• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATA. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATA. pdf"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

KEPARIWISATAAN

O leh: K usm ayadi

D isam paikan dalam acara Penataran D osen B idang K epariw isataan A ngkatan I tanggal 13-18 A gustus 2001, di H otel T eratai Puncak

BAB I

KEPARIWISATAAN

1.1 Mengapa pariwisata Perlu dikembangkan?

Terdapat kecenderungan perubahan demografi di negara-negara industri yang memperlihatkan meningkatnya orang yang berpenghasilan tinggi dan waktu luang untuk melakukan perjalanan. Hal ini didorong oleh (1) membesarnya struktur penduduk usia tua dengan pendapatan bersih tinggi dan kecenderungan untuk bepergian tinggi, (2) meningkatnya jumlah wanita pekerja dan rumah tangga yang berpenghasilan ganda, (3) perubahan nilai sosial terhadap lembaga perkawinan yang mengakibatkan penundaan usia perkawinan dan (4) meningkatnya tingkat pendidikan dan pengalaman yang mengakibatkan kesadaran akan pentingnya melakukan perjalanan (Depparpostel, 1997). Bagi Indonesia, kecenderungan di atas merupakan peluang dan sekaligus tantangan yang sangat besar dalam pembangunan pariwisata. Peluang yang dapat kita tangkap adalah kondisi geografis Indonesia yang strategis di antara beberapa benua, dan memiliki keanekaragaman seni dan budaya, keanekaragaman hanyati (flora dan fauna) sebagai mega-biodiversity, sejarah dan peninggalan zaman purbakala, sangat potensial untuk pengembangan pariwisata. Sedangkan tantangan yang kita hadapi adalah tingginya persaingan dengan negara-negara lain yang juga mengembangkan pariwisata. Tantangan ini diperbesar oleh adanya hambatan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi kepariwisataan yang masih sangat rendah.

(2)

dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional, terutama dalam menghadapi tantangan yang amat berat di era persaingan bebas.

Di samping itu, pengembangan pariwisata diprioritaskan karena (1) pariwisata merupakan media interaksi global masyarakat dunia, (2) pariwisata dipercaya oleh masyarakat dunia sebagai sektor penggerak ekonomi abad 21 seperti yang diungkapkan John Naisbit dalam Global Paradox-nya, (3) sektor pariwisata dapat menyerap banyak tenaga kerja, (4) pariwisata Indonesia memiliki produk yang unik dan masih banyak yang belum tergali, (6) pariwisata tidak memerlukan lead time yang panjang, (7) pariwisata dapat memperbaiki citra Indonesia di mata dunia, (8) pariwisata merupakan media promosi produk-produk ekspor Indonesia (9) pariwisata dapat merupakan alat pemberdayaan ekonomi rakyat dan pemerataan ekonomi, (10) pariwisata mendorong terwujudnya otonomi daerah, dan (11) pariwisata dapat melestarikan dan memperkaya budaya nasional. Dengan demikian pariwisata sangat diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional di awal milenium III nanti.

1.2 Pariwisata dalam Kegiatan Perekonomian

Pada hakekatnya kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang diakibatkan oleh perjalanan manusia secara perorangan maupun kelompok dengan berbagai maksud, kecuali untuk menetap atau mencari nafkah. Sebagai kegiatan yang utuh, kepariwisataan meliputi kegiatan-kegiatan yang terjadi sebelum perjalanan dilakukan, dan selama perjalanan itu berlangsung, atau kegiatan-kegiatan yang mempunyai keterkaitan ke hulu dan juga keterkaitan ke hilir beserta penggunaan sarana dan prasarana yang diperlukan. Fenomena pariwisata juga pada hakekatnya merupakan kebutuhan naluriah manusia untuk mengetahui, mencari, mempelajari, menemukenali, mengalami, menikmati sesuatu yang tidak ada di tempat tinggalnya baik yang bersifat alami maupun budaya. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya alam dan budaya beserta sarana dan prasarana pendukung yang diperlukan harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip membangun sekaligus melestarikan. McIntosh dan Charles R. Goeldner menyatakan bahwa untuk memahami pariwisata kita harus memperhatikan empat komponen yang terlibat dalam pariwisata. Keempat komponen tersebut adalah:

a. Wisatawan. Wisatawan mencari berbagai pengalaman dan kepuasan fisik dan psikis. Secara alamiah hal itu menentukan tempat tujuan yang dipilih dan aktivitas yang dinikmati.

b. Penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan wisatawan. Para pengusaha melihat pariwisata sebagai peluang untuk menghasilkan keuntungan dengan menyediakan barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan wisatawan.

(3)

d. Penduduk setempat. Penduduk di sekitar daerah tujuan wisata melihat pariwisata sebagai faktor budaya dan lapangan pekerjaan. Yang terpenting terhadap kelompok ini (penduduk setempat) adalah efek interaksi antara mereka dengan para wisatawan mancanegara. Efek tersebut dapat menguntungkan, dapat juga merugikan, atau kedua-duanya.

Interaksi keempat komponen di atas dapat digambarkan ke dalam kegiatan bisnis kepariwisataan seperti yang digambarkan oleh Lunberg dkk., (1997) adalah sebagai berikut:

1.3 Apa Pariwisata

Sebelum menguraikan definisi pariwisata, terlebih dahulu penulis nyatakan bahwa istilah “pariwisata” yang dimaksud dalam tulisan ini ialah istilah yang dalam bahasa Inggrisnya “tourism”. Jadi istilah “pariwisata” di sini merupakan terjemahan dari istilah “tourism”. Burkart dan Medlik mengemukakan lima karakteristik sebagai pedoman untuk memahami pariwisata. Karakteristik-karakteristik tersebut ialah:

a. Karena kompleksitasnya, pariwisata lebih merupakan suatu phenomena dan hubungan-hubungan daripada sesuatu yang berdiri sendiri.

b. Phenomena dan hubungan-hubungan tersebut timbul karena perjalanan dan persinggahan manusia di berbagai tempat tujuan. Jadi di dalamnya terdapat unsur dinamik yaitu perjalanan, dan unsur statis yaitu persinggahan (stay).

c. Tempat tujuan perjalanan dan persinggahan itu berbeda dengan tempat tinggal dan tempat kerja wisatawan sehari-hari, sehingga aktivitas mereka pun berbeda dengan aktivitas penduduk setempat.

d. Perjalanan dan persinggahan tersebut bersifat sementara, mereka akan kembali ke tempat tinggal asalnya dalam beberapa hari, minggu, atau bulan.

e. Kunjungan ke berbagai tempat tujuan itu bukan dimaksudkan untuk bekerja atau mencari nafkah.

Konsep pariwisata tersebut terungkap dalam definisi pariwisata dari dua orang pakar pariwisata berkebangsaan Swiss, yaitu Prof. Hunziker dan Prof. Krapf. Definisi tersebut adalah sebagai berikut:

Tourism is the sum of the phenomena and relationships arising from the travel and stay of non-residents, in so far as they do not lead to permanent residence and are not connected with any earning activity. (Burkart & Medlik, 1974: 40)

(4)

a. Wisatawan. Wisatawan mencari berbagai pengalaman dan kepuasan fisik dan psikis. Secara alamiah hal itu menentukan tempat tujuan yang dipilih dan aktivitas yang dinikmati.

b. Penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan wisatawan. Para pengusaha melihat pariwisata sebagai peluang untuk menghasilkan keuntungan dengan menyediakan barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan wisatawan.

c. Pemerintah tuan rumah. Pemerintah memandang pariwisata sebagai salah satu faktor kesejahteraan ekonomi bagi rakyat. Pandangan mereka berkaitan dengan income yang dapat diraih oleh warga masyarakat dari usaha kepariwisataan. Mereka juga mengharapkan penerimaan devisa dari kegiatan pariwisata ini.

d. Penduduk setempat. Penduduk di sekitar daerah tujuan wisata melihat pariwisata sebagai faktor budaya dan lapangan pekerjaan. Yang terpenting terhadap kelompok ini (penduduk setempat) adalah efek interaksi antara mereka dengan para wisatawan mancanegara. Efek tersebut dapat menguntungkan, dapat juga merugikan, atau kedua-duanya.

Karena itu McIntosh dan Goeldner mendefinisikan pariwisata sebagai berikut:

The sum of the phenomena and relationships arising from the interaction of tourists, business suppliers, host governments, and host communities in the process of attracting and hosting these tourists and other visitors. (McIntosh & Goeldner, 1986: 4)

Apabila kita perhatikan definisi dari Hunziker & Kraft dan McIntosh & Goeldner tersebut di atas, maka tampak bahwa mereka sependapat mengenai pariwisata merupakan keseluruhan phenomena dan hubungan-hubungan (the sum of the phenomena and relationships). Tetapi mereka berbeda mengenai penyebab timbulnya phenomena dan hubungan-hubungan tersebut. Hunziker & Kraft berpendapat penyebabnya adalah adanya perjalanan (travel) dan persinggahan (stay) wisatawan. Sedangkan McIntosh & Goeldner menyatakan penyebabnya adalah adanya interaksi antara wisatawan, penyedia kebutuhan wisatawan, pemerintah tuan rumah, dan penduduk setempat.

Bila kita teliti lagi secara seksama kedua definisi itu, sebenarnya perbedaan tersebut tidak prinsipil tetapi justru saling menjelaskan. Interaksi antara wisatawan, penyedia kebutuhan wisatawan, pemerintah, dan penduduk setempat, misalnya, tidak akan terjadi bila tidak ada perjalanan dan persinggahan wisatawan. Begitu juga perjalanan dan persinggahan wisatawan ke suatu tujuan wisata pasti akan menyebabkan adanya interaksi antara wisatawan, penyedia kebutuhan wisatawan, pemerintah, dan penduduk setempat.

Jadi dapat kita simpulkan di sini bahwa pariwisata adalah: a. Keseluruhan phenomena dan hubungan-hubungan,

(5)

c. Perjalanan dan persinggahan itu menyebabkan adanya interaksi antara:

! Orang yang melakukan perjalanan dan persinggahan tersebut (wisatawan),

! Penyedia kebutuhan wisatawan,

! Pemerintah tuan rumah, dan

! Penduduk setempat.

Sedangkan ciri-ciri wisatawan adalah sebagai berikut:

a. Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan ke dan tinggal di berbagai tempat tujuan.

b. Tempat tujuan itu berbeda dari tempat tinggal dan tempat kerjanya sehari-hari; karenanya kegiatan wisatawan tidak sama dengan kegiatan penduduk yang berdiam dan bekerja di tempat tujuan wisatawan,

c. Wisatawan bermaksud pulang kembali ke tempat asalnya dalam beberapa hari atau bulan; karenanya perjalanan itu bersifat sementara/berjangka pendek.

d. Wisatawan melakukan perjalanan bukan untuk mencari tempat tinggal untuk menetap di tempat tujuan atau bekerja untuk mencari nafkah.

Selain definisi pariwisata dan wisatawan tersebut di atas, untuk keperluan penghitungan statistik, World Tourism Organisation (WTO) membuat definisi-definisi sebagai berikut:

a. Pengunjung internasional (International visitor) ialah setiap orang yang bepergian ke negara yang lain dari negara tempat tinggalnya, tujuan kunjungannya bukan untuk melakukan pekerjaan yang dibayar di negara yang dikunjunginya dan ia tinggal di situ selama setahun atau kurang dari setahun.

b. Wisatawan internasional (International tourist) ialah pengunjung (visitor) dalam pengertian tersebut di atas yang tinggal setidak-tidaknya satu malam tetapi tidak lebih dari satu tahun di negara yang dikunjunginya dan tujuan kunjungannya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

! Kesenangan: liburan, budaya, olahraga, kunjungan ke teman-teman dan sanak saudara, tujuan-tujuan yang menyenangkan;

! Profesional: pertemuan, perutusan, usaha;

! Tujuan-tujuan lainnya: pendidikan, kesehatan, ziarah.

! Pelancong internasional (International excursionist) ialah pengunjung yang termasuk definisi butir a di atas, tetapi ia tidak bermalam di negara yang dikunjunginya itu. (Ross, 1994: 5-6)

BAB II

(6)

2.1 Ilmu dan Metoda Ilmiah

2.1.1 Pengertian Ilmu

Dalam kehidupan sehari-hari acapkali kita mencampur adukkan atau menggabungkan istilah ilmu (science) dengan pengetahuan (knowledge), sehingga menjadi ilmu pengetahuan untuk pengertian science. Padahal, masing-masing mempunyai makna dan pengertian yang saling berbeda. Dalam dunia ilmiah, terdapat dua kelompok pandangan terhadap ilmu, yaitu: statik dan dinamik. Dari sudut pandangan statik, yaitu suatu pandangan yang umum, ilmu adalah suatu aktivitas yang menghasilkan informasi tersistematik. Kerlinger (1973: 7) mengungkapkan bahwa:

"science is even conceived to be a body of facts. Science,in this view, is also a way explaining observed phenomena. The emphasis, then, is on the present state of knowledge and adding to it, on the extent of knowledge, and on the present set of laws, theories, hypotheses, and principles.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa ilmu adalah suatu metoda penyelidikan, yang mengumpulkan pengetahuan. Sedangkan dari sudut pandangan dinamik, ilmu tidak hanya sekedar aktivitas yang dilakukan para ilmuwan saja, melainkan merupakan dasar untuk mengembangkan teori dan penelitian ilmiah lebih lanjut. Kerlinger (1973: 7), menyebutkannya dengan istilah "heuristic view", yang lebih menekankan pada temuan baru (discovery emphasis). Pengertian dinamik ini lebih menekankan pada hasil penyelidikan atau pada pengetahuannya.

Suatu pengertian yang dikemukakan oleh Manheim (Librero, 1985: 1), dapat digunakan untuk menjelaskan ilmu, yaitu: "Science is an objective, accurate, systematic analysis of determinate body of empirical data, in order to discover recurring relationships among phenomena". Ilmu disebut "objektif", karena ilmu tidak mempunyai sifat bias dan berprasangka (unbiased, unprejudiced) , berdiri sendiri (detached) dan bukan milik atau berlaku secara perseorangan (impersonal). Dengan obyektivitas, akan memberikan pengertian bahwa tidak akan menimbulkan ke-"akuan" (ego-involved) dalam pelaksanaan kegiatan penelitian kita. Ilmu adalah "akurat" (accurate), karena berusaha agar selalu pasti (definite), tepat dan cermat (precise, exact). Ilmu adalah "sistematik", karena ilmu mempunyai metodik dan beraturan dalam prosedurnya atau langkah yang harus dilaluinya; serta terdiri dari banyak klasifikasi. Setiap bagian saling berkaitan. Ilmu adalah "analisis", karena ilmu berkaitan dengan identifikasi dan studi dari bagian-bagiannya sehingga menjadi satu kesatuan. Ilmu mempunyai sifat "kepastian", karena ilmu mempunyai sifat-sifat atau batasan yang memperinci hal-hal yang dipelajari. Namun, secara umum ilmu adalah komprehensif dan setiap bidang bahasannya adalah saling berkaitan.

(7)

"The function of science.... is to establish general laws covering the behaviors of the empirical events or objects with which the science in question is concerned, and thereby to enable us to connect together our knowledge of the separately known events, and to make reliable predictions of events as yet unknown".

Apakah tujuan dari ilmu? Kerlinger (1973: 8-10) menyatakan bahwa tujuan dasar dari ilmu adalah teori. Sedangkan tujuan lainnya adalah: penjelasan (explanation), pemahaman (understanding), prediksi (prediction), dan pengendalian (control). Ia lebih mengutamakan teori sebagai suatu tujuan dasar dari ilmu.

2.1.2 Ilmu dan Cara Berfikir Sehari-hari (Common Sense)

Tindakan atau pendekatan kita sehari-hari, misalnya bersifat intuisi, prasangka, atau kadang-kadang melakukan coba-coba tanpa didasari suatu acuan atau standar tertentu biasa dikenal dengan istilah "common sense". Cara berfikir sehari-hari ini sangat jelas perbedaannya dengan ilmu yang menggunakan pendekatan secara ilmiah. Apalagi dalam penggunaan ilmu modern belakangan ini. Pertama, orang kebanyakan akan menggunakan berbagai teori maupun konsep secara apa adanya. Ia selalu menerima secara acuh tak acuh atau secara sederhana suatu penjelasan yang timbul dari fenomena alam maupun manusia. Sedangkan para ilmuwan, sebaliknya, akan membangun struktur teorinya secara sistematik dan terkontrol, mengujinya untuk mengetahui dan mendapatkan kemantapan internalnya, dan mengkaitkannya dengan pengujian secara empirik. Dengan demikian, Ia selalu melihatnya dengan hasil pengamatannya, meninjaunya berdasarkan pengalamannya, membandingkannya berdasarkan pengujian yang dilakukannya, serta menilai dan menerimanya berdasarkan hasil pemeriksaan dan pembuktiannya. Kedua, orang kebanyakan akan melihat suatu fenomena sebagai hal yang spesifik dan pasti, sehingga tidak mungkin digeneralisasikan. Sedangkan para ilmuwan, membandingkan fenomena tersebut dan menganalisisnya sebagai suatu proses, sehingga dapat dilakukan generalisasi. Ketiga, orang kebanyakan mempercayai pernyataan yang bersifat pepatah dan sederhana, dan tanpa menggunakan prediksi untuk masa yang akan datang. Pernyataan ini lebih bersifat selektif. Para ilmuwan, selalu memperhitungkan prediksi yang lebih bersifat obyektif untuk masa yang akan datang. Ia selalu berusaha untuk menguji pernyataan tersebut dengan data lapangan secara sistematik dan obyektif. Keempat,orang kebanyakan menjelaskan suatu fenomena hanya dengan menggunakan faktor yang sederhana atau satu faktor saja sebagai penyebabnya. Ilmuwan, berupaya menjelaskannya dengan menggunakan beberapa faktor, sehingga terdapat prinsip kontrol dengan memberlakukan faktor lain sebagai faktor konstan.

2.1.3 Metoda ilmiah

(8)

intersubyektif. Selanjutnya Reynolds (1971) mempertegas bahwa terdapat tiga macam karateristik pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) yaitu "(1) Abstractness (Independence of time and space), (2) Intersubjectivity (agreement about meaning among relevant scientists), (3) Empirical relevance (can be compared to empirical findings).

2.1.4 Teori

Unsur dari suatu ilmu adalah teori, konsep dan proposisi. Teori merupakan landasan dasar suatu penelitian. Setiap penelitian selalu mengkaitkan dengan teori yang ada. Apakah prosesnya melalui penurunan dari kesimpulan umum kepada gejala yang lebih khusus (dari teori yang ada dicari bagaimana aplikasinya di lapangan) yang biasa disebut dengan deduksi, atau melalui penarikan kesimpulan umum dari sejumlah gejala khusus (kenyataan di lapangan dikaitkan dan dicari bagaimana teori yang mendukungnya) yang disebut dengan induksi.

Kerlinger (1973: 9) mengungkapkan bahwa: "A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that presents a systematic view of phenomena by specific relations among variables, with purpose of explaining and predicting the phenomena". Suatu teori adalah serangkaian proposisi yang terdiri dari konstrak yang membatasi dan saling berkaitan. Sebuah teori dimaksudkan sebagai suatu keterkaitan antara serangkaian variabel (konstruk), sehingga dapat memperlihatkan suatu pandangan yang sistematik dari suatu fenomena yang telah dijelaskan oleh variabelnya. Sebuah teori menjelaskan fenomena yang terjadi, dengan menentukan variabel apa yang saling berkaitan dan bagaimana keterkaitannya. Selanjutnya Mullins mengungkapkan bahwa teori menghasilkan suatu jembatan antara bahasa (language) dan pengalaman (experience), sehingga teori terdiri dari dua bagian utama yaitu: konsep (merupakan bagian dari bahasa) dan variabel (suatu kesimpulan dari pengalaman). Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa sebuah teori adalah serangkaian konsep dalam bentuk proposisi yang saling berkaitan, bertujuan memberikan gambaran dan penjelasan sistematis tentang suatu fenomena. Sehingga, teori mempunyai sifat mampu menjelaskan, dapat memprediksi yang dilakukan secara empirik, dapat dibuktikan secara terbuka, serta dapat diuji.

Dalam mengungkapkan teori yang diperlukan, pada umumnya kita peroleh dari kepustakaan atau bahan bacaan, seperti buku, jurnal, majalah, tesis, disertasi maupun hasil penelitian lainnya. Sevilla (1984: 30-31) menjelaskan bahwa kita mencari teori karena teori mempunyai beberapa fungsi yang penting yaitu:

a. It identifies the start for the research problem by presenting the gaps, weak points, and inconsistencies in the previous researches.This provides the study with a conceptual framework, justifying the need for investigation.

b. It puts together all the constructs or concepts that are related with the researcher's topic. The theory then leads you into the specific questions to ask in your own investigation.

(9)

2.1.5 Konsep

Konsep dapat menggambarkan suatu ide, hal atau gejala yang dinyatakan dalam istilah atau kata-kata. Emory (1991:49) mengungkapkan bahwa: "A concept is a bundle of meanings or characteristics associated with certain events, objects, conditions, situations, and the like". Demikian pula Mullins menyatakan bahwa: "A concept begins as an idea expressed in words. Concepts can be expressed in terms of empirical definitions or other concepts". Sedangkan Rand menjelaskan bahwa: "A concept is a mental integration of two or more units possessing the same distinguishing characteristics with their particular measurements omitted. Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa konsep merupakan penggambaran suatu ide, kejadian, hal atau gejala yang diungkapkan dengan kata-kata sehingga membentuk suatu pengertian yang mempunyai karakteristik tertentu. Dengan perkataan lain bahwa konsep mempunyai fungsi untuk menyederhanakan pemikiran terhadap ide, hal, keadaan dan gejala.

Konsep dapat terbentuk dengan cara abstraksi yaitu proses menarik intisari dan generalisasi yaitu menarik kesimpulan umum, sehingga konsep perlu dijabarkan dan didefinisikan. Sebagai misal, bujur sangkar adalah suatu konsep, yang mengungkapkan hasil pengamatan kita terhadap suatu benda yang berbentuk empat sisi sama panjang dan keempat sudutnya adalah 90 derajat. Dengan demikian definisi bujur sangkar adalah segi empat yang mempunyai sisi sama panjang dan setiap sudutnya 90 derajat. Definisi ini mempunyai contoh yang dapat digambarkan (gambarkan segi empat yang keempat sisinya sama panjang dan keempat sudutnya 90 derajat), demikian pula bukan contoh adalah jajaran genjang dan segitiga, dan ciri utamanya adalah empat sisi sama panjang dan empat sudut 90 derajat, sedangkan bukan cirinya adalah warna dan ukurannya (besarnya).

2.2 Penelitian Ilmiah

2.2.1 Pengertian

(10)

dilaluinya, variabel yang digunakan selalu teridentifikasi dari kerangka pemikiran yang telah diformulasikan, untuk mengumpulkan data dari lapangan selalu tersusun instrumen dengan menggunakan skala pengukurannya yang baku, kesimpulan dan implikasi hasil penelitian selalu tersusun dari analisis data. Ketiga, penelitian dilakukan secara empirik, yaitu penelitian memerlukan pengujian dan pengecheckan terhadap kenyataannya. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pengamatan, penelitian dikembangkan berdasarkan pengalaman, penelitian diperkuat dengan pengujian, dan penelitian dibuktikan dengan verifikasi.

Penelitian ilmiah mempunyai beberapa karakteristik seperti: (1) penelitian ilmiah adalah logik, yaitu penelitian dapat dilakukan secara induktif ataupun deduktif. Penelitian induktif dimulai dari kenyataan atau data yang berasal dari lapangan yang sifatnya terbatas dan khusus, kemudian dikaitkan dengan teorinya. Sedangkan penelitian deduktif adalah sebaliknya, yaitu hipotesis yang telah dirumuskan perlu dibuktikan dan diuji dengan membandingkannya dengan kenyataan di lapangan, (2) penelitian ilmiah adalah intersubyektif, yaitu penelitian dapat dikomunikasikan dengan yang lain serta sesuai pula dengan yang lain. Pemilihan Dalam penelitian terdapat suatu kesepakatan diantara para ilmuwan yang terkait, (3) penelitian ilmiah adalah empirikal, yaitu penelitian selalu menggunakan data yang berasal dari hasil pengamatan, pengalaman, dapat dilakukan pengujian serta dapat dilakukan pembuktian, (4) penelitian dapat atau terbuka untuk dilakukan modifikasi.

Sebenarnya tujuan dasar dari penelitian adalah mencari kebenaran ilmiah. Namun demikian, tujuan ini dapat dirinci lebih lanjut, sehingga tujuan umum atau peranan dari penelitian antara lain untuk: (1) membantu memperoleh pengetahuan baru, (2) memperoleh jawaban atas suatu pertanyaan, (3) memberikan pemecahan atas suatu masalah, (4) memprediksi keadaan atau kejadian yang akan datang, (5) menjelaskan keadaan atau kejadian yang lalu, (6) mengkontrol suatu kejadian, (7) memahami penyebab suatu kejadian.

2.2.2 Macam Penelitian

Pada kenyataannya, terlihat bahwa ilmu akan semakin erat kaitannya dengan masyarakatnya. Sehingga akhirnya ilmu dapat dipengaruhi maupun mempengaruhi masyarakat. Secara jelas penelitian ilmiah dasar dapat dibedakan dengan penelitian ilmiah terapan. Tetapi, karena kecenderungan ilmu tersebut semakin memanfaatkan masyarakat maka batas yang jelas antara kedua penelitian ilmiah tersebut akan semakin kabur. Secara umum terdapat dua macam penelitian yaitu penelitian (1) dasar ("basic research") yang acapkali disebut juga dengan penelitian murni ("pure research"), dan (2) penelitian terapan ("applied research") yang kadang-kadang digunakan juga sebagai penelitian kebijakan ("policy research"), penelitian tindakan ("action research"), atau penelitian bermanfaat ("useful research").

Penelitian Dasar

(11)

seeks the new knowledge needed to understand social phenomena", sedangkan Cooper dan Emory (1995: 10) mengemukakan bahwa "pure or basic research is also problem solving, but in different sense. It aims to solve perplexing questions (that is, problems) of a theoretical nature that have little direct impact on action, performance, or policy decisions". Penelitian Terapan

Penelitian terapan merupakan penelitian yang dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada atau merupakan aplikasi dari teori yang ada, sehingga penelitian ini mempunyai hubungan langsung dengan keadaan saat kini. Seperti yang diungkapkan oleh Miller (1991: 3) bahwa "applied research hopes to provide useful knowledge that can be applied to a pressing problem", dan dipertegas lebih lanjut oleh Cooper dan Emory bahwa "applied research has a practical problem solving emphasis. It is conducted to reveal answers to specific questions related to action, performance, or policy needs.

Evaluasi

Seperti yang dikemukakan oleh Miller, bahwa disamping penelitian dasar dan terapan terdapat juga penelitian evaluasi, maka Miller selanjutnya mengungkapkan bahwa "evaluative research strives to give a social accounting of ongoing action programs". Dengan demikian, penelitian evaluasi dapat dilaksanakan bila suatu program telah berjalan. Namun Isaac dan Michael (1982: 2) berpendapat lain, bahwa penelitian dan evaluasi merupakan dua bentuk atau disiplin yang berbeda, walaupun keduanya mempunyai persamaan dalam kegiatan penyelidikannya.

Research having its origin in science, is oriented toward the development of theories its most familiar paradigm is the experimental method, in which hypotheses are logically derived from theory and put to a test under controlled conditions. Evaluation, on the other hand, has come the way of technology rather than science. Its accent is not on theory building but on product delivery or mission accomplishment. Its essence is to provide feedback leading to successful outcome defined in practical, concrete terms.

In distinguishing evaluation from research, Stufflebeam has said 'The purpose of evaluation is to improve, not to prove. The statement to improve suggests that a judgment must be made regarding what constitutes worth of value. In other words, the term evaluation typically is associated with how effective or ineffective, how adequate or inadequate, how good or bad, how valuable or invaluable, and how appropriate or inappropriate a given action, process, or product is in terms of the perceptions of the individual who makes use of information provided by an evaluator.

(12)

2.2.3 Proses Penelitian

Dalam melaksanakan suatu penelitian, terdapat urutan tahapan penelitian yang perlu dilalui dan memerlukan persiapan yang terencana dengan baik. Tahapan penelitian tersebut adalah: (1) penyusunan dan perumusan masalah penelitian, (2) penyusunan kerangka pemikiran, (3) perumusan hipotesis, (4) pemilihan dan penentuan rancangan penelitian, (5) penentuan pengukuran, (6) pengumpulan data, (7) analisis dan interpretasi data, (8) generalisasi.

Masalah

Pengukuran

Hipotesis Analisis Data

Kerangka Pemikiran

Rancangan Penelitian Pengumpulan Data

Generalisasi

TEORI

Gambar 1 Proses Penelitian

2.3 Pendekatan Dasar Pembentukan Ilmu Pariwisata

Sampai saat ini di Indonesia, kepariwisataan belum diakui sebagai satu rumpun ilmu yang berdiri sebagai ilmu-ilmu kepariwisataan. Hal ini antara lain disebabkan karena sangat kompleks dan saling terkaitnya bidang kepariwisataan dengan berbagai disiplin ilmu yang lain.

(13)

Leiper (1981) mengkritik pendekatan di atas, karena dianggap sukar bagi berbagai disiplin ilmu seperti di atas untuk dapat menciptakan sintesa dengan mata ajaran pariwisata, yang pada akhirnya akan menimbulkan fragmentasi yang disebabkan karena kompleknya pariwisata. Sebagai alternatifnya Leiper menawarkan pendekatan kedua yang bersifat heterodox. Dengan pendekatan ini penyusunan materi kuliah bukan didasarkan atas kontribusi suatu disiplin ilmu yang telah ada, melainkan atas dasar suatu perspektif dalam pariwisata. Dengan demikian pendekatan yang digunakan lebih bersifat inter-disciplinary, di mana akan melahirkan disiplin ilmu baru yang mencadi core subject dalam kurikulum. Dengan menggunakan pendekatan ini, walaupun dengan disiplin ilmu lain tetap berkaitan, ilmu pariwisata menjadi penting sebab menjadi core dalam kurikulum.

Ketiga, pendekatan yang bersifat trans-disciplinari, yang diajukan oleh Jafari dan Richie (1981) yang menyatakan bahwa pendekatan ini di luar disiplin ilmu tradisional. Pendekatan ini dimulai dari masalah atau issu yang sedang berkembang, kemudian dengan melalui proses pemecahan masalah akan membawa kepada pengetahuan baru. Namun diakui pendekatan ini banyak kendala yang dihadapi antara lain kemampuan dosen dan mahasiswa di dalam teknik pemecahan masalah, di samping memilih disiplin ilmu yang tepat untuk memecahkan masalah.

Sebagai bidang yang baru, pariwisata sangat terbuka luas untuk penelitian atau studi-studi dan pengembangannya sehingga terbentuk disiplin ilmu baru tersendiri.

Terlepas dari semua permasalahan di atas, peranan penelitian kepariwisataan sangat diperlukan dalam pembentukan disiplin ilmu pariwisata, karena diharapkan sumbangannyanya terhadap pengembangan konsep, pariwisata secara ilmiah dan mampu memberikan sumbangan bagi pengambilan kebijakan.

Untuk keperluan penelitian tesebut, dirasakan perlu untuk segera disusun buku pegangan atau panduan untuk melakukan penelitian-penelitian di bidang kepariwisataan, baik penelitian dasar maupun penelitian terapan. Walaupun telah banyak buku metodologi penelitian, namun yang spesifik bidang kepariwisataan masih tergolong langka. Karena itu mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat adanya.

2.4 Ruang Lingkup Penelitian Pariwisata

Dengan mengacu kepada luasnya definisi pariwisata, maka penelitian bidang kepariwisataan pun sangat luas. Secara global komponen yang terlibat di dalam industri pariwisata antara lain, yaitu: wisatawan, industri pariwisata termasuk tenaga kerjanya, lembaga-lembaga pendidikan penghasil tenaga kerja dan pemerintah.

2.4.1 Penelitian Pelaku Wisatawan

(14)

Dengan pengetahuan karakteristik wisatawan tersebut akan membantu penyelenggara pariwisata, dalam hal ini pihak industri dan pemerintah, mampu dan mengembangkan industri pariwisatanya sesuai dengan permintaan pasar.

2.4.2 Industri Pariwisata

Ruang lingkup industri pariwisata sangat luas dan kompleks karena menyangkut berbagai sektor ekonomi. Adapun aspek-aspek yang tercakup dalam industri pariwisata antara lain: Restoran. Di bidang restoran, penelitian antara lain dapat diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas pelayanan, baik dari jenis makanan maupun teknik pelayanannya. Di samping itu penelitian dari segi kandungan gizi dan kesehatan makanan dan lingkungan restoran serta penemuan makanan-makanan baru dan tradisional baik resep, bahan maupun penyajiannya yang bisa dikembangkan secara nasional, regional bahkan internasional.

Penginapan. Penginapan atau home stay terdiri atas hotel, motel, resor, kondominium, time sharing, wisma-wisma dan bed and breakfast, merupakan aspek-aspek yang dapat diakses oleh penelitian bidang pariwisata. Penelitian mengenai penginapan dapat berupa: strategi pemasaran, pelayanan saat penginapan, integrasi dengan restoran atau biro perjalanan dan sebagainya. Penelitian juga dapat diarahkan pada upaya memperkecil limbah dari industri pariwisata tersebut.

Pelayanan perjalanan, meliputi biro perjalanan, paket perjalanan (tour wholesalers), perusahaan incentive travel dan reception services.

Transportasi, dapat berupa sarana dan prasarana angkutan wisatawan seperti mobil/bis, pesawat udara, kereta api, kapal pesiar dan sepeda.

Pengembangan Daerah Tujuan Wisata, dapat berupa penelitian pasar dan pangsa, penelitian kelayakan kawasan wisata, arsitektur bangunan dan engineering serta lembaga keuangan.

Fasilitas rekreasi. Penelitian di bidang ini meliputi pengembangan dan pemanfaatan taman-taman negara, tempat perkemahan (camping ground), ruang konser, teater dan lain-lain.

Atraksiwisata. Penelitian diarahkan pada taman-taman bertema, seperti Taman Impian

jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Museum-museum, agrowisata, hutan lindung, keajaiban alam, kegiatan seni dan budaya dan lain sebaginya.

2.4.3 Lembaga-lembaga Pendidikan dan Pelatihan

(15)

Penelitian yang dapat dilakukan antara lain, penyempurnaan kurikulum mata kuliah kepariwisataan, efektifitas pengajaran, relevansi program pendidikan dengan kebutuhan industri pariwisata. Di bidang pendidikan juga dikembangkan ilmu-ilmu murni yang mendorong bidang kepariwisataan menjadi satu rumpun ilmu yang diakui keberadaannya oleh dunia keilmuan.

2.4.4 Sektor Pemerintahan

(16)

BAB III

PENGEMBANGAN PARIWISATA (TOURISM DEVELOPMENT)

3.1 Pengertian

Pengembangan kepariwisataan merupakan suatu proses jangka panjang dalam mempersiapkan kunjungan wisatawan. Untuk itu proses ini meliputi perencanaan, pembangunan, pengelolaan atraksi, transportasi akomodasi, pelayanan dan fasilitas lainnya untuk dapat melayani wisatawan (Fridgen, 1991: 221).

Berdasarkan pengertian di atas, maka konsep pengembangan diawali oleh proses perencanaan yang matang terarah, terpadu dan berkelanjutan.

3.2 Manfaat Pengembangan

Pengembangan pariwisata bermanfaat untuk: a. Increase in employment

b. Stimulation of business activity c. Increase in business diversity d. Increase in taxes collected

e. Increase in sales of gods and services

f. Increase in community pride and concern for community history, culture, attraction and artifact

g. Enhancement of community appearances

h. Conservation or restoration of historic sites or attraction i. Conservation of natural resources as a tourist attraction.

3.2.1 Proses pengembangan

Pengembangan diawalil dari perencanaan baik di tingkat nasional, regional maupun local. Untuk memperoleh informasi tepat yang digunakan dalam perencanaan, maka penelitian memegang peranan penting. Studi existing condition merupakan assessment terhadap situasi dan kondisi pada daerah yang akan dikembangkan.

(17)

Proses berikutnya adalah penetapan standar-standar untuk mengukur perkembangan dan atau dampak dari implementasi rencana pengembangan tersebut. Standar-standar dampak positif dan dampak negative bagi wilayah yang dikembangkan. Dampat tersebut antara lain (1) ekonomi, penyerapan tenaga kerja local penciptaan kesempatan baru dll (2) dampak social, kehidupan dan kesejahteraan penduduk local (3) budaya, penurunan dan peningkatan budaya local, (4) lingkungan; tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat kunjungan wisatawan, polusi, konservasi dan lainnya.

Di Indonesia, pengembangan pariwisata belum dilakukan perencanaan secara comprehensive sehingga dampak negatif dari pembangunan pariwisata kurang terkontrol. Tingginya degradasi nilai-nilai budaya dan besarnya kerusakan lingkungan merupakan konsekwensi yang harus kita tanggung bersama.

Bahan Bacaan

Badan Pusat Statistik. www.bps.go.id

Burkart, A.J. and S. Medlik. Tourism: past, present, and future. London: Heinemann, 1974. Direktorat Jenderal Pariwisata, Deparpostel. Tourism market data base 1997. Jakarta, 1997 Fridgen, J. Dimension of tourism. AHMA Education Institute.

Inskeep E. Tourism Planning an Integrated and Sustainable Development Approach. Van Nostrand Reinhold.

Kusmayadi dan Sugiarto. Metodologi Penelitian aplikasinya dalam bidang Kepariwisataan. Gramedia Pustaka Utama. 2000.

Kusmayadi. Pengembangan Pariwisata Dan Prasarana Pendukung Di Daerah Propinsi Banten. Makalah seminar tanggal 13-14 Oktober 2000.

Mangkudilaga, Sufwandi. Prospek perkembangan pariwisata nasional yang berwawasan lingkungan serta penyiapan tenaga kerja kepariwisataan yang antisipatif dalam Orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Akademi Pariwisata Trisakti XXVI. Jakarta, 1995.

McIntosh, Robert W. and Charles R. Goeldner. Tourism: principles, practices, philosophies. New York: John Wiley & Sons, Inc., 1986

Ross, Glenn F. The psychology of tourism. Melbourne: Hospitality Press, 1994

WTO. National and Regional Tourism Planning: Methodologies and case studies. Routledge. 1994.

Gambar

Gambar 1 Proses Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Kendala penyampaian pendidikan seksual di usia 0-5 tahun tersebut bagi subjek adalah selain subjek tidak dapat mengurus anaknya sepanjang waktu, yang mengurus anaknya

Bagaimana sangat mudah bukan fungsi fungsi alat bantu yang ada pada autocad, mungkin dengan anda mencoba akan lebih mudah untuk inplemtasinya terhadap gambar autocad.

sebuah media pembelajaran interaktif multimedia untuk mata pelajaran Biologi “Sistem Sirkulasi pada Manusia & Sistem Pencernaan

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia dan aktivitas antibakteri dari fraksi etil asetat kulit buah manggis ( Garcinia mangostana L.)

Teori ini dapat digunakan untuk berbagai hal seperti penempatan kesalahan tunggal dan tergantung pada tegangan dalam pengukuran arus dalam kaitan dengan eksitasi yang ada dan

Pencampuran pestisida dengan pupuk merupakan prosedur pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan biaya aplikasi, meningkatkan aktivitas produksi, memperluas

Ngopi Doeloe adalah sebuah bisnis kreatif yang mulai berkiprah dalam industri restoran sejak tanggal 20 November 2006, yang berarti bisnis kreatif ini sudah

Instrumen pemasaran (marketing mix) paling baru terdiri dari produk, harga, distribusi, dan promosi dalam era abad 21 tidak bakal dapat diterapkan secara efektif