BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian anak yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat (1) dan (2) yaitu : Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Ayat 1 memuat batas antara belum dewasa dengan telah dewasa yaitu berumur 21 (dua puluh satu) tahun kecuali, anak yang sudah kawin sebelum umur 21 tahun, pendewasaan. Ayat 2 menyebutkan bahwa pembubaran perkawinan yang terjadipada seseorang sebelum berusia 21 tahun, tidak mempunyai pengaruh terhadap kedewasaan.
Anak usia dini yang berusia lima sampai enam tahun terutama yang sedang
bersekolah di Taman Kanak-kanak memiliki perilaku yang berbeda dalam
menghadapi suatu hal, ada anak yang aktif dalam menjalani proses belajar, dan ada
juga yang pasif, anak yang pasif lebih memilih duduk diam memperhatikan gurunya,
bahkan ada anak yang harus selalu didampingi oleh orangtuanya. Anak yang
berprilaku seperti itu pasti memiliki faktor tersendiri, faktor tersebut menjadi alasan
mengapa anak-anak berperilaku pasif atau aktif di dalam kelas, mengapa anak
cenderung bersifat manja, berani, pemalu, nakal, dan lain-lain. Pada waktu istirahat
aktif bermain ketika di luar ruangan dan pasif ketika sedang menjalani proses belajar
mengajar, hal tersebut mungkin berkaitan dengan faktor lingkungan keluarga dan
bagaimana tahap-tahap perkembangan yang dialami pada anak usia dini.
Pada perkembangan anak usia dini, perilaku mereka bergantung terhadap pola
pengasuhan dan pendidikan yang diberikan orangtuanya. Orangtua sebagai figur
sempurna dimata anaknya, oleh karena itu anak cenderung meniru atau
mencerminkan perilaku yang dimiliki orangtuanya, anak yang baik dibesarkan oleh
orangtua yang baik pula, seperti pribahasa “Buah yang jatuh tidak akan jauh dari
pohonnya”. Perilaku anak usia dini lebih rentan terpengaruh terhadap pola asuh atau
bimbingan keluarga dibandingkan dengan faktor lingkungan sekitar, karena anak usia
dini tidak mengenal lebih luas mengenai lingkungannya sekitar yang bukan
keluarganya dibandingkan dengan orang yang usianya lebih tua, anak masih
dikatakan baru mengenal dunia, sehingga faktor lingkungan sekitar tidak banyak
mempengaruhi perilaku yang dimiliki anak usia dini.
Timbulnya perilaku pada anak usia dini dapat pula disebabkan karena
keberhasilan dalam menyelesaikan tahap perkembangan yang telah dicapai, dalam
keadaan tersebuta anak yang sudah mencapai suatu tahap perkembangan akan
menguasai suatu kemampuan yang didapat pada tahap tersebut, contohnya adalah
pada perkembangan kognitif tahap awal anak cenderung bersifat egois, masih
memikirkan dirinya sendiri. Namun ada juga yang mengalami hambatan dalam tahap
selanjutnya, jika seorang anak tidak dapat menyelesaikan tahap perkembangan dan
tidak menguasai suatu kemampuan atau keterampilan, anak tersebut cenderung
mengalami regresi, dalam psikologi resgresi yaitu kemunduran perkembangan.
Seseorang yang mengalami regresi akan memperlihatkan tingkah laku seperti anak
yang lebih muda dibandingkan dengan usianya sekarang.
Anak perlu diteliti mengapa perilaku tersebut melekat pada dirinya, faktor apa
saja yang dapat memunculkan perilaku? dan bagaimana faktor tersebut
mempengaruhi perilaku? pertanyaan tersebut dipandang penting, anak sebagai
penerus keluarga tentu harus memiliki sifat serta sikap yang dapat dikatakan baik
oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai penerus keluarga, tetapi juga sebagai penerus
bangsa. Dalam psikologi perkembangan, perilaku anak akan diteliti, dan memiliki
manfaat tersendiri, jika dalam proses belajar mengajar, guru dapat mengetahui
strategi belajar berdasarkan tingkat kemampuan intelektual anak, dan dapat
membantu memahami perbedaan karakteristik anak. Sehingga peran psikologi
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan dapat diidentifikasi beberapa
masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang menjadi penyebab anak berperilaku tertentu?
2. Bagaimana cara untuk mendorong anak untuk berperilaku positif?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah:
1.3.1 Tujuan Objektif
Tujuan objektif dari karya tulis ini adalah untuk mengetahui sebab-sebab
timbulnya perilaku tertentu pada anak usia dini dan mengetahui cara-cara agar anak
memiliki perilaku yang positif
1.3.2 Tujuan Subjektif
Tujuan subjektif dari karya tulis ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia.
1.4 Ruang Lingkup Kajian
1.5 Postulat dan Hipotesis
1.5.1 Postulat
Quran surat An-Nahl ayat 90:
ررككننمملناوك ءراشكحنفكلنا نرعك ىىهكننيكوك ىىبكرنقملنا يذر ءراتكيإروك نراسكحنإرلناوك لردنعكلنابر رمممأنيك هكللكلا نلكإر ۞
نكورمكلكذكتك منكمللكعكلك منكمظمعريك يرغنبكلناوك
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
1.5.2 Hipotesis
Tahap-tahap perkembangan, faktor keluarga dan lingkungan menjadi penyebab
anak berprilaku.
1.6 Cara Memperoleh Data
Dalam menyusun karya tulis ini maka dalam pengumpulan data, penulis
menggunakan metode observasi, yaitu suatu metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara meninjau dan mengamati secara langsung dan wawancara,
1.7 Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran penulisan Tugas Akhir ini, maka penulis
memberikan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan memberikan gambaran mengenai isi karya tulis,
sehingga pembaca mendapat informasi tentang apa yang dibahas. Di dalam
pendahuluan terdapat identifikasi masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup kajian,
postulat dan hipotesis, cara memperoleh data, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Di dalam pemerian masalah berisi pokok-pokok yang terdapat pada ruang
lingkup kajian, berisi defisini faktor, definisi perilaku, dan definisi anak
BAB III PEMBAHASAN
Dalam hal ini penulis mengemukakan pendapat mengenai faktor-faktor yang
mendasari perilaku yang datanya diperoleh dengan cara menganalisis.
BAB IV KESIMPULAN
Pada kesimpulan terdapat jawaban terhadap masalah-masalah penyebab
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Faktor
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) faktor adalah hal
(keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu.
Tidak mungkin suatu hal mucul tanpa adanya sebab, kita tidak mungkin makan tanpa
adanya rasa lapar, keingin tahuan mengenai rasa, atau bentuk dan warna yang
menarik perhatian kita.
Kegiatan kita sehari-hari pasti memiliki faktor yang mendukung untuk
melakukan kegiatan tersebut, entah itu kebutuhan, hobi, dan lain-lain. Begitu pula
dengan perilaku, perilaku muncul tidak tiba-tiba, dan tidak mungkin muncul tanpa
adanya sebab yang jelas, perilaku tentu memiliki faktor tersendiri, faktor tersebut
dapat berkaitan dengan keluarga, teman, guru, tetangga, bahkan dengan tahap-tahap
perkembangan. Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku antara lain: 1) Lingkungan Keluarga
Keluarga sebagai pengalaman pertama dan utama tentu menjadi pengaruh
paling berdampak bagi perkembangan anak, disanalah anak ditanamkan oleh
dasar-dasar pengalaman emosi. Gaya pengasuhan dan bimbingan sangat berpengaruh, gaya
pengasuhan yang tidak peduli membuat anak impulsive, dan gaya pengasuhan otoriter
membuat anak menjadi pemarah (Fawzia Aswin Hadist, 1995).
Kesuksesan belajar kedepannya pasti dipengaruhi oleh kesuksesan belajar
dia akan tumbuh dengan baik. Namun pertumbuhan dan belajar anak dalam keluarga
tidak memadai, maka berikutnya akan mengalami gangguan, dan bahkan penyesuaian
emosi yang terhambat. Pada dasarnya keluarga sudah melekat pada diri kita, menjadi
sandaran bila timbulnya masalah-masalah, dan orang-orang yang paling sering
ditemui. Perilaku yang dimiliki keluarga akan tertanam dan melekat pada diri kita,
perilaku tersebut akan menjadi identitas, maka sebagian besar perilaku anak tentunya
memiliki perilaku yang sama seperti anggota keluarga lainnya (Fawzia Aswin Hadist,
1995).
2) Lingkungan Sekitar
Selain keluarga, lingkungan sekitar juga berperan dalam faktor timbulnya
perilaku. Seseorang tidak akan mungkin tumbuh di lingkungan keluarga saja, atau
mungkin mengurung diri di rumah. Seseorang memiliki kebutuhan akan sosialisasi
yang tinggi, tidak akan mungkin terpenuhi oleh keluarga saja, bagaimana jika
keluarga tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk bermain, berbincang,
rekreasi, dan lain–lain. Oleh karena itu, seseorang disela–sela waktunya ingin
melakukan aktivitas yang menghilangkan rasa bosan, terlebih lagi akan lebih seru jika
aktivitas tersebut ditemani. Manusia sebagai makhluk sosial, memenuhi kebutuhan
perlu bantuan orang lain. Sejak dilahirkan, manusia sudah ditakdirkan untuk hidup
bersama dengan manusia lain, mula-mula dengan ayah ibu dan saudara-saudaranya,
makin bertambah umur makin luas hubungannya dengan manusia lain, itu sebabnya
mengapa timbul kelompok. Di dalam kelompok terdapat anggota, dan anggota
memiliki perilaku yang berbeda, hal tersebut lambat laun akan menyebar ke anggota
kelompok, dan menjadi identitas kelompok. Jika anak yang pada awalnya baik,
kemudian masuk ke dalam geng motor, sudah pasti anak tersebut akan memiliki
tingkah laku yang sama layaknya anggota geng motor. Maka dari itu, hati-hatilah
dalam memilik teman.
2.2. Definisi Perilaku
Perilaku manusia tentunya dapat diamati secara langsung, tindakan
tersebut mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berjalan, berlari,
menangis. Menurut Skinner seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku
merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsang dari luar).
Dalam teori Skinner ada 2 respon, yaitu:
1) Respondent respon atau flexive, yakni respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan (stimulus tertentu). Stimulus semacam ini disebut eleciting
stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap.
2) Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul dan
berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini
disebut reinforcing stimulation atau reinforcer karena memperkuat respon. Maka teori
Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon
(Notoatmojdo, 2003).
Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau
tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan.
Faktor-faktor lain yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut
determinan perilaku. Determinan perilaku dibedakan menjadi 2.
1. Determinan atau faktor interval
Karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan, misalnya
tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya.
2. Determinan atau faktor eksternal
Lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Faktor lingkungan sering merupakan faktor domain yang mewarnai perilaku
seseorang (Notoatmodjo, 2007).
Pembentukan perilaku menurut Ircham (2005) ada beberapa cara, diantaranya: 1. Conditioning atau kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan conditioning kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan akhirnya akan terbentuklah perilaku.
2. Pengertian (Insight)
Pembentukan perilaku yang didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai
dengan adanya pengertian.
Perilaku bukan hanya karena insting saja, tetapi juga dapat dibentuk dengan
kebiasaan, yaitu dengan membiasakan diri untuk berprilaku seperti yang diharapkan.
dengan adanya pengertian. Selain itu, adanya model sebagai contoh juga dapat
dijadikan pembentukan perilaku, cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social
learning theory) atau observational learning theory oleh bandura (1977).
2.3 Definisi Anak
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia
bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun) hingga
remaja (11-18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain
mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan
pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses
perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan
perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak mungkin pertumbuhan fisik yang
sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan pertumbuhannya. Demikian juga halnya
perkembangan kognitif juga mengalami perkembangan yang tidak sama. Adakalanya
anak dengan perkembangan kognitif yang cepat dan juga adakalanya perkembangan
kognitif yang lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang anak.
Perkembangan konsep diri ini sudah ada sejak bayi, akan tetapi belum terbentuk
secara sempurna dan akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan
usia pada anak. Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hamper sama dengan
koping yang 6 Universitas Sumatera Utara dimiliki anak adalah menangis seperti
bagaimana anak lapar, tidak sesuai dengan keinginannya, dan lain sebagainya.
Kemudian perilaku sosial pada anak juga mengalami perkembangan yang terbentuk
mulai bayi. Pada masa bayi perilaku social pada anak sudah dapat dilihat seperti
bagaimana anak mau diajak orang lain, dengan orang banyak dengan menunjukkan
keceriaan. Hal tersebut sudah mulai menunjukkan terbentuknya perilaku social yang
seiring dengan perkembangan usia. Perubahan perilaku social juga dapat berubah
sesuai dengan lingkungan yang ada, seperti bagaimana anak sudah mau bermain
dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Azis, 2005).
Anak adalah individu yang rentan karena perkembangan kompleks yang
terjadi di setiap tahap masa kanak- kanak dan masa remaja. Lebih jauh, anak juga
secara fisiologis lebih rentan dibandingkan orang dewasa, dan memiliki pengalaman
yang terbatas, yang memengaruhi pemahaman dan persepsi mereka mengenai dunia.
Awitan penyakit bagi mereka seringkali mendadak, dan penurunan dapat berlangsung
dengan cepat. Faktor kontribusinya adalah sistem pernapasan dan kardiovaskular
yang belum matang, yang memiliki cadangan lebih sedikit dibandingkan orang
dewasa, serta memiliki tingkat metabolisme yang lebih cepat, yang memerlukan
curah jantung lebih tinggi, pertukaran gas yang lebih besar dan asupan cairan serta
asupan kalori yang lebih tinggi per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa.
Kerentanan terhadap ketidakseimbangan cairan pada anak adalah akibat jumlah dan
distribusi cairan tubuh. Tubuh anak terdiri dari 70-75% cairan, dibandingkan dengan
di Universitas Sumatera Utara kompartemen cairan ekstrasel dan oleh karena itu
cairan ini lebih dapat diakses. Oleh karena itu kehilangan cairan yang relatif sedang
dapat mengurangi volume darah, menyebabkan syok, asidosis dan kematian (Slepin,
2006).
Anak adalah pembawa kebahagian dalam keluarga, karena memberikan arti
bagi orangtuanya. Anak akan melanjutkan semua cita-cita harapan dan eksistensi
hidup. Menurut Garis Besar Haluan Negara (GBHN) anak merupakan generasi
penerus bangsa dan sumber insan bagi pembangunan sosial, maka anak harus dibina
dengan pendidikan yang bagus agar menjadi pribadi yang berkualitas dan berguna
untuk bangsa. Anak adalah mahluk yang independen, anak tentu memiliki takdirnya
sendiri, dan merupakan individu yang berbeda sekalipun dengan orangtuanya.
Anak yang tidak terkekang oleh orangtuanya cenderung dapat hidup lebih
mandiri, oleh karena itu tidak baik jika memaksakan kehendak pada anak, biarkan
anak memiliki cita-cita sesuai dengan apa yang mereka inginkan, orangtua hanya
bertugas sebagai pemantau dan mengarahkan agar tidak tersesat. 2.4 Definisi Taman Kanak-kanak
Taman Kanak-kanak atau yang biasa disebut TK adalah jenjang Pendidikan
anak usia dini, biasanya berkisar antara empat sampai lima tahun. Taman
Kanak-kanak adalah bentuk pendidikan formal untuk anak usia dini yang memiliki tujuan
untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak, sehingga anak tumbuh besar
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan
Prasekolah Bab I Pasal 1 Ayat (2) dinyatakan bahwa “Taman Kanak-kanak
adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program
pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar.”
Berdasarkan pada Penjelasan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 28 Ayat (3) menyebutkan bahwa Taman
Kanak-kanak adalah suatu bentuk pendidikan yang diselenggarakan untuk
mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan
peserta didik. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0486/U/1992 Bab I Pasal 2 Ayat (1)
dinyatakan bahwa “Pendidikan Taman Kanak-kanak merupakan wadah untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik sesuai
dengan sifat-sifat alami anak.”
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional Bab I Pasal 1 Ayat (14) dikemukakan bahwa: Pendidikan
anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani
TK membantu anak dalam pembelajaran, dan mempersiapkan untuk jenjang
yang lebih tinggi. Masa pembelajaran TK mencapai dua tahun, pada tahun pertama
anak menduduki TK nol kecil, dan tahun selanjutnya TK nol besar. TK memiliki
tujuan membantu anak didiknya untuk lebih mengenal dirinya, kemampuannya,
sifatnya, kebiasaannya dan lingkungan sehingga dapat memiliki kemampuan untuk
beradaptasi di luar rumah. Setiap anak tentu memiliki potensinya sendiri, dalam ha
tersebut TK berguna untuk mengembangkan potensinya.
2.5 Tahap-Tahap Perkembangan
Pada perkembangan, terdapat tahap-tahap yang perlu dituntaskan, hal tersebut
berkaitan dengan perilaku yang dibawanya sampai saat ini, timbulnya perilaku dapat
dilihat melalui tahap-tahap perkembangan. Seseorang yang memiliki regresi,
cenderung mengalami kesalahan dalam mencapai tugas perkembangan. Tugas
tersebut dapat terlihat ketika salah satu tahap terlewat. Berikut adalah macam-macam
tahap perkembangan menurut para ahli :
A. Menurut Hurlock, tahap perkembangan biologis terbagi menjadi 6, antara lain : 1. Infancy (lahir-2 minggu)
Infancy adalah tahap awal dalam perkembangan biologis, tahap ini menjadi
masa terpendek dalam kehidupan manusia. Tahap ini adalah tahap penyesuaikan diri
dengan lingkungan yang bukan di dalam perut ibunya. 2. Babyhood (2 minggu-2 tahun)
Pada tahap ini terjadi perubahan dan pertumbuhan yang sangat cepat, tahap ini
membentuk dasar-dasar kepribadian. 3. Childhood
Pada umur dua sampai enam tahun kemampuan motoric halus dan kasar sudah
dikuasai, kemampuan bahasa sudah cukup baik. b. Late Childhood (anak akhir)
Pada umur enam sampai dua belas tahun perkembangan intelektual tumbuh
dengan pesat, anak akan lebih mandiri dan mulai senang dengan hal yang berkaitan
dengan berkelompok. 4. Adolescene
Tahap ini terbagi menjadi dua, diantaranya : a. Early Adolescene (masa awal pubertas)
Pada umur tiga belas samapi tujuh belas tahun organ-organ seksual telah
matang, pertumbuhan fisik sangat pesat, dan mulai tertarik dengan lawan jenis. b. Late Adolescene (masa akhir pubertas)
Pada umur 18 sampai 22 tahun lingkungan mempunyai pengaruh yang
sangat penting. Peran teman sebaya mempengaruhi perilaku.
5. Adulthood
Tahap ini terbagi menjadi tiga, antara lain: a. Early Adulthood (masa awal kedewasaan)
Terjadi pada saat berumur 22 sampai 40 tahun. Masa ini adalah masa berkeluarga dan
memiliki pekerjaan tetap.
b. Middle Adulthood (masa pertengahan dewasa)
Terjadi pada saat berumur 40-60 tahun. Secara umum kehidupannya telah mapan,
terjadi menopause pada wanita, dan mulai menghadapi masa pension. c. Late Adulthood (masa akhir dewasa)
Terjadi pada saat umur mencapai 60 tahun ke atas. Tahap ini adalah periode terakhir
masalah kesehatan, dan mendekatkan diri pada Tuhan (Diktat Psikologi Umum,
2014:50).
B. Menurut Jean Piaget, tahap-tahap perkembangan kognitif dibagi menjadi 4,
antara lain:
1. Sensori Motor (0-2 tahun)
Perilaku individu bersifat motorik, belum ada kegiatan mental. Pada tahap ini anak
akan belajar membedakan diri dari objek, mulai mengenal dirinya sebagai pelaku
suatu tindakan dan melakukannya dengan sengaja. 2. Pra Operasional (2-7 tahun)
Anak mulai mampu berbahasa, bahasa tersebut digunakan untuk merepresentasikan
objek dengan citra atau kata. Namun, pola pikir anak asih bersifat egosentris, yaitu
mengalami kesulitan dalam memandang dari sudut pandang orang lain. Anak dapat
mengklasifikasi objek hanya dengan ciri tunggal. 3. Operasional Konkrit (7-12 tahun)
Pada tahap ini anak berpikir logis, dan dapat mengklasifikasi objek secara serial
dengan mengikuti dimensi tunggal seperti ukuran. 4. Operasional Formal (12 tahun)
Anak memiliki pola berfikir fleksibel, berpikir logis yang bersifat abstrak, analisa,
dan sintesa. Anak dapat memperhatika masalah hipotetik, yaitu sesuatu yang belum
BAB III PEMBAHASAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI TERBENTUKNYA PERILAKU ANAK TAMAN KANAK – KANAK KARTIKA KOTA
SUKABUMI
3.1 Hasil Observasi
Berdasarkan hasil observasi di Taman Kanak-kanak Kartika di Jalan
Cimanggah, Kota Sukabumi, Anak yang sedang beraktivitas di TK memunculkan
perilaku yang berbeda-beda. Terlihat ada anak yang aktif dan pasif, namun yang pasif
lebih dominan dibandingkan yang aktif, hal tersebut dikarenakan anak masih
berusaha mengenal lingkungan baru. Sebelum anak menduduki bangku TK, anak
selalu menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya, sekalipun anak
beraktivitas di luar pasti ditemani oleh orang yang di kenalnya, anak lebih merasa
aman ketika ditemani oleh orang yang dia kenal, entah itu keluarga, atau tetangga.
Jika orang yang menemani hilang tanpa memberi kabar, anak cenderung menangis. Kemudian setelah anak mencapai umur 4 atau 5 tahun, anak menghadapi
kondisi yang mengharuskan dia untuk belajar secara formal. Orangtua tentu
menginginkan anaknya untuk menjadi anak yang kaya akan ilmu dan disiplin,
sehingga orangtua mendaftarkan anak-anaknya ke Taman Kanak-kanak untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anaknya. Karena kebiasaan anak yang
akan kebingungan, dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun terdapat
peran guru sebagai orangtua disekolah yang bertugas untuk membimbing, menemani,
dan memantau anak didik, tetap saja terdapat anak yang kurang terbuka dengan
gurunya, ketika anak tidak mengerti dengan apa yang disampaikan gurunya, anak
malu untuk bertanya, akibatnya ketika anak ditugaskan untuk membuat sesuatu yang
dapat mengembangkan potensinya anak cenderung diam dan kebingungan, bahkan
ada anak yang ingin buang air tetapi dia tidak berani untuk memberi tahu gurunya,
akibatnya anak buang air di celana.
Anak yang aktif memiliki semangat untuk pergi ke TK, anak menafsirkan TK
sebagai ajang untuk bermain dan mendapatkan teman baru. Terdapat perilaku anak
aktif yang dapat membuat kita tersenyum, anak aktif juga termasuk anak yang
percaya diri, anak tidak lagi merasa malu ketika berada di lingkungan baru, anak
tersebut mampu mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, sehingga lebih
menonjol diantara teman-temannya. Karena timbulnya percaya diri anak lebih berani,
anak akan lebih mudah berkenalan dengan teman baru, anak yang berani akan lebih
cepat untuk maju karena tidak membatasi dirinya untuk mencoba sesuatu yang baru.
Namun tidak semua anak aktif dikatakan baik, ketika anak tersebut terlalu aktif,
orang menafsirkannya menjadi anak nakal. Anak dapat sulit diatur karena gerak yang
berlebihan, anak dapat dikatakan nakal jika tidak mengikuti aturan yang ada, lalu
pada perilaku anak nakal terdapat sifat jahil terhadap teman-temannya, akibatnya
3.2 Hasil Wawancara
Menurut hasil wawancara orangtua, terdapat faktor-faktor penyebab
timbulnya perilaku tertentu pada anak TK Kartika Kota Sukabumi, antara lain : 1. Pola asuh orangtua terhadap anaknya
Anak berperilaku tertentu disebabkan melalui pola asuh orangtuanya. Anak
lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di luar, makin sering
anak di rumah, makin besar pula pengaruh kebiasaan anggota keluarga terhadap
anaknya. Terdapat berbagai macam pola asuh orangtua terhadap anaknya, antara
lain :
a. Orangtua Overprotective (melindungi secara berlebih)
Orangtua yang terlalu melindungi anak yang biasa disebut dengan
overprotective. Pola asuh seperti inilah akan menghasilkan anak yang manja. Anak
tidak dapat melakukan hal sendiri karena harus selalu ditemani kapan pun dan dimana
pun, anak yang seperti tentu saja akan membuat lelah orangtuanya. Perilaku manja
dapat memicu emosi orang – orang disekitarnya, kebanyakan orang tidak menyukai
sifat manja yang berlebihan karena dianggap mengesalkan dan melelahkan. Maka
dari itu orangtua diharapkan membatasi pola asuh yang terlalu sering memanjakan
ini, biarlah anak belajar melawan keinginan, dan membebaskan kegiatan anak, tetapi
tetap dipantau.
Orangtua overprotective akan membesarkan anak menjadi pembohong
unggul. Ketika anak berbuat sesuatu yang dilarang orangtuanya, anak lebih memilih
untuk berbohong dibandingkan dengan berkata jujur, hal tersebut dilakukan agar
dapat disebabkan karena orangtua yang overprotective, jika orangtua terlalu
mengekang kegiatan yang dilakukakan anak bisa jadi rasa percaya diri akan
berkurang, hal tersebut dikarenakan kebiasaan anak yang selalu mengikuti arahan
yang diberikan orangtuanya, sehingga tidak mempercayai kemampuannya sendiri,
anak mengalami kesulitan bila tidak ada orangtua, akan timbul rasa tegang ketika
anak menghadapi suatu hal atau tantangan yang dikarenakan minimnya informasi
yang dimilikinya, dan biasanya diakhiri dengan tangisan. Tangisan bisa jadi
berdampak untuk membuat anak meniru perilaku tersebut, terutama pada Taman
Kanak – Kanak yang anak – anaknya masih berumur dibawah enam tahun, dan masa
– masanya untuk belajar mengenai lingkungan sehingga cenderung mengamati dan
meniru apa yang dia lihat dan yang dia tangkap melalui pancaindera.
Ketika mengikuti proses pembelajaran, anak tersebut cenderung pasif, saat
diberikan kesempatan tanya jawab, anak lebih memilih untuk diam, meskipun anak
tersebut berkeinginan, dan mengetahui jawaban yang ditanyakan gurunya, tetapi
karena keberanian yang minim membuat anak tersebut tidak dapat maju kedepan
ataupun menjadi pusat perhatian. Maka, peran guru dalam membimbing anak yang
memiliki pola asuh seperti ini akan lebih sulit dibandingkan anak – anak yang
dibesarkan dengan pola asuh normal, guru harus lebih sabar dalam menghadapi tipe
anak seperti ini.
Ketika orangtua memberi kebebasan pada anak, anak cenderung akan kreatif,
berani melakukan suatu hal, percaya diri. Ketika anak berusia empat sampai lima
tahun, perkembangan kognitif anak adalah mengamati dan meniru, sehingga anak
dapat dengan mudah menerima apa yang mereka dan bebas untuk berimajinasi serta
mengikuti apa yang mereka suka, hal itulah mengapa anak dapat bermain dan belajar
tanpa hambatan. Pola asuh ini adalah kebalikan dari Overprotective, karena adanya
kebebasan pada anak untuk mengeksplor lebih luas dalam usahanya untuk mengenali
dunia. Anak akan cenderung mengetahui informasi lebih banyak ketimbang dengan
duduk diam di rumah.
Orangtua tidak diharapkan untuk mengekang anak, anak diberi kebebasan
melakukan sesuatu sehingga kemampuan untuk menganalisa terasah, keberanian
terlatih, timbulnya kreativitas tinggi. Orangtua cukup mengawasi, memberikan arahan
kepada anaknya, dan memberi tahu konsekuensi yang akan didapat ketika anak
melakukan sesuatu. Jika anak tidak diberi kebebasan, anak yang terkekang tidak akan
mudah untuk hidup sendiri, harus selalu bergantung pada orang lain, dan kurang
mampu mengatur perilaku mereka sendiri.
Menjadi pusat perhatian adalah hal biasa untuk anak dengan pola asuh seperti
ini, mereka berani mengemukakan pendapat, meskipun ada rasa gugup saat berdiri di
depan dan diperhatikan oleh orang banyak, tetapi mereka bisa melewatinya. Jika hal
tersebut selalu diulang – ulang, keberanian makin terlatih, dan bisa menjadi individu
yang dipandang unggul. Guru mengajarkan pada anak – anaknya untuk tidak
aktif untuk terus mengikuti proses belajar mengajar dengan semangat yang tinggi,
sehingga tidak ada hambatan ketika anak bersiap – siap dan berangkat ke sekolahnya
masing – masing.
c. Orangtua yang lemah lembut
Ketika orangtua menunjukan kasih sayangnya kepada anak, anak merasa
dibutuhkan dan senang. Secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anaknya
berprilaku yang sopan, lembut, tanpa adanya amarah. Anak yang dibesarkan dengan
cara seperti ini cenderung mengikuti apa yang orangtua lakukan, orangtua tidak
pemarah, selalu berbicara dengan tutur kata yang lembut akan menghasilkan anak
yang berprilaku dan bersifat sama. Seorang anak yang dari kecil dibiasakan memulai
harinya dengan tersenyum, kemudian hari akan menjadi anak yang murah senyum. 2. Urutan Anak dalam Keluarga
Urutan anak dalam keluarga juga menjadi faktor anak berprilaku, menurut
wawancara terdapat 4 urutan, yaitu :
a. Anak terakhir
Urutan menentukan perilaku anak, seperti yang kita ketahui anak yang paling
muda biasanya cenderung manja, hal ini disebabkan karena anak yang paling muda
atau biasa disebut anak bungsu ini mendapat perhatian orang tua lebih dari anak-anak
yang lain. Perhatian tersebut membuat anak lebih merasa dirinya paling disayangi,
ketika anak bungsu meminta sesuatu, orangtua dapat dengan mudah memberikan apa
diterima anak bungsu, tetapi juga mendapatkan perawatan lebih baik. Ketika anak
bungsu yang dimanja sedang dalam proses belajar mengajar di TK, pada awalnya
anak tidak mudah untuk berpisah dengan orangtuanya, meskipun rata-rata anak yang
pertama kali masuk TK sama seperti itu, tetapi anak bungsu lebih mengalami
kesulitan dalam hal tersebut. b. Anak Kedua
Anak kedua tidak terlalu dimanja layaknya anak terakhir, tetapi ketika anak
kedua itu berjenis kelamin perempuan, terutama anak perempuan satu-satunya dalam
keluarga akan cenderung diberi perhatian lebih, lebih protektif dibandingkan kakak
dan adiknya, anak tersebut akan dididik untuk menjadi lebih feminim agar tidak
mengikuti perilaku kakak dan adik laki-lakinya. Namun, anak tersebut juga diajarkan
untuk berprilaku lemah lembut karena dia adalah anak perempuan, dan sudah
seharusnya perempuan memiliki rasa sayang yang besar dibandingkan dengan
laki-laki.
c. Anak pertama
Anak pertama dituntut untuk mempunyai perilaku lebih baik dibandingkan
dengan adik-adiknya, karena anak pertama harus menjadi contoh. Anak pertama
biasanya lebih mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki rasa ingin melindungi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan adiknya. Karena dengan pola pengasuhan yang
mengharuskan anak pertama menjadi anak unggulan diantara adik-adiknya, maka
anak pertama akan menjadi individu yang lebih dewasa. Harapan orangtua akan
dipusatkan untuk anak pertama, orangtua mendorong anak pertamanya untuk dapat
itu membuat anak pertama adalah sosok yang lebih baik, penting, dan baik
dibandingkan adik – adiknya. d. Anak tunggal
Saat orangtua memiliki anak tunggal, orangtua akan memusatkan perhatian
kepada anak ketimbang dengan pekerjaan lain. Anak akan lebih diarahkan untuk
menjadi lebih sukses dibandingkan orangtuanya, anak akan diajarkan lebih intensif,
diberi dorongan untuk berani, sehingga anak tunggal memiliki kemampuan sama
seperti anak pertama, dan juga diberi perhatian penuh oleh orangtuanya layaknya
anak terakhir. Anak tunggal bisa jadi anak yang menja, harus selalu ditemani
orangtuanya ataupun akan menjadi anak yang lebih unggul dibandingkan dengan
anak – anak lain seusianya, hal tersebut bergantung pada pola asuh dan bimbingan
yang diterapkan orangtuanya.
Ketika orangtua memiliki anak tunggal, seberapapun uang yang dimiliki
mereka pasti akan berkumpul untuk membiayai pendidikan ataupun keinginan sang
anak. Sehingga anak bisa lebih pintar sekaligus bahagia. 3. Peran kasih sayang
Kasih sayang adalah hak yang dimiliki setiap anak, dan kasih sayang adalah
kewajiban bagi setiap orangtua. Kasih sayang akan berpengaruh terhadap
seberapa besar kebahagiaan seorang anak. Jika orangtua kurang menunjukan
kasih sayang kepada anaknya, anak tersebut tidak akan memiliki semangat yang
besar, atau mungkin anak akan menjadi anak yang suka mencari-cari perhatian.
Sedangkan anak yang diberi kasih sayang sebagaimana yang seharusnya, anak
akan merasakan rasa aman.
Orangtua memiliki cara membimbing tersendiri, ada yang membimbing dengan
selalu mengarahkan anak tanpa memberi kesempatan anak untuk mencoba, cara
membimbing seperti ini akan membuat anak selalu bergantung kepada oranglain,
anak tidak akan bisa mencari pengetahuan dan informasi sendiri. Ada yang
dengan cara pembiasaan agar terciptanya perilaku yang diinginkan, contohnya
setiap anak bangun tidur, orangtua akan menyapa dengan senyuman sehingga
anak akan menjadi murah senyum, atau anak dibiasakan bangun pagi. Lalu ada
juga dengan selalu diberi kesempatan untuk mencoba banyak hal, dituntut untuk
lebih mandiri dan berani.
5. Peran orang lain selain orangtua
Anak tentunya bukan hanya bergaul dengan keluarga saja. Ketika orangtua
pergi bekerja, anak dapat dititipkan dan diurusi oleh pengasuh. Hal tersebut juga
dapat menjadi faktor penyebab berprilaku, anak dapat memperhatikan dan meniru
apa yang ada di sekitarnya. Jika pengasuh mempunyai sifat malu-malu, anak anak
mengikuti sifat yang ada, itulah mengapa anak dapat menjadi pasif, malu untuk
mengutarakan apa yang ada dipikiran mereka. Selain pengasuh terdapat pula
kakak adik, jika anak yang dibesarkan di keluarga yang memiliki jumlah anak
yang dikatakan cukup banyak, anak akan lebih bahagia dan memiliki contoh yang
banyak, anak akan memiliki kemampuan sosialisasi tinggi, dan tidak akan
merasakan kesepian.
كك للذك ننإل ككبكاصك أك امك ىلكعك رربلصراوك رلككنرمملرا نلعك هكنراوك فلورمعرمكلرابل ررممأروك ةكلكصنلا ملقلأك يننكبمايك م
ل زرعك نر مل
رروممأملنا
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).” (QS. Luqman : 17)
}
فهكلا ايكنندلملا ةرايكحكلنا ةمنكيزر نكونمبكلناوك لمامكلنا}
”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. Al Kahfi: 46)
Rasulullah berpesan tentang cara-cara mendidik anak untuk mengajarkan tata
cara shalat yang baik, memberikan nama yang baik, dan sebagai ayah dari orangtua
diwajibkan untuk mengajari budi pekerti yang luhur, menulis, dan latihan fisik yang
menyehatkan badannya serta diwarisi harta yang halal.
نن إلفك ركفككك نر مك وك هلسل فرنكلل رمكم شر يك امكننإلفك رركمشريك نرمكوك هلللللل رركمشرا نلأك ةكمككرحللرا نكملقرلم انكيرتكاءك درقكلكوك د
د يرملحك يي نلغك هكللا
Luqman dikenal sebagai seorang yang hikmat dan sangat peduli dengan pendidikan anaknnya. Dia selalu menasihati anaknya dengan petuah-petuah agar anaknya berada dalam jalan lurus. Luqman mengajari tentang iman dan juga akhlakul karimah.
BAB IV KESIMPULAN
Perilaku yang terdapat pada setiap anak berbeda, hal tersebut dikarenakan
faktor pola asuh, bimbingan, besar kecilnya kasih sayang, urutan anak dalam
keluarga, dan faktor lingkungan. pola asuh dan bimbingan adalah faktor terkuat dan
sangat berperan terhadap perilaku anak, orangtua tentu ingin memberikan yang
terbaik untuk anaknya agar menjadi individu yang baik. Ketika orangtua ingin
membuat anaknya sebagai individu yang dikatakan baik, mereka memiliki cara-cara
tertentu dalam membimbing dan mengasuh anak, secara tidak langsung perilaku
Orangtua akan mendorong anak untuk menjadi lebih berprestasi, berani, dan
kreatif. Agar anak menjadi individu yang diinginkan orangtua maka harus adanya
aksi oleh orangtua, contohnya orangtua berbicara kepada guru anaknya agar anaknya
diberi kesempatan untuk bertanya, mengemukakan pendapat sehingga anak terdorong
untuk menjadi lebih aktif dan berani. Orangtua juga harus menjadi contoh baik untuk
anak-anaknya sehingga timbul perilaku baik. Maka dari itu orangtua diharapkan
memiliki perilaku yang dapat mencerminkan perilaku positif.
SINOPSIS
Perilaku pada anak TK yang berusia empat sampai lima tahun tidak mungkin
timbul dengan sendirinya tanpa adanya peran faktor. Perilaku tentu didasari dari
beberapa faktor yang menyebabkan anak berperilaku tertentu, ada perilaku baik dan
ada pula yang buruk. Di TK, anak memperlihatkan perilaku mereka dengan caranya
masing – masing, ada anak yang aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dan ada juga yang pasif. Alasan mereka berperilaku tersebut dapat terlihat dari latar
belakangnya, entah itu keluarga, cara mengasuh, cara mendidik, kurangnya kasih
Berdasarkan hasil observasi perilaku anak sangat bervariasi, anak tidak
mungkin memiliki latar belakang yang sama, terkecuali anak tersebut memiliki
saudara dalam Taman Kanak – kanak yang sama, tetapi hal tersebut jarang terjadi.
Berdasarkan pengamatan, anak – anak yang sedang melakukan aktivitas belajar
mengajar mendominasi perilaku pasif, hanya beberapa diantaranya yang aktif. Tetapi
ketika bel istirahat berbunyi, anak cenderung lebih aktif dibandingkan di dalam kelas,
anak dengan bahagianya bermain dan tertawa bersama teman – temannya, hal
tersebut menunjukan bahwa mereka merasa lebih nyaman ketika dibebaskan dan
beraktivitas di luar kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan orangtua murid,
faktor penyebab anak berperilaku didominasi oleh Pola asuh dan bimbingan orangtua,
faktor tersebut sangat menentukan perilaku anak, orangtua overprotective akan
menghasilkan anak yang cenderung pasif ketika mengikuti proses pembelajaran. Dan
jika ada orangtua yang memberi kebebasan pada anak, anak cenderung akan kreatif,
berani, dan percaya diri. Kemudian terdapat orangtua yang menunjukan kasih
sayangnya kepada anak, anak merasa dibutuhkan dan senang, secara tidak langsung
orangtua mengajarkan kepada anaknya berprilaku yang sopan, lembut, tanpa adanya
amarah. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh masing – masing cenderung
mengikuti apa yang orangtua lakukan.
Faktor pendukung timbulnya perilaku anak adalah besar kecilnya kasih
sayang, urutan anak dalam keluarga, dan faktor lingkungan. Faktor pendukung tidak
berperan ketika anak tidak bersama orangtuanya, anak akan menerima informasi
apapun yang didapat melalui pengamatan dan pendengaran, sehingga jangan biarkan
anak – anak bergaul dengan lingkungan yang tidak baik, di mana kata – kata kasar
bebas dikatakan. Selain orangtua, peran kakak dan adik ataupun pengasuh dapat
menentukan perilaku, kehadirannya sangat sering dijumpai sehingga tidak aneh
ketika anak mengikuti perilaku mereka. Sama halnya dengan orangtua, peran kaka
dan adik atau pengasuh dapat menjadi contoh untuk anak, baik itu contoh yang baik
ataupun contoh yang buruk.
Selain itu, urutan anak dalam keluarga juga turut ikut serta menjadi faktor
penyebab perilaku. Seperti yang kita ketahui anak manja rata – rata adalah anak
terakhir atau sering disebut sebagai anak bungsu. Mereka diberi perhatian lebih
dibandingkan dengan kakanya, mereka mendapat kasih sayang yang lebih oleh
orangtuanya, hal tersebut menjelaskan mengapa anak bungsu rata – rata manja.
Sedangkan anak pertama adalah anak yang memiliki figure yang baik karena harus
menjadi contoh untuk adiknya.
Faktor yang terakhir adalah kasih sayang, kasih sayang adalah hak yang
dimiliki setiap anak, dan kasih sayang adalah kewajiban bagi setiap orangtua. Jika
anak tidak memiliki hak tersebut, kepercayaan diri anak akan mengalami penurunan,
anak akan mudah cemas, dan penakut. Sebaliknya, kasih sayang yang berlebihan
membuat anak tersebut sulit mengerjakan sesuatu sendiri. Terlalu sayang dan terlalu
khawatir menjadikan orangtua yang overprotective.
Untuk mencegah anak berperilaku yang tidak menyenangkan, maka dari itu
peran orangtua harus lebih ditegaskan kea rah yang lebih baik, orangtua tidak boleh
memberi contoh yang tidak layak ditiru anak – anaknya. Namun jaman sekarang,
perilaku orangtua banyak yang menjadi contoh tidak baik, banyak orangtua yang
mempresepsikan tegas dikaitkan dengan amarah, ada juga orangtua yang dapat
dikatakan berumur sebagaimana semestinya umur orangtua kebanyakan, banyak yang
hamil diluar nikah. Maka dari itu, jagalah perilaku orangtua di depan anak – anaknya,
bimbinglah mereka dengan kasih sayang, kepedulian, dan ilmu yang banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah Bab I Pasal 1 Ayat (2)
Bandura. 1997. Self-Efficacy (The Exercise Of Control)
dalam http://www.kompasiana.com/jokowinarto/teori-belajar-sosial-albert-bandura_550094558133119a17fa79fd
Hadist, Fawzia Aswin.1996.Psikologi Perkembangan Anak dalam https://books.google.co.id/books?
id=J1yDuWpUHGMC&pg=PA351&lpg=PA351&dq=psikologi+perkembangan+anak +fawzia+aswin+hadis&source=bl&ots=bfeifZ3Wil&sig=kRuZzF3hdQbp9GfjRO3Tf h5CVnc&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjL7oT_0P7JAhUEj44KHT7KAaAQ6AEIJz AC#v=onepage&q=psikologi%20perkembangan%20anak%20fawzia%20aswin %20hadis&f=false
http://kbbi.web.id/faktor
http://digilib.uin-suka.ac.id/3991/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR %20PUSTAKA.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24631/4/Chapter%20II.pdf
Lampiran 1
PERILAKU MORAL ANAK USIA 4-5 TAHUN DI
TAMAN KANAK-KANAK (Survey di Kelurahan
Pengasinan Kecamatan Rawa Lumbu Bekasi)
(2013)
M. Kosasih 1) , Fithry Rahmaniah2) ABSTRAK
Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris tentang perilaku moral anak usia 4-5 tahun. Sampel dalam penelitian adalah anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak yang berada di Kelurahan Pengasinan sebanyak 88 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survey. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket lembar pengamatan perilaku moral dengan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur perhatian (caring) dalam perilaku moral anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak memiliki skor lebih tinggi dibanding dua unsur lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam berinteraksi dengan anak usia dini sangatlah penting untuk mendapatkan perhatiannya. Oleh sebab itu, guru perlu menggali daya kreativitas pada dirinya sehingga selalu dapat meraih perhatian anak yang akan berdampak pada proses penerimaan informasi anak usia 4-5 tahun.
Latar Belakang Masalah Perkembangan moral anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Pendidikan moral untuk anak usia dini tidak dapat dianggap remeh karena moral merupakan suatu hal yang penting dan akan sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat seseorang. Jika eksistensi moral diabaikan maka kekacauan dan permasalahan akan bermunculan sehingga mengakibatkan keterpurukan membangkang, berbohong, malas, marah atau pun melawan orang tua. Namun, situasi seperti itu dapat diantisipasi dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan semua anggota keluarga di rumah.
Keharmonisan keluarga menjadi satu hal yang mutlak diwujudkan. Ketika perilaku moral yang positif diperlihatkan oleh setiap anggota keluarga, maka hampir bisa dipastikan bahwa hal yang sama juga akan dilakukan oleh anak. Sebaliknya, apabila lingkungan keluarga selalu
diliputi dengan pertikaian,
KomNas Anak mencatat bahwa pasti muncul akibat dari perceraian ini, yaitu ratusan ribu anak menjadi korban terpisah dari salah satu orang tuanya. Dampak yang dimunculkan Thamrin dalam sebuah artikel digital Femina mengatakan bahwa perceraian dapat membuat anak cenderung lebih pendiam, tidak fokus pada pelajaran, dan menarik diri dari pergaulan. Bahkan menyalahkan dirinya sebagai penyebab perceraian. Berdasarkan pernyataan tersebut terlihat bagaimana kondisi lingkungan sangat mempengaruhi perilaku anak.
JISI UMJ Vol. 1 No. 1 2
Dalam UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak jelas dinyatakan pada pasal 4 bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Namun,
masih terdapat fenomena
memprihatinkan lainnya yang memperkuat betapa lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak yaitu adanya balita perokok. Beberapa nama seperti Ilham Hadi, Ardi Rizal dan Erfan menjadi terkenal akibat kelakuannya yang suka merokok. Setiap harinya mereka dapat menghabiskan rokok dalam hitungan batang sampai dengan bungkus. Seorang ibu balita yang merokok dalam sebuah artikel detikNews, mengatakan bahwa kemungkinan besar anaknya menyukai rokok akibat perilaku anaknya yang lain yang telah remaja sering kali merokok saat
berkumpul dengan teman-temannya di rumah. Fakta ini menunjukkan selain besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku anak, dapat terlihat pula bagaimana anak mengamati dan mengimitasi perilaku orang-orang yang berada di sekitarnya. Balita adalah anak usia di bawah lima tahun yang sedang berada dalam tahap perkembangan operasional konkret sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep-konsep yang abstrak. Oleh sebab itu, anak pada usia ini belum dapat secara langsung menerima apa yang diajarkan oleh guru atau orang tua secara cepat. Ini menjadi dasar mengapa guru atau para pendidik di lembaga pendidikan usia dini harus niai-nilai moral pada anak umumnya dilakukan melalui pembiasaan dalam aktivitas belajar di sekolah atau pun di
tua yang belum memahami pentingnya pendidikan moral atau pun mereka yang sudah memiliki pemahaman namun belum mengerti bagaimana mengajarkannya menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik untuk mensiasati kondisi tersebut agar anak tetap melakukan anak yang berada di wilayah tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini
peneliti bermaksud untuk
menggambarkan kondisi perilaku moral anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak Kelurahan Pengasinan Kecamatan Rawa Lumbu, Bekasi.
KAJIAN TEORI
Perilaku dikatakan sebagai suatu aksi dan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini dimaknai dengan anggapan
bahwa perilaku baru dapat muncul apabila diberikan rangsangan tertentu. Kaitannya dengan respons atau perilaku individu (organisme) terhadap stimulus baik internal maupun eksternal sebagaimana dikemukakan oleh Walgito, dapat diformulasikan secara sederhana sebagai berikut: S (stimulus) – O maupun dari lingkungan sekitarnya. Secara biologis, perilaku diartikan sebagai kegiatan atau tindakan manusia baik yang dapat diamati atau pun yang tidak dapat diamati oleh manusia. Secara operasional, perilaku dapat dikatakan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut (Sunaryo, 2002: 3). Perilaku pada
manusia memiliki bentangan yang sangat luas, contohnya; berjalan, tertawa, menangis, belajar, bekerja, menulis, membaca, berlari, menari, dan sebagainya. Semua aktivitas tersebut ada yang dapat diamati dan ada juga yang tidak dapat diamati. Namun, perilaku-perilaku tersebut dapat dipelajari
JISI UMJ Vol. 1 No. 1 3
dan dapat diberikan perlakuan tertentu atau rangsangan tertentu apabila ingin memunculkan perilaku yang baru.
Pengertian moral menurut Hurlock yang dikutip oleh Sujiono mengatakan true morality is behavior which conforms the social standards and which is also carried out voluntary by
the individual (Bambang
Sujiono&Yuliani Nurani
Sujiono,2005:2). Moral yang sebenarnya adalah perilaku yang sesuai standar-standar sosial dan dilakukan secara sukarela oleh
individu. Tahapan Perkembangan Moral Anak a. Perkembangan Kuantitas Menuju Kualitas Pada tahap awal perkembangan moral, anak tidak memperhitungkan unsur motivasi. Misalnya anak memecahkan gelas, perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar atau salah. Pada
tingkatan heteronomous
Sujiono&Yuliani Nurani Sujiono, Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini, 2005:6). Jadi, anak mengikuti saja apa yang diarahkan oleh orang dewasa tanpa mempedulikan tujuan dari tindakan yang dilakukannya. Sifat ini disebabkan oleh faktor kematangan struktur kognitif yang ditandai sifat moral. Penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal(John W. Santrock, 2002:45). Seperti pada tahap heteronomous Piaget, anak-anak menerima begitu saja aturan dari figur otoritas dan menilai tindakan berdasarkan konsekuensi yang diterima. b. Ketaatan Mutlak Menuju Inisiatif Pribadi Jika pada tingkatan sebelumnya, anak akan menaati apa saja yang dikatakan orang tua. Maka
perkembangan moral anak berjalan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya.
c. Kepentingan Diri Menuju Kepentingan Orang Lain Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. Tujuan suatu perbuatan adalah makanan kesukaan yang dimilikinya
atau pun mengajak teman-temannya
dapat juga bermakna peduli atau mengetahui atau membuat kesimpulan tentang kebutuhan dan di kelas yang tidak membawa bekal. Dengan melakukan hal tersebut, anak bereaksi terhadap perasaan temannya yang sedang tidak membawa bekal. Pemikiran obyektif atau judging dimaknai dalam membentuk, memberi atau mempunyai pendapat, bukanlah karena seseorang menganggapnya benar atau salah pada situasi tertentu melainkan harus didasarkan pada standar kebenaran yang diakui secara umum. Dalam menjelaskan tentang tindakan atau acting, Hersh dalam Haricahyono, moral dari seseorang. Atau ketika anak
ikut memelihara kerapian dan kelengkapan peralatan di kelas, bisa jadi dikarenakan rasa kepedulian anak terhadap kelas agar tetap tertata rapi dan juga agar anak merasa nyaman, tentram dan betah berada di dalam kelas. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Hersh, Santrock berpendapat bahwa dalam mempelajari aturan-aturan di dalam perkembangan moral terdapat tiga bidang berbeda yang diujikan, pertama, bagaimana anak-anak bernalar atau berpikir tentang aturan-aturan untuk perilaku etis, kedua, bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral, dan tindakan itu sendiri.
METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris serta memberikan gambaran yang utuh tentang perilaku moral anak usia 4-5 tahun dilakukan di Taman Kanak-kanak Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawa Lumbu Bekasi. Adapun waktu penelitian ini dilakukan pada bulan November 2012 – April 2013. Berdasarkan tujuan penelitian, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey. Arikunto mengungkapkan tentang metode deskriptif adalah sebuah metode yang digunakan untuk menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.(Suharsimi Arikunto, 1999:310) Senada dengan hal tersebut, Mardalis mengatakan tujuan penelitian deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan, mencatat,
menganalisa, dan
penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui gambaran utuh mengenai perilaku moral anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak Kelurahan Pengasinan-Bekasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 12 Taman Kanak-kanak. Penentuan sampel penelitian ini dilakukan dengan metode cluster terbagi menjadi 3 cluster, yaitu, cluster full day, cluster half day, dan cluster reguler (aktivitas belajar dibawah 3 jam) dan yang menjadi sampel untuk cluster full day
JISI UMJ Vol. 1 No. 1 5
adalah adalah TK Amanah Bangsa (ASA) dengan 31 responden. Untuk cluster half day terwakilkan oleh TK IT MMA sebanyak 20 responden, TK IT Ar-Rahman 7 responden, dan Khalifah
Preschool dengan 9 responden, sedangkan untuk cluster reguler terwakilkan oleh TKI Adzkia dengan 5 responden dan PAUD Bunga Bangsa dengan 16 responden. Untuk keperluan pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik survey melalui penyebaran angket lembar pengamatan dengan Skala Likert yang dilakukan oleh guru di masing-masing TK. Kisi-kisi instrumen untuk mengukur variabel perilaku moral anak menggunakan kuesioner yang pernyataannya terdiri dari 12 butir. Uj validitas menghasilkan 9 butir yang digunakan untuk penelitian selanjutnya. Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan rumus prosentas dilanjutkan dengan estimasi parameter rata-rata.
HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum, perilaku moral anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak Kelurahan Pengasinan berada pada kategori baik. Di kelurahan ini terdapat beberapa jenis TK, yaitu, TK yang
aktivitas belajarnya dibawah 3 jam (reguler), kemudian TK yang kegiatannya hingga tengah hari (half day) dan yang terakhir TK yang aktivitasnya satu hari penuh (full day) dimulai sejak pagi hingga sore hari. Situasi ini menghasilkan keragaman pada hasil olah data. Untuk TK yang beraktivitas sehari penuh memiliki nilai rata-rata 22,1, untuk TK yang beraktivitas hingga tengah hari 20,7 sedangkan untuk TK yang beraktivitas 2-3 jam memiliki nilai rata-rata 24,9. Berdasarkan angka tersebut, terlihat bahwa TK yang beraktivitas 2-3 jam memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibanding dengan dua cluster TK lainnya. Skor minimum terdapat di TK yang beraktivitas hingga tengah hari, yaitu 11 dan skor maksimal dapat dipastikan berada di semua jenis TK, yaitu 27. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa jangkauan terjauh berada di TK yang beraktivitas hingga tengah hari, yaitu 16, kemudian TK sehari penuh, yaitu 11
selama kurang lebih satu semester kesempatan bersosialisasi di lingkungan yang berpendidikan turut menunjang keterampilan anak-anak dalam memahami aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Hal ini sesuai dengan ungkapan Bandura yang menekankan pada faktor lingkungan, kognisi, dan perilaku sebagai kunci dalam perkembangan. Pada unsur perhatian, sebagian besar anak usia 4-5 tahun berada pada kategori sangat baik, hanya sedikit yang masih perlu diingatkan dan tidak ada yang berada pada kategori belum baik. Anak usia 4-5 tahun senang bersosialisasi dan bermain bersama teman-temannya. Seperti yang dikatakan Trister, anak pada usia ini senang meniru orang dewasa dan bermain dengan teman-temannya, biasanya pada usia 4 tahun
anak-anak memiliki teman dekat 2 atau 3 orang. Hasil angket tersebut memperlihatkan bahwa hampir semua anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak Kelurahan Pengasinan memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain, hal ini terlihat dari perilaku anak yang suka berbagi dengan temannya. Hal ini dapat pula diartikan bahwa anak-anak usia 4-5 tahun di Taman anak- Kanak-kanak cluster reguler lebih konsisten dalam menunjukkan perilaku tersebut dibandingkan dengan dua cluster lainnya. Rata-rata terendah dimiliki oleh cluster half day dimana masih terdapat anak yang belum mampu menunjukkan perilaku yang diharapkan. Berdasarkan temuan lapangan, hal ini disebabkan karena gaya
JISI UMJ Vol. 1 No. 1 6
mendidik guru yang berbeda di setiap cluster. Perbedaan ini mempengaruhi perilaku anak sesuai dengan penghargaan atau pun hukuman yang
diberikan oleh guru terhadap perilaku yang ditunjukkan. Pada unsur pemikiran obyektif, mayoritas anak usia 4-5 tahun berkategori sangat baik, 20% lainnya masih perlu diarahkan, dan sisanya berada pada kategori belum baik. Pada usia 4-5 tahun, anak-anak bertingkah layaknya bakal ilmuwan yang tertarik dengan prinsip-prinsip sebab-akibat, pertanyaan “mengapa?” sering diutarakan, kadar rasa ingin tahunya berada di level tertinggi. Melalui banyak eksperimen dan penemuan anak-anak belajar konsep baru. Apabila dilihat dari butir 5 yang berkaitan dengan kepedulian dan pemahaman anak terhadap lingkungannya, anak yang berada pada skala nilai “konsisten” mendominasi, 20% lebih berada pada skala “berkembang”, dan sisanya “belum muncul”. Dari data ini dapat terlihat bahwa sebagian besar anak usia 4-5 tahun di TK Kelurahan Pengasinan sudah terbiasa menjaga kebersihan lingkungan mulai dari hal sederhana
seperti membuang sampah pada tempatnya. Anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak cluster half day yang masih belum mampu menunjukkan perilaku tersebut lebih banyak dibanding yang lainnya.
kategori baik, dan tidak ada anak yang berada pada kategori belum baik. Pada dasarnya, untuk membuat anak melakukan sesuatu yang diharapkan dibutuhkan sebuah usaha sederhana yang membuat anak ringan melakukannya, yaitu pembiasaan. Jika dilihat hasil angket butir 6 mengenai kemandirian, terlihat bahwa sebagian besar anak usia 4-5 tahun di TK Kelurahan Pengasinan mampu mengerjakan tugas yang diberikan hingga selesai, 32% harus diingatkan dan diarahkan terlebih dahulu dan sisanya belum mampu menuntaskan tugas yang diberikan hingga selesai. Anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak cluster reguler memiliki rata-menyelesaikan tugas yang diberikan sangat cermat dilakukan oleh guru-bertindak berdasarkan arahan dari orang dewasa di sekitarnya. Fakta ini sesuai dengan perkataan Piaget bahwa menilai tindakan dari konsekuensi yang didapat apabila perilaku tersebut dilakukan. Pada hal ini, anak mengharapkan imbalan atas perilaku yang ditunjukkannya. Di sisi lain, dapat
dikatakan bahwa pembiasaan yang Lingkunganlah yang mengkondisikan anak berperilaku baik dan benar atau sesat dan salah. Respon para guru juga memberikan pengaruh dalam membentuk perilaku anak, bagaimana guru memberikan penghargaan terhadap anak yang berperilaku baik dan memberikan ganjaran hukuman terhadap anak yang melanggar aturan. Strategi pembelajaran yang direncanakan dengan matang, kelengkapan dan peletakkan sarana yang sesuai, kekonsistenan guru dalam menegakkan aturan. Semua hal tersebut menjadi pengalaman sosial bagi anak yang dapat diamati kemudian diimitasi dan terinternalisasi dalam diri anak masing-masing.
KESIMPULAN DAN SARAN Selama penelitian berlangsung, ditemukan
cluster full day dan cluster half day. perilaku moral anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak, Kelurahan Pengasinan sebagian besar sudah menunjukkan perilaku sangat baik. Untuk dapat mengembangkan kemampuan anak dalam berperilaku moral dibutuhkan usaha yang konsisten dan berkesinambungan dari semua pihak tidak hanya keluarga, guru, dan sekolah tetapi juga bagi pemerintah yang menentukan kebijakan, tokoh masyarakat yang mengarahkan standar nilai sosial warga, dan para pekerja media dan seni sehingga terciptalah lingkungan
yang kondusif dalam menanamkan moral pada anak. Upaya yang dapat dilakukan agar anak lebih menginternalisasi nilai-nilai kebaikan yang diajarkan, misalnya guru mengoptimalkan aktivitas-aktivitas kelas yang berkaitan dengan
keterampilan hidup yang
mencerminkan nilai-nilai kebaikan seperti menyayangi teman dengan tetap mengajarkan tentang berbagi dan tidak menyakiti teman. Membuat jadwal piket atau tetap menjaga rutinitas merapikan peralatan kelas setelah digunakan juga memberikan panduan yang baik bagi anak agar terbiasa memelihara kebersihan dan merawat keutuhan kelas. Untuk upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan nilai moral pada anak adalah dengan melengkapi dan meletakkan sarana yang sesuai dengan karakteristik anak sehingga terciptalah atmosfer yang dibutuhkan untuk mengembangkan perilaku-perilaku positif. Upaya yang dapat
dilakukan orang tua agar tetap mempertahankan dan terus memelihara perilaku yang sudah terbentuk dengan baik adalah dengan tetap menjadi panutan bagi anak-anaknya. Membiasakan anak untuk saling membantu sesama anggota keluarga, saling menghormati antar saudara, dan menolong orang yang membutuhkan dapat menjadi pembelajaran sosial yang berarti bagi dilakukan bagi para pelaku media, baik media cetak, media suara dan pertelevisian adalah memberikan tayangan yang memotivasi anak untuk berbuat lebih baik. Teliti, berhati-hati, dan cermat dalam membuat tulisan-tulisan atau program-program yang menulis, mengilustrasi, atau mempertontonkan hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku negatif pada anak seperti kekerasan, kriminalitas dan eksploitasi seksual yang berlebihan. Kerja sama pemerintah juga diperlukan dalam mengatur dan mengawasi tayangan-tayangan yang muncul di televisi. Peraturan yang berada dalam jalur yang seharusnya. Kebijakan pemerintah dalam mengatur sistem pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana anak bangsa dididik, oleh sebab itu, perlu adanya fungsi pengawasan yang berjalan benar agar peraturan yang sudah dibuat terlaksana dengan baik.
Arikunto Suharsimi, Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1999.
Haryono Cheppy. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press, 1995.
JISI UMJ Vol. 1 No. 1 8
Mardalis. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004.
Santrock, John W. Life Span Development. Jakarta: Erlangga, 2002.
Sarip A. Laela, Model Pendidikan Moral – Terjemahan, 2012. <
http://nuzulul.blogspot.com/2011/01/
model-pendidikan-moral-terjemahan.html> diakses tanggal 30 November 2012.
Sujiono, Bambang & Yuliani Nurani Sujiono. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2005.
Sujiono, Bambang & Yuliani Nurani Sujiono. Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. Jakarta: Yayasan Citra Pendidikan Indonesia, 2005.
Sunaryo. Psikologi Untuk
Keperawatan. Jakarta: EGC, 2002.
Lampiran 2
Berikut adalah hasil wawancara dengan Bu Linda Desyani
P Apakah anak ibu termasuk anak yang aktif atau pasif selama proses
belajar di TK ?
N Kalau awal masuk TK aktif secara fisik kayaknya enggak aya tuh. P Lalu apakah ada saat-saat ketika anak ibu aktif dan bersenang-senang ? N Senengnya maenan boneka hahaha atau enggak main masak-masakan,
terus favoritnya main puzzle.
P Lalu bimbingan apa yang ibu berikan kepada anak ibu? Misakan
bagaimana cara ibu melatih anak untuk berani, menjadi pintar, dan
lain-lain ?
N Paling kalau di rumah dibiarkan dia bebas berekspresi aja, kayak
gambar-gambar selalu dibiarin dan dikasih pujian, kalau di tv dia ikutin
nari-nari kita semangatin, terus kadang diketawain biar dia ngerasain
malu.
P Bagaimana tindakan ibu ketika anaknya pertama kali disekolahkan ke
TK ?
N Karena mulai sekolah, saya sering bilang ke gurunya supaya aya dikasih
kesempatan untuk tampil bicara di depan. P Setelah itu apakah perilaku anak ibu berbeda?
N Kata gurunya awalnya pemalu ampe saya khawatir, takut ga pede jadi
terus-terusan disemangatin dan itu bilang ke gurunya supaya dikasih
kesempatan tampil atau jawab pertanyaan gurunya. P Apakah ada perubahan terhadap anak ibu ?