Pengaruh Keluarga Sejahtera terhadap Peran Perempuan dalam Pembangunan
Oleh :
Nurmitha Atmia / I34120046
“Tanpanya dunia ini tak berarti”. Sepenggal kata yang mencerminkan betapa pentingnya peran perempuan, karena dari perempuan lahir generasi-generasi penerus yang memilki arti bagi setiap kehidupan di dunia. Dahulu sebelum adanya istilah terkenal seperti emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan lain-lain, perempuan hanya dipandang sebelah mata, perempuan tak didengar pendapatnya, perempuan bahkan memiliki akses yang sulit untuk mendapatkan pendidikan semata. Saat ini perempuan tidak lagi menjadi kaum yang termajinalkan, tombak awal kebangkitan perempuan adalah kartini dengan bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Terlepas dari semua istilah atau embel-embel mengenai perbaikan status perempuan dalam struktur kehidupan, hal yang penting diperbincangkan adalah perempuan memiliki kewajiban secara kodrati yaitu menjadi istri yang baik bagi suaminya dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Pembanguan dapat dikatakan berhasil jika keluarga sejahtera (Dewi 2012). Keluarga yang sejahtera menjadi keinginan setiap insan manusia, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan peran perempuan sebagai ibu rumah tangga yang baik dan ibu yang baik pada keluarganya. Perempuan yang bersama-sama anggota keluarga lainnya bekerja sama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dengan cara saling membantu sama lain, bukan hanya menitikberatkan seluruh pekerjaan reproduktif pada pihak perempuan saja. Dalam pembagiaan tugas tersebut perempuan bisa berperan mengkoordinasi pekerjaan rumah tangga dengan anggota lainnya, sehingga pekerjaan rumah tangga bisa terselesaikan dengan baik dan adil tanpa memberatkan salah satu pihak saja. Untuk menjadi istri yang baik perempuan juga harus bisa memberikan kasih sayang yang tulus dan menjadi orang yang berpikiran kritis bagi suaminya, karena perempuan bisa memberikan saran-saran yang baik pada peramasalahan yang ada. Peran selanjutnya adalah menjadi ibu yang baik, ibu yang mengandung, melahirkan dan merawat anaknya dengan memberikan kasih sayang dan asupan gizi yang baik pada anak-anaknya mulai dari anak tersebut berada dalam kandungan hingga anak tersebut tumbuh dewasa.
Namun tidak semua bisa dengan mudah mewujudkan keluarga sejahtera hal ini terbukti berdasarkan hasil pendataan keluarga sejahtera pada tahun 2009, data tersebut menunjukkan hampir setengah keluarga Indonesia (46 %) terkategori belum sejahtera (Pra S dan KS 1)1. Hal tersebut
menyebabkan perempuan dalam suatu keluarga memutuskan untuk berkerja atau berkarir, untuk membantu kehidupan perekonomian keluarga. Bekerja adalah segala hal yang dikerjakan oleh seorang individu baik untuk subsistensi; untuk dipertukarkan atau diperdagangkan; untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga dan masyarakat (Ratna Saptari dan Holzner, 1997). Salah satu kasus yang bisa kita angkat adalah tenaga kerja perempuan dipasar badung, perempuan di pasar badung mayoritas bekerja di bidang sektor informal yaitu berdagang, berada pada distribusi umur umur produktif yaitu 42-51 tahun memilki presentase sebesar 75,68 persen. Pada usia ini perempuan pada umumnya sudah berkeluarga dan memilki anak. Beradasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel umur, waktu bekerja, pendidikan dan jumlah anak berpengaruh signifikan dan positif terhadap pendapatan keluarga pedagang perempuan dipasar Badung2. Oleh
karena itu perempuan memilki peranan yang penting dalam sektor ekonomi, namun bukan hanya itu
1 Anonim. 2009. Data Keluarga Sejahtera. BKKBN :Jakarta
perempuan juga memilki peran dalam bidang pertanian, berdasarkan data tahun 2000 di Indonesia: tenaga kerja perempuan berjumlah 41,41 juta dan 50,28% ada di sektor pertanian Perempuan terlibat dalam semua tahap proses budidaya: penyiapan bibit, persemaian, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan serta pemasaran.
Peran perempuan sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga bisa mengakibatkan adanya beban kerja ganda3 jika dalam pelaksanaan pembangunan masih belum berada pada tahap responsif
gender4 , dan juga suami dan anggota keluarga laki-lakinya terkadang tidak mau mengerjakan
pekerjaan reproduktif seperti mencuci dan memasak, sebagian masih menganggap itu adalah pekerjaan perempuan, hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai perbedaan gender dan jenis kelamin didalam masyarakat. Selain beban kerja ganda ada juga ketidakadilan gender yang lain salah satunya adalah subordinasi5, Perempuan tidak akan bisa berkinerja maksimal jika
ketidakadilan gender tersebut masih terjadi terutama dalam ruang lingkup pedesaan, padahal Perempuan mampu melakukan adaptasi pada ketidakstabilan politik dan ekonomi dengan membangun strategi transfer sosial dalam jaringan sosial. Ketidakadilan gender tersebut mulai terhapuskan dengan adanya perempuan yang sudah dipercayai untuk menduduki posisi penting dipedesaan sperti dikutip dari (Solopos.com 2012)
“Nanik Nur Samawati, kades terpilih Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Ngelo, Kecamatan Jatiroto Nanik berhasil mengantongi 837 suara, mengungguli satu calon kades lain, berusia 50 tahun, yang hanya mendapat 229 suara. Nur Indriawati, 38. Kades terpilih Pilkades Talunombo, Kecamatan Baturetno tersebut juga awalnya tidak ingin meramaikan bursa pilkades. Namun, seperti mendapat cipratan semangat dari sang suami, yang juga mantan kades periode sebelumnya, Sugiyarno, Nur akhirnya mendaftar calon kades. “
Berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa dukungan dari orang-orang sekitar juga mempengaruhi perempuan untuk memutuskan keikutsertaannya dalam pembangunan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kewajiban sebagai ibu rumah tangga, dan istri yang baik tidak lah bisa menjadi halangan bagi perempuan untuk bisa mengabdi pada masyarakat dan ikut serta dalam pembangunan, bahkan kedua peranan tersebut bisa manjadi acuan dan pedoman bagi perempuan untuk manjadi lebih baik lagi dalam keterpihakannya pada proses pembangunan.
3 Perempuan bekerja dan dibebankan pekerjaan produktif dan reproduktif tanpa ada pihak yang membantu
4 Kebijakan/program/kegiatan pembangunan yang sudah memperhatikan berbagai pertimbangan untuk terwujudnya kesetaraandan keadilan, pada berbagai aspek kehidupan antara laki-laki dan perempuan.
Daftar Pustaka
Tim Pengajar MK Sosiologi pedesaan. 2014. Perempuan dan Keluarga di pedesaan.Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB
Sunarti E. 2011. Kependudukan dan keluarga sejahtera. [Internet]. [dikutip tanggal 10 Mei 2014]. Dapat diunduh dari: http://euissunarti.staff.ipb.ac.id/files/2012/03/Dr.-Euis-Sunarti-Kependudukan-dan-Keluarga-Sejahtera2A.pdf.
Dewi PM. 2012. Partisipasi tenaga kerja perempuan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Dalam: Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan. September. Volume 5 no 2.
Tim Pengajar MK Gender dan Pembangunan. 2014. Kesetaraan dan keadilan gender,bias gender, dan isu gender dalam pembangunan. Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB
Sulistiyawati A. 2012 Desember 20. Cerita dibalik kesuksesan kades terpilih perempuan.