orde baru berubah dimana lebih mementingkan masyarakat tertentu.Sistem pendidikan pada orde baru mengalami kegagalan dengan menghasilakn generasi yang tertekan sehingga menimbulkan keinginan untuk
melepaskan diri,khususnya generasi muda dengan melakaukan perlawanan melalui demonstrasi-demonstrasi sehingga runtuhlah rezim Soeharto.
Runtuhnya rezim Soeharto maka lahirlah era Reformasi,yang mana dituntut suatu hak kebebasan individu yang lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat,Untuk itu cara-cara yang berkuasa pada era erde lama dan orde baru seperti dictator dan indoktrinitif didalam masyarakat dalam
melaksanakan kekuasaan pemerintah perlu diganti dengan cara yang demokratis.
system pendidikan yang terdesentralisasi sejalan dengan lahirnya UU pemerintahan otonom didaerah.
Reformasi juga terjadi pada dunia pendidikan kita,reformasi kurikulum yang berlangsung dari kurikulum 1947(rencana pengajaran) ,kurikulum 1952 (rencana pengajaran terurai),kurikulum 1968 (untuk pembentukan etiaka),kurikulum 1975(Orientasi pada
tujuan),kurikulum1984(berorientasi pada tujuan instruksional),kurikulum 1994(berorienbtasi pada materi isi),krikulum 2004(kurikulum berbasis kompetensi)dan yang terakhir kurikulum 2006 (kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan reformasi pendidkan in juga diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita,khususnya mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi era globalisasi (pasar bebas).
Disamping kurikulum proses pendidikan juga ditunjang oleh factor-faktor yang lain seperti fasilitas sekolah (gedung-gedung sekolah yang dilengkapi dengan srana dan prasarana lainnya) untuk masalah ini juga tidak terjadi pemerataan karena masih terdapat yang tidak memenuhi criteria untuk dijadikan tempat belajar (hanya layak sebagai kandang hewan),hal ini
membutuhkan kejelian pemerintah dalam kebijakan pemerintah khususnya masalah pendanaan agar tersentuh sampai kedaerah-daerah pelosok.
Disamping itu juga profesionalisme guru, salah satu bentuk kebijakan pendidikan yaitu dengan membentuk Badan Sertifikasi Nasional pendidikan (BSNP) apakah badan ini terdiri dari ahli-ahli pendidikan yang mempuyai kompetensi untuk melakukan tugasnya dengan baik atau
sebaliknya.Untuk meningkatkan profesionalisme guru juga membutuhkan pendanaan oleh sebab itu kiranya dinaikan dana APBN oleh pemerintah untuk pendidikan kiranya dapat merubah mutu pendidikan kita.
H.Kesimpulan
Politik pendidikan adalah suatu kebijakan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kebijakan pendidikan merupakan keseluruhan proses dan hasil perumusan langkah-langkah strategis pendidikan yang dijabarkan dari visi,misi pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu masyarakat untuk suatu kurun waktu tertentu.
Kebijakan pendidikan tidak terlepas dari kekuasaan,sesuai yang dikemukakan oleh pakar pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara,Romo Mangun,Paoulu FiereDan Amarta
Dengan demikian kebijakan pendidikan haruslah didasarkan pada ilmu politik normative(ilmu yang mengkaji atau mengevaluasi masyarakat yang ada maupun yang akan lahir) yang dalam masyarakat Indonesia berarti mewajibkan pendidikan berdasarkan nilai-nilai moral
pancasila.Kebijakan pendidikan harus berdassarkan teori dan kenyataan dilapangan agar dapat menjadi masukan untuk kebijakan pendidikan beikutnya.
I. Saran.
Bagi para pemegang hak untuk mengambil kebijakn khususnya kebijakn politik kiranya dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
Pendidikan merupakan Hak asasi Manusia Culture buday bangsa kita
Letak geografis bangsa kita
Keadaan psikologis peserta didik kita
Profesionalisme pendidik kita.sehingga apapun yang menjadi hasil perumusan dari kebijakan pendidikan semua masalah-masalah tersebut dapat terjawab.
SEAN Community 2015 merupakan moment penting yang terbuka bagi negara-negara ASEAN dalam hal mobility dan connectivity sumber daya manusia ASEAN disemua bidang baik pilar Politik Keamanan, pilar Ekonomi serta Pilar Sosial Budaya termasuk didalamnya bidang Pendidikan dan Kebudayaan. mengingat populasi penduduk ASEAN berjumlah 600 juta manusia dan 245 juta orang berasal dari Indonesia,
Jadi ada 1/4 pendudukan ASEAN berasal dari Indonesia hal ini menunjukan betapa pentingnya posisi Indonesia dalam negara-negara di ASEAN, selain Indonesia merupakan negara yang mencetuskan ide pembentukan ASEAN serta tempat dimana sekretariat ASEAN berada yang memiliki satu Visi, satu Identitas serta satu Komunitas yaitu ASEAN.
Khususnya pilar Sosial dan Budaya yang didalamnya termasuk Pendidikan dan Kebudayaan, negara Indonesia masih belum begitu siap bila dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya baik dengan negara-negara Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Philiphina, khususnya pada pendidikan Kejuruan serta Pendidikan Tinggi.
(1) Apakah para lulusan SMK atau Sekolah Kejuruan dari Indonesia bisa diterima bekerja di negara-negara ASEAN,
(2) Belum adanya Standarisasi Lulusan dari Sekolah Kejuruan (SMK) di tingkat ASEAN, baik dari sisi Kurikulum Sekolah kejuruan ditingkat ASEAN, sehingga lulusan SMK atau sekolah kejuruan dari Indonesia belum memiliki kompetensi kejuruan ditingkat ASEAN, sedangkan dalam ASEANCommunity 2015 mendatang semua lulusan SMK dari beberapa negara ASEAN bisa bekerja dimana saja sesuai dengan kesepakatan ASEAN,
Hal ini sesuai dengan isi Deklarasi Cha-Am Hua Hin,Thailand dalam Roadmap ASEAN Community (2009-2015) dalam memperkuat kerjasama pendidikan dalam persiapan ASEAN Community 2015, pada peran Pendidikan dalam sektor Komunitas Ekonomi ASEAN yang salah satunya mendukung mobilitas secara besar-besaran para pekerja lulusan Kejuruan dan Sekolah Umum yang akan bekerja di negara ASEAN dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan standar profesionalisme para lulusan Sekolah kejuruan dan Sekolah Umum untuk bisa bekerja dilingkungan negara ASEAN,
Mengembangkan kompetensi berbasis standart peluang kerja di ASEAN, hal ini penting untuk segera dilaksanakan persiapannya di tingkat Sekolah Kejuruan dan Sekolah Umum di Indonesia yang sesuai dengan Kompetensi Standar ASEAN yang dibutuhkan oleh dunia Industri ditingkat ASEAN,
Mendorong perkembangan standarisasi secara umum pada Kompetensi Lulusan Sekolah Kejuruan dan Umum ditingkat negara ASEAN, khususnya melaksanakan pola standarisasi Lulusan Sekolah Kejuruan di Tanah Air yang memiliki kompetensi ditingkat ASEAN,
Pola standarisasi Kurikulum dan Kompetensi lulusan Sekolah Kejuruan (SMK) di Indonesia dan ASEAN bisa disinergikan dengan pola Distance Learningyang telah lama dilaksanakan oleh SEAMEO- SEAMOLEC, Jakarta yang merupakan Center SEAMEO di Indonesia yang sangat aktif menyiapkan pola Pendidikan Jarak Jauh atau Distance Learning dengan semua center SEAMEO di 10 (sepuluh) anggota negara ASEAN, II. Peran Pendidikan dalam Pilar Sosial Budaya ASEAN, salah satunya denganPromosi
Bahasa dan Budaya Indonesia untuk warga dilingkungan ASEAN, sebagai contoh negara Thailand begitu semangatnya warga Thailand untuk belaja bahasa dan budaya Indonesia sebagai bahasa kedua mereka,
Mengapa hal ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dan budayaprimadona dan diminati di Thailand dan negara-negara ASEAN, hal ini dikarenakan: (i) Indonesia sebagai Negara terbesar di ASEAN, (ii) Persiapan ASEAN Community 2015, semua Negara ASEAN berlomba-lomba untuk menjadi “HUB” untuk semua bidang baik Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Kuliner, dll., serta (iii) Menguasai Bahasa merupakan hal yang paling penting dalam kancah ASEAN Community 2015.
Untuk itu tidak heran bila Kementerian Pendidikan (MoE) Thailand menyediakan Dana yang besar untuk ditingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah (SMP dan SMU), Sekolah Kejuruan (SMK) dan Pendidikan Tinggi (PT) untuk semua program kegiatan dalam rangka mempersiapkan ASEANCommunity 2015.
Thailand, (iii) sebagai tuan rumah Seminar, Workshop, Konferensi, Pameran yang bertaraf Internasional di semua bidang di kota Bangkok, Chiang Mai, Pattaya, Phuket, dll. Sedangkan pendidikan bahasa Indonesia untuk mahasiswa di Universitas Thammasat, Bangkok telah dibuka sejak tahun 2000-an dengan membuka program studi bahasa Indonesia dengan dosen dari UGM dalam program ASEAN Study, serta pada awal semester depan pada Juni 2012 akan dibuka untuk semua mahasiswa di seluruh Fakultas di Universitas Thammasat untuk kuliah bahasa Indonesia dengan beban 4 SKS dengan dosen dari Indonesia. Indonesian Study Centermerupakan salah satu bentuk Soft Power Diplomacy bidang Pendidikan dan Kebudayaan yang sangat penting khususnya di Negara ASEAN dalam rangka mempersiapkan ASEAN Community 2015,sertasemakin banyak mahasiswa, pelajar, pejabat dan warga Thailand yang semangat untuk belajar bahasa Indonesia dan kebudayaan sehingga sangat penting adanya Indonesian Study Center sebagai salah satu tempat untuk belajar/kuliah bahasa Indonesia, seni danbudaya Indonesia di negara Thailand dan semoga bisa dilaksanakan untuk negara-negara lain di ASEAN, seperti negar yang memiliki Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia dan KBRI Manila, Philiphina, serta Fungsi Pensosbud KBRI dinegara Vietnam, Singapura, Myanmar, Kambodia, Laos, dan Brunei Darusalam,
III. Sosialisasi ASEAN Community 2015 baik ditingkat Pendidikan Dasar, Menengah, serta Pendidikan Tinggi di Indonesia;
Apakah sudah dilaksanakan sosialisasi diseluruh Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Kejuruan serta Pendidikan Tinggi se Indonesia berkaitan dengan ASEAN Community 2015?
Kegiatan ini telah dilaksanakan diseluruh negara Thailand baik dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah serta Pendidikan Tinggi. Sehingga semua Guru serta siswa-siswi dan mahasiswa se Thailand telah menyiapkan dirinya dengan baik dalam rangka ASEAN Community 2015 mendatang. Kementerian Pendidikan (MoE) Thailand telah menyiapkan Dana yang besar dalam rangka ASEAN Community 2015 ini untuk semua tingkat pendidikan di Thailand.
Bila Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemdikbud, Indonesia belum menyiapkan kegiatan ini dengan baik ada kekawatiran banyak siswa-siswi, Guru, Mahasiswa dan Dosen yang tidak tahu menahu tentang apakah yang dimaksud dengan ASEAN Community 2015?
Bagaimana Indonesia akan ikut aktif berperan dalam ASEAN Community 2015 yangg kurang dari 2 (dua) tahun mendatang baik untuk menyiapkan Kurikulum Pendidikan Dasar, Menengah serta Kejuruan, Standarisasi serta Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah dan Kejuruan yang masih belum memiliki Standar ASEAN, yang mana nantinya lulusan Sekolah Umum dan Kejuruan dari tanah air bisa bekerja dilingkungan negara-negara ASEAN,
IV. Student Mobility and Credit Transfer serta Research Cluster ditingkat Pendidikan Tinggi se ASEAN;
Malaysia-Indonesia-Thailand Program yang telah mengirimkan lebh dari 75 (tujuhpuluh lima) mahasiswa Indonesia ke Malaysia dan Thailand dan sebaliknya selama 1 (satu) semester kuliah di beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Thailand. Pada tahun 2013 mendatang negara Vietnam dan Philiphina akan ikut bergabung dalam program ini dengan nama baru AIMS. Kegiatan ini didukung SEAMEO- RIHED, Thailand.
Selain program AIMS juga telah berjalan dibawah koridor ASEAN Sekretariat yaitu Asian University Network (AUN) yang mana perguruan tinggi yang masuk dalam AUN dari Indonesia adalah Universitas Gadjahmada , Universitas Indonesia, Universitas Airlanggala, dan Institut Teknologi Bandung, untuk negara Thailand Universitas Chualongkorn, Burapha University, Chiang Mai University dan Mahidol University. Kegiatan yang telah dilaksanakan program M-I-T dan AUN ini merupakan kegiatan dalam rangka persiapan ASEANCommunity 2015 khususnya pertukaran dan Transfer Kredit mahasiswa tingkatBachelor di ASEAN
Pusat Studi ASEAN Punya Peran Penting Songsong
ASEAN Community 2015
[Unpad.ac.id, 30/10/2013] Unpad melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Bidang Pendidikan, Penelitian/Pengkajian Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN
Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. H. Asep Kartiwa, S.H., M.S., (kiri) dengan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu RI, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja usai penandatanganan MoU Bidang Pendidikan,
Penelitian/Pengkajian Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Penandatanganan dilakukan antara Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. H. Asep Kartiwa, S.H., M.S., dengan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu RI, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja. Menurut I Gusti, Pusat Studi ASEAN di Unpad ini merupakan pusat studi pertama yang didirikan di Jawa Barat dalam rangka menyongsong ASEAN Community 2015.
“Dibukanya ASEAN Community 2015, berarti kita harus siap menghadapi persaingan dengan masyarakat di kawasan ASEAN,” tuturnya.
Dalam dua tahun ke depan, Indonesia harus punya daya saing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Sebab, melalui ASEAN Community semua negara di kawasan ASEAN akan menjalin kerja sama secara langsung di bidang ekonomi, sosial, budaya, maupun politik.
“Bagaimana kita bisa berkontribusi kalau kita tidak punya daya saing. Pusat Studi ASEAN merupakan salah satu institusi penting untuk mempersiapkan daya saing tersebut,” ujar I Gusti.
“Kita harapkan pusat studi ini punya banyak link kerja sama agar Indonesia pun punya kekuatan dalam menghadapi ASEAN Community 2015 nanti,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia pun menjelaskan, dibukanya Pusat Studi ASEAN di Indonesia didasarkan pada belum banyaknya kajian mengenai kawasan ASEAN di Indonesia. Padahal, banyak prediksi
mengungkapkan bahwa kawasan Asia Tenggara akan menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi dunia di masa yang akan datang.
Sejauh ini, Pusat Studi ASEAN baru didirikan di 7 perguruan tinggi di Indonesia, yaitu Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Hassanuddin, dan Universitas Andalas. Pusat Studi ASEAN di Unpad sendiri merupakan pusat studi ke-8 yang didirikan oleh Kemlu RI.
“Kita harapkan setiap Pusat Studi ASEAN punya spesifikasinya masing-masing. Mahasiswa pun harus ikut aktif berkontribusi di pusat studi ini sebagai young generation Indonesia yang punya daya saing,” harap I Gusti.
Fokuskan pada Aspek Ekonomi
Seperti dikatakan I Gusti, setiap Pusat Studi ASEAN memiliki fokus pengembangan keilmuan. Contohnya, di Pusat Studi ASEAN Universitas Sam Ratulangi difokuskan pada aspek maritim di kawasan Asia Tenggara.
Di Unpad sendiri ada rencana pemfokusan pada sektor ekonomi. Menurut Prof. Asep, dibukanya Pusat Studi ASEAN di Jabar akan berdampak pula pada perkembangan sektor ekonomi. Sebab, sektor ekonomi di Jabar merupakan potensi yang baik sebagai kekuatan Indonesia.
“Selama ini saja, dengan dibukanya rute penerbangan Bandung-Kuala Lumpur setiap harinya sekitar 1.500 orang menggunakan transportasi tersebut. Ini membuktikan bahwa mobilitas dengan negara ASEAN di Jabar cukup tinggi,” katanya.
Prof. Asep pun berharap, Pusat Studi ASEAN di Unpad ini dapat menjadi peluang investasi dan peningkatan sektor ekonomi masyarakat Jawa Barat dalam ASEAN Community 2015 mendatang. “Saya optimis, Pusat Studi ini dapat menjadi barometer untuk pengembangan Jawa Barat ke depan,” pungkasnya.
Selain penandatangan MoU, dalam kesempatan tersebut juga digelar Seminar “Kesiapan Indonesia dan Provinsi Jabar dalam Menghadapi ASEAN Community 2015: Peluang dan Tantangan” dengan pembicara Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja, Prof. drs. Yanyan M. Yani, MAIR, PhD